You’re Mine Tetsuya !! Chap 3 | Yaoi | AkaKuro Fanfict

You’re Mine Tetsuya !!

M for saved

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

Romance, Drama

Waning: Typo, OOC, Yaoi dll

a/n: Mungkin rating akan berubah-ubah sesuai dengan imajinasi tingkat tinggi saya. Ganti rate, buat aman ._.v bayangin aja ini sebelum vorpal swords di bentuk.

Kuroko tahu Ucapan Akashi itu mutlak. Tapi Ia tak mengerti dengan perintah Akashi yang menyuruhnya untuk pindah ke SMA Rakuzan dan meninggalkan Seirin. Lalu keadaan dimana Akashi menciumnya sepihak. Hey! Kuroko itu normal kan? Dan hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

EnJOY!

Happy Reading

 

oOo

 

Manik aquamarine itu membulat tak percaya ketika mendengar ucapan yang keluar dari pemuda pemilik manik heterecome yang berdiri di hadapannya. Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini tampak kaget.

“A-apa?” Dengan tergagap pemuda bersurai biru itu- Kuroko Tetsuya bertanya lagi. Menatap bingung Akashi Seijuurou yang sekarang masih memenjarakan tubuh mungilnya dengan lengannya. Punggung Kuroko sudah menabrak tepian mobil milik Akashi. Semua orang yang ada di sana bahkan banyak yang menatap mereka. Terutama kaum hawa, yang tak hentinya menatap ketampanan dari Akashi Seijuurou. Seorang Kapten dari Rakuzan datang ke SMA Seirin itu adalah hal yang langka bukan?

“Aku akan pindah ke Seirin. Hari ini juga.” Akashi memamerkan senyumannya- ah bukan seringaian yang selalu di tunjukan pada Kuroko, sebelum pemuda bersurai merah itu berbisik pelan di telinganya. Bahkan Kuroko harus menahan nafasnya, ketika hembusaan nafas hangat Akashi menerpa lehernya. Jantungnya benar-benar sudah berdetak tak karuan sekarang, ia ingin lari sekarang, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak, ketika Akashi semakin merapatkan tubuhnya.

Kuroko menelan salivanya gugup. Dengan perlahan Ia mendongkakan kepalanya, untuk menatap Akashi yang masih menatapnya intens. Manik aquamarine itu sekarang terhipnotis dengan manik heterocome milik Akashi. Apa yang ada di kepalanya, seakan hilang seketika saat menatap mata Akashi.

 

“Jadi Tetsuya, ayo kita masuk ke kelas.” Akashi masih tersenyum, menatap Kuroko yang masih terdiam.

 

“T-tunggu Akashi-kun. Apa kau benar-benar serius?” Kuroko kembali bertanya dengan wajah datarnya. Sepertinya, kesadaran pemuda bersurai biru itu sudah kembali.

“Hn, aku serius Tetsuya.”

“Akashi-kun, sebenarnya apa maumu? Kenapa kau harus pindah ke sini?” Kuroko dapat melihat Akashi menyunggingkan senyumnya, saat menatapnya. Akashi mendekatkan wajahnya, hingga jarak antara mereka semakin menipis. Aroma mint yang menguar dari tubuh Akashi, sekarang berbaur dengan aroma vanilla milik Kuroko. Entahlah, Kuroko bahkan menghirup aroma itu dengan cepat. Apalagi aroma tubuh dari Akashi yang memabukkan.

“Aku menginginkanmu, Tetsuya,” Alis Kuroko mengernyit heran, mendengar ucapan dari Akashi. Apa pendengarannya sekarang sedang bermasalah? Akashi Seijuurou menginginkannya? Hey! Itu tidak masuk akal kan? Tolong katakan pada Kuroko kalau ini hanya salah dengar.

“Kau gila Akashi-kun.” Kuroko menatap Akashi tajam. Mencoba mencari tahu, bahwa sang pemilik manik heterocome yang ada di hadapannya ini tengah berbohong.

“Ya, aku gila karna menginginkanmu Tetsuya.” Kuroko mendorong tubuh Akashi, agar menjauh. Dan dia berhasil. Tubuh Akashi terdorong beberapa senti. Kuroko menarik nafasnya pelan, sebelum menatap kembali Akashi yang tersenyum penuh arti ke arahnya.

“Akashi-kun, kau benar-benar gila. Aku sama sekali tidak mengerti dengan keinginanmu itu. Jangan main-main Akashi-kun. Jika ayahmu tahu kau pindah ke sekolahku, kau akan di hukum. Kau harus pergi Akashi-kun. Sebentar lagi bel masuk. Kau harus tetap sekolah di Rakuzan.” Baru kali ini, Kuroko berbicara panjang lebar seperti ini pada Akashi. Sungguh, Kuroko hanya ingin menyadarkan keinginan aneh dari Akashi. Kuroko tidak bisa menjamin, jika ayah dari Akashi tahu bahwa anaknya pindah ke SMA baru seperti Seirin. Ayah Akashi itu kejam. Kuroko hanya tidak ingin, Akashi di hukum oleh ayahnya. Ketika Akashi kalah dalam pertandingan winter cup saja, Ayahnya menghukumnya dan memarahinya dengan hukum mutlak dari keluarga Akashi. Tentu saja, keluarga Akashi selalu menang. Tidak ada kata ‘kalah’ dalam kamus mereka.

“Tidak sebelum kau menuruti keinginanku, Tetsuya.” Dan alis Kuroko mengernyit heran. Kenapa sekarang Ia harus menuruti Akashi?

“Akashi-kun, aku tidak akan menuruti semua keinginan gila mu itu. Lebih baik kau segera ke sekolahmu.”

“Kalau begitu aku akan tetap di Seirin. Bagaimana menurutmu Tetsuya?” Kuroko menghela nafas pelan. Ia lelah, tidak ingin mengubris keinginan Akashi. Lagi pula kenapa ia harus menjadi milik pemuda itu? Akashi bukan Gay kan? Lagi pula Kuroko masih menyukai perempuan, walaupun itu patut untuk di pertanyakan.

“Baik, aku akan menuruti semua kemauanmu Akashi-kun. Dan sekarang kau bisa pergi.” Kuroko mendorong tubuh Akashi, sehingga tubuh pemuda berambut merah itu menjauh beberapa senti darinya.

“Keputusan yang tepat, Tetsuya.” Dan Akashi kembali memamerkan senyum mengerikan miliknya. membuat Kuroko sedikit bergidik ngeri melihatnya. Sepertinya keputusan menerima tawaran dari Akashi itu adalah hal yang buruk.

‘Kau masuk dalam perangkapku Tetsuya.’

“Kuroko, kenapa kau tidak masuk?” Suara berat milik Kagami Taiga membuat Kuroko dan Akashi menoleh ke arahnya. Kuroko yang melihat Kagami bagaikan dewa penyelamat itu tersenyum senang. Sedangkan Akashi mendecih tak suka ketika pemuda jangkung itu mendekat ke arah mereka. “Akashi kenapa kau disini?”

“Bukan urusanmu.” Akashi menatap tajam Kagami. Sementara Kuroko mendorong tubuh Akashi, sehingga pemuda bersurai biru itu sudah berada di samping Kagami, seakan meminta pertolongan darinya.

“Aku akan menjemputmu lagi, Tetsuya.” Akashi mengacak surai biru itu pelan, sebelum berbalik masuk ke dalam mobilnya, dan menjalankan mobil miliknya itu.

“Ada hubungan apa kau dengan Akashi, Kuroko?” Kagami bertanya, ketika melihat mobil Akashi sudah menjauh dari pandangannya. Menatap Kuroko yang terdiam kaku di sampingnya.

“T-tidak ada Kagami-kun.” Kuroko menundukkan kepalanya. Sungguh, Ia masih merutuki keputusannya itu. Seharusnya Ia tidak menuruti Akashi. Akan menjadi bencana jika Akashi menyuruhnya hal aneh. Apalagi ketika mengatakan bahwa Akashi ingin memilikinya. Hell! Jantungnya bahkan berdetak tak karuan ketika kembali memikirkan ucapan dari Akashi. Demi Tuhan! Ini salah. Seharusnya Kuroko menolaknya. Ia masih ingin menjadi pria normal.

 

“Baiklah, ayo kita ke kelas saja Kuroko.” Dan Kagami menarik tangannya, sehingga Kuroko mengikuti langkah pemuda berkulit tan itu.

 

oOo

Tempat latihan basket indoor itu, sudah di penuhi oleh anggota Seirin lainnya. Semua anggota tampak sibuk berlatih. Hyuuga yang melatih tembakan three pointnya, Kagami yang sibuk mendribble bola untuk melewati Koga, Izuki, Koichi, dan Furihata. Sementara Riko sibuk memberi pengarahan pada mereka. Kuroko, dan Kiyoshi tengah berada di sudut lapangan. Kiyoshi memang dilarang untuk melakukan latihan yang berat, karena kakinya masih cidera. Sementara Kuroko hanya duduk termenung menatap semua temannya yang sibuk latihan, dengan di temani oleh Nigou yang berada di pangkuannya.

“Kuroko, kenapa kau tidak ikut latihan?” pertanyaan dari Kiyoshi membuat Kuroko menoleh.

 

“Sebentar lagi aku akan bergabung senpai.” Kuroko kembali meneruskan pengamatannya. Kiyoshi hanya mengangguk paham, sebelum menegak minuman isotonik miliknya.

“Oi, Kuroko ayo bermain. Jangan hanya duduk di situ saja.” Suara Kagami membuat Kuroko menoleh ke arahnya. Dapat Kuroko lihat, Kagami berjalan ke arahnya sambil mengusap keringatnya yang membasahi pelipisnya.

“Baiklah Kagami-kun,” Kuroko menggendong Nigou, dan mengulurkan Nigou ke arah Kagami. Sontak Kagami berteriak kaget, ketika melihat anjing yang mirip Kuroko itu sudah ada di hadapannya. Dengan refleks ace Seirin itu memundurkan tubuhnya. Menjauh dari anjing yang memilik manik biru seperti Kuroko.

“Kau jaga Nigou, Kagami-kun. Jadi aku bisa bermain.” Dengan polosnya, Kuroko kembali memberikan anjing lucu itu. Entahlah, Ia hanya senang jika bisa menakuti Kagami seperti ini. Lagi pula, kenapa Ia harus takut pada anjing selucu Nigou? Sampai sekarang, Kuroko masih bertanya-tanya akan hal itu.

“Kau bisa membiarkannya Kuroko. Nigou tidak perlu di jaga.” Kagami semakin menjauh dari Kuroko. Sehingga Ia sudah kembali berada di lapangan beserta teman-temannya. “Jadi cepatlah berlatih, Kuroko.”

“Ha’i Kagami-kun.” Kuroko tersenyum, sebelum meletakan Nigou di samping Kiyoshi yang masih menonton latihan para juniornya. “Senpai, tolong jaga Nigou.” Setelah itu Kuroko pergi menjauh dari Kiyoshi, dan ikut bergabung dengan semua temannya.

“Kuroko, masukan.” Suara dari Izuki membuat Kuroko tersadar, bahwa Ia tengah memegang bolanya. Tanpa menuju perintah kedua, Kuroko melakukan phantom shotnya sehingga bola itu melesak masuk ke dalam ring.

“Yosh, Kuroko kau semakin bagus dalam melakukan jurus andalanmu itu. Tapi sepertinya, kau harus membuat jurus baru lagi agar lebih cepat untuk menghilang dari musuhmu.” Hyuuga mengacungkan jempolnya ke arah Kuroko. Sementara pemuda bersurai biru itu tersenyum. Ia sangat senang, jika bisa di andalkan oleh teman-temannya seperti ini.

“Baiklah, ayo kita lanjutkan.” Suara penuh semangat Hyuuga Junpei itu membuat semuanya bersorak, dan kembali melakukan latihannya. Melatih kemampuan shooting, dan juga dribble masing-masing. Jika bermain basket dengan temannya seperti ini, membuat Kuroko senang. Ia bisa melupakan sejenak masalahnya dengan Akashi Seijuurou yang beberapa hari yang lalu masuk kembali ke dalam kehidupannya. Dan juga, Ia bisa melupakan semua pertanyaan di benaknya, yang mempertanyakan dirinya apakah benar seorang straight, ataukah Ia sudah menjadi seorang Gay sejak dulu. Jika memikirnya, hanya membuat Kuroko pening. Jadi lebih baik Ia bermain basket, dari pada mencari jawaban atas pertanyaan batinnya.

 

oOo

“Yosh, Akhirnya latihan selesai juga. Aku tidak menyangka bisa secepat ini.” Hayama mengelap keringat yang sudah membasahi pelipisnya, dengan handuk kecilnya. Latihan basket hari ini cukup melelahkan. Apalagi aturan baru dari Akashi yang super ketat. Membuat Tim Rakuzan harus berlatih dengan sangat keras, agar mereka tidak akan mengalami kekalahan seperti di Winter Cup kemarin. Sejak pertandingan melawan Seirin, Tim Rakuzan semakin dekat satu sama lain. Dalam hal bekerja sama pun mereka tidak kalah dengan Tim lainnya.

“Setelah ini kau akan langsung pulang, Sei-chan?” Mibuchi yang masih menegak minuman isotiknya menoleh ke arah Akashi yang sudah bersiap untuk pulang. Tumben sekali Akashi ingin pulang cepat. Biasanya pemuda berambut merah itu akan berlatih dulu hingga larut.

“Aku akan menjemput Tetsuya.” Ketika mendengar pernyataan yang keluar dari sang kapten. Semua yang masih berada di lapangan menoleh, dan menatap Akashi dengan mata yang siap keluar dari tempatnya. Sejak kapan Akashi menjadi supir pribadi Kuroko Tetsuya?

“Eh? Kenapa kau harus menjemputnya Sei-chan?”

“Ada yang harus ku selesaikan dengannya,” Akashi tersenyum simpul. Sebelum berbalik dan melambaikan sebelah tangannya. Menjauh dari semua temannya yang masih menatap Akashi takjub.

“Aku merasa Akashi semakin berbeda. Auranya berubah.”

“Kau benar, mungkinkah Sei-chan sedang jatuh cinta?” Dan ketika pertanyaan dari Mibuchi itu keluar. Semua Tim Rakuzan mulai memikirkan perkiraan hubungan Akashi dengan Kuroko. Kecuali Mayuzumi yang kini tampak tak menyukai obrolan itu.

oOo

Semua Tim di Seirin sudah tampak kelelahan. Keringat sudah membasahi pelipis mereka masing-masing. Latihan tadi cukup menguras tenaga. Tapi itu semua terasa sangat menyenangkan jika bisa di lakukan bersama-sama.

“Setelah ini kalian bisa pulang. Istirahatlah yang cukup, karena besok kalian akan berlatih dengan keras lagi. Ayahku akan datang besok untuk kembali melatih kekuatan fisik kalian.” Sang pelatih – Aida Riko tersenyum menyeramkan. Ah, gadis itu sudah menyiapkan semua rencananya agar Seirin semakin menjadi Tim terbaik nomor satu di Jepang untuk kejuaran Nasional nanti.

“Bersiaplah, kita akan segera pulang.” Suara dari Hyuuga Junpei menggema, membuat semuanya bersorak setuju, dan bersiap untuk pulang.

 

Setelah 15 menit, semuanya sudah tampak siap dengan tas mereka untuk segera pulang. Kecuali pemuda bersurai biru, yang masih belum besiap sama sekali.

“Kuroko, kau tidak ingin pulang?” Pertanyaan dari Izuki membuat Kuroko menoleh padanya.

Menggeleng pelan, sebelum menjawab.

“Tidak senpai. Aku akan disini sebentar lagi.”

 

“Ya sudah, kami duluan Kuroko.” Furihata tersenyum ke arah Kuroko, diikuti oleh semua temannya yang mengucapkan ‘Sampai jumpa besok Kuroko-kun!’

 

“Jadi kau masih akan disini, Kuroko?” Kagami masih berada di samping Kuroko. Pemuda yang merupakan Ace Seirin itu menatap Kuroko heran. Pasalnya, Kuroko jarang sekali termenung seperti ini. Ia seperti mempunyai masalah, yang tidak bisa Ia ceritakan pada siapapun.

“Ya Kagami-kun.” Melihat Kuroko yang menatapnya seolah berkata ‘Aku tidak apa-apa’ membuat Kagami mengangguk pelan.

“Baiklah, aku pulang duluan Kuroko.” Kagami berdiri, dan mulai menjauh dari pemuda bersurai biru itu. Tapi sebelum langkahnya sampai menuju pintu keluar, Ia berbalik. “Jika kau mempunyai masalah, ceritakan padaku.” Dan Kuroko hanya bisa tersenyum senang. Ternyata Kagami benar-benar peduli padanya. Bahkan Ia bisa menyadari bahwa Kuroko mempunyai masalah.

“Tentu saja Kagami-kun.” Dan setelah itu, Kagami berbalik. Meninggalkan Kuroko sendiri bersama Nigou yang masih setia berada di sampingnya. Lapangan basket ini sudah menjadi sangat sepi. Kuroko suka keheningan seperti ini, yang membuatnya merasa tenang. Ia merasa bisa memikirkan semua masalahnya yang berhubungan dengan Akashi Seijuurou. Hanya satu nama yang menggangu pikirannya sejak tadi. Kapten Rakuzan itu selalu menggangu pikirannya. Apalagi dengan pernyataan dari Akashi tadi pagi. Kuroko benar-benar tidak bisa melupakannya. Jika mengingatnya saja, wajah Kuroko akan berubah menjadi berwarna merah.

“Hah,” Kuroko menghela nafas pelan, sebelum berdiri dari duduknya, dan mengambil bola basket yang berada ujung ring. Ia mengambil bola itu. Mendribblenya perlahan. Jika mengingat Ia harus sendirian di tempat latihan, dan memainkan bola basket seperti ini. Kuroko jadi mengingat pertemuannya dengan Akashi ketika masih berada di SMP Teiko dulu.

“Arghtt, Menyebalkan. Aku benci perasaan membingungkan ini!” dan bola yang ada di tangannya itu terlempar begitu saja. Kuroko mengacak surai birunya frustasi. Ia masih bingung dan tidak mengerti akan semua perasaan anehnya, yang selalu datang ketika Akashi ada di dekatnya.

“Apa yang membuatmu bingung , Tetsuya?” dan Suara bariton yang sangat Kuroko kenali itu, membuat tubuhnya membatu di tempat.

Tapp Tapp

Dan Suara langkah kaki yang terdengar itu, semakin membuat Kuroko gugup. Ia bahkan harus menelan salivanya saat merasakan sentuhan hangat yang kini berada di bahunya. Ia tidak ingin berbalik sekarang.

“Tetsuya,” dan bisikan pelan di telinganya membuat tubuh Kuroko meremang sekarang. Ia semakin yakin jika Akashi Seijuurou berada di belakangnya.

“A-akashi-kun?” Mencoba memastikan Kuroko bertanya, dan membalikan badannya. Ia dapat melihat Akashi yang tersenyum ke arahnya. Sial! senyum yang sudah lama tidak Kuroko lihat itu, membuat Kuroko salah tingkah dan hanya bisa terdiam ketika Akashi menyentuh pipinya dengan lembut.

“Aku akan membantumu supaya tidak bingung dengan perasaanmu, Tetsuya.” Dan bisikan seduktif di telinganya membuat sinyal tanda bahaya yang ada di kepalanya berbunyi. Waspadalah Tetsuya!

 

To Be Continued

Kan, kan ini tuh apaan banget. Sumpah ini apaan? ;’( kenapa jadi kaya gini, saya pun gak tau. Ilhamnya datang begitu saja 😥 coba tebak AkaKuro bakal ngapain? 😥 semoga suka minna-san ^^

Makasih banyak untuk Review di Chapter sebelumnya. Aku bener-bener seneng minna-san ^^

So, Mind To Review?

Astia Morichan^^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s