Forbidden Smile| SasuHina Fanfict

0

Forbidden Smile
All chara belong Masashi Kishimoto
Rated T
Romance, Drama
One Shoot
Warning : Typo, OOC, alur kecepetan, gaje, ide pasaran, dll
Hinata yang merupakan sahabat dari Sasuke- sang artis yang di gemari para gadis di Jepang, melarangnya untuk tersenyum di depan kamera. Apa alasan Hinata melarang Sasuke tersenyum?

Uchiha Sasuke X Hinata

a/n: Cuma iseng ^^ saya tau utang FF saya banyak. Maafkan *bow

Happy Reading
EnJOY!

oOo

Pemuda berambut raven itu berjalan dengan cepat menjauhi teriakan dari para gadis yang memanggil namanya. Sebut saja Uchiha Sasuke- artis muda yang naik daun sejak pertama kali debutnya di mulai. Kini Ia sangat terkenal di Jepang. Tak dapat di pungkiri fansnya pun bisa di katakan hampir semua gadis remaja Jepang menyukainya. Pemuda yang merupakan bungsu Uchiha itu- tidak pernah tersenyum sama sekali. Daya tariknya adalah dengan wajah datar yang tak menampilkan senyumnya.

‘Kyaa Sasuke-kun!!’

‘Aku menantikan terbitan majalah minggu depan!!’

‘Aku menantikan drama barumu!!’

Sasuke hanya mengangguk kecil, mendengar seruan fansnya. Kemudian Ia berbalik, dan menatap sosok gadis bersurai indigo yang sejak tadi mengekorinya. Oh- ayolah, Sasuke ingin cepat pulang. Onyx itu menatap intens sang gadis. Sehingga membuat Hyuuga Hinata mendongkak dan segera mempercepat langkahnya mendekati Sasuke. Ketika jaraknya sudah dekat dengan Sasuke, Pemuda itu malah menarik tangannya dengan cepat. Sehingga tanpa sadar Hinata sudah berada di mobil van yang akan membawanya bersama Sasuke ke apartement mereka.

‘Siapa gadis itu? Berani sekali mendekati Sasuke-kun!’

‘Aku dengar dia hanya asistennya’

‘Syukurlah’

Setelah mendengar percakapan dari fans Sasuke, mobil van berwarna hitam itu kemudian melaju menerobos gelapnya malam. Hyuuga Hinata terdiam di samping Sasuke, sambil menatap pemandangan kota Tokyo di malam hari. Dimana kerlap kerlip lampu menghiasi setiap sudut kota. Membuat kesan yang sangat indah di matanya. Mengabaikan sedikit perasaan sakitnya ketika mendengar bahwa Ia bukanlah siapa-siapa dari Sasuke. Hyuuga Hinata hanyalah gadis beruntung yang bersahabat dengan Sasuke sejak kecil. sehingga Ia bisa dekat dengan bungsu Uchiha itu, dan memendam rasa padanya.

“Hey, kau melamun Hinata” Sasuke berbisik di telinganya. Kemudian pemuda itu menarik dagunya hingga Ia bisa menatap wajah Hinata yang kini sudah memerah sempurna. Jujur, Sasuke sangat menyukai rona merah itu.
Mata amethys Hinata mengerjap beberapa saat ketika onyx itu terus menatapnya. Lalu Sasuke tersenyum ke arahnya. Senyum yang sangat menenangkan baginya. Senyum yang hanya Sasuke perlihatkan jika saat bersamanya. Senyum yang hanya milik dirinya. Bukan milik para fans Sasuke di luar sana.

“Ne, Sasuke-kun. Kau tidak boleh tersenyum seperti itu ya?”

“Apa aku benar-benar jelek jika tersenyum?” Sasuke mengernyitkan alisnya ketika mendengar permintaan aneh Hinata untuk sekian kalinya. Melarangnya untuk tersenyum.

“Ya, kau sangat jelek” Hinata menatap Sasuke dengan serius. Berharap pemuda berambut raven itu menyanggupi permintaannya.

“Baiklah aku tak akan tersenyum. Kau tak perlu khawatir” Sasuke lalu tersenyum pelan, sambil mengacak-acak surai indigo milik Hinata. Sehingga membuat Hinata merenggut kesal karenanya.

oOo

“Hinata, bisakah kau menggantikan Yamanaka-san untuk pemotretan dengan Sasuke?” Suara dari Danzo yang merupakan fotografer sekaligus sutradara untuk pemotretan Sasuke di majalah Daily Teen menatap Hinata penuh harap. Sang model- Ino Yamanaka berhalangan hadir saat ini, mau tidak mau Danzo harus membuat Hinata menjadi modelnya agar rencananya berjalan lancar.

“T-tapi Danzo-san a-aku bukan model” Hinata menundukan wajahnya. Ia benar-benar tidak percaya diri jika harus bersanding bersama Sasuke di depan kamera.

“Aku mohon Hinata-chan. Sudah tidak ada waktu lagi jika harus mengganti model. Lagi pula Sasuke sudah bersiap. Satu-satunya adalah kau yang bisa kuharapkan Hinata”
Hinata menghela nafas pelan, kemudian Ia pun mengangguk patuh. Tak tega jika harus menolak permintaan Danzo. Kemudian pria paruh baya itu bersorak senang. Lalu menggerakan jarinya ke arah wanita berambut pirang yang di sebut Tsunade- sang penata rias. Tsunade pun segera membawa Hinata ke ruang ganti.

Setelah 30 menit, akhirnya Tsunade selesai merias Hinata. Hinata kini sangat menawan dengan gaun tanpa lengan berwarna ungu muda. Rambutnya pun Ia urai sehingga Hinata tampak sangat elegan. Bagaikan seorang putri kerajaan. Hanya perlu sedikit polesan di wajah cantiknya saja sudah membuat Hinata sangat menawan. Bahkan semua kru yang bekerja menatap Hinata dengan pandangan mendamba. Sehingga membuat Sasuke yang melihat tatapan yang di berikan para kru pada Hinata merasa jengah. Dengan cepat Sasuke menarik Hinata sehingga gadis itu sudah ada di pelukannya.

“Sa-sasuke-kun”

“Hn?”

“A-aku gugup” Mendengar nada kegugupan Hinata, membuat Sasuke menyunggingkan sedikit senyumnya. Lalu Ia menarik Hinata dengan pelan ke tempat pemotretan. Dimana cahaya lampu dan kamera siap untuk menangkap gambar mereka.

“Tenanglah Hinata. Kau hanya perlu bersikap seperti kekasihku. Peluk aku dan tersenyumlah” Suara Sasuke terdengar sangat menenangkan di telinga Hinata. Dengan pelan, Hinata pun mengangguk. Lalu Ia mengalungkan lengannya ke leher Sasuke. Sementara Sasuke memeluk pinggangnya erat. Hinata tersenyum bahagia sambil menatap Sasuke. Dikuti oleh Sasuke yang menatapnya dengan tatapan mendamba di iringi dengan senyuman tulus yang menghiasi wajah tampannya.

JEPRET

Kilatan slash foto mengambil gambar mereka dengan cepat. Kemudian beberapa kru memekik senang ketika mendapat jepretan yang sesuai rencana sang Bos.

“Dapat! Kita dapat foto Sasuke yang tersenyum! Kita bisa mempublikasikannya besok” Sakon berteriak senang kepada Danzo, sambil memperlihatkan hasil kerjanya.

“Dugaanku tepat, Sasuke pasti akan tersenyum jika bersama Hinata” Danzo tersenyum licik, sambil melihat hasil jepretan foto dari Sakon. Jika begini Ia bisa untung besar besok.

Degg

Sementara tubuh Hinata menengang mendengar ucapan dari para kru. Ia pun melepaskan pelukannya pada Sasuke. Berbalik, dan meninggalkan Sasuke yang menatapnya heran. Sambil memanggil namanya.

“Hikss” dan isakan itu lolos ketika Hinata bergegas mengganti pakaiannya, lalu segera pulang. Ia tak ingin disini. Ia belum siap untuk berbagi senyum milik Sasuke yang hanya miliknya seorang ke semua fans Sasuke yang ada di luar sana. Ia tidak mau! Satu-satunya yang bisa dimilikinya adalah senyum Sasuke-nya!

oOo

Pagi pun datang dengan begitu cepat. Hinata kini berjalan ke arah toko buku. Langkah kakinya terasa sangat berat. Sungguh, Hinata masih belum bisa menerima kenyataan jika senyum Sasuke bukan lagi miliknya. kini Hnata sudah masuk ke dalam toko buku. Para gadis SMA sudah berjajar disana sambil memegang majalah bercover dirinya dan Sasuke yang tengah tersenyum.

‘Kya,, Sasuke ternyata sangat tampan jika tersenyum seperti ini!!’

‘Kau benar, Sasuke-kun tampan jika tersenyum! Aku semakin menyukainya’

‘Senyuman Sasuke-kun sangat menawan. Rasanya aku bisa meleleh di tempat’

Deggg

Jantung Hinata kembali seakan diremas dengan kasar. Sungguh, Ini semua terasa sangat menyakitkan. Ia sudah tak bisa memiliki Sasuke lagi. Hinata harus berhenti. Sekarang juga untuk berhenti menyukai Uchiha Sasuke.
“Aku akan berhenti” Hinata berbisik lirih, sambil meninggalkan toko buku itu menuju ke apartement milik Sasuke. Hinata yakin Bungsu Uchiha itu pasti akan marah padanya, karena sejak kejadian kemarin Hinata sama sekali tidak mengangkat telfonnya, dan mengabaikannya.

Lalu langkah Hinata terhenti di sebuah kamar apartement bernomor 237. Hinata lalu menekan password apartement milik Sasuke. Tentu saja, Sasuke yang memberitahu passwordnya pada Hinata. Sehingga Hinata bisa masuk ke dalam apartement Sasuke, jika pemuda itu tidak ada. Hinata melangkahkan kakinya ke arah sofa, kemudian Ia duduk disana. Sambil menatap miris majalah yang ada di depannya.

“Hinata?” Suara baritone Sasuke terdengar dari belakang. Membuat Hinata menoleh ke arahnya, sambil tersenyum kecut.

“Kau membuatku khawatir!” Sasuke berteriak sambil mendekat ke arahnya dengan wajah yang di penuhi rasa cemas. Sungguh Sasuke sangat mencemaskan Hinata yang tidak menghubunginya kembali sejak pemotretan kemarin. “Ada apa denganmu?!”

“Ti-tidak ada” Hinata memallingkan wajahnya. Ia enggan jika harus menatap Sasuke. Kini Sasuke sudah duduk di sampingnya, sambil menggengam majalah bercover dirinya dan Sasuke.

“Kau bohong padaku Hinata” Sasuke lalu menarik dagu Hinata, agar amethys itu terperangkap pada onyx miliknya. Hinata terdiam, menunggu Sasuke menyelasaikan ucapannya. “Katakan ada apa denganmu?”

“Tidak ada Sasuke-kun” Hinata kembali menolak untuk menatap onyx Sasuke. Ia takut jika melihat onyx itu Ia akan kembali luluh dan menghilangkan tekadnya untuk mengucapkan salam perpisahan pada Sasuke.

“Hn” Sasuke bergumam pelan. Sebelum Ia kembali menarik dagu Hinata agar kembali menatap onyxnya.
“Kau tahu? Aku sangat tampan jika tersenyum seperti ini” Sasuke lalu kembali tersenyum, sambil memperlihatkan fotonya dengan Hinata. Sementara Hinata, kini sudah menahan tangisnya yang sudah berada di ujung pelupuk matanya.

“Seharusnya kau memberitahu hal ini sejak awal, jika aku sangat tampan kalau tersenyum”

“Uhm, senyummu itu daya tarikmu Sasuke-kun. Se-senyummu yang seharusnya milikku kini sudah di miliki juga o-oleh fansmu. Hiks, Sa-sasuke-kun, ma-maafkan aku” Tangis Hinata pecah saat itu juga. Membuat Sasuke senang sekaligus panik di saat yang bersamaan ketika mendengar pengakuan dari Hinata.
“ A-aku egois karena mengklaim se-senyummu itu mil-khmmmpp” dan sebelum ucapan Hinata selesai. Benda bertekstur lembut yang merupakan bibir Sasuke membungkam mulutnya. Sasuke menciumnya dengan lembut. Menghantarkan perasaannya pada Hinata.

“Bahkan para fansku tidak akan tahu ekspresiku yang menciummu seperti ini”

Cupp

Sasuke kembali mencium bibir Hinata dengan penuh kelembutan. Sementara Hinata hanya bisa diam dan mencerna apa yang Sasuke lakukan.

“Ekspresiku yang seperti ini hanyalah milikmu Hinata. Semua bagian dari hidupku adalah milikmu”

Cuppp

Sasuke kembali mencium Hinata dengan penuh penekanan. Berbeda dengan ciuman penuh kelembutan tadi. Ciuman yang sedikit kasar, yang menggambarkan betapa mendambanya Sasuke pada Hinata. Sehingga membuat Hinata tersenyum bahagia karenanya. Di balasnya ciuman Sasuke dengan pelan. Membuat Sasuke kembali tersenyum, dan memperdalam ciuman mereka.

Perasaan Hinata terbalas, Sasuke membalas perasaannya. Sasuke miliknya. tidak ada yang bisa memiliki Sasuke selain dirinya- Hyuuga Hinata..

FIN^^

Yeay! Selesai ^^ so Mind To Review fict yang gaje ini?

Astia Morichan ^^

Forbidden Love Chap 2| SasuHina| End

2

Forbidden Love
Rate T
Drama, Family
Chara Belong To Masashi Kishimoto
Sasuke Uchiha adalah adik tiri Hinata yang kini tinggal di rumahnya. Adik barunya itu menyebalkan karena membuat jantungnya berdebar. Apalagi ketika adiknya memberinya tawaran. ‘Jadilah pacarku Nee-san selama tiga hari. Maka aku tak akan mengganggumu’
Warning : OOC, TYPO, Don’t Like Don’t Read Please!
Sasuke Uchiha X Hinata Hyuuga
EnJOY!
Happy Reading!

oOo

Hinata kini tengah terduduk di bangkunya. Padahal semua orang di kelasnya sudah keluar untuk menikmati jam istirahat yang hanya sebentar. Sakura dan Ino pun sudah mengajaknya, tapi sungguh Hinata benar-benar malas jika harus pergi ke kantin. Gadis bersurai indigo itu pun menghela nafas pelan, sebelum mengambil kotak bento yang ada di bawah meja nya. Itu adalah bento yang Sasuke berikan padanya tadi pagi. Entahlah ketika mengingat Sasuke, perasaan hangat tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. Adiknya itu benar-benar membuat Hinata bingung. Baru kali ini Ia berdebar pada seorang pria. Padahal dengan Naruto saja, orang yang Hinata sukai tidak pernah merasakan debaran yang hangat pada jantungnya. Berbeda dengan Sasuke yang membuatnya berdebar tak karuan, dan menghantarkan perasaan hangat yang menyenangkan. Membuat Hinata selalu ingin merasakannya.

“Kau melamun Nee-san” Suara baritone yang Hinata dengar membuat gadis sulung Hyuuga itu terperanjat kaget. Amethysnya membulat ketika menangkap sosok Uchiha Sasuke yang tadi ada di pikirannya kini muncul di depannya.

“Se-sejak kapan kau disini?” Hinata bertanya dengan gugup ketika Sasuke terus menatapnya dengan intens.

“10 menit yang lalu. Sejak tadi aku melihatmu menatap kotak bento itu”

‘Selama itu kah? Dan Aku sama sekali tak menyadari keberadaan Sasuke?’

“Apa yang kau pikirkan Nee-san? Apa kau memikirkanku?” Pertanyaan Sasuke kembali membuat Hinata menatapnya tak percaya. Adiknya ini benar-benar sangat percaya diri. Walaupun pada kenyataannya, pertanyaan dari adiknya memang tepat sasaran.

“Ti-tidak ada. Apa yang kau lakukan disini Sasuke?”

“Makan siang bersamamu” Sasuke lalu menunjuk kotak bekal milik Hinata.

“Mana bekalmu?” Hinata kembali di buat bingung setelah Sasuke menunjuk kotak bekalnya.

“Aku tak bawa. Aku ingin bento itu” seolah tak peduli, Sasuke segera mengambil kotak bekal Hinata dan membukanya. Beberapa potong karage, onigiri, dan potongan tuna menghiasi kotak bento Hinata. Sasuke dengan cepat mengambil sendok lalu memakannya.

Hinata hanya bisa terdiam melihat Sasuke yang seenaknya memakan bekalnya itu.

“Hey! Itu punyaku!”

“Kita makan berdua saja Nee-san” dan Sasuke menyodorkan sendok berisi potongan tuna ke arah mulutnya. Membuat Hinata mendesah pasrah, dan segera membuka mulutnya lalu menelan habis suapan yang di berikan Sasuke.

‘Jika seperti ini, aku yang terlihat seperti adiknya’

Dan mereka akhirnya makan bento berdua, dengan diiringi debatan Hinata dan rajukan dari sang Nee-san.

OoO
Gadis sulung Hyuuga itu membulatkan matanya. Tak percaya dengan apa yang sudah tertangkap oleh retinanya. Uchiha Sasuke yang akan menjadi adiknya itu sudah berdiri di samping kelasnya. Adiknya itu kini menjadi pusat perhatian di depan kelasnya. Para gadis yang berteriak histeris dan juga mengajaknya untuk berkenalan. Tapi si bungsu Uchiha itu hanya diam tak mengubris para gadis itu. Lalu mata onyxnya tiba-tiba menoleh ke arahnya. Lalu menyunggingkan senyum tampannya sehingga membuat para gadis di depannya menjerit histeris melihat ketampanan Uchiha Sasuke. Lalu Sasuke melangkahkan kaki panjangnya, sehingga kini Ia sudah ada di depan Hinata yang menatapnya.

“Nee-san, ayo kita pulang” Tanpa menunggu jawaban dari Hinata, Sasuke langsung menariknya menjauh dari kerumunan. Meninggalkan para gadis yang mendesah kecewa.

“Sasuke, Lepaskan aku” Hinata mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke padanya. Tapi sayang, pemuda itu menggenggam tangannya dengan erat.

“Diamlah Nee-san” Sasuke masih terus menggandeng Hinata ke daerah parkiran sepeda. Hinata menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi? Sepertinya Sasuke sudah tak bisa di bantah.
Tiba-tiba saja Sasuke menghentikan langkahnya. Kini Ia berbalik menatap Hinata tajam. Tak lupa dengan seringaian yang menghiasi wajah tampannya itu. Membuat Hinata menatapnya heran.

“Apa?”

“Penurut sekali. Harusnya kau seperti ini terus Nee-san” Sasuke berbisik tepat di telinganya dengan cepat. Membuat Hinata memekik kaget ketika tiba-tiba saja Sasuke meniup area lehernya. Sial! adiknya benar-benar kurang ajar. Bahkan wajah Hinata kini sudah memerah sempurna.

“Kau!! Menyebalkan!!” Hinata berteriak keras, lalu menginjak kaki Sasuke. Sehingga Sasuke bisa melepaskan genggamannya.

“Shitt!” Sasuke mengumpat pelan, sambil meringis kesakitan. Sungguh, injakan Hinata pada kakinya membuatnya mati rasa.

“Aku tak akan pulang denganmu”Hinata berjalan cepat, menjauhi Sasuke yang masih meringis kesakitan.
“Hey! Nee-san! Kau harus pulang denganku!” Sasuke berteriak keras. Membuat semua siswa yang ada di tempat parkiran sepeda menatapnya. Tanpa memperdulikan tatapan mereka dan juga sakit di kakinya, Sasuke dengan cepat mengambil sepedanya. Sasuke menaiki sepedanya, sehingga Ia bisa mengejar Hinata yang kini sudah ada di depan gerbang sekolah. Ah, jika seperti ini Hinata pasti akan pulang naik kereta. Lalu perjuangannya dengan membawa sepeda ini akan menjadi sia-sia karena Ia tak jadi pulang bersama Hinata.

“Hey! Nee-san naiklah. Kita pulang bersama” Sasuke mencoba membujuk Hinata. Sementara Hinata hanya memutar bola matanya malas, dan tak menggubris Sasuke yang kini sudah menggiring sepedanya.

“Kau marah padaku hanya karena itu?” Hinata memutar badannya dengan cepat setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sasuke.

“Kau menyebalkan Sasuke!!” Bukannya menjawab, Hinata malah kembali berteriak dan menunjuk wajah tampan Sasuke. “Jangan ikuti aku!!” dan Hinata mencoba untuk pergi menjauh. Tapi sayang, dewi Fortuna tak berpihak padanya. Sasuke kini sudah menggenggam tangannya dengan erat. Lalu menariknya.

‘Apa mereka pacaran?’

‘Bukankah itu Sasuke dan Hinata senpai? Tidak kah kau berpikir mereka cocok?’

‘Mereka seperti pasangan kekasih yang bertengkar. Seandainya aku yang menjadi Hinata senpai’

Dan kalimat seperti itu membuat Hinata semakin kesal. Hey! Sasuke itu adiknya bukan pacarnya! Rasanya Hinata ingin menjelaskan semua itu kepada mereka yang menyimpulkan seenaknya.

“Lepaskan aku Sasuke!!”

“Naiklah” Nada suara Sasuke berubah menjadi dingin. Membuat Hinata terdiam ketika Sasuke mengusap lembut pipinya, dan merendahkan kepalnya tepat di depannya. “Kau tahu Nee-san? Aku tak pernah menerima penolakan. Sekarang naiklah” Sasuke lalu menaiki sepedanya. Menunggu Hinata untuk naik.
Hinata menghela nafas kecewa. Hey! Seharusnya Sasuke yang menurut padanya bukan? Ini benar-benar menyebalkan, dan Hinata tahu penderitaannya tak akan berhenti. Dengan enggan, Hinata naik di belakang Sasuke. “Pegangan” Setelah kalimat itu selesai, Sasuke langsung melajukan sepedanya dengan kencang. Membuat Hinata memeluk erat pinggangnya, sehingga kehangatan itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Sasuke, pe-pelankan sepedanya” Hinata berteriak sambil memeluk Sasuke dengan takut. Membuat Sasuke yang melihat Hinata lewat ekor matanya tertawa melihat Hinata yang ketakukan.

“Hahaha” Tawa Sasuke lepas seketika. Ia semakin menambahkan kecepatan sepedanya, sehingga membuat Hinata kembali kesal dan memukul pelan punggung Sasuke.

“Sasuke hentikan!!”

“Panggil aku Sasuke-kun baru aku akan memelankan kecepatannya Nee-san” Hinata membulatkan matanya mendengar permintaan dari Sasuke. Apa-apaan itu Sasuke-kun?

“Sasuke!! Cepat hentikan!!” Hinata malah berteriak sambil memukul pelan punggung Sasuke. Sungguh sebenarnya Hinata sudah kesal sejak tadi. Ingin rasanya Hinata menjambak rambut raven milik Sasuke agar adiknya itu menghentikan laju sepedanya.

“Baiklah, jika itu keinginanmu Nee-san” Dan Sasuke semakin kencang mengayuh sepedanya sehingga Hinata semakin mengeratkan pelukannya pada Sasuke. Adiknya itu gila! Sasuke benar-benar ingin membuatnya mati bersama dengan turun dari tanjakan yang tinggi dengan kecepatan sepedanya.

“Sasuke! Hentikan!!”

“Aku berubah pikiran Nee-san. Bagaimana jika kau menerima tawaranku. Jadilah pacarku maka semuanya selesai. Aku akan memelankan sepedanya” dan Hinata semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa kepala adiknya tertimpa batu besar sehingga semakin aneh?

“Apa kau gila Sasuke? “

“Ya, karena mu aku gila Nee-san” dan Sasuke semakin menggila dengan mempercepat laju sepedanya. Ah- sungguh Hinata takut mati sekarang. Sial! Sasuke menjebaknya untuk menjawab Ya!

“Ba-baiklah. A-aku setuju. Tapi hanya 3 hari lalu semua berakhirkan?” Lalu Sasuke menghentikan sepedanya setelah mendengar jawaban dari Hinata. Sungguh, Ia bahagia sekali.

“Benarkah?” Sasuke memastikan jawaban dari Hinata. Tapi yang Ia dapat adalah suara nafas Hinata yang memburu. Apa mungkin Ia keterlaluan karena mengayuh sepeda dengan kecepatan seperti itu apalagi dengan menuruni tanjakan yang tak terlalu curam baginya.

“Hah, Ya” Hinata memukul punggung Sasuke dengan kesal. “Kau benar-benar menyebalkan Sasuke!! Kau benar-benar berniat membunuhku!” Hinata memalingkan wajahnya, enggan menatap Sasuke yang masih memperhatikannya lewat ekor matanya. Wajahnya pasti sudah semerah tomat kesukaan Sasuke. Sungguh Ia tak mau Sasuke melihat wajahnya. Walaupun sepertinya usahanya sia-sia.

“haha, terimakasih Nee-san” dan Sasuke melajukan kembali sepedanya dengan kecepatan normal, dengan Hinata yang masih memeluknya dari belakang.

Fin/ tebece? ._.

Yeay, tamatt !! mau tamat apa gimana? Hehe saya tau ini pendek, dan juga gaje banget. Silahkan timpuk saya. Karena pada dasarnya FF ini hanya drabble singkat dan project iseng banget ;’(
Terimakasih kepada yang sudah review di chap sebelumnya. Hontou ni arigatou ^^
Special thanks: hiru nesaan, enischan, Mell Hinaga Kuran, yana kim, yolandameiyu.da, Hanao Himeka Naseeb Khan, Asuka, rose, anita.Indah.77, Hee-chan, triwik97, Ha ha
Arigatou, tanpa dukungan kalian saya bukan apa-apa ^^

Astia Morichan

Married project| Chap 4| NaruHina

23

Married project
Rated M
Romance, Drama, Family
Chara Belong To Masashi Kishimoto
Warning! TYPOO, OOC, LEMON, DONT LIKE DONT READ, ETC !!
Naruto Namikaze X Hinata Hyuuga

EnJOY
Happy Reading ^^
oOo

Hinata masih tak berniat untuk turun dari ranjangnya. Sial! kejadian tadi pagi dengan Naruto kembali membuat tubuh bagian bawahnya terasa nyeri. Ah, seharusnya ini salah! Seharusnya Ia tak menyukai sentuhan Naruto. Tapi tubuhnya menolak untuk tidak menikmati sentuhan hangat dari pemuda berkulit tan itu. Ini benar-benar aneh! Hinata tidak mungkin menyukai Naruto kan? Ayolah ini semua pasti salah.

“Tidak mungkin” Hinata menggelengkan kepalanya. Gadis bersurai indigo itu masih bergelung di ranjangnya tanpa menyadari Naruto yang kini mulai mendekat kepadanya.

“Apa yang tidak mungkin Hinata-chan?” Suara berat milik Naruto membuat Hinata menoleh, dan amethysnya membelalak tak percaya ketika melihat Naruto tak memakai apapun. Hanya memakai handuk kecil untuk menutupi area pribadinya. Dengan cepat Hinata memalingkan wajahnya. Sungguh ia tak mau menatap Naruto. Ia masih malu dan enggan mengingat kejadian tadi pagi. Hinata yakin wajahnya sudah memerah sempurna. Ia pun dengan cepat menarik selimut tebalnya agar semakin menutupi wajahnya. Sementara Naruto yang melihat tingkah Hinata hanya terkekeh pelan. Apa Hinata malu kepadanya? Lucu sekali.
Naruto pun lalu mendekat ke arah Hinata. Kini Naruto sudah duduk di samping Hinata yang masih memunggunginya.

“Hime-sama kenapa kau tak mau melihatku? Bukankah kau sudah melihat semua bagian tubuhku?” Naruto berbisik seduktif di telinga Hinata, sebelum Ia mengecup cuping telinga Hinata sehingga Hinata mulai terperanjat dari tidurnya dan mulai terduduk. Amethysnya menatap Naruto tajam.

“Hinata apa kau ingin menggodaku lagi?” Naruto lalu kembali mendekat ke arah Hinata dengan seringaian tampannya. Membuat Hinata menatap Naruto heran.

“Apa?”

“Apa kau sengaja kembali memperlihatkan aset berhargamu padaku lagi” Mendengar ucapan dari Naruto, Hinata seakan diingatkan. Sial! dengan cepat Hinata kembali menarik selimutnya yang melorot dan segera membelakangi Naruto. “Na-naruto-kun bakaaa!!”

“Hahaha, mandilah” Naruto lalu mengacak surai indigo milik Hinata sebelum pemuda itu melangkahkan kakinya ke arah lemari untuk memilih pakaiannya.
Dengan wajah yang ditekuk, Hinata menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan kaki yang Ia hentakkan. Membuat Naruto menoleh ke arahnya, sambil tersenyum geli melihat tingkah Hinata yang sedang kesal.

“Kau tahu? Kau semakin menggoda ketika kesal seperti itu Hinata-sama” dan suara baritone milik Naruto, membuat Hinata memutar bola matanya. Hinata dengan segera berbalik ke arah Naruto yang masih menyunggingkan senyum menggoda miliknya.

“Ma-mati saja kau Naruto!!” dan Hinata kembali berbalik, meninggalkan Naruto yang masih terkikik geli mendengar Hinata mengumpat sambil tergagap padanya.

Brakk

Pintu kamar mandi itu di tutup dengan keras. Hinata segera mengunci pintu kamar mandi, lalu merosotkan tubuhnya ke bawah. Menahan getaran menyenangkan di dadanya.

“Kau semakin menggoda ketika mengumpat Hinata-sama. Hahaha” suara tawa Naruto semakin terdengar di telinga Hinata.

Hinata hanya bisa terduduk di lantai marmer kamar mandi yang dingin. Merenungkan semua perasaan yang sangat membingungkan ketika dekat dengan Naruto. Ayolah, bahkan Hinata sama sekali tidak menolak sentuhan Naruto lagi di pagi hari. Jika saja, Kushina tidak mengetuk pintu kamar mereka, sudah di pastikan Naruto akan terus menghabisi Hinata hingga sore lagi!!

“A-ada apa denganku?” Hinata bergumam pelan, sambil menyentuh dada kirinya. Jantungnya kini berdetak tak karuan. Perasaan hangat itu kembali mengalir ke seluruh tubuhnya, dan wajahnya pun kembali merona ketika mengingat satu nama!! Namikaze Naruto! Satu-satu pria yang membuatnya seperti ini. Hinata sama sekali tidak mengerti, kenapa Ia bisa terjerat oleh Naruto dengan cepat!

“A-apa mungkin aku menyukai Naruto?” Hinata menggelengkan kepalanya, ketika pemikiran itu melintas. Tidak! itu tidak mungkin! Hinata tidak menyukai Naruto. Hinata harus segera membersihkan kepalanya. Mungkin dengan berendam, Ia akan segera kembali normal, dan pikiran tentang Naruto akan segera menghilang di benaknya.

“Lebih baik aku segera mandi” Hinata memutuskan untuk segera berendam di dalam bathup yang sudah terisi oleh air yang sudah di campurkan dengan sabun mandi beraroma lavender miliknya. ia sangat yakin, Naruto pasti yang melakukan itu. Perasaan hangat itu kembali berjalan menghangatkan hatinya ketika mengingat satu nama.

‘Naruto’

oOo

Hinata keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya yang teruai. Ia hanya mengenakan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, dan juga kaos bergambar kelinci yang sedikit longgar di tubuhnya. Hinata tidak terlalu suka baju yang ketat, itu hanya akan membuatnya sesak dan semakin panas. Jadi di hari panas ini, Ia memutuskan untuk memakai pakaian simpelnya. Lagi pula, Ia malas untuk keluar kamar. Jika Ia keluar dari kamar siang hari, sudah di pastikan Kushina, atau Hanabi akan menggodanya karena bangun telat.

Hinata berjalan ke arah ranjangnya. Kemudian gadis bersurai indigo itu duduk sambil menyisir rambutnya yang panjang.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka, membuat Hinata menolehkan kepalanya melihat sosok Naruto yang tengah berjalan ke arahnya, sambil membawa nampan yang berisi makanan. Laki-laki berambut blonde itu mendekat ke arahnya dengan senyum lebar yang masih bertengger di wajah tampannya. Sangat terlihat jelas, jika pewaris Namikaze itu tengah berbahagia.

“Aku membawakan makanan untukmu. Pancake kesukaanmu. Tadi Okaa-san menyisakannya untukmu” Naruto menyimpan nampan itu di nakas. Kemudian Ia duduk di samping Hinata yang masih menatapnya kesal. Membuat pemuda itu terkekeh melihatnya. “Apa?”

“Ti-tidak” Hinata lalu menggeleng pelan, sambil menolehkan pandangannya. Ia tak mau Naruto melihat wajahnya yang sudah memerah.

“Benarkah? apa kau sakit Hinata-chan? Wajahmu memerah” Naruto tersenyum geli, sambil menarik dagu Hinata agar menatap pada manik sapphire miliknya. Membuat Hinata terpaku beberapa saat, menikmati keindahan manik sebiru langit milik Naruto. Hinata suka mata Naruto. Mata itu seakan menenangkannya.

“Terpesona padaku Namikaze-sama?” Suara baritone milik Naruto terdengar merdu di telinga Hinata.

“K-kau terlalu percaya diri Naruto-kun” Hinata kembali memalingkan wajahnya.

“Hahaha, sudahlah sekarang kau harus makan” Naruto mengacak surai indigo milik Hinata. Gadis itu kembali memberenggut kesal menerima perlakuan Naruto. Ayolah! Hinata bukan anak kecil!
Naruto berdiri dari duduknya, lalu Ia kembali membawa nampan itu dan menyodorkannya pada Hinata. Hinata menerimanya dengan wajah memerah.

“Apa kau mau aku menyuapimu?” Naruto merebut sendok yang sudah Hinata pegang. Sehingga membuat gadis itu memutar bola matanya. Sungguh, Naruto mengganggu acara makannya. Ia kan lapar!

“Naruto-kun kembalikan!!” Hinata mencoba mengambil kembali sendoknya di tangan Naruto yang sudah terangkat tinggi. Membuat Hinata menyimpan kembali makanannya di nakas. Lalu gadis itu berusaha mengambil sendoknya dengan cara berdiri. Tapi sayangnya, Hinata kalah cepat. Naruto ikut berdiri sambil mengacungkan sendoknya ke atas.

“Cium aku” Mendengar permintaan Naruto, wajahh Hinata kembali bersemu merah. Hinata memutuskan untuk menyerah, dari pada mengikuti keinginan nista Naruto. Lebih baik, Ia mengambil sendok lagi yang ada di bawah. Hinata lalu kembali terduduk di ranjangnya. Naruto yang melihatnya, mengernyitkan alisnya heran.

“Kenapa? Kau tak mau menciumku Hinata-chan? Ayolah hanya menciumku lalu kau mendapatkan sendoknya” Naruto ikut duduk di hadapan Hinata. Memperlihatkan sendok itu di depan wajah Hinata. Hinata yang melihat targetnya menyeringai pelan. Dengan gerakan cepat Hinata merebut sendok yang ada di tangan Naruto. Tapi sekali lagi, Ia kalah cepat karna Naruto menarik sendok itu ke atas, sehingga pemuda itu jatuh dan menarik tubuhnya sehingga Hinata menindih tubuh Naruto.
Wajah Hinata sudah memerah sempurna. Jantungnya berdebar tak karuan karena Ia bisa merasakan terpaan hangat nafas Naruto menerpa wajahnya. Apalagi ketika tangan Naruto melingkar di pinggangnya, sehingga Ia tidak bisa berdiri dan harus mempertahankan posisi yang seperti itu.
“Ke-kembalikan sendoknya Na-naruto-kun” Hinata tergagap. Entahlah, Ia gugup di depan Naruto. Seharusnya Ia bisa bersikap tenang. Tapi sialnya tubuhnya mengkhianatinya!
Naruto malah mengeluarkan seringaiannya, membuat Hinata sedikit bergidik melihatnya. Pemuda itu lalu menarik tengkuknya mendekat. Sehingga wajah mereka hanya terpaut bebera mili.

“Aku kembalikan” dan ucapan terakhir dari Naruto, lalu membungkam bibirnya. Bibir mereka kembali bertemu. Naruto menciumnya kembali dengan sepihak. Melumat dan menghisap bibirnya beberapa detik. Lalu pemuda itu kembali melepasnya.

Hinata terdiam setelah Naruto melepaskan pautan bibirnya. Wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus, ketika Naruto sudah tertawa lepas di depannya. Masih dengan menindih tubuh pemuda itu. Hinata kesal! Ia harus membalas kejahilan Naruto yang membuat jantungnya berpacu dengan cepat. Dengan seringaian di wajah cantiknya. Hinata lalu menduduki perut Naruto. Lalu menurunkan kepalanya, sehingga amethys itu bisa menatap Naruto yang kini membelalakan manik saphhirenya kaget. Tawa keras dari Naruto pun seketika berhenti, bahkan Hinata bisa merasakan Naruto menahan nafasnya! Wajah Naruto kini terlihat gugup dan juga semakin memerah, ketika Hinata semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Hinata tetap terdiam dengan posisinya, dengan Naruto yang masih menahan nafasnya. Sungguh, Hinata benar-benar ingin tertawa melihat wajahnya Naruto. Ia sudah tidak kuat berlama-lama melihat Naruto dengan posisi ini. Lagi pula Naruto menahan nafasnya sejak tadi. Ia takut pemuda itu berhenti bernafas.

“Hahaha” Tawa gadis itu lepas seketika. Hinata tetap tertawa dengan kembali duduk di ranjangnya. Ia dengan santainya, kembali mengambil sendoknya dan makanannya.

Sementara Naruto? Jangan tanya! Wajah pemuda itu sudah memerah. Sial! Hinata menjahilinya! Lalu Naruto kembali tersenyum melihat Hinata yang tertawa di depannya. Sudah lama sekali Ia tidak melihat Hinata tertawa. Perasaan hangat itu kembali hadir. Perasaan yang sudah lama Naruto rindukan. Hinata-nya kembali.

oOo

Kini sang surya sudah berganti dengan bulan. Sang bulan menggantikan tugas dari matahari. Tak lupa juga bintang-bintang yang menghiasi langit malam kota Tokyo. Namikaze Hinata, gadis bersurai indigo itu masih diam terduduk di ranjangnya, sambil memeluk guling. Hinata terlihat sedang memikirkan sesuatu. Alisnya bahkan sampai mengernyit mencoba menghilangkan pemikirannya.
‘Aku tidak mungkin menyukai Naruto’
Gadis itu kembali menggeleng, sambil bergumamkan kata ‘tidak’. Tanpa sadar, pintu kamarnya sudah terbuka. Memperlihatkan sosok Naruto yang kini melangkahkan kakinya mendekati Hinata. Pemuda bersurai blonde itu, lalu menyentuh pundaknya. Sehingga Hinata menoleh ke arahnya. Matanya membulat, menatap Naruto yang masih tersenyum ke arahnya.

“Ayo makan malam. Okaa-san menunggumu” Tanpa menunggu jawaban dari Hinata, Naruto langsung menarik tangan Hinata. Menggenggamnya dengan erat. Membuat gadis bersurai indigo itu memekik kaget, dan kembali merasakan jantungnya berdetak dengan kencang ketika Naruto menggenggam tangannya.

Sesampainya di bawah, Kushina memekik senang melihat Hinata yang sudah berada di depannya. Lalu wanita bersurai merah itu memeluknya.
“Apa Naruto melakukannya dengan tidak lembut padamu Hina-chan? Aku benar-benar khawatir padamu karena kau tidak keluar kamar seharian” Mendengar ucapan dari Kushina. Wajah Hinata kembali memerah. Astaga, kenapa Kushina menanyakan hal seperti itu? Apa Naruto memberitahunya?

“E-eh?”

“Okaa-san sudah memarahi anak itu. Seharusnya Ia bisa mengobati kakimu yang terluka itu dengan lembut. Bukannya membuatnya semakin parah” Kushina mendelik ke arah Naruto yang kini tersenyum tanpa rasa bersalah ke arahnya. Sementara Hinata, Ia bersyukur Naruto memberikan alasan yang sangat logis.

“Go-gomenasai O-okaa-san” Hinata sungguh tak menyangka jika Kushina akan sekhawatir ini padanya.

“Ya sudah, karena kau sudah baikan. Lebih baik kita makan bertiga. Otou-san lembur, sementara Hanabi menginap di rumah Mogi” Kushina menjelaskan setelah Ia melepaskan pelukannya dari Hinata. Lalu wanita bersurai merah itu duduk , diikuti oleh Hinata dan Naruto. Hidangan yang di siapkan Kushina adalah makanan kesukaan Hinata. Ada tuna, zinzai, oshiruko, okaka, dan amaguri.
“Ayo makan” Kushina mengintrupsi, lalu Naruto dan Hinata tersenyum.

“Uhm, Itadakimasu” Mereka pun makan dengan lahap. Sudah lama sekali Hinata tidak makan seenak ini. Masakan Bibi Kushina benar-benar enak. Seperti masakan Ibunya dulu.

“Oh ya Naruto. Shion-chan akan pulang besok, dan mulai besok Ia akan sekolah di sekolahmu dan Hinata” Kushina mengucapkannya dengan santai sambil melahap makanannya. Sementara Naruto sudah menyimpan sumpitnya dan menatap sang Ibu dengan mata berbinar.

“Benarkah Okaa-san? Kenapa kau tidak memberitahuku jika Shion sudah pulang dari Swiss-ttebayo?”

“Shion bilang Ia hanya ingin bertemu denganmu besok di sekolah. Lagi pula Okaa-san baru tahu ini tadi pagi-ttebasa. Dia sudah di Jepang sejak kemarin malam” Kushina menatap Naruto kesal. Ia benar-benar tak menyangka jika Naruto akan bertanya. Ia kira Naruto sudah melupakan Shion selama ini.

“Seharusnya kau bilang padaku Okaa-san, supaya aku bisa menjemputnya kan. Aku sangat merindukan gadis itu” Naruto merenggut kesal, sambil tetap memakan oshiruko miliknya. sementara Hinata hanya bisa mendengarkan, sambil berpikir. Siapa gadis itu sampai membuat Naruto seperti ini? Ia tidak pernah tahu Naruto dekat dengan gadis yang bernama Shion selama ini.

“Gomen gomen, sudahlah lebih baik kau habiskan makananmu. Okaa-san sudah selesai” Kushina lalu menyesap minumannya. Sebelum Ia pergi meninggalkan Naruto dan Hinata yang masih menikmati makan malamnya.

“Okaa-san menyebalkan” Naruto sekarang terlihat kesal. Ia lalu menyimpan kembali sumpitnya. Sungguh, Naruto sudah sangat tidak berselera untuk melanjutkan acara makannya.

“Kenapa?” Seakan melupakan eksistensi dari Hinata, Naruto menoleh pada gadis itu dengan raut wajah penuh penyesalan.

“Maaf Hinata”

“Eh?” Hinata mengerjapkan matanya. Ia lalu menatap Naruto yang kini masih enggan menatapnya.

“Kau pasti marah padaku”

“Ke-kenapa harus marah?”

“Karena sejak makan malam tadi aku sama sekali tidak mengajakmu bicara” dan Hinata hanya bisa memutar bola matanya bosan. Ayolah! Ia tidak akan marah hanya karena hal sepele itu! Naruto benar-benar aneh!

“Naruto-kun baka” Hinata mengalihkan pandangannya. Ia lalu mengambil minumannya, dan menyesapnya pelan.

“Kau mengejekku Hinata-chan?” Naruto kini berbalik,dan menatap Hinata intens.

“Tidak” Hinata kembali berbalik. Kini amethys dan sapphire itu saling bertemu. Saling menyelami satu sama lain.

“Jadi siapa itu Shion?” Pertanyaan dari Hinata malah membuat pemuda berambut blonde itu menyeringai tipis ke arahnya.

“Dia adalah gadis yang kurindukan selama enam tahun terakhir ini Hinata-chan. Aku sangat merindukannya-ttebayo” dan Ucapan dari Naruto, entah kenapa membuat hati Hinata mencelos mendengarnya. Ada yang tidak beres dengan perasaannya. Kenapa Ia merasakan sakit hati seperti ini? Rasanya jantungnya seperti di tusuk oleh seribu jarum ketika Naruto mengatakan bahwa Ia sangat merindukan Shion. Rasanya benar-benar menyesakan, sampai Ia sulit untuk bernafas. Bahkan air matanya sudah berada di pelupuk matanya. Kenapa? Kenapa Ia ingin menangis sekarang? Ini benar-benar bukan dirinya. Ia tidak mengerti dengan semua perasaan ini!

“A-aku selesai” Tanpa melihat ke arah Naruto, Hinata segera berdiri meninggalkan pemuda itu yang masih menatap punggungnya menjauh.

To Be Continued

Challange To Be A Gay | SasuNaru | Yaoi

1

Challange To Be A Gay
Rated M
Chara Belong To Masashi Kishimoto
Romance, Drama
Warning : TYPO, OOC, BL, YAOI, Ide pasaran, DLDR! ETC!
Naruto menyesal menerima tantang dari sahabatnya yang baru Ia ketahui adalah Gay. Uchiha Sasuke mencoba menjeratnya masuk kedunia miliknya karena taruhan bodoh dari Sasuke.
‘Jika dalam lima hari aku tidak bisa membuatmu menjadi gay maka aku akan menuruti semua kemauanmu. Tapi jika kau menyerah sebelum lima hari maka kau tak akan kubiarkan pergi. Bagaimana?’

Uchiha Sasuke X Namikaze Naruto
EnJOY!
Happy Reading !

oOo

“Enghhmm” Naruto melengguh pelan. Sial! ia benci dengan keadaan seperti sekarang. Ia sama sekali tidak bisa menjadi dominan! Membiarkan pria berambut raven itu menciumnya dengan paksa di perpustakan sekolah yang untungnya sepi! Double shit! Naruto tidak bisa bergerak sedikit pun untuk mendorong tubuh sahabatnya menjauh. Bukannya menjauh, tubuhnya malah seakan lemas ketika pemuda berambut raven itu- Uchiha Sasuke semakin memperdalam ciumannya. Untung saja Sasuke memeluk pinggangnya dengan erat. Sasuke semakin memainkan lidahnya untuk mengekspolarasi rongga hangat milik Naruto. Menyesap rasa manis di dalamnya. Mengajak lidah Naruto yang pasif untuk bermain dengannya. Tapi sayang, Naruto memilih tidak membalas ciumannya dan hanya bisa melengguh pelan menikmati ciuman yang Sasuke berikan. Well, hanya dengan Naruto tidak menolak ciumannya dan menikmatinya saja sudah membuat Sasuke senang.

“Anhh,,” Naruto mendesah pelan, ketika Sasuke melepaskan ciuman di bibirnya, lalu menjelajahkan ciuman ke lehernya. Sial! Naruto benci suaranya! Tidak seharusnya Naruto mendesah seperti layaknya wanita! Teme sialan! Merapenya di tempat umum! Lebih sialnya lagi, Naruto itu normal! Catat itu NORMAL!! Ia hanya tidak mengerti kenapa bisa terperangkap jebakan Sasuke seperti ini!

“Hah,, hah” Nafas pemuda berambut blonde itu terengah. Naruto menghirup oksigen dengan cepat. Dadanya naik turun, wajahnya pun sudah memerah sempurna. Sementara Sasuke hanya menyeringai licik ke arahnya.

“Menyukainya Dobe?” Sasuke berbisik seduktif di telinganya, sambil menjilat cuping pemuda berambut blonde itu.

“Sialanhh kau Teme!!” Naruto mencoba mendorong tubuh Sasuke agar menjauh. Ia sungguh tidak rela jika Sasuke kembali menyentuhnya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah Ia lakukan. Jika Sasuke itu gay, seharusnya jangan mengajaknya ke lingkaran seperti itu. Demi Tuhan! Naruto masih sangat menyukai wanita berpayudara besar dengan badan seperti violin! Tapi jika seperti ini terus, Naruto bisa-bisa menjadi gay seperti Sasuke dan tidak akan menyukai wanita sexy lagi!. Memikirkannya saja membuat Naruto bergidik ngeri.
“Apa yang kau pikirkan Naruto?” Suara baritone milik Sasuke kembali terdengar, membuat Naruto menoleh sambil memandang tajam Sasuke yang masih menunjukan seringaian miliknya.

“Errr, Menjauh dariku Sasuke! Aku sudah tidak tahan. Aku mengaku kalah!” Naruto terlihat putus asa saat mengucapnya. Jujur, jika saja Ia punya mesin waktu. Sudah di pasti Naruto tak akan bermain-main dengan sahabatnya itu.

“Tidak semudah itu Naruto. Perjanjiannya kan 5 hari. Ini baru dua hari kau coba” Sasuke kembali berbisik, sambil mengecup cuping telinga pemuda beriris sapphire itu.

“Aku menyerah Teme. Sudahlah, aku pulang duluan” Naruto mendorong tubuh tegap Sasuke, sehingga pemuda berambut raven itu sedikit bergeser untuk memberi jalan padanya. Tapi belum satu langkah Naruto berjalan, Pria bermarga Uchiha itu kembali menarik tangannya. Sehingga Naruto ada di pelukan Sasuke. Beruntunglah kau Naruto, sekolah sudah sepi jadi tak ada yang bisa melihat kalian.

“Oi, Teme lepaskan aku” Naruto mencoba menarik tangannya yang di cengkram erat Sasuke.

“Kau tahu Naruto? Aku tak pernah menerima penolakan. Jadi kau harus meneruskan taruhan ini. Jika kau menyerah sampai sini, maka aku akan menyebarkan foto ciuman kita pada Sakura. Bagaimana?” Sasuke kembali menyeringai licik. Sementara Naruto sudah terlihat menahan emosinya untuk tidak menendang Sasuke ke negri antah berantah yang di sebut ‘Neverland’ Jika saja pulau itu ada, maka Naruto tidak akan segan melempar Sasuke kesana!!

“Teme sialan! Baiklah aku akan lanjutkan taruhan bodohmu itu!!” Naruto menatap Sasuke kesal. Sungguh, Naruto bertanya-tanya selama dua hari ini. Dosa apa yang sudah Ia lakukan sehingga harus bersama Sasuke?

“Baguslah” Sasuke lalu menggenggam tangan Naruto, sehingga Ia menggandeng tangan Naruto menuju parkiran di sekolahnya. Sementara Naruto mau tidak mau mengikuti bungsu Uchiha itu.

oOo

Two days ago

Naruto berdiri di depan pintu kamar Sasuke. Tubuhnya menegang kaku. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang matanya lihat. Demi Dewa Kurama yang menguasi alam!! Ia sangat tidak percaya! Bahkan pemuda bersurai blonde itu harus mengucek matanya beberapa kali, berharap Ia salah liat. Tapi apa yang di tangkap oleh penglihatannya adalah nyata. Sungguh Naruto ingin sekali menggerakan tubuhnya untuk berbalik, dan memilih kembali ke rumahnya dari pada mempercayai apa yang Ia lihat. Sialnya matanya tak bisa di ajak bekerja sama! Ia masih saja menatap Sasuke yang topless sambil menonton blue film YAOI di kamarnya. Pemuda itu bahkan mengeluarkan erangan tertahannya, sambil memainkan genitalnya yang membesar sempurna.

“Shh,, Na-naruto,hh” Sasuke bahkan mendesahkan namanya, ketika orgasmenya datang.

Naruto sama sekali sudah tidak bisa bergerak dari tempatnya. Ia sangat kaget! Sasuke berfantasi liar tentangnya. Sial! sial! Naruto masih tidak bisa mempercayainya. Demi Tuhan! Yang Ia tahu Sasuke itu normal sama sepertinya. Tapi kenapa sekarang seperti ini?

Prangg

Naruto tanpa sengaja menjatuhkan hiasan piring kecil di nakas, sehingga pecah. Membuat Naruto harus menelan salivanya gugup ketika Sasuke menatap ke arahnya dengan tatapan mengintimidasi miliknya. Rahang Sasuke mengeras, menandakan bahwa Ia tidak suka keberadaan pemuda bersurai blonde ini.

“H-hai Teme. Sepertinya aku mengganggumu. Sebaiknya aku pulang. Hehehe” Tertawa canggung, Naruto membalikkan badannya. Mencoba untuk kabur dari Sasuke. Tapi sepertinya Dewi Fortuna tidak mengambulkan keberuntungan Naruto saat ini. Suara dingin sarat akan kepatuhan terdengar jelas.

“Diam di tempat Naruto”

Gleekk

Naruto menelan salivanya gugup ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Sungguh, Ia sangat ingin kabur. Tapi sialnya tubuhnya kaku tidak bisa bergerak!! Naruto hanya bisa mengumpat dalam hati karena tubuhnya yang tidak bisa di ajak kerja sama di saat yang genting seperti ini.

Sasuke sudah mendekat ke arahnya. Wangi mint milik Sasuke tercium oleh hidungnya. Bahkan Naruto bisa merasakan punggungnya menyentuh dada bidang Sasuke.
Sreett
Dalam hitungan detik, Sasuke menarik tangannya hingga saat ini Ia berbalik menatap Sasuke yang sudah mengenakan boxernya, tanpa atasan. Sasuke bertelanjang dada di depannya. Sudah dipastikan jika semua wanita dan juga para uke akan mimisan jika melihat pemandangan seperti itu. Tapi sepertinya pengecualian untuk Naruto yang kini memicingkan matanya melihat Sasuke.
“Kau melihatnya Dobe?”

“Apa yang kulihat Te-teme?” Mencoba bersikap biasa, Naruto malah jelas sekali tengah berbohong karena gugup.

“Kau melihatku mastubrasi” Sasuke semakin menatapnya intens. Sementara Naruto yang di tatap hanya bisa diam dengan tubuh kaku.

“E-eh? A-aku juga sering bermastubrasi sepertimu Teme. Kau tenang saja. Hehehe” Naruto kembali mengeluarkan cengiran lebarnya.

“Aku Gay Naruto” dan pengakuan langsung dari Sasuke kembali membuatnya roboh. Seakan di sengat listrik 1000 megavolt! Astaga sahabatnya benar-benar gay! Siapapun tolong bantu Naruto untuk tidak mempercayainya!

“A-apa?”

“Aku Gay” pengakuan kedua dari Sasuke kembali memaksa Naruto untuk mempercayai apa yang sudah Ia lihat, dan juga Ia dengar. Sahabatnya Gay! Tapi sebagai sahabat Naruto bisa apa? Ia harus menerima keadaan Sasuke dalam suka maupun duka kan? Jadi tentu saja walaupun Sasuke gay, Naruto tidak akan mempersalahkan itu. Toh, Ia kan normal. Masih menyukai dada perempuan!

“Walaupun kau gay teme, aku tetap akan menjadi sahabatmu. Jadi kau tenang saja oke?” Naruto kembali tersenyum tulus ke arah Sasuke. Membuat pemuda berambut raven itu menghela nafas lega, karena Naruto bisa menerimanya.

“Kau tak akan menjauhiku?” Mencoba memastikan ucapan dari pria berambut blonde ini, Sasuke kembali memicingkan matanya.

“Tidak untuk apa?”

“Kau tidak takut akan tertular menjadi gay Naruto?” Pertanyaan dari Sasuke membuat tubuh Naruto kembali menegang. Jujur, Ia takut. Tapi Ia tidak mungkin menjauh dari Sasuke kan? Ayolah itu adalah hal sulit untuk di lakukan!

“Tidak. kau ada-ada saja Teme. Gay itu bukan virus yang menular. Apa setelah kau menjadi gay kau jadi bodoh Sasuke teme?” Naruto kembali mengeluarkan senyum hangatnya, membuat Sasuke kembali mendesah lega. Tapi sedetik kemudian, Sasuke menyeringai tipis tanpa Naruto sadari.

“Tentu saja itu menular Dobe. Baiklah, kita taruhan. Jika dalam lima hari aku tidak bisa membuatmu menjadi gay maka aku akan menuruti semua kemauanmu. Tapi jika kau menyerah sebelum lima hari maka kau tak akan kubiarkan pergi. Bagaimana?” Naruto hanya bisa menelan salivanya kembali mendengar taruhan yang di ucapkan Sasuke. Sungguh, Ia sama sekali tidak percaya jika gay bisa menular. Ayolah itu bukan penyakit seperti virus ebola! Toh Naruto juga percaya bahwa dirinya 100% NORMAL!! Catat itu! Naruto menyukai WANITA! Ia yakin, Ia tidak akan mungkin menjadi gay hanya dalam waktu 5 hari. Ah, tantangan Sasuke terlalu mudah untuknya.

“Deal, hanya 5 hari. Maka kau akan menuruti semua kemauanku Teme” Naruto mengulurkan tangannya ke arah Sasuke, dengan senyum yang masih menghiasi wajah pemuda berkulit tan itu.

“Deal” Sasuke membalas jabatan tangan Naruto, dengan memamerkan seringaian liciknya yang tidak di ketahui oleh pria berambut blonde itu.

Dan itu adalah awal dari semua kejadian menyiksa yang Naruto alami.

To Be Continued
Hehehe, ini FF yang muncul dari pikiran nista saya -__- FF pertama SasuNaru. Semoga suka minna-san ^^ otak fujo lagi turn on akhir-akhir ini. Jadi aku buat deh tentang SasuNaru yang emang cocok untuk berfantasi di khayalan saya. Wkwk ^^

So Mind To Review?

Astia Morichan^^

You’re Mine Tetsuya !! chap 2| AkaKuro Yaoi

0

You’re Mine Tetsuya !!

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

Romance, Drama

Waning: Typo, OOC, Yaoi dll

a/n: Mungkin rating akan berubah-ubah sesuai dengan imajinasi tingkat tinggi saya

Kuroko tahu Ucapan Akashi itu mutlak. Tapi Ia tak mengerti dengan perintah Akashi yang menyuruhnya untuk pindah ke SMA Rakuzan dan meninggalkan Seirin. Lalu keadaan dimana Akashi menciumnya sepihak. Hey! Kuroko itu normal kan? Dan hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

EnJOY!

Happy Reading

 

oOo

 

Saat ini Kuroko Tetsuya masih berdiri dengan tubuh kakunya, setelah Akashi Seijuurou meninggalkannya sendiri. Perasaan bingung itu menghantarkannya. Ia tak mengerti! Sungguh! Kuroko masih bingung dengan permintaan Akashi.

‘Mungkinkah Akashi berniat balas dendam karena kekalahannya dengan Seirin tiga bulan lalu? ‘

 

Kuroko menggelengkan kepalanya. Menepis segala pemikirin negatif tentang Akashi. Lalu tangannya bergerak menuju bibirnya. Menyentuhnya perlahan, sambil mengingat kejadian yang menimpa bibirnya. Oh- bibir Tetsuya sudah tidak suci lagi !!

 

‘Akashi sialan! Seenaknya menciumku!’ dan Kuroko hanya bisa mengumpat dalam hati, karena Ia harus merelakan ciuman pertamanya di curi oleh Akashi. Demi dewa Janshin yang menguasi langit. Kuroko itu pria! Dan Akashi pun pria. Mereka sama-sama pria! Hell! Kuroko itu normal! Masih menyukai perempuan! Mungkinkah?

 

“Arghttt,, tentu saja aku normal.” Kuroko menjambak surai birunya. Ia merasa kesal dengan dirinya. Ia bingung dengan orientasi seksualnya. Benarkah Ia normal? Jika Ia memang normal, seharusnya Ia bisa menolak dan mendorong tubuh Akashi. Lalu menendangnya sampai ke negri antah berantah karena berani menodai kesucian bibirnya! Bukannya terdiam kaku, sambil menikmati sentuhan bibir dari sang emperor eyes!!

 

“Kuroko?” Suara baritone milik Kagami, membuyarkan pikirannya. Kuroko pun menoleh ke arah Kagami yang kini menghampirinya.

 

“Kenapa lama sekali? Apa yang di lakukan Akashi padamu?” Pertanyaan Kagami, kembali membuat manik aquamarine milik Kuroko membulat. Tak lupa rona merah juga menghiasi wajahnya.

 

“T-tidak ada Kagami-kun. Kami hanya mengobrol.” Kuroko berucap sambil memalingkan wajahnya. Berusaha mengatur emosi pada wajahnya agar tetap terlihat datar seperti biasa.

 

“Benarkah?” Kagami bertanya penuh selidik. Ia merasa ragu akan jawaban dari Kuroko.

 

“Ya, jadi apa pertandingannya sudah selesai?” Kuroko bertanya setelah jaraknya dan Kagami sudah dekat.

 

“Baru selesai. Mereka menyuruhku menjemputmu untuk segera pulang.”

 

“Baiklah, ayo Kagami-kun.” Kuroko pun berjalan mendahului Kagami yang mengekor di belakangnya. Kepalanya masih berat untuk mengingat semua kejadiannya dengan Akashi. Tapi sialnya, bayangan Akashi tak pernah hilang dari benaknya!

 

oOo

 

Akhirnya Kuroko dan Kagami sudah keluar dari stadium. Semua anggota dari Seirin menunggu mereka dengan wajah bosan. Bahkan Furihata memperlihatkan wajah bosannya.

 

“Kenapa lama sekali?” Hyuuga Junpei memperlihatkan raut kesalnya. Sudah jelas, kapten Seirin itu tidak suka menunggu.

 

“Gomen Senpai. Ini salahku.” Kuroko menundukkan wajahnya. Ini memang salahnya. Seharusnya, setelah Akashi meninggalkannya. Kuroko harusnya ikut pergi juga menghampiri teman-temannya. Bukannya merenungkan masalah orientasi sexnya.

 

“Sudahlah, kita pulang saja. Besok kita harus berlatih lagi.” Kiyoshi tersenyum ke arah Kuroko. Lalu Ia mengacak surai biru Kuroko, kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari stadium. Diikuti oleh yang lain. Sementara Kuroko masih terdiam di tempat. Manik aquamarinenya terpaku pada sosok yang sedang berjalan ke arahnya. Akashi Seijuurou berjalan dengan wajah arogannya, melewati para anggota Seirin. Bahkan Hyuuga sampai mengumpat, karena ketidaksopanan Akashi. Riko pun kini sudah di tahan oleh Furihata agar tidak memukul sang Kapten Rakuzan itu.

 

Tubuh Kuroko menegang, nafasnya memburu tak karuan ketika Akashi semakin mendekat padanya. Jantungnya berdebar keras. Ia bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Sungguh, Ia sama sekali tidak mengerti!

 

Tapp

 

Langkah Akashi semakin mendekat ke arahnya. Bahkan Kuroko bisa merasakan wangi mint milik Akashi, dan juga nafas hangat nan teratur milik Akashi menerpa wajahnya.

 

“Tetsuya aku menunggu jawabanmu besok. Aku harap kau tidak menolakku.” Akashi berbisik pelan di telinganya. Membuat Kuroko tersentak dari pikirannya, dan mencoba mendorong tubuh Akashi menjauh.

 

“Menjauh dari Kuroko, Akashi.” Kagami mendekat ke arah Kuroko. Menarik tangan pemuda bersurai biru itu, mencoba menjauhkannya dengan Akashi.

 

“Hm, besok aku akan menjemputmu Tetsuya.” Dengan nada arogannya, Akashi pergi menjauh meninggalkan Kuroko yang masih terdiam mencoba mencerna semuanya.

 

“Kuroko apa hubunganmu dengan si Akashi itu?” Suara Aida Riko membuat Kuroko menoleh kepada sang pelatih, yang di balas dengan gelengan pelan darinya. Entahlah, Kuroko juga masih tidak mengerti hubungannya dengan Akashi. Mereka hanya sebatas rekan satu tim dulu.

 

“Sudahlah, mungkin mereka sedang melakukan reuni.” Kiyoshi kembali bersuara, membuat Riko memutar bola matanya. Ayolah! Tak ada reuni semacam itu!

“Hah, baiklah. Mungkin lebih baik kita segera pulang.” Riko hanya tak ingin membuatnya semakin rumit.

 

“Ha’i.” Semua bersorak senang. Sementara Kuroko hanya mengangguk lesu. Ia hanya ingin segera pulang, dan mencoba berpikir dengan semua kejadian yang menimpanya.

 

“Ayo pulang Kuroko.” Kagami menarik Kuroko, sehingga pemuda bersurai biru itu sudah sejajar dengannya. Lengan Kagami pun melingkari bahunya. Membuat Kuroko hanya bisa terdiam, dan mengikuti langkah Kagami.

 

“Ya, Kagami-kun.”

 

oOo

 

Kuroko Tetsuya merebahkan tubuh mungilnya di ranjang favoritnya. Setelah sampai di rumah, Kuroko segera ke kamar tanpa mendengarkan ajakan Ibunya untuk makan malam. Sungguh, Kuroko sangat lelah. Apalagi jika Ia harus memikirkan kejadian dimana Akashi menciumnya. Ia masih memikirkan tentang orientasi sex nya. Apakah Ia benar-benar menyimpang? Demi Kami-sama ! Kuroko masih ingin menjadi pria yang normal! Mungkin memang benar jika Ia tidak tertarik dengan wanita. Ketika Momoi-san memeluknya saja, Kuroko tidak merasakan hal apapun! Tapi berbeda dengan Akashi. Sangat berbeda! Dia berdebar. Perasaan hangat mengalir di seluruh tubuhnya ketika Akashi dekat dengannya. Ia masih ingat tentang pertemuan awalnya dengan Akashi. Pemuda itu yang mengetahui bakatnya. Akashi yang memberikan pencerahan padanya. Tapi semua itu seakan pudar ketika Akashi berubah. Akashi seakan berjalan menuju kegelapan.

 

“Akashi-kun.” Kuroko menggumamkan nama Akashi. Entahlah, Ia merindukan sosok Akashi yang hangat seperti dulu. Sosok Akashi yang sangat berbeda dengan sekarang. Kuroko menyukai Akashi. Kuroko tertarik padanya. Tapi itu dulu. Tentu saja, Kuroko itu kan normal! Ia tidak mungkin menjadi seorang Gay hanya karena Akashi menciumnya seperti itu.

 

“Aku normal. Tentu saja.” dan Kuroko segera mengambil bantal, lalu menutup wajahnya. Berharap Ia akan segera tertidur. Melupakan Akashi, dan semua masalah yang akan menunggunya di hari esok.

 

oOo

Cahanya matahari sudah mulai terlihat menembus sela-sela jendela di kamar bernuansa biru milik Kuroko Tetsuya. Semua orang sudah bangun, berbeda dengan pemuda bersurai biru itu yang masih asyik menggelung tubuhnya di kasur dan menjelajahi alam bawah sadarnya. Bahkan silaunya cahaya sang mentari nampak tidak menganggu ketenangan tidurnya.

“Tetsu-kun, kau tak akan sekolah? Ini sudah jam enam! Cepat bangun!!” Teriakan dari Sang Ibu, membuat Kuroko Tetsuya yang masih nyaman berada di alam mimpi membuatnya tersentak. Dengan refleks Ia menutup telinganya dengan bantal. Mencoba merendam teriakan sang Ibu yang mengganggu pendengaran di pagi hari.

 

“Tetsuya!! Cepat bangun!!” Sang Ibu menarik selimut yang menutupi tubuh mungil Kuroko. Sehingga hawa dingin di pagi hari, menyentuh kulit pemuda berambut biru itu.

 

“Kau akan telat Tetsu-kun! Mandilah!” Sang Ibu menarik tangannya, sehingga membuat Kuroko yang masih menutup matanya terduduk dengan mata terpejam. Sungguh, Ia masih ingin bergelung di ranjangnya.

“Wakkatta, Okaa-san. Aku bangun.” Kuroko mengucek matanya pelan, sambil mencoba mengumpulkan nyawanya.

 

“Bagus, bergegaslah, okaa-san sudah menyiapkan sarapan. Oh-ya, temanmu menunggumu di bawah.” Suara dari Sang Ibu, membuat Kuroko sadar seratus persen dari alam bawah sadarnya. Teman? Siapa? Setahu Kuroko temannya di SMA Seirin tidak tahu rumahnya. Kecuali temannya di SMP Teiko. Kiseki no Sedai, hanya mereka yang tahu. Lalu siapa yang datang? Apakah Kise-kun? Atau Aomine-kun?

 

“Si-siapa Okaa-san?”

 

“Sudahlah, kau harus mandi dengan cepat. Kau tak mau kan temanmu menunggu dengan lama? Nanti juga kau akan tahu sendiri Tetsu-kun.” Sang Ibu melangkah pergi keluar dari kamar Kuroko. Sementara Kuroko hanya menghela nafas pasrah, lelah untuk berspekulasi siapa yang datang ke rumah di pagi hari. Dengan malas, Kuroko melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di luar kamarnya. Bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.

 

Setelah 30 menit, akhirnya Kuroko sudah selesai bersiap. Ia sudah mengenakan seragam Seirin dengan rapi. Membuat pemuda itu terlihat sangat imut. Ia lalu mengambil tasnya, dan bergegas turun ke bawah.

 

“Okaa-san, Siapa yang datang?” Kuroko bertanya setelah turun ke ruang makan, di mana sang Okaa-san tengah sibuk menyiapkan sarapan.

 

“Tetsuya.” Suara baritone dingin yang Ia kenal, membuat tubuh Kuroko menegang seketika. Matanya membulat, sebelum menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Sosok Akashi Seijuurou duduk dengan tenang, sambil menikmati teh buatan Ibunya. Akashi meletakan gelasnya, lalu menatap Kuroko dengan tatapan mengintimidasi miliknya. seakan mengatakan.

‘Jadi apa jawabanmu Tetsuya?’

 

Glek

 

Kuroko menelan salivanya dalam. Suaranya seakan tercekat, hanya untuk menyapa Akashi saja.

 

“O-ohayou Akashi-kun.” Akhirnya suara Kuroko lepas. Berhasil menyapa Akashi, yang tengah tersenyum-ah bukan. Akashi menyeringai padanya. Kuroko bukan takut pada Akashi. Sungguh, Ia sama sekali tidak takut. Hanya saja, Ia belum siap. Ia takut untuk menerima kenyataan saja.

 

“Ne, Tetsu-kun. Kau lama sekali. Sei-kun mungkin sudah lelah menunggumu dari tadi.” Sang Ibu kini berjalan ke arahnya, sambil membawa semangkok pancake kesukaannya.

Dengan gugup, Kuroko mencoba duduk di sebrang Akashi yang masih menatapnya dengan lekat. Sungguh, paginya sangat tidak mengenakan jika di pandang seperti itu! Pandangan Akashi seakan mengajaknya untuk bertengkar. Jujur saja Kuroko kesal! Kenapa Ia malah terlihat gugup dan salah tingkah di depan Akashi? Hell, Itu sama sekali bukan dirinya!

“Maaf membuatmu menunggu Akashi-kun.” Mencoba berbicara dengan nada datar, dan bersikap seperti biasa. Kuroko mulai mengambil sendok, dan melahap pancake kesukaannya.

 

“Tak apa Tetsuya. Lagi pula, aku akan mengantarmu hari ini.”

 

“Eh?” Manik aquamarine itu melotot menatap Akashi horor. Seakan meminta penjelasan. Untuk apa Akashi mengantarnya? Bukankah Akashi juga harus sekolah? Ke Rakuzan? Bukannya membuang waktu berharganya untuk mengantarnya ke Seirin.

 

“Hn, aku akan mengantarmu Tetsuya.”

 

“Sei-kun, baik sekali. Hora, kalian makanlah dengan cepat. Nanti bisa telat jika terlalu lama.” Suara lembut Ibu Kuroko, membuat Kuroko tidak bisa kembali mengeluarkan segala pertanyaan yang ada di benaknya untuk bertanya pada Akashi. Jadi Ia lebih memilih makan, menghabiskan sarapannya bersama Akashi yang duduk di sebrangnya. Pemuda berambut merah itu terlihat tenang. Sangat tenang. Kuroko yakin, Akashi pasti telah merencanakan sesuatu yang jauh dari pemikirannya. Pemuda itu jenius, terlampau jenius sampai Kuroko tak bisa menebak apa yang sedang Akashi pikirkan.

 

Setelah sepuluh menit, akhirnya Kuroko selesai dengan sarapannya. Ia lalu berdiri, diikuti dengan Akashi yang berdiri dari duduknya. Lalu berjalan mendekati Ibunya.

 

“Okaa-san, aku pergi. Ittekimasu.”

 

“Hn, Obaa-san. Terimakasih atas sarapannya. Maaf merepotkanmu. Kami pergi.” Akashi tersenyum tulus, sebelum Ia membungkukan badannya ke arah wanita paruh baya itu.

 

“Itterasai. Jangan ngebut yah Sei-kun.” Ibu Kuroko mengantarkan kepergian mereka sampai depan.

 

Akashi naik ke mobil BMW berwarna hitam miliknya. sementara Kuroko mengernyitkan alisnya heran. Sejak kapan Akashi mengendarai mobil? Bukankah selalu ada supirnya yang selalu mengantarnya setiap saat?

 

“Cepatlah Tetsuya.” Suara Akashi membuat Kuroko dengan cepat naik di samping kemudi. Ia duduk di samping Akashi yang mulai menstater mobilnya. Mobil BMW keluaran limited edition itu melesat cepat. Meninggalkan mansion Kuroko hanya dalam hitungan detik.

Akashi mengemudikan mobilnya dengan santai. Tak ada percakapan. Hening. Kuroko bahkan terdiam. Ia hanya mengikuti alur yang sudah Akashi buat. Tapi sungguh Ia sangat penasaran, dengan apa yang Akashi lakukan.

 

“Akashi-kun, kenapa ke rumahku?” Kuroko bertanya, sambil melirikkan sedikit matanya. Hanya melihat Akashi lewat ekor matanya saja.

 

“Hanya menjemputmu.”

 

“Bukankah Akashi-kun juga harus sekolah? Jarak Seirin dan Rakuzan kan cukup jauh.”

 

“Kau akan tahu nanti Tetsuya, dan bisakah kau diam? Aku sedang mengemudi.” suara dingin Akashi seakaan membanting Kuroko. Ayolah, Kenapa Akashi harus berbicara kejam seperti itu? Padahal Kuroko hanya bertanya.

 

“Baiklah, aku tak akan bicara lagi.” Kuroko memutuskan untuk diam sampai di tujuan.

 

Hanya butuh waktu 20 menit, untuk sampai ke SMA Seirin. Semua murid di Seirin menatap Akashi yang turun dari mobil mewah itu dengan diikuti oleh Kuroko, mereka menatap Akashi dengan pandangan memuja. Terutama para gadis yang menatap Akashi penuh damba. Akashi bagaikan Dewa Zeus yang turun dari langit di mata par gadis itu.

 

“Tetsuya.” Akashi membalikkan badannya, sehingga Ia kini berhadapan dengan Kuroko yang masih terdiam sambil mengadahkan kepalanya. Menatap Akashi bingung. Bukankah seharusnya Akashi langsung pergi setelah mengantarnya?

 

“jadi apa jawabanmu Tetsuya.” Akashi berbisik di telinganya. Membuat bulu kuduk Kuroko sedikit merinding ketika nafas hangat Akashi menerpa lehernya.

 

“Apa?” Mencoba untuk menghilangkan kegugupannya, dengan wajah poker face alami miliknya.

 

“Pindah ke Rakuzan. Apa jawabanmu?” Akashi semakin mendekatkan wajahnya ke sisi leher Kuroko. Sehingga pemuda bersurai merah itu dapat mencium wangi vanilla yang menerpa penciumannya. Wangi Kuroko sungguh menggoda imannya!

 

Kuroko terdiam, dan tubuhnya semakin sulit di gerakan. Sungguh, ia ingin mendorong tubuh Akashi menjauh darinya. Tapi nihil! Tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia bagaikan terkena jurus emperor eyes milik Akashi! Kuroko tahu Ia dan Akashi sudah menjadi pusat perhatian. Bahkan para gadis kini sudah berteriak histeris, beberapa diantaranya mungkin ada yang mimisan melihat adegan yang sudah mereka tunggu.

 

“Aku tidak mau.” Dengan segenap kekuatannya, Kuroko mencoba mendorong tubuh Akashi. Tapi tetap saja nihil! Tubuh itu tak bergerak. Jika seperti ini, Kuroko benar-benar merutuki tubuhnya sendiri yang mungil sehingga tak bisa melawan Akashi.

 

“Aku sudah tahu jawabanmu.” Tangan Akashi kini menyentuh permukaan pipinya. Mengelusnya dengan perlahan, sehingga membuat Kuroko terpaksa menahan nafasnya, ketika Akashi semakin membelai pipinya dengan lembut.

 

“A-akashi-kun menyingkirlah.”

 

“Kau tahu Kuroko? Perintahku itu absolut, dan jika memang kau tak mau pindah ke Rakuzan. Maka aku akan pindah ke Seirin hari ini.” dan Ucapan dari Akashi Seijuurou- sang kapten dari Rakuzan membuat aquamarine sapphire milik Kuroko membulat tak percaya. Bayangkan saja! Kapten dari Rakuzan, anak dari pengusaha kaya di Jepang, makhluk paling tersempurna pindah ke SMA Seirin, yang merupakan SMA baru!

 

“Kau pasti bercanda Akashi-kun.”

 

“Apa aku terlihat seperti bercanda Tetsuya.” Akashi semakin memadang Kuroko dengan intens. Kuroko yang menyadari tatapan dari Akashi, meneguk salivanya gugup. Akashi tidak bohong padanya! Ia serius pindah ke Seirin! Dan sepertinya masalah ini terus menimpa Kuroko Tetsuya mulai sekarang!

 

To Be Continued ^^

 

 

So Mind To Review Again ? ^^

Astia Morichan

Susahnya Move on dari Yaoi

0

Move on dari yaoi emang sulit !! itu catetan buat gue ! serius susah banget ngilanginnya  sekarang walaupun gue udah mencoba move on dari peryaoian tetep aja gak bisa ;’( bayangin sekarang gue punya otp baru yang ngepas di hati dan cocok. OTP baru gue AKASHI SEIJUURO X KUROKO TETSUYA !!!!!!!!! Chara dari knb  sumpah gue gak tau bakal separah ini ketika gue nonton Kuroko no basuke. Awalanya biasa, tapi lama kelamaan jadi luar biasa. Apalgi di anime itu cewe nya dikit banget. Makin kan gue menggila. Apalgi peran kuroko sama akashi itu cocok pake banget !!!!! nah abis itu gue iseng nih baca ff di fandom knb di ffn. Gue baca aja ff akakuro dan gue gak bisa berhentibaca! Ketagihan kek zat adiktif -__- padahal baca ff sasunaru aja gue gak ketagihan, flat biasa aja. Tapi beda sama akakuro. Dan seketika gue kembali jdi fujo -__- jadi ada yang bisa tolong gue untuk kembali ke jalan yang lurus? Wkwkwk sumpah gue masih bingung sama psikolog yang bilang ke gue harus lupain jd fujo. WHY? GUE MASIH GAK PAHAM? DAN TOLONG KALO KASIH PERTOLONGAN KASIH TAU GUE BESERTA SARAN YANG JELAS  maxresdefault

Ketika Tahu Gebetan Yaoi

0

Halooo, gue bakal ngebacot lagi. Hah, masih tentang seputar dunia peryaoian. Oke, gue mulai. Tau gak? Atau kalian pernah ngalamin hal yang sama kaya gue? Rasanya nyesek tingkat janshin!! Jadi gini, gue punya kecengan sebut aja M. nah gue udah ngeceng si M ini sejak kelas 2 sma. Nah orang ini juga tahu gue. Yah walaupun emang gak deket, dan si M ini emang tahu gue suka sama dia. Oke, pindah topik. Nah setelah sekian lama, gue mikir. Setelah menyelidiki semua hal/? Wks. Dulu gue denger gosip gini tentang dia. Nah si M ini katanya emang pernah semacam di comblangin buat nyembuhin temen sekelasnya yang lesbi. Yah itu emang gosip lama yang nyebar satu sekolah. Makin sini gue makin mikir soalnya sekarang katanya dia udah ngga lagi, toh itu Cuma gosip belaka.
‘masa orang seganteng itu gak punya cewe sih? Heran deh. Jangan2 yaoi lagi ;’( ’ di situ gue udah pesimis pake banget. Takut yaoi. Tapi gue lebih gak rela dia sama cewe -__- pas liat dia bareng temen cewenya aja gue nyesek -__-

Oke beberapa bulan kemudian, ada porak di sekolah. Kebetulan dia maen futsal pas porak tanding gitu, dan kebetulan gue emang masuk ke sekolah gara2 pen liat dia sekalian numpang donlot di sekolah. Alhasil gue potek sendiri -_- selesai dia main futsal. Dia ke atas tuh diem di tangga di lorong yang sepi berduaan sama eehm cowo sebut aja semenya -_- ANJIR gue NYESEK PAS LIAT. Kebetulan karena di bawah panas gue memutuskan untuk ke kelas yang ada di atas, dan gue ngelewatin mereka yang lagi mesra2an. Coba bayangin dua cowo berduaan di lorong yang sepi, saling pandang2an dengan tatapan yang errrr, tatapan saling suka . ITU NYESEK/. NYESEK ITU KETIKA TAU KECENGAN JADI UKE. SEKETIKA DUNIA ROBOH!!
Oke, jdi gue ngeliatin mereka lewat jendela. Ah, tetep bikin sakit, tapi yang seharusnya gue nyesek gue malah ketawa liatnya masa. Berasa di kasih fanservice ;( duh

Setelah itu, gue cerita sama temen gue yang emang yaoi. Dan kebetulan juga emang temen gue itu sekelas waktu kelas satunya sama si M. jdi emang dulu pas kelas satu itu si M sama semenya emang deket banget, gak bisa di pisahin lah -__-

Terus pas kemarin temen gue yang yaoi itu cerita lagi tentang mereka. Emang si M itu rada pasif, dan pendiem lah. Tapi kalo sama semenya seketika berubah 180 derajat.
Jadi pas bulan kemarin selepas un selese. Yang dulunya kelas satu sama si m foto kelas buat terakhir. Otomatis sahabat kesayangan gue ikut. Dan memperhatikan mereka /plak/
Nah katanya pas disana si M itu ilang seketika pas mau foto. Eh semenya malah bilang
“gue gak jdi ikut foto kalo si M kagak ada” dia malah bilang gitu. Otomatis temen gue yaoi tau kenapa, dan makin curiga mereka emang ada huubungan. Toh yang yaoi gak bisa ngeboongin ke sesama yaoi kan? Wkwkkw
Nah setelah denger itu,, gue nyesek seketika. Sekaligus seneng juga. Seenggaknya kalo dia gak bisa sama gue gak apa2 lah yaoi aja. Ketimbang gue nyesek. Jdi sekarang gue memutuskan untuk move on wkwkw. Sumpah demi janshin nyari cowo NORMAL susahnya minta ampun. Greget gue ;(

Jdi adakah yang pernah mengalami hal sama seperti guee? ;(