I Want To Be A Straight, But | Meanie FF | Chap 3|

Pemuda bersurai hitam berjalan menaiki tangga dengan gusar. Choi Seungcheol sudah mendapat izin dari Ren untuk segera menemui Jeonghan yang sejak tadi tidak mau keluar kamarnya. Jujur saja, ia sangat khawatir pada Jeonghan. Tidak biasanya sahabat kecilnya itu merajuk seperti ini. Padahal Seungcheol sudah menjelaskan semuanya. Tapi sepertinya Jeonghan tidak akan pernah mengerti. Semua ini ia lakukan untuk kebahagian Jeonghan. Ia rela melepaskan semuanya hanya untuk sahabatnya itu.

 

Ketukan pintu mulai terdengar dengan keras. Seungcheol mengetuknya dengan tidak sabaran, sambil memanggil nama Jeonghan beberapa kali. Berharap pemuda itu segera membuka pintu, dan membiarkannya memohon untuk kesekian kali.

 

“Jeonghan, aku tahu kau mendengarku. Buka pintunya, atau ku dobrak dengan paksa.” Suara Seungcheol terkesan dingin. Tidak ingin di bantah. Dan Jeonghan yang berada di dalam tahu jika sahabatnya itu tengah menahan amarah. Jika bisa, Jeonghan ingin menghilang saja dan tidak bertemu dengan Seungcheol hari ini. Tapi sepertinya, ia memang tidak punya pilihan selain membuka pintu kamarnya.

 

Suara deritan pintu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar itu. Seungcheol dapat melihat sosok Jeonghan yang hanya mengenakan boxer pendek beserta kaos putih polos yang membalut tubuhnya. Rambut pemuda itu terlihat acak-acakan. Matanya memerah dengan sempurna. Jeonghan yang biasanya mementingkan penampilannya kini nampak kacau.

 

“Jika kau ingin meminta izinku untuk pergi ke Tokyo, maka pergi dari sini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau pergi tanpa seizinku!” Suara Jeonghan terdengar bergetar saat berteriak pada Seungcheol. Matanya menatap Seungcheol tajam. Tapi tatapan itu malah membuat Seungcheol terkekeh saat melihatnya.

Seungcheol mulai berjalan maju, dan membuat Jeonghan memundurkan tubuhnya kebelakang secara refleks. Hingga Seungcheol bisa masuk ke dalam kamar sahabatnya itu.

Pintu kamar tertutup dengan sendirinya. Membuat Jeonghan harus menelan salivanya dalam. Ia tidak mungkin tahan jika Seungcheol berada di kamarnya saat mereka bertengkar seperti ini. Jeonghan pasti akan menahan Seungcheol untuk pergi dan memeluknya dengan erat di ranjang miliknya seperti biasa. Sial! Seungcheol selalu tahu kelemahannya.

 

“Aku pergi ke Tokyo untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara hubunganmu dengan pacar-pacarmu, Jeonghan.”

 

“Dan kau takut jika mereka selalu menyalahkanmu?” Jeonghan menaikkan suaranya. Matanya memicing. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Seungcheol. Kenapa pula Seungcheol harus pergi jauh darinya karena itu? Jeonghan memang tahu jika semua pria yang pernah menjadi pacarnya, selalu menyalahkan kedekatan hubungannya dengan Seungcheol. Meminta ia menjauh dari sahabatnya itu. Dan yah, Jeonghan menolak mentah-mentah. Lalu ia akan putus dengan pacarnya, dan kembali kepada Seungcheol yang selalu memeluknya dengan erat.

 

“Kau tidak pernah menjadi pengganggu, Cheolie! For God’s sake! Kau pikir dengan meninggalkanku aku akan baik-baik saja, eoh? Saat aku putus dengan pacarku nanti, siapa yang bisa aku peluk selain kau, huh?” Jeonghan mendelik tak suka ke arah Seungcheol yang sekarang terdiam di depannya. Ia mulai berani mendekat ke arah Seungcheol. Hingga Jeonghan sudah berada tepat di depan pria itu.

 

“Kau tahu? Aku baru saja putus dengan Minhyuk.” Seungcheol masih terdiam. Matanya masih menatap Jeonghan dengan intens, saat melihat pemuda bersurai coklat itu semakin mendekat ke arahnya. Kemudian memeluknya dengan erat. Pelukan yang seolah mengatakan jika Seungcheol tidak boleh pergi dari sisinya.

 

“Kau tidak ingin membalas pelukanku?” Jeonghan mendongak ke arah Seungcheol yang sekarang menghela napasnya lelah. Sepertinya memang sulit membiarkan Jeonghan sendirian. Ia sudah terlanjur terikat dengan sahabatnya itu. Seungcheol tidak akan lepas dari genggaman tangan Jeonghan. Ah. Sepertinya ia harus kembali membatalkan kepergiannya ke Tokyo. Mungkin ia akan memilih untuk melanjutkan kuliah S2nya di Universitas Seoul. Bukan di Todai.

 

Tangan Seuncheol terulur. Memeluk pinggang Jeonghan dengan pelan. Ia mulai menelusupkan kepalanya ke leher Jeonghan. Mengendus wangi pemuda itu yang selalu membuat Seungcheol hilang kendali atas dirinya. Sebelum akhirnya memberi kecupan singkat di leher Jeonghan yang membuat pemuda itu menggeliat geli dalam pelukannya.

 

“Kau egois, Hannie.” Bisikan seduktif di leher Jeonghan membuat pemuda bersurai coklat itu terkikik geli.

 

“Yes, I know.” Jeonghan tersenyum bahagia dalam pelukan Seungcheol. Hal yang paling membuatnya bahagia adalah dimana Seungcheol memeluknya seperti sekarang.

 

“Batalkan kepergianmu ke Jepang.”

 

“Yes, ma Lord.” Dan Jeonghan kembali terkekeh saat mendengar jawaban dari Seungcheol. Bersama Seungcheol ia selalu bisa tertawa seperti ini. Sungguh, jika bisa Jeonghan ingin mengaku bahwa ia memiliki perasaan lain saat bersama Seungcheol seperti sekarang. Tapi ia tidak mungkin merusak persahabatan yang sudah ia jalin dengan Seungcheol, jika ternyata Seungcheol tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya.

 

.

oOo

.

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, alur cepet, etc.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

 

Cast: Kim KyuHyun X Lee Sungmin [Super Junior]

Hwang Minhyun X Hwang Minki aka Ren [Nuest]

Hwang Junghan X Choi Seungcheol [Svt]

 

Cast di FF ini OTP saya semua! Wkwk. Kalau ada yang nanya dan gak tau siapa itu Ren, Minhyun sama Nuest itu apa… Tolong searching dulu, karena mereka mau comeback tgl 29 nanti. Wkwk. Nuest itu sunbae-nim svt. Kalo kalian pledis fams yang kenal svt lewat nuest kayak saya pasti tahu. Karena di mv face lah saya mencintai wonu dan di phpin pledis karena svt ga debut mele berkali-kali. /oke ini curhat/

 

a/n: Saya ingetin lagi. Psikolog itu bisa di sebut dokter kalo udah s2 dan buka praktek sendiri. Waktu itu saya nanya sama dosen unpad, dan beliau kasih tau bedanya. Kecuali kalau pasiennya emang punya gangguan jiwa, mereka bakal di rekomen ke psikiater. Tbh homo itu bukan gangguan jiwa, makanya psikolog yang pantes saya buat di ff ini.\

EnJOY!

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan menapaki trotoar yang ramai di padati orang-orang di tengah keramaian kota Seoul. Tangannya menggenggam erat tas kerja miliknya yang berisi beberapa script novel. Wonwoo harus kerja lembur untuk mengerjakan deadlinenya. Ia sudah cukup untuk bermalas-malasan. Script novel yang harus ia edit masih banyak. Jadi baru sekaranglah Wonwoo bisa pulang dan bernapas lega. Untung saja ini masih jam sembilan malam. Jadi ia bisa mencari makan malam di luar. Wonwoo bahkan melewatkan makan siangnya karena deadlinenya itu. Hingga perutnya berteriak minta di isi seperti sekarang.

 

Langkahnya terhenti di persimpangan sebuah cafe kecil yang memang cukup ramai di padati para remaja. Sudah di putuskan. Ia akan makan di cafe itu malam ini. Walaupun harus sendiri. Well, salahkan Jeonghan yang tidak ingin menemaninya karena sibuk dengan pertengkaran tidak mutu dengan sahabat kecilnya itu.

Wonwoo berjalan masuk ke dalam cafe itu. Cafe itu sudah di padati oleh banyak pengunjung. Tidak ada satu pun kursi kosong untuk Wonwoo tempati. Padahal ia sudah meneliti ke segala arah penjuru. Tapi tetap saja tidak bisa menemukan satu pun meja kosong. Di bagian dalam dan juga luar Cafe semua terisi dengan penuh. Tidak ada pilihan selain mencari cafe lain untuk makan malamnya.

 

“Maaf. Cafe kami sedang penuh malam ini. Apa anda ingin menjadi waiting list terlebih dahulu?” Wonwoo memutar bola matanya ke arah gadis pelayan bersurai hitam di depannya. Waiting list? Hey! Wonwoo itu sudah lapar. Ia tidak mungkin menunggu lagi. Lebih baik ia mencari cafe lain.

“Tidak, terimakasih.” Dengan lemas, Wonwoo mulai berbalik, dan ingin berjalan menjauh dari dalam cafe. Ia kembali menatap sekeliling bagian luar cafe yang tetap saja masih penuh. Tidak ada satu pun meja kosong di sana.

 

“Hah.. “ Menghela napas lelah, sebelum akhirnya melangkah untuk menjauh dari cafe itu. Tapi langkahnya kemudian terhenti saat suara bariton yang sangat di kenalnya memanggil.

 

“Wonwoo Hyung!” Wonwoo menoleh ke belakang. Ia bisa melihat sosok Kim Mingyu yang sedang duduk di sudut cafe bagian luar, sambil melambaikan sebelah tangan padanya. Psikolog muda itu tersenyum tipis. Sekarang, Wonwoo kembali terpesona dengan sosok Mingyu yang hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut dada bidangnya. Demi Tuhan! Wonwoo tidak dapat memungkiri jika ia memang sangat tertarik pada Mingyu. Ia bahkan lupa dengan rasa lapar yang menyerang perutnya saat melihat Mingyu.

 

Wonwoo mencoba menguasai dirinya. Ia mulai berjalan ke arah meja tempat Mingyu duduk. Beberapa pengunjung wanita ikut menatap ke arah Mingyu. Sial! Wonwoo sangat yakin jika para wanita itu terpesona oleh sosok Mingyu. Terbukti dari pandangan berbinar yang mengarah pada Mingyu.

 

“Apa kau tidak mendapat meja? Kau bisa bergabung denganku, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum singkat ke arah Wonwoo. Manik obsidiannya mengisyaratkan dengan jelas agar Wonwoo segera duduk di depannya.

 

“Bolehkah? Kau tidak bersama seseorang?”

 

“Tidak. Aku hanya sendirian ke sini.” Mingyu menaikkan kedua bahunya. Tangannya kembali bergerak mengaduk americano yang tadi ia pesan.

 

“Kalau begitu aku akan menemanimu. Aku bersyukur bertemu denganmu.” Wonwoo menarik kursi dengan pelan. Kemudian duduk dengan kasual. Tatapan matanya menatap obsidian Mingyu dengan intens.

 

“Kenapa Hyung?” Obsidian Mingyu membalas tatapan tajam Wonwoo. Membuat Wonwoo memutar bola matanya. Ia pikir Mingyu akan takluk oleh tatapan matanya saja, dan terpesona oleh tatapannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Wonwoo jadi berpikir tentang niatnya untuk sembuh menjadi gay. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun, jika dokternya adalah Mingyu. Memikirkan hal itu malah membuat kepala Wonwoo menjadi pusing.

 

“Tidak apa-apa.” Wonwoo menghela napasnya pelan. Tangannya mulai mengambil buku menu yang ada di depannya. Membukanya, dan mulai meneliti berbagai macam menu yang akan ia pesan. Setelah beberapa menit, akhirnya Wonwoo mengangkat sebelah tangannya ke arah pelayan pria yang kini berjalan ke arah meja mereka.

 

“Sphagetti dan Lemon tea saja.” Wonwoo langsung mengutarakan pesanannya saat pelayan itu mendekat. Kemudian pelayan bername tag Jinshi itu mengangguk pelan. Sebelum akhirnya kembali menjauhi meja mereka.

 

“Jadi apa yang sedang kau lakukan di malam hari seperti ini Dokter Kim?” Wonwoo memangku dagunya. Tatapan matanya masih terarah pada Mingyu sekarang.

 

“Aku hanya bosan berada di rumah, dan kebetulan aku lapar. Jadi aku makan di cafe ini.” Mingyu mengambil gelas americano miliknya. Kemudian menyesapnya. “Bagaimana denganmu, Hyung?”

 

“Aku hanya lapar, dan menemukan cafe ini begitu saja.”

 

“Ah..” Mingyu mengangguk tanda mengerti.

 

“Apa kau baru saja pulang dari tempat kerjamu?” Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Di mata Mingyu, terlihat jelas sekali jika pria itu memang sudah kelelahan. Kerutan di dahi Wonwoo membuktikan jika pria itu sedang banyak tekanan.

 

“Masih di kejar deadline?” Mingyu bisa melihat Wonwoo membulatkan matanya, sambil kembali mengangguk. Sepertinya Mingyu masih ingat perkataannya minggu lalu.

 

“Ya, dan kau tahu? Deadline editingku hari Sabtu nanti. Benar-benar menyebalkan. Padahal aku sudah mengerjakan proses editingnya dengan benar.” Wonwoo mulai mengeluh keluh kesahnya pada Mingyu begitu saja. Padahal Wonwoo tidak pernah seterbuka ini pada seseorang, dan Mingyu adalah pengecualian. Rasanya, ia bisa percaya dengan mudah pada Mingyu.

 

“Kalau begitu bersemangatlah, Hyung.” Tangan Mingyu terulur untuk menyentuh surai hitam Wonwoo. Mengusapnya dengan pelan, dan juga kekehan khas miliknya terdengar. Kali ini, Wonwoo bisa merasakan rona merah kembali menjalar di pipinya. Jantungnya kembali berdetak tak karuan karena sentuhan kecil seperti ini.

 

“E-ehm.. Maaf membuat anda menunggu, Tuan.” Suara deheman Jinshi, membuat Mingyu menarik tangannya dari kepala Wonwoo. Mingyu terlihat salah tingkah saat melihat pelayan itu menyimpan pesanan Wonwoo, dan tersenyum penuh arti ke arahnya. Sebelum akhirnya membungkuk pamit dan kembali menjauhi mejanya dengan Wonwoo.

 

“Kau merusak tatanan rambutku.” Wonwoo kembali bersuara dengan nada dinginnya. Ia tidak ingin suasana menjadi aneh hanya karena kejadian kecil seperti itu. Wonwoo tentu tidak lupa jika psikolog yang ada di depannya adalah seorang homophobic.

 

“Kau tetap jelek walaupun rambutmu acak-acakan, Hyung.”

 

“Ya!!” Wonwoo melototkan matanya ke arah Mingyu saat mendengar ejekan dokter muda itu. Bukannya takut, Mingyu malah tertawa puas saat melihatnya mempoutkan bibir dan memberinya delikan tak suka.

 

“Hahaha. Kau benar-benar lucu, Hyung.” Mingyu tertawa sambil menekan perutnya akibat tertawa yang berlebihan. Tapi Mingyu tidak berbohong soal itu. Ia suka saat Wonwoo merajuk marah saat di godanya. Jujur saja, ada rasa penasaran aneh tersendiri dari Wonwoo yang membuat Mingyu ingin mengenal lebih pasiennya itu.

 

“Hemmm..” Wonwoo berdehem pelan mengiyakan ucapan Mingyu. Ia harus fokus pada makanannya sekarang. Wonwoo tidak boleh terpesona pada Mingyu yang sekarang tertawa lebar karenanya.

Dengan pelan, ia mulai menggulung helaian spagetti dengan garpu, dan mulai menguyahnya. Mengabaikan tatapan Mingyu yang mulai terdiam sambil menatapnya dengan intens. Sial! sial! Mingyu menggodanya hanya dengan tatapan miliknya itu.

 

“Baiklah. Maafkan aku, Hyung. Aku hanya bercanda. Sebagai permintaan maaf, aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?” Wonwoo mendongak, dan menatap Mingyu dengan tatapan berbinar. Ah, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Wonwoo bisa bersama Mingyu lebih lama.

 

“Benarkah?”

 

“Ya. Aku akan mengantarmu.”

 

“Kalau begitu aku tidak akan menolak.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa melihat Mingyu terkekeh pelan. Suaranya mengalun dengan indah. Membuat Wonwoo seolah tersihir oleh Mingyu untuk kesekian kalinya. Segala hal tentang Mingyu seolah menarik Wonwoo.

 

Mingyu mulai mengajaknya mengobrol tentang pekerjaan. Apa yang Wonwoo lakukan beberapa hari terakhir, dan juga apakah Wonwoo mengikuti sarannya. Dan Wonwoo menjawab semua pertanyaan itu. Ia menceritakan segalanya kepada Mingyu. Dan untuk saran yang psikolog itu berikan, Wonwoo masih belum melakukannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan sepertinya Mingyu mengerti keadaannya sekarang.

 

“Habiskan makananmu, Hyung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan.” Wonwoo mendongak ke atas. Ia bisa melihat awan semakin menjadi hitam pekat. Tidak ada bintang atau bulan di langit. Angin malam juga berhembus dengan kencang. Membuat Wonwoo ingin memeluk tubuhnya sendiri. Ah, ia lupa membawa jaket tebalnya.

 

“Y-ya.” Wonwoo mengangguk. Ia lebih memilih untuk menurut pada Mingyu. Lagi pula ini sudah hampir pukul sebelas malam. Wonwoo juga tidak yakin jika masih ada taxi atau bis yang lewat malam ini. Wonwoo lebih memilih untuk di antar oleh Mingyu. Lagi pula ia bisa melihat wajah Mingyu lebih lama nantinya.

 

Wonwoo kembali memakan spagettinya dengan lahap. Di ikuti Mingyu yang sekarang menyesap minumannya, dengan tatapan yang masih mengarah pada Wonwoo. Jika boleh jujur, Wonwoo sangat malu di tatap seintens itu oleh Mingyu.

 

“M-mwo?” Wonwoo mencoba menelan suapan spagetti terakhirnya. Pipinya mengembung dengan mata yang membulat ke arah Mingyu. Dan tawa khas Mingyu kembali terdengar saat melihat wajah Wonwoo di belakang.

 

“Hahaha.. H-hyung.. Wajahmu.. Hahaha…” Mingyu tertawa dengan keras. Membuat Wonwoo mendelik sebal, karena ia kembali di tertawakan. Padahal tidak ada yang salah sama sekali dengan wajahnya.

 

“Hey, Kim Mingyu! Berhenti tertawa. Kau membuatku malu.” Wonwoo berdesis ke arah Mingyu saat ia bisa merasakan tatapan orang-orang mengarah kepadanya. Tapi sialnya, Mingyu malah semakin mengencangkan suaranya.

 

“Ya! Mingyu-ya!” Wonwoo menaikkan suaranya lebih kencang. Ia bisa melihat Mingyu mencoba menahan tawanya, dan menatapnya geli.

 

“Haha. Maafkan aku. Kau lucu sekali, Hyung.” Mingyu kembali mengacak surai hitam Wonwoo dengan lembut. Kali ini sentuhan itu cukup lama, dan Wonwoo sama sekaii tidak menolaknya. Ia bahkan menatap manik obsidian Mingyu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan fokusnya sama sekali.

 

Ctarrr

 

Suara petir yang menggelegar memecah keheningan malam. Ada kilat yang membelah langit malam. Lalu setelahnya, tetesan hujan turun dengan deras. Sangat deras sampai Mingyu dan Wonwoo kembali tersadar dari lamunan masing-masing.

Cipratan air mengenai pakaian mereka, karena mereka memilih untuk duduk di luar cafe. Wonwoo berdecak sebal karena pakaiannya mulai basah. Di ikuti Mingyu yang kini menariknya untuk masuk ke dalam cafe.

 

“Ini menyebalkan! Kenapa harus hujan segala?” Wonwoo menggerutu sambil memeluk tubuhnya sendiri, agar rasa dingin yang menusuk kulitnya menghilang. Tubuhnya bergetar karena dingin. Jujur saja, Wonwoo tidak suka saat tubuhnya dingin seperti es sekarang.

 

“Well. Sepertinya hujan tidak akan berhenti.” Wonwoo mengangguk mengiyakan. Ia mulai melihat ke sekeliling. Cafe ini sudah kosong. Hanya ada sekitar sepuluh orang saja di sini. Karena memang sebentar lagi, cafe ini akan tutup.

 

“Bagaimana jika kau menginap saja di rumahku? Akan cukup lama jika mengantarmu sampai rumah. Aku yakin malam ini pasti akan macet karena hujan.” Wonwoo menoleh dengan mata membulat sempurna ke arah Mingyu yang sekarang tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Tolong katakan jika Wonwoo benar-benar salah dengar. Mingyu mengajaknya menginap? Ini pasti mimpi.

 

“E-eh?”

 

“Ya. Cafe ini akan tutup sebentar lagi.” Mingyu melirik ke dalam, di mana para pelayan cafe sudah mulai membereskan ruangan dalam. “Kita akan lari sampai ke dalam mobilku. Tenang saja, rumahku tidak jauh dari sini.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa merasakan tangannya di tarik dalam genggaman hangat Mingyu. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan lupa jika air hujan deras sialan ini mengguyur tubuhnya sampai basah kusup. Mingyu mengajaknya berlari di tengah hujan, dengan tangan yang saling berpegangan. Kali ini, Wonwoo sama sekali tidak benci dengan udara dingin dan juga hujan ini. Karena ia bisa merasakan sensasi hangat dan juga perlindungan dari genggaman tangan Mingyu.

.

oOo

.

Wonwoo berjalan dengan pelan. Mengikuti langkah Mingyu yang sekarang berada di depannya. Pria itu sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah megah bergaya eropa, dan mereka turun dengan keadaan basah kuyup karena tadi harus berlari menembus hujan. Sejak tadi, Wonwoo hanya bisa berdecak kagum memandangi rumah Mingyu yang bisa di bilang sangat megah dan mewah. Rumah Mingyu lebih mewah dari pada milik Jeonghan. Mereka bahkan harus masuk sejauh satu kilo meter untuk tepat berada di depan mansion mewah itu. Wonwoo tidak menyangka jika psikolog muda itu sekaya ini.

 

Pintu kembar jati setinggi tiga meter di buka pelan. Lampu di ruang tengah ini padam. Hanya lampu yang berada di pojok lah yang menyala. Membuat penerangan minim yang bisa membuat Wonwoo melihat bagaimana mewahnya rumah ini. Ada banyak sekali furniture mewah di sana. Walaupun ruangan tengah minim oleh cahaya, Wonwoo tetap bisa melihat dengan jelas kemewahan rumah ini.

 

“Anhh…” Suara erangan tiba-tiba terdengar dengan jelas. Membuat tubuh Wonwoo menegang di tempat saat mendengarnya. Ia mendengar suara desahan pria di ruangan ini. Wonwoo harap ia salah dengar. Karena tidak mungkin ada yang bercinta di rumah megah ini. Terutama di dapur. Tapi jika ini adalah rumah Jeonghan, Wonwoo tidak akan heran.

 

“Mmhhh…” Kali ini suara desahan tertahan semakin jelas saat Mingyu menarik tangannya paksa menuju tangga berbentuk spiral. Sekarang Wonwoo yakin jika ia sama sekali tidak salah dengar. Pendengarannya masih normal. Karena dari sudut matanya ia bisa dengan jelas pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.

 

“Tutup telinga mu, Hyung.” Mingyu berujar dingin saat pemuda itu menariknya menaiki tangga dengan cepat. Melewati dapur yang di mana terdapat dua sosok pria di sana. Wonwoo bisa melihat dengan jelas jika dua orang pria itu sedang bercumbu dengan panas di dapur. Pakaian pria bersurai pirang itu bahkan sudah acak-acakan. Piyamanya sudah tidak terkancing, karena pria bersurai hitam itu menciumnnya dengan ganas sambil mencoba merobek piyama yang di pakai oleh pria itu.

 

“Aw..” Wonwoo meringis saat Mingyu meremas tangannya cukup keras. Sekarang mereka sudah berada di lantai atas. Tepat berada di depan sebuah ruangan yang Wonwoo yakini adalah sebuah kamar. Kali ini Mingyu terlihat menyeramkan. Aura dingin nan menakutkan terlihat di sekeliling tubuhnya. Mungkin ini adalah salah satu alasan Mingyu menjadi seorang homophobic. Sekarang Wonwoo sudah mengetahuinya.

 

Mingyu menarik kenop pintu dengan pelan. Setelah terbuka dengan lebar, ia menarik Wonwoo untuk masuk ke dalam kamar bercat putih. Di sana ada ranjang kingsize bersprei biru, dan juga sebuah mini theater yang di lengkapi play station. Tak lupa sebuah mini bar kecil yang berada di sudut ruangan. Tepat di samping rak buku-buku kedokteran milik Mingyu.

 

“Maaf, karena kau harus melihat kejadian memalukkan seperti itu.” Mingyu melepas genggaman tangan Wonwoo.

 

“Kau membuat tanganku sakit, Gyu.” Wonwoo mendengus sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Membuat Mingyu berbalik ke arahnya, dan kembali menggenggam tangan Wonwoo. Mingyu menatapnya penuh rasa bersalah, sambil mengelus pergelangan tangannya. Berharap jika rasa sakit yang ia timbulkan di pergelangan tangan Wonwoo dapat menghilang.

 

“Maaf. Aku jadi melampiaskan kekesalanku padamu. Maafkan aku, Hyung.”

 

“Baiklah. Aku juga harus berterimakasih padamu karena sudah mengizinkanku untuk menginap.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia masih tidak menyangka jika sekarang berada di dalam satu ruangan bersama Mingyu.

 

“Tak apa, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum, sambil mengacak surai hitam Wonwoo yang basah. Sepertinya, mengacak surai pria itu sudah menjadi hal favorit yang akan Mingyu lakukan.

 

“H-hatchii..” Wonwoo mulai bersin, sambil menggosok hidungnya yang memerah. Ah. Sepertinya ia sadar jika kedinginan seperti ini sangat tidak bagus. Wonwoo harus segera mandi air hangat, atau setidaknya tidur dengan selimut double.

 

“Kau kedinginan, Hyung. Aku akan menyiapkan air hangat di bathup untuk mu. Tunggulah sebentar.” Mingyu mulai terlihat panik saat melihat wajah Wonwoo yang sekarang memerah dengan sempurna.

 

“Ahh. Tunggu sebentar, Hyung.” Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Ia mulai berjalan menuju ke arah mini bar miliknya. Membuka lemari es kecil, dan mengeluarkan sebuah botol beer dengan kadar alkohol 20%. Beer bisa membuat tubuh hangat dengan cepat. Setidaknya ini akan menghangatkan tubuh Wonwoo.

 

Mingyu segera menarik sekaleng beer, dan membawanya ke arah Wonwoo. Pria bersurai hitam itu mengulurkannya ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo mendongak, sambil mengernyitkan alisnya. Untuk apa Mingyu memberinya beer? Hey! Wonwoo itu tidak suka alkohol. Ia bahkan tidak pernah menyecap minuman alkohol seperti itu.

 

“Untukmu. Ini akan menghangatkan tubuhmu dengan cepat Hyung. Minumlah. Aku akan menyiapkan air panas untukmu.” Mingyu menjelaskan dengan pelan. Ia menyelipkan sekaleng beer itu di dalam genggaman tangan Wonwoo. Setelah itu, Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Punggung tegap Mingyu yang basah tercetak dengan jelas di kaos putih yang ia pakai. Sial! Pria itu memang menggodanya!

 

“Hah.. “ Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai berjalan menuju ranjang king size, sambil membuka kancing kemejanya satu persatu. Air hujan yang menempel di bajunya itu malah membuatnya semakin menggigil. Wonwoo juga mulai melepas sepatu beserta celana denim yang ia kenakan. Sehingga ia hanya mengenakan underwear saja.

Wonwoo bisa merasakan hawa dingin ac di kamar Mingyu menerpa kulitnya. Dengan cepat, ia segera naik ke atas ranjang, dan masuk ke dalam selimut tebal milik Mingyu. Sehingga aura dingin berganti menghangatkan kulitnya sedikit demi sedikit.

 

“Ahh.. Nyaman sekali..” Wonwoo bergumam. Ia mulai duduk, sambil membuka kaleng beer yang ada di tangannya. Dengan senyum mengembang, ia segera menegak beer itu. Beberapa teguk, sebelum akhirnya Wonwoo merasa puas karena minuman itu seakan membuatnya melayang. Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh. Menggantikan rasa dingin yang tadi ia rasakan.

 

Wonwoo menyukai sensasi ini. Tanpa menunggu lagi, ia segera menegak kaleng beer itu sampai tandas. Sehingga tak ada yang tersisa setetes pun. Sial! Wonwoo ingin lagi! Sensasi ini benar-benar membuat tubuhnya memanas dengan cepat.

 

“Ahh..” Wonwoo mendesah kecil saat botol kaleng dingin itu menyentuh putingnya. Sensasi aneh kembali Wonwoo rasakan. Putingnya menegang dengan cepat hanya karena sentuhan kecil itu. Membuat Wonwoo ingin menyentuh tubuhnya sendiri.

 

Dan tanpa berkipir dua kali. Ia mulai menyentuh putingnya. Bagian sensitive yang selalu Wonwoo mainkan saat onani. Tubuhnya meringkuk. Selimut yang tadi menutupi tubuh polosnya terjatuh ke lantai. Hingga memperlihatkan tubuh polos pria itu. Sebelah tangan Wonwoo menyentuh puting kanannya, dan tangan kirinya menyentuh genital yang sudah menegang di balik underwear yang ia pakai. Meremasnya dengan gerakan perlahan, yang membuat darahnya berdesir dua kali lipat.

 

“H-Hyung, Apa yang sedang kau lakukan?” Dan suara bariton itu membuat Wonwoo menghentikan aktivitasnya. Ia mendapati sosok Mingyu yang sekarang membulatkan manik obsidiannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.

 

TeBeCe

Oh yeah.. kampret kan gue? Wkwk emang. Gue emang kampret. Selalu seperti ini. sabar yah. Wkwk

Sorry lama. Saya sibuk soalnya. Ini seriusan. Bukannya pura-pura sibuk loh. Saya ini lagi freetime makanya ngerjain FF lagi. Kemaren sibuk ngerjain FF buat event di tengah-tengah kegalauan dan sibuknya real life ngurusin sekolah. Sekarang juga lagi sibuk ngerjain FF buat event lagi. Deadlinenya bentar lagi pula. Aduh hayati ga kuat. Wkwk

Sekali lagi maaf karena ngaret. Wkwk makasih buat yang udah review. Saya cinta kalian !! :*

Betewe jangan harap ini kayak ten count yah. Ini ga akan sepenuhnya sama. Saya hanya ngambil beberapa scene yang mungkin mirip. Ini bukan remake soalnya. Wkwk

 

Euhmm.. Buat Treat Me Gentle Ver.. Saya masih galau siapa yang harus saya buat remakenya. Wkwk. Bagian ini juga keinspirasi brief pantsu nemu. Wkwk. Iya gue emang nista bin kampret.

Udah ah bacotnya. Jangan lupa Review loh biar aku semangat!! Jangan jadi siders mulu dong qaqa. Nanti ga aku kasih scene ena-ena loh. Wkwk. Kalau reviewnya lebih banyak dari yang kemaren biasanya aku update cepet karena semangat. Wkwk.

 

So, Mind To Review?

 

Astia Morichan ^^

Advertisements

10 thoughts on “I Want To Be A Straight, But | Meanie FF | Chap 3|

  1. Nying rame siah :’v chapter 4 kapan nih? Greged gua njier pas si mingyu ngeliat si wonwoo lg coli /?😂
    Author notif gua yaa klo chapter 4 ny dah rilis! Wajib! Kudu! Harus! 😉😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s