I Want To Be A Straight, But | Meanie Couple FF| Warning| SeventeenFict|MingyuXWonwoo|Yaoi

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, etc

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

a/n: Keinspirasi saat inget kousurun boukun, sekaiichi hatsukoi, dan Ten Count. Wkwkw mungkin bakal ada beberapa bagian dari manga itu yang masuk dalam cerita ini. well, ini FF Meanie Couple pertama aku. Kemarin abis liat seventeen tv yang dulu liat banyak moment Meanie. Jadi terciptalah imajinasi bejat nan nista ini. wkwkwk

kenapa saya ambil psikolog di sebut dokter? mungkin emang di luar negeri rata-rata yang saya tau psikolog itu setara sama psikiater. punya praktek sendiri kayak dokter. buat konsultasi dan semacamnya. kalau pake psikiater kesannya kaya gay itu penyakit jiwa. so saya ambilnya psikolog ae, biar kaya kurose sensei yang psikolog juga di panggilnya sensei kan? wkwk then lets read!!

EnJOY!!

.

oOo

.

 

Jeon Wonwoo melangkahkan kakinya perlahan. Saat ini tujuan Wonwoo adalah pergi ke seorang Psikolog yang sudah di anjurkan Junghan Hyung padanya saat istirahat siang tadi. Ia memang harus berkonsultasi kepada psikolog jika Wonwoo benar-benar ingin sembuh dari orientasi sexual menyimpangnya. Wonwoo ingin kembali menjadi straight dan menyukai wanita seperti yang Ibunya harapkan. Maka dari itu, ini lah tujuan Wonwoo sekarang. Sebuah klinik yang cukup besar di daerah perkotaan Seoul. Beruntung, Junghan kenal dengan sang Dokter yang akan berkonsultasi dengannya. Sehingga Wonwoo tidak perlu membuat janji lagi dengan Psikolog itu.

Langkah Wonwoo terhenti saat ia sudah sampai di meja represionis. Terlihat seorang wanita muda yang sangat menawan di sana. Wanita bername tag Seolhyun itu tersenyum lembut ke arah Wonwoo.

“Apa anda sudah membuat janji, Pak?” Wonwoo yakin jika ada pria straight yang melihat senyum dari Seolhyun pasti akan langsung terpesona pada wanita itu. Tapi sayangnya, itu tidak berlaku bagi Wonwoo.

“Ya. Ehm.. Tadi siang.” Wonwoo merogoh saku jaket berwarna hitamnya. Mengeluarkan sebuah kartu nama kecil yang sekarang di genggamnya.

“Dengan dokter Kim Mingyu. Aku membuat janji dengannya tadi siang.” Wonwoo dapat melihat Seolhyun kembali tersenyum, sebelum wanita itu menatap kembali layar monitornya dan mengecek jadwal yang sudah tertera di sana.

“Tuan Jeon Wonwoo? Anda sudah di tunggu di ruangan tiga oleh Dokter Kim.” Wonwoo mengangguk perlahan ke arah Seolhyun. Kemudian ia mulai melangkah ke arah koridor bagian tengah. Ada sepuluh ruangan di daerah itu. Mata Wonwoo sejak tadi melihat setiap pintu yang ada di sampingnya. Kemudian senyum bahagia tercetak jelas di wajah manis Wonwoo.

“Ah.. Di sini.” Wonwoo memekik pelan saat retinanya menangkap angka tiga pada sebuah pintu jati berwarna coklat di depannya. Dengan perlahan, ia mulai mengetuk pintu itu beberapa kali.

“Masuk.” Suara bariton yang berasal dari dalam terdengar. Membuat Wonwoo merasa gugup hanya dengan mendengar suara itu. Entahlah ada sensasi aneh menggelitik saat mendengar suara Dokter Kim dari dalam. Wonwoo yakin dokter itu pasti akan sangat tampan.

Dengan perlahan, Wonwoo mulai membuka kenop pintu itu. Sehingga pintu itu terbuka setengahnya. Retinanya dapat melihat sosok pria berwajah tampan dengan surai hitam yang terlihat acak-acak. Membuat kesan sexy di wajah tampan itu. Tak lupa jas putih dokter membalut tubuh indahnya dengan beberapa kancing kemeja berwarna biru terbuka. Memperlihatkan dada bidang pria itu. Membuat Wonwoo terpesona di tempat saat melihat sosok Dokter Kim dari sana. Demi Lucifer!! Baru kali ini Wonwoo melihat pria sempurna yang mampu membangkitkan gairah dalam tubuhnya secepat ini. Dokter ini berbahaya!! Sebaiknya Wonwoo segera pulang jika tidak ingin terpesona oleh Dokter Kim.

“S-sepertinya aku salah ruangan. Pe-permisi.” Dan Wonwoo membungkukan badannya, sebelum berbalik meninggalkan ruangan itu.

“Jeon Wonwoo kan? Anda tidak salah ruangan.” Dokter Kim Mingyu tersenyum ke arahnya. Membuat Wonwoo kembali diam di tempat karena kembali terpesona dengan sosok sang Psikolog.

“Ah.. N-ne..” Wonwoo berujar gugup. Sial! Tidak biasanya dia gugup di depan orang lain seperti ini. Baru pertama kali Wonwoo begini.

“Duduklah, Wonwoo-ssi.” Mingyu mengisyaratkan sebelah tangannya agar Wonwoo duduk di sebuah kursi berwarna hitam yang sudah di sediakan sang Dokter.

Dengan perlahan, Wonwoo berjalan ke arah Mingyu. Kemudian ia mulai duduk di kursi itu, dan menundukkan kepalanya. Enggan menatap Minggyu yang sekarang masih tersenyum ke arahnya. Demi Tuhan!! Senyuman Minggyu benar-benar sangat menggoda!

“Aku Kim Minggyu. Junghan Hyung sudah menghubungiku jika kau akan berobat padaku, Wonwoo-ssi.” Mingyu mengulurkan tangannya ke arah Wonwoo.

Sementara Wonwoo masih diam menunduk. Jujur saja, Wonwoo benar-benar gugup sekarang. Dengan tangan gemetarannya Wonwoo menjabat tangan Minggyu dengan perlahan. Dapat Wonwoo rasakan getaran listrik statis saat ia menggenggam tangan Mingyu yang lebih besar dari tangannya. Membuat aliran statis dari tangannya menjalar ke seluruh pusat di otaknya. Sehingga Wonwoo dapat merasakan jantungnya berdetak kencang dari biasanya. Ini pertama kalinya Wonwoo berdebar di depan seorang pria. Bahkan mantan pacarnya saja tidak bisa membuat Wonwoo merasakan debaran yang menggila seperti sekarang. Wonwoo benar-benar ingin pulang sekarang!!

“Y-ya..” Wonwoo tersenyum gugup sambil melepaskan genggaman tangannya pada Mingyu. Kemudian ia kembali menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat celana denim berwarna hitam yang di kenakannya.

“Jadi apa keluhanmu, Wonwoo-ssi?” Mingyu mengernyitkan sebelah alisnya. Jari telunjuknya mengetuk ujung meja kayu jati di depannya. Mata obsidiannya tidak lepas dari sosok Wonwoo yang terlihat gugup. Dari gerak geriknya, Mingyu dapat menyadari ada yang namja itu sembunyikan.

“Katakanlah. Jangan sungkan padaku, Wonwoo-ssi. Bukankah kau datang kesini karena ingin berobat padaku?” Mingyu dapat melihat Wonwoo mendongak ke arahnya. Kemudian namja itu mengangguk pelan, sambil mengigit bibir bawahnya pelan.

“Ceritakanlah. Aku akan membantumu.” Kali ini Minggyu dapat melihat Wonwoo menghela nafasnya. Terlihat jelas jika namja itu mencoba menenangkan dirinya.

“A-aku… A-aku Gay, Dokter.” Wonwoo dapat melihat Mingyu membulatkan matanya saat mendengar penuturannya. Matanya menyipit seakan ia tidak suka dengan keberadaan Wonwoo sekarang. Wonwoo yakin sekarang Mingyu jijik terhadapnya.

“T-tapi aku ingin sembuh. A-aku ingin menjadi straight lagi, Dokter.” Wonwoo menatap Mingyu dengan penuh kesungguhan. Membuat Dokter muda itu menghela nafas pelan saat melihat mata Wonwoo.

“Well, sebenarnya aku homophobic Wonwoo-ssi. Tapi karena aku adalah seorang dokter dan kau adalah pasien. Maka aku tidak mungkin mengabaikan pasienku.” Wonwoo tersenyum senang saat mendengar perkataan dari Mingyu. Membuat Mingyu terpaku di tempatnya saat melihat wajah bahagia dari namja itu.

“Ehm.. Jadi bagaimana jika kita memulai pengobatanmu mulai besok? Kau bisa datang setiap sore. Aku akan menunggumu, Wonwoo-ssi.”

“B-baiklah. Terimakasih banyak Mingyu-ssi.” Wonwoo mengulurkan tangannya ke arah Mingyu. Senyumnya masih mengembang di wajah cantiknya.

“Kau tidak usah seformal itu. Panggil saja aku Mingyu, Hyung. Kau lebih tua dari ku kan?” Mingyu membalas uluran tangan dari Wonwoo. Dapat Mingyu lihat rona merah mulai menjalar menghiasi wajah Wonwoo yang sekarang menundukan kepalanya.

“I-iya. K-kalau begitu, kau bisa memanggilku Wonwoo saja.” Wonwoo melepaskan genggaman tangan mereka. Jujur saja ia kecewa. Wonwoo sangat ingin menggenggam tangan Mingyu lebih lama.

“Sampai ketemu besok, Mingyu-ah.” Wonwoo menarik kursinya, dan berdiri dari duduknya. Kemudian membungkukkan badannya, dan berbalik. Membuka kenop pintu kayu itu, sehingga ia menghilang dari pandangan Mingyu yang masih menatap punggung Mingyu menjauh.

“Sial!! Ada apa denganku?!!” Mingyu mengacak surai hitamnya frustasi. Kemudian ia mulai berdiri dari duduknya dan melepaskan jas putih yang melekat di tubuhnya. Berjalan ke arah kamar mandi yang berada di sudut ruangan itu. Mingyu harus membersihkan pikirannya. Karena sekarang ia terngiang-ngiang dengan wajah Wonwoo yang baru saja pergi dari ruangannya.

.
oOo
.

Wonwoo berjalan lesu ke arah lift yang berada di depannya. Kali ini ia masuk kerja 20 menit lebih awal dari biasanya. Wonwoo adalah seorang editor novel di Pledis Publishing. Tangannya terulur menekan tombol lantai 15. Kemudian menunggu lift itu naik ke atas. Hanya butuh beberapa menit akhirnya Wonwoo sampai di koridor bagian editing. Ia berjalan menuju pintu ke tiga yang ada di samping kanannya. Kemudian membuka kenop pintu itu. Dapat Wonwoo lihat, Junghan sudah berada di mejanya sambil menyesap sebuah teh hijau favoritnya.

“Pagi Woonie..” Junghan tersenyum ke arahnya sambil melambaikan sebelah tangannya ke arah Wonwoo.

“Pagi Hyung..” Wonwoo tersenyum ke arah Junghan kemudian berjalan perlahan mejanya yang berada di samping Junghan. Menyimpan backpack berwarna hitam di bawah meja dan duduk di kursi hitamnya sambil memutar kursi itu ke arah namja berparas cantik yang selalu di sangka yeoja seperti biasa.

“Wae?” Junghan mengernyitkan sebelah alisnya. Menatap Wonwoo penuh tanya.

“Aku bertemu Mingyu kemarin.” Wonwoo menghela nafasnya perlahan. Kemudian semakin mendekatkan kursinya ke arah Junghan.

“Dia sangat tampan, Hyung. Aku berdebar karenanya.” Wonwoo dapat melihat Junghan tersenyum senang karena mendengar kabar yang baru ia sampaikan.

“Haha. Bukankah aku sudah mengatakannya? He’s so handsome as hell! Sejak aku bertemu dengan Mingyu saja aku ingin menjadikannya pacarku. Tapi sayangnya dia memang homo phobic akut. Sangat tidak mungkin menjadikannya kekasih.” Junghan mengerucutkan bibirnya terlihat kesal. Wonwoo sudah tahu jika Junghan memang seorang Gay sejak SMA sama dengannya yang merupakan adik kelas Junghan sejak dulu.

“Aku tidak yakin akan sembuh jika berobat padanya, Hyung.” Wonwoo mengacak surai kecoklatannya frustasi. Ia memang tidak yakin jika harus bertemu lagi dengan Mingyu nanti sore. Wonwoo takut jika ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Mingyu.

“Aku ingin menjadi straight, Hyung.”

“Dan kau terpesona pada Mingyu? Aku sudah memprediksikan hal itu, Woonie.”

“Aku menyukainya. Mungkin.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Enggan menatap Junghan yang masih tersenyum penuh menggoda ke arahnya.

“Kalau begitu, jadikan saja dia Gay sepertimu.” Junghan terkikik pelan saat melihat Wonwoo membulatkan matanya tak percaya.

“Itu tidak mungkin! Aku ingin menjadi straight dan menikah seperti yang eommaku inginkan, Hyung.”

Junghan menghela nafasnya pelan. Kemudian menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal. Memang sulit menjadi Wonwoo. Kedua orang tuanya menentang keras hubungan sesama jenis yang pernah Wonwoo jalani dengan mantannya – Aron.

“Kalau begitu kau berobat saja padanya. Mingyu adalah dokter yang profesional. Dia pasti akan menyembuhkanmu.” Junghan tersenyum ke arah Wonwoo sambil mengacak rambutnya. Membuat Wonwoo menggerutu karena ulah Hyungnya. Mungkin apa yang di katakan Junghan memang benar. Wonwoo harus mencoba berobat pada Mingyu. Wonwoo akan kembali menemui Mingyu nanti sore, setelah pekerjaannya selesai.

To Be Continued^^

Mind To Review ?^^

astia morichan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s