Challenge! Chap 2

Gabrielle berjalan dengan sangat pelan. Karena saat ini ia tengah memapah tubuh Oliver. Tubuh Oliver cukup besar, hingga Gabrielle kesulitan sendiri untuk membawa pemuda itu. Sekarang Gabrielle memang bisa menghela napasnya lega saat ia sudah berhasil membawa Oliver masuk ke dalam kamarnya. Gabrielle membaringkan tubuh Oliver di ranjang king size miliknya. Ia bisa melihat dengan jelas jika napas Oliver memburu. Wajah pemuda itu pucat, dan ia nampak kesakitan saat ini. Sungguh. Gabrielle benar-benar merasa bersalah karena meninggalkan Oliver seperti itu.

“Uhh..” Oliver meringis. Alisnya berkerut dan ia mulai meringkuk di atas ranjang Gabrielle. Bibirnya bergetar dan mulai membiru. Oliver menggigil kedinginan.

“Kau baik-baik saja, Oli?” Gabrielle berucap lirih. Ia mulai mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Oliver. Oliver demam!

“Sial!” Gabrielle mengumpat dengan keras. Sapphirenya menilik tubuh Oliver sekarang. Pakaian Oliver semuanya basah. Jika seperti ini, pemuda bersurai pirang itu akan kedinginan dan demamnya semakin parah. Gabrielle harus segera menggantinya. Ia bahkan tidak peduli jika pakaiannya sama basah dengan Oliver, karena terkena air hujan. Walaupun ia tidak basah kuyup sepenuhnya seperti Oliver. Jadi Gabrielle sama sekali tidak merasa kedinginan sekarang.

Gabrielle mulai membuka sepatu yang di pakai oleh Oliver. Ia juga mulai bergerak untuk melepaskan kaitan kancing kemeja milik Oliver. Hingga kemeja itu terlepas dan menyisakan kaos putih polos yang membalut tubuh Oliver. Gabrielle bisa melihat lekukan tubuh Oliver tercetak jelas di balik kaos itu, dan Gabrielle malu mengakuinya karena ia terpesona dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak begitu keras. Sampai Gabrielle sendiri tidak paham dengan apa yang di alami jantungnya sekarang. Ia tidak pernah merasa segugup ini pada siapapun. Tapi sekarang, di depan Oliver yang tidak berdaya, Gabrielle hanya bisa diam tak berkutik.

“E-eh.” Gabrielle memekik keras saat tangannya yang tadi ingin melepaskan kaos Oliver di tarik. Hingga sekarang tubuh Gabrielle berada di samping Oliver. Tertidur di ranjang, dengan Oliver yang memeluk pinggangnya. Gabrielle bisa merasakan hawa dingin dari napas Oliver menerpa belakang telinganya. Membuat sensasi aneh bagi dirinya sendiri.

“Lepaskan aku, Oli!” Gabrielle mencoba melepaskan tangan Oliver yang memeluknya. Tapi semuanya sia-sia. Pelukan di pinggangnya malah semakin mengerat, dan Oliver semakin berani untuk membenamkan wajahnya di lekukan leher Gabrielle. Mengendusnya dengan pelan, dan memberikan kecupan singkat di leher itu.

“H-hey! Oli! Lepaskan aku!” Gabrielle menggeram marah. Ia tidak suka saat Oliver seenaknya seperti ini. Jika seperti ini, Gabrielle yakin Oliver sama sekali tidak sakit. Pemuda itu hanya pura-pura, dan ingin mempermainkannya.

“Diamlah Gab. Aku kedinginan.” Suara Oliver bergetar lirih. Membuat Gabrielle terdiam, dan membiarkan Oliver memeluknya. Well, mungkin kali ini ia akan mengalah saja. Sepertinya Oliver memang kedinginan, dan itu adalah salahnya karena membuat Oliver kehujanan di taman itu. Hanya untuk kali ini saja Gabrielle membiarkan Oliver berbuat seenaknya.

.

oOo

.

Oliver mengernyit dalam tidurnya saat merasakan sebuah lengan memeluk tubuhnya dengan erat. Membuatnya membuka matanya secara perlahan, dan retinanya dapat melihat dengan jelas sosok Gabrielle yang kini tertidur pulas di sampingnya. Pemuda itu nampak tenang, dan untuk kesekian kalinya, Oliver kembali jatuh cinta pada sosok Gabrielle. Seperti namanya memang. Gabrielle itu bagaikan malaikat. Memesona. Membuat siapapun bahkan Oliver sendiri jatuh pada pesona pemuda itu.

Oliver mengulas senyum tipis saat melihat Gabrielle menggeliat dalam tidurnya. Tangan Oliver terulur untuk menyentuh pipi Gabrielle. Lembut. Itu yang Oliver rasakan saat kulit tangannya menyentuh wajah Gabrielle. Tak ayal, ia semakin berani mendekatkan wajahnya untuk melihat dengan jelas wajah Gabrielle. Oliver sampai menelan salivanya dengan gugup. Ia ingat kejadian tadi, saat mereka berada di perpustakaan. Mereka berciuman, dan Oliver ingin kembali merasakan bagaimana lembutnya bibir Gabrielle di bibirnya.

Cupp

Oliver mengecupnya. Hanya mengecup. Tidak lebih. Ia hanya menempelkan bibirnya di bibir Gabrielle cukup lama. Sebelum akhirnya ia menyerah. Oliver terlena. Ia ingin menginvasi mulut Gabrielle. Bibirnya bergerak pelan. Menggigit bibir Gabrielle pelan, hingga membuat pemuda itu mengerang dan membuka mulutnya. Membuat Oliver melesakan lidahnya dengan sensual. Mengecap bagaimana hangatnya mulut Gabrielle saat tanpa sengaja lidahnya menyentuh lidah Oliver.

“Nghhmmm…” Gabrielle mengerang saat Oliver menyesap lidahnya dengan penuh sensual. Membuat dirinya terbuai, dan tanpa sengaja membalas ciuman itu sama panasnya. Lidah mereka saling bertaut. Menghantarkan sensasi panas pada tubuh masing-masing. Apalagi saat Oliver bergerak dan menindih tubuh Gabrielle. Hingga pemuda itu berada di dalam kungkungannya, dan tangan Gabrielle mengalung dengan indah pada leher Oliver. Semakin memperdalam ciuman mereka, dan erangan yang di keluarkan Gabrielle membuat Oliver hilang akal. Ia semakin berani menelusuri tubuh Gabrielle dengan tangannya, dan saat tangan Oliver bergerak semakin jauh ke bawah, ia bisa merasakan pipinya memerah, di sertai gedebuk tubuhnya yang terjatuh.

Gabrielle mendorong tubuhnya cukup kuat. Matanya menatap nyalang Oliver yang sekarang mengaduh kesakitan. Ia bisa mendengar Gabrielle mengumpat dengan keras. Wajah pemuda itu memerah sempurna. Entah karena kesal atau malu saat ini. Napas pemuda itu jelas naik turun tak beraturan, karena tadi Oliver mengabil alih oksigen lewat mulutnya.

“K-kau!” Gabrielle menggeram marah ke arah Oliver yang sekarang mulai berdiri, dan berjalan ke arahnya.

“Jangan pernah berani menyentuhku lagi, Oli.” Suara Gabrielle terdengar sangat dingin. Ia bahkan mengalihkan pandangannya dari Oliver. Enggan menatap pemuda bersurai pirang itu. Mungkin benar. Keputusan untuk menerima tantangan Oliver itu tidak boleh ia terima.

“Kau menikmatinya.” Mata Gabrielle membulat saat mendengar ucapan Oliver. What the heck! Ia sama sekali tidak menikmati apa yang sudah Oliver lakukan pada tubuhnya.

“Kau gila. Keluar dari kamarku!” Gabrielle berteriak marah. Ia mulai melompat dari ranjang, dan mendorong tubuh Oliver menjauh dari kamarnya. membuat Oliver keluar dari kamarnya, hingga pemuda itu terjatuh, sebelum akhirnya Gabrielle menutup pintu kamar itu tepat di depan wajahnya.

“Oliver, Sialan!” Gabrielle mengumpat keras. Wajahnya merah padam di sertai degupan jantungnya yang liar. Sungguh, Gabrielle benci dengan keadaannya sekarang.

Tebece

Next Chap tamat. Maaf gaje. Saya takutnya malah ini jadi OOC makanya update lama banget wkwk :’)

Vomen?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s