I Remember You | NaruHina FF For Dea Taeyeon |Warning Inside!

Di bawah pohon Sakura yang sedang berguguran itu, duduk dua orang anak kecil disana. Gadis kecil bersurai indigo pendek nampak sibuk dengan buku gambar serta crayon di tangannya. Tangannya bergerak pelan, untuk menggambarkkan sesuatu. Sementara bocah laki-laki bersurai pirang duduk di sampingnya. Tubuh kecilnya itu bersandar di belakang pohon Sakura. Manik sapphireya itu menatap dedaunan pohon Sakura yang berjatuhan. Tangan kecil berkulit tan itu meraih beberapa kelopak daun yang berjatuhan. Kemudian bocah kecil itu- Namikaze Naruto menoleh ke arah Hyuuga Hinata yang masih sibuk menggambar.

 

“Ne, Hinata-chan. Apa yang sedang kau gambar?” Pertanyaan Naruto membuat Hinata menghentikan gerakan tangannya. Kemudian gadis kecil itu tersenyum manis ke arahnya. Membuat wajah Naruto bersemu merah.

 

“Tunggu. Sebentar lagi selesai, Naruto-kun.” Setelahnya, Hinata kembali menatap gambarannya. Gadis kecil itu, kembali menggerakan tangannya yang menggenggam crayon dengan cekatan. Sementara Naruto hanya bisa mengangguk, dan terus menatap Hinata.

“Selesai!” Hinata berseru riang, ketika gambarannya selesai dalam waktu lima menit. Kemudian Hinata menarik tangan Naruto. Membuat bocah pirang itu menoleh sambil mengernyitkan alisnya, ketika Hinata mengangkat hasil gambarnya.

Gambaran Hinata cukup bagus, untuk ukuran bocah berumur lima tahun. Gadis kecil itu menggambar tiga orang disana. Satu orang pria dewasa yang menggandeng seorang bocah dan juga seorang wanita dewasa yang juga menggandeng bocah itu. Gambar Hinata menggambarkan keluarga yang sangat bahagia.

 

“Hinata-chan kenapa kau menggambar ini? “ Kedua alis Naruto masih bertautan bingung. Pasalnya, gambaran Hinata itu nampak seperti dirinya dan juga Hinata yang menggandeng seorang anak laki-laki.

Hinata tersenyum bangga, sebelum jarinya menunjuk ke arah gambar yang ada di tangannya.

“I-ini adalah Naruto-kun. Ini adalah a-aku, dan yang kecil ini a-adalah anak kita.” Wajah Hinata sudah memerah sempurna saat mengatakannya. Begitu pula dengan Naruto yang wajahnya sudah memerah seperti Hinata.

Bocah pirang itu menggaruk belakang kepalanya, sambil tersenyum lebar ke arah Hinata.

“Apa itu impianmu, Hinata-chan?” Gadis kecil itu mengangguk pelan sebagai jawaban.

 

“A-aku ingin membuat keluarga yang bahagia seperti ini bersama N-naruto-kun,” Hinata menundukan kepalanya dalam. “A-aku tidak ingin punya keluarga yang berantakan seperti keluargaku.”

Manik sapphire itu membulat. Naruto hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan. Tapi Naruto tahu, gadis kecil yang selalu bersamanya itu sedang bersedih. Keluarga Hinata tidaklah utuh. Kedua orangtuanya bercerai satu tahun lalu. Hinata ikut dengan ayahnya, sementara adik kecilnya ikut dengan sang Ibu. Saat itu, Hinata selalu saja menangis. Gadis itu selalu berada di rumahnya, dan Naruto lah yang akan selalu menghibur Hinata.

“Bagaimana kalau kita berjanji satu hal, Hinata?” Hinata mendongak. Menatap manik sapphire Naruto yang sangat menenangkan baginya.

“A-apa?”

Naruto mengedarkan pandangannya ke sekitar pepohonan. Kemudian senyum lebar terukir di wajah tampannya itu. Bocah itu merangkak pelan ke belakang pohon sakura. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah ranting pohon yang berbentuk bulat. Sedetik kemudian, Naruto sudah mengambil tangan Hinata, dan menyematkan ranting itu pada jarinya.

“Setelah besar, nanti. Aku berjanji akan menikahimu. Jadi tunggulah aku, Hinata-chan.” Hinata mengangguk pelan sebagai jawaban. Kemudian Naruto tersenyum ke arahnya.

 

“Tunggu sebentar di sini Hinata-chan.” Naruto berbalik, dan berlari kecil ke arah rumahnya. Setelah cukup lama menunggu Naruto, akhirnya bocah bersurai pirang itu kembali membawa pisau kecil berwarna merah ke arahnya.

 

“N-naruto-kun mau apa?” Hinata menatap horor ketika Naruto sudah berada di depannya. Tapi yang Ia dapat, Naruto hanya tersenyum dan berbalik menatap sebuah pohon yang berada di belakangnya.

 

Tangan bocah kecil itu bergerak. Menulis ukiran di pohon itu dengan pisau yang ada di tangannya. Hinata mengernyit pelan, saat melihat Naruto yang kesusahan menulis di batang pohon. Tentu saja, pohon sakura kan cukup keras untuk di ukir. Hinata hanya bisa terdiam menatap Naruto yang menulis di pohon. Seharusnya kan Naruto menulis di kertas bukannya di pohon seperti itu.

 

Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya Naruto bersorak senang sambil menjatuhkan pisaunya ke bawah.

 

“Selesai. Lihatlah Hinata-chan. Ini sebagai bukti bahwa aku akan melamarmu nanti. Jadi tunggu aku, oke?” Naruto menarik tubuh Hinata agar gadis kecil itu menatap hasil karyanya. Yah, walaupun tulisannya tidak sebagus Hinata. Tapi itu cukup membuat Hinata senang melihatnya.

 

Naruto & Hinata

 

Hinata mengerjapkan matanya lucu saat melihat tulisan Naruto. Kemudian tangan kecilnya menyentuh tulisan itu.

“Uhm. Aku akan menunggu Naruto-kun sampai kapanpun.” Hinata berbalik menatap Naruto yang sekarang tersenyum kikuk, sambil menggaruk belakang kepalanya.

 

“Terimakasih, karena mau mengabulkan permintaanku.” Dan sedetik kemudian, Naruto bisa merasakan tubuhnya membeku ketika merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Bibirnya dengan Hinata bersentuhan. Hinata menciumnya tepat di bibir, dan itu membuat Naruto sangat senang sampai wajahnya memerah sempurna. Telinganya bahkan bergerak pelan, menandakan Ia sangat bahagia hari ini.

 

 

.

oOo

.

I Remember You

RM18!

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Romance, Drama

Warning! TYPOO, OOC, DONT LIKE DONT READ, ETC !! Penggunaan Bahasa yang cukup menjurus, serta beberapa adegan semi M. Jadi saya taruh di Rate M sesuai permintaan dari Dea Taeyon.

a/n: Fanfict NaruHina ini saya persembahkan untuk Dea Taeyon karena telah menjadi Reviewer ke 300 di WP saya. Terimakasih atas semua respectnya ^^ Mungkin FF ini hanya two shoot saja.

 

EnJOY!!

Happy Reading ^^

 

.

oOo

.

Gadis bersurai indigo itu- Hyuuga Hinata mengerucutkan bibirnya kesal. Hinata memegang tablet canggihnya itu yang bertuliskan Namikaze di tangannya. Mengangkatnya tinggi-tinggi agar bisa terlihat jelas oleh orang-orang yang berlalu lalang di Bandara itu. Sudah setengah jam Hinata berdiri, dan menunggu sambil mengangkat tulisan yang ada di tabletnya. Kakinya sudah pegal, karena terlalu lama berdiri. Hinata harap keluarga Namikaze segera keluar dan melihat tulisannya. Agar Hinata dapat segera pulang ke rumah, dan kembali bersantai. Jika saja ayahnya tidak menyuruhnya untuk menjemput Keluarga Namikaze yang berasal dari Paris itu dan akan menginap di rumah mereka beberapa hari kedepan, Hinata pasti akan menolaknya. Sayangnya, Ia tidak bisa menolak keinginan dari sang ayah tercinta.

 

“Tenzo-san, kenapa mereka belum datang juga?” Hinata menurunkan tabletnya, lalu menoleh ke arah Tenzo- yang merupakan supir pribadi keluarga Hyuuga yang sekarang masih memegang papan bertuliskan Namikaze. Laki-laki paruh baya itu tersenyum ke arahnya.

“Mungkin sebentar lagi. Apa Hinata-sama lelah? Mau saya belikan minuman?” Tenzo menawarkan, dan Hinata hanya bisa menggeleng pelan. Ia tidak mau menyusahkan supirnya itu.

 

“Aku akan beli sendiri. Apa tidak apa-apa Tenzo-san di tinggal?” Hinata bertanya ragu, sebelum memasukan tabletnya ke tas berwarna birunya.

 

“Tidak apa-apa, Hinata-sama. Saya akan menunggu disini.” Hinata lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.

 

“Baiklah. Aku akan membeli minuman dulu.” Dan Hinata langsung pergi menjauh, meninggalkan Tenzo yang kembali mengacungkan papan bertuliskan Namikaze.

.

oOo

.

Hinata tersenyum senang, saat dirinya berhasil membeli minuman yang berada di café Bandara itu. Kedua tangannya menggenggam dua buah minuman. Strawberry shake, dan juga black coffe. Kaki jenjangnya melangkah, membelah orang-orang yang berlalu lalang di bandara. Hinata menyesap minumannya sambil tersenyum senang. Ah- strawberry shake memang selalu berhasil untuk mengembalikan moodnya yang buruk tadi.

 

Brukk

 

Amethysnya membulat saat kedua tangan yang memegang minuman itu terjatuh. Strawberry shake miliknya berceceran begitu pula dengan black cofee yang di belinya untuk Tenzo. Kepalanya mendongak pelan, saat mendengar suara decihan kesal. Beserta suara baju yang di tepuk. Hinata harus menelan salivanya dalam, saat manik amethysnya menangkap sosok pemuda bersurai pirang, dengan manik sapphire yang menatapnya tajam. Refleks, Hinata menundukkan kepalanya.

 

“M-maaf. A-aku tidak sengaja.” Hinata tergagap. Masih menyembunyikan wajahnya, dengan cara menunduk.

 

“Apa kau tidak punya mata, Nona?” Pria itu mendelik tak suka. Manik sapphirenya menatap Hinata dengan pandangan menilai. Setelahnya, pemuda pirang itu tersenyum. Ah- tidak. lebih tepatnya, menyeringai kearahnya. Hinata bisa melihat seringaian tajam pemuda itu lewat ekor matanya, hanya bisa terdiam kaku. Jujur. Hinata takut menatap pemuda itu. Tapi Hinata merasa tidak asing dengannya.

 

“S-sekali lagi, maafkan aku.”

 

“Lain kali, kau harus berhati-hati Hyuuga.”

 

Manik amethysnya kembali membulat saat mendengar pria asing itu menyebut namanya. Kenapa bisa tahu Hinata seorang Hyuuga?

 

“Hinata-sama,” Seruan keras dari Tenzo membuatnya menoleh. Pria itu berlari cepat ke arahnya. Sedetik kemudian, Tenzo sudah berada di sampingnya. Lalu, matanya menatap pemuda bersurai pirang itu. Kemudian, Tenzo membungkukan badannya. “Selamat datang di Jepang, Naruto-sama. Ayah anda sudah menunggu di mobil.

 

Hinata terdiam melihat interaksi itu. Matanya bisa menangkap, Naruto menyeringai ke arahnya. Sebelum menjawab pertanyaan dari Tenzo.

 

“Baiklah Tenzo-san. Senang melihatmu baik-baik saja.” Naruto menampilkan senyum lima jarinya. Pemuda bersurai pirang itu, lalu mengulurkan tangannya sebagai sapaan. Yang di balas oleh Tenzo dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sudah lama sekali Ia tidak melihat Naruto. Ternyata Naruto sudah besar seperti Hinata, dan nampak sangat dewasa.

 

“Mari, lewat sini Naruto-sama. Ayo, Hinata-sama.” Tenzo menoleh ke arah Hinata yang masih terdiam. Sedetik kemudian, Hinata tersenyum kaku menatap ke arahnya dan juga Naruto. Wajahnya memerah, saat menyadari Naruto kembali menatapnya intens.

 

“Baiklah, Tenzo-san.” Hinata mengangguk. Kemudian membiarkan Tenzo membimbingnya bersama Naruto menuju mobil mereka berada. Tenzo berada di depan. Sementara Hinata berjalan gugup di belakangnya, dan berada di samping Naruto. Kenapa pemuda itu tidak berjalan di samping Tenzo saja? Sungguh. Hinata lebih memilih Naruto untuk berjalan di depannya. Canggung. Itulah yang Hinata rasakan. Apalagi sejak ada perasaan aneh yang menjalar saat dekat dengan Naruto. Perasaan itu tidak asing baginya. Ada rasa rindu yang amat sangat, saat menatap manik sapphirenya, dan Hinata tidak tahu apa maksud perasaan itu.

 

“Ne, Hinata-chan. Senang melihatmu baik-baik saja.” Naruto berucap tenang. Sementara Hinata menghentikan langkahnya mendengar penuturan dari Naruto. Naruto berbalik, menatap Hinata yang tidak melanjutkan langkahnya.

 

“S-sebenarnya, kau siapa?” Pertanyaan lirih itu terucap begitu saja dari bibir mungilnya. Membuat Naruto tersenyum ke arahnya. Mereka berhadapan sekarang. Bahkan Hinata bisa merasakan dengan jelas wangi mint bercampur citrus yang menguar dari tubuh Naruto. Sedetik kemudian, Hinata bisa meraskan pipinya di tangkup oleh jemari besar Naruto. Jari-jari panjangnya itu mengangkat dagunya agar manik amethys miliknya terperangkap pada manik sapphire menenangkan milik Naruto. Hinata hanya bisa terdiam. Tidak bisa berkutik, saat meraskan darahnya berdesir dan wajahnya memanas.

 

“Ah- Kau tega sekali melupakanku Hinata-chan,” Naruto semakin mendekatkan wajahnya. Hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. “Tentu saja aku Namikaze Naruto. Calon suamimu.” Naruto berbisik di depan bibirnya. Membuat tubuh Hinata kaku seketika, karena bisa merasakan terpaan hangat nafas Naruto di bibirnya. Tapi yang membuatnya diam tak berkutik adalah pernyataan yang keluar dari mulut Naruto. Sejak kapan dirinya menjadi calon istri dari Naruto. Itu benar-benar konyol!

 

“J-jangan bercanda,” Hinata mendorong dada bidang Naruto. Sehingga pemuda bersurai pirang itu menjauh beberapa senti.

 

“Aku datang kesini, untuk menepati janjiku padamu. Hinata.” Dan Hinata tidak sempat mengedipkan matanya. Saat benda bertekstur lembut sudah menempel di bibirnya. Naruto mencuri ciumannya. Ciuman beberapa detik, yang membuat Hinata segera tersadar. Gadis bersurai indigo itu mendorong tubuh Naruto, sehingga pautan bibir itu terlepas. Naruto mendecih tak suka, sambil mengusap bibirnya dengan jempolnya. Sementara Hinata, menatap Naruto horor, dan tangannya terangkat untuk menunjuk wajah tampan itu.

 

“K-kau! B-brengsek! Bodoh! I-idiot!” Umpatan itu Hinata ungakpkan dengan lancar, untuk melampiaskan kekesalan yang di sebebakan pemuda bersurai pirang itu. Sungguh. Baru kali ini, Hinata lancar dalam hal mengumpat seseorang.

Kemudian Hinata menatap tajam Naruto, yang sekarang terkekeh pelan. Lalu gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, menghampiri Tenzo yang sudah berada di depannya. Kakinya Ia hentakan, sehingga terdengar bunyi decitan sepatunya. Hinata benar-benar kesal, karena Naruto mencuri ciuman pertamanya itu. Rasanya Hinata ingin menendang Naruto ke planet Pluto agar tak perlu melihatnya lagi.

 

“Aku tidak tahu kau bisa mengumpat seperti itu.” Kekehan geli itu terlihat di wajah tampan Naruto. Membuatnya nampak lebih tampan dari tadi. Setelahnya, Naruto mengikuti langkah Hinata yang berjalan di depannya.

Hanya butuh waktu lima menit, agar amethysnya bisa menangkap sosok pria bersurai pirang, dan juga wanita bersurai merah yang berdiri di samping mobilnya bersama Tenzo. Wanita bersurai merah itu tersenyum, sambil melambaikan kedua tangannya. Hinata mengedipkan matanya. Ia merasa tidak asing dengan kedua sosok itu. Perlahan, kaki jenjangnya berjalan ke arah mereka.

 

“Hinata-chan!! Aku sangat merindukanmu!” Kushina langsung memeluk tubuh Hinata dengan erat. Tanpa memperdulikan Hinata yang masih kaget, karena dirinya langsung di peluk seperti itu. Sementara pria bersurai pirang yang mirip seperti Naruto, hanya tersenyum lembut padanya.

 

“Akhirnya, setelah sekian lama. Aku bisa melihat gadis kecilku ini.” Kushina melepaskan pelukannya. Lalu wanita bersurai merah itu, menatap Hinata lembut. Tatapan wanita itu membuat Hinata gugup. Jujur, Hinata sepertinya melupakan sesuatu yang penting.

 

“Kenapa kau diam saja? Apa kau lupa pada kami?” Pertanyaan Kushina dengan cepat di jawab oleh anggukan pelan dari Hinata. Lalu Kushina terkekeh pelan.

 

“Wajar saja, sudah 12 tahun kita tidak bertemu,” Manik violetnya menatap Hinata sedih.

 

“Aku adalah Namikaze Kushina,” Kushina tersenyum. Sebelum menunjuk ke arah Minato. “Ini adalah Namikaze Minato- suami ku. Dan kau juga pasti sudah bertemu dengan Naruto kan?” Hinata kembali mengangguk. Membuat Kushina semakin melebarkan senyumannya.

 

“Apa kau melupakannya juga?” Hinata kembali mengangguk pelan sebagai jawaban.

 

“Hah, aku tidak menyangka kau juga bisa melupakan Naruto,” Kushina menghela nafas kecewa. “Naruto itu sahabatmu waktu kecil, Hinata-chan. Dia selalu bersama denganmu.”

 

Dan ucapan dari Kushina membuat tubuh Hinata membatu. Otaknya seakan dipaksa untuk berpikir, ketika menerima informasi yang di sampaikan waniita itu. Impuls sarafnya mulai bekerja dengan cepat. Menghantarkan beberapa memori, tentang ingatannya. Kilasan-kilasan ingatan itu muncul begitu saja dalam kepala Hinata. Ah- Sekarang Hinata ingat siapa Naruto. Naruto adalah teman pertamanya.

 

.

oOo

.

 

Hyuuga Hinata sekarang tengah terdiam di belakang rumahnya. Area belakang rumahnya memang sangat indah, maka dari itu Hinata menyukainya. Ada sebuah danau kecil, dan juga beberapa pepohonan rindang di sekitarnya. Sehingga membuatnya tampak sejuk. Hinata terduduk, sambil memeluk lututnya. Tubuhnya bersandar pada sebuah pohon sakura yang sekarang tidak menunjukan keindahannya karena saat ini adalah musimnya. Amethysnya nampak kosong, saat menatap pemandangan danau yang ada di depannya. Air danau itu bergerak pelan bersamaan dengan teratai yang juga ikut bergerak mengikuti arus air.

 

“Kenapa aku bisa lupa tentang Naruto?” Hinata menghempaskan tubuhnya ke pohon. Kakinya sudah tidak di tekuk lagi. Kepalanya mengadah, menatap ke atas pohon sakura. Sekarang amethysnya terfokus pada satu goresan yang berada di tengah-tengah batang pohon. Sedetik kemudian, amethysnya memicing saat menyadari bahwa itu adalah sebuah tulisan kecil.

 

Sudut bibirnya tertarik, menampilkan sebuah senyuman manis. Sedetik kemudian, gadis itu berdiri dari duduknya. Tubuhnya menghadap ke arah pohon di mana tulisan itu semakin jelas di matanya. Tangannya terulur untuk menyentuh goresan kasar di pohon itu.

“Ternyata masih ada. Kenapa aku baru sadar?” Ucap Hinata lirih. Senyum di wajahnya tidak menghilang, saat Ia menyentuh tulisan itu.

 

Naruto & Hinata

 

“Apa kau mengingatnya?” Suara bariton itu mengalun indah, membuat Hinata menoleh ke arah sumber suara yang berani mengusik kesenangannya. Sedetik kemudian, amethysnya membulat saat menyadari wajah Naruto sudah berada tepat di depan wajahnya. Bahkan Hinata bisa merasakan nafas hangat dari Naruto menyentuh wajahnya. Sehingga membuat tubuhnya terdiam kaku. Sial! Tubuhnya tidak bisa di gerakan saat ini. Dan kenapa sejak tadi Hinata tidak merasakan kehadiran Naruto?

 

“Apa kau sudah mengingatku, Hinata-chan?”

 

Nafas Hinata tercekat, saat menyadari wajah Naruto semakin mendekat ke arahnya. Wajahnya sudah memerah sempurna sekarang, dan jantungnya sudah tidak bisa di ajak bekerja sama. Otaknya seakan menjadi tumpul, karena tidak merespon keinginan hatinya. Implus sarafnya sudah tidak bekerja dengan benar karena Naruto berada di sampingnya.

 

“A-apa?” Hinata tergagap pelan. Membuat Naruto terkekeh, sambil menarik dagunya dengan pelan agar amethysnya bisa menatap ke arahnya. Dan sialnya, manik sapphire itu mengunci manik amethysnya sehingga Hinata hanya bisa terfokus pada Naruto.

 

Kepala Naruto semakin mendekat ke arahnya. Tubuh mereka juga semakin dekat, karena Naruto menipiskan jarak dengan menarik Hinata dalam pelukannya. Sebelah tangan pemuda itu melingkar di pinggang Hinata. Memeluknya erat agar tidak bisa bergerak.

 

“Aku akan mengingatkanmu, Hinata.” Dan setelahnya, Hinata bisa merasakan bibirnya di cium oleh Naruto. Awalnya, Naruto hanya mengecup bibirnya beberapa kali. sebelum Naruto benar-benar melumatnya dengan lembut seakan bibir Hinata adalah permen kapas yang manis.

 

“Emmhh…” Erangan itu keluar bersamaan dengan masuknya benda tak bertulang milik Naruto. Naruto melesakan lidahnya, menyentuh titik sensitive di rongga hangat gadis itu. Sehingga membuatnya melengguh pelan. Sial! bibir Hinata benar-benar lembut, dan Naruto menyukainya. Kini lidahnya bergerak sensual, menyentuh lidah Hinata agar ikut bermain dengan lidahnya. Menghisap dan membelit lidah gadis itu beberapa kali. Gerakan lidahnya sangat sensual saat menghisap lidah gadis itu dengan lembut. Sehingga lengguhan itu kembali terdengar. Ah- Hinata benar-benar pasif, dan Naruto semakin menyukainya.

 

“Unhhh..” Desahan tertahan itu kembali terdengar. Membuat Naruto semakin menyeringai dalam ciumannya. Naruto bisa merasakan Hinata mendorong pelan tubuhnya, dan kaki Hinata sudah terasa lemas. Jika saja Naruto tidak memeluknya seperti ini, Naruto yakin gadis itu akan jatuh.

 

“Hah.. Hah..” Setelahnya Naruto melepaskan pautan bibirnya. Nafas Hinata terengah. Gadis itu nampak menghirup oksigen dengan cepat, seakan oksigen adalah hal langka baginya. Wajah Hinata sudah memerah sempurna. Lelehan saliva terlihat di sudut bibir gadis itu. Tangan Naruto terulur, jempolnya mengusap lembut sudut bibir Hinata. Kemudian pemuda bersurai pirang itu kembali mengecup bibirnya dengan cepat.

 

“Aku yakin, kau sudah mengingatku Namikaze Hinata.”

 

To Be Continued ^^

Yo, Sampai jumpa di chap depan. Well untuk sequel Married Project di tunggu aja yah. Doakan biar aku gak terlalu sibuk, jadi hiatusnya gak jadi. Hehe ^^

Mind To Review?

Walaupun hanya setitik Review kalian sangat berharga untuk saya ^^

 

Astia Morichan^^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s