Love Stage | BaekYeol Fanfict| Warning!!

2

Love Stage

Rated M! Warning!

Romance, Drama

Warning: DLDR! Typo, OOC, NO SIDERS!!

Chanyeol X Baekhyun

Sehun X Luhan

a/n: FF ini adalah Remake dari komik/ anime yaoi dengan judul yang sama. Ini adalah remake anime yaoi pertama saya yang castnya BaekYeol.

Happy Reading

EnJOY^^

oOo

 

Seorang namja berperawakan mungil itu- Byun Baekhyun tengah bersiap untuk pergi ke kampusnya. Ia adalah salah satu anak dari keluarga Entertainment. Sang Ibu yang merupakan artis papan atas- Kim Hyun ah, Sang ayah yang merupakan penyanyi solo serta aktor terkenal ByunHyunseong dan juga kakak laki-lakinya Byun Sehun yang merupakan vokalis band ternama – Stage-.

Beda dengan yang lainnya, Byun Baekhyun memiliki mimpi untuk menjadi mangaka seperti Masashi Kishimoto Sensei yang membuat manga Naruto terkenal sedunia. Ia benar-benar bermimpi ingin seperti Masashi sensei. Baekhyun sangat menyukai tokoh Hinata yang cantik di anime itu. Sehingga Baekhyun ingin sekali mempunya yeoja chingu seperti Hinata !!

 

Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, akhirnya Baekhyun melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Dengan penuh senyuman yang mengembang, karena hari ini adalah awal semester di mulai. Ia sungguh tak sabar untuk bergabung kembali bersama klub pencinta anime di sana.

 

“Selamat pagi Baekhyun-ah” Suara lembut Hyuna membuat Baekhyun tersenyum. Ia pun segera duduk di depan sang Ibu. Sementara sang ayah sedang sibuk membaca surat kabar, dan sang asisten Xiu-Luhan yang merupakan kepercayaan keluarganya itu tengah meneliti setiap jadwal untuk Ibu dan Ayahnya.

 

“Ne, Baekkie-ah. Bagaimana tawaran ibu? Apa kau setuju kembali berperan untuk iklan komersial lagi? Ayolah, iklan komersial itu harus ada lanjutannya setelah 10 tahun ini” Ucap Hyuna sambil mengeluarkan puppy eyes kepada putra sulungnya. Sementara Baekhyun kini tengah menatap horor ibunya.

 

“Ya!! Eomma! Shireoo!! Aku tak mau! Aku tak ingin menjadi artis! Dan aku tak ingin berperan menjadi yeoja seperti waktu itu. Sangat menjijikan!!” Baekhyun segera bangkit dari duduknya. Tanpa menyentuh sarapannya. Baekhyun segera pergi meninggalkan orang tuanya, dan Luhan yang kini tengah mengejar Baekhyun dari belakang.

 

“Baekhyun-ah, ayo aku antar kau ke kampus” Ajak Luhan setelah langkahnya sejajar dengan Baekhyun.

“Jika kau ingin membujukku untuk mengikuti iklan komersial pernikahan itu. Maka jawabannya Tidak Hyung!!”

“Tidak, aku hanya ingin mengantarmu. Kau tahu? Hari pertama selalu macet. Kau tentu tidak ingin dimarahi dosen mu kan?” Mendengar tawaran Luhan, akhirnya Baekhyun mengangguk setuju dan langsung menaiki mobil Honda civic milik Luhan. Melihat tingkah Baekhyun yang seperti itu membuat Luhan mau tidak mau tersenyum. Ah- tidak Ia kini tengah menyeringai. Ia harus bisa membujuk Baekhyun untuk mengikuti iklan komersial itu. Karena agensi Byun sudah menandatangani kontrak untuk Baekhyun. Sedangkan pasangan Baekhyun untuk iklan itu adalah Park Chanyeol. Pemuda itu hanya ingin bermain iklan asalkan pemeran utamanya adalah gadis 10 tahun yang lalu. Itu adalah Baekhyun!

 

“Baekhyun-ah, kenapa kau tidak ingin menjadi model di iklan itu? Padahal itu bisa menjadi awal untuk debut mu yang kedua setelah 10 tahun yang lalu” Tanya Luhan sambil melajukan mobilnya ke arah kampus Baekhyun.

 

“Hyung!! apa kau sudah lupa? Gara-gara iklan komersial sialan itu aku harus menanggung malu Hyung!! ah hal itu sangat memalukan! Pokoknya aku tak ingin mengikuti iklan itu!!” Baekhyun kini mengerucutkan bibirnya. Sehingga membuat Luhan mendesah pasrah. Mungkin lebih baik Ia meminta bantuan Sehun untuk hal ini.

 

“Baiklah. Terserah kau saja”

 

“Hm, ingatlah Hyung. Debut ku itu hanya satu menjadi mangaka terkenal!!” Ucap Baekhyun penuh antusias. Sementara Luhan hanya tersenyum simpul mengingat gambar Baekhyun bisa di katakan jauh dari bagus. Baekhyun benar-benar tidak mempunyai bakat dalam hal menggambar!!

 

Hanya butuh waktu 20 menit, akhirnya mobil civic milik Luhan berhenti di depan Universitas Seoul. Membuat Baekhyun segera keluar dari mobil Luhan. Karena 10 menit lagi kelasnya di mulai.

“Gomawo Hyung!” dan Baekhyun segera melesat pergi saat itu juga.

 

“Hah, aku harus menelpon si bodoh Sehun lagi” Ucap Luhan tak rela ketika Ia sudah menekan tombol nomor Sehun, dan mulai menelponya.

 

“Halo”

 

“…….”

 

“Ya!! Aku sama sekali tidak merindukanmu bodoh!!”

 

“…..”

 

“Soal Baekhyun. Kau tahu? Aku di suruh ayahmu untuk membuat Baekhyun ikut iklan komersil seperti 10 tahun yang lalu. Kau bisa membantuku Sehun-ah?”

 

“……”

 

“Ah, Baiklah. Gomawo Sehun-ah”

 

“ …..”

 

“Hm, aku tidak merindukanmu bodoh!”

 

PIP

 

Dan sambungan telfon itu terputus. Membuat Luhan mendesah lega karena Sehun bisa membantunya. Ah, tentu saja Sehun sangat mengetahui apa saja yang bisa membuat Baekhyun menuruti semua keinginannya.

 

oOo

 

Baekhyun kini tengah asik menggambar tokoh Naruto dan Hinata di sketch booknya. Ia sama sekali tidak memperhatikan Park Seongsaeng yang tengah mengajarkan kalkulus di depan. Baekhyun masih asik menggambar sampai jam pelajaran usai. Akhirnya Ia membereskan bukunya ke dalam tas. Setelah ini Ia harus pergi ke klub, untuk melanjutkan kerjaannya dalam membuat komik.

Baekhyun kini sudah keluar dari ruang kelasnya. Ia seolah menutup telinganya rapat-rapat ketika mendengar suara teriakan yeoja dimana-mana menyebut nama ‘Sehun’

Tunggu? Sehun? Baekhyun kini menghentikan langkahnya, dan melihat ke arah suara berasal. Disana kini terlihat seorang pemuda berkulit putih dan berambut coklat itu tengah melangkah ke arahnya. Astaga! Itu Hyungnya! Tanpa menyamar Ia datang kesini! Eh? Tapi bukankah Sehun sedang melakukan Tour di London? Kenapa Ia bisa ada di Seoul??

 

“Baekiee-ahh, aku merindukanmu!!” Teriak Sehun, sambil menaarik Baekhyun dalam pelukannya. Ia memeluk Baekhyun erat. Tanpa peduli tatapan iri para fans nya.

 

“Ya!! Hyung!! kau benar-benar tak pintar dalam menyamar” Baekhyun mendengus kesal. Ia pun kini menarik Sehun untuk pergi ke ruang klub nya. Menjauh dari teriakan para fans Sehun yang masih mengejarnya.

 

Setelah sampai di ruang klub. Baekhyun menatap tajam Sehun yang kini tengah tersenyum dengan wajah tanpa dosanya.

“Hyung! bukankah kau seharusnya di London? Kenapa ada disini?” Tanya Baekhyun tak percaya dengan kelakuan Kakak satu-satunya ini.

 

“Kau tahu Baekhyun-ah? Aku sangat merindukanmu. Jadi aku langsung terbang dari London ke sini untuk bertemu denganmu” Ucap Sehun sambil memeluk Baekhyun dengan erat.

 

“Ya!! Hyung! kau benar-benar gila” Baekhyun kini menggeleng tak percaya dengan tingkah Sehun yang menurutnya sangat tidak logis!!

 

“Hehe, aku membawakan mu hadiah. Apa kau mau?” Tawar Sehun sambil melepaskan pelukannya pada Baekhyun. Namja itu kini mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya. Sebuah jam weker bergambar Hinata di genggamnya.

 

“Hwahhh, Hyungg Jjang!! Ini untuk ku?” Baekhyun yang melihat benda stock limited edition itu berbinar. Ia sudah mengincar jam itu sejak dulu. Tapi selalu saja kehabisan.

 

“ya, ini untuk mu tapi kau harus mengikuti iklan komersial itu jika kau ingin jam ini” Baekhyun yang mendengar ucapan Sehun langsung mendesah kecewa. Ah, kenapa ujung-ujungnya selalu iklan komersial itu sih? Menyebalkan!

 

“Shireo!”

Klikk

 

‘Selamat Pagi Baekhyun-ah. Ayo bangun! Semoga hari mu menyenangkan di pagi ini!!’

 

Glek

 

Baekhyun menelan salivanya dalam-dalam. Ia menatap Sehun tidak percaya ketika kakaknya itu memutar jam wekernya yang kini mengeluarkan suara asli dubber Hinata disana.

 

“Hweehh,, Hyungg kemarikan jam nya!! Baiklah aku ikut iklan itu!! Ayo kemarikan” Baekhyun menarik tangan Sehun dan menggapai jam itu. Hingga membuat Sehun tersenyum sambil memberikan jam itu pada Baekhyun. Misinya berhasil. Luhan pasti bangga padanya!

 

“Gomawo Hyung” Ucap Baekhyun senang sambil memeluk jam itu. Tanpa Baekhyun tahu, kembalinya Ia berperan dalam iklan komersial dengan Park Chanyeol akan membuat hidupnya berubah 180 derajat!!

 

TBC

Mind To Review??

Kalau gak minat tenang aja gak akan di lanjut. Kalau pun sidersnya banyak, FF ini akan sama berakhir mengenaskan seperti FF I love ur moan yang aku discontinue.

So, Respect ok?

Makasih untuk semua readers ^^

Sign

Astia Morichan ^^

Advertisements

Married Project| Chap 2| NaruHina Fanfict

41

Married project

RM18!

Romance, Drama, Family

Chara Belong To Masashi Kishimoto

Warning! TYPOO, OOC , DONT LIKE DONT READ, ETC !!

Naruto Namikaze X Hinata Hyuuga

a/n: Fanfict lama yang sudah di edit abis-abisan

EnJOY!

Happy Reading ^^

.

oOo

.

Pemuda berkulit tan itu masih terdiam kaku mencerna perkataan gadis bersurai indigo yang baru saja beberapa jam lalu mengucapkan kata sakral dengannya. Hatinya mencelos, mendengar istrinya menyebut nama laki-laki lain.

‘Sasuke??? Siapa itu??’ Naruto masih berpikir siapa nama laki-laki yang istrinya sebutkan.Sakit hati? Tentu saja! Penasaran ? Sudah pasti. Jika Naruto bertemu dengan laki-laki bernama Sasuke itu, sudah pasti Ia akan menghajarnya sampai habis karena berani menggoda istrinya.

Pikiran tentang Sasuke terus terngiang di kepalanya, bahkan tanpa Naruto sadari semua orang sudah pergi meninggalkan area pesta pernikahannya. Kecuali istrinya- Hinata yang masih berdiri di sampingnya.

“Mau sampai kapan berdiri di sana??” Suara merdu milik Hinata membuyarkan lamunan suaminya itu. Hingga pemuda berkulit tan itu, menoleh pada Hinata. Tersenyum gugup, sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.

“Cepatlah, Naruto-kun. Okaa-san sudah menyuruh kita untuk beristirahat.” Tanpa menunggu respon dari Naruto, Hinata meninggalkan Naruto sendiri di tengah ruangan megah milik keluarga Namikaze, yang menjadi tempat pernikahan sakral mereka. Naruto pun hanya bisa mengekori langkah Hinata, yang ada di depannya.

oOo

Kamar bernuansa putih dengan taburan bunga dimana-mana, tidak membuat sang gadis terharu. Padahal pemuda berkulit tan itu berharap Hinata akan terkesan dengan usahanya. Tapi apa? Bahkan ketika Hinata masuk ke dalam kamar mereka. Ia langsung bergegas untuk membersihkan diri. Setelah itu berbaring di ranjang, dan menarik selimut tebal untuk menutup seluruh tubuhnya.

” Naruto-kun , oyasuminasai.”Hinata meringkuk. Memunggungi Naruto adalah cara terbaik, agar Ia tidak salah tingkah. Hinata lebih memilih untuk segera tidur, dan menutup matanya. Sementara Naruto? Ia masih berdiri mematung di sisi ranjang. Menatap istrinya tidak percaya. Ayolah! Bukankah ini malam pertama mereka? Apa hanya seperti ini saja? Konyol! Naruto hanya bisa tersenyum pahit, menerima keputusan istrinya itu.

‘Apa ini yang di namakan Malam Pertama??’ Naruto bergumam pelan. Tidak ingin kepalanya pusing karena banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya. Akhirnya Naruto memilih untuk tidur di samping istrinya. Walaupun jantungnya saat ini tengah berdebar tak karuan!

Tidak akan terjadi apapun, Naruto-kun. Aku hanya menyukai Sasuke-kun’ Batin Hinata, dan mulai menutup matanya untuk sampai di dunia mimpinya.

‘Shit, kenapa aku menjadi berdebar tak karuan seperti ini ? Tidak seperti biasanya. Tapi kenapa sekarang,, Arghht ,‘ Naruto menjambak rambutnya frustasi. Demi apapun, Ia sangat ingin mengontrol detak jantungnya. Mungkin, memunggungi Hinata adalah hal yang terbaik. Mencoba untuk terus menutup matanya.Well, untungnya cara itu berhasil!

.

oOo

.

Cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamar pengantin muda itu. Membuat gadis bermanik amethys itu membuka perlahan. Hinata mulai mengerjapkan matanya perlahan, mencoba mengembalikan kesadarannya.

“Nghh,,” Dengkuran halus itu terdengar. Pemuda berkulit tan itu menggeliatkan tubuhnya tak nyaman, mencoba mengeratkan pelukannya pada gadis berambut indigo itu untuk mencari kenyamanan tersendiri. Amethys itu kini membelalak lebar ketika menyadari siapa yang tengah memelukya. Hingga membuat kesadarannya kembali. Tangan kekar milik Naruto, melingkar manis di pinggangnya. Mendekap Hinata posesif, seakan tidak ingin melepasnya barang sedetik pun. Hangat, dan sangat nyaman. Itu lah yang di rasakan Hinata. Tapi Hinata sadar, Ia tentu tidak boleh terjerat oleh Naruto. Sampai kapan pun hal itu tidak boleh terjadi!

“Kyaaa,, menjauh dariku Naruto!” Teriak Hinata sambil mendorong tubuh Naruto, dan berhasil membuat Naruto jatuh tersungkur ke lantai, dan membuat kepalanya terbentur ke nakas meja.

“Ah,, Ittai,, apa yang kau lakukan?” Naruto meringis pelan, sambil mengelus kepalanya. Sial! kepalanya benar-benar sakit sekarang!

“Kau menyebalkan!!” Hinata mendegus kesal dan mulai beranjak dari ranjangnya, sambil menghentak kan kakinya menuju kamar mandi. Meninggalkan Naruto yang masih mengusap kepalanya yang mungkin benjol?

“Aku tak melakukan apapun padamu! Ah- ini benar-benar sakit!”

.

oOo

.

“Naruto, cepatlah turun.” Suara lembut milik Kushina, membuat Naruto dan Hinata yang sudah selesai membersihkan diri, mempercepat langkahnya menunju meja makan. Sehingga mereka sudah berada di meja makan. Dengan beberapa hidangan sarapan yang terlihat menggiurkan menghiasi meja besar itu.

“Duduklah.” Suara berat milik Minato- Sang kepala keluarga, membuat Naruto langsung duduk di samping Hinata.

Keluarga baru Namikaze pun memulai sarapan paginya. Hanabi – Adik Hinata pun ikut serta dalam sarapan pagi itu, karena Hanabi menginap di tempat keluarga Namikaze semalam. Tidak! Hanabi memang sudah memutuskan untuk tinggal disini. Bersama Hinata. Karena Kushina tidak mengizinkan Hanabi tinggal seorang diri.

“Nii-chan, bagaimana malam pertamamu?” Suara milik Hanabi mulai memecahkan keheningan, di meja makan itu. Piring yang awalnya berdenting, kini seolah berhenti berdenting.

“Uhuuk…. uhukkk….” Hinata dan Naruto tersedak bersamaan ketika mendengar pertanyaan dari bocah berumur 13 tahun itu. Dengan cepat, Hinata mengambil segelas air putih yang berada di samping,. Meminumnya sampai tandas, agar makanan itu segera mengalir ke kerongkongannya.

“Ti-tidak terjadi apapun.” Jawab Naruto gugup,sambil mengambil minumanya.

“Ne, tak terjadi apapun Hana-chan. Tidak seharusnya kau mencampuri hal seperti itu Hana-chan.” Ucap Hinata sedatar mungkin. Tidak mungkin kan Ia akan menjawab pertanyaan semacam itu pada bocah berumur 13 tahun. Itu terlalu dini untuk gadis seumuran Hanabi.

“Kau tak asyik Nee-chan.” Hanabi mengerucutkan bibirnya lucu. Sehingga membuat Kushina dan Minato tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu.

“Sudahlah, habiskan makanan kalian. Dan kau Hana-chan, jangan bertanya tentang hal seperti itu pada kakakmu. Wakkatta?” Suara lembut milik Kushina mulai menghentikan keributan, di acara sarapan pagi itu.

“Wakarimasu.” Ucap Hanabi sambil menganggukan kepalanya, dan kembali melanjutkan acara makannya. Diikuti Naruto dan Hinata yang kembali menikmati sarapan paginya.

.

oOo

.

 

Setelah acara sarapan pagi tadi. Hinata memutuskan untuk menikmati hari liburnya dengan berdiam diri di taman belakang mansion Namikaze yang megah ini. Kini Hinata duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Gadis itu menekuk lututnya, dan menenggelamkan seluruh wajah cantiknya di sana. Hinata masih tidak mengerti. Ia masih tidak bisa untuk menerima keadaannya sekarang.

“Apa salah ku Kami-sama?? Seharusnya margaku setelah menikah adalah Uchiha. Bukan Namikaze. Sejak dulu, hanya nama Uchiha Hinata lah yang aku impikan. Sasuke-kun, kau dimana?? Aku sangat merindukan mu!” Hinata mulai menangis terisak, mempertanyakan semua yang sudah terjadi pada Kami-sama. Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan hidupnya. Ayahnya yang di renggut paksa. Sasuke- Pemuda satu-satunya yang mengerti Hinata juga menghilang dari hidupnya. Demi Tuhan! Ia sama sekali tidak mengerti dengan nasib nya yang seperti ini!! Sepertinya Hinata dikutuk untuk menjadi orang yang paling menderita di muka bumi ini.

“S-sasuke-kun,, hiks,, A-aku sangat merindukanmu.” Hinata terus menangis. Ia bahkan menyebutkan nama Sasuke berulang kali dalam tangisnya. Bahkan gadis berambut indigo itu sama sekali tidak menyadari kehadiran suaminya yang sudah duduk di sampingnya.

“Siapa Sasuke?” Suara baritone Naruto, membuat Hinata menoleh padanya.

“Naruto-kun, sejak kapan kau di sini??” Hinata mulai menghapus air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Naruto, yang sudah Ia anggap musuh abadinya. Cukup satu kali Hinata memperlihatkan kelemahannya pada Naruto.

“Aku bertanya siapa itu Sasuke, Hinata??” Suara tegas dari Naruto membuat Hinata mengernyit pelan. Akhirnya gadis itu menghela nafasnya. Sebelum menjawab pertanyaan Naruto.

“Baiklah. Aku akan ceritakan padamu soal Sasuke.” Ucap Hinata pelan. Bagaimanapun juga Hinata memang harus menceritakan semuanya pada suaminya itu. Naruto pun hanya mengangguk, dan mulai serius untuk mendengarkan cerita Hinata. Tentu saja, Ia sangat penasaran dengan pria bermarga Uchiha itu.

“Uchiha Sasuke, dia adalah cinta pertama ku. Sejak Otou-sama meninggal, Sasuke yang selalu menghiburku. Membuat ku tertawa. Menghilangkan semua kesedihanku. Berada di dekatnya selalu membuatku tersenyum, dan nyaman. Hanya Sasuke yang bisa membuatku bisa menerima kenyataan bahwa Otou-sama meninggalkanku untuk selamanya. Sasuke, dia segala nya untuk ku. Bersamanya, aku merasa aman dan bahagia.” Hinata tersenyum mengingat kenangannya dengan Sasuke. Jika mengingat Bungsu Uchiha itu, Hinata menjadi semakin merindukan sosok Sasuke sekarang.

Sementara Naruto, hanya mengangguk. Sebagai tanda bahwa Ia mengerti. Jujur. Naruto iri pada Sasuke sekarang.

“Tapi, dua bulan setelah keluargamu memintaku untuk bersedia mengurus semua keperluanku. Dan gara-gara perjanjian itu. Sasuke menghilang, sampai saat ini. Aku belum bertemu Sasuke lagi. Dia tidak pernah menghubungiku. Aku hanya bisa berhubungan dengan kakaknya Itachi. Tapi Itachi-nii selalu menolak permintaanku ketika aku ingin berbicara dengan Sasuke. Aku tahu dia punya alasan untuk itu. Aku yakin dia akan menjemputku lagi.”

‘Jika kau bersamanya, bagaimana denganku?’ Naruto hanya mampu tersenyum miris mendengar cerita tentang Sasuke. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan jika Sasuke akan hadir di kehidupan mereka, dan mengacaukan segalanya.

 

Drrtt Drrtt

 

I-phone putih milik Hinata bergetar. Dengan segera Hinata mengecek I-phonenya dan membuka notif yang memberitahunya sebuah pesan masuk.

From: Uchiha Itachi

To : Hyuuga Hinata

 

Hime-chan, ini aku Sasuke. Aku meminjam HP baka aniki. Bisakah kita bertemu?? Aku menunggu mu di Taman dekat Tokyo tower. Ada yang ingin ku sampaikan. Aku merindukan mu Hime

Sasuke 

 

Seketika, jantung Hinata serasa berhenti.Sasuke Uchiha, yang Ia tunggu akhirnya datang. Sementara Naruto masih bingung dengan apa yang terjadi pada Istrinya itu. Sejak menggenggam I-phone nya Hinata terus terdiam, sambil membulatkan mulutnya tidak percaya.

“Naruto-kun, Sa-sasuke akhirnya menghubungiku. Aku akan bertemu dengannya. Tolong katakan pada Okaa-san kalau aku pergi. O-onegaishimasu.” Hinata membungkukkan badannya dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya itu, dan pergi meninggalkan Naruto Untuk bertemu Sasuke yang sangat Ia rindukan. Tanpa memikirkan perasaan Naruto, yang menatap miris punggunya yang menjauh.

 “Nasibku buruk sekali, istriku lebih memilih orang itu.”

.

oOo

.

 

Setelah mendapatkan pesan dari Sasuke, Hinata terus berlari secepat mungkin. Di tengah keramaian orang-orang yang tengah berlalu lalang. Gadis itu mencoba mencari sosok yang Ia rindukan. Siapa lagi selain Uchiha Sasuke yang selalu ada di pikirannya. Sasuke yang di tunggunya bertahun-tahun lamanya akhirnya datang juga.

“Sasuke-kun, k-kau di mana??” Hinata terus menggumamkan nama Sasuke. Amethysnya mencoba meneliti setiap orang yang berlalu lalang disana.

“Hinata!” Suara baritone itu terdengar. Membuat Hinata yang merasa namanya di panggil menoleh ke arah sumber suara. Amethysnya membelalak lebar tak percaya melihat sosok yang kini sudah ada di depannya. Pemuda berambut raven dengan paras tampan yang mampu membuat semua gadis terpesona itu ada di hadapannya. Sosok pemuda yang bertahun-tahun lamanya Ia rindukan. Uchiha Sasuke kini ada di depannya!!

“ S-sasuke-kun, aku merindukanmu.” Teriak Hinata sambil memeluk tubuh Sasuke dengan erat. Tubuh Hinata bergetar hebat, saat Sasuke membalas pelukan eratnya.

“Sa-sasu-kun kau bodoh, hiks,,” Hinata bergumam lirih, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh. Ia benar-benar merindukan sosok Sasuke!! Sementara Sasuke hanya tersenyum tipis, sambil mengusap lembut punggung gadis itu.

“Hime, Omedetou. Selamat atas pernikahan mu dengan Naruto. Mungkin aku terlambat untuk menjemputmu lagi. Aku sangat menyesal.” Mendengar ucapan selamat dari Sasuke membuat Hinata mengernyitkan dahinya. Dengan refleks Hinata, langsung melepaskan pelukannya pada pemuda berambut raven itu dan menatap tajam mata onyx milik Sasuke.

“T-tidak, aku akan terus bersamamu. Tidak dengan Naruto. Hati ku hanya untukmu Sasuke-kun. Aku selalu menunggumu selama ini!!” Ucap Hinata tegas. Ia menatap tajam onyx milik Sasuke. Sehingga tatapan Sasuke hanya terarah padanya. Hinata mengernyitkan alisnya bingung, saat melihat Sasuke menundukan kepalanya penuh penyesalan.

“Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari bibir Sasuke.

“A-aku hanya menyukaimu Sasu-kun…” Sasuke hanya bisa tersenyum miris, jujur saja Ia sangat ingin bersama gadis ini. Tapi sayang, takdir mengatakan lain.

 ‘Maaf. Mungkin aku tidak bisa mengatakan nya sekarang. Maaf Okaa-san, Karin. Maafkan aku, kali ini. Tapi aku pasti akan mengatakan hal ini pada Hinata.’

“Sasuke-kun!!” Hinata berseru dengan kencang karena sedari tadi Sasuke hanya terdiam. Mendengar teriakan Hinata, membuat Sasuke tersadar akan lamunannya. Pemuda berambut raven itu hanya tersenyum, dan langsung menggenggam tangan Hinata erat.

“Ayo, kita jalan-jalan di sekitar sini.” Sasuke menarik cepat tangan Hinata. Sungguh, Sasuke tak ingin menyianyiakan kesampatannya kali ini. Gadis itu terlihat senang, dan sangat bahagia mendengar ajakan Sasuke. Dengan cepat Hinata mengiyakan ajakan pemuda itu, dan menggenggam erat tangan Sasuke. Berharap Sasuke tak akan pernah meninggalkannya lagi.

.

oOo

.

Tanpa terasa matahari sudah berlambuh ke persimpangannya, yang terlihat hanya lah bulan dan bintang yang menghiasi langit malam kota Tokyo ini.

“Hinata, ini sudah malam. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Sasuke terdengar penuh rasa bersalah. Jujur saja, Ia benar-benar lupa akan waktu jika bersama Hinata. Ah- Sungguh Ia masih sangat ingin menghabiskan waktunya dengan gadis berambut indigo itu hari ini. Bahkan jika bisa, Sasuke ingin waktu berhenti sekarang agar Hinata bisa tetap bersamanya.

“Uhm, ayo kita pulang.” Hinata menggenggam tangan Sasuke erat, seolah tak ingin lepas darinya. Dengan cepat Ia memasuki mobil Ferrari merah milik Sasuke. Akhirnya mereka pun pulang. Tentu saja, dengan Sasuke yang mengantar Hinata pulang kekediaman Namikaze.

 

Hanya butuh waktu 25 menit untuk Sasuke mengantarkan Hinata ke depan mansion megah milik Namikaze. Sadar, karena Ia sudah sampai, Hinata mencoba membuka seat belt nya. Namun sepertinya terlihat sulit untuk di lepas.

“Kau tidak bisa melepasnya?? Biar ku bantu.” Sasuke mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Hinata, dan mencoba melepas seat belt yang melingkar di tubuh gadis itu. Sehingga membuat nafas Hinata tercekat karena Sasuke yang terlalu dekat dengannya.

“Akhirnya lepas juga.” Sasuke menatap ke arah Hinata yang tengah merona hebat. Sasuke sangat menyukai momen seperti ini. Ketika Hinata tengah merona dan wajahnya akan memerah seperti tomat kesukaannya. Kini onyx itu sukses menjerat amethys milik Hinata. Entah apa yang menghasut Sasuke, kini Sasuke terus mempersempit jarak antara Ia dengan Hinata. Akhirnya bibir mereka pun bertemu. Hinata membelalakan matanya kaget ketika Sasuke menciumnya. Ini adalah pertama kalinya Sasuke menciumnnya! Sasuke, masih menutup matanya. Mencoba meresapi ciuman hangatnya dengan Hinata. Meresapi betapa manisnya bibir Hinata. Hanya saling menempel. Tidak lebih. Mungkin ciuman ini sebagai permintaan maaf, dan ciuman perpisahan dengan Hinata. Sedetik kemudian, Sasuke melepaskan tautan bibirnya.

“Maaf, Hinata. A-ak—“ Sebelum Sasuke meneruskan perkataannya. Hinata segera keluar dari mobilnya dengan cepat. Mempercepat langkahnya untuk segera masuk dalam rumah besar itu. Mengabaikan Sasuke yang masih memanggilnya

“Baka. Kenapa aku menciumnya?? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan perbuatanku. Itu akan menyakiti nya nanti, arghhtt,, Karin juga akan kecewa padaku. Bodoh !” Umpat Sasuke di dalam mobil nya sambil memukul setirnya. Tidak ingin di anggap pengintai akhrinya Sasuke memutuskan untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Untuk menghilangkan rasa bersalahnya.

.

oOo

.

Naruto sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Sejak tadi sore, Ia menunggu kepulangan istrinya. Tanpa Ia sadari, Gerbang rumah Namikaze bergeser. Meyakinkan Naruto, bahwa itu adalah istrinya. Dan ternyata dugaannya sama sekali tidak meleset. Terlihat Hinata yang berjalan ke arahnya dengan gontai. Bahkan sepertinya Hinata tidak menyadari keberadaannya yang sekarang berdiri tepat di depan pintu.

“Na- naruto-kun, kenapa kau di sini??” Tanya Hinata, ketika menyadari bahwa Naruto tengah menatapnya dengan tatap mengintimidasi. Tatapan dari Naruto membuat Hinata takut, dan juga bersalah sekaligus.

“Tentu saja, aku menunggumu.”

“Ah, M-maafkan aku.” Ucap Hinata sambil menundukan wajahnya. Enggan menatap wajah Naruto yang terlihat marah.

“Hinata?? kenapa wajahmu merah? Apa kau sakit?” Tanya Naruto yang mulai khawatir dengan keadaan istrinya. Setelah melihat wajah istrinya yang merah. Naruto meletakan tangannya di kening Hinata. Mengecek suhu tubuh istirnya itu. Berharap Hinata tidak terjangkit demam.

“Tidak panas, tapi kenapa memerah??”

” A-aku tidak apa-apa. Ayo kita masuk.” Hinata mulai menarik tangan Naruto , dan memasuki rumah megah itu.

“Tunggu,” Naruto menarik pergelangan tangan Hinata. Membuat Hinata menghentikan langkahnya. Dan membalikan badannya, sehingga sapphire dan amethys itu bertemu.

“ Ke-kenapa?”

“Apa yang kau lakukan tadi bersama Uchiha itu?” Tanya Naruto dengan tatapan penuh selidik.

“Kami hanya bermain di sekitar Tokyo tower, dan pergi ke Tokyo land. Kenapa?? Ada yang salah kah dengan itu??” Tanya Hinata dengan wajah polosnya. Toh, memang itulah yang mereka lakukan tadi. Hinata tidak berbohong.

“Tidak.” Naruto pun segera melepas genggaman tangannya. Melangkahkan kaki nya untuk segera ke kamarnya. Meninggalkan Hinata yang masih bingung dengan perilaku Naruto yang tiba-tiba mendiamkannya seperti itu. Tanpa ingin berpikir lagi, Hinata memutuskan untuk mengikuti Naruto ke kemarnya. Bersiap untuk tertidur, karena besok Ia harus kembali menjalani aktivitasnya sebagai seorang pelajar.

.

oOo

.

 

 

Malam kini sudah berganti dengan pagi. Bulan sudah berganti mejadi sang surya. Cahaya matahari yang masuk melewati celah-celah jendela, membuat Hinata terbangun dari tidur lelapnya. Ia pun mulai membuka matanya perlahan. Mengerjapkan matanya, agar retinanya bisa fokus menangkap cahaya. Setelah penglihatannya sudah mulai jelas. Hinata mengedarkan pandangannya. Menatap kesekeliling kamar berwarna putih itu.

“Ke-kenapa Naruto-kun tidak ada??” Gumam Hinata pelan, ketika menyadari bahwa Naruto tak ada di kamarnya. Mungkin kah Naruto sudah menunggu di bawah? Tidak ingin membuat keluarga Namikaze menunggu, akhirnya Hinata memilih untuk membersihkan diri dan bersiap untuk ke sekolah.

.

.

Hanya butuh 30 menit untuk Hinata bersiap. Kemudian Hinata membawa tasnya, dan turun kebawah. Dimana semua keluarga Namikaze sudah duduk di meja makan, dan menikmati sarapan ala inggris yang sudah Kushina buat. Dapat Hinata lihat, disana ada Naruto, Hanabi, Kushina, dan juga Minato. Dengan perlahan, Hinata melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja makan.

 

“Nee-san, ohayou.” Sapa Hanabi yang sudah duduk manis di meja makan. Menyambut Hinata yang baru saja duduk di meja makan.

“Ohayou Hanabi-chan, Okaa-san, Otou-san.” Ucap Hinata sambil membungkuk hormat pada Kushina dan Minato yang mengangguk paham agar Hinata segera duduk di mejanya. Kemudian Hinata menarik kursinya, dan duduk di samping Naruto. Baru saja Hinata duduk, kini pemuda berkulit tan itu yang berdiri dari duduknya.

“Aku sudah selesai Okaa-san, Otou-san. Aku pergi.” Ucap Naruto yang langsung pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan tatapan tak mengerti Kushina, Minato dan Hanabi.

Hinata kaget. Maniknya membulat saat sadar Naruto memutuskan untuk menyelesaikan makannya. Pemuda itu bahkan sudah membawa tasnya, dan berbalik menjauh dari ruang makan.

“Na- naruto –kun. Matte-yo!!” Teriak Hinata ketika menyadari Naruto akan meninggalkannya. Gadis itu pun berdiri dan mulai pamit untuk segera mengejar Naruto yang kini sudah menaiki lamborghini orange nya.

” Naruto –kun, tunggu aku!!” Teriak Hinata. Ketika Ia sudah sampai di samping mobil Naruto. Nafasnya terengah, karena mengejar Naruto.

“Apa? Masuklah. Jika kau tidak ingin terlambat.” Ucap Naruto dingin. Hinata yang menayadari Naruto berbeda dari biasanya hanya bisa menurut, dan duduk di samping Naruto. Keheningan menyelimuti perjalanan mereka. Ketika mobil lamborghini itu di pacu dengan cukup cepat oleh Naruto.

Ada apa dengannya?? Apa salahku?? Kenapa marah seperti ini??

 

Drrtt Drrtt

I-phone putih milik Hinata kembali bergetar. Membuat Hinata dengan cepat mengeceknya. Gadis itu tersenyum ketika melihat pesan singkat itu. Tanpa menyadari tatapan membunuh Naruto yang terarah padanya.

From: Uchiha Sasuke

To: Hyuuga Hinata

Sepulang sekolah Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Datanglah kembali ke Taman dekat Tokyo tower. Aku menunggu mu di sana.

Sasuke 

 

‘Aku akan mengikuti mu hari ini Hinata!Entah mengapa Naruto mempunyai firasat tentang hal buruk yang akan menimpa istrinya. Uchiha Sasuke berbahaya. Pria itu pasti akan menyakiti Hinata-nya.

.

.

Kini mereka sudah sampai di area sekolah. Naruto pun memarkirkan mobil mewahnya. Pemuda berkulit tan itu pun turun dari mobilnya. Di ikuti oleh Hinata yang sedari tadi tersenyum sendiri.

“Sampai kapan kau mau tersenyum seperti orang bodoh?” Hinata memberenggut kesal, mendengar ucapan dari Naruto. Tidak tahu kah bahwa Hinata sedang berbahagia sekarang?

“K-kenapa? Aku sedang senang hari Naruto-kun, jadi sudah sangat wajar kan kalau aku tersenyum.”

“Terserah kau sajalah. ” Naruto mendengus kesal dan segera pergi meninggalkan Hinata yang ada di belakangnya. Dengan perasaan kesal yang berkecambuk di hatinya, akhirnya Naruto memutuskan untuk segera pergi ke kelasnya. Umpatan tak jelas terus Naruto ucapkan ketika pemuda berkulit tan itu sudah duduk di bangkunya.

 

“Kenapa dengan wajah jelekmu Naruto? Kau punya masalah?” Tanya Gaara yang sudah duduk di bangkunya sedari tadi. Aneh sekali melihat Naruto yang pagi-pagi sudah terlihat seperti ingin memakan orang hidup-hidup.

“Hn, cerita lah pada kami. Jika kau punya masalah” Sai yang sedari tadi diam, kini mulai angkat bicara, dan mengalihkan pandangannya pada Naruto yang terlihat kacau.

“Aku tak punya masalah apapun.” Naruto melirik kedua sahabatnya itu. Masih dengan wajah muram yang terlihat jelas di wajah tampannya.

“Pasti kau punya masalah dengan Hinata, iya kan?” Tebak Gaara yang membuat Naruto meliriknya dan memberikan death glare gratis pada pemuda berambut merah itu. Kenapa Gaara selalu bisa menebak semuanya? Menyebalkan sekali.

“Tidak.”

“Lebih baik kita biarkan saja Naruto, mungkin Ia sedang memikirkan masa depan rumah tangganya dengan istri barunya itu. Lebih baik kita makan di kantin saja Gaara.” Ucap Sai dengan segera menyeret Gaara pergi menjauh dari Naruto.

‘Aku tak akan membiarkanmu bersamanya, Hinata.’ 

.

oOo

.

Tidak terasa kini bel pulang berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran telah usai. Sehingga membuat semua siswa berbondong-bondong untuk keluar dari kelas. Seperti gadis bersurai indigo yang sekarang berlari cepat, sambil menenteng tasnya agar segera keluar dari dalam kelas.

” Naruto-kun kau pulang saja duluan, aku ada urusan. Tolong sampaikan pada Okaa-san.” Ucap Hinata sebelum berlalu pergi meninggalkan Naruto.

‘Aku akan mengikuti mu.’ Dan Naruto segera keluar dari kelas. Mengikuti langkah Hinata, tanpa gadis itu sadari.

.

.

Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Naruto tersenyum melihat mobil Honda civic milik berwarna hitam milik Gaara yang sudah terparkir disana. Melihat Hinata yang terlihat masih menunggu taksi lewat. Dengan cepat Naruto masuk ke dalam mobil Gaara, dan bersiap untuk mengikuti Hinata. Tentu saja, Naruto kini sudah bertukar mobil dengan Gaara. Ia tak ingin Hinata mengetahui bahwa Ia tengah menguntitnya.

Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Hinata mendapatkan taksinya. Melihat Hinata yang sudah naik taksi, Naruto memutuskan untuk menjalankan mobilnya, dan mengikuti laju taksi itu.

oOo

Tanpa di sadari taksi yang digunakan Hinata itu pun berhenti. Terlihat Hinata yang langsung turun dari taksi. Dan menghampiri seorang pemuda berambut raven yang berada di dekat taman itu.

Naruto pun ikut turun dari mobilnya, dan mengikuti Hinata dari belakang. Hinata tersenyum ketika Ia sudah dekat dengan Sasuke. Membuat Naruto otomatis bersembunyi di balik pohon. Mengamati Hinata dengan Sasuke. Jujur saja, Naruto sangat tak suka dengan pemandangan di depannya. Ia benar-benar cemburu melihat Hinata tersenyum seperti itu pada Sasuke.

 

“Perasaanku benar-benar tidak enak.” Gumam Naruto pelan, Ia kini sudah siap menajamkan pendengarannya untuk mendengar apa yang di bicarakan Hinata dan Sasuke.

“Hinata. Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Waktuku benar-benar hanya sebentar untuk menyampaikannya.” Sasuke tersenyum miris dan menatap Hinata dengan penuh rasa bersalah.

“K-kau mau membicarakan apa Sa-sasuke-kun??” Tanya Hinata penasaran. Entah kenapa Ia benar-benar sudah memilik firasat buruk tentang apa yang akan Sasuke katakan.

 

“Sebenarnya satu Minggu lagi, aku akan menikah dengan Karin. Gadis yang di jodohkan Okaa-san ku di Suna.”

 

Deg ! 

 

Ucapan Sasuke seakan membuat waktu berhenti detik itu juga. Nyawa Hinata seakan di renggut paksa. Sungguh rasanya sangat sakit sekali mendengar pria yang sudah di tunggu bertahun-tahun lamanya mengatakan hal seperti itu. Padahal baru kemarin mereka bersenang-senang. Demi Tuhan! Sasuke kemarin saja menciumnya!! Kenapa sekarang tiba-tiba Ia bilang akan menikah?!.

“T-tidak Mungkin,” Air mata yang sedari tadi tertahan, kini sukses keluar dari pelupuk mata Hinata. Hinata menangis dalam diam.

“Setelah kau pergi, meninggalkan ku. Okaa-san ku memutuskan untuk menjodohkanku dengan Karin saat itu, karena keluarga kami terikat dengan bisnis. Aku sangat tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi Okaa-san ku memaksa. Membuatku harus menuruti permintaannya. Maafkan aku Hinata. Aku tahu aku benar-benar brengsek. Kau bisa memukulku Hinata. Maafkan aku.” Sasuke mendekap Hinata dalam pelukannya. Hinata masih menangis ketika mendengar penjelasan yang keluar dari bibir Sasuke. Naruto yang sedari tadi menguping percakapan mereka hanya terpaku mendengarnya.

“K-kau jahat, kau jahat Sasuke, hikss,, menyuruhku untuk menunggu mu, dan sekarang kau datang, lalu mengatakan kau akan pergi lagi meninggalkanku. Kau kejam,, se-seharusnya kau tidak datang, dan tidak memberikan harapan kosong mu itu padaku hiks, hiks, kau jahat….” Hinata menangis sejadi-jadinya sambil memukul dada bidang milik Sasuke. Sementara Sasuke, mengeratkan pelukannya. Tapi pelukannya itu tak bertahan lama. Ketika- suara lembut seorang wanita terdengar—

“Sasuke-kun, ayo.” Seorang gadis berambut merah maroon datang dan menghampiri Sasuke yang masih memeluk Hinata. Membuat Sasuke yang mendengar suara yang sudah sangat Ia hafal, melepaskan pelukannya pada Hinata.

 

“Si-siapa??” Tanya Hinata masih terisak pelan. Tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Sasuke seaakan meminta penjelasan Sasuke tentang semuanya.

“Karin Uzumaki desu. Yoroshiku.” Karin tersenyum lembut ketika menatap Hinata. Ia sangat tahu tentang Hinata yang menjadi cinta pertama tunangannya itu. Ia juga sungguh paham tentang Sasuke yang jelas masih mencintai Hinata.

“Maaf, Hinata. Aku tetap menganggapmu sebagai cinta pertama ku.” Bisik Sasuke pelan, sebelum meninggalkan Hinata bersama tunangannya itu. Meninggalkan Hinata sendiri yang kini sudah jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Tubuh Hinata bergetar hebat. Isakan pilu itu terdengar memilukan. Semua orang yang ada disana bahkan menatap Hinata dengan tatapan kasihan.

 

Greepp

 

“Sudahlah jangan menangis untuknya.” Naruto langsung memeluk Hinata dari arah belakang. Memeluknya erat, seakan Hinata adalah benda yang harus dijaga. Ia benar-benar tak ingin melihat Hinata menangis. Rasanya benar-benar menyakitkan.

“Maaf, aku membiarkan mu menangis Hinata. “ Hinata yang tiba tiba di peluk seperti itu akhirnya membalikan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya pada Naruto. Menangis dengan sejadi-jadinya di pelukan pemuda berkulit tan yang seharusnya menjadi musuh abadinya. Hinata benar-benar membutuhkan pelukan saat ini. Semuanya terasa sangat menyakitkan. Hidupnya benar-benar tak seindah dalam novel picisan yang selalu Ia baca.

 

“M-maafkan aku.. Naruto-kun,, hiks,, hiks. Maaf… S-seharusnya aku sadar bahwa kau lebih baik darinya. Terimakasih untuk semua kebaikan mu. Maaf aku selalu marah padamu. Hikss.. maafkan aku..” Ucap Hinata yang masih terisak. Gadis itu semakin memeluk erat Naruto, dan menumpahkan semua rasa bersalahnya pada Naruto.

“Hm, aku akan selalu di samping mu selamanya. Hinata.“Naruto mengeratkan pelukannya, tanpa peduli dengan orang orang yang memperhatikan kegiatan mereka berdua. Mengelus punggung Hinata dengan lembut, agar tangisannya berhenti.

.

oOo

.

Gadis berambut indigo itu, kini mengerjapkan matanya perlahan, mencoba memulihkan kesadarannya. Hinata kini menggeliat tak nyaman, dan membalikan badannya. Membalas pelukan erat yang kini telah melingkar di pinggang gadis itu. Hinata yang masih tidak menyadari posisinya sekarang, hanya mencoba menyamankan kembali posisi tidurnya, dan mulai menggesekan hidungnya pelan ketika menghirup aroma citrus bercampur mint yang sangat menenangkan untuknya. Ah- wanginya benar-benar menggoda.

“Ohayou, Hinata. Jangan menggodaku di pagi hari Hinata-sama.” Pemuda itu berbisik pelan di telinganya. Hinata yang masih belum menyadari sapaan dari suaminya- Namikaze Naruto tetap asik menggesekan hidung sambil memikirkan benda hangat yang Ia anggap sebagai guling ini ternyata berbeda.

‘Tunggu, siapa ini??’ Hinata yang akhirnya penasaran, mulai mendongkakkan kepalanya, menoleh ke arah sumber terpaan nafas yang berhembus di telinganya.

“Kyaaaa,,, Narutooo-kunnn!!” Hinata berteriak, dan menjauhkan jaraknya dengan Naruto ketika menyadari posisi mereka benar-benar sangat intim!!

“Kau kenapa? Padahal kemarin malam kau agresif sekali Hinata-sama.” Goda Naruto, sambil duduk di tepi ranjang. Selimut yang melorot itu, kini menampilkan dada bidang Naruto yang terlihat jelas. Sehingga membuat Hinata memalingkan wajahnya. Hinata jamin, wajahnya pasti sudah memerah sekarang.

“Ke-kenapa kau tak memakai baju mu??”

“Memangnya kenapa?? Bukankah kemarin kau yang melepasnya, hn?” Ucapan Naruto membuat Hinata terdiam mencerna semua yang sejak tadi Naruto katakan.

“Apa maksudmu sih? Ce-cepat pakai bajumu!!” Ucap Hinata, lalu melemparkan sebuah bantal ke wajah tampan milik- Naruto. Tapi sayang, Naruto menangkisnya dengan cepat. Pemuda itu malah menyeringai ke arahnya.

“Kau juga tidak memakai baju mu, Namikaze Hi-na-ta!! ” Naruto mengeja nama Hinata, dan mulai memperdekat jaraknya dengan Hinata yang kini terlihat sangat bingung.

“Apa maksudmu??” Hinata mencengkram erat, selimut yang menutupi tubuhnya. Jantungnya sudah berdetak tak karuan. Perasaannya tidak enak sekarang.

“…..”Naruto masih diam, hanya memandangi Hinata dengan tatapan intensnya.

“Kenapa diam? Aku masih memakakai ba—” Hinata menghentikan ucapannya, ketika Ia menyadari bahwa tubuhnya polos, kali ini.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” Teriakan Hinata menggema ke seluruh kamar, yang membuat Naruto menutup telingannya rapat-rapat. Untung saja kamar mereka, kedap suara. Sehingga kedua orang tuanya tak akan mendengar teriakan Hinata yang memekakan telinga!!

 

TBC

Oke di tunggu Reviewnya.

Arigatou ^^

Sign

Astia Morichan ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

You Must Love Me| Chap 6| SasuHina Fanfict|

10

You Must Love Me!

Rate M

Romance, School Life, Drama

Disclamair: All Chara belong ‘Masashi Kishomoto’ and over all this fict is mine

Warning: OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Sasuke X Hinata

Nasib Hinata berubah 180 derajat gegara Sasuke yang mengetahui rahasia terbesarnya. Karena tak ingin rahasianya terbongkar, Hinata harus menuruti semua kemauan Uchiha Sasuke!!

Happy Reading!

Enjoy!!

.

.

.

 

Brak

 

Sasuke membanting pintu utama masion Uchiha. Membuat seorang wanita berambut pirang itu terkaget ketika melihat Sasuke yang terlihat sangat kacau. Sasuke dengan cepat melangkahkan kakinya menjauhi Tsunade yang masih menatapnya khawatir.

 

“Sasuke kau kenapa?” Tanya Tsunade cemas, yang sudah berdiri mendekati bungsu Uchiha itu.

 

“Menjauh dari ku!!” Bentak Sasuke, sambil berlalu pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Tsunade yang menatap khawatir padanya.

 

Brakk

 

Kembali bungsu Uchiha itu membanting pintu kamarnya yang tak berdosa. Kini pemuda tampan itu sudah berbaring di ranjangnya. Menutup matanya perlahan. Rasanya pemuda ini ingin menangis karena sakit di hatinya ketika gadis yang Ia cintai berkata bahwa gadis itu menyukai sahabatnya. Miris sekali bukan?

Dreett Dreett

 

Tiba-tiba ponsel Sasuke bergetar. Menandakan panggilan masuk. Dengan malas, Sasuke mengangkat panggilan itu.

 

“Hn?”

 

“…..”

 

“Kapan kau kembali Sakura?”

 

“Hm. Besok aku akan menjemputmu”

 

PIP

 

Panggilan itu Sasuke matikan. Setelah tau siapa yang menelponnya. Seringaian tipis kembali terukir di wajah tampan pemuda itu. Haruno Sakura. Gadis itu sudah kembali ke Jepang.

 

.

.

Gadis bersurai indigo itu kini berbaring di ranjangnya. Ia kini tengah memikirkan kata-kata Sasuke yang sejak tadi terngiang-ngiang di dalam kepalanya.

‘Tidakkah kau sadar Hinata? Aku hanya menyukai mu!! Kenapa kau malah memperhatikan Naruto? Apa kekuranganku, hah??’

 

Wajah Hinata tiba-tiba memerah ketika mengingat bahwa Sasuke menyukainya. Tapi sedetik kemudian wajah cantik itu terlihat sedih ketika mengingat bahwa Ia sudah mengabaikan perasaan Sasuke, hingga membuat Sasuke mungkin membencinya sekarang. Hatinya kembali terasa sakit jika mengingatnya.

 

Bukankah harusnya Ia senang sekarang? Sasuke sudah melepasnya. Itu artinya dia bisa berdekatan bebas dengan Naruto. Tidak perlu mengikuti perintah dari Sasuke lagi. Tapi kenapa hatinya merasa sedih akan kehilangan Sasuke?

 

Hinata menggelengkan kepalanya.

 

“Tidak. Tidak. Aku hanya menyukai Naruto-kun. Ya, Naruto-kun yang aku sukai. Bu-bukan Sa-sasuke” gumam Hinata pelan.

 

“Kau harus senang Hinata. Karena Sasuke sudah melepasmu. Jadi sebaiknya aku tidur. Karena besok sudah sekolah. Yah- besok Uchiha Sasuke itu tidak akan mengganggumu lagi” Ucap Hinata lemas ketika mengucapkannya. Gadis itu pun mulai menutup matanya. Berharap, segera masuk ke alam mimpi.

 

oOo

Hinata berlari dengan tergesa-gesa menuju gerbang sekolah. Ia lupa bahwa hari ini Ia harus datang lebih awal karena hari ini adalah jadwal piketnya. Karena kemarin semua teman Hinata sepakat untuk mengganti piket ketika pulang sekolah menjadi pagi ini. Hinata semakin mempercepat larinya menuju ke arah kelasnya.

Setelah sampai di depan kelasnya. Gadis itu langsung membuka pintu kelasnya. Di sana sudah ada Ino, Tenten, Shino, dan Kiba yang sudah mulai merapikan kelas mereka.

Nafas Hinata terengah. Ia pun masuk ke dalam kelasnya. Lalu membungkukkan badannya.

“Go-gomen-ne minna. A-aku terlambat” ucap Hinata penuh penyesalan.

Ino lalu berjalan ke arah Hinata. Gadis berambut pirang itu, menyentuh bahu Hinata sambil tersenyum.

 

“Tak apa Hinata. Lebih baik, kita mulai lagi bersih-bersih” Hinata pun tersenyum senang. Ternyata teman-temannya sama sekali tidak marah padanya. Ia pun menyimpan tasnya lalu mulai membantu membersihkan ruang kelasnya.

 

Setelah 15 menit. Akhirnya mereka semua selesai membersihkan ruang kelas.

 

“Hah.. Akhirnya selesai” Gumam Ino dan Tenten bersamaan. Kini mereka bertiga termasuk Hinata sudah duduk di bangku masing-masing. Kecuali Kiba dan Shino yang langsung pergi ke luar kelas untuk mengambil beberapa buku di perpustakaan. Karena tinggal 20 menit lagi bel masuk.

 

“Kenapa kau telat Hinata?” Tanya Tenten sambil menyesap susu kotak strawberrynya.

 

“A-aku tidur terlalu malam Tenten” Ucap Hinata sambil menunduk malu.

 

“Ah, Souka. Oh iya Hina, apa kau sudah menyelesaikan pr dari Asuma sensei?” Tanya Ino yang kini sudah mulai mengeluarkan buku catatannya.

Hinata hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ino.

 

“Bolehkan aku melihatnya?” Tanya Ino dengan puppy eyes nya. Membuat Hinata tersenyum, lalu mengeluarkan buku matematikanya.

 

“Uhm” Hinata pun memberikan buku matematikanya pada Ino. Mata Ino berbinar senang. Dengan cepat di ambilnya buku itu, lalu mulai berkutat dengan pr nya.

 

“Ne, Hinata-chan. Kenapa kau tidak bersama Sasuke?” Tanya Tenten penasaran. Karena biasanya Sasuke selalu bersama. Berangkat dan pulang sekolah berdua.

 

“Eh? I-Itu-” Belum sempat Hinata menjawab. Sebuah teriakan terdengar dari luar.

 

“Kyaaaa. Sasuke-sama!!! “

 

“Siapa gadis yang bersamanya itu? Mereka cocok sekali. Aku iri”

 

“Uchiha Sasuke sudah bosan dengan Hyuuga itu. Syukurlah”

 

“Kyaa- Sasuke-kun kau tampan sekali hari ini”

 

Jantung Hinata serasa berhenti berdetak ketika mendengar teriakan dari luar. Tenten dan Ino saling bertatap dengan wajah penasarannya, lalu mereka segera menarik tangan Hinata keluar dan melihatnya.

 

Terlihat Uchiha Sasuke sedang di gandeng oleh seorang gadis berambut pink yang sangat cantik. Mereka terlihat sangat akrab di mata Hinata. Bahkan Sasuke menyunggingkan senyuman tipis ketika gadis itu melontarkan leluconnya pada Sasuke. Nyawa Hinata seakan di renggut paksa ketika melihat itu. Rasa sakit itu kembali Ia rasakan. Sesungguhnya, ada apa dengan jantungnya ini? Kenapa? Kenapa sangat menyakitkan melihat Sasuke bersama gadis itu seharusnya Ia senangkan karena hari ini Sasuke tak akan mengganggunya lagi.

 

Pasangan itu kini sudah ada di hadapan Hinata. Sasuke tersenyum sinis ketika melihat Hinata yang menatapnya kaget. Ia segera menarik gadis bersurai pink itu untuk masuk ke kelas. Melewati Hinata begitu saja.

 

“Hinata-chan. Kau baik-baik saja kan?” Tanya Ino khawatir. Hinata hanya mengangguk dan tersenyum lemah pada Ino dan Tenten.

 

“Ayo kembali ke kelas sebentar lagi bel masuk” Tenten pun kembali menarik Ino dan Hinata untuk masuk kelas. Mencoba menghilangkan rasa penasaran antara Sasuke dan Hinata yang terlihat sangat berbeda.

 

Hinata melangkahkan kakinya ke arah mejanya. Langkah kakinya terasa sangat berat ketika Ia melihat Sasuke dan gadis itu duduk di mejanya. Mejanya dengan Sasuke. Rasa tidak rela kembali menghampirinya.

 

“Hyuuga. Mulai saat ini kau duduk lagi dengan Tenten” Ucap Sasuke dingin tanpa menatap Hinata. Hinata dengan cepat mengambil tas dan beberapa bukunya dengan cepat. Meninggalkan Sasuke dan gadis itu.

 

“Jadi dia Sasuke yang membuatmu kacau?” Tanya gadis itu- Haruno Sakura yang masih melingkarkan tangannya ke lengan Sasuke. Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sakura. Kini tatapan onyx nya menatap ke arah Hinata.

“Sasuke-kun. Jawab aku!” Sakura mengerucutkan bibirnya kesal, ketika Sasuke mengabaikannya seperti ini. Tadi pagi ketika Sasuke menjemputnya, Sasuke langsung menceritakan tentang seorang gadis yang sudah menarik perhatiannya pada Sakura. Jujur saja, saat itu hati Sakura sangat panas. Sudah 3 tahun Sakura mengejar-ngejar Sasuke. Tapi pemuda itu sama sekali tak meliriknya. Melainkan menceritakan gadis Hyuuga itu. Tapi Sakura sangat bersyukur gadis itu menolak Sasuke. Dengan itu, Sakura tak usah repot-repot menyingkirkannya.

 

Brakk

 

Suara pintu di buka dengan sangat keras membuat semua pandangan yang ada di dalam kelas itu menoleh pada pemuda berkulit tan yang kini tengah tersenyum tanpa rasa bersalah.

 

“Sakura-channn!! Aku merindukan mu!!” Teriak pemuda pirang itu- Naruto yang kini sudah mendekat ke arah Sakura dan Sasuke.

 

“Teme kenapa kau tidak memberitahuku kalau Sakura sudah pulang ? kau benar-benar menyebalkan” Naruto menggerutu dan kini menatap Sakura senang. Ah- Ia sangat merindukan sahabatnya itu.

 

“Naruto-kun kau selalu berisik” Sakura menutup telinganya. Membuat Naruto kembali tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Masuk ke kelasmu Naruto. Sebentar lagi bel masuk” Ucap Sakura lalu kembali memeluk lengan Sasuke.

“Selalu saja kau seperti itu dengan si Teme. Tapi tak apa, dengan itu aku bisa dekat dengan Hinata-chan. Kkk” Kekeh Naruto pelan, tanpa menyadari kini rahang Sasuke sudah mengeras.

 

“Kau menyukai Hinata? Gadis berambut indigo itu, Naruto? “ Tanya Sakura dengan kaget. Karena baru kali ini Naruto terlihat sangat menyukai seseorang. Biasanya pemuda berkulit tan itu selalu mengejarnya.

 

“Tentu. Kau tahu Sakura-chan? Aku sudah bosan di tolak olehmu. Jadi ketika pertama kalinya aku bertemu Hinata-chan waktu itu, aku langsung menyukainya” Ucap Naruto berbisik pada Sakura, tapi memang pada dasarnya suara Naruto tidak pelan. Tentu saja Sasuke yang mendengarnya semakin menahan amarahnya yang sebentar lagi akan meledak.

“Oh, Souka. Baguslah, kau tidak akan menggangguku lagi jika begitu”Sakura hanya mengangguk paham, tanpa menyadari aura gelap Sasuke.

“Oh ya mana Hinata-chan ?” Naruto kini mulai mencari sosok Hinata di kelas itu. Bingo! Dengan hitungan detik, Naruto menemukan Hinata yang ternyata duduk di depan. Ia pun meninggalkan Sasuke dan Sakura, lalu mendekat ke arah gadis berambut indigo itu.

 

“Hinata-chaann!!! Aku merindukan mu ” setelah jaraknya dengan Hinata dekat. Pemuda berkulit tan itu memeluk Hinata erat. Membuat Hinata membelalak kaget dengan wajahnya yang merah padam.

 

Tettt

 

Bel masuk sudah berbunyi, tapi Naruto tetap memeluk Hinata. Tanpa menghiraukan pekikan kaget fans girlnya dan juga tatapan membunuh Uchiha Sasuke. Hinata hanya bisa diam dalam pelukan Naruto. Jujur saja, Ia masih mencerna apa yang sedang terjadi.

 

Sreett

 

Terdengar pintu terbuka, dan muncullah sosok Asuma sensei yang menatap Naruto garang.

 

“Uzumaki Naruto!! Masuk ke kelas mu!” Teriak Asuma, membuat Naruto dengan refleks melepaskan pelukannya pada Hinata.

‘Kenapa tidak berdebar lagi jika dekat dengan Naruto?’

 

Pemuda itu kini menggaruk rambutnya yang tak gatal sambil mengeluarkan cengirannya.

 

“Gomen ne sensei. Aku akan kembali sekarang. Oh iya Hinata-chan nanti makan siang dengan ku yah. Jaa nee” Tanpa rasa bersalah Naruto lalu meninggalkan kelas itu. Membuat Asuma menghela nafas berat menghadapi murid seperti Naruto yang polos itu.

 

“Baiklah kita mulai pelajaran. Ah ya, dan kau murid baru silahkan perkenalkan diri dulu” Ucap Asuma sensei, sambil menunjuk ke arah Sakura. Sakura pun maju ke depan kelas. Ia tersenyum dan mulai memperkenalkan dirinya.

“Haruno Sakura desu. Kalian bisa memanggilku Sakura. Aku pindahan dari Jerman. Jadi mohon bantuannya”

 

oOo

Sasuke POV

Sialan Naruto!! Berani-beraninya Ia memeluk Hinata seperti itu, dan Hinata sama sekali tidak menolaknya. Menyebalkan!!

Aku mengeratkan peganganku pada pensil yang aku pegang. Tanpa aku sadari, aku sudah meremukan pensil itu. Kulihat Sakura sudah berjalan ke arah ku. Ia menatapku kaget karena aku sudah meremukan pensil itu. Sakura pun kini duduk di sampingku. Niatnya hari ini aku ingin melihat reaksi Hinata jika aku bersama Sakura. Tapi apa? Gadis itu sama sekali tidak merespon. Ah-ya aku bodoh sekali. Tentu saja Hinata tak akan merespon dan cemburu melihat kedekatanku dengan Sakura. Karena Hinata sama sekali tidak menyukaiku.

Aku kembali tersenyum miris, mengingat penolakan Hinata kemarin.

 

“Sasuke-kun, kau kenapa?” Tanya Sakura cemas.

 

“Tidak. Kali ini jangan mengikutiku Sakura” Aku kini sudah berdiri dari bangku ku. Kini semua orang menatapku. Termasuk Hinata! Sungguh, aku merindukan gadis itu! Perlahan aku melangkahkan kakiku ke arah Hinata.

 

“Uchiha-san sebaiknya kembali ke meja mu! Jangan ganggu pelajaran ku!!” Bentak Asuma padaku. Tapi aku sama sekali tidak menggubrisnya. Kini aku sudah menarik tangan Hinata. Gadis itu memekik kaget. Padangan mata onyx ku dengan mata lavendernya bertemu. Tatapan mata Hinata, kini terlihat sangat sedih ketika menatapku.

 

Tanpa basa-basi Aku menarik tangan Hinata keluar kelas. Mengabaikan semua orang. Termasuk Sakura yang sudah berteriak agar aku tidak pergi bersama Hinata.

 

Sementara gadis yang aku tarik ini, mencoba melepaskan genggaman tanganku padanya. Aku tak menghiraukannya. Kini aku menarik Hinata ke arah atap sekolah, dan mengunci pintu atap itu.

 

Normal POV

“Sa-sasuke-kun lepas. I-ittaii” Hinata mencoba menarik tangannya. Sasuke pun melepaskan tangannya, karena kini pintu atap sudah di kunci. Jadi Hinata tidak bisa kabur darinya.

 

“Kau menyebalkan Hyuuga!!” Sasuke kini mencengkram dagu Hinata. Hingga amethys dan onyx itu saling bertatapan.

 

Hinata terdiam. Tubuhnya menegang. Kenapa Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan intens Sasuke? Kenapa Ia tidak berontak? Kenapa tubuhya tak merespon apa yang di katakan otaknya?

 

“Ucapkan sesuatu!” ancam Sasuke sambil terus mengeratkan cengkramannya pada dagu Hinata.

 

“K-kau bi-bilang a-akan melepaskanku Sa-sasuke-kun?” Tanya Hinata takut. Kenapa kata itu yang keluar dari mulutnya? Hinata kembali merutuki kesalahannya. Jika seperti ini, Sasuke akan kembali menjauh darinya.

 

Sasuke lalu melepaskan cengkramannya pada dagu Hinata. Kini tatapan Sasuke mulai meredup.

 

“Apa kau tak pernah mengingatku Hinata? Kau tak pernah menyadari keberadaanku” Sasuke tersenyum miris ketika mengingat Hinata yang sejak dulu tidak pernah menatap ke arahnya. Padahal Sasuke selalu melindungi gadis itu, tanpa Hinata sadari.

 

Hinata kini terlihat bingung dengan ucapan Sasuke. Gadis itu terlihat berpikir, dan mulai mengingat sesuatu. Apa Ia pernah bertemu Sasuke? Ya mungkin pernah. Hinata tahu Sasuke. Tentu saja siapa yang tidak tahu Sasuke? Pria itu selalu menjadi idola kaum hawa di sekolahnya sejak SMP. Tapi Hinata tak pernah berinteraksi dengannya. Kecuali sejak Sasuke mempergokinya memfoto Naruto. Yah- Hanya itu.

 

“Sudahlah, kau pasti tak akan mengingatku. Apa kau senang karena aku sudah melepasmu?” Hinata tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Jujur jika saja Ia punya keberanian. Ingin sekali Ia mengatakan bahwa Ia benci jika jauh-jauh dari Sasuke. Ia benci ketika Sasuke di peluk oleh gadis lain. Hinata sadar sekarang dengan siapa Ia jatuh cinta. Bukan Uzumaki Naruto. Melainkan Uchiha Sasuke yang sudah masuk ke dalam hidupnya dan memberi warna pada hidupnya yang monoton dalam beberapa minggu terakhir ini.

“Tentu saja kau senang. Aku hanya mengganggumu kan Hinata?” Sasuke lalu mulai menjauh dari Hinata. Pemuda itu kini membuka pintu dan keluar. Meninggalkan Hinata yang sudah jatuh terduduk. Gadis itu kini menangis. Menyesali apa yang sudah Ia lakukan pada Sasuke. Menyesali keterlambatannya menyadari perasaannya pada Sasuke. Hinata menyesal. Sangat menyesal! Seandainya Ia punya mesin waktu, Hinata akan mengungkapkan segalanya pada Sasuke.

 

oOo

Sasuke kini sudah masuk kembali ke dalam. Terlihat Asuma yang kini menatapnya tajam. Tanpa menghiraukan tatapannya, Sasuke dengan santai duduk di bangkunya.

 

“Sasuke, kemana kau bawa pergi Hinata?” Tanya Asuma.

 

“Entahlah” Jawab Sasuke sesantai mungkin. Membuat rahang Asuma mengeras ketika harus berhadapan dengan Sasuke. Ia sungguh khawatir pada siswinya itu.

 

“Aku akan melaporkanmu kepada kepala sekolah karena kau menghilangkan Hyuuga Hinata”

 

“Silahkan Asuma sensei “

 

“Sensei. Aku akan mencari Hinata” Ucap Ino dan Tenten bersamaan. Tanpa menunggu jawaban Asuma, dua gadis itu langsung melesat pergi keluar kelas mencari Hinata.

 

“hah, sudahlah lebih baik kita lanjutkan, dan kau Uchiha! Aku memberimu hukuman. Kerjakan 10 soal kalkulus tingkat tiga yang ada di papan itu sekarang!!”

 

“Hm”

 

“Sasuke kau harus menjelaskan semuanya padaku nanti!”Ucap Sakura, sebelum Sasuke keluar dari bangkunya untuk mengerjakan soal dari Asuma.

 

 

oOo

Ino dan Tenten kini mulai mencari Hinata. Mereka mencari Hinata ke taman, perpustakaan dan tempat yang biasa Hinata datangi jika ingin sendirian. Lalu ini tempat terakhir. Atap sekolah. Ino dan Tenten pun membuka pintu atap itu.

 

Ceklek

 

Terlihat Hinata dengan mata sembab terduduk disana. Gadis bersurai indigo itu kini tengah menangis. Dengan perlahan Ino dan Tenten mendekat ke arah Hinata. Mereka kini duduk di samping Hinata. Membuat Hinata menoleh ke arah sahabatnya itu. Hinata lalu mengusap kasar air matanya.

 

“Hinata kau kenapa? Apa Uchiha itu menyakitimu? Bilang padaku, aku akan menghajarnya!”Ucap Ino penuh semangat. Hinata hanya tertawa mendengarnya. Ah- Ino tidak mungkin akan bisa menghajar Sasuke. Mungkin gadis berambut pirang itu akan ‘menghajar ‘ bungsu Uchiha itu dalam arti lain.

 

“Aku tak apa” Ucap Hinata sambil mencoba tersenyum.

 

“Kau tak bisa berbohong pada kami Hinata. Ceritakanlah” ucap Tenten sambil mengelus punggung Hinata. Gadis beriris lavender itu masih sedikit terisak. Bahunya kembali bergetar.

 

“Aku menyukainya Tenten. Aku mencintai Uchiha Sasuke” Ucap Hinata sambil menundukan kepalanya menyembunyikan tangisnya. Gadis itu kembali terisak. Ino dan Tenten menatap Hinata prihatin. Mereka pun kini memeluk Hinata. Berharap Hinata tidak bersedih lagi. Tentu saja Ino dan Tenten sangat tahu mengenai perjanjian yang dibuat Hinata dan Sasuke. Hinata selalu berkata bahwa Sasuke itu menyebalkan, dan membencinya. Tapi sekarang, Ino dan Tenten sama sekali tidak menyangka bahwa Hinata mulai menyukai Sasuke. Yah Tentu saja, tidak ada yang bisa menolak pesona bungsu Uchiha itu. Termasuk Hinata yang selalu berpegang teguh bahwa Ia menyukai Naruto.

 

“Bukankah itu bagus Hina-chan? Kulihat Sasuke juga menyukaimu”

 

“Ti-tidak Ino. Se-sekarang dia membenciku. Dia benci pada ku. Ia akan menjauhiku Ino!! Apa yang harus ku lakukan?!!”

 

“Tenanglah Hinata. Kau cukup memberitahunya tentang perasaanmu saja”

 

“Aku tidak bisa Tenten. Hikss” Hinata kembali terisak. Ia menutup wajahnya. Menenggelamkan wajahnya di perpotongan lengannya.

 

“Kau pasti bisa. Ganbatte Hina-chan!!” Ucap Ino menyemangati Hinata. Hinata mengangkat wajahnya. Lalu kembali tersenyum. Mungkin ini adalah awal yang baik kan? Yah- Hinata akan mencoba nya. Ia akan berkata bahwa Ia menyukai Sasuke, dan menolak Naruto secara halus.

 

“Uhm, A-aku akan mengatakannya pada Sasuke-kun” Ucap Hinata sambil menghapus air matanya.

Tenten dan Ino tersenyum senang. Mereka kini menarik Hinata untuk kembali masuk kelas. Sebentar lagi pelajaran Kakashi sensei akan segera di mulai.

 

TBC

Mind To Review?

 

Makasih untuk yang udah Review di Chap sebelumnya. Chap ini udah agak panjang kan yah? ^^ Lama nunggu kah? Maaf yah soalnya aku baru pegang lep hari ini itu pun karena ada tugas 😥

Aku bingung kenapa jalan ceritanya berasa makin ribet padahal FF ini niatnya gak akan banyak chap nya. Mungkin jg nanti update nya agak lama, soalnya sibuk RL. Yah paling aku usahain untuk cepet update sebulan sekali.

 

See ya next chap ^^

 

Sign

Astia Morichan ^^