Married project| Chap 4| NaruHina

Married project
Rated M
Romance, Drama, Family
Chara Belong To Masashi Kishimoto
Warning! TYPOO, OOC, LEMON, DONT LIKE DONT READ, ETC !!
Naruto Namikaze X Hinata Hyuuga

EnJOY
Happy Reading ^^
oOo

Hinata masih tak berniat untuk turun dari ranjangnya. Sial! kejadian tadi pagi dengan Naruto kembali membuat tubuh bagian bawahnya terasa nyeri. Ah, seharusnya ini salah! Seharusnya Ia tak menyukai sentuhan Naruto. Tapi tubuhnya menolak untuk tidak menikmati sentuhan hangat dari pemuda berkulit tan itu. Ini benar-benar aneh! Hinata tidak mungkin menyukai Naruto kan? Ayolah ini semua pasti salah.

“Tidak mungkin” Hinata menggelengkan kepalanya. Gadis bersurai indigo itu masih bergelung di ranjangnya tanpa menyadari Naruto yang kini mulai mendekat kepadanya.

“Apa yang tidak mungkin Hinata-chan?” Suara berat milik Naruto membuat Hinata menoleh, dan amethysnya membelalak tak percaya ketika melihat Naruto tak memakai apapun. Hanya memakai handuk kecil untuk menutupi area pribadinya. Dengan cepat Hinata memalingkan wajahnya. Sungguh ia tak mau menatap Naruto. Ia masih malu dan enggan mengingat kejadian tadi pagi. Hinata yakin wajahnya sudah memerah sempurna. Ia pun dengan cepat menarik selimut tebalnya agar semakin menutupi wajahnya. Sementara Naruto yang melihat tingkah Hinata hanya terkekeh pelan. Apa Hinata malu kepadanya? Lucu sekali.
Naruto pun lalu mendekat ke arah Hinata. Kini Naruto sudah duduk di samping Hinata yang masih memunggunginya.

“Hime-sama kenapa kau tak mau melihatku? Bukankah kau sudah melihat semua bagian tubuhku?” Naruto berbisik seduktif di telinga Hinata, sebelum Ia mengecup cuping telinga Hinata sehingga Hinata mulai terperanjat dari tidurnya dan mulai terduduk. Amethysnya menatap Naruto tajam.

“Hinata apa kau ingin menggodaku lagi?” Naruto lalu kembali mendekat ke arah Hinata dengan seringaian tampannya. Membuat Hinata menatap Naruto heran.

“Apa?”

“Apa kau sengaja kembali memperlihatkan aset berhargamu padaku lagi” Mendengar ucapan dari Naruto, Hinata seakan diingatkan. Sial! dengan cepat Hinata kembali menarik selimutnya yang melorot dan segera membelakangi Naruto. “Na-naruto-kun bakaaa!!”

“Hahaha, mandilah” Naruto lalu mengacak surai indigo milik Hinata sebelum pemuda itu melangkahkan kakinya ke arah lemari untuk memilih pakaiannya.
Dengan wajah yang ditekuk, Hinata menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan kaki yang Ia hentakkan. Membuat Naruto menoleh ke arahnya, sambil tersenyum geli melihat tingkah Hinata yang sedang kesal.

“Kau tahu? Kau semakin menggoda ketika kesal seperti itu Hinata-sama” dan suara baritone milik Naruto, membuat Hinata memutar bola matanya. Hinata dengan segera berbalik ke arah Naruto yang masih menyunggingkan senyum menggoda miliknya.

“Ma-mati saja kau Naruto!!” dan Hinata kembali berbalik, meninggalkan Naruto yang masih terkikik geli mendengar Hinata mengumpat sambil tergagap padanya.

Brakk

Pintu kamar mandi itu di tutup dengan keras. Hinata segera mengunci pintu kamar mandi, lalu merosotkan tubuhnya ke bawah. Menahan getaran menyenangkan di dadanya.

“Kau semakin menggoda ketika mengumpat Hinata-sama. Hahaha” suara tawa Naruto semakin terdengar di telinga Hinata.

Hinata hanya bisa terduduk di lantai marmer kamar mandi yang dingin. Merenungkan semua perasaan yang sangat membingungkan ketika dekat dengan Naruto. Ayolah, bahkan Hinata sama sekali tidak menolak sentuhan Naruto lagi di pagi hari. Jika saja, Kushina tidak mengetuk pintu kamar mereka, sudah di pastikan Naruto akan terus menghabisi Hinata hingga sore lagi!!

“A-ada apa denganku?” Hinata bergumam pelan, sambil menyentuh dada kirinya. Jantungnya kini berdetak tak karuan. Perasaan hangat itu kembali mengalir ke seluruh tubuhnya, dan wajahnya pun kembali merona ketika mengingat satu nama!! Namikaze Naruto! Satu-satu pria yang membuatnya seperti ini. Hinata sama sekali tidak mengerti, kenapa Ia bisa terjerat oleh Naruto dengan cepat!

“A-apa mungkin aku menyukai Naruto?” Hinata menggelengkan kepalanya, ketika pemikiran itu melintas. Tidak! itu tidak mungkin! Hinata tidak menyukai Naruto. Hinata harus segera membersihkan kepalanya. Mungkin dengan berendam, Ia akan segera kembali normal, dan pikiran tentang Naruto akan segera menghilang di benaknya.

“Lebih baik aku segera mandi” Hinata memutuskan untuk segera berendam di dalam bathup yang sudah terisi oleh air yang sudah di campurkan dengan sabun mandi beraroma lavender miliknya. ia sangat yakin, Naruto pasti yang melakukan itu. Perasaan hangat itu kembali berjalan menghangatkan hatinya ketika mengingat satu nama.

‘Naruto’

oOo

Hinata keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya yang teruai. Ia hanya mengenakan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, dan juga kaos bergambar kelinci yang sedikit longgar di tubuhnya. Hinata tidak terlalu suka baju yang ketat, itu hanya akan membuatnya sesak dan semakin panas. Jadi di hari panas ini, Ia memutuskan untuk memakai pakaian simpelnya. Lagi pula, Ia malas untuk keluar kamar. Jika Ia keluar dari kamar siang hari, sudah di pastikan Kushina, atau Hanabi akan menggodanya karena bangun telat.

Hinata berjalan ke arah ranjangnya. Kemudian gadis bersurai indigo itu duduk sambil menyisir rambutnya yang panjang.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka, membuat Hinata menolehkan kepalanya melihat sosok Naruto yang tengah berjalan ke arahnya, sambil membawa nampan yang berisi makanan. Laki-laki berambut blonde itu mendekat ke arahnya dengan senyum lebar yang masih bertengger di wajah tampannya. Sangat terlihat jelas, jika pewaris Namikaze itu tengah berbahagia.

“Aku membawakan makanan untukmu. Pancake kesukaanmu. Tadi Okaa-san menyisakannya untukmu” Naruto menyimpan nampan itu di nakas. Kemudian Ia duduk di samping Hinata yang masih menatapnya kesal. Membuat pemuda itu terkekeh melihatnya. “Apa?”

“Ti-tidak” Hinata lalu menggeleng pelan, sambil menolehkan pandangannya. Ia tak mau Naruto melihat wajahnya yang sudah memerah.

“Benarkah? apa kau sakit Hinata-chan? Wajahmu memerah” Naruto tersenyum geli, sambil menarik dagu Hinata agar menatap pada manik sapphire miliknya. Membuat Hinata terpaku beberapa saat, menikmati keindahan manik sebiru langit milik Naruto. Hinata suka mata Naruto. Mata itu seakan menenangkannya.

“Terpesona padaku Namikaze-sama?” Suara baritone milik Naruto terdengar merdu di telinga Hinata.

“K-kau terlalu percaya diri Naruto-kun” Hinata kembali memalingkan wajahnya.

“Hahaha, sudahlah sekarang kau harus makan” Naruto mengacak surai indigo milik Hinata. Gadis itu kembali memberenggut kesal menerima perlakuan Naruto. Ayolah! Hinata bukan anak kecil!
Naruto berdiri dari duduknya, lalu Ia kembali membawa nampan itu dan menyodorkannya pada Hinata. Hinata menerimanya dengan wajah memerah.

“Apa kau mau aku menyuapimu?” Naruto merebut sendok yang sudah Hinata pegang. Sehingga membuat gadis itu memutar bola matanya. Sungguh, Naruto mengganggu acara makannya. Ia kan lapar!

“Naruto-kun kembalikan!!” Hinata mencoba mengambil kembali sendoknya di tangan Naruto yang sudah terangkat tinggi. Membuat Hinata menyimpan kembali makanannya di nakas. Lalu gadis itu berusaha mengambil sendoknya dengan cara berdiri. Tapi sayangnya, Hinata kalah cepat. Naruto ikut berdiri sambil mengacungkan sendoknya ke atas.

“Cium aku” Mendengar permintaan Naruto, wajahh Hinata kembali bersemu merah. Hinata memutuskan untuk menyerah, dari pada mengikuti keinginan nista Naruto. Lebih baik, Ia mengambil sendok lagi yang ada di bawah. Hinata lalu kembali terduduk di ranjangnya. Naruto yang melihatnya, mengernyitkan alisnya heran.

“Kenapa? Kau tak mau menciumku Hinata-chan? Ayolah hanya menciumku lalu kau mendapatkan sendoknya” Naruto ikut duduk di hadapan Hinata. Memperlihatkan sendok itu di depan wajah Hinata. Hinata yang melihat targetnya menyeringai pelan. Dengan gerakan cepat Hinata merebut sendok yang ada di tangan Naruto. Tapi sekali lagi, Ia kalah cepat karna Naruto menarik sendok itu ke atas, sehingga pemuda itu jatuh dan menarik tubuhnya sehingga Hinata menindih tubuh Naruto.
Wajah Hinata sudah memerah sempurna. Jantungnya berdebar tak karuan karena Ia bisa merasakan terpaan hangat nafas Naruto menerpa wajahnya. Apalagi ketika tangan Naruto melingkar di pinggangnya, sehingga Ia tidak bisa berdiri dan harus mempertahankan posisi yang seperti itu.
“Ke-kembalikan sendoknya Na-naruto-kun” Hinata tergagap. Entahlah, Ia gugup di depan Naruto. Seharusnya Ia bisa bersikap tenang. Tapi sialnya tubuhnya mengkhianatinya!
Naruto malah mengeluarkan seringaiannya, membuat Hinata sedikit bergidik melihatnya. Pemuda itu lalu menarik tengkuknya mendekat. Sehingga wajah mereka hanya terpaut bebera mili.

“Aku kembalikan” dan ucapan terakhir dari Naruto, lalu membungkam bibirnya. Bibir mereka kembali bertemu. Naruto menciumnya kembali dengan sepihak. Melumat dan menghisap bibirnya beberapa detik. Lalu pemuda itu kembali melepasnya.

Hinata terdiam setelah Naruto melepaskan pautan bibirnya. Wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus, ketika Naruto sudah tertawa lepas di depannya. Masih dengan menindih tubuh pemuda itu. Hinata kesal! Ia harus membalas kejahilan Naruto yang membuat jantungnya berpacu dengan cepat. Dengan seringaian di wajah cantiknya. Hinata lalu menduduki perut Naruto. Lalu menurunkan kepalanya, sehingga amethys itu bisa menatap Naruto yang kini membelalakan manik saphhirenya kaget. Tawa keras dari Naruto pun seketika berhenti, bahkan Hinata bisa merasakan Naruto menahan nafasnya! Wajah Naruto kini terlihat gugup dan juga semakin memerah, ketika Hinata semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Hinata tetap terdiam dengan posisinya, dengan Naruto yang masih menahan nafasnya. Sungguh, Hinata benar-benar ingin tertawa melihat wajahnya Naruto. Ia sudah tidak kuat berlama-lama melihat Naruto dengan posisi ini. Lagi pula Naruto menahan nafasnya sejak tadi. Ia takut pemuda itu berhenti bernafas.

“Hahaha” Tawa gadis itu lepas seketika. Hinata tetap tertawa dengan kembali duduk di ranjangnya. Ia dengan santainya, kembali mengambil sendoknya dan makanannya.

Sementara Naruto? Jangan tanya! Wajah pemuda itu sudah memerah. Sial! Hinata menjahilinya! Lalu Naruto kembali tersenyum melihat Hinata yang tertawa di depannya. Sudah lama sekali Ia tidak melihat Hinata tertawa. Perasaan hangat itu kembali hadir. Perasaan yang sudah lama Naruto rindukan. Hinata-nya kembali.

oOo

Kini sang surya sudah berganti dengan bulan. Sang bulan menggantikan tugas dari matahari. Tak lupa juga bintang-bintang yang menghiasi langit malam kota Tokyo. Namikaze Hinata, gadis bersurai indigo itu masih diam terduduk di ranjangnya, sambil memeluk guling. Hinata terlihat sedang memikirkan sesuatu. Alisnya bahkan sampai mengernyit mencoba menghilangkan pemikirannya.
‘Aku tidak mungkin menyukai Naruto’
Gadis itu kembali menggeleng, sambil bergumamkan kata ‘tidak’. Tanpa sadar, pintu kamarnya sudah terbuka. Memperlihatkan sosok Naruto yang kini melangkahkan kakinya mendekati Hinata. Pemuda bersurai blonde itu, lalu menyentuh pundaknya. Sehingga Hinata menoleh ke arahnya. Matanya membulat, menatap Naruto yang masih tersenyum ke arahnya.

“Ayo makan malam. Okaa-san menunggumu” Tanpa menunggu jawaban dari Hinata, Naruto langsung menarik tangan Hinata. Menggenggamnya dengan erat. Membuat gadis bersurai indigo itu memekik kaget, dan kembali merasakan jantungnya berdetak dengan kencang ketika Naruto menggenggam tangannya.

Sesampainya di bawah, Kushina memekik senang melihat Hinata yang sudah berada di depannya. Lalu wanita bersurai merah itu memeluknya.
“Apa Naruto melakukannya dengan tidak lembut padamu Hina-chan? Aku benar-benar khawatir padamu karena kau tidak keluar kamar seharian” Mendengar ucapan dari Kushina. Wajah Hinata kembali memerah. Astaga, kenapa Kushina menanyakan hal seperti itu? Apa Naruto memberitahunya?

“E-eh?”

“Okaa-san sudah memarahi anak itu. Seharusnya Ia bisa mengobati kakimu yang terluka itu dengan lembut. Bukannya membuatnya semakin parah” Kushina mendelik ke arah Naruto yang kini tersenyum tanpa rasa bersalah ke arahnya. Sementara Hinata, Ia bersyukur Naruto memberikan alasan yang sangat logis.

“Go-gomenasai O-okaa-san” Hinata sungguh tak menyangka jika Kushina akan sekhawatir ini padanya.

“Ya sudah, karena kau sudah baikan. Lebih baik kita makan bertiga. Otou-san lembur, sementara Hanabi menginap di rumah Mogi” Kushina menjelaskan setelah Ia melepaskan pelukannya dari Hinata. Lalu wanita bersurai merah itu duduk , diikuti oleh Hinata dan Naruto. Hidangan yang di siapkan Kushina adalah makanan kesukaan Hinata. Ada tuna, zinzai, oshiruko, okaka, dan amaguri.
“Ayo makan” Kushina mengintrupsi, lalu Naruto dan Hinata tersenyum.

“Uhm, Itadakimasu” Mereka pun makan dengan lahap. Sudah lama sekali Hinata tidak makan seenak ini. Masakan Bibi Kushina benar-benar enak. Seperti masakan Ibunya dulu.

“Oh ya Naruto. Shion-chan akan pulang besok, dan mulai besok Ia akan sekolah di sekolahmu dan Hinata” Kushina mengucapkannya dengan santai sambil melahap makanannya. Sementara Naruto sudah menyimpan sumpitnya dan menatap sang Ibu dengan mata berbinar.

“Benarkah Okaa-san? Kenapa kau tidak memberitahuku jika Shion sudah pulang dari Swiss-ttebayo?”

“Shion bilang Ia hanya ingin bertemu denganmu besok di sekolah. Lagi pula Okaa-san baru tahu ini tadi pagi-ttebasa. Dia sudah di Jepang sejak kemarin malam” Kushina menatap Naruto kesal. Ia benar-benar tak menyangka jika Naruto akan bertanya. Ia kira Naruto sudah melupakan Shion selama ini.

“Seharusnya kau bilang padaku Okaa-san, supaya aku bisa menjemputnya kan. Aku sangat merindukan gadis itu” Naruto merenggut kesal, sambil tetap memakan oshiruko miliknya. sementara Hinata hanya bisa mendengarkan, sambil berpikir. Siapa gadis itu sampai membuat Naruto seperti ini? Ia tidak pernah tahu Naruto dekat dengan gadis yang bernama Shion selama ini.

“Gomen gomen, sudahlah lebih baik kau habiskan makananmu. Okaa-san sudah selesai” Kushina lalu menyesap minumannya. Sebelum Ia pergi meninggalkan Naruto dan Hinata yang masih menikmati makan malamnya.

“Okaa-san menyebalkan” Naruto sekarang terlihat kesal. Ia lalu menyimpan kembali sumpitnya. Sungguh, Naruto sudah sangat tidak berselera untuk melanjutkan acara makannya.

“Kenapa?” Seakan melupakan eksistensi dari Hinata, Naruto menoleh pada gadis itu dengan raut wajah penuh penyesalan.

“Maaf Hinata”

“Eh?” Hinata mengerjapkan matanya. Ia lalu menatap Naruto yang kini masih enggan menatapnya.

“Kau pasti marah padaku”

“Ke-kenapa harus marah?”

“Karena sejak makan malam tadi aku sama sekali tidak mengajakmu bicara” dan Hinata hanya bisa memutar bola matanya bosan. Ayolah! Ia tidak akan marah hanya karena hal sepele itu! Naruto benar-benar aneh!

“Naruto-kun baka” Hinata mengalihkan pandangannya. Ia lalu mengambil minumannya, dan menyesapnya pelan.

“Kau mengejekku Hinata-chan?” Naruto kini berbalik,dan menatap Hinata intens.

“Tidak” Hinata kembali berbalik. Kini amethys dan sapphire itu saling bertemu. Saling menyelami satu sama lain.

“Jadi siapa itu Shion?” Pertanyaan dari Hinata malah membuat pemuda berambut blonde itu menyeringai tipis ke arahnya.

“Dia adalah gadis yang kurindukan selama enam tahun terakhir ini Hinata-chan. Aku sangat merindukannya-ttebayo” dan Ucapan dari Naruto, entah kenapa membuat hati Hinata mencelos mendengarnya. Ada yang tidak beres dengan perasaannya. Kenapa Ia merasakan sakit hati seperti ini? Rasanya jantungnya seperti di tusuk oleh seribu jarum ketika Naruto mengatakan bahwa Ia sangat merindukan Shion. Rasanya benar-benar menyesakan, sampai Ia sulit untuk bernafas. Bahkan air matanya sudah berada di pelupuk matanya. Kenapa? Kenapa Ia ingin menangis sekarang? Ini benar-benar bukan dirinya. Ia tidak mengerti dengan semua perasaan ini!

“A-aku selesai” Tanpa melihat ke arah Naruto, Hinata segera berdiri meninggalkan pemuda itu yang masih menatap punggungnya menjauh.

To Be Continued

Advertisements

24 thoughts on “Married project| Chap 4| NaruHina

  1. Shion siapanya naruto thor? Jngn bilang cinta pertamanya peulis :” semoga shion cm sodara nya aja :3 oiya ralat thor, klo kushina dattebane yg ttebasa si boruto, semoga hinata cepet sadar sama perasaannya^^

    • iya harusnya dattebane. kemarin efek tailer boruto jd deh kebawa feel. haha. belum aku publish ulang editannya.
      selamat untuk kamu! reviewers ke 300 di wp ini!! mau aku buatin ff os yg di peruntukan untuk kamu!! pairing bebas dengan rate apapun.

      • Gomennn baru bales sekarang 😀 masih diedit ya thor? Semoga proses editingnya dpt berjalan lancar sesuai imajinasi/? Author ne :’3

        oalah makasi author ^_^ bener ini mau dibuatkan ff? 😮 aku rate nya sesuaikan sm panjang ff yg mau author buat aja, ada rate m nya sedikit gpp lah xD #efekbacaffberkepanjangan pairing nya naruhina aja thor^^ en klo bisa sifat hinatanya jngn pemalu, agk bar bar/? gitu :’v itu dulu request an aku, klo ada yg kurang nanti ku pikirin lg.haha 😀 gomawo author~~

  2. Bagus, jadi penasaran sama shion yang tiba-tiba muncul disaat hinata mulai menerima kehadiran naruto sebagai suaminya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s