Nephilim | Chap 2| Meanie

Pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang membalut dada bidangnya itu menggeram marah. Pria itu – Wen Jun Hui- yang merupakan penguasa Aerie (1) menatap tajam Kwon Soonyoung yang sekarang membungkuk penuh hormat padanya. Semua penduduk Aerie tidak akan membantah apa yang di ucapkan Jun- selaku penerus tahta sang Lucifer(2)– Malaikat Pembelot yang sejak dulu memimpin Aerie. Aerie berada di perbatasan dunia manusia dan juga dunia para Elf(3), yang berada di akhir zona dunia Alfheim(5). Sehingga para malaikat pengabdi Zeus(5) tidak dapat mendekati Aerie. Karena wilayah Aerie di lindungi oleh pelindung yang di ciptakan kawanan Elf- abdi setia Lucifer.

 

“Bukankah aku menyuruhmu untuk membawa Wonwoo secepatnya? Apa kau tuli Soonyoung?” Desisan marah Jun terdengar menakutkan bagi Soonyoung. Pemuda bersurai blonde itu bisa merasakan udara di sekitarnya menipis hanya dengan mendengar geraman dari Jun.

 

“Maafkan hamba, Jun-ssi. Saya tidak bisa mendekat ke arah Wonwoo. Ada penghalang di sekelilingnya. Ia belum sepenuhnya mengingat kita. Ingatannya hilang. Wanita tua itu menanamkan pelindung di dalam tubuh Wonwoo.” Jun terdiam mendengar penjelasan dari Soonyoung. Jun ingat betul jika Wonwoo- adiknya itu tidak akan ingat padanya. Wonwoo hanya mengingat Ayahnya – Sang Lucifer yang terbunuh oleh Verchiel. Wonwoo juga tidak tahu jika Lucifer adalah ayahnya. Karena Lucifer hanya mengaku sebagai paman jauh dari pemuda bersurai coklat itu.

 

“Wonwoo harus mengingat Lucifer. Ia harus ingat apa yang Lucifer katakan. Lucifer sudah memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim(5) pada Wonwoo. Kau harus membuat Wonwoo mengingatnya!” Soonyoung menelan salivanya dalam. Tentu saja ini adalah tugas yang cukup sulit baginya. Ia bahkan tidak tertarik dengan Nephilim campuran itu.

 

“Tapi ada aura Pangeran Kegelapan Hades saat saya mencoba semakin mendekat ke arah Wonwoo.” Soonyoung bisa melihat ekspresi kaget di wajah sangar Jun. Soonyoung sangat yakin jika Jun tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan. Terbukti dengan aura dingin mengancam yang tiba-tiba saja memenuhi ruangan megah ini.

 

“Aku tidak ingin kau bercanda tentang hal seperti itu! Putra Hades tidak mungkin meninggalkan Dunia Bawah!” Soonyoung tertunduk. Enggan membantah pernyataan dari Jun. Mungkin juga ia salah mengira jika aura itu adalah milik Mingyu- sang Pangeran Dunia Bawah. Tapi Soonyoung sangat yakin jika itu adalah Mingyu. Bahkan Minghao yang saat itu menemaninya juga merasakan aura gelap Mingyu.

 

“Bawa Wonwoo secepatnya. Aku tidak ingin Verchiel memburu adikku satu-satunya.” Suara tegas yang terdengar menakutkan itu kembali membuat bulu kuduk Soonyoung merinding. Sungguh, ia tidak ingin berada di ruangan Jun lebih lama. Soonyoung tidak ingin cari mati.

 

“Baik, Jun-ssi.” Membungkuk hormat, sebelum akhirnya mulai berdiri dan berbalik menuju pintu kembar setinggi enam meter di depannya. Meninggalkan Jun yang sekarang kembali berkutat dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Jun tidak ingin Wonwoo di ambil oleh Verchiel. Malaikat utusan Tuhan yang sangat ingin memusnahkan seluruh Nephilim, dan juga Malaikat pembelot seperti dirinya.

Nephilim

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

a/n: Saya ingatkan. Lucifer itu bukan iblis yah awalnya. Lucifer itu adalah malaikat pertama yang di usir Tuhan dari surga. He’s fallen.

Semua chara yang masuk di sesuaikan dengan bias dan otp saya. wks

Strata dunia nanti ah. Belum secara menyeluruh ada kok di chap ini.

 

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu. Ada juga glousarium yang sangat tidak masuk akal. Karena beberapa istilah terinspirasi dari novel fallen. Ini juga keinspirasi sama novel fallen sih. Walaupun saya belum tamat baca itu novel. Padahal Aaronnya go hawt loh! Ada juga istilah yang saya ambil dari novel heroes olympus, serta magnus chase, untuk mendukung imajinasi kacau saya.

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

  • Some angels destinied to Fall –  

.

 

Kim Mingyu berjalan pelan menelusuri trotoar yang akan mengantarkannya ke daerah Gwanghwangmun. Sebenarnya Mingyu tidak tahu kenapa ia kembali ke daerah itu. Ini adalah wilayah tempat pemuda beraura angelik— Jeon Wonwoo- yang membuat Mingyu semakin penasaran. Aroma tubuh dari pemilik aura angelik itu menarik dirinya. Jujur saja, Mingyu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tidak pernah merasa tertarik oleh suatu hal yang membingungkan. Seperti saat ini. Mingyu hanya ingin berada di dekat Wonwoo. Pemuda itu bagaikan sebuah magnet. Padahal ia hanyalah seorang Nephilim. Darah dari sang malaikat pembelot mengalir di dalam pembuluh nadi Wonwoo. Dan Mingyu tentu tahu, darah siapa yang mengalir dalam pembuluh nadi Wonwoo. Seharusnya Mingyu tidak perlu berurusan dengan kaum malaikat pengikut Tuhan, dan juga beberapa pembelot. Mingyu tidak ingin dunia bumi yang ia cintai hancur jika ada perang antara para iblis dari dunia bawah, melawan para malaikat pimpinan Zeus.

 

“Mingyu-ssi, ayo kita pulang.” Suara cicitan kecil terdengar di telinga Mingyu. Itu adalah suara dari Yao- anjing labrador dengan api yang membalut tubuhnya. Tapi itu hanya transformasi jika di dunia bawah. Sekarang Yao hanyalah makhluk sekecil kutu yang menempel di bahu Mingyu.

 

“Bukankah aku menyuruhmu untuk pulang? Jangan mengikutiku.” Mingyu berkata pelan. Ia kembali berjalan menelusuri jalanan yang tanpa Mingyu sadari, dirinya sudah sampai di cafe yang terlihat di padati oleh pengunjung. Cafe dimana Wonwoo bekerja.

 

“Tidak, Mingyu-ssi. Saya tidak akan meninggalkan anda.” Mingyu menghela napas mendengar penuturan anjing itu. Dulu, ia tidak sengaja menemukan Yao yang berada di hulu sungai Plegethon. Kemudian menolong anjing malang itu ; yang tertindas oleh pengikut Ouranous(6). Sebelum akhirnya, Yao memutuskan untuk menjadi pelayan dari Mingyu.

 

“Terserah. Tapi aku tidak akan pulang.” Senyum simpul tercetak jelas di wajah Mingyu, saat manik obsidiannya menangkap jelas sosok Wonwoo yang sekarang sedang melayani pelanggan wanita di depan. Wonwoo terlihat sangat menawan saat memakai celana hitam denimnya dan juga kemeja berwarna putih yang membalut tubuh kecilnya. Fokus Mingyu hanya untuk Wonwoo. Ia terpesona dengan kecantikan Wonwoo. Mingyu bahkan mengabaikan celotehan dari Yao tentang kaum malaikat pembelot dan hal tidak penting lainnya. Demi Hades! Mingyu tidak peduli. Ia hanya peduli tentang Wonwoo yang sekarang adalah magnet untuk dirinya.

 

Langkah kaki di percepat. Mingyu mulai berjalan mendekat ke arah cafe yang sore ini di padati oleh banyak pengunjung. Ia bisa merasakan semua tatapan tertuju ke arahnya. Termasuk Wonwoo yang sekarang membulatkan matanya. Mulut pemuda bersurai coklat itu membulat. Seakan kaget dan tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap.

 

“Jeon Wonwoo.” Suara bariton mengalun dengan merdu. Bagaikan semilir angin musim semi untuk Wonwoo. Tubuh pemuda bersurai coklat itu membatu, saat jaraknya dengan Mingyu mulai menipis. Nampan berwarna coklat yang tadi ia pegang terlepas membentur lantai. Membuat seorang pelanggan wanita bersurai pirang memekik kaget, karena Wonwoo membanting nampan itu dengan keras.

 

“Apa kau mendengarku, Wonwoo?” Mingyu berbisik pelan di telinga Wonwoo. Bisikan menggelitik yang membuat darahnya mendesir. Wonwoo seakan lupa dengan apa yang seharusnya ia kerjakan. Wonwoo bahkan tidak peduli dengan gerutuan wanita yang ada di depannya sekarang. Ia hanya terfokus pada Mingyu.

 

“Mingyu-ssi? Apa yang kau lakukan disini?” Untuk beberapa detik, akhirnya Wonwoo bisa melontarkan pertanyaan yang ada di otaknya. Ia terlalu bingung dengan kehadiran Mingyu. Kenapa pemuda itu datang lagi? Padahal tadi malam Wonwoo mengatakan hal yang buruk padanya. Tidak seharusnya ia bertemu lagi dengan pemuda aneh yang mengaku berasal dari dunia bawah, dan juga berkata bahwa dirinya adalah seorang malaikat.

 

“Hanya ingin melihatmu.” Wonwoo bisa merasakan pipinya memanas saat mendengar penuturan datar dari Mingyu. Apalagi saat manik obsidian milik pemuda itu menatapnya dengan intens. Seakan Wonwoo adalah fokus satu-satunya untuk Mingyu. Pemuda bersurai hitam itu juga tidak peduli dengan bisikan kagum yang ada di sekelilingnya. Seharusnya Mingyu risih mendengar bisikan kagum dari para pelanggan untuknya. Seperti Wonwoo yang merasa risih saat di tatap seperti itu oleh Mingyu. Tatapan yang bisa membuatnya gugup tak karuan.

 

“Wonwoo-ya? Kenapa kau diam saja? E-eh? Ini temanmu?” Suara Jeonghan yang menggema terdengar keras. Membuat Wonwoo segera tersadar kembali dengan apa yang ia lakukan bersama Mingyu. Tidak seharusnya Wonwoo mengabaikan pelanggan, hanya karena Mingyu mendekat ke arahnya.

 

Dengan gerakan gugup, Wonwoo mulai menoleh ke arah suara Jeonghan berasal. Pemuda bersurai pirang itu berjalan menghampiri Wonwoo dengan senyum hangat miliknya yang mampu membuat semua pelanggan ikut tersenyum melihat Jeonghan. Setelah jaraknya dengan Wonwoo mulai dekat, kini Jeonghan mengamati dengan seksama pemuda bersurai hitam yang berdiri di depan Wonwoo. Senyum geli terukir di wajah manis Jeonghan saat melihat pemuda bersurai hitam yang menatap Wonwoo dengan pandangan mendamba. Jeonghan sangat yakin, jika pemuda itu menyukai Wonwoo. Ah. Selera Wonwoo memang sama dengannya. Sama-sama menyukai seme berparas tampan. E-eh. Apakah Seungcheol termasuk?

 

“Wonwoo-ya, kenapa kau tidak memberitahuku jika mempunyai teman setampan ini?” Jeonghan menggerutu ke arah Wonwoo, saat jaraknya dengan pemuda bersurai coklat itu hanya beberapa senti. Tangannya menarik Wonwoo menjauh dari Mingyu, dan membuat Wonwoo berada di dekatnya. Lengan Jeonghan merangkul mesra pundak Wonwoo. Membuat Mingyu menggeram tak suka.

 

“Lepaskan tanganmu dari Wonwoo.” Suara sarat akan ancaman itu terdengar menakutkan bagi Jeonghan. Tatapan tajam yang di lontarkan oleh Mingyu membuat tubuhnya bergetar takut. Refleks, ia melepaskan genggaman tangannya pada Wonwoo. Membiarkan Wonwoo di tarik ke dalam pelukan pemuda bersurai hitam yang sekarang masih memandangnya dengan pandangan membunuh.

 

“D-dia menakutkan.” Jeonghan menelan salivanya dalam saat merasakan aura tidak mengenakan di sekitar Mingyu. Jujur saja, Jeonghan masih menginginkan hidup damai tanpa kecaman membunuh seperti itu. Lebih baik ia segera melarikan diri. Jeonghan yakin, jika Wonwoo punya cara jitu tersendiri untuk menghadapi Mingyu.

 

“A-aku pergi saja.” Kemudian Jeonghan berbalik menjauh. Meninggalkan Mingyu dan juga Wonwoo di belakangnya. Membiarkan Wonwoo kembali bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Aura panas kembali terasa. Kontraksi otot-otot punggungnya kembali membuat Wonwoo meringis kesakitan. Tubuhnya mulai limbung. Kepala Wonwoo semakin terasa pening. Kemudian ia bisa merasakan tubuhnya melayang disertai bisikan lembut dari Mingyu, saat matanya mulai tertutup, dan tidak sadarkan diri.

 

“Pelindungmu melemah, Wonwoo-ya.”

.

oOo

.

 

Wonwoo mengerjapkan matanya dengan perlahan. Matanya yang tadi tertutup, kini mulai terbuka. Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali agar ia bisa menangkap dengan jelas apa yang ada di depannya sekarang. Retinanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sangat Wonwoo kenali. Itu adalah sosok Kim Mingyu. Pemuda itu duduk di sampingnya, dengan tangan yang menggenggam erat tangan Wonwoo. Tatapan penuh khawatir tercetak jelas di manik obsidian pemuda itu.

 

“Kau sudah sadar, Wonwoo?” Suara Mingyu membuat Wonwoo tersadar. Sekarang neuronnya sudah bekerja kembali. Wonwoo sedang berada di kamar apartemen miliknya. Tapi sejak kapan ia ada di sini? Dan kenapa pula Mingyu ada di kamarnya?

 

Wonwoo menoleh ke arah jam weker kecil yang ia simpan di nakas sebelah kiri. Matanya membulat saat menangkap angka di jam tersebut. Sekarang sudah jam sembilan. Sudah malam. Itu artinya shift kerjanya sudah berakhir sejak dua jam lalu. Sekarang ia ingat kenapa bisa berada di kamarnya. Mingyu pasti membawanya pulang ketika ia merasakan sakit di punggungnya, dan mulai tak sadarkan diri.

 

Wonwoo mulai mendudukkan dirinya di atas ranjang. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Mingyu. Matanya bersibobrok dengan obsidian yang sekarang menatapnya intens. Tatapan Mingyu selalu membuat Wonwoo tidak dapat mengalihkan fokusnya. Wonwoo seakan di suruh untuk menyelami keindahan manik obsidian Mingyu saat menatapnya.

 

“Kau membawaku kesini, Mingyu-ssi?” Wonwoo mencoba mendatarkan suaranya. Ia tidak ingin Mingyu tahu bahwa dirinya sedang gugup. “Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun? Tidak seharusnya kau masuk ke dalam rumah orang, Mingyu-ssi.” Delikan tajam Wonwoo hadiahkan pada Wonwoo. Tapi sayangnya Mingyu malah terkekeh melihat Wonwoo yang sedang memarahinya sekarang.

 

“Hey, seharusnya kau berterimakasih padaku Wonwoo-ya. Aku yang membawamu saat kau pingsan, karena pelindungmu melemah.” Tangan Mingyu terulur. Mengelus surai coklat Wonwoo dengan perlahan. Mingyu bisa melihat ekspresi Wonwoo mulai berubah. Pemuda bersurai coklat itu mengerutkan alisnya bingung. Seakan tidak mengerti dengan apa yang Mingyu ucapkan.

 

“Apa kau tidak tahu jika dirimu adalah Nephilim, Wonwoo? Kau sering mengalami sakit di punggung dan pingsan. Itu karena pelindungmu mulai melemah.” Mingyu mendengus. Tidak habis pikir jika Wonwoo sama sekali tidak tahu jati dirinya. Mungkin Mingyu memang tidak bisa menyalahkan Wonwoo karena hal ini. Pemuda bersurai coklat itu jelas di pasangi oleh pelindung. Membuat dirinya tidak akan mengalami transformasi sebagai Nephilim seutuhnya.

 

“Kau menyebutku Nephilim? Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ucapanmu, Mingyu-ssi!” Suara Wonwoo mengeras. Menandakan ia benar-benar kesal dengan semua penuturan Mingyu. Wonwoo sama sekali tidak tahu apa itu Nephilim. Kenapa setiap ia bertemu dengan Mingyu, pemuda itu selalu mengatakan hal aneh tentang dirinya? Wonwoo itu manusia biasa, bukan seorang Nephilim seperti yang Mingyu katakan.

 

Wonwoo menatap tak suka ke arah Mingyu yang sekarang membalas tatapan tajamnya. Seakan tidak takut dengan tatapan itu. Mungkin di mata Mingyu, delikan tajam Wonwoo malah mirip seperti bocah yang sedang merajuk.

 

“Apa kau ingin aku menghilangkan penghalang ini, Wonwoo-ya?” Seringaian licik tercetak di wajah tampan Mingyu. Tubuh pemuda bersurai hitam itu mulai mendekat ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo memundurkan tubuhnya, hingga bertabrakan dengan kepala ranjang. Wonwoo bisa merasakan aura berbahaya mulai menguar dari tubuh Mingyu.

 

Tangan Mingyu bergerak menyentuh pipi Wonwoo dengan gerakan pelan. Mengelusnya dengan gerakan lembut, yang membuat Wonwoo hanyut dalam sentuhan hangat itu. Darahnya kembali berdesir, dengan jantung yang berdetak dua kali lipat, saat Mingyu menarik dagunya hingga ia mengadah ke arah pemuda bersurai hitam itu. Kedua mata saling beradu. Jarak mereka semakin menipis. Mingyu menghilangkan jaraknya dengan Wonwoo. Bibirnya mulai menyentuh bibir ranum Wonwoo. Mengecupnya berkali-kali. Sebelum melumatnya dengan perlahan. Bagaikan permen manis yang pernah Mingyu makan di dunia manusia pertama kali. Bibir Wonwoo sangat manis, membuatnya tidak bisa berhenti untuk mengecap rasa manis yang ada di bibir pemuda bersurai coklat itu.

 

“Nghh…” Wonwoo mengerang pelan, saat Mingyu membelit lidahnya dan mengulumnya dengan penuh gairah. Tubuh Wonwoo kembali panas hanya karena sentuhan dari Mingyu. Ciuman ini membuat Wonwoo hilang akal. Ia bahkan membalas lumatan yang Mingyu berikan. Wonwoo tidak pernah di cium seperti ini. Ini adalah pertama kali untuk Wonwoo, dan ia menyukai sensasi ciuman yang di berikan oleh Mingyu.

 

“Mhhh..” Desahan tertahan milik Wonwoo membuat Mingyu tersenyum senang dalam ciuman mereka. Mingyu bisa merasakan tangan Wonwoo mengalung indah di lehernya, dan menariknya semakin dekat. Hingga tubuh mereka terjatuh di atas ranjang, dengan Mingyu yang menindih tubuh mungil pemuda bersurai coklat yang masih asik melumat bibirnya.

 

“Anhhh…” Wonwoo memekik keras. Melepaskan ciumannya dengan Mingyu secara paksa, saat kontraksi di punggungnya kembali hadir. Rasa sakit itu muncul. Beserta pergerakan otot punggung yang seakan bergeser dari persendiannya sendiri.

 

“Apa kau ingin aku menghilangkannya, Wonu-ya?” Bisikan seduktif Mingyu terdengar bagaikan penenang untuk Wonwoo. Ia bisa merasakan herpaan napas panas Mingyu di lehernya. Lidah tak bertulang Mingyu terjulur. Menjilat leher jenjang Wonwoo, sebelum akhirnya menghisapnya dengan pelan. Meninggalkan tanda yang sangat kontras di leher pemuda bersurai coklat itu. Wonwoo juga dapat meraskan tangan Mingyu menelesup masuk melalui celah kemejanya, sebelum akhirnya kemeja itu sobek dan dada polos Wonwoo terpampang jelas di hadapan Mingyu.

 

“S-sakithh…” Ringisan Wonwoo kembali terdengar. Ini terlalu menyakitkan. Wonwoo tidak menyukai rasa sakit yang di timbulkan punggungnya.

 

“Jika kau ingin aku menghilangkan rasa sakit ini sepenuhnya, kau akan terikat selamanya bersamaku Jeon Wonwoo.” Dan setelahnya, Mingyu tersenyum senang karena melihat Wonwoo menganggukkan kepalanya tanda setuju.

 

Kepala Mingyu bergerak ke arah leher Wonwoo. Mengecup lembut leher jenjang pemuda bersurai coklat itu berkali-kali, sebelum akhirnya meninggalkan jejak kemerahan di sana. Wonwoo mengerang saat lidah Mingyu bermain di lehernya. Membuat getaran di dalam tubuhnya semakin menjadi. Juga gerakan aneh di punggungnya yang bergerak liar tak karuan. Bagaikan daging di dalam punggungnya bergerak keluar dari persendian.

 

“Akan ku perlihatkan bagaimana wujud aslimu, Wonu-ya.” Mingyu berbisik pelan di telinga Wonwoo. Pemuda bersurai hitam itu mulai menggerakan tangannya. Mengelus punggung Wonwoo yang polos dengan gerakan lembut. Sebelum akhirnya tangan Mingyu berhenti di tulang punggung Wonwoo. Menekannya dengan cukup keras. Membuat si surai coklat itu berteriak kesakitan.

 

“Arghhhtt…” Jeritan Wonwoo menggema di ruangan itu. Di iringi dengan suara gebrakan otot-otot punggungnya yang mencuat. Membentuk sebuah sayap berwarna putih yang membentang indah di balik punggung Wonwoo. Daging telanjang yang membentang di punggung Wonwoo terasa sangat membara saat bentuk-bentuk arkais itu bermunculan di atas permukaan sigil-sigil putihnya. Sungguh. Itu adalah sayap malaikat terindah yang pernah Mingyu lihat selama ia hidup. Sayap Wonwoo begitu hidup, dan sigil-sigil berukir arkais itu tidak bisa ia lewatkan begitu saja. Simbol arkais menandakan malaikat terkuat yang mewakili prajurit elite.

 

“Ini adalah wujud asli dirimu, Jeon Wonwoo.” Mingyu mengelus pelan sayap yang membentang di belakang punggung Wonwoo dengan pelan. Mingyu tidak tahu apa yang di pikirkan Wonwoo saat ini. Pemuda itu terdiam di dalam pelukannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dirinya alami. Mata Wonwoo terlihat kosong. Mingyu sangat yakin jika Wonwoo mengira ini semua adalah mimpi buruk baginya.

 

“Ini adalah wujud aslimu sebagai Nephilim. Ingat Wonu-ya, kau milikku sekarang.” Tubuh bersayap itu di rengkuh dengan pelan oleh Mingyu. Membuat sayap-sayap di balik punggung Wonwoo menyusut kembali. Sigil-sigil di permukaan kulit Wonwoo mulai menghilang. “Kau akan mengingat semuanya.” Dan setelahnya, Wonwoo memejamkan mata. Sebelum kehilangan kesadaran atas dirinya.

 

.

oOo

.

 

Jeon Wonwoo berjalan perlahan menuju area taman yang ada di area fakultas sastra di kampusnya. Hari ini ia tidak ada jadwal bekerja di cafe. Wonwoo sedang libur. Sekarang ia harus mengerjakan tugasnya di perpustakan untuk mencari referensi. Walaupun hari ini sudah sore, Wonwoo tidak peduli. Ia hanya ingin tugasnya selesai, dan juga melupakan soal Mingyu. Kejadian dua hari yang lalu bagaikan mimpi untuk Wonwoo. Ia tidak percaya dengan sayap yang tiba-tiba tumbuh di belakang punggungnya. Membentang dengan lebar, dan kemudian menyusut kembali akibat sentuhan hangat dari Mingyu. Sebenarnya Wonwoo ingin tahu tentang Mingyu. Kenapa pemuda itu mengetahui segala hal tentang dirinya? Siapa pemuda itu sebenarnya? Mereka hanya bertemu beberapa kali. Tapi Mingyu selalu ada di saat Wonwoo membutuhkan pertolongan.

 

“Hah..” Menghela napas pelan, sebelum memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman kecil itu. Entah kenapa niat Wonwoo untuk mengerjakan tugas di perpustakaan yang berada di fakultas sastra tiba-tiba saja lenyap begitu saja, akibat mengingat kembali Mingyu. Sekarang Wonwoo merasa gila karena tidak bisa menemukan kembali sosok Mingyu yang biasanya selalu berdiri di balkon apartemen. Ia merasa merindukan sosok pemuda bersurai hitam itu. Tidak seharusnya Wonwoo merasakan hal menggelikan seperti ini pada seorang pria. Sepertinya Mingyu membawa dampak negatif bagi Wonwoo.

 

“Ya Tuhan, ini menyebalkan!” Wonwoo menggerutu dengan keras, sambil menendang sebuah batu kecil. Tidak ada siapapun di area taman fakultas sastra. Jadi Wonwoo tidak perlu takut jika batu kecil yang di tendangnya akan menendang mahasiswa yang lewat di depannya.

 

Wonwoo mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Ia tidak pernah tahu jika taman ini akan menjadi sangat sepi saat jam enam sore seperti ini. Mungkin saja semua orang yang ada di kampus sudah tidak ada lagi di sana. Ini menjadi dua kali menyebalkan, karena Wonwoo baru sadar jika hari sudah sesore ini. Tidak mungkin ada penjaga perpustakaan sekarang.

 

Pemuda bersurai coklat itu mulai berdiri dari duduknya. Wonwoo memutuskan untuk pulang, dan mengerjakan tugasnya di apartemen saja. Pikirannya malah kacau saat berada di sini, dan itu menyebalkan. Dengan langkah gontai, ia mulai berjalan berbalik meninggalkan fakultas sastra di belakangnya. Angin musim semi bertiup sangat kencang. Menerpa wajah Wonwoo, sehingga ia harus menutup kedua matanya agar debu tidak masuk.

 

Badan Wonwoo bergerak mundur ke belakang akibat angin kencang itu. Dari sipitan matanya, Wonwoo bisa melihat sesosok pria yang di kelilingi oleh pusaran angin akibat kepakan sayap yang membentang di belakang punggungnya. Sayap berwarna hitam itu memukul udara dengan pelan kali ini. Hingga bunyi deru angin semakin memelan, dan tidak lagi membuat pusaran debu di sekeliling taman itu.

 

“Jeon Wonwoo…” Suara bernada berat itu memanggil Wonwoo dengan penuh kecaman.

 

Wonwoo bisa merasakan waktu berhenti saat ini. Ia tidak tahu kenapa bisa mengetahui jika waktu berhenti. Hanya saja, Wonwoo bisa merasakan dengan jelas jika udara di sekelilingnya menghilang. Tidak ada bunyi lain lagi di tempat ini. Aura kehidupan seolah menghilang, dan Wonwoo hanya bisa merasakan dirinya sendiri di tempat itu. Kemudian pemuda bersurai coklat itu mulai membuka matanya dengan pelan. Berharap jika apa yang telah retinanya tadi tangkap adalah kamuflase, dan delusi Wonwoo yang terlalu berlebihan. Tapi sayangnya, apa yang di tangkap oleh fokus Wonwoo itu nyata. Ia bisa melihat sosok pria berbalut kaos orange dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya. Sayap berwarna hitam mengepak dengan sangat indah. Sigil-sigil sayap pria bersurai orange dengan wajah tegas itu terlihat sangat indah di mata Wonwoo.

 

“Si-siapa kau?” Wonwoo bertanya dengan tergagap. Lidahnya terasa sangat kelu saat ini. Ia benar-benar tidak percaya jika apa yang di lihatnya adalah nyata. Jika bisa, Wonwoo ingin meyakinkan dirinya bahwa ini semua adalah mimpi. Tapi sejak Mingyu memberitahunya, semua keinginan itu seakan menghilang dengan sekejap. Mungkin eksistensi akan malaikat dan makluk lainnya akan Wonwoo percaya. Karena ternyata makluk seperti itu memang ada dan nyata.

 

“Kwon Soonyoung. Kau adalah adik dari Wen Jun Hui, Jeon Wonwoo.” Soonyoung mendekat sambil menyusutkan sayap di belakang punggungnya. Membuatnya menjadi manusia normal biasa yang berasal dari dunia manusia.

 

“Ikut bersamaku, Wonwoo-ssi. Aku akan membuatmu mengingat segalanya, dan menjauhkan dirimu dari Verchiel.” Tangan Soonyoung terulur ke arah Wonwoo. Membuat pemuda bersurai coklat itu memundurkan tubuhnya dengan refleks.

 

Soonyoung menyunggingkan sebuah senyum tipis di wajahnya. Ia tentu mengerti jika Wonwoo takut padanya. Wonwoo yang seorang manusia biasa dan tidak mengetahui jati diri yang sebenarnya tentu akan ketakutan melihat sosok Soonyoung yang merupakan malaikat pembelot. Soonyoung yakin jika Wonwoo sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang di lihatnya adalah sebuah kenyataan.

 

“Tidak usah takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu, Wonwoo-ssi. Apa kau tidak ingat dengan Park Chanyeol?” Mata Wonwoo membulat mendengar pertanyaan dari Soonyoung. Kenapa bisa pria asing itu tahu tentang Chanyeol ahjussi? Paman yang sudah Wonwoo anggap sebagai ayahnya itu menghilang tujuh tahun lalu tanpa ada kabar sedikitpun. Sekarang Wonwoo berharap jika pria bersurai blonde ini mengetahui keberadaan pamannya itu.

 

“Apa kau tahu di mana pamanku berada?” Wonwoo bertanya penuh antusias. Tapi Soonyoung malah tersenyum kecut sekarang, dan memperlihatkan wajah penuh penyesalan.

 

“Jika kau ingin tahu jawabannya, kau harus ikut bersamaku. Bertemu dengan Jun.” Suara Soonyoung terdengar sangat meyakinkan di telinga Wonwoo. Tentu saja ia sangat penasaran dengan keberadaan pamannya yang tiba-tiba saja menghilang. Wonwoo ingin bertemu dengan Chanyeol lagi. Sosok Chanyeol sangat berharga bagi Wonwoo. Jika benar Soonyoung akan membawanya bertemu dengan Chanyeol, maka Wonwoo akan menerjang rasa takut yang sekarang singgah di hatinya.

 

“Bawa aku, Soonyoung -ssi.” Pernyataan Wonwoo di hadiahi senyuman tipis dari Soonyoung. Kemudian pria bersurai blonde itu mengeluarkan kembali sayap hitam di balik punggungnya. Sayap hitam yang membentang dengan lebar, sebelum akhirnya memukul udara dan kembali membuat pusaran angin kecil.

 

“Kemarilah, Wonwoo-ssi.” Tangan Soonyoung terulur. Membuat Wonwoo meraihnya dengan pelan. Hingga sekarang ia berada dalam kungkungan Soonyoung yang membawa tubuh kecil Wonwoo terbalut oleh sigil-sigil sayap Soonyoung. Lalu menghilang. Meninggalkan tanah di bawah mereka.

 

 

TeBeCe

 

Glousarium :

  1. Aerie : Dunia para malaikat pembelot Tuhan

 

  1. Lucifer : Pemimpin para malaikat pembelot Tuhan
  2. Elf : Kaum Fairy

 

 

  1. Alfheim : Dunia para elf, fairy, fallen angel

 

  1. Zeus : Tuhan. Dewa Penguasa Langit Dunia Atas manusia

 

 

  1. Nephilim : Manusia setengah malaikat. Mempunyai kekuatan malaikat di dalam dirinya.

 

  1. Ouranous : Raksasa yang ada di Dunia Bawah. Bangsa Titan.

 

Dan juga jika kalian berkenan. Bisa kah kalian berkomentar apakah fict ini terkesan lame, dan apa feel kalian dapet ga pas baca cerita ini? jujur saya agak kurang pede dengan tulisan saya. Semacam mau cari jati diri saya dalam menulis. Apa ini layak di baca, atau tidak sama sekali. Onegaisimasu-ssu!

Well. Saya selesai dengan Glousarium. Ada beberapa Glousarium yang saya sesuaikan dengan imajinasi saya.

 

Saya lagi semangat edit ini. karena emang greget dan butuh asupan tersendiri buat Meanie wkwk. Fict lain sabar aja yah. Wkwk. Mood gue belum dapet. Bwahaha.

 

So, Mind To Review?

 

 

Astia Morichan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s