Nephilim | Meanie Couple | Yaoi | Fantasy | Prince Of Dark X Angel

Kim Mingyu menatap tajam sosok pria paruh baya bersurai hitam yang mirip dengannya . Pria itu duduk dengan gagah di kursi kebanggaan miliknya yang berada di depan altar dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi di sampingnya. Tidak lupa dengan baju zirah yang melekat di tubuh pria berwibawa- Kim Kyuhyun- Ayah Mingyu yang merupakan penguasa Dunia Bawah. Kyuhyun lebih di kenal sebagai Dewa Hades(1) bagi para manusia. Sedangkan Mingyu adalah anak semata wayangnya dari Persephone (2).

Aku bosan di sini Ayah.” Ucap Mingyu. Manik obisidiannya masih menatap Kyuhyun dengan tajam. Seakan menyuruh agar Ayahnya itu mengerti keinginan yang sudah lama Mingyu pendam. Jujur saja, Mingyu bosan tinggal di Dunia bawah, atau paling tepatnya neraka. Mingyu juga sudah lelah jika setiap hari harus melihat sungai phlegethon(3), acheron(4), lethe(5), padangasphodel(6) dan juga padang hukuman(7) – dimana roh-roh orang jahat berteriak kesakitan, dan meminta tolong pada Mingyu untuk di bebaskan dari rasa sakit.

Apa yang ingin anda lakukan, Mingyu-ssi?” Hong Jisoo – sang Thanatos(8) yang merupakan abdi dari sang ayah bertanya. Mingyu mendelik- menatap tak suka ke arah Jisoo yang selalu menggangu rencana miliknya. Jisoo memang selalu curiga pada Mingyu. Padahal Jisoo hanya abdi dari sang ayah yang sama sekali tidak berpengaruh bagi Kerajaan di Dunia Bawah.

Bukan urusanmu.” Mingyu melirik sekilas ke arah Jisoo. Kemudian ia kembali menatap sang ayah yang masih terdiam. Tidak mengubris keinginan Mingyu sama sekali.

Aku akan pergi ke dunia manusia. Bersama para roh orang mati bisa membuatku gila.” Dan tanpa meminta persetujuan siapapun, Mingyu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang singgsana ayahnya. Mingyu hanya ingin segera pergi ke pintu ajal(9)- yang menghubungkan dunia fana dengan dunia bawah. Mingyu memang sudah merencanakan hal ini sejak dulu. Ia ingin menghirup udara bebas, dan tinggal di dunia fana. Meninggalkan dunia bawah yang kelam dimana hanya di tinggali oleh dirinya, ayah, ibu dan juga beberapa abdi dari sang ayah. Mingyu juga akan meninggalkan semua roh orang mati yang di ada di padang hukuman agar berhenti mengikutinya. Mungkin jika di dunia fana, Mingyu tidak akan bertemu lagi dengan kerangka orang mati, dan para roh yang masih mempunyai urusan manusiawi. Walaupun Mingyu masih mempunyai kekuatan untuk memanggil pasukan zombie dengan kerangkanya saja untuk melindungi Mingyu jika terdesak bahaya. Seperti di incar oleh Zeus, dan juga beberapa makluk ghaib yang mengincar nyawa pangeran kegelapan untuk menguasai dunia fana.

Nephilim

RM 18!

Romance, Fantasy, Drama, Supernatural

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

Kim Mingyu sang Pangeran Kegelapan—Putra Hades memutuskan untuk pergi ke dunia fana. Di sana, ia bertemu dengan Jeon Wonwoo- manusia dengan paras cantik yang mempunyai aura angelik dalam dirinya. Wonwoo bahkan tidak tahu siapa dirinya jika ia tidak di pertemukan dengan Mingyu. Apalagi ketika pasukan bersayap menyerang Wonwoo, dan Mingyu yang menolongnya setiap saat.

Susunan strata makluk immortal saya jelasin nanti.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

a/n: FF ini adalah rombakan dari FF saya yang Prince Of The Dark. Saya ubah jadi Meanie. Karena yang PoF itu FF event yang failed karena seharusnya FF itu berakhir dengan 12 chap sesuai alur cerita. Karena kemarin pof akakuro deadline. Tamatnya ga banget. Dan akhirnya saya mutusin buat lanjutin ini dalam versi Meanie. Karena kalo di lanjut ke akakuro. Mereka udah klaim tamatnya seperti itu.

Over all yang versi Meanie dari chap 3 dan seterusnya bakal beda dari yang AkaKuro.

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari Fanfict ini. ini hanya untuk kesenangan writer abal macam saya saja.

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

Jeon Wonwoo berjalan gontai menuju lift yang akan mengantar tubuh letihnya ke sebuah kamar apartemen usang yang berada di lantai tujuh gedung bertingkat ini. Wonwoo merasa tubuhnya remuk sekarang, karena seharian ini ia harus bekerja part time di dua tempat. Ketika pagi menjelang, ia juga harus kembali belajar di kampusnya. Wonwoo sudah semester empat sekarang. Ia harus rajin belajar, dan juga mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Karena Wonwoo tidak ingin merepotkan bibi-nya yang ada di Busan. Wonwoo sudah kehilangan orangtuanya sejak berumur dua tahun. Ia bahkan tidak ingat sama sekali wajah sang ibu yang melahirkannya. Wonwoo hanya tahu wajah ibunya di foto. Begitu pun dengan sang ayah yang tidak pernah Wonwoo kenali. Terkadang Wonwoo merasa hidupnya tidak adil. Tapi ia memang harus merasa bersyukur pada Tuhan karena membiarkannya hidup sampai detik ini. Wonwoo masih mempunyai banyak impian, dan Wonwoo berharap impiannya terkabul satu persatu dari usaha yang selama ini ia lakukan.

“Hah..” Wonwoo menghela napasnya pelan saat ia sudah sampai berada di depan pintu apartemen kecil miliknya. Tangannya bergerak untuk memasukkan kunci dan mulai membukanya. Kemudian beralih meraih kenop pintu, lalu membukanya perlahan. Bunyi pintu berderit terdengar. Menandakan bahwa pintu itu terbuka. Karena Wonwoo tidak ingin mengganggu tetangganya yang pasti sudah tertidur lelap sekarang.

Wonwoo mulai melangkah masuk ke dalam. Baru saja satu langkah Wonwoo masuk, ekor matanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang berdiri sepuluh meter dari tempatnya. Ketika Wonwoo mulai berbalik, ternyata pemuda itu sedang berdiri di ujung lorong—di samping lift dan menatap pemandangan kota lewat jendela besar di sana. Wonwoo tidak mengenal sosok itu. Baru kali ini Wonwoo melihatnya.

Mungkinkah tetangga barunya? Tapi setahu Wonwoo, semua kamar yang ada di lantai tujuh itu sudah penuh. Jadi tidak mungkin ada penghuni baru di sini. Kecuali tamu, tentu saja. Ah. Memikirkannya malah membuat Wonwoo pusing. Lebih baik ia segera masuk ke dalam, dan mengabaikan pemuda itu. Lagi pula, Wonwoo memang tidak mengenalnya. Jadi bukan masalah bagi Wonwoo jika ia bersikap tidak peduli seperti sekarang. Wonwoo hanya tidak ingin berpikiran buruk tentang lelaki itu.

Wonwoo menganggukan kepalanya pelan. Meyakinkan dirinya, jika pemuda itu bukanlah orang jahat. Kemudian Wonwoo kembali berbalik, dan mulai masuk ke dalam apartemen mungilnya. Apartemen Wonwoo memang sangat sederhana. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan juga dapur yang menyatu bersama ruang tengah. Baginya apartemen ini sudah cukup. Lagi pula harga sewanya sangat murah, jadi Wonwoo merasa sangat betah tinggal di sini.

“A-ah.. Sebaiknya aku tidur.” Wonwoo mulai melepaskan backpack kecil miliknya, dan menyimpannya di sofa. Kemudian ia berjalan ke arah kamar, dan berganti pakaian dengan piyama berwarna biru. Wonwoo tidak ingin mandi, ia hanya menyikat gigi dan membasuh wajahnya saja. Cuaca malam ini sangat dingin, ia tidak ingin mati kedinginan karena berendam. Jadi Wonwoo memutuskan untuk segera tidur, dan menjelajahi mimpinya. Walaupun dirinya sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Mimpi dimana ia mempunyai sayap, dan di kejar oleh beberapa pasukan bersayap yang mengincar nyawanya.

.

oOo

.

Wonwoo berlari kecil menuju cafe yang berada di perempatan jalan Gwanghwamun. Wonwoo mendapat shift sore hari ini, dan ia malah terlambat datang ke tempat kerjanya karena harus membantu Seokmin Seongsaeng- Dosen menyebalkan yang selalu menyuruh Wonwoo ini dan itu. Walaupun Wonwoo juga tidak keberatan, karena Seokmin adalah orang yang baik padanya.

“Hah.. Hah..” Napas Wonwoo tersenggal saat ia sampai di depan pintu cafe. Di sana sudah ada Yoon Jeonghan yang sudah memakai kemeja putih dan juga celana hitam panjang, sambil membawa sebuah nampan berisi jus pesanan pelanggan—menatap Wonwoo dengan padangan heran. Seolah berkata ‘Kenapa kau terlambat?’

“Maaf atas keterlambatanku.” Wonwoo membungkukan tubuhnya ke arah Chwe Hansol- pemilik cafe yang menjadi bos Wonwoo. Pria berparas western itu mulai mendekat ke arah Wonwoo. Wajah stoic milik Hansol memang tidak pernah bisa terbaca oleh pikiran Wonwoo.

“Kenapa kau terlambat Wonwoo? Kau tahu kan jika cafe selalu di padati pelanggan ?” Wonwoo menunduk. Enggan menatap bosnya yang sekarang mengurut pelipisnya. “Sudahlah. Cepat ganti pakaianmu. Banyak pekerjaan yang menunggumu, Wonwoo-ya.” Kemudian Hansol berbalik. Meninggalkan Wonwoo yang sekarang bisa menghela napas lega. Jujur saja, Wonwoo sudah sering datang terlambat ke cafe. Maka dari itu ia selalu di omeli oleh Hansol akibat keterlambatan yang sama sekali tidak Wonwoo recanakan.

“Maafkan aku, Sunbae.” Ucap Wonwoo penuh penyesalan saat Hansol sudah menjauh dari pandangannya. Kemudian Wonwoo segera pergi ke belakang dapur. Ada ruang ganti di sana, dan Wonwoo harus segera berganti baju. Hanya butuh beberapa menit bagi Wonwoo untuk mengganti kaos berwarna birunya, dengan kemeja berwarna putih yang Wonwoo gulung seperempat lengannya. Celana jeans levis di ganti oleh celana denim berwarna hitam yang terlihat pas di kaki jenjang pemuda bersurai coklat itu. Tidak lupa dengan celemek berwarna hitam senada dengan celananya melingkar di pinggang Wonwoo. Setelah merasa cukup rapi, Wonwoo segera meninggalkan ruang ganti, dan pergi menuju dapur. Di dapur, semua orang terlihat sangat sibuk mengantarkan pesanan. Jihoon- yang merupakan koki kedua pun nampak sangat sibuk karena sepertinya Seungkwan- kekasih Hansol tidak ada dapur. Jadi Jihoon yang harus mengcover semua pesanan pelanggan.

“Wonwoo-ya, kau melayani pelanggan saja dan mengantarkan pesanan. Masih banyak yang belum di layani di luar cafe.” Hansol yang kini sibuk menyiapkan berbagai minuman, berteriak ke arah Wonwoo.

“Baiklah.” Tanpa menunggu lebih lama, Wonwoo segera melesat pergi meninggalkan dapur. Ia mulai menghampiri beberapa pelanggan yang duduk di luar bisa melihat mereka menggerutu karena masih belum bisa memesan. Mereka adalah empat orang gadis berseragam SMA yang duduk di pojok- tepat di belakang taman. Mungkin mereka memilih latar paling bagus di cafe ini. Karena jika mereka duduk di sana, akan terbentang taman yang cukup besar. Dengan pepohonan yang menjulang tinggi di segala penjuru. Nuansa hijau yang sarat akan hutan akan terasa jika duduk di sana. Cafe ini memang terkenal karena mempunyai latar hutan yang menarik. Setahu Wonwoo, Hansol membangun cafe bertemakan hutan ini untuk Seungkwan- sebagai hadiah anniversary mereka.

“Maaf. Apa ada yang ingin anda pesan?” Wonwoo memamerkan senyum menawan miliknya. Membuat empat orang gadis yang tadi sedang menggerutu terdiam saat melihat senyum Wonwoo. Mereka seolah terhipnotis oleh senyuman Wonwoo yang mempunyai magis tersendiri.

“I-iya. Ehm.. Siapa namamu?” Bukannya memesan, gadis bersurai pirang bertanya nama Wonwoo dengan pipinya yang merona, ketika Wonwoo menyodorkan menu makanan di atas meja.

“Jeon Wonwoo.” Wonwoo tersenyum simpul ke arah gadis itu. Wonwoo bisa melihat wajah gadis itu memerah sempurna. Ah. Mungkin saja gadis itu sedang sakit. Ia tidak ingin ambil pusing.

“Kau bisa memanggilku lagi jika sudah selesai memesan, Nona.” Wonwoo membungkuk perlahan, sebelum menjauh dari kerumunan para gadis yang masih terpesona akan wajah Wonwoo. Well. Jangan salahkan Wonwoo jika ia mempunyai senyum menawan yang mampu memikat semua orang. Ini adalah hal yang biasa jika ada para gadis, bahkan pria menanyakan perihal Wonwoo.

“Hey.. Wonwoo-ya !” Suara bass dengan nada berat yang sangat Wonwoo kenali itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Wonwoo bisa melihat sosok pemuda bersurai hitam sedang melambaikan tangannya. Pemuda itu- Choi Seungcheol- Sahabat sekaligus pacar dari Jeonghan- sedang duduk di kursi luar baris pertama.

“Halo, Hyung.” Wonwoo berjalan mendekat ke arah Seungcheol yang sekarang tersenyum lebar ke arahnya.

“Wonwoo-ya, apa kau melihat Jeonghan? Aku sudah menunggunya di sini setengah jam. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya.” Seungcheol menghela napasnya lelah. Raut wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi muram saat mengingat Jeonghan. Wonwoo yakin, jika mereka sedang bertengkar. Ia juga sudah tidak melihat Jeonghan melayani beberapa pelanggan. Biasanya Jeonghan selalu ada di depan, dan suara tawanya yang khas selalu terdengar.

“Tadi aku melihatnya. Apa kau bertengkar dengan Jeonghan Hyung?” Wonwoo mengedarkan pandangannya. Meneliti ke segala penjuru. Siapa tahu ia bisa melihat sosok Jeonghan dan juga beberapa pelanggan yang harus Wonwoo tulis pesanannya.

“Aku bertengkar dengannya. Jika kau bertemu dengan Jeonghan di dalam, bisakah kau memberitahunya aku ada di sini?” Seungcheol menatap Wonwoo penuh harap. Wonwoo hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Tentu saja, Hyung. Apa kau ingin memesan juga?” Wonwoo bertanya, dan di hadiahi anggukan pelan dari Seungcheol.

Americano saja.” Wonwoo mengeluarkan sebuah memo kecil bersama pulpen yang ia simpan di saku celemek. Kemudian tangannya bergerak di atas kertas untuk menulis pesanan Seungcheol. Sebelum mulai mengangguk setelah selesai menulis pesanan Seungcheol.

“Baiklah. Tunggu sebentar, Hyung.” Dan Wonwoo mulai berbalik menjauh dari Seungcheol. Ia berniat untuk segera kembali ke dalam cafe dan membawa pesanan temannya itu. Tapi tatapan Wonwoo terpaku pada dua sosok lelaki dengan jubah hitam yang berada di balik pohon palm, menatap Wonwoo tajam. Dari jarak seperti ini, Wonwoo bisa melihat mata kedua sosok itu berwarna semerah darah. Wonwoo juga bisa melihat salah satu sosok lelaki itu menggerakan mulutnya dan Wonwoo seakan mengerti dengan apa yang di ucapkan mereka. Seolah berkata ‘Nephilim. Kita menemukannya.’

Tubuh Wonwoo menegang dengan cepat, matanya membulat sempurna saat melihat tonjolan daging berbentuk sayap keluar dari punggung kedua orang itu. Sayapnya berwarna hitam pekat membentang lebar. Wonwoo bahkan bisa merasakan angin kecil menerpa wajahnya saat kedua sosok itu memukul udara dengan sayap mereka. Sebelum akhirnya mereka terbang dengan tatapan intens yang terarah pada Wonwoo.

“Hey.. Wonu-ya?” Suara Seungcheol tidak terdengar lagi oleh Wonwoo. Pikiran Wonwoo mulai kosong. Darahnya berdesir. Tubuh Wonwoo mulai memanas ketika ia merasakan otot-otot punggungnya menegang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Wonwoo hanya tahu jika ia tidak bisa merasakan apapun, dan semuanya gelap. Wonwoo masih bisa mendengar teriakan panik dari orang-orang, dan juga suara Seungcheol berserta Jeonghan dan Hansol yang memanggil dirinya agar tetap sadar.

.

oOo

.

“Hey.. Wonwoo-ya.. Apa kau tidak ingin bangun?” Suara Jeonghan terdengar khawatir saat melihat Wonwoo terbaring lemah di hadapannya. Sejak tadi, Jeonghan mengguncangkan bahu Wonwoo dengan gerakan pelan. Berharap jika Wonwoo akan bangun dari pingsannya. Wonwoo sudah pingsan selama satu jam, dan ia sangat khawatir dengan keadaan Wonwoo yang seperti ini. Sejak tadi Jeonghan bahkan mengabaikan gerutuan dari Seungcheol, karena Jeonghan tidak ingin membawa Wonwoo dulu ke klinik yang ada di depan persimpangan. Karena jika Jeonghan melakukan itu, pengunjung yang ada di cafe akan terganggu. Jadi Jeonghan memutuskan untuk memanggil seorang dokter yang bernama Hwang Minhyun- Dokter muda berparas tampan yang sekarang memeriksa keadaan Wonwoo yang berbaring lemah di atas single bed yang ada di rest room cafe ini.

“Dia hanya kecapean saja. Kau tidak usah khawatir. Aku akan memberinya beberapa obat vitamin.” Minhyun menyimpan kembali stetoskop ke dalam tas hitam miliknya. Kemudian pria bersurai kecoklatan itu mengeluarkan sebuah bolpoint di sertai kertas memo kecil. Tangan Minhyun bergerak lincah di atas kertas. Menulis beberapa kata yang Jeonghan yakini adalah resep obat yang harus ia tebus untuk Wonwoo.

“Kau bisa membeli resep ini di klinik depan. Aku harap kau bisa menjaganya. Dia mungkin sedang tertekan oleh sesuatu. Jangan sampai membuatnya tertekan dan stress.” Minhyun mulai berdiri sambil merapihkan kemeja hitam miliknya yang sama sekali tidak kusut. Kemudian ia membungkuk untuk pamit. Di sertai oleh senyuman Jeonghan, dan delikan tajam dari Seungcheol.

“Terimakasih, Minhyun-ssi.” Minhyun hanya mengangguk kecil, sebelum akhirnya berjalan ke luar pintu dan meninggalkan rest room itu.

“Aduh Wonwoo-ya.. kenapa kau tidak bang-” Mata Jeonghan membulat saat melihat Wonwoo mulai mengerjapkan mata dengan perlahan. Mata yang awalnya tertutup terbuka dengan gerakan pelan. Memperlihatkan bagaimana jernihnya mata Wonwoo, yang selalu membuat Jeonghan kagum sekaligus iri karena mata Wonwoo begitu indah.

“A-ah.. Syukurlah Wonwoo-ya. Kau sudah sadar!” Jeonghan berteriak girang. Tubuhnya bergerak dengan refleks memeluk tubuh Wonwoo yang masih berbaring. Jeonghan benar-benar lega karena pemuda bersurai coklat itu baik-baik saja.

“Oi.. Wonwoo bisa mati kehabisan napas karena kau peluk seperti itu, bodoh!” Seungcheol mencibir ke arah Jeonghan. Membuat si surai pirang mendelik ganas ke arah pemuda itu.

“Diam kau!” Jeonghan mengerucutkan bibirnya kesal karena ucapan Seungcheol. Kemudian tatapannya kembali ke arah Wonwoo yang sekarang memejamkan matanya, dengan dahi mengernyit seperti menahan sakit.

“E-eh? W-wonu-ya, kau kenapa?” Jeonghan berujar gugup. Ia mulai melepaskan pelukannya pada Wonwoo, dan menatap Wonwoo dengan raut wajah khawatir.

“S-sakit, H-hyung… P-punggungku.. U-uhh…” Wonwoo mulai meringkukan badannya. Berharap rasa sakit yang menjalar di punggungnya hilang. Wonwoo bisa merasakan otot-otot punggungnya bergerak dan memanas saat ini. Ia tidak pernah mengalami kesakitan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“C-cheolie.. Pe-pergi ambil obat di apotek Dokter Minhyun. P-p-palii!” Jeonghan mulai berteriak panik. Di ikuti dengan Seungcheol yang sekarang bingung harus melakukan apa. Karena bagi Seungcheol, ini adalah pertama kali Wonwoo kesakitan seperti itu.

“Cepat!” Teriakan Jeonghan membuat Seungcheol kembali sadar dari keterkejutannya. Seungcheol mengangguk cepat, dan segera melesat pergi keluar dari ruangan itu untuk pergi menyusul Dokter Minhyun dan juga meminta resep obat di kliniknya. Meninggalkan Jeonghan yang semakin panik saat melihat Wonwoo meringis kesakitan. Jeonghan benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jeonghan tidak mungkin berteriak histeris keluar memanggil Hansol. Ia tidak ingin membuat kegaduhan di cafe ini.

“T-tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan minum. Tunggulah sebentar.” Jeonghan mengelus punggung Wonwoo dengan pelan. Berharap Wonwoo masih sadar dan mendengarnya. Kemudian Jeonghan keluar dengan langkah panjang. Pintu kayu itu di buka paksa tanpa di tutup kembali. Agar jika Wonwoo semakin kesakitan, pemuda bersurai coklat itu bisa berteriak, dan Jeonghan dapat mendengarnya dengan jelas. Kemudian pergi menolongnya. Jeonghan memang selalu berpikiran simple jika dalam keadaan genting. Pemuda bersurai pirang itu memang bisa di andalkan.

“A-ahh…” Ringisan sakit Wonwoo makin menjadi. Wonwoo masih bisa merasakan otot-otot mulai berkontraksi di dalam punggungnya. Bergerak pelan di balik tulang punggungnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“T-tolong…” Suara Wonwoo terdengar lirih. Matanya mulai tertutup setengah. Tapi Wonwoo masih bisa melihat dengan jelas sosok pemuda bersurai hitam yang berjalan mendekat ke arah Wonwoo. Ia kenal dengan pemuda itu. Pemuda bersurai hitam itu adalah tetangga barunya yang Wonwoo lihat kemarin malam.

“Ternyata aura angelik berasal darimu.” Pemuda bersurai hitam itu membungkukan badannya saat jaraknya dengan Wonwoo semakin dekat. Wonwoo bisa merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya dengan lembut. Wonwoo tidak tahu jika napas pemuda itu malah membuat sesuatu di balik punggung Wonwoo kembali bergerak tak beraturan. Darahnya kembali berdesir di dalam tubuh Wonwoo.

“Aku Kim Mingyu. Kau harus mengingatnya saat kita bertemu lagi nanti.” Pemuda misterius—Mingyu—berbisik pelan di telinga Wonwoo. “Aku akan menolongmu. Aura angelik milikmu itu berbeda dan menarik.” Mingyu tersenyum asimetris ke arah Wonwoo Tangan Mingyu yang hangat bergerak perlahan menyentuh wajah Wonwoo dengan lembut. Sebelum menyentuh kelopak mata Wonwoo dengan perlahan, dan Wonwoo tidak sadarkan diri setelahnya. Wonwoo hanya ingat jika pemuda itu berhasil membuat energi dari dalam tubuhnya menghilang. Menghilangkan rasa sakit yang sejak tadi bersarang pada punggung Wonwoo.

.

oOo

.

Wonwoo membuka matanya secara paksa. Napasnya tersenggal tak beraturan. Dadanya naik turun tak terkendali. Mimpi itu lagi. Wonwoo kembali bermimpi tentang dirinya yang di kejar pasukan bersayap. Di dalam mimpi, Wonwoo sama sekali tidak punya tujuan kemana harus bersembunyi. Wonwoo benar-benar tidak suka dengan mimpi buruk yang selalu ia dapat ketika tidur. Karena ketika ia terbangun sampai sekarang, mimpi tersebut masih ada di benaknya. Dan Wonwoo kembali takut untuk tertidur.

Wonwoo menoleh ke arah nakas. Melihat jam weker kecil di sampingnya. Sekarang masih jam tiga pagi. Wonwoo baru tertidur tiga jam. Jika seperti ini, Wonwoo tidak ingin kembali tertidur. Tadi malam, Jeonghan mengantar Wonwoo pulang ke apartemen. Pemuda bersurai pirang itu bahkan nekad untuk menginap di tempat Wonwoo. Jeonghan berkata jika ia takut Wonwoo kembali kesakitan, dan tidak ada orang yang akan menolongnya. Tapi Wonwoo menolak kebaikan Jeonghan dengan halus. Ia tidak ingin membuat Jeonghan dan Seungcheol kerepotan. Mereka pasti sudah mengurusnya selama Wonwoo pingsan beberapa jam di cafe. Wonwoo tidak ingin kembali membuat kedua sahabatnya itu susah karena dirinya.

Wonwoo mulai menarik selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Ia mulai berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Mungkin udara segar bisa menenangkan perasaan Wonwoo. Ia tidak ingin berpikiran negatif sekarang. Wonwoo hanya ingin melupakan kejadian yang menimpanya hari ini. Tentang kedua sosok pria bersayap, pemuda dengan surai hitam yang menolongnya, dan juga mimpi-mipi buruk yang masuk ke dalam alam bawah sadar Wonwoo.

Di raih kenop pintu yang menghubungkannya dengan koridor luar apartemen. Di sini tidak ada siapapun kecuali Wonwoo. Hening. Hanya ada suara binatang malam yang terdengar. Wonwoo menoleh ke arah jendela yang memperlihatkan bagaimana indahnya pemandangan Kota Seoul yang berkerlap kerlip dari atas sini. Jika udara malam tidak membuat Wonwoo menggigil di pertengahan musim semi ini, mungkin Wonwoo lebih memilih berdiam diri sambil menatap pemandangan kota Seoul dari jendela.

Dengan langkah mantap, Wonwoo mulai berjalan ke arah lift yang akan mengantarnya ke lantai satu. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke minimarket dua puluh empat jam yang berada dua kilo meter di tempat apartemennya.

Lagi-lagi langkah Wonwoo harus berhenti saat matanya kembali menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang memandangi pemandangan kota di balik jendela besar itu. Pemuda itu masih sama seperti yang Wonwoo lihat empat jam lalu. Berdiri dengan senyum tipis yang bertengger di wajah tampannya. Ingin sekali Wonwoo bertanya kenapa pemuda itu masih diam di sana. Padahal ini sudah malam. Ia juga ingin bertanya apa benar jika pemuda itu yang datang menolongnya di cafe?

Tombol lift di tekan perlahan oleh Wonwoo. Ia hanya perlu menunggu agar pintu lift ini terbuka, dan segera pergi meninggalkan pemuda itu. Entahlah, ada sesuatu yang aneh dalam diri pemuda itu. Wonwoo tidak tahu kenapa ia bisa merasakannya. Wonwoo hanya tahu, jika pemuda itu mungkin saja berbahaya. Seperti kedua sosok misterius bersayap yang Wonwoo lihat di cafe.

“Hei, Apa kau tahu? Ternyata dunia fana tidak berubah sejak terakhir kali aku datang ke sini.” Dahi Wonwoo mengernyit heran saat mendengarnya. Dunia fana? Apa Wonwoo sedang berhadapan dengan orang mabuk sekarang? atau pemuda yang ada di hadapannya ini adalah seorang alien sehingga ia jarang berkunjung ke bumi? Ah. Baiklah. Lupakan tentang itu. Mungkin Wonwoo akan mengurangi membaca cerita fiktif tentang alien.

“A-apa kau baru saja datang ke Seoul?” Wonwoo mencoba membuka suaranya. Ia tidak ingin berfikiran negatif tentang pemuda itu. Mungkin saja kan pemuda itu baru datang dari Desa.

“Tidak. Aku datang dari dunia bawah.” Kali ini, Wonwoo sangat yakin jika orang yang di depannya ini mempunyai gangguan jiwa. Memang ada kota di Korea yang bernama dunia bawah? Tentu saja tidak ada. Sekarang, Wonwoo benar-benar ingin pergi dari sini. Ia tidak mau meladeni pemuda itu lebih lama. Dan kenapa lift ini sama sekali tidak bekerja? Apa petugas apartemen mematikannya? Jika seperti itu Wonwoo harus menuruni anak tangga untuk sampai ke bawah.

“Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?” Kali ini Wonwoo kembali melirik ke arah pemuda aneh itu. Dengan gugup, Wonwoo mulai mengangguk sebagai jawaban. Dan anggukan Wonwoo malah membuat pemuda itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman menawan.

“Lupakan saja apa yang ku katakan padamu. Siapa namamu?” Pemuda bersurai hitam itu mulai menatap Wonwoo dengan pandangan menilai. Setelahnya ia menggulum sebuah senyuman tipis.

“Jeon Wonwoo. Kau?”

“Kim Mingyu. Seharusnya kau tidak lupa namaku.” Mingyu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Wonwoo. Sementara Wonwoo malah memundurkan tubuh mungilnya dengan refleks. Hingga membentur dinding yang ada di belakangnya.

“Hey. Wonwoo-ya.. Apa kau percaya jika iblis dan juga malaikat itu ada?” Alis Wonwoo mengerut. Kembali tidak mengerti dengan apa yang Mingyu ucapkan. Kenapa Mingyu bertanya tentang hal itu? Tentu saja Wonwoo percaya. Malaikat dan Iblis itu nyata. Di dalam alkitab dan juga perjanjian lama di ceritakan dengan detail bagaimana malaikat. Ah. Apa Mingyu itu seorang atheis sehingga bertanya hal ini pada Wonwoo?

“Tentu saja.” Wonwoo mengangguk mantap. Mengabaikan tatapan intens dari Mingyu yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya.

“Lalu bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau adalah malaikat?” Dan ucapan dari Mingyu membuat tubuh Wonwoo menegang dalam sekejap. Pertanyaan yang di ucapkan Mingyu memenuhi seluruh otaknya. Membuat kepala Wonwoo seakan penuh karena pertanyaan itu. Tapi Wonwoo tahu, itu semua sama sekali tidak mungkin. Wonwoo itu manusia, bukan malaikat seperti yang Mingyu ucapkan.

“Kau gila Mingyu-ssi.” Matanya menatap tak suka ke arah Mingyu. Sebelum mendorong tubuh Mingyu menjauh, dan kembali berbalik ke arah apartemen miliknya. Sepertinya Mingyu memang tidak waras. Seharusnya Wonwoo tidak mengobrol dengan Mingyu.

“Kau adalah nephilim, Jeon Wonwoo. Aku bisa merasakannya.” Suara bariton milik Mingyu menggema di seluruh koridor sepi itu. Membuat Wonwoo membalikkan badannya, berniat untuk kembali melihat sosok Mingyu yang sekarang menghilang. Bagai di telan angin malam.

Nephilim..” Wonwoo bergumam pelan. Kata-kata itu sama sekali tidak asing di telinga Wonwoo. Seolah Wonwoo memang sering mendengarnya. Sepertinya Wonwoo harus kembali membuka buku lamanya, dan mencari tahu soal Nephilim. Karena kedua sosok bersayap tadi juga menyebut jika dirinya adalah nephilim.

TeBeCe

Glousarium :

1. Dewa Hades : Dewa penguasa Dunia Bawah

2. Persephone : Ratu Dunia Bawah. Istri Hades.

3. sungai phlegethon : Sungai api yang menjalar dari kerajaan Hades ke Tartarus. Tempat menyiksa orang mati di padang hukuman.

4. sungai acheron : Sungai rasa sakit

5. Sungai lethe: Sungai bisa membuat orang kehilangan ingatan

6. padang asphodel : Tempat di dunia bawah di mana orang mati yang amal baik dan buruknya seimbang.

7. padang hukuman : Tempat di dunia bawah untuk menyiksa roh orang jahat.

8. Thanatos : Dewa Kematian Yunani. Abdi Hades.

Pintu Ajal : Pintu yang menghubungkan dunia manusia dan dunia bawah.

Pertama saya mau minta maaf karena FF ini absurd. Salahin imajinasi nista saya yang kelewatan sehingga mencampur semuanya menjadi satu. Wkwk

Iseng aja gue rombak ini. karena greget pas baca ulang pof ga sesuai keinginan gue dulu karena deadline yang nyiksa waktu itu . wkwk

Saya ga mau banyak cingcong. Berkenankah Review guys?

Astia Morichan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s