I Wanna Be Dominan, Sei! |AkaKuro| Sequel Extra Incubus

0

Akashi Seiya mengerucutkan bibirnya kesal, saat melihat Akashi Tetsuya duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk di teras depan. Menatap lurus pepohohonan yang di selimuti oleh salju putih. Kemudian Tetsuya melirik ke arah bocah bersurai crimson yang masih terlihat merajuk. Sebenarnya Tetsuya tahu, alasan putranya itu kesal. Seiya kesal karena Seijuurou tidak membawanya ke perbatasan kota. Ada alasan khusus kenapa Seijuurou menolak. Ia akan menemui Oracle Delphi- Cenayang terpilih Putra Apollo- yang akan meramalkan nasib keluarga kecil mereka.

 

“Seiya kenapa?” Suara Tetsuya yang lembut mengalun, hingga membuat Seiya menoleh. Tangan Tetsuya bergerak mengelus perut yang membuncit. Sekarang, ia sudah memasuki bulan ke tujuh. Sebagai omega yang tengah mengandung, bulan ke tujuh adalah hal paling rawan.

 

“Kapan adikku lahir, Daddy?” Seiya menatap Tetsuya penuh pengharapan. Tetsuya tahu benar, jika Seiya sangat menantikan calon adikknya. Seiya sudah terlalu lama kesepian. Di daerah hutan ini, tidak ada teman yang sebaya dengan putranya itu. Berkali-kali juga Seiya mengajak Seijuurou pindah ke kota. Tapi permintaan putranya sama sekali tidak di gubris. Bukan tidak ingin, tapi memang tidak memungkinkan untuk berada di kota. Bisa saja ada makluk immortal lain mengatakan pada kawanan incubus keberadaan suaminya. Tetsuya dan Seijuurou hanya tidak ingin keluarga kecil mereka terganggu oleh para incubus itu.

 

Tetsuya menyunggingkan sebuah senyum manis. Tangannya terulur. Mengambil tangan Seiya, dan menyimpannya di atas perut Tetsuya yang sudah membesar. Tangan Seiya di gerakan pelan, agar jemari bocah itu mengelus perutnyadengan lembut.

 

Tetsuya bisa melihat jika Seiya tertegun. Manik heterochomia bocah itu membulat takjub, saat merasakan pergerakan kecil dalam perut Tetsuya.

 

“Hwah.. Bergerak..” Seiya berseru antusias. Kemudian mendekatkan kepala ke arah perut Tetsuya. Mencoba merasakan dari jarak dekat pergerakan calon adiknya. Tangan bocah itu kembali mengelus perut Tetsuya.

 

“Seiya harus bersabar. Mengerti?” Tetsuya mengelus surai crimson bocah itu.

 

“Uhm…” Seiya mengangguk pelan. Sungguh. Ia benar-benar tidak sabar ingin mempunyai seorang adik. Seiya ingin mempunyai teman yang menemaninya di rumah. Ia harap, keinginannya dapat terkabul dengan cepat. Terutama untuk pindah ke kota lagi.

.

oOO

.

 

I Wanna Be A Dominan, Sei!

T+

Family, Romance, Drama, Fantasy

 

Seijuurou X Tetsuya

 

A/n: FF Extra incubus ini, di dedikasikan untuk ultah uke favorit saya. Mwahaha. Happy Bday Tetsuya-chii! Makin langgeng sama juyo loh :’* mwah :’* aku cinta kamuuu :’*

Seriusan, ini gaje binggo. Kalo ga suka boleh menjauh. Saya hanya ingin berbagi asupan *tebar kembang*

enJOY!

.

oOo

.

.

Akashi Seijuurou berjalan mendekat ke arah mate abadinya– AkashiTetsuya- yang berdiri di tengah-tengah teras. Tetsuya sedang menatap keindahan langit malam, sambil mengelus perutnya yang sudah membesar . Senyum mengembang di wajah cantik Tetsuya. Membuat Seijuurou ikut tersenyum. Ah, rasanya Seijuurou merindukan lagi sosok Tetsuya dalam pelukannya. Padahal baru enam jam, ia meninggalkan rumah untuk bertemu dengan Oracle yang ada di kota. Di saat-saat kehamilan Tetsuya yang semakin membesar, Seijuurou akan selalu merindukan dan mengkhawatirkan mate-nya itu.

 

Malam ini, Tetsuya terlihat memesona di mata Seijuurou. Sampai Seijuurou tidak dapat memalingkan wajahnya dari Tetsuya barang sedikit pun. Pria bersurai biru itu terlihat sangat cantik, saat wajahnya di sinari oleh pantulan bulan. Sudah menjadi kebiasaan Tetsuya, jika pria itu akan menghabiskan malam pergantian umurnya dengan menatap langit malam yang selalu di hiasi bulan dan bintang. Bersama indahnya hamparan salju yang menutupi permukaan tanah.

 

Seijuurou menelan saliva dalam, saat melihat Hakama tidur berwarna biru muda yang di pakai Tetsuya terlihat sangat pas. Membalut tubuh si surai biru yang semakin terlihat sintal dan berisi. Atau dengan kata lain; sexy yang menggiurkan. Bagi Seijuurou, Tetsuya yang seperti ini memang menggoda.

 

Kemudian, Seijuurou kembali melangkah. Jaraknya dengan si surai biru hanya terpaut dua meter di depan. Langkah Seijuurou tidak terdengar saat bergesekan dengan tatami di bawah. Sampai ia sendiri yakin, jika Tetsuya tidak akan tahu keberadaannya yang sudah berdiri tepat di belakang.

 

“Melamun?” Bisikan pelan dari Seijuurou terdengar. Di ikuti dengan lengannya yang melingkar di perut Tetsuya. Jemari Seijuurou mengelusnya dengan pelan. Takut jika Tetsuya tidak menyukai sentuhannya seperti beberapa waktu lalu.

 

“Tidak..” Tetsuya melirik ke arah Seijuurou yang memeluk tubuhnya dari belakang. Tangan si surai biru bergerak menghentikan elusan yang suaminya lakukan. Kemudian menggengam tangan Seijuurou, agar tetap mengeratkan pelukan mereka. Menghantarkan rasa hangat agar tetap menyelimuti keduanya.

 

“Aku hanya ingat saat mengandung Seiya dulu.” Seijuurou terdiam. Tidak mengeluarkan suara apapun. Kepalanya bergerak untuk mengendus leher Tetsuya. Aroma vanilla menguar dari leher jenjang si surai biru. Wangi Tetsuya memang menggiurkan. Membuat Seijuurou tidak tahan untuk memberikan satu kecupan di sana.

 

“Seii..” Tetsuya memberenggut. Mencoba melepaskan diri dari pelukan Seijuurou. Tapi nihil, Seijuurou memeluknya terlalu erat. Hingga membuat si surai biru menghela napas pasrah.

 

“Diamlah sebentar, Tetsuya. Aku hanya ingin memelukmu.” Tetsuya kembali terdiam. Ia membiarkan tangan Seijuurou bermain untuk mengelus perut besarnya, dan kembali mengecup area leher jenjang Tetsuya. Sebelum akhirnya memberikan hisapan kecil yang menimbulkan tanda kemerahan yang kontras di leher si surai biru.

 

“Apa yang di katakan Oracle padamu, Sei-kun?” Tetsuya mencoba bertanya mengenai pertemuan Seijuurou dengan Oracle itu. Ramalan Putra Apollo yang tidak pernah meleset.

 

“Ramalannya mengatakan, kita harus terus menjaga Seiya dan juga adiknya nanti. Lalu aku harus menyelesaikan masalahku dengan kawanan incubus. Oracle bilang, nyawa putra kedua kita yang menjadi taruhan. Dia bisa menjadi pimpinan para incubus di masa depan.” Seijuurou memaparkan semua ramalan itu pada Tetsuya. Itu adalah ramalan singkat yang di dapatnya barusan. Calon adik Seiya akan menjadi incubus sepertinya. Sebenarnya Seijuurou juga menanyakan perihal masa depan Seiya. Ia takut jika ramalan mengenai putranya itu benar. Apalagi Seijuurou sama sekali belum tahu wujud sebenarnya dari Seiya. Putranya itu sama sekali belum melakukan perubahan.

 

“Aku takut, Sei-kun.” Tangan Seijuurou semakin di genggam erat. Seolah menyalurkan rasa takutnya lewat cengkraman itu.

 

“Percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian.” Seijuurou mendaratkan kecupan kecil di bahu Tetsuya.

 

“Jadi, apa keinginanmu, Tetsuya?” Seijuurou berbisik pelan. Ia bisa merasakan jika Tetsuya tengah menahan napas saat mendengar pertanyaan yang Seijuurou lontarkan. Kemudian tangan si surai biru mencoba melonggarkan pelukannya. Tetsuya berbalik. Menatap wajah Seijuurou yang kini berjarak beberapa senti dari wajahnya. Hembusan napas hangat Seijuurou menggelitik wajahnya, hingga membuat Tetsuya menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

 

“Kau tahu apa keinginanku, Sei-kun.” Tangan Tetsuya terulur. Mengelus pipi Seijuurou dengan lembut. Hingga membuat Seijuurou menutup mata. Menikmati sentuhan kecil yang Tetsuya berikan padanya.

 

“Jangan memaksakan dirimu, Sei-kun.” Manik heterochomia kembali terbuka. Menatap sosok Tetsuya yang memandangnya sayu. Tatapan yang selalu membuat Seijuurou melemah, dan ingin membereskan semua masalah yang telah ia mulai. Seijuurou tentu tahu apa yang selalu membuat mate abadinya itu cemas.

 

“Maaf.” Diraih tangan Tetsuya yang berada di pipi. Menggengam tangan mungil itu dengan erat. Kemudian mengecupnya dengan lembut.

 

“Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua masalah yang aku mulai dengan kawananku. Kau tahu? Aku juga tidak ingin kita terus melakukan pelarian konyol seperti sekarang.”

 

“Aku hanya tidak ingin semuanya menjadi rumit. Aku sudah tidak di terima di kawanan serigala. Kita tidak punya tempat lain selain ikut berbaur dengan para manusia.” Tetsuya mengigit bibir bawah dengan kuat. Menahan geraman yang di keluarkan serigalanya.

 

“Aku tahu. Percayakan semua padaku, Tetsuya.” Di raihnya pinggang Tetsuya. Kemudian memeluk tubuh si surai biru dengan erat. Perut Tetsuya yang membesar, tidak menjadi halangan bagi Seijuurou. Kemudian tangan si surai crimson bergerak mengelus punggung Tetsuya, agar semua kegelisahan yang terpendam bisa hilang lewat sentuhannya.

 

Tetsuya terdiam dalam dekapan Seijuurou. Ia menikmati sentuhan ajaib Seijuurou yang mampu menghilangkan semua kegundahan yang memenuhi otaknya. Berbagi pelukan seperti ini adalah hal yang selalu Tetsuya rindukan.

 

“Sei-kun..”

 

“Hm?”

 

“Kau ingat? Tengah malam nanti, tepat saat malam berganti adalah hari apa?” Tetsuya bertanya, sambil mengeratkan pelukannya. Jantungnya mulai berdebar tak karuan. Padahal, sudah beberapa tahun Tetsuya selalu melakukan hal ini saat umurnya akan bertambah.

 

“Tentu saja. Aku tadi bertanya apa yang Tetsuya ingin kan.” Seijuurou melonggarkan pelukan. Kini ia bisa melihat wajah Tetsuya yang memerah.

 

“Kau tahu apa yang aku inginkan selain memintamu membereskan masalah dengan kawanan incubus.” Tetsuya mengerucutkan bibir. Ia tahu, jika Seijuurou hanya pura-pura lupa. Permintaan Tetsuya itu selalu sederhana, tidak lebih. Dan ia selalu meminta itu setiap tahun pada Seijuurou.

 

“Aku tahu. Tetsuya ingin aku menghamilimu lagi, setelah putra kedua kita lahir. Iya kan?” Pukulan kecil di terima di dada Seijuurou. Kali ini Tetsuya benar-benar menggemaskan dengan bibirnya yang mengerucut.

 

“Aku serius, Sei-kun!”

 

“Tidak bisakah kau ganti permintaan konyolmu itu?” Seijuurou mendegus. Bukannya ia tidak ingin mengabulkan permintaan Tetsuya, tapi ia memang tidak bisa. Permintaan Tetsuya benar-benar tabu.

 

“Apa seberat itu permintaanku, hingga kau selalu menolaknya setiap tahun?!” Tetsuya melepas pelukan Seijuurou. Berbalik menatap kegelapan hutan malam yang di hiasi salju putih. Enggan menatap Seijuurou yang frustasi menanggapi permintaannya.

 

“Hah..” Seijuurou menghela napas lelah, sebelum berjalan mendekati Tetsuya. Dan kembali memeluk tubuh si surai biru dari belakang.

 

“Tetsuya, jika kau ingin mendominasi permainan ranjang kita, itu mustahil.” Seijuurou bisa merasakan Tetsuya mendegus kasar, dan mencoba melepaskan pelukannya.

 

“Apa Tetsuya tidak puas dengan kemampuanku, hingga kau selalu bersikeras ingin menjadi dominan?” Seijuurou membalikan tubuh Tetsuya. Hingga si surai biru kembali menatapnya.

 

“Tetsuya, takdirmu itu adalah menjadi omega.” Tangan Seijuurou bergerak menangkup pipi Tetsuya. Ia mulai menipiskan jarak, hingga hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain.

 

“Menyerahlah Tetsuya, kau hanya ku izinkan mengerang di bawah tubuhku saja.” Kali ini wajah Tetsuya semakin merona mendengar penuturan frontal dari Seijuurou. Apa menjadi top yang mendominasi Seijuurou adalah ketidakmustahilan?

 

“Aku tidak mau. Aku penasaran bagaimana jika Sei-kun yang berada di posisiku!” Tetsuya bersikeras. Manik aquamarine menatap tajam Seijuurou. Tidak mau kalah.

 

“Apa tidak cukup jika aku mengatakan mencintai Tetsuya ribuan kali sebagai ganti dari permintaan konyol mu itu?”

 

“Jika Sei-kun memang mencintaiku, kau harus mengabulkan permintaanku ini setelah bayi kita lahir. Bagaimana?” Kali ini, Seijuurou menggeram gemas. Tangan yang berawal mengelus pipi Tetsuya, kini beralih mencubit pipinya pelan.

 

“Yang hamil itu kau, Tetsuya. Masa aku yang harus beralih posisi saat bayi kita lahir nanti? Aku bukan omega yang bisa hamil, Tetsuya.” Seijuurou mendengus, saat melihat Tetsuya mengerucutkan bibir tanda tidak setuju.

 
“Kita harus mencobanya, Sei-kun! Siapa tahu incubus bisa hamil jika aku yang mencobanya. Bagaimana?”

 

“Ah.. Tetsuya benar-benar berisik.” Kepala Tetsuya kembali di tarik. Seijuurou menangkup pipi Tetsuya dengan kedua tangan. Manik heterochomianya bisa melihat manik aquamarine Tetsuya membulat, saat Seijuurou kembali menipiskan jarak.

 

“Tidak usah macam-macam, Tetsuya. Aku akan selalu menjadi dominan, dan itu absolut.” Sebelum sempat Tetsuya mengelak, bibir Seijuurou sudah menempel tepat di bibir. Mengecupnya beberapa kali, hingga membuat Tetsuya terlena. Mulut si surai biru terbuka kecil. Ia membiarkan Seijuurou melesakan lidah. Mengekspolarsi dinding-dinding mulutnya, dengan lidah lihai pria itu.

 

“Ahhh..” Erangan kecil lolos dari mulut Tetsuya, saat kedua lidah saling bertautan satu sama lain. Tetsuya membiarkan lidah Seijuurou mendominasi. Menghisap dan menjilat lidahnya beberapa kali. Hingga membuat Tetsuya hilang kendali, dan melupakan permintaan konyolnya. Sepertinya Tetsuya memang akan selalu kalah dari Seijuurou.

 

“Selamat ulang tahun, Tetsuya. Aku mencintaimu.” Seijuurou berbisik di sela-sela ciumannya. Sebelum kembali melumat bibir Tetsuya dengan penuh gebu. Membiarkan Tetsuya mengerang kecil, karena ciuman liar yang selalu Seijuurou lakukan di saat perut Tetsuya sudah membesar seperti sekarang. Tetsuya harap, mereka akan selalu bahagia seperti ini. Tidak ada pelarian lagi, dan keluarga kecil yang selalu Tetsuya harapkan bisa hidup dengan nyaman di dunia manusia.

 

FIN

 

Wkwk gaje yah? Pendek pula. Biarin lah, yang penting aku ikut merayakan ultah neng cuya *tebar kembang

 

Jaa ne. Sampai jumpa di cerita absrud lainnya.

 

Vomen?

Astia Morichan

Advertisements

Fudanshi Janai ! Chap 2| Meanie Couple | Yaoi

0

Fudanshi Janai!

R18!

Romance, Drama

Warning ! OOC, Typo’s, EYD dan Kaidah kata tidak sesuai KBBI, Absurd, YAOI, dll.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Bagaimana jadinya jika Jeon Wonwoo- si Otaku yang mengoleksi puluhan wifu beroppai besar, tanpa sengaja menemukan puluhan komik dan doujinshi Yaoi R18! Di kamar Kim Mingyu yang notabene-nya sahabat nista perotakuannya selama ini?

a/n: Sumpah ini FF iseng. Kenapa di taruh di M? Karena saya suka kebablasan ngehardcore kalo nulis otepeh. Oke. Sekian.

Kalo ada istilah yang ga ngerti. Silahkan baca di akhir cerita. Karena saya tahu. Ga semua penyuka yaoi fujoshi itu otaku yang demen ngehardcore ditemani doujinshi serta cd drama bl.

enJOY!

.

OoO

 
Jeon Wonwoo melongo seperti orang bodoh, ketika Kim Mingyu – sahabat pernistaan otaku; yang ia sangka memiliki presepsi sama dengannya; sama-sama menyukai oppai besar itu, kini harus menelan sebuah pil kepahitan bernama kenyataan. Kim Mingyu adalah Fudanshi. Sahabatnya itu adalah Fudanshi. Penyuka cerita cinta dua orang pria. Homosexual. Gay.

 

“Kau tahu Wonu-ya? Husbando ku adalah Tetsuya. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Jika kau menyukai Momoi, maka aku hanya menyukai Tetsuya dan Ryouta.” Wonwoo masih bungkam. Diam. Membiarkan Mingyu yang mulai mengoceh, sambil mengeluarkan merchandies yang tadi ia beli di Anime Lux. Astaga. Wonwoo masih tidak percaya dengan semua ini. Ia lebih memilih Momoi Satsuki yang sexy dan menggemaskan dari pada Tetsuya si phantom yang notabene- laki-laki.

 

“Aku juga sangat menyukai Nemu-chan.” Tangan Mingyu bergerak. Mengambil miniatur megane brief pantsu di depannya. “Dia adalah uke. Sama seperti mu. Dan aku menyukainya.” Dan ucapan terakhir Mingyu semakin membuat Wonwoo membulatkan matanya horor. Uke katanya? Sama seperti dirinya pula? Apa ia secara tidak langsung mengaku jika menyukai Wonwoo? Astaga! Wonwoo memang bukan seorang Fudanshi, tapi ia jelas tahu istilah uke atau pun seme. Uke adalah Bottom; yang di masuki. Dan Kim Mingyu berani menyamakan Wonwoo dengan seorang uke di komik Yaoi kesukaannya itu.

 

“M-maksudku, jika kau ada di role yaoi, tentu kau adalah uke.  Seperti Nemugasa. Apalagi jika kau memakai kacamata bulatmu itu Wonu-ya.” Mingyu tersenyum kecil pada Wonwoo, sambil membayangkan bagaimana jika Wonwoo memakai kacamata bulatnya. Jujur saja, Mingyu memang sangat suka saat Wonwoo memakai kacamata. Katakanlah Mingyu megane fetish- asalkan itu hanya berlaku bagi Jeon Wonwoo seorang.

 

“E-er.. A-apa kau gay?” Wonwoo bertanya ragu. To the point. Ia melirik ke arah lain, sambil menggaruk belakang kepalanya. Manik foxynya menatap Mingyu gugup. Sebenarnya Wonwoo tidak sanggup menerima kenyataan jika sahabatnya adalah gay. Jika Mingyu hanyalah seorang fudanshi, tentu bukan masalah. Tapi jika di tambah ia juga gay? Wonwoo tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah punya teman yang berorientasi sexual menyimpang. Jadi ini adalah kali pertama, Wonwoo berhadapan dengan salah satunya; dan itu Mingyu.

 

“B-bukan. Tentu saja bukan. Aku hanya fudanshi, Wonwoo-ya. Kau tidak perlu takut padaku. Aku bukan homosexual.” Mingyu mencoba mengelak, sambil tersenyum kaku ke arah Wonwoo. Dan usahanya berhasil. Mingyu bisa melihat Wonwoo menghela napasnya lega. Pemuda bersurai coklat itu tertawa kecil, dan meloncat ke arah Mingyu. Kemudian memeluk tubuh kokoh sahabatnya itu.

 

“Aku tahu, kau tidak mungkin gay. Syukurlah, Gyu.” Wonwoo mengeratkan pelukan. Menyelusupkan wajahnya pada dada bidang Mingyu. Tak lupa tawa geli tetap menghiasi wajah si surai coklat itu. Wonwoo tampak bahagia dengan semua presepsi yang ia punya untuk Mingyu. Setidaknya, Mingyu bukanlah seorang gay, dan Wonwoo cukup mempercayai hal itu.

 

“Y-ya.” Mingyu berujar gugup. Tangannya bergerak membalas pelukan Wonwoo sama eratnya. Mingyu selalu menyukai momen kecil seperti ini bersama Wonwoo. Walaupun ia harus menyembunyikan fakta jika dirinya adalah gay.

 

“Saa.. ” Wonwoo mengadahkan kepalanya. Menatap obsidian Mingyu dengan penuh binar.

 

“Jadi perlihatkan semua goodies yang selalu kau sembunyikan itu. Aku tahu kau tidak menyimpan goodiesmu di sini. Kau tahu? Aku selalu penasaran dengan apa yang kau beli.” Wonwoo melepas pelukannya pada Mingyu. Membuat Mingyu menghela  napas kecewa, karena kehangatan yang selalu ia dambakan hilang begitu saja.

 

“Tentu saja.” Mingyu berjalan lima meter ke depan. Langkahnya berhenti di sebuah rak buku koleksi komik shonen miliknya. Kemudian tangan Mingyu bergerak menyentuh sebuah tombol transparan yang ada di samping lemari buku; yang tertutup oleh sebuah stiker bergambar Momoi Satsuki. Menekannya pelan. Hingga beberapa detik kemudian, lemari buku itu bergeser ke arah kanan samping. Memperlihatkan sebuah pintu bercat hitam.

 

“Wow..” Wonwoo berdecak kagum melihat semua ini. Ia benar-benar tidak percaya jika Kim Mingyu mempunyai ruangan rahasia. Selama bertahun-tahun menjadi teman Mingyu, ia baru tahu jika ada sesuatu yang tersembunyi di balik rak buku.

 

“Aku menyimpan semuanya di ruangan ini.” Mingyu menekan jari telunjuknya pada screen finger yang ada tepat di samping kenop. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi ‘ting’, lalu pintu itu mulai bergeser ke arah samping.

 

Daebak..” Wonwoo berseru tak percaya melihat pemandangan yang ada di balik pintu itu. Ia mulai mendekat. Hingga Wonwoo sudah berada di depan Mingyu, dan mereka masuk ke dalam ruangan itu. Sebelum akhirnya terdengar bunyi dentingan; yang menandakan jika pintu sudah kembali tertutup.

 

Manik foxy Wonwoo menatap ke segala penjuru ruangan. Ruangan ini berisi enam rak buku yang menjulang tinggi. Tiga rak yang berisi miniatur. Satu set home theather, beserta couch panjang; yang di lengkapi dengan karpet beludru coklat di bawah. Kemudian di lengkapi juga dengan dua set komputer terbaru; yang Wonwoo yakini, di pakai oleh Mingyu untuk mengupdate info husbandonya. Di setiap dinding terpampang poster Yaoi yang sangat besar, dan juga beberapa poster husbando yang sudah Mingyu sebutkan. Satu poster bertuliskan Hidoku Shinaide, dengan gaya dua orang pria saling bergandengan tangan, dan di bawahnya tertulis Maya-Nemu, tersimpan di atas home theater. Kemudian poster besar Kuroko Tetsuya mengenakan hakama; yang menampilkan bahu mulusnya- terpampang di depan komputer. Ada juga poster yang tak kalah mengerikan seperti yang tadi Wonwoo lihat. Sebuah poster bertuliskan Caste Heaven – Karino- Azusa yang sedang blow job. Di ikuti dengan poster manhwa berjudul Killing Stalking; yang memperlihatkan Sangwoo dan Yoonbum terpajang di beberapa spot.

 

Daebak…” Wonwoo kembali bergumam pelan. Sungguh. Ia masih tidak percaya jika Mingyu separah ini. Well, walaupun ia memang tidak sama baiknya dari Mingyu, tapi Wonwoo tetap normal dengan mengoleksi para wifu; catat- Wanita beroppai. Bukan pria berotong alias berbatang.

 

Wonwoo melangkah ke arah rak buku. Mengambil satu doujinshi yang bergambar dua orang pria- yang tadi sering Mingyu sebutkan; Maya-Nemu.

 

“Kim Minseo?!” Wonwoo berteriak saat manik foxynya menatap karya doujinshi yang ia pegang. Cover doujinshi itu bergambar Maya dan Nemu yang tengah bercumbu. Doujinshi itu berjudul Back Fetish by Kim Minseo. Tidak mungkin kan jika Kim Minseo yang ia kenal juga menyukai Yaoi?

 

“Ah.. Ya. Itu adalah karya yang Seo-ya buat pertama kali. Bacalah. Adikku benar-benar berbakat.” Mingyu tersenyum bangga, sambil menceritakan tentang adiknya. Tolong catat. Kim Minseo adalah adik dari Kim Mingyu.

 

“T-tunggu sebentar..” Wonwoo berbalik ke arah Mingyu yang sekarang berdiri di belakangnya. Menatap pria itu dengan penuh kebingungan yang terpantri di wajah.

 

“M-minseo-ya juga menyukai yaoi?” Pertanyaan di jawab oleh anggukan pelan dari Mingyu. Membuat Wonwoo kembali membulatkan mata horor. Astaga! Ternyata Minseo yang sudah Wonwoo anggap sebagai adik kesayangannya juga ikut terkontaminasi oleh kakaknya yang nista itu.

 

“Kau meracuni pikiran adikmu dengan memperlihatkan koleksi mu ini!!” Wonwoo berteriak. Menuduh. Tidak terima jika Minseo yang ia tahu polos, adalah seorang fujoshi. “Kau membuat Minseo kesayanganku menjadi tidak polos lagi!!”

 

“Haha…” Mingyu tertawa lepas. Tergelak mendengar pernyataan yang Wonwoo keluarkan. Polos katanya? Adiknya itu polos dari mana? Mingyu saja tidak percaya jika adiknya itu polos. Dulu, adiknya itu juga sama gilanya. Sama-sama menyembunyikan jati diri sebagai pencinta yaoi. “Kau tertipu oleh pecitraan yang ia buat.” Tangan Mingyu terulur, mengelus surai kecoklatan milik Wonwoo. Membuat Wonwoo terdiam, dan membiarkan Mingyu menyentuhnya.

 

“Kau tahu? Dia sudah menjadi seorang Fujoshi sejak masih di kelas 2 smp. Jadi kau bisa menghitung berapa tahun dia menjadi seorang pencinta yaoi.”

 

“H-hampir empat tahun.” Mingyu mengangguk sebagai jawaban. Kemudian ia mulai berjalan ke arah home theater. Dan memilih untuk duduk di couch berwarna silver. Membiarkan Wonwoo untuk tetap melihat-lihat semua koleksi yang ia punya.

 

“Jujur. Baru pertama kali ini, aku mau membaca manga yaoi. Semua ini gara-gara kau, Gyu!” Tangan Wonwoo kembali beralih untuk mengambil lima komik bertemakan ‘Hidoku Shinaide’. Jujur saja, Wonwoo penasaran tipe husbando yang selalu Mingyu sebutkan itu sejak tadi. Padahal, sebenarnya Wonwoo lebih memilih untuk membaca manga yuri. Atau jika pun terpaksa, ia akan memilih menonton anime ova boku no pico; anime trap pertama yang ia tonton. Ah. Mengingat pico malah membuat kenangan suram bermuculan. Gadis cantik nan kawaii- berthreesome ria yang menjelma menjadi gadis berbatang.

 

“Aku akan mencoba membacanya.” Wonwoo membawa ke lima komik itu di tangan. Berjalan ke arah Mingyu yang kini tengah asik memilih beberapa kaset yang ia letakkan di meja kecil yang ada di depan home theater.

 

“Apa yang kau pilih?” Suara Wonwoo membuat Mingyu menoleh padanya. Kemudian ia membulatkan mata horor, saat melihat satu cover seorang pria bersurai cream yang memakai sarung tangan,berdiri di samping seorang pria bersurai hitam. Cover dvd itu bertuliskan “Ten Count”. Dan Wonwoo yakin, itu bukanlah dvd drama yang di layak di tonton olehnya.

 

“BL drama. Kau tahu? Aku menyukai salah satu drama bl ini. Kemarin, aku belum sempat untuk mendengarkan volume 4.” Mingyu menarik kaset itu, hingga berada di jari telunjuknya. Sebelah tangan terulur untuk menekan tombol dvd player agar terbuka.

 

Andwaee!!!” Wonwoo berteriak ke arah Mingyu. Kemudian berlari kecil ke arah pria bersurai blonde itu. Hingga tanpa sengaja, kakinya menabrak sudut meja. Hingga beban tubuh Wonwoo oleng, dan hampir terjatuh.

 

“YA!!” Suara teriakan Mingyu di barengi dengan suara gedebuk pelan, saat tubuh Wonwoo di tarik, dan terjatuh menimpa tubuh Mingyu. Wonwoo berada di atas tubuh sahabatnya itu. Dari jarak sedekat ini, ia bisa merasakan deru napas Mingyu yang hangat menerpa wajahnya. Wonwoo menikmati bagaimana wangi mint menenangkan yang menguar dari tubuh Mingyu, dan juga debaran jantungnya sendiri; yang entah kenapa berdetak tak karuan, saat sadar wajahnya dan Mingyu hanya terpaut beberapa senti. Hingga membuat Wonwoo tanpa sadar mengerjapkan mata beberapa kali, ketika obsidian milik Mingyu terus menatapnya intens. Mingyu seakan tidak ingin mengambil inisiatif untuk menarik tubuh Wonwoo agar tidak menindihnya. Dan entah kenapa Wonwoo seolah terlena, dengan pelukan Mingyu di pinggangnya. Ia nyaman dengan suasana weirdo yang tengah terjadi.

 

“Apa aku terlalu tampan, hingga kau betah memandangi wajahku, Jeon?” Suara kekehan Mingyu seakan membuat Wonwoo tersadar dari lamunannya. Wajahnya merah padam, akibat godaan menyebalkan yang di layangkan sahabatnya. Ini gila! Sepertinya otaknya sudah tidak waras akibat melihat koleksi nista milik Mingyu.

 

Aho..*” Wonwoo bergumam pelan dengan wajahnya yang merah padam. Kemudian ia mulai menarik tubuh, hingga duduk di samping Mingyu. Di ikuti dengan Mingyu yang kini duduk bersila di sampingnya.

 

“Ne,, Wonwoo-ya…” Mingyu memanggil nama Wonwoo sambil terus menatap sahabatnya itu; yang kini mulai sibuk dengan melihat-lihat isi komik yang tadi ia bawa. “Apa kau tidak penasaran?”

 

“Tentang apa?” Wonwoo menjawab. Tanpa menoleh ke arahnya. Kini Wonwoo seakan terfokus pada jalan cerita yang tengah ia baca. Mingyu bisa melihat ekspresi senyum, heran, dan ngeri tercetak jelas dari wajah pemuda itu. Membuat Mingyu tersenyum kecil. Ah. Apa ia bisa menarik Wonwoo agar masuk ke dalam perangkapnya? Jika ya, maka Mingyu tidak akan bisa mundur lagi, dan harus terpaksa menjauh jika Wonwoo akan membenci saran.

 

Mingyu mulai mempersempit jarak. Hingga bahu mereka menempel satu sama lain. Tangannya bergerak ke arah depan. Tepat ke arah komik di tangan Wonwoo; yang menampilkan Nemugasa tengah di tusuk beberapa kali oleh genital besar milik Hideyuki. Menampilkan desahan desahan, dan scene kotor di beberapa halaman ke depan.

 

“Aku penasaran kenapa mereka terlihat menikmatinya.” Mingyu merasa oksigen di ruangan ini mendadak hilang, saat ia berhasil mengucapkannya. Hening. Tidak ada suara atau jawaban dari Wonwoo. Mingyu hanya bisa mendengar bunyi kertas di buka.

 

“Ya, aku juga penasaran. Kau lihat ini?” Wonwoo menarik komik yang di pegang agar Mingyu bisa melihatnya. Kini komik itu menampilkan bagaimana besarnya genital yang di milik oleh Hideyuki.Penis pria ini benar-benar besar! Bagaimana mungkin itu bisa masuk ke dalam lubang pantat yang kecil? Aku tidak mengerti. Sungguh.” Wonwoo mengoceh. Mengeluarkan kembali pertanyaan- pertanyaan pada Mingyu, sambil tetap memperlihatkan scene yang ada di komik itu.

 

“Lalu ini, kau lihat? Bagaimana mungkin jika ia bisa mendesah keenakan, saat putingnya di gigit dan di pilin seperti itu? Aku saja jika onani tidak pernah memainkan putingku.” Kemudian tangan Wonwoo kembali beralih ke volume empat. Ia mulai melanjutkan pertanyaan yang akan di ajukan pada Mingyu.

 

“Aku tahu, jika plot cerita ini memang bagus, di tambah pretty art dari authornya. Tapi sungguh aku tidak mengerti dengan bagian yang ini, Gyu.” Wonwoo menunjukan satu scene di mana Hideyuki tengah melijat lubang pantat milik Nemugasa. “Bagaimana bisa pria itu menjilat lubang pantat? Bukankah itu menjijikan, Gyu? Tapi kenapa mereka terlihat menikmatinya?”

 

Entah Mingyu harus tertawa, atau miris mendengar pertanyaan polos yang Wonwoo keluarkan. Wonwoo itu rajin onani dan berdelusi dengan yeoja dua dimensi, tapi tidak mengerti dengan hal berbau sex pria dan pria. Ah. Sepertinya rencana Mingyu akan berjalan dengan lancar. Wonwoo penasaran dengan semua itu.

 

“Ehhm..” Mingyu berdehem pelan, sebelum menarik tangan Wonwoo. Pemuda bersurai blonde itu menarik tubuh Wonwoo dalam satu gerakan cepat. Hingga membuat si surai coklat memekik pelan, karena entah bagaimana caranya, kini ia sudah duduk mengangkang di pangkuan Mingyu.

 

“Jika kau penasaran, kenapa kau tidak mencoba hal seperti itu bersamaku, Wonu-ya?” Bisikan seduktif di layangkan Mingyu pada telinganya. Membuat tubuh Wonwoo bergetar pelan akibat sensasi yang pertama kali ia rasakan. Apalagi ketika tubuh mereka benar-benar menempel erat, dan menghantarkan rasa panas yang menjalar.

 

“Jika kau ingin tahu, kita bisa melakukan semua kegiatan yang ada di komik itu agar rasa penasaranmu terjawab. Bagaimana?” Dan Mingyu bisa mendengar bagaimana debaran jantung miliknya berpacu dengan cepat, ketika mulut Wonwoo mulai terbuka kecil, untuk menjawab pertanyaan yang Mingyu ajukan.

 

“A-aku—“

 

Tebece

Wkwkwk

 

  • Aho : Baka; Bodoh
  • Yuri : Girl X Girl
  • Fujo : yah macem kita ini apa. Cewe nista nan poloz yang demen humu.

 

 

Anjayy gue ga tau kenapa ini jadinya kayak gini. Seriusan, ini hanya ff iseng. Ga ada plot cerita. Hanya berjalan ketika gue tiba-tiba stress dan malah lanjutannya kek gini.

Ga suka? Jangan baca. Gue ga maksa. Toh gue nulis Cuma buat asupan gue sendiri.

 

Oh iya, buat iwtbas sama caste heaven udah gue publish ulang. Yang di FFN gue hapus. Dan yang di wattpad gue private dari chap 3. Sumpah gue males liat siders, jadi gue private. Jadi biarkan followers yang baca. Wkwk

 

Tbh kenapa gue private? Satu. Karena kedua ff itu menurut gue nista. Kalo ga nista2 amat mah. Gue jg bakal di open. Sayangnya otak gue sengklek pas buat kedua cerita itu. Jadi dah gitu.

 

Vomen ?

Astia Morichan

 

 

Blue Neighbourhood | Ch 1| AkaKuro

0

Ps: Cerita ini itu bakal OOC, Yaoi, Typos, cerita pasaran. Dll. Kalau ga suka, silahkan minggat!

.

oOo

.

Bocah bersurai biru itu tengah duduk di depan teras rumah. Kuroko Tetsuya sedang menatap lalu lalang beberapa orang yang menarik semua fokusnya. Manik aquamarinenya ikut memperhatikan orang-orang yang mengangkut barang yang di masukan ke dalam kotak. Lalu masuk ke rumah minimalis yang berada tepat di depan rumahnya. Tetsuya pikir, sepertinya mereka adalah orang yang akan menempati rumah itu. Rumah yang ada di depannya itu sudah kosong selama satu bulan. Itu artinya, mereka yang sedang berkemas akan menjadi tetangga baru bagi keluarga Tetsuya. Ia harap, akan ada bocah yang seumuran dengannya ikut pindah ke kompleks ini. Tapi sepertinya ekspektasi tidak sesuai dengan realita yang ingin Tetsuya capai. Tidak ada satu bocah pun yang keluar dari rumah itu. Padahal sudah satu jam penuh, Tetsuya menunggu di depan teras dengan duduk bersila menatap kerumunan tetangga barunya.

 

“Hah.. Tidak ada..” Helaan napas kecewa terdengar dari si surai biru. Yah. Tetsuya memang kecewa. Ia butuh teman, karena tidak pernah ada satu pun yang mau berteman dengan Tetsuya karena sifat Tetsuya yang terlalu dingin.

 

“Apa yang tidak ada?” Suara bariton tiba-tiba menggema di sampingnya. Membuat Tetsuya tersentak kaget, sampai tubuhnya mundur kebelakang. Sosok bocah bersurai crimson dengan manik heterchomia yang menatapnya tajam itu, kini duduk di samping Tetsuya.

 

“S-siapa ?” Dahi si surai biru mengerut bingung. Tetsuya bertanya dengan gugup pada bocah bersurai crimson itu. Pasalnya, Tetsuya tidak pernah melihat bocah itu sebelumnya.

 

“Akashi Seijuurou.”Bocah bernama Seijuurou itu tersenyum kecil pada Tetsuya. Senyuman yang mampu membuat Tetsuya terhipnotis, dan tidak bisa mengalihkan fokusnya lagi dari sosok bocah yang seumuran dengannya itu.

 

“Aku baru pindah. Itu rumahku.” Tangan Seijuurou menunjuk sebuah rumah yang ada di depan Tetsuya. Kemudian manik heterechomia kembali menatap Tetsuya yang masih terdiam menatapnya. “Dan siapa namamu?”

 

“E-eh?” Tetsuya kembali tersentak kaget. Sebelum akhirnya menundukkan kepala. Malu. Karena sejak tadi terus menatap Seijuurou. “Kuroko Tetsuya.”

 

“Baiklah. Mulai saat ini kita berteman.” Seijuurou berdiri di hadapan Tetsuya. Mengulurkan tangan ke arah si surai biru. Membuat Tetsuya mendongak ke arahnya, sebelum menyunggingkan senyuman bahagia di wajah. Ia menyambut uluran tangan Seijuurou. Menggenggamnya dengan erat. Tetsuya bahagia. Sekarang, impiannya terwujud. Mempunyai teman pertama dalam hidupnya- Akashi Seijuurou; yang akan selalu menemani Tetsuya dalam keadaan apapun.

.

oOo

.

 

a/n: Ini tuh ngga akan panjang. Paling three shot lah, sama kayak perpartnya Blue Neighbourhood Troye. Kalau ceritanya pasaran, saya harap kalian memaklumi. Karena cerita ini, memang berdasarkan MV Troye Sivan. Tapi seengaknya kan ini lumayan, kalau buat asupan. Iya ga? Karena asupan Akakuro sekarang itu lagi langka. Sampe buat kokoro sedih aja :’)

 

enJOY!

.

 

Kuroko Tetsuya tengah memandangi pemandangan lapangan sekolah lewat jendela yang ada di kelas atas. Hari sudah sangat sore, dan hanya ada Tetsuya sendiri di ruangan kelas kosong ini. Tetsuya sangat suka melihat pemandangan sore dari atas sini. Ia bisa melihat betapa luas sekolahnya, dan juga burung-burung yang melintas di bawah langit sore yang berpadu dengan warna orange.

 

Sreett

 

Suara pintu geser yang terdengar terbuka, mengalihkan segala fokus Tetsuya. Ia menoleh ke arah depan. Tepat ke arah pintu yang kini menampilkan sosok Akashi Seijuurou di sana. Pemuda bersurai crimson itu tersenyum ke arah Tetsuya. Membuat Tetsuya kembali merasakan debaran di dadanya. Sudah hampir sepuluh tahun, ia bersama Seijuurou. Tapi debaran itu akan selalu terasa saat bersama pemuda yang sudah menjadi sahabat. Sekaligus kekasihnya selama enam bulan terakhir ini.

 

“Maaf membuatmu menunggu.” Seijuurou mendekat ke arah Tetsuya. Kemudian ia mulai menarik kursi, dan duduk di hadapan Tetsuya.

 

“Apa kau bosan sendirian?” Tangan Seijuurou terulur untuk menyentuh surai biru Tetsuya yang terasa sangat lembut di tangannya.

 

“Tidak, Sei-kun.” Tetsuya menggeleng sebagai jawaban.

 

“Ayo kita pulang. Kita masih harus menyelesaikan tugas fisika yang di berikan Kiyoshi Sensei barusan.” Seijuurou mulai berdiri, dan mengulurkan tangannya pada Tetsuya. Beberapa detik kemudian, uluran tangannya di sambut oleh si surai biru. Tetsuya berdiri, dan menggengam tangannya dengan erat. Mereka mulai berjalan bergandengan keluar dari kelas. Melewati koridor yang sepi. Tidak ada yang akan melihat mereka di saat sekolah sudah menjadi sepi. Jadi mereka bebas mengumbar kemesraan barang sebentar. Karena mereka tahu, hubungan sesama pria di negara ini masihlah tabu. Seijuurou dan Tetsuya hanyalah pasangan yang mencoba melewati garis yang sudah berikan.

 

.

oOo

.

Tetsuya mengerucutkan bibirnya saat melihat deretan rumus tentang hukum archimides dan fluida statis. Sungguh, Tetsuya tidak suka dengan semua teori yang menyangkut di fisika. Kenapa harus ada fisika di dunia ini? Rasanya, Tetsuya ingin menghujat siapapun yang menciptakan rumus menyebalkan seperti fisika.

 

“Ck. Tetsuya, ini mudah.” Tetsuya memutar bola matanya bosan. Ya, tentu saja. Bagi Seijuurou yang mempunyai otak jenius, pasti segalanya mudah. Tidak seperti Tetsuya yang harus mempelajarinya berkali-kali baru mengerti.

 

“Aku tidak suka. Ini menyusahkan.” Tetsuya mendorong bukunya ke arah Seijuurou, dan ia memilih untuk melipat kedua tangan, sebagai bantalan kepalanya di atas meja. Tetsuya lebih memilih untuk memperhatikan raut wajah tampan Seijuurou yang serius dari pada melihat rumus-rumus yang mampu membuat matanya iritasi dalam sekali lihat.

 

“Aku akan mengajarimu setelah ini.” Dan Seijuurou kembali berkutat pada soal-soal. Mengabaikan Tetsuya sendiri, yang kini mengalihkan seluruh fokusnya untuk memandangi wajah tampan Seijuurou. Tetsuya suka momen seperti ini. Tetsuya pikir, ia dapat bertahan hidup meski hanya memandangi wajah Seijuurou saja. Bagi Tetsuya, Seijuurou adalah segalanya.

 

“Sei-kun…” Tetsuya memanggil Seijuurou dengan pelan. Tapi panggilannya hanya di jawab oleh deheman pelan dari kekasihnya itu.

 

“Seijuurouu…”

 

“Hm?”

 

“Pilih aku atau fisika?”

 

“Fisika.” Dan Tetsuya mengerucutkan bibirnya kesal mendengar jawaban Seijuurou. Bagaimana bisa Seijuurou memilih fisika dari padanya dirinya yang nyata?

 

“Kau sama menyebalkannya dengan fisika, Sei-kun!” Tetsuya memberenggut. Kali ini, ia memilih untuk berdiri, dan berjalan ke arah ranjang king size Seijuurou. Berbaring di sana, sambil menutup mata. Enggan untuk melirik kembali Seijuurou sedikitpun.

 

“Kau tetap harus mempelajari hukum Pascal, Tetsuya. Aku akan memaksamu agar mengerti semua teori ini.” Seijuurou menyunggingkan sebuah senyuman tipis, ketika melihat rajukan yang Tetsuya lakukan di ranjangnya.

 

“Ya. Ya. Terserah Sei-kun saja. Aku akan tidur.” Dan Tetsuya berbalik memunggungi Seijuurou. Ia lebih memilih untuk memeluk guling kekasihnya dengan erat. Mencium wangi mint yang menguar di fabrik guling itu. Wangi yang sama dengan milik Seijuurou. Membuat Tetsuya seperti memeluk Seijuurou sekarang.

 

“Kau tidak boleh tidur, Tetsuya. Selesaikan tugasmu.” Seijuurou menghela napasnya. Ini yang susah. Membujuk Tetsuya agar mengerjakan tugas adalah hal paling sulit.

 

“Aku akan menyontek hasil pekerjaanmu saja. Kau pacarku, jadi tidak boleh pelit.” Tetsuya membalasnya, dan hal itu semakin membuat Seijuurou gemas bukan main. Dengan pelan, ia mulai berdiri dari duduknya. Berjalan menghampiri Tetsuya yang masih memeluk guling, ketimbang melihat ke arah Seijuurou . Si surai crimson itu kini sudah duduk di samping ranjang. Tangannya terulur untuk menyentuh surai biru Tetsuya.

 

“Aku akan mentraktirmu dua vanilla shake, jika kau mengerjakan prmu. Hanya sepuluh soal, Tetsuya.” Seijuurou menundukan kepala, dan berbisik pelan di telinga kekasihnya itu. Bisikan seduktif yang di hadiahi kecupan di sekitar telinga. Manik heterechomianya bisa melihat warna merah menjalar di sekeliling telinga Tetsuya. Walau Tetsuya masih enggan melihatnya, tapi Seijuurou tahu, kekasihnya itu tengah merona sambil menimang pilihan.

 

“Tidak mempan, Sei-kun. Aku lebih memilih tidur dan memeluk gulingmu seperti ini, dari pada mengerjakan soal mengerikan itu.”

 

“Tetsuya benar-benar keras kepala.” Kali ini, Seijuurou ikut membaringkan tubuhnya di samping Tetsuya. Tangannya bergerak untuk menarik Tetsuya dan memeluk si surai biru dari belakang. Hingga membuat Tetsuya memekik, saat Seijuurou membalikkan tubuhnya. Kini, wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Sekarang, Tetsuya bisa merasakan napas hangat Seijuurou menggelitik permukan wajahnya.

 

“Kerjakan tugasmu, atau kau lebih memilih agar aku memakanmu, Tetsuya?” Seijuurou menyeringai, dan hal itu membuat Tetsuya menelan salivanya dalam. Ah. Seijuurou bermain curang.

 

“B-baiklah, aku akan mengerjakannya.” Dengan wajah yang merona, Tetsuya mengangguk patuh.

 

“Good boy.” Dan selanjutnya, Tetsuya bisa merasakan dagunya di tarik. Hingga membuatnya mengadah ke arah Seijuurou. Manik aquamarine bertemu dengan heterchomia yang menatapnya intens penuh godaan. Sebelum akhirnya sebuah benda lunak menempel di bibir plum Tetsuya. Seijuurou mengecup bibirnya pelan, dan melumatnya beberapa kali. Kemudian melepaskan pautan bibirnya dengan singkat. Hingga membuat Tetsuya menghela napas kecewa akibat kecupan singkat itu.

 

“Ayo, Tetsuya.” Seijuurou mulai beranjak dari ranjang, dan kembali duduk di meja persegi yang beralaskan karpet beludru. Di ikuti dengan Tetsuya yang tengah merona, duduk di depan Seijuurou. Si surai crimson kembali menyodorkan buku tulis Tetsuya. Membuat Tetsuya mendengus saat kembali menatap bukunya.

 

“T-terangkan semuanya padaku, Sei-kun.” Tetsuya bisa melihat Seijuurou menyunggingkan sebuah senyum tipis. Sebelum menarik napas, dan mulai menjelaskan pada Tetsuya.

 

“Ingat rumusnya Tetsuya. F adalah gaya, lalu A adalah luas permukaan. Jika Gaya x1 di bagi dengan Luas permukan y1, lalu berbanding sama dengan Gaya x2 dan permukan y2. Lalu kau tinggal memasukan semua angka pada rumus ini.” Seijuurou mulai menjelaskan secara detail, dan Tetsuya mengikuti gerak gerik tangan Seijuurou di kertasnya.

 

“Kenapa terlihat sulit, Sei-kun? Aku lebih memilih memperhatikan Akashi Seijuurou dari pada rumus menyebalkan ini.” Tetsuya kembali mengerucutkan bibir. Dan Seijuurou malah mengacak surai birunya. Membuat Tetsuya mendengus kesal.

 

“Apa yang harus aku lakukan agar Tetsuya bersemangat?” Manik aquamarine berbinar, saat mendengar pertanyaan menggiurkan yang di tawarkan Seijuurou.

 

“Aku ingin menginap di kamarmu malam ini. Bagaimana?”

 

“Apa Tetsuya tidak takut, jika aku memakanmu saat tengah malam?” Dan si surai biru kembali mengerucutkan bibir. Bukan karena alasan tidak berguna Tetsuya meminta hal ini. Ia hanya malas jika tinggal di rumah. Karena Tetsuya tidak akan pernah tidur nyenyak akibat kedua orang tuanya selalu bertengkar.

 

“Aku serius Sei-kun. Aku tidak mau pulang malam ini.”

 

“Kenapa? Karena orang tuamu lagi?” Tetsuya hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian ia bisa merasakan rambutnya di elus dengan pelan. Seijuurou mengelusnya lembut. Sentuhan kecil dari kekasihnya itu mampu membuat Tetsuya melupakan semua masalah yang ia pikirkan.

 

“Baiklah. Tetsuya akan menginap. Tapi setelah pr kita selesai.” Dan Tetsuya mengangguk penuh antusias. Kemudian ia mulai serius untuk kembali berkutat pada tugas yang di berika Kiyoshi Sensei. Kali ini, Tetsuya tidak mengalihkan fokus saat Seijuurou menerangkan teori pascal. Tetsuya serius memperhatikan kekasihnya itu, agar tugas fisika ini cepat selesai. Lalu ia bisa tidur nyenyak, dengan Seijuurou yang memeluk tubuhnya.

 

.

oOo

.

 

Tetsuya berbaring di ranjang Seijuurou dengan senyum yang masih bertengger di wajah manisnya. Ia bergelung ke dalam selimut putih, dan berbaring di pojokan. Manik aquamarinenya menatap langit-langit kamar. Jika seperti ini, Tetsuya akan selalu mengingat masa kecilnya bersama Seijuurou dulu. Ketika mereka kecil, Tetsuya sering sekali bermain di kamar Seijuurou. Tidur bersama, bermain game bersama, dan melakukan semuanya berdua. Sejak dulu. Bahkan sampai sekarang kegiatan itu tidak berubah. Kecuali kegiatan bermandikan keringat di atas ranjang sebagai tambahan.

 

“Melamun?” Suara bariton Seijuurou membuyarkan fokus Tetsuya. Manik aquamarinenya bisa melihat sosok Seijuurou yang sudah duduk di samping ranjang. Seijuurou hanya mengenakan celana boxer pendek, dan kaos merah yang membalut tubuh bidangnya. Rambut crimsonnya yang basah di usap oleh handuk yang bertengger di sekeliling leher. Membuat kesan menggoda tersendiri bagi Tetsuya yang tengah menatapnya. Kini Tetsuya bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan ia terpesona dan berbalik haluan pada Seijuurou?

 

“Tidak. Aku hanya mengingat masa kecil kita dulu.” Tetsuya mulai terduduk bersila di ranjang. Kini ia berhadapan dengan Seijuurou. “Rambutmu. Akan ku keringkan.” Tangan Tetsuya terulur untuk menarik handuk yang bertengger di leher Seijuurou. Kemudian menyuruh Seijuurou untuk duduk bersila dan berhadapan dengannya. Seijuurou terkekeh pelan, dan menatap Tetsuya geli.

 

“Kau rindu aku manjakan seperti dulu, Tetsuya?” Dan kali ini, Seijuurou bisa merasakan rambutnya di jambak pelan oleh Tetsuya. Seijuurou heran, kenapa Tetsuya bisa seanarkis ini saat mereka bersama. Padahal, jika di luar Tetsuya adalah sosok yang pendiam.

 

“Dulu, Tetsuya selalu mengikutiku kemana-mana. Dan kau tidak pernah mau aku tinggalkan.” Seijuurou tersenyum kecil saat mengingat bagaimana kenangan kecil mereka.

 

“Apa sejak dulu Tetsuya sudah begitu menyukaiku?” Dan wajah Tetsuya memerah akibat pertanyaan itu. Membuat Seijuurou gemas bukan main. Ia menarik tubuh Tetsuya untuk duduk mengangkang di pangkuannya. Ini adalah posisi yang paling Seijuurou suka saat mereka berdua. Ia bisa melihat dengan jelas wajah merona kekasihnya itu dari jarak dekat.

 

“Kau terlalu percaya diri, Sei-kun.”

 

“Sepertinya memang benar. Kau saja dulu menolak pernyataan cintaku, saat pertama kali. Sepertinya hanya aku yang mencintai Tetsuya sejak kecil.” Seijuurou menyeringai kecil, saat melihat manik aquamarine Tetsuya membulat. Sungguh, ia suka saat menggoda kekasihnya itu.

 

“Ahh.. Sei-kun terlalu berisik.” Setelahnya, Seijuurou bisa merasakan bibir Tetsuya menempel di bibirnya. Sepertinya Tetsuya-nya sedang dalam mode liar. Terbukti dengan lumatan penuh gebu yang kekasihnya itu lakukan. Tetsuya menjilat bibirnya, hingga Seijuurou membuka mulut, dan membiarkan lidah Tetsuya bergerak untuk membelai lidahnya. Kini Lidah Seijuurou ikut bergerak untuk membalas ciumana kekasihnya itu. Lidah panasnya menyentuh dinding-dinding mulut Tetsuya, dan membelit lidah kekasihnya yang mencoba menjadi dominan dalam ciuman mereka.

 

“Emmhhh…”Tetsuya mengerang dalam ciumannya, saat merasakan tangan Seijuurou membelai lembut punggungnya. Membuat darahnya berdesir, akibat sensasi yang Seijuurou berikan. Sungguh, Tetsuya suka semua sentuhan Seijuurou, walau ia harus kalah dalam ciuman itu.

 

“Hah.. Hah..” Tetsuya menarik napasnya, saat tautan bibir mereka terlepas. Dadanya naik turun, untuk menghirup oksigen yang telah berhasil Seijuurou curi. Manik aquamarinenya bisa melihat Seijuurou yang tersenyum penuh kemenangan.

 

“Sebaiknya kita tidur. Aku tidak mau memakanmu malam ini, karena sudah di pastikan jika besok Tetsuya akan menggerutu di sekolah karena tidak bisa berjalan dengan benar, jika aku benar-benar menerkammu malam ini.” Seijuurou menarik tubuh Tetsuya. Kemudian membaringkannya di ranjang. Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Tetsuya. Di ikuti dengan Seijuurou yang berbaring di samping si surai biru. Tangannya bergerak untuk menarik Tetsuya kedalam dekapan hangatnya.

 

“Jangan pernah meninggalkanku, Sei-kun.” Tetsuya bergumam, dan menyamankan posisinya di dada Seijuurou. Ia mulai memejamkan mata, setelah merasakan kecupan yang Seijuurou hadiahkan di kening.

 

“Tentu. Aku mencintaimu, Tetsuya. Sekarang tidurlah.” Seijuurou mengeratkan pelukannya di pinggang Tetsuya. Manik heterechomia mulai tertutup dengan perlahan. Menghantarkan keduanya ke dalam mimpi indah.

 

TeBeCe

Gaje ye?

 

Jadi ini itu semacam FF OneShot bersambung/? Lah apa. Pokoknya gitu, berlanjut aja. Wkwk

Pendek? Biarin ah. Lagian aku sendiri butuh asupan makanya buat cerita ini, terus di post. Biar di baca sendirian pas lagi gabut. Wkwk

 

Bye.

 

Vomen?

Astia Morichan

 

Nephilim | Chap 3| Meanie Couple

0

Bocah bersurai coklat menampilkan sebuah senyuman lebar saat melihat sosok wanita tua yang membawa nampan berisi cookies. Ia baru saja mengangkat cookies itu dari oven. Manik foxy si surai coklat– Jeon Wonwoo menatap penuh binar ke arah kue yang sedang neneknya hidangkan di atas meja. Wonwoo selalu suka momen seperti ini. Ah. Lebih tepatnya ia sangat menyukai cookies yang neneknya buat. Apalagi nenek Wonwoo- JinYoung selalu membuat kue favoritnya ketika ia pulang sekolah. Seperti sekarang. Aroma kue menyebar di sekeliling dapur, dan membuat perut Wonwoo bersorak senang karena lapar.

 

“Ne.. Wonu-ya.. kenapa tidak ganti baju dulu, hm?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan lembut, saat melihat Wonwoo berlari ke arahnya dan duduk di meja makan dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Bocah itu menatapnya dengan tatapan berbinar yang selalu membuat Jinyoung luluh. Kemudian ia mulai melepaskan sarung tangan beserta celemek yang membalut tubuh rampingnya. Di simpan celemek dan sarung tangan di samping nakas yang berada di belakang. Lalu ia mulai berjalan ke arah Wonwoo, dan menyodorkan piring berisi kue kesukaan si coklat, beserta susu vanilla favoritnya.

 

“Aku ingin memakan kuenya sekarang, halmonie.” Wonwoo mempoutkan bibirnya. Ia mulai merajuk dan memberikan tatapan memohon pada sang nenek. Membuat wanita tua bersurai hitam itu terkekeh dan mengelus surai coklat Wonwoo.

 

“Baik. Wonu bisa memakannya jika menuruti permintaan nenek kali ini. Bagaimana?” Jinyoung berjongkok di samping bocah sd itu. Membuat Wonwoo menatap bingung Jinyoung dengan alis bertaut tidak mengerti. Jarang sekali Jinyoung seperti ini.

 

“Memangnya nenek mau meminta apa dari Wonu ?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap bingung sang nenek yang sekarang malah mencubit pipi Wonwoo dengan gemas.

 

“Wonu tidak boleh bertemu lagi dengan Chanyeol Ahjussi.” Manik foxy bocah itu membulat tanda tidak setuju. Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo tidak mau menuruti permintaannya kali ini. Apalagi dengan Chanyeol- sang Lucifer keras kepala yang ingin membawa pergi Wonwoo. Jinyoung tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya. Apalagi membiarkan seorang malaikat pembelot mengurus Wonwoo.

 

“E-eh? Kenapa tidak boleh? Chanyeol Ahjussi sangat baik pada Wonwoo. Aku tidak ingin menuruti permintaan halmonie.” Wonwoo melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut di sertai delikan tak suka yang ia berikan pada Jinyoung.

 

“Chanyeol Ahjussi itu sangat berbahaya. Apa Wonwoo ingin tahu siapa sebenarnya Chanyeol Ahjussi?” Penawaran sang nenek terdengar menggiurkan bagi Wonwoo. Jinyoung bisa melihat Wonwoo kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh keingintahuan tercetak jelas di manik foxy bocah itu.

 

“Memangnya kenapa dengan Chanyeol Ahjussi?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan sendu. Tangannya kembali terulur untuk mengelus pipi Wonwoo dengan lembut. Jinyoung tentu sangat mengerti jika Wonwoo merindukan sosok ayah. Chanyeol datang dan mengaku sebagai paman jauh Wonwoo. Lalu ia sering mengajaknya bermain setiap hari. Tentu saja Jinyoung sangat khawatir jika Chanyeol membocorkan identitas sebenarnya pada Wonwoo, jika ia adalah ayah dari si surai coklat. Jinyoung sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia hanya ingin Wonwoo menjadi manusia normal seperti temannya yang lain. Kehadiran Chanyeol hanya akan menjadi pengaruh buruk untuk Wonwoo. Kekuatan Wonwoo akan semakin berkembang jika Chanyeol selalu berada di dekatnya. Jinyoung tidak ingin Wonwoo mempunyai kekuatan para malaikat.

 

“Halmonie akan menceritakan semuanya pada Wonwoo. Tapi setelah itu, Wonu tidak akan ingat apapun lagi. Bagaimana?” Kembali, manik foxy itu membelalak, dan memberenggut tidak setuju. Wonwoo kembali menunjukan aksi tidak setuju atas apa yang Jinyoung ucapkan.

 

“Jika Wonwoo tidak menurut, Halmonie tidak akan memberikan Wonu cemilan lagi.” Piring berisi cookies di ambil kembali dari hadapan Wonwoo. Membuat bocah itu kembali mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya mulai mengangguk tanda setuju. Lagi pula, Wonwoo bisa bertemu secara sembunyi dengan Chanyeol nanti. Lalu ia tidak akan mungkin melupakan semua yang di ceritakan neneknya. Wonwoo itu pintar. Ia akan ingat dalam sekejap ucapan Jinyoung nanti.

 

“Arraseo. Aku mengerti. Sekarang ceritakan tentang Chanyeol Ahjussi, dan juga berikan cake itu padaku.” Wonwoo bisa melihat Jinyoung tersenyum dengan lebar kali ini. Ia yakin, jika Jinyoung sangat senang karena keputusannya itu. Kemudian Jinyoung mulai menarik kursi di samping Wonwoo, dan duduk di sana. Membuat Wonwoo menoleh pada wanita tua itu yang sekarang menghela napasnya pelan, sebelum memulai ceritanya.

 

“Ne.. Apa Wonu percaya dengan malaikat? Lalu dengan Iblis, dan juga Tuhan?” Jinyoung menatap ke arah Wonwoo dengan tajam. Membuat bocah itu gugup, karena ini adalah kali pertama Jinyoung menjadi serius seperti ini. Biasanya, neneknya itu akan selalu tersenyum dan memberikan guyonan yang membuat Wonwoo tertawa lepas. Bukannya bertanya hal aneh seperti ini.

 

Dahi Wonwoo mengernyit pelan. Mencoba untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di berikan dari Jinyoung. Bocah bersurai coklat itu mengetukkan jari pada ujung meja dengan mata tertutup. Berharap akan menemukan jawabannya. Wonwoo tentu sangat percaya jika Tuhan itu ada. Lalu tentang iblis dan juga malaikat tentu ada. Wonwoo belajar semua itu setiap hari minggu di Gereja. Ia bukanlah seorang atheis. Jadi tentu saja Wonwoo percaya. Walaupun ia sama sekali belum pernah bertemu malaikat dan iblis dengan matanya sendiri.

 

“Ya. Pastor Michael bilang padaku jika malaikat dan iblis juga nyata. Aku juga belajar banyak tentang para malaikat dan Iblis yang mengganggu manusia.” Dahi Wonwoo mengernyit. Berusaha untuk kembali mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

“Tapi Halmonie.. Chanyeol Ahjussi pernah berkata jika aku adalah seorang Nephilim, dan aku harus menyembunyikan kekuatanku agar Verchiel (1) tidak menemukan keberadaanku.” Badan wanita tua itu menegang. Matanya membulat, menatap Wonwoo kaget. “Ne.. Apa kau tahu maksud dari Chanyeol Ahjussi? Nephilim itu apa?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap Jinyoung penuh tanya. Berharap Jinyoung bisa menghilangkan rasa penasarannya selama beberapa hari terakhir. Karena Wonwoo memang tidak mengerti tentang peringatan dari Chanyeol. Ketika ia ingin bertanya lagi tentang hal itu, Chanyeol malah pergi meninggalkannya. Bahkan sampai sekarang Wonwoo belum bertemu dengan pria itu lagi.

 

Jinyoung menelan salivanya dalam. Ia mencoba kembali menetralkan emosi yang tercetak di wajahnya. Kali ini, Jinyoung harus menjelaskan semuanya pada Wonwoo. Lalu membuat bocah itu melupakan segala hal tentang Lucifer brengsek itu, dan juga memberikan Wonwoo pelindung agar ia tidak akan bisa melihat lagi sosok Lucifer selamanya, juga pengikut Lucifer yang mengincar Wonwoo. Jinyoung juga tidak ingin jika Wonwoo di incar oleh Verchiel, atau Gabrielle. Cucunya itu sama sekali tidak bersalah jika terlahir menjadi seorang Nephilim.

 

Tangan Jinyoung terulur untuk menyentuh surai coklat Wonwoo. Membuat bocah itu mengerjapkan matanya bingung.

 

“Wonwoo adalah seorang Nephilim. Setengah malaikat, dan ayah Wonwoo adalah Lucifer yang merupakan malaikat pembelot. Ia adalah Chanyeol.” Jinyoung bisa melihat Wonwoo membelalakan matanya kaget. Tentu Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo masih mencoba mencerna semua yang ia jelaskan secara singkat. Tapi sebelum Wonwoo mengerti segalanya, Jinyoung akan membuat bocah itu kembali lupa. Wonwoo tidak boleh mengingat apa yang ia ucapkan.

 

Tangan Jinyoung bergerak ke samping leher Wonwoo, dan menekan keras selangka leher Wonwoo. Membuat bocah itu menjerit kaget saat merasakan sebuah cahaya berkumpul di lekukkan lehernya. Pelindung cahaya mulai mengelilingi tubuh Wonwoo. Pelindung yang Jinyoung buat, akan membuat Lucifer, Verchiel, dan segala makhluk lainnya tidak dapat menyadari keberedaaan Wonwoo. Pelindung itu juga yang membuat Wonwoo kehilangan kesadaran dirinya, dan juga kehilangan beberapa kilasan ingatannya tentang Chanyeol.

 

“Maafkan aku, Wonu-ya.” Tubuh kecil itu terjatuh dalam pangkuan Jinyoung. Semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan Wonwoo. Ini adalah cara yang terbaik agar Wonwoo selamat.

 

 

Nephilim

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

a/n: Saya ingatkan. Lucifer itu bukan iblis yah awalnya. Lucifer itu adalah malaikat pertama yang di usir Tuhan dari surga. He’s fallen.

Semua chara yang masuk di sesuaikan dengan bias dan otp saya. wks

Strata dunia nanti ah. Belum secara menyeluruh ada kok di chap ini.

Kenapa marganya beda-beda padahal jun ama wonu dan chan itu se ayah? Well, saya jelaskan nanti. Ini masihlah chap awal. Penjelasan berlanjut sebagaimana cerita berjalan.

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

  • Some angels destinied to Fall –  

 

.

 

.

oOo

.

Tubuh pemuda bersurai coklat itu menegang dengan mata membulat kaget saat mendengar semua penjelasan dari pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang melekat di tubuhnya. Pria itu bernama Wen Junhui; yang mengaku sebagai kakak kandung dari Wonwoo. Kemudian pria yang sekarang mengenakan pakaian layaknya seorang raja di zaman Arthur yang pernah Wonwoo tonton itu menunjukkan suatu hal yang tidak dapat Wonwoo percaya.

Saat tangan Jun terulur untuk menyentuh bahu Wonwoo, ia mulai merasakan kilasan ingatan di dalam otaknya. Ingatan itu meluap dengan cepat bagaikan kilasan film yang membuat kepala Wonwoo pening. Wonwoo ingat semuanya. Ia ingat bagaimana neneknya selalu mengelak jika ia bertanya dimana Chanyeol, dan kenapa neneknya membenci Chanyeol. Lalu dengan hadirnya Mingyu; yang memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim. Sekarang semuanya menjadi terhubung, dan Wonwoo tahu siapa dirinya. Ia adalah Nephilim- makhluk setengah malaikat yang berasal dari Lucifer– Sang malaikat pembelot pertama. Jujur saja, ini semua masih seperti mimpi buruk untuk Wonwoo. Ia sulit untuk mempercayai semua hal yang tidak masuk logika. Semua kejadian yang menimpa Wonwoo tidak masuk di akal.

 

“A-aku tidak mengerti.” Wonwoo tergugup. Ia memundurkan badannya perlahan menjauh dari Jun. Kepalanya menggeleng tanda tidak setuju dengan semua kilasan memori yang Jun berikan padanya.

 

“Kau adalah adikku. Putra dari Lucifer, walaupun kau hanyalah setengah malaikat Wonwoo-ya.” Suara Jun terdengar menakutkan bagi Wonwoo. Ia sangat berbeda dengan Mingyu. Walaupun pemuda bersurai hitam itu selalu seenaknya, tapi Wonwoo selalu merasa nyaman jika Mingyu ada di sampingnya. Saat ini, Wonwoo berharap Mingyu datang menolongnya.

 

“Aku hanyalah manusia biasa.” Wonwoo mengangkat kepalanya. Memberikan Jun tatapan tajam, dan hal itu malah membuat Jun tertawa lepas.

 

“Hey, Wonwoo-ya.. harus berapa kali aku bilang bahwa kau itu Nephilim?” Jun mendekat ke arah Wonwoo. Membuat pemuda bersurai coklat itu memundurkan tubuhnya dengan refleks. Aura Jun benar-benar berbahaya. Wonwoo tidak menyukai aura yang menguar dari tubuh Jun. Aura itu mencekam. Seolah membuat Wonwoo tenggelam dalam kegelapan.

 

“Aku akan pergi dari sini. Tolong lepaskan aku.”

 

“Dan kau melupakan niat awalmu ketika bertemu denganku, Jeon Wonwoo?” Manik foxy kembali membulat. Tentu saja Wonwoo ingat kenapa ia menerima ajakan dari Soonyoung. Ia ingin bertemu dengan Chanyeol. Walaupun Wonwoo harus mengakui jika Chanyeol itu adalah seorang malaikat pembelot. Lucifer– Sang pemberontak Tuhan.

 

“Di-dimana Chanyeol Ahjussi?”Wonwoo kembali bertanya. Ia mencoba melupakan rasa takutnya demi hal ini. Wonwoo tidak boleh ragu. Semua yang ia lakukan adalah untuk Chanyeol. Apapun yang terjadi, ia harus bertemu dengan Chanyeol.

 

“Maksudmu Lucifer? Ayah kita?”

 

“Y-ya. Aku ingin bertemu dengannya.” Wonwoo bisa melihat tatapan tajam dari Jun meredup. Ada kesedihan yang terpancar di mata itu. Wonwoo bisa merasakannya dengan jelas.

 

“Ayah sudah di bunuh oleh Verchiel.” Suara Jun terdengar dingin dan penuh akan dendam. Tangan pria bersurai merah itu terkepal dengan erat, seolah menahan amarahnya agar tidak meledak. Aura kebencian menguar di seluruh tubuhnya.

 

“Apa maksudmu, Jun-ssi? Aku sama sekali tidak bercanda dengan hal seperti ini!” Suara Wonwoo meninggi. Ia mulai mendekat ke arah Jun, dan mencengkram erat baju zirah berbalut besi yang melekat di tubuh pria itu. Kesabaran Wonwoo sudah habis. Ia tidak ingin di permainkan lagi oleh Jun.

 

“Apa aku terlihat bercanda?” Tatapan dingin menusuk dari Jun membuat Wonwoo terdiam. Tangan yang semula berada di lengan Jun, kini terkulai lemas. Wonwoo kembali di jatuhkan oleh berita mengejutkan dari Jun. Ia belum siap mendengar kabar bahwa Chanyeol- paman yang selama ini Wonwoo harap bisa bertemu lagi, sudah tidak ada. Ia terbunuh, dan Wonwoo tidak dapat melihatnya lagi. Sekarang Wonwoo merasakan hatinya remuk. Air mata tiba-tiba membasahi pipi Wonwoo. Jujur saja, Wonwoo tidak tahu kenapa ia menangis. Padahal ia dan Chanyeol hanya dekat selama satu tahun saja. Setelah itu Pamannya menghilang, dan Wonwoo seakan lupa dengan keberadaannya.

 

Tubuh mungil Wonwoo bergetar. Pemuda bersurai coklat itu masih menangis dalam diam. Mengabaikan Jun yang sekarang bingung harus berbuat apa. Jun tidak terlalu pintar menghibur seseorang. Ia bahkan lupa kali terakhir ada seseorang yang mau menemaninya.

 

“Berhentilah menangis. Kau harus tinggal di sini jika tidak ingin di bunuh oleh Verchiel.” Wonwoo mendongak ke arah Jun yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia mulai mengusap pipi untuk menghilangkan jejak air matanya. Manik foxy itu kembali menatap Jun dengan pandangan penuh tanya. Berharap jika Jun menjawab siapa itu Verchiel.

 

Verchiel adalah malaikat utusan Tuhan; penghuni Alfheim, yang selalu memburu malaikat sepertiku, dan juga para Nephilim. Kau berada di Aerie sekarang, Wonwoo. Di tempat ini, semua malaikat pembelot dan juga Nephilim sepertimu tinggal.” Jun mulai menjelaskan dengan detail bagaimana Aerie terbentuk, dan siapa saja pasukan Verchiel yang selalu membunuh kaum Nephilim. Bagaimana Lucifer terbunuh, dan kenapa para utusan Tuhan memburu semua kaumnya.

 

“Jika kau keluar dari istana ini, kau akan menemukan sebuah pemukiman di mana para Nephilim sepertimu tinggal. Di Aerie, para Nephilim akan merasa aman. Kau tidak perlu takut lagi jika Verchiel akan datang memburumu, Wonwoo-ya. Para Elf, melindungi wilayah Aerie.”

 

Wonwoo mengangguk pelan. Ia mulai mengerti semua penjelasan yang Jun jabarkan tadi. Tapi Wonwoo tidak ingin berada di sini. Ia ingin pulang, dan bertemu dengan Mingyu. Wonwoo belum siap jika harus berada di Aerie. Lagi pula, ia harus memastikan semua yang sudah Jun jelaskan.

 

“Beri aku waktu untuk berpikir Jun-ssi. Tolong antarkan aku pulang.”

 

“Baik. Tapi Soonyoung akan mengikuti dan menjagamu, Wonwoo.” Wonwoo menggeleng dengan cepat mendengar penuturan Jun. Ia tidak ingin di ikuti oleh Soonyoung. Wonwoo butuh waktu untuk sendiri dan mencoba mencari tahu kebenaran dari semua ini. Ia harus bertemu dengan Mingyu. Satu-satunya penolong Wonwoo adalah pemuda bersurai hitam itu.

 

“Tidak. tolong biarkan aku memikirkan semuanya sendiri.” Wonwoo bisa melihat Jun menghela napasnya. Kemudian pria itu mendengus tak suka, dan melirikkan matanya ke arah Soonyoung yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk. Tatapan isyarat agar pemuda bersurai hitam itu mendekat.

 

“Antar Wonwoo pulang. Setelah itu kau kembali lagi ke Aerie.” Jun membalikkan badannya. Berjalan menjauhi Wonwoo. Jubah merahnya berkibar, dan setelah itu sosok Jun menghilang bagaikan hembusan angin.

 

“Kau ingin kembali ke cafe atau apartemenmu, Wonwoo-ssi?” Soonyoung membentangkan sayap-sayap hitamnya. Sebelum akhirnya mulai mengibaskannya dengan pelan, hingga tubuhnya melayang. Ia mulai mengulurkan tangannya ke arah Wonwoo.

 

“Apartemenku.” Wonwoo menggapai uluran tangan Soonyoung, sehingga ia berada di pelukan pemuda bersurai hitam itu. Kemudian mereka terbang ke atas, meninggalkan ruang singgasana Jun. Wonwoo berharap keputusannya kali ini sama sekali tidak salah. Ia membutuhkan Mingyu untuk menjelaskan semua keraguan yang ada di hatinya.

 

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan dengan gontai menuju koridor apartemen yang akan mengantarkan tubuh mungilnya menuju kamar apartemen yang berada di pojok lantai tujuh ini. Tadi Soonyoung sudah mengantarnya sampai ke depan gedung apartemen. Setelah itu Soonyoung kembali memukul udara dengan sayap hitamnya, dan terbang meninggalkan Wonwoo. Jadi disini Wonwoo berada. Ia sudah kembali ke dunia asalnya. Bukan di Aerie– tempat para Nephilim berada.

Wonwoo mulai membuka kenop pintu kamarnya dengan pelan. Sebenarnya Wonwoo berharap akan bertemu dengan Mingyu. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Biasanya Mingyu sudah berdiri di samping lift, sambil menatap pemandangan kota. Tapi nyatanya, pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Entah kenapa Wonwoo merasa kecewa saat tidak dapat menemukan sosok Mingyu.

 

“Hah..” Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai masuk ke dalam apartemen. Tangannya meraba dinding untuk menekan saklar lampu agar lampu di ruang tengah menyala. Kemudian cahaya lampu mulai menyinari ruangan itu. Membuat mata Wonwoo menyipit perlahan karena ia melihat sesosok bayangan yang sedang duduk di sofa kecil miliknya. Sosok itu mulai berbalik ke arahnya, dan menatap Wonwoo.

 

“Wonwoo-ya.. Apa yang kau lakukan selama dua hari ini?!” Suara bariton yang sangat Wonwoo kenal itu menggema memenuhi ruangan. Kali ini, Wonwoo bisa melihat dengan jelas sosok Kim Mingyu yang berdiri di dekat sofa sambil menatapnya dengan tajam. Wonwoo bisa merasakan kekhawatiran di dalam manik obsidiannya.

 

Langkah Mingyu semakin dekat dengan Wonwoo. Membuat Wonwoo memundurkan tubuhnya. Menyentuh pintu yang ada di belakangnya sehingga tertutup dengan sempurna. Wonwoo tahu jika Mingyu marah padanya. Mingyu tidak pernah menatapnya sedingin itu.

 

“Apa yang kau lakukan selama dua hari, Wonwoo? Kau tahu? Aku kebingungan mencarimu kemana-mana!” Dahi Wonwoo mengernyit saat mendengar pertanyaan beruntun dari Mingyu. Dua hari? Wonwoo sudah berada di Aerie dua hari?

 

“A-apa maksudmu, Gyu?” Wonwoo mendongak. Menatap manik obsidian Mingyu yang menatapnya tajam. Ini kembali membingungkan untuk Wonwoo. Ia pikir hanya beberapa jam saja berada di Aerie.

 

“Kau menghilang selama dua hari.” Mingyu menghela napasnya lelah. Kali ini tangannya terulur untuk menarik Wonwoo ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sungguh, Mingyu merindukan sosok Wonwoo. Ia sudah kebingungan mencari Wonwoo selama dua hari ini. Ia bahkan tidak dapat mengendus keberadaan Wonwoo di manapun. Mingyu takut jika pasukan Verchiel menyerang Wonwoo. Ia tidak ingin itu semua terjadi. Mingyu akan melindungi Wonwoo sampai kapanpun.

 

“Syukurlah, Wonu-ya. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Mingyu menelusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Wonwoo. Menghirup dalam aroma vanilla dari tubuh Wonwoo. Aroma tubuhnya yang sudah menjadi obat penenang tersendiri untuk Mingyu. Rasa khawatir dan ketakutan dalam dirinya menghilang hanya dengan mencium aroma tubuh Wonwoo.

 

“M-maaf, Mingyu.” Wonwoo bergumam pelan. Tangannya bergerak untuk membalas pelukan Mingyu sama eratnya. Jujur saja, Wonwoo butuh pegangan. Ia membutuhkan sosok Mingyu untuk membuatnya mengerti tentang hal tidak masuk akal yang menimpa kehidupannya selama beberapa terakhir ini.

 

“Aku takut, Gyu..” Suara Wonwoo bergetar. Mingyu tahu ada yang tidak beres selama Wonwoo pergi. Ia bisa merasakan pelukan Wonwoo semakin mengerat, dan juga tubuh pemuda bersurai coklat itu mulai bergetar ketakutan, di sertai isakan lirih yang lolos dari mulut Wonwoo.

 

“G-gyu… A-aku takut.. T-tolong…” Suara lirih Wonwoo terdengar menyesakkan bagi Mingyu. Ia tidak ingin melihat Wonwoo ketakutan seperti sekarang. Tangan Mingyu bergerak untuk menggendong tubuh Wonwoo ala bridal. Wonwoo diam. Tidak menolak dengan perlakuan Mingyu. Ia malah membenamkan wajahnya pada leher Mingyu dan menangis di sana. Mingyu membawanya ke kamar. Kemudian pemuda bersurai hitam itu membaringkan tubuh mungilnya di ranjang. Wonwoo bisa melihat dengan jelas Mingyu duduk di sampingnya dengan tatapan khawatir.

 

“Ceritakan semuanya padaku.” Perintah Mingyu yang penuh ke absolutan, membuat Wonwoo mengangguk dengan cepat, dan mulai mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu ia mulai menceritakan segalanya. Tentang Aerie, Jun, Soonyoung, Chanyeol, dan juga Verchiel. Wonwoo bisa melihat raut wajah Mingyu berubah. Rahang pemuda bersurai hitam itu mulai mengeras. Tangan Mingyu terkepal dengan erat.

 

“Kau tidak boleh bertemu dengan Jun lagi. Dengarkan aku Wonwoo-ya.” Manik obsidian menatapnya tajam. Seakan tidak ingin di bantah. “Aku akan melindungimu sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkan makhluk jahanam itu menyentuhmu. Apalagi Verchiel sialan itu!” Mingyu kembali kembali memeluk tubuh Wonwoo dengan erat. Ia tidak akan membuat Wonwoo menderita. Apapun yang terjadi. Karena Wonwoo adalah miliknya.

 

“Terimakasih, Gyu.” Wonwoo kembali memeluk tubuh kokoh Mingyu. Mereka berbagi pelukan dan beberapa ciuman Mingyu hadiahkan di bibir plum Wonwoo. Bagi Mingyu, pemuda bersurai coklat itu adalah candu. Jika Wonwoo tidak ada, mungkin Mingyu akan menjadi gila seperti dua hari kemarin saat ia tidak dapat menemukan sosok Nephilim itu.

.

oOo

.

 

Mingyu menatap dalam Wonwoo yang sekarang tertidur dengan lelap. Wajah Wonwoo terlihat sangat damai. Sebuah senyum kecil tersungging menghiasi wajah cantik pemuda bersurai coklat itu. Mingyu yakin, jika Wonwoo sedang bermimpi indah. Karena semua kegelisahan di dalam hati Wonwoo sudah meluap. Pemuda bersurai coklat itu menangis dan tak hentinya mengatakan terimakasih di sela-sela ciuman hangat mereka. Kemudian Wonwoo jatuh tertidur dalam pelukannya.

 

Mingyu menampilkan senyum asimetris di wajahnya. Ia bersyukur datang kembali ke dunia manusia, dan di pertemukan dengan Wonwoo. Mingyu yang awalnya tidak tertarik dengan apapun, kini tertarik oleh sosok Wonwoo. Mungkin manusia menyebut hal ini sebagai jatuh cinta. Ya. Mingyu jatuh cinta pada Wonwoo. Ia selalu ingin berada di dekat pemuda itu, dan melindunginya dari para makhluk kotor yang mencoba melukai Wonwoo.

 

“Aku tidak menyangka akan melakukan hal konyol seperti ini.” Tangan Mingyu terulur untuk mengelus surai coklat Wonwoo dengan pelan. Kemudian ia mulai menunduk dan mencium kening Wonwoo. “Hades akan marah padaku jika tahu aku berurusan dengan para malaikat.”Mingyu terkekeh pelan, saat mengingat kembali sosok Ayahnya. Ia sangat yakin jika Kyuhyun akan murka. Jujur saja, Mingyu sangat suka melihat Ayahnya itu marah. Walaupun Persephone selalu bisa menenangkan ayahnya dengan cepat.

 

“Mingyu-ssi. Apa anda merasakan keberadaan Thanatos?” Suara Yao yang kecil memecah keheningan. Membuat Mingyu sadar jika sejak tadi Yao masih mengikutinya. Ia pikir anjing itu sudah menuruti perintahnya untuk kembali ke Gerha Hades(2).

 

“T-thanatos ada di sini.” Suara Yao mencicit. Membuat Mingyu tersenyum meremehkan ke arah pintu kamar. Di sana ia sudah melihat sosok Thanatos. Mingyu bukanlah orang bodoh yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Thanatos yang menguarkan aura mematikan di sekelilingnya.

 

“Saya tidak menyangka jika anda berurusan dengan Nephilim itu.” Suara Jisoo terdengar meremehkan. Membuat Mingyu menggeram tak suka ke arahnya. Ini yang Mingyu tidak suka dari abdi ayahnya itu. Jisoo selalu mencampuri segala urusannya.

 

“Dan aku tidak menyangka jika kau kembali mencampuri urusanku. Apa Hades mengutusmu?” Suara sarkatik Mingyu hadiahkan untuk Jisoo. Kemudian pemuda bersurai hitam itu mulai berjalan ke arah Jisoo. Manik obsidian menatap tak suka ke arah Jisoo yang tidak pernah tunduk oleh tatapannya.

 

“Ya. Kyuhyun-ssi sudah tahu jika anda berurusan dengan Nephilim. Beliau ingin anda pulang ke Gerha Hades.”

 

“Tidak. Aku tidak akan pulang. Sampaikan pesanku untuk Ayah dan Ibu. Aku akan bersama Wonwoo di sini.” Mingyu berbalik. Berjalan ke arah Wonwoo, dan mengabaikan sosok Jisoo yang menggeram marah.

 

“Kyuhyun-ssi akan marah dan membunuh Nephilim itu jika anda tidak pulang, Mingyu-ssi.” Ada nada memaksa di dalam ucapan Jisoo yang membuat Mingyu kembali mendengus, sebelum melirik Jisoo lewat ekor matanya.

 

“Aku akan melindunginya dari apapun. Pergilah, Hyung. Aku tidak ingin menyakitimu.” Aura kematian menyebar di sekeliling tubuh Mingyu. Membuat Jisoo memundurkan tubuhnya. Jisoo masih ingin hidup. Ia tidak ingin hidupnya sia-sia karena hal ini. Lebih baik ia membiarkan Mingyu, dan kembali melapor pada Kyuhyun.

 

“Saya sudah memperingatkan anda. Nephilim itu berbahaya bagi makhluk dunia bawah seperti kita, Mingyu-ssi.” Dan setelahnya, sosok Jisoo menghilang di gantikan oleh gumpalan cahaya hitam yang mengecil, kemudian hilang bagai di terpa oleh angin.

 

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Wonwoo.” Geraman Mingyu terdengar menakutkan. Mingyu belum pernah seserius ini sebelumnya. Jika ada yang menyakiti Wonwoo, itu artinya mereka akan berurusan dengan Mingyu. Sekalipun itu adalah malaikat utusan Tuhan, Wonwoo tidak akan pernah takut.

 

.

oOo

.

 

 

Pemuda bersurai hitam dengan hanbok berwarna putih itu menatap tajam bawahannya. Aron atau yang lebih di kenal sebagai Verchiel menggeram. Ia tidak habis pikir jika ada keturunan dari Lucifer yang masih berada di dunia manusia. Aron pikir semua Nephilim dan para malaikat pembelot bersembunyi di Aerie. Ini adalah kesempatan langka. Ia tidak akan membiarkan buronannya lepas lagi. Kali ini, Aron bertekad untuk membunuh Nephilim bernama Jeon Wonwoo.

 

“Tapi Aron-ssi, sosok Mingyu selalu terlihat di samping Nephilim itu.” Dahi Aron mengerut mendengar penuturan dari Baekho- sang bawahan yang sudah ia tugaskan memantau Wonwoo. Mingyu yah? Jika memang benar Mingyu ikut campur dalam urusan ini, itu berarti Mingyu menantang Zeus- Penguasa Langit.

 

“Menarik. Putra Hades terlibat dengan Nephilim.” Seringaian licik terukir jelas di wajah Aron. Ini adalah hal yang paling menarik. Jika Mingyu terlibat, mungkin saja perang langit akan kembali terjadi. Murka Zeus dan Hades selalu menggemparkan bumi.

 

“Tangkap Wonwoo secepatnya, dan bawa padaku. Walaupun Mingyu ada di samping Nephilim itu.” Wajah Baekho memucat saat mendengar perintah dari Aron. Ah. Ia masih ingin hidup. Kekuatannya sama sekali belum cukup kuat untuk menentang putra Hades. Ini namanya cari mati.

 

“Jika kau tidak bisa membawa Wonwoo, aku akan mematahkan sayapmu.” Baekho menelan salivanya dalam. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti Aron. Semua pilihan yang di berikan Aron tidak ada yang bagus. Sama-sama jalan kematian.

 

“Baik, Aron-ssi.” Baekho menundukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum ia mulai mengepakkan sayap putihnya, dan melayang menjauh dari kastil Verchiel. Baekho harus melaksanakan tugasnya. Ia tidak ingin jika sayapnya di patahkan. Itu sama saja artinya dengan menjadi malaikat pembelot. Baekho akan membawa Wonwoo apapun yang terjadi.

 

Tebece

 

Glousarium :

  1. Verchiel : Malaikat Utusan Tuhan. Abdi Zeus yang bertugas untuk memburu para kaum pembelot.

 

  1. Gerha Hades : Kerajaan Dunia Bawah. Tempat Hades tinggal.

 

 

Well, chap depan mulai bakalan beda sama POF. So, bagi yang ngikutin pof, maka lanjutan cerita itu yang sebenarnya adalah di sini.

Huhu. Andai ga dedlen. Mungkin ini bakal jadi akakuro full dulu wkwk. But gapapa, akakuro shipper, buat fantasy-fantasyan. Saya bakal lanjut incubus nanti.

Jadi biarkan pof menjadi milik Meanie. *jyah wkk

 

Caste heavenn di up taun baru yah. Mwah :*

 

So, berkenankah berkomentar? Atau ada yang mau nanya kalau ga ngerti pendeskripsian semuanya? Jangan lupa komen

 

Vomen?

 

Astia Morichan