I Want To Be A Straight, But.. Chapther 2 | Meanie Couple FF| Mingyu X Wonwoo

0

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, alur cepet, etc.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

 

Cast: Kim KyuHyun X Lee Sungmin [Super Junior]

Hwang Minhyun X Hwang Minki aka Ren [Nuest]

Hwang Junghan X …….

 

a/n: Keinspirasi saat inget kousurun boukun, sekaiichi hatsukoi, dan Ten Count. Wkwkw mungkin bakal ada beberapa bagian dari manga itu yang masuk dalam cerita ini. well, ini FF Meanie Couple pertama aku. Kemarin abis liat seventeen tv yang dulu liat banyak moment Meanie. Jadi terciptalah imajinasi bejat nan nista ini. wkwkwk

kenapa saya ambil Mingyu itu psikolog? Soalnya Psikolog juga bisa buat ngobatin konsultasi kayak gay dan semacamnya. Kalau pakai psikiater berarti saya ngebuat Wonwoo bakal di hakimi sama Mingyu. FYI Psikolog sama Psikiater itu beda yah. Kalau psikiater itu lebih kasar lah. Kalau mau sembuhin gay itu ga bisa di psikiater nanti di judge. Ke psikolog lebih baik. Soalnya psikolog juga bisa di sebut dokter kalau udah S2 dan buka prakter sendiri. Temen saya juga di jurusan psikolog makanya saya jelasin ini. soalnya pasti pada nyuruh psikiater aja. Padahal psikolog juga dokter. Kan gay itu bukan penyakit jiwa. Tbh FF ini sebenernya juga keinspirasi saat nonton indonesian lawyer club tentang klub pelangi , kaum straight, dan juga psikolog dan psikiater. Di sana jelas perbedaan yang beda. Kurose sensei juga psikolog kan yah. Wkwk

EnJOY!!

.

oOo

.

Jeon Wonwoo melangkahkan kakinya perlahan. Melewati beberapa koridor yang akan mengantarnya pada ruangan Mingyu- Psikolog yang akan mengobatinya. Wonwoo sudah berjanji pada Mingyu akan datang berkosultasi sore ini. Jujur saja, Wonwoo benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Mingyu. Baru pertama kali Wonwoo benar-benar merasakan ketertarikan seperti ini pada seorang pria. Sejak dulu, Wonwoo bukanlah tipe orang yang akan mengejar seseorang.Tapi ini adalah pengecualian. Wonwoo memang tertarik pada Mingyu. Semua yang ada pada diri Mingyu sangat sempurna, dan Wonwoo menyukainya. Mungkin memang benar Wonwoo ingin sembuh dari orientas sexualnya yang menyimpang. Tapi tidak ada salahnya bukan menikmati saat-saat ia tidak akan menjadi gay lagi dengan mencoba berdekatan dengan Mingyu? Mungkin saja Mingyu memang akan membukakan pikirannya tentang buruknya menjadi homosexual.

Pintu kayu jati berwarna coklat mulai Wonwoo ketuk dengan perlahan. Beberapa kali. Sampai terdengar suara bariton di dalam ruangan itu.

 

“Masuklah.” Suara bariton yang terdengar maskulin itu terdengar bagai angin semilir musim semi di telinga Wonwoo. Wonwoo dapat merasakan jantung berdetak cepat hanya karena suara itu. Sungguh. Wonwoo sangat kesal kenapa jantungnya bisa berdetak kencang seperti ini!! Seperti bukan dirinya saja.

 

“Permisi.” Wonwoo membuka pintu coklat itu perlahan. Retinanya bisa menangkap sosok Mingyu yang duduk di depan mejanya sambil menatap ke arah Wonwoo dengan senyum menawan yang Mingyu perlihatkan saat pertama kali mereka bertemu. Ah. Senyum Mingyu memang selalu membuat Wonwoo hilang akal.

 

“Silahkan duduk, Hyung.” Wonwoo mengangguk perlahan. Kemudian menarik kursi hitam di depannya, dan duduk dengan gaya kasual seperti biasa. Wonwoo mencoba menghilangkan segala kegugupannya dengan menggenggam erat celana denim hitam yang ia kenakan. Sampai sekarang, jantungnya masih belum bisa di ajak kerja sama. Wonwoo benar-benar takut jika Mingyu dapat mendengar debaran jantungnya yang menggila.

 

“Well, kita mulai saja Hyung.” Suara Mingyu memecah keheningan. Pria bersurai hitam itu tersenyum simpul ke arah Wonwoo. Kemudian ia memulai mengambil sebuah pulpen hitam, dan memaninkan pulpen itu di jari-jarinya yang panjang. Membuat Wonwoo menelan salivanya dalam saat memperhatikan jemari panjang Mingyu yang menari di depan. Ah, Bagaimana jika jemari panjang itu menyentuh tubuh telanjang? Bagaimana jika jari Mingyu memainkan genitalnya yang menegang akibat sentuhan dari dokter itu? Sial! Memikirkannya saja malah membuat tubuh Wonwoo memanas dengan cepat. Mungkin setelah pulang, Wonwoo akan melakukan onani dengan Mingyu sebagai objek fantasinya.

 

“Apa kau berkenan jika menceritakan semua hal tentang dirimu, Hyung?” Pertanyaan yang di lontarkan Mingyu membuat Wonwoo mengernyitkan alisnya perlahan. Sebelum menggelengkan kepalanya pelan. Jujur saja, pikiran Wonwoo sedang tidak fokus. Ia masih terperangkap dalam khayalannya tentang Mingyu.

 

“Apa yang ingin kau tanyakan? Tanyakan saja, Mingyu-ah. Kau dokternya, dan aku adalah pasien yang ingin sembuh sekarang.” Wonwoo bisa melihat sudut garis bibir Mingyu membentuk sebuah senyuman. Sebelum terdengar suara kekehan pelan, yang membuat Wonwoo kembali terpaku menikmati pemandangan indah di depannya. Kim Mingyu sedang tertawa lepas sambil menatap ke arahnya. Demi Tuhan! Mingyu sangat menggoda!

 

“Ehm.. Baiklah, Hyung.” Mingyu berdehem sebentar, sebelum kembali menetralkan suaranya.

 

“Jadi bagaimana kau bisa menjadi gay seperti sekarang? Apa sudah lama?” Kening Wonwoo mengernyit perlahan. Sebelum Wonwoo memejamkan kedua matanya, dan mulai berpikir bagaimana ia bisa menjadi seorang gay. Seingat Wonwoo, sejak ia masih berada di elementary, ia sudah menyukai seorang pria yang selalu menemaninya. Tapi Wonwoo sama sekali tidak membawa rumit hal seperti itu. Yang jelas, Wonwoo sama sekali tidak tertarik dengan seorang wanita sejak dulu.

 

“Mungkin sejak aku di sekolah menengah.” Wonwoo menggaruk sebelah pipinya. Suaranya terdengar tidak yakin. Membuat Mingyu mengernyitkan alisnya heran, dan hal itu malah membuat Wonwoo semakin terpaku melihat ketampanan dokter di depannya. Astaga! Kenapa Tuhan tega sekali padanya memberikan seorang dokter tampan untuk menyembuhkan dirinya? Padahal niat Wonwoo sudah baik ingin kembali menjadi Straight. Tapi sepertinya Tuhan masih ingin mempersulit keadaanya sekarang.

 

“Mungkin?”

 

“Ya. Sejak di sekolah menengah, aku mulai berpacaran dengan kakak kelasku. Tapi sepertinya, aku menjadi gay sejak kecil. Karena sejak dulu, aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita.” Wonwoo bisa melihat Mingyu mengangguk pelan, sebelum ia mulai menggerakan jarinya untuk menulis pada sebuah kertas yang sudah ia siapkan.

 

“Apa yang kau lihat dari seorang pria? Maaf sebelumnya, Hyung. Bukankah kau tahu jika ia sama denganmu?” Wonwoo mengangguk pelan. Ia mengerti apa yang ada di pikiran Mingyu sekarang.

 

“Aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak peduli, yang jelas aku tertarik pada seorang pria. Apa itu cukup untuk menjawab pertanyaanmu?” Mingyu terdiam sejenak, sebelum ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

 

“Maaf jika ini privasi, Hyung.” Wajah Mingyu terlihat memerah sebelum ia mulai menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.

 

“Apa kau pernah melakukan sex dengan pasangan priamu sebelumnya?” Pertanyaan yang di lontarkan Mingyu membuat Wonwoo membulatkan matanya, sebelum ia kembali membuat emosi di wajahnya tidak terlalu terlihat kaget. Jujur saja, ia benar-benar malu jika di tanya tentang hal itu. Sebenarnya, Wonwoo sama sekali belum melakukan hal yang lebih dari sebuah ciuman atau make out yang hanya sampai oral sex saja dengan para mantan pacarnya. Maka dari itu, Wonwoo selalu di putuskan oleh mantannya karena tidak ingin di ajak bercinta. Ah. Its so fucking disgusting. Wonwoo benar-benar benci jika harus mengingatnya sekarang.

 

“E-err.. Tidak. aku hanya melakukan kissing dan oral sex saja. Tidak ada yang lebih dari itu.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia malu jika harus menceritakan pengalaman sex-nya pada seorang yang baru ia kenal kemarin.

 

“Baiklah. Aku mengerti, Hyung.” Suara Mingyu yang terdengar menenangkan, membuat Wonwoo kembali mendongak ke arah dokter itu. Ia bisa melihat Wonwoo tersenyum ke arahnya. Sebelum dokter itu menyodorkan sebuah kertas putih yang sudah ia hiasi dengan tulisan tangannya ke arah Wonwoo.

Wonwoo dengan senang hati menerima kertas itu. Kemudian matanya mulai meneliti apa saja yang di tulis mingyu di dalam kertas itu. Terdapat beberapa bagian dari 1-10 yang dapat Wonwoo lihat.

  1. Mencoba berkencanlah dengan seorang wanita
  2. Banyak-banyak berinteraksi dengan seorang wanita yang menarik perhatianmu
  3. Jauhi berinteraksi dengan pria yang membuatmu tertarik
  4. Jangan terlalu dekat dengan temanmu yang mempunyai orientasi menyimpang
  5. Berpikir positif jika kau ingin kembali menjadi normal.

 

 

 

“Aku menyarakan sepuluh hal itu padamu, Hyung. Untuk membuatmu kembali menjadi pria normal lagi. Kelima hal lainnya bisa kau isi sendiri, atau kau bisa meminta saran lain padaku. Setiap hari kamis dan sabtu kau bisa datang padaku untuk konsultasi.” Wonwoo mengangguk tanda mengerti apa yang di ucapkan psikolog muda yang ada di hadapannya.

 

“Arraseo.” Wonwoo memasukan kertas yang di berikan Mingyu ke dalam backpack hitamnya.

 

“Ah.. ini kartu namaku. Di sana ada nomor handphoneku, Hyung. kau bisa menghubungiku jika membutuhkan bantuan.” Mingyu kembali menyodorkan sebuah kartu nama ke arah Wonwoo. Wonwoo pun menerimanya dengan senang hati. Karena sekarang, ia bisa mengubungi Mingyu lewat handphone. Lagi pula, Wonwoo bisa mencari alasan untuk menelfon Mingyu nantinya.

 

“Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu Mingyu-ya.” Wonwoo mulai berdiri dari duduknya. Kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Mingyu yang langsung berdiri dan menggenggam tangannya dengan erat. Wonwoo bisa merasakan getaran statis itu saat tangan besar Mingyu menggenggamnya. Ah, Wonwoo benar-benar menyukai sensasi ini. ia tidak ingin melepaskan tangan Mingyu sekarang.

 

“Terimakasih sudah berkunjung, Hyung. hati-hati di jalan. kau tahu? Jika malam hari selalu banyak orang jahat berkeliaran.” Mingyu melepaskan tangannya pada Wonwoo, dengan senyum yang masih bertengger di wajahnya. Sial! Jika Mingyu seperti ini, Wonwoo benar-benar tidak ingin melepaskannya.

 

“Aku tahu.” Wonwoo menyunggingkan senyum simetrisnya pada Wonwoo. Membuat dokter muda itu terpaku beberapa saat, sebelum kembali membalas senyuman dari Wonwoo.

 

“Sampai jumpa lusa, Mingyu-ya.” Wonwoo mulai berdiri dari duduknya. Merapikan kemejanya yang terlihat kusut, sebelum kembali membawa backpack hitamnya. Wonwoo bisa melihat Mingyu masih memperhatikan dirinya dengan tatapan intens yang tidak dapat Wonwoo mengerti. Ah, tatapan Mingyu seakan menelanjanginya di tempat. Wonwoo tidak akan tahan jika di tatap terus seperti itu. Sepertinya pulang adalah jalan yang paling baik sekarang. Wonwoo juga akan menginap di rumah Junghan, dan bercerita tentang hal ini.

 

“Aku akan menghubungimu jika akan melakukan konsultasi lusa nanti. Kau tahu? Sebenarnya aku sedang di kejar deadline oleh managerku yang menyebalkan itu.” Wonwoo mendecih pelan, sebelum kembali tersenyum ke arah Mingyu dan mulai berbalik ke arah pintu yang akan mengantarnya keluar dari ruangan ini.

 

“Sampai jumpa.” Wonwoo membuka kenop pintu itu, dan berjalan keluar tanpa melihat ke arah Mingyu yang masih menatap punggungnya menjauh.

.

oOo

.

 

Wonwoo menyunggingkan sebuah senyuman di wajah tampannya, saat retinanya menangkap sosok Junghan yang membuka pintu rumahnya. Ia bisa melihat Junghan melontarkan tatapan menggoda yang Wonwoo balas dengan sebuah delikan. Membuat pria bersurai coklat itu mengerucutkan bibirnya.

“Well, masuklah. And then, you must tell me everything.” Junghan terkekeh pelan. Sebelum mempersilahkan Wonwoo masuk ke dalam rumah sederhana miliknya. Sebenarnya, rumah Junghan cukup mewah. Rumah Junghan terkesan klasik, karena banyak sekali lukisan yang tertempel di dinding rumah megah itu. Beberapa pilar besar juga semakin memperkokoh keindahan dari rumah Junghan. Hwang Minhyun- Ayah Junghan memang terkenal dengan bisnisnya yang sukses di Asia.

 

“Siapa itu, Hannie?” Suara merdu yang sangat Wonwoo kenali terdengar memenuhi ruang tengah. Sebelum Wonwoo dapat melihat sosok Hwang Minki yang sekarang mengenakan kemeja putih setulut. Memperlihatkan paha mulus pria itu. Pria bersurai pirang itu mempunyai tubuh dan wajah layaknya seorang wanita. Sama seperti Junghan. Mereka terlihat seperti anak kembar. Bukan seperti Ibu dan anak. Ah, Wonwoo lupa jika Minki atau yang biasa Wonwoo sebut Ren adalah seorang pria. Istri dari Hwang Minhyun, yang kemudian melahirkan seorang Hwang junghan sekarang. Pasangan gay yang bisa melahirkan seorang anak. Wonwoo benar-benar terkesan dengan kerja keras dari Minhyun dan Ren saat berjuang untuk membuat Junghan tumbuh di dalam perut pria berwajah cantik itu.

 

“Wonwoo-ah.. Ternyata itu kau. Ah, aku sangat merindukanmu, Wonnie.” Ren berlari ke arah Wonwoo, dan memeluk tubuh Wonwoo dengan erat. Ren selalu seperti ini. Berkepribadian hangat, yang membuat Wonwoo merasa sangat nyaman. Berbeda sekali dengan sifat ibunya yang berwatak keras. Wonwoo benar-benar bersyukur jika Ibunya masih tinggal di Busan, dan mengizinkan Wonwoo untuk tinggal di Seoul sendiri.

 

“Aku juga, Eomma.” Wonwoo membalas pelukan dari Ren sama eratnya. Ia sangat merindukan sosok hangat Ren yang sudah ia anggap sebagai pengganti ibunya sejak dulu. Jujur saja, sebenarnya Wonwoo sangat ingin jika Ren lah yang menjadi ibunya.

 

“Apa kau ingin makan dulu? Aku sudah memasak banyak hari ini. Tapi ini belum jam tujuh. Minhyunie belum pulang dari kantor.” Ren mengerucutkan bibirnya. Pria itu terlihat sangat kesal sekarang. “Padahal aku sudah memakai kemeja putih miliknya, untuk menggodanya malam ini.”

 

“Ck, Eomma.. It’s so disgusting. Dont tell me about your sex scene.” Junghan memutar bola matanya. Kemudian mulai menarik tangan Wonwoo menjauh dari Ren yang kembali mengerucutkan bibirnya kesal.

 

“Hannie.. Aku tidak akan memberikan uang tambahan jika kau seperti itu!”

 

I have a job, Eomma. I have a money, now.” Wonwoo terkekeh saat melihat perdebatan ibu dan anak yang ada di depannya. Ah. Wonwoo benar-benar iri sekarang.

 

“Kau tidak akan mendapatkan makan malam hari ini!” Ren menghentakan kakinya kesal, sebelum berbalik menjauh, dan kembali ke arah dapur untuk menata kembali masakan yang sudah ia siapkan.

 

“Ibumu tidak pernah berubah.” Wonwoo kembali berucap saat ia dan Junghan sudah sampai di lantai dua, dan masuk ke dalam kamar Junghan yang bercat hijau muda. Ada ranjang king size, mini theater dan juga meja kerja yang di isi dengan beberapa naskah script yang Wonwoo yakin sudah pria bersurai coklat itu kerjakan beberapa jam lalu.

 

“Yup. He’s still act like butchy for ma father.” Wonwoo kembali terkekeh saat mendengar jawaban dari Junghan. Wonwoo memang tahu, jika Ren selalu menggoda di hadapan Minhyun. Pernah suatu hari saaat Wonwoo datang berkunjung, ia melihat Ren dan Minhyun sedang bercinta di atas sofa ruang tengah saat sore hari. Untung saja keluarga Hwang tidak mempunyai maid. Jika ada, Wonwoo yakin para maid itu akan terkena serangan jantung mendadak saat mendapati majikannya sex di sembarang tempat. Dan mungkin itu juga adalah alasan mengapa keluarga Hwang sama sekali tidak mempunya maid di rumah megah mereka. Karena Minhyun dan Ren hobby bercinta di setiap sudut bagian rumah mereka.

 

“Yeah. Your mother is same like you, Hyung.” Wonwoo tertawa lepas. Membuat Junghan mendelik, sambil melemparkan sebuah bantal ke arah Wonwoo. Dan itu berhasil membuat Wonwoo berdecak kesal saat bantal itu mengenai perutnya. Kemudian Wonwoo mulai berbaring terlentang di ranjang bersprei biru. Di ikuti dengan Junghan yang sekarang duduk bersila di sampingnya.

 

So, Tell me about, Mingyu.Now.” Wonwoo menghela nafas pelan. Sebelum mengangguk perlahan, dan mulai menceritakan kejadian saat ia dan Mingyu bertemu. Wonwoo bercerita dengan sangat detail. Membuat Junghan mengangguk mengerti saat Wonwoo mengakhiri ceritanya dengan senyum yang bertengger di wajah minim ekspresinya itu.

 

“Kau jatuh cinta padanya, Wonnie. I can feel it. Kau tidak pernah sehidup ini saat menceritakan seseorang. Bahkan saat kau menceritakan tentang Aron, kau tidak pernah tersenyum bahagia seperti itu. You really fall in love with him, Wonnie!” Junghan berdecak kagum, sambil bertepuk tangan bahagia. Karena baru kali ini Junghan melihat ekspresi berbeda dari wajah Wonwoo yang terkesan dingin itu.

 

“Mungkin. Tapi aku ingin sembuh, Hyung. Bisakah itu terjadi?” Wonwoo mengerjapkan matanya perlahan. Sebelum ia mendengar tawa menggelegar dari Junghan yang membuat Wonwoo naik darah.

 

“Its never gonna be happend, Wonnie. You are Gay, and its absolut. Haha.”

 

.

oOo

.

 

Kim Mingyu memarkirkan mobil luxury berwarna hitam miliknya, saat ia sudah sampai di sebuah rumah bergaya eropa. Jujur saja, Mingyu tidak menyukai rumahnya. Ada banyak alasan kenapa Mingyu sangat tidak menyukai rumah megah bak istana miliknya. Sejak pria laknat itu datang ke dalam rumahnya, Mingyu sudah menganggap rumah itu bagaikan neraka. Jika bisa memilih, Mingyu ingin sekali tinggal di sebuah apartemen kecil dari pada tinggal di rumah itu. Tapi sayangnya, ayahnya sama sekali tidak mengizinkan keinginannya berjalan dengan lancar. Mingyu harus berada di sana bersama ayah dan juga pria sialan yang mengganggu kehidupan keluarga harmonisnya. Pria sialan yang menggoda ayahnya jugalah yang menyebabkan ibunya meninggal. Sungguh, Mingyu sangat membenci pria bernama Lee Sungmin itu!

 

“Aku pulang.” Mingyu berucap pelan saat ia membuka pintu setinggi tiga meter di depannya. Memperlihatkan ruang tengah keluarga dengan beberapa sofa beludru berwarna coklat di sana. Ada juga sebuah mini theater di sana.

Manik obsidian Mingyu bisa melihat dua sosok pria yang sedang duduk berduaan. Si surai pirang kini menoleh ke arahnya dengan senyum yang bertengger di wajah pria itu. Ayahnya juga kini menoleh ke arah Mingyu.

 

“Mingyu-ya, kau sudah pulang? Tumben sekali kau pulang cepat.” Pria bersurai pirang- Lee Sungmin tersenyum ke arah Mingyu. Senyum yang sangat Mingyu benci jika pria itu sedang mencari muka di depan ayahnya. Mingyu selalu berpikir kenapa ayahnya bisa menyukai Sungmin? Sungmin itu laki-laki. Ayahnya juga laki-laki. Kenapa ayahnya bisa mempunyai orientasi yang menyimpang seperti itu? Ini adalah salah satu alasan kenapa Mingyu sangat membenci para gay. Gay seperti Sungmin lah yang menggoda ayahnya- Kyuhyun, sehingga keluarganya hancur berantakan.

 

“Cih.” Mingyu mendecih tak suka ke arah Sungmin. Mingyu tidak peduli dengan raut wajah Kyuhyun yang sekarang terlihat marah. Rahang pria paruh baya itu mengeras, sambil mengeluarkan geraman tak suka akan sikap Mingyu. Ia yakin jika sebentar lagi Kyuhyun akan berteriak dan memarahi dirinya karena ini.

 

“Bisakah kau bersikap sopan pada, Sungmin?” Suara bariton Kyuhyun terdengar menakutkan memenuhi ruangan itu. Mingyu juga menghentikan langkahnya saat ia akan menaiki tangga berbentuk spiral yang akan terhubung dengan kamarnya.

 

“Dan bisakah kau mengusir gay itu? Kornea mataku bisa rusak jika melihatnya, Appa.” Mingyu mendelik ke arah Kyuhyun. Manik obisidan miliknya membalas tatapan tajam dari Kyuhyun. Mingyu bisa melihat Ayahnya menggeram dan mulai bergerak ke arahnya. Tapi sayangnya, tangan Sungmin menahannya. Agar Kyuhyun tetap di tempatnya.

 

“Sudahlah, Kyu, Nan Gwaenchana.” Sungmin tersenyum perlahan, sambil mengusap pelan lengan pria itu. Membuat Kyuhyun menghela nafas lelah, saat manik obsidiannya melihat ke arah Mingyu yang sudah menghilang masuk ke dalam kamarnya. Jujur saja, Kyuhyun tahu kenapa Mingyu bisa seperti itu. Bukankah tidak masuk akal saat dirinya mengatakan jika Sungmin adalah ibu kandung yang melahirkan Mingyu ke dunia. Kyuhyun sangat mengenal anaknya itu. Mingyu selalu berpikir logis dan rasional. Ia tidak mungkin bisa mempercayai apa yang sudah ia jelaskan padanya.

 

“Maafkan aku, Ming.” Kyuhyun mengusap lembut pipi Sungmin. Membuat pria bersurai pirang itu terkekeh perlahan.

 

“Aku tidak apa-apa, Kyu. Bukankah Mingyu memang duplikat darimu yang sangat keras kepala? Aku mengerti kenapa ia bisa seperti itu.” Sungmin kembali tersenyum. Tangannya bergerak menarik tangan Kyuhyun dan mulai menggenggamnya dengan erat. Membuat Kyuhyun mengerti, jika pria yang di cintainya ini sangat membutuhkan pegangan. Kyuhyun mengerti perasaan Sungmin. Kyuhyun tahu tatapan sendu yang selalu Sungmin berikan pada Mingyu. Sungmin sangat ingin jika Mingyu mengakuinya.

 

“Terimakasih, Ming.” Dan setelahnya, Kyuhyun membawa Sungmin ke dalam dekapan hangatnya. Membiarkan Sungmin menangis dalam diam di pelukannya.

 

TeBeCe.

Selamat tinggal untuk chapther ini. dan sampai jumpa di chapther berikutnya. Wkwk sibuk saya. So, ga bisa update cepet. Banyak hutang ff, dan ff ini yang beres duluan. Jadi yah saya upload. Haha.

Jangan lupa review. And then saya juga bakal bales review kalian disini aja yah. Tapi kalau mau jelas, bisa kok lewat pm. Nyantai ae sama saya mah.

 

 

 

OH IYA SEVENTEEN COMEBACK WOY! MAJOR TRALALA ITU MEANIE COUPLE. HAWT! MOMENTNYA HAWT!!

 

See ya ^^

Mind To Review?

Astia Morichan