Married Project| Chap 2| NaruHina Fanfict

Married project

RM18!

Romance, Drama, Family

Chara Belong To Masashi Kishimoto

Warning! TYPOO, OOC , DONT LIKE DONT READ, ETC !!

Naruto Namikaze X Hinata Hyuuga

a/n: Fanfict lama yang sudah di edit abis-abisan

EnJOY!

Happy Reading ^^

.

oOo

.

Pemuda berkulit tan itu masih terdiam kaku mencerna perkataan gadis bersurai indigo yang baru saja beberapa jam lalu mengucapkan kata sakral dengannya. Hatinya mencelos, mendengar istrinya menyebut nama laki-laki lain.

‘Sasuke??? Siapa itu??’ Naruto masih berpikir siapa nama laki-laki yang istrinya sebutkan.Sakit hati? Tentu saja! Penasaran ? Sudah pasti. Jika Naruto bertemu dengan laki-laki bernama Sasuke itu, sudah pasti Ia akan menghajarnya sampai habis karena berani menggoda istrinya.

Pikiran tentang Sasuke terus terngiang di kepalanya, bahkan tanpa Naruto sadari semua orang sudah pergi meninggalkan area pesta pernikahannya. Kecuali istrinya- Hinata yang masih berdiri di sampingnya.

“Mau sampai kapan berdiri di sana??” Suara merdu milik Hinata membuyarkan lamunan suaminya itu. Hingga pemuda berkulit tan itu, menoleh pada Hinata. Tersenyum gugup, sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.

“Cepatlah, Naruto-kun. Okaa-san sudah menyuruh kita untuk beristirahat.” Tanpa menunggu respon dari Naruto, Hinata meninggalkan Naruto sendiri di tengah ruangan megah milik keluarga Namikaze, yang menjadi tempat pernikahan sakral mereka. Naruto pun hanya bisa mengekori langkah Hinata, yang ada di depannya.

oOo

Kamar bernuansa putih dengan taburan bunga dimana-mana, tidak membuat sang gadis terharu. Padahal pemuda berkulit tan itu berharap Hinata akan terkesan dengan usahanya. Tapi apa? Bahkan ketika Hinata masuk ke dalam kamar mereka. Ia langsung bergegas untuk membersihkan diri. Setelah itu berbaring di ranjang, dan menarik selimut tebal untuk menutup seluruh tubuhnya.

” Naruto-kun , oyasuminasai.”Hinata meringkuk. Memunggungi Naruto adalah cara terbaik, agar Ia tidak salah tingkah. Hinata lebih memilih untuk segera tidur, dan menutup matanya. Sementara Naruto? Ia masih berdiri mematung di sisi ranjang. Menatap istrinya tidak percaya. Ayolah! Bukankah ini malam pertama mereka? Apa hanya seperti ini saja? Konyol! Naruto hanya bisa tersenyum pahit, menerima keputusan istrinya itu.

‘Apa ini yang di namakan Malam Pertama??’ Naruto bergumam pelan. Tidak ingin kepalanya pusing karena banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya. Akhirnya Naruto memilih untuk tidur di samping istrinya. Walaupun jantungnya saat ini tengah berdebar tak karuan!

Tidak akan terjadi apapun, Naruto-kun. Aku hanya menyukai Sasuke-kun’ Batin Hinata, dan mulai menutup matanya untuk sampai di dunia mimpinya.

‘Shit, kenapa aku menjadi berdebar tak karuan seperti ini ? Tidak seperti biasanya. Tapi kenapa sekarang,, Arghht ,‘ Naruto menjambak rambutnya frustasi. Demi apapun, Ia sangat ingin mengontrol detak jantungnya. Mungkin, memunggungi Hinata adalah hal yang terbaik. Mencoba untuk terus menutup matanya.Well, untungnya cara itu berhasil!

.

oOo

.

Cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamar pengantin muda itu. Membuat gadis bermanik amethys itu membuka perlahan. Hinata mulai mengerjapkan matanya perlahan, mencoba mengembalikan kesadarannya.

“Nghh,,” Dengkuran halus itu terdengar. Pemuda berkulit tan itu menggeliatkan tubuhnya tak nyaman, mencoba mengeratkan pelukannya pada gadis berambut indigo itu untuk mencari kenyamanan tersendiri. Amethys itu kini membelalak lebar ketika menyadari siapa yang tengah memelukya. Hingga membuat kesadarannya kembali. Tangan kekar milik Naruto, melingkar manis di pinggangnya. Mendekap Hinata posesif, seakan tidak ingin melepasnya barang sedetik pun. Hangat, dan sangat nyaman. Itu lah yang di rasakan Hinata. Tapi Hinata sadar, Ia tentu tidak boleh terjerat oleh Naruto. Sampai kapan pun hal itu tidak boleh terjadi!

“Kyaaa,, menjauh dariku Naruto!” Teriak Hinata sambil mendorong tubuh Naruto, dan berhasil membuat Naruto jatuh tersungkur ke lantai, dan membuat kepalanya terbentur ke nakas meja.

“Ah,, Ittai,, apa yang kau lakukan?” Naruto meringis pelan, sambil mengelus kepalanya. Sial! kepalanya benar-benar sakit sekarang!

“Kau menyebalkan!!” Hinata mendegus kesal dan mulai beranjak dari ranjangnya, sambil menghentak kan kakinya menuju kamar mandi. Meninggalkan Naruto yang masih mengusap kepalanya yang mungkin benjol?

“Aku tak melakukan apapun padamu! Ah- ini benar-benar sakit!”

.

oOo

.

“Naruto, cepatlah turun.” Suara lembut milik Kushina, membuat Naruto dan Hinata yang sudah selesai membersihkan diri, mempercepat langkahnya menunju meja makan. Sehingga mereka sudah berada di meja makan. Dengan beberapa hidangan sarapan yang terlihat menggiurkan menghiasi meja besar itu.

“Duduklah.” Suara berat milik Minato- Sang kepala keluarga, membuat Naruto langsung duduk di samping Hinata.

Keluarga baru Namikaze pun memulai sarapan paginya. Hanabi – Adik Hinata pun ikut serta dalam sarapan pagi itu, karena Hanabi menginap di tempat keluarga Namikaze semalam. Tidak! Hanabi memang sudah memutuskan untuk tinggal disini. Bersama Hinata. Karena Kushina tidak mengizinkan Hanabi tinggal seorang diri.

“Nii-chan, bagaimana malam pertamamu?” Suara milik Hanabi mulai memecahkan keheningan, di meja makan itu. Piring yang awalnya berdenting, kini seolah berhenti berdenting.

“Uhuuk…. uhukkk….” Hinata dan Naruto tersedak bersamaan ketika mendengar pertanyaan dari bocah berumur 13 tahun itu. Dengan cepat, Hinata mengambil segelas air putih yang berada di samping,. Meminumnya sampai tandas, agar makanan itu segera mengalir ke kerongkongannya.

“Ti-tidak terjadi apapun.” Jawab Naruto gugup,sambil mengambil minumanya.

“Ne, tak terjadi apapun Hana-chan. Tidak seharusnya kau mencampuri hal seperti itu Hana-chan.” Ucap Hinata sedatar mungkin. Tidak mungkin kan Ia akan menjawab pertanyaan semacam itu pada bocah berumur 13 tahun. Itu terlalu dini untuk gadis seumuran Hanabi.

“Kau tak asyik Nee-chan.” Hanabi mengerucutkan bibirnya lucu. Sehingga membuat Kushina dan Minato tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu.

“Sudahlah, habiskan makanan kalian. Dan kau Hana-chan, jangan bertanya tentang hal seperti itu pada kakakmu. Wakkatta?” Suara lembut milik Kushina mulai menghentikan keributan, di acara sarapan pagi itu.

“Wakarimasu.” Ucap Hanabi sambil menganggukan kepalanya, dan kembali melanjutkan acara makannya. Diikuti Naruto dan Hinata yang kembali menikmati sarapan paginya.

.

oOo

.

 

Setelah acara sarapan pagi tadi. Hinata memutuskan untuk menikmati hari liburnya dengan berdiam diri di taman belakang mansion Namikaze yang megah ini. Kini Hinata duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Gadis itu menekuk lututnya, dan menenggelamkan seluruh wajah cantiknya di sana. Hinata masih tidak mengerti. Ia masih tidak bisa untuk menerima keadaannya sekarang.

“Apa salah ku Kami-sama?? Seharusnya margaku setelah menikah adalah Uchiha. Bukan Namikaze. Sejak dulu, hanya nama Uchiha Hinata lah yang aku impikan. Sasuke-kun, kau dimana?? Aku sangat merindukan mu!” Hinata mulai menangis terisak, mempertanyakan semua yang sudah terjadi pada Kami-sama. Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan hidupnya. Ayahnya yang di renggut paksa. Sasuke- Pemuda satu-satunya yang mengerti Hinata juga menghilang dari hidupnya. Demi Tuhan! Ia sama sekali tidak mengerti dengan nasib nya yang seperti ini!! Sepertinya Hinata dikutuk untuk menjadi orang yang paling menderita di muka bumi ini.

“S-sasuke-kun,, hiks,, A-aku sangat merindukanmu.” Hinata terus menangis. Ia bahkan menyebutkan nama Sasuke berulang kali dalam tangisnya. Bahkan gadis berambut indigo itu sama sekali tidak menyadari kehadiran suaminya yang sudah duduk di sampingnya.

“Siapa Sasuke?” Suara baritone Naruto, membuat Hinata menoleh padanya.

“Naruto-kun, sejak kapan kau di sini??” Hinata mulai menghapus air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Naruto, yang sudah Ia anggap musuh abadinya. Cukup satu kali Hinata memperlihatkan kelemahannya pada Naruto.

“Aku bertanya siapa itu Sasuke, Hinata??” Suara tegas dari Naruto membuat Hinata mengernyit pelan. Akhirnya gadis itu menghela nafasnya. Sebelum menjawab pertanyaan Naruto.

“Baiklah. Aku akan ceritakan padamu soal Sasuke.” Ucap Hinata pelan. Bagaimanapun juga Hinata memang harus menceritakan semuanya pada suaminya itu. Naruto pun hanya mengangguk, dan mulai serius untuk mendengarkan cerita Hinata. Tentu saja, Ia sangat penasaran dengan pria bermarga Uchiha itu.

“Uchiha Sasuke, dia adalah cinta pertama ku. Sejak Otou-sama meninggal, Sasuke yang selalu menghiburku. Membuat ku tertawa. Menghilangkan semua kesedihanku. Berada di dekatnya selalu membuatku tersenyum, dan nyaman. Hanya Sasuke yang bisa membuatku bisa menerima kenyataan bahwa Otou-sama meninggalkanku untuk selamanya. Sasuke, dia segala nya untuk ku. Bersamanya, aku merasa aman dan bahagia.” Hinata tersenyum mengingat kenangannya dengan Sasuke. Jika mengingat Bungsu Uchiha itu, Hinata menjadi semakin merindukan sosok Sasuke sekarang.

Sementara Naruto, hanya mengangguk. Sebagai tanda bahwa Ia mengerti. Jujur. Naruto iri pada Sasuke sekarang.

“Tapi, dua bulan setelah keluargamu memintaku untuk bersedia mengurus semua keperluanku. Dan gara-gara perjanjian itu. Sasuke menghilang, sampai saat ini. Aku belum bertemu Sasuke lagi. Dia tidak pernah menghubungiku. Aku hanya bisa berhubungan dengan kakaknya Itachi. Tapi Itachi-nii selalu menolak permintaanku ketika aku ingin berbicara dengan Sasuke. Aku tahu dia punya alasan untuk itu. Aku yakin dia akan menjemputku lagi.”

‘Jika kau bersamanya, bagaimana denganku?’ Naruto hanya mampu tersenyum miris mendengar cerita tentang Sasuke. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan jika Sasuke akan hadir di kehidupan mereka, dan mengacaukan segalanya.

 

Drrtt Drrtt

 

I-phone putih milik Hinata bergetar. Dengan segera Hinata mengecek I-phonenya dan membuka notif yang memberitahunya sebuah pesan masuk.

From: Uchiha Itachi

To : Hyuuga Hinata

 

Hime-chan, ini aku Sasuke. Aku meminjam HP baka aniki. Bisakah kita bertemu?? Aku menunggu mu di Taman dekat Tokyo tower. Ada yang ingin ku sampaikan. Aku merindukan mu Hime

Sasuke 

 

Seketika, jantung Hinata serasa berhenti.Sasuke Uchiha, yang Ia tunggu akhirnya datang. Sementara Naruto masih bingung dengan apa yang terjadi pada Istrinya itu. Sejak menggenggam I-phone nya Hinata terus terdiam, sambil membulatkan mulutnya tidak percaya.

“Naruto-kun, Sa-sasuke akhirnya menghubungiku. Aku akan bertemu dengannya. Tolong katakan pada Okaa-san kalau aku pergi. O-onegaishimasu.” Hinata membungkukkan badannya dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya itu, dan pergi meninggalkan Naruto Untuk bertemu Sasuke yang sangat Ia rindukan. Tanpa memikirkan perasaan Naruto, yang menatap miris punggunya yang menjauh.

 “Nasibku buruk sekali, istriku lebih memilih orang itu.”

.

oOo

.

 

Setelah mendapatkan pesan dari Sasuke, Hinata terus berlari secepat mungkin. Di tengah keramaian orang-orang yang tengah berlalu lalang. Gadis itu mencoba mencari sosok yang Ia rindukan. Siapa lagi selain Uchiha Sasuke yang selalu ada di pikirannya. Sasuke yang di tunggunya bertahun-tahun lamanya akhirnya datang juga.

“Sasuke-kun, k-kau di mana??” Hinata terus menggumamkan nama Sasuke. Amethysnya mencoba meneliti setiap orang yang berlalu lalang disana.

“Hinata!” Suara baritone itu terdengar. Membuat Hinata yang merasa namanya di panggil menoleh ke arah sumber suara. Amethysnya membelalak lebar tak percaya melihat sosok yang kini sudah ada di depannya. Pemuda berambut raven dengan paras tampan yang mampu membuat semua gadis terpesona itu ada di hadapannya. Sosok pemuda yang bertahun-tahun lamanya Ia rindukan. Uchiha Sasuke kini ada di depannya!!

“ S-sasuke-kun, aku merindukanmu.” Teriak Hinata sambil memeluk tubuh Sasuke dengan erat. Tubuh Hinata bergetar hebat, saat Sasuke membalas pelukan eratnya.

“Sa-sasu-kun kau bodoh, hiks,,” Hinata bergumam lirih, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh. Ia benar-benar merindukan sosok Sasuke!! Sementara Sasuke hanya tersenyum tipis, sambil mengusap lembut punggung gadis itu.

“Hime, Omedetou. Selamat atas pernikahan mu dengan Naruto. Mungkin aku terlambat untuk menjemputmu lagi. Aku sangat menyesal.” Mendengar ucapan selamat dari Sasuke membuat Hinata mengernyitkan dahinya. Dengan refleks Hinata, langsung melepaskan pelukannya pada pemuda berambut raven itu dan menatap tajam mata onyx milik Sasuke.

“T-tidak, aku akan terus bersamamu. Tidak dengan Naruto. Hati ku hanya untukmu Sasuke-kun. Aku selalu menunggumu selama ini!!” Ucap Hinata tegas. Ia menatap tajam onyx milik Sasuke. Sehingga tatapan Sasuke hanya terarah padanya. Hinata mengernyitkan alisnya bingung, saat melihat Sasuke menundukan kepalanya penuh penyesalan.

“Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari bibir Sasuke.

“A-aku hanya menyukaimu Sasu-kun…” Sasuke hanya bisa tersenyum miris, jujur saja Ia sangat ingin bersama gadis ini. Tapi sayang, takdir mengatakan lain.

 ‘Maaf. Mungkin aku tidak bisa mengatakan nya sekarang. Maaf Okaa-san, Karin. Maafkan aku, kali ini. Tapi aku pasti akan mengatakan hal ini pada Hinata.’

“Sasuke-kun!!” Hinata berseru dengan kencang karena sedari tadi Sasuke hanya terdiam. Mendengar teriakan Hinata, membuat Sasuke tersadar akan lamunannya. Pemuda berambut raven itu hanya tersenyum, dan langsung menggenggam tangan Hinata erat.

“Ayo, kita jalan-jalan di sekitar sini.” Sasuke menarik cepat tangan Hinata. Sungguh, Sasuke tak ingin menyianyiakan kesampatannya kali ini. Gadis itu terlihat senang, dan sangat bahagia mendengar ajakan Sasuke. Dengan cepat Hinata mengiyakan ajakan pemuda itu, dan menggenggam erat tangan Sasuke. Berharap Sasuke tak akan pernah meninggalkannya lagi.

.

oOo

.

Tanpa terasa matahari sudah berlambuh ke persimpangannya, yang terlihat hanya lah bulan dan bintang yang menghiasi langit malam kota Tokyo ini.

“Hinata, ini sudah malam. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Sasuke terdengar penuh rasa bersalah. Jujur saja, Ia benar-benar lupa akan waktu jika bersama Hinata. Ah- Sungguh Ia masih sangat ingin menghabiskan waktunya dengan gadis berambut indigo itu hari ini. Bahkan jika bisa, Sasuke ingin waktu berhenti sekarang agar Hinata bisa tetap bersamanya.

“Uhm, ayo kita pulang.” Hinata menggenggam tangan Sasuke erat, seolah tak ingin lepas darinya. Dengan cepat Ia memasuki mobil Ferrari merah milik Sasuke. Akhirnya mereka pun pulang. Tentu saja, dengan Sasuke yang mengantar Hinata pulang kekediaman Namikaze.

 

Hanya butuh waktu 25 menit untuk Sasuke mengantarkan Hinata ke depan mansion megah milik Namikaze. Sadar, karena Ia sudah sampai, Hinata mencoba membuka seat belt nya. Namun sepertinya terlihat sulit untuk di lepas.

“Kau tidak bisa melepasnya?? Biar ku bantu.” Sasuke mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Hinata, dan mencoba melepas seat belt yang melingkar di tubuh gadis itu. Sehingga membuat nafas Hinata tercekat karena Sasuke yang terlalu dekat dengannya.

“Akhirnya lepas juga.” Sasuke menatap ke arah Hinata yang tengah merona hebat. Sasuke sangat menyukai momen seperti ini. Ketika Hinata tengah merona dan wajahnya akan memerah seperti tomat kesukaannya. Kini onyx itu sukses menjerat amethys milik Hinata. Entah apa yang menghasut Sasuke, kini Sasuke terus mempersempit jarak antara Ia dengan Hinata. Akhirnya bibir mereka pun bertemu. Hinata membelalakan matanya kaget ketika Sasuke menciumnya. Ini adalah pertama kalinya Sasuke menciumnnya! Sasuke, masih menutup matanya. Mencoba meresapi ciuman hangatnya dengan Hinata. Meresapi betapa manisnya bibir Hinata. Hanya saling menempel. Tidak lebih. Mungkin ciuman ini sebagai permintaan maaf, dan ciuman perpisahan dengan Hinata. Sedetik kemudian, Sasuke melepaskan tautan bibirnya.

“Maaf, Hinata. A-ak—“ Sebelum Sasuke meneruskan perkataannya. Hinata segera keluar dari mobilnya dengan cepat. Mempercepat langkahnya untuk segera masuk dalam rumah besar itu. Mengabaikan Sasuke yang masih memanggilnya

“Baka. Kenapa aku menciumnya?? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan perbuatanku. Itu akan menyakiti nya nanti, arghhtt,, Karin juga akan kecewa padaku. Bodoh !” Umpat Sasuke di dalam mobil nya sambil memukul setirnya. Tidak ingin di anggap pengintai akhrinya Sasuke memutuskan untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Untuk menghilangkan rasa bersalahnya.

.

oOo

.

Naruto sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Sejak tadi sore, Ia menunggu kepulangan istrinya. Tanpa Ia sadari, Gerbang rumah Namikaze bergeser. Meyakinkan Naruto, bahwa itu adalah istrinya. Dan ternyata dugaannya sama sekali tidak meleset. Terlihat Hinata yang berjalan ke arahnya dengan gontai. Bahkan sepertinya Hinata tidak menyadari keberadaannya yang sekarang berdiri tepat di depan pintu.

“Na- naruto-kun, kenapa kau di sini??” Tanya Hinata, ketika menyadari bahwa Naruto tengah menatapnya dengan tatap mengintimidasi. Tatapan dari Naruto membuat Hinata takut, dan juga bersalah sekaligus.

“Tentu saja, aku menunggumu.”

“Ah, M-maafkan aku.” Ucap Hinata sambil menundukan wajahnya. Enggan menatap wajah Naruto yang terlihat marah.

“Hinata?? kenapa wajahmu merah? Apa kau sakit?” Tanya Naruto yang mulai khawatir dengan keadaan istrinya. Setelah melihat wajah istrinya yang merah. Naruto meletakan tangannya di kening Hinata. Mengecek suhu tubuh istirnya itu. Berharap Hinata tidak terjangkit demam.

“Tidak panas, tapi kenapa memerah??”

” A-aku tidak apa-apa. Ayo kita masuk.” Hinata mulai menarik tangan Naruto , dan memasuki rumah megah itu.

“Tunggu,” Naruto menarik pergelangan tangan Hinata. Membuat Hinata menghentikan langkahnya. Dan membalikan badannya, sehingga sapphire dan amethys itu bertemu.

“ Ke-kenapa?”

“Apa yang kau lakukan tadi bersama Uchiha itu?” Tanya Naruto dengan tatapan penuh selidik.

“Kami hanya bermain di sekitar Tokyo tower, dan pergi ke Tokyo land. Kenapa?? Ada yang salah kah dengan itu??” Tanya Hinata dengan wajah polosnya. Toh, memang itulah yang mereka lakukan tadi. Hinata tidak berbohong.

“Tidak.” Naruto pun segera melepas genggaman tangannya. Melangkahkan kaki nya untuk segera ke kamarnya. Meninggalkan Hinata yang masih bingung dengan perilaku Naruto yang tiba-tiba mendiamkannya seperti itu. Tanpa ingin berpikir lagi, Hinata memutuskan untuk mengikuti Naruto ke kemarnya. Bersiap untuk tertidur, karena besok Ia harus kembali menjalani aktivitasnya sebagai seorang pelajar.

.

oOo

.

 

 

Malam kini sudah berganti dengan pagi. Bulan sudah berganti mejadi sang surya. Cahaya matahari yang masuk melewati celah-celah jendela, membuat Hinata terbangun dari tidur lelapnya. Ia pun mulai membuka matanya perlahan. Mengerjapkan matanya, agar retinanya bisa fokus menangkap cahaya. Setelah penglihatannya sudah mulai jelas. Hinata mengedarkan pandangannya. Menatap kesekeliling kamar berwarna putih itu.

“Ke-kenapa Naruto-kun tidak ada??” Gumam Hinata pelan, ketika menyadari bahwa Naruto tak ada di kamarnya. Mungkin kah Naruto sudah menunggu di bawah? Tidak ingin membuat keluarga Namikaze menunggu, akhirnya Hinata memilih untuk membersihkan diri dan bersiap untuk ke sekolah.

.

.

Hanya butuh 30 menit untuk Hinata bersiap. Kemudian Hinata membawa tasnya, dan turun kebawah. Dimana semua keluarga Namikaze sudah duduk di meja makan, dan menikmati sarapan ala inggris yang sudah Kushina buat. Dapat Hinata lihat, disana ada Naruto, Hanabi, Kushina, dan juga Minato. Dengan perlahan, Hinata melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja makan.

 

“Nee-san, ohayou.” Sapa Hanabi yang sudah duduk manis di meja makan. Menyambut Hinata yang baru saja duduk di meja makan.

“Ohayou Hanabi-chan, Okaa-san, Otou-san.” Ucap Hinata sambil membungkuk hormat pada Kushina dan Minato yang mengangguk paham agar Hinata segera duduk di mejanya. Kemudian Hinata menarik kursinya, dan duduk di samping Naruto. Baru saja Hinata duduk, kini pemuda berkulit tan itu yang berdiri dari duduknya.

“Aku sudah selesai Okaa-san, Otou-san. Aku pergi.” Ucap Naruto yang langsung pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan tatapan tak mengerti Kushina, Minato dan Hanabi.

Hinata kaget. Maniknya membulat saat sadar Naruto memutuskan untuk menyelesaikan makannya. Pemuda itu bahkan sudah membawa tasnya, dan berbalik menjauh dari ruang makan.

“Na- naruto –kun. Matte-yo!!” Teriak Hinata ketika menyadari Naruto akan meninggalkannya. Gadis itu pun berdiri dan mulai pamit untuk segera mengejar Naruto yang kini sudah menaiki lamborghini orange nya.

” Naruto –kun, tunggu aku!!” Teriak Hinata. Ketika Ia sudah sampai di samping mobil Naruto. Nafasnya terengah, karena mengejar Naruto.

“Apa? Masuklah. Jika kau tidak ingin terlambat.” Ucap Naruto dingin. Hinata yang menayadari Naruto berbeda dari biasanya hanya bisa menurut, dan duduk di samping Naruto. Keheningan menyelimuti perjalanan mereka. Ketika mobil lamborghini itu di pacu dengan cukup cepat oleh Naruto.

Ada apa dengannya?? Apa salahku?? Kenapa marah seperti ini??

 

Drrtt Drrtt

I-phone putih milik Hinata kembali bergetar. Membuat Hinata dengan cepat mengeceknya. Gadis itu tersenyum ketika melihat pesan singkat itu. Tanpa menyadari tatapan membunuh Naruto yang terarah padanya.

From: Uchiha Sasuke

To: Hyuuga Hinata

Sepulang sekolah Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Datanglah kembali ke Taman dekat Tokyo tower. Aku menunggu mu di sana.

Sasuke 

 

‘Aku akan mengikuti mu hari ini Hinata!Entah mengapa Naruto mempunyai firasat tentang hal buruk yang akan menimpa istrinya. Uchiha Sasuke berbahaya. Pria itu pasti akan menyakiti Hinata-nya.

.

.

Kini mereka sudah sampai di area sekolah. Naruto pun memarkirkan mobil mewahnya. Pemuda berkulit tan itu pun turun dari mobilnya. Di ikuti oleh Hinata yang sedari tadi tersenyum sendiri.

“Sampai kapan kau mau tersenyum seperti orang bodoh?” Hinata memberenggut kesal, mendengar ucapan dari Naruto. Tidak tahu kah bahwa Hinata sedang berbahagia sekarang?

“K-kenapa? Aku sedang senang hari Naruto-kun, jadi sudah sangat wajar kan kalau aku tersenyum.”

“Terserah kau sajalah. ” Naruto mendengus kesal dan segera pergi meninggalkan Hinata yang ada di belakangnya. Dengan perasaan kesal yang berkecambuk di hatinya, akhirnya Naruto memutuskan untuk segera pergi ke kelasnya. Umpatan tak jelas terus Naruto ucapkan ketika pemuda berkulit tan itu sudah duduk di bangkunya.

 

“Kenapa dengan wajah jelekmu Naruto? Kau punya masalah?” Tanya Gaara yang sudah duduk di bangkunya sedari tadi. Aneh sekali melihat Naruto yang pagi-pagi sudah terlihat seperti ingin memakan orang hidup-hidup.

“Hn, cerita lah pada kami. Jika kau punya masalah” Sai yang sedari tadi diam, kini mulai angkat bicara, dan mengalihkan pandangannya pada Naruto yang terlihat kacau.

“Aku tak punya masalah apapun.” Naruto melirik kedua sahabatnya itu. Masih dengan wajah muram yang terlihat jelas di wajah tampannya.

“Pasti kau punya masalah dengan Hinata, iya kan?” Tebak Gaara yang membuat Naruto meliriknya dan memberikan death glare gratis pada pemuda berambut merah itu. Kenapa Gaara selalu bisa menebak semuanya? Menyebalkan sekali.

“Tidak.”

“Lebih baik kita biarkan saja Naruto, mungkin Ia sedang memikirkan masa depan rumah tangganya dengan istri barunya itu. Lebih baik kita makan di kantin saja Gaara.” Ucap Sai dengan segera menyeret Gaara pergi menjauh dari Naruto.

‘Aku tak akan membiarkanmu bersamanya, Hinata.’ 

.

oOo

.

Tidak terasa kini bel pulang berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran telah usai. Sehingga membuat semua siswa berbondong-bondong untuk keluar dari kelas. Seperti gadis bersurai indigo yang sekarang berlari cepat, sambil menenteng tasnya agar segera keluar dari dalam kelas.

” Naruto-kun kau pulang saja duluan, aku ada urusan. Tolong sampaikan pada Okaa-san.” Ucap Hinata sebelum berlalu pergi meninggalkan Naruto.

‘Aku akan mengikuti mu.’ Dan Naruto segera keluar dari kelas. Mengikuti langkah Hinata, tanpa gadis itu sadari.

.

.

Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Naruto tersenyum melihat mobil Honda civic milik berwarna hitam milik Gaara yang sudah terparkir disana. Melihat Hinata yang terlihat masih menunggu taksi lewat. Dengan cepat Naruto masuk ke dalam mobil Gaara, dan bersiap untuk mengikuti Hinata. Tentu saja, Naruto kini sudah bertukar mobil dengan Gaara. Ia tak ingin Hinata mengetahui bahwa Ia tengah menguntitnya.

Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Hinata mendapatkan taksinya. Melihat Hinata yang sudah naik taksi, Naruto memutuskan untuk menjalankan mobilnya, dan mengikuti laju taksi itu.

oOo

Tanpa di sadari taksi yang digunakan Hinata itu pun berhenti. Terlihat Hinata yang langsung turun dari taksi. Dan menghampiri seorang pemuda berambut raven yang berada di dekat taman itu.

Naruto pun ikut turun dari mobilnya, dan mengikuti Hinata dari belakang. Hinata tersenyum ketika Ia sudah dekat dengan Sasuke. Membuat Naruto otomatis bersembunyi di balik pohon. Mengamati Hinata dengan Sasuke. Jujur saja, Naruto sangat tak suka dengan pemandangan di depannya. Ia benar-benar cemburu melihat Hinata tersenyum seperti itu pada Sasuke.

 

“Perasaanku benar-benar tidak enak.” Gumam Naruto pelan, Ia kini sudah siap menajamkan pendengarannya untuk mendengar apa yang di bicarakan Hinata dan Sasuke.

“Hinata. Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Waktuku benar-benar hanya sebentar untuk menyampaikannya.” Sasuke tersenyum miris dan menatap Hinata dengan penuh rasa bersalah.

“K-kau mau membicarakan apa Sa-sasuke-kun??” Tanya Hinata penasaran. Entah kenapa Ia benar-benar sudah memilik firasat buruk tentang apa yang akan Sasuke katakan.

 

“Sebenarnya satu Minggu lagi, aku akan menikah dengan Karin. Gadis yang di jodohkan Okaa-san ku di Suna.”

 

Deg ! 

 

Ucapan Sasuke seakan membuat waktu berhenti detik itu juga. Nyawa Hinata seakan di renggut paksa. Sungguh rasanya sangat sakit sekali mendengar pria yang sudah di tunggu bertahun-tahun lamanya mengatakan hal seperti itu. Padahal baru kemarin mereka bersenang-senang. Demi Tuhan! Sasuke kemarin saja menciumnya!! Kenapa sekarang tiba-tiba Ia bilang akan menikah?!.

“T-tidak Mungkin,” Air mata yang sedari tadi tertahan, kini sukses keluar dari pelupuk mata Hinata. Hinata menangis dalam diam.

“Setelah kau pergi, meninggalkan ku. Okaa-san ku memutuskan untuk menjodohkanku dengan Karin saat itu, karena keluarga kami terikat dengan bisnis. Aku sangat tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi Okaa-san ku memaksa. Membuatku harus menuruti permintaannya. Maafkan aku Hinata. Aku tahu aku benar-benar brengsek. Kau bisa memukulku Hinata. Maafkan aku.” Sasuke mendekap Hinata dalam pelukannya. Hinata masih menangis ketika mendengar penjelasan yang keluar dari bibir Sasuke. Naruto yang sedari tadi menguping percakapan mereka hanya terpaku mendengarnya.

“K-kau jahat, kau jahat Sasuke, hikss,, menyuruhku untuk menunggu mu, dan sekarang kau datang, lalu mengatakan kau akan pergi lagi meninggalkanku. Kau kejam,, se-seharusnya kau tidak datang, dan tidak memberikan harapan kosong mu itu padaku hiks, hiks, kau jahat….” Hinata menangis sejadi-jadinya sambil memukul dada bidang milik Sasuke. Sementara Sasuke, mengeratkan pelukannya. Tapi pelukannya itu tak bertahan lama. Ketika- suara lembut seorang wanita terdengar—

“Sasuke-kun, ayo.” Seorang gadis berambut merah maroon datang dan menghampiri Sasuke yang masih memeluk Hinata. Membuat Sasuke yang mendengar suara yang sudah sangat Ia hafal, melepaskan pelukannya pada Hinata.

 

“Si-siapa??” Tanya Hinata masih terisak pelan. Tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Sasuke seaakan meminta penjelasan Sasuke tentang semuanya.

“Karin Uzumaki desu. Yoroshiku.” Karin tersenyum lembut ketika menatap Hinata. Ia sangat tahu tentang Hinata yang menjadi cinta pertama tunangannya itu. Ia juga sungguh paham tentang Sasuke yang jelas masih mencintai Hinata.

“Maaf, Hinata. Aku tetap menganggapmu sebagai cinta pertama ku.” Bisik Sasuke pelan, sebelum meninggalkan Hinata bersama tunangannya itu. Meninggalkan Hinata sendiri yang kini sudah jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Tubuh Hinata bergetar hebat. Isakan pilu itu terdengar memilukan. Semua orang yang ada disana bahkan menatap Hinata dengan tatapan kasihan.

 

Greepp

 

“Sudahlah jangan menangis untuknya.” Naruto langsung memeluk Hinata dari arah belakang. Memeluknya erat, seakan Hinata adalah benda yang harus dijaga. Ia benar-benar tak ingin melihat Hinata menangis. Rasanya benar-benar menyakitkan.

“Maaf, aku membiarkan mu menangis Hinata. “ Hinata yang tiba tiba di peluk seperti itu akhirnya membalikan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya pada Naruto. Menangis dengan sejadi-jadinya di pelukan pemuda berkulit tan yang seharusnya menjadi musuh abadinya. Hinata benar-benar membutuhkan pelukan saat ini. Semuanya terasa sangat menyakitkan. Hidupnya benar-benar tak seindah dalam novel picisan yang selalu Ia baca.

 

“M-maafkan aku.. Naruto-kun,, hiks,, hiks. Maaf… S-seharusnya aku sadar bahwa kau lebih baik darinya. Terimakasih untuk semua kebaikan mu. Maaf aku selalu marah padamu. Hikss.. maafkan aku..” Ucap Hinata yang masih terisak. Gadis itu semakin memeluk erat Naruto, dan menumpahkan semua rasa bersalahnya pada Naruto.

“Hm, aku akan selalu di samping mu selamanya. Hinata.“Naruto mengeratkan pelukannya, tanpa peduli dengan orang orang yang memperhatikan kegiatan mereka berdua. Mengelus punggung Hinata dengan lembut, agar tangisannya berhenti.

.

oOo

.

Gadis berambut indigo itu, kini mengerjapkan matanya perlahan, mencoba memulihkan kesadarannya. Hinata kini menggeliat tak nyaman, dan membalikan badannya. Membalas pelukan erat yang kini telah melingkar di pinggang gadis itu. Hinata yang masih tidak menyadari posisinya sekarang, hanya mencoba menyamankan kembali posisi tidurnya, dan mulai menggesekan hidungnya pelan ketika menghirup aroma citrus bercampur mint yang sangat menenangkan untuknya. Ah- wanginya benar-benar menggoda.

“Ohayou, Hinata. Jangan menggodaku di pagi hari Hinata-sama.” Pemuda itu berbisik pelan di telinganya. Hinata yang masih belum menyadari sapaan dari suaminya- Namikaze Naruto tetap asik menggesekan hidung sambil memikirkan benda hangat yang Ia anggap sebagai guling ini ternyata berbeda.

‘Tunggu, siapa ini??’ Hinata yang akhirnya penasaran, mulai mendongkakkan kepalanya, menoleh ke arah sumber terpaan nafas yang berhembus di telinganya.

“Kyaaaa,,, Narutooo-kunnn!!” Hinata berteriak, dan menjauhkan jaraknya dengan Naruto ketika menyadari posisi mereka benar-benar sangat intim!!

“Kau kenapa? Padahal kemarin malam kau agresif sekali Hinata-sama.” Goda Naruto, sambil duduk di tepi ranjang. Selimut yang melorot itu, kini menampilkan dada bidang Naruto yang terlihat jelas. Sehingga membuat Hinata memalingkan wajahnya. Hinata jamin, wajahnya pasti sudah memerah sekarang.

“Ke-kenapa kau tak memakai baju mu??”

“Memangnya kenapa?? Bukankah kemarin kau yang melepasnya, hn?” Ucapan Naruto membuat Hinata terdiam mencerna semua yang sejak tadi Naruto katakan.

“Apa maksudmu sih? Ce-cepat pakai bajumu!!” Ucap Hinata, lalu melemparkan sebuah bantal ke wajah tampan milik- Naruto. Tapi sayang, Naruto menangkisnya dengan cepat. Pemuda itu malah menyeringai ke arahnya.

“Kau juga tidak memakai baju mu, Namikaze Hi-na-ta!! ” Naruto mengeja nama Hinata, dan mulai memperdekat jaraknya dengan Hinata yang kini terlihat sangat bingung.

“Apa maksudmu??” Hinata mencengkram erat, selimut yang menutupi tubuhnya. Jantungnya sudah berdetak tak karuan. Perasaannya tidak enak sekarang.

“…..”Naruto masih diam, hanya memandangi Hinata dengan tatapan intensnya.

“Kenapa diam? Aku masih memakakai ba—” Hinata menghentikan ucapannya, ketika Ia menyadari bahwa tubuhnya polos, kali ini.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” Teriakan Hinata menggema ke seluruh kamar, yang membuat Naruto menutup telingannya rapat-rapat. Untung saja kamar mereka, kedap suara. Sehingga kedua orang tuanya tak akan mendengar teriakan Hinata yang memekakan telinga!!

 

TBC

Oke di tunggu Reviewnya.

Arigatou ^^

Sign

Astia Morichan ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

41 thoughts on “Married Project| Chap 2| NaruHina Fanfict

  1. Keren bgt thorr~~ aku baca sekilas yg sblm dirombak ternyata emang bagusan yg ini^^ makin penasaran sama hinata nya keke~~

  2. Bagus alur ceritanya dibuat bertolak belakang sana aslinya.. tapi seru.. minta password chptr 3 nya dongg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s