I Want To Be A Straight, But | Meanie FF | Chap 3|

10

Pemuda bersurai hitam berjalan menaiki tangga dengan gusar. Choi Seungcheol sudah mendapat izin dari Ren untuk segera menemui Jeonghan yang sejak tadi tidak mau keluar kamarnya. Jujur saja, ia sangat khawatir pada Jeonghan. Tidak biasanya sahabat kecilnya itu merajuk seperti ini. Padahal Seungcheol sudah menjelaskan semuanya. Tapi sepertinya Jeonghan tidak akan pernah mengerti. Semua ini ia lakukan untuk kebahagian Jeonghan. Ia rela melepaskan semuanya hanya untuk sahabatnya itu.

 

Ketukan pintu mulai terdengar dengan keras. Seungcheol mengetuknya dengan tidak sabaran, sambil memanggil nama Jeonghan beberapa kali. Berharap pemuda itu segera membuka pintu, dan membiarkannya memohon untuk kesekian kali.

 

“Jeonghan, aku tahu kau mendengarku. Buka pintunya, atau ku dobrak dengan paksa.” Suara Seungcheol terkesan dingin. Tidak ingin di bantah. Dan Jeonghan yang berada di dalam tahu jika sahabatnya itu tengah menahan amarah. Jika bisa, Jeonghan ingin menghilang saja dan tidak bertemu dengan Seungcheol hari ini. Tapi sepertinya, ia memang tidak punya pilihan selain membuka pintu kamarnya.

 

Suara deritan pintu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar itu. Seungcheol dapat melihat sosok Jeonghan yang hanya mengenakan boxer pendek beserta kaos putih polos yang membalut tubuhnya. Rambut pemuda itu terlihat acak-acakan. Matanya memerah dengan sempurna. Jeonghan yang biasanya mementingkan penampilannya kini nampak kacau.

 

“Jika kau ingin meminta izinku untuk pergi ke Tokyo, maka pergi dari sini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau pergi tanpa seizinku!” Suara Jeonghan terdengar bergetar saat berteriak pada Seungcheol. Matanya menatap Seungcheol tajam. Tapi tatapan itu malah membuat Seungcheol terkekeh saat melihatnya.

Seungcheol mulai berjalan maju, dan membuat Jeonghan memundurkan tubuhnya kebelakang secara refleks. Hingga Seungcheol bisa masuk ke dalam kamar sahabatnya itu.

Pintu kamar tertutup dengan sendirinya. Membuat Jeonghan harus menelan salivanya dalam. Ia tidak mungkin tahan jika Seungcheol berada di kamarnya saat mereka bertengkar seperti ini. Jeonghan pasti akan menahan Seungcheol untuk pergi dan memeluknya dengan erat di ranjang miliknya seperti biasa. Sial! Seungcheol selalu tahu kelemahannya.

 

“Aku pergi ke Tokyo untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara hubunganmu dengan pacar-pacarmu, Jeonghan.”

 

“Dan kau takut jika mereka selalu menyalahkanmu?” Jeonghan menaikkan suaranya. Matanya memicing. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Seungcheol. Kenapa pula Seungcheol harus pergi jauh darinya karena itu? Jeonghan memang tahu jika semua pria yang pernah menjadi pacarnya, selalu menyalahkan kedekatan hubungannya dengan Seungcheol. Meminta ia menjauh dari sahabatnya itu. Dan yah, Jeonghan menolak mentah-mentah. Lalu ia akan putus dengan pacarnya, dan kembali kepada Seungcheol yang selalu memeluknya dengan erat.

 

“Kau tidak pernah menjadi pengganggu, Cheolie! For God’s sake! Kau pikir dengan meninggalkanku aku akan baik-baik saja, eoh? Saat aku putus dengan pacarku nanti, siapa yang bisa aku peluk selain kau, huh?” Jeonghan mendelik tak suka ke arah Seungcheol yang sekarang terdiam di depannya. Ia mulai berani mendekat ke arah Seungcheol. Hingga Jeonghan sudah berada tepat di depan pria itu.

 

“Kau tahu? Aku baru saja putus dengan Minhyuk.” Seungcheol masih terdiam. Matanya masih menatap Jeonghan dengan intens, saat melihat pemuda bersurai coklat itu semakin mendekat ke arahnya. Kemudian memeluknya dengan erat. Pelukan yang seolah mengatakan jika Seungcheol tidak boleh pergi dari sisinya.

 

“Kau tidak ingin membalas pelukanku?” Jeonghan mendongak ke arah Seungcheol yang sekarang menghela napasnya lelah. Sepertinya memang sulit membiarkan Jeonghan sendirian. Ia sudah terlanjur terikat dengan sahabatnya itu. Seungcheol tidak akan lepas dari genggaman tangan Jeonghan. Ah. Sepertinya ia harus kembali membatalkan kepergiannya ke Tokyo. Mungkin ia akan memilih untuk melanjutkan kuliah S2nya di Universitas Seoul. Bukan di Todai.

 

Tangan Seuncheol terulur. Memeluk pinggang Jeonghan dengan pelan. Ia mulai menelusupkan kepalanya ke leher Jeonghan. Mengendus wangi pemuda itu yang selalu membuat Seungcheol hilang kendali atas dirinya. Sebelum akhirnya memberi kecupan singkat di leher Jeonghan yang membuat pemuda itu menggeliat geli dalam pelukannya.

 

“Kau egois, Hannie.” Bisikan seduktif di leher Jeonghan membuat pemuda bersurai coklat itu terkikik geli.

 

“Yes, I know.” Jeonghan tersenyum bahagia dalam pelukan Seungcheol. Hal yang paling membuatnya bahagia adalah dimana Seungcheol memeluknya seperti sekarang.

 

“Batalkan kepergianmu ke Jepang.”

 

“Yes, ma Lord.” Dan Jeonghan kembali terkekeh saat mendengar jawaban dari Seungcheol. Bersama Seungcheol ia selalu bisa tertawa seperti ini. Sungguh, jika bisa Jeonghan ingin mengaku bahwa ia memiliki perasaan lain saat bersama Seungcheol seperti sekarang. Tapi ia tidak mungkin merusak persahabatan yang sudah ia jalin dengan Seungcheol, jika ternyata Seungcheol tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya.

 

.

oOo

.

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, alur cepet, etc.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

 

Cast: Kim KyuHyun X Lee Sungmin [Super Junior]

Hwang Minhyun X Hwang Minki aka Ren [Nuest]

Hwang Junghan X Choi Seungcheol [Svt]

 

Cast di FF ini OTP saya semua! Wkwk. Kalau ada yang nanya dan gak tau siapa itu Ren, Minhyun sama Nuest itu apa… Tolong searching dulu, karena mereka mau comeback tgl 29 nanti. Wkwk. Nuest itu sunbae-nim svt. Kalo kalian pledis fams yang kenal svt lewat nuest kayak saya pasti tahu. Karena di mv face lah saya mencintai wonu dan di phpin pledis karena svt ga debut mele berkali-kali. /oke ini curhat/

 

a/n: Saya ingetin lagi. Psikolog itu bisa di sebut dokter kalo udah s2 dan buka praktek sendiri. Waktu itu saya nanya sama dosen unpad, dan beliau kasih tau bedanya. Kecuali kalau pasiennya emang punya gangguan jiwa, mereka bakal di rekomen ke psikiater. Tbh homo itu bukan gangguan jiwa, makanya psikolog yang pantes saya buat di ff ini.\

EnJOY!

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan menapaki trotoar yang ramai di padati orang-orang di tengah keramaian kota Seoul. Tangannya menggenggam erat tas kerja miliknya yang berisi beberapa script novel. Wonwoo harus kerja lembur untuk mengerjakan deadlinenya. Ia sudah cukup untuk bermalas-malasan. Script novel yang harus ia edit masih banyak. Jadi baru sekaranglah Wonwoo bisa pulang dan bernapas lega. Untung saja ini masih jam sembilan malam. Jadi ia bisa mencari makan malam di luar. Wonwoo bahkan melewatkan makan siangnya karena deadlinenya itu. Hingga perutnya berteriak minta di isi seperti sekarang.

 

Langkahnya terhenti di persimpangan sebuah cafe kecil yang memang cukup ramai di padati para remaja. Sudah di putuskan. Ia akan makan di cafe itu malam ini. Walaupun harus sendiri. Well, salahkan Jeonghan yang tidak ingin menemaninya karena sibuk dengan pertengkaran tidak mutu dengan sahabat kecilnya itu.

Wonwoo berjalan masuk ke dalam cafe itu. Cafe itu sudah di padati oleh banyak pengunjung. Tidak ada satu pun kursi kosong untuk Wonwoo tempati. Padahal ia sudah meneliti ke segala arah penjuru. Tapi tetap saja tidak bisa menemukan satu pun meja kosong. Di bagian dalam dan juga luar Cafe semua terisi dengan penuh. Tidak ada pilihan selain mencari cafe lain untuk makan malamnya.

 

“Maaf. Cafe kami sedang penuh malam ini. Apa anda ingin menjadi waiting list terlebih dahulu?” Wonwoo memutar bola matanya ke arah gadis pelayan bersurai hitam di depannya. Waiting list? Hey! Wonwoo itu sudah lapar. Ia tidak mungkin menunggu lagi. Lebih baik ia mencari cafe lain.

“Tidak, terimakasih.” Dengan lemas, Wonwoo mulai berbalik, dan ingin berjalan menjauh dari dalam cafe. Ia kembali menatap sekeliling bagian luar cafe yang tetap saja masih penuh. Tidak ada satu pun meja kosong di sana.

 

“Hah.. “ Menghela napas lelah, sebelum akhirnya melangkah untuk menjauh dari cafe itu. Tapi langkahnya kemudian terhenti saat suara bariton yang sangat di kenalnya memanggil.

 

“Wonwoo Hyung!” Wonwoo menoleh ke belakang. Ia bisa melihat sosok Kim Mingyu yang sedang duduk di sudut cafe bagian luar, sambil melambaikan sebelah tangan padanya. Psikolog muda itu tersenyum tipis. Sekarang, Wonwoo kembali terpesona dengan sosok Mingyu yang hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut dada bidangnya. Demi Tuhan! Wonwoo tidak dapat memungkiri jika ia memang sangat tertarik pada Mingyu. Ia bahkan lupa dengan rasa lapar yang menyerang perutnya saat melihat Mingyu.

 

Wonwoo mencoba menguasai dirinya. Ia mulai berjalan ke arah meja tempat Mingyu duduk. Beberapa pengunjung wanita ikut menatap ke arah Mingyu. Sial! Wonwoo sangat yakin jika para wanita itu terpesona oleh sosok Mingyu. Terbukti dari pandangan berbinar yang mengarah pada Mingyu.

 

“Apa kau tidak mendapat meja? Kau bisa bergabung denganku, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum singkat ke arah Wonwoo. Manik obsidiannya mengisyaratkan dengan jelas agar Wonwoo segera duduk di depannya.

 

“Bolehkah? Kau tidak bersama seseorang?”

 

“Tidak. Aku hanya sendirian ke sini.” Mingyu menaikkan kedua bahunya. Tangannya kembali bergerak mengaduk americano yang tadi ia pesan.

 

“Kalau begitu aku akan menemanimu. Aku bersyukur bertemu denganmu.” Wonwoo menarik kursi dengan pelan. Kemudian duduk dengan kasual. Tatapan matanya menatap obsidian Mingyu dengan intens.

 

“Kenapa Hyung?” Obsidian Mingyu membalas tatapan tajam Wonwoo. Membuat Wonwoo memutar bola matanya. Ia pikir Mingyu akan takluk oleh tatapan matanya saja, dan terpesona oleh tatapannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Wonwoo jadi berpikir tentang niatnya untuk sembuh menjadi gay. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun, jika dokternya adalah Mingyu. Memikirkan hal itu malah membuat kepala Wonwoo menjadi pusing.

 

“Tidak apa-apa.” Wonwoo menghela napasnya pelan. Tangannya mulai mengambil buku menu yang ada di depannya. Membukanya, dan mulai meneliti berbagai macam menu yang akan ia pesan. Setelah beberapa menit, akhirnya Wonwoo mengangkat sebelah tangannya ke arah pelayan pria yang kini berjalan ke arah meja mereka.

 

“Sphagetti dan Lemon tea saja.” Wonwoo langsung mengutarakan pesanannya saat pelayan itu mendekat. Kemudian pelayan bername tag Jinshi itu mengangguk pelan. Sebelum akhirnya kembali menjauhi meja mereka.

 

“Jadi apa yang sedang kau lakukan di malam hari seperti ini Dokter Kim?” Wonwoo memangku dagunya. Tatapan matanya masih terarah pada Mingyu sekarang.

 

“Aku hanya bosan berada di rumah, dan kebetulan aku lapar. Jadi aku makan di cafe ini.” Mingyu mengambil gelas americano miliknya. Kemudian menyesapnya. “Bagaimana denganmu, Hyung?”

 

“Aku hanya lapar, dan menemukan cafe ini begitu saja.”

 

“Ah..” Mingyu mengangguk tanda mengerti.

 

“Apa kau baru saja pulang dari tempat kerjamu?” Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Di mata Mingyu, terlihat jelas sekali jika pria itu memang sudah kelelahan. Kerutan di dahi Wonwoo membuktikan jika pria itu sedang banyak tekanan.

 

“Masih di kejar deadline?” Mingyu bisa melihat Wonwoo membulatkan matanya, sambil kembali mengangguk. Sepertinya Mingyu masih ingat perkataannya minggu lalu.

 

“Ya, dan kau tahu? Deadline editingku hari Sabtu nanti. Benar-benar menyebalkan. Padahal aku sudah mengerjakan proses editingnya dengan benar.” Wonwoo mulai mengeluh keluh kesahnya pada Mingyu begitu saja. Padahal Wonwoo tidak pernah seterbuka ini pada seseorang, dan Mingyu adalah pengecualian. Rasanya, ia bisa percaya dengan mudah pada Mingyu.

 

“Kalau begitu bersemangatlah, Hyung.” Tangan Mingyu terulur untuk menyentuh surai hitam Wonwoo. Mengusapnya dengan pelan, dan juga kekehan khas miliknya terdengar. Kali ini, Wonwoo bisa merasakan rona merah kembali menjalar di pipinya. Jantungnya kembali berdetak tak karuan karena sentuhan kecil seperti ini.

 

“E-ehm.. Maaf membuat anda menunggu, Tuan.” Suara deheman Jinshi, membuat Mingyu menarik tangannya dari kepala Wonwoo. Mingyu terlihat salah tingkah saat melihat pelayan itu menyimpan pesanan Wonwoo, dan tersenyum penuh arti ke arahnya. Sebelum akhirnya membungkuk pamit dan kembali menjauhi mejanya dengan Wonwoo.

 

“Kau merusak tatanan rambutku.” Wonwoo kembali bersuara dengan nada dinginnya. Ia tidak ingin suasana menjadi aneh hanya karena kejadian kecil seperti itu. Wonwoo tentu tidak lupa jika psikolog yang ada di depannya adalah seorang homophobic.

 

“Kau tetap jelek walaupun rambutmu acak-acakan, Hyung.”

 

“Ya!!” Wonwoo melototkan matanya ke arah Mingyu saat mendengar ejekan dokter muda itu. Bukannya takut, Mingyu malah tertawa puas saat melihatnya mempoutkan bibir dan memberinya delikan tak suka.

 

“Hahaha. Kau benar-benar lucu, Hyung.” Mingyu tertawa sambil menekan perutnya akibat tertawa yang berlebihan. Tapi Mingyu tidak berbohong soal itu. Ia suka saat Wonwoo merajuk marah saat di godanya. Jujur saja, ada rasa penasaran aneh tersendiri dari Wonwoo yang membuat Mingyu ingin mengenal lebih pasiennya itu.

 

“Hemmm..” Wonwoo berdehem pelan mengiyakan ucapan Mingyu. Ia harus fokus pada makanannya sekarang. Wonwoo tidak boleh terpesona pada Mingyu yang sekarang tertawa lebar karenanya.

Dengan pelan, ia mulai menggulung helaian spagetti dengan garpu, dan mulai menguyahnya. Mengabaikan tatapan Mingyu yang mulai terdiam sambil menatapnya dengan intens. Sial! sial! Mingyu menggodanya hanya dengan tatapan miliknya itu.

 

“Baiklah. Maafkan aku, Hyung. Aku hanya bercanda. Sebagai permintaan maaf, aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?” Wonwoo mendongak, dan menatap Mingyu dengan tatapan berbinar. Ah, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Wonwoo bisa bersama Mingyu lebih lama.

 

“Benarkah?”

 

“Ya. Aku akan mengantarmu.”

 

“Kalau begitu aku tidak akan menolak.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa melihat Mingyu terkekeh pelan. Suaranya mengalun dengan indah. Membuat Wonwoo seolah tersihir oleh Mingyu untuk kesekian kalinya. Segala hal tentang Mingyu seolah menarik Wonwoo.

 

Mingyu mulai mengajaknya mengobrol tentang pekerjaan. Apa yang Wonwoo lakukan beberapa hari terakhir, dan juga apakah Wonwoo mengikuti sarannya. Dan Wonwoo menjawab semua pertanyaan itu. Ia menceritakan segalanya kepada Mingyu. Dan untuk saran yang psikolog itu berikan, Wonwoo masih belum melakukannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan sepertinya Mingyu mengerti keadaannya sekarang.

 

“Habiskan makananmu, Hyung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan.” Wonwoo mendongak ke atas. Ia bisa melihat awan semakin menjadi hitam pekat. Tidak ada bintang atau bulan di langit. Angin malam juga berhembus dengan kencang. Membuat Wonwoo ingin memeluk tubuhnya sendiri. Ah, ia lupa membawa jaket tebalnya.

 

“Y-ya.” Wonwoo mengangguk. Ia lebih memilih untuk menurut pada Mingyu. Lagi pula ini sudah hampir pukul sebelas malam. Wonwoo juga tidak yakin jika masih ada taxi atau bis yang lewat malam ini. Wonwoo lebih memilih untuk di antar oleh Mingyu. Lagi pula ia bisa melihat wajah Mingyu lebih lama nantinya.

 

Wonwoo kembali memakan spagettinya dengan lahap. Di ikuti Mingyu yang sekarang menyesap minumannya, dengan tatapan yang masih mengarah pada Wonwoo. Jika boleh jujur, Wonwoo sangat malu di tatap seintens itu oleh Mingyu.

 

“M-mwo?” Wonwoo mencoba menelan suapan spagetti terakhirnya. Pipinya mengembung dengan mata yang membulat ke arah Mingyu. Dan tawa khas Mingyu kembali terdengar saat melihat wajah Wonwoo di belakang.

 

“Hahaha.. H-hyung.. Wajahmu.. Hahaha…” Mingyu tertawa dengan keras. Membuat Wonwoo mendelik sebal, karena ia kembali di tertawakan. Padahal tidak ada yang salah sama sekali dengan wajahnya.

 

“Hey, Kim Mingyu! Berhenti tertawa. Kau membuatku malu.” Wonwoo berdesis ke arah Mingyu saat ia bisa merasakan tatapan orang-orang mengarah kepadanya. Tapi sialnya, Mingyu malah semakin mengencangkan suaranya.

 

“Ya! Mingyu-ya!” Wonwoo menaikkan suaranya lebih kencang. Ia bisa melihat Mingyu mencoba menahan tawanya, dan menatapnya geli.

 

“Haha. Maafkan aku. Kau lucu sekali, Hyung.” Mingyu kembali mengacak surai hitam Wonwoo dengan lembut. Kali ini sentuhan itu cukup lama, dan Wonwoo sama sekaii tidak menolaknya. Ia bahkan menatap manik obsidian Mingyu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan fokusnya sama sekali.

 

Ctarrr

 

Suara petir yang menggelegar memecah keheningan malam. Ada kilat yang membelah langit malam. Lalu setelahnya, tetesan hujan turun dengan deras. Sangat deras sampai Mingyu dan Wonwoo kembali tersadar dari lamunan masing-masing.

Cipratan air mengenai pakaian mereka, karena mereka memilih untuk duduk di luar cafe. Wonwoo berdecak sebal karena pakaiannya mulai basah. Di ikuti Mingyu yang kini menariknya untuk masuk ke dalam cafe.

 

“Ini menyebalkan! Kenapa harus hujan segala?” Wonwoo menggerutu sambil memeluk tubuhnya sendiri, agar rasa dingin yang menusuk kulitnya menghilang. Tubuhnya bergetar karena dingin. Jujur saja, Wonwoo tidak suka saat tubuhnya dingin seperti es sekarang.

 

“Well. Sepertinya hujan tidak akan berhenti.” Wonwoo mengangguk mengiyakan. Ia mulai melihat ke sekeliling. Cafe ini sudah kosong. Hanya ada sekitar sepuluh orang saja di sini. Karena memang sebentar lagi, cafe ini akan tutup.

 

“Bagaimana jika kau menginap saja di rumahku? Akan cukup lama jika mengantarmu sampai rumah. Aku yakin malam ini pasti akan macet karena hujan.” Wonwoo menoleh dengan mata membulat sempurna ke arah Mingyu yang sekarang tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Tolong katakan jika Wonwoo benar-benar salah dengar. Mingyu mengajaknya menginap? Ini pasti mimpi.

 

“E-eh?”

 

“Ya. Cafe ini akan tutup sebentar lagi.” Mingyu melirik ke dalam, di mana para pelayan cafe sudah mulai membereskan ruangan dalam. “Kita akan lari sampai ke dalam mobilku. Tenang saja, rumahku tidak jauh dari sini.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa merasakan tangannya di tarik dalam genggaman hangat Mingyu. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan lupa jika air hujan deras sialan ini mengguyur tubuhnya sampai basah kusup. Mingyu mengajaknya berlari di tengah hujan, dengan tangan yang saling berpegangan. Kali ini, Wonwoo sama sekali tidak benci dengan udara dingin dan juga hujan ini. Karena ia bisa merasakan sensasi hangat dan juga perlindungan dari genggaman tangan Mingyu.

.

oOo

.

Wonwoo berjalan dengan pelan. Mengikuti langkah Mingyu yang sekarang berada di depannya. Pria itu sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah megah bergaya eropa, dan mereka turun dengan keadaan basah kuyup karena tadi harus berlari menembus hujan. Sejak tadi, Wonwoo hanya bisa berdecak kagum memandangi rumah Mingyu yang bisa di bilang sangat megah dan mewah. Rumah Mingyu lebih mewah dari pada milik Jeonghan. Mereka bahkan harus masuk sejauh satu kilo meter untuk tepat berada di depan mansion mewah itu. Wonwoo tidak menyangka jika psikolog muda itu sekaya ini.

 

Pintu kembar jati setinggi tiga meter di buka pelan. Lampu di ruang tengah ini padam. Hanya lampu yang berada di pojok lah yang menyala. Membuat penerangan minim yang bisa membuat Wonwoo melihat bagaimana mewahnya rumah ini. Ada banyak sekali furniture mewah di sana. Walaupun ruangan tengah minim oleh cahaya, Wonwoo tetap bisa melihat dengan jelas kemewahan rumah ini.

 

“Anhh…” Suara erangan tiba-tiba terdengar dengan jelas. Membuat tubuh Wonwoo menegang di tempat saat mendengarnya. Ia mendengar suara desahan pria di ruangan ini. Wonwoo harap ia salah dengar. Karena tidak mungkin ada yang bercinta di rumah megah ini. Terutama di dapur. Tapi jika ini adalah rumah Jeonghan, Wonwoo tidak akan heran.

 

“Mmhhh…” Kali ini suara desahan tertahan semakin jelas saat Mingyu menarik tangannya paksa menuju tangga berbentuk spiral. Sekarang Wonwoo yakin jika ia sama sekali tidak salah dengar. Pendengarannya masih normal. Karena dari sudut matanya ia bisa dengan jelas pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.

 

“Tutup telinga mu, Hyung.” Mingyu berujar dingin saat pemuda itu menariknya menaiki tangga dengan cepat. Melewati dapur yang di mana terdapat dua sosok pria di sana. Wonwoo bisa melihat dengan jelas jika dua orang pria itu sedang bercumbu dengan panas di dapur. Pakaian pria bersurai pirang itu bahkan sudah acak-acakan. Piyamanya sudah tidak terkancing, karena pria bersurai hitam itu menciumnnya dengan ganas sambil mencoba merobek piyama yang di pakai oleh pria itu.

 

“Aw..” Wonwoo meringis saat Mingyu meremas tangannya cukup keras. Sekarang mereka sudah berada di lantai atas. Tepat berada di depan sebuah ruangan yang Wonwoo yakini adalah sebuah kamar. Kali ini Mingyu terlihat menyeramkan. Aura dingin nan menakutkan terlihat di sekeliling tubuhnya. Mungkin ini adalah salah satu alasan Mingyu menjadi seorang homophobic. Sekarang Wonwoo sudah mengetahuinya.

 

Mingyu menarik kenop pintu dengan pelan. Setelah terbuka dengan lebar, ia menarik Wonwoo untuk masuk ke dalam kamar bercat putih. Di sana ada ranjang kingsize bersprei biru, dan juga sebuah mini theater yang di lengkapi play station. Tak lupa sebuah mini bar kecil yang berada di sudut ruangan. Tepat di samping rak buku-buku kedokteran milik Mingyu.

 

“Maaf, karena kau harus melihat kejadian memalukkan seperti itu.” Mingyu melepas genggaman tangan Wonwoo.

 

“Kau membuat tanganku sakit, Gyu.” Wonwoo mendengus sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Membuat Mingyu berbalik ke arahnya, dan kembali menggenggam tangan Wonwoo. Mingyu menatapnya penuh rasa bersalah, sambil mengelus pergelangan tangannya. Berharap jika rasa sakit yang ia timbulkan di pergelangan tangan Wonwoo dapat menghilang.

 

“Maaf. Aku jadi melampiaskan kekesalanku padamu. Maafkan aku, Hyung.”

 

“Baiklah. Aku juga harus berterimakasih padamu karena sudah mengizinkanku untuk menginap.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia masih tidak menyangka jika sekarang berada di dalam satu ruangan bersama Mingyu.

 

“Tak apa, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum, sambil mengacak surai hitam Wonwoo yang basah. Sepertinya, mengacak surai pria itu sudah menjadi hal favorit yang akan Mingyu lakukan.

 

“H-hatchii..” Wonwoo mulai bersin, sambil menggosok hidungnya yang memerah. Ah. Sepertinya ia sadar jika kedinginan seperti ini sangat tidak bagus. Wonwoo harus segera mandi air hangat, atau setidaknya tidur dengan selimut double.

 

“Kau kedinginan, Hyung. Aku akan menyiapkan air hangat di bathup untuk mu. Tunggulah sebentar.” Mingyu mulai terlihat panik saat melihat wajah Wonwoo yang sekarang memerah dengan sempurna.

 

“Ahh. Tunggu sebentar, Hyung.” Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Ia mulai berjalan menuju ke arah mini bar miliknya. Membuka lemari es kecil, dan mengeluarkan sebuah botol beer dengan kadar alkohol 20%. Beer bisa membuat tubuh hangat dengan cepat. Setidaknya ini akan menghangatkan tubuh Wonwoo.

 

Mingyu segera menarik sekaleng beer, dan membawanya ke arah Wonwoo. Pria bersurai hitam itu mengulurkannya ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo mendongak, sambil mengernyitkan alisnya. Untuk apa Mingyu memberinya beer? Hey! Wonwoo itu tidak suka alkohol. Ia bahkan tidak pernah menyecap minuman alkohol seperti itu.

 

“Untukmu. Ini akan menghangatkan tubuhmu dengan cepat Hyung. Minumlah. Aku akan menyiapkan air panas untukmu.” Mingyu menjelaskan dengan pelan. Ia menyelipkan sekaleng beer itu di dalam genggaman tangan Wonwoo. Setelah itu, Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Punggung tegap Mingyu yang basah tercetak dengan jelas di kaos putih yang ia pakai. Sial! Pria itu memang menggodanya!

 

“Hah.. “ Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai berjalan menuju ranjang king size, sambil membuka kancing kemejanya satu persatu. Air hujan yang menempel di bajunya itu malah membuatnya semakin menggigil. Wonwoo juga mulai melepas sepatu beserta celana denim yang ia kenakan. Sehingga ia hanya mengenakan underwear saja.

Wonwoo bisa merasakan hawa dingin ac di kamar Mingyu menerpa kulitnya. Dengan cepat, ia segera naik ke atas ranjang, dan masuk ke dalam selimut tebal milik Mingyu. Sehingga aura dingin berganti menghangatkan kulitnya sedikit demi sedikit.

 

“Ahh.. Nyaman sekali..” Wonwoo bergumam. Ia mulai duduk, sambil membuka kaleng beer yang ada di tangannya. Dengan senyum mengembang, ia segera menegak beer itu. Beberapa teguk, sebelum akhirnya Wonwoo merasa puas karena minuman itu seakan membuatnya melayang. Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh. Menggantikan rasa dingin yang tadi ia rasakan.

 

Wonwoo menyukai sensasi ini. Tanpa menunggu lagi, ia segera menegak kaleng beer itu sampai tandas. Sehingga tak ada yang tersisa setetes pun. Sial! Wonwoo ingin lagi! Sensasi ini benar-benar membuat tubuhnya memanas dengan cepat.

 

“Ahh..” Wonwoo mendesah kecil saat botol kaleng dingin itu menyentuh putingnya. Sensasi aneh kembali Wonwoo rasakan. Putingnya menegang dengan cepat hanya karena sentuhan kecil itu. Membuat Wonwoo ingin menyentuh tubuhnya sendiri.

 

Dan tanpa berkipir dua kali. Ia mulai menyentuh putingnya. Bagian sensitive yang selalu Wonwoo mainkan saat onani. Tubuhnya meringkuk. Selimut yang tadi menutupi tubuh polosnya terjatuh ke lantai. Hingga memperlihatkan tubuh polos pria itu. Sebelah tangan Wonwoo menyentuh puting kanannya, dan tangan kirinya menyentuh genital yang sudah menegang di balik underwear yang ia pakai. Meremasnya dengan gerakan perlahan, yang membuat darahnya berdesir dua kali lipat.

 

“H-Hyung, Apa yang sedang kau lakukan?” Dan suara bariton itu membuat Wonwoo menghentikan aktivitasnya. Ia mendapati sosok Mingyu yang sekarang membulatkan manik obsidiannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.

 

TeBeCe

Oh yeah.. kampret kan gue? Wkwk emang. Gue emang kampret. Selalu seperti ini. sabar yah. Wkwk

Sorry lama. Saya sibuk soalnya. Ini seriusan. Bukannya pura-pura sibuk loh. Saya ini lagi freetime makanya ngerjain FF lagi. Kemaren sibuk ngerjain FF buat event di tengah-tengah kegalauan dan sibuknya real life ngurusin sekolah. Sekarang juga lagi sibuk ngerjain FF buat event lagi. Deadlinenya bentar lagi pula. Aduh hayati ga kuat. Wkwk

Sekali lagi maaf karena ngaret. Wkwk makasih buat yang udah review. Saya cinta kalian !! :*

Betewe jangan harap ini kayak ten count yah. Ini ga akan sepenuhnya sama. Saya hanya ngambil beberapa scene yang mungkin mirip. Ini bukan remake soalnya. Wkwk

 

Euhmm.. Buat Treat Me Gentle Ver.. Saya masih galau siapa yang harus saya buat remakenya. Wkwk. Bagian ini juga keinspirasi brief pantsu nemu. Wkwk. Iya gue emang nista bin kampret.

Udah ah bacotnya. Jangan lupa Review loh biar aku semangat!! Jangan jadi siders mulu dong qaqa. Nanti ga aku kasih scene ena-ena loh. Wkwk. Kalau reviewnya lebih banyak dari yang kemaren biasanya aku update cepet karena semangat. Wkwk.

 

So, Mind To Review?

 

Astia Morichan ^^

Jealous | Meanie Couple| OS

0

Teenage. Ehm T+ maybe?

Romance

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

One Shot

a/n: hanya khayalan nista saya yang bekerja mengerjakan cerita ini. udah pasti ooc. Yaoi pula. Ga suka? Back off dude! Saya udah warning yah!

EnJOY!

.

oOo

.

Jeon Wonwoo mengerucutkan bibirnya kesal sekarang. Jemarinya bergerak menekan scroll layar di i-phone berwarna hitam yang sejak tadi menunjukan sebuah berita di akun twitter miliknya. Begitupun dengan instagramnya. Well, Wonwoo memang sedang tidak ada kerjaan karena hari ini ia harus berbaring di ranjang rumah sakit selama beberapa hari ke depan karena gastritis miliknya, padahal Wonwoo mengira ia hanya mengalami maag biasa. Tapi setelah ia memeriksa keadaannya malam itu, dan Mingyu yang dengan panik membawanya ke rumah sakit, Wonwoo tahu bahwa ia memiliki penyakit gastritis. Bukan maag yang selama ini ia asumsikan sebagai penyakitnya. Akibat hal itu, Wonwoo sudah berada di rumah sakit selama lima hari- hampir seminggu. Wonwoo juga tidak bisa mengikuti acara promosi album, dan semua jadwal yang sudah managernya siapkan akibat penyakitnya itu. Ia juga tidak bisa melihat Mingyu setiap hari. Mingyu hanya datang saat malam saja. Itu pun jika ia sempat. Akibatnya, Wonwoo merasa kesepian. Jeonghan Hyung yang biasanya selalu ada untuknya juga nampak sibuk seperti yang lainnya.

“Apa-apaan ini?” Mata Wonwoo membulat tak percaya saat ia melihat layar i-phonenya yang melihatkan foto Mingyu yang menari bersama sexy dance yeoja bertubuh sexy. Mingyu bahkan memeluk yeoja sialan itu ! Wonwoo memang tidak bisa datang ke acara Mbc kemarin malam karena ia masih harus istirahat. Dan Wonwoo juga tidak tahu dengan adegan yang akan Mingyu tampilkan tentang ini. Mingyu sama sekali tidak memberitahunya! Pantas saja Mingyu tidak menjenguknya kemarin malam. Mingyu pasti sibuk meladeni para yeoja sialan itu. Ayolah siapa yang tidak akan tertarik pada Mingyu? Mingyu itu sempurna!

“Sial!” Wonwoo menggerutu pelan. Tangannya bergerak untuk menyimpan i-phonenya di nakas. Wonwoo tidak ingin melihat timeline twitter, instagram, dan juga weibo yang sekarang memanas dengan topik Mingyu bersama sexy dance. Well, walaupun Wonwoo akui tidak hanya Mingyu saja yang menari dengan beberapa sexy dancer yeoja. Tapi tetap saja Wonwoo kesal setengah mati, karena Mingyu sama sekali tidak memberitahunya tentang ini. Well. Memikirkannya saja membuat kepala Wonwoo malah berdenyut sakit. Lebih baik Wonwoo kembali tertidur dan melupakan apa yang ia lihat hari ini. Semoga saja ketika ia bangun, Wonwoo bisa melupakan berita yang ia baca barusan, dan melihat Mingyu sudah ada di depannya.

.

oOo

.

Wonwoo mengerjapkan mata perlahan saat ia merasakan jemarinya di genggam dan di elus dengan lembut. Wonwoo tentu kenal dengan sentuhan hangat ini. Matanya mengerjap lucu, saat mencoba memfokuskan retinanya pada sosok yang ada di depannya. Saat ini, Wonwoo bisa melihat sosok Mingyu yang hanya mengenakan kaos polos putih dan juga celana jeans levis—duduk di samping ranjangnya. Manik obisidian hitam kelam milik Mingyu menatap Wonwoo dengan lembut.

“Apa aku membangunkanmu, Hyung?” Suara bariton Mingyu kembali membuat Wonwoo mengerjap dan sadar dengan keberadaan sosok Mingyu yang ada di depannya itu nyata. Bukanlah sebuah delusi yang Wonwoo impikan saat ia akan tidur tadi.

“Perutmu masih sakit?” Kali ini suara akan kekhawatiran terdengar jelas di telinga Wonwoo. Tatapan khawatir masih tercetak jelas di wajah tampan Mingyu. Membuat Wonwoo mendecih pelan saat melihatnya. Kenapa Mingyu malah terlihat peduli sekarang? Bukankah seharusnya Mingyu lebih peduli pada yeoja-yeoja sialan itu? Shit! Wonwoo tidak peduli jika ia berpikiran childish seperti sekarang. Wonwoo hanya tahu jika ia kesal karena Mingyu!

“Urus saja yeoja yang kemarin malam kau peluk. Tidak usah memperdulikanku.” Wonwoo membalikkan tubuhnya. Memunggungi Mingyu yang sekarang mengangkat kedua alisnya heran. Seakan tidak mengerti apa yang sedang Wonwoo bicarakan.

“Apa maksudmu, Hyung?”

” Bisakah kau pulang? Aku ingin sendiri. Seungcheol Hyung juga pasti sedang mencarimu.” Nada bicara Wonwoo sangat datar, dan terkesan dingin. Mingyu tentu sangat tahu jika kekasihnya ini sedang merajuk dan kesal padanya. Tapi Mingyu tidak merasa ia mempunyai salah apapun.

“Jangan mengalihkan topik, Hyung. kau marah padaku?” Mingyu kembali bertanya. Tangannya bergerak untuk menyentuh bahu Wonwoo agar pemuda itu berbalik ke arahnya. Tapi Wonwoo tetap saja bergeming di tempatnya. Tidak ingin melihat wajah Mingyu, dan berbalik menatapnya.

“Apa salahku Hyung?” Mingyu mengacak surai coklatnya frustasi. Ia benar-benar tidak tahu apa yang membuat Wonwoo marah seperti ini. Mingyu pikir ia akan di berikan senyuman hangat penuh kerinduan dari Wonwoo saat melihatnya. Padahal Mingyu sudah menyempatkan datang tengah malam ke rumah sakit hanya untuk melihat wajah Wonwoo. Mingyu juga mengabaikan perintah Seungcheol Hyung karena ingin segera bertemu dengan Wonwoo malam ini juga. Mingyu merindukannya. Tapi sekarang apa yang ia dapat? Wonwoo bahkan mengusirnya.

“Apa kau sama sekali tidak sadar dengan apa yang kau lakukan kemarin, Gyu?!” Wonwoo berteriak kesal sambil berbalik ke arah Mingyu yang sekarang masih memasang raut wajah tidak mengerti.

“Lupakan.” Wonwoo menghela napasnya pelan. Sebelum akhirnya mulai duduk di ranjang, dan menatap Mingyu dengan datar. “Pulanglah, aku tidak ingin melihatmu sekarang.”

“Kau marah padaku?”

“Tidak.”

“Kau marah Hyung! apa salahku?” Mingyu bisa melihat Wonwoo mendecih pelan. Sebelum memberinya tatapan kesal.

“Aku ingin tidur. Jangan mengganguku!”

“Hey.. Hyung..” Mingyu mendekat ke arah Wonwoo. Kali ini ia duduk di atas ranjang, dengan Wonwoo yang masih diam bergeming di tempat. Tidak ingin menatap dirinya yang sekarang terlihat frustasi karena Wonwoo marah.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau tak marah lagi?” Mingyu bertanya dengan lembut. Tangannya bergerak untuk menyentuh pipi Wonwoo. Tapi sayangnya, sebelum ia sempat menyentuhnya, Wonwoo segera menepis tangan Mingyu menjauh.

“Pulanglah. Aku kesal melihatmu!” Wonwoo mulai berteriak kencang. Tangannya bergerak untuk mendorong tubuh Mingyu menjauh. Tapi tentu saja Mingyu sama sekali tidak menjauh. Mingyu masih diam di tempatnya, walaupun tangan Wonwoo memukul dadanya dengan lemah.

“Aku merindukanmu, Hyung.” Bisikan lirih Mingyu hadiahkan, sebelum akhirnya menarik Wonwoo ke dalam pelukannya. Mencium wangi menenangkan yang menguar dari tubuh Wonwoo. Wangi Wonwoo memang memabukkan, dan selalu membuat Mingyu tenang saat menghirup aroma Wonwoo.

“Lepaskan aku.” Wonwoo menggeram tak suka, sambil mencoba melepaskan pelukannya pada Mingyu.

“Katakan apa salahku.” Pelukan Mingyu semakin erat. Ia mulai menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Wonwoo, dan memberikan kecupan kecil di sana.

“Kau bertanya apa salahmu, Kim Mingyu?! Are you fucking insane, eoh? Lepakan aku! A-ah..” Ucpan Wonwoo terhenti saat Mingyu menghisap pelan lehernya. Lidah Mingyu bergerak sensual menjilat lekukan leher Wonwoo. Sial! Mingyu memang selalu tahu titik kelemahannya.

“Katakan, Hyung. aku tidak ingin kau marah padaku.” Mingyu kembali mencium leher Wonwoo. Memberikan beberapa tanda kepemilikannya yang kontras.

“Kau dan juga sexy dancer sialan itu membuatku kesal!” Wonwoo memalingkan wajahnya. Enggan menatap wajah Mingyu yang sekarang membulatkan mulutnya, dengan mata mengerjap. Seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.

“Kau melihatnya?” Dan Wonwoo kembali menggeram mendengar pertanyaan Mingyu. Kenapa Mingyu sama sekali tidak merasa bersalah padanya?

“Tentu saja. Dan sekarang lepaskan aku!” Wonwoo kembali mencoba mendorong tubuh Mingyu. Tapi yang ia dapat sekarang malah pelukan Mingyu yang semakin erat di pinggangnya. Wonwoo juga bisa mendengar kekehan yang Mingyu keluarkan. Dan itu benar-benar membuatnya kesal!

“Kau cemburu.” Pernyataan yang di keluarkan dari mulut Mingyu membuat Wonwoo mengerjapkan matanya. Cemburu? Apa Wonwoo benar-benar cemburu?

No. I’m not! Aku tidak cemburu!” Wonwoo kembali menegaskan bahwa ia memang tidak cemburu. Untuk apa ia cemburu? Wonwoo itu hanya kesal karena Mingyu sama sekali tidak memberitahunya tentang sexy dancer itu.

Yes, you are. Kau cemburu, Hyung.” kekehan Mingyu kembali terdengar nyaring. Dan itu membuat Wonwoo kesal.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi, hemm?” Mingyu melonggaran pelukannya. Tangannya bergerak untuk menarik dagu Wonwoo sehingga pemuda itu mengadah ke arahnya. Memberikan tatapan kesal yang membuat Mingyu semakin cinta pada pemuda yang ada di pelukannya ini.

“Jangan pernah lagi melakukan itu. Kau mengerti?” Wajah Wonwoo bersemu merah saat mengetakan. Oh. Sekarang Wonwoo sudah tidak peduli jika ia di cap terlalu over oleh Mingyu. Wonwoo hanya tidak ingin melihat Mingyu- miliknya di sentuh oleh orang lain.

“Aku tahu. Maafkan aku. Aku juga tidak tahu jika ada sexy dancer saat itu. Aku janji tidak akan menyentuh siapapun kecuali kau, Hyung.” Mingyu mengelus pipi Wonwoo dengan lembut.

“Kau benar-benar menggemaskan saat cemburu seperti ini.”

“Ya! Kim Mingyu! Aku sama sekali tidak cemb-” Dan ucapan Wonwoo terhenti begitu saja saat Mingyu membungkamnya dengan ciuman hangatnya. Ciuman memabukkan yang selalu membuat Wonwoo melayang. Ah.. untung saja ini sudah malam, dan tidak akan ada perawat atau dokter yang masuk ke dalam kamarnya. Mereka bisa berbagi erangan dan desahan di kamar rawat ini, tanpa ada yang tahu tentu saja.

FIN

Oke saya tau ini gaje. Saya kezel liat Gyu di sentuh2 sama bitch jelata yang di mcb kemaren. Triple disgusting gitu yah. Mentang2 Wonie ga ada jadi Gyu bisa nakal. Oh ga bisa dahling. Kamu Cuma bisa di sentuh sama Wonie aja! Well, well saya tahu Baek Jiyoung yah namanya. well whatever lah yah. Yang jelas saya potek. Masbayu gitu? Masalah buat yu kalo saya nulis gini? Bukan bermaksud menjelekkan Jiyoung. tbh ini cuma fict loh dude! saya tidak pernah menyuruh kalian untuk suka dengan apa yang saya tulis. ga suka? back off! saya warning di awal kan?

Bedeway treat me gentle masih vote yak. Wkwk.

Mind to Review?

astia morichan

Rendezvous | KyuMin | OS

0

Ini hanyalah khayalan saya mengenai KyuMin. Kalau imajinasi kita tak sama tentag KyuMin tolong menjauh saja :’) sekalian curhat boleh kali yah chingudeul. Para JOYers,, apa kalian merindukan KyuMin sama seperti saya yang merindukan mereka. Jujur, hati saya masih berharap jika KyuMin masih bersama. Ada sesuatu dari KyuMin yang belum selesai sampai saya rela menunggu apa yang akan terjadi ke depan. Ada beberapa alasan KyuHyun juga yang membuat saya tetap teguh jadi Joyers. Jadi inilah khayalan saya. Apa kalian masih menjadi Joy dan berharap seperti saya?

enJOY!

Cinta itu konyol. Kyuhyun sangat mengakui hal itu. Karena ia rela menjadi orang idiot dan tersakiti hanya untuk seorang Lee Sungmin- namja yang ia cintai sampai kapanpun.

Begitu pula dengan Sungmin. Sungmin tidak bisa melepaskan sosok Cho Kyuhyun yang sudah menghiasi kehidupannya selama hampir delapan tahun bersama. Ia mencintai Kyuhyun. Sungmin membutuhkan Kyuhyun selayaknya ia membutuhkan oksigen.

.

.

.

Lee Sungmin menatap tajam pria bersurai coklat yang sekarang membuka pintu kamar hotel miliknya- yang beberapa jam lalu ia pesan. Rendezvous again. Well, Sungmin sudah tidak peduli tentang hal itu. Sungmin hanya peduli tentang Cho Kyuhyun yang sekarang mengangkat sebelah alisnya, sambil melepaskan topi yang sejak tadi ia pakai. Kyuhyun hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut tubuh bidangnya. Sungmin yakin, jika Kyuhyun sengaja memakai kaos putih itu untuk menggoda beberapa gadis. Sial! memikirkannya saja membuat Sungmin kesal setengah mati.

“Waeyo, Hyung? Kau menatapku seperti aku ini adalah seorang penjahat.” Kyuhyun tersenyum asimetris sebelum melangkahkan kakinya ke arah Sungmin yang masih berdiri dengan tatapan sangar di depannya. Sungmin bisa melihat Kyuhyun tersenyum tanpa rasa bersalah ke arahnya. Pria itu masih menyunggingkan senyum menggoda dan juga tatapan lembut yang masih mengarah ke arahnya.

“Kenapa kau ingin bertemu denganku? Apa kau kabur dalam pelatihan negara, Hyung? Kau nakal sekali.” Kyuhyun terkekeh pelan. Tangannya terulur untuk menarik Sungmin masuk ke dalam pelukannya. Ah- ia benar-benar merindukan sosok Sungmin. Sudah satu bulan mereka tidak bertemu. Jika bisa, Kyuhyun ingin mengurung Sungmin di dalam kamar pribadinya.

Kyuhyun membenamkan kepalanya pada ceruk leher Sungmin. Menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang menguar dari tubuh namja itu. Ah, wangi Sungmin memang memabukkan. Kyuhyun tidak akan bosan dengan wangi tubuh Sungmin. Hanya mencium wangi tubuh Sungmin saja sudah bisa membuat perasaan Kyuhyun tenang dengan sekejap.

“Uh… Kau tidak merindukanku, Kyu!” Sungmin mencoba mendorong tubuh Kyuhyun. Tapi sayangnya, usaha miliknya sangat sia-sia. Kyuhyun malah mencengkram pinggang Sungmin dengan erat, sehingga ia sama sekali tidak bisa bergerak beberapa menit. Sebelum akhirnya, Kyuhyun mulai membuka mulutnya.

“Kau marah padaku, Hyung?” Kyuhyun melepas pelukan mereka. Ia bisa melihat Sungmin mengerucutkan bibirnya, dan juga manik foxy milik Sungmin mulai berlinang air mata. Tubuh Sungmin bahkan mulai bergetar pelan saat tangannya memukul pelan dada Kyuhyun.

“Hiks… K-kau jahat, K-kyu.. Hikss..” Tangis Sungmin yang terisak membuat Kyuhyun mengernyitkan alisnya. Ia bingung. Kyuhyun tidak mengerti apa yang sudah ia perbuat sehingga Sungmin menangis seperti sekarang. Seingat Kyuhyun, ia sama sekali tidak membuat suatu kesalahan yang membuat Sungmin sakit hati.

“H-hey, Hyung? Apa yang telah aku lakukan, eoh?” Kyuhyun menangkup kedua pipi Sungmin, dan mulai mengusapnya dengan pelan. Mempertemukan manik obisidan miliknya, dengan manik foxy Sungmin. Obisidian itu menatap Sungmin dengan lembut. Seolah mengatakan bahwa Kyuhyun tidak akan pernah meninggalkannya.

“K-kau mencium gadis itu!” Sungmin berteriak tak suka sambil memukul dada bidang Kyuhyun lagi. Sementara Kyuhyun hanya mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Hey! Kyuhyun tidak mencium seorang gadis hari ini. Ia juga tidak mempunyai seorang selingkuhan wanita.

“Aku tidak mencium siapapun, Hyung.” Kyuhyun kembali mengelus pipi Sungmin, dan mencoba membuat namja itu tenang. Kyuhyun tahu jika saat ini perasaan Sungmin sedang tidak bagus.

“Aku melihat kau mencium gadis yang ada di drama itu! Kau mencium dan memeluknya! Saat aku makan di kedai soju bersama yang lain, drama itu muncul dan memperlihatkan bagaimana kau berakting Cho! Aku membencinya saat kau memperlakukannya dengan lembut seperti itu! Maka dari itu aku mengajakmu bertemu.” Luapan emosi dari Sungmin membuat Kyuhyun terkekeh pelan saat mendengarnya. Drama yah? Kyuhyun baru ingat jika dramanya tayang musim semi tahun ini. Padahal, ia sudah melakukan syuting untuk drama berdurasi dua belas menit itu tahun lalu. Dan sepertinya ia juga sudah memberitahu Sungmin jika ia akan bermain dalam sebuah drama picisan dan melakukan beberapa adegan- yang Kyuhyun yakin membuat Sungmin marah seperti ini. Ah, Sungmin benar-benar egois.

“Kau tahu? Saat aku menciumnya seperti ini..” Kyuhyun mendekatkan bibirnya pada Sungmin, dan mulai mengecup singkat bibir plum namja itu dengan lembut.

“Aku memikirkanmu, Lee Sungmin. Dan saat aku memeluknya seperti ini..” Kyuhyun membawa Sungmin dalam pelukan hangatnya. Membuat tubuh Sungmin tenang dan tidak kembali bergetar karena isak tangisnya.

“Aku hanya memikirkan Lee Sungmin, seorang yang sekarang sudah di miliki oleh orang lain. Bukankah kau egois, Hyung?” Kyuhyun terkekeh sambil mengecup pucuk kepala Sungmin pelan. Ia bisa merasakan Sungmin mengeratkan pelukan mereka.

“Kau yang jahat, Hyung. Bukan aku. Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku saat melihatmu dua tahun lalu bersanding di pelaminan dengan orang lain? Saat itu, duniaku sudah hancur Hyung. Ah, Andwae. Duniaku hancur saat kau memutuskan untuk memilihnya, dan tetap bersamaku di belakangnya.” Kyuhyun terkekeh lagi. Membuat Sungmin menegang saat mendengar ucapan Kyuhyun. Sungmin akui, ia memang jahat pada Kyuhyun. Kyuhyun terlalu baik padanya sampai ia rela terluka untuk Sungmin. Sungmin merasa seperti orang jahat karena membuat Kyuhyun menderita seperti sekarang. Jika bisa, Sungmin ingin memilih untuk bersama Kyuhyun selamanya.

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah..”Suara Sungmin bergetar hebat. Tangan Sungmin mencengkram erat kaos yang Kyuhyun kenakan. Bahu namja itu kembali bergetar karena menahan isak tangisnya.

“Jika bisa, aku tidak ingin jatuh cinta padamu, Hyung. Tapi sayangnya, kau membuat duniaku berwarna dengan cinta saat kita bersama. Tapi saat kau memutuskan untuk bersama wanita itu, duniaku hancur. Aku masih belum siap untuk jatuh saat kau menghempaskanku dari ketinggian yang tidak mungkin aku gapai.”

“Kyuhyun-ah…” Sungmin mengadahkan kepalanya. Menatap manik obsidian Kyuhyun dengan tatapan sayunya. Sungmin benar-benar merasa bersalah pada Kyuhyun. Ia adalah orang yang paling jahat di dunia ini, karena menyakiti Kyuhyun yang sangat mencintainya.

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Sampai rasanya, cinta ini menjadi sangat menyakitkan. Aku tahu, aku adalah orang yang paling egois karena mencintaimu seperti ini. Tapi jika kau ingin kita berhenti, aku siap Kyu. Aku juga ingin kau bahagia.” Sungmin mengelus pipi Kyuhyun dengan perlahan, sebelum mengecup pipi Kyuhyun lama dan meresapinya agar bisa selalu Sungmin ingat sampai kapanpun.

“Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Aku mencintaimu, Ming. Aku masih bisa menahan rasa sakit ini.” Kyuhyun kembali memeluk Sungmin dengan erat. Ia benar-benar merindukan Sungmin yang menjadi kekasihnya malam ini. bukan Sungmin yang menjadi Hyungnya, atau Sungmin yang menjadi rekan kerjanya, atau juga Sungmin yang menjadi suami dari istri orang. Kyuhyun merindukan Sungmin kekasihnya yang akan selalu menjadi miliknya sampai kapanpun.

“Jika kau menemukan seseorang yang lebih baik dari ku, kau harus bersamanya. Arraseo?” Kyuhyun bisa mendengar nada tidak rela yang Sungmin keluarkan. Mereka sudah sepakat tentang hal ini. walaupun pada awalnya Kyuhyun tidak setuju dan menolak mentah-mentah keinginan Sungmin tentang hal ini saat itu. Tapi sekarang, Sungmin harus mencoba merelakan segalanya jika ia tidak ingin Kyuhyun tersakiti.

“Aku tahu, Ming. Aku mencintaimu sampai kapan pun.”

“Aku tahu. Maafkan aku, Kyu. Aku juga sangat mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Dan setelahnya, Kyuhyun membawa Sungmin ke dalam ciuman panjangnya. Mungkin akan ada saatnya mereka bisa bersama kembali. Tuhan hanya belum membuat semuanya sempurna bagi Kyuhyun dan Sungmin. Mereka tidak salah. Mereka tidak pantas di hujat. Cinta mereka itu murni. Hanya saja, salahkan Cupid yang salah memanahkan panah pada mereka, karena mereka sesama lelaki. Ini adalah salah Cupid. Bukan kesalahan Kyuhyun dan Sungmin sehingga mereka jatuh cinta.

FIN

YAH SAYA MEMANG GALAU TENTANG KYUMIN!
MASBAYU? MASALAH BUAT YU? WKWK
KYUMIN OH KYUMIN
KENAPA OH KENAPA KALIAN TIDAK BERSATU LAYAKNYA BAOZI DAN HANA?! WHY? WHY?

Love Is Blind, Right? | KyuMin | OS

0

Ini hanyalah khayalan saya tentang KyuMin. Awalnya sih, cuman niat flashback. Liat-liat video ttng KyuMin. Eh, malah jadinya baper ;'( dan akhirnya terciptalah khayalan seperti ini. Hikss.. Kyuhyun-ah, aku hanya ingin kau bahagia. Cukup. Itu saja. Tidak lebih.

.

oOo

.

Bukankah cinta itu buta? Walaupun di sakiti olehnya berulang-ulang. Tanganku selalu terbuka lebar untuknya. Seberapa egois dirinya, aku akan selalu berada di sampingnya. Bodoh dan konyol kan? Tentu saja. Karena cinta itu sangat konyol dan tidak masuk akal.’

.

oOo

.

Di kamar bernuansa pink itu, nampak kedua namja tengah berhadapan. Satu namja berkulit pucat yang menatap namja yang lebih pendek dengannya.

“Aku ingin bercerai dengannya, Kyuhyun-ah,” manik foxynya menatap yakin Kyuhyun yang sekarang menautkan kedua alisnya bingung. Tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Hyung kesayangannya itu. Tapi ada secercah harapan di hatinya agar bisa memiliki lagi laki-laki itu.

“Aku lelah. A-aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu…” lanjutnya dengan bibir bergetar. Isakan lirih yang keluar dari mulutnya terdengar jelas oleh Kyuhyun. “A-aku mohon bawa aku pergi.” Sungmin menarik lengan Kyuhyun. Memeluk lengan namja berkulit pucat itu dengan erat.

“Min,” Suara bariton penuh kerinduan itu mengalun indah di telinga Sungmin.
“Kau tahu? Cintaku padamu sudah terlalu besar. ” Sungmin mendongak, bibirnya masih bergetar.

“Kau memiliki tanggung jawab, Hyung-ah.” Jujur. Ingin rasanya Kyuhyun membekap mulutnya dan mengatakan bahwa sebenarnya Ia ingin Sungmin menjadi miliknya lagi. Tapi Kyuhyun tahu, itu semua tidak mungkin bisa terjadi.

“Pulanglah Min.”

“A-apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Kyuhyun-ah?”

“Bukankah kau tahu aku sangat mencintai dirimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri?”

“Kalau begitu bawa aku pergi. Miliki aku lagi, Kyu.” Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Membuat Kyuhyun mencelos. Ia tidak ingin membuat Sungmin menangis lagi. Ia hanya ingin kebahagian untuk Hyungnya itu. Kyuhyun hanya tidak ingin Sungmin di hujat oleh seluruh dunia hanya karena dirinya. Tidak. Kyuhyun tidak ingin semua itu terjadi.

“Aku hanya ingin kau bahagia, Min.” Kyuhyun menangkup kedua pipi Sungmin. Menghapus air matanya, sebelum mengelus pelan pipi chubbynya dengan lembut. Sentuhan Kyuhyun selalu membuatnya tenang. Sungmin menyukai semuanya tentang Kyuhyun. Sungmin tahu Ia egois, karena selalu menyakiti Kyuhyun yang sangat mencintainya. Tapi itu tidak lebih karena Sungmin mencintai namja berkulit pucat itu.

“Bawa aku pergi. Hiks… Kyu… A-aku hanya ingin dirimu.. Hiks… M-maafkan a-aku… Hiks… ” Tangis Sungmin pecah seketika. Suaranya bergetar hebat. Nafasnya tersendat, karena kesulikan menghirup oksigen. Sungmin tidak peduli, yang penting Ia ingin menangis sekarang agar perasaan menyesalnya hilang begitu saja.

Melihat Sungmin yang tampak kacau, Kyuhyun membawa Sungmin dalam dekapannya. Mengelus punggungnya dengan lembut. Berharap tangisan dari namja pemilik foxy eyes itu akan berhenti di ikuti dengan kesedihan dan penderitaannya yang menghilang.

“Aku tahu, Min. Tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja.” Sungmin menganguk pelan dalam pelukan Kyuhyun.

“B-berjanjilah padaku, jika kau akan membawaku p-pergi.” Suaranya masih bergetar. Sungmin semakin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun.

“Hn. Aku berjanji padamu Cho Sungmin.”

.

.

Setelah kejadian dimana Sungmin menangis meraung-raung di kamar mereka yang ada di dorm. Sungmin memutuskan untuk berhenti dari wajib militer yang Ia jalani selama satu tahun itu. Padahal tinggal satu tahun lagi abdinya pada negara selesai. Tapi Sungmin berhenti dengan bukti dan alasan yang cukup kuat agar pemerintah bisa menghentikan wajib militernya. Dan itu berhasil. Setelah itu, Sungmin memutuskan untuk segera menyelesaikan proses perceraiannya dengan Saeun. Awalnya istrinya itu menolak mentah-mentah. Dengan alasan bahwa Ia sangat mencintai Sungmin. Tapi akhirnya istrinya itu harus menelan pil pahit bernama kekecewaan karena Sungmin mengaku bahwa dirinya menyimpang. Sakit. Itulah yang wanita itu rasakan. Walaupun dengan enggan, Saeun memutuskan untuk menyetujui perceraian mereka.

Disinilah Sungmin berada sekarang, setelah menyelesaikan semua persoalannya. Sungmin memakai mantel tebal berwarna coklat. Wajahnya di tutupi oleh masker berwarna hitam. Tak lupa juga sebuah topi coklat yang menutupi wajahnya agar tak terlihat oleh netizen yang berada di Bandara Incheon. Kyuhyun pun sama. Pria berkulit pucat itu juga menyamarkan dirinya. Tangan kekarnya menggenggam jemari Sungmin erat. Menariknya lembut ke dalam pintu pesawat. Mereka duduk di ruangan vip di pesawat itu. Tujuan mereka adalah Belanda.

“Apa kau tidak akan menyesal, Min?” Suara bariton milik Kyuhyun membuatnya mendongak. Manik foxynya kini menatap obsidian kelam milik Kyuhyun. Lalu sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tulus. Tangan Sungmin bergerak pelan menangkup pipi Kyuhyun. Dan mengusapnya lembut.

“Kau tahu?” Matanya memicing ke arah Kyuhyun. Setelahnya Sungmin terkekeh pelan. “Penyesalanku itu hanya satu Kyuhyun-ah. Saat aku memutuskan untuk meninggalkanmu.”

Kyuhyun terdiam. Menunggu Sungmin untuk menumpahkan segala perasaannya.

“Terimakasih atas semua cinta yang kau berikan padaku. Terimakasih karna kau selalu mencintaiku yang egois ini. Terimakasih Kyuhyun-ah.” Setelahnya, Sungmin mendaratkan ciuman lembut di bibir Kyuhyun. Ciuman penuh cinta yang di balas dengan tekanan lembut dari Cho Kyuhyun.

“Aku lebih mencintaimu Ming.” Bisik Kyuhyun di sela-sela ciumannya.

.

oOo

.

Tamat! Banzaii! Tamatt. Hahaha. Nyeseekk… krikk… sakit, kalau inget mereka. Iya gak JOY? Adakah yang masih merindukan mereka sekarang? yah, Kyuhyun dan Sungmin. mungkin mereka mencintai dalam hati :’) hiksss…

Ketika Saya Jatuh Cinta dan Jatuh Sakit karena KyuMin. Adakah yang mengalami hal sama?

0

Saya mau curhat. Adakah Joyer yang lihat post-an saya? Jika ada. Mari berbagi kesedihan bersama.

 

Saat pertama kali saya suka Suju. Bias saya itu kyuhyun. dulu saya itu adalah makhluk paling polos. Capkan itu. Saya poloz pake z. Wkwk . karena saya cinta Kyuhyun. akhirnya temen gue yang kampret ngasih satu asupan ff berjudul” Banana Milk. NC-21”

 

Dia bilang gini.

“Astia kamu suka Kyuhyun kan? Mending kamu baca FF aja. Kamu kan suka liat Kyuhyun barengan sama Sungmin. mending kamu baca aja FF KyuMin. Yang NC pasti seru. Di jamin suka. Kalo aku sukanya baca NC HaeHyuk sama Kiseob.”

 

“NC itu apa?”

 

“Cari tahu sendiri say. “ Karena saat itu saya hanyalah bocah smp yang polos. Jadi gue iyain aja dan mencari lah FF NC. Gue masuk ke grup Kyumin wine. Dan baca archive FF di sana.

Gue dari awal emang suka liat Kyumin barengan gitu. Gimana gitu yah. Greget. Padahal saat itu gue bukan fujo

 

Terus gue baca tuh FF Banana Milk. Gue lupa itu ff siapa. Yang jelas, FF itu sangat hot. Sampe saya keringet dingin. Saya juga ga tahu adegan yang ada di nc 21 sampe harus ngulang biar paham. Wkwk

Dari situlah kenistaan saya dimulai. Saya mulai suka baca ff kyumin dari yang slow sampe hardcore. Sampe jadi fujo edan. Sampe anime, live action bl, gue tonton. Kecuali bokep gay gue ga berani. Geli.

 

Gue jujur aja nih. Pernah gue liat bokep gay di hp temen gue yang emang yaoi. Dia suruh gue nonton bokep gay polisi gitu yang dramanya najong. Dan gue geli teramat sangat. Padahal gue suka bikin hardcore fict sama baca mangahardcore. Tapi kali soall yang real hardcore gue ga kuat. Wkwk

 

Oke lanjutkan. Akhirnya dari 2011 lah gue cinta banget kyumin. Semuanya kyumin. Donlotin video kyumin. Semuanya pokoknya. Gambar, dan lain2. Bikin ff hardcore kyumin. Eh ff my pervert evil juga itu ff pertama saya loh. Mungkin nanti bakal saya edit. Karena ff itu amburadull banget.

 

Setelah itu.. empat tahun kemudian. Dimana gue kelas dua Sma kemaren. Gue jatuh sakit karena otp gue tercinta ini. sakit banget…. gue miris.. seakan ga percaya.

“Shit! Sungmin must be kidding me!”

 

Dia mutusin married. Kawin sama biatch. Bukan sama kyuhyun-nya. Sedih tauu. Gue galau gulana dari notice itu sampe akhirnya kyuhyun solo album dan pas tgl 13-12-2014 kyuhyun ga lakuin apa-apa. Sedih gue sedih..

 

Tapi yang jadi intinya itu kenapa pas nikahan sungmin kyuhyun jadi orang terakhir yang dateng? Gue ga ngerti. Pas tanggal itu, Kyuhyun masih ada di sbs promoin albumnya. Sedangkan member lain dateng ke nikahannya ming.

 

Dan kalian liat ekspresi miris kyuhyun hari itu? Pas nyanyi at gwanghwangmun kyuhyun kayak mau nangis beneran. Ekspresi sedihnya masih keliatan.

 

Dan yang masih ganjal itu. Kita tahu. Kyumin itu deket. Mereka itu roomate udah lama banget. Tapi kenapa pas di hari pernting sungmin nikah, Kyuhyun ga ada? Malah dateng dan mentingin yang lain?

Itu paling ngeganjel di hati saya. Padahal keluarga kyumin itu udah deket banget. Tapi kenapa? Ada yang salah. Ada yang masih tersembunyi…

 

Si biatch saeun juga seakan mencoba menegaskan kalo kyu gakan bisa rebut ming lagi.

 

Ada yang sependapat sama gue?