Challenge! Yaoi! Chap 1

Gabrielle Cattermole sedang duduk tenang sambil membaca novel favoritnya di sudut perpustakaan itu. Ini adalah tempat favorit Gabrielle di Gregory sejak pertama masuk ke sekolah bergengsi ini. Beberapa rak buku yang menjulang tinggi itu menutup dirinya, sehingga pemuda bersurai merah itu sama sekali tidak terlihat oleh satu pun makhluk hidup yang berada di perpustakaan. Kecuali satu orang paling menyebalkan yang selalu mengganggunya. Seperti sekarang. Oliver Evans tak pernah lelah untuk mengajaknya berkencan sedang duduk di sebrang. Memangku dagu, dengan kedua tangannya. Mata abu-abunya tak bosan untuk menatap Gabrielle yang sejak tadi mengabaikan kehadiran pemuda bersurai pirang itu, bahkan semua ocehan yang di lontarkan olehnya. Oliver akan selalu berisik, sampai Gabrielle menerima ajakannya.

Gabrielle menghela nafas pelan. Mata berwarna birunya menatap kesal Oliver yang masih tersenyum ke arahnya. Gabrielle menutup bukunya perlahan. Sekarang, Ia harus mengusir Oliver agar tak mengganggunya lagi. Gabrielle yakin Oliver akan mempercayai kebohongannya lagi, kali ini.

“Baiklah. Setelah jam kerjamu selesai, ok?” Suara merdu Gabrielle membuat Oliver mendongak dan tersenyum senang. Tapi sedetik kemudian, senyumnya lenyap dalam sekejap. Oliver tahu, ini hanyalah akal bulus Gabrielle lagi. Dan Ia tak akan tertipu untuk kedua kalinya. Ah bukan-yang ada beberapa kali tertipu.

“Baik. Tapi kau harus menungguku. Aku akan memperhatikanmu dari sini, agar kau tak pergi.” Oliver dapat melihat Gabrielle memutar bola matanya kesal. Terlihat jelas, Gabrielle tidak menyukai keputusannya.

“Aku hanya akan menganggumu.” Gabrielle berdiri, sambil mengabil bukunya. Lalu Ia berbalik. Berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah Oliver yang masih menatapnya. “Kau menggangguku, Oli.” Gabrielle menundukan kepalanya sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Oliver. Gabrielle bisa merasakan Oliver menahan nafasnya.

Oliver menghembuskan nafasnya pelan. Nafas hangatnya menggelitik wajah Gabrielle. Membuat Gabrielle meremang seketika, saat merasakan wangi mint yang menguar dari tubuh Oliver.

“Gabrielle..” Oliver berbisik pelan di telinganya. Tangannya kini menarik Gabrielle dengan cepat dalam hitungan detik. Bahkan Gabrielle sama sekali tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang sudah Oliver lakukan. Sekarang tubuhnya sudah berada di pangkuan Oliver. Entah kenapa Gabrielle merasa gugup saat berdekatan seperti ini dengan Oliver. Tubuhnya tidak bisa bergerak, saat Oliver memeluk pinggangnya agar tubuh mereka semakin menempel. Tangan Oliver yang cukup besar itu menangkup pipinya. Jari-jarinya yang panjang bergerak menelusuri wajahnya dengan lembut. Gerakan perlahan, yang bisa membuat Gabrielle diam membatu. Seharusnya Gabrielle bisa melawan Oliver sekarang. Hey! Dia pernah mengalahkan Oliver di ring tinju. Kekuatannya lebih besar dari Oliver! Tapi kenapa sekarang tubuhnya malah tidak bisa bergerak seperti ini? Hell! Gabrielle bukanlah sub. Ia sama sekali tidak akan mengijinkan Oliver menjadi dominan dalam hubungan yang di inginkan Oliver. Er. Walaupun kalian tahu kan? Gabrielle itu normal. Mungkin Bi? Entahlah, tapi Gabrielle itu akan menjadi yang dominan jika dalam hubungan yang diinginkan Oliver.

“Kau tahu? Aku menyukaimu, Gab. Bisakah kau berhenti mengabaikanku seperti ini?” Oliver semakin mendekat ke arahnya. Hidung mereka bahkan sudah saling bersentuhan.

“Aku tahu.” Wajah Gabrielle terlihat datar sekarang. Tangannya kini bergerak perlahan untuk memeluk leher Oliver. Gabrielle bisa melihat wajah Oliver memerah sempurna dengan posisi mereka sekarang. Bibir mereka berdua bahkan hampir bersentuhan satu sama lain. “Tapi jika kau berpikir untuk menjadi dominan dalam hubungan ini. Kau salah tempat Oliver. Karena aku akan selalu menjadi dominan.” Gabrielle mengeluarkan senyum ‘Monalisa’ andalannya. Ah- bukankah ini sangat menyenangkan? Menggoda seorang mahasiswa yang magang di perpustakaan? Mahasiswa tampan yang di gilai para wanita kampus?

Oliver tetap tenang saat Gabrielle semakin menarik wajah mereka. Tubuh mereka bahkan sudah sangat menempel. Sampai tak ada celah sedikit pun. Sudut bibir Oliver tertarik sekarang. Sejak awal bertemu dengan Gabrielle dan terpesona dengannya. Oliver sudah menetapkan dalam hati bahwa Gabrielle lah yang akan menjadi sub di hubungan mereka. Sudah sangat lama Oliver menunggu saat seperti ini. Well, Gabrielle memang selalu menghindarinya sejak awal. Tapi Oliver tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatinya. Perasaannya pada Gabrielle itu tulus. Sejak pertama kali bertemu dengannya di gerbong kereta. Oliver sudah memutuskan untuk melindungi tubuh kecil nan rapuh Gabrielle. Apalagi saat mengingat Gabrielle yang ketakutan saat gempa. Sugguh, Oliver sudah berjanji akan melindunginya sampai kapanpun.

“Jadi kau berniat untuk menjadi top ku? Apa kau mengajakku untuk berpacaran?” Gabrielle mengernyitkan alisnya. Sedetik kemudian Ia kembali mengeluarkan senyum monalisa miliknya. Kemudian Gabrielle mengangguk.

“Baik. Kau akan menjadi dominan dalam hubungan ini jika itu bisa membuatku memilikimu, Gabrielle.” Oliver berbisik seduktif di depan bibirnya.

“Tapi, aku tidak akan membiarkan kau menjadi dominan semudah itu. Aku akan menaklukanmu, Gabrielle Cattermole.” Dan sedetik kemudian, Gabrielle bisa merasakan bibir Oliver menyentuh bibirnya dengan cepat. Menekannya perlahan, lalu melumat bibirnya dengan lembut. Seakan bibir Gabrielle adalah benda yang sangat rapuh. Oliver menghisapnya dengan pelan. Lidahnya bergerak sensual menjilati bibir Gabrielle agar membuka mulutnya. Dengan perlahan, Gabrielle membuka mulutnya secara sukarela. Heck! Padahal itu adalah ciuman pertamanya. Dan Ia harus memberikannya pada Oliver secara gratis hanya karena tantangan tak tersirat dari Oliver. Benda tak bertulang milik Oliver membelai lidahnya lembut. Bergerak sangat sensual untuk membelit lidah Gabriel agar berdansa dengan lidahnya. Gabrielle menyambutnya dengan perlahan. Walaupun Ia sangat kikuk, tapi Ia cukup cepat tanggap mengikuti apa yang Oliver lakukan dalam mulutnya. Gabrielle tidak akan kalah dalam ciuman ini. Ia akan membuktikan pada Oliver bahwa dirinya bisa menjadi dominan. Dan setelahnya, hanya terdengar kecipak saliva yang menghiasi perpustakaan sepi itu. Juga erangan tertahan yang di keluarkan Gabrielle saat Oliver menyentuh titik sensitive di mulutnya dengan lidahnya yang panas. Ini gila! Suaranya yang mendesah membuatnya kesal. Tidak seharusnya Ia mendesah layaknya wanita.

Setelah beberapa menit, Gabrielle melepaskan pangutan bibirnya dengan Oliver. Wajahnya memerah. Nafasnya naik turun tak terkendali, untuk menghirup oksigen yang sejak tadi tidak mengisi paru-parunya. Sial! Gabrielle kalah telak dalam ciuman yang di dominasi oleh Oliver. Padahal mereka hanya berciuman sektiar 15 menit, dan Gabrielle sudah sesak nafas. Badannya lemas seketika hanya karena ciuman yang di berikan Oliver. Tubuhnya memanas dengan cepat. Harus Gabrielle akui. Oliver tidak mudah di kalahkan. He is a Good Kisser!! Sial! Oliver membawa efek buruk bagi tubuhnya.

“Jadi apa kau masih berniat untuk menjadi seorang dominan, Gabrielle?” Oliver kembali berbisik pelan di bibirnya, sebelum kembali mengecupnya dengan cepat. Sial! Oliver tidak pernah tahu, jika bibir Gabrielle selembut ini!

Gabrielle memberikan tatapan yang cukup menyeramkan pada Oliver. Mata birunya menatap tajam Oliver, yang sekarang masih bisa menyunggingkan senyumnya. Setelahnya, Gabrielle mendorong tubuh Oliver sehingga tubuh mereka menjauh beberapa senti. Tangannya terangkat. Menunjuk wajah Oliver.

“Aku yang akan menjadi menjadi dominan, Oli.” Oliver terkekeh. Tersenyum meremehkan, membuat Gabrielle seakan terhina karena di ejek seperti itu oleh Oliver. Gabrielle sama sekali tidak menyangka jika Oliver menjadi seperti ini. Like a player, huh? Cih, itu sama sekali tidak cocok untuknya.

“Baiklah. Aku menantangmu. Jika aku bisa menaklukanmu dalam waktu satu minggu, maka aku tidak akan pernah lari darimu Gab. Tapi jika kau yang menang, maka aku akan menghilang dari kehidupanmu. Bagaimana?” Sudut bibir Gabrielle tertarik. Kemudian Gabrielle mengangguk dengan cepat.

“Baik. Akan ku pastikan kau menjauh secepatnya dari hidupku, Oli.” Sujujurnya, ucapan Gabrielle sangat menyakitkan. Tapi, Oliver bisa menutup rasa sakitnya dengan cepat. Asalkan bisa menghabiskan waktu dengan Gabrielle dalam satu minggu itu tak masalah.

“Tunggu sebentar. Aku akan menutup perpustakaannya.” Dan Oliver kembali mengecup bibir Gabrielle dengan cepat, sebelum mengangkat tubuh Gabrielle dan mendudukan pemuda bersurai merah itu di kursi. Oliver tersenyum ke arahnya, sebelum berbalik meninggalkannya. Dan menghilang tertutup beberapa rak buku di depannya.

.

.

Gabrielle terdiam saat Oliver berjalan di sampingnya sejak tadi. Ya, inilah yang di tunggu-tunggu oleh Oliver sejak lama. Berjalan berdua dengan Gabrielle. Walaupun sejak tadi Gabrielle hanya mengikuti langkahnya, tapi Oliver benar-benar senang sekarang.

“Apa kau lapar? Ayo kita makan di café yang ada di sana. Café itu mempunyai parfait coklat yang enak. Aku yakin kau akan menyukainya.” Tangan Oliver terangkat menunjuk ke salah satu café yang sudah di penuhi oleh beberapa pengunjung. Semua pengunjung café bernuansa klasik itu adalah pasangan kekasih.

“Aku tidak lapar.” Gabrielle menolak dengan cepat. Ayolah, siapa yang mau makan di sana? Apalagi disana banyak sekali pasangan yang normal. Akan menjadi hal aneh jika dirinya dan Oliver makan berdua.

“Tapi aku lapar.” Oliver menarik tangannya, sehingga mereka melangkah untuk mendekat ke arah café yang berada di ujung perempatan jalan itu.

Gabrielle mendengus kesal. Ia enggan di perintah oleh Oliver. Dengan kekuatan penuh, Gabrielle menarik tangan Oliver dan berbalik menjauh dari café itu. Membawa pemuda bersurai pirang itu dengan cepat ke arah taman yang ada di depannya. Oliver hanya terdiam saat merasakan sentuhan tangan Gabrielle di tangannya. Tangan Gabrielle terasa pas di tangannya. Tidak terasa kasar, walaupun pemilik manik biru itu adalah petinju profesionall di atas ring.

Setelah beberapa menit, akhirnya Gabrielle menarik Oliver untuk duduk di kursi panjang yang ada di taman itu. Taman itu akan terlihat indah jika di malam hari seperti ini. Lampu-lampu kecil, akan menghiasi pohon-pohon besar yang ada di sana. Sehingga para remaja yang biasanya menghabiskan waktu disini dengan para kekasihnya tidak akan kurang pencahayaan.

“Gab, kenapa kau mengajakku kesini?” Oliver mengangkat sebelah alisnya menatap Gabrielle yang sejak tadi terdiam di sampingnya. Setelahnya, Gabrielle menoleh dan menatapnya tajam.

“Aku tidak mau makan di sana.” Gabrielle bisa melihat Oliver terkekeh pelan lewat ekor matanya. Dan tawa dari Oliver benar-benar memesona. Gabrielle yakin, jika akan banyak wanita yang bertekuk lutut di depan Oliver jika melihat senyumnya itu.

Setelah tawanya berhenti, Oliver membalikan badannya. Sehingga tubuhnya berhadapan dengan Gabrielle.

“Jadi kau ingin makan dimana?”

“Aku tidak lapar.”

“Tapi aku lapar, Gab.”

Gabrielle memutar bola matanya kesal. Sebelum berdiri dari duduknya, dan berbalik. Baru beberapa jam saja, Gabrielle sudah kesal dengan tingkah Oliver. Gabrielle tidak yakin Ia akan bertahan walaupun hanya satu minggu.

“Tunggu disini.” Sebelum Gabrielle melangkahkan kakinya untuk menjauh, pergelangan tangannya di cengkram erat oleh Oliver. Membuat Gabrielle berbalik, dan menatapnya datar. Oliver hanya terdiam sambil menggengam tangannya. Tapi mata abu-abunya yang menatapnya tajam benar-benar indah. Dan Gabrielle baru menyadarinya kali ini. Di bawah cahaya bulan, mata abu-abu Oliver seolah memerangkapnya agar selalu terfokus padanya.

“Aku tahu kau akan pergi, Gab.”

“Tidak. Aku akan kembali. Aku hanya akan membeli minuman.” Gabrielle menolehkan matanya ke samping, agar tidak melihat wajah Oliver. Setelahnya, Gabrielle bisa merasakan cengkraman di tangannya mengendur.

“Baik. Aku akan menunggu sampai kau kembali, Gab.” Dan Gabrielle segera berbalik pergi. Menjauh dari Oliver yang masih duduk di sana. Gabrielle hanya ingin pergi dari Oliver. Oliver benar-benar mengganggunya. Ah- Gabrielle tidak yakin jika kesepakatannya dengan Oliver di perpustakaan tadi adalah keputusan yang tepat. Hey! Saat itu Gabrielle hanya terbawa emosi karena Oliver bersikap seolah meremehkannya!

Gabrielle berjalan pelan, tanpa menoleh ke arah Oliver yang ada di belakangnya. Ia akan kembali ke sekolah, dan mengambil mobil miliknya di parkiran. Lalu pulang ke rumah. Karena hari ini di rumah tidak ada siapa-siapa. Semua keluarganya sedang berlibur selama dua minggu di Hawaii.

Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya Gabrielle sudah sampai di parkiran yang hanya menyisakan mobilnya dengan mobil Oliver. Gabrielle yakin, Oliver tidak akan menunggunya. Pemuda itu pasti akan pulang setelah 30 menit dirinya tidak kembali lagi. Dengan perlahan, Gabrielle memasuki Porche Carrera 911 miliknya. Gabrielle mulai menjalankan mobilnya, membelah jalanan yang di padati oleh banyak kendaraan. Sebelum kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan konstan, Gabrielle melirik ke arah taman tempat Oliver duduk di sana. Dan matanya menyipit saat menyadari Oliver masih setia duduk di sana.

“Dia pasti akan pulang.” Bergumam pelan, sebelum kembali menjalankan mobilnya memecah keheningan malam.

Hanya butuh waktu 30 menit, untuk Gabrielle sampai di rumahnya. Setelah memasuki rumah sederhana yang terlihat dari luar, tapi mewah di dalamnya. Gabrielle menekan saklar lampu dan berjalan ke arah sofa berwarna coklat yang empuk. Gabrielle merebahkan tubuhnya di sofa beludru itu. Menutup kedua matanya dengan lengannya, dan menghela nafas pelan. Berharap, lelahnya akan menghilang begitu Ia menutup mata. Tapi sialnya, lelahnya tidak hilang begitu saja. Ada yang mengganjal. Ada yang salah dengan dirinya setelah meninggalkan Oliver begitu saja.

Ctarrr

Suara petir yang menggelegar terdengar menggema. Bahkan Gabrielle bisa merasakan Figura kaca yang di simpan di meja bergetar akibatnya. Kemudian terdengar bunyi hujan yang cukup deras sekaligus. Gabrielle tidak habis pikir, kenapa bisa hujan segala? Padahal sudah jelas sekali, tadi cerah-cerah saja. Bahkan Gabrielle bisa melihat bulan dan bintang menghiasi langit.

“Shit!” Gabrielle mengumpat pelan. Kemudian berdiri dari acara tidurannya. Mata birunya melirik ke arah jam tangan hitam yang melingkari tangannya. Fuck! Ini sudah jam 11 malam! Oliver sudah menunggunya selama satu jam lebih. Walaupun Gabrielle tidak yakin Oliver masih ada di sana. Tapi Gabrielle harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa Oliver sudah pulang.

Dengan cepat Gabrielle kembali keluar dari rumahnya, dan masuk ke dalam mobil. Dengan kasarnya, Gabrielle menarik pedal mobil, dan menyalakan dengan cepat. Mengemudinya dengan cepat. Membelah jalanan. Gabrielle bahkan lupa jika Ia tidak memakai seatbeltnya. Ia bahkan tak melirik ke arah speedometer yang sudah menunjukan 80 km/jam! Yang jelas, Gabrielle harus cepat kembali ke taman itu.

Hanya butuh 10 menit untuk Gabrielle sampai di taman tempatnya meninggalkan Oliver. Hujan masih mengguyur, bahkan semakin deras sekarang. Gabrielle memarkirkan mobilnya asal di sudut taman. Kemudian Ia keluar, dan belari ke tempat Oliver. Sekarang pakaiannya sudah basah, tapi Gabrielle tidak peduli. Mata birunya menatap tajam keseluruh taman itu. Tapi nihil, Ia tidak menemukan sosok Oliver yang duduk di kursi taman itu.

Gabrielle menghela nafas lega. Ternyata Oliver sudah pulang. Sial! seharusnya, Ia tidak usah mencemaskan keadaan Oliver.

“Gabrielle…” Suara baritone itu terdengar jelas di telinganya. Gabrielle mengenali suara itu. Itu suara Oliver. Mencoba memastikan, Gabrielle berjalan ke arah suara itu berasal. Langkahnya terhenti di belakang pohon yang besar. Terlihat jelas oleh Gabrielle sosok Oliver yang basah kuyup ada di sana. Rambut pirangnya terlihat lepek karena air. Wajahnya memerah sempurna. Gabrielle bisa melihat Oliver kedinginan karena sejak tadi Oliver menggigil.

“Kau gila, Oliver!” Gabrielle berteriak dengan keras. Tangannya terulur, untuk mengangkat tubuh Oliver yang sekarang sudah dingin seperti es. Oh- Gabrielle lupa! Sejak tadi, Oliver tidak memakai jaketnya. Pemuda itu hanya memakai kaos putih yang di balut oleh kemeja biru yang cukup tipis. Pantas saja, Oliver kedinginan seperti ini. Gabrielle jadi merasa bersalah karena meninggalkan Oliver tanpa mengatakan apapun padanya.

“A-aku sudah bilang akan menungggumu, Gab.” Suaranya bergetar ketika Oliver memeluk tubuh Gabrielle sebagai tumpuannya. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gabrielle. Gabrielle bisa merasakan Oliver mengendus dirinya.

“Maafkan aku, Oliver.” Dan setelah mendengar Oliver bergumam pelan di lehernya. Gabrielle menarik tubuh Oliver ke dalam mobilnya. Ia yang menyebabkan Oliver seperti ini. Dan Gabrielle akan bertanggung jawab dengan membawa Oliver ke rumahnya, dan mengurusnya.

To Be Continued

Gimana? Hehe, well aku seneng akhirnya chap ini selesai juga :3

Mind To Vomen?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s