Love at First Sight is Full Of Shit! cuma curcolan gue

2

Love at first sight is fuckin shit dude!!! Awalnya gue gak percaya tapi ujung-uungnya gue percaya itu ada. Terserah kalo lo pada mau bilang gue lebay atau apa. Tapi ini lah pengalaman gue. Gue itu orangnya kalo gak suka sama orang bakal langsung ngeliatinn sikap gak suka gue. Emang gue orangnya easy going, tapi gak semua orang tau dalemnya gue gimana.well gue Cuma ngeliatin sifat asli gue ke orang yang udah gue percaya. And mungkin in karma dari Tuhan buat gue kali yah. Gezz gue emang doyan nolakin cowo yang nembak gue dengan alas an klise. ‘gue mau focus belajar.” But its true. Gue emang focus, dan sialnya mungkin itu nyakitin hati orang. Dan karma mungkin karena gue fujoshi suka YAOI. Setelah gue SMA di tahun ke dua. For fuckin careless!! Gue ketemu sama ‘dia.’ And my heartbeat its so fuckin annoying !!!!!!

 

Saat gue pertama kali liat. Gue terpesona langsung. Mata gue sama dia saling bersibobrok. Pas itu lagi di koridor atas. Dan gue emang jarang ke kelas atas karena kelas gue di bawah. Pas itu gue langsung terpesona sama dia. Matanya yang natap gue bener-bener bikin jantung gue jumpalitan. Menganga lebar di tempat dengan saling tatap.

Sialnya temen gue teriak di bawah dan akhirnya tatapan itu lepas. Dan gue harus turun ke bawah, dia pun tapi beda jalur. Pas di bawah, gue masih degdegan. Gue yang biasanya datar, kini merona -__- fuck.

 

Abis itu gue cari tau nama dia. Akhirnya kelas anak IPA semua di atas, dan dia juga di atas. Well akhirnya gue tau namanya. Setelah tau gue resmi jadi stalkernya, gue yang awalnya demen diem di kelas skrng malah sering keluar kelas buat liat itu orang. Kampretnya setiap gue lewat, dia selalu liat gue dan matanya seolah ngejerat gue gitu. Gezzz gue benci matanya, tapi suka -__-

 

Alhasil temen gue tau kalo gue naksir. Waktu itu hari jumat. Pas pulang sama temen guekan liat dia eh sialnya temen gue malah narik tas dia sehingga berbaliklah natap heran gue yang udah degdegan dengan muka merah dan nunduk, dan temen gue yang cengengesan liat dia sambil bilang. “Dia suka sama kamu.” Fuck! Rasanya gue pengen ngelakban mulutnya. Terus gue gagap tiba. Berdalih bohong dan niat mau kabur. Tapi temen gue malah narik tangan gu. Dan detik itu gue liat dia senyum liat tingkah konyol gue. Sumpah gue gak beranii natep, gue Cuma ngebalikin badan.

 

“Minta nomor kamu.” Akhirnya dia ngasih. Dan temen gue malah nanya yang lain.”Rumah kamu di mana?”Oke gue udah kesel. Jadi gue minta maaf atas kelakuan temen gue dan gue kabur.

 

Sampe rumah gue masih deg degan. Kampret yah. Mungkin efek pertama kali suka sama orang yang bener-bener bisa buat degdegan.

 

Gue sms. Tapi sialnya dia gak bales Oke saat itu gue anggep dia nolak. Dan kalo ketemu dia malunya minta ampun. Karena dia gue yang awalnya bawel cerewet, hyper, bisa diem langsung di tempat kalo liat dia. Karena dia gue bisa jadi orang yang paling idiot dan bertingkah konyol Cuma pengen liat dia senyum kalo liat gue salting.oke mungkin emang tingkah gue itu refleks. Dan gue gak suka sifat gue yang berubah karena dia. Karena dia gue bisa ngerasain cemburu padahal tau dia bukan milik gue -__- karena dia gue berasa miris karena gak bisa lirik yang laen. Karena dia gue ngerasa gila karena namanya selalu muncul di benak gue. Apa ini bisa di sebut cinta? Shit! Gue gak yakin.

 

Well, gue tahu dia pernah paacaran ama yang yuri. Mungkin untuk obtain itu cewe. Gezz baca lebih lanjut curcol gue di ‘ketika tahu gebetan Yaoi.’ Kalo mau tahu lah.

Well emang awalnya gue juga tepis pikiran dia yaoi. Hell! He is so fuckin adorable!!! Jadi bottom is so possible. Oke dan gue tahu akhirnya mungkin dia emang yaoi.

 

Fuck. Gue ngenes sendiri. Jadi gue mulai lupain dia. Tapi sialnya itu sulit. Temen gue yang cowo sampe bilang “Lo bener-beener suka sama dia yah. Dua tahun dude!” gue berdalih dan bilang udah ‘gue gak suka.”

Tapi dia bilang “Orang idiot aja bisa liat kalo lo udah skak matt.”

 

Nyesek emang. Cinta itu gila. Love is fucking. Perpisahan juni kemarin hari terakhir gue liat dia. Gezzz he is fuckin handsome !! dan gue masih gak bisa lupain dia. Gila yah dua tahun. Padahal udah tau dia yaoi, tapi masih ngarep. Tapi gak papalah mending yaoi dari pada straight bikin gue sakit hati.

Dan skarang gue mau coba lupain dia. Lupain semua hal idiot yang pernah gue lakuin. Its so fuckin idiot thing !! geezz doain gue move on -___-

I Remember You | NaruHina FF For Dea Taeyeon |Warning Inside!

0

Di bawah pohon Sakura yang sedang berguguran itu, duduk dua orang anak kecil disana. Gadis kecil bersurai indigo pendek nampak sibuk dengan buku gambar serta crayon di tangannya. Tangannya bergerak pelan, untuk menggambarkkan sesuatu. Sementara bocah laki-laki bersurai pirang duduk di sampingnya. Tubuh kecilnya itu bersandar di belakang pohon Sakura. Manik sapphireya itu menatap dedaunan pohon Sakura yang berjatuhan. Tangan kecil berkulit tan itu meraih beberapa kelopak daun yang berjatuhan. Kemudian bocah kecil itu- Namikaze Naruto menoleh ke arah Hyuuga Hinata yang masih sibuk menggambar.

 

“Ne, Hinata-chan. Apa yang sedang kau gambar?” Pertanyaan Naruto membuat Hinata menghentikan gerakan tangannya. Kemudian gadis kecil itu tersenyum manis ke arahnya. Membuat wajah Naruto bersemu merah.

 

“Tunggu. Sebentar lagi selesai, Naruto-kun.” Setelahnya, Hinata kembali menatap gambarannya. Gadis kecil itu, kembali menggerakan tangannya yang menggenggam crayon dengan cekatan. Sementara Naruto hanya bisa mengangguk, dan terus menatap Hinata.

“Selesai!” Hinata berseru riang, ketika gambarannya selesai dalam waktu lima menit. Kemudian Hinata menarik tangan Naruto. Membuat bocah pirang itu menoleh sambil mengernyitkan alisnya, ketika Hinata mengangkat hasil gambarnya.

Gambaran Hinata cukup bagus, untuk ukuran bocah berumur lima tahun. Gadis kecil itu menggambar tiga orang disana. Satu orang pria dewasa yang menggandeng seorang bocah dan juga seorang wanita dewasa yang juga menggandeng bocah itu. Gambar Hinata menggambarkan keluarga yang sangat bahagia.

 

“Hinata-chan kenapa kau menggambar ini? “ Kedua alis Naruto masih bertautan bingung. Pasalnya, gambaran Hinata itu nampak seperti dirinya dan juga Hinata yang menggandeng seorang anak laki-laki.

Hinata tersenyum bangga, sebelum jarinya menunjuk ke arah gambar yang ada di tangannya.

“I-ini adalah Naruto-kun. Ini adalah a-aku, dan yang kecil ini a-adalah anak kita.” Wajah Hinata sudah memerah sempurna saat mengatakannya. Begitu pula dengan Naruto yang wajahnya sudah memerah seperti Hinata.

Bocah pirang itu menggaruk belakang kepalanya, sambil tersenyum lebar ke arah Hinata.

“Apa itu impianmu, Hinata-chan?” Gadis kecil itu mengangguk pelan sebagai jawaban.

 

“A-aku ingin membuat keluarga yang bahagia seperti ini bersama N-naruto-kun,” Hinata menundukan kepalanya dalam. “A-aku tidak ingin punya keluarga yang berantakan seperti keluargaku.”

Manik sapphire itu membulat. Naruto hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan. Tapi Naruto tahu, gadis kecil yang selalu bersamanya itu sedang bersedih. Keluarga Hinata tidaklah utuh. Kedua orangtuanya bercerai satu tahun lalu. Hinata ikut dengan ayahnya, sementara adik kecilnya ikut dengan sang Ibu. Saat itu, Hinata selalu saja menangis. Gadis itu selalu berada di rumahnya, dan Naruto lah yang akan selalu menghibur Hinata.

“Bagaimana kalau kita berjanji satu hal, Hinata?” Hinata mendongak. Menatap manik sapphire Naruto yang sangat menenangkan baginya.

“A-apa?”

Naruto mengedarkan pandangannya ke sekitar pepohonan. Kemudian senyum lebar terukir di wajah tampannya itu. Bocah itu merangkak pelan ke belakang pohon sakura. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah ranting pohon yang berbentuk bulat. Sedetik kemudian, Naruto sudah mengambil tangan Hinata, dan menyematkan ranting itu pada jarinya.

“Setelah besar, nanti. Aku berjanji akan menikahimu. Jadi tunggulah aku, Hinata-chan.” Hinata mengangguk pelan sebagai jawaban. Kemudian Naruto tersenyum ke arahnya.

 

“Tunggu sebentar di sini Hinata-chan.” Naruto berbalik, dan berlari kecil ke arah rumahnya. Setelah cukup lama menunggu Naruto, akhirnya bocah bersurai pirang itu kembali membawa pisau kecil berwarna merah ke arahnya.

 

“N-naruto-kun mau apa?” Hinata menatap horor ketika Naruto sudah berada di depannya. Tapi yang Ia dapat, Naruto hanya tersenyum dan berbalik menatap sebuah pohon yang berada di belakangnya.

 

Tangan bocah kecil itu bergerak. Menulis ukiran di pohon itu dengan pisau yang ada di tangannya. Hinata mengernyit pelan, saat melihat Naruto yang kesusahan menulis di batang pohon. Tentu saja, pohon sakura kan cukup keras untuk di ukir. Hinata hanya bisa terdiam menatap Naruto yang menulis di pohon. Seharusnya kan Naruto menulis di kertas bukannya di pohon seperti itu.

 

Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya Naruto bersorak senang sambil menjatuhkan pisaunya ke bawah.

 

“Selesai. Lihatlah Hinata-chan. Ini sebagai bukti bahwa aku akan melamarmu nanti. Jadi tunggu aku, oke?” Naruto menarik tubuh Hinata agar gadis kecil itu menatap hasil karyanya. Yah, walaupun tulisannya tidak sebagus Hinata. Tapi itu cukup membuat Hinata senang melihatnya.

 

Naruto & Hinata

 

Hinata mengerjapkan matanya lucu saat melihat tulisan Naruto. Kemudian tangan kecilnya menyentuh tulisan itu.

“Uhm. Aku akan menunggu Naruto-kun sampai kapanpun.” Hinata berbalik menatap Naruto yang sekarang tersenyum kikuk, sambil menggaruk belakang kepalanya.

 

“Terimakasih, karena mau mengabulkan permintaanku.” Dan sedetik kemudian, Naruto bisa merasakan tubuhnya membeku ketika merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Bibirnya dengan Hinata bersentuhan. Hinata menciumnya tepat di bibir, dan itu membuat Naruto sangat senang sampai wajahnya memerah sempurna. Telinganya bahkan bergerak pelan, menandakan Ia sangat bahagia hari ini.

 

 

.

oOo

.

I Remember You

RM18!

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Romance, Drama

Warning! TYPOO, OOC, DONT LIKE DONT READ, ETC !! Penggunaan Bahasa yang cukup menjurus, serta beberapa adegan semi M. Jadi saya taruh di Rate M sesuai permintaan dari Dea Taeyon.

a/n: Fanfict NaruHina ini saya persembahkan untuk Dea Taeyon karena telah menjadi Reviewer ke 300 di WP saya. Terimakasih atas semua respectnya ^^ Mungkin FF ini hanya two shoot saja.

 

EnJOY!!

Happy Reading ^^

 

.

oOo

.

Gadis bersurai indigo itu- Hyuuga Hinata mengerucutkan bibirnya kesal. Hinata memegang tablet canggihnya itu yang bertuliskan Namikaze di tangannya. Mengangkatnya tinggi-tinggi agar bisa terlihat jelas oleh orang-orang yang berlalu lalang di Bandara itu. Sudah setengah jam Hinata berdiri, dan menunggu sambil mengangkat tulisan yang ada di tabletnya. Kakinya sudah pegal, karena terlalu lama berdiri. Hinata harap keluarga Namikaze segera keluar dan melihat tulisannya. Agar Hinata dapat segera pulang ke rumah, dan kembali bersantai. Jika saja ayahnya tidak menyuruhnya untuk menjemput Keluarga Namikaze yang berasal dari Paris itu dan akan menginap di rumah mereka beberapa hari kedepan, Hinata pasti akan menolaknya. Sayangnya, Ia tidak bisa menolak keinginan dari sang ayah tercinta.

 

“Tenzo-san, kenapa mereka belum datang juga?” Hinata menurunkan tabletnya, lalu menoleh ke arah Tenzo- yang merupakan supir pribadi keluarga Hyuuga yang sekarang masih memegang papan bertuliskan Namikaze. Laki-laki paruh baya itu tersenyum ke arahnya.

“Mungkin sebentar lagi. Apa Hinata-sama lelah? Mau saya belikan minuman?” Tenzo menawarkan, dan Hinata hanya bisa menggeleng pelan. Ia tidak mau menyusahkan supirnya itu.

 

“Aku akan beli sendiri. Apa tidak apa-apa Tenzo-san di tinggal?” Hinata bertanya ragu, sebelum memasukan tabletnya ke tas berwarna birunya.

 

“Tidak apa-apa, Hinata-sama. Saya akan menunggu disini.” Hinata lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.

 

“Baiklah. Aku akan membeli minuman dulu.” Dan Hinata langsung pergi menjauh, meninggalkan Tenzo yang kembali mengacungkan papan bertuliskan Namikaze.

.

oOo

.

Hinata tersenyum senang, saat dirinya berhasil membeli minuman yang berada di café Bandara itu. Kedua tangannya menggenggam dua buah minuman. Strawberry shake, dan juga black coffe. Kaki jenjangnya melangkah, membelah orang-orang yang berlalu lalang di bandara. Hinata menyesap minumannya sambil tersenyum senang. Ah- strawberry shake memang selalu berhasil untuk mengembalikan moodnya yang buruk tadi.

 

Brukk

 

Amethysnya membulat saat kedua tangan yang memegang minuman itu terjatuh. Strawberry shake miliknya berceceran begitu pula dengan black cofee yang di belinya untuk Tenzo. Kepalanya mendongak pelan, saat mendengar suara decihan kesal. Beserta suara baju yang di tepuk. Hinata harus menelan salivanya dalam, saat manik amethysnya menangkap sosok pemuda bersurai pirang, dengan manik sapphire yang menatapnya tajam. Refleks, Hinata menundukkan kepalanya.

 

“M-maaf. A-aku tidak sengaja.” Hinata tergagap. Masih menyembunyikan wajahnya, dengan cara menunduk.

 

“Apa kau tidak punya mata, Nona?” Pria itu mendelik tak suka. Manik sapphirenya menatap Hinata dengan pandangan menilai. Setelahnya, pemuda pirang itu tersenyum. Ah- tidak. lebih tepatnya, menyeringai kearahnya. Hinata bisa melihat seringaian tajam pemuda itu lewat ekor matanya, hanya bisa terdiam kaku. Jujur. Hinata takut menatap pemuda itu. Tapi Hinata merasa tidak asing dengannya.

 

“S-sekali lagi, maafkan aku.”

 

“Lain kali, kau harus berhati-hati Hyuuga.”

 

Manik amethysnya kembali membulat saat mendengar pria asing itu menyebut namanya. Kenapa bisa tahu Hinata seorang Hyuuga?

 

“Hinata-sama,” Seruan keras dari Tenzo membuatnya menoleh. Pria itu berlari cepat ke arahnya. Sedetik kemudian, Tenzo sudah berada di sampingnya. Lalu, matanya menatap pemuda bersurai pirang itu. Kemudian, Tenzo membungkukan badannya. “Selamat datang di Jepang, Naruto-sama. Ayah anda sudah menunggu di mobil.

 

Hinata terdiam melihat interaksi itu. Matanya bisa menangkap, Naruto menyeringai ke arahnya. Sebelum menjawab pertanyaan dari Tenzo.

 

“Baiklah Tenzo-san. Senang melihatmu baik-baik saja.” Naruto menampilkan senyum lima jarinya. Pemuda bersurai pirang itu, lalu mengulurkan tangannya sebagai sapaan. Yang di balas oleh Tenzo dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sudah lama sekali Ia tidak melihat Naruto. Ternyata Naruto sudah besar seperti Hinata, dan nampak sangat dewasa.

 

“Mari, lewat sini Naruto-sama. Ayo, Hinata-sama.” Tenzo menoleh ke arah Hinata yang masih terdiam. Sedetik kemudian, Hinata tersenyum kaku menatap ke arahnya dan juga Naruto. Wajahnya memerah, saat menyadari Naruto kembali menatapnya intens.

 

“Baiklah, Tenzo-san.” Hinata mengangguk. Kemudian membiarkan Tenzo membimbingnya bersama Naruto menuju mobil mereka berada. Tenzo berada di depan. Sementara Hinata berjalan gugup di belakangnya, dan berada di samping Naruto. Kenapa pemuda itu tidak berjalan di samping Tenzo saja? Sungguh. Hinata lebih memilih Naruto untuk berjalan di depannya. Canggung. Itulah yang Hinata rasakan. Apalagi sejak ada perasaan aneh yang menjalar saat dekat dengan Naruto. Perasaan itu tidak asing baginya. Ada rasa rindu yang amat sangat, saat menatap manik sapphirenya, dan Hinata tidak tahu apa maksud perasaan itu.

 

“Ne, Hinata-chan. Senang melihatmu baik-baik saja.” Naruto berucap tenang. Sementara Hinata menghentikan langkahnya mendengar penuturan dari Naruto. Naruto berbalik, menatap Hinata yang tidak melanjutkan langkahnya.

 

“S-sebenarnya, kau siapa?” Pertanyaan lirih itu terucap begitu saja dari bibir mungilnya. Membuat Naruto tersenyum ke arahnya. Mereka berhadapan sekarang. Bahkan Hinata bisa merasakan dengan jelas wangi mint bercampur citrus yang menguar dari tubuh Naruto. Sedetik kemudian, Hinata bisa meraskan pipinya di tangkup oleh jemari besar Naruto. Jari-jari panjangnya itu mengangkat dagunya agar manik amethys miliknya terperangkap pada manik sapphire menenangkan milik Naruto. Hinata hanya bisa terdiam. Tidak bisa berkutik, saat meraskan darahnya berdesir dan wajahnya memanas.

 

“Ah- Kau tega sekali melupakanku Hinata-chan,” Naruto semakin mendekatkan wajahnya. Hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. “Tentu saja aku Namikaze Naruto. Calon suamimu.” Naruto berbisik di depan bibirnya. Membuat tubuh Hinata kaku seketika, karena bisa merasakan terpaan hangat nafas Naruto di bibirnya. Tapi yang membuatnya diam tak berkutik adalah pernyataan yang keluar dari mulut Naruto. Sejak kapan dirinya menjadi calon istri dari Naruto. Itu benar-benar konyol!

 

“J-jangan bercanda,” Hinata mendorong dada bidang Naruto. Sehingga pemuda bersurai pirang itu menjauh beberapa senti.

 

“Aku datang kesini, untuk menepati janjiku padamu. Hinata.” Dan Hinata tidak sempat mengedipkan matanya. Saat benda bertekstur lembut sudah menempel di bibirnya. Naruto mencuri ciumannya. Ciuman beberapa detik, yang membuat Hinata segera tersadar. Gadis bersurai indigo itu mendorong tubuh Naruto, sehingga pautan bibir itu terlepas. Naruto mendecih tak suka, sambil mengusap bibirnya dengan jempolnya. Sementara Hinata, menatap Naruto horor, dan tangannya terangkat untuk menunjuk wajah tampan itu.

 

“K-kau! B-brengsek! Bodoh! I-idiot!” Umpatan itu Hinata ungakpkan dengan lancar, untuk melampiaskan kekesalan yang di sebebakan pemuda bersurai pirang itu. Sungguh. Baru kali ini, Hinata lancar dalam hal mengumpat seseorang.

Kemudian Hinata menatap tajam Naruto, yang sekarang terkekeh pelan. Lalu gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, menghampiri Tenzo yang sudah berada di depannya. Kakinya Ia hentakan, sehingga terdengar bunyi decitan sepatunya. Hinata benar-benar kesal, karena Naruto mencuri ciuman pertamanya itu. Rasanya Hinata ingin menendang Naruto ke planet Pluto agar tak perlu melihatnya lagi.

 

“Aku tidak tahu kau bisa mengumpat seperti itu.” Kekehan geli itu terlihat di wajah tampan Naruto. Membuatnya nampak lebih tampan dari tadi. Setelahnya, Naruto mengikuti langkah Hinata yang berjalan di depannya.

Hanya butuh waktu lima menit, agar amethysnya bisa menangkap sosok pria bersurai pirang, dan juga wanita bersurai merah yang berdiri di samping mobilnya bersama Tenzo. Wanita bersurai merah itu tersenyum, sambil melambaikan kedua tangannya. Hinata mengedipkan matanya. Ia merasa tidak asing dengan kedua sosok itu. Perlahan, kaki jenjangnya berjalan ke arah mereka.

 

“Hinata-chan!! Aku sangat merindukanmu!” Kushina langsung memeluk tubuh Hinata dengan erat. Tanpa memperdulikan Hinata yang masih kaget, karena dirinya langsung di peluk seperti itu. Sementara pria bersurai pirang yang mirip seperti Naruto, hanya tersenyum lembut padanya.

 

“Akhirnya, setelah sekian lama. Aku bisa melihat gadis kecilku ini.” Kushina melepaskan pelukannya. Lalu wanita bersurai merah itu, menatap Hinata lembut. Tatapan wanita itu membuat Hinata gugup. Jujur, Hinata sepertinya melupakan sesuatu yang penting.

 

“Kenapa kau diam saja? Apa kau lupa pada kami?” Pertanyaan Kushina dengan cepat di jawab oleh anggukan pelan dari Hinata. Lalu Kushina terkekeh pelan.

 

“Wajar saja, sudah 12 tahun kita tidak bertemu,” Manik violetnya menatap Hinata sedih.

 

“Aku adalah Namikaze Kushina,” Kushina tersenyum. Sebelum menunjuk ke arah Minato. “Ini adalah Namikaze Minato- suami ku. Dan kau juga pasti sudah bertemu dengan Naruto kan?” Hinata kembali mengangguk. Membuat Kushina semakin melebarkan senyumannya.

 

“Apa kau melupakannya juga?” Hinata kembali mengangguk pelan sebagai jawaban.

 

“Hah, aku tidak menyangka kau juga bisa melupakan Naruto,” Kushina menghela nafas kecewa. “Naruto itu sahabatmu waktu kecil, Hinata-chan. Dia selalu bersama denganmu.”

 

Dan ucapan dari Kushina membuat tubuh Hinata membatu. Otaknya seakan dipaksa untuk berpikir, ketika menerima informasi yang di sampaikan waniita itu. Impuls sarafnya mulai bekerja dengan cepat. Menghantarkan beberapa memori, tentang ingatannya. Kilasan-kilasan ingatan itu muncul begitu saja dalam kepala Hinata. Ah- Sekarang Hinata ingat siapa Naruto. Naruto adalah teman pertamanya.

 

.

oOo

.

 

Hyuuga Hinata sekarang tengah terdiam di belakang rumahnya. Area belakang rumahnya memang sangat indah, maka dari itu Hinata menyukainya. Ada sebuah danau kecil, dan juga beberapa pepohonan rindang di sekitarnya. Sehingga membuatnya tampak sejuk. Hinata terduduk, sambil memeluk lututnya. Tubuhnya bersandar pada sebuah pohon sakura yang sekarang tidak menunjukan keindahannya karena saat ini adalah musimnya. Amethysnya nampak kosong, saat menatap pemandangan danau yang ada di depannya. Air danau itu bergerak pelan bersamaan dengan teratai yang juga ikut bergerak mengikuti arus air.

 

“Kenapa aku bisa lupa tentang Naruto?” Hinata menghempaskan tubuhnya ke pohon. Kakinya sudah tidak di tekuk lagi. Kepalanya mengadah, menatap ke atas pohon sakura. Sekarang amethysnya terfokus pada satu goresan yang berada di tengah-tengah batang pohon. Sedetik kemudian, amethysnya memicing saat menyadari bahwa itu adalah sebuah tulisan kecil.

 

Sudut bibirnya tertarik, menampilkan sebuah senyuman manis. Sedetik kemudian, gadis itu berdiri dari duduknya. Tubuhnya menghadap ke arah pohon di mana tulisan itu semakin jelas di matanya. Tangannya terulur untuk menyentuh goresan kasar di pohon itu.

“Ternyata masih ada. Kenapa aku baru sadar?” Ucap Hinata lirih. Senyum di wajahnya tidak menghilang, saat Ia menyentuh tulisan itu.

 

Naruto & Hinata

 

“Apa kau mengingatnya?” Suara bariton itu mengalun indah, membuat Hinata menoleh ke arah sumber suara yang berani mengusik kesenangannya. Sedetik kemudian, amethysnya membulat saat menyadari wajah Naruto sudah berada tepat di depan wajahnya. Bahkan Hinata bisa merasakan nafas hangat dari Naruto menyentuh wajahnya. Sehingga membuat tubuhnya terdiam kaku. Sial! Tubuhnya tidak bisa di gerakan saat ini. Dan kenapa sejak tadi Hinata tidak merasakan kehadiran Naruto?

 

“Apa kau sudah mengingatku, Hinata-chan?”

 

Nafas Hinata tercekat, saat menyadari wajah Naruto semakin mendekat ke arahnya. Wajahnya sudah memerah sempurna sekarang, dan jantungnya sudah tidak bisa di ajak bekerja sama. Otaknya seakan menjadi tumpul, karena tidak merespon keinginan hatinya. Implus sarafnya sudah tidak bekerja dengan benar karena Naruto berada di sampingnya.

 

“A-apa?” Hinata tergagap pelan. Membuat Naruto terkekeh, sambil menarik dagunya dengan pelan agar amethysnya bisa menatap ke arahnya. Dan sialnya, manik sapphire itu mengunci manik amethysnya sehingga Hinata hanya bisa terfokus pada Naruto.

 

Kepala Naruto semakin mendekat ke arahnya. Tubuh mereka juga semakin dekat, karena Naruto menipiskan jarak dengan menarik Hinata dalam pelukannya. Sebelah tangan pemuda itu melingkar di pinggang Hinata. Memeluknya erat agar tidak bisa bergerak.

 

“Aku akan mengingatkanmu, Hinata.” Dan setelahnya, Hinata bisa merasakan bibirnya di cium oleh Naruto. Awalnya, Naruto hanya mengecup bibirnya beberapa kali. sebelum Naruto benar-benar melumatnya dengan lembut seakan bibir Hinata adalah permen kapas yang manis.

 

“Emmhh…” Erangan itu keluar bersamaan dengan masuknya benda tak bertulang milik Naruto. Naruto melesakan lidahnya, menyentuh titik sensitive di rongga hangat gadis itu. Sehingga membuatnya melengguh pelan. Sial! bibir Hinata benar-benar lembut, dan Naruto menyukainya. Kini lidahnya bergerak sensual, menyentuh lidah Hinata agar ikut bermain dengan lidahnya. Menghisap dan membelit lidah gadis itu beberapa kali. Gerakan lidahnya sangat sensual saat menghisap lidah gadis itu dengan lembut. Sehingga lengguhan itu kembali terdengar. Ah- Hinata benar-benar pasif, dan Naruto semakin menyukainya.

 

“Unhhh..” Desahan tertahan itu kembali terdengar. Membuat Naruto semakin menyeringai dalam ciumannya. Naruto bisa merasakan Hinata mendorong pelan tubuhnya, dan kaki Hinata sudah terasa lemas. Jika saja Naruto tidak memeluknya seperti ini, Naruto yakin gadis itu akan jatuh.

 

“Hah.. Hah..” Setelahnya Naruto melepaskan pautan bibirnya. Nafas Hinata terengah. Gadis itu nampak menghirup oksigen dengan cepat, seakan oksigen adalah hal langka baginya. Wajah Hinata sudah memerah sempurna. Lelehan saliva terlihat di sudut bibir gadis itu. Tangan Naruto terulur, jempolnya mengusap lembut sudut bibir Hinata. Kemudian pemuda bersurai pirang itu kembali mengecup bibirnya dengan cepat.

 

“Aku yakin, kau sudah mengingatku Namikaze Hinata.”

 

To Be Continued ^^

Yo, Sampai jumpa di chap depan. Well untuk sequel Married Project di tunggu aja yah. Doakan biar aku gak terlalu sibuk, jadi hiatusnya gak jadi. Hehe ^^

Mind To Review?

Walaupun hanya setitik Review kalian sangat berharga untuk saya ^^

 

Astia Morichan^^

 

I Love You, Hyung ! ChanBaek | Yaoi| Warning| Incest!

7

I Love You, Hyung!
RM 18!

Chara Belong To God, and over all this fict is mine

Warning ! Typo, OOC, Yaoi, Boys Love, DLDR!!

Baekhyun menyukai Chanyeol yang merupakan kakak barunya. Awalnya, Baekhyun membenci Chanyeol, yang sok mencari perhatian orang tuanya. Tapi karena suatu kejadian, Baekhyun menyukai Chanyeol. Dan semuanya berubah menjadi ambisi untuk mendapatkan kakak tirinya itu. Walaupun Chanyeol normal. Baekhyun akan membuat namja itu berbelok apapun caranya!

 

Park Chanyeol X Park Baekhyun

Other Pair

 

EnJOY!

Happy Reading, jangan lupa tinggalkan jejak walaupun setitik ^^

 

.

=oOo=

.

Namja bersurai coklat itu, kini menopang dagu dengan kedua tangannya. Manik kecoklatannya tak pernah lepas dari sosok pria bersurai hitam yang sedang menikmati sarapan paginya. Bibir sexy, Park Chanyeol bergerak perlahan untuk melumat pancake selai blueberrynya. Baekhyun menarik sudut bibirnya. Namja manis itu tersenyum melihat Chanyeol yang nampak menggoda. Sial! Bibir itu mengundangnya untuk segera melumatnya habis!

“Baekhyun,” Suara baritone itu mengalun indah memenuhi gendang telinganya. Bahkan Baekhyun harus mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika namanya di panggil oleh Chanyeol.

“Y-ya?”

“Apa ada yang salah dengan wajahku? Sejak tadi kau tidak memakan sarapanmu. Kau hanya menatapku saja.” Chanyeol mengernyitkan sebelah alisnya bingung. Manik obsidiannya memicing saat menyadari tubuh adiknya menegang dengan cepat. Sebelum menggelengkan kepalanya.

“Err.. T-tidak, Yeol.” Tangan gemetaran Baekhyun bergerak untuk mengambil salah satu garpu, dan juga pisau. Tangan kirinya menggengam erat pisau, yang sekarang tengah membelah pancake di hadapannya. Kemudian tangan kanannya menggenggam sebuah garpu, yang dengan cepat melayangkan tusukan garpu itu pada pancake selai strawberry miliknya. Baekhyun memasukan bagian pancake yang sudah di potong olehnya ke dalam mulutnya. Melumatnya perlahan, sehingga bagian pancake itu melumer dalam mulutnya.

“Kemana Appa, dan juga Luhan?” Chanyeol bertanya sambil menyesap black cofee miliknya perlahan. Obsidiannya melirik Baekhyun, yang sekarang masih mencoba fokus menikmati pancakenya.

Baekhyun menoleh ke arahnya. Setelah menelan pancakenya, namja bersurai coklat itu menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu. Mungkin mereka sudah berangkat duluan.” Chanyeol mengangguk pelan sebagai jawabannya. Namja berperawakan jangkung itu sudah menghabiskan sarapan paginya. Kemudian Chanyeol berdiri dari duduknya. Tangannya menarik tas ransel hitam yang berada di samping kursi.

“Aku akan menunggumu di mobil, Baek.” Chanyeol berbalik. Dengan langkah panjangnya, Ia melangkah menuju pintu keluar rumah megah itu. Chanyeol membuka pintu itu dengan gerakan kasual. Biasanya ada beberapa maid yang membukakan pintu. Tapi sialnya, Ayahnya itu meliburkan mereka. Hanya ada satu maid yaitu Seulgi, yang bertugas untuk memasak.

Melihat Chanyeol yang sudah keluar dari rumah. Baekhyun dengan cepat menyelesaikan sarapannya. Tangannya menarik segelas susu putih, lalu menyesapnya hingga tandas. Kemudian Baekhyun menarik tas berwarna coklat miliknya, dan menyampirkannya asal. Baekhyun berlari kecil menuju pintu. Lalu menutupnya sehingga menghasilkan bunyi yang cukup keras.

Baekhyun menyunggingkan senyumnya, saat matanya menangkap mobil ferrari berwarna merah yang terparkir tak jauh darinya. Baekhyun dapat melihat sosok Chanyeol, yang memainkan ponselnya. Dengan cepat, Baekhyun berlari menuju mobil. Sedetik kemudian, namja berparas cantik itu sudah duduk di samping kemudi. Chanyeol hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah Baekhyun yang seperti ini. Padahal dulu, Baekhyun terlihat sangat membencinya. Tapi akhir-akhir ini, namja bersurai coklat itu malah terlihat menempel padanya.

“Ayo pergi.” Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban. Chanyeol melirik Baekhyun lewat ekor matanya. Kemudian, Chanyeol mendekat kearahnya. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Baekhyun. Jari-jari panjangnya mengelus sudut bibir Baekhyun yang di nodai oleh bekas susu putih yang tadi di minumnya.

Tubuh Baekhyun menegang seperti mendapatkan sengatan listrik statis, saat ibu  jari Chanyeol menyentuhnya. Bahkan Baekhyun harus menahan nafasnya kali ini, karena Chanyeol terlalu dekat dengannya. Baekhyun bisa mencium aroma mint yang menguar dari tubuh Chanyeol. Sehingga membuatnya sedikit pening, untuk segera menghirupnya dengan cepat.

“Ada bekas susu di bibirmu, Baek.” Chanyeol tersenyum ke arahnya. Senyuman yang membuatnya seakan meleleh seketika. Jantungnya bahkan berdetak dengan keras, bagaikan sebuah genderang. Ah- Baekhyun takut jika Chanyeol bisa mendengar debarannya!!

“Pakai sabuk pengamanmu. Kita ngebut hari ini. Sepertinya, kita akan telat.” Chanyeol semakin mendekat ke arahnya. Tangannya terulur ke belakang tubuh Baekhyun, dan mengambil seat belt. Lalu memakaikannya pada tubuh Baekhyun.

“Yeol…” Baekhyun berbisik lirih di telinganya, saat Chanyeol memakaikan seat beltnya. Kemudian Chanyeol kembali menatapnya. Obsidian kelam itu menatapnya penuh tanya, sekaligus membuatnya terjerat untuk terus menatapnya. Sial! Mata Chanyeol benar-benar menggoda!!

“T-tidak jadi. Nanti saja.” Baekhyun tergugup, sebelum menundukan kepalanya. Enggan menatap wajah Chanyeol yang bisa saja membuatnya hilang kendali.

“Baiklah, ayo pergi.” Chanyeol menarik tubuhnya menjauh. Kemudian pria itu menarik seatbelt dan memasangnya pada tubuhnya. Chanyeol menarik kopling, dan mulai menjalankan mobilnya.

Hanya butuh waktu 15 menit, untuk mereka sampai di sekolah berastitektur zaman romawi itu. Chanyeol memarkirkan mobilnya di area parkiran. Kemudian, Chanyeol turun dari mobil. Di ikuti oleh Baekhyun yang mengekorinya dari belakang.

“Chan!!” Suara lembut seorang gadis terdengar. Gadis bersurai hitam itu berlari ke arah Chanyeol yang sekarang berjalan ke arahnya bersama Baekhyun. Baekhyun dapat melihat sudut bibir Chanyeol tertarik saat gadis itu mendekat ke arahnya. Sedetik kemudian, gadis itu memeluk erat tubuh Chanyeol. Membuat Chanyeol terkekeh pelan, sambil mengacak surai hitam gadis itu.

Sementara Baekhyun hanya bisa terdiam melihat adegan picisan di depannya. Baekhyun tahu bitch itu!! Hayoung – Primadona sekolah yang baru dua hari menjadi pacar Chanyeol! Sial!! Baekhyun menatap jijik ke arah mereka, dan mendelik sebal ke arah Hayoung yang memeluk Chanyeolnya begitu erat!

“Aku merindukanmu, Chan!” Baekhyun dapat mendengar gadis itu merajuk pada Chanyeol. Sementara pemuda tampan itu hanya berdehem pelan menjawabnya. Oh- Baekhyun bersyukur Chanyeol bersikap dingin pada gadis itu.

“Err.. Yeol. Aku duluan.” Ucap Baekhyun datar. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di mata Chanyeol. Walaupun sebenarnya dia Ingin menangis sekarang. Dadanya sesak. Jantungnya bagai di hujam ribuan belati sekaligus yang di aliri listrik. Sehingga membuatnya mati rasa. Baekhyun tidak suka jika Chanyeol di miliki orang lain. Chanyeol itu mutlak miliknya!! Apapun yang terjadi, Baekhyun pastikan Chanyeol bertekuk lutut padanya!!

“Aku akan menunggumu di parkiran saat pulang nanti.” Suara Chanyeol terdengar di belakangnya. Baekhyun menoleh, sebelum akhirnya memutar bola matanya malas ketika retinanya masih menangkap pemandangan menjijikan di depannya.

“Hm. Terserah.” Lalu Baekhyun berlalu. Meninggalkan Chanyeol dan bitch  itu di belakangnya. Sungguh Baekhyun kesal!! Park Chanyeol, lihat saja nanti apa yang akan ku lakukan padamu.

Dan setelahnya, Baekhyun menyeringai pelan. Sebelum melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.

.
=oOo=
.

Baekhyun membuka buku Fisika yang ada di depannya dengan kesal. Ah- Baekhyun kesal hanya karena satu hal! Chanyeol berada di kelas yang sama dengannya sekarang! Dan yang lebih sialnya lagi, bitch itu masih menempel di tubuh Chanyeol tanpa memperhatikan Han seongsaeng  yang menerangkan teori relavitas di depan.

Aku tidak tahan melihatnya! Aku ingin pulang!!

Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sebelum dia mengacak surai coklatnya kesal. Ah- Baekhyun sudah tidak tahan untuk segera menangis saat melihat bitch itu mencium leher Chanyeol. Dan yang paling membuatnya kesal adalah Chanyeol hanya terkekeh pelan menanggapi godaan bitch itu.

Son of the bitch!!

Entah harus berapa kali Baekhyun mengumpat sekarang. Baekhyun tahu, Chanyeol itu seorang player, dan tolong catat Chanyeol itu bukan seorang GAY  seperti dirinya!! Entah sejak kapan Baekhyun mulai menyukai kakak barunya itu. Padahal Chanyeol memasuki kehidupannya baru tiga bulan lalu. Chanyeol adalah anak teman ayahnya yang tinggal di Amerika. Tapi kedua orang tua Chanyeol sudah meninggal. Jadi Chanyeol di adopsi oleh Ayahnya.

Baekhyun bingung dengan perasaan asing yang muncul saat dekat dengan Chanyeol. Kenapa dia bisa menyukai Chanyeol?  Entah karena apa sejak kejadian yang tidak di sengaja antara dirinya dengan Chanyeol minggu lalu, membuat Baekhyun langsung menyukainya. Baekhyun ingin merasakan lagi bibir sexy Chanyeol yang menempel di bibirnya!

“Park Baekhyun, kenapa kau menutup wajahmu seperti itu?” Suara berat Han seongsaeng  membuyarkan lamunannya. Dengan cepat, dia mendongak dan menatap Han seongsaeng datar. “Apa kau sakit?” Mendengar kesempatan yang langka itu, Baekhyun langsung mengangguk cepat. Ah- lain kali Ia akan memberikan cake pada gurunya itu sebagai rasa terimakasih.

“Kalau begitu, kau boleh ke ruang kesehatan. Apa ada yang mau mengantarnya?” Pertanyaan dari Han seongsaeng  membuat Baekhyun terdiam kaku. Sebenarnya Baekhyun ingin sendiri. Tidak ingin di temani.

“Tidak usah, saem. Aku bisa sendiri ke ru–“

“Aku akan mengantarnya, saem.”  Suara bariton milik Chanyeol membuat Baekhyun membelalak. Sedetik kemudian, Baekhyun bisa meraskan tangannya di tarik ke luar oleh Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun khawatir. Bagaimana pun juga. Baekhyun adalah adiknya sekarang.

“Yeol…” Baekhyun berucap lirih, yang di balas anggukan pelan dari Chanyeol. Lalu mata melirik ke arah Hayoung yang mendelik sebal ke arahnya. Senyum penuh kemenangan terukir di wajah Baekhyun. Bisa Baekhyun pastikan bitch  itu melihatnya.

“Aku ingin pulang.”

“Aku tahu. Ayo, aku akan mengantarmu.” Tangannya semakin di tarik oleh Chanyeol. Membuat senyum Baekhyun mengembang.  Baekhyun pastikan, Chanyeol mengetahui perasaannya kali ini!

To Be Continued

Jadi gimana? Lanjut apa jangan? Kalau respon kalian positif terhadap fict ini saya akan lanjut^^

Astia Morichan

 

Love Is Blind, Right? KyuMin FF| My imagine about KyuMin Future

0

 

Ini hanyalah khayalan saya tentang KyuMin. Awalnya sih, cuman niat flashback. Liat-liat video ttng KyuMin. Eh, malah jadinya baper ;’( dan akhirnya terciptalah khayalan seperti ini. Hikss.. Kyuhyun-ah, aku hanya ingin kau bahagia. Cukup. Itu saja. Tidak lebih.

.

.oOo

.

‘Bukankah cinta itu buta? Walaupun di sakiti olehnya berulang-ulang. Tanganku selalu terbuka lebar untuknya. Seberapa egois dirinya, aku akan selalu berada di sampingnya. Bodoh kan? Tentu saja. Karena cinta itu bodoh.’

.

oOo

.

Di kamar bernuansa pink itu, nampak kedua namja tengah berhadapan. Satu namja berkulit pucat yang menatap namja yang lebih pendek dengannya.

“Aku ingin bercerai dengannya, Kyuhyun-ah,” manik foxynya menatap yakin Kyuhyun yang sekarang menautkan kedua alisnya bingung. Tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Hyung kesayangannya itu. Tapi ada secercah harapan di hatinya agar bisa memiliki lagi laki-laki itu.

“Aku lelah. A-aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu…” lanjutnya dengan bibir bergetar. Isakan lirih yang keluar dari mulutnya terdengar jelas oleh Kyuhyun. “A-aku mohon bawa aku pergi.” Sungmin menarik lengan Kyuhyun. Memeluk lengan namja berkulit pucat itu dengan erat.

“Min,” Suara bariton penuh kerinduan itu mengalun indah di telinga Sungmin.
“Kau tahu? Cintaku padamu sudah terlalu besar. ” Sungmin mendongak, bibirnya masih bergetar.

“Kau memiliki tanggung jawab, Hyung-ah.” Jujur. Ingin rasanya Kyuhyun membekap mulutnya dan mengatakan bahwa sebenarnya Ia ingin Sungmin menjadi miliknya lagi. Tapi Kyuhyun tahu, itu semua tidak mungkin bisa terjadi.

“Pulanglah Min.”

“A-apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Kyuhyun-ah?”

“Bukankah kau tahu aku sangat mencintai dirimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri?”

“Kalau begitu bawa aku pergi. Miliki aku lagi, Kyu.” Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Membuat Kyuhyun mencelos. Ia tidak ingin membuat Sungmin menangis lagi. Ia hanya ingin kebahagian untuk Hyungnya itu. Kyuhyun hanya tidak ingin Sungmin di hujat oleh seluruh dunia hanya karena dirinya. Tidak. Kyuhyun tidak ingin semua itu terjadi.

“Aku hanya ingin kau bahagia, Min.” Kyuhyun menangkup kedua pipi Sungmin. Menghapus air matanya, sebelum mengelus pelan pipi chubbynya dengan lembut. Sentuhan Kyuhyun selalu membuatnya tenang. Sungmin menyukai semuanya tentang Kyuhyun. Sungmin tahu Ia egois, karena selalu menyakiti Kyuhyun yang sangat mencintainya. Tapi itu tidak lebih karena Sungmin mencintai namja berkulit pucat itu.

“Bawa aku pergi. Hiks… Kyu…. A-aku hanya ingin dirimu.. Hiks… M-maafkan a-aku… Hiks… ” Tangis Sungmin pecah seketika. Suaranya bergetar hebat. Nafasnya tersendat, karena kesulikan menghirup oksigen. Sungmin tidak peduli, yang penting Ia ingin menangis sekarang agar perasaan menyesalnya hilang begitu saja.

Melihat Sungmin yang tampak kacau, Kyuhyun membawa Sungmin dalam dekapannya. Mengelus punggungnya dengan lembut. Berharap tangisan dari namja pemilik foxy eyes itu akan berhenti di ikuti dengan kesedihan dan penderitaannya yang menghilang.

“Aku tahu, Min. Tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja.” Sungmin menganguk pelan dalam pelukan Kyuhyun.

“B-berjanjilah padaku, jika kau akan membawaku p-pergi.” Suaranya masih bergetar. Sungmin semakin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun.

“Hn. Aku berjanji padamu Cho Sungmin.”

.

.

.

Setelah kejadian dimana Sungmin menangis meraung-raung di kamar mereka yang ada di dorm. Sungmin memutuskan untuk berhenti dari wajib militer yang Ia jalani selama satu tahun itu. Padahal tinggal satu tahun lagi abdinya pada negara selesai. Tapi Sungmin berhenti dengan bukti dan alasan yang cukup kuat agar pemerintah bisa menghentikan wajib militernya. Dan itu berhasil. Setelah itu, Sungmin memutuskan untuk segera menyelesaikan proses perceraiannya dengan Saeun. Awalnya istrinya itu menolak mentah-mentah. Dengan alasan bahwa Ia sangat mencintai Sungmin. Tapi akhirnya istrinya itu harus menelan pil pahit bernama kekecewaan karena Sungmin mengaku bahwa dirinya menyimpang. Sakit. Itulah yang wanita itu rasakan. Walaupun dengan enggan, Saeun memutuskan untuk menyetujui perceraian mereka.

Disinilah Sungmin berada sekarang, setelah menyelesaikan semua persoalannya. Sungmin memakai mantel tebal berwarna coklat. Wajahnya di tutupi oleh masker berwarna hitam. Tak lupa juga sebuah topi coklat yang menutupi wajahnya agar tak terlihat oleh netizen yang berada di Bandara Incheon. Kyuhyun pun sama. Pria berkulit pucat itu juga menyamarkan dirinya. Tangan kekarnya menggenggam jemari Sungmin erat. Menariknya lembut ke dalam pintu pesawat. Mereka duduk di ruangan vip di pesawat itu. Tujuan mereka adalah Belanda.

“Apa kau tidak akan menyesal, Min?” Suara bariton milik Kyuhyun membuatnya mendongak. Manik foxynya kini menatap obsidian kelam milik Kyuhyun. Lalu sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tulus. Tangan Sungmin bergerak pelan menangkup pipi Kyuhyun. Dan mengusapnya lembut.

“Kau tahu?” Matanya memicing ke arah Kyuhyun. Setelahnya Sungmin terkekeh pelan. “Penyesalanku itu hanya satu Kyuhyun-ah. Saat aku memutuskan untuk meninggalkanmu.”

Kyuhyun terdiam. Menunggu Sungmin untuk menumpahkan segala perasaannya.

“Terimakasih atas semua cinta yang kau berikan padaku. Terimakasih karna kau selalu mencintaiku yang egois ini. Terimakasih Kyuhyun-ah.” Setelahnya, Sungmin mendaratkan ciuman lembut di bibir Kyuhyun. Ciuman penuh cinta yang di balas dengan tekanan lembut dari Cho Kyuhyun.

“Aku lebih mencintaimu Ming.” Bisik Kyuhyun di sela-sela ciumannya.

.

oOo

.

Tamat!! Banzaii!! Tamatt. Hahaha. Nyeseekk……….. krikk…………… sakit, kalau inget mereka. Iya gak JOY? Adakah yang masih merindukan mereka sekarang? yah, Kyuhyun dan Sungmin. mungkin mereka mencintai dalam hati :’) hiksss…

Boku Wa Vampire | Chap 4| SasuHina FF| Vamfict

7

Boku Wa Vampire

Rated T

Romance, Fantasy

Song : Boku Wa Vampire – Hey! Say! JUMP

All Chara belong ‘Masashi Kishomoto’ and over all this fict is mine

Warning: OOC, TYPOS, DLL. DONT LIKE DONT READ YO!! Please be patient with me ^^

Sasuke X Hinata

Uchiha Sasuke yang merupakan bungsu dari Uchiha Fugaku – Sang Raja Vampire dunia kegelapan memberinya misi untuk membawa Hyuuga Hinata untuk membawanya kembali ke dunia vampire sesuai dengan perjanjian yang sudah Hiashi buat. Bisakah Sasuke membawanya? Dan menjadikan Hinata makhluk kegelapan seperti dirinya?

a/n: oke saya akan menjelaskan Chapter kemarin. chapter kemarin yang Sasuke memunculkan taringnya itu bukanlah mimpi. Itu nyata. Yang mimpi itu Cuma bagian akhirnya. Disini saya mencampur mitologi dunia bawah. Semoga semakin suka FFnya. Glorasium ada di bawah kalau gak ngerti ^^ Italic itu flashback.

Happy Reading!

Enjoy!!

Boku wa vampire koi wa dangerous
Kamitsuki souna kissu ga tomaranai
Boku wa vampire ai no shoudou ga
So burn! Burn! Haretsushi sounanda

Boku wa vampire kimi wa taagetto
Torokeru youna kissu shite ii kai?

oOo

 

Kastil megah itu terbentang dengan kokoh di daerah pegunungan berwarna hitam yang di kelilingi awan mendung. Kastil itu terlihat tua, dengan dinding putih beratap merah marun yang berdiri dengan gagah di atas bukit pada ketinggian 200 kaki. Aura kelam, nampak terasa jika berada di daerah itu. Bahkan para troll tidak ingin mendekat. Tentu saja, karena kastil megah ini adalah milik kerajaan Uchiha- yang merupakan Raja Vampire yang menguasi wilayah Barat.

Di bagian kastil itu, tepat di sebuah ruangan dengan dinding bercat semerah darah, dan juga beberapa patung menghiasi ruang singgsana itu. Ruangan itu hanya di penuhi oleh cahaya lilin yang menghiasi setiap sudut ruangan. Kursi tahta terlihat sangat megah, karena sang Raja tengah duduk tenang disana. Di kursi singgasana terlihat jelas sosok Uchiha Fugaku yang memakai baju zirah kebanggaannya menatap Uchiha Itachi dengan tajam.

“Tinggal lima hari lagi, sebelum Sasuke membawa kembali gadis Hyuuga itu,” Suara Fugaku menggema ke seluruh kastil kerajaan. Semua pengawal yang berada di sampingnya menunduk takut. Begitu pula, Uchiha Itachi- selaku pewaris tahta yang sekarang duduk bersimpuh. “Seharusnya, kau yang datang ke dunia manusia Itachi.” Fugaku bergeram marah, mengingat kelakuan Putra Sulungnya yang seenaknya pergi begitu saja.

Itachi hanya terdiam mendengar murka sang Ayah. Enggan membela dirinya sendiri. Lagi pula, ini semua adalah kesalahannya. Itachi kabur dari kerajaan, sehingga tugas yang seharusnya di berikan padanya di bebankan pada adiknya.

Astaroth akan mengincar Hinata. Ia akan mengirim bangsa Dracula untuk membawa Hinata ke Gerha Hades. Aku akan mengirimmu ke dunia manusia saat Hinata genap berusia 18 tahun. Tiga hari lagi kau harus turun ke sana. Dan membantu Sasuke. Adikmu tidak mungkin bisa melawan pasukan Dracula seorang diri,” Fugaku menghela nafas pelan. Ia sama sekali tidak menyangka jika harus melawan Astaroth. “Aku akan membicarakan kelakuan Astaroth pada Hades nanti.”

“Baiklah, Otou-sama.” Itachi mengangguk patuh. Ia sama sekali tidak menyangka akan berurusan dengan bangsa Dracula yang menjijikan itu. Itachi lebih baik berurusan dengan werewolf, atau manticore. Lagi pula, kenapa Astaroth sang Pangeran bermahkota Iblis itu menginginkan Hinata yang merupakan manusia? Itachi benar-benar tidak mengerti.

“Kau boleh pergi, Itachi. Kau akan membawa Sasori beserta Deidara nanti.” Itachi mengangguk, dan membungkuk hormat. Sebelum berbalik, menjauh dari singgasana sang Ayah. Ia ingin beristirahat di kastilnya sekarang. Sungguh, Itachi sangat lelah karena acara kaburnya dari kerajaan. Salahkan Konan- yang merupakan kekasihnya itu karena kabur seenaknya. Sehingga Itachi harus mencarinya ke wilayah Utara.

 

oOo

Bel tanda pulang berbunyi. Semua siswa bersorak senang karena hari ini adalah chrismas eve.Tapi yang lebih membuat mereka senang karea mereka tidak usah mendengarkan celotehan Kakashi Sensei yang menerangkan tentang Teori Relavitas. Sungguh, celotehan dari guru bersurai perak itu hanya membuat sakit kepala.

“Baiklah, pelajaran hari ini selesai. Selamat Natal.” Tanpa menunggu jawaban dari semua siswanya. Hatake Kakashi melenggang pergi. Meninggalkan kelas yang gaduh itu.

Gadis bersurai indigo itu terlihat sibuk saat Kakashi meninggalkan kelasnya. Hyuuga Hinata sibuk membereskan semua peralatan sekolahnya ke dalam tas. Ia tidak ingin terlalu lama di kelas. Ia harus segera keluar kelas untuk menghindari Sasuke.

Hinata tersenyum lega, saat menyadari semua alat tulis beserta buku sudah masuk ke dalam tasnya. Saking terlalu fokus pada tasnya, Hinata bahkan tidak menyadari kehadiran sosok Uchiha Sasuke yang sekarang berdiri tepat di hadapannya.

“Hinata. Kita perlu bicara.” Suara bariton milik Sasuke membuat Hinata terkesiap. Gadis itu terlihat kaget, saat amethysnya menangkap sosok Uchiha Sasuke yang menatapnya tajam. Onyx itu terlihat sangat mengintimidasi dirinya. Apalagi Uchiha itu sudah berada di depannya, sambil mengetuk ujung meja dengan jarinya

“A-aku t-tidak mau.” Hinata menunduk takut.

“Ada yang perlu kau ketahui Hinata.” Sasuke menarik tubuh gadis itu agar berdiri dari duduknya. Menggenggam tangan Hinata dan menariknya pergi keluar dari kerumunan orang yang berada di kelas itu. Hinata terdiam saat dirinya di tarik begitu saja. Ia tidak melawan. Dirinya terlalu takut dengan Sasuke. Walaupun sebenarnya, Hinata merindukan sosok Sasuke yang perhatian padanya.

Sudah lebih dari seminggu Hinata menjauh dari Sasuke. Memang, Sasuke selalu mengantarnya . Tapi pemuda bersurai raven itu selalu di abaikan olehnya. Sejak kejadian di kamar Hinata saat dirinya berubah menjadi sosok vampire yang menakutkan, Hinata selalu menjauh. Gadis itu akan selalu merasa ketakutan saat bersamanya. Seperti sekarang. Hinata memilih untuk diam sambil menundukan kepalanya , dari pada menatap Sasuke yang sudah menariknya pergi.

Mereka sudah berada di taman belakang. Tempat pertama kali Sasuke mengajaknya untuk berbicara. Angin dingin berhembus dengan kencang. Menerpa dedaunan. Bahkan rambut Hinata pun tertiup oleh angin, sehingga aroma lavender yang menguar dari tubuh Hinata bisa tercium dengan jelas oleh Sasuke. Sial! Sasuke merindukan tubuh gadis itu. Sudah terlalu lama Hinata mengabaikannya seperti ini. Dan itu adalah siksaan bagi Sasuke.

“Hinata, lihat aku.” Sasuke mengangkat dagu Hinata. Sehingga gadis itu mengadah, dan menatapnya. Membiarkan onyx sehitam malam itu mengunci amethysnya. Sasuke menangkup pipi Hinata dengan jemari kokohnya. Telunjuknya bermain dengan pipi Hinata. Hinata menutup matanya perlahan. Ia menyukai sentuhan Sasuke. Kehangatan yang Sasuke berikan membuatnya nyaman. Jujur saja, Hinata tidak ingin menjauh. Tapi jika mengingat kejadian di kamarnya dengan Sasuke membuat gadis itu kembali ketakutan.

“Waktuku dua hari lagi. Dan saat bulan purnama nanti, aku akan membawamu. Walaupun dengan paksaan.” Sasuke berucap lirih. Ia mendekatkan wajahnya. Mempersempit jarak antara dirinya dengan Hinata. Kening mereka bersentuhan. Nafas mereka saling berbaur satu sama lain.

Hinata membuka amethysnya. Ia menatap Sasuke perlahan.

“Ba-bagaimana jika aku kabur dari mu Sasuke-kun?”

 

“Mustahil. Kau tidak akan pernah lari dariku Hinata.”

 

“Tapi aku tak ingin menjadi makhluk penghisap darah Sasuke-kun!”

 

“Hinata terima takdirmu,” Sasuke kembali mengusap pipi Hinata pelan. “Jiwamu itu milik Uchiha. Kau akan menjadi sepertiku. Aku akan mengubahmu.”

Hinata terdiam. Masih enggan untuk membantah Ucapan dari Sasuke.

“Itachi, kakakku datang menemuiku kemarin. Kau di incar oleh Astaroth,” Hinata mengenyitkan alisnya heran. Tak mengerti dengan ucapan yang keluar dari vampire di hadapannya. “Bangsa Dracula akan mengincarmu juga nanti.” Dan tubuh Hinata seakan lemas saat mendengar peringatan dari Sasuke. Kenapa tidak ada yang benar? Semua ini tidak masuk akal. Kenapa Hinata harus di incar oleh Dracula? Bukankah Vampire dan Dracula itu sama? Lalu siapa pula Astaroth?

“Vampire dan Dracula itu berbeda Hinata,” Sasuke menjelaskan saat mendengar pikiran Hinata. Tersenyum pelan, saat Hinata menatapnya penuh tanya. Seakan mengatakan ‘Kau harus menjelaskan semuanya padaku, Sasuke-kun!’

“Astaroth adalah iblis. Putra mahkota Hades dari Tartarus. Apa kau tahu Tartarus?” Hinata mengangguk pelan. Tentu saja, Siapa pula yang tidak mengenal tempat mengerikan itu?

“Underworld. “

“Hn. Astaroth tertarik padamu. Entah apa yang sudah kau perbuat sehingga Iblis itu tertarik denganmu untuk membawamu ke Tartarus.” Amethys itu membulat. Tak percaya dengan cerita konyol yang di ceritakan Sasuke. Kenapa sekarang ada Iblis yang mengincarnya? Semua ini semakin tidak masuk akal! Hinata tidak mau di bawa ke Tartarus. Dalam pelajaran mitologi yang Ia pelajari di sekolahnya, Tartarus adalah tempat Kerajaan Dewa Hades. Neraka. Tempat yang sama sekali tidak ingin Hinata datangi.

“Berhenti berbicara omong kosong, Sasuke-kun!” Hinata mendorong tubuh Sasuke. Sehingga Tubuh mereka saling menjauh.

“Aku akan menjagamu sampai saat itu tiba, dan membawamu ke Kerajaanku Hinata. Aku tidak akan membiarkan Naruto membawamu ke Gerha Hades.” Hinata kembali menatap Sasuke tajam. Ia jengah mendengar omong kosong yang tidak masuk akal ini.

“Sasuke-kun, Hentikan omong kosongmu ini. A-aku tidak akan ikut denganmu, ataupun dengan Dracula yang kau ceritakan.” Hinata berbalik. Ia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Sasuke. Mengabaikan Sasuke yang sekarang bergeram marah sambil menatap punggungnya menjauh.

“Aku akan tetap membawamu. Ingat itu, Hinata!”

 

oOo

 

“Sedikit lagi nyonya. Ayo berusahalah.” Perawat bersurai hitam itu, menggenggam tangan Hyuuga Hikari yang sekarang tengah berjuang untuk melahirkan putri pertamanya di rumah sakit ternama yang ada di Tokyo. Peluh nampak membasahi kening wanita itu. Nafasnya berburu, berusaha untuk menarik nafas dengan dalam dan menghembuskannya pelan. Mengikuti saran dari Dokter Biwako.

 

“Kepalanya sudah terlihat. Sedikit lagi Hikari-san.” Biwako berseru saat melihat kepala sang bayi.

 

“Berjuanglah, Anata.” Hiashi menggenggam erat tangan Hikari. Pria paruh baya itu, terlihat cemas saat ini. Tangan gemetaran, saat melihat Hikari kesakitan. Baru kali ini, Ia melihat istrinya sakit seperti itu.

 

“Ahh,,, hah,, hah,,” Pegangan Hiashi mengerat saat sang istri berhasil mengeluarkan bayinya.

 

“Berhasil bayinya keluar,”Biwako berseru senang saat bayi permpuan bersurai indigo itu sudah berada di gendongannya.

“Shizune, bersihkan bayinya.” Biwako menyerahkan bayi itu pada tangan Shizune. Shizune menggendongnya dengan pelan, sebelum membersihkan darah yang menyelimuti bayi itu. Sementara Biwako kembali mengecek keadaan Hikari yang sekarang tersenyum bahagia karena putri pertamanya lahir. Hari ini Ia menjadi seorang Ibu.

 

“Sensei, bayi ini tidak menangis. Aku sudah menepuk punggungnya. Bahkan memberinya nafas buatan. Tapi bayi ini tidak menangis, dan terdiam. Wajahnya mulai memucat, Sensei!” Shizune berseru panik saat menyadari keadaan dari sang bayi dalam gendongannya. Sementara Hiashi dan Hikari terdiam kaku. Tubuh pasangan suami istri itu menengang. Tidak! Hiashi tidak ingin Putri satu-satunya itu meninggal. Dengan cepat, Hiashi mengambil bayi Hinata itu dari tangan Shizune. Shizune menatap kaget Hiashi.

“Berikan padaku. Aku yang akan mengurusnya. Keluar kalian semua!!” Hiashi berteriak lantang. Membuat semua perawat serta Dokter Biwako mengangguk patuh, dan keluar dari kamar rawat Hyuuga Hikari. Enggan melawan kekuasaan Hyuuga.

 

“Hikss, Ti-tidak. H-hinata ku akan baik-baik saja!!” Hikari menangis histeris. Wanita itu bahkan mengabaikan rasa sakit, akibat persalinan yang Ia jalani.

 

“27 Desember. Tepat saat bulan merah akan muncul. Uchiha akan membantu kita. Aku akan membuat ritual untuk memanggilnya disini.” Hiashi membuka tirai jendela yang memperlihatkan bulan yang di hiasi warna merah. Walaupun ini adalah musim salju. Bulan itu terbentang dengan indah, berhiaskan warna semerah darah.

“Kau akan hidup, anakku.” Hiashi mengecup kening bayi mungilnya dengan lembut. Sebelum meletakan Hinata pada gendongan Hikari.

 

“Aku akan mempersiapkan ritual. Kau tunggu, dan jaga Hinata.” Hikari mengangguk patuh, sambil memeluk erat Hinata. Membiarkan suaminya untuk pergi, dan mempersiapkan ritual terlarang.

 

oOo

Hiashi sudah menyiapkan sebuah ritual yang akan Ia jalankan di kamar bernuansa putih itu. Sebuah altar kecil, dan juga tempat tidur mungil berwarna merah terletak di ruangan itu. Lilin-lilin kecil mengelilingi altar itu. Hiashi menempatkan Hinata di altar itu. Bayi itu terlihat tidak bergeming sedikit pun. Hiashi dan Hikari menatap nanar putri pertamanya. Ini benar-benar menyakitkan. Jujur saja, Hiashi tidak tega untuk menjual putrinya pada makhluk kegelapan. Tapi Hiashi hanya ingin putrinya hidup. Apapun akan Ia lakukan asalkan putrinya hidup. Walaupun taruhannya adalah jiwanya sendiri. Itu tidak masalah.

 

“Tenanglah. Hinata akan hidup.” Hikari mengangguk. Menatap Hiashi dan Hinata dari ranjang pasien. Hikari hanya bisa berdoa dalam hati semoga pilihan suaminya tidaklah salah.

 

Setelah itu, Hiashi berlutut di depan altar. Ia mengucapkan beberapa mantra. Mulutnya bergumam pelan.

“Eala leofu sweoster, paem gastum befaeste ic pe. Alys pa poester pe inne onwunap. Ongunne Vampire!!”

 

Pyaarrr

 

Cahaya gelap tiba-tiba muncul menyelubungi altar itu. Puluhan kelelawar hitam bermunculan dan menyelumuti altar. Kelelawar hitam itu tiba-tiba berubah menjadi sosok pria paruh baya yang memakai jubah hitam beserta mahkota berkilauan yang terpasang di kepalanya. Pria itu terlihat sangat menawan dan gagah karena baju zirah yang di kenakannya tampak sangat cocok. Bagaikan seorang Raja zaman dahulu yang sekarang berkunjung ke zaman modern. Pria itu berdiri di samping altar. Menatap Hyuuga Hiashi, yang sekarang menunduk takut.

“Ada apa kau memanggilku Hyuuga?” Suara itu menggema di seluruh ruangan yang sekarang hanya di penuhi oleh cahaya lilin.

Hiashi mendongkak, menatap takut sosok Raja Vampire di hadapannya. Baru kali ini Hiashi bertemu seorang vampire. Keluarga Hyuuga sejak dulu memang pernah terikat dengan Vampire. Kakaknya- Hyuuga Hizashi bahkan menjual jiwanya sendiri hanya untuk kekayaan abadi.

“Tolong saya, Uchiha-sama.”

 

“Apa kau tahu imbalannya jika memohon pada iblis Hiashi?”

 

“Tentu, Uchiha-sama. Saya akan memberikan jiwa saya pada anda.” Tawa Fugaku terdengar meremehkan. Ia menatap rendah Hiashi yang masih tertunduk takut.

 

“Aku tidak menginginkan jiwa kotormu itu, Hyuuga.”

 

“Saya akan melakukan apapun untuk anda Uchiha-sama. Asalkan anda bisa menghidupkan anak saya.” Ucap Hiashi lirih. Ia benar-benar berharap jika vampire yang ada di depannya ini dapat menolongnya. Hiashi tahu, iblis berjenis vampire akan mengabulkan keinginannya.

“Aku menginginkan jiwa putrimu.” Hiashi membelalak, sebelum berseru takut.

“S-saya mohon, jangan sakiti putri saya Uchiha-sama.”

 

“Tidak. aku tidak akan menyakiti putrimu. Aku hanya menginginkan putrimu untuk menjadi pendamping hidup putraku kelak. Saat putrimu berumur 18 tahun. Aku akan membawanya ke kerajaanku.”

“Baiklah, saya setuju Uchiha-sama.” Tanpa pikir panjang, Hiashi menyetujui perjanjian itu. Hikari yang sejak tadi melihat, kini berseru keras. Memohon pada Raja vampire yang berada di hadapannya dengan tatapan memelas.

“Berjanjilah pada kami, jika anda tak akan menyakiti putri kami saat anda membawanya ke dunia anda.”

 

“Tentu saja, aku tak akan mengingkarinya.” Fugaku berbalik. Menatap bayi yang sudah tergeletak tak berdaya di hadapannya. Fugaku menggendong Hinata. Ia memandang bayi mungil itu dengan pandangan menilai. Setelahnya, Fugaku tersenyum. Ia menelusuri jari panjangnya, pada wajah Hinata. Jari-jarinya menari, menyentuh setiap tubuh bayi mungil itu. Kemudian, kuku panjangnya menyentuh lengan Hinata. Dan darah segar berwarna merah pekat itu keluar dari lengan Hinata. Setelah itu, Ia memunculkan kedua taringnya. Fugaku menancapkan taringnya pada lengan Hinata. Ia menghisap darah bayi itu, sebelum kembali menggigitnya dan membiarkan darahnya masuk ke dalam pembuluh darah Hinata. Fugaku sudah menandai bayi mungil itu. Sehingga Hiashi, tidak dapat mengingkari janjinya.

 

“Oeeee,, Oeeee,,” Dan tangisan bayi itu menggema di seluruh ruangan. Hikari dan Hiashi tersenyum lega mendapat putri pertama mereka menangis dengan sangat kencang dalam pelukan Fugaku.

 

“Terimakasih, Uchiha-sama. Terimakasih.” Hiashi berseru haru. Kemudian Ia mengambil Hinata dalam gendongan Fugaku. Hiashi mengecup sayang pipi bayi mungilnya itu. Ia benar-benar bahagia.

“Putraku akan menjemputnya 18 tahun lagi, Hiashi. Ingatlah janjimu.” Dan Fugaku kembali menjadi sosok kelelawar hitam yang mulai berpudar menjadi kegelapan absolut bersamaan dengan cahaya lilin yang tertiup angin.

oOo

 

Pemuda bersurai pirang itu tengah menatap pemandangan padang asphodel yang berada di depannya. Manik birunya itu menatap puas, saat mendengar suara siksaan yang menggema disana. Teriakan meminta tolong itu terdengar seperti nyanyian merdu di telinganya. Walaupun teriakan di padang asphodel tidak seindah teriakan kesakitan di padang Hukuman. Tapi Naruto menyukainya. Di tempat ini, seluruh jiwa kotor akan di bersihkan.

“Fugaku-sama, memerintahkan Itachi untuk turun ke dunia manusia. Membantu Sasuke untuk menjaga gadis Hyuuga itu dari anda, Naruto-sama.” Empousa bersurai pink berlutut di hadapan Naruto-sang Astaroth. Ia adalah putra mahkota yang akan menguasai seluruh makhluk kegelapan. Termasuk Vampire dan juga Dracula.

 

“Menarik. Aku semakin menginginkan Hinata untuk menjadi milikku saat ini.” Naruto menyeringai saat membayangkan Ia dapat membawa Hinata ke dalam kegelapan absolut miliknya. Naruto benar-benar tertarik pada Hinata, saat pertama kali bertemu dengan gadis polos itu.

 

“Dua hari lagi, Naruto-sama. Anda harus bergegas untuk menjemput Hyuuga Hinata.” Sang Empousa itu mengingatkan.

 

“Tentu saja, Sakura. Aku sudah bersiap untuk hal ini sejak lama. Kau lihatlah permainanku ini. Dan jangan sampai Otou-san mengetahui perbuatanku ini, atau aku akan membunuhmu.” Naruto menatap tajam Sakura. Sehingga empousa penghianat itu mengangguk patuh.

 

“Bagus, kau bisa kembali memata-matai kerajaan Vampire.”

 

“Baiklah, Naruto-sama.” Dan Sakura membungkuk hormat. Sebelum meninggalkan Naruto yang masih menyeringai menatap padang asphodel di depannya. Jujur saja, Sakura membenci padang asphodel itu. Sakura tidak menyukai suara teriakan kesakitan yang selalu menggema di sepanjang padang asphodel.

 

To Be Continued

To Be Continued

 

Astaroth: Iblis bermahkota dari Neraka. Aku buat Astaroth itu anak Hades. Dan dia adalah Naruto.

Manticore: makluk berkepala manusia, bertubuh singa, dan berekor kalajenking.

Gerha Hades: Kerajaan Hades di dunia bawah.

Tartarus: Dunia Bawah aka Neraka aka Underworld

Padang Asphodel: bagian Dunia Bawah tempat tinggal orang-orang mati yang semasa hidupnya amal baik dan buruk seimbang.

Empousa: vampire wanita bertaring, bercakar, dan berkulit seputih tulang. Vampire ini bisa berubah bentuk jadi apapun. Manusia, atau vampire lain.

 

Sekian penjelasaannya. Pokoknya FF ini akan menyangkut seluruh bagian makhluk kegelapan. Maupun itu iblis, vampire, makluk mitologi, dan juga dewa penguasa tartarus.

Sign

Astia Morichan ^^