You’re Mine Tetsuya | Chap 5| AkaKuro| Yaoi

Tetsuya terdiam kaku saat Seijuurou mendudukan tubuh mungilnya di sebuah couch beludru berwarna coklat yang ada di apartemen mewah- yang bagaikan suite room di hotel ternama- milik Akashi Seijuurou. Tetsuya tidak pernah tahu jika Seijuurou mempunyai apartemen semewah ini. Well, harus di akui, keluarga Akashi memang kaya raya. Sejak tadi, Tetsuya bahkan berdecak kagum ke seluruh penjuru ruangan mewah milik Seijuurou ini. Apartemen Seijuurou sangat luas untuk di isi oleh satu orang saja. Ruang tengah, lalu ada sebuah sekat yang memisahkannya dengan dapur, dan terakhir kamar milik Seijuurou. Di kamar ini, ada beberapa rak buku yang menjulang tinggi, di sertai satu set cheese game yang di simpan di sudut ruangan yang mengarah ke balkon.

 

“Minumlah dulu, Tetsuya. Aku sudah memberitahu Ibu mu jika kau menginap di tempatku.” Suara Seijuurou membuyarkan lamunan Tetsuya. Membuat pemuda bersurai biru itu tersentak, dan mengerjapkan matanya, saat melihat Seijuurou mengulurkan sekaleng cola.

 

“T-terimakasih.” Tetsuya mengambil cola itu dengan cepat. Ia tidak ingin menatap Seijuurou lama. Debaran jantungnya selalu menggila saat berada di dekat pemuda itu. Apalagi Tetsuya masih ingat kejadian beberapa jam lalu saat dirinya mendesah di bawah kungkungan Seijuurou. Sungguh, Tetsuya benar-benar malu!!

 

“Hm.” Seijuurou berdehem pelan. Lewat ekor mata Tetsuya, ia bisa melihat pemuda bersurai crimson itu duduk di sampingnya. Membuat Tetsuya refleks menjauhkan jarak dari Seijuurou. Dan tingkahnya itu malah di hadiahi kekehan khas Seijuurou, yang terdengar menyebalkan di telinga Tetsuya.

 

“Aku tidak tahu jika Tetsuya benar-benar menyukaiku.” Ucapan Seijuurou yang di iringi tawa itu membuat Tetsuya hampir saja tersedak dengan matanya yang menatap horor pada Seijuurou. Hey! Sejak kapan Seijuurou menjadi orang sepede ini?

 

“Kau terlalu percaya diri Akashi-kun.” Tetsuya mendelik ke arahnya, dan delikan itu malah membuat Seijuurou menyeringai kecil. Sebelum akhirnya menarik tangan Tetsuya, hingga pemuda bersurai biru itu memekik pelan, dan menatap ke arah Seijuurou. Tubuh mungil Tetsuya terdorong hingga berbaring di couch, dan kembali berada di bawah kungkungan Seijuurou.

 

“Ini bukti jika Tetsuya menyukaiku.” Seijuurou mendekatkan wajahnya, dan hal itu membuat Tetsuya menahan nafas saat wajah Seijuurou hanya berjarak beberapa senti.

 

“Apa Tetsuya tahu teori cinta prisma segitiga?” Tetsuya dengan cepat menggeleng dengan mata terpejam saat mendengar pertanyaan Seijuurou. Teori cinta prisma segitiga katanya? Memang ada teori seperti itu? Teori yang Tetsuya tahu adalah teori hukum mutlak matematika dalam kalkulus, yang sepertinya sangat cocok untuk Seijuurou.

 

“Kalau begitu, aku akan memberitahu Tetsuya.” Seijuurou berbisik seduktif di telinga Tetsuya, sebelum akhirnya meniup telinga Tetsuya dengan pelan. Hingga membuat Tetsuya yang sejak tadi menahan napas, mendesah kecil.

 

“Satu..” Bibir Seijuurou mengecup telinga Tetsuya. “Pendekatan. Aku sudah mengetahui seluk beluk Tetsuya. Begitupun Tetsuya yang sangat mengenalku.” Lalu tangan Seijuurou bergerak menyentuh leher Tetsuya, hingga membuat Tetsuya sedikit memiringkan lehernya.

 

“Dua..” Kini ciuman itu mendarat di leher Tetsuya. Mengecup leher jenjang itu pelan, sebelum akhirnya memberi sebuah tanda kepemilikan di sana. Menghisap dan menjilatnya beberapa kali, hingga membuat Tetsuya mengerang hanya karena ciuman itu. “Ketertarikan. Seperti aku yang sangat tertarik dan menyukai Tetsuya sejak dulu.”

 

Ucapan Seijuurou, entah kenapa membuat Tetsuya semakin berdebar tak karuan. Rasanya Tetsuya bahagia hanya mendengar ucapan itu. Bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Tetsuya benar-benar takut jika Seijuurou mendengar detak jantungnya yang semakin menggila.

 

“Ketiga..” Kali ini, bibir Seijuurou berada tepat di bibir plum Tetsuya. Kemudian mengecupnya cukup lama. Ciuman singkat tanpa adanya nafsu di sana. “Komitmen. Aku hanya bisa menjanjikan satu hal untuk Tetsuya.” Seijuurou menjauhkan jaraknya pada Tetsuya. Hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Tetsuya yang sudah benar-benar memerah di depannya itu sungguh menggoda.

“Jika Tetsuya ikut pindah bersamaku, aku janji akan membahagiakan Tetsuya. Tidak peduli jika nanti orangtua kita mengetahui hubunganku dengan Tetsuya. Aku hanya ingin tinggal bersama Tetsuya. Asal Tetsuya bersamaku, maka semua akan baik-baik saja.” Tetsuya bisa melihat keseriusan dari manik heterechomia itu. Seijuurou nampak sangat serius dengan ucapan, dan membuat Tetsuya entah kenapa merasa sangat bahagia. Tetsuya bahkan lupa jika sejak tadi ia memikirkan orientasi seksualnya seperti apa. Saat ini, Tetsuya seakan tidak peduli. Mungkinkah benar jika Tetsuya mencintai Seijuurou?

 

“Ketika ketiga unsur itu menjadi satu, maka itu adalah cinta. Aku mencintai Tetsuya. Tidak peduli jika dunia akan menghujat kita nanti. Asal Tetsuya bersamaku, maka itu sudah cukup.”

 

Mereka terdiam beberapa sesaat. Sebelum akhirnya suara helaan nafas dari Tetsuya terdengar. Tangan pemuda bersurai biru itu kini bergerak untuk menangkup wajah Seijuurou. Membuat si surai crimson itu mengernyitkan alisnya. Apa sekarang Tetsuya sudah berubah pikiran dan menerima Seijuurou apa adanya?

 

“Aku tidak tahu.” Kali ini, Tetsuya menggeleng dengan keras.

 

“A-apa yang Akashi-kun harapkan dari hubungan ini? Kau tahu? Tidak akan ada harapan dari hubungan dua orang pria, Akashi-kun.”

 

“Kau mencintaiku Tetsuya.” Manik heterechomia menatap tajam. Seakan enggan mendengar penolakan yang keluar dari mulut Tetsuya. Seijuurou bahkan tidak peduli dengan pemikiran orang lain.

 

“Masa depan Akashi-kun akan hancur jika bersamaku.” Itu benar. Apa yang Tetsuya ucapkan adalah sebuah kebenaran. Jika Tetsuya memulai hubungannya bersama Seijuurou, hidup pemuda itu akan hancur. Apalagi jika Ayah Seijuurou tahu hubungan mereka. Itu aib. Tidak akan ada akhir bahagia dari hubungan dua orang pria. Walaupun Tetsuya akui, jika mungkin memang ia mempunyai perasaan untuk Seijuurou. Debaran itu nyata, dan itu hanya untuk Seijuurou saja.

 

“Kau bukan Tuhan yang bisa memprediksikan segalanya!” Seijuurou membentak Tetsuya. Tangannya bergerak mencengkram bahu pemuda bersurai biru itu dengan erat. Hingga membuat Tetsuya meringis karena cengkraman Seijuurou terlalu kasar.

 

“Aku hanya tidak ingin Akashi-kun hancur karena ego semata. Kau hanya bingung, Akashi-kun!” Suara Tetsuya meninggi beberapa oktaf. “ Dan A-aku bukan g-gay.”Suaranya mengecil dan mengalihkan pandangannya dari Seijuurou.

 

“Aku mengatakan yang sebenarnya Tetsuya! Aku mencintaimu, Kuroko Tetsuya!”

 

“Ini salah Akashi-kun!” Manik aquamarinenya mulai membalas tatapan tajam Seijuurou.

 

“Aku akan membuktikannya pada Tetsuya. Dan kau juga sama denganku. Tetsuya mencintaiku.” Ucapan terakhir Seijuurou berakhir di iringi dengan pekikan keras Tetsuya, saat Seijuurou mendaratkan bibirnya pada perpotongan leher Tetsuya, dan mengigit leher itu hingga membuat tanda yang kontras di sana. Kemudian manik heterochomia itu menatap tajam Tetsuya yang kini menatapnya takut. Tatapan Seijuurou seakan menguliti dirinya.

 

“Tetsuya hanya perlu menikmati saja.” Sebelum Tetsuya sempat membalas ucapan Seijuurou, pemuda bersurai crimson itu membawanya ke dalam ciuman panjang miliknya. Melumat bibir Tetsuya dengan kasar, hingga membuat Tetsuya membuka mulutnya. Membiarkan lidah Seijuurou membelai lembut lidah miliknya, dan menghisap lidahnya dengan kasar.

 

“Ehmm….” Erangan tertahan itu terdengar. Tenaga Tetsuya seolah di serap habis akibat ciuman Seijuurou yang membuat kepalanya seakan pusing. Apalagi saat tangan Seijuurou bergerak membuka kaitan kancing seragam miliknya. Hingga membuat tubuh Tetsuya terekspos. Memperlihatkan tubuh seputih porselen, yang membuat Seijuurou hilang akal saat menyentuhnya. Apalagi saat tangannya menyentuh lembut tubuh Tetsuya dengan gerakan sensual, yang membuat Tetsuya mengigit bibir bawahnya keras-keras. Agar tidak mengeluarkan sebuah desahan.

 

“Anhhh..” Desahan itu keluar dari mulut Tetsuya. Saat lidah Seijuurou bergerang menyentuh putingnya. Menghisapnya dengan pelan. Hingga membuat Tetsuya hilang akal. Sungguh. Tetsuya tidak tahan dengan sensasi yang Seijuurou berikan. Tubuh dan genitalnya sudah menegang karena sentuhan itu. Ini semua salah. Tetsuya harus menghentikan semuanya. Sebelum benar-benar terlambat.

 

“A-akashi-kun..” Seijuurou mengadah saat mendengar suara kecil Tetsuya memanggil namanya. Ia bisa melihat Tetsuya menatapnya dengan sayu, dan penuh permohonan.

 

“L-lepaskan aku..” Suara Tetsuya begitu lirih. Matanya mulai berair menahan tangis. Tapi Tetsuya yang seperti ini lah yang menghancurkan pertahanannya. Tetsuya menggodanya dengan ekspresinya yang seperti itu.

 

“A-aku akan membencimu jika kau melanjutkan ini.” Kali ini suara Tetsuya terdengar lebih tegas. Membuat Seijuurou terdiam sejenak. Sebelum akhirnya menjauh dari tubuh Tetsuya. Pemuda bersurai crimson itu kini mulai berdiri. Meninggalkan Tetsuya yang sekarang memberingsut dan langsung terduduk.

 

“Maafkan aku.” Ucapan singkat itu terdengar. Sebelum akhirnya Seijuurou berjalan menjauh. “Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran Tetsuya.”

 

Tetsuya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera merapikan kembali seragamnya. Memakainya dengan terburu-buru. Membawa tasnya, dan mulai menjauh dari Seijuurou. Berjalan ke arah pintu yang akan mengantarkannya keluar. Walau sejujurnya, jauh di dalam lubuk hati Tetsuya, ia kecewa pada Seijuurou karena membiarkan dirinya pergi seperti ini. ia juga marah pada dirinya sendiri, karena masih mengharapkan Seijuurou untuk mengejarnya. Egois bukan?

 

.

oOo

.

You’re Mine Tetsuya !!

M

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

Romance, Drama

Warning: Typo, OOC, Yaoi dll. Please be patient with me ^^

Kuroko tahu Ucapan Akashi itu mutlak. Tapi Ia tak mengerti dengan perintah Akapyi shi yang menyuruhnya untuk pindah ke SMA Rakuzan dan meninggalkan Seirin. Lalu keadaan dimana Akashi menciumnya sepihak. Hey! Kuroko itu normal kan? Dan hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

a/n: Sumpah. Ini ngaret banget, hampir setahun yah? -_- demi apa gue ngaretin banget kerjain FF ini. well, ternyata buat canon itu susah. Gue sampe stuck mau buat ini kayak gimana. Chap depan tamat aja deh. Takut malah jadi kacau karena ini basisnya ke Canon-_- lelah gue qaqa -_- BL AKKR aku dis aja yah. Daku hapus. Gomen. Maafkan -_- kalo kalian lupa cerita ini. baca lagi dari awal ._.

EnJOY!

Happy Reading

.

oOo

.

 

Tetsuya membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia bahkan mengabaikan teriakan ibunya dari bawah. Karena tiba-tiba berlari masuk ke rumah, dan menaiki tangga tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Jujur, Tetsuya bingung. Ada yang salah dengan dirinya. Tetsuya tidak mengerti. Ia bahkan membanting tas miliknya, sebelum akhirnya berbaring di atas ranjang dan merutuki kebodohan yang ia punya.

 

“Ini menyakitkan.” Tangan Tetsuya bergerak menyentuh dadanya yang seakan teriris. Manik aquamarine yang sejak tadi menatap langit-langit kamar mulai berair. Tetsuya tidak tahu kenapa ia ingin menangis. Ia hanya merasa kehilangan.

 

Seharusnya Tetsuya senang karena Seijuurou melepasnya. Bukankah Tetsuya ingin Seijuurou kembali ke Kyoto dan tidak mengejarnya lagi? Bukankah Tetsuya ingin Seijuurou sadar jika hubungan sesama jenis itu salah? Setelah Seijuurou menyerah, kenapa Tetsuya harus sedih? Bahkan bernapas pun rasanya sulit sekali.

 

Mata Tetsuya mulai tertutup.membiarkan linangan air mata membasahi pipinya. Mungkin menangis akan menghilangkan rasa menyakitkan yang sekarang menggerogoti hatinya. Tetsuya harap jika ia tidak benar-benar jatuh cinta pada sosok Seijuurou. Walaupun mengucapkan mantra, jika ia bukanlah gay pun, itu tidak akan berefek saat ini. Jika memang ia tidak jatuh cinta untuk Seijuurou, Tetsuya seharusnya tidak bereaksi karena di sentuh pemuda itu. Tetsuya seharusnya marah, dan bukannya membiarkan Seijuurou menyentuh tubuhnya dengan seenak jidat.

 

“Ini bukan cinta.” Bergumam pelan hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ini bukan cinta. Rapalan mantra itu mungkin tidak akan berefek. Tapi biarkan Tetsuya berharap mantra itu akan mempunyai efek di esok hari. Tetsuya harap, ketika ia terbangun nanti perasaannya untuk Seijuurou akan segera menghilang.

.

oOo

.

 

Keesokan paginya, Tetsuya terbangun dengan perasaan kosong. Tidak menentu. Masih ada yang hilang dari dalam diri Tetsuya, dan ia tidak tahu sesuatu yang hilang itu apa. Tetsuya merasa hampa. Bahkan ia merasa enggan untuk bangkit dari tempat tidur, saat suara Ibunya berteriak dari bawah. Tetsuya juga tidak peduli jika ia akan telat. Tetsuya benar-benar malas.

 

 

Drrtt

 

Getaran ponsel Tetsuya membuatnya mengalihkan perhatian pada nakas yang ada di samping. Dimana ponsel miliknya tersimpan. Manik aquamarinenya bisa melihat dengan jelas sebuah pesan masuk yang berasal dari Ryouta.

Dengan cekatan, ia mulai mengambil ponselnya, sambil tetap berbaring di ranjang. Tangan Tetsuya menggeser slide layar hingga terbukalah pesan singkat itu.

 

From : Kise-kun

 

Tetsuya-chii, apa benar Akashi-chii sudah kembali ke Kyoto? Padahal aku dan Aomine-chii ingin mengajaknya makan malam nanti.

 

Jantung Tetsuya kembali berdetak tak karuan saat membaca nama Seijuurou di sebutkan. Benarkah Seijuurou sudah pergi ke Kyoto? Kenapa bisa secepat itu?

 

To : Kise-kun

 

Aku tidak tahu, Kise-kun.

 

Tetsuya mengetik pesan itu cepat, sebelum mengirimnya pada Ryouta. Tetsuya memang tidak tahu. Ia tidak tahu jika Seijuurou pergi secepat itu. Entah kenapa Tetsuya bisa merasakan dadanya kembali sesak saat menyadari jika mungkin ini adalah kesalahannya Seijuurou pergi. Kenapa Seijuurou harus pergi? Kenapa Tetsuya kecewa? Bukankah seharusnya Tetsuya senang karena Seijuurou tidak akan mengganggu kehidupannya lagi?

 

From : Kise-kun

 

Tadi aku menelepon Akashi-chii. Tapi yang mengankat ponselnya malah Mayuzumi. Aku heran kenapa ponsel Akashi-chii ada pada Mayuzumi di saat seperti ini. aku bahkan belum bersiap ke sekolah. Ya sudahlah Kuroko-chii. Mungkin lain kali aku akan mengajak Akashi-chii makan bersama kita.

 

Saat membaca deretan pesan dari Ryouta, entah kenapa Tetsuya merasa tidak suka dengan keberadaan Mayuzumi. Pria itu memang dekat dengan Seijuurou. Tetsuya tahu itu. Mereka pernah bertemu saat di winter cup dulu. Jika Seijuurou sudah berada di Kyoto pagi ini, maka pemuda itu memang pergi ke rumahnya saat Tetsuya memutuskan pulang. Jika Seijuurou mencintai Tetsuya, bukankah pemuda itu seharusnya berusaha lebih untuk mendapatkannya? Ah. Kenapa pula Tetsuya harus berharap seperti itu?

 

“S-sepertinya aku memang harus mendinginkan kepalaku.” Tetsuya bergumam ragu. Merapalkan mantra jika ia sama sekali tidak mencintai Seijuurou. Dan berharap mantra itu bekerja walau beberapa saat.

 

TebeCe

 

Chap depan tamat deh. Serius. Mau daku selesein aja. Ini makin gaje dari plot awal yah? Entah lah gue aja ga paham apa yang gue ketik -_-

 

Sampai jumpa. Dadah. Sayonara.

Mind To Vomen?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s