Challange To Be A Gay Chap 2 SasuNaru

Challange To Be A Gay

Rated M

Chara Belong To Masashi Kishimoto

Romance, Drama

Warning : TYPO, OOC, BL, YAOI, Ide pasaran, DLDR! ETC!

Naruto menyesal menerima tantangan dari sahabatnya yang baru Ia ketahui adalah Gay. Uchiha Sasuke mencoba menjeratnya masuk kedunia miliknya karena taruhan bodoh dari Sasuke.

‘Jika dalam lima hari aku tidak bisa membuatmu menjadi gay maka aku akan menuruti semua kemauanmu. Tapi jika kau menyerah sebelum lima hari maka kau tak akan kubiarkan pergi. Bagaimana?’

a/n: yang di Italic Flashback. Disini flashback hari pertama ^^

Uchiha Sasuke X Namikaze Naruto

EnJOY!

Happy Reading !

oOo

Day 1

Pria bersurai blonde itu terdiam kaku. Namikaze Naruto membulatkan manik sapphirenya ketika retinanya menangkap sosok Uchiha Sasuke yang tengah duduk di meja makan keluarganya. Bungsu Uchiha itu duduk dengan tenang, sambil memakan sandwich buatan dari Kushina.

“Ne, Naru-chan kenapa diam terus di situ? Cepatlah makan ttebane.” Suara dari Kushina membuyarakan fokus Naruto. Dengan cepat, Ia mengangguk pelan. Lalu duduk di samping Sasuke.

“Oi, Teme kenapa kau kemari?” Naruto berbisik pelan di sebelah Sasuke. Tentu saja, ketika makan Kushina melarang tegas untuk tidak berbicara. Jadi Naruto hanya bisa berbisik pada Bungsu Uchiha itu. Padahal, Ia sudah ingin berteriak mencaci Sasuke yang datang pagi-pagi ke rumahnya. Ayolah, Naruto masih tidak percaya dengan kejadian kemarin. Dimana Sasuke mengaku bahwa Ia adalah seorang gay, dan juga taruhan yang mereka buat.

“Menjemputmu.” Sasuke membalas pertanyaan Naruto tanpa melirik pemuda bersurai blonde itu.

“Apa kau amnesia Teme? Aku kan bawa mobil sendiri!” Ingin rasanya Naruto menjambak rambut raven Sasuke. Untuk apa Bungsu Uchiha itu menjemputnya. Toh, Ia juga punya mobilnya sendiri untuk pergi ke sekolah.

“Tidak, selama lima hari aku akan mengantarmu Dobe.” Sasuke mengeluarkan seringaian licik miliknya. Sementara Naruto hanya bisa mengelus dada untuk tidak mencakar wajah tampan Sasuke! Ia benar-benar sangat ingin Kyuubi menggigit bungsu Uchiha itu sampai hanya menyisakan tulang belulang!

“Teme, apa kau tahu? Kyuubi belum di beri makan. Mungkin Ia akan senang jika kau menjadi menu sarapan paginya.” Mendengar Naruto menakutinya dengan anjing Siberian Husky berwarna coklat miliknya membuat Sasuke kembali tersenyum meremehkan. Ia sama sekali tidak takut dengan anjing berwajah serigala milik Naruto itu. Ah, bahkan Kyuubi akan kalah dengan Manda- ular piton peliharaannya.

“Sebelum kau mencobanya, aku akan memberikanmu pada Manda. Kebetulan sekali ularku itu belum makan selama tiga hari. Mungkin Ia akan sangat bahagia jika bisa memakanmu bulat-bulat Dobe.” Naruto hanya bisa menggertakan giginya, menahan rasa kesalnya pada Sasuke.

“Sialan kau Teme!” dan Naruto malah berteriak kencang, sehingga membuat Kushina menoleh ke arahnya sambil memberikan tatapan membunuhnya pada Naruto. Naruto hanya bisa menelan salivanya takut, melihat Ibunya yang sudah bersiap untuk murka.

“Naruto, jangan bicara ketika makan!” Kushina berteriak marah sambil siap melemparkan dengan sendok supnya.

“Hehehe, Gomen Okaa-san.” Naruto hanya bisa tersenyum tanpa rasa bersalah, dan kembali melanjutkan makannya. Sementara Sasuke hanya tersenyum geli melihat pemandangan hangat keluarga Naruto. Mungkin jika Minato Jii-san ada, sarapan pagi ini menjadi lebih hangat. Sayangnya, Minato sedang berada di Jerman untuk mengurus bisnis disana. Sasuke sangat senang jika bersama keluarga Naruto. Terutama Kushina Obaa-san yang selalu perhatian padanya. Sangat berbeda dengan keluarganya. Sasuke benar-benar sudah muak jika Ayahnya ada di rumah. Aura rumah seakan menjadi sangat mencekam jika ayahnya ada, dan mulai memojokan Kakaknya.

“Ne, Sasuke-kun lanjutkan makanmu.” Kushina tersenyum lembut ke arah Sasuke. Senyuman dari Kushina benar-benar mengingatkannya pada Mikoto- Ibunya yang paling Ia sayangi.

“Ne, Obaa-san.” Sasuke membalas senyuma Kushina. Lalu Ia kembali melanjutkan makannya, mengabaikan Naruto yang masih menatapnya dengan kesal.

oOo

Setelah acara sarapan selesai, Sasuke dan Naruto memutuskan untuk segera pergi ke sekolah. Pemuda berambut raven dan blonde itu terlihat beradu argumen saat ini. Si blonde bahkan sudah ingin melemparkan tas sekolahnya ke arah Sasuke.

“Teme sialan! Aku mau memakai mobil lamborghini orange favoritku!” Naruto sudah berusaha untuk membuka pintu mobil kebanggaan miliknya, tapi sayangnya Sasuke mencengkram pergelangan tangannya. Sehingga Naruto tidak bisa membukanya.

“Naik Ferrariku Dobe, aku tidak pernah terima penolakan.” Sasuke menarik tangannya menuju mobil Ferarri berwarna hitam miliknya. membuka pintu mobil itu dengan cepat, lalu menghempaskan tubuh Naruto di samping kursi kemudi. Sasuke pun dengan cepat mengunci mobilnya, setelah Ia naik di kursi kemudi.

“Teme sialan! ” Naruto berteriak, sambil mencoba membuka pintu mobil sasuke yang sudah di pastikan terkunci rapat.

“Diamlah Dobe.” Sasuke mendekat ke arah Naruto tanpa pemuda itu sadari. Karena Naruto sejak tadi memunggunginya, mencoba untuk keluar.

“Teme! Keluarkan aku! Kau tahu aku ingin menjemput Saku—” Dengan gerakan cepat Sasuke menarik Naruto sehingga Pemuda itu terdiam kaku sebelum melanjutkan ucapannya. Onyx dan sapphire itu bertemu. Saling menyelami manik satu sama lain. Bahkan Naruto harus menelan salivanya gugup, karena Ia bisa-bisanya terpesona dengan manik sehitam malam milik Sasuke. Kini fokus Naruto hanya tertuju pada Sasuke. Sungguh, Naruto ingin melepaskan padangannya pada apapun selain Sasuke! Ia ingin kabur dari situasi mencekamnya dengan Sasuke. Bahkan jantungnya seakan bertalu dengan kencang, ketika pemuda bersurai raven itu semakin mendekatkan wajahnya. Wangi citrus milik Sasuke bahkan tercium oleh Naruto. Sial! wangi itu memabukkan! Membuat tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak, dan hanya bisa menatap Sasuke yang semakin mendekat. Bahkan hidung mereka pun saling bersentuhan saat ini. Demi Dewa Janshin! Tolong selamatkan Naruto!

“Te-teme me-menjauh dari ku.” Dengan gugup Naruto mencoba berbicara. Tapi tingkah konyolnya itu malah membuat Sasuke menyeringai ke arahnya.

Cupp

Sasuke menempelkan bibirnya pada pemuda bersurai blonde itu. Naruto membulatkan matanya ketika benda bertekstur lembut yang diketahui adalah bibir Sasuke bergerak pelan di atas bibirnya. Bahkan Naruto sama sekali belum bisa mencerna apa yang Sasuke lakukan padanya, ketika pemuda itu mulai melumat dan menghisap bibir bawahnya dengan lembut. Sehingga bibirnya menjadi hangat akibat hisapan dari bibir Sasuke. Sasuke masih melumat lembut bibir bawah Naruto, dan mulai menekan bibir pemuda bersurai blonde itu dengan lidahnya. Sial! Sasuke baru tahu jika bibir Naruto benar-benar manis ! Kini khayalan nistanya tentang sahabatnya itu kini sudah menjadi kenyataan. Sasuke sudah memutuskan mulai saat ini bibir Naruto akan selalu menjadi zat adiktif tersendiri untuknya!

“Mhh,,” dan Naruto tanpa sadar melengguh pelan, ketika Sasuke berhasil melesakan lidahnya ke rongga hangat miliknya. sungguh, kepala Naruto terasa sangat pening. Ia bisa merasakan sesuatu di perutnya seakan bergejolak sekarang. Ia bingung, kenapa Ia masih bisa terdiam ketika Sasuke mencuri ciuman pertamanya, yang hanya di peruntukan wanita pujaannya- Haruno Sakura! Bahkan Naruto sama sekali tidak mencoba untuk menolak. Malah menerima perlakuan lembut Sasuke di bibirnya!

“Enghh,,” Wajah Naruto sudah semakin memerah, ketika Sasuke semakin memperdalam ciumannya. Membelit lidah Naruto sehingga membuat pemuda bersurai blonde itu kembali mengeluarkan suara yang sangat memalukan baginya. Sungguh, Naruto sudah sangat sesak sekarang. Sasuke sama sekali tidak berniat untuk melepaskan ciumannya. Sasuke sepertinya berniat untuk membunuhnya dengan ciuman. Dengan keadaan dan pikiran untuk ingin hidup. Naruto akhirnya bisa menggerakan tangannya, untuk memukul bahu Sasuke pelan dan mendorong tubuh tegap Sasuke. Sasuke yang mengerti Naruto membutuhkan bernafas, segera melepaskan tautan bibirnya.

Naruto terengah, nafasnya memburu tak beraturan ketika Sasuke sudah melepaskan ciumannya. Naruto menarik nafasnya dengan cepat. Ia benar-benar membutuhkan pasokan udara. Sungguh, Ia sama sekali tidak menyangka jika ciuman bisa sesesak ini.

“Diam seperti itu sangat cocok untuk mu Dobe. Baiklah kita pergi sekarang.” Sasuke mulai melajukan mobil miliknya, tanpa memperhatikan Naruto yang sudah menatapnya dengan tatapan membunuh. Mengabaikan Naruto yang terus mengumpat, karena Sasuke mencuri ciuman pertamanya. Sungguh, Naruto sangat ingin membunuh Sasuke dengan kusanagi milik pemuda itu!

oOo

Setelah sampai di Konoha Gakuen, yang merupakan sekolah elite seantreo Jepang. Sasuke memberhentikan mobil Ferrari miliknya ke arah parkiran khusus. Parkiran itu, memang hanya di peruntukan untuk anak-anak pemegang saham tertinggi di Konoha Gakuen. Seperti Uchiha Corp yang merupakan penyumbang dana terbesar disana.

Sasuke keluar dari mobil miliknya dengan gaya arogannya. Di ikuti oleh Naruto. Karena tidak ingin berlama-lama dekat dengan Sasuke, pemuda berambut blonde itu melangkahkan kakinya dengan cepat. Meninggalkan Sasuke di belakang, yang masih menyunggingkan seringaian di wajah tampannya itu. Tingkah Naruto benar-benar konyol di matanya. Ia tidak sabar ingin segera membuat Naruto menjadi miliknya seorang!

Setelah mengunci mobilnya, Sasuke berjalan ke arah kelas mengikuti Naruto yang sepertinya sudah sampai duluan di sana. Setiap langkah Bungsu Uchiha itu selalu menarik perhatian semua orang. Baik wanita, ataupun pria yang memiliki orientasi sex yang menyimpang pun selalu menatap Uchiha Sasuke penuh damba. Terkadang Sasuke sangat benci di tatap seperti itu. Sejak dulu, semua orang yang dekat dengannya hanya memanfaatkan. Sasuke beruntung bertemu dengan Naruto yang menyelamatkan masa kelamnya. Memperkenalkan Sasuke pada teman-teman pemuda itu. Sehingga Sasuke bisa mempercayai mereka. Neji, Gaara, Shikamaru dan Kiba. Mereka adalah sahabat terbaik Sasuke setelah Naruto. Tentu saja, Naruto adalah nomer satu. Pewaris Namikaze itu sudah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu.

Sasuke menggeser pintu kelasnya, dengan santai Ia berjalan ke arah belakang. Menghampiri pemuda berambut blonde yang kini mengerucutkan bibirnya, ketika bercerita dengan Gaara. Entahlah, Sasuke tidak tahu apa yang di bicarakan mereka. Karena ketika Ia sampai disana, Naruto berhenti berceloteh dan menatap Sasuke dengan sangar. Sementara Gaara hanya tersenyum simpul melihat tingkah mereka.

“Gaara, aku duduk denganmu saja ya?” Naruto menatap Gaara penuh harap. Sementara Sasuke yang baru mengerti apa yang Naruto inginkan, memicingkan matanya. Menatap tajam Gaara, seolah mengatakan ‘Jangan turuti kemauan si Dobe ini.’

“Naruto, kau tahu? Hari ini kan ada tugas dari Kakashi sensei. Tugas kelompok yang harus di kerjakan bersama dengan teman sebangku. Aku kan sudah mengerjakan tugasnya dengan Neji. Jadi tidak bisa membantumu. Kau juga kan tetap harus bekerja sama dengan si Uchiha itu.” Gaara menjelaskan dengan detail tentang tugas kelompok yang sama sekali tidak di ingat Naruto. Demi apapun! Naruto lupa dengan tugas matematika yang di berikan guru bermasker itu. Apalagi guru itu selalu menyuruh senppuku jika tidak mengerjakan tugas.

“Te-teme. A-apa kau sudah mengerjakannya?” Naruto segera berbalik menatap Sasuke yang dari tadi sudah duduk di sampingnya. Sementara pemuda itu dengan santainya menatap Naruto sambil menopang kepalanya.

“Menurutmu?” Tersenyum licik, Sasuke semakin mendekatkan dirinya ke arah Naruto yang merasa sudah terpojok.

“Teme, aku sama sekali tidak bercanda sekarang, dan menjauh dariku teme. Kau terlalu dekat.” Naruto mendorong tubuh Sasuke, sehingga Sasuke menjauh beberapa senti.

“Aku lupa. Tidak mengerjakannya Dobe.”

“Arghtt, Teme! Kenapa kau tidak mengerjakannya? Kita bisa dihukum. Bagaimana ini?” Wajah Naruto sudah panik sekarang. Ia benar-benar tidak ingin di hukum oleh Kakashi! Satu kali dalam hidupnya sudah cukup untuk mengalami yang namanya hukuman dari guru Hatake itu.

“Kita bolos saja Dobe. Itu kan pelajaran terakhir.”

“ahh, terserahlah Teme.” Naruto menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi? Tugasnya hari ini, dan tidak bisa mengerjakannya dengan mendadak. Bolos pun percuma, toh Kakashi juga akan tahu. Naruto sudah pasrah dengan hukuman yang akan di berikan Kakashi nanti.

“Jangan di pikirkan Dobe.” Sasuke mengacak surai pirang Naruto, membuat pemuda berambut blonde itu menoleh dengan wajah meronanya. Sungguh, tidak seharusnya Ia merona karena dekat dengan Sasuke! Suasana kelas pun seketika terasa hening melihat adegan SasuNaru yang amat langka ini. Semua gadis yang ada di sana hampir menahan teriakan dan mimisan. Apalagi Tenten, gadis bercempol dua yang terkenal seorang fujoshi itu sudah menatap SasuNaru dengan tatapan berbinar.

“Te-teme. Kau tahu? Aku masih sangat ingin untuk membunuhmu.” Naruto tersenyum manis ke arah Sasuke. Sementara Sasuke membalas senyuman Naruto dengan seringaiannya. Bungsu Uchiha itu mendekat ke arah Naruto, dan berbisik pelan di telinganya. “dan aku masih sangat ingin memakanmu Naruto.”

“Teme sialann!” dan Naruto tak segan untuk menarik kepala Sasuke dan mencekik pemuda itu sekarang. Membuat Sasuke meringis, dan melepaskan pelukan Naruto pada kepalanya. Seluruh kelas yang melihat tingkah mereka bahkan tertawa terbahak-bahak. Jarang sekali kan ada yang berani seperti itu pada seorang Uchiha kan?

“Ehm, Sasuke, Naruto hentikan tingkah konyol kalian.” Suara baritone yang di ketahui milik Asuma Sensei terdengar dengan jelas di telinga semua murid. Guru Fisika yang terkenal sangar itu membuat suasana kelas yang awalnya ramai menjadi sepi. Bahkan Naruto dengan cepat duduk dengan rapi, dan melepaskan jambakannya di kepala Sasuke dengan enggan.

“Baiklah, Kita mulai pelajaran kali ini.” Asuma berjalan menuju whiteboard, dan mulai menulis rumus yang sangat absurd. Bahkan semua murid yang ada disana mendesah pasrah, karena harus menikmati pelajaran mematikan itu. Terutama Naruto yang sudah beberapa kali menguap lebar, ketika Asuma menerangkan. Sementara Sasuke? Tentu saja, pemuda raven itu asyik menikmati pemandangan wajah Naruto.

oOo

Bel istirahat siang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas untuk segera mengantri di kantin. Sudah di pastikan kantin akan sangat ramai jika jam istirahat. Terkadang, hal itu membuat Naruto, Sasuke, Kiba, Neji, Gaara, dan Shikamaru selalu malas ke kantin. Seperti sekarang, Naruto masih diam di kursinya.

“Oi, Naruto kau tidak akan ke kantin?” Suara Shikamaru, membuat pria bersurai blonde itu menoleh.

“Malas. Aku akan ke kelas Sakura-chan saja.” Naruto menjawab dengan nada malasnya. Ia malah menopang kepalanya dengan lengannya. Menatap teman segengnya yang masih merencanakan mau ke kantin atau tidak. sejujurnya, Naruto hanya malas jika harus bersama Sasuke lagi. Sudah di pastikan bungsu Uchiha itu akan ada jika mereka makan bersama.

“Tidak, kau ikut denganku Dobe.” Suara baritone Sasuke terdengar dingin. Ia dengan cepat menarik tangan Naruto supaya mengikutinya. Otomatis pemuda bersurai pirang itu memekik kaget, dan terseret oleh Sasuke supaya mengekorinya. Sementara semua temannya hanya menggeleng tak mengerti. “dan kalian semua jangan mengikutiku dan si baka Dobe ini.” Suara Sasuke yang terdengar seperti perintah, membuat semuanya mengangguk, dan hanya menatap kepergian SasuNaru yang sudah mulai menghilang di balik pintu.

“Bilang saja, jika mau segera membuat Naruto gay. Dasar Sasuke.” Kiba menggeleng-geleng melihat kelakuan Sasuke yang semakin menjadi. Jujur, Ia kasihan dengan Naruto. Setahu Kiba, Naruto adalah pria normal yang sama sekali tidak tahu bahwa semua temannya adalah Gay. Terkadang, semuanya merasa bersalah karena merahasiakan hal ini. Tapi apa mau dikata? Mereka tidak ingin Naruto menjauh. Tapi setelah mendengar cerita bahwa Naruto sudah tahu Sasuke gay, dan sama sekali tidak menjauh dari Sasuke membuat semuanya mendesah lega. Mungkin setelah taruhan bodoh yang Sasuke lakukan, mereka semua akan segera memberitahukan semuanya pada Naruto.

oOo

Naruto mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke pada lengannya. Pemuda berambut raven itu menariknya paksa ke arah atap sekolah. Bahkan mereka sudah menjadi pusat perhatian seluruh siswa yang ada di koridor. Naruto sungguh berharap Sakura tidak melihatnya saat ini. Tapi sialnya, perjalanan menuju atap membuat Naruto jengah mendengar celotehan semua siswa.

‘Eh? Kenapa dengan Sasuke dan Naruto senpai?’

‘Kyaa, mereka benar-benar seperti pasangan yaoi.’

‘Kau benar Tenten, mereka seperti sepasang kekasih. U-uchiha-san terlihat cemburu dan marah pada Naruto-kun.’

‘Semoga saja, mereka segera pacaran. Aku yakin Naruto akan segera takluk pada Sasuke. Benarkan Hina-chan?’

Telinga Naruto benar-benar seperti ingin copot ketika mendengar celotehan dari semua siswa. Terutama Tenten dan Hinata. Demi Janshin! Naruto itu masih normal! Dia masih menyukai Sakura Haruno! Kenapa Hinata sampai memikirkan hal sejauh itu tentangnya dan Sasuke. Astaga! Naruto tidak mengerti kenapa Hinata bisa menjadi seorang Fujoshi seperti Tenten! setahu Naruto, Hinata itu adalah gadis lugu nan polos yang selalu di lindungi Neji. Ia masih tidak percaya jika Hinata adalah seorang Fujoshi. Sungguh, Naruto ingin segera mengklarifikasikan hal tidak mengenakan ini.

Setelah lima menit, akhirnya mereka sampai di atap. Dengan gerakan cepat, Sasuke mengunci pintu atap itu. Membuat manik sapphire Naruto membulat. Heck! Dari mana dan sejak kapan Sasuke mempunyai kunci menuju atap? Setahu Naruto Sasuke tidak punya!

“Te-teme kau mau apa?” Naruto bertanya dengan nada penasarannya. Jujur saja, Naruto takut saat ini. Apalagi saat melihat tatapan Sasuke yang mengintimidasinya, seakan menelanjanginya hidup-hidup!

Sasuke semakin mendekat pada Naruto. Bahkan bungsu Uchiha itu memenjarakan Naruto dengan lengannya, supaya tidak kabur. Dengan jarak seperti ini, Naruto bisa mencium wangi citrus dan mint milik Sasuke. Wangi itu benar-benar memabukkan! Sial! tidak seharusnya Ia berpikir seperti itu pada Sasuke. Bahkan jantung Naruto sudah berdebar tak karuan karena sejak tadi Sasuke masih menatapnya. Sial! sial! bahkan Naruto terus menggumamkan kata ‘Aku Normal.’ Dalam hatinya. Agar Ia tidak terpengaruh oleh Sasuke.

“Apa kau masih ingat taruhan kita Naruto?” Sasuke berbisik seduktif di telinganya. Bahkan bungsu Uchiha itu sudah berani mengecup cuping telinganya. Bulu kuduk Naruto seketika meremang, seperti terkena arus listrik statis yang menyengat!

“Te-tentu saja Teme. Te-teme bisakah kau menjauh dariku sedikit?” Dengan ragu, Naruto mencoba mendorong tubuh Sasuke. Tapi nihil, Sasuke sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Pemuda itu hanya menyeringai menatapnya, dan semakin berani menjilat telinganya. Demi Janshin, dan Dewa Kurama! Naruto bahkan belum pernah seperti ini dengan seorang gadis apalagi dengan seorang pria! Ia masih polos, dan masih tidak berani untuk mempraktekannya/?

“Dobe, selama lima hari kau tidak boleh bertemu dengan Sakura. Sekarang aku akan memberitahumu tentang peraturan dalam taruhan kita. Pertama, jangan dekati Sakura. Kedua, kau harus selalu mengikuti perintahku, dan itu mutlak.” Sasuke mulai menurunkan ciumannya, ke leher Naruto. Mengecupnya pelan leher pewaris Namikaze itu. Sehingga membuat Naruto menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara aneh. Sial! Naruto tidak tahan di perlakukan seperti ini! Ia sama sekali tidak bisa berkutik sekarang! Tubuhnya benar-benar lemas sekarang.

“Ah,, Te-teme, uhh menjauh dariku.” Dengan suara menahan desahan karena Sasuke terus menjilati lehernya, Naruto kembali mencoba mendorong tubuh Sasuke. Tapi entah kenapa tubuh Naruto tidak bisa menolak sentuhan Sasuke saat ini.

“nghh,” dan Naruto mulai mengeluarkan desahannya, saat Sasuke menghisap lehernya cukup keras. Sehingga terciptalah maha karya Sasuke pada lehernya.

“Baiklah, Dobe. Itu adalah aturan dariku. Kau harus selalu ingat itu.” Sasuke melepaskan ciumannya pada leher Naruto. Kini Sasuke menatap pemuda bersurai pirang itu yang tengah merona. Di dekatkan bibirnya pada bibir Naruto yang sedikit terbuka. Dengan cepat, ia menempelkan bibirnya pada Naruto dan melumatnya dengan pelan. Hanya ciuman beberapa detik yang bisa mengembalikan kesadaran Naruto.

“Teme sialanh,,hh.” Naruto terengah, tubuhnya benar-benar lemas sekarang. Untung saja Sasuke memeluk pinggangnya. Jika tidak, Ia mungkin akan jatuh dengan tidak elit. Sejujurnya, Naruto ingin sekali mengumpat dan memaki Sasuke karena seenak jidatnya mencium leher dan bibirnya. Tapi ada daya? Tenaganya sudah habis sekarang.

“Haha, ayo kembali ke kelas Dobe.” Sasuke tertawa lepas. Setelah itu Sasuke menggenggam tangan Naruto menuju kelas mereka. Naruto hanya bisa pasrah ketika tangannya di genggam Sasuke. Entahlah rasanya ada perasaan hangat yang menjalar ke tubuhnya. Bahkan kali ini, Naruto tidak mendengar kembali celotehan para Fujoshi yang menatap mereka dengan pandangan berbinar.

Tenten bahkan kembali berteriak histeris ketika mendapati moment seperti itu. Padahal baru saja mereka duduk di bangkunya. Tapi keindahan moment itu kembali di ganggu oleh Kakashi yang datang tanpa di undang. Semua murid pun dengan cepat duduk, dan memberi salam pada sang guru.

“Baiklah, kumpulkan tugas kalian.” Tanpa bertele-tele, Kakashi langsung menagih pr para murid. Semua murid dengan cekatan mengumpulkan tugas mereka. Terkecuali Naruto dan Sasuke yang masih diam di bangkunya. Saat ini Kakashi tengah mengecek siapa saja yang sudah mengumpulkan. Lalu tangannya terhenti. Guru tampan bersurai perak itu menatap ke seluruh penjuru kelas.

“Uchiha Sasuke, Namikaze Naruto. Mana tugas kalian?” Naruto hanya bisa menelan salivanya gugup dan takut untuk menjawab pertanyaan dari Kakashi. Sementara Sasuke dengan dinginnya menjawab.

“Kami lupa untuk mengerjakannya sensei.” Dan perempatan alis Kakashi berkedut ketika mendengar jawaban dari muridnya. Kemudian Ia tersenyum mematikan ke arah mereka.

“Baiklah, karena tugasku sudah di lupakan oleh berandalan kecil seperti kalian. Maka kalian berdua harus mengerjakan 100 soal kalkulus dan juga teorema postulat dasar. Jadi ada 200 soal, dan lusa kalian harus mengumpulkannya sekaligus menerangkannya pada semua temanmu. Soalnya bisa di ambil sepulang sekolah nanti.” Dan Naruto hanya bisa membulatkan matanya. Demi apa? Kakashi benar-benar tega padanya! Dalam waktu 2 hari mereka harus selesai mengerjakan soal mematikan itu. Kalau soal teorema dan postulat dasar sih tidak masalah, tapi kalkulus? Lebih baik Naruto tidak makan 2 hari dari pada harus mengerjakan soal seperti ini.

“baik sensei.” Sasuke menjawab dengan nada sombongnya, seakan Ia bisa mengerjakannya dalam waktu satu hari. Sungguh, Naruto ingin sekali menjitak Sasuke sampai kepalanya bolong. Demi Janshin yang menguasai alam semesta! Naruto tidak sejenius Sasuke!

oOo

Karena kejadian tidak mengenakan kemarin. Naruto kini harus berada di mansion Uchiha sekarang. Mengerjakan tugas yang di berikan Kakashi bersama. Sejujurnya, Naruto ingin mengerjakannya sendiri. Tapi apa daya? Naruto tidak mengerti tentang kalkulus!

“Masuk duluan saja ke kemarku Dobe. Aku akan membuatkan mu minuman.” Tanpa Naruto sadari, Sasuke menyeringai tipis sebelum berbalik meninggalkannya yang pergi melangkah ke kamar Sasuke.

To Be Continued ^^

Hwahh! Sumpah aku terharu liat respon kalian! Hontouni arigatou minna-san udah ngerespon fict aneh nan absrud dan nista ini ^^kalau responnya postif, aku benar-benar semangat untuk ngelanjutin. Makasih untuk sarannya, di sini eyd udah di benerin kok. Chapter kemarin juga udah aku benerin eydnya yang kurang gak enak ^^

Maaf gak bisa aku tulis satu-satu disini yang udah review. Tapi yang jelas aku makasih banget sama kalian minna-san! *bow

Untuk pair yang lain ada, tapi hanya di sempilin beberapa nanti ^^ jadi di tunggu aja minna-san ^^

So, Mind To Review?

Kritik dan Saran selalu di tunggu ^^

Astia Morichan

Advertisements

One thought on “Challange To Be A Gay Chap 2 SasuNaru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s