Prince Of The Dark | AkaKuro FF| LovelyPhantom

0

Akashi Seijuurou menatap tajam sosok pria paruh baya bersurai crimson yang mirip dengannya . Pria itu duduk dengan gagah di kursi kebanggaan miliknya yang berada di depan altar dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi di sampingnya. Tidak lupa dengan baju zirah yang melekat di tubuh pria berwibawa- Akashi Masaomi- Ayah Seijuurou yang merupakan penguasa Dunia Bawah. Masaomi lebih di kenal sebagai Dewa Hades(1) bagi para manusia. Sedangkan Seijuurou adalah anak semata wayangnya dari Persephone (2).

 

“Aku bosan di sini Ayah.” Ucap Seijuurou. Manik heterecomenya masih menatap Masaomi dengan tajam. Seakan menyuruh agar Ayahnya itu mengerti keinginan yang sudah lama Seijuurou pendam. Jujur saja, Seijuurou bosan tinggal di Dunia bawah, atau paling tepatnya neraka. Seijuurou juga sudah lelah jika setiap hari harus melihat sungai phlegethon(3), acheron(4), lethe(5), padang asphodel(6) dan juga padang hukuman(7) — dimana roh-roh orang jahat berteriak kesakitan, dan meminta tolong pada Seijuurou untuk di bebaskan dari rasa sakit.

 

“Apa yang ingin anda lakukan, Seijuurou-sama?” Nijimura- sang Thanatos(8) yang merupakan abdi dari sang ayah bertanya. Seijuurou mendelik- menatap tak suka ke arah Nijimura yang selalu menggangu rencana miliknya.Nijimura memang selalu curiga pada Seijuurou. Padahal Nijimura hanya abdi dari sang ayah yang sama sekali tidak berpengaruh bagi Kerajaan di Dunia Bawah ini.

 

“Bukan urusanmu.” Seijuurou melirik sekilas ke arah Nijimura. Kemudian ia kembali menatap sang ayah yang masih terdiam. Tidak mengubris keinginan Seijuurou sama sekali.

 

“Aku akan pergi ke dunia manusia. Bersama para roh orang mati bisa membuatku gila.” Dan tanpa meminta persetujuan siapapun, Seijuurou melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang singgsana ayahnya. Seijuurou hanya ingin segera pergi ke pintu ajal(9)– yang menghubungkan dunia fana dengan dunia bawah. Seijuurou memang sudah merencanakan hal ini sejak dulu. Ia ingin menghirup udara bebas, dan tinggal di dunia fana. Meninggalkan dunia bawah yang kelam dimana hanya di tinggali oleh dirinya, ayah, ibu dan juga beberapa abdi dari sang ayah. Seijuurou juga akan meninggalkan semua roh orang mati yang di ada di padang hukuman agar berhenti mengikutinya. Mungkin jika di dunia fana, Seijuurou tidak akan bertemu lagi dengan kerangka orang mati, dan para roh yang masih mempunyai urusan manusiawi. Walaupun Seijuurou masih mempunyai kekuatan untuk memanggil pasukan zombie dengan kerangkanya saja untuk melindungi Seijuurou jika terdesak bahaya. Seperti di incar oleh Zeus, dan juga beberapa makluk ghaib yang mengincar nyawa pangeran kegelapan untuk menguasai dunia fana.

 

Prince Of The Dark

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

 

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Seijuurou sang Pangeran Kegelapan—Putra Hades memutuskan untuk pergi ke dunia fana. Di sana, ia bertemu dengan Kuroko Tetsuya- manusia dengan paras cantik yang mempunyai aura angelik dalam dirinya. Tetsuya bahkan tidak tahu siapa dirinya jika ia tidak di pertemukan dengan Seijuurou. Apalagi ketika pasukan bersayap menyerang Tetsuya, dan Seijuurou yang menolongnya setiap saat.

 

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

 

a/n: Ini FF kembali saya dedikasikan untuk event #LovelyPhantom dan merayakan ratu harem kita Kuroko Tetsuya yang semakin manis minta di makan/? Eh. FF ini kembali di angkat dan terinspirasi oleh beberapa mitologi yang di gabung bersama imajinasi mesum dan nista saya. Kalau kalian tidak suka dengan apa yang saya tulis silahkan menyingkir dan tekan tombol back. Saya tidak bertanggung jawab jika mata kalian iritasi ketika baca tulisan saya.

 

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu.

 

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari Fanfict ini. ini hanya untuk merayakan kecantikan dan fabolousnya Cuya di mata Juyo :*

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

Kuroko Tetsuya berjalan gontai menuju lift yang akan mengantar tubuh letihnya ke sebuah kamar apartemen usang yang berada di lantai tujuh gedung bertingkat ini. Tetsuya merasa tubuhnya remuk sekarang, karena seharian ini ia harus bekerja part time di dua tempat. Ketika pagi menjelang, Tetsuya juga harus kembali belajar di kampusnya. Tetsuya sudah semester empat sekarang. Ia harus rajin belajar, dan juga mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Karena Tetsuya tidak ingin merepotkan bibi-nya yang ada di Hokaido. Tetsuya sudah kehilangan orangtuanya sejak berumur dua tahun. Tetsuya bahkan tidak ingat sama sekali wajah sang ibu yang melahirkannya. Tetsuya hanya tahu wajah ibunya di foto. Begitupun dengan sang ayah yang tidak pernah Tetsuya kenali. Terkadang Tetsuya merasa hidupnya tidak adil. Tapi Tetsuya memang harus merasa bersyukur pada Tuhan karena membiarkan Tetsuya hidup sampai detik ini. Tetsuya masih mempunyai banyak impian, dan Tetsuya berharap impiannya terkabul satu persatu dari usaha yang selama ini ia lakukan.

 

“Hah..” Tetsuya menghela napasnya pelan saat ia sudah sampai berada di depan pintu apartemen kecil miliknya. Tangan Tetsuya bergerak untuk memasukkan kunci dan mulai membukanya. Kemudian tangannya beralih meraih kenop pintu, lalu membukanya perlahan. Bunyi pintu berderit terdengar. Menandakan bahwa pintu itu terbuka secara perlahan. Karena Tetsuya tidak ingin mengganggu tetangganya yang pasti sudah tertidur lelap sekarang.

 

Tetsuya mulai melangkah masuk ke dalam. Baru saja satu langkah Tetsuya masuk, ekor matanya menangkap sosok pemuda bersurai crimson yang sekarang berdiri sepuluh meter dari tempatnya. Ketika Tetsuya mulai berbalik, ternyata pemuda itu sedang berdiri di ujung lorong—di samping lift dan menatap pemandangan kota lewat jendela besar di sana. Tetsuya tidak mengenal sosok itu. Baru kali ini Tetsuya melihatnya.

Mungkinkah tetangga barunya? Tapi setahu Tetsuya, semua kamar yang ada di lantai tujuh itu sudah penuh. Jadi tidak mungkin ada penghuni baru di sini. Kecuali tamu, tentu saja. Ah. Memikirkannya malah membuat Tetsuya pusing. Lebih baik ia segera masuk ke dalam, dan mengabaikan pemuda itu. Lagi pula, Tetsuya memang tidak mengenalnya. Jadi bukan masalah bagi Tetsuya jika ia bersikap tidak peduli seperti sekarang. Tetsuya hanya tidak ingin berpikiran buruk tentang lelaki itu.

 

Tetsuya menganggukkan kepalanya pelan. Meyakinkan dirinya, jika pemuda itu bukanlah orang jahat. Kemudian Tetsuya kembali berbalik, dan mulai masuk ke dalam apartemen mungilnya. Apartemen Tetsuya memang sangat sederhana. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan juga dapur yang menyatu bersama ruang tengah. Bagi Tetsuya apartemen ini sudah cukup. Lagi pula harga sewanya sangat murah, jadi Tetsuya merasa sangat betah tinggal di sini.

 

“A-ah.. Sebaiknya aku tidur.” Tetsuya mulai melepaskan backpack kecil miliknya, dan menyimpannya di sofa. Kemudian ia berjalan ke arah kamar, dan berganti pakaian dengan piyama berwarna biru. Tetsuya tidak ingin mandi, ia hanya menyikat gigi dan membasuh wajahnya saja. Cuaca malam ini sangat dingin, Tetsuya tidak ingin mati kedinginan karena berendam. Jadi Tetsuya memutuskan untuk segera tidur, dan menjelajahi mimpinya. Walaupun Tetsuya sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Mimpi dimana dirinya mempunyai sayap, dan di kejar oleh beberapa pasukan bersayap yang mengincar nyawanya.

.

oOo

.

 

Tetsuya berlari kecil menuju cafe yang berada di perempatan jalan Shibuya. Tetsuya mendapat shift sore hari ini, dan ia malah terlambat datang ke tempat kerjanya karena harus membantu Kiyoshi Sensei- Dosen menyebalkan yang selalu menyuruh Tetsuya ini dan itu. Walaupun Tetsuya juga tidak keberatan, karena Kiyoshi Sensei adalah orang yang baik pada Tetsuya

 

“Hah.. Hah..” Napas Tetsuya tersenggal saat ia sampai di depan pintu cafe. Di sana sudah ada Kise Ryouta yang sudah memakai kemeja putih dan juga celana hitam panjang, sambil membawa sebuah nampan berisi jus pesanan pelanggan—menatap Tetsuya dengan padangan heran. Seolah berkata ‘Kenapa kau terlambat-ssu?’

 

“Maaf atas keterlambatanku.” Tetsuya membungkukkan tubuhnya ke arah Hyuuga Junpei- pemilik cafe yang menjadi bos Tetsuya. Pria berkacamata itu mulai mendekat ke arah Tetsuya. Wajah stoic milik Hyuuga memang tidak pernah bisa terbaca oleh pikiran Tetsuya.

 

“Kenapa kau terlambat Kuroko? Kau tahu kan jika cafe selalu di padati pelanggan ?” Tetsuya menunduk. Enggan menatap bosnya yang sekarang mengurut pelipisnya. “Sudahlah. Cepat ganti pakaianmu. Banyak pekerjaan yang menunggumu, Kuroko.” Kemudian Hyuuga berbalik. Meninggalkan Tetsuya yang sekarang bisa menghela napas lega. Jujur saja, Tetsuya sudah sering datang terlambat ke cafe. Maka dari itu ia selalu di omeli oleh Hyuuga akibat keterlambatan yang sama sekali tidak Tetsuya recanakan.

 

“Maafkan aku, Senpai.” Ucap Tetsuya penuh penyesalan saat Hyuuga sudah menjauh dari pandangannya. Kemudian Tetsuya segera pergi ke belakang dapur. Ada ruang ganti di sana, dan Tetsuya harus segera berganti baju. Hanya butuh beberapa menit bagi Tetsuya untuk mengganti kaos berwarna birunya, dengan kemeja berwarna putih yang Tetsuya gulung seperempat lengannya. Celana jeans levis di ganti oleh celana denim berwarna hitam yang terlihat pas di kaki Tetsuya. Tidak lupa dengan celemek berwarna hitam senada dengan celananya melingkar di pinggang Tetsuya. Setelah merasa cukup rapi, Tetsuya segera meninggalkan ruang ganti, dan pergi menuju dapur. Di dapur, semua orang terlihat sangat sibuk mengantarkan pesanan. Furihata- yang merupakan koki kedua pun nampak sangat sibuk karena sepertinya Riko-san- istri dari Hyuuga tidak ada di dapur. Jadi Furihata yang harus mengcover semua pesanan pelanggan.

 

“Kuroko, kau melayani pelanggan saja dan mengantarkan pesanan. Masih banyak yang belum di layani di luar cafe.” Hyuuga yang kini sibuk menyiapkan berbagai minuman, berteriak ke arah Tetsuya.

 

“Baiklah.” Tanpa menunggu lebih lama, Tetsuya segera melesat pergi meninggalkan dapur. Ia mulai menghampiri beberapa pelanggan yang duduk di luar cafe. Tetsuya bisa melihat mereka menggerutu karena masih belum bisa memesan. Mereka adalah empat orang gadis berseragam SMA yang duduk di pojok- tepat di belakang taman. Mungkin mereka memilih latar paling bagus di cafe ini. Karena jika mereka duduk di sana, akan terbentang taman yang cukup besar. Dengan pepohonan yang menjulang tinggi di segala penjuru. Nuansa hijau yang sarat akan hutan akan terasa jika duduk di sana. Cafe ini memang terkenal karena mempunyai latar hutan yang menarik. Setahu Tetsuya, Hyuuga membangun cafe bertemakan hutan ini untuk Riko- istrinya- sebagai hadiah pernikahan mereka.

 

“Maaf. Apa ada yang ingin anda pesan?” Tetsuya memamerkan senyum menawan miliknya. Membuat empat orang gadisyang tadi sedang menggerutu terdiam saat melihat senyum Tetsuya. Mereka seolah terhipnotis oleh senyuman Tetsuya yang mempunyai magis tersendiri.

 

“I-iya. A-ano.. Siapa namamu?” Bukannya memesan, gadis bersurai pirang bertanya nama Tetsuya dengan pipinya yang merona, ketika Tetsuya menyodorkan menu makanan di atas meja.

 

“Kuroko Tetsuya.” Tetsuya tersenyum simpul ke arah gadis itu. Tetsuya bisa melihat wajah gadis itu memerah sempurna. Ah. Mungkin saja gadis itu sedang sakit. Tetsuya tidak ingin ambil pusing.

 

“Kau bisa memanggilku lagi jika sudah selesai memesan, Nona.” Tetsuya membungkuk perlahan, sebelum menjauh dari kerumunan para gadis yang masih terpesona akan wajah Tetsuya. Well. Jangan salahkan Tetsuya jika ia mempunyai senyum menawan yang mampu memikat semua orang. Ini adalah hal yang biasa jika ada para gadis, bahkan pria menanyakan perihal Tetsuya.

 

“Hey.. Tetsu!” Suara bass dengan nada berat yang sangat Tetsuya kenali itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Tetsuya bisa melihat sosok pemuda berkulit tan sedang melambaikan tangannya. Pemuda itu- Aomine Daiki- Sahabat sekaligus pacar dari Ryouta- sedang duduk di kursi luar baris pertama.

 

“Domo Aomine-kun.” Tetsuya berjalan mendekat ke arah Daiki yang sekarang tersenyum lebar ke arahnya.

 

“Oi.. Tetsu, apa kau melihat Ryouta? Aku sudah menunggunya di sini setengah jam. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya.” Daiki menghela napasnya lelah. Raut wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi muram saat mengingat Ryouta. Tetsuya yakin jika mereka sedang bertengkar. Ia juga sudah tidak melihat Ryouta melayani beberapa pelanggan. Biasanya Ryouta selalu ada di depan, dan suara tawanya yang khas selalu terdengar.

 

“Tadi aku melihatnya. Apa Aomine-kun bertengkar dengan Kise-kun?” Tetsuya mengedarkan pandangannya. Meneliti ke segala penjuru. Siapa tahu ia bisa melihat sosok Ryouta dan juga beberapa pelanggan yang harus Tetsuya tulis pesanannya.

 

“Aku bertengkar dengannya. Jika kau bertemu dengan Ryouta di dalam, bisakah kau memberitahunya aku ada di sini, Tetsu?” Daiki menatap Tetsuya penuh harap. Tetsuya hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

“Tentu saja, Aomine-kun. Apa kau ingin memesan juga?” Tetsuya bertanya, dan di hadiahi anggukan pelan dari Daiki.

 

Americano saja.” Tetsuya mengeluarkan sebuah memo kecil bersama pulpen yang ia simpan di saku celemek. Kemudian tangannya bergerak di atas kertas untuk menulis pesanan Daiki. Sebelum mulai mengangguk setelah selesai menulis pesanan Daiki.

 

“Baiklah. Tunggu sebentar, Aomine-kun.” Dan Tetsuya mulai berbalik menjauh dari Daiki. Ia berniat untuk segera kembali ke dalam cafe dan membawa pesanan Daiki. Tapi tatapan aquamarinenya terpaku pada dua sosok lelaki dengan jubah hitam yang berada di balik pohon sakura, menatap Tetsuya tajam. Dari jarak seperti ini, Tetsuya bisa melihat mata kedua sosok itu berwarna semerah darah. Tetsuya juga bisa melihat salah satu sosok lelaki itu menggerakan mulutnya dan Tetsuya seakan mengerti dengan apa yang di ucapkan mereka. Seolah berkata ‘Nephilim. Kita menemukannya.’

 

Tubuh Tetsuya menegang dengan cepat, manik aquamarinenya membulat sempurna saat melihat tonjolan daging berbentuk sayap keluar dari punggung kedua orang itu. Sayapnya berwarna hitam pekat membentang lebar. Tetsuya bahkan bisa merasakan angin kecil menerpa wajahnya saat kedua sosok itu memukul udara dengan sayap mereka. Sebelum akhirnya mereka terbang dengan tatapan intens yang terarah pada Tetsuya.

 

“Hey.. Kuroko?” Suara Hyuuga tidak terdengar lagi oleh Tetsuya. Pikiran Tetsuya mulai kosong. Darah Tetsuya berdesir. Tubuh Tetsuya mulai memanas ketika ia merasakan otot-otot punggungnya menegang. Tetsuya tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Tetsuya hanya tahu jika ia tidak bisa merasakan apapun, dan semuanya gelap. Tetsuya masih bisa mendengar teriakan panik dari orang-orang, dan juga suara Hyuuga berserta Ryouta dan Daiki yang memanggil dirinya agar tetap sadar.

 

 

.

oOo

.

 

“Hey.. Kuroko-chii.. Apa kau tidak ingin bangun?” Suara Ryouta terdengar khawatir saat melihat Tetsuya terbaring lemah di hadapannya. Sejak tadi, Ryouta mengguncangkan bahu Tetsuya dengan gerakan pelan. Berharap jika Tetsuya akan bangun dari pingsannya. Tetsuya sudah pingsan selama satu jam, dan ia sangat khawatir dengan keadaan Tetsuya yang seperti ini. Sejak tadi Ryouta bahkan mengabaikan gerutuan dari Daiki, karena Ryouta tidak ingin membawa Tetsuya dulu ke klinik yang ada di depan persimpangan. Karena jika Ryouta melakukan itu, pengunjung yang ada di cafe akan terganggu. Jadi Ryouta memutuskan untuk memanggil seorang dokter yang bernama Midorima Shintarou. Dokter muda berparas tampan yang sekarang memeriksa keadaan Tetsuya yang berbaring lemah di atas single bed yang ada di rest room cafe ini.

 

“Dia hanya kecapean saja. Kau tidak usah khawatir. Aku akan memberinya beberapa obat vitamin.” Shintarou menyimpan kembali stetoskop ke dalam tas hitam miliknya. Kemudian pria bersurai hijau itu mengeluarkan sebuah pensil di sertai kertas memo kecil. Tangan Shintarou bergerak lincah di atas kertas. Menulis beberapa kata yang Ryouta yakini adalah resep obat yang harus ia tebus untuk Tetsuya.

 

“Kau bisa membeli resep ini di klinik depan. Aku harap kau bisa menjaganya. Dia mungkin sedang tertekan oleh sesuatu. Jangan sampai membuatnya tertekan dan stress.” Shintarou mulai berdiri sambil merapihkan kemeja hitam miliknya yang sama sekali tidak kusut. Kemudian ia membungkuk untuk pamit. Di sertai oleh senyuman Ryouta, dan delikan tajam dari Daiki.

 

“Terimakasih, Dokter Shintarou.” Shintarou hanya mengangguk kecil, sebelum akhirnya berjalan ke luar pintu dan meninggalkan rest room itu.

 

“Aduh Kuroko-chii.. kenapa kau tidak bang—“ Mata Ryouta membulat saat melihat Tetsuya mulai mengerjapkan mata dengan perlahan. Manik aquamarine yang awalnya tertutup, terbuka dengan gerakan pelan. Memperlihatkan bagaimana jernihnya mata Tetsuya, yang selalu membuat Ryouta kagum sekaligus iri karena mata Tetsuya begitu indah.

 

“A-ah.. Syukurlah Kuroko-chii sudah sadar!” Ryouta berteriak girang. Tubuhnya bergerak dengan refleks memeluk tubuh mungil Tetsuya yang masih berbaring. Ryouta benar-benar lega karena Tetsuya baik-baik saja.

 

“Oi.. Tetsu bisa mati kehabisan napas karena kau peluk seperti itu, bodoh!” Daiki mencibir ke arah Ryouta. Membuat si surai pirang mendelik ganas ke arah pemuda berkulit tan itu.

 

“Diam kau Ahomine!!” Ryouta mengerucutkan bibirnya kesal karena ucapan Daiki. Kemudian tatapannya kembali ke arah Tetsuya yang sekarang memejamkan matanya, dengan dahi mengernyit seperti menahan sakit.

 

“E-eh? Ku-kuroko-chii, kau kenapa?” Ryouta berujar gugup. Ia mulai melepaskan pelukannya pada Tetsuya, dan menatap Tetsuya dengan raut wajah khawatir.

 

“S-sakit, Ki-kise-kun… P-punggungku.. U-uhh…” Tetsuya mulai meringkukkan badannya. Berharap rasa sakit yang menjalar di punggungnya hilang. Tetsuya bisa merasakan otot-otot punggungnya bergerak dan memanas saat ini. Tetsuya tidak pernah mengalami kesakitan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menyakitkan.

 

“D-daiki.. Pe-pergi ambil obat di apotek Dokter Shintarou. Cepat-ssu!!” Ryouta mulai berteriak panik. Di ikuti dengan Daiki yang sekarang bingung harus melakukan apa. Karena bagi Daiki, ini adalah pertama kali Tetsuya kesakitan seperti itu.

 

“Cepat-ssu!!” Teriakan Ryouta membuat Daiki kembali sadar dari keterkejutannya. Daiki mengangguk cepat, dan segera melesat pergi keluar dari ruangan itu untuk pergi menyusul Dokter Shintarou dan juga meminta resep obat di kliniknya. Meninggalkan Ryouta yang semakin panik saat melihat Tetsuya meringis kesakitan. Ryouta benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ryouta tidak mungkin berteriak histeris keluar memanggil Hyuuga. Ia tidak ingin membuat kegaduhan di cafe ini.

 

“T-tunggu sebentar-ssu. Aku akan mengambilkan Kuroko-chii minum. Tunggulah sebentar.” Ryouta mengelus punggung Tetsuya dengan pelan. Berharap Tetsuya masih sadar dan mendengarnya. Kemudian Ryouta keluar dengan langkah panjang. Pintu kayu itu di buka paksa tanpa di tutup kembali. Agar jika Tetsuya semakin kesakitan, pemuda bersurai biru itu bisa berteriak, dan Ryouta dapat mendengarnya dengan jelas. Kemudian pergi menolongnya. Ryouta memang selalu berpikiran simpel jika dalam keadaan genting. Pemuda bersurai pirang itu memang bisa di andalkan.

 

“A-ahh…” Ringisan sakit Tetsuya makin menjadi. Tetsuya masih bisa merasakan ototnya mulai berkontraksi di dalam punggungnya. Bergerak pelan di balik tulang punggungnya. Ini benar-benar menyakitkan untuk Tetsuya.

 

“T-tolong…” Suara Tetsuya terdengar lirih. Manik aquamarinenya mulai tertutup setengah. Tapi Tetsuya masih bisa melihat dengan jelas sosok pemuda bersurai crimson yang berjalan mendekat ke arah Tetsuya. Ia kenal dengan pemuda itu. Pemuda bersurai crimson itu adalah tetangga barunya yang Tetsuya lihat kemarin malam.

 

“Ternyata aura angelik berasal darimu.” Pemuda bersurai crimson itu membungkukkan badannya saat jaraknya dengan Tetsuya semakin dekat. Tetsuya bisa merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya dengan lembut. Tetsuya tidak tahu jika napas pemuda itu malah membuat sesuatu di balik punggung Tetsuya kembali bergerak tak beraturan. Darahnya kembali berdesir di dalam tubuh Tetsuya.

 

“Aku Seijuurou. Kau harus mengingatnya saat kita bertemu lagi nanti.” Pemuda misterius—Seijuurou—berbisik pelan di telinga Tetsuya. “Aku akan menolongmu. Aura angelik milikmu itu berbeda dan menarik.” Seijuurou tersenyum asimetris ke arah Tetsuya. Tangan Seijuurou yang hangat bergerak perlahan menyentuh wajah Tetsuya dengan lembut. Sebelum menyentuh kelopak mata Tetsuya dengan perlahan, dan Tetsuya tidak sadarkan diri setelahnya. Tetsuya hanya ingat jika pemuda itu berhasil membuat energi dari dalam tubuhnya menghilang. Menghilangkan rasa sakit yang sejak tadi bersarang pada punggung Tetsuya.

.

oOo

.

Tetsuya membuka manik aquamarinenya secara paksa. Napasnya tersenggal tak beraturan. Dadanya naik turun tak terkendali. Mimpi itu lagi. Tetsuya kembali bermimpi tentang dirinya yang di kejar pasukan bersayap. Di dalam mimpi, Tetsuya sama sekali tidak punya tujuan kemana harus bersembunyi. Tetsuya benar-benar tidak suka dengan mimpi buruk yang selalu ia dapat ketika tidur. Karena ketika ia terbangun sampai sekarang, mimpi tersebut masih ada di benaknya. Dan Tetsuya takut untuk kembali tertidur.

 

Tetsuya menoleh ke arah nakas. Melihat jam weker kecil di sampingnya. Sekarang masih jam tiga pagi. Tetsuya baru tertidur tiga jam. Jika seperti ini, Tetsuya tidak ingin kembali tertidur. Tadi malam, Ryouta mengantar Tetsuya pulang ke apartemen. Pemuda bersurai pirang itu bahkan nekad untuk menginap di tempat Tetsuya. Ryouta berkata jika ia takut Tetsuya kembali kesakitan, dan tidak ada orang yang akan menolongnya. Tapi Tetsuya menolak kebaikan Ryouta dengan halus. Ia tidak ingin membuat Ryouta dan Daiki kerepotan. Mereka pasti sudah mengurusnya selama Tetsuya pingsan beberapa jam di cafe. Tetsuya tidak ingin kembali membuat kedua sahabatnya itu susah karena dirinya.

 

Tetsuya mulai menarik selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Ia mulai berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Mungkin udara segar bisa menenangkan perasaan Tetsuya. Ia tidak ingin berpikiran negatif sekarang. Tetsuya hanya ingin melupakan kejadian yang menimpanya hari ini. Tentang kedua sosok pria bersayap, pemuda dengan surai crimson yang menolongnya, dan juga mimpi-mipi buruk yang masuk ke dalam alam bawah sadar Tetsuya.

 

Di raih kenop pintu yang menghubungkannya dengan koridor luar apartemen. Di sini tidak ada siapapun kecuali Tetsuya. Hening. Hanya ada suara binatang malam yang terdengar. Tetsuya menoleh ke arah jendela yang memperlihatkan bagaimana indahnya pemandangan Kota Tokyo yang berkerlap kerlip dari atas sini. Jika udara malam tidak membuat Tetsuya menggigil di pertengahan musim semi ini, mungkin Tetsuya lebih memilih berdiam diri sambil menatap pemandangan kota Tokyo dari jendela.

Dengan langkah mantap, Tetsuya mulai berjalan ke arah lift yang akan mengantarnya ke lantai satu. Tetsuya sudah memutuskan untuk pergi ke minimarket dua puluh empat jam yang berada dua kilo meter di tempat apartemennya.

Lagi-lagi langkah Tetsuya harus berhenti saat matanya kembali menangkap sosok pemuda bersurai crimson yang sekarang memandangi pemandangan kota di balik jendela besar itu. Pemuda itu masih sama seperti yang Tetsuya lihat empat jam lalu. Berdiri dengan senyum tipis yang bertengger di wajah tampannya. Ingin sekali Tetsuya bertanya kenapa pemuda itu masih diam di sana. Padahal ini sudah malam. Ia juga ingin bertanya apa benar jika pemuda itu yang datang menolongnya di cafe?

 

Tombol lift di tekan perlahan oleh Tetsuya. Ia hanya perlu menunggu agar pintu lift ini terbuka, dan segera pergi meninggalkan pemuda itu. Entahlah, ada sesuatu yang aneh dalam diri pemuda itu. Tetsuya tidak tahu kenapa ia bisa merasakannya. Tetsuya hanya tahu, jika pemuda itu mungkin saja berbahaya. Seperti kedua sosok misterius bersayap yang Tetsuya lihat di cafe.

 

“Hei, Apa kau tahu? Ternyata dunia fana tidak berubah sejak terakhir kali aku datang ke sini.” Dahi Tetsuya mengernyit heran saat mendengarnya. Dunia fana? Apa Tetsuya sedang berhadapan dengan orang mabuk sekarang? atau pemuda yang ada di hadapannya ini adalah seorang alien sehingga ia jarang berkunjung ke bumi? Ah. Baiklah. Lupakan tentang itu. Mungkin Tetsuya akan mengurangi membaca cerita fiktif tentang alien.

 

“A-apa kau baru saja datang ke Tokyo?” Tetsuya mencoba membuka suaranya. Tetsuya tidak ingin berfikiran negatif tentang pemuda itu. Mungkin saja kan pemuda itu baru datang dari Desa.

 

“Tidak. Aku datang dari dunia bawah.” Kali ini, Tetsuya sangat yakin jika orang yang di depannya ini mempunyai gangguan jiwa. Memang ada kota di Jepang yang bernama dunia bawah? Tentu saja tidak ada. Sekarang, Tetsuya benar-benar ingin pergi dari sini. Ia tidak mau meladeni pemuda itu lebih lama. Dan kenapa lift ini sama sekali tidak bekerja? Apa petugas apartemen mematikannya? Jika seperti itu Tetsuya harus menuruni anak tangga untuk sampai ke bawah.

 

“Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?” Kali ini Tetsuya kembali melirik ke arah pemuda aneh itu. Dengan gugup, Tetsuya mulai mengangguk sebagai jawaban. Dan anggukan Tetsuya malah membuat pemuda itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman menawan.

 

“Lupakan saja apa yang ku katakan padamu. Siapa namamu?” Pemuda bersurai crimson itu mulai menatap Tetsuya dengan pandangan menilai. Setelahnya ia menggulum sebuah senyuman tipis.

 

“Kuroko Tetsuya. Kau?”

 

“Akashi Seijuurou. Seharusnya kau tidak lupa namaku.” Seijuurou melangkahkan kakinya mendekat ke arah Tetsuya. Sementara Tetsuya malah memundurkan tubuh mungilnya dengan refleks. Hingga membentur dinding yang ada di belakangnya.

 

“Hey. Tetsuya.. Apa kau percaya jika iblis dan juga malaikat itu ada?” Alis Tetsuya mengerut. Kembali tidak mengerti dengan apa yang Seijuurou ucapkan. Kenapa Seijuurou bertanya tentang hal itu? Tentu saja Tetsuya percaya. Malaikat dan Iblis itu nyata. Di dalam alkitab dan juga perjanjian lama di ceritakan dengan detail bagaimana malaikat itu. Ah. Apa Seijuurou itu seorang atheis sehingga bertanya hal ini pada Tetsuya?

 

“Tentu saja.” Tetsuya mengangguk mantap. Mengabaikan tatapan intens dari Seijuurou yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya.

 

“Lalu bagaimana jika aku mengatakan bahwa Tetsuya adalah malaikat?” Dan ucapan dari Seijuurou membuat tubuh Tetsuya menegang dalam sekejap. Pertanyaan yang di ucapkan Seijuurou memenuhi seluruh otaknya. Membuat kepala Tetsuya seakan penuh karena pertanyaan itu. Tapi Tetsuya tahu, itu semua sama sekali tidak mungkin. Tetsuya itu manusia bukanlah malaikat seperti yang Seijuurou ucapkan.

 

“Kau gila Akashi-kun.” Manik aquamarinenya menatap tak suka ke arah Seijuurou. Sebelum mendorong tubuh Seijuurou menjauh, dan kembali berbalik ke arah apartemen miliknya. Sepertinya Seijuurou memang tidak waras. Seharusnya Tetsuya tidak mengobrol dengan Seijuurou.

 

“Kau adalah nephilim, Tetsuya. Aku bisa merasakannya.” Suara bariton milik Seijuurou menggema di seluruh koridor sepi itu. Membuat Tetsuya membalikkan badannya, berniat untuk kembali melihat sosok Seijuurou yang sekarang menghilang. Bagai di telan angin malam.

 

Nephilim..” Tetsuya bergumam pelan. Kata-kata itu sama sekali tidak asing di telinga Tetsuya. Seolah Tetsuya memang sering mendengarnya. Sepertinya Tetsuya harus kembali membuka buku lamanya, dan mencari tahu soal nephilim. Karena kedua sosok bersayap tadi juga menyebut jika dirinya adalah nephilim.

 

TeBeCe

Glousarium :

  1. Dewa Hades : Dewa penguasa Dunia Bawah

 

  1. Persephone : Ratu Dunia Bawah. Istri Hades.

 

 

  1. sungai phlegethon : Sungai api yang menjalar dari kerajaan Hades ke Tartarus. Tempat menyiksa orang mati di padang hukuman.

 

  1. sungai acheron : Sungai rasa sakit

 

 

  1. Sungai lethe: Sungai bisa membuat orang kehilangan ingatan

 

  1. padang asphodel : Tempat di dunia bawah di mana orang mati yang amal baik dan buruknya seimbang.

 

 

  1. padang hukuman : Tempat di dunia bawah untuk menyiksa roh orang jahat.
  2. Thanatos : Dewa Kematian Yunani. Abdi Hades.

 

 

  1. Pintu Ajal : Pintu yang menghubungkan dunia manusia dan dunia bawah.

 

 

Pertama saya mau minta maaf karena FF ini absurd. Salahin imajinasi nista saya yang kelewatan sehingga mencampur semuanya menjadi satu. Wkwk

 

Kedua saya juga mau minta maaf buat yang nunggu FF Akakuro saya yang YMT sama BL . Maaf yah ga di up. Soalnya saya mau tamatin dulu ceritanya, jadi langsung di post langsung sekaligus. Terus FFnya juga lagi edit ulang lagi sama saya. Jadi maaf banget yah.

Saya malah merantau ke cerita baru. Fantasy lagi, absurd lagi. FF ini bakal selese sebelum deadline Lovely Phantom. Jadi akhir Juli bakal selese. Saya kerjain fictnya seminggu sekali kalau ga ada tekanan batin di dunia Real Life saya. Doain yah semoga semua lancar untuk saya. Wkwk

 

Saya ga mau banyak cingcong. Berkenankah mereview, guys??

 

Salam AkaKuro!!

 

Astia Morichan ^^

Advertisements

Buat yang ga suka FF You Must Love Me SasuHina. Read this cintahh!!

1

Halo bitches who read this! Wkwkwk

Anjirtt bahasa gue. Well done. Sekarang gue mau bahas ymlm sasuhina.

 

  1. FF lo makin kayak sinetron!

 

A: Whatever. Emang gue minta pendapat lo soal imajinasi gue gitu? Eiw disgusting lah yu! Never. Mau gue buat kayak sinetron juga gimana gue dong. Genre aja kepampang Drama. Yah pasti isinya drama. Macem gue yang Drama Queen. Okeh Lupakan.

 

  1. Bitch, gue ga suka sakura di gituin!

 

A: Masbayu? Masalah buat yu? Terserah gue. Yang buat cerita kan gue. Ga suka? Jangan baca. Atau buat aja cerita sendiri. Jangan ganggu imajinasi gue.

 

  1. Your english is so poor, bitch!

 

A: I dont give a damn shit yah, bitchies! Mau english gue amburadul kek. Whatever lah yah. Gue aja masih learning soal english dan semua tentang grammar dan sentences yang bikin kepala gue puyeng kalo di sekolah. Masbuloh? English gue emang poor. Kalo mau menggurui bolehlah. Inbox gue ae.

 

  1. Lo labil!

 

A: Masalah buat situ? Gue labil? Ember! Gue emang labil. Gue itu childish macem bocah umur enam taun. Gue juga masih muda, belum dewasa. Muka gue jg macem bocah poloz tak ternodai oleh berbagai macam piktor. Jadi masbuloh? Sekali lagi gue bilang masbuloh???!!!! Fuck off!!

 

  1. Lo lama update mulu. Ke yaoi aja terus updatenya. Ga niat buat cerita yah jangan buat kalo ngegantung.

 

A: Ember. Masbuloh? Sekali lagu gue bilang masbuloh gitu? Gue emang fujo. And I’m so proud of it! Dari awal gue nulis cerita, ga pernah ada di benak gue untuk nulis fict straight. Gue emang fujo yang demen baca cerita hinata centric. Tapi dulu gue beneran ga niat buat nulis straight. Catet tuh yah! Gue itu jadi nulis straight karena mau tobat jadi fujo gara-gara kyumin. Tapi setelah setaun, gue balik lagi jadi fujo karena gue ga bisa kehilangan asupan. So, terserah mau gue update kapan juga. Yang jelas apa yang ada di archive terutama ymlm bakal tamat. Terbukti gue tamatin walo lama. So, ga suka sama gue? Back off!!

 

Ini jawaban atas semua yang ga suka. Gue udah warning cinta, ga suka? Back off. Jangan maksain baca. Nanti mata yu iritasi, terus gue yang harus tanggung jawab gitu? Eiw, ngga deh. Mending gue liatin djs hawt akakuro aja lah yah.

 

Bye!

Rendezvous | KyuMin | OS| Yaoi

0

Ini hanyalah khayalan saya mengenai KyuMin. Kalau imajinasi kita tak sama tentag KyuMin tolong menjauh saja :’) sekalian curhat boleh kali yah chingudeul. Para JOYers,, apa kalian merindukan KyuMin sama seperti saya yang merindukan mereka. Jujur, hati saya masih berharap jika KyuMin masih bersama. Ada sesuatu dari KyuMin yang belum selesai sampai saya rela menunggu apa yang akan terjadi ke depan. Ada beberapa alasan KyuHyun juga yang membuat saya tetap teguh jadi Joyers. Jadi inilah khayalan saya. Apa kalian masih menjadi Joy dan berharap seperti saya??

 

enJOY!

Cinta itu konyol. Kyuhyun sangat mengakui hal itu. Karena ia rela menjadi orang idiot dan tersakiti hanya untuk seorang Lee Sungmin- namja yang ia cintai sampai kapanpun.

Begitu pula dengan Sungmin. Sungmin tidak bisa melepaskan sosok Cho Kyuhyun yang sudah menghiasi kehidupannya selama hampir delapan tahun bersama. Ia mencintai Kyuhyun. Sungmin membutuhkan Kyuhyun selayaknya ia membutuhkan oksigen.

 

.

.

.

 

 

Lee Sungmin menatap tajam pria bersurai coklat yang sekarang membuka pintu kamar hotel miliknya- yang beberapa jam lalu ia pesan. Rendezvous again. Well, Sungmin sudah tidak peduli tentang hal itu. Sungmin hanya peduli tentang Cho Kyuhyun yang sekarang mengangkat sebelah alisnya, sambil melepaskan topi yang sejak tadi ia pakai. Kyuhyun hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut tubuh bidangnya. Sungmin yakin, jika Kyuhyun sengaja memakai kaos putih itu untuk menggoda beberapa gadis. Sial! memikirkannya saja membuat Sungmin kesal setengah mati.

 

“Waeyo, Hyung? Kau menatapku seperti aku ini adalah seorang penjahat.” Kyuhyun tersenyum asimetris sebelum melangkahkan kakinya ke arah Sungmin yang masih berdiri dengan tatapan sangar di depannya. Sungmin bisa melihat Kyuhyun tersenyum tanpa rasa bersalah ke arahnya. Pria itu masih menyunggingkan senyum menggoda dan juga tatapan lembut yang masih mengarah ke arahnya.

 

“Kenapa kau ingin bertemu denganku? Apa kau kabur dalam  pelatihan negara, Hyung? Kau nakal sekali.” Kyuhyun terkekeh pelan. Tangannya terulur untuk menarik Sungmin masuk ke dalam pelukannya. Ah- ia benar-benar merindukan sosok Sungmin. Sudah satu bulan mereka tidak bertemu. Jika bisa, Kyuhyun ingin mengurung Sungmin di dalam kamar pribadinya.

Kyuhyun membenamkan kepalanya pada ceruk leher Sungmin. Menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang menguar dari tubuh namja itu. Ah, wangi Sungmin memang memabukkan. Kyuhyun tidak akan bosan dengan wangi tubuh Sungmin. Hanya mencium wangi tubuh Sungmin saja sudah bisa membuat perasaan Kyuhyun tenang dengan sekejap.

 

“Uh… Kau tidak merindukanku, Kyu!” Sungmin mencoba mendorong tubuh Kyuhyun. Tapi sayangnya, usaha miliknya sangat sia-sia. Kyuhyun malah mencengkram pinggang Sungmin dengan erat, sehingga ia sama sekali tidak bisa bergerak beberapa menit. Sebelum akhirnya, Kyuhyun mulai membuka mulutnya.

 

“Kau marah padaku, Hyung?” Kyuhyun melepas pelukan mereka. Ia bisa melihat Sungmin mengerucutkan bibirnya, dan juga manik foxy milik Sungmin mulai berlinang air mata. Tubuh Sungmin bahkan mulai bergetar pelan saat tangannya memukul pelan dada Kyuhyun.

 

“Hiks… K-kau jahat, K-kyu.. Hikss..” Tangis Sungmin yang terisak membuat Kyuhyun mengernyitkan alisnya. Ia bingung. Kyuhyun tidak mengerti apa yang sudah ia perbuat sehingga Sungmin menangis seperti sekarang. Seingat Kyuhyun, ia sama sekali tidak membuat suatu kesalahan yang membuat Sungmin sakit hati.

 

“H-hey, Hyung? Apa yang telah aku lakukan, eoh?” Kyuhyun menangkup kedua pipi Sungmin, dan mulai mengusapnya dengan pelan. Mempertemukan manik obisidan miliknya, dengan manik foxy Sungmin. Obisidian itu menatap Sungmin dengan lembut. Seolah mengatakan bahwa Kyuhyun tidak akan pernah meninggalkannya.

 

“K-kau mencium gadis itu!!” Sungmin berteriak tak suka sambil memukul dada bidang Kyuhyun lagi. Sementara Kyuhyun hanya mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Hey! Kyuhyun tidak mencium seorang gadis hari ini. Ia juga tidak mempunyai seorang selingkuhan wanita.

 

“Aku tidak mencium siapapun, Hyung.” Kyuhyun kembali mengelus pipi Sungmin, dan mencoba membuat namja itu tenang. Kyuhyun tahu jika saat ini perasaan Sungmin sedang tidak bagus.

 

“Aku melihat kau mencium gadis yang ada di drama itu! Kau mencium dan memeluknya! Saat aku makan di kedai soju bersama yang lain, drama itu muncul dan memperlihatkan bagaimana kau berakting Cho! Aku membencinya saat kau memperlakukannya dengan lembut seperti itu! Maka dari itu aku mengajakmu bertemu.” Luapan emosi dari Sungmin membuat Kyuhyun terkekeh pelan saat mendengarnya. Drama yah? Kyuhyun baru ingat jika dramanya tayang musim semi tahun ini. Padahal, ia sudah melakukan syuting untuk drama berdurasi dua belas menit itu tahun lalu. Dan sepertinya ia juga sudah memberitahu Sungmin jika ia akan bermain dalam sebuah drama picisan dan melakukan beberapa adegan- yang Kyuhyun yakin membuat Sungmin marah seperti ini. Ah, Sungmin benar-benar egois.

 

“Kau tahu? Saat aku menciumnya seperti ini..” Kyuhyun mendekatkan bibirnya pada Sungmin, dan mulai mengecup singkat bibir plum namja itu dengan lembut.

 

“Aku memikirkanmu, Lee Sungmin. Dan saat aku memeluknya seperti ini..” Kyuhyun membawa Sungmin dalam pelukan hangatnya. Membuat tubuh Sungmin tenang dan tidak kembali bergetar karena isak tangisnya.

 

“Aku hanya memikirkan Lee Sungmin, seorang yang sekarang sudah di miliki oleh orang lain. Bukankah kau egois, Hyung?” Kyuhyun terkekeh sambil mengecup pucuk kepala Sungmin pelan. Ia bisa merasakan Sungmin mengeratkan pelukan mereka.

 

“Kau yang jahat, Hyung. Bukan aku. Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku saat melihatmu dua tahun lalu bersanding di pelaminan dengan orang lain? Saat itu, duniaku sudah hancur Hyung. Ah, Andwae. Duniaku hancur saat kau memutuskan untuk memilihnya, dan tetap bersamaku di belakangnya.” Kyuhyun terkekeh lagi. Membuat Sungmin menegang saat mendengar ucapan Kyuhyun. Sungmin akui, ia memang jahat pada Kyuhyun. Kyuhyun terlalu baik padanya sampai ia rela terluka untuk Sungmin. Sungmin merasa seperti orang jahat karena membuat Kyuhyun menderita seperti sekarang. Jika bisa, Sungmin ingin memilih untuk bersama Kyuhyun selamanya.

 

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah..”Suara Sungmin bergetar hebat. Tangan Sungmin mencengkram erat kaos yang Kyuhyun kenakan. Bahu namja itu kembali bergetar karena menahan isak tangisnya.

 

“Jika bisa, aku tidak ingin jatuh cinta padamu, Hyung. Tapi sayangnya, kau membuat duniaku berwarna dengan cinta saat kita bersama. Tapi saat kau memutuskan untuk bersama wanita itu, duniaku hancur. Aku masih belum siap untuk jatuh saat kau menghempaskanku dari ketinggian yang tidak mungkin aku gapai.”

 

“Kyuhyun-ah…” Sungmin mengadahkan kepalanya. Menatap manik obsidian Kyuhyun dengan tatapan sayunya. Sungmin benar-benar merasa bersalah pada Kyuhyun. Ia adalah orang yang paling jahat di dunia ini, karena menyakiti Kyuhyun yang sangat mencintainya.

 

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Sampai rasanya, cinta ini menjadi sangat menyakitkan. Aku tahu, aku adalah orang yang paling egois karena mencintaimu seperti ini. Tapi jika kau ingin kita berhenti, aku siap Kyu. Aku juga ingin kau bahagia.” Sungmin mengelus pipi Kyuhyun dengan perlahan, sebelum mengecup pipi Kyuhyun lama dan meresapinya agar bisa selalu Sungmin ingat sampai kapanpun.

 

“Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Aku mencintaimu, Ming. Aku masih bisa menahan rasa sakit ini.” Kyuhyun kembali memeluk Sungmin dengan erat. Ia benar-benar merindukan Sungmin yang menjadi kekasihnya malam ini. bukan Sungmin yang menjadi Hyungnya, atau Sungmin yang menjadi rekan kerjanya, atau juga Sungmin yang menjadi suami dari istri orang. Kyuhyun merindukan Sungmin kekasihnya yang akan selalu menjadi miliknya sampai kapanpun.

 

“Jika kau menemukan seseorang yang lebih baik dari ku, kau harus bersamanya. Arraseo?” Kyuhyun bisa mendengar nada tidak rela yang Sungmin keluarkan. Mereka sudah sepakat tentang hal ini. walaupun pada awalnya Kyuhyun tidak setuju dan menolak mentah-mentah keinginan Sungmin tentang hal ini saat itu. Tapi sekarang, Sungmin harus mencoba merelakan segalanya jika ia tidak ingin Kyuhyun tersakiti.

 

 

“Aku tahu, Ming. Aku mencintaimu sampai kapan pun.”

 

“Aku tahu. Maafkan aku, Kyu. Aku juga sangat mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Dan setelahnya, Kyuhyun membawa Sungmin ke dalam ciuman panjangnya. Mungkin akan ada saatnya mereka bisa bersama kembali. Tuhan hanya belum membuat semuanya sempurna bagi Kyuhyun dan Sungmin. Mereka tidak salah. Mereka tidak pantas di hujat. Cinta mereka itu murni. Hanya saja, salahkan Cupid yang salah memanahkan panah pada mereka, karena mereka sesama lelaki. Ini adalah salah Cupid. Bukan kesalahan Kyuhyun dan Sungmin sehingga mereka jatuh cinta.

 

FIN

 

YAH SAYA MEMANG GALAU TENTANG KYUMIN!!
MASBAYU? MASALAH BUAT YU??  WKWK
KYUMIN OH KYUMIN
KENAPA OH KENAPA KALIAN TIDAK BERSATU LAYAKNYA BAOZI DAN HANA?!! WHY? WHY?