Katanya jadi Fujoshi itu kelainan?

8

Katanya jadi Fujoshi itu kelainan? Oh Heck. WTF. Kemarin gue kan nanya sama psikolog gitu. Katanya jadi fujoshi itu penyimpangan. Walaupun emang pada dasarnya keinginan rasa memiliki pada seorang idola sehingga gak rela idola bareng sama cewe lain. Bener sih kata psikolog itu. Yah gue kaget dong gila masa iya penyimpangan. Yah heck! Gue emang fujo akut. Gue akui itu. Gue selalu baca komik yaoi, film yaoi, anime yaoi, ah pokoknya all about yaoi gue suka. Sampe yah well you know lah gue jg tau seluk beluk dunia peryaoian itu sebenernya gimana. Yah jujur setelah tau sebenernya gak se so sweet apa yang gue bayangin juga sih. Nah terus kata psikolog itu ternyata oh ternyata itu gue udah parah banget kalo sampe kaya gitu. Yah gimana juga sih karena emang pada dasarnya alasan awal jadi fujo itu berdasarkan atas TIDAK RELA!! Gue aja kalo ngeceng orang terus orang itu misalnya taken gak sama gue. Gue lebih mending rela dia homo aja dari pada gue sakit liatnya. Hahaha parah kan gue.

Terus gue cerita, kalo sekrang sih gue udah biasa aja ke yang namanya berbau yaoi. Flat lah. Yah you know lah karena KYUMIN sudah tidak bersatu lagi! GUE SAKIT BANGET PAS TAU KENYATAAN INI SUNGGUH!!! Sejak saat KEPUTUSAN MING KAWIN AMA CEWE gue udah biasa sama yang namanya YAOI. Suka sih tapi mungkin udah berkurang. Sekaranng gue gak pernah baca FF yaoi lagi, nonton anime yaoi aja terakhir love stage doang. Biasanya gue ngubek semua padahal. Diem di forum yaoi, ngetg di forum itu. Yah pokoknya gitu deh. Tapi sekarang udah ngga.

Terus gue bilang “ aku pengen sembuh total. Caranya gimana yah??”

Dia bilang yah hindari yang berbau yaoi. Katanya yah temennya ada yg fujo kaya gue. Dan kalian tau apa yang temennya lakuin?? Setiap saat nonton yaoi dan sampe pergi caw ke jepang hanya untuk liat ke aslian yaoi kaya gimana. Padahal tanpa dia tau di kota badung aja yaoi bejibun. Dimana-mana pasti ada. Well akhirnya mulai dari sekarang gue memutuskan untuk sembuh aja. Ngeri juga liat akibatnya 😥

Temen gue yang em yaoi pernah cerita. Walaupun misalnya bapak-bapak yang udah nikah dan punya anak aja yah itu ternyata homo. Hah gue yah kaget dengernya. Ternyata bapak2 itu terkadang suka cari pacar cowo alias ukenya. Temen gue aja pernah di godain sama bapak2. Yah gue kaget. Yah gue beneran gak percaya gitu. Jadi yah ati ati kalo milih cowo. Tanyain.

“MAS KAMU HOMO APA NGGA? ATO BISEX?” Jan sampe ntar suami lo selingkuh sama suami orang ! ;’)

 

Jadi sejak saat cerita asli bertebaran dan gue melihat secara nyata bagaimana dunia mereka. Gue gue tarik kata-kata gue. Karena dunia yaoi iya sih emang so sweet tapi bisa jdi engga. Yah jadi gue mau flat aja. Tobat gue jadi fujo. Doain gais!!

LAST!

THANKS KYUMIN. KARENA KALIAN GUE BISA MERASAKAN KESENANGAN. KARENA KYUHYUN DAN SUNGMIN DULU ADALAH SATU DAN GUE PERCAYA AKAN HAL ITU. TAPI GUE MIKIR DUA KALI SEKARANG SETELAH TERIMA KENYATAAN BAHWA KYUMIN ITU GAK AKAN PERNAH BISA SATU. GAK AKAN. KARENA HANYA ADA ADAM DAN HAWA YANG HANYA AKAN DI PERSATUKAN OLEH TALI BENANG MERAH. BEGITUPUN KYUHYUN DAN SUNGMIN. SEMOGA KALIAN BAHAGIA. APALAGI KYUHYUN SAYANGKU YANG TERLIHAT TERPURUK. LUPAKAN KENANGANMU TENTANGNYA KYU. BERBAHAGIA LAH ;’(

Advertisements

You Must Love Me | Chap 7| SasuHina

4

You Must Love Me!

Rate M

Romance, School Life, Drama

Disclamair: All Chara belong ‘Masashi Kishomoto’ and over all this fict is mine

Warning: OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Sasuke X Hinata

Nasib Hinata berubah 180 derajat gegara Sasuke yang mengetahui rahasia terbesarnya. Karena tak ingin rahasianya terbongkar, Hinata harus menuruti semua kemauan Uchiha Sasuke!!

Happy Reading!

Enjoy!!

.

.

.

 

“Hinata-chan, ayo kita makan siang bersama” Teriak Naruto, ketika Ia masuk ke dalam kelas Hinata dan menghampiri Hinata yang kini menatap Naruto kaget.

Setelah jaraknya dengan Hinata sudah dekat, Naruto kini mulai menarik tangan Hinata. Hingga membuat Hinata mencoba melepaskan genggaman tangan Naruto, dan mulai mengeluarkan suaranya.

“Eh-Na-naruto-kun, a-aku tidak bisa. Hari ini aku makan dengan Tenten dan Ino” Ucap Hinata pelan. Memang, ketika tadi pagi Naruto mengajak makan siang bersama, Hinata belum sempat mengiyakan atau menolak ajakan pemuda berambut blonde itu.

Naruto menghentikan langkahnya, dan mulai menatap Hinata.

“Kau kan sudah sering bersama teman mu Hinata-chan. Aku mohon Hinata-chan, dan juga aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Kau mau kan Hinata-chan?” Ucap Naruto dengan wajah memelasnya. Hinata pun menatap ke arah Tenten dan Ino, mencoba meminta persetujuan. Mereka hanya mengangguk sambil menatap Hinata. Naruto yang menyadari bahwa Hinata tidak akan bisa menolak ajakannya lagi tersenyum senang.

“Baiklah, kita makan di taman belakang. Ayo kita ke kantin, dan beli makananya dulu ne Hinata-chan”

 

“E-to tapi aku bawa bekal Naruto-kun”

 

“Souka, kalau begitu aku akan ke kantin dan kau tunggu saja aku di taman belakang. Nanti aku menyusulmu”

 

“A-aku bawa bekal dua” Ucap Hinata sangat pelan. Ia menundukkan kepalanya. Hinata memang lupa hari ini malah membawa dua bekal, karena satu lagi biasanya untuk Sasuke. Hinata lupa bahwa Sasuke marah padanya.

 

“Beruntungnya aku, baiklah ayo pergi” Ucap Naruto girang, sambil melangkah ke meja Hinata dan mulai mengambil dua kotak bento di mejanya.

 

Tanpa Hinata dan Naruto sadari, sosok pria berambut raven itu tengah berdiri di samping pintu kelas, dan mendengar percakapan mereka. Dengan perlahan pemuda itu, segera melangkahkan kakinya menjauh dari kelas, menuju taman belakang sekolah.

.

.

.

“Wahh, Hinata-chan. Apakah bento ini buatan mu?”tanya Naruto penuh kagum, ketika melihat isi bento yang diberikan Hinata terlihat sangat menggiurkan. Onigiri yang di bentuk dengan sangat lucu, dan di hiasi dengan sayuran di atasnya yang akan terlihat seperti rambut raven, dan juga beberapa potong daging korage disana, juga banyak tomat hadir menghiasi bento itu.

 

“Ya, aku membuatnya tadi pagi Naruto-kun” Hinata memang membuat bento ini tadi pagi, makanya Ia sedikit terlambat datang ke sekolah. Selain Ia tidur terlalu larut, Ia juga memang harus menyiapkan bento untuknya, dan juga Sasuke. Mengingat Sasuke, Hinata kembali menatap bento milik Naruto sedih. Seharusnya bento itu untuk Sasuke. Bahkan onigiri itu Ia bentuk agar mirip dengan Sasuke.

 

“Tapi kok onigiri ini mirip si Teme yah? Dan juga kenapa banyak sekali tomat sih Hinata-chan? Aku tak suka tomat” Naruto mulai menyisihkan tomatnya kepinggir.

 

Hinata hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Naruto.

 

“Hinata-chan kau kenapa?” Tanya Naruto, ketika Hinata tak menjawab pertanyaannya, dan malah terdiam menatap bento miliknya.

 

“Eh, Aku tak apa. Kalau kau tak suka tomat, tomatnya untukku saja Naruto-kun”Hinata lalu mengambil sumpitnya, dan mengambil tomat di bento Naruto, lalu memindahkannya ke bento miliknya.

 

“Ah, begini lebih baik. Walaupun aku akan terlihat seperti memakan kepala si Teme. Baiklah. Itadakimasu” Naruto pun mulai memakan bento nya dengan sangat lahap.

 

Hinata hanya terdiam menatap Naruto yang kini sedang makan. Entahlah, tiba-tiba saja Ia merasa tidak lapar. Hinata kini menatap bentonya. Ia lalu mulai mengambil potongan tomat itu, lalu memakannya. Gadis itu hanya memakan tomatnya sampai habis. Onigiri dan koragenya tak Ia sentuh.

 

Tanpa Ia sadari kini Naruto sudah selesai dengan makannya.

“Ah, ini enak sekali Hinata-chan. Eh? Kenapa kau hanya memakan tomatnya saja??” Tanya Naruto heran.

 

“A-aku tidak lapar Naruto-kun. Jadi hanya memakan tomat saja” Ucap Hinata sambil menutup bentonya. Ia pun mulai memasukan kembali bentonya, dan merapikan kotak makan Naruto yang sudah kosong.

 

“Souka. Ah ya, Hinata-chan ada yang ingin aku ucapkan padamu”Ucap Naruto yang kini sudah duduk bersila menatap Hinata dengan intens. Hinata yang di pandang seperti itu oleh Naruto dengan refleks duduk berhadapan dengan Naruto.

 

“Hinata-chan, sebenarnya aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertabrakan di koridor. Apa kau ingat?” Hinata terdiam kaku mendengar ucapan Naruto. Naruto menyukainya? Ia senang, tentu saja karena Ia dulu juga menyukai Naruto. Tentu Hinata juga ingat ketika pertama kali bertemu dengan Naruto di koridor. Setelah kabur dari Sasuke saat itu, Ia tanpa sengaja bertabrakan dengan pemuda berkulit tan itu. Tapi sekarang perasaannya pada Naruto sudah hilang. Ia tidak lagi menyukai Naruto. Ia hanya menyukai Uchiha Sasuke. Hanya Sasuke yang bisa membuatnya berdebar tak karuan.

 

“Go-gomen Naruto-kun. A-aku tak menyukaimu” Ucap Hinata menundukkan kepalanya. Tanpa Ia sadari sepasang onyx membelalak kaget ketika mendengar ucap Hinata.

 

“Eh? Bagaimana bisa kau tak menyukai ku Hinata-chan?” pekik Naruto kaget. Ah, Ia di tolak lagi. Setelah oleh Sakura, dan move on ke Hinata. Ternyata Ia malah di tolak lagi. Miris sekali.

 

“Go-gomen ne Naruto-kun” Hinata semakin menundukkan kepalanya. Ia memang tidak bisa membohongi perasaannya lagi.

 

“Hah, ya sudahlah tak apa Hinata-chan. Kalau dilihat dari bentuk bento tadi, apa kau menyukai si Teme??” Tanya Naruto penuh selidik kepada Hinata.

 

Hinata hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan Naruto. Ah, kenapa Ia mudah sekali ditebak sih?

 

“Jadi benar yah si Teme. Selalu saja di rebut si Teme. Dasar Uchiha satu benar-benar harus di lenyapkan” Canda Naruto, hingga membuat Hinata tersenyum mendengar lelucon itu. Akhirnya mereka berdua tertawa, tanpa menyadari sepasang onyx itu mulai menutup, dan mengeluarkan seringaiannya di wajahnya. Sejak tadi pemuda raven itu menguping pembicaraan Naruto dan Hinata di balik pohon besar itu.

‘Jadi begitu. Hinata menyukaiku. Tapi kenapa Ia menolakku? Lihat saja nanti Hinata’

 

oOo

Setelah mendengar perkataan Hinata dengan Naruto tadi. Pemuda berambut raven itu- Uchiha Sasuke melangkah pergi meninggalkan taman belakang. Kini Sasuke berniat untuk mencari Sakura di perpustakaan. Sakura harus membantunya dalam rencana yang sudah ia buat.

Setelah sampai di perpustakaan, Sasuke langsung masuk dan menemukan gadis bersurai pink itu tengah duduk sambil membaca buku biologi dengan serius. Sasuke pun segera menghampiri Sakura, dan duduk didepannya.

Sakura yang menyadari ada seseorang yang duduk di depannya, berhenti membaca dan mulai menoleh ke depan. Emerland cantiknya kini menemukan sosok Sasuke yang tengah menatapnya.

“Sasuke-kunn!!! Kau dari mana saja? Meninggalkanku begitu saja. Menyebalkan!” Sakura menggembungkan pipinya kesal ketika Sasuke masih menatap dirinya tanpa ekspresi.

 

“Bukan urusanmu. Sekarang kau harus membantuku “ Ucap Sasuke to the point.

 

“Aku harus membantumu apa Sasuke-kun?”

 

“Berpura-pura lah pacaran denganku Sakura” Sakura yang mendengar itu memekik senang. Ah jadi pacar Sasuke itu memang impiannya sejak dulu!

 

“Hontou? Tapi aku ingin pacaran yang asli denganmu Sasuke-kun. Bukan hanya pura-pura”

 

“Terserah, yang jelas kau harus menuruti apa yang aku katakan” dan Sasuke langsung menarik kursi dan meninggalkan Sakura yang masih tersenyum senang, karena impiaannya sudah tercapai. Sasuke kini menjadi pacar Haruno Sakura!

 

“Sasuke-kun, tunggu akuu!!”

 

oOo

Setelah mengucapkan kalimat penolakan itu pada Naruto. Kini Hinata memutuskan untuk kembali ke kelas. Karena pelajaran Anko sensei yang mengajar Kimia itu sebentar lagi akan segera di mulai. Hinata menghela nafas pelan. Gadis berambut indigo itu tengah menenggelamkkan wajahnya pada perpotongan lenganya. Entahlah hari ini terasa sangat melelahkan baginya, setelah beberapa kejadian tak menyenangkan yang dialaminya sejak pagi. Sungguh, Ia sangat ingin pulang sekarang. Kenapa 2 jam itu terasa lama sekali?
“Ne, Hinata-chan? Kau kenapa?” Tanya Tenten, ketika gadis bercempol dua itu sudah duduk di samping Hinata. Menatap Hinata khawatir. Di ikuti Ino yang kini sudah duduk di bangkunya- di belakang Hinata.

“Ne Hina-chan. Apa kau sakit??” Suara milik Ino juga sarat akan kekhawatiran.

Mendengar nada khawatir dari sahabat baiknya, Hinata menegakan wajahnya. Menatap ke arah Ino dan Tenten bergantian. Gadis berambut indigo itu kini tersenyum tulus. Sungguh, Ia tak ingin membuat sahabatnya khawatir karenanya.

“A-aku tak apa kok Tenten-chan, Ino-chan. Sungguh”

“Benarkah? jika kau sakit, kami akan mengantarkanmu ke UKS Hina-chan” Ucap Ino serius, di ikuti dengan Tenten yang hanya mengangguk mengiyakan.

“Hontouni Daijoubu” Suara Hinata yang terdengar lemah dengan senyum cantiknya. Membuat Tenten dan Ino saling tatap tak percaya. Hinata benar-benar jauh dari kata baik.

 

“Baiklah, tapi jika kau merasa tak enak badan bilang pada kami ne?”

 

“Iya, jangan sungkan Hina-chan”

 

“Tentu saja, aku pasti akan mengatakannya” Hinata kembali tersenyum lembut pada Tenten dan Ino. Tapi senyum cantiknya hanya bertahan beberapa detik ketika mata amethysnya melihat sosok Sasuke dan Sakura yang kini berjalan dengan sangat mesra. Sasuke yang menggenggam tangan Sakura erat, dan juga Sakura yang tersenyum bahagia karena di perhatian dari Sasuke.

 

Degg Degg

 

“Astaga Pasangan Uchiha- Haruno itu benar-benar serasi aku iri!”

 

“Iya, Uchiha lebih cocok dengan gadis pindahan itu dari pada dengan Hyuuga yang culun itu”

 

Sasuke dan Sakura kini berjalan ke arah Hinata yang masih mencerna semua kejadian yang ada di hadapannya.

 

“Eh, Sasuke-kun” Suara Sakura yang memanggil namanya, membuat pemuda bermarga Uchiha itu menoleh.

 

“Hn?”

 

CUPP

Sakura mencium pipi Sasuke singkat. Sehingga membuat teriakan siswi yang melihat pandangan itu semakin berteriak histeris melihat sang Pangeran pujian hati di cium oleh gadis lain.

 

“Nandemonai” Ucap Sakura dengan wajah tanpa dosanya, gadis bersurai pink itu kembali menarik tangan Sasuke. Tanpa menyadari tatapan mengerikan dari Sasuke pada Sakura. Demi Hades! Sasuke tak pernah mengijinkan satu orang pun menciumnya kecuali Hinata-nya!!

 

Hinata masih terdiam di tempatnya ketika melihat kejadian itu. Tanpa Ia sadari bahunya sudah bergetar menahan tangis. Sungguh rasanya sangat menyakitkan melihat Sasuke di cium gadis lain. Rasanya seperti rohnya di ambil secara perlahan!

 

“I-ino-chan. Ten-ten-chan. A-aku a-akan ke UKS” Setelah berhasil mengucapkan kalimat itu pada Tenten dan Ino, Hinata segera berdiri dari duduknya dan berlari melewati Sasuke dan Sakura yang masih berada di depan pintu kelas.

 

‘Kami-sama, Sungguh ini benar-benar menyakitkan!!’

 

oOo

 

Hinata memutuskan untuk pergi ke ruang UKS. Kini gadis bersurai indigo itu tengah berbaring telungkup sambil menyembunyikan wajahnya pada bantal. Bahunya bergetar pelan. Hinata menangis! Sungguh semua hal yang terjadi hari ini benar-benar menyakitkan! Jujur saja, Hinata lebih memilih jatuh lalu berdarah daripada sakit di hatinya ini!

 

“Hikss,, Okaa-sannn,,”

 

Kreekk

 

Pintu ruangan itu terbuka tanpa Hinata sadari. Hingga muncullah sosok pemuda berambut raven yang kini sudah mendekat ke arah Hinata.

 

“Hiksss,,,”

 

Grab

 

Amethys Hinata terbelalak ketika seseorang menariknya hingga kini Ia terbaring terlentang dengan sosok itu menindih tubuh mungilnya. Dia- Uchiha Sasuke!

Sasuke menatap Hinata tajam. Tatapan yang seakan bisa mengulitinya hidup-hidup. Sementara Hinata dengan wajah sembab dan mata bengkaknya, mencoba menghindari tatapan bungsu Uchiha itu. Hinata tidak kuat jika berlama-lama menatap onyx menghipnotis itu. Hinata tidak kuat berada terlalu dekat dan seintim ini dengan Sasuke. Jantungnya juga tak kuat karena sedari tadi berdebar tak karuan. Hinata tak suka dengan perasaan ini yang selalu jika dekat dengan Sasuke. Hinata takut Sasuke mengetahui debaranya.

 

“Pe-pergilah Sa-sasuke-kun”

 

Sasuke tetap diam tak bergeming. Ia terus menatap Hinata dengan tatapan tajamnya.

 

“Kumohon. Me-menjauh dariku” Sungguh! Hinata tak ingin mengatakan hal itu. Tapi, Ia benar-benar belum siap dengan semua perasaan ini!

 

Bukannya menjawab, Sasuke malah menarik dagu Hinata untuk menatap ke arahnya. Sasuke memajukan wajahnya pada Hinata. Hingga aroma citrus milik Sasuke bisa Hinata cium dengan jelas. Hidung mereka kini sudah saling bersentuhan. Nafas Sasuke yang menggelitik menerpa wajah Hinata. Hingga Putri Sulung Hyuuga itu harus menahan nafasnya.

“Sa-hmmphh,,” Belum sempat Hinata memanggil nama Sasuke. Sebuah benda bertekstur lembut milik Sasuke menyentuh permukaan bibirnya. Ya! Sasuke menciumnya! Hinata masih membelalakan matanya sebelum menyadari apa yang telah menyentuh bibirnya.

Sasuke menekan bibirnya pada bibir plum milik Hinata. Di sesapnya pelan bibir itu. Hingga membuat Hinata sadar dan menutup matanya menikmati ciuman hangat Sasuke. Hinata tidak munafik. Jujur saja, Hinata merindukan ciuman memabukan bungsu Uchiha itu.

 

“Mmhhh” Hinata melengguh pelan, ketika Sasuke melumat bibirnya dengan lembut dan mengigit pelan bibir bawahnya sehingga Hinata membuka mulutnya yang menjadi akses untuk Sasuke bereksplore rongga hangat milik Hinata. Lidahnya mengecap seluruhnya milik Hinata menyentuh titik sensitive disana. Hinata membalas ciuman itu . membalas lumatan pelan pada bibir Sasuke, membelai lidah Sasuke ketika pemuda itu terdiam dalam ciumannya. Membiarkan Hinata mengerjai bibirnya. Hingga kembali gadis bersurai indigo itu mendesah pelan karena ulahnya sendiri.

“Anhh”

Sasuke melepaskan tautan bibirnya, hingga hanya benang saliva saja yang menghubungkan mereka. Wajah Hinata memerah sempurna ketika menyadari bahwa Ia benar-benar menikmati ciuman Sasuke. Hinata bahkan membalas ciumanya. Ah, Hinata malu! Rasanya Hinata ingin sekali terjun ke jurang terdalam dan menghilang detik ini juga.

“Aku akan menunggumu sampai kau jujur dengan perasaan mu Hinata” Bisik Sasuke seduktif, sambil menjilat cuping telinganya.

 

“Ahh” Desahan itu kembali lolos dari bibirnya. Sungguh Hinata benar-benar merutuki bibirnya yang bisa mengeluarkan suara memalukan itu!

 

Kini Sasuke sudah berdiri dari tubuh Hinata, dan pergi meninggalkan Hinata yang masih terdiam disana. Seringaian kemenangan tercetak jelas di wajah Sasuke.

‘Akan ku pastikan kau mengatakan perasaanmu secepatnya, Hinata!’

 

oOo

Gadis bersurai indigo itu- Hyuuga Hinata kini tengah memilih beberapa bahan makan. Wajah cantiknya tampak lesu. Tentu saja, sudah satu minggu Hinata belum mengucapkan perasaannya pada Sasuke. Sejak saat kejadian di ruang UKS itu Sasuke seolah tak pernah menganggapnya, dan seakan hal yang terjadi saat pemuda itu menciumnya adalah hal yang tak pernah terjadi. Bungsu Uchiha itu malah menjauhi nya ketika gadis itu akan menyapanya. Malah Sasuke semakin dekat dengan Sakura. Sakit? Tentu saja itu menyakitkan. Hati gadis itu bagai di iris oleh katana tajam ketika melihat adegan mesra Sasuke dan Sakura. Bahkan Hinata pernah melihat Sakura mencuri cium pipi Bungsu Uchiha itu berkali-kali, dan Sasuke sama sekali tidak menolak. Pemuda itu malah menyeringai dan menatap tajam padanya. Sungguh Hinata benar-benar tak mengerti dengan cara berpikir Sasuke!

 

“Hah” Hinata mendesah pelan. Ia lalu mengambil beberapa coklat. Coklat selalu membuat perasaannya tenang jika mengingat Sasuke, dan memasukkannya ke keranjang belanjaannya. Lalu Hinata kembali menelusuri mini market itu, Ia berniat untuk mencari susu kotak. Persediaan susu kotak strawberrynya sudah habis.

 

Brukk

Hinata terjatuh ketika menabrak seorang wanita berambut pirang. Belanjaannya dan wanita itu jatuh berhamburan.

 

“Eh. Go-gomenasai” Ucap Hinata sambil mengambil belanjaan wanita itu dan memasukkannya ke keranjang belanjaan sang wanita bersurai pirang.

 

“Hinata-chan??” Panggil wanita itu. Sehingga membuat Hinata mengangkat wajahnya, dan melihat wanita pirang itu.

 

“Eh, Tsu-tsunade-san”

 

Tsunade lalu tersenyum ke arah Hinata. Ia pun berjongkok dan mulai membantu Hinata.

 

“Kenapa kau tidak ke rumah lagi Hinata-chan? Kau tahu beberapa hari ini Sasuke jarang pulang ke rumah” Ucap Tsunade lirih. Ia dan Hinata pun kini sudah berdiri, dan membawa belanjaannya.

 

“Eh- i-itu” Hinata bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Tsunade. Tentu saja, Ia tidak tahu di mana Sasuke. Ia pun sudah tidak berhubungan lagi dengan bungsu Uchiha itu.

 

“Apa hubunganmu sedang tidak baik dengannya?” Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

“Pantas saja, Sasuke selalu terlihat kacau beberapa hari ini. Ah- beruntungnya kau Hinata. Dia pasti sangat mencintaimu sampai seperti itu” Hinata tertegun mendengarnya. Benarkah ucapan Tsunade itu?

 

“Sasuke selalu pulang tengah malam, dan itu membuat Fugaku marah padanya”lirih Tsunade. Ia pun menarik tangan Hinata. “Ne, Hinata-chan hari ini kau ikut denganku ke rumah yah? Di rumah megah itu aku sangat kesepian” Ucap Tsunade sambil tersenyum tulus. Mereka kini sudah di depan kasir, dan Tsunade membayarkan belanjaan Hinata.

Setelah membayar belajaannya, Tsunade lalu menarik Hinata untuk masuk ke dalam mobil Honda civic hitamnya tanpa meminta persetujuan dari gadis berambut indigo itu.

 

“Ta-tapi Tsunade-san. Sa-sasuke-“ Belum sempat Hinata melanjutkan ucapannya. Kini Tsunade tengah mengelus puncuk kepalanya.

“Tenang saja, Sasuke juga belum tentu pulang ke rumah. Jadi kau harus ikut bersamaku hari ini ne Hinata-chan. Aku akan meminta izin pada Hiashi agar kau menginap di kediaman ku”Hinata hanya bisa mendesah pasrah. Ia pun mengangguk, dan itu membuat Tsunade tersenyum senang.

 

“Yokatta. Ryouma-san jalan” Perintah Tsunade kepada supirnya. Sang supir hanya mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya ke kediaman Uchiha.

oOo

 

Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di mansion Uchiha. Hinata dan Tsunade pun turun dari mobil, dan masuk ke kediaman mewah Uchiha itu. Disana para maid menyapa kedatangan Hinata dan Tsunade.

Tsunade mempersilahkan Hinata untuk duduk. Hinata kini sudah duduk manis. Ah, jujur saja Hinata merindukan tempat ini. Kenangan tentang Sasuke dan Hinata kembali terbayang. Hinata benar-benar merindukannya.

Tanpa Hinata sadari, kini Tsunade sudah duduk di sampingnya, sambil menyodorkan jus strawberry padanya.

 

“Hei, Hinata-chan kenapa kau melamun?” tanya Tsunade heran melihat Hinata yang sejak tadi duduk terdiam. Apa gadis di depannya ini sedang sakit?

 

Mendengar suara Tsunade , membuat Hinata sadar akan lamunannya.

 

“Ah, Go-gomenasai Tsunade-san” Hinata tersenyum kikuk. Ia benar-benar tak sadar bahwa sejak tadi melamun.

 

“Tak usah seformal itu Hinata-chan, kau bisa memanggilku Ba-san” Ucap Tsunade sambil mengacak-acak surai indigo milik Hinata. Ah, sentuhan Tsunade pada rambutnya benar-benar mengingatkannya pada sang Ibu.

 

“Ya sudah, ini minumlah. Seitulah itu, kita memasak ne Hinata-chan. Ah, aku sungguh menantikan hal ini. Lagi pula hanya ada kita saja malam ini Hinata-chan. Sepertinya Sasuke tidak akan pulang, dan Fugaku-kun sedang berada di London” Hinata pun mengambil minuman yang Tsunade tawarkan. Ia pun mengangguk, mengiyakan ajakan dari Tsunade. Sepertinya Tsunade benar-benar kesepian di rumah megah ini.

 

“Baiklah, aku tunggu di dapur ne Hina-chan”

 

“Ne, Oba-san”

 

oOo

Kini Hinata dan Tsunade sudah berada di dapur dan memasak masakan khas Jepang. Mereka benar-benar terlihat seperti Ibu dan anak yang memasak bersama. Tertawa ketika Tsunade melontarkan kebiasaan Sasuke yang sangat menyukai tomat. Sasuke yang akan menyentuh makanan buatannya jika Ia bilang bahwa makanan itu buatan para maid. Cerita tentang Tsunade membuat Hinata sedih. Kenapa Sasuke tak bisa menerima Tsunade? Padahal Tsunade adalah wanita yang baik hati.

 

“Ah, selesai. Ayo kita simpan di meja makan” ajak Tsunade ketika semua masakannya sudah matang. Hinata pun mengangguk pelan, dan membawa beberapa piring makanan untuk di simpan di meja makan.

Setelah semua masakan sudah tertata rapi di meja makan. Hinata dan Tsunade pun duduk dan tersenyum puas melihat masakan mereka yang terlihat sangat lezat.

 

“Itadakimasu” Ucap Tsunade dan Hinata bersamaan. Mereka pun makan dalam tenang.

 

“Ne, Hinata-chan kau harus makan yang banyak. Kau terlihat sangat kurus”

 

“Ne, Ba-san” Hinata kembali menyantap makanannya. Sungguh ini benar-benar enak! Seperti masakan ibunya dulu.

 

“Oh ya, Hinata-chan aku sudah menyiapkan kamar untuk mu, kau nanti tidur di atas. Di sebelah kamar Sasuke”

 

“Uhm, iya Ba-san”

 

Akhirnya mereka makan dalam tenang. Setelah 30 menit selesai. Akhirnya Hinata dan Tsunade memutuskan untuk menonton Film. Mereka kini sudah berada di ruang tengah dengan popcorn dan beberapa botol wine kesukaan Tsunade yang sudah menghiasi meja.

 

“Ne, Hinata-chan. Aku ingin menonton film If I Stay. Kata Shizune film itu benar-benar menyedihkan. Jadi ayo kita tonton sampai kita mengantuk” Ucap Tsunade dengan penuh semangat. Wanita bersurai pirang itu, kini sudah menyalakan dvd playernya hingga muncullah sebuah gambar di layar menandakan film itu sudah akan di mulai.

 

Mereka terdiam sambil menonton adegan yang menyedihkan di film itu. Tsunade bahkan sudah meneguk beberapa gelas wine sambil terisak. Diikuti Hinata yang tanpa Ia sadari meminum wine milik Tsunade sambil menangis haru menonton film itu.

“Hikss,, benar-benar mengharukan”

 

“Ne, Ba-san, hikss”

 

Sudah 2 jam film itu berlangsung, akhirnya film itu berakhir dengan sang pemeran utama sadar dari komanya.

 

Gleekk

 

Hinata kembali meminum gelas ke 5 nya yang berisi wine itu.

 

“u-untung sa-saja ga-gadis itu sa-sadar. Hikk” Ucap Hinata pelan. Gadis itu benar-benar merasa pusing. Rasanya tubuhnya benar-benar terasa panas.

 

“Ne, Hinata-chan. Ah- Ini sudah jam 11 malam. Sebaiknya kita tidur” Ajak Tsunade yang masih sadar. Tentu saja, Ia tak akan mabuk dengan satu atau dua botol wine. Tsunade merutuki kebodohannya menaruh wine sembarangan, dan tanpa Ia sadari Hinata malah meminumnya.

 

“Uhm, Ba-san. Hikk”Hinata kini berjalan agak sempoyongan ke atas. Tsunade mengikuti dari belakang takut jika Hinata terjatuh.

Setelah sampai di atas, Hinata malah berjalan ke arah kamar Sasuke dan masuk ke kamar itu.

“Ne, Ba-san. A-aku, Hikkk,, ti-tidur di ka-kamar Sa-sasuke-kun ne,, Hikk,,” Ucap Hinata yang kini sudah berbaring di ranjang milik Sasuke.

 

“Baiklah, lagi pula Sasuke juga tidak akan pulang. Ne, Oyasumi Hina-chan” Dan Tsunade pun meninggalkan Hinata di kamar Sasuke, lalu pergi menuju kamarnya di bawah. Ah, Ia benar-benar lelah.

 

Klek

Pintu itu pun tertutup meninggalkan Hinata yang masih berbaring. Ia menyesap lama bau milik Sasuke di sana.

“Kenapa disini panas sekalii. Hikk” Hinata pun melepas jumper bergambar doraemon itu, hingga Ia hanya mengenakan kaos berwarna putih yang sedikit transparan.

oOo

Mobil ferarri berwarna hitam itu, kini sudah terparkir di halaman mansion Uchiha. Uchiha Sasuke turun dari mobilnya. Tadi Ia harus menemani Sakura keliling Mall, karena gadis itu mengancam tidak akan membantunya lagi jika Ia tidak menemaninya. Maka dari itu, Sasuke terpaksa mengikuti kemauan gadis bersurai pink itu. So, Thanks God! Berkat itu, Sasuke harus pulang selarut ini. Padahal Ia sudah sangat lelah.

Akhirnya Sasuke pun masuk ke mansion megah itu. Sudah tak ada maid lagi di ruang megah itu. Tentu saja, mereka pasti sudah tertidur. Ketika sampai di ruang tengah Sasuke melihat beberapa botol wine, itu pasti Tsunade. Tanpa Ingin berpikir panjang lagi, bungsu Uchiha itu berjalan ke arah kamarnya.

 

Ceklekk

Sasuke pun masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat ia membuka bajunya, dan hanya mengenakan boxer saja untuk tidur. Sasuke lalu masuk ke dalam selimutnya, setelah Ia mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan lampu tidurnya. Hari ini benar-benar terasa sangat melelahkan baginya. Sasuke pun mulai menutup matanya. Tapi belum sempat onyxnya tertutup rapat, tiba-tiba saja sebuah lengan memeluk tubuhnya dengan erat.

 

“Hmm, Sasuke-kun” Suara lembut yang sangat Sasuke kenali itu membuat onyx Sasuke kembali terbuka. Itu suara Hinatanya! Tapi Hinata tidak mungkin kan berada di kamarnya? Itu sangat mustahil!

 

Sasuke masih terdiam dalam posisinya, kini lengan itu semakin merambat naik mengelus badannya, dan mengeratkan pelukannya. Tapi sentuhan itu terasa sangat nyata baginya! Dengan perlahan Sasuke melihat ke arah samping. Terlihat gadis bersurai indigo itu tengah memeluknya erat dengan mata yang sedikit sayu.

 

“Hi-hinata??”

 

“Ne, Sasuke-kun. Hikk. A-aku merindukanmu. Sangatt. Hikk”

 

Grabb

Hinata kini sudah terduduk di atas perut Sasuke. Gadis itu menatap Sasuke dengan tatapan tajamnya. Sementara Sasuke? Pemuda tampan itu hanya terdiam menatap Hinata dengan heran. Apalagi nafas Hinata yang mengeluarkan bau wine. Gadis itu mabuk!

 

“Ne, Sasuke-kun. Kau tahu? Di sini itu sakit “ Hinata menunjuk ke arah dada Sasuke. “Ketika aku melihat kau dengan Sakura. Kau tahu? Itu sangat menyiksaku, bodoh. Hikk” Hinata kini mendekatkan wajahnya pada Sasuke. Sehingga nafas hangatnya menerpa wajah Sasuke.

“Hikk.. aku merindukanmu Sasuke-kun. Aku menyukaimu. Kenapa kau membuat semuanya terasa sulit? Hikk.. aku membencimu!!” racau Hinata, sambil menempelkan bibirnya pada bibir Sasuke.

 

“Suki dayo” Dan Hinata menutup matanya ketika Ia mulai melumat bibir Sasuke yang sudah lama Ia rindukan.

 

TBC

Holaa, Kita bertemu lagi minna-san. Hehe, oh iya ini udah panjang kan yah? Aku bingung kenapa pada bilang kurang panjang. Padahal menurut aku itu udah panjang ._.

Ne, minna. Mungkin untuk sementara aku agak sibuk soalnya bentar lg harus siapin UN dan SBMPTN ;’( doain yah minna ^^

Tapi tenang aja, ini akan selalu berlanjut kok^^

Makasih untuk yang selalu review FF yang abal ini ^^

See ya next chap. Semoga chap ini tidak mengecewakan ^^

NC nya di chap depan. Hehe lagi proses^^

Mind To Review?^^

 

Sign

Astia Morichan ^^