Caste Heaven | Chap 2| Meanie FF| Remake | Svt| Yaoi Hardcore! Warn !

 

Caste Heaven

RM 18

Romance, Drama, Gore, sadistic, etc

Warning! Yaoi! OOC, Typo yang akan membuat mata iritasi. Mature Content yang mungkin akan cukup Hard Core. Sehingga di sarankan untuk yang belum cukup umur, harap menyingkir dengan cepat.

Dosa di tanggung oleh reader sendiri. Wkwk

 

Caste Game adalah Game yang menentukan segalanya di sekolah ini. Siapa Raja, dan juga Target Bully selama satu tahun. Raja lah yang memegang kendali, dan Jeon Wonwoo adalah Raja di Game ini. Ia bebas melakukan apapun, dan Wonwoo juga tahu jika semua orang ingin merebut tahtanya. Termasuk orang yang sudah ia percaya.

 

a/n : Ini adalah Remake Caste Heaven yang di tulis oleh Chise Ogawa. Saya Warning sekali lagi ini adalah Remake. Demi apa gue suka banget manga ini sampai tercipta lah FF Remake ini. Jadi sepertinya FF Meanie Remake yang gue buat bakalan Caste Heaven aja. Wkwk . Santai bro, sama-sama Hawt kok.

Saya juga akan mewarning kalian jika SEME DI FF INI NANTI BAKALAN BRENGSEK SEMUA. JADI BUAT YANG GA KUAT TOLONG MENYINGKIR. WKWK

 

KIM MINGYU X JEON WONWOO

OTHER PAIR FIND YOURSELF

 

ENJOY!

.

 

Jeon Wonwoo berjalan dengan gaya arogan miliknya seperti biasa. Melewati tangga yang akan mengantarnya ke lantai dua. Pemuda ini nampak santai. Tidak terburu-buru layaknya semua siswa yang ada di kelas saat ini. Padahal Caste Game telah di mulai. Tapi bagi Wonwoo ini bukanlah apa-apa. Untuk periode satu tahun ke depan nanti, hanya ia yang akan menjadi raja seterusnya. Tidak akan ada yang berani mengkhianati Wonwoo. Semua orang takluk padanya.

 

“Cih. Semua orang terlihat sangat frustasi saat ini.” Wonwoo mendengus. Mengabaikan deru langkah seseorang dari belakang yang mengejarnya.

 

“Tentu saja. Aku akan mencoba menjadi ranking pertama.” Suara bariton milik Mingyu menggema. Membuat Wonwoo menoleh ke arah pemuda bersurai hitam yang sekarang berjalan mendekatinya. Sebuah senyum simpul tercetak jelas di wajah tampan Mingyu.

 

“Aku ingin kau mengakuiku, Wonwoo-ya.” Mingyu berbisik di telinga Wonwoo. Dan Wonwoo hanya bisa menyeringai kecil saat ia bisa menatap jelas wajah Mingyu yang ada di depannya. Tangannya terulur ke leher pemuda itu. Senyum menggoda Wonwoo berikan pada Mingyu. Membuat pemuda itu kaget karena tingkahnya. Manik obsidiannya menatap intens ke arah Wonwoo. Tatapan yang sama sekali tidak membuat Wonwoo takut.

 

“Mingyu-ya, apa kau benar-benar menyukaiku sedalam itu?” Wonwoo menipiskan jarak. Dari jarak sedekat itu, Mingyu bisa mencium jelas aroma citrus yang menguar dari tubuh Wonwoo. Apalagi saat Wonwoo menarik dasi seragamnya, hingga jarak antara mereka semakin menipis.

 

“And then, bring the ‘King’ Card from me.” Wonwoo berbisik seduktif di telinga Mingyu. Membuat wajah Mingyu memerah sempurna karena bisikan kecil Wonwoo di telinganya.

 

“Tentu. Tapi b-bagaimana?” Wajah Mingyu terlihat panik sekarang. Seakan bingung bagaimana untuk mencari kartu itu, dan Wonwoo benar-benar menikmati ekspresi yang Mingyu perlihatkan untuknya.

 

“Bukankah banyak cara yang bisa kau gunakan? Mengancam atau mengalahkan mereka, Mingyu-ya.”

 

“T-tapi—“ Belum selesai Mingyu membantah, ia terdiam saat melihat Wonwoo menggerakan telunjuknya dengan sensual. Lidahnya terjulur menyentuh telunjuknya sendiri.

 

“Bukankah ada pepatah yang mengatakan jika kau mencintai seseorang, maka kau akan mengorbankan apapun?” Wonwoo kembali mendekatkan wajahnya. Hingga bibirnya hampir saja menyentuh bibir Mingyu. “ Itu benar-benar keren kan? Dan jika aku adalah orang yang di cintainya, I would get wet for him.”

 

Wonwoo terdiam saat melihat seringaian kecil di bibir Mingyu. Tangan pemuda itu bergerak untuk menarik tangannya. Mencengkram dengan erat, hingga membuat Wonwoo meringis kecil akibat cengkraman itu. Wonwoo bisa merasakan manik obsidian Mingyu menatap tajam dirinya. Tatapan yang seakan membuat dirinya tak bisa berkutik sedikitpun. Bahkan saat ia mengadah untuk menatap obsidian Mingyu, Wonwoo sama sekali tidak bisa membalas tatapan tajamnya. Wonwoo seolah takut melihat tatapan yang Mingyu berikan untuknya.

 

“Aku akan membawanya untukmu.” Suara bariton itu penuh tekanan dan keseriusan yang membuat Wonwoo tetap diam. Tubuh Wonwoo seakan menjadi kaku saat melihat Mingyu menyeringai kecil. Seringaian yang bisa membuat tubuh Wonwoo meremang karena takut.

 

“Hmph. Aku menunggu berita bagus darimu, Mingyu-ya.” Dan setelahnya, Mingyu mengangguk. Kemudian melepaskan cengkramannya pada Wonwoo. Ia mulai berbalik, dan berjalan menjauh dari Wonwoo. Menaiki tangga ke lantai atas, dan meninggalkan Wonwoo sendiri yang sekarang nampak puas karena Mingyu menuruti ucapannya.

 

“Oh. Menarik.” Senyuman licik kembali tercetak di wajah Wonwoo. Well, semuanya akan menjadi sangat mudah bagi dirinya. Mingyu saja bertekuk lutut di hadapannya. Ah. Ini benar-benar menyenangkan. Wonwoo harap kesenangan ini tidak akan pernah berakhir. Ia akan selamanya menjadi raja selama bersekolah disini.

 

“Baiklah. Aku akan bersantai sejenak. Ini benar-benar melelahkan.” Wonwoo menggedikan bahunya. Sebelum ia mulai melangkah. Belum sempat ia melangkah, Wonwoo bisa merasakan sebuah tangan menyentuh pergelangan kakinya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat sosok yang sekarang berjongkok di belakangnya. Mencoba mengambil sebuah kartu yang hampir saja ia injak.

 

“Ambil.” Wonwoo mengucapkannya dengan nada penuh perintah. Tatapannya masih memandang rendah pemuda bersurai coklat yang ada di depannya. Jeonghan diam tak berkutik saat melihat Wonwoo sekarang. Pemuda itu terlihat sangat ragu untuk mengambilnya.

 

I dont need ‘Jack’” Wonwoo membungkukkan tubuhnya ke arah Jeonghan yang masih terdiam di tempatnya.

 

Well done Jeonghanie. Mulai saat ini, kau tidak akan menjadi target lagi. Ambilah.” Wonwoo menyodorkan kartu itu dengan kakinya ke arah Jeonghan. Ia bisa melihat Jeonghan mengangguk patuh. Tangan Jeonghan terulur untuk mengambil kartu yang berada di bawah sepatu Wonwoo.

 

Wonwoo kemudian menyingkir, dan membiarkan Jeonghan berdiri dari jongkoknya. Ia memberi jalan pada pemuda itu. “Gomawo Jeonghanie, karena telah memberikan kartu raja untukku saat itu.” Wonwoo menepuk bahu Jeonghan yang bergetar. Kemudian ia mulai mendengus kasar, dan berjalan menuruni tangga selanjutnya. Meninggalkan Jeonghan yang sekarang bisa menghela napasnya lega.

 

Wonwoo kembali melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga yang akan mengantarnya ke lantai dasar. Senyum asimetris tersungging di wajahnya saat mengingat bagaimana wajah memelas Jeonghan. Well, sepertinya pendapat itu memang benar. Hanya akan ada dua tipe manusia di dunia ini. Yang menghancurkan, atau di hancurkan. Dan Wonwoo akan selalu menjadi orang yang menghancurkan. Ia tidak akan mungkin di hancurkan dengan mudahnya oleh orang lain. Tentu saja, karena semua orang akan segan pada seorang Jeon Wonwoo.

 

“E-eh..” Wonwoo memekik kaget saat ia bisa merasakan punggungnya di dorong dari belakang. Hingga ia terjatuh sampai beberapa anak tangga, dan semuanya menjadi gelap bagi Wonwoo.

 

Ia tidak dapat melihat apapun saat mencoba untuk membuka matanya sekarang. Ada kain yang menutup penglihatannya hingga Wonwoo tidak dapat melihat apapun. Wonwoo hanya bisa mendengar dan merasakan. Seseorang mencengkram tangannya kebelakang, dan mengikat kedua tangannya ke atas. Hingga Wonwoo tidak dapat bergerak untuk membuka kaitan yang menutup matanya. Wonwoo tidak bisa berkutik sedikitpun. Ia bagaikan mangsa yang terpojok.

 

Jantung Wonwoo berdebar dengan kencang saat sebuah tangan bergerak untuk melepas celana yang ia pakai. Hingga rasa dingin lantai marmer di bawahnya terasa menyentuh permukaan tubuh bagian bawah Wonwoo. Ia juga bisa merasakan underwear yang di pakainya di lepas dengan paksa. Tak lupa kaitan seragam Wonwoo terbuka hingga menampilkan dada seputih porselen milik pemuda itu. Wonwoo tidak sepenuhnya telanjang. Ia masih bisa merasakan seragamnya masih tetap menempel di tubuhnya walau terbuka. Hanya saja tubuh bagian bawah Wonwoo telanjang sempurna.

 

Kali ini, Wonwoo mengerti apa arti ketakutan dan tidak berdaya. Ia ingin berteriak dengan kencang saat sebuah jari bergerak melumuri lubang analnya dengan sebuah cairan yang Wonwoo tidak tahu itu apa, dan kemudian jari itu bergerak masuk ke dalam lubang analnya. Menimbulkan sensasi nyeri yang amat sangat saat jari itu bergerak tidak konstan untuk melebarkan lubangnya. Ingin sekali Wonwoo berteriak dan meronta atau mencakar apapun, saat rasa sakit itu semakin menjadi mengerjai bagian tubuh bawahnya. Tapi teriakan Wonwoo terendam karena sebuah tangan menyumpal mulutnya. Sebelah tangan orang itu menyentuh bagian-bagian tubuhnya. Meremas genital Wonwoo dengan kasar, dan tak lupa memberikan sebuah hisapan pada puting Wonwoo. Wonwoo bisa merasakan bagaimana lidah panas itu bergerak menjilat bagian tubuh atasnya. Rasanya Wonwoo benar-benar menjadi orang paling hina sekarang.

 

“Arghhhttt…” Wonwoo mengerang kesakitan saat merasakan tubuhnya di belah paksa oleh genital yang masuk ke dalam lubang analnya. Tubuhnya seakan di sobek, saat genital itu menghujam tubuhnya dalam sekali hentak. Mengantarkan rasa panas dan dentuman kesakitan di bagian bawahnya terasa. Wonwoo dapat merasakan cairan amis merembes keluar di sertai cairan precum yang bersatu.

 

“Unghh…” Wonwoo menggeram saat teriakannya masih tidak bisa di dengar. Tubuhnya terus di hujam dengan hentakan kasar. Membuat bagian bawah tubuh Wonwoo terasa kebas. Genital itu terus menyodoknya dengan kencang. Menabrak titik prostat dirinya dengan keras. Membuat erangan Wonwoo semakin jelas saat titik kenikmatannya di hujam seperti itu.

 

“Anhhh..” Wonwoo menghela napasnya lega saat cairan sperma itu tumpah merembes keluar dari lubang analnya. Ia juga bisa mendengar bunyi klop saat genital itu di cabut dari lubangnya. Membuat analnya kembali kosong.

 

“Hah.. Hah..” Wonwoo mengatur napasnya dengan terburu-buru. Tubuhnya kini terkulai lemas di lantai. Ia terlihat sangat kacau sekarang. Seragam atasnya terbuka dan hanya menutupi tubuhnya sampai setengah paha. Cairan sperma masih keluar dari lubang anal Wonwoo. Membuat tubuh pemuda itu nampak kotor sekarang. Wonwoo tidak mempunyai tenaga lebih untuk memperhatikan penampilannya. Ia hanya ingin melihat siapa orang yang berani memperkosanya seperti ini. Demi Tuhan yang menguasai langit dan alam semesta! Wonwoo bersumpah akan membunuh orang itu!

 

“Apa kau menikmati istirahat yang menyenangkan ini bersamaku? Sampai kau tidak bisa bergerak seperti ini.” Suara bariton menggema. Kali ini, suara itu membuat Wonwoo takut untuk menggerakan tubuhnya. Ia kenal dengan suara itu.

 

“Aku menyukai ekspresimu yang seperti ini.” Tangan itu bergerak untuk melepaskan kaitan yang menutup mata Wonwoo. Membuat Wonwoo bisa melihat dengan jelas sosok yang sekarang berdiri di hadapannya. Mata Wonwoo menatap nyalang sosok itu. Dia Kim Mingyu. Mingyu yang ia percaya mengkhianatinya!

 

“Apa?” Mingyu terkekeh pelan sambil mengancingkan seragamnya. Senyum meremehkan kini Mingyu layangkan pada Wonwoo. “ Kau ingin melawanku ketika tidak mempunyai tenaga sedikitpun?”

 

“Mingyu!” Tatapan nyalang penuh kebencian Wonwoo layangkan pada Mingyu. Ia mulai bangkit dari acara berbaringnya. Hingga Wonwoo terduduk sambil mengadah ke arah Mingyu. Sial! Wonwoo benar-benar tidak bisa menggerakan tubuhnya sekarang.

 

“ Aku akan membunuhmu! Kupastikan itu ! Aku akan membunuhmu Kim Mingyu!!” Wonwoo berteriak nyaring. Suaranya terdengar penuh dendam. Siapapun yang mendengarnya pasti akan ketakutan melihat tatapan dan teriakan Wonwoo sekarang.

 

“Aku akan membuatmu menyesal karena membuatku seperti ini. Kau tahu? Aku adalah raja!”

 

“Cihh.” Mingyu mendecih. Kemudian ia mulai berjongkok di depan Wonwoo. Tangannya bergerak untuk menarik rambut hitam Wonwoo. Hingga Wonwoo mengadah ke arahnya.

 

“Apa kau tahu pada siapa kau bicara, Little Wonu?” Mingyu mendekatkan wajah ke arah Wonwoo. Hingga jarak mereka semakin menipis. Dari jarak sedekat ini, Wonwoo dapat mencium aroma mint yang menguardari tubuh Mingyu. “Sepertinya kau masih belum mengerti.”

 

Suara bel berbunyi. Membuat Mingyu melepaskan cengkramannya pada rambut Wonwoo. Bel itu adalah sebuah tanda, dan juga pengumuman.

 

‘Ini adalah komite eksekutif Caste Game. Hanya ada satu kartu yang tersisa. Itu artinya pencarian kartu untuk grade dua sudah selesai. Semua siswa yang masih berada di sekolah di harapkan untuk meninggalkan sekolah. Raja baru di grade dua grup satu adalah Kim Mingyu. Pengumuman lebih lanjut akan kami umumkan besok. Terimakasih.’

 

MINGYU ! YOU BETRAYED ME!” Wonwoo berteriak marah. Tangannya berusah menggapai tubuh Mingyu yang sekarang masih berdiri di depannya dengan senyum angkuh.

 

“Hey, Wonwoo-ya. Aku menepati janjiku. Aku membawakan kartu yang cocok untukmu. Seharusnya kau memberiku reward atas itu.” Mingyu kembali menyeringai licik. Kemudian ia mulai menjatuhkan sebuah kartu joker di hadapan Wonwoo.

 

“Well.. Well..” Manik obsidian Mingyu menatap puas sosok Wonwoo yang kini terduduk dengan tatapan kosong yang mengarah ke arahnya. “Aku selalu ingin melihatmu menderita seperti ini, Jeon Wonwoo.”

 

TeBeCe

Pendek lagi? Maafin wkwk. Soalnya ini sebenernya harusnya nyatu sama chap kemaren. Jadi satu chap. Cuman di cut. Gapapa kan? Wkwk. Nah kalo chap depan saya jamin bakal panjang. Percaya deh. Asal kalian review aja. Wkkwk. Jangan jadi siders mulu dong qaqa. Wkwk

 

Btw I want to be straight ch 5 juga udah beres. Tinggal publish. Cuman karena responnya kurang greget gue belom publish lagi. Wkwk. Sidernya banyak gewla. Jadi gue nunggu aja sampe reviewnya lebih banyak dari chap kemaren.

 

Wkwk, gimana chap ini? Adegan rapenya kerasa ga? Wkwk tbh susah buat scene iini -_- ini kan adegan pemerkosaan tanpa tahu siapa yang rape/? wkwk

 

Udah ah. Mind To Review?

Astia Morichan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s