I Want To Be A Straight, But | Meanie Couple FF| Warning| SeventeenFict|MingyuXWonwoo|Yaoi

0

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, etc

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

a/n: Keinspirasi saat inget kousurun boukun, sekaiichi hatsukoi, dan Ten Count. Wkwkw mungkin bakal ada beberapa bagian dari manga itu yang masuk dalam cerita ini. well, ini FF Meanie Couple pertama aku. Kemarin abis liat seventeen tv yang dulu liat banyak moment Meanie. Jadi terciptalah imajinasi bejat nan nista ini. wkwkwk

kenapa saya ambil psikolog di sebut dokter? mungkin emang di luar negeri rata-rata yang saya tau psikolog itu setara sama psikiater. punya praktek sendiri kayak dokter. buat konsultasi dan semacamnya. kalau pake psikiater kesannya kaya gay itu penyakit jiwa. so saya ambilnya psikolog ae, biar kaya kurose sensei yang psikolog juga di panggilnya sensei kan? wkwk then lets read!!

EnJOY!!

.

oOo

.

 

Jeon Wonwoo melangkahkan kakinya perlahan. Saat ini tujuan Wonwoo adalah pergi ke seorang Psikolog yang sudah di anjurkan Junghan Hyung padanya saat istirahat siang tadi. Ia memang harus berkonsultasi kepada psikolog jika Wonwoo benar-benar ingin sembuh dari orientasi sexual menyimpangnya. Wonwoo ingin kembali menjadi straight dan menyukai wanita seperti yang Ibunya harapkan. Maka dari itu, ini lah tujuan Wonwoo sekarang. Sebuah klinik yang cukup besar di daerah perkotaan Seoul. Beruntung, Junghan kenal dengan sang Dokter yang akan berkonsultasi dengannya. Sehingga Wonwoo tidak perlu membuat janji lagi dengan Psikolog itu.

Langkah Wonwoo terhenti saat ia sudah sampai di meja represionis. Terlihat seorang wanita muda yang sangat menawan di sana. Wanita bername tag Seolhyun itu tersenyum lembut ke arah Wonwoo.

“Apa anda sudah membuat janji, Pak?” Wonwoo yakin jika ada pria straight yang melihat senyum dari Seolhyun pasti akan langsung terpesona pada wanita itu. Tapi sayangnya, itu tidak berlaku bagi Wonwoo.

“Ya. Ehm.. Tadi siang.” Wonwoo merogoh saku jaket berwarna hitamnya. Mengeluarkan sebuah kartu nama kecil yang sekarang di genggamnya.

“Dengan dokter Kim Mingyu. Aku membuat janji dengannya tadi siang.” Wonwoo dapat melihat Seolhyun kembali tersenyum, sebelum wanita itu menatap kembali layar monitornya dan mengecek jadwal yang sudah tertera di sana.

“Tuan Jeon Wonwoo? Anda sudah di tunggu di ruangan tiga oleh Dokter Kim.” Wonwoo mengangguk perlahan ke arah Seolhyun. Kemudian ia mulai melangkah ke arah koridor bagian tengah. Ada sepuluh ruangan di daerah itu. Mata Wonwoo sejak tadi melihat setiap pintu yang ada di sampingnya. Kemudian senyum bahagia tercetak jelas di wajah manis Wonwoo.

“Ah.. Di sini.” Wonwoo memekik pelan saat retinanya menangkap angka tiga pada sebuah pintu jati berwarna coklat di depannya. Dengan perlahan, ia mulai mengetuk pintu itu beberapa kali.

“Masuk.” Suara bariton yang berasal dari dalam terdengar. Membuat Wonwoo merasa gugup hanya dengan mendengar suara itu. Entahlah ada sensasi aneh menggelitik saat mendengar suara Dokter Kim dari dalam. Wonwoo yakin dokter itu pasti akan sangat tampan.

Dengan perlahan, Wonwoo mulai membuka kenop pintu itu. Sehingga pintu itu terbuka setengahnya. Retinanya dapat melihat sosok pria berwajah tampan dengan surai hitam yang terlihat acak-acak. Membuat kesan sexy di wajah tampan itu. Tak lupa jas putih dokter membalut tubuh indahnya dengan beberapa kancing kemeja berwarna biru terbuka. Memperlihatkan dada bidang pria itu. Membuat Wonwoo terpesona di tempat saat melihat sosok Dokter Kim dari sana. Demi Lucifer!! Baru kali ini Wonwoo melihat pria sempurna yang mampu membangkitkan gairah dalam tubuhnya secepat ini. Dokter ini berbahaya!! Sebaiknya Wonwoo segera pulang jika tidak ingin terpesona oleh Dokter Kim.

“S-sepertinya aku salah ruangan. Pe-permisi.” Dan Wonwoo membungkukan badannya, sebelum berbalik meninggalkan ruangan itu.

“Jeon Wonwoo kan? Anda tidak salah ruangan.” Dokter Kim Mingyu tersenyum ke arahnya. Membuat Wonwoo kembali diam di tempat karena kembali terpesona dengan sosok sang Psikolog.

“Ah.. N-ne..” Wonwoo berujar gugup. Sial! Tidak biasanya dia gugup di depan orang lain seperti ini. Baru pertama kali Wonwoo begini.

“Duduklah, Wonwoo-ssi.” Mingyu mengisyaratkan sebelah tangannya agar Wonwoo duduk di sebuah kursi berwarna hitam yang sudah di sediakan sang Dokter.

Dengan perlahan, Wonwoo berjalan ke arah Mingyu. Kemudian ia mulai duduk di kursi itu, dan menundukkan kepalanya. Enggan menatap Minggyu yang sekarang masih tersenyum ke arahnya. Demi Tuhan!! Senyuman Minggyu benar-benar sangat menggoda!

“Aku Kim Minggyu. Junghan Hyung sudah menghubungiku jika kau akan berobat padaku, Wonwoo-ssi.” Mingyu mengulurkan tangannya ke arah Wonwoo.

Sementara Wonwoo masih diam menunduk. Jujur saja, Wonwoo benar-benar gugup sekarang. Dengan tangan gemetarannya Wonwoo menjabat tangan Minggyu dengan perlahan. Dapat Wonwoo rasakan getaran listrik statis saat ia menggenggam tangan Mingyu yang lebih besar dari tangannya. Membuat aliran statis dari tangannya menjalar ke seluruh pusat di otaknya. Sehingga Wonwoo dapat merasakan jantungnya berdetak kencang dari biasanya. Ini pertama kalinya Wonwoo berdebar di depan seorang pria. Bahkan mantan pacarnya saja tidak bisa membuat Wonwoo merasakan debaran yang menggila seperti sekarang. Wonwoo benar-benar ingin pulang sekarang!!

“Y-ya..” Wonwoo tersenyum gugup sambil melepaskan genggaman tangannya pada Mingyu. Kemudian ia kembali menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat celana denim berwarna hitam yang di kenakannya.

“Jadi apa keluhanmu, Wonwoo-ssi?” Mingyu mengernyitkan sebelah alisnya. Jari telunjuknya mengetuk ujung meja kayu jati di depannya. Mata obsidiannya tidak lepas dari sosok Wonwoo yang terlihat gugup. Dari gerak geriknya, Mingyu dapat menyadari ada yang namja itu sembunyikan.

“Katakanlah. Jangan sungkan padaku, Wonwoo-ssi. Bukankah kau datang kesini karena ingin berobat padaku?” Mingyu dapat melihat Wonwoo mendongak ke arahnya. Kemudian namja itu mengangguk pelan, sambil mengigit bibir bawahnya pelan.

“Ceritakanlah. Aku akan membantumu.” Kali ini Minggyu dapat melihat Wonwoo menghela nafasnya. Terlihat jelas jika namja itu mencoba menenangkan dirinya.

“A-aku… A-aku Gay, Dokter.” Wonwoo dapat melihat Mingyu membulatkan matanya saat mendengar penuturannya. Matanya menyipit seakan ia tidak suka dengan keberadaan Wonwoo sekarang. Wonwoo yakin sekarang Mingyu jijik terhadapnya.

“T-tapi aku ingin sembuh. A-aku ingin menjadi straight lagi, Dokter.” Wonwoo menatap Mingyu dengan penuh kesungguhan. Membuat Dokter muda itu menghela nafas pelan saat melihat mata Wonwoo.

“Well, sebenarnya aku homophobic Wonwoo-ssi. Tapi karena aku adalah seorang dokter dan kau adalah pasien. Maka aku tidak mungkin mengabaikan pasienku.” Wonwoo tersenyum senang saat mendengar perkataan dari Mingyu. Membuat Mingyu terpaku di tempatnya saat melihat wajah bahagia dari namja itu.

“Ehm.. Jadi bagaimana jika kita memulai pengobatanmu mulai besok? Kau bisa datang setiap sore. Aku akan menunggumu, Wonwoo-ssi.”

“B-baiklah. Terimakasih banyak Mingyu-ssi.” Wonwoo mengulurkan tangannya ke arah Mingyu. Senyumnya masih mengembang di wajah cantiknya.

“Kau tidak usah seformal itu. Panggil saja aku Mingyu, Hyung. Kau lebih tua dari ku kan?” Mingyu membalas uluran tangan dari Wonwoo. Dapat Mingyu lihat rona merah mulai menjalar menghiasi wajah Wonwoo yang sekarang menundukan kepalanya.

“I-iya. K-kalau begitu, kau bisa memanggilku Wonwoo saja.” Wonwoo melepaskan genggaman tangan mereka. Jujur saja ia kecewa. Wonwoo sangat ingin menggenggam tangan Mingyu lebih lama.

“Sampai ketemu besok, Mingyu-ah.” Wonwoo menarik kursinya, dan berdiri dari duduknya. Kemudian membungkukkan badannya, dan berbalik. Membuka kenop pintu kayu itu, sehingga ia menghilang dari pandangan Mingyu yang masih menatap punggung Mingyu menjauh.

“Sial!! Ada apa denganku?!!” Mingyu mengacak surai hitamnya frustasi. Kemudian ia mulai berdiri dari duduknya dan melepaskan jas putih yang melekat di tubuhnya. Berjalan ke arah kamar mandi yang berada di sudut ruangan itu. Mingyu harus membersihkan pikirannya. Karena sekarang ia terngiang-ngiang dengan wajah Wonwoo yang baru saja pergi dari ruangannya.

.
oOo
.

Wonwoo berjalan lesu ke arah lift yang berada di depannya. Kali ini ia masuk kerja 20 menit lebih awal dari biasanya. Wonwoo adalah seorang editor novel di Pledis Publishing. Tangannya terulur menekan tombol lantai 15. Kemudian menunggu lift itu naik ke atas. Hanya butuh beberapa menit akhirnya Wonwoo sampai di koridor bagian editing. Ia berjalan menuju pintu ke tiga yang ada di samping kanannya. Kemudian membuka kenop pintu itu. Dapat Wonwoo lihat, Junghan sudah berada di mejanya sambil menyesap sebuah teh hijau favoritnya.

“Pagi Woonie..” Junghan tersenyum ke arahnya sambil melambaikan sebelah tangannya ke arah Wonwoo.

“Pagi Hyung..” Wonwoo tersenyum ke arah Junghan kemudian berjalan perlahan mejanya yang berada di samping Junghan. Menyimpan backpack berwarna hitam di bawah meja dan duduk di kursi hitamnya sambil memutar kursi itu ke arah namja berparas cantik yang selalu di sangka yeoja seperti biasa.

“Wae?” Junghan mengernyitkan sebelah alisnya. Menatap Wonwoo penuh tanya.

“Aku bertemu Mingyu kemarin.” Wonwoo menghela nafasnya perlahan. Kemudian semakin mendekatkan kursinya ke arah Junghan.

“Dia sangat tampan, Hyung. Aku berdebar karenanya.” Wonwoo dapat melihat Junghan tersenyum senang karena mendengar kabar yang baru ia sampaikan.

“Haha. Bukankah aku sudah mengatakannya? He’s so handsome as hell! Sejak aku bertemu dengan Mingyu saja aku ingin menjadikannya pacarku. Tapi sayangnya dia memang homo phobic akut. Sangat tidak mungkin menjadikannya kekasih.” Junghan mengerucutkan bibirnya terlihat kesal. Wonwoo sudah tahu jika Junghan memang seorang Gay sejak SMA sama dengannya yang merupakan adik kelas Junghan sejak dulu.

“Aku tidak yakin akan sembuh jika berobat padanya, Hyung.” Wonwoo mengacak surai kecoklatannya frustasi. Ia memang tidak yakin jika harus bertemu lagi dengan Mingyu nanti sore. Wonwoo takut jika ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Mingyu.

“Aku ingin menjadi straight, Hyung.”

“Dan kau terpesona pada Mingyu? Aku sudah memprediksikan hal itu, Woonie.”

“Aku menyukainya. Mungkin.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Enggan menatap Junghan yang masih tersenyum penuh menggoda ke arahnya.

“Kalau begitu, jadikan saja dia Gay sepertimu.” Junghan terkikik pelan saat melihat Wonwoo membulatkan matanya tak percaya.

“Itu tidak mungkin! Aku ingin menjadi straight dan menikah seperti yang eommaku inginkan, Hyung.”

Junghan menghela nafasnya pelan. Kemudian menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal. Memang sulit menjadi Wonwoo. Kedua orang tuanya menentang keras hubungan sesama jenis yang pernah Wonwoo jalani dengan mantannya – Aron.

“Kalau begitu kau berobat saja padanya. Mingyu adalah dokter yang profesional. Dia pasti akan menyembuhkanmu.” Junghan tersenyum ke arah Wonwoo sambil mengacak rambutnya. Membuat Wonwoo menggerutu karena ulah Hyungnya. Mungkin apa yang di katakan Junghan memang benar. Wonwoo harus mencoba berobat pada Mingyu. Wonwoo akan kembali menemui Mingyu nanti sore, setelah pekerjaannya selesai.

To Be Continued^^

Mind To Review ?^^

astia morichan

 

Cuma Curhatan ga mutu :'(

0

Lets start for curhat!!

mau ada yang baca syukur ae wkwkwk

so jadi gini. kalo ada yang liat gue mau minta saran. gue punya mantan nih. gue itu cuma sekedar sayang ae
sama dia. nah gue itu tahan cuma 3 bulan. karena bayangin aja!! mana ada yang
take in relationship tapi jarang kasih kabar, cuek, ketemu jarang, chate cuman di read doang. kan kampret!
Bayangin!! emaang ada take relation kek gitu? ga ada kan yah. well, terkadang gue nyesel
kenapa dulu ga temenan ae kan lebih enak. lagian gue terima juga iseng siapa tau gue bisa
lupa sama love at first sight gue. tapi nyatanya gue sama sekali ga lupa sama si MR. liat
kontak waasap dia aja hati gue udah ddoki doki kimochi sampe ga bisa buat ngajak chat dia saking
malunya. gue ga bisa lupain cinta pertaama gue dan akhirnya tersakiti kayak gini.

TAPI INI GA BISA DI SEBUT KARMA KAN?!!
BAYANGKAN! GUE BAIK BANGGET SAMA EX GUE. SABAR UDAH, SETIA UDAH, NUNGGU UDAH, GA NEKO-NEKO UDAH.
KURANG APA COBA SAMPE DIA NGABAIIN GUE?? GUE LELAH. AND THEN WE BROKE UP.

Tapi kampretnya lagi dia masih suka chat gue, dan gue balels sekenanya. terus dia pernah minta
maaf setelah 2 minggu broke up karena tahu kesalahannya. ITS SO FUCKING DISGUSTING!!
Terus yah masa dia ngajak gue date seaakan ga pernah terjadi apa-apa. of course gue tolak.
karena kalo serius dia harus datengin gue langsung iya ga?

jadi menurut kalian siapa yang salah? gue kan kaga salah iya kan? gue masih respect bales chat
walau sekenanya. taapi gue lega udah sexy free and single lagi. wkwkwk . karena hati gue masih
tersimpan utuh untuk cinta pertaama yang ga bisa gue gapai. sedih ya? emang. wkwkw
gue terlalu malu buat deket sama cowo yang gue suka. ga bisa deket dalam jarak 1 meter langsung kabur wkwk
gue bisa jadi pemalu yang weirdo idiot kalo liat MR dari jauh. sedih yah. masih ae gue kek gini. doain biar gue ketemu
lagi sama dia yah 😥

Ghost Of Chanyeol | Chap 5| ChanBaek| Yaoi

7

Ghost of Chanyeol

T/T+/M

Romance, Fantasy, Suspense

Chanyeol yang patah hati karena Ia di tolak yeoja pujaannya. Akhirnya tanpa di sadari, ia tertabrak mobil. Menyebabkan semua orang tak dapat melihatnya. Kecuali Baekhyun yang mempunyai perasaan khusus padanya. Akankah Chanyeol kembali hidup lagi?

Warning: Typos, OOC, abal, dll

a/n: Terinspirasi dari komik bishojou,. Tapi saya lupa judulnya apa. Dan ini adalah repost ulang dari FF sebelumnya, yang sudah di rombak ^^ baca author note saya di bawah buat penjelasan hantunya

Park Chanyeol X Byun Baekhyun

Oh Sehun X Xi Luhan

EnJOY!

Happy Reading ^^

.

oOo

.

Mata obsidian Chanyeol membulat seakan tak percaya dengan apa yang retinanya tangkap. Mata obsidian itu kini terfokus pada sosok Baekhyun yang berdiri di belakang Sehun dengan mata yang mengerjap lucu ke arahnya. Ini benar-benar konyol. Chanyeol harus membuktikan bahwa matanya salah lihat. Iya, tentu saja matanya salah. Dengan perlahan Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun yang berada di belakang Sehun. Namja berkulit albino itu nampak mengerti, dan menjauh beberapa langkah sehingga Sehun berada di samping Luhan yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi di ruangan ini.

 

“E-eh? Kenapa aku ada dua?” Baekhyun menunjuk tubuhnya yang terbaring di atas ranjang UKS. Ini seperti sebuah mimpi, ah tidak seperti film yang dulu pernah dilihatnya- Insidious!! Baekhyun merasa seperti itu sekarang. Tapi ini tidak mungkin kan? Mana ada kejadian seperti itu, dimana ia bisa melihat tubuhnya sendiri. Ia juga masih bisa melihat Chanyeol, Sehun dan Luhan. Matanya masih bisa melihat dengan jelas sosok Chanyeol yang berada di depannya, lalu mengulurkan tangannya. Ia bisa merasakan sentuhan namja jangkung itu dengan jelas.

 

“Baekie Hyung, sepertinya kau mengalami hal yang sama dengan Chanyeol Hyung. Roh mu keluar dari dalam tubuhmu.” Sehun yang sedari tadi berdiri di samping Luhan mulai menghampiri Baekhyun. Sedangkan Luhan hanya terdiam melihat suasana yang ada di ruang UKS itu. Sesaat hal ini membuat Luhan kesal. Hanya dirinya lah yang tidak dapat melihat hal gaib. Jika seperti ini, Luhan ingin sekali mempunyai indera ke enam seperti Sehun. Tapi Sehun pernah memberitahunya, bahwa memiliki penglihatan yang berbeda dengan orang normal itu menakutkan, dan Luhan benci hal yang menakutkan.

 

“B-benarkah? Lalu bagaimana caraku agar cepat kembali ketubuhku Sehun-ah?” Wajah Baekhyun kini terlihat panik. Namja manis ini kini benar-benar takut jika Ia tidak bisa kembali ke tubuhnya dan harus koma seperti yang pernah Chanyeol alami. Ah, Itu sama sekali tak ada di dalam pikiran Baekhyun jika kejadian seperti Chanyeol akan menimpa dirinya.

 

“Aku tak tahu, Hyung. Mungkin Nuna ku bisa membantu mu.” Ucap Sehun sambil melirik Luhan. Sehun tahu namja manis kesayangannya itu kini tengah kesal karena sama sekali tidak bisa melihat sosok Baekhyun.

 

“Ahh.. Menyebalkan. Kenapa aku tak bisa melihatmu Baekhyun-ah?” Dengus Luhan sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

 

“Lebih baik aku pulang saja.” Luhan berbalik dan menghentakan kakinya kesal keluar dari UKS. Jika Luhan terus berada di sana ia hanya seperti orang idiot. Luhan juga tidak bisa membantu banyak karena ia sama sekali tidak bisa melihat hantu.

 

“Sehun, sebaiknya kejar Luhan Hyung. Biar aku bersama dengan Baekhyun.” Chanyeol menepuk bahu Sehun mengisyaratkan agar Sehun segera meninggalkannya dengan Baekhyun, dan mengejar Luhan. Chanyeol tidak ingin jika Luhan dan Sehun bertengkar karena hal ini.

 

“Baiklah.” Sehun pun berbalik dan mulai mengejar Luhan keluar. Ia benar-benar harus menenangkan Luhan. Karena sepertinya sifat childish Luhan sedang dalam level tinggi.

 

Setelah Sehun keluar dari ruang Uks, yang ada disana hanya Chanyeol dan Baekhyun. Baekhyun masih terlihat panik, dan Chanyeol membawa Baekhyun dalam pelukannya. Berusaha menenangkan Baekhyun dengan cara mengelus punggung namja itu. Walaupun mungkin jika ada oraang yang lewat akan ia akan mengira bahwa Chanyeol seperti orang gila yang tengah memeluk dirinya sendiri. Tapi dalam visual Chanyeol dia memang sedang memeluk Baekhyun yang kini mulai terisak pelan dalam pelukannya. Bahu Baekhyun bergetar hebat, dan Chanyeol mengelus kepala Baekhyun dengan lembut. Sehingga membuat namja manis itu mendongak ke arahnya dengan mata berlinang air mata.

“Uljimma, aku ada bersamamu Baekie-ah. Aku akan membuatmu kembali ke tubuhmu.” Chanyeol mengusap pipi Baekhyun dengan lembut. Ia bisa melihat Baekhyun mulai terlihat tenang akibat sentuhannya.

 

“Jinjja?” Baekhyun melepaskan pelukannya dari Chanyeol dan kembali mengerjapkan matanya. Ia benar-benar berharap jika Chanyeol akan menolongnya. Baekhyun tidak ingin menjadi roh. Ia ingin hidup. Banyak hal yang belum Baekhyun capai dalam hidupnya.

 

“Ne Baekie-ah. Aku akan melakukan apapun agar kau bisa kembali.” Sudut bibir Chanyeol tertarik saat melihat wajah Baekhyun di jarak sedekat ini. Jujur saja, kali ini jantungnya berpacu dua kali lipat jika berada di dekat Baekhyun.

 

“Gomawo Chanie-ah.” Baekhyun kembali memeluk Chanyeol erat, dan Chanyeol dengan senang hati membalas pelukan namja manis itu. Mengusap punggung Baekhyun dengan lembut agar Baekhyun tidak bersedih lagi karena peristiwa yang menimpanya.

.

oOo

.

Luhan berjalan dengan sangat cepat, Ia tahu jika Sehun pasti akan mengejarnya. Karena terdengar langkah kaki tergesa-gesa di belakangnya. Dugaan Luhan memang tepat! Terbukti dengan suara berat milik Sehun yang terdengar jelas memanggil namanya.

 

“Luhaniee..” Sehun mengejar Luhan sambil berteriak. Ia tidak menyangka jika Luhan bisa berlari secepat itu. Tapi tetap saja Sehun lebih cepat. Sekarang langkahnya dengan Luhan hanya sedikit lagi. Sehun dengan cepat menangkap lengan Luhan dan menariknya. Membuat Luhan terperangah kaget karena tidak sempat menyadari bahwa Sehun tengah menariknya dan kini memeluknya erat. Sial! Sehun benar-benar lebih cepat dari dugaannya.

 

“Kenapa pergi begitu saja hm??” Sehun berbisik pelan di telinga Luhan. Kini mereka tengah berada di tengah koridor sekolah. Ah, posisi ini membuat Luhan tidak nyaman jika ada yang melihatnya. Ini di tempat umum ! Tapi untung saja para siswa kini tengah belajar di kelas masing-masing sehingga koridor ini sepi. Karena pada dasarnya Luhan, Sehun dan juga Chanyeol membolos dari kelas hanya untuk mengecek keadaan Baekhyun.

 

“Aku kesal.” Luhan mengerucutkan bibirnya lucu. Membuat Sehun yang melihat tingkah Luhan terkekeh pelan. Jika Luhan mengerucutkan bibirnya seperti itu, Sehun jadi ingin melumat bibir poutynya.

 

“Ikut aku.” Tanpa pesetujuan dari Luhan, Sehun langsung menarik Luhan ke ruang aula yang ada di sampingnya. Untung sana aula itu tidak terkunci dan tidak ada yang pakai. Sehingga hanya ada mereka berdua di ruangan ini. ini sangat menguntungkan untuk Sehun.

 

Krittt

 

Sehun mengunci pintu itu cepat, dan menghimpit tubuh Luhan di depan pintu. Luhan merasakan firasat tidak enak melihat Sehun yang seperti ini. nafas hangat Sehun menerpa wajah Luhan. Wangi citrus yang menguar dari tubuh Sehun dapat Luhan rasakan dari jarak sedekat ini.

 

“Kau kesal kenapa hm?” Sehun kembali berbisik di telinga Luhan sambil mencium wangi vanilla yang menguar di tubuh kekasihnya. Sehun menyukai wangi Luhan. Wangi tubuh Luhan sangat memabukkan, dan dapat membuat libidonya naik dengan cepat hanya dengan mencium wanginya.

 

“Karena aku tidak bisa melihat makhluk gaib seperti mu. Bahkan aku tidak bisa melihat Baekhyuniee.” Luhan mulai melingkarkan lengannya ke leher Sehun. Bibirnya masih mengerucut kesal, dan tingkah dari Luhan membuat Sehun gemas melihatnya.

 

“Kau akan takut jika melihat makhluk seperti itu. Aku yakin kau akan ketakutan. Muka mereka hancur, Hannie.” Sehun berbisik seduktif di telinga Luhan. Lidahnya terjulur menyentuh telinga Luhan. Membuat Luhan merasakan sensasi geli akibat Luhan Sehun.

 

“B-benarkah? “ Luhan mengerjap lucu membuat Sehun semakin tidak tahan untuk memakannya. Ah, Luhan benar-benar menggodanya sekarang.

 

“Tentu aku tidak bohong, ayolah jangan mengambek seperti tadi.” Tanpa basa basi Sehun langsung mencium bibir Luhan cepat. Membuat Luhan mengerang tertahan akibat ciuman yang di berikan Sehun. Lumatan bibir Sehun selalu membuat Luhan ketagihan. Dan tentu saja kegiatan panas mereka berlanjut di ruang aula sekolah.

.

oOo

.

Chanyeol memasuki mobil Chevrolet berwarna hitam miliknya. Chanyeol bertekad akan membawa Baekhyun ke rumah Sehun. Malam ini Sehun harus bisa membantunya agar Baekhyun cepat kembali ke tubuhnya. Chanyeol menidurkan tubuh Baekhyun di mobil belakang. Sementara roh Baekhyun beraada di sampingnya.

 

“Gomawo Channie-ah, kau mau membantuku. Aku senang sekali.”Baekhyun tersenyum riang. Baekhyun terlihat sangat bahagia sekarang. Membuat Chanyeol tersenyum karena Baekhyun benar-benar sangat manis sekarang.

 

“Cheonma, aku sangat senang jika kau cepat masuk kembali kedalam tubuhmu Baekie.” Dan Chanyeol langsung mengemudikan mobil miliknya menuju rumah Sehun. Meninggalkan bangunan sekolah di belakangnya.

.

.

.

Setelah sampai di rumah megah bergaya eropa milik keluarga Oh. Chanyeol dan Baekhyun segera turun dan di sambut oleh beberapa maid disana. Jika kalian tahu maid keluarga Oh adalah para ‘Hantu’ Chanyeol yang memang tak mempunyai mata batin hanya berjalan lurus menggandeng tangan Baekhyun yang ketakutan. Tentu saja Baekhyun bisa melihat para maid hantu itu. Yah, Baekhyun sekarang bisa di bilang ‘hampir seperti mereka’

 

Di depan pintu besar itu berdiri sosok Sehun yang tengah memandang mereka berdua. Senyum tipisnya tergambar jelas di wajah Sehun.

 

“Kenapa kau kesini Hyung?” Tanya Sehun penasaran yang melihat Chanyeol dan Baekhyun mampir ke rumahnya. Karena jarang sekali jika Chanyeol berkunjung ke rumah berisi hantunya.

 

“Aku ingin kau segera membuat Baekhyun kembali ke tubuhnya. Nunamu ada kan? Ayolah bantu aku!! “ Ucap Chanyeol dengan tidak sabaran. Manik obsidiannya menatap Sehun serius. Kali ini, Sehun harus membantunya dengan cepat.

 

“Baiklah ayo masuk, Nuna ada di kamarnya.” Sehun pun mengajak mereka masuk ke salah satu kamar yang ada disana. Di samping pintu besar tadi. Rumah Sehun benar-benar megah. Sudah jelas Sehun adalah orang kaya. Satu ruangan kamar saja mempunyai pintu setinggi empat meter.

 

Ceklek

 

Pintu kamar itu terbuka, terdapat yeoja berambut panjang yang hanya mengenakan tanktop hitam dengan hotpants tengah berbaring di ranjang queen size bersprei ungu disana.Dia adalah Oh Hyuna- Kakak Sehun yang pertama.

Hyuna menolehkan kepalanya, saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Ia pun tersenyum dengan ramah saat melihat adik dan kedua temannya datang. Sangat jarang Sehun membawa teman ke rumah, dan itu membuat Hyuna sangat senang.

“Ada apa?” Tanya Hyuna penasaran. Yeoja itu kini berdiri menghampiri Sehun, Chanyeol dan Baekhyun. Senyum masih bertengger di wajah cantik Hyuna. Yeoja itu benar-benar mempesona.

 

“Nuna, bantu Baekie Hyung kembali ke tubuhnya. Saat ini Ia adalah roh.” Jelas Sehun yang kemudian duduk di sofa empuk milik Hyuna yang berada di tengah kamar Hyuna.

 

“Ah, aku pernah mengalami kasus yang seperti ini. Baiklah bawa tubuh asli namja cantik ini Hunnie. Ia terjebak di alam sana. Dan ia tak ingin kembali dulu,dan jika ingin menyelamatkannya, salah satu dari kalian harus pergi kesana membujuk Baekhyun agar segera pulang.” Jelas Hyuna dengan serius. Hyuna tentu pernah membantu kasus yang sama dengan yang Baekhyun alami.

 

“Baiklah aku yang akan menyelamatkannya Nuna.” Chanyeol menghampiri Hyuna dengan tatapan serius, dan mengenggam tangan Baekhyun dengan erat. Membuat Baekhyun tersipu malu karena tingkah Chanyeol yang membuat hatinya berdebar.

“Baiklah, Sehun bawakan tubuh Baekhyun dan letakan Ia di ranjang.” ucap Hyuna, dengan nada perintah yang selalu membuat Sehun jengkel. Ah- Sungguh, Sehun tak menyukai sifat Nunanya yang selalu memerintah seperti ini.

 

“Arraseo.” Dan Sehun pun dengan terpaksa bangkit dari kursinya, dan melenggang pergi keluar untuk membawa tubuh asli Baekhyun.

 

“Ehh, Sehun biar aku saja yang membawa Baekhyun. Aku tak ingin kau menyentuhnya sedikitpun.” Suara bariton milik Chanyeol sukses menghentikan langkah Sehun.

 

“Ah, begitu lebih baik.” Sehun pun tersenyum senang, dan kembali duduk di sofa empuk milik Hyuna. Sehun baru tahu jika Chanyeol sangat posesive jika menyukai seseorang.

 

Chanyeol pun segera berlari keluar rumah megah keluarga Oh itu. Ia segera mengambil kunci mobilnya disaku celananya dan membuka mobil Chevrolete hitam favoritnya. Chanyeol dengan perlahan masuk ke dalam mobilnya. Terlihat tubuh Baekhyun yang sedang tidur terduduk di sofa mobil. Mata cantiknya terpejam sempurna. Chanyeol akhirnya masuk kedalam mobilnya dan memandangi wajah cantik Baekhyun.

“Kau benar-benar cantik. Baru kali ini aku mengalami perasaan aneh dengan debaran jantung yang membuatku ingin memilikimu, Baekhyun-ah.” ujar Chanyeol pelan, sambil mengelus pipi Baekhyun. Ia pun mengecup pipi Baekhyun pelan.

 

“Saranghae.” Chanyeol segera menggendong tubuh Baekhyun ala bridal dan segera keluar dari mobilnya. Ia harus cepat mengembalikan Baekhyun ke dalam tubuhnya. Setelah itu, Chanyeol bisa mengatakan perasaan sebenarnya pada Baekhyun.

 

Hanya butuh sepuluh menit untuk Chanyeol kembali ke kamar Hyuna dengan Baekhyun di dalam gendongannya.

 

“Tidurkan Baekhyun di ranjang.” Perintah Hyuna mutlak, dan Chanyeol dengan patuh mematuhinya. Ia menidurkan Baekhyun dengan perlahan di ranjang milik Nuna Sehun itu.

 

“Lalu sekarang bagaimana lagi?” Tanya Chanyeol penasaran apa yang harus ia lakukan untuk menolong Baekhyun.

 

“Baekie chagi, cobalah untuk masuk kedalam tubuhmu. Untuk Chanyeol tidurlah di samping Baekhyun. Ingat kau harus tertidur. Aku disini akan membacakan mantra untuk membuatmu bertemu di alam bawah sadar Baekhyun. Kau harus berhasil membujuk Baekhyun untuk kembali. Dan jika kau berhasil akan ada sebuah gerbang besar yang menghubungkanmu dengan dunia nyata. Kau harus memasuki gerbang itu bersama Baekhyun. Dan Tada~ Kalian hidup kembali” Jelas Hyuna panjang lebar dengan senyuman khasnya.

 

Setelah mendengarkan penjelasan Hyuna, Baekhyun mencoba untuk masuk kedalam tubuhnya. Chanyeol pun melakukan hal yang di perintahkan Hyuna. Ia tidur di samping Baekhyun. Tidur dengan lelap sampai memasuki alam mimpinya.

 

“Lalu apa yang harus ku lakukan?” Tanya Sehun sambil memandang Hyuna yang terlihat sangat serius. Sepertinya Nunanya itu sangat menyukai hal seperti ini.

 

“Diam, dan perhatikan saja Baby.” Dan Hyuna pun memulai aksinya. Yeoja cantik itu berdiri di samping Baekhyun, Ia mulai mengucapkan sebuah mantranya. “Exuize teaxtra.”

 

 

Tebece ^^

Saya warning !! Ending chap depan gaje dengan berakhir nc kimochi. wkwk

Review??

 

XOXO

Astia Morichan^^

Ghost Of Chanyeol | Chap4| Yaoi| Baekyeol FF|

22

Ghost of Chanyeol

T/T+/M

Romance, Fantasy, Suspense

Chanyeol yang patah hati karena Ia di tolak yeoja pujaannya. Akhirnya tanpa di sadari, ia tertabrak mobil. Menyebabkan semua orang tak dapat melihatnya. Kecuali Baekhyun yang mempunyai perasaan khusus padanya. Akankah Chanyeol kembali hidup lagi?

Warning: Typos, OOC, abal, dll

a/n: Terinspirasi dari komik bishojou,. Tapi saya lupa judulnya apa. Dan ini adalah repost ulang dari FF sebelumnya, yang sudah di rombak ^^ baca author note saya di bawah buat penjelasan hantunya

Park Chanyeol X Byun Baekhyun

Oh Sehun X Xi Luhan

EnJOY!

Happy Reading ^^

oOo

 

Baekhyun tercengang saat mendengar ucapan Chanyeol. Manik coklatnya membulat tak percaya. Ah, pendengaran Baekhyun pasti salah kan? Chanyeol tidak mungkin melupakannya secepat itu setelah apa yang telah mereka alami. Ini pasti hanyalah delusi dari alam bawah sadar Baekhyun.

 

“Siapa kau?” Suara bariton milik Chanyeol kembali menyadarkan Baekhyun dari ketidakpercayaannya. Dengan ragu, baekhyun mencoba mencubit lengannya sendiri. Mencoba meyakinkan bahwa semua ini hanyalah mimpi. Tapi sayangnya kenyataan menamparnya. Baekhyun dapat merasakan kulitnya sakit saat dirinya mencubit lengannya sendiri. Chanyeol benar-benar melupakannya. Namja itu kembali tidak mengenal Baekhyun.

‘Kenapa? Kenapa Chanyeol sama sekali tidak ingat padaku?’ Baekhyun tersenyum miris sambil menatap Chanyeol yang berbaring di ranjang pasien itu sambil menatapnya aneh. Curiga? Mungkin iya. Siapa yang tidak akan curiga jika melihat seseorang yang belum Ia kenal ada di tempat ini. Itu lah pikiran Chanyeol. Ia curiga jika namja berperwakan mungil itu hanya sok kenal dengannya.

“K-kenapa kau lupa padaku?” Baekhyun bergumam lirih, tapi suaranya dapat terdengar jelas oleh semua orang yang ada di ruangan Chanyeol. Termasuk Chanyeol yang langsung menatap Baekhyun dengan intens. Seolah mencari sesuatu di manik kecoklatan Baekhyun. Sesuatu yang seolah-olah menghilang. Tapi Chanyeol tidak tahu apa itu. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang hilang saat manik kecoklatan Baekhyun menatapnya dengan tatapan sedih bercampur kecewa.

 

“Ehmm..” Alis Chanyeol terangkat saat ia menatap Baekhyun semakin dalam. Chanyeol ingat sekarang. ia tahu siapa namja yang berdiri di hadapannya. Chanyeol memang pernah melihat wajah Baekhyun di sekolah. Tapi ia tidak mengenal Baekhyun, hanya mengetahui nama dan wajah saja.

 

“Aku tahu, kau Baekhyun bukan? Kita satu sekolah.” Chanyeol tersenyum tulus, entah lah. Ada rasa hangat ketika Ia menatap Baekhyun. Tapi juga sakit ketika melihat Baekhyun menatap kecewa kepadanya.

 

“Ya, kita memang satu sekolah Channie.” Chanyeol mengernyit heran saat mendengar panggilan Baekhyun untuknya. Setahu Chanyeol tidak pernah ada seorang pun yang memanggil nama panggilannya seperti itu, kecuali orang yang sudah dekat dengannya bisa dengan bebas memanggil namanya.

‘Apakah Baekhyun sedekat itu denganku? Tapi kenapa aku tak mengenalnya?’ Chanyeol kembali menatap Baekhyun yang masih berdiri di samping sehun dan Luhan. Chanyeol dapat melihat Baekhyun yang menahan tangisnya. Bisa Chanyeol lihat Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan keras. Dan Chanyeol tahu, bahwa Baekhyun menahan perasaannya.

 

“Hm, sebaiknya aku pulang. Permisi.” Baekhyun tidak kuat berada di tempat ini lebih lama. Ia ingin segera pulang, dan menangis di dalam kamarnya. Kemudian Baekhyun pun membungkukkan badannya, dan segera keluar dari kamar rawat Chanyeol.

 

“Baekie-ah tunggu.” Dan Luhan pun langsung berlari keluar menyusul Baekhyun. Meninggalkan Sehun dan Chanyeol disana.

“Kau tak ingat padanya?” Tanya Sehun sambil menarik kursi lalu duduk di dekat Chanyeol. Tatapan Sehun terlihat serius. Baru kali ini Chanyeol melihat namja berkulit albino itu memasang ekspresi seperti ini.

“Tidak, aku hanya tau namanya saja.” Chanyeol menatap Sehun intens, seakan meminta penjelasan dari Sehun. Chanyeol tahu ada yang salah, dan ia membutuhkan penjelasan tentang siapa Baekhyun. Tidak mungkin Baekhyun terlihat sangat kecewa jika dirinya dan Baekhyun hanya sebatas teman biasa. Hubungan dengan Baekhyun pasti lebih dari itu. Mungkinkah Baekhyun sudah menjadi sahabatnya seperti Sehun dan Luhan?

“Oh, aku kira kau ingat. Bahkan aku kira kau menyukainya hyung.” Sehun lalu mengambil apel yang di dekat Chanyeol dan memakannya. Mengabaikan tatapan penuh tanya dari Chanyeol.

“Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku tak mungkin menyukai orang yang tidak aku kenal Sehun. Dan aku hanya menyukai Eunji.” Suara Chanyeol terdengar tidak yakin ketika mengucapkan nama Eunji. Yeoja yang selama ini di kejarnya. Ini aneh. Kenapa sekarang Chanyeol biasa saja saat mendengar nama yeoja itu?

“Oh. Aku kan hanya mengira, dan mungkin sebaiknya kau mengingat masa-masa kau dengan Baekhyun beberapa hari ini hyung.” Sehun pun meninggalkan Chanyeol yang masih berbaring di ranjangnya. Seolah mulai mengingat apa yang dikatakan Sehun. Chanyeol memejamkan matanya perlahan mencoba mengingat tentang namja bernama Baekhyun itu. Ia harus mengingat tentang Baekhyun. Chanyeol harus mengingat Baekhyun jika ia tidak ingin menyesal.

 

.

oOo

.

“Hiks, kenapa aku menangis? Aku tidak seharusnya menangisi Chanyeol. Chanyeol memang menyukai Eunji. Jadi..Jadi dia tidak akan mungkin meyukaiku. Tapi kenapa disini rasanya sakit sekali?” Baekhyun menyentuh dadanya yang terasa sakit. Air matanya tiba-tiba membasahi pipi mulusnya. Ini benar-benar sakit. Rasa sakit yang menyerang dadanya bahkan lebih sakit dari pada luka saat ia jatuh dari sepeda. Baekhyun tidak suka rasa sakit ini.

 

Tapp Tapp

 

Terdengar suara langkah kaki mendekati Baekhyun yang masih menangis. Luhan mendekati Baekhyun dan duduk di samping Baekhyun. Luhan tahu bagaimana perasaan Baekhyun saat ini. Baekhyun pasti sangat terluka karena perilaku Chanyeol barusan. Dengan perlahan, Luhan mengulurkan lengannya dan memeluk Baekhyun dengan erat. Seolah mencoba menghilangkan rasa sedihnya. Tubuh Baekhyun bergetar hebat dalam pelukan Luhan. Air mata Baekhyun bahkan membasahi seragam Luhan.

“Hikss.. L-luhan. Hikss.. E-entah kenapa rasanya sakit sekali.. Hikss…” Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan. Air matanya sama sekali tidak berhenti saat Luhan mengelus punggung Baekhyun lembut.

“Sudahlah, kau tak usah memikirkannya, dia mungkin memang lupa padamu. Tapi aku yakin di lubuk hatinya dia akan mengingatmu. Kau tahu sendiri bukan bahwa hanya kau yang bisa melihat sosok Chanyeol saat ia menjadi hantu?”

 

“Hiks, Tapi.. a-aku.. Hikss.. E-entahlah Lu.. R-rasanya sakit sekali.. Hikss..” Baekhyun melepaskan pelukannya, dan mengusap kasar air matanya yang sejak tadi membasahi pipinya. Seharusnya Baekhyun tidak boleh menangis. Karena Baekhyun adalah namja yang kuat. Ibunya selalu bilang jika laki-laki itu tidak boleh menangis.

 

“Sudahlah, masih banyak namja lain yang menyukaimu Baekie. Kau tidak seharusnya terlalu memikirkan Chanyeol. Sebaiknya kita kembali ke tempat Chanyeol, dan membuktikan bahwa kau itu kuat. Kajja.” Luhan menarik tangan Baekhyun supaya berdiri. Menatapnya seolah ingin memberikan semangat pada Baekhyun.

 

“Ehmm, sebaiknya tidak perlu Lu. Aku hanya ingin pulang saja. Aku lelah.” Baekhyun berusaha menolak ajakan Luhan dengan halus. Jujur saja Ia belum siap jika bertemu dengan Chanyeol lagi. Mungkin lebih baik menjauhinya. Baekhyun harus move on dan melupakan perasaannya pada Chanyeol. ia tidak mau merasakan rasa sakit ini.

Luhan hanya mengangguk pelan. Luhan sangat paham jika Baekhyun memerlukan waktu untuk sendiri.

“Gomawo, Luhan” dan Baekhyun berbalik setelah melambaikan tangannya pada Luhan. Berjalan dengan perlahan ke depan, karena jalan raya ada di depan sana. Baekhyun hanya memerlukan taksi untuk mengantarnya pulang ke rumah.

 

.

oOo

.

Baekhyun berbaring di tempat tidurnya yang nyaman. Memejamkan matanya perlahan, walaupun airmatanya terus membasahi wajah cantiknya. Sungguh, Baekhyun berharap bahwa Ia hanya sedang bermimpi buruk. Dan ketika esok Ia terbangun dari mimpi buruk ini. Ia masih bisa melihat Chanyeol yang masih berwujud roh, dan memeluknya. Tapi sepertinya itu mustahil. Karena ini semua bukan mimpi. Ini nyata !! dan Baekhyun harus mencoba menerima kenyataan pahit ini.

“Haruskah aku melupakannya? Mungkin memang sebaiknya aku melupakan Chanie. Kami bisa dekat hanya ketika dia menjadi roh. Tentu saja, Ia tidak akan ingat.” Gumam Baekhyun pelan, dan tanpa sadar Ia telah bernafas dengan teratur. Menandakan bahwa namja manis itu sudah masuk dalam mimpinya. Baekhyun benar-benar sudah bertekad jika ia akan melupakan Chanyeol.

 

Keesokan paginya, Baekhyun terus menjalani hidupnya seperti biasa. Seolah Ia pun ikut lupa dengan Chanyeol. Sudah hampir dua minggu, Baekhyun selalu memaksakan senyum ketika tiba-tiba Chanyeol menyapanya bersama Eunji, dan saat ini pun sama. Di lorong kelas itu, Baekhyun berjalan sendiri. Ia berniat untuk pergi keperpustakaan. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Chanyeol dengan Eunji. Ia berniat akan membalikan badannya. Berbalik arah agar tidak melihat Chanyeol. Tapi sepertinya niatnya kali ini gagal, karena tiba-tiba saja Chanyeol memanggil namanya. Baru kali ini Chanyeol memanggilnya sejak mereka sering berpapasan di koridor.

“Baekhyun-ah, tunggu sebentar.” Chanyeol berlari kecil menghampiri Baekhyun, setelah berbicara pada Eunji, dan Eunji pun meninggalkan mereka berdua di koridor.

“Kau memanggilku?” Baekhyun bertanya dengan nada datarnya. Menatap Chanyeol penuh tanda tanya. Untuk apa Chanyeol memanggilnya? Mereka bukan teman. Hanya sekedar kenalan sekarang.

“Aku hanya ingin bisa lebih dekat denganmu Baekhyun-ah.”

“Eh??” Baekhyun membulatkan matanya tak percaya. Apa kali ini pendengarannya salah lagi? Chanyeol pasti sedang mabuk saat mengatakan ini.

“Ya, a-aku hanya ingin kita bisa berteman.” Ucap Chanyeol yang terdengar gugup. Sungguh jika Ia ingin jujur. Chanyeol selalu memperhatikan Baekhyun setiap saat, sejak saat itu. Sialnya, jantungnya selalu berdegup kencang hanya karena melihat Baekhyun dari jauh. Dan Chanyeol tidak tahan jika hanya menatap namja itu dari kejauhan saja.

 

Baekhyun memiringkan kepalaya, seolah mencerna apa yang dikatakan Chanyeol tadi. Keningnya berkerut, seolah berpikir dengan tawaran Chanyeol.

‘Berteman?’ kata-kata itu terngiang di kepalanya. Ah, mungkin memang lebih baik jika Ia berteman dengan Chanyeol. Ia juga bisa dekat dengan Chanyeol, dan Baekhyun tidak usah berusaha menjauhinya seperti dua minggu terakhir ini. Tawaran ini benar-benar menguntungkan untuknya. Ah- sepertinya Baekhyun harus membatalkan niat move onnya.

 

“Baiklah, kita berteman Chaniie.” Baekhyun mengulurkan tangannya, lalu disambutnya uluran tangan itu oleh Chanyeol dengan senyum yang terpampang jelas di wajah tampannya itu. Chanyeol meremas tangan Baekhyun dengan lembut, membuat Baekhyun merona di buatnya.

“Gomawo Baekie-ah” Baekhyun hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum tulus. Dan mereka pun berjalan bersama menuju ke atap sekolah. Baekhyun selalu menghabiskan jam istirahat disana, sambil menghambiskan bekal makan siangnya. Mungkin kali ini Ia akan menghabiskan jam istirahat siangnya bersama dengan Chanyeol berdua.

 

Hanya butuh beberapa menit untuk sampai di atap sekolah. Tempat ini memang selalu sepi. Sangat jarang siswa yang diam di atap. Kecuali Baekhyun dan Luhan tentunya. Tapi sekarang Baekhyun dan Chanyeol yang duduk di atap. Semilir angin sejuk berhembus menerpa wajah Baekhyun dan Chanyeol. membuat Baekhyun memejamkan matanya menikmati angin sejuk yang ada di atap sekolah. Sementara Chanyeol, tentu saja asyik memperhatikan wajah cantik Baekhyun yang sedang menutup matanya itu. Seolah angin yang menerpa wajahnya tadi, bisa mengangkat semua beban yang ada di pikirannya.

Baekhyun membuka matanya perlahan. Mata cantiknya itu menatap Chanyeol yang sedang memperhatikannya. Ah, Baekhyun yakin jika wajahnya pasti sudah memerah karena ini.

“Ehm, A-apa ada yang salah dengan wajahku? Kenapa kau menatapku seperti itu Chanie?”Suara Baekhyun seolah mengembalikan kesadaran Chanyeol. membuat Chanyeol menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.

“Ah, tidak. Tidak ada yang salah Baekie-ah” Chanyeol berucap dengan gugup. Kemudian Chanyeol memasukan snack kedalam mulutnya. Snack yang Ia beli tadi bersama Baekhyun di kantin.

“Aku kira ada yang salah dengan wajahku.” Baekhyun mempoutkan bibirnya lucu, sambil membuka kotak makannya yang berisi potongan roast meat, dan carpacio. Kemudian Baekhyun memasukan potongan roast meat kedalam mulutnya, dan melumat makan itu dengan cepat.

“Kau mau Chanie?” Baekhyun menyodorkan kotak makannya pada Chanyeol. ah, mungkin besok ia akan membuat dua bekal untuknya dan Chanyeol.

 

“Tidak, kau saja yang makan Baek.” Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan, dan kembali memperhatikan pemandangan dihadapannya. Baekhyun terlihat senang kali ini, Ia menghabiskan semua bekal makan siangnya. Mungkin karena Ia bisa dekat kembali dengan Chanyeol, sampai akhirnya Ia terlalu bersemangat seperti ini.

 

“Ahh, kenyangnya.” Gumam Baekhyun pelan, sambil menutup bekal makan siangnya. Perut Baekhyun sudah terasa penuh sekarang.

“Sudah selesai, hm?” Tanya Chanyeol dan mulai berdiri dari duduknya. Baekhyun hanya menganggukan kepalanya. Entah kenapa Ia merasa kembali gugup berada di dekat Chanyeol. padahal saat Chanyeol menjadi roh kegugupan Baekhyun sudah menghilang karena ia dekat dengan Chanyeol. Sekarang mereka bagaikan dua orang yang memulai dari awal.

“kembali ke kelas?” Tanya Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun supaya berdiri.

“Ne, ayo kembali ke kelas.” Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol. Keluar dari atap, dan menuruni tangga yang ada disana. Entah karena Baekhyun terlalu senang, atau memang Ia tidak melihat ke arah tangga yang Ia lewati, kaki Baekhyun tiba-tiba tergelincir. Hanya butuh beberapa detik untuk Baekhyun sadar dengan apa yang ia alami.

 

 

Bruukkkk

 

Baekhyun terjatuh dari tangga itu, dan berakhir dengan tidak sadarkan diri di lantai. Chanyeol terperangah. Matanya menatap horor pemandangan Baekhyun di depannya. Sungguh Ia sangat tidak menyangka dengan kecelakaan ini. Perlu beberapa detik sampai Chanyeol harus menyadari apa yang telah terjadi pada Baekhyun. Dengan cepat Chanyeol menuruni tangga laknat yang menghubungkan dengan atap sekolah. Dengan cekatan Chanyeol menggendong Baekhyun yang sudah tidak sadarkan diri. Untung saja Ia tidak terluka dan berdarah sedikit pun.

Chanyeol berlari dengan sangat cepat sambil menggendong Baekhyun. Wajahnya pucat pasi, sungguh Ia tidak menyangka Baekhyun akan seperti ini. Dengan cepat Ia masuk ke ruang UKS dan membaringkan Baekhyun disana. Untung saja saat itu, ada petugas kesehatan sehingga Ia bisa memeriksa keadaan Baekhyun dengan cepat.

“Tenangkan dirimu Chanyeol-shii. Aku akan memeriksanya.” Perawat Cantik itu, mencoba menenangkan Chanyeol. Dan dengan cekatan memeriksa Baekhyun yang tengah berbaring di sana. Bagaimana mungkin Ia bisa tenang, jika orang yang sangat Ia sayangi tengah berbaring lemah tak berdaya. Perawat itu bodoh!!

 

Setelah beberapa menit akhirnya Chanyeol di perbolehkan masuk oleh perawat itu. Perawat itu bilang bahwa Baekhyun tidak apa-apa, dan sekarang tengah tertidur seperti biasa. Tapi sungguh Ia tidak bisa mempercayai ucapan perawat bodoh yang ada di sekolahnya. Kenapa bisa perawat itu ada di sekolah ini? Mungkin Ia harus mengusulkan supaya perawat itu di pecat dari sekolanya. Sekolah besar ini punya keluarga Park. Jadi Chanyeol bisa saja memecat perawat itu.

 

Chanyeol menarik sebuah kursi, kemudian duduk di samping ranjang Baekhyun. Tangannya terulur untuk menggengam tangannya. Mengecup punggung tangan Baekhyun dengan lembut.

“Baekie-ah, sadarlah.” gumam Chanyeol pelan lalu di susul oleh suara debrakan pintu di buka dengan kasar. Membuat Chanyeol mengumpat dan mendelik marah ke arah sosok yang membuka pintu itu. Di sana berdiri Sehun dan Luhan yang menampakkan raut wajah khawatir pada Baekhyun.

 

“Apa yang terjadi dengan Baekhyun, Chanyeol-ah?” Tanya Luhan yang langsung menghampiri Chanyeol. Raut wajah Luhan terlihat pucat saat melihat kondisi Baekhyun yang berbaring lemah.

 

“Dia terjatuh dari tangga, aku terlambat menolongnya.” ucap Chanyeol dengan penuh penyesalan. Chanyeol benar-benar merasa bersalah karena ini. ia tidak bisa menjaga Baekhyun dengan benar.

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

“Dia tidak sadarkan diri. Perawat bodoh itu bilang bahwa dia tidak apa-apa. Tapi ada yang aneh dengannya.” Chanyeol mengacak-acak rambutnya frustasi melihat Baekhyun yang masih tak sadarkan diri.

“Sepertinya kau benar Chanyeol hyung, ada yang tak beres. Aku bisa merasakan kehadiran Baekhyun. Dan sepertinya dia mengalami hal yang sama sepertimu waktu itu.” Ucap Sehun dengan senyum misterius.

“Maksudmu Baekhyun menjadi roh seperti Chanyeol waktu itu? Dan sekarang Ia koma?” Tanya luhan menatap Sehun tidak percaya, dan sehun hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Chanyeol membelalakan matanya kaget, ketika melihat sosok Baekhyun tengah berdiri di belakang Sehun. Ini benar-benar aneh. Apa matanya salah lihat? Kenapa Baekhyun berdiri di belakang Sehun? Bukankah Baekhyun sedang berbaring di ranjang uks?

 

“Halo Chanie, aku disini. Kenapa kau terlihat kaget?” Tanya sosok itu menatap Chanyeol dengan polos. Sementara Sehun hanya menyunggikan senyumnya. Ah, mereka seperti terikat sesuatu sampai terjadi hal berkebalikan seperti ini.

“K-kau? Baekiee-ah?” ucap Chanyeol dengan mulut terbuka, ketika melihat sosok Baekhyun yang berada di belakang Sehun. Manik obsidiannya kembali menatap ke arah Baekhyun yang berada di ranjang pasien. Ini benar-benar gila. Apa mungkin itu adalah sosok roh? Sejak dulu Chanyeol tidak terlalu mempercayai hal mistis. Walaupun memang Chanyeol akan takut jika ia di bawa ke rumah Sehun. Chanyeol percaya hantu tentu saja, tapi dengan roh seperti Baekhyun? Chanyeol benar-benar harus memeriksakan matanya!

 

Tubercolosis^^

Mind To Review??

XOXO

 

Astia_morichan

Pretty Papa| ChanBaek FF| Warning RM 18!! Pedo Baekie!!

0

Pretty Papa!

RM18!

Romance, Drama

Warning inside! OOC, TYPO, ABAL, ALUR CEPET, YAOI, Baekie PEDO /? Please Be Patient With me ^^

Byun Baekhyun adalah seorang penulis novel serta ayah yang sangat mencintai putra laki-lakinya- Ren. Karena tidak ingin Ren mengalami trauma yang pernah ia alami, Baekhyun berusaha menjauhkan semua teman Ren. Tapi hanya Park Chanyeol yang bertahan selama empat tahun dengan tingkah Baekhyun yang selalu mengusirnya. Dan Baekhyun sangat membenci Chanyeol karena selalu membuat jantungnya berdebar.

Maybe Two or Three shoot for this fict.

a/n: FF ini adalah Remake dari OVA KirreiPapa. Disini bisa di bilang Baekhyun yang pedo/? Hehe. Buat NC ga di chap awal tentu aja. Kalau two shoot berarti NC di chap depan. Kalau three shot NC berarti di chap akhir, dan make out scene di chap dua. Wkwk. Karena durasi 10 menit animenya sama dengan satu chap dari FF ini. sementara animenya berdurasi 30 menit kurang. So, stay tune ^^

Park Chanyeol X Byun Baekhyun

Choi Minki aka Ren [From Nuest]

Jadilah Readers yang baik dengan meninggalkan jejak anda walaupun hanya setitik. Sungguh, itu sangat berarti bagi saya ^^

EnJOY^^

.

oOo

.

Pria bersurai pirang bernama- Byun Baekhyun nampak sibuk dengan komputer yang berada di depannya. Wajah cantik nan manisnya terlihat sangat serius saat jemari lentiknya menyentuh keyboard untuk menulis kalimat yang akan ia terbitkan di novel barunya. Walaupun wajah Baekhyun masih terlihat sangat muda, Baekhyun sudah berumur 35 tahun. Ia juga sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sangat ia cinta- Byun Minki yang sekarang berumur 17 tahun. Anak laki-laki kesayangan yang selalu ia panggil dengan sebutan Ren itu mempunyai wajah yang sangat mirip dengannya. Sehingga Baekhyun takut jika ada yang berbuat macam-macam pada anak semata wayangnya itu. Karena Ren sangat cantik, dan zaman sekarang banyak laki-laki berorientasi sexual menyimpang mengincar putranya.

 

“Papa, aku pulang.” Suara Ren terdengar menggema dengan jelas dari depan. Baekhyun yang mendengar suara anak kesayangannya segera menghentikan aktivitas menulisnya, dan pergi keluar kamarnya untuk menyambut Ren yang baru saja pulang sekolah.

 

“A-ah, Rennie kau su—“ Ucapan Baekhyun terpotong saat dirinya melihat ketiga sosok pemuda yang yang Ren bawa. Dua sosok bocah baru dan satu lagi bocah tengil yang selalu dekat dengan Ren. Baekhyun yakin mereka semua selalu mengelilingi Ren dan Baekhyun tahu jika itu adalah kedok mereka agar bisa menyentuh tubuh polos anak semata wayangnya. Tidak. Baekhyun tidak akan membiarkan anaknya mengalami pengalaman yang pernah ia alami dulu.

 

“Permisi, maaf mengganggu.” Kedua pemuda bersurai hitam bersorak saat ia melihat sosok Baekhyun. Baekhyun baru melihat sosok mereka. Ini pasti teman baru Ren. Pemuda bersurai hitam keriting yang ada di samping Ren adalah Minhyun, dan pemuda bersurai coklat dengan gaya rambut mencuat itu bernama Sehun.

“Ya. Selamat datang.” Baekhyun memamerkan senyum cantiknya kepada empat anak SMA yang ada di depannya. Ia benar-benar tidak suka keberadaan teman Ren. Padahal jika ada teman Ren yang kesini, Baekhyun selalu mengusirnya dengan cepat. Apapun caranya. Apalagi ia sangat benci dengan bocah jangkung bersurai hitam yang selalu datang ke rumahnya selama empat tahun terakhir ini, dan bermain dengan anaknya. Sungguh Baekhyun sangat takut jika Chanyeol akan menerkam anaknya yang sangat cantik itu.

“Ayo kita bermain game di kamarmu, Rennie.” Minhyun merangkul pundak Ren dengan mesra, dan itu tentu saja membuat Baekhyun menggeram marah. Berani sekali bocah tengil seperti Minhyun menyentuh Ren dengan tangan kotornya di depan matanya sendiri. Lihat saja, Baekhyun akan segera mengusir mereka dari sini.

“Baiklah, ayo ke kamarku.” Suara Ren terdengar sangat ceria. Ia mulai menuntun ketiga temannya ke lantai atas untuk bermain play station miliknya bersama.

 

“Baiklah, Papa akan membuatkan cemilan untuk kalian.” Baekhyun tersenyum masam melihat bocah-bocah itu sudah masuk ke dalam kamar Ren. Dengan cepat, Baekhyun segera pergi ke dapur untuk memberikan ke tiga bocah itu pelajaran karena berani dekat dengan Ren. Tidak ada yang boleh dekat dengan Ren apalagi berani menyentuh anak kesayangannya.

“Ah.. Ketemu.” Baekhyun bersorak senang saat tangannya mengambil sebuah botol kecil bertuliskan ‘obat pencuci perut’.

“Rasakan ini jika kalian mencoba memangsa Ren.” Seringaian menakutkan tercetak jelas di wajah Baekhyun. Aura menyeramkan juga terasa mengelilingi tubuh pria berwajah cantik itu. Tangan Baekhyun bergerak perlahan mengambil sebuah cake stawberry yang berada di lemari es. Kemudian Baekhyun memotong kue itu, dan menaburkan obat pencuci perut di atasnya. Ini pasti akan membuat para bocah tengil itu pergi.

 

“Selesai.” Baekhyun tersenyum melihat hasil kerjanya. Dengan cekatan, Baekhyun memindahkan beberapa potongan kue pada nampan berwarna coklat. Kemudian dengan senyum menawan, Baekhyun segera berjalan menaiki kamar Ren yang ada di atas.

Hanya butuh beberapa menit untuk Baekhyun sampai di kamar Ren. Ia mulai membuka kenop pintu dengan sebelah tangannya. Baekhyun bisa melihat para bocah tengil itu duduk di sisi Ren dengan tangan yang sibuk memainkan joystick.

 

“Papa masuk, ne?” Suara merdu dari Baekhyun membuat semua bocah itu menoleh ke arahnya, dan mempause game yang sedang mereka mainkan.

 

“Ne. Ne. Bagaimana kalau memakan kue?” Senyum manis nan menggoda masih bertengger di wajah Baekhyun. Senyum yang membuat teman-teman Ren merona hanya dengan melihat dirinya. Senyum malaikat milik Baekhyun mampu membuat setiap orang yang melihatnya terpesona dalam sekejap.

 

“Baekhyun-ssi, maaf selalu merepotkanmu.” Suara bariton milik Park Chanyeol terdengar dengan jelas. Baekhyun dapat melihat Chanyeol duduk bersila di sisi ranjang Baekhyun, dengan memamerkan senyum menyebalkan ke arahnya.

 

“Ah.. Chanyeol-ah.. Aku juga berterimakasih karena sudah berteman dengan Ren selama empat tahun ini.” Baekhyun menekan kata-katanya. Ia menatap Chanyeol tidak suka, walaupun senyum tidak tulusnya masih tercetak di wajah manis Baekhyun.

 

“Tidak apa-apa, Baekhyun-ssi. Itu karena aku menyukai Ren.” Baekhyun dapat melihat Chanyeol menyeringai ke arahnya. Sial! Bocah tengil itu benar-benar menyebalkan! Beraninya mengatakan suka pada anaknya segampang itu! Baekhyun tidak akan menyerahkan Ren pada Chanyeol!!

 

“E-ehmm. Baiklah silahkan kalian nikmati.” Baekhyun segera bangkit dari duduknya, dan mulai berjalan menjauh dari kamar Ren. Ia harus segera menyimpan nampan ini, dan kembali mengawasi putranya. Walaupun Baekhyun mempunyai pekerjaan dan harus kembali berkutat dengan scipt novelnya, itu sama sekali tidak penting. Keselamatan Ren adalah nomor satu bagi Baekhyun.

“Hey, Rennie. Itu siapa?” Suara Minhyun memecah keheningan. Sekarang mulut pemuda itu mulai penuh dengan cake strawberry di mulutnya. “Dia benar-benar cantik.”

 

“Ya, dia benar-benar cantik. Apa dia kakak perempuanmu, Ren?” Tanya Sehun setelah ia menelan sepotong kue di dalam mulutnya. “Apa dia sudah mempunyai kekasih?”

 

“Dia sudah mempunyai mantan istri.” Ucap Ren dengan santai. Tangannya kembali bergerak menekan tombol start joysticknya. Mengabaikan kedua teman yang baru datang ke rumahnya itu yang masih terpesona dengan ayahnya. Ini sudah biasa bagi Ren. Teman-temannya pasti akan mengira bahwa Ayahnya itu seorang perempuan. Sama seperti dirinya, yang selalu salah dikira sebagai perempuan. Padahal mereka adalah laki-laki. Terkadang Ren sedih karena mempunyai wajah cantik yang ayahnya turunkan. Karena Ren pernah beberapa kali mengalami pelecahan, tapi tentu saja itu tidak terjadi karena Baekhyun selalu mengawasi dirinya setiap saat. Bahkan sampai sekarang.

 

“Ah, kau tetap menyukai Papa mu walaupun cantik kan Ren?” Sekarang giliran Chanyeol yang mengeluarkan pertanyaannya. Tentu saja Ren sangat menyukai ayahnya. Pertanyaan Chanyeol benar-benar konyol. Ia tidak perlu menjawab pertanyaan dari namja jangkung itu.

 

“E-eh? Dia ayahmu?” Sehun dan Minhyun bertanya dengan wajah tak percaya. Kemudian wajah mereka menjadi pucat, dan mereka segera pergi keluar dari kamar Ren karena perut mereka yang tiba-tiba sakit.

 

“Kenapa dengan mereka?” Tanya Ren bingung pada Chanyeol yang masih asik duduk di tempat. Kemudian Ren bisa melihat Chanyeol menyeringai. Membuat Ren menggaruk pipinya karena melihat tingkah Chanyeol yang semakin aneh jika sudah berada di dalam rumahya.

 

“Aku akan memeriksanya. Kau tunggu saja di sini.” Dan Ren pun hanya mengangguk saat ia melihat punggung Chanyeol menjauh dari kamarnya. Ah, Ren harus segera menyelesaikan game resident evil miliknya. sebentar lagi ia akan melawan salazar, dan mendapatkan check point.

 

.

oOo

.

Sudut bibir Baekhyun tertarik saat melihat kedua teman Ren berlari terbirit-birit untuk keluar dari rumahnya. Sepertinya rencananya benar-benar berhasil karena mereka sudah meninggalkan rumahnya. Well, karena teman Ren sudah pergi, Baekhyun bisa kembali menyelesaikan novel miliknya. Ia tidak perlu mengawasi Ren karena putra kesayangannya itu sudah aman sekarang. Tidak ada laki-laki yang berada di dekat Ren.

 

Drrtt Drrtt

 

I-phone putih miliknya bergetar. Membuat Baekhyun mendecih tak suka saat melihat Caller ID di layar handphonenya. Dengan enggan, Baekhyun menggerakan tangannya untuk mengankat telfon dari Jongin.

 

“Halo, Jongin. Aku sedang mengerjakannya sekarang.” Baekhyun langsung menjawab, tanpa mendengar dulu apa yang di bicarakan managernya. Ia sudah tahu apa yang akan di katakan manager berkulit tan itu. Jongin hanya ingin menagih script novelnya.

 

“Kau bisa kesini untuk mengambilnya, Kai. Script bab empat sudah aku selesaikan.” Baekhyun terdiam sesaat menunggu jawaban dari Jongin. Kemudian Baekhyun bersorak senang saat mendengar jawaban Jongin selanjutnya.

 

“Eh? Benarkah? Kau mempunyai naskah aslinya??” Wajah Baekhyun benar-benar berseri saat mendengarkan penjelasan dari Jongin tentang Chansii Park yang akan ia bawa ke rumahnya hari ini. Ia benar-benar berharap Jongin segera datang ke rumahnya detik ini juga.

 

“Arraseo. Cepatlah kemari, Kai.” Baekhyun segera memutuskan sambungannya dengan Jongin. Kemudian tangannya bergerak untuk menyimpan I-phonenya ke dalam saku celana denimnya. Kemudian manik coklatnya teralih ke arah kamar Ren, dan manik itu membulat saat retinanya menangkap sosok Chanyeol berdiri di atas tangga dengan tangan tersilang di depan dadanya.

 

“Bocah tengil!! Kenapa kau masih disini?!!” Baekhyun berteriak marah saat melihat Chanyeol baik-baik saja. Ia pikir Chanyeol sudah pulang karena sakit perut. Ternyata bocah tengil itu tidak memakan cake yang sudah ia buat.

 

“T-tidak adil!! Kenapa kau tidak memakan kuenya?!!” Tangan Baekhyun terulur menunjuk ke arah Chanyeol. Matanya menatap Chanyeol dengan tajam. Ah. Baekhyun benar-benar membenci Chanyeol. Ia berjanji akan segera memusnahkan namja itu agar tidak bisa masuk ke dalam rumah dan bermain dengan Ren.

 

“Aku takjub, kau bisa mengatakan hal seperti itu Baekhyun-ssi.”

 

“E-eh? Memangnya ada masalah apa dengan kuenya?” Suara Ren membuat tubuh Baekhyun menegan. Ia bisa melihat sosok Ren yang berdiri di belakang punggung Chanyeol dan menatapnya dengan pandangan bingung.

 

“O-oh. B-bukan apa-apa Rennie.” Baekhyun terlihat gugup. Ia meremas sisi celananya. Ah- ia takut jika Ren tahu tentang kue itu, dan juga tentang niat Baekhyun yang meracuni kue itu dengan obat pencuci perut. Selama ini Ren sama sekali tidak tahu tentang dirinya yang selalu mengusir teman-temannya.

 

“Papa, aku rasa kuenya sudah basi. Dua temanku langsung sakit perut saat memakannya.”

 

“B-benarkah? T-tapi—“

 

“Mereka pasti sudah salah makan sebelum datang kemari, Ren.” Suara bariton Chanyeol kembali terdengar. Membuat Ren menoleh ke arah Chanyeol dengan senyum lima jarinya.

 

“Iya juga ya. Papa tidak mungkin memberikan makanan basi pada mereka.”

 

“Y-ya. T-tentu saja. Haha.” Baekhyun tertawa hambar ke arah Ren. Lalu tatapannya teralih ke arah Chanyeol yang berjalan ke arahnya.

 

“Baiklah, kalau begitu aku akan melanjutkan gameku.” Baekhyun dapat melihat Ren kembali ke dalam kamarnya. Meninggalkan dirinya dengan Chanyeol yang berada di tangga.

 

“Jangan pikir aku berhutang padamu karena ini.”

 

“Tentu saja, Baekhyun-ssi. Tapi apa kau tidak memikirkan perasaan Ren? Kau selalu mengusir teman-temanya saat kemari.” Chanyeol bisa melihat Baekhyun mendelik tajam ke arahnya. “Apa kau berusaha menghadang Ren untuk tidak berteman dengan orang baik sepertiku, Baekhyun-ssi?”

 

Baekhyun benar-benar jengah dengan bocah ini. Bocah ini benar-benar tidak peka, Ia juga bertingkah kurang ajar padanya. Padahal umur mereka terpaut jauh, tapi Chanyeol tidak memperlakukannya seperti orangtua.

“Aku memang tidak menginginkan Ren berteman dengan orang sepertimu!!” Baekhyun berbalik ke arah Chanyeol. Tatapan tajamnya masih terlihat intens. Aura tidak suka akan beradaan Chanyeol benar-benar menguar dari tubuh pria mungil itu.

 

“Wah. Kau benar-benar salah mengira jika berpikir aku mempunyai niat jelek pada Ren.”

 

“Aku tidak mungkin salah! Semua teman Ren pernah mencoba menyerangku saat aku menekan mereka soal hal ini.” Baekhyun dapat melihat manik obsidian Chanyeol membulat saat mendengar ucapannya. Rahang Chanyeol mengeras seperti menahan amarah.

Tiba-tiba saja tangan Chanyeol terulur menyentuh kerah kemejanya. Kancing kemeja berwarna biru yang Baekhyun kenakan sampai terlepas karena Chanyeol menariknya. Sehingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Baekhyun bisa melihat manik obsidian Chanyeol terlihat marah sekarang. Entahlah. Baekhyun tidak tahu apa yang membuat Chanyeol marah seperti ini.

 

“Lalu apa reaksimu saat itu?” Suara bariton yang keluar dari mulut Chanyeol, membuat tubuh Baekhyun meremang dengan cepat. Baekhyun merasa dirinya terpojok saat ini. Entah kenapa, ia merasa takut jika Chanyeol marah padanya.

 

“C-chanyeol? K-kenapa kau seperti ini?” Suara Baekhyun terdengar gugup saat ia bisa melihat dengan jelas wajah tampan Chanyeol dari jarak sedekat ini.

 

“A-ah..” Chanyeol segera tersadar atas apa yang ia perbuat. Dengan cepat ia melepaskan Baekhyun, dan membalikkan badannya. Ia tidak mau Baekhyun melihat wajahnya yang memerah seperti ini. “Lalu apa reaksimu?”

 

“Menurutmu apa reaksiku, Chanyeol-ah? Tentu saja aku menendang penis mereka dan mengusir bocah tengil itu.” Baekhyun bisa mendengar helaan nafas lega yang keluar dari mulut Chanyeol. Pemuda jangkung itu kembali berbalik ke arahnya, dan menatapnya dengan intens. Tatapan mata Chanyeol membuat Baekhyun tidak berkutik. Ia menyukai tatapan bocah itu. Tatapan mendamba dan ingin melindungi terlihat dengan jelas di manik obsidian Chanyeol.

 

“Walaupun begitu, kau masih belum menyadari tentang dirimu, Baekhyun-ssi.” Tangan Chanyeol terulur ke arah kemeja Baekhyun. Tangannya bergerak mengancingkan kembali kemeja Baekhyun yang membuat Chanyeol harus menahan nafas karena melihat dada mulus Baekhyun terekspos di depan matanya. “Kau masih terlihat sangat muda. Padahal umurmu sudah 35 tahun. Itu namanya penipuan, Baekhyun-ssi.”

 

“E-eh?” Entah kenapa Baekhyun bisa merasakan wajahnya memanas, hanya karena mendengar ucapan dari bocah yang berdiri di hadapannya. Sejak dulu, Park Chanyeol membawa dampak buruk bagi kesehatan jantungnya. Ini benar-benar menyebalkan!

 

Ting Tong

 

Suara bel pintu rumah berbunyi dengan keras. Membuat Chanyeol dan Baekhyun sadar dengan situasi yang mereka alami. Dengan cepat, Chanyeol melepaskan Baekhyun karena ia sudah mengancingkan kemejanya dengan sempurna. Baekhyun terlihat sangat gugup, membuat Chanyeol terkekeh pelan melihat tingkah laku pria manis itu.

 

Brakk

 

Suara pintu kayu jati di buka dengan kasar, memperlihat sosok Kim Jongin dengan setelan jasnya berjalan masuk ke arah Baekhyun yang sekarang menatap Baekhyun dengan pandangan menilai. Alis pria berkulit tan itu berkerut saat memperhatikan penampilan Baekhyun.

 

“Kai!!” Baekhyun bersorak bahagia saat melihat Jongin mendekat ke arahnya. Ia kira Jongin tidak akan datang secepat ini. Ternyata Jongin bisa menjadi sangat cepat jika menyangkut scriptnya.

 

“Ah. Kau terlihat sangat santai, Baek. Apa script novelmu sudah selesai?” Jongin menatap Baekhyun dengan pandangan menilai. Ia curiga jika Baekhyun belum benar-benar menyelesaikannya. Karena deadline mereka sudah dekat. Bukan hal aneh jika Baekhyun selalu di kejar deadline. Itu adalah kebiasan Baekhyun yang sulit di hilangkan sejak dulu.

 

“T-tentu saja sudah. Kau bisa mengambilnya di kamarku. Sekarang berikan barangnya.” Baekhyun bisa melihat Jongin menghela nafasnya perlahan. Kemudian pria berkulit tan itu merogoh tas hitam miliknya, dan memberikan sebuah amplop coklat kepada Baekhyun yang langsung diambil oleh Baekhyun. Wajah Baekhyun benar-benar terlihat bahagia karena mendapatkan barang itu, dan Chanyeol yang sejak tadi mengamati Baekhhyun tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Baekhyun.

“Gomawo, Kai! Saa, kau ambil saja naskahnya. Aku sudah menaruhnya di samping laptopku.” Dan Jongin hanya mengangguk, sebelum berbalik dan melangkahkan kakinya menuju kamar Baekhyun yang berada di pojok ruangan.

 

“Akhirnya aku mendapatkannya!! Ah akan ku jaga dengan baik benda ini!!” Baekhyun bersorak bahagia sambil mendekap erat amplop itu. Membuat Chanyeol yang berdiri di sampingnya mengernyit bingung. Baru kali ini ia melihat Baekhyun begitu bahagia seperti sekarang. Sejak ia bertemu dengan Baekhyun empat tahun lalu, pria itu tidak pernah memperlihatkan senyum bahagianya pada Chanyeol. Dan sekarang, Chanyeol benar-benar terpesona pada Baekhyun.

“Apa itu?” Suara bariton Chanyeol berhasil membuat Baekhyun menoleh dan berpikir bahwa namja itu sudah pulang sejak tadi. Ternyata Chanyeol memang keras kepala. Bocah tengil ini selalu susah untuk di usir dari rumahnya.

 

“Cih. Kau tidak perlu tahu. Sekarang pulanglah, dan jangan dekat-dekat dengan Ren lagi.” Suara Baekhyun terdengar sangat menakutkan. Tatapan mengintimidasi miliknya kembali ia hadiahkan untuk Chanyeol.

“Kau benar-benar tidak kapok, Chanyeol. Selama empat tahun ini aku mencoba mengusirmu.” Baekhyun mendelik sebal. Bibirnya mengerucut tanpa ia sadari, dan itu membuat Chanyeol terkekeh karena tingkah pria berusia 35 tahun di depannya. Sial! Baekhyun benar-benar menggoda di depannya.

 

“Itu karena aku sahabatnya Ren.” Chanyeol tersenyum tanpa rasa bersalah. Kemudian pandangannya beralih, menatap amplop yang masih berada di genggaman Baekhyun. “Jadi apa itu?”

 

“Kau tidak perlu tahu. Ini adalah milik orang yang paling berharga untukku.” Mata Baekhyun terlihat sangat berbinar saat mengatakannya. Raut kebahagian itu kembali muncul.

 

“Orang paling berharga? Apa dia seorang wanita?”

 

“Ya, tentu saja seorang wanita. Ini bukanlah urusanmu, sekarang pulanglah.” Baekhyun kembali menatap ke arah Chanyeol. Retinanya kembali menangkap tatapan tidak suka Chanyeol karena ucapannya.

 

“Ini memang bukan urusanku. Karena tak ada yang berhak mencampuri urusan kedua insan yang tengah di mabuk cinta.” Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun. Tubuh mereka semakin mendekat, membuat Baekhyun merasakan wangi mint yang menguar dari tubuh Chanyeol.

 

“A-apa maksudmu aku tidak boleh mencampuri urusan cintamu dengan Ren, begitu??” Urat-urat kekesalan muncul di wajah cantik Baekhyun. Sial! Baekhyun benar-benar tidak menyukai Chanyeol, karena sudah berani mengibarkan bendera perang untuknya.

 

“Kalau iya, memangnya kenapa Baekhyun-ssi?” Chanyeol menjauhkan tubuhnya. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas bagaiman wajah Baekhyun yang sedang marah. Walaupun Baekhyun sedang marah, tapi wajah marahnya benar-benar membuatnya terlihat sangat cantik di mata Chanyeol.

 

“Tidak akan ku izinkan! Kau belum pernah merasakan bagaimana di khianati oleh seorang sahabat yang sudah kau percaya. Aku tidak ingin Ren mengalami hal seperti itu karenamu!!” Baekhyun berteriak kesal pada Chanyeol. Wajahnya terlihat memerah menahan emosi. Ia harus membuat Chanyeol menjauh dari putranya.

 

“Kau pernah mengalami hal seperti itu?” Raut wajah penuh tanya tergambar jelas di wajah tampan Chanyeol. Tatapan Chanyeol tidak lepas dari wajah Baekhyun yang terlihat sangat serius mendengar apa yang akan pria itu jelaskan. Chanyeol benar-benar ingin mengenal Baekhyun lebih jauh. Ia hanya tahu tentang Baekhyun dari Ren. Chanyeol tidak pernah tahu jika Baekhyun pernah mengalami hal yang membuatnya trauma sampai menjadi Father complex.

 

“Ya, bisa di bilang begitu. Maka dari itu aku tidak akan membiarkan Ren mengalami hal yang sama. Terutama karena kau adalah sosok yang paling di sukai oleh Ren.”

 

“Kalau begitu kau tidak perlu khawatir. Karena aku sama sekali tidak menyukai Ren. Aku jatuh cinta pada orang lain.”

 

“Eh?” Baekhyun membulatkan matanya saat mendengar penuturan malu-malu yang di keluarkan oleh Chanyeol.

“Wah. Aku tidak menyangka bahwa kau bisa menyukai seseorang, Chanyeol-ah!! Bocah tengil sepertimu bisa jatuh cinta. Itu benar-benar menakjubkan!!” Baekhyun tersenyum jahil ke arah Chanyeol. Jika begini, maka Baekhyun tidak usah khawatir tentang Chanyeol yang akan menerkam anak kesayangannya. “jadi siapa wanita itu?”

 

“Apa itu mengganggumu? Atau kau hanya menggodaku saja Baekhyun-ssi?” Ucapan Chanyeol membuat tubuh Baekhyun menegang dengan cepat. Ah, kenapa juga Baekhyun harus tahu tentang siapa yang di sukai oleh bocah itu. Itu kan sama sekali tidak penting untuknya.

“Kalau kau bilang apa isi amplop itu, aku akan mengatakan siapa orang yang ku sukai.” Baekhyun terdiam beberapa saat mendengar tawaran dari Chanyeol. Tapi tidak ada salahnya bukan menyukai siapa yang di sukai oleh Chanyeol? Ia hanya penasaran. Tentu itu tidak akan masalah. Bukannya Baekhyun peduli pada Chanyeol, ia hanya ingin tahu saja.

 

“Baiklah. Amplop ini berisi catatan asli dari penulis misteri terkenal Chanssi Park!! Ah.. dia pasti wanita yang sangat cantik. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya! Aku sangat mencintainya, kau tahu? Dia adalah inspirasiku!” Baekhyun kembali tersenyum bahagia, dan memeluk kembali amplop berwarna coklat itu bagaikan orang yang tidak ingin kehilangan benda berharganya.

 

“Jadi hanya itu?” Baekhyun membulatkan matanya saat mendengar nada meremehkan keluar dari mulut Chanyeol. Berani sekali bocah tengil itu berkata tidak sopan tentang wanita yang ia cintai.

 

“Chansii itu adalah inspiratorku! Kau tidak boleh meremehkannya seperti itu!!”

 

“Baekhyun-ssi, kau benar-benar menyukai penulis itu?”

 

“Suka? Aku tidak hanya menyukainya tapi aku sangat mencintai Chansii!” Ucap Baekhyun dengan bersungguh-sungguh. Raut wajah Baekhyun terlihat sangat bahagia saat mengatakannya. Dan Baekhyun bisa melihat wajah Chanyeol sedikit merona karena mendengar ucapannya.

 

“Lalu apa reaksimu jika seandainya di datang dan mengatakan ‘jadilah kekasihku’?” Wajah Baekhyun kembali merona saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Chanyeol. Jujur saja ia tidak pernah berpikir sejauh itu.

 

“Aku tidak berpikir sampai ke sana.” Baekhyun menundukan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya. “T-tapi aku ingin tahu lebih banyak tentangnya.”

Chanyeol tersenyum saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Baekhyun. Kemudian ia mendekat ke arah Baekhyun dan menarik dagu pria itu agar mendongak ke arahnya.

 

“Kalau begitu, jangan lupakan apa yang kau katakan barusan, Byun Baekhyun.” Manik obsidian milik Chanyeol menatap intens tepat ke dalam mata Baekhyun, dan itu membuat Baekhyun tidak bisa menggerakan tubuhnya. Ia hanya terpaku pada Chanyeol sekarang. Debaran jantungnya bahkan masih bisa Baekhyun dengar walaupun Chanyeol sudah melepaskan tangannya dan mulai berjalan ke pintu keluar dengan seringaian yang tercetak dengan jelas di wajah tampannya. Baekhyun benar-benar tidak tahu apa yang sedang bocah tengil itu katakan. Tapi Baekhyun merasa sesuatu yang baik akan terjadi nantinya.

 

 

To Be Continued^^

Yosh akhirnya beres. Dengan bacotan ini semuanya jadi 3k+. Kalau kalian berminat saya bakal up cepet, karena jujur otak saya lagi dalam Fujo mode on. Wkwk Bacaan manga yaoi. Tontonan juga anime yaoi semua. Jujur lagi stress dan butuh asupan wkwk. Kalau ada yang mau recomend anime yaoi yang hot pm ke aku yah. Lagi butuh asupan. Manga juga boleh wkwk

 

Terus buat FF Chanbaek. Kalau kesampean saya bakal lanjut remake yatamomo yang itu. Karena emang FF pendek itu Cuma satu scene aja makanya tamat. Wkwk. Exatcly aku niat lanjut remake FF Love stage. Dulu pernah publish tapi baru satu chap. Cuma karena udah ada yang remake ff itu jadi ga jadi wkwk.

Ingin juga Remake ulang FF remake sekaiitchi hatsukoi sama Papa To kiss in the dark dalam versi Chanbaek, karena dulu saya buatnya versi KyuMin. Ada yang tahu anime yaoi terhot itu? Silahkan tonton. wkwk

Buat FF just one night stand Chanbaek. Sabar yah.. karena jujur cerita asli dari temen aku ga happy ending. Sedangkan saya suka chanbaek berakhir happyend. Hiks. Jadi sabar lagi putusin alur cerita. Wkwk buat ghost of chanyeol saya lagi males edit. Tapi di usahain cepet.

 

So Mind To Review??’

XOXO

 

AstiaMorichan^^