Kyuhyun-ah, Saranghae | KyuMin| Yaoi| OS

0

#WelcomeBackSungmin

#HappyBirthday Sungmin

 

Kembali. FF ini adalah Khayalan dan keinginan terdalam saya untuk KyuMin ketika gue kangen mereka. Dan ngeliat wajah unyu seorang Lee Sungmin yang tidak berubah, keluar dari wamil.

Kalau ga suka dengan presepsi KyuMin Is REAL. Silahkan BACK OFF! Jangan baca cerita saya.

Sekian.

enJOY!!

.

  • #Kyuhyun-ah, Saranghae-

.

 

 

Cho Kyuhyun terdiam mematung, saat retinanya menangkap sosok seorang pria yang sudah lama ia rindukan. Dia adalah Lee Sungmin- kekasih gelapnya- suami dari istri orang. Miris? Ya. Itulah status seorang Cho Kyuhyun saat ini. Sekarang, Lee Sungmin sudah menyelesaikan wajib militernya selama dua tahun. Meninggalkan Kyuhyun yang kesepian karena jarang bertemu kekasih bunny-nya itu. Selama Sungmin menjalani wajib militer, mereka hanya bertemu selama tiga bulan sekali. Itu pun jika Sungmin sedang libur dari tugasnya. Mereka akan kembali melakukan rendezvous di sebuah hotel, dan berujung saling berbagi kehangatan semalam. Selalu seperti itu. Seperti sekarang.

 

“Kyuhyun-ah..” Suara lembut milik Lee Sungmin mengalun di gendang telinga Kyuhyun. Bagaikan melodi harmonis yang selalu ia rindukan. Ya. Kyuhyun memang akan selalu merindukan sosok Sungmin. Tidak peduli jika kekasihnya itu sudah menjadi milik orang.

 

“Hyung…”Suara bariton Kyuhyun terdengar sangat serak saat ini. Beberapa detik kemudian tubuh bidangnya di peluk erat oleh Sungmin. Sungmin menelusupkan wajahnya pada dada bidang Kyuhyun. Mengendus wangi mint maskulin milik kekasihnya. Sungmin juga sama; merindukan Kyuhyun sama gilanya. Bukannya menghampiri istrinya yang menunggu di rumah, ia malah mengajak Kyuhyun bertemu di hotel yang selalu mereka sewa.

 

“Aku merindukanmu, Kyu..” Sungmin berujar lirih. Tubuh pria itu bergetar dalam pelukan Kyuhyun. Membuat Kyuhyun mengeratkan pelukan mereka. Mengelus lembut punggung kekasihnya itu dengan pelan.

 

“Aku juga, Hyung..” Kyuhyun menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Sungmin. Mengendus aroma vanilla memabukan yang menguar pada tubuh kekasihnya. Sungguh. Kyuhyun sangat merindukan kebersamaan mereka. Walaupun mereka harus menutupi hal seperti ini.

 

“Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana?”

 

“Uhm.. “ Sungmin mengangguk pelan. Kemudian ia melerai pelukan mereka. Manik foxy menatap sendu obsidian yang sekarang menatapnya bingung. Dahi Kyuhyun mengernyit. Menunggu apa yang akan Sungmin ucapkan selanjutnya. “T-tapi kenapa setelah aku kembali, kau yang memutuskan untuk wamil, Kyu? Bukankah kau tidak wajib untuk mengikuti wamil ?”

 

Kyuhyun menyunggingkan sebuah senyum simpul. Ah. Ternyata Sungmin-nya itu mengkawatirkan hal ini. Takut jika mereka akan terpisah lagi. Ya. Kyuhyun memang tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti kewajiban negaranya. Karena ia mengidap pneumothorax. Tapi ia tetap ingin mengikuti program wajib militernya. Kyuhyun juga ingin mempunyai pengalaman militer, sebelum akhirnya ia memutuskan sebuah tujuan yang selama ini ia tunggu. Kembali meminta jawaban dari seorang Lee Sungmin atas penantiannya selama ini.

 

“Hey.. Aku juga ingin merasakan militer itu seperti apa, Hyung.” Tangan terulur. Mengelus pipi chubby Sungmin dengan lembut. Membuat kekasihnya itu menutup matanya. Menikmati sentuhan hangat yang Kyuhyun berikan.

 

“Tenang saja, kita akan tetap bertemu nanti.” Kyuhyun menipiskan jarak. Menyentuhkan keningnya dengan Sungmin. Hingga Kyuhyun bisa merasakan herpaan napas Sungmin menyentuh wajahnya, saat kedua hidung saling bersentuhan.

 

“Aku akan mengambil divisi pelayanan masyarakat. Jadi kita akan sering bertemu. Itu pun jika kau mengunjungiku.” Kyuhyun terkekeh kecil. Sebelum mendaratkan sebuah kecupan kecil pada pipi Sungmin.

 

“T-tapi tetap saja, Kyu—“ Ucapan Sungmin terhenti saat ia merasakan jari telunjuk Kyuhyun tepat berada di bibirnya. Apa Kyuhyun lupa jika dirinya tidak boleh kelelahan sama sekali? Jika penyakit Kyuhyun kambuh, Sungmin lagi yang akan cemas.

 

“Apa kau takut ketahuan awak media, Hyung? Lee Sungmin Super Junior, di kabarkan selalu mengunjungi Cho Kyuhyun di divisi sang Maknae.” Kyuhyun kembali tertawa kecil, saat melihat Sungmin memberenggut, dan mendorong tubuhnya menjauh.

 

“Jangan ungkit hal itu lagi, Kyu..” Sungmin berbalik. Berjalan ke arah ranjang, dan duduk di sana. Manik foxynya tidak lepas dari sosok Kyuhyun yang berdiri dua meter di depan.

 

Wae? Takut ketahuan istri kesayanganmu?” Kyuhyun berucap sarkatik. Sambil berjalan mendekat ke arah Sungmin yang sekarang mendengus kesal. Cho Kyuhyun kembali membawa perkara lama.

 

“Bisakah kau tidak membawa nama orang lain saat bersamaku, Cho?”

 

“Dan bisakah kau memberiku jawaban yang tepat, sebelum aku benar-benar pergi militer?”

 

“Kau keras kepala.” Sungmin mengadahkan kepalanya, saat Kyuhyun berdiri tepat di depannya. Obsidian itu menatapnya sendu. Dan Sungmin benci di tatap seperti itu oleh Kyuhyun. Bukan hanya Kyuhyun yang sakit di sini. Tapi ia juga.

 

“Begitu juga kau, Ming.” Kyuhyun mulai menumpukan kedua lututnya ke lantai. Hingga kepalanya bisa sejajar dengan wajah Sungmin. “Tinggalkan wanitamu, dan pergi bersamaku, setelah wajib militerku selesai.”

 

“Kyuhyun-ah..” Tangan Sungmin terulur. Mengelus pipi Kyuhyun pelan. “Kau tahu? Aku benar-benar mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

 

Manik foxy yang menatap obsidian itu begitu intens. Tapi tidak membuat Kyuhyun luluh dengan tatapan kekasihnya. Jika Sungmin berpikir Kyuhyun akan menyerah untuknya, maka pria itu salah besar. Kyuhyun akan selalu mengungkit masalah mereka. Ia tidak ingin selalu menjadi bagian ketiga dalam hidup pria itu.

 

“Dan kau tahu seberapa besar cintaku untukmu, Lee Sungmin ? Tidakkah kau berpikir jika aku bisa saja lelah dengan hubungan ini?” Suara Kyuhyun terdengar lirih. Obisidian itu meredup saat di tatap oleh foxy menenangkan milik Sungmin.

 

“Tidak. kau tidak boleh lelah terhadapku, Kyu. Kau milikku!” Sungmin menaikan suaranya. Tangannya menangkup pipi Kyuhyun, dan memberinya kecupan kecil di sekeliling wajah pria itu.

 

“Kau egois, Ming.” Kyuhyun mendengus keras. Cho Kyuhyun memang tidak akan pernah menang jika melawan kekeras kepalaan Lee Sungmin.

 

“Maafkan aku. Aku benar-benar mencintaimu, Kyu.” Kecupan di bibir Sungmin layangkan beberapa kali. “Tunggu aku untuk menyelesaikan semuanya, Kyu. Aku janji akan melepaskan semuanya hanya untukmu. Kau hanya perlu menungguku sebentar lagi.” Sungmin menghamburkan tubuhnya pada dada bidang Kyuhyun. Hingga Kyuhyun kehilangan keseimbangannya, dan terjatuh di lantai. Dengan tubuh Sungmin yang berada di atasnya. Memeluk leher Kyuhyun dengan erat.

 

“Hanya sampai wajib militerku selesai nanti, Ming. Aku akan menagih janji mu.” Kyuhyun mengangkat dagu Sungmin, hingga kekasihnya itu mengadah ke arahnya. Tengkuk di tarik untuk semakin mendekat. “Selamat datang, Ming. Dan Selamat Ulang Tahun, Cho Sungmin- kekasihku. Aku sangat mencintaimu.” Ucapan terakhir dari Kyuhyun di iringi dengan kecupan lembut di bibir. Bibir mereka saling bertaut. Berbagi kerindukan yang hilang. Saling mengisi satu sama lain, ketika lidah bertautan, dan di iringi decakan saliva berserta erangan yang akan terjadi di kamar ini untuk beberapa jam kedepan.

 

“Terimakasih, aku juga mencintaimu, Kyuhyun-ah..”

 

 

FIN

 

Oke gaje memang. Dan #WelcomeBackSungmin #HappyBirthDayLee Sungmin

 

Selamat datang kembali bunny ming, dan selamat ulang tahun, dan Tahun baru. Semoga di tahun depan, kamu cerai ye sama bini lu. Haha. Balikan yah sama Kyu. Jangan kode-kodean mulu. Daku baper kalo liat kode-kode dari seme lu ming.

Daku juga miris. Daku rindu momen kalian. Eh Ming balik, Kyu yang wamil. Jadi dah gue gegana di awal taun 2017.

Yah. Saya hanya berharap yang terbaik untuk OTP terbaik sepanjang masa dalam hidup saya. Bagi saya, KyuMin akan selalu terkenang. Walau gue berhenti nulis KyuMin, tapi gue tetap cinta mereka. KyuMin selalu muncul di beberapa ff pair lain yang ada di archive gue. Karena apa? Gue adalah JOYer yang tidak bisa meninggalkan mereka, sekali pun KyuMin udah karam. Tapi seengaknya, sebelum semuanya berakhir, tidak menutup kemungkinan Ming cerai, selama Kyu juga belom kawin. Mwahaha.

Oke gue ingatkan. Ini hanyalah imajinasi nista dan keinginan sesaat dari gue. Kalo ga suka? Gue perkenankan kalian untuk tidak membaca. Apalagi komen dengan mengatakan. KyuMin itu straight. Blalala.

Bagi gue, KyuMin itu Real. Titik. Masbayu sama presepsi gue?

Wkwk

Bye. Happy New Year

Astia Morichan

Advertisements

Nephilim | Chap 2| Meanie

0

Pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang membalut dada bidangnya itu menggeram marah. Pria itu – Wen Jun Hui- yang merupakan penguasa Aerie (1) menatap tajam Kwon Soonyoung yang sekarang membungkuk penuh hormat padanya. Semua penduduk Aerie tidak akan membantah apa yang di ucapkan Jun- selaku penerus tahta sang Lucifer(2)– Malaikat Pembelot yang sejak dulu memimpin Aerie. Aerie berada di perbatasan dunia manusia dan juga dunia para Elf(3), yang berada di akhir zona dunia Alfheim(5). Sehingga para malaikat pengabdi Zeus(5) tidak dapat mendekati Aerie. Karena wilayah Aerie di lindungi oleh pelindung yang di ciptakan kawanan Elf- abdi setia Lucifer.

 

“Bukankah aku menyuruhmu untuk membawa Wonwoo secepatnya? Apa kau tuli Soonyoung?” Desisan marah Jun terdengar menakutkan bagi Soonyoung. Pemuda bersurai blonde itu bisa merasakan udara di sekitarnya menipis hanya dengan mendengar geraman dari Jun.

 

“Maafkan hamba, Jun-ssi. Saya tidak bisa mendekat ke arah Wonwoo. Ada penghalang di sekelilingnya. Ia belum sepenuhnya mengingat kita. Ingatannya hilang. Wanita tua itu menanamkan pelindung di dalam tubuh Wonwoo.” Jun terdiam mendengar penjelasan dari Soonyoung. Jun ingat betul jika Wonwoo- adiknya itu tidak akan ingat padanya. Wonwoo hanya mengingat Ayahnya – Sang Lucifer yang terbunuh oleh Verchiel. Wonwoo juga tidak tahu jika Lucifer adalah ayahnya. Karena Lucifer hanya mengaku sebagai paman jauh dari pemuda bersurai coklat itu.

 

“Wonwoo harus mengingat Lucifer. Ia harus ingat apa yang Lucifer katakan. Lucifer sudah memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim(5) pada Wonwoo. Kau harus membuat Wonwoo mengingatnya!” Soonyoung menelan salivanya dalam. Tentu saja ini adalah tugas yang cukup sulit baginya. Ia bahkan tidak tertarik dengan Nephilim campuran itu.

 

“Tapi ada aura Pangeran Kegelapan Hades saat saya mencoba semakin mendekat ke arah Wonwoo.” Soonyoung bisa melihat ekspresi kaget di wajah sangar Jun. Soonyoung sangat yakin jika Jun tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan. Terbukti dengan aura dingin mengancam yang tiba-tiba saja memenuhi ruangan megah ini.

 

“Aku tidak ingin kau bercanda tentang hal seperti itu! Putra Hades tidak mungkin meninggalkan Dunia Bawah!” Soonyoung tertunduk. Enggan membantah pernyataan dari Jun. Mungkin juga ia salah mengira jika aura itu adalah milik Mingyu- sang Pangeran Dunia Bawah. Tapi Soonyoung sangat yakin jika itu adalah Mingyu. Bahkan Minghao yang saat itu menemaninya juga merasakan aura gelap Mingyu.

 

“Bawa Wonwoo secepatnya. Aku tidak ingin Verchiel memburu adikku satu-satunya.” Suara tegas yang terdengar menakutkan itu kembali membuat bulu kuduk Soonyoung merinding. Sungguh, ia tidak ingin berada di ruangan Jun lebih lama. Soonyoung tidak ingin cari mati.

 

“Baik, Jun-ssi.” Membungkuk hormat, sebelum akhirnya mulai berdiri dan berbalik menuju pintu kembar setinggi enam meter di depannya. Meninggalkan Jun yang sekarang kembali berkutat dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Jun tidak ingin Wonwoo di ambil oleh Verchiel. Malaikat utusan Tuhan yang sangat ingin memusnahkan seluruh Nephilim, dan juga Malaikat pembelot seperti dirinya.

Nephilim

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

a/n: Saya ingatkan. Lucifer itu bukan iblis yah awalnya. Lucifer itu adalah malaikat pertama yang di usir Tuhan dari surga. He’s fallen.

Semua chara yang masuk di sesuaikan dengan bias dan otp saya. wks

Strata dunia nanti ah. Belum secara menyeluruh ada kok di chap ini.

 

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu. Ada juga glousarium yang sangat tidak masuk akal. Karena beberapa istilah terinspirasi dari novel fallen. Ini juga keinspirasi sama novel fallen sih. Walaupun saya belum tamat baca itu novel. Padahal Aaronnya go hawt loh! Ada juga istilah yang saya ambil dari novel heroes olympus, serta magnus chase, untuk mendukung imajinasi kacau saya.

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

  • Some angels destinied to Fall –  

.

 

Kim Mingyu berjalan pelan menelusuri trotoar yang akan mengantarkannya ke daerah Gwanghwangmun. Sebenarnya Mingyu tidak tahu kenapa ia kembali ke daerah itu. Ini adalah wilayah tempat pemuda beraura angelik— Jeon Wonwoo- yang membuat Mingyu semakin penasaran. Aroma tubuh dari pemilik aura angelik itu menarik dirinya. Jujur saja, Mingyu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tidak pernah merasa tertarik oleh suatu hal yang membingungkan. Seperti saat ini. Mingyu hanya ingin berada di dekat Wonwoo. Pemuda itu bagaikan sebuah magnet. Padahal ia hanyalah seorang Nephilim. Darah dari sang malaikat pembelot mengalir di dalam pembuluh nadi Wonwoo. Dan Mingyu tentu tahu, darah siapa yang mengalir dalam pembuluh nadi Wonwoo. Seharusnya Mingyu tidak perlu berurusan dengan kaum malaikat pengikut Tuhan, dan juga beberapa pembelot. Mingyu tidak ingin dunia bumi yang ia cintai hancur jika ada perang antara para iblis dari dunia bawah, melawan para malaikat pimpinan Zeus.

 

“Mingyu-ssi, ayo kita pulang.” Suara cicitan kecil terdengar di telinga Mingyu. Itu adalah suara dari Yao- anjing labrador dengan api yang membalut tubuhnya. Tapi itu hanya transformasi jika di dunia bawah. Sekarang Yao hanyalah makhluk sekecil kutu yang menempel di bahu Mingyu.

 

“Bukankah aku menyuruhmu untuk pulang? Jangan mengikutiku.” Mingyu berkata pelan. Ia kembali berjalan menelusuri jalanan yang tanpa Mingyu sadari, dirinya sudah sampai di cafe yang terlihat di padati oleh pengunjung. Cafe dimana Wonwoo bekerja.

 

“Tidak, Mingyu-ssi. Saya tidak akan meninggalkan anda.” Mingyu menghela napas mendengar penuturan anjing itu. Dulu, ia tidak sengaja menemukan Yao yang berada di hulu sungai Plegethon. Kemudian menolong anjing malang itu ; yang tertindas oleh pengikut Ouranous(6). Sebelum akhirnya, Yao memutuskan untuk menjadi pelayan dari Mingyu.

 

“Terserah. Tapi aku tidak akan pulang.” Senyum simpul tercetak jelas di wajah Mingyu, saat manik obsidiannya menangkap jelas sosok Wonwoo yang sekarang sedang melayani pelanggan wanita di depan. Wonwoo terlihat sangat menawan saat memakai celana hitam denimnya dan juga kemeja berwarna putih yang membalut tubuh kecilnya. Fokus Mingyu hanya untuk Wonwoo. Ia terpesona dengan kecantikan Wonwoo. Mingyu bahkan mengabaikan celotehan dari Yao tentang kaum malaikat pembelot dan hal tidak penting lainnya. Demi Hades! Mingyu tidak peduli. Ia hanya peduli tentang Wonwoo yang sekarang adalah magnet untuk dirinya.

 

Langkah kaki di percepat. Mingyu mulai berjalan mendekat ke arah cafe yang sore ini di padati oleh banyak pengunjung. Ia bisa merasakan semua tatapan tertuju ke arahnya. Termasuk Wonwoo yang sekarang membulatkan matanya. Mulut pemuda bersurai coklat itu membulat. Seakan kaget dan tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap.

 

“Jeon Wonwoo.” Suara bariton mengalun dengan merdu. Bagaikan semilir angin musim semi untuk Wonwoo. Tubuh pemuda bersurai coklat itu membatu, saat jaraknya dengan Mingyu mulai menipis. Nampan berwarna coklat yang tadi ia pegang terlepas membentur lantai. Membuat seorang pelanggan wanita bersurai pirang memekik kaget, karena Wonwoo membanting nampan itu dengan keras.

 

“Apa kau mendengarku, Wonwoo?” Mingyu berbisik pelan di telinga Wonwoo. Bisikan menggelitik yang membuat darahnya mendesir. Wonwoo seakan lupa dengan apa yang seharusnya ia kerjakan. Wonwoo bahkan tidak peduli dengan gerutuan wanita yang ada di depannya sekarang. Ia hanya terfokus pada Mingyu.

 

“Mingyu-ssi? Apa yang kau lakukan disini?” Untuk beberapa detik, akhirnya Wonwoo bisa melontarkan pertanyaan yang ada di otaknya. Ia terlalu bingung dengan kehadiran Mingyu. Kenapa pemuda itu datang lagi? Padahal tadi malam Wonwoo mengatakan hal yang buruk padanya. Tidak seharusnya ia bertemu lagi dengan pemuda aneh yang mengaku berasal dari dunia bawah, dan juga berkata bahwa dirinya adalah seorang malaikat.

 

“Hanya ingin melihatmu.” Wonwoo bisa merasakan pipinya memanas saat mendengar penuturan datar dari Mingyu. Apalagi saat manik obsidian milik pemuda itu menatapnya dengan intens. Seakan Wonwoo adalah fokus satu-satunya untuk Mingyu. Pemuda bersurai hitam itu juga tidak peduli dengan bisikan kagum yang ada di sekelilingnya. Seharusnya Mingyu risih mendengar bisikan kagum dari para pelanggan untuknya. Seperti Wonwoo yang merasa risih saat di tatap seperti itu oleh Mingyu. Tatapan yang bisa membuatnya gugup tak karuan.

 

“Wonwoo-ya? Kenapa kau diam saja? E-eh? Ini temanmu?” Suara Jeonghan yang menggema terdengar keras. Membuat Wonwoo segera tersadar kembali dengan apa yang ia lakukan bersama Mingyu. Tidak seharusnya Wonwoo mengabaikan pelanggan, hanya karena Mingyu mendekat ke arahnya.

 

Dengan gerakan gugup, Wonwoo mulai menoleh ke arah suara Jeonghan berasal. Pemuda bersurai pirang itu berjalan menghampiri Wonwoo dengan senyum hangat miliknya yang mampu membuat semua pelanggan ikut tersenyum melihat Jeonghan. Setelah jaraknya dengan Wonwoo mulai dekat, kini Jeonghan mengamati dengan seksama pemuda bersurai hitam yang berdiri di depan Wonwoo. Senyum geli terukir di wajah manis Jeonghan saat melihat pemuda bersurai hitam yang menatap Wonwoo dengan pandangan mendamba. Jeonghan sangat yakin, jika pemuda itu menyukai Wonwoo. Ah. Selera Wonwoo memang sama dengannya. Sama-sama menyukai seme berparas tampan. E-eh. Apakah Seungcheol termasuk?

 

“Wonwoo-ya, kenapa kau tidak memberitahuku jika mempunyai teman setampan ini?” Jeonghan menggerutu ke arah Wonwoo, saat jaraknya dengan pemuda bersurai coklat itu hanya beberapa senti. Tangannya menarik Wonwoo menjauh dari Mingyu, dan membuat Wonwoo berada di dekatnya. Lengan Jeonghan merangkul mesra pundak Wonwoo. Membuat Mingyu menggeram tak suka.

 

“Lepaskan tanganmu dari Wonwoo.” Suara sarat akan ancaman itu terdengar menakutkan bagi Jeonghan. Tatapan tajam yang di lontarkan oleh Mingyu membuat tubuhnya bergetar takut. Refleks, ia melepaskan genggaman tangannya pada Wonwoo. Membiarkan Wonwoo di tarik ke dalam pelukan pemuda bersurai hitam yang sekarang masih memandangnya dengan pandangan membunuh.

 

“D-dia menakutkan.” Jeonghan menelan salivanya dalam saat merasakan aura tidak mengenakan di sekitar Mingyu. Jujur saja, Jeonghan masih menginginkan hidup damai tanpa kecaman membunuh seperti itu. Lebih baik ia segera melarikan diri. Jeonghan yakin, jika Wonwoo punya cara jitu tersendiri untuk menghadapi Mingyu.

 

“A-aku pergi saja.” Kemudian Jeonghan berbalik menjauh. Meninggalkan Mingyu dan juga Wonwoo di belakangnya. Membiarkan Wonwoo kembali bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Aura panas kembali terasa. Kontraksi otot-otot punggungnya kembali membuat Wonwoo meringis kesakitan. Tubuhnya mulai limbung. Kepala Wonwoo semakin terasa pening. Kemudian ia bisa merasakan tubuhnya melayang disertai bisikan lembut dari Mingyu, saat matanya mulai tertutup, dan tidak sadarkan diri.

 

“Pelindungmu melemah, Wonwoo-ya.”

.

oOo

.

 

Wonwoo mengerjapkan matanya dengan perlahan. Matanya yang tadi tertutup, kini mulai terbuka. Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali agar ia bisa menangkap dengan jelas apa yang ada di depannya sekarang. Retinanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sangat Wonwoo kenali. Itu adalah sosok Kim Mingyu. Pemuda itu duduk di sampingnya, dengan tangan yang menggenggam erat tangan Wonwoo. Tatapan penuh khawatir tercetak jelas di manik obsidian pemuda itu.

 

“Kau sudah sadar, Wonwoo?” Suara Mingyu membuat Wonwoo tersadar. Sekarang neuronnya sudah bekerja kembali. Wonwoo sedang berada di kamar apartemen miliknya. Tapi sejak kapan ia ada di sini? Dan kenapa pula Mingyu ada di kamarnya?

 

Wonwoo menoleh ke arah jam weker kecil yang ia simpan di nakas sebelah kiri. Matanya membulat saat menangkap angka di jam tersebut. Sekarang sudah jam sembilan. Sudah malam. Itu artinya shift kerjanya sudah berakhir sejak dua jam lalu. Sekarang ia ingat kenapa bisa berada di kamarnya. Mingyu pasti membawanya pulang ketika ia merasakan sakit di punggungnya, dan mulai tak sadarkan diri.

 

Wonwoo mulai mendudukkan dirinya di atas ranjang. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Mingyu. Matanya bersibobrok dengan obsidian yang sekarang menatapnya intens. Tatapan Mingyu selalu membuat Wonwoo tidak dapat mengalihkan fokusnya. Wonwoo seakan di suruh untuk menyelami keindahan manik obsidian Mingyu saat menatapnya.

 

“Kau membawaku kesini, Mingyu-ssi?” Wonwoo mencoba mendatarkan suaranya. Ia tidak ingin Mingyu tahu bahwa dirinya sedang gugup. “Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun? Tidak seharusnya kau masuk ke dalam rumah orang, Mingyu-ssi.” Delikan tajam Wonwoo hadiahkan pada Wonwoo. Tapi sayangnya Mingyu malah terkekeh melihat Wonwoo yang sedang memarahinya sekarang.

 

“Hey, seharusnya kau berterimakasih padaku Wonwoo-ya. Aku yang membawamu saat kau pingsan, karena pelindungmu melemah.” Tangan Mingyu terulur. Mengelus surai coklat Wonwoo dengan perlahan. Mingyu bisa melihat ekspresi Wonwoo mulai berubah. Pemuda bersurai coklat itu mengerutkan alisnya bingung. Seakan tidak mengerti dengan apa yang Mingyu ucapkan.

 

“Apa kau tidak tahu jika dirimu adalah Nephilim, Wonwoo? Kau sering mengalami sakit di punggung dan pingsan. Itu karena pelindungmu mulai melemah.” Mingyu mendengus. Tidak habis pikir jika Wonwoo sama sekali tidak tahu jati dirinya. Mungkin Mingyu memang tidak bisa menyalahkan Wonwoo karena hal ini. Pemuda bersurai coklat itu jelas di pasangi oleh pelindung. Membuat dirinya tidak akan mengalami transformasi sebagai Nephilim seutuhnya.

 

“Kau menyebutku Nephilim? Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ucapanmu, Mingyu-ssi!” Suara Wonwoo mengeras. Menandakan ia benar-benar kesal dengan semua penuturan Mingyu. Wonwoo sama sekali tidak tahu apa itu Nephilim. Kenapa setiap ia bertemu dengan Mingyu, pemuda itu selalu mengatakan hal aneh tentang dirinya? Wonwoo itu manusia biasa, bukan seorang Nephilim seperti yang Mingyu katakan.

 

Wonwoo menatap tak suka ke arah Mingyu yang sekarang membalas tatapan tajamnya. Seakan tidak takut dengan tatapan itu. Mungkin di mata Mingyu, delikan tajam Wonwoo malah mirip seperti bocah yang sedang merajuk.

 

“Apa kau ingin aku menghilangkan penghalang ini, Wonwoo-ya?” Seringaian licik tercetak di wajah tampan Mingyu. Tubuh pemuda bersurai hitam itu mulai mendekat ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo memundurkan tubuhnya, hingga bertabrakan dengan kepala ranjang. Wonwoo bisa merasakan aura berbahaya mulai menguar dari tubuh Mingyu.

 

Tangan Mingyu bergerak menyentuh pipi Wonwoo dengan gerakan pelan. Mengelusnya dengan gerakan lembut, yang membuat Wonwoo hanyut dalam sentuhan hangat itu. Darahnya kembali berdesir, dengan jantung yang berdetak dua kali lipat, saat Mingyu menarik dagunya hingga ia mengadah ke arah pemuda bersurai hitam itu. Kedua mata saling beradu. Jarak mereka semakin menipis. Mingyu menghilangkan jaraknya dengan Wonwoo. Bibirnya mulai menyentuh bibir ranum Wonwoo. Mengecupnya berkali-kali. Sebelum melumatnya dengan perlahan. Bagaikan permen manis yang pernah Mingyu makan di dunia manusia pertama kali. Bibir Wonwoo sangat manis, membuatnya tidak bisa berhenti untuk mengecap rasa manis yang ada di bibir pemuda bersurai coklat itu.

 

“Nghh…” Wonwoo mengerang pelan, saat Mingyu membelit lidahnya dan mengulumnya dengan penuh gairah. Tubuh Wonwoo kembali panas hanya karena sentuhan dari Mingyu. Ciuman ini membuat Wonwoo hilang akal. Ia bahkan membalas lumatan yang Mingyu berikan. Wonwoo tidak pernah di cium seperti ini. Ini adalah pertama kali untuk Wonwoo, dan ia menyukai sensasi ciuman yang di berikan oleh Mingyu.

 

“Mhhh..” Desahan tertahan milik Wonwoo membuat Mingyu tersenyum senang dalam ciuman mereka. Mingyu bisa merasakan tangan Wonwoo mengalung indah di lehernya, dan menariknya semakin dekat. Hingga tubuh mereka terjatuh di atas ranjang, dengan Mingyu yang menindih tubuh mungil pemuda bersurai coklat yang masih asik melumat bibirnya.

 

“Anhhh…” Wonwoo memekik keras. Melepaskan ciumannya dengan Mingyu secara paksa, saat kontraksi di punggungnya kembali hadir. Rasa sakit itu muncul. Beserta pergerakan otot punggung yang seakan bergeser dari persendiannya sendiri.

 

“Apa kau ingin aku menghilangkannya, Wonu-ya?” Bisikan seduktif Mingyu terdengar bagaikan penenang untuk Wonwoo. Ia bisa merasakan herpaan napas panas Mingyu di lehernya. Lidah tak bertulang Mingyu terjulur. Menjilat leher jenjang Wonwoo, sebelum akhirnya menghisapnya dengan pelan. Meninggalkan tanda yang sangat kontras di leher pemuda bersurai coklat itu. Wonwoo juga dapat meraskan tangan Mingyu menelesup masuk melalui celah kemejanya, sebelum akhirnya kemeja itu sobek dan dada polos Wonwoo terpampang jelas di hadapan Mingyu.

 

“S-sakithh…” Ringisan Wonwoo kembali terdengar. Ini terlalu menyakitkan. Wonwoo tidak menyukai rasa sakit yang di timbulkan punggungnya.

 

“Jika kau ingin aku menghilangkan rasa sakit ini sepenuhnya, kau akan terikat selamanya bersamaku Jeon Wonwoo.” Dan setelahnya, Mingyu tersenyum senang karena melihat Wonwoo menganggukkan kepalanya tanda setuju.

 

Kepala Mingyu bergerak ke arah leher Wonwoo. Mengecup lembut leher jenjang pemuda bersurai coklat itu berkali-kali, sebelum akhirnya meninggalkan jejak kemerahan di sana. Wonwoo mengerang saat lidah Mingyu bermain di lehernya. Membuat getaran di dalam tubuhnya semakin menjadi. Juga gerakan aneh di punggungnya yang bergerak liar tak karuan. Bagaikan daging di dalam punggungnya bergerak keluar dari persendian.

 

“Akan ku perlihatkan bagaimana wujud aslimu, Wonu-ya.” Mingyu berbisik pelan di telinga Wonwoo. Pemuda bersurai hitam itu mulai menggerakan tangannya. Mengelus punggung Wonwoo yang polos dengan gerakan lembut. Sebelum akhirnya tangan Mingyu berhenti di tulang punggung Wonwoo. Menekannya dengan cukup keras. Membuat si surai coklat itu berteriak kesakitan.

 

“Arghhhtt…” Jeritan Wonwoo menggema di ruangan itu. Di iringi dengan suara gebrakan otot-otot punggungnya yang mencuat. Membentuk sebuah sayap berwarna putih yang membentang indah di balik punggung Wonwoo. Daging telanjang yang membentang di punggung Wonwoo terasa sangat membara saat bentuk-bentuk arkais itu bermunculan di atas permukaan sigil-sigil putihnya. Sungguh. Itu adalah sayap malaikat terindah yang pernah Mingyu lihat selama ia hidup. Sayap Wonwoo begitu hidup, dan sigil-sigil berukir arkais itu tidak bisa ia lewatkan begitu saja. Simbol arkais menandakan malaikat terkuat yang mewakili prajurit elite.

 

“Ini adalah wujud asli dirimu, Jeon Wonwoo.” Mingyu mengelus pelan sayap yang membentang di belakang punggung Wonwoo dengan pelan. Mingyu tidak tahu apa yang di pikirkan Wonwoo saat ini. Pemuda itu terdiam di dalam pelukannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dirinya alami. Mata Wonwoo terlihat kosong. Mingyu sangat yakin jika Wonwoo mengira ini semua adalah mimpi buruk baginya.

 

“Ini adalah wujud aslimu sebagai Nephilim. Ingat Wonu-ya, kau milikku sekarang.” Tubuh bersayap itu di rengkuh dengan pelan oleh Mingyu. Membuat sayap-sayap di balik punggung Wonwoo menyusut kembali. Sigil-sigil di permukaan kulit Wonwoo mulai menghilang. “Kau akan mengingat semuanya.” Dan setelahnya, Wonwoo memejamkan mata. Sebelum kehilangan kesadaran atas dirinya.

 

.

oOo

.

 

Jeon Wonwoo berjalan perlahan menuju area taman yang ada di area fakultas sastra di kampusnya. Hari ini ia tidak ada jadwal bekerja di cafe. Wonwoo sedang libur. Sekarang ia harus mengerjakan tugasnya di perpustakan untuk mencari referensi. Walaupun hari ini sudah sore, Wonwoo tidak peduli. Ia hanya ingin tugasnya selesai, dan juga melupakan soal Mingyu. Kejadian dua hari yang lalu bagaikan mimpi untuk Wonwoo. Ia tidak percaya dengan sayap yang tiba-tiba tumbuh di belakang punggungnya. Membentang dengan lebar, dan kemudian menyusut kembali akibat sentuhan hangat dari Mingyu. Sebenarnya Wonwoo ingin tahu tentang Mingyu. Kenapa pemuda itu mengetahui segala hal tentang dirinya? Siapa pemuda itu sebenarnya? Mereka hanya bertemu beberapa kali. Tapi Mingyu selalu ada di saat Wonwoo membutuhkan pertolongan.

 

“Hah..” Menghela napas pelan, sebelum memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman kecil itu. Entah kenapa niat Wonwoo untuk mengerjakan tugas di perpustakaan yang berada di fakultas sastra tiba-tiba saja lenyap begitu saja, akibat mengingat kembali Mingyu. Sekarang Wonwoo merasa gila karena tidak bisa menemukan kembali sosok Mingyu yang biasanya selalu berdiri di balkon apartemen. Ia merasa merindukan sosok pemuda bersurai hitam itu. Tidak seharusnya Wonwoo merasakan hal menggelikan seperti ini pada seorang pria. Sepertinya Mingyu membawa dampak negatif bagi Wonwoo.

 

“Ya Tuhan, ini menyebalkan!” Wonwoo menggerutu dengan keras, sambil menendang sebuah batu kecil. Tidak ada siapapun di area taman fakultas sastra. Jadi Wonwoo tidak perlu takut jika batu kecil yang di tendangnya akan menendang mahasiswa yang lewat di depannya.

 

Wonwoo mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Ia tidak pernah tahu jika taman ini akan menjadi sangat sepi saat jam enam sore seperti ini. Mungkin saja semua orang yang ada di kampus sudah tidak ada lagi di sana. Ini menjadi dua kali menyebalkan, karena Wonwoo baru sadar jika hari sudah sesore ini. Tidak mungkin ada penjaga perpustakaan sekarang.

 

Pemuda bersurai coklat itu mulai berdiri dari duduknya. Wonwoo memutuskan untuk pulang, dan mengerjakan tugasnya di apartemen saja. Pikirannya malah kacau saat berada di sini, dan itu menyebalkan. Dengan langkah gontai, ia mulai berjalan berbalik meninggalkan fakultas sastra di belakangnya. Angin musim semi bertiup sangat kencang. Menerpa wajah Wonwoo, sehingga ia harus menutup kedua matanya agar debu tidak masuk.

 

Badan Wonwoo bergerak mundur ke belakang akibat angin kencang itu. Dari sipitan matanya, Wonwoo bisa melihat sesosok pria yang di kelilingi oleh pusaran angin akibat kepakan sayap yang membentang di belakang punggungnya. Sayap berwarna hitam itu memukul udara dengan pelan kali ini. Hingga bunyi deru angin semakin memelan, dan tidak lagi membuat pusaran debu di sekeliling taman itu.

 

“Jeon Wonwoo…” Suara bernada berat itu memanggil Wonwoo dengan penuh kecaman.

 

Wonwoo bisa merasakan waktu berhenti saat ini. Ia tidak tahu kenapa bisa mengetahui jika waktu berhenti. Hanya saja, Wonwoo bisa merasakan dengan jelas jika udara di sekelilingnya menghilang. Tidak ada bunyi lain lagi di tempat ini. Aura kehidupan seolah menghilang, dan Wonwoo hanya bisa merasakan dirinya sendiri di tempat itu. Kemudian pemuda bersurai coklat itu mulai membuka matanya dengan pelan. Berharap jika apa yang telah retinanya tadi tangkap adalah kamuflase, dan delusi Wonwoo yang terlalu berlebihan. Tapi sayangnya, apa yang di tangkap oleh fokus Wonwoo itu nyata. Ia bisa melihat sosok pria berbalut kaos orange dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya. Sayap berwarna hitam mengepak dengan sangat indah. Sigil-sigil sayap pria bersurai orange dengan wajah tegas itu terlihat sangat indah di mata Wonwoo.

 

“Si-siapa kau?” Wonwoo bertanya dengan tergagap. Lidahnya terasa sangat kelu saat ini. Ia benar-benar tidak percaya jika apa yang di lihatnya adalah nyata. Jika bisa, Wonwoo ingin meyakinkan dirinya bahwa ini semua adalah mimpi. Tapi sejak Mingyu memberitahunya, semua keinginan itu seakan menghilang dengan sekejap. Mungkin eksistensi akan malaikat dan makluk lainnya akan Wonwoo percaya. Karena ternyata makluk seperti itu memang ada dan nyata.

 

“Kwon Soonyoung. Kau adalah adik dari Wen Jun Hui, Jeon Wonwoo.” Soonyoung mendekat sambil menyusutkan sayap di belakang punggungnya. Membuatnya menjadi manusia normal biasa yang berasal dari dunia manusia.

 

“Ikut bersamaku, Wonwoo-ssi. Aku akan membuatmu mengingat segalanya, dan menjauhkan dirimu dari Verchiel.” Tangan Soonyoung terulur ke arah Wonwoo. Membuat pemuda bersurai coklat itu memundurkan tubuhnya dengan refleks.

 

Soonyoung menyunggingkan sebuah senyum tipis di wajahnya. Ia tentu mengerti jika Wonwoo takut padanya. Wonwoo yang seorang manusia biasa dan tidak mengetahui jati diri yang sebenarnya tentu akan ketakutan melihat sosok Soonyoung yang merupakan malaikat pembelot. Soonyoung yakin jika Wonwoo sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang di lihatnya adalah sebuah kenyataan.

 

“Tidak usah takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu, Wonwoo-ssi. Apa kau tidak ingat dengan Park Chanyeol?” Mata Wonwoo membulat mendengar pertanyaan dari Soonyoung. Kenapa bisa pria asing itu tahu tentang Chanyeol ahjussi? Paman yang sudah Wonwoo anggap sebagai ayahnya itu menghilang tujuh tahun lalu tanpa ada kabar sedikitpun. Sekarang Wonwoo berharap jika pria bersurai blonde ini mengetahui keberadaan pamannya itu.

 

“Apa kau tahu di mana pamanku berada?” Wonwoo bertanya penuh antusias. Tapi Soonyoung malah tersenyum kecut sekarang, dan memperlihatkan wajah penuh penyesalan.

 

“Jika kau ingin tahu jawabannya, kau harus ikut bersamaku. Bertemu dengan Jun.” Suara Soonyoung terdengar sangat meyakinkan di telinga Wonwoo. Tentu saja ia sangat penasaran dengan keberadaan pamannya yang tiba-tiba saja menghilang. Wonwoo ingin bertemu dengan Chanyeol lagi. Sosok Chanyeol sangat berharga bagi Wonwoo. Jika benar Soonyoung akan membawanya bertemu dengan Chanyeol, maka Wonwoo akan menerjang rasa takut yang sekarang singgah di hatinya.

 

“Bawa aku, Soonyoung -ssi.” Pernyataan Wonwoo di hadiahi senyuman tipis dari Soonyoung. Kemudian pria bersurai blonde itu mengeluarkan kembali sayap hitam di balik punggungnya. Sayap hitam yang membentang dengan lebar, sebelum akhirnya memukul udara dan kembali membuat pusaran angin kecil.

 

“Kemarilah, Wonwoo-ssi.” Tangan Soonyoung terulur. Membuat Wonwoo meraihnya dengan pelan. Hingga sekarang ia berada dalam kungkungan Soonyoung yang membawa tubuh kecil Wonwoo terbalut oleh sigil-sigil sayap Soonyoung. Lalu menghilang. Meninggalkan tanah di bawah mereka.

 

 

TeBeCe

 

Glousarium :

  1. Aerie : Dunia para malaikat pembelot Tuhan

 

  1. Lucifer : Pemimpin para malaikat pembelot Tuhan
  2. Elf : Kaum Fairy

 

 

  1. Alfheim : Dunia para elf, fairy, fallen angel

 

  1. Zeus : Tuhan. Dewa Penguasa Langit Dunia Atas manusia

 

 

  1. Nephilim : Manusia setengah malaikat. Mempunyai kekuatan malaikat di dalam dirinya.

 

  1. Ouranous : Raksasa yang ada di Dunia Bawah. Bangsa Titan.

 

Dan juga jika kalian berkenan. Bisa kah kalian berkomentar apakah fict ini terkesan lame, dan apa feel kalian dapet ga pas baca cerita ini? jujur saya agak kurang pede dengan tulisan saya. Semacam mau cari jati diri saya dalam menulis. Apa ini layak di baca, atau tidak sama sekali. Onegaisimasu-ssu!

Well. Saya selesai dengan Glousarium. Ada beberapa Glousarium yang saya sesuaikan dengan imajinasi saya.

 

Saya lagi semangat edit ini. karena emang greget dan butuh asupan tersendiri buat Meanie wkwk. Fict lain sabar aja yah. Wkwk. Mood gue belum dapet. Bwahaha.

 

So, Mind To Review?

 

 

Astia Morichan

 

Fudanshi Janai! | Meanie Couple| Yaoi

0

Fudanshi Janai!

R18!

Romance, Drama

Warning ! OOC, Typo’s, EYD dan Kaidah kata tidak sesuai KBBI, Absurd, YAOI, dll.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Bagaimana jadinya jika Jeon Wonwoo- si Otaku yang mengoleksi puluhan wifu beroppai besar, tanpa sengaja menemukan puluhan komik dan doujinshi Yaoi R18! Di kamar Kim Mingyu yang notabene-nya sahabat nista perotakuannya selama ini?

a/n: Sumpah ini FF iseng. Kenapa di taruh di M? Karena saya suka kebablasan ngehardcore kalo nulis otepeh. Oke. Sekian.

Kalo ada istilah yang ga ngerti. Silahkan baca di akhir cerita. Karena saya tahu. Ga semua penyuka yaoi fujoshi itu otaku yang demen ngehardcore ditemani doujinshi serta cd drama bl.

enJOY!

.

OoO

Jeon Wonwoo menatap penuh binar seri full set dvd High School DxD serta dvd bluray Keijo ! di tangannya. Saat ini, Wonwoo sedang beristirahat di restoran cepat saji setelah berkeliling di anime Lux– tempat di jualnya dvd, komik, doujinshi, cd drama, miniatur husbando atau wifu, dan lainnya. Sungguh, tidak sia-sia Wonwoo mengumpulkan semua uang jajannya untuk hari ini. Dimana kantung belanja miliknya sudah penuh dengan satu set dvd, komik series, light novel, miniatur Rias- Wifu beroppai favoritnya di High School DXD, Nozomi- Wifu Atlet senam renang di anime Echii Keijo serta Erina- Wifu di Shokugeki No Souma- sudah ada di tangannya.

Begitu juga dengan Kim Mingyu- sahabat perotakuannya selama hampir empat tahun, juga membeli barang yang sama. Tapi Wonwoo tidak begitu tahu dengan apa yang Mingyu beli, karena pemuda itu jarang memperlihatkan barang belanjaannya. Saat belanja pun, ia dan Mingyu terpisah; takut-takut goodies para wifu kehabisan. Karena sistem Anime Lux itu siapa cepat, dia dapat.

“Jadi apa yang kau beli?” Wonwoo bertanya, sambil meletakan miniatur Erina-sama ke dalam paper bag miliknya. Manik foxynya mulai menatap Mingyu yang sekarang menggaruk belakang kepalanya.

“Hanya beberapa komik lanjutan Shokugeki,” Mingyu berujar, sambil merogoh paper bag miliknya. Memperlihatkan lima komik berjudul Shokugeki No Souma dengan seri yang berbeda. Membuat Wonwoo tersenyum bangga saat melihatnya. Wonwoo tentu sudah lebih dulu mempunyai komik itu.

“Aku sudah bilang kan? Kau bisa meminjam punyaku, Gyu.” Wonwoo menyesap cola drinknya pelan, dan memakan potongan kentang yang tadi ia pesan.

“Kau juga tahu kan? Aku lebih senang mengoleksi komik ini.” Wonwoo mengangguk tanda mengerti. Tentu saja ia paham. Semua otaku di seluruh dunia, pasti ingin mengoleksi semua goodies.

“Lalu apa lagi yang kau beli?” Wonwoo bisa melihat Mingyu menggigit bibirnya ragu. Sahabatnya itu tengah gugup di hadapan Wonwoo.

“Tidak ada. Hanya beberapa komik dan cd drama dari anime yang tentu tidak akan kau sukai.” Mingyu berujar dengan cepat. Sampai Wonwoo sendiri melongo mendengarnya. Ah. Ya sudahlah. Mungkin Mingyu tidak ingin memperlihatkan wifu barunya. Takut jika wifunya di sukai Wonwoo. Cih. Padahal Wonwoo akan selalu setia pada Rias-sama dan Erina-sama yang oppainya sangat boombastis.

Arraseo. Arraseo.” Wonwoo mengibaskan tangannya ke arah Wonwoo. “Jadi kita akan ke rumahmu kan Gyu? Menonton serial Ova dxd yang aku beli.” Wonwoo menyeringai mesum. Well, anime yang akan mereka tonton adalah anime Echii, Hentai yang sangat WOW. Bahkan Wonwoo bisa berdelusi sendiri jika mendengar suara Rias-chan, dan membayangkan wifunya itu.

“Ya. Tentu. Orang tuaku sedang berada di Busan sampai senin depan. Jadi ayo, ke rumahku. Kau bisa menginap.” Mingyu mulai berdiri dan merapikan barang bawaannya. Di ikuti dengan Wonwoo yang mengangguk penuh semangat saat ini juga. Jujur saja, ia menyukai kamar Mingyu yang besar itu. Atau lebih tepatnya, kamar Mingyu memang mempunyai arti kenyamanan tersendiri bagi Wonwoo.

Kajja.” Wonwoo menarik tangan Mingyu. Menggengamnya dengan erat, untuk segera keluar dari pintu restoran cepat saji itu. Mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar trotoar saat melihat keduanya saling bergandengan tangan. Ah. Wonwoo tidak peduli dengan tatapan mereka. Ia hanya menginginkan untuk segera sampai di mobil rangerover berwarna orange milik Mingyu, dan membawanya pergi ke mansion megah milik sahabatnya itu. Tanpa peduli jika Mingyu tengah merona akibat tindakannya.

.

oOo

.

Perlu waktu satu jam untuk Kim Mingyu sampai di mansion megah bergaya Eropa yang menjulang paling tinggi di sekitar bangunan yang lain. Pintu gerbang terbuka otomatis, dan ia melajukan mobilnya untuk masuk beberapa meter agar sampai di pintu utama masuk. Kemudian Mingyu memarkirkan rangerover-nya tepat di depan. Dan Jeon Wonwoo yang sejak tadi sangat bersemangat langsung membuka pintu mobil.

“Cepat buka bagasi, Gyu!” Wonwoo berseru dengan tidak sabar. Sungguh. Wonwoo memang tidak sabar untuk segera menonton anime favoritnya itu. Anime hentai yang akan memperlihatkan kesexy-an Rias- wifu utama favorite Wonwoo.

“Ck. Kau tidak sabaran sekali,” Mingyu berdecak, sambil turun dari mobilnya. Pemuda bersurai pirang itu mulai berjalan ke belakang, untuk membuka bagasi mobil. Di ikuti dengan Wonwoo yang mengekor penuh semangat.

Klik

Bagasi terbuka otomatis, dan Jeon Wonwoo langsung menyerbu paper bag dengan asal. Entah itu barang belanjaan miliknya atau Mingyu; yang jelas Wonwoo hanya ingin untuk segera melihat lagi goodies yang tadi ia beli. Lagi pula jika tertukar pun tidak masalah. Mingyu pasti membeli goodies dengan wifu boombayah seperti miliknya juga. Saling berbagi asupan tentu tidak masalah bukan?

“Bawa sisanya, Gyu!” Wonwoo kembali berseru dengan tangannya yang sudah penuh paper bag, dan berjalan masuk duluan ke dalam mansion. Membuat Mingyu mendengus karena di perintah sahabatnya itu. Jika saja Wonwoo tidak cantik, dan mencuri hatinya, Mingyu pasti tidak akan mau di perintah seperti ini. Termaafkan karena cinta adalah presepsi Kim Mingyu.

Arra.” Mingyu menurut. Mengambil sisa paper bag yang ada di bagasi. Ternyata barang belanjaan mereka benar-benar banyak. E-eh? Mereka?

“Sial!” Mingyu mengumpat dengan keras, dan Mingyu mulai menurunkan kembali paper bag yang tadi ia bawa. Mengecek apa barang belanjaannya tertukar dengan Wonwoo.

Pemuda bersurai pirang itu menelan salivanya dalam, sebelum membuka paper bag itu dengan pelan. Mingyu harap, Dewi Fortuna berpihak padanya, dan paper bag ini adalah barang belanjaan yang Mingyu beli. Jika sampai belanjaan mereka tertukar, tentu semuanya akan menjadi kacau balau! Wonwoo pasti akan menjauhi Mingyu. Benar-benar menjauhinya. Dan Mingyu tidak ingin hal itu terjadi.

Srett

Paper bag di buka dengan pelan. Membuat manik obsidian Kim Mingyu membulat sempurna, dengan mulut yang membulat penuh seperti orang bodoh. Sial! Belanjaan miliknya benar-benar tertukar dengan milik Wonwoo. Paper bag ini berisi kumpulan komik hentai yang Wonwoo koleksi dan miniatur Rias-chan. Mingyu harus segera menyusul Wonwoo kedalam jika tidak ingin rahasia nistanya terbongkar oleh Wonwoo.

.

oOo

.

Wonwoo bersenandung riang saat ia mulai duduk di karpet beludru coklat yang ada di kamar Mingyu. Wonwoo sudah menyimpan semua paper bag itu di depannya. Ritual sempurna! Wonwoo benar-benar tidak sabar untuk melihat kembali Erina-sama kesayangannya. Dengan cekatan, tangannya mulai merobek semua paper bag itu dengan gila. Sampai manik foxynya membulat tak percaya dengan apa yang sudah fokusnya tangkap, saat isi dari paper bag itu berceceran. Ini semua jelas bukan barang belanjaan Wonwoo.

Barang yang ada di depan Wonwoo adalah kumpulan goodies bercover pria dengan pria sedang berciuman. Itu Yaoi! Tolong catat! Jeon Wonwoo tidak mungkin membeli tumpukan doujinshi serta komik Yaoi rated 18 ! Yaoi! Itu jelas bukan barang milik Wonwoo. Hey! Wonwoo itu bukan seorang Fudanshi atau homo. Tolong ingat itu!

“Ya Tuhan. Ini benar-benar bukan punyaku.” Wonwoo bergumam pelan, ketika tangannya membaca satu persatu judul komik itu. Satu set Hidoku Shinaide volume 1-13. Satu set doujinshi AkaKuro R 18! karya Marionette. Wah. Daebak. Wonwoo sama sekali tidak menyangka ada doujinshi seperti ini. Akashi dan Kuroko pula yang ada di dalamnya. Itu adalah salah satu anime favorite Wonwoo summer kemarin!

“A-apa ini?” Wonwoo kembali terkaget, saat tangannya menggengam satu set drama cd BL bertemakan Hidoku Shinaide. Hey! Wonwoo sama sekali tidak tahu jika Yaoi juga mempunyai Cd Drama! Dunia peryaoian ternyata memang ada! Dan yang menjadi pertanyaan Wonwoo, barang ini adalah milik siapa? Jelas ini bukan miliknya. Wonwoo masih normal untuk tidak mempunyai barang haram itu. Wonwoo masih mencintai oppai-oppai besar milika Rias, Erina, Orihime, Hinata, Purin, Karin, dan yang lainnya.

Brakk

Suara derit pintu di buka paksa membuat Wonwoo mengadah, dan melihat ke arah sosok Kim Mingyu yang terengah dengan peluh yang membasahi pelipisnya. Pemuda bersurai pirang itu nampak mencoba menstablikan napasnya, sebelum akhirnya manik obsidian itu membulat dengan kaget saat melihat sosok Wonwoo dengan goodies miliknya.

“Kau membukanya!” Mingyu berteriak keras dan berlari ke arah Wonwoo. Ia menatap nanar goodies yang tadi ia beli, karena sudah berserakan akibat Wonwoo buka. Ya. Wonwoo membuka semua barang nistanya. Mingyu ketahuan!

“Ah.. Nemu-chan..” Mingyu berujar lirih dan mengambil satu miniatur kecil bocah megane yang hanya menggunakan brief pantsu saja. “Tetsu-chan..” Kemudian Mingyu beralih mengambil Miniatur yang Wonwoo kenali sebagai Kuroko Tetsuya.

“G-gyu..” Wonwoo memanggil Mingyu dengan pelan. Dan suaranya di respon dengan cepat. Terbukti dengan ekspresi kaget Mingyu di wajahnya. Sebelum akhirnya, Mingyu menghela napasnya pelan. Kemudian pemuda bersurai pirang itu menyimpan miniatur uke-nya, dan menatap Wonwoo dengan intens.

“Aku adalah Fudanshi, Wonwoo-ya. Selama ini, aku hanya menyukai husbando berwajah uke seperti Tetsuya dan Nemugasa. Bukan wifu beroppai besar seperti yang kau sukai.” Dan ucapan Mingyu seakan membuat Wonwoo di sambar oleh petir berkecepatan lamda. Fudanshi katanya? Kim Mingyu adalah seorang Fudanshi selama ini. Fudanshi : Pria penyuka Homosexual. Atau tidak menutup kemungkinan juga jika Kim Mingyu sendiri adalah Gay karena ia fudanshi.

TeBeCe

Gaje ye? Emang. Gue emang gaje. Serba ga jelas. Padahal ff lain masih numpuk tapi malah buat begini. Wkwk.

Karena ini FF iseng, otomatis ga akan panjang kok. Paling Cuma lima chap lah.

Ini kebalikan iwtbas versi nista. Wkwk

Kalau ada yang ga tau istilah otaku gue kasih tau.

1. Doujinshi : Mini script komik buatan fans atau pembuat manga. Biasanya doujin yang di jual itu emang banyaknya yaoi. Ada sih yang straight tapi hanya beberapa.

2. Light Novel : novel offical buatan mangaka/ unofficial buatan fans.

3. Wifu : Kayak bias lagi. Tapi lebih ke chara cewe

4. Husbando : Bias tapi ke chara cowo

5. Fudanshi : cowo yang demen liat homo

6. Yaoi : jelas homo. Wks

7. BL Drama CD : Itu Cuma kaset yang isinya percakapan yang ada di komik doang. Ga ada visual. Jadi cd drama itu visualnya kita yang bayangin di otak. Wkwk. Biasanya drama cd itu suaranya desah-desahan. Hot. Bikin panas dingin. Apalagi drama cd shinaide. Men! Itu hot. Apalagi suara Maya sama Nemu kalo desah-desahan. Gerr uhlala.

Gue itu ga ada kerjaan kalo dari hari jumat ampe mgg. Jd dr kemaren malah ngetik ff. Wkwk. Bete soalnya. Tapi gue itu males editing. Iwtbas ntar yah. Ga mood gue. Wkwk. Taun baru gue usahain. Mumpung uas gue awal taun soalnya. wkwk

Mind To Review?

Astia morichan

Nephilim | Meanie Couple | Yaoi | Fantasy | Prince Of Dark X Angel

0

Kim Mingyu menatap tajam sosok pria paruh baya bersurai hitam yang mirip dengannya . Pria itu duduk dengan gagah di kursi kebanggaan miliknya yang berada di depan altar dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi di sampingnya. Tidak lupa dengan baju zirah yang melekat di tubuh pria berwibawa- Kim Kyuhyun- Ayah Mingyu yang merupakan penguasa Dunia Bawah. Kyuhyun lebih di kenal sebagai Dewa Hades(1) bagi para manusia. Sedangkan Mingyu adalah anak semata wayangnya dari Persephone (2).

Aku bosan di sini Ayah.” Ucap Mingyu. Manik obisidiannya masih menatap Kyuhyun dengan tajam. Seakan menyuruh agar Ayahnya itu mengerti keinginan yang sudah lama Mingyu pendam. Jujur saja, Mingyu bosan tinggal di Dunia bawah, atau paling tepatnya neraka. Mingyu juga sudah lelah jika setiap hari harus melihat sungai phlegethon(3), acheron(4), lethe(5), padangasphodel(6) dan juga padang hukuman(7) – dimana roh-roh orang jahat berteriak kesakitan, dan meminta tolong pada Mingyu untuk di bebaskan dari rasa sakit.

Apa yang ingin anda lakukan, Mingyu-ssi?” Hong Jisoo – sang Thanatos(8) yang merupakan abdi dari sang ayah bertanya. Mingyu mendelik- menatap tak suka ke arah Jisoo yang selalu menggangu rencana miliknya. Jisoo memang selalu curiga pada Mingyu. Padahal Jisoo hanya abdi dari sang ayah yang sama sekali tidak berpengaruh bagi Kerajaan di Dunia Bawah.

Bukan urusanmu.” Mingyu melirik sekilas ke arah Jisoo. Kemudian ia kembali menatap sang ayah yang masih terdiam. Tidak mengubris keinginan Mingyu sama sekali.

Aku akan pergi ke dunia manusia. Bersama para roh orang mati bisa membuatku gila.” Dan tanpa meminta persetujuan siapapun, Mingyu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang singgsana ayahnya. Mingyu hanya ingin segera pergi ke pintu ajal(9)- yang menghubungkan dunia fana dengan dunia bawah. Mingyu memang sudah merencanakan hal ini sejak dulu. Ia ingin menghirup udara bebas, dan tinggal di dunia fana. Meninggalkan dunia bawah yang kelam dimana hanya di tinggali oleh dirinya, ayah, ibu dan juga beberapa abdi dari sang ayah. Mingyu juga akan meninggalkan semua roh orang mati yang di ada di padang hukuman agar berhenti mengikutinya. Mungkin jika di dunia fana, Mingyu tidak akan bertemu lagi dengan kerangka orang mati, dan para roh yang masih mempunyai urusan manusiawi. Walaupun Mingyu masih mempunyai kekuatan untuk memanggil pasukan zombie dengan kerangkanya saja untuk melindungi Mingyu jika terdesak bahaya. Seperti di incar oleh Zeus, dan juga beberapa makluk ghaib yang mengincar nyawa pangeran kegelapan untuk menguasai dunia fana.

Nephilim

RM 18!

Romance, Fantasy, Drama, Supernatural

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

Kim Mingyu sang Pangeran Kegelapan—Putra Hades memutuskan untuk pergi ke dunia fana. Di sana, ia bertemu dengan Jeon Wonwoo- manusia dengan paras cantik yang mempunyai aura angelik dalam dirinya. Wonwoo bahkan tidak tahu siapa dirinya jika ia tidak di pertemukan dengan Mingyu. Apalagi ketika pasukan bersayap menyerang Wonwoo, dan Mingyu yang menolongnya setiap saat.

Susunan strata makluk immortal saya jelasin nanti.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

a/n: FF ini adalah rombakan dari FF saya yang Prince Of The Dark. Saya ubah jadi Meanie. Karena yang PoF itu FF event yang failed karena seharusnya FF itu berakhir dengan 12 chap sesuai alur cerita. Karena kemarin pof akakuro deadline. Tamatnya ga banget. Dan akhirnya saya mutusin buat lanjutin ini dalam versi Meanie. Karena kalo di lanjut ke akakuro. Mereka udah klaim tamatnya seperti itu.

Over all yang versi Meanie dari chap 3 dan seterusnya bakal beda dari yang AkaKuro.

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari Fanfict ini. ini hanya untuk kesenangan writer abal macam saya saja.

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

Jeon Wonwoo berjalan gontai menuju lift yang akan mengantar tubuh letihnya ke sebuah kamar apartemen usang yang berada di lantai tujuh gedung bertingkat ini. Wonwoo merasa tubuhnya remuk sekarang, karena seharian ini ia harus bekerja part time di dua tempat. Ketika pagi menjelang, ia juga harus kembali belajar di kampusnya. Wonwoo sudah semester empat sekarang. Ia harus rajin belajar, dan juga mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Karena Wonwoo tidak ingin merepotkan bibi-nya yang ada di Busan. Wonwoo sudah kehilangan orangtuanya sejak berumur dua tahun. Ia bahkan tidak ingat sama sekali wajah sang ibu yang melahirkannya. Wonwoo hanya tahu wajah ibunya di foto. Begitu pun dengan sang ayah yang tidak pernah Wonwoo kenali. Terkadang Wonwoo merasa hidupnya tidak adil. Tapi ia memang harus merasa bersyukur pada Tuhan karena membiarkannya hidup sampai detik ini. Wonwoo masih mempunyai banyak impian, dan Wonwoo berharap impiannya terkabul satu persatu dari usaha yang selama ini ia lakukan.

“Hah..” Wonwoo menghela napasnya pelan saat ia sudah sampai berada di depan pintu apartemen kecil miliknya. Tangannya bergerak untuk memasukkan kunci dan mulai membukanya. Kemudian beralih meraih kenop pintu, lalu membukanya perlahan. Bunyi pintu berderit terdengar. Menandakan bahwa pintu itu terbuka. Karena Wonwoo tidak ingin mengganggu tetangganya yang pasti sudah tertidur lelap sekarang.

Wonwoo mulai melangkah masuk ke dalam. Baru saja satu langkah Wonwoo masuk, ekor matanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang berdiri sepuluh meter dari tempatnya. Ketika Wonwoo mulai berbalik, ternyata pemuda itu sedang berdiri di ujung lorong—di samping lift dan menatap pemandangan kota lewat jendela besar di sana. Wonwoo tidak mengenal sosok itu. Baru kali ini Wonwoo melihatnya.

Mungkinkah tetangga barunya? Tapi setahu Wonwoo, semua kamar yang ada di lantai tujuh itu sudah penuh. Jadi tidak mungkin ada penghuni baru di sini. Kecuali tamu, tentu saja. Ah. Memikirkannya malah membuat Wonwoo pusing. Lebih baik ia segera masuk ke dalam, dan mengabaikan pemuda itu. Lagi pula, Wonwoo memang tidak mengenalnya. Jadi bukan masalah bagi Wonwoo jika ia bersikap tidak peduli seperti sekarang. Wonwoo hanya tidak ingin berpikiran buruk tentang lelaki itu.

Wonwoo menganggukan kepalanya pelan. Meyakinkan dirinya, jika pemuda itu bukanlah orang jahat. Kemudian Wonwoo kembali berbalik, dan mulai masuk ke dalam apartemen mungilnya. Apartemen Wonwoo memang sangat sederhana. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan juga dapur yang menyatu bersama ruang tengah. Baginya apartemen ini sudah cukup. Lagi pula harga sewanya sangat murah, jadi Wonwoo merasa sangat betah tinggal di sini.

“A-ah.. Sebaiknya aku tidur.” Wonwoo mulai melepaskan backpack kecil miliknya, dan menyimpannya di sofa. Kemudian ia berjalan ke arah kamar, dan berganti pakaian dengan piyama berwarna biru. Wonwoo tidak ingin mandi, ia hanya menyikat gigi dan membasuh wajahnya saja. Cuaca malam ini sangat dingin, ia tidak ingin mati kedinginan karena berendam. Jadi Wonwoo memutuskan untuk segera tidur, dan menjelajahi mimpinya. Walaupun dirinya sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Mimpi dimana ia mempunyai sayap, dan di kejar oleh beberapa pasukan bersayap yang mengincar nyawanya.

.

oOo

.

Wonwoo berlari kecil menuju cafe yang berada di perempatan jalan Gwanghwamun. Wonwoo mendapat shift sore hari ini, dan ia malah terlambat datang ke tempat kerjanya karena harus membantu Seokmin Seongsaeng- Dosen menyebalkan yang selalu menyuruh Wonwoo ini dan itu. Walaupun Wonwoo juga tidak keberatan, karena Seokmin adalah orang yang baik padanya.

“Hah.. Hah..” Napas Wonwoo tersenggal saat ia sampai di depan pintu cafe. Di sana sudah ada Yoon Jeonghan yang sudah memakai kemeja putih dan juga celana hitam panjang, sambil membawa sebuah nampan berisi jus pesanan pelanggan—menatap Wonwoo dengan padangan heran. Seolah berkata ‘Kenapa kau terlambat?’

“Maaf atas keterlambatanku.” Wonwoo membungkukan tubuhnya ke arah Chwe Hansol- pemilik cafe yang menjadi bos Wonwoo. Pria berparas western itu mulai mendekat ke arah Wonwoo. Wajah stoic milik Hansol memang tidak pernah bisa terbaca oleh pikiran Wonwoo.

“Kenapa kau terlambat Wonwoo? Kau tahu kan jika cafe selalu di padati pelanggan ?” Wonwoo menunduk. Enggan menatap bosnya yang sekarang mengurut pelipisnya. “Sudahlah. Cepat ganti pakaianmu. Banyak pekerjaan yang menunggumu, Wonwoo-ya.” Kemudian Hansol berbalik. Meninggalkan Wonwoo yang sekarang bisa menghela napas lega. Jujur saja, Wonwoo sudah sering datang terlambat ke cafe. Maka dari itu ia selalu di omeli oleh Hansol akibat keterlambatan yang sama sekali tidak Wonwoo recanakan.

“Maafkan aku, Sunbae.” Ucap Wonwoo penuh penyesalan saat Hansol sudah menjauh dari pandangannya. Kemudian Wonwoo segera pergi ke belakang dapur. Ada ruang ganti di sana, dan Wonwoo harus segera berganti baju. Hanya butuh beberapa menit bagi Wonwoo untuk mengganti kaos berwarna birunya, dengan kemeja berwarna putih yang Wonwoo gulung seperempat lengannya. Celana jeans levis di ganti oleh celana denim berwarna hitam yang terlihat pas di kaki jenjang pemuda bersurai coklat itu. Tidak lupa dengan celemek berwarna hitam senada dengan celananya melingkar di pinggang Wonwoo. Setelah merasa cukup rapi, Wonwoo segera meninggalkan ruang ganti, dan pergi menuju dapur. Di dapur, semua orang terlihat sangat sibuk mengantarkan pesanan. Jihoon- yang merupakan koki kedua pun nampak sangat sibuk karena sepertinya Seungkwan- kekasih Hansol tidak ada dapur. Jadi Jihoon yang harus mengcover semua pesanan pelanggan.

“Wonwoo-ya, kau melayani pelanggan saja dan mengantarkan pesanan. Masih banyak yang belum di layani di luar cafe.” Hansol yang kini sibuk menyiapkan berbagai minuman, berteriak ke arah Wonwoo.

“Baiklah.” Tanpa menunggu lebih lama, Wonwoo segera melesat pergi meninggalkan dapur. Ia mulai menghampiri beberapa pelanggan yang duduk di luar bisa melihat mereka menggerutu karena masih belum bisa memesan. Mereka adalah empat orang gadis berseragam SMA yang duduk di pojok- tepat di belakang taman. Mungkin mereka memilih latar paling bagus di cafe ini. Karena jika mereka duduk di sana, akan terbentang taman yang cukup besar. Dengan pepohonan yang menjulang tinggi di segala penjuru. Nuansa hijau yang sarat akan hutan akan terasa jika duduk di sana. Cafe ini memang terkenal karena mempunyai latar hutan yang menarik. Setahu Wonwoo, Hansol membangun cafe bertemakan hutan ini untuk Seungkwan- sebagai hadiah anniversary mereka.

“Maaf. Apa ada yang ingin anda pesan?” Wonwoo memamerkan senyum menawan miliknya. Membuat empat orang gadis yang tadi sedang menggerutu terdiam saat melihat senyum Wonwoo. Mereka seolah terhipnotis oleh senyuman Wonwoo yang mempunyai magis tersendiri.

“I-iya. Ehm.. Siapa namamu?” Bukannya memesan, gadis bersurai pirang bertanya nama Wonwoo dengan pipinya yang merona, ketika Wonwoo menyodorkan menu makanan di atas meja.

“Jeon Wonwoo.” Wonwoo tersenyum simpul ke arah gadis itu. Wonwoo bisa melihat wajah gadis itu memerah sempurna. Ah. Mungkin saja gadis itu sedang sakit. Ia tidak ingin ambil pusing.

“Kau bisa memanggilku lagi jika sudah selesai memesan, Nona.” Wonwoo membungkuk perlahan, sebelum menjauh dari kerumunan para gadis yang masih terpesona akan wajah Wonwoo. Well. Jangan salahkan Wonwoo jika ia mempunyai senyum menawan yang mampu memikat semua orang. Ini adalah hal yang biasa jika ada para gadis, bahkan pria menanyakan perihal Wonwoo.

“Hey.. Wonwoo-ya !” Suara bass dengan nada berat yang sangat Wonwoo kenali itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Wonwoo bisa melihat sosok pemuda bersurai hitam sedang melambaikan tangannya. Pemuda itu- Choi Seungcheol- Sahabat sekaligus pacar dari Jeonghan- sedang duduk di kursi luar baris pertama.

“Halo, Hyung.” Wonwoo berjalan mendekat ke arah Seungcheol yang sekarang tersenyum lebar ke arahnya.

“Wonwoo-ya, apa kau melihat Jeonghan? Aku sudah menunggunya di sini setengah jam. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya.” Seungcheol menghela napasnya lelah. Raut wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi muram saat mengingat Jeonghan. Wonwoo yakin, jika mereka sedang bertengkar. Ia juga sudah tidak melihat Jeonghan melayani beberapa pelanggan. Biasanya Jeonghan selalu ada di depan, dan suara tawanya yang khas selalu terdengar.

“Tadi aku melihatnya. Apa kau bertengkar dengan Jeonghan Hyung?” Wonwoo mengedarkan pandangannya. Meneliti ke segala penjuru. Siapa tahu ia bisa melihat sosok Jeonghan dan juga beberapa pelanggan yang harus Wonwoo tulis pesanannya.

“Aku bertengkar dengannya. Jika kau bertemu dengan Jeonghan di dalam, bisakah kau memberitahunya aku ada di sini?” Seungcheol menatap Wonwoo penuh harap. Wonwoo hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Tentu saja, Hyung. Apa kau ingin memesan juga?” Wonwoo bertanya, dan di hadiahi anggukan pelan dari Seungcheol.

Americano saja.” Wonwoo mengeluarkan sebuah memo kecil bersama pulpen yang ia simpan di saku celemek. Kemudian tangannya bergerak di atas kertas untuk menulis pesanan Seungcheol. Sebelum mulai mengangguk setelah selesai menulis pesanan Seungcheol.

“Baiklah. Tunggu sebentar, Hyung.” Dan Wonwoo mulai berbalik menjauh dari Seungcheol. Ia berniat untuk segera kembali ke dalam cafe dan membawa pesanan temannya itu. Tapi tatapan Wonwoo terpaku pada dua sosok lelaki dengan jubah hitam yang berada di balik pohon palm, menatap Wonwoo tajam. Dari jarak seperti ini, Wonwoo bisa melihat mata kedua sosok itu berwarna semerah darah. Wonwoo juga bisa melihat salah satu sosok lelaki itu menggerakan mulutnya dan Wonwoo seakan mengerti dengan apa yang di ucapkan mereka. Seolah berkata ‘Nephilim. Kita menemukannya.’

Tubuh Wonwoo menegang dengan cepat, matanya membulat sempurna saat melihat tonjolan daging berbentuk sayap keluar dari punggung kedua orang itu. Sayapnya berwarna hitam pekat membentang lebar. Wonwoo bahkan bisa merasakan angin kecil menerpa wajahnya saat kedua sosok itu memukul udara dengan sayap mereka. Sebelum akhirnya mereka terbang dengan tatapan intens yang terarah pada Wonwoo.

“Hey.. Wonu-ya?” Suara Seungcheol tidak terdengar lagi oleh Wonwoo. Pikiran Wonwoo mulai kosong. Darahnya berdesir. Tubuh Wonwoo mulai memanas ketika ia merasakan otot-otot punggungnya menegang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Wonwoo hanya tahu jika ia tidak bisa merasakan apapun, dan semuanya gelap. Wonwoo masih bisa mendengar teriakan panik dari orang-orang, dan juga suara Seungcheol berserta Jeonghan dan Hansol yang memanggil dirinya agar tetap sadar.

.

oOo

.

“Hey.. Wonwoo-ya.. Apa kau tidak ingin bangun?” Suara Jeonghan terdengar khawatir saat melihat Wonwoo terbaring lemah di hadapannya. Sejak tadi, Jeonghan mengguncangkan bahu Wonwoo dengan gerakan pelan. Berharap jika Wonwoo akan bangun dari pingsannya. Wonwoo sudah pingsan selama satu jam, dan ia sangat khawatir dengan keadaan Wonwoo yang seperti ini. Sejak tadi Jeonghan bahkan mengabaikan gerutuan dari Seungcheol, karena Jeonghan tidak ingin membawa Wonwoo dulu ke klinik yang ada di depan persimpangan. Karena jika Jeonghan melakukan itu, pengunjung yang ada di cafe akan terganggu. Jadi Jeonghan memutuskan untuk memanggil seorang dokter yang bernama Hwang Minhyun- Dokter muda berparas tampan yang sekarang memeriksa keadaan Wonwoo yang berbaring lemah di atas single bed yang ada di rest room cafe ini.

“Dia hanya kecapean saja. Kau tidak usah khawatir. Aku akan memberinya beberapa obat vitamin.” Minhyun menyimpan kembali stetoskop ke dalam tas hitam miliknya. Kemudian pria bersurai kecoklatan itu mengeluarkan sebuah bolpoint di sertai kertas memo kecil. Tangan Minhyun bergerak lincah di atas kertas. Menulis beberapa kata yang Jeonghan yakini adalah resep obat yang harus ia tebus untuk Wonwoo.

“Kau bisa membeli resep ini di klinik depan. Aku harap kau bisa menjaganya. Dia mungkin sedang tertekan oleh sesuatu. Jangan sampai membuatnya tertekan dan stress.” Minhyun mulai berdiri sambil merapihkan kemeja hitam miliknya yang sama sekali tidak kusut. Kemudian ia membungkuk untuk pamit. Di sertai oleh senyuman Jeonghan, dan delikan tajam dari Seungcheol.

“Terimakasih, Minhyun-ssi.” Minhyun hanya mengangguk kecil, sebelum akhirnya berjalan ke luar pintu dan meninggalkan rest room itu.

“Aduh Wonwoo-ya.. kenapa kau tidak bang-” Mata Jeonghan membulat saat melihat Wonwoo mulai mengerjapkan mata dengan perlahan. Mata yang awalnya tertutup terbuka dengan gerakan pelan. Memperlihatkan bagaimana jernihnya mata Wonwoo, yang selalu membuat Jeonghan kagum sekaligus iri karena mata Wonwoo begitu indah.

“A-ah.. Syukurlah Wonwoo-ya. Kau sudah sadar!” Jeonghan berteriak girang. Tubuhnya bergerak dengan refleks memeluk tubuh Wonwoo yang masih berbaring. Jeonghan benar-benar lega karena pemuda bersurai coklat itu baik-baik saja.

“Oi.. Wonwoo bisa mati kehabisan napas karena kau peluk seperti itu, bodoh!” Seungcheol mencibir ke arah Jeonghan. Membuat si surai pirang mendelik ganas ke arah pemuda itu.

“Diam kau!” Jeonghan mengerucutkan bibirnya kesal karena ucapan Seungcheol. Kemudian tatapannya kembali ke arah Wonwoo yang sekarang memejamkan matanya, dengan dahi mengernyit seperti menahan sakit.

“E-eh? W-wonu-ya, kau kenapa?” Jeonghan berujar gugup. Ia mulai melepaskan pelukannya pada Wonwoo, dan menatap Wonwoo dengan raut wajah khawatir.

“S-sakit, H-hyung… P-punggungku.. U-uhh…” Wonwoo mulai meringkukan badannya. Berharap rasa sakit yang menjalar di punggungnya hilang. Wonwoo bisa merasakan otot-otot punggungnya bergerak dan memanas saat ini. Ia tidak pernah mengalami kesakitan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“C-cheolie.. Pe-pergi ambil obat di apotek Dokter Minhyun. P-p-palii!” Jeonghan mulai berteriak panik. Di ikuti dengan Seungcheol yang sekarang bingung harus melakukan apa. Karena bagi Seungcheol, ini adalah pertama kali Wonwoo kesakitan seperti itu.

“Cepat!” Teriakan Jeonghan membuat Seungcheol kembali sadar dari keterkejutannya. Seungcheol mengangguk cepat, dan segera melesat pergi keluar dari ruangan itu untuk pergi menyusul Dokter Minhyun dan juga meminta resep obat di kliniknya. Meninggalkan Jeonghan yang semakin panik saat melihat Wonwoo meringis kesakitan. Jeonghan benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jeonghan tidak mungkin berteriak histeris keluar memanggil Hansol. Ia tidak ingin membuat kegaduhan di cafe ini.

“T-tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan minum. Tunggulah sebentar.” Jeonghan mengelus punggung Wonwoo dengan pelan. Berharap Wonwoo masih sadar dan mendengarnya. Kemudian Jeonghan keluar dengan langkah panjang. Pintu kayu itu di buka paksa tanpa di tutup kembali. Agar jika Wonwoo semakin kesakitan, pemuda bersurai coklat itu bisa berteriak, dan Jeonghan dapat mendengarnya dengan jelas. Kemudian pergi menolongnya. Jeonghan memang selalu berpikiran simple jika dalam keadaan genting. Pemuda bersurai pirang itu memang bisa di andalkan.

“A-ahh…” Ringisan sakit Wonwoo makin menjadi. Wonwoo masih bisa merasakan otot-otot mulai berkontraksi di dalam punggungnya. Bergerak pelan di balik tulang punggungnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“T-tolong…” Suara Wonwoo terdengar lirih. Matanya mulai tertutup setengah. Tapi Wonwoo masih bisa melihat dengan jelas sosok pemuda bersurai hitam yang berjalan mendekat ke arah Wonwoo. Ia kenal dengan pemuda itu. Pemuda bersurai hitam itu adalah tetangga barunya yang Wonwoo lihat kemarin malam.

“Ternyata aura angelik berasal darimu.” Pemuda bersurai hitam itu membungkukan badannya saat jaraknya dengan Wonwoo semakin dekat. Wonwoo bisa merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya dengan lembut. Wonwoo tidak tahu jika napas pemuda itu malah membuat sesuatu di balik punggung Wonwoo kembali bergerak tak beraturan. Darahnya kembali berdesir di dalam tubuh Wonwoo.

“Aku Kim Mingyu. Kau harus mengingatnya saat kita bertemu lagi nanti.” Pemuda misterius—Mingyu—berbisik pelan di telinga Wonwoo. “Aku akan menolongmu. Aura angelik milikmu itu berbeda dan menarik.” Mingyu tersenyum asimetris ke arah Wonwoo Tangan Mingyu yang hangat bergerak perlahan menyentuh wajah Wonwoo dengan lembut. Sebelum menyentuh kelopak mata Wonwoo dengan perlahan, dan Wonwoo tidak sadarkan diri setelahnya. Wonwoo hanya ingat jika pemuda itu berhasil membuat energi dari dalam tubuhnya menghilang. Menghilangkan rasa sakit yang sejak tadi bersarang pada punggung Wonwoo.

.

oOo

.

Wonwoo membuka matanya secara paksa. Napasnya tersenggal tak beraturan. Dadanya naik turun tak terkendali. Mimpi itu lagi. Wonwoo kembali bermimpi tentang dirinya yang di kejar pasukan bersayap. Di dalam mimpi, Wonwoo sama sekali tidak punya tujuan kemana harus bersembunyi. Wonwoo benar-benar tidak suka dengan mimpi buruk yang selalu ia dapat ketika tidur. Karena ketika ia terbangun sampai sekarang, mimpi tersebut masih ada di benaknya. Dan Wonwoo kembali takut untuk tertidur.

Wonwoo menoleh ke arah nakas. Melihat jam weker kecil di sampingnya. Sekarang masih jam tiga pagi. Wonwoo baru tertidur tiga jam. Jika seperti ini, Wonwoo tidak ingin kembali tertidur. Tadi malam, Jeonghan mengantar Wonwoo pulang ke apartemen. Pemuda bersurai pirang itu bahkan nekad untuk menginap di tempat Wonwoo. Jeonghan berkata jika ia takut Wonwoo kembali kesakitan, dan tidak ada orang yang akan menolongnya. Tapi Wonwoo menolak kebaikan Jeonghan dengan halus. Ia tidak ingin membuat Jeonghan dan Seungcheol kerepotan. Mereka pasti sudah mengurusnya selama Wonwoo pingsan beberapa jam di cafe. Wonwoo tidak ingin kembali membuat kedua sahabatnya itu susah karena dirinya.

Wonwoo mulai menarik selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Ia mulai berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Mungkin udara segar bisa menenangkan perasaan Wonwoo. Ia tidak ingin berpikiran negatif sekarang. Wonwoo hanya ingin melupakan kejadian yang menimpanya hari ini. Tentang kedua sosok pria bersayap, pemuda dengan surai hitam yang menolongnya, dan juga mimpi-mipi buruk yang masuk ke dalam alam bawah sadar Wonwoo.

Di raih kenop pintu yang menghubungkannya dengan koridor luar apartemen. Di sini tidak ada siapapun kecuali Wonwoo. Hening. Hanya ada suara binatang malam yang terdengar. Wonwoo menoleh ke arah jendela yang memperlihatkan bagaimana indahnya pemandangan Kota Seoul yang berkerlap kerlip dari atas sini. Jika udara malam tidak membuat Wonwoo menggigil di pertengahan musim semi ini, mungkin Wonwoo lebih memilih berdiam diri sambil menatap pemandangan kota Seoul dari jendela.

Dengan langkah mantap, Wonwoo mulai berjalan ke arah lift yang akan mengantarnya ke lantai satu. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke minimarket dua puluh empat jam yang berada dua kilo meter di tempat apartemennya.

Lagi-lagi langkah Wonwoo harus berhenti saat matanya kembali menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang memandangi pemandangan kota di balik jendela besar itu. Pemuda itu masih sama seperti yang Wonwoo lihat empat jam lalu. Berdiri dengan senyum tipis yang bertengger di wajah tampannya. Ingin sekali Wonwoo bertanya kenapa pemuda itu masih diam di sana. Padahal ini sudah malam. Ia juga ingin bertanya apa benar jika pemuda itu yang datang menolongnya di cafe?

Tombol lift di tekan perlahan oleh Wonwoo. Ia hanya perlu menunggu agar pintu lift ini terbuka, dan segera pergi meninggalkan pemuda itu. Entahlah, ada sesuatu yang aneh dalam diri pemuda itu. Wonwoo tidak tahu kenapa ia bisa merasakannya. Wonwoo hanya tahu, jika pemuda itu mungkin saja berbahaya. Seperti kedua sosok misterius bersayap yang Wonwoo lihat di cafe.

“Hei, Apa kau tahu? Ternyata dunia fana tidak berubah sejak terakhir kali aku datang ke sini.” Dahi Wonwoo mengernyit heran saat mendengarnya. Dunia fana? Apa Wonwoo sedang berhadapan dengan orang mabuk sekarang? atau pemuda yang ada di hadapannya ini adalah seorang alien sehingga ia jarang berkunjung ke bumi? Ah. Baiklah. Lupakan tentang itu. Mungkin Wonwoo akan mengurangi membaca cerita fiktif tentang alien.

“A-apa kau baru saja datang ke Seoul?” Wonwoo mencoba membuka suaranya. Ia tidak ingin berfikiran negatif tentang pemuda itu. Mungkin saja kan pemuda itu baru datang dari Desa.

“Tidak. Aku datang dari dunia bawah.” Kali ini, Wonwoo sangat yakin jika orang yang di depannya ini mempunyai gangguan jiwa. Memang ada kota di Korea yang bernama dunia bawah? Tentu saja tidak ada. Sekarang, Wonwoo benar-benar ingin pergi dari sini. Ia tidak mau meladeni pemuda itu lebih lama. Dan kenapa lift ini sama sekali tidak bekerja? Apa petugas apartemen mematikannya? Jika seperti itu Wonwoo harus menuruni anak tangga untuk sampai ke bawah.

“Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?” Kali ini Wonwoo kembali melirik ke arah pemuda aneh itu. Dengan gugup, Wonwoo mulai mengangguk sebagai jawaban. Dan anggukan Wonwoo malah membuat pemuda itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman menawan.

“Lupakan saja apa yang ku katakan padamu. Siapa namamu?” Pemuda bersurai hitam itu mulai menatap Wonwoo dengan pandangan menilai. Setelahnya ia menggulum sebuah senyuman tipis.

“Jeon Wonwoo. Kau?”

“Kim Mingyu. Seharusnya kau tidak lupa namaku.” Mingyu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Wonwoo. Sementara Wonwoo malah memundurkan tubuh mungilnya dengan refleks. Hingga membentur dinding yang ada di belakangnya.

“Hey. Wonwoo-ya.. Apa kau percaya jika iblis dan juga malaikat itu ada?” Alis Wonwoo mengerut. Kembali tidak mengerti dengan apa yang Mingyu ucapkan. Kenapa Mingyu bertanya tentang hal itu? Tentu saja Wonwoo percaya. Malaikat dan Iblis itu nyata. Di dalam alkitab dan juga perjanjian lama di ceritakan dengan detail bagaimana malaikat. Ah. Apa Mingyu itu seorang atheis sehingga bertanya hal ini pada Wonwoo?

“Tentu saja.” Wonwoo mengangguk mantap. Mengabaikan tatapan intens dari Mingyu yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya.

“Lalu bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau adalah malaikat?” Dan ucapan dari Mingyu membuat tubuh Wonwoo menegang dalam sekejap. Pertanyaan yang di ucapkan Mingyu memenuhi seluruh otaknya. Membuat kepala Wonwoo seakan penuh karena pertanyaan itu. Tapi Wonwoo tahu, itu semua sama sekali tidak mungkin. Wonwoo itu manusia, bukan malaikat seperti yang Mingyu ucapkan.

“Kau gila Mingyu-ssi.” Matanya menatap tak suka ke arah Mingyu. Sebelum mendorong tubuh Mingyu menjauh, dan kembali berbalik ke arah apartemen miliknya. Sepertinya Mingyu memang tidak waras. Seharusnya Wonwoo tidak mengobrol dengan Mingyu.

“Kau adalah nephilim, Jeon Wonwoo. Aku bisa merasakannya.” Suara bariton milik Mingyu menggema di seluruh koridor sepi itu. Membuat Wonwoo membalikkan badannya, berniat untuk kembali melihat sosok Mingyu yang sekarang menghilang. Bagai di telan angin malam.

Nephilim..” Wonwoo bergumam pelan. Kata-kata itu sama sekali tidak asing di telinga Wonwoo. Seolah Wonwoo memang sering mendengarnya. Sepertinya Wonwoo harus kembali membuka buku lamanya, dan mencari tahu soal Nephilim. Karena kedua sosok bersayap tadi juga menyebut jika dirinya adalah nephilim.

TeBeCe

Glousarium :

1. Dewa Hades : Dewa penguasa Dunia Bawah

2. Persephone : Ratu Dunia Bawah. Istri Hades.

3. sungai phlegethon : Sungai api yang menjalar dari kerajaan Hades ke Tartarus. Tempat menyiksa orang mati di padang hukuman.

4. sungai acheron : Sungai rasa sakit

5. Sungai lethe: Sungai bisa membuat orang kehilangan ingatan

6. padang asphodel : Tempat di dunia bawah di mana orang mati yang amal baik dan buruknya seimbang.

7. padang hukuman : Tempat di dunia bawah untuk menyiksa roh orang jahat.

8. Thanatos : Dewa Kematian Yunani. Abdi Hades.

Pintu Ajal : Pintu yang menghubungkan dunia manusia dan dunia bawah.

Pertama saya mau minta maaf karena FF ini absurd. Salahin imajinasi nista saya yang kelewatan sehingga mencampur semuanya menjadi satu. Wkwk

Iseng aja gue rombak ini. karena greget pas baca ulang pof ga sesuai keinginan gue dulu karena deadline yang nyiksa waktu itu . wkwk

Saya ga mau banyak cingcong. Berkenankah Review guys?

Astia Morichan

Lean On Me | Meanie FF | Yaoi

0

Lean On Me

T

One Shot

Songs : Gidae – svt

I dont wanna live forever – Zayn- Swift

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

a/n : Ini adalah khayalan saya. Ga suka? Backoff !

Wonwoo takut kehilangan seorang Kim Mingyu dalam hidupnya. Kegelisahan yang selama ini ia pendam, berakhir indah dalam pelukan Mingyu. Pria yang selalu meyakinkan segala keraguan Wonwoo tentang cinta mereka.

enJOY!

.

.

oOo

Entah sudah berapa kali Jeon Wonwoo menghela napas lelah. Wonwoo lelah. Sungguh. Lelah dengan semua tekanan yang ada di sekelilingnya. Apa Wonwoo cukup kuat untuk menghadapi semua tekanan itu? Tidak. Wonwoo ragu. Wonwoo takut. Apalagi saat Seungcheol Hyung mengetahui semuanya, dan menekan dirinya agar tidak terlalu memperlihatkan hubungannya dengan Mingyu di depan publik. Ya. Kim Mingyu adalah kekasihnya. Mereka sepasang kekasih sejak tiga tahun lalu. Sejak Wonwoo memulai trainee, dan ia dekat dengan Mingyu.

Wonwoo mencintai Mingyu. Sungguh. Walau berapa kali ia mengelak, hanya Mingyu yang dapat mengerti dirinya. Mingyu juga yang mengatakan jika semua akan baik-baik. Hubungan ini tidak tabu untuk mereka. Karena mereka lah yang mengalami semua rasa cinta itu. Tapi sekarang, rasa takut itu muncul. Wonwoo takut jika ia akan kehilangan Mingyu. Wonwoo takut jika Mingyu akan lelah menghadapi dirinya. Wonwoo takut Mingyu menjauh dan mengabaikannya.

“Hyung..” Suara bariton yang sangat Wonwoo kenali, mengalihkan semua fokusnya. Retinanya bisa menangkap sosok Mingyu yang masih terlihat mengantuk, sambil berjalan ke arahnya.

“Kenapa di luar? Kau bisa masuk angin.” Wonwoo terdiam saat Mingyu berjalan mendekat ke arahnya. Kemudian memeluk tubuh Wonwoo yang dingin.

“Tubuhmu dingin sekali.” Mingyu berbisik pelan di telinganya. Tangan pria itu menarik pinggangnya agar tubuh mereka semakin merapat. Mengantarkan rasa hangat yang menjalar secara perlahan pada tubuh Wonwoo.

Wae? Tumben sekali kau diam seperti ini. Ada yang menggangu pikiranmu?” Tangan Mingyu terulur untuk mengelus punggung Wonwoo. Dan Wonwoo menikmati sentuhan lembut itu. Sentuhan Mingyu selalu membuat pikiran dan hatinya kembali tenang.

“Tidak ada.” Wonwoo berucap lirih. Tangannya bergerak membalas pelukan Mingyu dengan erat. Wajah Wonwoo di sembunyikan pada dada bidang Mingyu, untuk mencari kenyamanan tersendiri. Hanya ketika malam seperti ini mereka bisa berbagi kehangatan. Di balkon kamar ketika tengah malam. Dimana semua orang telah tertidur.

“Kau bohong. Kau kira bisa membohongiku, Jeon Wonwoo?” Mingyu kembali berbisik pelan, dan memberikan kecupan singkat di telinga Wonwoo.

“Ck. Kau memang selalu bisa tahu isi pikiranku, Kim Mingyu.” Decakan Wonwoo di balas oleh kekehan geli Mingyu. Dan itu membuat Wonwoo menyungingkan senyum tipis, yang tidak bisa Mingyu lihat.

“Jangan-jangan kau selingkuh dari ku?” Dan pertanyaan itu malah di hadiahi tawa keras dari Wonwoo. Selingkuh katanya? Bukankah Mingyu yang selingkuh darinya? Oke. Wonwoo terlalu mendramatisir, karena selalu mengecek sns, dimana banyak sekali foto Mingyu yang terlihat dekat dengan member lain.

“You flirting with Jihoon last month, Kim Mingyu.” Wonwoo melepaskan pelukannya, dan memberikan delikan tajam pada Mingyu. Wonwoo tentu saja bercanda tentang hal itu. Ia tidak mungkin cemburu saat melihat Mingyu bersama teman-temannya. Tapi sungguh, ekspresi yang Mingyu perlihatkan saat ini menarik sekali. Ia bisa melihat Mingyu membulatkan obsidiannya tidak percaya.

“Hey! Aku mengajakmu juga waktu itu.” Mingyu mengingatkan, dan ia kembali membawa Wonwoo dalam dekapan eratnya. Seakan tidak ingin Wonwoo pergi.

“Aku tahu. Kau yang mulai topik ini pertama, Gyu.”

“Tapi aku tidak pernah selingkuh darimu.”

“Aku tahu.” Wonwoo kembali terdiam, sambil menghirup dalam-dalam aroma mint yang menguar dari tubuh Mingyu. Wonwoo menyukai ketenangan di saat mereka saling berpelukan satu sama lain seperti ini.

“Hyung.. Aku cemburu.” Pengakuan singkat Mingyu membuat Wonwoo membulatkan matanya. Cemburu katanya? Kenapa Mingyu harus cemburu?

“Aku tidak suka saat member lain menyentuhmu, dan dekat de nganmu.” Mingyu melepaskan pelukannya pada Wonwoo.

“Aku juga tahu jika Seungcheol Hyung sudah memperingatkan hubungan kita, Jadi dia menyuruh kita untuk tidak terlalu berdekatan.” Mingyu menghentikan ucapannya. Tangannya bergerak untuk menangkup pipi Wonwoo. Hingga membuat pria bersurai hitam itu mengadah ke arahnya.

“Aku terlalu takut jika kau meninggalkanku, Hyung.” Mingyu menempelkan keningnya pada kening Wonwoo. Hingga ia bisa merasakan helaan napas teratur dan tatapan sendu Wonwoo untuknya.

“Apapun yang terjadi nanti, kau tidak boleh melepaskan genggaman tanganku. Karena aku terlalu mencintaimu, Jeon Wonwoo. Sekali pun dunia menghujat kita berdua, aku adalah orang paling depan yang akan menggenggam tanganmu, dan berkata jika kau adalah milik Kim Mingyu.”

Tanpa Wonwoo sadari, air matanya lolos. Membasahi kedua pipinya. Ia menangis, dengan tubuhnya yang bergetar. Ternyata, Mingyu mempunyai perasaan yang sama untuk Wonwoo. Mereka sama-sama takut kehilangan. Satu yang dapat Wonwoo pelajari saat ini adalah, rasa cinta yang terlalu mendalam bisa membuat ketakutan konyol seperti ini. Padahal Wonwoo hanya perlu percaya pada Mingyu.

“Hey.. Kau menangis..” Mingyu berseru panik saat melihat air mata Wonwoo. “Apa aku menyakitimu?” Tangan Mingyu bergerak untuk menghapus air mata Wonwoo. Mengelus pipi Wonwoo berkali-kali. Berharap sentuhannya dapat membuat Wonwoo tenang.

“M-maafkan aku, Gyu..” Wonwoo berucap lirih, sebelum menarik Mingyu ke dalam pelukannya. Kembali memeluk pria bersurai pirang itu dengan erat, dan menangis di dada bidang Mingyu.

“Percaya padaku. Kita akan baik-baik saja, Hyung.” Mingyu membalas pelukan Wonwoo. Sebelum memberi kecupan singkat di pucuk kepala kekasih tercintanya.

“Aku takut untuk mengambil resiko tentang hubungan kita.” Wonwoo mencoba jujur. Ia ingin mengutarakan semua ketakutan yang selama ini ia pendam pada Mingyu. “Aku tahu cinta kita ini salah. T-tapi, aku tidak ingin kehilanganmu, Gyu..”

“Tidak ada namanya cinta yang salah.” Mingyu mengurai pelukannya. Obsidiannya masih bisa melihat wajah penuh derai air mata Wonwoo. Ini pertama kalinya, Mingyu melihat Wonwoo menangis ketakutan. Kekasihnya itu selalu bisa menutupi semua ketakutan dengan ekspresi dingin di wajahnya.

“Aku mencintaimu, Jeon Wonwoo. Dan itu murni. Aku menginginkanmu untuk selalu menggengam tanganku. Aku menginginkanmu untuk selalu ada di sampingku. Jika cinta ini salah, semua ini bukan salah kita. Cinta itu tidak memihak gender sekali pun.” Obsidian yang menatap intens Wonwoo, membuat namja itu menyungingkan sebuah senyum tipis. Kata-kata Mingyu menyadarkannya. Tidak ada cinta yang salah. Mereka berhak saling mencintai satu sama lain.

“Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi.”

“Kh..” Wonwoo terkekeh pelan, dan itu membuat Mingyu mendelik ke arahnya. “Aku tidak tahu jika Kim Mingyu bisa menjadi seromantis ini.” Tangan Wonwoo terulur. Memeluk leher Mingyu dengan erat.

“Kau merusak suasana romantis, Jeon.” Mingyu kembali tersenyum pada Wonwoo. Senyum menenangkan, yang selalu membuat hatinya tentram.

“Katakan jika kau mencintaiku, Hyung.” Wajah Wonwoo memerah sempurna, mendengar permintaan dari Mingyu. Ah. Itu adalah permintaan konyol. Bagaimana mungkin Wonwoo kembali mengucapkan kata-kata sakral seperti itu pada Mingyu? Cukup satu kali, saat dirinya menangis saja Wonwoo mengucapkannya.

“Tidak.” Wonwoo menggeleng.

“Bersikaplah manis walau hanya sebentar pada kekasihmu, Hyung.”

“Aku membencimu, Kim Mingyu.” Dan setelah ucapan itu keluar dari mulut Wonwoo, Mingyu dapat merasakan bibir Wonwoo menyentuh miliknya. Wonwoo mengecup bibirnya berkali-kali. Sebelum akhirnya melumat pelan bibir Mingyu, dan di balas oleh Mingyu sama gilanya. Lumatan bibir yang menegaskan kegelisahan mereka. Bagi Mingyu, bibir Wonwoo itu bagaikan morfin. Ia selalu ingin melumat bibir manis itu, dan mengeksplor segalanya.

“Ehhmmm…” Erangan tertahan itu terdengar, saat Mingyu melesakan lidahnya, untuk menyentuh lidah Wonwoo dengan penuh sensual. Menyentuh dinding-dinding mulut Wonwoo. Lidah mereka saling bertautan untuk menentukan siapa yang menjadi dominan. Dan Wonwoo akan selalu kalah dalam ciuman itu.

“Hah.. hah..” Pautan bibir itu terlepas. Napas Wonwoo tersenggal naik turun tak beraturan, dengan wajahhnya yang merah padam.

“Hyung.. Aku mencintaimu.” Dan Mingyu kembali mencium bibir Wonwoo penuh sensual. Membawa Wonwoo dalam ciuman penuh hasrat yang selalu bisa menenangkan hati mereka. Pelajaran yang dapat Wonwoo ambil malam ini hanya satu. Ia akan terus mencintai Kim Mingyu, dan percaya pada Mingyu. Apapun yang terjadi.

FIN

Oke gaje emang. Biarin lah. Wkwk gue galau abisan liat wonu flirting mulu sama yang lain. -_- gue juga lelah fanwar mele. Wkwk. Yasudahlah. Ini hanyalah imajinasi kacau saya yang menemani kegalauan. Wkwk.

Betewe ada yang mau rekomenin FF Meanie yang bagus ga? Need nih. Gue males nangkring di aff mulu. Wkwk. Butuh asupan high class. Meh -_-

Mind To Review?

Astia Morichan