Married Project| NaruHina Fanfict

8

Married project

RM18!

Romance, Drama, Family

Chara Belong To Masashi Kishimoto

Warning! TYPOO, OOC , DONT LIKE DONT READ, ETC !!

Naruto Namikaze X Hinata Hyuuga

a/n: Fanfict lama yang sudah di edit abis-abisan

Astia Morichan Present for NHL ^^

EnJOY

Happy Reading ^^

.

oOo

.

 

Menunggu jam istirahat itu adalah hal yang paling di tunggu oleh seluruh siswa di Konoha High School. Bisa berbincang dan bergosip bersama Sakura dan yang lainnya. Tapi mungkin untuk kali ini terasa sulit bagi gadis bersurai indigo ini- Hyuuga Hinata, mendapat piket membersihkan kelas setelah pelajaran tata boga selesai. Dengan terpaksa, 10 menit waktu istirahatnya Hinata korbankan untuk piketnya. Padahal Hinata sudah berjanji tidak akan melewatkan jam makan siangnya bersama temannya.

 

“Hah, akhirnya selesai juga,” Hinata menghela nafas panjang saat tugas piketnya selesai. Hinata menyimpan kembali sapu, yang bertengger manis di tangannya ketempat semula. Kemudian gadis itu melirik jam tangan berwarna ungu yang bertengger di tangannya. Amethysnya membulat saat melihat jarum panjang yang menunjukan waktu itu. Sial! Bahkan sebentar lagi bel masuk untuk pelajaran selanjutnya akan berbunyi.

“Mungkin masih ada waktu untuk makan bento bersama Sakura.” Hinata pun segera pergi meninggalkan kelas, dan pergi menuju kantin dengan tergesa-gesa. Dengan langkah panjangnya, sambil menenteng bento yang Ia buat sendiri tadi pagi. Akhirnya Hinata sampai di kantin dalam waktu lima menit. Kantin ini benar-benar penuh. Hinata bahkan harus memicingkan amethysnya untuk mencari teman-temannya.

Hinata tersenyum ketika amethysya menemukan Sakura dan yang lainnya tengah berbincang-bincang di sudut kantin yang menghubungkan mereka dengan jendela yang menghadap ke lapangan basket. Dengan langkah seribu, Ia pun segera menghampiri sahabatnya itu.

“M-maaf, a-aku terlambat.” Hinata membungkukan badannya sebagai permintaan maaf. Ia sangat merasa bersalah karena terlambat datang.

“Daijoubu, duduklah Hina-chan.” Sakura tersenyum tulus pada Hinata, dan mengisyaratkan agar Hinata duduk dan memakan bentonya. Sakura, dan Ino pun masih asyik menghabiskan bento mereka masing-masing.

“Ha’i,” Dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Hinata pun mulai duduk dan membuka kotak bentonya. “Itadakimasu.” Hinata memasukan ikan salmon ke dalam mulutnya dengan pelan.

“Hei, kalian tahu? A-aku semakin terpesona saja melihat Sai-ku.” Wajah gadis bersurai pirang itu merona saat menyebutkan kekasihnya itu.

“Kau sudah mengatakan itu berulang kali, Pig.” Sakura memutar bola matanya bosan, sambil menyesap parfait coklat kesukaannya. Sementara Ino memberenggut kesal, karena Sakura mengacuhkannya.

Tapi tiba-tiba ketentram yang ada di kantin itu Konoha lenyap, berganti dengan keributan yang memekakan telinga. Ah- Kebiasan buruk. Selalu saja seperti ini jika orang-orang itu datang, dan mengganggu ketenangan. Sungguh. Hinata membenci keberadaan mereka.

 

“Kyaaa Naruto-Kun!!! Gaara-Kun!! Saii-Kun!!!” Teriakan dari para Siswi Konoha mulai menggema ke seluruh sudut ruangan. Bahkan penjaga kantin pun hanya bisa menghela nafas pasrah jika kejadian ini terjadi. Mereka selalu menyumpal telinga mereka dengan kapas, agar telinga mereka baik-baik saja.

 

Entah itu gadis, ataupun pria yang belok semua berteriak ketika ‘Ice Prince Konoha’ disekitar histeris, bagaikan melihat Dewa Olympus turun dari Surga. Namikaze Naruto, Sabaku Gaara, dan Sai. Mereka bertiga adalah pangeran Konoha High School. Tiga pemuda berparas tampan, berotak jenius, dan jangan lupakan orang tua mereka adalah pemegang saham terbesar di Konoha High School. Jadi tentu saja banyak siswi yang ingin menjad pacar mereka, atau hanya menjadi pasangan dalam one night stand saja. Sungguh. Itu sudah lebih dari cukup.

 

“Eh,, Untuk apa Naruto-kun kesini??” Sakura berseru girang. Gadis bersurai pink itu, memang fans Naruto sejak lama. Ia benar-benar tergila-gila pada pemuda bersurai pirang itu sejak pertama kali bertemu.

“S-sudah jelas mereka kesini untuk makan Sakura-chan.” Enggan menanggapi keributan itu, Hinata kembali asyik memakan karage buatannya yang sudah Ia hias sedemikian rupa.

“Ya ampun jantungku seaakan berhenti melihat Sai disini.” Ino kembali memekik senang, saatmelihat ketiga pemuda itu berjalan ke arahnya. Sungguh. Dewi Fortuna benar-benar baik padanya.

“Hina-chan, kau selalu saja dingin pada Naruto. Kau tahu dia itu tampan.” Sakura memangku dagunya. Manik emerlandnya masih asyik menatap wajah tampan Naruto dari tempat duduknya.

“Tolong. J-jangan membahas tentang Naruto.” Hinata menundukan kepalanya dalam. Nafsu makannya sudah hilang sekarang, karena Sakura mengingatkannya tentang Naruto.

“Mereka kemari!” Pekik Sakura yang sudah salah tingkah. Melihat Naruto, Sai, Gaara sudah mendekat menuju sudut kantin. Teriakan memekakan itu semakin terdengar jelas bagi Hinata. Karena Ino dan Sakura ikut berteriak. Sahabatnya itu, bagaikan melihat Idol yang mereka sukai saat melihat ketiga pemuda itu. Sungguh. Hinata tidak mengerti. Jimat dan guna-guna apa yang di pakai ketiga pemuda itu sehingga semua orang tergila-gila pada mereka?

 

Trakk

Suara meja yang di ketuk dengan pelan itu terdengar dengan jelas. Jari-jari panjang milik Naruto menari indah di depan kotak bento milik Hinata. Hinata jengah dengan tingkah pemuda ini. Ingin rasanya Hinata menendang Naruto ke negri antah berantah sekarang! Dengan enggan, Hinata mendongak ke arahnya. Manik amethysnya menatap tajam Naruto yang sekarang menyeringai ke arahnya.

“Hyuuga Hinata, aku harap kau bisa patuh padaku kali ini.” Naruto duduk dengan gaya kasual di depan Hinata. Tangannya terulur untuk mengambil sepotong sosis di kotak bento Hinata. Lalu melahapnya pelan.

“Apa kau punya masalah denganku Namikaze-san?” Tanya Hinata sarkatik dan mulai berdiri dari duduknya. Urat perempatan sudah muncul di alisnya karena Naruto berani mengganggu acara makannya, sungguh Hinata masih ingin melahap bento nya. Kandas sudah mood Hinata untuk kembali menikmati makan siangnya ini.

“Tentu, Ikut denganku Hinata-sama.” Menyeringai pelan, sebelum Naruto menarik tangan Hinata dan menjauh dari kantin. Meninggalkan Sakura, Ino dan jangan lupakan tentang fans Naruto yang berteriak Histeris melihat kejadian itu.

 

“Dasar Naruto.” Sai dan Gaara hanya bisa mengangkat bahu acuh, saat melihat tingkah Naruto yang semakin menjadi.

.

oOo

.

“Le-lepaskan, Naruto-kun!!” Hinata mulai berontak, mencoba melepaskan genggaman tangan Naruto. Nihil. Usahanya tidak membuahkan hasil. Cengkraman Naruto malah semakin mengerat jika Hinata mencoba untuk melepaskannya. Naruto menarik Hinata menuju area parkiran. Dimana mobil lamborgini hitam milik Naruto terparkir disana.

Naruto pun melepaskan cengkraman tangannya pada Hinata. Pemuda berkulit tan itu mulai membuka pintu mobilnya, mengisyaratkan Hinata agar Ia masuk ke dalam mobilnya. Sementara Hinata hanya terdiam. Enggan mengikuti perintah dari Naruto yang seenaknya seperti ini.

 

“Masuklah.” Suara sarat akan perintah mutlak itu terdengar jelas di telinga Hinata.

 

“Kau mau membawaku kemana, Naruto? Tasku masih ada di kelas, aku tak bisa pergi begitu saja.”

 

“Jangan khawatir Hinata-chan. Tasmu sudah ada di dalam mobil ku. Sekarang masuklah, aku tak mau mendengar penolakan apapun darimu.”Naruto mendorong tubuh mungil Hinata, agar gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Voila. Gadis itu sudah terduduk manis di samping kemudi, dengan wajah yang di tekuk saat Naruto memasangkan seatbelt pada tubuhnya.

 

“Kau menyebalkan Naruto.” Melirik sinis pada pemuda bersurai pirang itu. Ketika Naruto sudah duduk di sampingnya.

 

“Terimakasih, aku sangat tersanjung atas ucapanmu.”Naruto melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Membelah jalanan yang cukup sepi, karena ini masih jam kerja. Ia harus segera membawa Hinata ke mansionnya. Oka-sannya benar-benar tidak sabaran. Padahal wanita bersurai merah itu baru saja pulang dari liburannya di Korea.

.

oOo

.

 

Hanya butuh waktu 20 menit, untuk Naruto agar sampai di mansion megah kebanggannya. Mansion berasitektur bagaikan sebuah istana yang kental dengan gaya Barat, juga Jepang terbentang dengan jelas di hadapan Hinata sudah turun dari mobil milik Naruto.

 

“Naruto-kun kenapa kau membawaku ke mansionmu?” Tanya Hinata Heran. Karena tidak biasanya Ia diundang secara khusus oleh Naruto ke Mansionnya. Kecuali jika itu permintaan Kushina-sama. Sudah lama sekali memang Hinata tidak berkunjung kesini. Sebenarnya Hinata betah tinggal di mansion ini. Tapi satu yang menganggunya. Naruto!

 

“Okaa-san menunggumu Hinata-chan. Ia merindukanmu.” Naruto membuka pintu kayu yang menjulang tinggi itu. Sedetik kemudian, Naruto di sambut dengan hangat oleh beberapa maid yang membungkuk hormat padanya. Naruto tersenyum hangat pada mereka, dan membalas sapaannya. Kaki panjangnya melangkah ke arah ruang tamu. Diikuti Hinata yang mengekor dari belakang.

Naruto menjatuhkan tubuhnya pada sofa berwarna coklat itu. Merenggangkan tubuhnya, sebelum menghela nafas lelah. Sementara Hinata hanya bisa memutar bola matanya bosan, sebelum memutuskan untuk duduk di sofa itu.

Tapp Tapp

 

Suara langkah kaki terdengar, menandakan ada seseorang yang datang. Hinata sangat berharap jika Kushina Obaa-san yang datang. Sungguh, Hinata tidak ingin berlama-lama diam disini. Ia ingin segera pulang ke apartemen miliknya.

 

“Hina-chan. Okaerinasai!!” Seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan surai merah, segera menghampiri Hinata dan langsung memeluknya dengan erat. Ah- Kushina benar-benar merindukan Hinata.

 

“Ha’i Obaa-san.” Hinata membalas pelukan Kushina. Ia pun sangat merindukan Kushina. Hinata sudah menganggap Kushina sebagai pengganti Ibunya. Sosok hangat Kushina, selalu mengingatkannya pada Hikari.

“Jangan panggil aku Obaa-san. Apa kau lupa, Hina-chan? Panggil aku Okaa-san. Kau harus membiasakan diri Hinata.” Hinata hanya bisa menunduk menyembunyikan rona merahnya di wajahnya. Kemudian gadis itu mengangguk paham.

 

“Ha’i Okaa-san. Ehmm Okaa-san. A-ada apa memanggilku?” Hinata bertanya dengan wajah penasaran miliknya. Sementara Kushina kini menyeringai bahagia di hadapannya.

“Okaa-san hanya ingin memberi tahu mu, kalau besok kau akan menikah dengan Naruto.” Kushina tersenyum senang ketika mengumumkan pernyataan pernikahan mendadak Hinata dan Naruto. Sementara Hinata dan Naruto masih mencerna apa yang diucapkan Kushina. Manik keduanya membulat mendengar pengumuman konyol yang di lontarkan wanita bersurai merah itu.

 

“A-apa??” Naruto dan Hinata berseru kencang mendengarnya. Mereka benar-benar tidak percaya dengan pendengarannya.

“Kalian kompak sekali. Okaa-san semakin ingin menikahkan kalian berdua hari ini juga.” Kushina menangkup kedua pipinya, dan tersenyum senang menatap kecocokan Naruto dan Hinata yang terlihat sangat menggemaskan.

“Tapi aku dan Hinata masih sekolah Okaa-san,” Ucap Naruto mencoba megulur waktu pernikahannya. Jujur saja, Naruto masih ingat bahwa Hinata memang sangat membencinya. Dan tentu saja Hinata sudah mengetahui perjodohan ini sejak Hiashi meninggal. Ia benar-benar bingung dengan apa yang harus di lakukannya kelak.

.

oOo

.

Gadis kecil bersurai indigo itu mempercepat langkahnya menuju lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Sampai Gadis itu berada di sebuah ruangan yang penuh isakan tangis yang menggema di ruangan itu. Gadis kecil itu dengan ragu mulai memasuki ruangan itu. Langkahnya seakan tertahan untuk membuka pintu bercat putih di hadapannya. Tapi Ia harus masuk sekarang juga! Dengan ragu, tangan mungil yang sekarang gemetaran itu terulur untuk membuka kenop pintu di hadapanya. Perlahan pintu itu terbuka sedikit demi sedikit. Manik amethysnya membulat melihat pemandangan di hadpannya. Tubuhnya bergetar hebat saat itu juga.

Disana terbaring seorang Pria paruh baya yang merupakan ayah dari gadis kecil itu-Hinata. Hinata kecil mendekat kearah Hiashi dengan langkah gontai. Airmatanya mulai membasahi pipi chubbynya. Isakan tangis itu terdengar pilu.

“Hiks,, O-otou-san jangan pergi, hikss.. J-jangan tinggalkan Hi-hina. Hiksss..” Hinata memeluk Hiashi dengan erat. Sambil menangis meraung-raung. Wajah gadis kecil itu sudah memerah. Nafasnya tersendat karena isakannya. Walaupun begitu, Hinata tetap menangis dengan kencang. Tidak peduli jika oksigen akan sulit masuk ke dalam paru-parunya. Hinata tidak peduli. Ia hanya ingin menangis, melihat keadaan mengkhawatirkan ayahnya.

“Daijobu, O-otousan baik-baik saja, Hina-chan jangan menangis. Uhukk,” Hiashi terbatuk pelan. Kini tangannya terulut untuk mengusap lembut kepala Hinata, dengan kasih sayang. Menenangkan putri sulungnya itu agar berhenti menangis.

Tittt Titt

Suara dari mesin terdengar dengan jelas. Semua orang yang ada di ruangan itu berseru panik sekarang.

“Kami-sama, bagaimana ini? Detak jantung Hiashi-sama melemah. Cepat panggil Dokter!” Teriak Kushina panik saat melihat garis tak beraturan yang akan berubah menjadi lurus di mesin pengontrol itu. Kushina menangis, sambil membawa Hinata pada pelukannya.

 

Dokter pun datang dengan cepat, dan memeriksa keadaan Hiashi. Manik amethys Hinata membulat tak percaya menatap ngeri pada para Dokter yang terlihat sangat serius untuk memompa kembali jantung ayahnya agar berdetak dengan normal.

Tubuh Hinata membatu. Kushina yang melihatnya menjadi merasa bersalah. Hanya ini yang bisa Ia lakukan. Dengan penuh kasing sayang Kushina terus membelai rambut Hinata dengan penuh kasih. Hinata yang melihat kondisi ayahnya kian parah semakin terisak. Satu-satunya yang Hinata punya adalah ayahnya seorang. Ia tidak ingin ayahnya meninggalkannya dengan Hanabi di dunia ini.

 

“Otou-san, Hinata mohon bertahan lah.” isak Hinata sambil menggenggam erat tangan Hiashi.

 

“Hinata berjanjilah kau akan menikah dengan Naruto nanti. Ayah mohon, Naruto lah yang akan menjagamu nanti. Otou-san akan selalu melihat mu dengan Naruto,” Dengan suara tersendat Hiashi berucap. Mengabaikan peringatan dari dokter agar tidak berbicara.

 

“T-tidak, aku tidak mau. Naruto yang menyebabkan Otou-san seperti ini ” Sanggah Hinata mencoba menolak permintaan ayahnya.

“Jangan membencinya, Hinata. Naruto tidak salah apapun. Penuhi permintaan terakhir Otou-san. Wakatta?” Suara Hiashi semakin lemah. Hinata hanya bisa mengangguk tanda setuju. Tidak ingin mengecewakan ayahnya.

“B-bagus lah, Otou-san padamu Hinata. J-jaga Hanabi-chan.” Detik itu pula mata Hiashi pun tertutup untuk selamanya.

Sejak kejadian itu Hinata mulai membenci Naruto. Hiashi menolong Naruto yang hampir tertabrak mobil. Tapi pada akhirnya Hiashi lah yang celaka. Hinata benar-benar membenci Naruto. Sejak kejadian itu pula Hinata di titipkan pada keluarga Namikaze. Tapi setelah Ia mulai SMA Hinata memutuskan keluar dari Mansion megah Namikaze itu. Menyewa sebuah apartemen, beserta dengan Hanabi. Hinata tidak ingin merepotkan keluarga Namikaze lebih dari ini.

.

oOo

.

Hyuuga Hinata duduk termenung, di taman belakang yang berada di mansion megah milik Keluarga Namikaze. Ia duduk di bawah pohon besar, sambil memeluk lututnya yang bergetar saat mengingat kejadian yang ingin Ia lupakan.

“Apa yang harus ku lakukan Otou-san? Aku membencinya. Dia yang membuatku kehilangan mu. Aku benci padanya.” Ucap Hinata lirih, sambil Menyembunyikan wajahnya di antara lutut nya, untuk menyembunyikan isak tangis yang sedari tadi Ia tahan.

 

Tapp Tappp

 

Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah dimana Hinata berada saat ini. Hinata masih tidak menyadari, siapa yang duduk di sampingnya. Hinata masih menangis terisak. Mengabaikan semua eksistensi makhluk hidup lainya. Hinata hanya ingin menangis sekarang.

“Maaf, ini semua salah ku.” Suara baritone yang sangat Hinata kenal itu membuat Hinata menoleh ke arah sumber suara. Hinata kini mulai menghapus air matanya kasar, sambil menatap penuh benci pada pemuda berkulit tan yang ada di sampingnya.

“Ya, itu semua salah mu Naruto-kun. Kalau saja kau mati tertabrak saat itu. Aku tidak akan menikah dengan mu. Dan Otou-san ku akan hidup sampai sekarang.” Hinata mulai menangis tak karuan, memukul dada bidang Naruto dengan kesal. Membiarkan kelemahannya terlihat di hadapan Naruto sekarang.

 

“Maaf, seharusnya aku yang mati.” Naruto mendekap Hinata erat, berharap pelukannya bisa mengurangi rasa kekecewaan yang ada dalam benak Hinata. Jujur, Naruto sangat amat mencintai gadis yang ada dalam pelukannya, saat ini. Ia tidak ingin Hinata menangis karenanya.

“Seharusnya kau yang mati. Hiks,, hiks,, N-naruto-kun. K-kau, b-bukan Otou-san ku.” Tangisan Hinata semakin pecah. Ketika Naruto mulai mengeratkan peluknnya. Mengusap lembut punggungnya. Membuat gadis itu semakin mengencangkan tangisannya.

“Aku bisa menghentikan pernikahan ini jika kau mau.”

“Itu tidak mungkin, Jika aku membatalkannya Otou-san akan kecewa padaku.” Kini Hinata hanya bisa diam, menikmati kehangatan yang di salurkan Naruto yang tengah memeluknya ini. Entah kenapa, jantungnya berdebar tak karuan. Perasaan hangat yang di bawa oleh Naruto membuat darahnya berdesir aneh.

 

.

oOo

.

“Apa kau sudah dengar tentang besok?” Tanya Sai yang masih asyik memainkan joystick, sambil tetap fokus pada layar LCD yang menampilkan permainan bola yang ada di depannya.

“Hn, Pernikahan Naruto.” Jawab Gaara datar, yang kini tengah berbaring di ranjangnya. Enggan melirik Sai yang masih asik dengan game di tangannya.

“Aku benar-benar tidak menyangka mereka akan menikah.” Masih tetap fokus pada layar Tv di depan, Sai masih mengutarakan isi pemikirannya.

“Hn.”

” Kau menyebalkan, tidak bisakah untuk berhenti bergumam?”

“Hn,”

“Aishh,, ” Sai segera berdiri, dan melemparkan Joystick yang tadi Ia pegang ke arah Gaara. Membuat pemuda bertato ai itu mengumpat karena kelakuan Sai.

.

oOo

NaruHina Wedd Day

Hari ini adalah Hari yang sangat di tunggu bagi keluarga Namikaze. Yah, hari ini adalah Hari yang sangat sakral bagi Naruto dan Hinata. Kini Gadis yang sedang duduk, di ruang rias itu memandangi dirinya sendiri di cermin. Rambut indigonya yang terurai panjang, serta gaun putih yang Ia kenakan benar-benar membuatnya menjadi cantik, layaknya Bidadari yang turun dari Surga. Tapi Sayang Hinata terlalu takut untuk menghadapi hari ini. Gadis itu masih betah, memandangi dirinya sendiri di dalam cermin.

“Kireii.” Hinata tersenyum memuji penampilannya sendiri. Ia sama sekali tidak menyangka akan menikah di umur 18 tahun. Apalagi yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah Naruto.

Krieett

Suara Pintu terbuka menampakan gadis yang seumuran sebaya dengan Hinata. Hinata tersenyum senang melihat Tenten.

“Hina-chan, Omedetou.” Gadis itu- Tenten memeluk Hinata erat. Ia turut bahagia atas pernikahan Hinata dengan Naruto.

“Arigatou, Tenten-san.” ujar Hinata sambil melepaskan pelukan Wedding Organizernya itu.

“ Bersiaplah, 15 Menit lagi kau harus menuju altar Hina-chan. Iruka OJii-san akan mendampingi mu.” Hinata, hanya mampu mengangguk kecil, sebagai tanda mengerti. Tenten pun segera pergi, meninggalkan Hinata yang masih ada di meja rias. Tentu saja, Tenten adalah WO pernikahan Hinata dengan Naruto. Hinata tersenyum, Ketika Tenten sudah mulai menghilang dari pandangannya.

“Mungkin kah, suatu saat nanti aku bisa mencintai Naruto dengan tulus? Bisakah itu terjadi Otou-san?” Pikiran itu yang selalu terngiang-ngiang di pikiran Hinata. Sampai suara langkah kaki, membuyarkan lamunannya. Membuat Hinata menoleh, saat menemukan sosok laki-laki paruh baya yang mengenakan jas hitam berdiri di belakangnya.

“Iruka Oji-san ?” Iruka hanya tersenyum menatap Hinata, dan segera mengulurkan tangannya.

“Pernikahan, akan di mulai Hinata.” Hinata tersenyum, menyembunyikan kegugupannya. Dan mulai meraih tangan Iruka. Sebagai Wali-nya di pernikahannya.

 

Teng- Teng

Suara Lonceng gereja berbunyi, menandakan pernikahan akan di mulai. Calon mempelai wanita-Hinata berjalan di altar gereja megah itu, dengan Walinya- Iruka. Iruka menahan tangis ketika Hinata sudah akan berdiri di depan mempelai Pria. Semua orang yang memandanginya mendecak kagum, walaupun tidak semua orang hadir di Upacara Sakral ini. Tentu saja Naruto harus merahasiakan pernikahannya. Hanya teman terdekat Hinata dan Naruto saja yang bisa menghadiri pesta Sakral mereka. Hinata melihat pemuda berkulit tan itu, kini mengulurkan tangan padanya. Senyum di wajahnya terus menghiasi wajahnya. Naruto benar-benar terlihat sangat tampan dengan toxedo putih yang di kenakannya. Hinata tertegun memandangi calon suaminya itu. Manik sapphire nya menatap Hinata lembut. Hinata hanya bisa tersenyum simpul, untuk menutupi kekecewaannya. Dengan gerakan kasual. Hinata meraih tangan Naruto.

 

“Atas nama Tuhan. Namikaze Naruto, Apa kau bersedia menerima Hyuuga Hinata sebagai pasangan hidupmu, dalam duka maupun suka. Dalam pujian atau hinaan, dalam sakit atau pun sehat. Menjaganya selamanya dalam ikatan Tuhan sampai maut memisahkan kalian berdua untuk selamanya?” Pendeta itu membacakan ikrar di hadapan Naruto dan Hinata.

 

“Ya, saya bersedia menjaganya dalam keadaan suka ataupun duka, pujian atau hinaan, sakit ataupun sehat. Dan menjaganya, serta membahagiakannya selamanya.” Jawab Naruto tanpa ragu. Ia akan selalu membahagiakan Hinata sampai kapanpun.

Hinata tertegun mendengar jawaban Naruto yang tanpa ragu itu. Tidak ada nada kebohongan dalam ucapannya.

 

“Lalu, Hyuuga Hinata, apa kau bersedia menemani Namikaze Naruto, dalam suka dan duka pujian atau hinaan, sakit ataupun sehat. Dan menjaganya, serta membahagiakannya selamanya?” Jujur Hinata bingung dengan apa yang akan Ia jawab di depan pendeta ini. Pernikahan ini akan membuat kehidupannya berubah. Hinata takut, dan gugup. semua perasaan itu kian bercampur.

“A-aku…” Hinata merasakan tangannya di genggam dengan erat. Hinata menoleh ke arah Naruto yang ada di sampingnya. Hinata hanya bisa diam, menatap mata sapphire Naruto yang seolah menghipnotisnya dengan memberikannya kekuatan untuk menyelesaikan pernikahan ini.

“Aku bersedia.” Entah dapat kekuatan dari mana, akhirnya Hinata dapat mengucapkan kata-kata itu dengan sangat lancar. Mungkin Naruto lah yang memberinya kekuatan itu.

“Baiklah, Kau bisa mencium pengantinmu.” Sang pendeta tersenyum tulus pada mereka berdua. Seakan ikut berbahagia pada pernikahan mereka. Diikuti oleh tepukan tangan yang meriah dari semua orang yang berada di sana.

Yabaii,, itu tidak mungkin. Pendeta ini menyebalkan sekali.’ umpat Hinata dalam hati. Jujur Hinata tidak ingin menyerahkan First Kiss nya pada Naruto. Naruto menatap Hinata dengan ragu, hanya untuk meminta persetujuan. Hinata menatap tajam Naruto, lalu menggeleng pelan. Menolak, agar Ia tidak menciumnya. Semua para tamu undangan yang ada di gereja itu, hanya menatap mereka berdua heran. Tak ada yang bergeming satu pun. Karena Hinata dan Naruto masih saling menatap. Sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki yang mendekati pasangan pengantin itu. Siapa lagi selain- Sai.

 

Just kissing Naruto-chan.” Sai mendorong tubuh Naruto pada Hinata. Sai tersenyum puas, melihat pemandangan di depannya. Usaha nya tidak sia-sia dan tepat sasaran. Naruto menahan berat tubuh Hinata dengan lengannya, yang menahan pinggang Hinata. Dan dengan bibir mereka yang menempel tentunya. Hinata hanya bisa membelakan matanya kaget, ketika merasakan bibir Naruto menempel dengan miliknya. Naruto sendiri hanya bisa tersenyum dalam ciumannya. Tak ada ciuman menuntut. Hanya saling menempel. Sampai terdengar suara tepuk tangan dari seluruh tamu gereja itu. Akhirnya Naruto tersadar, dan segera melepas tautan bibirnya. Membantu Hinata berdiri tegap lagi. Hinata hanya terdiam, mencerna kejadian barusan.

 

Nani kore?” Hinata masih mengerjapkan matanya untuk mencerna kembali kejadian tadi. Otaknya seakan buntu! Sampai terdengar suara Sai yang tertawa puas, membuatnya sadar apa yang telah terjadi.

“Saiiiiiiiiiiiii,, Bakaero!!” Naruto menggeram kesal, dan memberikan death glare mematikan yang Ia punya kepada Sai, yang masih asyik menertawakannya, Membuat Sai terdiam mendapatkan tatapan mengerikan itu. Padahal setahu Naruto, Sai itu tidak pernah tertawa dan sejail ini. Hanya pada hari ini Sai benar-benar menjengkelkan.

 

Tetapi tetap saja, Hinata dan Naruto harus tetap tersenyum sampai acara pernikahan mereka selesai. Untuk membuktikan pada semua orang bahwa mereka bahagia.

.

oOo

.

Sekarang, pesta pernikahan Naruto dan Hinata sudah selesai sejak 30 menit lalu. Di mansion megah ini, hanya tersisa beberapa orang saja. Sakura dan Ino sudah pulang sejak sore tadi. Padahal Hinata berharap kedua sahabatnya itu dapat menginap hari ini.

“Kau menyebalkan Sai, se-seharusnya itu untuk Sasuke-kun.” Hinata berteriak keras di depan Sai. Entah mempunyai keberanian darimana. Hinata berani melakukan hal ini, setelah pesta pernikahannya selesai. Dan hanya ada Hinata, Naruto, Sai, dan Gaara saja yang ada di sana.

“Siapa itu Sasuke, Hinata-chan?” Sai menyela ucapan Hinata, dan menangkis pukulan gadis itu.

“Tentu saja orang yang aku su-sukai. Sasuke-kun sangat berharga untuk ku.”

“Mau kau kemanakan Naruto?”

“A-aku tidak tahu.” Sungguh hati Naruto sangat sakit mendengar penuturan istrinya itu. Hatinya mencelos seketika. Rasanya bagaikan tertusuk ribuan katana tak kasat mata.

‘Siapa itu Sasuke??’ Batin Naruto penuh tanya.

 

To Be Continued ^^

Mind To Review?

Astia Morichan

 

 

 

 

Advertisements

A Secret Between Us Chap 2| Kyumin| Yaoi

2

Title: A Secret Between Us

Rate: T+

Genre: Romance, Comedy (?)

Disclamair: KyuMin milik ibu bapaknya. Dan FF ini punya akoh. Wkwk

Summary: Sungmin memimpikan seme yang tampan dan baik hati. Lalu Sungmin bertemu dengan Gyu, namja tampan yang membuatnya yakin bahwa Gyu adalah takdirnya. Tapi ternyata Gyu ini berkepribadian ganda menurut Sungmin. Namun ternyata Gyu itu adalah seorang OOOOOO?? Dan siapa itu Kyuhyun?

Warning: TYPO, OOC, YAOI DLL !! YANG MASIH POLOS JAN BACA :”

a/n: FF ini remake dari komik yang kemarin saya beli. Pea emang isi komiknya ngakak tapi sumpah rame banget. Ini komik Bishojou tapi di akhir cerita ada nyempil yaoinya loh/pamer/?. Walopun itu komik tetep ceritanya straight :”( oke ini FF remake dari judul komik yang sama. Komiks A Secret Between Us karya Sayo Momota. Saya Cuma ngeremake yah gais!!

Cast: Lee Sungmin

Cho Gyu

Cho Kyuhyun

Oke EnJOY!!

Happy Reading !! ^^

.

.

Cafe itu terlihat sangat ramai. Wajar saja Kona Beans memang sudah sangat terkenal di kalangan mahasiswa Universitas Seoul. Terlihat seorang namja tengah terduduk sambil memandang ke arah jendela. Namja manis itu- Sungmin menopangkan dagu ke tangannya sambil bergumam pelan.

“Kemarin itu apa?” Sungmin mengelus bibir shape ‘M’ miliknya. Kali ini dengan wajah merona sambil membayangkan kembali adegan ciumannya bersama Gyu.

“Ah, aku benar-benar menyukai Gyu. Suka sekali” Gumam Sungmin pelan, dengan menampilkan senyum imut di wajahnya. Senyum yang akan membuat semua orang terpesona jika melihatnya.

 

“Sungmin-ah” Suara yang sangat Sungmin kenal itu membuat Sungmin menoleh ke arah namja tampan yang tengah berdiri di belakangnya. Namja itu – Gyu tersenyum hangat kepada Sungmin. Tapi mata obsidiannya menatap Sungmin dengan khawatir.

 

“G-Gyu” Mata foxy Sungmin menatap Gyu tak percaya. Setau Sungmin, hari ini Gyu ada tambahan mata kuliah di kampusnya. Tapi kenapa Ia malah kesini?

 

“Apa sesuatu terjadi padamu, Min?”

 

“T-Tidak, Gyu. Waeyo?” Sungmin mengerjapkan matanya bingung

 

“Aku merasa keadaanmu sedikit aneh, Min. Aku jadi kepikiran” Gyu mengelus rambut Sungmin dengan lembut. Tak lupa senyum yang memikat Sungmin juga terpampang di wajah tampannya.

 

‘Ternyata Gyu khawatir padaku. Dia bahkan sampai datang ke kampus ku. Ternyata aku benar-benar menyukai Gyu’

 

Sungmin pun berdiri dari duduknya, dengan cepat Ia memeluk Gyu erat. Sangat erat. Seakan tak ingin melepasnya.

 

“Eh, waeyo Ming?” Tanya Gyu heran, karna Sungmin tiba-tiba memeluknya.

 

“Ahniya, biarkan aku memelukmu sebentar saja Gyu” ujar Sungmin sambil terus mempererat pelukannya pada Gyu. Gyu hanya tersenyum dan membalas pelukan namja bunny itu.

‘Ya Tuhan, aku sangat menyukai namja ini!!’

.

.

.

Sabtu yang cerah ini, Sungmin gunakan untuk berjalan-jalan sendiri di mall. Ia sungguh bosan dengan Weekend kali ini. Tak ada yang bisa Ia ajak pergi bersama. Eunhyuk hari ini sedang berkencan dengan Donghae.

“Hari ini adalah hari Sabtu, hari yang sangat pas jika bertemu dengan Gyu” ucap Sungmin dengan penuh semangat. “Sudahku putuskan, hari ini akan ke apartement Gyu!!” Sungmin pun sudah memutuskan untuk segera pergi ke apartement Gyu.

 

20 menit berlalu, Sungmin pun sudah sampai di depan pintu apartement milik Gyu. Jantung Sungmin sudah berdebar tak karuan.

 

‘Semangat Lee Sungmin’

 

Tingg

 

Akhirnya dengan penuh keberanian Sungmin pun menekan bel apartement Gyu. Sungmin benar-benar tak sabar ingin segera bertemu dengan Gyu.

 

Krieett

 

Pintu apartement itu pun terbuka menampilkan sosok Gyu yang sedang half naked serta rambut coklatnya yang acak-acakan membuat kesan menggoda setiap orang yang melihatnya. Sungmin yang melihat pemandangan itu terus menatap Gyu dengan mata foxynya yang sedari tadi tidak berkedip.

 

‘Astaga dia sangat menggoda’

 

“Heii, kau namja yang kemarin kan? Masuklah” Gyu pun mempersilahkan Sungmin masuk. Tanpa mendengarkan ucapan Gyu yang sedikit aneh Sungmin pun langsung masuk ke apartement Gyu.

Sungmin pun duduk di sofa dan diikuti oleh Gyu.

 

“Ada apa kemari?” Tanya Gyu sambil menatap Sungmin dengan mata obsidiannya yang selalu membuat Sungmin terpesona.

 

“Ah,, A-Aku membawakanmu cake Gyu” Sungmin pun memberikan cake strawberry yang sengaja Ia buat untuk Gyu. Gyu pun mendekat ke arah Sungmin. Ia menggenggam tangan Sungmin sambil terus menatapnya.

 

“Gomawo” Gyu pun mengambil cake itu, dan kemudian mengeluarkan seringaian mematikannya.

“Kau tahu Min? Aku lebih menyukai bibirmu daripada cake buatanmu” Gyu menangkupkan pipi Sungmin. Sehingga mereka saling berhadapan. Gyu mengusap pelan pipi chubby Sungmin yang kini tengah merona. Sungmin kini merasakan bahwa Gyu yang ada dihadapannya berbeda. Ia adalah Gyu yang menciumnya waktu itu ditaman.

 

“Apa kau menyukaiku?” Bisik Gyu pelan, sambil menghirupkan nafas hangatnya di daerah tengkuk Sungmin. Dan itu membuat Sungmin panas seketika.

 

“T-Tentu, Lee Sungmin sangat menyukai Gyu” Ucap Sungmin mantap, tanpa tahu siapa yang ada dihadapannya ini.

 

“Dari awal bertemu denganmu aku sudah tertarik padamu. Mau kah kau menjadi milikku?” Kini Gyu mulai memeluk Sungmin dengan erat. Bisikan seduktif itu semakin membuat Sungmin merasakan hal berbeda yang belum pernah ia rasakan.

 

“Ya, Aku mau menjadi milikmu Gyu” Sungmin mengeratkan pelukannya pada Gyu. Rasanya sangat nyaman berada di pelukan Gyu.

 

“Setelah ini apapun yang terjadi, apa kau berjanji akan menyukaiku dan mencintaiku Min?” Gyu kembali menatap mata foxy Sungmin dan mulai mendaratkan bibir Kissable miliknya ke bibir shape ‘M’ milik Sungmin

 

“Ya, aku janji akan selalu mencintaimu” Sungmin mulai mengalungkan lengannya pada leher Gyu dan mulai melumat pelan bibir Gyu. Tanpa Sungmin sadari Gyu menyeringai dalam ciumannya.

 

“mmhhhh” Sungmin mengerang pelan ketika Gyu sudah mengeskpolrasi gua hangat milknya. Lidahnya yang lincah mulai berdansa dengan lidah Sungmin disana. Saling mendominasi satu sama lain.

 

“Nghh,, Gyuhhh,,”Sungmin mulai kehabisan nafas akibat ciuman panasnya dengan Gyu. Gyu pun melepaskan ciumannya, hingga hanya benang saliva yang menyatukan mereka.

 

“enghhh” Desahan Sungmin kembali terdengar ketika Gyu mulai memberikan jilatan dan hisapan pada leher Sungmin.

 

“Kau milikku, Min” Gyu pun melanjutkan aksi ciumannya terhadap leher Sungmin, meninggalkan banyak tanda kepemilikan disana.

 

Brakkk

 

Suara pintu dibuka dengan kasar, membuat Gyu berdecak kesal. Ia memberikan deathglare kepada sang pengganggu yang benar-benar mengganggu kegiatannya dengan Sungmin.

 

“Sungmiinnie, apa yang kau lakukan dengan Kyuhyun???!!!” namja yang membuka pintu dengan kasar itu mirip sekali dengan Gyu.

 

‘Ehhh?? GYU ADA DUA???!!!’

 

Seketika Sungmin merasa pusing melihat Gyu dihadapannya ini ada dua orang. Sungmin menjauhkan dirinya dari Gyu, dan mulai menatap heran Gyu yang berdiri di depan pintu.

 

“Kyu, apa kau mengenal Sungmin??” Tanya sosok Gyu yang sedang berdiri di depan pintu itu kepada namja yang disebut Kyu yang ada di samping Sungmin.

“Aku baru beberapa hari ini mengenalnya Gyu. Aku dan Sungmin pacaran sekarang. Dan dia adalah milikku” Kyuhyun pun kembali menarik Sungmin yang terlihat bingung ke dalam pelukannya.

 

“Kami adalah anak kembar. Aku adalah adiknya Gyuri. Kami berdua sangat mirip sehingga sulit untuk membedakan kami, jadi selalu banyak orang yang keliru. Aku adalah Cho Kyuhyun dan Nuna ku adalah Cho Gyuri” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar kepada Sungmin. Sehingga membuat Sungmin menjadi semakin bingung.

 

“Tunggu dulu !! yang aku suka adalah Gyu. A-Aku kira kau itu Gyu” Sungmin mulai berontak dalam pelukan Kyuhyun.

 

“Aku tak mau dengar alasanmu. Kau sudah berjanji padaku bahwa kau adalah milikku, Min” Ucap Kyuhyun sambil mengecup Pipi Chubby Sungmin.

 

Sreettt

 

Gyu menarik Kyuhyun dengan kasar sehingga Kyuhyun pun berdiri.

 

“Yahh Kyu!!! Apa yang sudah kau lakukan pada Sungmin??!!” Gyu menarik Kyuhyun kasar. Tapi kekuatan Gyu tak seberapa, Kyuhyun pun mulai mendorong Gyu dan mulai melepaskan genggaman Gyu.

 

“Aku Cuma mencoba menyelamatkan Sungmin dari patah hati. Kasian dia” ucap Kyuhyun sambil menatap Gyu tidak suka.

 

“E-Eh?? Aku tak mengerti” Teriak Sungmin sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

 

“Kau masih belum mengerti Min?? GYU ITU ADALAH KAKAK PEREMPUANKU. SINGKATNYA DIA ADALAH YEOJA TOMBOY. DIA ITU CHO GYURI!!

 

‘EHHH??? GYU…. ADALAH PEREMPUAN???……………..’

 

“Aku baik kan Nuna? Menyelamatkan Sungmin agar tidak patah hati. Dia itu Gay seperti itu. Dan dia itu sedang mencari seme. Bukan straight seperti mu Nuna”

 

“Tidak akan kubiarkan kau menyentuh Sungmin!!”

 

“Terlambat, Dia sudah menjadi miliku Nuna. Kissmark itu buktinya” Kyuhyun pun menampilkan seringaian kemenangan di wajah tampannya.

 

Gyu pun melepaskan Kyuhyun. Kini Ia berjalan ke arah Sungmin yang masih sweetdrop ketika mengetahui kenyataan.

 

“Gyu”

 

Cuupp

 

“Dengan ini perjanjian kau dengan Kyuhyun dibatalkan, Min”

 

Gyu memberikan mecupan singkat di bibir Sungmin, sehingga kembali membuat Sungmin sweet drop.

 

‘Ahh, kenapa aku bermimpi buruk. Sangat tidak mungkin jika Gyu mempunyai kembaran dan dia adalah yeoja.

 

“Min gwaenchana??” Tanya Gyu dan Kyu bersamaan

 

‘Ehh ternyata bukan mimpi. Mereka ada duaa!”

 

“Aku tak tahu kalau kau salah paham Min dan menganggapku namja. Maaf gara-gara aku semuanya jadi kacau” Gyu menundukan kepalanya, Ia sangat menyesal tidak mengakuinya kepada Sungmin.

“Tapi kau tetap milikku, Min. Apapun yang terjadi” Ucap Kyuhyun sambil menggenggam erat tangan Sungmin.

 

“Yah!! Kyu lepaskan dia. Seharusnya Sungmin adalah cinta sejatiku” Gyu menarik tangan Kyuhyun agar melepaskan genggamannya pada Sungmin.

 

“Baiklah biarkan Sungmin yang memilih. Kau pilih yang mana Min??” ucap Kyuhyun sambil kembali menggenggam tangan Sungmin.

 

Tapi….

 

Brukkk

 

Sungmin pun jatuh pingsan di pelukan Kyuhyun dan Sungmin. Sebelum memilih antara Kyuhyun atau Gyuri.

 

End

 

Wkwkwk tamat yah.. makasih untuk readers yg kemrn review ff gaje ini :* mwahh mwahh :*

 

Di tunggu Reviewnya ^^