Just Think

0

aduh, gue curhat dah disini. entah yah kok perasaan setiap gue kemana-kemana cowo yaoi mulu yang gue liat. di sekolah gue udah terlalu banyak cowok yaoi sampe terkadang gue enek liatnya. aduh apa cowo normal emang udah langka yang sekrang. sedih gue tapi sekaligus seneng banyak fs tiap saat. apalagi fs yang udah WOW di liat langsung pake mata sendiri. handai pasangan yaoi itu so sweet banget tapi extream juga. aduh terkadang gue bingung. tapi yah gue juga suka sih liatnya. mereka tuh beneran so sweet pake banget. carenya juga beuh. tapi kasian penderitaan yang harus di ambil karena belok juga banyak. kasian juga liatnya. tapi gue bersyukur masuk sma itu karena gue sebagai fujoshi dulu mah cuma ngebayang doang. eh skrang mah liat live cukup nyuruh aja langsung deh fs di dapat. kerjaan gue histreris mulu kalo liat pasangan yaoi yang kiss depan umum. aigooo so sweet yah. ada yang setuju ama gue?

Advertisements

You Must Love Me | Chap 5 | SasuHina

9

You Must Love Me!

Rate M

Romance, School Life, Drama

Disclamair: All Chara belong ‘Masashi Kishomoto’ and over all this fict is mine

Warning: OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Sasuke X Hinata

Nasib Hinata berubah 180 derajat gegara Sasuke yang mengetahui rahasia terbesarnya. Karena tak ingin rahasianya terbongkar, Hinata harus menuruti semua kemauan Uchiha Sasuke!!

a/n : tenang aja Lemonnya pasti ada kok. Antara chap 7/8 ^^

Happy Reading!

Enjoy!!

.

.

.

6 Years ago

 

Terlihat seorang anak kecil, berumur 12 tahun tengah duduk termenung. Anak kecil berambut raven itu tengah menatap air danau dengan tatapan kosong. Anak itu- Uchiha Sasuke mengepalkan tangannya erat, tanpa Ia sadari air mata mengalir membasahi pipinya lagi ketika Ia mengingat semua kejadian yang merenggut nyawa wanita yang paling Ia cintai di dunia ini- Ibunya- Mikoto Uchiha. Nyawa wanita paruh baya itu terenggut karena sebuah kecelakaan. Tragedi itu menewaskan nyawa sang Ibu. Membuat Sasuke benar-benar terpuruk. Seperti hari ini, Ia lebih memilih untuk kabur dari kediaman Uchiha setelah proses pemakaman sang Ibu, dan memilih untuk menangis di tepi danau yang selalu Ia datangi bersama sang Ibu.

 

“Okaa-san” Ucap Sasuke lirih. Sungguh, Ia sangat merindukan Ibunya sekarang. Ia ingin memeluknya.

 

Srakk Srakk

 

Terdengar suara di belakang semak-semak. Tapi Sasuke sama sekali tidak menggubris suara itu, dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah air. Ia hanya menatap pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan di sana.

 

Brukk

 

“Whaaa,, I-ittaaiii..” Suara anak perempuan terdengar merintih kesakitan. Membuat Sasuke mau tidak mau menoleh ke arah suara tersebut. Kini terlihat seorang anak perempuan berambut indigo pendek, bermata putih sedang jatuh tersungkur di dekatnya. Anak itu terlihat seperti akan menangis. Sasuke hanya mendengus kesal, dan kembali memusatkan perhatiannya pada danau itu.

Anak perempuan itu-Hinata mengerucutkan bibirnya. Ia kira bocah laki-laki itu akan menolongnya. Tapi nyatanya tidak. Hinata pun segera bangkit dari jatuhnya. Ia pun berjalan terseok ke arah Sasuke, dan duduk di sebelahnya.

 

“Hikss,, berdarah,, hwehh sa-sakit” Hinata kini mulai menangis. Ia meraba luka di lututnya, kemudian meringis pelan dan kembali menangis lagi.

 

Sasuke yang mendengar tangisan Hinata, segera menoleh ke arah gadis itu. Sasuke kini memberikan death glare gratisnya pada Hinata. Hingga membuat Hinata diam, dan menghiraukan lukanya.

Hening

 

Itu yang Hinata rasakan ketika Sasuke sudah memberikan tatapan mengerikan itu. Ia menatap Sasuke dengan takut. Tatapan Sasuke yang Hinata lihat saat itu benar-benar menyiratkan kepedihan di matanya. Tak lupa dengan jejak air mata yang menghiasi wajah bocah laki-laki itu. Hinata pun meraba saku jaketnya. Ia kini mengeluarkan sapu tangan berwarna putih miliknya, dan menyodorkannya kepada Sasuke.

 

“Un-untuk mu” Sasuke yang melihat Hinata menyodorkan sapu tangannya, mengernyitkan dahinya.

 

“Aku tak butuh” Ucap Sasuke dingin, dan kembali menatap danau. Di dalam cerminan air itu, sejak tadi Sasuke memperhatikan Hinata. Hinata terlihat seperti ibunya saat itu. Wajah putih porselinnya, dan juga rambut indigo gelapnya mengingatkanya pada Sang Ibu.

 

“Ta-tapi kau menangis. Ini untukmu. Aku tahu kau sangat membutuhkannya” Hinata menarik tangan Sasuke, dan menyelipkan sapu tangan miliknya ke tangan Sasuke. Sasuke kembali menatap Hinata. Di mata Sasuke, Hinata benar-benar terlihat seperti Ibunya. Entah sadar atau tidak, bungsu Uchiha itu menarik Hinata ke dalam pelukannya. Memeluk Hinata dengan sangat erat.

 

“E-eh?”

 

“O-Okaa-san, Aku merindukanmu Oka-san. Hikss,, Jangan per-pergi” Ucap Sasuke sambil menangis. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Hinata yang kini terlihat kaget dengan tingkahnya. Air mata Sasuke mengenai kimono yang di pakai Hinata.

 

“O-Okaa-san,,,”

 

Grep

 

Hinata membalas pelukan Sasuke. Di usapnya punggung Sasuke dengan lembut, hingga membuat Sasuke merasa nyaman.

 

“Okaa-san mu juga pasti merindukanmu” Hinata melepaskan pelukannya pada Sasuke. Ia kini menghapus air mata Sasuke dengan sapu tangannya. Membuat Sasuke sadar bahwa yang di hadapannya ini bukanlah Ibunya.

 

“Maaf” Sasuke mengusap kasar air matanya dan beranjak menjauh dari Hinata.

 

“Jika kau mau, kau bisa cerita padaku. Kenapa kau menangis?”

 

“O-Okaa-san ku meninggal” Ucap Sasuke sambil menundukan kepalanya. Ia kini kembali menangis. Jujur baru kali ini Ia menangis di depan orang lain. Hinata yang mendengar ucapan Sasuke tersentak kaget. Ia juga pernah mengalami hal seperti Sasuke. Ibunya juga meninggal ketika Ia berumur 9 tahun.Bagi Hinata wajar saja jika Sasuke menangis sekarang.

 

“Menangislah. A-aku mengerti perasaanmu. O-okaa-san ku juga sudah meninggal. T-tapi kau harus tersenyum, karena pasti Okaa-san mu di surga sana sedih melihatmu menangis seperti ini. Kau tidak boleh membuat Okaa-san mu menangis. Jadi kau harus tersenyum supaya Okaa-sanmu juga tersenyum melihatmu di surga sana”Sasuke yang mendengar ucapan Hinata terdiam. Benar juga apa yang di katakan Hinata. Ibunya pasti sedih melihatnya sedih seperti ini. Ibu nya bahkan selalu berkata padanya, jika laki-laki itu tidak boleh cengeng dan harus kuat.

 

“Terimakasih” Sasuke mengusap air matanya. Ia tersenyum tipis pada Hinata. Hinata yang melihatnya tersenyum juga. Gadis itu lalu mendekat ke arah Sasuke.

 

Cupp

 

Hinata mencium pipi Sasuke. Membuat Sasuke membatu di tempat.

 

“Oka-san ku bilang jika ciuman bisa membuat orang berhenti menangis” Hinata memamerkan senyum manisnya. Gadis itu mengadah menatap langit. “ Ah, sudah sore. Aku pulang dulu. Jaa nee” Hinata kembali menyelipkan sapu tangan ke arah Sasuke, dan berbalik pergi meninggalkan Sasuke yang masih mematung.

 

“Siapa nama mu?” Suara Sasuke terdengar, membuat Hinata menoleh ke arahnya.

 

“Hyuuga Hinata” Dan Hinata kembali berbalik menjauhi Sasuke.

 

ooOoo

 

Sasuke tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Hinata. Sejak saat itu, Sasuke mulai mencari tahu keberadaan Hinata. Ia bahkan rela pindah ke SMP yang sama dengan Hinata, agar bisa mengawasi gadis itu. Walaupun gadis itu, mungkin tidak mengenalnya , dan mengetahui namanya. Bahkan Sasuke pun mengikuti Hinata ke Konoha Gakuen. Seharusnya Sasuke, sekolah di Amerika ketika SMA.

 

“Sa-Sasuke-kun” Panggil Hinata ketika Ia sudah ada di samping Sasuke. Sasuke yang sedari tadi melamun mengingat kenangannya dengan Hinata menolehkan pandangannya ke arah Hinata.

Tentu saja, mereka kini berada di kediaman Hyuuga, dan sejak tadi Sasuke menunggu Hinata berganti pakaian. Karena mereka hari ini akan kencan.

Sasuke mulai berdiri. Ia tatap Hinata yang sangat mempesona dengan baju terusan selutut berwarna ungu yang sangat pas di tubuhnya. Sungguh, Hinata benar-benar sangat cantik!

 

“Ayo kita pergi” Sasuke menggandeng tangan Hinata. Hinata hanya bisa mengangguk dan tersenyum senang.

.

.

Sasuke membukakan pintu mobil ferarri merahnya untuk Hinata. Hinata pun masuk kedalam mobil dan di ikuti oleh Sasuke yang kini sudah duduk di kursi pengemudi.

 

“Ki-kita pergi kemana Sasuke-kun?” Tanya Hinata ketika Sasuke mulai melajukan mobilnya meninggalkan mansion Hyuuga.

 

“Konoha Land. Aku ingin ke sana bersama mu”

 

ooOoo

Akhirnya Hinata danSasuke pun sampai di Konoha Land. Banyak pasangan manata melihat iri Hinata yang kini tengah di gandeng oleh Sasuke. Tetapi Hinata tidak menggubris tatapan itu. Kini Hinata malah tersenyum melihat wahana-wahana yang sangat Ia rindukan. Jujur saja, Hinata sangat menyukai wahana yang sangat extream. Seperti roller coaster yang ketinggiannya 30 meter lalu lekukan yang menyeramkan itu.

 

“Sa-sasuke a-aku ingin naik itu” Hinata menujuk ke arah roller coaster di sana. Membuat Sasuke menatap Hinata tak percaya. Bagaimana mungkin gadis pemalu, lembut seperti Hinata menyukai wahana seperti itu?

 

“Hn” Hinata tersenyum senang. Tanpa Ia sadari, Ia menarik tangan Sasuke ke arah antrian wahana itu.

 

Akhirnya setelah lama mengantri, Hinata dan Sasuke pun mulai menaiki wahana roller coaster itu. Pengaman pun telah mereka pakai.

“Ini pasti menyenangkan”

1.. 2… 3

 

Wushhhhhh

Roller coaster itu melaju dengan kecepatan perlahan, tapi ketika sampai puncak rollercoaster itu bergerak dengan sangat kencang. Membuat Sasuke dan Hinata berteriak. Mereka pun tersenyum senang. Rasanya ketika mereka menaiki wahana itu semua beban terasa lepas.

 

“Itu tadi menyenangkan Sasuke-kun. Ayo kita naik itu” Ucap Hinata setelah mereka turun dari rollercoaster. Gadis itu kini menarik kembali tangan Sasuke dan mulai menaiki wahana-wahana ekstream lainnya.

 

ooOoo

 

“Sasuke ayo kita naik bianglala. Pe-pemandangan malam hari akan terlihat sangat indah di atas sana” Ucap Hinata dengan senyum. Sungguh hari ini benar-benar sangat menyenangkan!

 

“hn” Dan Sasuke menarik Hinata ke arah wahana bianglala itu.

 

Akhirnya mereka pun masuk ke dalamnya. Hinata dan Sasuke duduk bersebelahan. Hinata dengan asyik menikmati pemandangan malam di atas sana. Sasuke ikut tersenyum tipis melihat Hinata yang tersenyum senang. Sejak tadi masuk ke dalam bianglala ini, Sasuke sama sekali tidak melepaskan genggamannya pada Hinata. Di mata Sasuke pemandangan yang indah itu, hanya Hinata yang tengah tersenyum senang. Bukan pemandangan di bawah kota itu.

 

“Hinata” Sasuke memanggil Hinata pelan. Sehingga membuat Hinata menoleh ke arahnya.

Sasuke kini menangkup pipi Hinata. Sehingga Hinata bisa menatap onyx kelamnya. Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Hinata.

 

“Kau milik ku”

 

Cuup

Sasuke mengecup bibir Hinata pelan. Hinata pun mulai memejamkan matanya, menikmati ciuman Sasuke. Entah sejak kapan, Ia benar-benar menyukai sentuhan Sasuke yang bisa menggetarkan hati nya seperti sekarang. Hinata berdebar. Ia menyukai debaran itu ketika bersama Sasuke.

Kecupan itu kini berubah menjadi lumatan-lumatan yang intens. Lumatan Sasuke pada bibirnya benar-benar menyenangkan. Hinata pun tanpa sadar sudah mengalungkan lengannya di leher Sasuke, dan Sasuke semakin merapatkan tubuhnya dengan Hinata untuk memperdalam ciuman mereka.

 

“mmhhh” Hinata melengguh dalam ciumannya ketika Sasuke menarik tengkuknya, dan mulai mengekspolari mulut Hinata dengan lidahnya.

 

Tookk Tokk

 

Suara ketukan di kaca jendela itu terdengar. Membuat Hinata dengan cepat mendorong tubuh Sasuke. Astaga! Mereka benar-benar tidak menyadari bahwa bianglala itu sudah turun ke bawah dan terhenti. Hinata menundukkan kepalanya malu.

 

“Cih, Mengganggu saja” Sasuke mendecih tak suka. Ia pun menarik tangan Hinata untuk turun dari bianglala itu. Tak lupa memberikan death glare gratis pada penjaga bianglala itu. Sehingga membuat sang penjaga menunduk takut mendapat tatapan mematikan Sasuke.

 

Sasuke pun menarik Hinata ke arah taman. Mereka pun duduk di sana.

 

“Ayo kita cari restoran disekitar sini, kau pasti lapar” Ucap Sasuke sambil menarik Hinata untuk berdiri. Hinata hanya menurut. Jujur saja, Ia juga sudah sangat lapar.

 

“Hinata-chaaannnn” Terdengar teriakan yang memekakan telinga Sasuke. Suara yang Sasuke kenal itu membuat Sasuke menolehkan kepalanya, dan kini Ia mendapati sosok pemuda pirang dengan senyum lima jarinya sudah ada di hadapannya dan Hinata.

Hinata yang mendengar teriakan Naruto memanggil namanya, tersenyum senang. Wajahnya kini sudah memerah ketika Naruto sudah ada di hadapannya sekarang. Sasuke mendelik tak suka menatap Naruto.

 

“Oi, Teme jangan memandangku dengan tatapan membunuh seperti itu” Ucap Naruto sambil nyengir menatap Sasuke. Sasuke hanya memalingkan wajahnya.

 

“Ternyata benar Hinata-chan. Kenapa kau bersama si Teme ini Hinata? Apa kau pacarnya si Teme?” Tanya Naruto, sambil menatap Hinata dengan tatapan kecewanya.

“Eh? Na-Naruto-kun. Bu-bukan. Sa-Sasuke bukan pacarku” Dengan cepat Hinata menjawab pertanyaan Naruto, tanpa menatap Sasuke yang ada di sampingnya.

 

“Cih” Sasuke kembali mendecih tak suka. Apa Hinata benar-benar tak menganggapmya ?

 

“Yokatta. Teme kau jangan terlalu dekat dengannya. Karena mulai saat ini aku akan menjaga Hinata. Dia sangat manis yah Teme?” Mendengar jawaban dari Hinata, Naruto kembali tersenyum senang. Ia lalu melirik Sasuke yang sedari tadi terdiam. Hinata yang mendengar pujian Naruto semakin senang. Wajahnya pun sudah sangat memerah seperti tomat kesukaan Sasuke.

 

“Hn” Sasuke hanya bergumam menanggapi Naruto.

 

“Kita pulang. Aku bertanggung jawab atasmu hari ini. Dobe aku duluan” Tanpa menunggu tanggapan dari Hinata Sasuke langsung menarik tangan Hinata dengan kasar, dan menariknya pergi menuju parkiran.

 

“Oii.. Oii Teme, jangan kau apa-apa kan Hime ku”

.

.

Setelah sampai di depan mobilnya, Sasuke dengan cepat membuka pintu mobilnya.

“Masuk” perintah Sasuke dingin. Hinata hanya menurut. Ia sangat menyadari bahwa pemuda di hadapannya itu tengah marah.

 

Sasuke pun duduk di kursi kemudi, dan mulai menjalakan mobilnya dengan kecepatan yang tak terkendali.

 

“Sa-Sasuke-kun, ha-hati-hati. Bi-bisa celaka nanti” cicit Hinata takut. Jujur baru kali ini Hinata melihat Sasuke seperti ini. Bahkan ketika pemuda itu marah pdanya kemarin. Ia tidak sampai seperti ini.

 

Sasuke diam tak menggubris ucapan Hinata. Malah Bungsu Uchiha itu semakin mempercepat laju mobilnya. Hingga membuat Hinata ketakutan setengah mati!!

 

Dengan kecepatan seperti itu, akhirnya hanya butuh waktu 15 menit untuk Sasuke sampai di depan Mansion Hyuuga. Wajah Hinata sedikit pucat ketika ternyata Sasuke sudah memberhentikan mobilnya. Ia menarik nafas lega. Ia pikir tidak akan selamat.

 

Bruk

 

Sasuke memukul setirnya dengan keras. Membuat Hinata menoleh ke arahnya, dan menatap Bungsu Uchiha itu takut.

 

“Harus berapa kali ku bilang, Hinata?!! Kau milikku!!” Sasuke berteriak di depan Hinata. Ia kembali memukul setirnya. Nyali Hinata menciut ketika mendengar teriakan Sasuke.

“Tidakkah kau sadar Hinata? Aku hanya menyukai mu!! Kenapa kau malah memperhatikan Naruto? Apa kekuranganku, hah??” Sasuke kini mencengkaram dagu Hinata. Sehingga gadis itu menatap onyx Sasuke yang memancarkan kemarahan di di dalamnya.

“Sa-Sasuke-kun. Aku hanya menyukai Naruto” Ucap Hinata takut sambil menundukkan wajahnya. Mendengar jawaban Hinata. Tubuh Sasuke menengang. Rasanya hatinya seperti di cabik-cabik oleh katana ketika mendengar ucapan itu langsung dari gadis yang sukses menarik perhatiannya sejak 6 tahun lalu. Sasuke mencintai Hinata! Kenapa gadis itu tak dapat merasakan perasaanya?!!

 

Sasuke pun dengan perlahan melepaskan cengkramannya pada dagu Hinata. Kini Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah depan. Ia kembali mencengkram setirnya kuat.

 

“Baiklah. Aku melepasmu Hinata” Ucap Sasuke pelan. Hinata yang mendengar ucapan Sasuke, hanya bisa menundukkan kepalanya. Menyembunyikan tangisnya. Entahlah, Hinata tak suka ketika Sasuke mengucapkan kalimat itu. Rasanya seperti sesuatu yang Ia miliki hilang. Kosong.

 

“Sekarang, turun dari mobilku Hyuuga!!” Ucap Sasuke dingin.

 

Ah- Bahkan sekarang Sasuke tidak mengucapkan namanya. Rasanya terasa sakit. Dengan pelan Hinata pun turun dari mobil Sasuke. Ia menatap mobil Sasuke, yang kini sudah menjauh dari pandangannya.

 

“Oh, Kami-sama, ada apa denganku?” Ucap Hinata sambil mengusap air matanya yang sudah membasahi pipi heirres Hyuuga itu.

 

TBC

 

Mind To Review?

Hontou ni Arigatou yang sudah review ff ini ^^

See ya next chap ^^

 

Next:

 

“Siapa gadis yang bersamanya itu? Mereka cocok sekali. Aku iri”

“Hyuuga. Mulai saat ini kau duduk lagi dengan Tenten”

“Jadi dia Sasuke yang membuatmu kacau?”

“Gomen ne sensei. Aku akan kembali sekarang. Oh iya Hinata-chan nanti makan siang dengan ku yah. Jaa nee”

“Sa-sasuke-kun lepas. I-ittaii”

“Apa kau tak pernah mengingatku Hinata? Kau tak pernah menyadari keberadaanku

“Aku menyukainya Tenten. Aku mencintai Uchiha Sasuke”

 

Sign

Astia Morichan^^

 

 

 

 

 

 

You Must Love Me | Chap 4| SasuHina

4

You Must Love Me!

Rate M

Romance, School Life, Drama

Disclamair: All Chara belong ‘Masashi Kishomoto’ and over all this fict is mine

Warning: OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Sasuke X Hinata

Nasib Hinata berubah 180 derajat gegara Sasuke yang mengetahui rahasia terbesarnya. Karena tak ingin rahasianya terbongkar, Hinata harus menuruti semua kemauan Uchiha Sasuke!!

a/n: adakah yang masih ingat cerita ini. Gomenasai Minna-san baru bisa update ;’( Hontouni Gomenne ^^

Happy Reading!

Enjoy!!

.

.

.

Bungsu Uchiha itu- Uchiha Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, sambil membawa nampan berisi ramen instan. Di letakkannya ramen itu di meja. Pemuda itu kini tengah terduduk. Ia acak-acak surai hitamnya.

“Kusoo!!” Sasuke mengumpat pelan. Ia lalu senderkan tubuhnya dan mulai menutup matanya. Berharap jika Ia menutup matanya, Ia akan melupakan kejadian tadi. Ia semakin sangat membenci Tsunade! Ayahnya bahkan selalu membela wanita itu.

 

Ceklek

 

Suara pintu terbuka itu, membuat Sasuke membuka kembali onyxnya dan menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Terlihat gadis bersurai indigo itu sudah keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan atasan kemeja putih kebesaran milik Sasuke. Panjang kemeja itu hanya 15 cm dari pinggangnya. Tak lupa dengan bahunya yang sedikit terekspos karena kemeja itu melorot. Tentu saja, itu adalah satu-satunya kemeja yang sudah kekecilan di tubuh Sasuke. Karena tak punya pakaian seorang wanita, jadi Sasuke memberikannya kepada Hinata.

 

“Sa-Sasuke-kun?” Panggil Hinata pelan. Hingga membuat Sasuke yang sejak tadi memandangi Hinata akhirnya tersadar.

 

“Hm? Kemarilah, aku tau kau pasti lapar.” Sasuke kembali duduk dengan tegap. Ia mengambil cup ramen yang sudah Ia seduh dan membukanya.

 

Hinata pun melangkahkan kakinya, mendekat ke arah Sasuke. Ia pun duduk di depan Sasuke.

 

“Makanlah, maaf hanya ada ini.” Sasuke menyodorkan ramen itu kepada Hinata. Hinata hanya mengangguk dan mengambil ramen di tangan Sasuke.

 

“Arigatou Sasuke-kun. I-itadakimasu.” Hinata pun mulai mengambil sumpitnya. Jujur saja, Ia sudah sangat lapar. Dengan pelan, Ia pun mulai menyuapkan mie itu ke dalam mulutnya.

 

“Hn,” Sasuke hanya berdehem pelan, dan ikut mengambil ramennya. Ia pun mulai memakan ramennya dengan lahap. Bersama Hinata membuat Sasuke melupakan kejadian tadi. Hinata seaakan bisa menyerap amarahnya dengan cepat.

“Ah, Aku kenyang sekali. Terimakasih untuk ramennya Sasuke-kun.” Hinata kembali tersenyum senang. Entahlah, rasanya Ia sangat bahagia bisa makan bersama dengan Sasuke. Walaupun hanya memakan ramen cup saja, jika bersama Sasuke membuatnya senang.

 

“Hn.” Sasuke kembali bergumam ambigu. Membuat Hinata tanpa sadar mengerucutkan bibirnya.

 

“Mandilah Sasuke-kun, kau harus membersihkan tubuhmu sebelum tidur.” Tanpa Hinata sadari, kini Ia sudah tak tergagap jika berbicara dengan Sasuke. Hinata pun mulai membaringkan dirinya di sofa yang memang panjang dan nyaman untuk di pakai untuk tidur. Ia pun akan menutup matanya, jika saja Sasuke tak mengeluarkan suara baritonnya.

 

“Tidur di ranjangku. Aku tak menerima penolakan.” Dan Sasuke berdiri dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

Hinata pun hanya bisa mengangguk. Tak ingin berpikiran macam-macam, akhirnya Ia melangkahkan kakinya ke ranjang Sasuke dan mulai membaringkan tubuhnya. Sungguh, hari ini terasa sangat melelahkan baginya. Baginya baru kali ini, hidupnya tidak terasa monton setelah Sasuke yang baru beberapa minggu ini masuk kedalam hidupnya. Mata amethysnya pun terpejam perlahan. Hinata pun jatuh tertidur dan mulai masuk ke alam mimpinya.

oOo

Sasuke pun keluar dari kamar mandinya. Badannya terlihat basah. Ia hanya mengenakan sebuah celana, tanpa baju untuk menutupi badannya yang menggoda bagi kaum Hawa. Sudut bibirnya tertarik ketika melihat Hinata yang sudah tidur di ranjangnya. Perlahan, Sasuke pun mulai mendekat ke arah Hinata. Ia duduk di tepi ranjangnya. Onyxnya menatap Hinata lekat-lekat. Sungguh, Hinata terlihat menyerupai malaikat di mata Sasuke. Sasuke menelusurkan jarinya, membelai pipi Hinata dengan lembut. Kemudian jarinya terhenti, untuk menyentuh bibir plum Hinata.

 

“Oyasumi.”

 

Cuup

 

Sasuke mengecup bibir Hinata. Hanya mengecupnya. Tak lebih. Sasuke lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Hinata yang terlihat sangat menggoda. Ia pun masuk ke dalam selimut itu. Membawa Hinata ke dalam pelukannya, dan mulai memejamkan matanya menuju alam mimpi.

oOo

Sinar matahari itu masuk melalui celah-celah jendela. Membuat gadis bersurai indigo itu merasa silau, dan membuka matanya perlahan.

 

‘Tidurku nyenyak sekali.’

 

Gadis itu pun mulai akan kembali menutup matanya. Rasanya sangat nyaman tidur kali ini. Ia masih sangat ingin bergelung di ranjangnya di hari libur ini. Tapi ketika Ia merasakan sebuah gerakan tangan yang melingkari pinggannya, dan juga nafas teratur yang berada dekat sekali dengan wajahnya. Membuat gadis itu- Hinata kembali mengumpulkan kesadarannya, dan mulai mengingat apa yang telah terjadi. Dan-

 

“Kyaaaaa,” Hinata berteriak dengan sangat keras. Membuat bungsu Uchiha yang masih nyaman dalam tidurnya terusik.

 

“Berisik.” Tanpa menghiraukan Hinata, Sasuke semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Hinata yang baru sadar Sasuke yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhnya, mulai berontak. Melonggarkan pelukan Sasuke. Tapi nihil, Sasuke memeluknya terlalu erat. Sehingga Hinata hanya bisa pasrah dalam pelukan Sasuke.

 

‘Nyaman.’

 

Hinata mencoba melihat ke arah Sasuke yang masih memejamkan matanya. Ia kini asik memperhatikan wajah tampan Sasuke. Hinata baru menyadari bahwa Sasuke ternyata memang sangat TAMPAN!! Pantas saja pemuda ini digilai para gadis di sekolahnya. Bulu mata Sasuke yang lentik, hidung mancungnya, rahangnya yang kokoh, dan jangan lupakan bibirnya yang sangat menggoda itu. Ah- Sasuke benar-benar sempurna!!

Tanpa Hinata sadari, Ia telah menggerakan tangannya menyentuh bibir Sasuke.

Bibir itu sudah menciumku berkali-kali.’

 

Wajah Hinata pun memerah ketika mengingat bahwa Ia dan Sasuke sudah berciuman.

 

‘Astaga, apa yang aku pikirkan? Tidak mungkin kan aku menyukai Sasuke? Aku menyukai Naruto tentu saja.’

 

Dengan cepat Hinata menarik tangannya dari wajah Sasuke, dan mulai menggelengkan kepalanya merutuki kebodohannya karena memandangi Sasuke.

 

“Puas memandangi wajahku, hm?” Suara bariton milik Sasuke, membuat tubuh Hinata menegang seketika. Wajahnya kini sudah semerah tomat ketika menyadari bahwa sejak tadi Sasuke tidak tertidur, dan dirinya tertangkap basah sedang memperhatikan wajah Sasuke.

 

“A-aku t-tak memandangi Sa-sasuke-kun.” Hinata menundukan wajahnya, dan baru Hinata sadari ketika Hinata melihat ke arah tubuh Sasuke yang tak mengenakan apapun. Dengan cepat Ia pun memalingkan wajahnya ke arah lain asalkan tidak menatap Sasuke.

 

“Kau berbohong.” Sasuke menarik dagu Hinata pelan. Membuat tatapan mata Hinata terkunci pada onyx milik Sasuke.

 

“Kau menginginkan ciumanku, hn? Dengan senang hati aku berikan padamu Hinata.” Ucap Sasuke menyeringai, dan mulai mendekatkan wajahnya ke arah Hinata. Hinata dengan cepat menutup matanya.

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

5 detik

6 detik

7 detik

 

Hinata tak merasakan apapun menyentuh bibirnya. Ia pun mulai membuka matanya dan melihat ke arah Sasuke yang menatapnya dengan seringaian tajam yang menghiasi wajah tampannya.

“Apa kau benar-benar mengingkan ciumanku sampai menutup matamu seperti itu, hn?” Ucapan Sasuke sontak membuat Hinata malu setengah mati. Konyol! Tingkahnya benar-benar konyol! Untuk apa Ia menutup matanya? Ia sama sekali tidak mengharap Sasuke menciumnya. Rasanya Hinata ingin menggali kuburannya sendiri karena malu!

 

“T-tidak.” Hinata pun mendorong tubuh Sasuke menjauh, dan mulai berdiri. Belum sempat Hinata berdiri untuk menuju kamar mandi. Sasuke kembali menarik tubuhnya ke atas ranjang, dan mulai menindih tubuh mungilnya.

 

“Sa-Sahmphhhh,,” Dan bibir Sasuke menyentuh bibirnya dengan pelan. Sasuke mulai melumat bibir Hinata dengan lembut. Membuat Hinata terbuai akan perlakukan Sasuke. Sasuke menggerakan bibirnya. Ia gigit pelan bibir Hinata, hingga Hinata membuka mulutnya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Sasuke langsung melesakan lidahnya ke dalam mulut Hinata. Mengecap seluruh rasa manis di dalam mulut Hinata. Lidahnya menginvasi semuanya, dan ketika lidahnya menyentuh titik sensitive di mulut gadis beriris lavender itu.

 

“Mhhhh” Hinata melengguh karena ciuman Sasuke yang memabukan. Hinata tak menyangkal bahwa Ia benar-benar menyukai ciuman yang Sasuke berikan. Tanpa ragu Hinata mulai membalas permainan lidah Sasuke.

“Nghhh” Hinata kembali mendesah ketika Sasuke semakin merapatkan tubuhnya pada Hinata. Membuat Hinata seperti tersengat listrik ketika tubuhnya sedekat ini dengan Sasuke.

 

“Menyukai ciumanku, hn?” Sasuke melepaskan ciumannya. Kini bibirnya hanya menempel pada bibir Hinata. Hinata yang mendengar hal itu menggeleng pelan. Sungguh Ia sangat malu sekarang!!

 

“Berbohong lagi, kau akan mendapatkan hal lebih Hinata.” Ucapan Sasuke membuat Hinata merinding seketika!! Kini bungsu Uchiha itu sudah menyelusupkan kepalanya ke perpotongan leher Hinata. Di ciumnya leher gadis itu, dan Ia pun mulai menghisap dan menjilati leher jenjang Hinata. Hingga membuat beberapa kissmark tercetak jelak disana.

 

“Ahhh,,” Desahan itu lolos dari mulut mungil Hinata. Gadis itu kembali merutuki tindaknnya. Dengan cepat Ia gigit bibir bawahnya, untuk mencegah desahannya lagi. Sasuke terus mengecupi leher Hinata. Jujur saat ini Hinata menahan nafasnya! Astaga, tubuhnya terasa sangat lemas ketika Sasuke sudah mengecupi lehernya. Tenaganya seolah habis saat itu juga.

Kini lidah Sasuke turun kebawah. Ia mulai membuka kemeja Hinata dengan mulutnya. Hinata yang mendapatkan perlakuan seperti itu sontak membelalakan matanya kaget. Wajahnya sudah sangat memerah sekarang. Apalagi sejak tadi jantungnya berdebar dan berdetak tak karuan!!

 

“Sa-Sasuke-kun, le-lepas, ahhh,,” Hinata mencoba menghentikan tindakan Sasuke, saat Sasuke kini mulai mengecup bagian atas payudaranya. Ucapan Hinata sama sekali tidak Sasuke gubris. Sasuke kembali melancarkan aksinya dengan mulai menjilati dan memberi kiss mark pada dada Hinata.

 

Tokk-Tok

 

“Sasuke kau sedang apa? Keluarlah, sarapan bersama Tou-san. Lalu ajak temanmu itu. Ayah tunggu di bawah.” Suara Fugaku- Ayah Sasuke membuat Sasuke menghentikan aksinya pada Hinata. Membuat Hinata mendesah lega, karena Sasuke menghentikan kegiatannya. Sasuke pun beranjak dari tubuh Hinata.

 

“Turunlah kita sarapan.” Sasuke lalu mengambil sebuah kaos putih dan dengan cepat memakainya. Ia tatap Hinata yang kini sudah terduduk di ranjang.

 

“Kenapa? Kita bisa melanjutkannya nanti Hinata. Tenang saja.”ucapan Sasuke sontak membuat Hinata kembali menatapnya sinis dan rona merah mulai mewarnai wajahnya.

 

“B-bukan itu. Ah, Sa-sasuke-kun apa kau tak punya pakaian lain lagi. I-ini terlalu terbuka.” Hinata mulai berdiri dan menunjukan kemeja kebesaran milik Sasuke yang dipakainya sejak kemarin.

 

“itu terlihat sexy untukmu Hinata.” Dan wajah Hinata semakin memerah mendengar ucapan Sasuke.

 

“Ma-maksudku, i-ini sangat tidak sopan jika harus sarapan bersama ayahmu.”

 

“Kalau begitu, pakai saja kembali seragam mu Hinata.”

 

“Ah, Kau benar. Sekalian aku pulang kalau begitu.” Hinata tersenyum mendengar saran Sasuke. Ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk ganti baju.

 

“Kau tidak pulang, nanti kita berkencan Hinata. Hanya memakai seragammu lalu nanti aku antar kau kerumah mu dan kita keluar lagi.” Ucapan terakhir Sasuke tidak Hinata dengar, gadis itu malah masuk ke kemar mandi untuk mengganti bajunya.

oOo

Setelah beberapa menit, akhirnya Hinata keluar dengan memakai seragamnya. Ternyata Sasuke sudah mengganti pakaiannya dengan celan jeans, dan kemeja putih yang membuatnya semakin menawan. Ia pun segera menarik tangan Hinata untuk turun kebawah.

 

Setelah dekat dengan ruang makan. Terlihat jelas bahwa kini Tsunade dan Fugaku sudah menunggu kedatang mereka berdua. Sasuke pun segera duduk di ikuti dengan Hinata.

 

“O-Ohayu Gozaimasu Fugaku-san, Tsunade-san.” Hinata membungkukan sedikit kepalanya, menyapa Fugaku dan Tsunade.

“Ohayou, ehm Hyuuga-chan?” Sapa Tsunade dengan senyum lembutnya. Ia belum mengenal siapa Hinata. Karena mata Hinata itu adalah ciri khas Hyuuga, jadi Tsunade hanya bisa memanggilnya seperti itu.

 

“Panggil saya Hinata saja, Tsunade-san.” Hinata tersenyum kembali. Ternyata Tsunade adalah orang yang sangat ramah.

 

“Jadi kau Hyuuga Hinata? Anak dari Hiashi Hyuuga?” Kini Fugaku lah yang bertanya pada Hinata.

 

“H-Ha’i Fugaku-san..”

 

“Kau teman Sasuke?”

 

“I-Iya.”

 

“Apa Hiashi tahu kau disini? Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Apa dia ada di Jepang?”

 

“I-Iya. Otou-sama tahu saya bersama Sasuke, dan Ia kebetulan sudah pulang dari Jepang dua hari yang lalu.”

 

“Baiklah aku akan menemuinya nanti. Sekarang kau makanlah.” Hinata pun mengangguk. Ia melirik ke arah Sasuke yang sejak tadi bersuara. Bungsu Uchiha itu makan dalam diam. Terlihat jelas sekali bahwa Sasuke tak menyukai sarapannya. Tanpa banyak tanya, Hinata pun memakan sarapannya.

 

Keluarga ini tidak terasa hangat bagi Hinata. Biasanya jika sarapan seperti ini, Hanabi suka bercanda gurau dengannya, Neji, bahkan Ayahnya. Jadi terasa sangat menyenangkan. Tapi berbeda ketika makan bersama keluarga Uchiha ini, hanya terdengar dentingan piring.

 

“Aku selesai.” Suara bariton Sasuke memecahkan keheningan. Hinata pun mengikuti Sasuke mengakhiri acara sarapannya.

 

“Ayo Hinata.” Sasuke pun mulai berdiri dari duduknya, di ikuti Hinata.

 

“Saya permisi Fugaku-san, Tsunade-san. Terimakasih atas makanannya.” Hinata pun membungkuk sebentar, lalu mengikuti Sasuke yang sudah keluar dari Mansion mewah ini.

 

“Apa Sasuke akan menerimaku sebagai Ibunya, Fugaku-kun?” Tanya Tsunade, sambil menatap sendu punggung Sasuke yang sudah menjauh.

 

“Tentu, bocah itu hanya perlu waktu saja.”

 

“Ya, aku harap begitu.” Tsunade tersenyum miris mengingat kebencian Sasuke padanya. Wanita paruh baya itu berharap Sasuke bisa menganggapnya sebagai ibunya.

 

TBC

Mind To Review?

 

Next:

“Ternyata benar Hinata-chan. Kenapa kau bersama si Teme ini Hinata? Apa kau pacarnya di Teme?”

“Eh? Na-Naruto-kun. Bu-bukan. Sa-Sasuke bukan pacarku”

“Yokatta. Teme kau jangan terlalu dekat dengannya. Karena mulai saat ini aku akan menjaga Hinata. Dia sangat manis yah Teme?”

 

“Harus berapa kali ku bilang, Hinata?!! Kau milikku!!”

 

“Sa-Sasuke-kun. Aku hanya menyukai Naruto”

 

“Baiklah, aku melepasmu Hinata”

 

 

 

 

 

 

See ya in next Chap. Chap 5 aku update minggu depan ^^ karena FF udah 6 chap di draft ^^

 

Sign

Astia Morichan ^^

 

 

You Must Love Me | Chap 3| SasuHina|

10

You Must Love Me!

Rate M

Romance, School Life, Drama

Disclamair: All Chara belong ‘Masashi Kishomoto’ and over all this fict is mine

Warning: OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Sasuke X Hinata

Nasib Hinata berubah 180 derajat gegara Sasuke yang mengetahui rahasia terbesarnya. Karena tak ingin rahasianya terbongkar, Hinata harus menuruti semua kemauan Uchiha Sasuke!!

Happy Reading!

Enjoy!!

.

.

.

Brukk

Pemuda tampan itu – Uchiha Sasuke kini tengah menghempaskan tubuh mungil seorang gadis berambut indigo itu ke sebuah ranjang kecil yang bernuansa putih. Yah- kini pasangan adam hawa itu tengah berada di ruang kesehatan.

 

“Ahh,, Ittaii.” Gadis itu- Hinata mencicit pelan, kala Sasuke langsung menindih tubuh mungilnya. Pemuda Uchiha itu kini tengah menatapnya tajam. Seakan mengulitinya hidup-hidup. Onyx nya memancarkan kemarahan di dalamnya. Membuat Hinata kini hanya bisa terdiam dan memalingkan wajahnya. Enggan menatap wajah tampan bungsu Uchiha itu.

 

“Kau membuatku marah Hinata.” Tubuh Hinata menegang, ketika mendengar suara bariton Sasuke.

 

“A-aku t-tak me-melakukan apapun Sa-sasuke-san.” Ucap Hinata gugup. Jujur saja, Hinata sangat takut jika harus berhadapan dengan Sasuke seperti. Sungguh Hinata merasa Ia tak melakukan sesuatu yang salah, sampai membuat Sasuke marah seperti ini.

 

“Hinata, kau harus tahu bahwa kau adalah milikku!” Ucap Sasuke penuh penekanan. Kalimat itu terdengar seperti kalimat perintah di telinga Hinata.

 

“Bi-bisakah kau tak menindihku Sa-sasuke-san,” Ucap Hinata tergagap. Entahlah Ia sungguh tak mengerti dengan ucapan Sasuke. Ia bukan barang yang bisa di miliki begitu saja. Karena Hinata masih sangat nyawanya, lebih baik Ia mengalihkan arah pembicaraan Sasuke.

 

“Kau mengalihkan pembicaraan Hinata!! Dengarkan aku kali ini!” Sasuke menaikan suaranya beberapa oktaf. Yah- Bungsu Uchiha itu sedikit berteriak. Hingga kembali membuat Hinata menutup mulutnya, dan menatap Sasuke penuh tanya.

 

“Kau milikku. Kau hanya boleh melihat ke arah ku. Mengerti?”

 

“M-Maksud mu Sa-Shmmphh,,,” Dan sebelum Hinata menyelesaikan ucapannya, sebuah benda bertekstur lembut tak bertulang itu menyentuh bibir Hinata. Awalannya hanya sebuah kecupan, dan beberapa detik kemudian Sasuke sudah melumat bibir Hinata dengan kasar. Ciuman itu sarat akan kemarahan, keputusasaan, dan rasa ingin memiliki yang menggebu. Seolah mengerti arti ciuman itu, Hinata tanpa sadar menutup matanya dan mulai membalas lumatan-lumatan yang Sasuke berikan padanya.

 

“Nghh,,” Lenguh Hinata dalam ciumannya. Membuat Sasuke menyeringai dalam ciumannya itu. Entahlah, rasa hangat menyebar keseluruh tubuhnya ketika Hinata membalas ciumannya. Bolehkah Ia berharap bahwa Hinata sudah mulai menyukainya?

 

“Hah,, hah,,” Tautan bibir itu terlepas, hingga hanya menyisakan benang saliva yang menyatukan kedua insan ini. Wajah Hinata kini sudah semerah tomat, ketika menyadari apa yang telah Ia lakukan dengan Sasuke. Jantungnya berdebar tak karuan saat ini!

 

“Hari ini kita langsung pulang.” Sasuke bangkit dan mulai duduk di tepi ranjang UKS. Ia merapikan kembali baju seragamnya yang sempat berantakan.

 

“T-tapi ini b-belum waktunya pulang Sa-sasuke-san.” Ucap Hinata yang kini sudah duduk di ranjang UKS dan menatap Sasuke heran.

Sasuke mendekatkan tubuhnya kearah Hinata. Ia dekatkan wajahnya ke arah gadis berambut indigo itu, hingga membuat Hinata merona dan hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya dan juga debaran jantungnya yang sangat tak terkendali ketika berada di dekat Sasuke.

 

“Mulai hari ini kau harus memanggilku Sasuke-kun. Mengerti?” Bisik Sasuke tepat di telinga Hinata. Nafas panas Sasuke menerpa leher jenjangnya. Membuat Hinata kembali mengangguk patuh.

 

“Bagus, dan sekarang kita pulang ke rumahku.” Ucap Sasuke sambil mulai berjalan dan membuka pintu ruangan UKS. Hinata pun segera berdiri dan menyambar tasnya yang ada di meja. Ia pun mulai mengikuti langkah Sasuke.

 

“T-tapi Sasuke-kun ini belum waktunya pulang,”Hinata menarik baju seragam belakang milik Sasuke. Sehingga membuat Sasuke kembali menoleh.

Sasuke kembali menatap Hinata tajam. Astaga, Hinata benar-benar menggoda kali ini. Apakah Ia tak sadar dua kancing seragam teratasnya sudah terbuka dan menampilkan belahan dadanya? Tanpa pikir panjang Sasuke langsung menyampirkan blazer miliknya. Ia pakaikan blazer itu kepada Hinata.

“Tutupi tubuhmu, dan tak usah banyak tanya. Cukup ikuti perintahku.” Dan bungsu Uchiha itu pun kembali menarik tangan Hinata untuk berjalan bersamanya. Melewati kerumunan siswi yang menatap Hinata iri. Apakah Hinata lupa bahwa saham terbesar Konoha Gakuen adalah milik Uchiha? Tentu saja, Sasuke bebas melakukan apapun yang Ia inginkan. Tak akan ada yang berani melawan Uchiha!

oOo

“S-Sasuke-kun kenapa harus ke rumah mu?” Tanya Hinata ketika Ia sudah duduk manis di mobil ferrari merah milik Sasuke.

 

“Diamlah Hinata. Cukup ikut saja aku.” Tanpa melirik ke arah Hinata, Sasuke langsung melajukan mobilnya menuju mansion Uchiha. Hinata hanya bisa terdiam, dan menundukan kepalanya.

 

‘Uchiha ini benar-benar sangat menyebalkan!!’

 

.

.

Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke mansion Uchiha yang super megah ini. Mata Hinata membelalak tak percaya ketika melihat mansion milik Uchiha yang bergaya Eropa namun tetap kental akan tradisionalnya. Mansion Hyuuga saja tak sebesar milik Sasuke. Tanpa Hinata sadari, kini Sasuke sudah membukakan pintu mobilnya.

 

“Turunlah.” Mendengar suara bariton Sasuke yang seakan menyadarkannya, Hinata pun segera turun dari mobil Sasuke. Kini Sasuke langsung menarik tangannya masuk kedalam rumahnya- ah ralat istananya!

 

“Anhh,, Fu-Fugaku-kunhh,” Terdengar suara desahan seorang wanita ketika Hinata dan Sasuke baru saja masuk ke dalam mansion mewah itu. Terlihat seorang wanita berambut pirang dan seorang pria bermata onyx yang mirip dengan Sasuke tengah menciumi leher wanita itu. Tak lupa dengan tangan pria itu yang tengah bergelirya menyentuh tubuh molek wanitanya.

 

Hinata dan Sasuke menghentikan langkahnya ketika mendapati pemandangan seperti itu. Dengan cepat Hinata menundukan kepalanya, dan menggengam erat tangan Sasuke.

“Cih,,” Sasuke mendecih pelan, dan segera menarik tangan Hinata untuk mengikutinya ke kamarnya. Hinata dengan pelan menatap Sasuke. Terlihat Sasuke kini tengah menahan amarahnya melihat kejadian itu. Tatapan Sasuke terlihat sangat terluka. Membuat Hinata terus mengeratkan genggaman tangan Sasuke. Seaakan takut jika nanti Sasuke akan jatuh.

 

Brakk

 

Sasuke membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. Hingga membuat Hinata terlonjak kaget. Kini Sasuke sudah melepaskan genggaman tangannya pada Hinata.

 

Krangg

 

Bungsu Uchiha itu kini membantingkan sebuah vas kaca. Terlihat sangat jelas bahwa kini Sasuke sudah sangat marah.

“Sialan, berani-beraninya Ia membawa pelacur itu kemari!!”Geram Sasuke penuh kebencian. Hinata yang melihatnya hanya bisa menatap Sasuke iba. Dengan perlahan Hinata mendekat ke arah Sasuke.

 

Grepp

 

Di peluknya tubuh Sasuke yang kini terlihat sangat rapuh di hadapan Hinata. Diusapnya punggung Sasuke yang masih menegang itu. Tentu saja, Sasuke sangat tidak menyangka bahwa Hinata kini memeluknya dengan penuh kasih sayang seperti itu. Ah, Ia bahkan lupa telah membawa Hinata ke dalam kamarnya, dan memperlihatkan Hinata bagaimana Ia mengamuk seperti tadi.

 

“Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang Sasuke-kun.” Ucap Hinata lembut sambil terus mengelus punggung Sasuke yang kini sudah melemas di pelukannya. Rengkuhan Hinata pada tubuhnya membuat Sasuke tak bisa menahan perasaannya. Ia peluk Hinata dengan erat. Sungguh, rasanya Ia ingin menangis di hadapan gadis ini. Meluapkan semua kekesalannya pada sang Ayah. Meluapkan semua kesedihan yang sudah ia derita selama ini. Demi Tuhan Ia sangat ingin melakukannya. Tapi yang Ia lakukan hanya bisa memeluk erat Hinata untuk menenangkannya.

 

Setelah beberapa menit berpelukan akhirnya, Sasuke pun melepaskan pelukannya pada Hinata. Ia menarik Hinata ke arah ranjangnya, dan menyuruh Hinata untuk duduk di pangkuannya. Hinata pun menurut. Dan saat itu juga kini Sasuke tengah memeluknya dari belakang.

 

“Maafkan aku, karena kau harus melihat kejadian menjijikan tadi.” bisik Sasuke pelan. Hinata hanya bisa mengangguk. Ia sangat tahu bahwa Sasuke kini tengah bersedih. Ia sangat menyadari rasa kesepian yang di alami Sasuke. Karena Ia juga selalu di tinggalkan oleh Ayahnya. Jadi ia sangat sadar akan rasa kesepian Sasuke.

 

“K-Kalau kau mau A-Aku bisa mendengarkan ceritamu Sa-Sasuke-kun jika itu bisa membuatmu t-tenang.”

 

“Cukup kau ada disisiku itu sudah membuatku tenang Hinata.” Ucap Sasuke sambil mengeratkan pelukannya pada Hinata. Ia hirup dalam-dalam aroma lavender yang menguar dalam tubuh Hinata. Sungguh aroma itu sangat membuatnya tenang.

 

Tentu saja Sasuke tak ingin Hinata mengetahui tentang keadaannya yang menyedihkan. Walaupun Ia terlihat sangat sempurna tapi Ia sangat kesepian. Sasuke sangat benci berada di rumahnya. Tak ada Itachi. Kakak satu-satunya itu kini tengah melanjutkan studinya di Jerman. Jadi tak ada yang bisa menemani Sasuke 4 tahun terakhir ini. Dan Ia sungguh muak ketika melihat Ayahnya yang berani membawa pelacur itu- Tsunade ke dalam rumahnya. Yah walaupun tahu bahwa Tsunade pada dasarnya bukan seorang pelacur. Tapi Sasuke selalu menganggapnya seperti itu. Karena wanita itu, Fugaku kini sudah tak mencintai mendiang Ibunya lagi- Mikoto. Sungguh, Sasuke sangat membenci Tsunade karena telah menggoda ayahnya. Ayahnya itu tak segan-segan akan membentak Sasuke jika Sasuke sudah mencaci wanita itu. Ah- baginya rumah mewah ini sudah tak sehangat dulu lagi. Rumah ini sudah bagaikan neraka. Karena kini ayahnya sudah menyuruh Tsunade untuk tinggal di rumahnya, dan berencana untuk menikahi wanita itu.

 

“Sa-sasuke-kun,” Panggil Hinata lembut membuat Sasuke sadar akan lamunannya.

 

“Hm??”

 

“A-Aku Ingin pulang Sasuke.”

 

“Menginaplah disini. Temani aku Hinata.” Bisik Sasuke penuh permohonan. Hinata yang mendengar ungkapan permohonan Sasuke hanya bisa terdiam. Jujur saja, Ia ingin menemani Sasuke. Ia sangat kasihan pada pemuda ini. Tapi apa daya ayahnya pasti tak akan mengizinkan untuk menginap di rumah Sasuke.

 

“A-ayahku tak akan mengizinkannya Sasuke-kun”

 

“Aku akan bicara padanya. Aku mohon Hinata temani aku. Rumah ini terasa neraka bagiku.” Sasuke kini mulai mengambil I-phonenya dan mulai mendial nomor milik Hiashi. Well, tentu saja Sasuke sudah mengenal ayah Hinata, tanpa gadis itu ketahui. Dan pada dering kedua, terdengarlah suara berat milik Hyuuga Hiashi disana.

 

“Selamat malam Hiashi-san.”

 

“…….”

 

“Bisakah anda mengizinkan Hinata untuk menginap di mansionku malam ini? Hinata tadi pingsan, dan kini Ia demam. Jadi saya merawatnya di rumah. Apa tak apa Hiashi-san?”

“……….”

 

“Baiklah. Selamat malam Hiashi-san.”

 

PIP

Dan Sambungan telepon itu sudah Sasuke matikan. Kini Ia kembali memeluk Hinata dengan erat. Hinata hanya bisa melongo tak percaya mendengar alasan Sasuke. What the?? Ia tidak sakit sama sekali. Dan kenapa ayahnya itu bisa mudah percaya pada Sasuke? Astaga, dunia sudah sangat tidak beres.

 

“S-sasuke-kun, aku ingin pulang!!” Hinata mulai berontak dalam pelukan Sasuke. Ia mencoba melepaskan pelukannya.

 

“Diamlah Hinata, aku tak akan melakukan hal aneh padamu, dan aku sudah meminta izin pada ayahmu. Aku hanya ingin kau menemaniku malam ini.” Ucap Sasuke penuh penekanan. Sehingga membuat Hinata kembali terdiam, dan menghela nafas berat.

 

“Baiklah.”

 

“Bagus, sekarang lebih baik kau mandi dulu, dan aku akan membawa makan malam untukmu.” Sasuke pun sudah melepaskan pelukannya pada tubuh Hinata. Hinata hanya bisa patuh meneruti perintah Sasuke. Mau bagaimana lagi? Ia sudah tak punya alasan untuk menolak.

oOo

Sasuke tersenyum senang. Baru pertama kali dalam hidupnya setelah Ibunya meninggal Sasuke bisa merasakan kebahagian ini lagi. Ah, rasanya hanya dekat dengan Hinata membuatnya nyaman. Sejak dulu Hinata selalu bisa memenenangkannya ketika sedih, walaupun mungkin gadis itu sama sekali tak akan mengingatnya.

 

Sasuke kini sudah turun kebawah, Ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Hari semua maidnya sudah ayahnya liburkan. Jadi mau tidak mau Sasuke harus mengambil makanannya sendiri. Sumpah demi Dewa Kematian Ia semakin membenci Tsunade karena sudah seenaknya meyuruh maidnya berlibur!!

 

“Siapa gadis itu??” Langkah Sasuke otomatis berhenti ketika Ia hendak mengambil ramen instan di lemari pendingin, ketika mendengar suara berat milik Ayahnya.

 

“Temanku.” Ucap Sasuke dingin, tanpa menatap ayahnya Bungsu Uchiha itu tengah sibuk menyiapkan ramen instan, dan membawa kotak jus strawberry dan tomat.

 

“Jika aku bicara padamu, kau harus menatapku Sasuke!!” Teriak Fugaku marah, mendapat perlakuan anaknya yang tak sopan.

 

Tapp Tapp

 

Suara langkah kaki itu terdengar. Wanita bersuari pirang itu mendekati Fugaku. Ia mengelus pungguh pria paruh baya itu.

 

“Sudahlah Fugaku-kun jangan terlalu keras pada Sasuke-kun. Sasuke-kun janganlah kau makan ramen instan, tak baik untukmu. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu malam ini. Makan malam lah bersama kami, bersama gadis manis itu.” Ucap Tsunade tulus. Sungguh, Ia sudah menganggap Sasuke sebagai putranya sendiri.

 

“Aku tak butuh makananmu, bitch.” Sasuke pun mengambil ramennya, dan mulai beranjak untuk meninggalkan dapur.

 

“Jaga ucapanmu Sasuke!! Dia adalah calon Ibumu!!” Bentak Fugaku. Sasuke sama sekali tidak mengubris ucapan Ayahnya dan kembali menujuk kemar. Mungkin jika saja Tsunade tak ada disana menahan Fugaku. Sudah di pastikan wajah Sasuke akan babak belur mendapat pukulan dari sang ayah.

 

T.B.C

 

Mind To Review? ^^

 

Hehe, Terimakasih untuk yang review di chap sebelumnya. Mohon maaf sekali lagi karena saya baru update. Di karenakan hari ini liburan. Jadi saya memutuskan untuk kembali melanjutkan fict ini.

Ah iya, Otanjobi omedetou Hyuuga Hinata ^^ Fict ini untuk Hinata ^^ hihi ^^

Semoga tidak mengecewakan. Sampai jumpa di chap selanjutnya ^^

 

Sign

Astia Morichan

27122014