Caste Heaven Chap 3| Meanie Couple| MinWon| Warning Rape!

6

1

 

 

Well, gue bakal jelasin sistem caste heaven dulu yah. Kalo kalian buka di wattpad sama blog gue. Gue kasih liat piramida tingkatan caste game. Cari aja astia morichan ntar juga keluar. Wkwk.

Class caste

  1. King and Queen [High class]
  2. Jack (King’s close friend][High class
  3. Messeger [Middle]
  4. Perps [Middle]
  5. Slacker Idiot [Middle]
  6. Geek [Lower class]
  7. Goth [Lower class]
  8. Nerd[Lower class]
  9. Target jokers [Bullying]

 

Caste game itu di gunain buat nentuin status mereka di kelas. Sesuai tingkatannya. High class bisa ngelakuin apa aja dan middle sama lower terutama target harus patuh sama apa yang di perintahin. Ga boleh ngelawan tingkat tertinggi.

 

Well, then lets read opening for chap 2, dude!

.

oOo

.

 

Jeon Wonwoo menggeram penuh amarah saat melihat kartu joker yang di layangkan Kim Mingyu di depannya. Tatapannya mendadak kosong. Apalagi saat manik obsidian Kim Mingyu brengsek itu menatapnya rendah. Seakan Wonwoo adalah seonggok sampah yang sama sekali tidak berguna.

 

“Mingyu….” Wonwoo menggeram marah memanggil nama pemuda itu. Tangannya terkepal erat menahan amarah yang sejak tadi ia tahan. Bagaimana bisa Mingyu bersikap tenang setelah memperlakukannya seperti itu? Memperkosanya dan membuatnya hancur seperti ini. Wonwoo berjanji, akan membuat pria itu menyesal karena membuatnya melakukan hal seperti ini.

 

“APA YANG KAU INGINKAN DARIKU BRENGSEK?!!! KENAPA KAU MENGKHIANATIKU SIALAN!!” Wonwoo berteriak penuh amarah. Ia bisa melihat Mingyu menyunggingkan seringaiannya. Terlihat senang dengan reaksi yang Wonwoo perlihatkan.

 

“Kenapa?” Mingyu berbalik bertanya. Kemudian terdiam beberapa saat. Seakan berpikir sejenak jawaban apa yang cocok ia berikan untuk Wonwoo.

 

“Aku pikir ini akan menyenangkan, Wonwoo-ya.” Suara sarat penuh kesenangan terdengar jelas di telinga Wonwoo. “Jika dulu aku mematuhimu, maka sekarang aku yang akan menghancurkanmu. Ini hanyalah untuk kesenanganku saja, Jeon Wonwoo. Menyenangkan bukan?”

 

“KAU BERCANDA KAN?!! SIALAN!!” Wonwoo mengepalkan tangannya. Siap untuk memberikan bogeman mentah pada kaki Mingyu agar pemuda itu terjatuh. Tapi sayangnya, Mingyu cukup cepat untuk melihat pergerakan yang ia lakukan. Pemuda bersurai hitam itu dengan cepat berjongkok di depannya, dan mencengkram erat lengan Wonwoo. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat raut kebahagian yang terpancar dari wajah Mingyu.

 

“Wonwoo-ya, apa kau ingin aku menolongmu?” Suara Mingyu terdengar licik, dan Wonwoo benar-benar benci mendengar pemuda itu berbicara dengan jarak sedekat ini dengannya.

 

Then, be my girl Wonwoo-ya.” Manik obsidian Mingyu menatap lekat wajah Wonwoo yang sekarang menatapnya dengan pandangan horor. Mingyu benar-benar gila! Psikopat gila! Apa dia lupa jika Wonwoo adalah seorang pria?!

 

“Jadilah seseorang yang selalu membuka lebar kakinya untukku, kapanpun aku menginginkannya.” Mingyu semakin mempersempit jarak pada Wonwoo. Hingga ia bisa merasakan helaan nafas pemuda itu. “Seseorang yang bisa membuatku basah, and someone who will beg me to fuck him.

 

“Hmph..” Wonwoo tertawa kecil mendengar tawaran yang di berikan Mingyu. He want to fuck me? Oke. Wonwoo tahu, Mingyu memang gay idiot yang baru ia kenal. Sudah berapa lama memang Mingyu mengenalnya? Seharusnya pemuda itu sadar diri jika Wonwoo sama sekali tidak akan pernah memenuhi permintaan konyol pria itu.

 

“Kau ingin aku melakukan hal itu? Cih..” Wonwoo meludah. Tepat di depan wajah Mingyu. Hingga membuat pemuda itu menjauh dan mengusap jejak saliva Wonwoo di wajahnya. “ ITS SO FUCKING DISGUSTING, KIM MINGYU! YOU DAMN VIRGIN!”

 

“AKU TIDAK AKAN PERNAH TUNDUK PADA SIAPAPUN. INGAT ITU!” Wonwoo berteriak lantang saat Mingyu kembali berdiri dan menatapnya rendah.

 

“Aku yang selalu berada di puncak. Hanya aku yang bisa berada di sana. Tidak peduli dengan peraturan game sialan itu! Ingat ucapanku!”

 

“Menarik.” Sudut-sudut bibir Mingyu tertarik. Ia menyeringai kecil saat mendengar ucapan Wonwoo. “Aku akan senang melihat bagaimana kau menelan ucapanmu sendiri, Wonwoo-ya.”

 

Caste Heaven

RM 18

Romance, Drama, Gore, sadistic, RAPE etc

Warning! Yaoi! OOC, Typo yang akan membuat mata iritasi. Mature Content yang mungkin akan cukup Hard Core. BANYAK ADEGAN RAPE, IKEH IKEH. Sehingga di sarankan untuk yang belum cukup umur, harap menyingkir dengan cepat.

Dosa di tanggung oleh reader sendiri. Wkwk

 

Caste Game adalah Game yang menentukan segalanya di sekolah ini. Siapa Raja, dan juga Target Bully selama satu tahun. Raja lah yang memegang kendali, dan Jeon Wonwoo adalah Raja di Game ini. Ia bebas melakukan apapun, dan Wonwoo juga tahu jika semua orang ingin merebut tahtanya. Termasuk orang yang sudah ia percaya.

 

a/n : Ini adalah Remake Caste Heaven yang di tulis oleh Chise Ogawa. Saya Warning sekali lagi ini adalah Remake.

Saya juga akan mewarning kalian jika SEME DI FF INI NANTI BAKALAN BRENGSEK SEMUA. JADI BUAT YANG GA KUAT TOLONG MENYINGKIR. WKWK

BAGIAN CHEOLHAN NTAR AJA AKU CERITAINNYA. SPECIAL STORY LAH MEREKA MAH. WKWK

 

ANJIR JUJUR SEBENERNYA GUE GA TEGA BUAT WONU BE SLUTY BITCHIES DI SINI. BUT GUE SUKA GITU KALO WONU YANG TSUNDERE GITU DI MASOIN AMA GYU. OKE KAMPRET MEMANG GUE. MAAFKAN ISTRIMU YANG KHILAF INI WONU-YA!

 

KIM MINGYU X JEON WONWOO

OTHER PAIR FIND YOURSELF

 

ENJOY!

 

Jeon Wonwoo melangkahkan kakinya dengan guntai menuju kelas. Bel tanda masuk ke dua sudah berbunyi, dan itu membuat Wonwoo langsung bergegas. Jujur ia benar-benar membenci keadaannya sekarang. Wonwoo benar-benar kesal jika harus mengingat kejadian tadi pagi. Berani sekali babi sialan itu membully nya. Saat Wonwoo baru masuk ke dalam kelas, mejanya penuh dengan coretan yang sangat tidak manusiawi. Baru saja satu hari Wonwoo turun jabatan, tapi mereka sudah berani melakukan hal seperti itu padanya.

 

Byurr

 

Siraman air tiba-tiba saja muncul, dan mengguyur tubuh Wonwoo yang sama sekali tidak bersalah, saat ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Hingga Wonwoo menjadi basah kuyup, dan pakaiannya menjadi kotor karena air laknat itu. Sial! Sial ! Mereka berani sekali padanya!

 

“Haahaha. Ini adalah air kotor untuk membersihkan lantai tadi. Kau cocok sekali kotor seperti itu!” Suara tawa penuh kebahagian itu membuat Wonwoo menggeram. Itu adalah suara Seungkwan. Si Nerd sialan yang selalu membuat Wonwoo muak dulu.

 

“Aku sudah menunggu hal ini untuk membayar apa yang kau lakukan dulu padaku! Haha. Menangislah Wonwoo-ya! Haha.” Seungkwan dan salah satu temannya – Jun sialan itu tertawa bahagia melihat penampilan Wonwoo yang basah kuyup. Membuat Wonwoo menggeram penuh amarah. Ingin rasanya Wonwoo membunuh mereka detik ini ini juga.

 

“Hmph..” Wonwoo menahan tawanya. Tubuhnya mulai membungkuk untuk mengambil lap kotor yang ada di lantai. Lap yang tadi berada di ember yang para manusia laknat itu siram padanya.

 

Slap!

 

Lap itu Wonwoo lemparkan ke belakang. Dan tepat mengenai wajah Seungkwan. Membuat manusia sialan itu memberingsut mundur, dan menatap Wonwoo tidak percaya. Seakan ‘Bagaimana bisa target melawanku?’ Cih. Pikiran mereka benar-benar sempit. Mereka benar-benar tidak tahu jika Wonwoo sama sekali tidak akan tunduk pada siapapun.

 

“Sialan!” Seungkwan menggeram marah. Tapi ia tidak berani untuk membalas perlakuan Wonwoo, dan menatap Wonwoo dengan takut.

 

“Jangan berani melakukan hal seperti ini padaku, sialan! Tanpa kekuatan yang di berikan oleh si brengsek Mingyu itu, kau bukan apa-apa!” Wonwoo menyeka air kotor yang membasahi wajahnya. Matanya kembali menatap Seungkwan yang sekarang duduk di bawah lantai.

 

“Sialan! Apa yang kau lakukan?!!” Jun berteriak tidak terima atas perlakuan Wonwoo pada sahabatnya.

 

“ Mingyu-ssi katakan sesuatu pada si sialan itu?!!” Jun berteriak dan mengadu pada sosok Mingyu yang sekarang duduk dengan gaya kasualnya, sambil menatap pemandangan rendah itu seolah tontonan yang sangat menarik baginya.

 

“Biarkan saja.” Mingyu berujar santai. Manik obsidiannya kembali menatap Wonwoo dengan tatapan merendahkan yang membuat Wonwoo menggeram marah. Wonwoo benar-benar benci melihat wajah Mingyu yang sangat menyebalkan di matanya.

 

“Kenapa ada air di sini?!” Suara Park Seongsaengnim memecahkan keributan. Membuat mereka semua terdiam saat Park Seongsaeng menyuruh Wonwoo untuk membereskan kekacauan. Ah. Kenapa pula harus Wonwoo yang di salahkan? Apa karena ia sendiri yang basah kuyup maka ia yang harus membereskan kekacauan ini? Wonwoo adalah korban disini!

 

“Karma benar-benar ada. Benarkan Jeonghanie?” Seungcheol tersenyum ke arah Jeonghan yang sekarang menatap Wonwoo dengan tatapan iba. Penuh kasihan. Tapi tatapan itu di hadiahi oleh delikan tajam Wonwoo sebelum pemuda itu pergi meninggalkan kelas.

 

“Jangan melihatku seperti itu! Atau aku akan membunuhmu!” Ucapan itu di arahkan pada Jeonghan. Hingga membuat pemuda bersurai coklat itu menunduk, dan enggan menatap punggung Wonwoo yang mulai menjauh dari pandangannya.

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan cepat menuju loker miliknya. Ia harus segera mengganti seragam kotornya. Kalau tidak salah, Wonwoo menyimpan satu seragam cadangan di loker. Wonwoo tidak mungkin belajar dengan keadaan basah kuyup seperti sekarang. Park Seongsaeng sudah menyeramahi dirinya tadi, dan Wonwoo hanya bisa mengangguk patuh untuk segera mengganti pakaiannya, agar ia tidak bolos pelajaran pria tua itu.

 

Hanya perlu waktu lima menit untuk Wonwoo sampai di loker miliknya. Koridor penyimpan sudah terlihat sangat sepi. Tentu saja, mereka sudah masuk ke kelas masing-masing. Hanya ada Wonwoo yang basah kuyup disini.

 

“Hah..” Menghela napas pelan, sebelum menggerakan tangan untuk membuka loker milkinya. Dan mata Wonwoo membulat saat melihat seragam satu-satunya yang di simpan di loker terlihat hancur tak berbentuk.

 

“Sial!!” Wonwoo mengumpat keras saat membawa seragam miliknya, dan melihatnya dengan jelas. Seragamnya sobek di bagian dada. Sobekan yang membentang dengan lebar. Jika Wonwoo memakainya, ia akan terlihat seperti gelandangan nanti. Ah. Hari ini Wonwoo benar-benar sial. Dan kesialannya bermula dari Mingyu sialan itu!

 

I feel sorry for ya, Wonwoo-ya.” Suara bariton itu tiba-tiba berbisik di belakangnya. Membuat tubuh Wonwoo menengang dengan cepat, saat sebuah lengan melingkar di bahu kecilnya. Dari aroma mint yang menguar di belakang tubuhnya, Wonwoo kenal siapa pemuda sialan yang berani menyentuhnya seperti itu. Itu adalah Kim Mingyu!

 

“Kau mempunyai banyak musuh, Wonwoo-ya.” Mingyu berbisik di telinganya dengan penuh sensual. Membuat Wonwoo mendecih. Seakan jijik dengan perlakuan Mingyu.

 

“Jangan berdiri di belakangku seperti itu, Mingyu.” Suara Wonwoo datar. Seakan tidak takut dengan tekanan yang menguar dari tubuh Mingyu yang menekan punggungnya. “Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan sekarang padamu. Bisa saja aku membunuhmu detik ini saja bukan?”

 

“Apa kau yang melakukan ini, Mingyu?”

 

“Aku bukan anak kecil yang melakukan hal konyol seperti itu.” Suara Mingyu menggelitik leher Wonwoo. Membuat tubuh Wonwoo menegang, saat tangan Mingyu bergerak menyentuh dagunya.

 

“Bagaimana rasanya di khianati oleh orang-orang yang dulu tunduk padamu? Sekarang tidak ada yang percaya dan menolong dirimu yang malang ini, Jeon Wonwoo.”

 

“So What? Aku tidak peduli.” Wonwoo mendorong tubuh Mingyu menjauh. Wonwoo memang tidak peduli jika semua orang mengkhianatinya. Ia sudah tumbuh menjadi pribadi yang tegar sejak kecil.

 

“Kau benar-benar menarik.”Manik obsidian Mingyu menatapnya dengan intens. Menilik wajah Wonwoo dengan penuh seksama. Sebelum akhirnya berjalan menjauh. Meninggalkan Wonwoo yang sekarang menghela napasnya lega saat Mingyu mulai hilang dari pandangannya. Pemuda itu benar-benar menganggu ketenangan Wonwoo.

 

“Aku akan membalas ini nanti.” Wonwoo menggeram penuh dendam, saat ia sudah memakai seragam sobeknya itu. Seragam itu sobek di bagian dadanya. Hingga menampilkan kulit Wonwoo yang seputih porselen melalui celah sobekan yang panjang itu. Sekarang, Wonwoo benar-benar terlihat eksotis dan menggoda, walau pakaian yang ia pakai sobek.

 

Kemudian Wonwoo mulai merapikan kembali lokernya. Mengunci, sebelum akhirnya berjalan kembali menuju kelas. Ia yakin, si Mingyu sialan itu sudah sampai di kelas. Dan nanti, dirinya yang akan menjadi pusat perhatian karena pakaiannya yang sobek. Wonwoo benar-benar terlihat seperti gelandangan saat ini. Sudahlah. Wonwoo lelah karena sejak tadi mengumpati kesialan yang ia alami. Lebih baik Wonwoo belajar dengan benar saja.

 

Hanya perlu beberapa menit untuk Wonwoo sampai di kelas itu. Ia mulai menggeser pintu, hingga membuat semua fokus yang ada di kelas beralih menatapnya. Dan Wonwoo bisa merasakan tatapan jelalatan dari para pria mengarah ke arahnya. Sial! Itu benar-benar menjijikan. Apa semua pria di kelasnya adalah homosexual seperti Kim Mingyu?

 

“Wonwoo-ssi, apa yang terjadi dengan seragammu?” Suara Park Seongsaeng memecah keheningan. Dan Wonwoo hanya membalasnya dengan sebuah gelengan pelan, sebelum akhirnya masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran kalkulus yang sedang di terangkan pria tua itu.

 

.

oOo

.

Tangan Wonwoo bergerak untuk menyentuh kran air yang ada di wastafel. Sebelum akhirnya, ia membasuh kedua tangannya. Saat ini, kelas sedang kosong. Semua guru sedang mengadakan rapat, dan kelas selanjutnya adalah tiga jam lagi. Entah mengapa Wonwoo merasa sangat lelah sekali hari ini.

 

“Wonwoo-ya..” Suara bass tiba-tiba memenuhi toilet pria itu membuat Wonwoo menoleh ke arah pemilik suara jelek itu. Retinanya bisa melihat sosok Dongwoo. Namja berperawakan gendut yang sangat jelek itu membawa sebuah seragam di tangannya.

 

“Aku meminjam seragam ini di ruang kesehatan untukmu.” Dongwoo mengulurkan seragam itu padanya. Dan tanpa berpikir dua kali, Wonwoo segera mengambil seragam itu. Tentu ia tidak ingin memakai seragam sobek seharian bukan? Wonwoo tidak ingin tubuhnya menjadi bahan tontonan lagi.

 

“Hm..” Wonwoo berdehem, sambil membuka seragamnya. Menampilkan tubuh mulus seputih porselen itu pada Dongwoo yang sekarang menatapnya dengan kilatan penuh nafsu. Sungguh, Wonwoo benar-benar jijik melihat tatapan Dongwoo yang mengarah padanya.

 

“Mingyu benar-benar jahat. Padahal kemarin dia sangat tunduk padamu, Wonwoo-ya.” Dongwoo tersenyum seperti orang idiot di depan Wonwoo yang masih sibuk mengancingkan seragamnya.

 

“Walaupun aku golongan preps, aku tidak akan membullymu seperti yang lain. Jika kau membutuhkanku, aku bersedia menjadi temanmu Wonwoo-ya.”

 

“Cih..” Wonwoo mendecih pelan. Teman katanya? Babi jelek itu ingin berteman dengan Wonwoo? Apa ia salah dengar?

 

“Hey, Gendut..” Dengan gaya arogan, Wonwoo mulai berkaca pada cermin. Merapikan rambut dan seragamnya agar rapi. Tidak memperdulikan Dongwoo yang sekarang menatapnya penuh tanya.

 

“Jangan berdekatan denganku. Kau membuat mataku iritasi.” Selanjutnya, Wonwoo mulai membalikan tubuhnya. Meninggalkan Dongwoo yang sekarang menggeram marah. “Terimakasih untuk seragamnya.”

 

Press

 

Tubuh Wonwoo tiba-tiba saja terdorong. Hingga ia tersungkur, dengan Dongwoo yang menekan punggung belakangnya. Dongwoo menduduki punggungnya dengan tubuh gendut itu. Sial! Babi jelek ini berani sekali. Tidak kah ia sadar jika berat badannya dapat meremukan tubuh kecil Wonwoo?

 

“KAU ADALAH TARGET JEON! BERANI SEKALI KAU BERKATA SEPERTI ITU PADAKU!!” Dongwoo berteriak dengan lantang. Kemudian ia mulai tertawa saat melihat Wonwoo yang tidak berkutik di bawah kungkungannya. “Kau seharusnya berterimakasih karena aku sudah berempati padamu!”

 

“MENJAUH DARIKU BABI SIALAN!!” Wonwoo berteriak. Mencoba bergerak. Tapi nihil. Tubuh Dongwoo terlalu berat, hingga ia tidak bisa bergerak sedikitpun.

 

“KAU BUKAN LAGI RAJA! BIARKAN AKU MENYENTUHMU.” Dongwoo mulai tertawa keras. Kemudian tangannya bergerak menyentuh dada Wonwoo, hingga kaitan seragamnya kembali terbuka. Tangan gemuk itu bergerak menyentuh putingnya, dan memilinnya dengan kasar.

 

“Ughh..” Wonwoo mengigit bibirnya dengan keras. Sial! Sial! Berani sekali babi itu menyentuhnya seperti ini. Sungguh, Wonwoo ingin menangis detik ini juga. Ia seakan menjadi tidak berdaya saat ini. Wonwoo bisa kembali mengingat kejadian saat Mingyu memperkosanya kemarin. Ia tidak ingin di perkosa lagi. Apalagi oleh babi biadab seperti Dongwoo.

 

Get Lost!” Suara bariton tiba-tiba membuat Wonwoo mengadah. Ia sudah tidak merasakan tubuh Dongwoo lagi menekan punggungnya. Dongwoo sudah menjauh saat melihat sosok Mingyu berdiri di depan Wonwoo sekarang, beserta pengikutnya.

 

“Mi-mingyu…” suara Wonwoo terbata saat memanggil nama pemuda itu. Entah mengapa Wonwoo mengehela napasnya lega. Ia lega karena Mingyu datang di waktu yang tepat.

 

“M-maafkan aku.” Dan Dongwoo segera berlari menjauh dari Mingyu dan Wonwoo. Si gendut ini ikut berdiri di jajaran pengikut Mingyu yang berdiri di belakang punggung kokoh pria itu.

 

“Bangunlah. Jangan berbaring seperti itu. Pantat mulusmu terlihat Wonwoo-ya. Semua orang bisa melihatnya.” Mingyu mengangkat tubuh Wonwoo dengan lembut. Membiarkan pemuda itu berdiri dengan tertatih.

 

“Aku tidak butuh bantuanmu.” Wonwoo menepis tangan Mingyu dengan kasar. Membuat Mingyu kembali menyeringai kecil karena tindakan Wonwoo yang benar-benar keras kepala. “Aku bisa mengurusnya sendiri.”

 

“Setidaknya, ucapkan terimakasih padaku karena menolongmu.” Nada penuh kearoganan itu terdengar menjijikan di telinga Wonwoo. Tidak ada yang meminta Mingyu datang untuk menolongnya.

 

“Ah. Apa kau jalang yang selalu melakukannya dengan orang lain? Seharusnya aku tidak menolongmu, Slut.”

 

Mata Wonwoo melebar penuh amarah. Kini ia kembali berbalik dan menatap Mingyu dengan tatapan penuh benci. Jalang katanya? Mingyu mengatainya jalang?

 

“APA YANG KAU KATAKAN BRENGSEK??!!” Wonwoo berteriak penuh amarah. Tangannya bergerak mencengkram seragam Mingyu. Hingga jarak mereka semakin menipis. Ia bisa melihat Mingyu tetap terlihat tenang di bawah tatapan tajamnya.

 

I said slut. You slutty bitch.”

 

“SAY IT AGAIN BASTARD!!” Cengkraman pada seragam Mingyu semakin erat. Tatapan penuh amarah itu terlihat karena wajah Wonwoo sudah memerah menahan amarahnya agar tidak membunuh Mingyu di tempat.

 

“Kau memang jalang, Wonwoo-ya. Kau benar-benar terlihat menikmatinya saat kita bercinta kemarin.”

 

“SHUT UP!” Cengkraman Wonwoo mulai mengendur. Tapi tatapannya masih menatap Mingyu dengan tajam.

 

“Itu hanya akting. Kau tahu? Aku hanya berakting menikmatinya agar kau menyelesaikannya dengan cepat homo sialan!” Wonwoo mulai melepas cengkramannya. Ia mulai menatap Mingyu dengan tatapan menantang. Seakan meremehkan pemuda itu.

 

“Tidak ada seorangpun yang merasakan kenikmatan denganmu. Because you are virgin, Mingyu-ya.” Wonwoo menyeringai kecil saat melihat rahang Mingyu mulai mengeras. Pemuda itu terlihat sangat marah, dan Wonwoo menyukai ekspresi Mingyu saat ini. “You are no different with those skuns over there!”

 

“Hemm..” Mingyu kembali mengembalikan ekspresinya dengan cepat. Pemuda itu tersenyum licik ke arah Wonwoo.

 

“Kau ingin mencobanya?” Jantung Wonwoo kali ini berdetak dengan keras saat mendengar ucapan Mingyu. Mencoba katanya? Apa yang Mingyu pikirkan? Apa Mingyu memang sebajingan ini?

 

“Hey kalian!” Mingyu berbalik dan menatap para pengikutnya yang masih setia berdiri di belakang tubuhnya.

 

“Apa kalian mendengarnya? Jika kalian horny saat ini, kalian bisa mencoba memakai Jeon Wonwoo. Membuktikan jika Wonwoo benar-benar jalang. Aku memberikan izin untuk kalian menyentuhnya.” Ucapan terakhir dari Mingyu membuat semua mata yang ada di sana menatap Wonwoo dengan lapar. Sial! Mingyu sialan! Wonwoo benar-benar tahu tatapan lapar mereka. Mereka benar-benar serius ingin menyentuhnya. Tidak ada pilihan. Wonwoo harus lari.

 

“Fuck!” Mengumpat kecil sebelum akhirnya berlari sekencang mungkin. Menerobos kerumunan orang yang sekarang berteriak seperti orang gila karena Wonwoo mulai berlari menjauh.

 

“TANGKAP DIA!!” Itu adalah suara Dongwoo, yang mengomando agar semua orang berlari menangkapnya. Dan tentu saja semua menjadi mengejar Wonwoo seperti orang kesetanan.

 

Baru kali ini Wonwoo berlari dengan penuh ketakutan dan tak tentu arah. Ia sudah melawan para pria yang mencoba menyentuh tubuhnya. Menendang hingga tersungkur, dan kemudian ia kembali berlari seperti orang gila. Sekarang, ia bagaikan tikus yang di kejar oleh mangsanya. Miris. Hidup Wonwoo benar-benar menyedihkan.

 

“Sial! Sial!” Mengumpat rasanya memang tidak akan membuat mereka berhenti. Wonwoo perlu bersembunyi. Ia harus bersembunyi sampai mereka menyerah untuk mendapatkannya. Wonwoo sudah berlari mengelilingi sekolah dengan di kejar oleh beberapa orang di belakangnya selama tiga puluh menit. Wonwoo benar-benar lelah. Napasnya sudah tersenggal. Seragamnya sudah nampak kacau dan berantakan. Tidak ada pilihan lain. Hanya ada satu ruangan yang bisa Wonwoo jadikan tempat bersembunyi. Dimana tidak ada seorang pun selain high class yang dapat memasukinya. Dan saat ini, Wonwoo sudah berada di depan ruangan itu.

 

“Semoga saja Mingyu tidak ada.” Wonwoo bergumam pelan saat ia sudah sampai di sebuah pintu jati yang ada di ujung koridor. Wonwoo harus segera masuk ke ruangan ini, jika tidak ingin di tangkap oleh orang-orang laknat itu. Dengan mantap, Wonwoo meraih kenop pintu di depannya. Ia masuk dengan cara mengendap, sebelum akhirnya menutup dan mengunci pintu di belakangnya.

 

“Lihat dirimu, Wonwoo-ya. Kau tidak punya kekuatan untuk melawanku.” Suara bariton itu terdengar memenuhi ruangan. Membuat tubuh Wonwoo menegang dengan cepat. Ia kenal suara itu. Itu adalah suara Kim Mingyu.

 

Menelan salivanya dalam, sebelum akhirnya mengadahkan kepalanya pelan. Ia bisa melihat sosok Mingyu yang sekarang menyeringai ke arahnya.

 

“Menjauh dariku!” Wonwoo berteriak lantang saat melihat Mingyu semakin mempersempit jarak. Hingga membuat tubuh Wonwoo terpojok, dan punggungnya menyentuh pintu di belakang.

 

“Hanya raja yang bisa masuk ruangan ini.” Mingyu memperingatkan. Lengannya bergerak untuk memenjarakan tubuh Wonwoo dalam kungkungannya.

 

“Tanpa aku, kau tidak bisa menjaga tubuhmu sendiri.”

 

“AKU BILANG DIAM! JUST SHUT UP, BASTARD!”

 

“Ini adalah peringatan terakhir.” Tangan Mingyu bergerak menyentuh dagu Wonwoo. Hingga membuat Wonwoo mengadah, dan menatap ke arahnya.

 

Do you want to get fucked by me?” Mingyu terdiam sejenak untuk melihat Wonwoo yang sekarang mengempalkan tangannya dengan erat. “Or do you want get fucked by everyone? I’ll let you choose, Wonwoo-ya.”

 

Wonwoo terdiam mendengar pilihan yang di tawarkan Mingyu. Apa ini benar-benar dirinya? Apa Wonwoo yang berkuasa bisa di ancam dengan mudah seperti ini? Kenapa? Kenapa Wonwoo harus menjadi seperti ini?

 

“Jika kau tidak menjawabnya dengan cepat, mereka akan segera menemukanmu. Kau memilihku atau mereka, Wonwoo-ya?”

 

“A-aku memilihmu.” Wonwoo berujar pelan. Dan ucapannya di hadiahi oleh senyuman menawan dari Mingyu. Pemuda itu tersenyum bahagia, sebelum akhirnya menarik kembali dagu Wonwoo hingga membuat pemuda itu mengadah. Wonwoo bisa merasakan nafas hangat Mingyu menerpa wajahnya.

 

Good boy.” Dan ucapan Mingyu di akhiri dengan sebuah kecupan singkat di bibir Wonwoo. Wonwoo hanya bisa terdiam saat bibir itu menyentuh dan melumat bibirnya dengan kasar. Wonwoo benar-benar tidak mempunyai pilihan lain bukan? Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Wonwoo akan memastikan jika Mingyu akan menerima balasannya nanti.

 

TeBeCe

Udah ah. Wkwk. Demi apa gue ga tega sumpah bikin Wonwoo menderita kayak gini. Tapi gue juga demen kalo wonu di masoin. Wkwk. Muka wonu keknya pantes gitu kalo di masoin, hawt-hawt gimana gitu.

Eh anjir gue ga ququ liat wonu sekarang maza. Demi apa bias gue makin hawt dengan rambut barunya. Wonu beneran hawt sama warna rambutnya sekarang wkwk. Ga ququ gue mazz..

Udah ah. Yuk Review? Gimana chap rape hari ini? wkwk

Chap depan gue warning ah kakak-kakak. Gue mau buat adegan rapenya sehalus mungkin. But gue tetap warning. Gue ingetin yang cukup umur jangan baca. Ini semua dosa sayang. Nanti kamu ga suci lagi. Wkwkwk

 

So Mind To Review biar daku semangat?

Ps: gue ga yakin bulan depan bakal up. Wkwk. Tapi di usahain yah kalo mood dan rl ga sibuk. Yuk buat daku semangat ngehardcore sama wonu. wkwk

 

Salam Hangat!

Astia morichan

 

 

 

 

 

 

Advertisements

You’re Mine Tetsuya | Chap 5| AkaKuro| Yaoi

0

Tetsuya terdiam kaku saat Seijuurou mendudukan tubuh mungilnya di sebuah couch beludru berwarna coklat yang ada di apartemen mewah- yang bagaikan suite room di hotel ternama- milik Akashi Seijuurou. Tetsuya tidak pernah tahu jika Seijuurou mempunyai apartemen semewah ini. Well, harus di akui, keluarga Akashi memang kaya raya. Sejak tadi, Tetsuya bahkan berdecak kagum ke seluruh penjuru ruangan mewah milik Seijuurou ini. Apartemen Seijuurou sangat luas untuk di isi oleh satu orang saja. Ruang tengah, lalu ada sebuah sekat yang memisahkannya dengan dapur, dan terakhir kamar milik Seijuurou. Di kamar ini, ada beberapa rak buku yang menjulang tinggi, di sertai satu set cheese game yang di simpan di sudut ruangan yang mengarah ke balkon.

 

“Minumlah dulu, Tetsuya. Aku sudah memberitahu Ibu mu jika kau menginap di tempatku.” Suara Seijuurou membuyarkan lamunan Tetsuya. Membuat pemuda bersurai biru itu tersentak, dan mengerjapkan matanya, saat melihat Seijuurou mengulurkan sekaleng cola.

 

“T-terimakasih.” Tetsuya mengambil cola itu dengan cepat. Ia tidak ingin menatap Seijuurou lama. Debaran jantungnya selalu menggila saat berada di dekat pemuda itu. Apalagi Tetsuya masih ingat kejadian beberapa jam lalu saat dirinya mendesah di bawah kungkungan Seijuurou. Sungguh, Tetsuya benar-benar malu!!

 

“Hm.” Seijuurou berdehem pelan. Lewat ekor mata Tetsuya, ia bisa melihat pemuda bersurai crimson itu duduk di sampingnya. Membuat Tetsuya refleks menjauhkan jarak dari Seijuurou. Dan tingkahnya itu malah di hadiahi kekehan khas Seijuurou, yang terdengar menyebalkan di telinga Tetsuya.

 

“Aku tidak tahu jika Tetsuya benar-benar menyukaiku.” Ucapan Seijuurou yang di iringi tawa itu membuat Tetsuya hampir saja tersedak dengan matanya yang menatap horor pada Seijuurou. Hey! Sejak kapan Seijuurou menjadi orang sepede ini?

 

“Kau terlalu percaya diri Akashi-kun.” Tetsuya mendelik ke arahnya, dan delikan itu malah membuat Seijuurou menyeringai kecil. Sebelum akhirnya menarik tangan Tetsuya, hingga pemuda bersurai biru itu memekik pelan, dan menatap ke arah Seijuurou. Tubuh mungil Tetsuya terdorong hingga berbaring di couch, dan kembali berada di bawah kungkungan Seijuurou.

 

“Ini bukti jika Tetsuya menyukaiku.” Seijuurou mendekatkan wajahnya, dan hal itu membuat Tetsuya menahan nafas saat wajah Seijuurou hanya berjarak beberapa senti.

 

“Apa Tetsuya tahu teori cinta prisma segitiga?” Tetsuya dengan cepat menggeleng dengan mata terpejam saat mendengar pertanyaan Seijuurou. Teori cinta prisma segitiga katanya? Memang ada teori seperti itu? Teori yang Tetsuya tahu adalah teori hukum mutlak matematika dalam kalkulus, yang sepertinya sangat cocok untuk Seijuurou.

 

“Kalau begitu, aku akan memberitahu Tetsuya.” Seijuurou berbisik seduktif di telinga Tetsuya, sebelum akhirnya meniup telinga Tetsuya dengan pelan. Hingga membuat Tetsuya yang sejak tadi menahan napas, mendesah kecil.

 

“Satu..” Bibir Seijuurou mengecup telinga Tetsuya. “Pendekatan. Aku sudah mengetahui seluk beluk Tetsuya. Begitupun Tetsuya yang sangat mengenalku.” Lalu tangan Seijuurou bergerak menyentuh leher Tetsuya, hingga membuat Tetsuya sedikit memiringkan lehernya.

 

“Dua..” Kini ciuman itu mendarat di leher Tetsuya. Mengecup leher jenjang itu pelan, sebelum akhirnya memberi sebuah tanda kepemilikan di sana. Menghisap dan menjilatnya beberapa kali, hingga membuat Tetsuya mengerang hanya karena ciuman itu. “Ketertarikan. Seperti aku yang sangat tertarik dan menyukai Tetsuya sejak dulu.”

 

Ucapan Seijuurou, entah kenapa membuat Tetsuya semakin berdebar tak karuan. Rasanya Tetsuya bahagia hanya mendengar ucapan itu. Bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Tetsuya benar-benar takut jika Seijuurou mendengar detak jantungnya yang semakin menggila.

 

“Ketiga..” Kali ini, bibir Seijuurou berada tepat di bibir plum Tetsuya. Kemudian mengecupnya cukup lama. Ciuman singkat tanpa adanya nafsu di sana. “Komitmen. Aku hanya bisa menjanjikan satu hal untuk Tetsuya.” Seijuurou menjauhkan jaraknya pada Tetsuya. Hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Tetsuya yang sudah benar-benar memerah di depannya itu sungguh menggoda.

“Jika Tetsuya ikut pindah bersamaku, aku janji akan membahagiakan Tetsuya. Tidak peduli jika nanti orangtua kita mengetahui hubunganku dengan Tetsuya. Aku hanya ingin tinggal bersama Tetsuya. Asal Tetsuya bersamaku, maka semua akan baik-baik saja.” Tetsuya bisa melihat keseriusan dari manik heterechomia itu. Seijuurou nampak sangat serius dengan ucapan, dan membuat Tetsuya entah kenapa merasa sangat bahagia. Tetsuya bahkan lupa jika sejak tadi ia memikirkan orientasi seksualnya seperti apa. Saat ini, Tetsuya seakan tidak peduli. Mungkinkah benar jika Tetsuya mencintai Seijuurou?

 

“Ketika ketiga unsur itu menjadi satu, maka itu adalah cinta. Aku mencintai Tetsuya. Tidak peduli jika dunia akan menghujat kita nanti. Asal Tetsuya bersamaku, maka itu sudah cukup.”

 

Mereka terdiam beberapa sesaat. Sebelum akhirnya suara helaan nafas dari Tetsuya terdengar. Tangan pemuda bersurai biru itu kini bergerak untuk menangkup wajah Seijuurou. Membuat si surai crimson itu mengernyitkan alisnya. Apa sekarang Tetsuya sudah berubah pikiran dan menerima Seijuurou apa adanya?

 

“Aku tidak tahu.” Kali ini, Tetsuya menggeleng dengan keras.

 

“A-apa yang Akashi-kun harapkan dari hubungan ini? Kau tahu? Tidak akan ada harapan dari hubungan dua orang pria, Akashi-kun.”

 

“Kau mencintaiku Tetsuya.” Manik heterechomia menatap tajam. Seakan enggan mendengar penolakan yang keluar dari mulut Tetsuya. Seijuurou bahkan tidak peduli dengan pemikiran orang lain.

 

“Masa depan Akashi-kun akan hancur jika bersamaku.” Itu benar. Apa yang Tetsuya ucapkan adalah sebuah kebenaran. Jika Tetsuya memulai hubungannya bersama Seijuurou, hidup pemuda itu akan hancur. Apalagi jika Ayah Seijuurou tahu hubungan mereka. Itu aib. Tidak akan ada akhir bahagia dari hubungan dua orang pria. Walaupun Tetsuya akui, jika mungkin memang ia mempunyai perasaan untuk Seijuurou. Debaran itu nyata, dan itu hanya untuk Seijuurou saja.

 

“Kau bukan Tuhan yang bisa memprediksikan segalanya!” Seijuurou membentak Tetsuya. Tangannya bergerak mencengkram bahu pemuda bersurai biru itu dengan erat. Hingga membuat Tetsuya meringis karena cengkraman Seijuurou terlalu kasar.

 

“Aku hanya tidak ingin Akashi-kun hancur karena ego semata. Kau hanya bingung, Akashi-kun!” Suara Tetsuya meninggi beberapa oktaf. “ Dan A-aku bukan g-gay.”Suaranya mengecil dan mengalihkan pandangannya dari Seijuurou.

 

“Aku mengatakan yang sebenarnya Tetsuya! Aku mencintaimu, Kuroko Tetsuya!”

 

“Ini salah Akashi-kun!” Manik aquamarinenya mulai membalas tatapan tajam Seijuurou.

 

“Aku akan membuktikannya pada Tetsuya. Dan kau juga sama denganku. Tetsuya mencintaiku.” Ucapan terakhir Seijuurou berakhir di iringi dengan pekikan keras Tetsuya, saat Seijuurou mendaratkan bibirnya pada perpotongan leher Tetsuya, dan mengigit leher itu hingga membuat tanda yang kontras di sana. Kemudian manik heterochomia itu menatap tajam Tetsuya yang kini menatapnya takut. Tatapan Seijuurou seakan menguliti dirinya.

 

“Tetsuya hanya perlu menikmati saja.” Sebelum Tetsuya sempat membalas ucapan Seijuurou, pemuda bersurai crimson itu membawanya ke dalam ciuman panjang miliknya. Melumat bibir Tetsuya dengan kasar, hingga membuat Tetsuya membuka mulutnya. Membiarkan lidah Seijuurou membelai lembut lidah miliknya, dan menghisap lidahnya dengan kasar.

 

“Ehmm….” Erangan tertahan itu terdengar. Tenaga Tetsuya seolah di serap habis akibat ciuman Seijuurou yang membuat kepalanya seakan pusing. Apalagi saat tangan Seijuurou bergerak membuka kaitan kancing seragam miliknya. Hingga membuat tubuh Tetsuya terekspos. Memperlihatkan tubuh seputih porselen, yang membuat Seijuurou hilang akal saat menyentuhnya. Apalagi saat tangannya menyentuh lembut tubuh Tetsuya dengan gerakan sensual, yang membuat Tetsuya mengigit bibir bawahnya keras-keras. Agar tidak mengeluarkan sebuah desahan.

 

“Anhhh..” Desahan itu keluar dari mulut Tetsuya. Saat lidah Seijuurou bergerang menyentuh putingnya. Menghisapnya dengan pelan. Hingga membuat Tetsuya hilang akal. Sungguh. Tetsuya tidak tahan dengan sensasi yang Seijuurou berikan. Tubuh dan genitalnya sudah menegang karena sentuhan itu. Ini semua salah. Tetsuya harus menghentikan semuanya. Sebelum benar-benar terlambat.

 

“A-akashi-kun..” Seijuurou mengadah saat mendengar suara kecil Tetsuya memanggil namanya. Ia bisa melihat Tetsuya menatapnya dengan sayu, dan penuh permohonan.

 

“L-lepaskan aku..” Suara Tetsuya begitu lirih. Matanya mulai berair menahan tangis. Tapi Tetsuya yang seperti ini lah yang menghancurkan pertahanannya. Tetsuya menggodanya dengan ekspresinya yang seperti itu.

 

“A-aku akan membencimu jika kau melanjutkan ini.” Kali ini suara Tetsuya terdengar lebih tegas. Membuat Seijuurou terdiam sejenak. Sebelum akhirnya menjauh dari tubuh Tetsuya. Pemuda bersurai crimson itu kini mulai berdiri. Meninggalkan Tetsuya yang sekarang memberingsut dan langsung terduduk.

 

“Maafkan aku.” Ucapan singkat itu terdengar. Sebelum akhirnya Seijuurou berjalan menjauh. “Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran Tetsuya.”

 

Tetsuya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera merapikan kembali seragamnya. Memakainya dengan terburu-buru. Membawa tasnya, dan mulai menjauh dari Seijuurou. Berjalan ke arah pintu yang akan mengantarkannya keluar. Walau sejujurnya, jauh di dalam lubuk hati Tetsuya, ia kecewa pada Seijuurou karena membiarkan dirinya pergi seperti ini. ia juga marah pada dirinya sendiri, karena masih mengharapkan Seijuurou untuk mengejarnya. Egois bukan?

 

.

oOo

.

You’re Mine Tetsuya !!

M

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

Romance, Drama

Warning: Typo, OOC, Yaoi dll. Please be patient with me ^^

Kuroko tahu Ucapan Akashi itu mutlak. Tapi Ia tak mengerti dengan perintah Akapyi shi yang menyuruhnya untuk pindah ke SMA Rakuzan dan meninggalkan Seirin. Lalu keadaan dimana Akashi menciumnya sepihak. Hey! Kuroko itu normal kan? Dan hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

a/n: Sumpah. Ini ngaret banget, hampir setahun yah? -_- demi apa gue ngaretin banget kerjain FF ini. well, ternyata buat canon itu susah. Gue sampe stuck mau buat ini kayak gimana. Chap depan tamat aja deh. Takut malah jadi kacau karena ini basisnya ke Canon-_- lelah gue qaqa -_- BL AKKR aku dis aja yah. Daku hapus. Gomen. Maafkan -_- kalo kalian lupa cerita ini. baca lagi dari awal ._.

EnJOY!

Happy Reading

.

oOo

.

 

Tetsuya membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia bahkan mengabaikan teriakan ibunya dari bawah. Karena tiba-tiba berlari masuk ke rumah, dan menaiki tangga tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Jujur, Tetsuya bingung. Ada yang salah dengan dirinya. Tetsuya tidak mengerti. Ia bahkan membanting tas miliknya, sebelum akhirnya berbaring di atas ranjang dan merutuki kebodohan yang ia punya.

 

“Ini menyakitkan.” Tangan Tetsuya bergerak menyentuh dadanya yang seakan teriris. Manik aquamarine yang sejak tadi menatap langit-langit kamar mulai berair. Tetsuya tidak tahu kenapa ia ingin menangis. Ia hanya merasa kehilangan.

 

Seharusnya Tetsuya senang karena Seijuurou melepasnya. Bukankah Tetsuya ingin Seijuurou kembali ke Kyoto dan tidak mengejarnya lagi? Bukankah Tetsuya ingin Seijuurou sadar jika hubungan sesama jenis itu salah? Setelah Seijuurou menyerah, kenapa Tetsuya harus sedih? Bahkan bernapas pun rasanya sulit sekali.

 

Mata Tetsuya mulai tertutup.membiarkan linangan air mata membasahi pipinya. Mungkin menangis akan menghilangkan rasa menyakitkan yang sekarang menggerogoti hatinya. Tetsuya harap jika ia tidak benar-benar jatuh cinta pada sosok Seijuurou. Walaupun mengucapkan mantra, jika ia bukanlah gay pun, itu tidak akan berefek saat ini. Jika memang ia tidak jatuh cinta untuk Seijuurou, Tetsuya seharusnya tidak bereaksi karena di sentuh pemuda itu. Tetsuya seharusnya marah, dan bukannya membiarkan Seijuurou menyentuh tubuhnya dengan seenak jidat.

 

“Ini bukan cinta.” Bergumam pelan hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ini bukan cinta. Rapalan mantra itu mungkin tidak akan berefek. Tapi biarkan Tetsuya berharap mantra itu akan mempunyai efek di esok hari. Tetsuya harap, ketika ia terbangun nanti perasaannya untuk Seijuurou akan segera menghilang.

.

oOo

.

 

Keesokan paginya, Tetsuya terbangun dengan perasaan kosong. Tidak menentu. Masih ada yang hilang dari dalam diri Tetsuya, dan ia tidak tahu sesuatu yang hilang itu apa. Tetsuya merasa hampa. Bahkan ia merasa enggan untuk bangkit dari tempat tidur, saat suara Ibunya berteriak dari bawah. Tetsuya juga tidak peduli jika ia akan telat. Tetsuya benar-benar malas.

 

 

Drrtt

 

Getaran ponsel Tetsuya membuatnya mengalihkan perhatian pada nakas yang ada di samping. Dimana ponsel miliknya tersimpan. Manik aquamarinenya bisa melihat dengan jelas sebuah pesan masuk yang berasal dari Ryouta.

Dengan cekatan, ia mulai mengambil ponselnya, sambil tetap berbaring di ranjang. Tangan Tetsuya menggeser slide layar hingga terbukalah pesan singkat itu.

 

From : Kise-kun

 

Tetsuya-chii, apa benar Akashi-chii sudah kembali ke Kyoto? Padahal aku dan Aomine-chii ingin mengajaknya makan malam nanti.

 

Jantung Tetsuya kembali berdetak tak karuan saat membaca nama Seijuurou di sebutkan. Benarkah Seijuurou sudah pergi ke Kyoto? Kenapa bisa secepat itu?

 

To : Kise-kun

 

Aku tidak tahu, Kise-kun.

 

Tetsuya mengetik pesan itu cepat, sebelum mengirimnya pada Ryouta. Tetsuya memang tidak tahu. Ia tidak tahu jika Seijuurou pergi secepat itu. Entah kenapa Tetsuya bisa merasakan dadanya kembali sesak saat menyadari jika mungkin ini adalah kesalahannya Seijuurou pergi. Kenapa Seijuurou harus pergi? Kenapa Tetsuya kecewa? Bukankah seharusnya Tetsuya senang karena Seijuurou tidak akan mengganggu kehidupannya lagi?

 

From : Kise-kun

 

Tadi aku menelepon Akashi-chii. Tapi yang mengankat ponselnya malah Mayuzumi. Aku heran kenapa ponsel Akashi-chii ada pada Mayuzumi di saat seperti ini. aku bahkan belum bersiap ke sekolah. Ya sudahlah Kuroko-chii. Mungkin lain kali aku akan mengajak Akashi-chii makan bersama kita.

 

Saat membaca deretan pesan dari Ryouta, entah kenapa Tetsuya merasa tidak suka dengan keberadaan Mayuzumi. Pria itu memang dekat dengan Seijuurou. Tetsuya tahu itu. Mereka pernah bertemu saat di winter cup dulu. Jika Seijuurou sudah berada di Kyoto pagi ini, maka pemuda itu memang pergi ke rumahnya saat Tetsuya memutuskan pulang. Jika Seijuurou mencintai Tetsuya, bukankah pemuda itu seharusnya berusaha lebih untuk mendapatkannya? Ah. Kenapa pula Tetsuya harus berharap seperti itu?

 

“S-sepertinya aku memang harus mendinginkan kepalaku.” Tetsuya bergumam ragu. Merapalkan mantra jika ia sama sekali tidak mencintai Seijuurou. Dan berharap mantra itu bekerja walau beberapa saat.

 

TebeCe

 

Chap depan tamat deh. Serius. Mau daku selesein aja. Ini makin gaje dari plot awal yah? Entah lah gue aja ga paham apa yang gue ketik -_-

 

Sampai jumpa. Dadah. Sayonara.

Mind To Vomen?

The Man Who Cant Be Moved [ Sequel Of Running Low] AkaKuro | Yaoi

0

 

 

 

Tetsuya mengalihkan fokus retinanya pada pemandangan yang ada di depan mata. Ia bisa melihat dengan jelas salju mulai turun satu persatu. Butiran putih yang kini menggenang di setiap pohon yang ada di depan kamarnya. Jika seperti ini, Tetsuya akan mengingat lagi kenangan lama. Ya. Kenangan bersama dengan Akashi Seijuurou- Pria yang pernah menjadi sahabat dekatnya. Pria yang menyatakan perasaannya. Pria yang selalu Tetsuya sakiti berkali-kali.

Jujur. Tetsuya sangat merindukannya sekarang. Dulu, jika Seijuurou ada, Tetsuya akan memeluk pria itu dengan erat. Agar ia tidak perlu menggigil karena kedinginan yang tubuhnya rasakan. Ia rindu kehangatan tubuh Seijuurou yang selalu memeluknya dengan erat. Tetsuya juga rindu kecupan singkat yang selalu Seijuurou lakukan saat ia pura-pura terlelap. Tetsuya bukanlah orang bodoh yang tidak tahu perasaan Seijuurou. Tatapan cinta Seijuurou selalu terpancar untuknya, dan Tetsuya tidak pernah mengelak, karena ia juga mencintai Seijuurou. Walaupun ia tahu semua ini salah. Maka hanya jalan inilah yang Tetsuya harus pilih.

 

“Ne.. Tetsu-kun..” Suara merdu dari wanita bersurai pink itu menggema di ruangan ini. Membuat Tetsuya menoleh saat melihat sosok Momoi Satsuki. Ah ralat. Kuroko Satsuki yang berjalan mendekat ke arahnya. Ya. Satsuki adalah istri sah Tetsuya. Sebenarnya, ia merasa kasihan pada Satsuki. Tetsuya harusnya tidak bertindak egois seperti ini, jika ia hanya menyakiti perasaan Satsuki. Sejak mereka menikah hampir dua tahun lalu, Tetsuya sama sekali tidak pernah menyentuh istri cantiknya itu. Karena Satsuki sadar, sebenarnya Tetsuya tidak mencintai dirinya lagi. Ah. Bukan. Tetsuya memang tidak pernah mencintainya selama ini.

 

Tetsuya mengerutkan alis saat melihat Satsuki menatapnya dengan pandangan sendu. Apalagi saat wanita itu menarik tangannya, agar Tetsuya bisa melihat dirinya dengan jelas.

Hening beberapa saat. Satsuki hanya menatap wajah Tetsuya lama, sebelum akhirnya ia berucap.

 

“Bagaimana jika kita berpisah saja, Tetsu-kun? Kau tahu? Kau tidak boleh seperti ini terus. Kau harus mencari lagi Akashi-kun. Aku tidak apa-apa. Sungguh.” Manik aquamarine Tetsuya membulat saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Satsuki. Ia bahkan tidak pernah membayangkan jika Satsuki akan mengatakan hal itu. Istrinya meminta cerai. Istrinya meninggalkan Tetsuya. Sama dengan Seijuurou yang meninggalkannya.

 

“K-kau ingin bercerai denganku?” Dan pertanyaan itu di sambut dengan anggukan pelan Satsuki. Tetsuya tahu, Satsuki sudah menderita selama ini. Terkadang, Tetsuya merasa menjadi orang yang sangat bodoh karena tidak tertarik dengan gadis secantik Satsuki.

 

“Ya. Tetsu-kun harus bahagia. Kau akan terlihat hidup jika ada Akashi-kun di sampingmu.” Suara Satsuki bergetar pelan, dan Tetsuya tahu, jika wanita itu tengah menahan isak tangisnya. Tetsuya juga tidak ingin menyakiti Satsuki. Wanita yang sudah ia kenal sejak lama itu terlalu baik untuknya. Satsuki pantas mendapatkan pria yang lebih baik darinya.

 

“Maafkan aku, Satsuki-chan.” Dan Tetsuya hanya bisa tersenyum getir saat melihat gelengan yang di berikan Satsuki. Jika bisa Tetsuya memohon, ia ingin mengulang waktu. Waktu dimana ia tidak memutuskan untuk berpacaran dengan Satsuki, karena ego bodohnya. Benar kata orang. Penyesalan itu selalu datang terakhir. Tetsuya menyesal. Kenapa ia tidak jujur tentang perasaannya pada Seijuurou saat itu.

 

The Man Who Cant Be Moved

Sequel of Running Low

Kuroko no Basuke c Tadatoshi Fujimaki

T

Romance, Hurt/Comfort/ Angst/ Maso kaya gue

WARNING KERAS! YAOI! MASO! TYPO’S, NGENES, OOC. DLL. GA SUKA? BACK OFF!

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

 

Song : The Man Who Cant Be Moved – The Script

 

a/n: Gue lagi jadi masosis. Serius gue lagi pengen di masoin/? Ga tau kenapa tiba-tiba demen cerita nyesek. Ah gue ga yakin sih ini nyesek apa ngga. Tapi yang jelas. Di part ini, gue mau masoin cuya. Kalo di running low gue masoin juyo. Disini cuya yang gue sakitin.

Padahal seharusnya gue belajar buat uts bulan ini. tapi entah malah ngetik begini. Yah doain aja uts gue lancar guys. Wkwk

Happy Reading

EnJOY!

.

.

Dulu, aku berpikir cinta yang aku punya untukmu adalah sebuah dosa.

Tapi ketika aku kehilangan dirimu, maka aku tidak takut masuk neraka sekalipun.

Jika cinta ini adalah dosa, aku akan melakukan dosa ini untukmu.

Dan aku pikir, aku begitu membencimu saat itu.

Tapi, sepertinya aku salah.

Tahukah kau apa yang lebih dalam dari perasaan benci?

Aku pikir itu adalah cinta.

Ya. Aku mencintaimu, Sei-kun.

(Quotes of ARTTL)

.

.

.

Tetsuya berjalan dengan terburu-buru. Menerobos kerumunan mahasiswa yang mengahalangi jalannya. Ya. Tetsuya sekarang sedang berada di University of California, Kampus terkenal yang ada di Amerika Serikat. Tetsuya pergi ke negara nan jauh itu, dengan tujuan untuk bertemu dengan Seijuurou. Konyol bukan? Ia niat melanjutkan gelar Doktornya hanya untuk Seijuurou. Pria yang bahkan belum tentu sudi bertemu dengannya lagi, saat pria itu justru sudah memutuskan akan menghilang dari kehidupannya.

 

Tapi ini adalah jalan terakhir yang Tetsuya punya. Ia merindukan Seijuurou sampai segila dan senekat ini. Tetsuya bahkan memaksa Aomine Daiki agar memberinya informasi tentang Seijuurou satu bulan lalu. Dan begini lah Tetsuya berakhir sekarang. Setelah mengurus segalanya, ia pindah ke San Fransisco, California, Kota tempat ia akan melanjutkan studi, juga tempat Seijuurou berada.

 

Jadi, ini yang akan Tetsuya lakukan sekarang. Mencari Seijuurou, setelah urusan di kampusnya selesai. Menurut Daiki, Seijuurou sekarang menjadi mahasiswa kedokteran di universitas yang sama dengannya. Dan Seijuurou sedang melakukan magang di salah satu rumah sakit paling besar di kota itu. Rumah Sakit California yang sangat terkenal seantreo itu. Tetsuya pikir, Seijuurou sudah menjadi orang yang sangat hebat. Yah. Tetsuya memang akui jika Seijuurou itu sangat jenius. Tapi Tetsuya tidak pernah tahu jika Seijuurou akan mengambil beasiswa di Univesitas ternama itu, dan kini menjadi salah satu dokter magang di Rumah Sakit ternama. Hanya dalam waktu singkat, Seijuurou sudah bisa seperti ini. Mungkin jika saja Seijuurou berniat untuk terus melanjutkan studinya seperti Tetsuya, ia yakin, Seijuurou sudah menjadi seorang Profesor saat ini.

 

Ah. Sudahlah. Tetsuya lelah berspekulasi tentang Seijuurou di masa depan. Tetsuya percaya jika Seijuurou akan menjadi orang sukses di masa depan. Dan sekarang sudah terbukti. Kali ini, Seijuurou berhasil menggapai mimpinya. Menjadi seorang dokter. Jika Tetsuya bertemu dengan Seijuurou nanti, ia akan mengucapkan selamat karena impian sejak kecil pria itu tercapai.

 

“A-ah.. M-maaf.” Tetsuya berujar lirih saat tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang, dan membuat pria bersurai abu itu mengaduh pelan saat bahunya tertabrak oleh Tetsuya.

 

“Seharusnya kau tidak berlari seperti itu.” Pria bersurai abu itu mendengus kesal ke arah Tetsuya, sambil memegangi bahunya yang masih berdenyut sakit. Ia tidak habis pikir jika tubuh mungil pria bersurai biru itu sangat kuat.

 

“Maafkan aku. Apa kau ingin aku antar ke rumah sakit sekarang? Aku akan mengantarmu.” Tetsuya berseru panik, dengan logat bahasa inggrisnya yang tidak terlalu lancar. Membuat pria bersurai abu itu terkikik saat mendengarnya. Ternyata pria bersurai biru itu sangat lucu.

 

“Hahaha. Tidak usah.” Pria bersurai abu itu tertawa pelan, sambil mengulurkan tangannya ke arah Tetsuya. “Mayuzumi Chihiro.” Ia memperkenalkan dirinya pada Tetsuya yang masih terlihat kebingungan di depannya.

 

“K-kuroko Tetsuya.” Tetsuya membalas uluran tangan Mayuzumi dengan hangat, tanpa tahu tubuh Mayuzumi menegang saat mendengar namanya. Seolah teringat akan satu hal yang ia lupakan.

 

“Kau berasal dari Jepang?” Pertanyaan yang di lontarkan Mayuzumi membuat Tetsuya kembali mengernyitkan alisnya bingung. Bagaimana bisa Mayuzumi tahu dirinya berasal dari Jepang? Apa Mayuzumi itu seorang cenayang? Ah. Sepertinya Tetsuya terlalu suka menonton drama jika berspekulasi bahwa pria tampan yang ada di depannya adalah cenanyang. Well, nanti Tetsuya akan berusaha agar tidak menonton drama lagi.

 

“Saat aku ke Jepang satu tahun lalu,” Mayuzumi terdiam sebentar. Seakan berpikir, sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.

“ Aku pernah melihat orang yang mirip denganmu di foto.” Mayuzumi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Ah.. Tapi tidak menutup kemungkinan jika orang yang aku lihat di foto adalah kau. Mungkin aku salah orang.” Dan Mayuzumi kembali tertawa kecil, sebelum matanya berbinar saat melihat sosok yang kini berdiri lima meter di belakang Tetsuya.

 

“Yo.. Sei-chan!!” Mayuzumi berseru sambil melambaikan tangannya. Membuat Tetsuya ikut menoleh. Dan alangkah terkejutnya Tetsuya, saat manik aquamarine itu menangkap sosok yang selama ini ia cari. Ia rindukan. Di depannya, berdiri sosok pria bersurai crimson yang memakai jas putih di sertai stetoskop yang menggantung di lehernya. Dia- Seijuurou- menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk Tetsuya artikan. Manik heterochromia itu mengerjap kaget, seakan tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap.

 

“Tetsuya..” Dan suara bariton milik Seijuurou yang selalu Tetsuya rindukan itu menggema di telinganya. Membuat jantungnya melompat kegirangan saat suara itu seolah menghilangkan rasa rindunya selama satu tahun ini. Ia rindu suara Seijuurou. Sangat. Sampai rasanya Tetsuya tidak tahu bagaimana caranya untuk bernafas.

 

“S-sei-kun..” Suara Tetsuya bergetar saat memanggil nama Seijuurou dengan nada sarat akan kerinduan. Ia rindu. Hanya itu yang Tetsuya tahu. Ingin rasanya Tetsuya menerjang tubuh Seijuurou, dan memeluknya dengan erat.

 

Mereka hanya terdiam. Saling tatap beberapa detik, saat manik aquamarine Tetsuya menatap sosok Seijuurou dengan sendu. Di ikut dengan manik heterochromia Seijuurou yang menatapnya dengan intens. Dari tatapan itu, Tetsuya tahu satu hal. Seijuurou tidak merasakan hal yang sama untuknya.

 

“Ah.. Ternyata benar. Tetsuya ini yang ada di fotomu kan, Sei?” Mayuzumi memecah keheningan. Membuat alis Tetsuya mengernyit, dan di ikuti Seijuurou yang sekarang tersenyum tipis padanya dan Mayuzumi. Sepertinya Seijuurou cukup baik mengendalikan dirinya saat ini.

 

“Ya. Tetsuya adalah temanku. Dia yang aku ceritakan menikah hampir dua tahun lalu.” Ucap Seijuurou sarkatik. Tanpa tahu jika Tetsuya merasa tersinggung karena ucapannya. Teman katanya? Apa ia tidak salah dengar? Seijuurou hanya menganggapnya sebagai teman saja.

“Jadi dimana istrimu, Tetsuya?”

 

“Aku sudah bercerai dengannya setengah tahun yang lalu.” Ucap Tetsuya dengan tatapan datarnya. Dan ucapan itu membuat Seijuurou cukup kaget saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut si surai biru. Entahlah. Tetsuya tidak bisa menebak raut wajah datar Seijuurou saat ini.

 

“Jadi, apa yang kau lakukan di sini Tetsuya?” Pertanyaan Seijuurou terdengar to the point. Seperti ingin segera menjauh dari Tetsuya secepatnya.

 

Ingin rasanya Tetsuya menjawab jika ia merindukan pria itu. Ia ingin bertemu dengan Seijuurou dan meminta maaf atas segalanya yang pernah ia lakukan. Juga berkata jujur, jika ia sangat mencintai Seijuurou, sampai Tetsuya tidak akan peduli jika dunia menghujatnya sekali pun.

 

“Melanjutkan pendidikkanku di universitas ini, Akashi-kun.” Kali ini Tetsuya bisa melihat Seijuurou tersenyum getir. Ia tidak tahu apa arti senyuman yang Seijuurou berikan untuknya.

 

“Kalau begitu selamat datang di kampus ini.” Seijuurou menunjukkan senyum simpulnya. Tapi Tetsuya tahu, senyuman itu palsu. Senyuman itu sama sekali tidak tulus Seijuurou berikan untuknya.

 

“Ayo, Mayuzumi. Aku akan mengajarimu tentang anatomi lagi.” Seijuurou berbalik, sambil menarik tangan Mayuzumi. Menggenggamnya dengan erat. Hingga membuat Tetsuya mencelos melihat pemandangan yang ada di depannya itu. Seijuurou mengabaikannya saat mereka pertama kali bertemu sejak dua tahun terakhir. Seijuurou menjauhinya. Ekspektasi yang selama ini Tetsuya impikan sama sekali tidak terwujud. Berbeda. Benar-benar berbeda 180 derajat.

 

“E-eh? Bukankah kau akan ke rumah sakit lagi?”

 

“Nanti. Setelah kau mengerti tentang apa yang aku ajarkan.”

 

Ingin rasanya Tetsuya berteriak kesakitan saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Seharusnya, Seijuurou hanya tersenyum seperti itu padanya. Senyum Seijuurou itu hanya untuk Tetsuya. Candaan Seijuurou itu hanya untuknya. Seharusnya dirinya yang ada di posisi itu, bukan Mayuzumi.

Ternyata perasaan ini lebih menyakitkan. Kali ini, Tetsuya mengerti bagaimana perasaan Seijuurou saat dirinya memilih bersama Satsuki. Rasanya hati Tetsuya serasa kosong dan tidak berarti apapun. Hampa. Seakan Tetsuya tidak punya hati lagi untuk merasakan apa yang namanya kesedihan. Menangis pun Tetsuya sudah tidak sanggup. Ia sudah lelah menangisi penyesalannya untuk Seijuurou dua tahun lalu. Tapi kali ini, rasa sakit bagaikan di rajam tombak panas pada ulu hatinya itu benar-benar terasa menyakitkan. Sampai rasanya Tetsuya tidak sanggup mengatur napasnya yang kini memburu.

 

“Maaf.” Hanya gumamam lirih itu yang bisa Tetsuya sampaikan saat melihat punggung mereka menjauh dari pandangannya. Jika bisa, Tetsuya ingin mengulang waktu. Dimana ia tidak menjadi orang idiot yang mengikuti egonya. Tetsuya janji. Ia tidak akan menyerah sampai sini. Ia akan membuat Seijuurou mencintainya lagi, walau itu membutuhkan waktu cukup lama. Jika dulu Seijuurou bisa jatuh cinta pada Tetsuya, bukan hal tidak mungkin jika Seijuurou akan mencintainya lagi. Sekarang, Tetsuya memutuskan untuk terus menggapai Seijuurou. Membuat rasa penyesalannya berganti menjadi sebuah kebahagian yang selama ini Tetsuya harapkan. Ia harap, keinginannya terkabul. Tuhan mengizinkannya bersatu dengan Seijuurou suatu hari nanti.

 

FIN..

 

Oke. Geblek emang gue. Ini Cuma side story dari pandangan cuya aja kok. Jadi kalo kemarin itu gue buat sudut pandangan perasaan juyo. Di sini gue buat sudut pandangan dari cuya.

Tamat? Boleh tamat aja. wkwk

Next? Boleh. Tapi liat mood. Kalo emang lagi pengen ngelanjut gue pasti bakal buat happy ending. Gimana kalian aja wkwkwk.

Respon dong ini maso ga? Feelnya dapet ga? Biar gue ga kapok bikin ff maso lain kali. wkwk.

Btw mau buka lapak. Gue jual softcase sama hardcase hp yang bisa req gambar. Mau gambar akakuro juga bisa. All type insya allah ada. Kalo minat hub gue aja di twitter/fb/ line : astia_morichan

Sankyuu ^^

 

So, Mind To Review?

Astia Morichan