Boys Living | AkaKuro Fanfic| Yaoi

0

Boys Living

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

M tapi di sini masih T

Romance, Drama

Waning: Typo, OOC, Yao, Dont Like Dont Read, dll

a.n: Biar aman saya simpen di M. Karena saya udah memikirkan pemikiran nista tentang FF ini. karena AkaKuro selalu membuat pikiran saya berimajinasi terlalu tinggi. Ini adalah Remake dari Komik Boys Live karya Maki Nishikata. Tapi bakal saya ubah sesuai imajinasi saya.^^

Kuroko Tetsuya memutuskan untuk tinggal sendiri, sejak masuk SMA. Ia menyewa sebuah apartemen sederhana. Tapi karena sebuah kesalahan agen apartemen. Selama dua minggu Kuroko harus tinggal berdua dengan Akashi Seijuurou yang merupakan teman sekelasnya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

EnJOY!

Happy Reading

 

oOo

Hari Minggu yang cerah ini, adalah hari yang sangat di tunggu oleh pemuda berumur 16 tahun. Tahun ini, Kuroko masuk ke SMA yang berada di Tokyo. SMA Teiko yang sangat favorit. Kuroko Tetsuya sudah menantikan hari bersejarah dalam hidupnya. Hari dimana Ia akan menyewa sebuah apartemen untuk dirinya sendiri. Kuroko bahkan sudah menabung sejak lama, agar impiannya tercapai. Ia tidak ingin tinggal dengan kedua orang tuanya lagi. Dua bulan lalu, Kuroko menemukan apartement yang Ia sukai. Tipe satu kamar, dengan sewa yang cukup murah. Hanya dengan 40 ribu yen, Kuroko bisa mendapat tempat yang bagus. Kuroko juga tidak ingin menyusahkan orang tuanya. Karenanya, Ia berniat untuk melakukan kerja sampingan agar dapat membayar sewa apartemennya. Sebenarnya Kuroko meninggalkan rumah agar kedua orang tuanya bisa mandiri dan tidak bergantung padanya dalam hal kebersihan.

“Jika tidak ada Tetsu-chan, tidak ada yang bersih-bersih lagi.” Itu adalah perkataan dari Ibunya sebelum Kuroko pergi dari rumahnya, dengan membawa ransel besar berisi pakaiannya. Ibunya memang tidak dapat bersih-bersih. Ah- ralat, semua keluarganya tidak menyukai kebersihan. Mereka semua selalu berantakan. Jika tidak ada Kuroko, rumahnya selalu menjadi kapal pecah. Kuroko itu cinta kebersihan, Ia sangat risih jika lingkungannya berantakan.

Dan disinilah Kuroko sekarang. di sebuah apartemen yang sederhana. Dengan perlahan Kuroko masuk ke dalam apartemen itu. Masuk ke dalam lift yang akan mengantarnya ke lantai lima. Hanya butuh waktu satu menit, lift itu berdenting dan terbuka. Kuroko segera keluar. Dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya, Ia melangkah menuju pintu bernomor 201. Ia mengambil kunci yang sudah diberikan petugas apartement padanya. Memasukan kunci itu pada lubang pint, dan viola!

Kuroko Tetsuya mematung di tempat saat pintu itu sukses terbuka dengan lebar. Manik aquamarine miliknya membulat, tak percaya dengan apa yang Ia lihat saat ini. Seorang pemuda berambut merah, yang setengah telanjang berada di kamar apartemen yang baru Ia sewa. Pemuda itu hanya memakai celana boxernya, sambil memainkan joystick di tangannya. Yang paling membuat Kuroko kaget adalah, kamar ini sangat kotor. Sampah bekas makanan ringan, pakaian, dan juga buku tersebar dimana-mana. Ia seperti kembali ke dalam rumah orangtuanya.

“Si-siapa kau? Kenapa ada di kamar ini?” Kuroko mendekat ke arah pemuda itu. Mendengar suara orang yang memanggilnya. Sang pemilik surai crimson itu menoleh ke arah Kuroko yang menatapnya tajam.

“Aku Akashi Seijuurou, dan kau?” dengan santainya, pemuda bernama Akashi Seijuurou itu kembali fokus pada layar LCD dan juga joystick di tangannya.

“Aku Kuroko Tetsuya. Mulai hari ini, apartemen ini tempat tinggalku. Kenapa kau ada disini?” dan Akashi kembali menoleh ke arah Kuroko.

“Apa kontrak mu tidak salah, Tetsuya? Aku baru tinggal di sini sejak kemarin.”

 

‘Baru satu hari, tapi kamar ini sudah seperti kapal pecah.’

 

“Aku akan mengecek dulu. Tunggulah sebentar Akashi-kun,” Kuroko hanya mendapat deheman pelan dari Akashi. Karena pemuda bersurai merah itu, kembali sibuk dengan gamenya.

Menghela nafas pelan, sebelum Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor pemilik Apartemen. Di dering kedua, sambungan itu terhubung. Kuroko bisa mendengar suara laki-laki paruh baya di sebrang sana.

“Apa? Kontraknya Double?” Kuroko berteriak keras, ketika sang pemilik Apartemen itu mengatakan hal yang tidak masuk di akal. Hey! Kuroko itu hanya menginginkan apartemen dimana Ia bisa tinggali sendiri.

“Ah, maaf. Ini adalah kesalahan kami. Waktu anda kesini, kamar itu memang kosong.”

“Kalau begitu, tolong segera proses kepindahannya.”

“Tapi semua kamarnya sudah terisi penuh sejak kemarin.”

“Ti-tidak bisa pak!”

“Anda berdua sebaya kan? Bagaimana kalau tinggal bersama dulu untuk sementara waktu?” Kuroko hanya bisa menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi kan? Ini semua sudah terlanjur.

“Baiklah, kutunggu kamarnya dua minggu lagi.” Dan Kuroko langsung menutup panggilan itu. Ia kembali berjalan ke arah Akashi.

“Kontraknya double. Dalam waktu dua minggu, aku akan mencarikan kamar yang mirip. Tolong kerja samanya selama dua minggu ini. Setelah kamarnya ada, kau bisa pindah dari sini.”

“Merepotkan. Tinggal berdua juga tidak masalahkan? Lagi pula kita sesama pria. Sewanya juga bisa lebih murah.” Akashi berdiri, menatap Kuroko yang masih terlihat kesal akibat kejadian ini.

“Tidak bisa! Lihat sampah yang berada di kamar ini. aku tidak bisa tinggal seperti ini. bukannya sombong, tapi aku menyukai kebersihan Akashi-kun.” Kuroko berjalan ke arah sampah. Ia memungutnya, dan membersihkannya dengan cepat. Sementara Akashi hanya memperhatikan Kuroko dalam diam.

Setelah 15 menit, akhirnya kamar itu terlihat bersih. Barang-barang Akashi di simpan di sebelah kiri. Ruangan yang cukup luas itu kini terbagi. Sebelah kanannya, menjadi kosong. Kuroko mengambil sebuah selotip berwarna merah yang ada di tasnya. Ia kembali berjalan, ke ujung.

“Ini untuk sementara Akashi-kun.” Kuroko menempelkan selotip itu. Sehingga kamar itu sudah benar-benar terbagi menjadi dua.

“Ini adalah wilayahku, dan itu adalah wilayahmu. Akashi-kun tidak bisa masuk satu mili pun ke dalam wilayahku. Aturannya sederhana. Jangan ikut campur, dan menyentuh barang orang lain. Mengerti?” dan ucapan panjang lebar Kuroko, hanya di sambut deheman Akashi. Karena pemuda itu kembali melanjutkan gamenya yang tertunda.

“D-dengarkan aku!” Kuroko berteriak frustasi. Demi Tuhan! Ia tidak bisa tinggal dengan Akashi seperti ini!

“Hn, Aku mendengarmu Tetsuya.” Lelah kembali berdebat dengan Akashi. Kuroko memilih untuk keluar dari kamarnya. Ia akan membereskan tempat tinggal barunya. Barang-barangnya masih berada di bawah. Nekoya* membantu Kuroko untuk mengangkat semua barangnya ke dalam apartemen barunya itu.

oOo

Langit malam kota Tokyo terlihat sangat indah sekarang. bulan dan bintang menghiasi langit. Sudah di pastikan, jika semua orang akan bahagia jika menikmati malam ini. Berbeda dengan pemuda bersurai biru yang terlihat kesal sekarang. Kuroko Tetsuya, menatap makan malamnya dengan kecewa. Bagaimana tidak? Ia memasak ikan salmon, dan ternyata ikan itu gosong karena terlalu lama di biarkan. Kuroko memang tidak bisa memasak. Memasakan bukanlah keahliannya.

“Hah,,” Menghela nafas pelan, sebelum mengambil sumpitnya. Dengan terpaksa memasukan ikan gosong itu ke dalam mulutnya.

‘Tidak enak.’

Manik aquamarinenya menatap ke arah Akashi yang masih setengah telanjang itu. Pemuda berambut crimson itu asyik memakan cup ramen yang terlihat menggiurkan di matanya. Merasa di perhatikan, Akashi menoleh ke arah Kuroko yang masih menatapnya.

“Mau?” Jujur saja, jika Kuroko ingin sekali mengangguk da mengatakan ya. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk itu.

“T-tidak.” Menunduk lesu, dan kembali memakan masakan gosongnya itu. Sementara Akashi? Pemuda bersurai crimson itu tersenyum ke arahnya. Ah, Kuroko Tetsuya benar-benar menarik.

oOo

Suara berisik itu terdengar. Membuat Kuroko melengguh dalam tidurnya, dan mencoba membuka matanya karena mendengar kegaduhan yang di dengarnya. Hanya butuh beberapa detik, akhirnya manik aquamarine itu terbuka. Retinanya, menangkap sosok Akashi Seijuurou yang sudah memakai seragam sekolah. Pemuda bersurai crimson itu, memakai blazernya. Hingga nampak sangat menawan. Bahkan Kuroko harus terpaku beberapa saat, ketika memandangi tubuh Akashi.

“Tetsuya? Kau sudah bangun?” Akashi menoleh ke arah Kuroko yang masih memandanginya. Sial! Ia tertangkap basah memandangi Akashi.

“Hm, k-kenapa pagi sekali sudah bangun?” Kuroko memutuskan untuk bangun. Sekarang Ia duduk di ranjangnya, dan kembali memandang Akashi yang sudah membawa tasnya.

“Aku harus latihan pagi.”

“Eh? Bu-bukannya hari ini upacara masuk sekolahkan?”

“Ya, tapi aku harus tetap latihan pagi. Setelah itu, aku akan ikut upacara. Aku duluan Tetsuya. Tolong kunci pintunya,” Dan Kuroko hanya bisa terdiam ketika Akashi mengacak surai birunya sebelum melangkah pergi keluar dari pintu apartemennya. Sial! sentuhan Akashi membuatnya mati kutu. Jantungnya bahkan berdebar ketika merasakan sentuhan itu.

Setelah itu, Kuroko memutuskan untuk segera bersiap. Hari ini adalah hari penerimaan murid baru. Kuroko tidak boleh terlambat di hari pertamanya masuk sekolah.

Hanya butuh waktu 30 menit, Kuroko selesai untuk bersiap. Ia melirik ke arah jam weker yang berada di nakas. Manik aquamarinenya membulat menatap jam itu. Pukul tujuh! Kuroko bisa telat jika tidak segera pergi.

“Ah, Aku bisa telat!” dan dengan kecepatan kilat, Kuroko keluar dari apartementnya. Mengunci pintu apartemennya dengan tergesa-gesa. Dan segera melesat pergi. Ia harus berlari kencang untuk sampai stasiun.

oOo

Kuroko Tetsuya duduk di ujung dekat jendela di kelas barunya. Dan Ia harus kembali mengalami kesialan, karena yang duduk di sampingnya adalah Akashi Seijuurou. Ia harus satu kelas dengan Akashi sekarang. Cobaan apa lagi yang Tuhan berikan padanya. Tidak cukupkah setelah membuat Akashi satu apartemen dengannya?

Pemuda bersurai crimson itu kini tertidur dengan lelap di bangkunya. Mungkin Ia kelelahan akibat latihan paginya. Akashi memang seorang pemain basket. Ia masuk ke SMA Teiko karena prestasi basketnya. Kuroko dapat melihat pemuda itu terlelap dengan nyenyak. Jika seperti ini Akashi terlihat seperti anak kecil. Benar-benar lucu. Kuroko bahkan tidak bosan menopang pipinya, untuk menatap Akashi yang terlelap itu.

“Kuroko Tetsuya?” Suara pria paruh baya itu menyentak lamunan Kuroko yang asyik memandang Akashi. Dengan refleks Ia berdiri dan menatap pria paruh baya yang berada di depan kelas dengan bingung.

“Aku memintamu untuk melakukan pidato sebagai wakil murid baru. Apa kau bersedia?”

“Baiklah sensei.” Dan Kuroko tersenyum menyanggupi permintaan Sensei barunya itu.

“Baiklah, semuanya kita ke aula untuk penyambutan murid baru.” Dan perintah dari sang Sensei itu segera di turuti oleh semua siswa yang mulai keluar dari kelas, menuju aula penyambutan.

“Akashi-kun, bangun.” Kuroko mengguncangkan pelan bahu pria itu. Sehingga Akashi mengkerutkan keningnya, dan terlihatlah manik dwi warna yang sejak tadi tertutup. “Kita harus ke aula.”

“Baiklah, ayo Tetsuya.” Dan tanpa menunggu, Akashi berdiri dari duduknya dengan menarik tangan Kuroko menuju aula. Kuroko hanya bisa terdiam, ketika Akashi menariknya. Di luar dugaan, Kuroko bahkan tidak menolak sama sekali ketika Akashi menggandeng tangannya.

oOo

Aula itu sudah di penuhi oleh seluruh siswa yang merupakan murid baru. Sekarang Kuroko berdiri di sebuah podium. Menghadap ke arah seluruh siswa yang mulai memperhatikan Kuroko yang masih terdiam. Manik aquamarinenya menatap Akashi Seijuurou yang duduk tenang di depan, sambil memperhatikannya. Entahlah, Ia merasa sangat senang jika Akashi memperhatikannya seperti itu. Menghela nafas pelan, sebelum memulai pidatonya.

Hanya perlu waktu 10 menit, untuk Kuroko mengutarakan pidatonya. Sebelum pemuda bersurai biru itu menutupnya.

“Karena itu, untuk menjalani kehidupan SMA yang baru. Mari kita berusaha untuk melangkah maju setiap hari.” Dan penutupan dari Kuroko di sambut oleh tepukan yang merah. Membungkuk hormat, sebelum meninggalkan podium, dan kembali ke tempat duduknya berada. Di samping Akashi Seijuurou.

“Pidatomu bagus, Tetsuya.” Akashi tersenyum tipis ke arahnya.

“Terimakasih Akashi-kun.” Dan Kuroko harus menahan kembali debaran jantungnya saat Akashi tersenyum lembut ke arahnya.

 

To Be Continued ^^

*Nekoya: tukang angkat barang

Entahlah, akhir-akhir banyak banget ide yang masuk tentang AkaKuro. Mungkin karena asupan doujinshi AkaKuro yang membuat khayalan saya makin meningkat. 😥

Lanjut apa ngga nih Minna-san? ‘-‘

Mind To Review?

Astia Morichan^^

Advertisements

KyuMin itu memang REAL!! Walau bikin sakit

0

Kerealan KyuMin itu emang nyata. Gue kalo milih OTP itu emang suka real yah ;’) tapi kampretnya bikin nyesek kaya KyuMin. Hahaha. Tapi gue emang dari awal percaya mereka REAL!! Contohnya kaya kemarin di Konser KRY. Errr VCR KRY pas bagian KYUHYUN itu jleb banget. Di sana, Kyuhyun itu seaakan menunjukan keseluruh dunia bahwa KyuMin itu memang pernah ada. Walaupun sekarang harus berpisah karena takdir masing-masing.

Di VCR itu jujur, gue sedih banget. Nyesek tingkat dewa. Gue seakan bisa ngerasain perasaan tersayatnya Kyuhyun saat di tinggal Sungmin. padahal, Gue sama Kyuhyun itu jauh. Tapi mungkin inilah kekuatan dari seorang fans, bisa merasakan idolnya sakit :”)

Di VCR itu, pas bagian KyuHyun. berdentang lagu because of love. Itu adalah lagu Kyuhyun dan Sungmin. lagu yang mengikat mereka berdua dari awal. Udah jelas banget Kyuhyun ingin kasih tau semua orang bahwa SUNGMIN pernah menjadi MILIK seorang CHO KYUHYUN. itu udah membuktikan banget kalo KyuMIn memang REAL sejak AWAL!

Gue kira, tahun 2014 kemarin bakal jadi tahun buat KyuMin. Awal tahun kemarin, Moment KyuMin banyak banget. Eh, taunya tahun 2014 adalah AKHIR dari KYUMIN. Sakit. Nyesek. Gue rasain itu semua! Ketika tau, OTP tercinta emang tidak bisa bersatu karena takdir. Itu emang sakit. Yah, Impian Sungmin emang terwujud bakal nikah sebelum umur 30. Tapi jujur loh, kan gak tau di belakang. KyuMin selalu sembunyiin moment mereka. Siapa tau masih berhubungan sampe sekrang. Haha, tapi gue gak mau terlalu berharap. Udah sakit hati sama Sungmin.

Gue hanya berharap CHO KYUHYUN segera mendapatkan seorang pendamping hidup dengan segera. Agar gue bisa liat bagaimana reaksi dari seorang LEE SUNGMIN ketika tahu KYUHYUN udah jadi milik orang. Itu yang masih gue tunggu tentang akhir dari hubungan KyuMIn. Dimana Kyuhyun menikah, gue bakalan tau bagaimana perasaan Lee Sungmin nantinya. Apa dia emang menganggap Kyuhyun seorang adik. Atau lebih dari itu……..

 

Bokuwa Vampire | Chapter 3| SasuHina

1

Boku Wa Vampire

Rated T

Romance, Fantasy

Song : Boku Wa Vampire – Hey! Say! JUMP

All Chara belong ‘Masashi Kishomoto’ and over all this fict is mine

Warning: OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Sasuke X Hinata

Uchiha Sasuke yang merupakan bungsu dari Uchiha Fugaku – Sang Raja Vampire dunia kegelapan memberinya misi untuk membawa Hyuuga Hinata untuk membawanya kembali ke dunia vampire sesuai dengan perjanjian yang sudah Hiashi buat. Bisakah Sasuke membawanya? Dan menjadikan Hinata makhluk kegelapan seperti dirinya?

Happy Reading!

Enjoy!!

Boku wa vampire koi wa dangerous
Kamitsuki souna kissu ga tomaranai
Boku wa vampire ai no shoudou ga
So burn! Burn! Haretsushi sounanda

Boku wa vampire kimi wa taagetto
Torokeru youna kissu shite ii kai?

oOo

 

Gadis bersurai indigo itu masih terisak pelan. Menyembunyikan wajah cantiknya, pada bantal.

“Hikss, O-oka-san tega sekali, hikss,,” Isakan lirih itu keluar dari mulut Hinata. Sungguh, Hinata masih berpikir bahwa yang Ia alami ini adalah mimpi belaka. Semua ini hanya sebuah delusi tak berguna. Jadi ketika Ia bangun nanti, hidupnya akan kembali seperti semula. Bukan seperti sekarang. Di incar oleh pangeran kegelapan yang orang sebut vampire ketika abad 19. Ini bukanlah era victoria! Sekarang, hal seperti itu tabu. Dan Hinata masih sulit untuk menerima kenyataan. Apalagi sang Ibu yang jelas menyerahkan secara sukarela. Hidupnya benar-benar tidak adil!

“Hikss, pa-padahal aku hanya ingin menikah dengan seorang manusia. Hikss, ke-kenapa harus Sa-sasuke?” Hinata menjambak surai indigonya frustasi. Ia benar-benar bingung dengan keluarga. Kenapa keluarga Hyuuga yang seorang manusia harus terikat perjanjian dengan seorang iblis seperti vampire?

“Aku harap ini semua mimpi, dan besok aku bisa terbangun dari mimpi buruk ini. Yosh, Hinata. Sekarang kau harus tidur dengan cepat. Agar mimpi buruk ini berakhir.” Hinata mulai menutup kedua matanya. Gadis itu hanya menutup matanya saja. Sehingga Ia bisa merasakan kamarnya menjadi sangat sunyi. Bagaikan Ia satu-satu makhluk hidup yang ada di rumah ini.

 

“Ini bukan mimpi, bodoh.” Suara bariton yang Hinata dengar itu menggema. Dengan refleks, Hinata membuka kedua matanya. Dan amethys itu membulat ketika melihat sosok Uchiha Sasuke yang sekarang duduk di sudut ranjangnya.

“Astaga, bahkan sekarang aku beriilusi bahwa Uchiha itu ada di kamarku. Kami-sama, bangunkan aku dari mimpi buruk ini.” masih berharap apa yang dilihatnya itu hanya sebuah ilusi, Hinata kembali menutup matanya lagi. Menarik selimut tebalnya, sampai menutupi puncak kepalanya..

“Lucu sekali. Seorang Hyuuga mencoba untuk tidak menerima kenyataan.” Ucap Sasuke sarkatik, sambil menarik selimut tebal Hinata, dan membuangnya sembarang arah. Hinata memekik kaget, sebelum berteriak ke arah Sasuke.

“Kenapa dalam mimpi pun kau mengangguku, Uchiha?!” Berteriak marah, sambil mengacak surai indigonya. Jika dilihat seperti ini, Hinata benar-benar terlihat sangat kacau.

“Dengar Hinata. Kau sama sekali tidak bermimpi,” Sasuke menarik tubuh gadis itu mendekat. Hinata terduduk beralaskan paha Uchiha Sasuke. Tubuh mereka berhimpit. Sehingga hidung mereka saling bersentuhan. Hinata bahkan bisa merasakan nafas hangat Sasuke yang terasa menggoda untuk Ia hirup detik itu juga.

“Aku akan menjelaskan sesuatu padamu.” Dan otak Hinata seakan di paksa untuk berhenti, saat amethysnya terkunci pada onyx sehitam malam milik Sasuke. Sial! ini bukanlah sebuah ilusi! Sasuke yang ada di depannya ini nyata. Jika Ia memang bermimpi, tentu saja Hinata tidak akan merasakan hangat tubuh Sasuke yang terasa begitu nyata baginya.

“K-kau, k-kenapa bisa ma-masuk kamarku? A-aku sudah menguncinya.” Hinata tergagap. Keberaniannya seolah sirna saat menyadari bagaimana Sasuke bisa masuk ke dalam kamarnya, yang sudah jelas Ia kunci dengan rapat. Sekarang Hinata hanya bisa menunduk, takut menatap Sasuke yang sangat mengintimidasinya.

“Apa kau lupa dengan siapa kau berhadapan Hinata? Aku adalah makluk kegelapan yang bisa melakukan apapun semauku. Masuk ke dalam kamarmu yang terkunci, itu adalah hal yang mudah. Tinggal menjentikan jariku, dan aku bisa berada di sini tanpa membuka pintu itu.” Sasuke menjelaskan, sambil mengusap pipi Hinata pelan.

“K-kau makhluk jahat. Pe-pergi dari sini Uchiha. A-atau aku akan mengeluarkan kalungku agar membakarmu.” Sekarang Hinata benar-benar takut setengah mati. Ia sudah tidak bisa melawan Sasuke lagi. Ia bahkan sudah tidak yakin jimat pemberian dari neneknya akan berfungsi saat ini.

“Kalung mu itu tidak akan berguna Hyuuga,” Sasuke tersenyum meremehkan. Ia lalu menarik kalung berbentuk salib yang terpasang di leher jenjang gadis itu. Sehingga kalung itu sudah berada dalam genggamannya.

“Kau lihat? Ini sama sekali tidak melukaiku. Kalung mu hanya berguna saat ada sinar matahari.” Dan Hinata hanya bisa pasrah. Menunduk takut. Satu-satunya harapannya telah sirna. Kalung itu tidak berfungsi. Hinata memejamkan matanya. Pasrah. Ia sudah rela jika Sasuke menggigitnya saat ini. Hidup Hinata benar-benar terasa tidak adil. Ia hanya bisa menunggu untuk segera di bunuh.

“Kau takut padaku, Hinata?” Suara Sasuke melembut. Hinata yang mendengarnya membuka matanya dan menatap Sasuke. Dan pertanyaan itu di sambut oleh anggukan kecil.

“Tentu saja, K-kau akan mengigitku.”

“Apa kau benar-benar berpikir seperti itu?”

“T-tentu saja. Kau adalah vampire penghisap darah manusia. Asal kau tahu saja. Darahku ini pahit Uchiha, tidak manis. J-jadi lebih baik kau mencari mangsa yang lebih enak dariku saja.” Dan ucapan dari Hinata membuat Sasuke tertawa lepas. Gadis ini benar-benar polos sekali.

“Hahaha,,” Tawa Sasuke menggema di kamarnya. Hinata yang melihat Sasuke tertawa seperti itu hanya bisa terpaku beberapa saat. Saat tertawa, Bungsu Uchiha itu terlihat bagaikan malaikat dimatanya. Senyumnya benar-benar menawan. Hinata bahkan tidak berkedip memandangi wajah Sasuke yang masih tertawa itu.

“Konyol, Hyuuga,” Masih tersenyum sebelum Sasuke kembali menatap Hinata dan berbisik pelan di telinganya.

“Asal kau tahu saja, Hinata. Bau darahmu itu benar-benar menggodaku. Darahmu itu manis, berbeda dengan makhluk lainnya. Aku benar-benar menginginkanmu.” Sial! Hinata yakin, wajahnya pasti sudah memerah seperti tomat sekarang. Jantung sudah berdetak tak karuan saat mendengar bisikan dari Sasuke. Ini benar-benar aneh!

“A-aku membencimu U-uchiha,”

“Dan akan ku pastikan kau menyukaiku Hyuuga.” Dan ucapan dari Sasuke di tutup, oleh ciuman lembut yang pemuda itu berikan di pipinya. Membuat wajah Hinata semakin memanas saat ini.

“I-itu tidak akan terjadi.” Hinata menundukan wajahnya. Ia sungguh malu sekarang. Hinata tidak ingin Sasuke menyadari bahwa Ia merona karena perlakuan lembut Sasuke.

“Terserah. Lebih baik kau ikut denganku. Aku akan menceritakan semua yang ingin kau tahu.” Manik amethys itu membulat penuh antusias. Inilah yang Hinata tunggu. Ia benar-benar penasaran kenapa Ia harus di incar oleh Sasuke.

“Bisakah kita berbicara disini saja? A-aku takut. Jika kau membawaku keluar, kau akan memangsaku. Dan mayatku tidak akan bisa di temukan. T-tapi jika kau memangsaku disini, setidaknya Oka-san akan menemukanku.” Dan Uchiha Sasuke kembali tertawa mendengar pernyataan konyol dari Hinata. Gadis itu benar-benar berfikiran negatif terhadap dirinya. Ini benar-benar menarik.

“Jadi kau ingin aku memakanmu sekarang?” dan pertanyaan itu di sambut oleh gelengan cepat Hinata. Sasuke benar-benar gemas pada gadis ini. Sasuke mengacak surai indigo Hinata, sehingga membuat gadis itu merenggut kesal, sambil merapikan kembali rambutnya.

“Tenanglah, Hinata. Aku tidak akan memakanmu. Jadi apa yang ingin kau ketahui?” dan manik amethys itu kembali menatap Sasuke antusias. Tersenyum senang, karena Sasuke mau menjelaskan pertanyaan yang selama ini ada di benaknya.

“Kenapa kau mengincarku, Uchiha?”

“Lebih baik kau memanggilku Sasuke,” dan permintaan dari Sasuke membuat gadis itu kembali merona, sebelum mengangguk pelan.

“Uhm, Sasuke-kun?” dan Sasuke kembali menunjukan senyum tulusnya pada Hinata. Hinata bahkan terpaku beberapa saat. Sial! senyum Sasuke membawa dampak buruk bagi kesehatan jantungnya.

“Itu misi yang di berikan ayahku. Membawamu kembali sesuai perjanjian.” Hinata tidak ingin menyela. Ia hanya ingin semua yang Ia tanyakan dapat terjawab.

“Lalu kenapa Ibuku mengenalmu?”

“Karena Ibumu ada saat ayahmu menjual jiwamu padanya.” Dan Hinata hanya bisa menunduk sedih. Apakah Ibunya setega itu sehingga membiarkannya di bawa oleh Iblis?

“Ibumu menyayangimu Hinata. Begitu pula ayahmu, sehingga Ia rela menukar semuanya.”

“J-jadi aku adalah seorang vampire selama ini? jadi kau akan membawaku keduniaku yang semestinya?”

“Bukan. Kau adalah manusia Hinata. Hanya saja, dua minggu lagi. Tepat saat ulang tahunmu yang ke 18. Kau akan ku ubah menjadi pendamping hidupku.” Dan nyawa Hinata seakan di renggut paksa saat itu juga. Tubuhnya bergetar hebat, bahkan air matanya sudah terlihat di sudut matanya.

“A-aku a-akan menjadi v-vampire sepertimu?” dan pertanyaan itu, hanya Sasuke jawab dengan anggukan pelan.

“T-tidak. a-aku tidak mau menjadi penghisap darah sepertimu Sasuke. A-aku tidak mau,” Hinata berteriak, sambil beringsut menjauh dari Sasuke yang sejak tadi memeluknya.

“Itu takdirmu Hyuuga Hinata. Kau tidak bisa menolaknya.” Sasuke kembali menarik tubuh Hinata yang bergetar itu ke dalam pelukannya. Gadis itu menangis.

“Hiks,, O-oba-san bilang, a-aku bisa m-memilih,” Isakan lirih itu terdengar menyakitkan bagi Sasuke. Yang dapat Sasuke lakukan hanyalah memeluk Hinata agar gadis itu bisa menerima takdirnya.

“Terima takdirmu, menjadi pendampingku Hinata.” Sasuke mengelus lembut rambut Hinata. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Kepalanya bahkan sudah berada di ceruk leher Hinata. Wangi lavender yang menguar dari tubuh Hinata benar-benar menggiurkan. Tanpa Sasuke sadari, matanya sudah berubah menjadi berwarna merah. Taring yang berada di sudut bibirnya bahkan sudah terlihat memanjang, dan siap menancapkan taring itu pada leher sang Hyuuga. Sasuke benar-benar sudah menjadi pemangsa saat ini. sial! tubuhnya sulit di kendalikan.

“Terimakasih Sasuke-kun, kau sudah menjelaskannya.” Hinata menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sasuke. Ia tidak menyadari perubahan dari pria yang sedang memeluknya ini.

“Sa-sasuke?” dan panggilan lembut dari Hinata kembali menyadarkannya. Dengan cepat Sasuke mendorong tubuh Hinata menjauh. Perubahannya masih terlihat jelas. Matanya merah semerah darah, dan juga taringnya semakin memanjang. Hinata yang melihat perubahan dari Sasuke terdiam kaku. Tubuhnya tidak bisa di gerakan. Ia ingin lari, tapi tubuhnya sama sekali tidak menuruti perintah dari otaknya. Ia terlalu takut melihat Sasuke yang seperti ini. Sasuke akan membunuhnya sekarang. Ia belum siap. Hinata masih ingin hidup!

“PERGI HINATA! AKU TIDAK BISA MENAHANNYA LEBIH LAMA. CEPAT KELUAR SEBELUM AKU MENYERANGMU!!” Sasuke berteriak dengan keras. Hinata yang mendengarnya bahkan tersentak dan mengangguk tanda setuju dengan permintaan dari Sasuke.

“S-semoga kau baik-baik saja Sasuke-kun.” Dan Hinata dengan ajaibnya bisa menggerakan tubuhnya. Ia berjalan ke arah pintu keluar kamarnya. Meninggalkan Sasuke, yang sekarang mengerang kesakitan.

oOo

 

Hinata berlari ketakutan. Ia berlari tak karuan saat ini. Ia benar-benar tidak mengenali ruangan gelap ini. Disini, sama sekali tidak ada pencahayaan. Hinata takut. Apalagi saat sosok Uchiha Sasuke yang mengejarnya. Mata merahnya yang terlihat kelaparan, dan juga taring di sudut bibirnya membuat Sasuke tampak menyeramkan. Sasuke berniat untuk membunuh Hinata sekarang. Hinata lelah terus berlari dari Sasuke sejak tadi. Kakinya sudah lemas.

Brukk

Hinata tersungkur. Gadis itu terjatuh. Ia meringis kesakitan. Dapat Hinata lihat lututnya terlukan, dan darah segar keluar dari luka itu. Sasuke yang mencium aroma darah dari Hinata segera mendekat dengan cepat. Sehingga Bungsu Uchiha itu sudah berada di depannya. Memeluknya dengan sangat erat. Ia menyelusupkan kepalanya pada leher Hinata. Hinata memejamkan matanya. Ia sudah tidak bisa berkutik lagi saat ini.

“Kau milikku, Hyuuga Hinata.” Sasuke berbisik pelan di telinganya, sebelum menancapkan taringnya yang tajam pada leher Hinata. Hinata berteriak kesakitan saat itu juga. Penderitaan saat Sasuke menggigitnya benar-benar menyakitkan. Hinata sudah bisa merasakan jika nyawanya akan segera di tarik oleh malaikat pencabut nyawa.

.

.

Hinata terbangun dari mimpi buruknya. Peluh sudah membasahi pelipisnya saat ini. Gadis itu berkeringat dingin dalam tidurnya. Baru kali ini, Hinata merasakan mimpi buruk. Mimpi itu benar-benar terasa sangat nyata sekali. Ia pikir, dirinya sudah mati sekarang. Untung saja, yang tadi itu adalah mimpi.

“Hah,, hah,,” Nafas Hinata terputus. Ia pun mengambil gelas berisi air putih yang selalu Hinata simpan di atas nakas. Meminumnya dengan terburu-buru sampai tandas. Air segar itu mengalir ke dalam kerongkongannya. Hinata merasa tenang sekarang. Walaupun bayangan dari mimpi buruk itu masih terngiang di kepalanya.

Hinata menoleh kearah jam weker berbentuk Hello Kitty yang berada di sampingnya. Menghela nafas pelan, sebelum menghembuskannya kembali.

“Masih pukul tiga. Sebaiknya aku segera tidur. Besok akan menjadi hari yang melelahkan. Aku akan menghindari Sasuke.” Dan Hinata kembali menarik selimut tebalnya sampai menutupi wajahnya. Segera memejamkan matanya, berharap Ia segera kembali memasuki alam bawah sadarnya.

To Be Continued ^^

Terimakasih karena sudah mereview fanfict gaje ini. Tanpa dukungan dari kalian, mungkin ff ini tak pernah ada ^^

Maaf yah, lama ^^

So Mind To Review? ^^

Astia Morichan

I Love You ! NaruHina Fanfict|

1

 

I Love You!

Rated M

All Chara Belong Masashi Kishimoto Sensei

Romance, Drama, School Life

Warning! OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Pair : Naruto X Hinata X Menma

Pertemuan pertama Hinata dengan Menma cukup menyebalkan. Pria itu merebut ciumannya. Tapi saat Ia bertemu lagi dengan Menma. Pria itu sama sekali tidak mengingat kejadian itu. Lalu ketika Hinata sadar, pria yang menciumnya itu memiliki manik berwarna biru. Berbeda dengan Menma, walaupun wajah mereka sama. Jadi siapa itu Naruto?

a/n: Remake dari komik Moekare karya Ikeyamada Go.

Disini Naruto sama Menma warna rambutnya sama, Cuma beda warna matanya aja. Bayangin aja deh Menma itu kembar identik Naruto ^^

Yo, EnJOY!

Happy Reading!

oOo

 

Gadis bersurai indigo yang masih memakai seragam SMP itu berjalan pelan menelusuri area stasiun. Karena sudah jam pulang, suasana stasiun ini mulai ramai. Hyuuga Hinata berjalan sambil menenteng bukunya. Ia adalah salah satu siswi di SMP Oka yang merupakan sekolah khusus putri. Hinata sudah kelas 3 sekarang, jadi Ia harus giat belajar untuk masuk ke SMA favorit yang ada di Tokyo. Hyuuga Hinata yang merupakan putri sulung dari Hyuuga Hiashi itu memang sangat sederhana. Ia sama sekali tidak ingin menunjukan kekayaan keluarganya. Seperti sekarang, Ia lebih memilih naik shinkansen dari pada di jemput oleh supir pribadinya.

“Tolong, kembalikan uangku!” Teriak seorang anak kecil yang memakai seragam hitam. Sudah bisa dilihat, jika anak itu adalah adik kelasnya yang masih kelas satu. Anak berambut coklat itu mencoba menarik tas ranselnya, yang di tarik oleh tiga orang pria jangkung yang memakai seragam SMA.

“Diamlah bocah. Kau hanya perlu serahkan uangnya.” Pria berambut hitam itu semakin menarik tas si bocah yang kini sudah menangis.

“Kembalikan! Itu untuk membayar uang lesku,” Tidak ingin kalah, si bocah semakin menarik tas miliknya. Hinata yang melihatnya tidak bisa tinggal diam. Dengan refleks, gadis itu semakin mendekat ke arah bocah itu.

Berteriak dengan lantang, sambil menunjuk ke arah tiga pria itu.

“Kembalikan uang anak ini!”

“Siapa kau? Jangan mengganggu kami.” Sang pria berambut coklat yang memakai anting di telinganya melotot ke arah Hinata. Jujur saja, tatapannya sangat menakutkan. Hinata bahkan refleks memundurkan kakinya yang sudah gemetaran.

“Apa kau mau menggantikan uang bocah ini, hah?” si pria berambut orange menarik seragam Hinata. Sehingga gadis itu tertarik ke arahnya.

“Ternyata kau cukup menarik juga. Kau bisa menggantikannya,” dan manik amethys Hinata membulat mendengarnya. Apa? Menggantikannya?

“Kau benar, dia cukup cantik. Ayo bawa.” Dan sang pria berambut coklat itu menggendong Hinata di bahunya. Gadis itu menjerit, dan memberontak dalam gendongan pria itu.

 

Braakkk

Seorang pria berambut pirang dengan tiga coretan di kedua pipinya dan juga bermata biru datang tak di undang. Pria itu menendang semua pria yang menarik Hinata dalam sekali serang. Sehingga gadis itu sudah berada di dalam pelukannya dalam sekejap.

“Oi, kau cari gara-gara!” Si pria berambut orange yang sudah tersungkur itu berteriak marah menatap pria berambut pirang itu.

“Maaf, kakiku kepeleset.” Menyeringai pelan, sebelum menggendong Hinata dan membawanya pergi menjauh dari kerumunan itu. Hinata hanya bisa diam. Terpesona dengan semua kelakuan pria itu. Ah, sepertinya pria itu adalah malaikat yang dikirim Kami-sama untuknya.

Setelah cukup jauh, pria berambut pirang itu menurunkannya. Mata birunya yang cerah, seakan menghipnotis Hinata untuk menatapnya lama.

“Dasar, pria lemah seperti itu mencoba menculik seorang gadis, yang benar saja?” Pria itu mendecih tak suka, lalu menatap Hinata dengan tajam.

“A-ano A-arigatou gozaimasu,” Hinata membungkukkan tubuhnya. Berterimakasih atas pertolongan pria itu.

“Tidak perlu berterimakasih. Bagaimana kalau memberiku imbalan?” pria itu menyeringai ke arahnya. Sehingga Hinata hanya bisa mengernyit heran menatapnya.

“A-apa kau mau ku traktir minum?” pria berambut pirang itu semakin memperlihatkan seringaian tajamnya. Sebelum menarik Hinata semakin mendekat, dan-

Benda bertekstur lembut yang di ketahui milik pria berambut pirang itu menyentuh bibirnya dengan cepat. Pria itu bahkan melumat bibir Hinata dengan kasar. Menghisapnya, lalu menggigitnya pelan. Sehingga dengan refleks gadis itu membuka mulutnya dan membiarkan pria itu mengekspolarasi rongga mulutnya. Membelit lidah Hinata dengan miliknya.

“Nghh,,” Erangan tertahan itu keluar dari mulutnya. Kepala Hinata seakan pening saat menyadari dengan jelas bahwa pria itu menciumnya. Impian ciuman pertama yang seharusnya di lakukan oleh orang yang di sukainya kini harus sirna seketika.

“Bibirmu manis,” dan pemuda bersurai pirang itu melepaskan tautan bibirnya. “Sebenarnya aku ingin lebih. Tapi, aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Jadi cepatlah besar, supaya payudaramu semakin besar ayam kecil.” dan pemuda berambut pirang itu meninggalkan Hinata dengan cepat yang kaget atas pernyataannya.

“Kyaaa,, Laki-laki mesum,,” dan setelahnya Hinata berteriak kesal, sambil mengumpat kelakuan pria yang sebelumnya Ia anggap pangeran berkuda putih miliknya.

 

oOo

Hari ini adalah hari minggu. Hinata di ajak oleh Tenten dan Ino untuk menghadiri acara gokon. Dan gadis itu pun menyetujuinya dengan cepat. Ia tidak ingin di rumah sendirian, dan memikirkan kesialannya bertemu laki-laki berambut pirang yang menciumnya seenaknya kemarin. Dan disinilah Ia sekarang. Di depan tempat karaoke, yang berada di samping Tokyo Mall.

“Hah, lama sekali sih,” Ino menggerutu kesal saat menyadari pasangan gokon mereka belum juga datang.

Dan setelah gerutuan Ino selesai, dua orang pria berlari ke arah mereka.

“Ino, maaf kami terlambat.” Seorang pria berkulit pucat, dan juga seorang pria yang memiliki alis yang cukup tebal itu tersenyum penuh rasa bersalah.

“E-eh, tidak apa Sai-kun.” Kali ini Ino tersenyum malu ke arah Sai, yang merupakan pria yang Ia sukai sejak tiga bulan lalu.

“I-ini, Hyuuga Hinata, dan yang ini adalah Tenten.” Ino memperkenalkan Hinata dan Tenten pada Sai dan juga Lee. Mereka saling menjabat tangan satu sama lain.

“Ah, perkenalkan. Aku Shimura Sai, dan ini adalah Rock Lee. Kami dari Konoha Gakuen. Oh iya, temanku satu lagi sebentar lagi datang.” Sai menggaruk kepalanya pelan, sebelum Ia menoleh ke arah belakang, dimana seorang pria berambut pirang mendekat ke arahnya.

“Oi, Menma! Kenapa lama sekali?” Lee berteriak, dan pria yang di sebut Menma itu mencibir pelan.

“Aku sudah bilang kan? Kalau aku sama sekali tidak tertarik dengan acara seperti ini.” Pria berambut pirang bernama Menma itu kini memakai kaos polos, dan juga celana jeans simpel. Sehingga membuatnya tampak sangat menawan. Tenten dan Ino yang melihatnya pun tampak terpesona dengan kehadiran Menma. Beda dengan Hinata yang kini membulatkan matanya, dan menatap sangar pemuda itu. Ia lalu mendekat, dan menunjuk wajah Menma dengan kesal.

“Kau! Kau yang kemarin!” Menma mengernyit heran, menatap Hinata yang masih terlihat marah di depannya. Pemuda itu nampak berpikir dengan keras saat ini, mencoba mengingat siapa gadis yang berada di depannya.

“Kau siapa? Apa aku mengenalmu?” dan manik amethys itu semakin membulat. Ia kesal sekarang. Apa pemuda ini melupakannya dengan cepat?

“Jadi Hinata sudah kenal Menma ya?” Lee bertanya pada Sai, yang di balas dengan gelengan seolah berkata ‘entahlah’

“Kau bilang lupa padaku? Ke-kemarin kau menciumku seenaknya di stasiun. Dasar me-mesum!” dan Hinata berteriak kesal pada Menma, menumpahkan kekesalannya sejak kemarin pada pria itu.

“Eh? Ternyata murid teladan seperti Menma bisa seperti itu ya? Aku kira Menma tidak suka wanita.” Dan Sai kembali bersuara di sambut dengan anggukan antusias dari Lee.

“Cerewet. Aku akan sudah bilang tidak kenal gadis ini.” Menma berteriak, seolah menolak tuduhan dari Hinata.

“Hinata sepertinya kau salah orang. Namikaze Menma adalah murid teladan. Dia juga belum pernah terlihat menggandeng seorang wanita. Orang ini terlalu serius. Kami saja harus memaksanya supaya ikut hari ini.” dan penjelasan dari Sai membuat tubuh gadis itu membatu seketika. Hinata masih menatap Menma dengan seksama saat ini.

‘Jadi aku salah orang yah? Wajahnya memang sama. T-tapi kalau di perhatikan warna matanya berbeda. Mata pria yang ada di hadapanku berwarna violet. Sedangkan yang menciumku kemarin berwarna biru cerah.’

“Ma-maafkan aku karena salah orang.” Dan Hinata membungkuk meminta maaf, atas tuduhannya pada Menma.

To Be Continued

Yo, kalau di kasih tau pairing akhirnya jadi gak asik kan yah. Wkwk, tapi kalau yang udah tau komiknya, pasti tau endingnya berakhir dengan siapa. Entahlah, aku suka banget sama komik ini, jadi deh aku buat FF versi pair NaruHinaMenma.

Jadi lanjut apa ngga?

Mind To Review Minna-san?

astiamorichan^^

 

You’re Mine Tetsuya !! Chap 3 | Yaoi | AkaKuro Fanfict

0

You’re Mine Tetsuya !!

M for saved

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

Romance, Drama

Waning: Typo, OOC, Yaoi dll

a/n: Mungkin rating akan berubah-ubah sesuai dengan imajinasi tingkat tinggi saya. Ganti rate, buat aman ._.v bayangin aja ini sebelum vorpal swords di bentuk.

Kuroko tahu Ucapan Akashi itu mutlak. Tapi Ia tak mengerti dengan perintah Akashi yang menyuruhnya untuk pindah ke SMA Rakuzan dan meninggalkan Seirin. Lalu keadaan dimana Akashi menciumnya sepihak. Hey! Kuroko itu normal kan? Dan hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

EnJOY!

Happy Reading

 

oOo

 

Manik aquamarine itu membulat tak percaya ketika mendengar ucapan yang keluar dari pemuda pemilik manik heterecome yang berdiri di hadapannya. Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini tampak kaget.

“A-apa?” Dengan tergagap pemuda bersurai biru itu- Kuroko Tetsuya bertanya lagi. Menatap bingung Akashi Seijuurou yang sekarang masih memenjarakan tubuh mungilnya dengan lengannya. Punggung Kuroko sudah menabrak tepian mobil milik Akashi. Semua orang yang ada di sana bahkan banyak yang menatap mereka. Terutama kaum hawa, yang tak hentinya menatap ketampanan dari Akashi Seijuurou. Seorang Kapten dari Rakuzan datang ke SMA Seirin itu adalah hal yang langka bukan?

“Aku akan pindah ke Seirin. Hari ini juga.” Akashi memamerkan senyumannya- ah bukan seringaian yang selalu di tunjukan pada Kuroko, sebelum pemuda bersurai merah itu berbisik pelan di telinganya. Bahkan Kuroko harus menahan nafasnya, ketika hembusaan nafas hangat Akashi menerpa lehernya. Jantungnya benar-benar sudah berdetak tak karuan sekarang, ia ingin lari sekarang, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak, ketika Akashi semakin merapatkan tubuhnya.

Kuroko menelan salivanya gugup. Dengan perlahan Ia mendongkakan kepalanya, untuk menatap Akashi yang masih menatapnya intens. Manik aquamarine itu sekarang terhipnotis dengan manik heterocome milik Akashi. Apa yang ada di kepalanya, seakan hilang seketika saat menatap mata Akashi.

 

“Jadi Tetsuya, ayo kita masuk ke kelas.” Akashi masih tersenyum, menatap Kuroko yang masih terdiam.

 

“T-tunggu Akashi-kun. Apa kau benar-benar serius?” Kuroko kembali bertanya dengan wajah datarnya. Sepertinya, kesadaran pemuda bersurai biru itu sudah kembali.

“Hn, aku serius Tetsuya.”

“Akashi-kun, sebenarnya apa maumu? Kenapa kau harus pindah ke sini?” Kuroko dapat melihat Akashi menyunggingkan senyumnya, saat menatapnya. Akashi mendekatkan wajahnya, hingga jarak antara mereka semakin menipis. Aroma mint yang menguar dari tubuh Akashi, sekarang berbaur dengan aroma vanilla milik Kuroko. Entahlah, Kuroko bahkan menghirup aroma itu dengan cepat. Apalagi aroma tubuh dari Akashi yang memabukkan.

“Aku menginginkanmu, Tetsuya,” Alis Kuroko mengernyit heran, mendengar ucapan dari Akashi. Apa pendengarannya sekarang sedang bermasalah? Akashi Seijuurou menginginkannya? Hey! Itu tidak masuk akal kan? Tolong katakan pada Kuroko kalau ini hanya salah dengar.

“Kau gila Akashi-kun.” Kuroko menatap Akashi tajam. Mencoba mencari tahu, bahwa sang pemilik manik heterocome yang ada di hadapannya ini tengah berbohong.

“Ya, aku gila karna menginginkanmu Tetsuya.” Kuroko mendorong tubuh Akashi, agar menjauh. Dan dia berhasil. Tubuh Akashi terdorong beberapa senti. Kuroko menarik nafasnya pelan, sebelum menatap kembali Akashi yang tersenyum penuh arti ke arahnya.

“Akashi-kun, kau benar-benar gila. Aku sama sekali tidak mengerti dengan keinginanmu itu. Jangan main-main Akashi-kun. Jika ayahmu tahu kau pindah ke sekolahku, kau akan di hukum. Kau harus pergi Akashi-kun. Sebentar lagi bel masuk. Kau harus tetap sekolah di Rakuzan.” Baru kali ini, Kuroko berbicara panjang lebar seperti ini pada Akashi. Sungguh, Kuroko hanya ingin menyadarkan keinginan aneh dari Akashi. Kuroko tidak bisa menjamin, jika ayah dari Akashi tahu bahwa anaknya pindah ke SMA baru seperti Seirin. Ayah Akashi itu kejam. Kuroko hanya tidak ingin, Akashi di hukum oleh ayahnya. Ketika Akashi kalah dalam pertandingan winter cup saja, Ayahnya menghukumnya dan memarahinya dengan hukum mutlak dari keluarga Akashi. Tentu saja, keluarga Akashi selalu menang. Tidak ada kata ‘kalah’ dalam kamus mereka.

“Tidak sebelum kau menuruti keinginanku, Tetsuya.” Dan alis Kuroko mengernyit heran. Kenapa sekarang Ia harus menuruti Akashi?

“Akashi-kun, aku tidak akan menuruti semua keinginan gila mu itu. Lebih baik kau segera ke sekolahmu.”

“Kalau begitu aku akan tetap di Seirin. Bagaimana menurutmu Tetsuya?” Kuroko menghela nafas pelan. Ia lelah, tidak ingin mengubris keinginan Akashi. Lagi pula kenapa ia harus menjadi milik pemuda itu? Akashi bukan Gay kan? Lagi pula Kuroko masih menyukai perempuan, walaupun itu patut untuk di pertanyakan.

“Baik, aku akan menuruti semua kemauanmu Akashi-kun. Dan sekarang kau bisa pergi.” Kuroko mendorong tubuh Akashi, sehingga tubuh pemuda berambut merah itu menjauh beberapa senti darinya.

“Keputusan yang tepat, Tetsuya.” Dan Akashi kembali memamerkan senyum mengerikan miliknya. membuat Kuroko sedikit bergidik ngeri melihatnya. Sepertinya keputusan menerima tawaran dari Akashi itu adalah hal yang buruk.

‘Kau masuk dalam perangkapku Tetsuya.’

“Kuroko, kenapa kau tidak masuk?” Suara berat milik Kagami Taiga membuat Kuroko dan Akashi menoleh ke arahnya. Kuroko yang melihat Kagami bagaikan dewa penyelamat itu tersenyum senang. Sedangkan Akashi mendecih tak suka ketika pemuda jangkung itu mendekat ke arah mereka. “Akashi kenapa kau disini?”

“Bukan urusanmu.” Akashi menatap tajam Kagami. Sementara Kuroko mendorong tubuh Akashi, sehingga pemuda bersurai biru itu sudah berada di samping Kagami, seakan meminta pertolongan darinya.

“Aku akan menjemputmu lagi, Tetsuya.” Akashi mengacak surai biru itu pelan, sebelum berbalik masuk ke dalam mobilnya, dan menjalankan mobil miliknya itu.

“Ada hubungan apa kau dengan Akashi, Kuroko?” Kagami bertanya, ketika melihat mobil Akashi sudah menjauh dari pandangannya. Menatap Kuroko yang terdiam kaku di sampingnya.

“T-tidak ada Kagami-kun.” Kuroko menundukkan kepalanya. Sungguh, Ia masih merutuki keputusannya itu. Seharusnya Ia tidak menuruti Akashi. Akan menjadi bencana jika Akashi menyuruhnya hal aneh. Apalagi ketika mengatakan bahwa Akashi ingin memilikinya. Hell! Jantungnya bahkan berdetak tak karuan ketika kembali memikirkan ucapan dari Akashi. Demi Tuhan! Ini salah. Seharusnya Kuroko menolaknya. Ia masih ingin menjadi pria normal.

 

“Baiklah, ayo kita ke kelas saja Kuroko.” Dan Kagami menarik tangannya, sehingga Kuroko mengikuti langkah pemuda berkulit tan itu.

 

oOo

Tempat latihan basket indoor itu, sudah di penuhi oleh anggota Seirin lainnya. Semua anggota tampak sibuk berlatih. Hyuuga yang melatih tembakan three pointnya, Kagami yang sibuk mendribble bola untuk melewati Koga, Izuki, Koichi, dan Furihata. Sementara Riko sibuk memberi pengarahan pada mereka. Kuroko, dan Kiyoshi tengah berada di sudut lapangan. Kiyoshi memang dilarang untuk melakukan latihan yang berat, karena kakinya masih cidera. Sementara Kuroko hanya duduk termenung menatap semua temannya yang sibuk latihan, dengan di temani oleh Nigou yang berada di pangkuannya.

“Kuroko, kenapa kau tidak ikut latihan?” pertanyaan dari Kiyoshi membuat Kuroko menoleh.

 

“Sebentar lagi aku akan bergabung senpai.” Kuroko kembali meneruskan pengamatannya. Kiyoshi hanya mengangguk paham, sebelum menegak minuman isotonik miliknya.

“Oi, Kuroko ayo bermain. Jangan hanya duduk di situ saja.” Suara Kagami membuat Kuroko menoleh ke arahnya. Dapat Kuroko lihat, Kagami berjalan ke arahnya sambil mengusap keringatnya yang membasahi pelipisnya.

“Baiklah Kagami-kun,” Kuroko menggendong Nigou, dan mengulurkan Nigou ke arah Kagami. Sontak Kagami berteriak kaget, ketika melihat anjing yang mirip Kuroko itu sudah ada di hadapannya. Dengan refleks ace Seirin itu memundurkan tubuhnya. Menjauh dari anjing yang memilik manik biru seperti Kuroko.

“Kau jaga Nigou, Kagami-kun. Jadi aku bisa bermain.” Dengan polosnya, Kuroko kembali memberikan anjing lucu itu. Entahlah, Ia hanya senang jika bisa menakuti Kagami seperti ini. Lagi pula, kenapa Ia harus takut pada anjing selucu Nigou? Sampai sekarang, Kuroko masih bertanya-tanya akan hal itu.

“Kau bisa membiarkannya Kuroko. Nigou tidak perlu di jaga.” Kagami semakin menjauh dari Kuroko. Sehingga Ia sudah kembali berada di lapangan beserta teman-temannya. “Jadi cepatlah berlatih, Kuroko.”

“Ha’i Kagami-kun.” Kuroko tersenyum, sebelum meletakan Nigou di samping Kiyoshi yang masih menonton latihan para juniornya. “Senpai, tolong jaga Nigou.” Setelah itu Kuroko pergi menjauh dari Kiyoshi, dan ikut bergabung dengan semua temannya.

“Kuroko, masukan.” Suara dari Izuki membuat Kuroko tersadar, bahwa Ia tengah memegang bolanya. Tanpa menuju perintah kedua, Kuroko melakukan phantom shotnya sehingga bola itu melesak masuk ke dalam ring.

“Yosh, Kuroko kau semakin bagus dalam melakukan jurus andalanmu itu. Tapi sepertinya, kau harus membuat jurus baru lagi agar lebih cepat untuk menghilang dari musuhmu.” Hyuuga mengacungkan jempolnya ke arah Kuroko. Sementara pemuda bersurai biru itu tersenyum. Ia sangat senang, jika bisa di andalkan oleh teman-temannya seperti ini.

“Baiklah, ayo kita lanjutkan.” Suara penuh semangat Hyuuga Junpei itu membuat semuanya bersorak, dan kembali melakukan latihannya. Melatih kemampuan shooting, dan juga dribble masing-masing. Jika bermain basket dengan temannya seperti ini, membuat Kuroko senang. Ia bisa melupakan sejenak masalahnya dengan Akashi Seijuurou yang beberapa hari yang lalu masuk kembali ke dalam kehidupannya. Dan juga, Ia bisa melupakan semua pertanyaan di benaknya, yang mempertanyakan dirinya apakah benar seorang straight, ataukah Ia sudah menjadi seorang Gay sejak dulu. Jika memikirnya, hanya membuat Kuroko pening. Jadi lebih baik Ia bermain basket, dari pada mencari jawaban atas pertanyaan batinnya.

 

oOo

“Yosh, Akhirnya latihan selesai juga. Aku tidak menyangka bisa secepat ini.” Hayama mengelap keringat yang sudah membasahi pelipisnya, dengan handuk kecilnya. Latihan basket hari ini cukup melelahkan. Apalagi aturan baru dari Akashi yang super ketat. Membuat Tim Rakuzan harus berlatih dengan sangat keras, agar mereka tidak akan mengalami kekalahan seperti di Winter Cup kemarin. Sejak pertandingan melawan Seirin, Tim Rakuzan semakin dekat satu sama lain. Dalam hal bekerja sama pun mereka tidak kalah dengan Tim lainnya.

“Setelah ini kau akan langsung pulang, Sei-chan?” Mibuchi yang masih menegak minuman isotiknya menoleh ke arah Akashi yang sudah bersiap untuk pulang. Tumben sekali Akashi ingin pulang cepat. Biasanya pemuda berambut merah itu akan berlatih dulu hingga larut.

“Aku akan menjemput Tetsuya.” Ketika mendengar pernyataan yang keluar dari sang kapten. Semua yang masih berada di lapangan menoleh, dan menatap Akashi dengan mata yang siap keluar dari tempatnya. Sejak kapan Akashi menjadi supir pribadi Kuroko Tetsuya?

“Eh? Kenapa kau harus menjemputnya Sei-chan?”

“Ada yang harus ku selesaikan dengannya,” Akashi tersenyum simpul. Sebelum berbalik dan melambaikan sebelah tangannya. Menjauh dari semua temannya yang masih menatap Akashi takjub.

“Aku merasa Akashi semakin berbeda. Auranya berubah.”

“Kau benar, mungkinkah Sei-chan sedang jatuh cinta?” Dan ketika pertanyaan dari Mibuchi itu keluar. Semua Tim Rakuzan mulai memikirkan perkiraan hubungan Akashi dengan Kuroko. Kecuali Mayuzumi yang kini tampak tak menyukai obrolan itu.

oOo

Semua Tim di Seirin sudah tampak kelelahan. Keringat sudah membasahi pelipis mereka masing-masing. Latihan tadi cukup menguras tenaga. Tapi itu semua terasa sangat menyenangkan jika bisa di lakukan bersama-sama.

“Setelah ini kalian bisa pulang. Istirahatlah yang cukup, karena besok kalian akan berlatih dengan keras lagi. Ayahku akan datang besok untuk kembali melatih kekuatan fisik kalian.” Sang pelatih – Aida Riko tersenyum menyeramkan. Ah, gadis itu sudah menyiapkan semua rencananya agar Seirin semakin menjadi Tim terbaik nomor satu di Jepang untuk kejuaran Nasional nanti.

“Bersiaplah, kita akan segera pulang.” Suara dari Hyuuga Junpei menggema, membuat semuanya bersorak setuju, dan bersiap untuk pulang.

 

Setelah 15 menit, semuanya sudah tampak siap dengan tas mereka untuk segera pulang. Kecuali pemuda bersurai biru, yang masih belum besiap sama sekali.

“Kuroko, kau tidak ingin pulang?” Pertanyaan dari Izuki membuat Kuroko menoleh padanya.

Menggeleng pelan, sebelum menjawab.

“Tidak senpai. Aku akan disini sebentar lagi.”

 

“Ya sudah, kami duluan Kuroko.” Furihata tersenyum ke arah Kuroko, diikuti oleh semua temannya yang mengucapkan ‘Sampai jumpa besok Kuroko-kun!’

 

“Jadi kau masih akan disini, Kuroko?” Kagami masih berada di samping Kuroko. Pemuda yang merupakan Ace Seirin itu menatap Kuroko heran. Pasalnya, Kuroko jarang sekali termenung seperti ini. Ia seperti mempunyai masalah, yang tidak bisa Ia ceritakan pada siapapun.

“Ya Kagami-kun.” Melihat Kuroko yang menatapnya seolah berkata ‘Aku tidak apa-apa’ membuat Kagami mengangguk pelan.

“Baiklah, aku pulang duluan Kuroko.” Kagami berdiri, dan mulai menjauh dari pemuda bersurai biru itu. Tapi sebelum langkahnya sampai menuju pintu keluar, Ia berbalik. “Jika kau mempunyai masalah, ceritakan padaku.” Dan Kuroko hanya bisa tersenyum senang. Ternyata Kagami benar-benar peduli padanya. Bahkan Ia bisa menyadari bahwa Kuroko mempunyai masalah.

“Tentu saja Kagami-kun.” Dan setelah itu, Kagami berbalik. Meninggalkan Kuroko sendiri bersama Nigou yang masih setia berada di sampingnya. Lapangan basket ini sudah menjadi sangat sepi. Kuroko suka keheningan seperti ini, yang membuatnya merasa tenang. Ia merasa bisa memikirkan semua masalahnya yang berhubungan dengan Akashi Seijuurou. Hanya satu nama yang menggangu pikirannya sejak tadi. Kapten Rakuzan itu selalu menggangu pikirannya. Apalagi dengan pernyataan dari Akashi tadi pagi. Kuroko benar-benar tidak bisa melupakannya. Jika mengingatnya saja, wajah Kuroko akan berubah menjadi berwarna merah.

“Hah,” Kuroko menghela nafas pelan, sebelum berdiri dari duduknya, dan mengambil bola basket yang berada ujung ring. Ia mengambil bola itu. Mendribblenya perlahan. Jika mengingat Ia harus sendirian di tempat latihan, dan memainkan bola basket seperti ini. Kuroko jadi mengingat pertemuannya dengan Akashi ketika masih berada di SMP Teiko dulu.

“Arghtt, Menyebalkan. Aku benci perasaan membingungkan ini!” dan bola yang ada di tangannya itu terlempar begitu saja. Kuroko mengacak surai birunya frustasi. Ia masih bingung dan tidak mengerti akan semua perasaan anehnya, yang selalu datang ketika Akashi ada di dekatnya.

“Apa yang membuatmu bingung , Tetsuya?” dan Suara bariton yang sangat Kuroko kenali itu, membuat tubuhnya membatu di tempat.

Tapp Tapp

Dan Suara langkah kaki yang terdengar itu, semakin membuat Kuroko gugup. Ia bahkan harus menelan salivanya saat merasakan sentuhan hangat yang kini berada di bahunya. Ia tidak ingin berbalik sekarang.

“Tetsuya,” dan bisikan pelan di telinganya membuat tubuh Kuroko meremang sekarang. Ia semakin yakin jika Akashi Seijuurou berada di belakangnya.

“A-akashi-kun?” Mencoba memastikan Kuroko bertanya, dan membalikan badannya. Ia dapat melihat Akashi yang tersenyum ke arahnya. Sial! senyum yang sudah lama tidak Kuroko lihat itu, membuat Kuroko salah tingkah dan hanya bisa terdiam ketika Akashi menyentuh pipinya dengan lembut.

“Aku akan membantumu supaya tidak bingung dengan perasaanmu, Tetsuya.” Dan bisikan seduktif di telinganya membuat sinyal tanda bahaya yang ada di kepalanya berbunyi. Waspadalah Tetsuya!

 

To Be Continued

Kan, kan ini tuh apaan banget. Sumpah ini apaan? ;’( kenapa jadi kaya gini, saya pun gak tau. Ilhamnya datang begitu saja 😥 coba tebak AkaKuro bakal ngapain? 😥 semoga suka minna-san ^^

Makasih banyak untuk Review di Chapter sebelumnya. Aku bener-bener seneng minna-san ^^

So, Mind To Review?

Astia Morichan^^