Nephilim | Chap 3| Meanie Couple

Bocah bersurai coklat menampilkan sebuah senyuman lebar saat melihat sosok wanita tua yang membawa nampan berisi cookies. Ia baru saja mengangkat cookies itu dari oven. Manik foxy si surai coklat– Jeon Wonwoo menatap penuh binar ke arah kue yang sedang neneknya hidangkan di atas meja. Wonwoo selalu suka momen seperti ini. Ah. Lebih tepatnya ia sangat menyukai cookies yang neneknya buat. Apalagi nenek Wonwoo- JinYoung selalu membuat kue favoritnya ketika ia pulang sekolah. Seperti sekarang. Aroma kue menyebar di sekeliling dapur, dan membuat perut Wonwoo bersorak senang karena lapar.

 

“Ne.. Wonu-ya.. kenapa tidak ganti baju dulu, hm?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan lembut, saat melihat Wonwoo berlari ke arahnya dan duduk di meja makan dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Bocah itu menatapnya dengan tatapan berbinar yang selalu membuat Jinyoung luluh. Kemudian ia mulai melepaskan sarung tangan beserta celemek yang membalut tubuh rampingnya. Di simpan celemek dan sarung tangan di samping nakas yang berada di belakang. Lalu ia mulai berjalan ke arah Wonwoo, dan menyodorkan piring berisi kue kesukaan si coklat, beserta susu vanilla favoritnya.

 

“Aku ingin memakan kuenya sekarang, halmonie.” Wonwoo mempoutkan bibirnya. Ia mulai merajuk dan memberikan tatapan memohon pada sang nenek. Membuat wanita tua bersurai hitam itu terkekeh dan mengelus surai coklat Wonwoo.

 

“Baik. Wonu bisa memakannya jika menuruti permintaan nenek kali ini. Bagaimana?” Jinyoung berjongkok di samping bocah sd itu. Membuat Wonwoo menatap bingung Jinyoung dengan alis bertaut tidak mengerti. Jarang sekali Jinyoung seperti ini.

 

“Memangnya nenek mau meminta apa dari Wonu ?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap bingung sang nenek yang sekarang malah mencubit pipi Wonwoo dengan gemas.

 

“Wonu tidak boleh bertemu lagi dengan Chanyeol Ahjussi.” Manik foxy bocah itu membulat tanda tidak setuju. Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo tidak mau menuruti permintaannya kali ini. Apalagi dengan Chanyeol- sang Lucifer keras kepala yang ingin membawa pergi Wonwoo. Jinyoung tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya. Apalagi membiarkan seorang malaikat pembelot mengurus Wonwoo.

 

“E-eh? Kenapa tidak boleh? Chanyeol Ahjussi sangat baik pada Wonwoo. Aku tidak ingin menuruti permintaan halmonie.” Wonwoo melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut di sertai delikan tak suka yang ia berikan pada Jinyoung.

 

“Chanyeol Ahjussi itu sangat berbahaya. Apa Wonwoo ingin tahu siapa sebenarnya Chanyeol Ahjussi?” Penawaran sang nenek terdengar menggiurkan bagi Wonwoo. Jinyoung bisa melihat Wonwoo kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh keingintahuan tercetak jelas di manik foxy bocah itu.

 

“Memangnya kenapa dengan Chanyeol Ahjussi?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan sendu. Tangannya kembali terulur untuk mengelus pipi Wonwoo dengan lembut. Jinyoung tentu sangat mengerti jika Wonwoo merindukan sosok ayah. Chanyeol datang dan mengaku sebagai paman jauh Wonwoo. Lalu ia sering mengajaknya bermain setiap hari. Tentu saja Jinyoung sangat khawatir jika Chanyeol membocorkan identitas sebenarnya pada Wonwoo, jika ia adalah ayah dari si surai coklat. Jinyoung sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia hanya ingin Wonwoo menjadi manusia normal seperti temannya yang lain. Kehadiran Chanyeol hanya akan menjadi pengaruh buruk untuk Wonwoo. Kekuatan Wonwoo akan semakin berkembang jika Chanyeol selalu berada di dekatnya. Jinyoung tidak ingin Wonwoo mempunyai kekuatan para malaikat.

 

“Halmonie akan menceritakan semuanya pada Wonwoo. Tapi setelah itu, Wonu tidak akan ingat apapun lagi. Bagaimana?” Kembali, manik foxy itu membelalak, dan memberenggut tidak setuju. Wonwoo kembali menunjukan aksi tidak setuju atas apa yang Jinyoung ucapkan.

 

“Jika Wonwoo tidak menurut, Halmonie tidak akan memberikan Wonu cemilan lagi.” Piring berisi cookies di ambil kembali dari hadapan Wonwoo. Membuat bocah itu kembali mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya mulai mengangguk tanda setuju. Lagi pula, Wonwoo bisa bertemu secara sembunyi dengan Chanyeol nanti. Lalu ia tidak akan mungkin melupakan semua yang di ceritakan neneknya. Wonwoo itu pintar. Ia akan ingat dalam sekejap ucapan Jinyoung nanti.

 

“Arraseo. Aku mengerti. Sekarang ceritakan tentang Chanyeol Ahjussi, dan juga berikan cake itu padaku.” Wonwoo bisa melihat Jinyoung tersenyum dengan lebar kali ini. Ia yakin, jika Jinyoung sangat senang karena keputusannya itu. Kemudian Jinyoung mulai menarik kursi di samping Wonwoo, dan duduk di sana. Membuat Wonwoo menoleh pada wanita tua itu yang sekarang menghela napasnya pelan, sebelum memulai ceritanya.

 

“Ne.. Apa Wonu percaya dengan malaikat? Lalu dengan Iblis, dan juga Tuhan?” Jinyoung menatap ke arah Wonwoo dengan tajam. Membuat bocah itu gugup, karena ini adalah kali pertama Jinyoung menjadi serius seperti ini. Biasanya, neneknya itu akan selalu tersenyum dan memberikan guyonan yang membuat Wonwoo tertawa lepas. Bukannya bertanya hal aneh seperti ini.

 

Dahi Wonwoo mengernyit pelan. Mencoba untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di berikan dari Jinyoung. Bocah bersurai coklat itu mengetukkan jari pada ujung meja dengan mata tertutup. Berharap akan menemukan jawabannya. Wonwoo tentu sangat percaya jika Tuhan itu ada. Lalu tentang iblis dan juga malaikat tentu ada. Wonwoo belajar semua itu setiap hari minggu di Gereja. Ia bukanlah seorang atheis. Jadi tentu saja Wonwoo percaya. Walaupun ia sama sekali belum pernah bertemu malaikat dan iblis dengan matanya sendiri.

 

“Ya. Pastor Michael bilang padaku jika malaikat dan iblis juga nyata. Aku juga belajar banyak tentang para malaikat dan Iblis yang mengganggu manusia.” Dahi Wonwoo mengernyit. Berusaha untuk kembali mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

“Tapi Halmonie.. Chanyeol Ahjussi pernah berkata jika aku adalah seorang Nephilim, dan aku harus menyembunyikan kekuatanku agar Verchiel (1) tidak menemukan keberadaanku.” Badan wanita tua itu menegang. Matanya membulat, menatap Wonwoo kaget. “Ne.. Apa kau tahu maksud dari Chanyeol Ahjussi? Nephilim itu apa?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap Jinyoung penuh tanya. Berharap Jinyoung bisa menghilangkan rasa penasarannya selama beberapa hari terakhir. Karena Wonwoo memang tidak mengerti tentang peringatan dari Chanyeol. Ketika ia ingin bertanya lagi tentang hal itu, Chanyeol malah pergi meninggalkannya. Bahkan sampai sekarang Wonwoo belum bertemu dengan pria itu lagi.

 

Jinyoung menelan salivanya dalam. Ia mencoba kembali menetralkan emosi yang tercetak di wajahnya. Kali ini, Jinyoung harus menjelaskan semuanya pada Wonwoo. Lalu membuat bocah itu melupakan segala hal tentang Lucifer brengsek itu, dan juga memberikan Wonwoo pelindung agar ia tidak akan bisa melihat lagi sosok Lucifer selamanya, juga pengikut Lucifer yang mengincar Wonwoo. Jinyoung juga tidak ingin jika Wonwoo di incar oleh Verchiel, atau Gabrielle. Cucunya itu sama sekali tidak bersalah jika terlahir menjadi seorang Nephilim.

 

Tangan Jinyoung terulur untuk menyentuh surai coklat Wonwoo. Membuat bocah itu mengerjapkan matanya bingung.

 

“Wonwoo adalah seorang Nephilim. Setengah malaikat, dan ayah Wonwoo adalah Lucifer yang merupakan malaikat pembelot. Ia adalah Chanyeol.” Jinyoung bisa melihat Wonwoo membelalakan matanya kaget. Tentu Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo masih mencoba mencerna semua yang ia jelaskan secara singkat. Tapi sebelum Wonwoo mengerti segalanya, Jinyoung akan membuat bocah itu kembali lupa. Wonwoo tidak boleh mengingat apa yang ia ucapkan.

 

Tangan Jinyoung bergerak ke samping leher Wonwoo, dan menekan keras selangka leher Wonwoo. Membuat bocah itu menjerit kaget saat merasakan sebuah cahaya berkumpul di lekukkan lehernya. Pelindung cahaya mulai mengelilingi tubuh Wonwoo. Pelindung yang Jinyoung buat, akan membuat Lucifer, Verchiel, dan segala makhluk lainnya tidak dapat menyadari keberedaaan Wonwoo. Pelindung itu juga yang membuat Wonwoo kehilangan kesadaran dirinya, dan juga kehilangan beberapa kilasan ingatannya tentang Chanyeol.

 

“Maafkan aku, Wonu-ya.” Tubuh kecil itu terjatuh dalam pangkuan Jinyoung. Semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan Wonwoo. Ini adalah cara yang terbaik agar Wonwoo selamat.

 

 

Nephilim

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

a/n: Saya ingatkan. Lucifer itu bukan iblis yah awalnya. Lucifer itu adalah malaikat pertama yang di usir Tuhan dari surga. He’s fallen.

Semua chara yang masuk di sesuaikan dengan bias dan otp saya. wks

Strata dunia nanti ah. Belum secara menyeluruh ada kok di chap ini.

Kenapa marganya beda-beda padahal jun ama wonu dan chan itu se ayah? Well, saya jelaskan nanti. Ini masihlah chap awal. Penjelasan berlanjut sebagaimana cerita berjalan.

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

  • Some angels destinied to Fall –  

 

.

 

.

oOo

.

Tubuh pemuda bersurai coklat itu menegang dengan mata membulat kaget saat mendengar semua penjelasan dari pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang melekat di tubuhnya. Pria itu bernama Wen Junhui; yang mengaku sebagai kakak kandung dari Wonwoo. Kemudian pria yang sekarang mengenakan pakaian layaknya seorang raja di zaman Arthur yang pernah Wonwoo tonton itu menunjukkan suatu hal yang tidak dapat Wonwoo percaya.

Saat tangan Jun terulur untuk menyentuh bahu Wonwoo, ia mulai merasakan kilasan ingatan di dalam otaknya. Ingatan itu meluap dengan cepat bagaikan kilasan film yang membuat kepala Wonwoo pening. Wonwoo ingat semuanya. Ia ingat bagaimana neneknya selalu mengelak jika ia bertanya dimana Chanyeol, dan kenapa neneknya membenci Chanyeol. Lalu dengan hadirnya Mingyu; yang memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim. Sekarang semuanya menjadi terhubung, dan Wonwoo tahu siapa dirinya. Ia adalah Nephilim- makhluk setengah malaikat yang berasal dari Lucifer– Sang malaikat pembelot pertama. Jujur saja, ini semua masih seperti mimpi buruk untuk Wonwoo. Ia sulit untuk mempercayai semua hal yang tidak masuk logika. Semua kejadian yang menimpa Wonwoo tidak masuk di akal.

 

“A-aku tidak mengerti.” Wonwoo tergugup. Ia memundurkan badannya perlahan menjauh dari Jun. Kepalanya menggeleng tanda tidak setuju dengan semua kilasan memori yang Jun berikan padanya.

 

“Kau adalah adikku. Putra dari Lucifer, walaupun kau hanyalah setengah malaikat Wonwoo-ya.” Suara Jun terdengar menakutkan bagi Wonwoo. Ia sangat berbeda dengan Mingyu. Walaupun pemuda bersurai hitam itu selalu seenaknya, tapi Wonwoo selalu merasa nyaman jika Mingyu ada di sampingnya. Saat ini, Wonwoo berharap Mingyu datang menolongnya.

 

“Aku hanyalah manusia biasa.” Wonwoo mengangkat kepalanya. Memberikan Jun tatapan tajam, dan hal itu malah membuat Jun tertawa lepas.

 

“Hey, Wonwoo-ya.. harus berapa kali aku bilang bahwa kau itu Nephilim?” Jun mendekat ke arah Wonwoo. Membuat pemuda bersurai coklat itu memundurkan tubuhnya dengan refleks. Aura Jun benar-benar berbahaya. Wonwoo tidak menyukai aura yang menguar dari tubuh Jun. Aura itu mencekam. Seolah membuat Wonwoo tenggelam dalam kegelapan.

 

“Aku akan pergi dari sini. Tolong lepaskan aku.”

 

“Dan kau melupakan niat awalmu ketika bertemu denganku, Jeon Wonwoo?” Manik foxy kembali membulat. Tentu saja Wonwoo ingat kenapa ia menerima ajakan dari Soonyoung. Ia ingin bertemu dengan Chanyeol. Walaupun Wonwoo harus mengakui jika Chanyeol itu adalah seorang malaikat pembelot. Lucifer– Sang pemberontak Tuhan.

 

“Di-dimana Chanyeol Ahjussi?”Wonwoo kembali bertanya. Ia mencoba melupakan rasa takutnya demi hal ini. Wonwoo tidak boleh ragu. Semua yang ia lakukan adalah untuk Chanyeol. Apapun yang terjadi, ia harus bertemu dengan Chanyeol.

 

“Maksudmu Lucifer? Ayah kita?”

 

“Y-ya. Aku ingin bertemu dengannya.” Wonwoo bisa melihat tatapan tajam dari Jun meredup. Ada kesedihan yang terpancar di mata itu. Wonwoo bisa merasakannya dengan jelas.

 

“Ayah sudah di bunuh oleh Verchiel.” Suara Jun terdengar dingin dan penuh akan dendam. Tangan pria bersurai merah itu terkepal dengan erat, seolah menahan amarahnya agar tidak meledak. Aura kebencian menguar di seluruh tubuhnya.

 

“Apa maksudmu, Jun-ssi? Aku sama sekali tidak bercanda dengan hal seperti ini!” Suara Wonwoo meninggi. Ia mulai mendekat ke arah Jun, dan mencengkram erat baju zirah berbalut besi yang melekat di tubuh pria itu. Kesabaran Wonwoo sudah habis. Ia tidak ingin di permainkan lagi oleh Jun.

 

“Apa aku terlihat bercanda?” Tatapan dingin menusuk dari Jun membuat Wonwoo terdiam. Tangan yang semula berada di lengan Jun, kini terkulai lemas. Wonwoo kembali di jatuhkan oleh berita mengejutkan dari Jun. Ia belum siap mendengar kabar bahwa Chanyeol- paman yang selama ini Wonwoo harap bisa bertemu lagi, sudah tidak ada. Ia terbunuh, dan Wonwoo tidak dapat melihatnya lagi. Sekarang Wonwoo merasakan hatinya remuk. Air mata tiba-tiba membasahi pipi Wonwoo. Jujur saja, Wonwoo tidak tahu kenapa ia menangis. Padahal ia dan Chanyeol hanya dekat selama satu tahun saja. Setelah itu Pamannya menghilang, dan Wonwoo seakan lupa dengan keberadaannya.

 

Tubuh mungil Wonwoo bergetar. Pemuda bersurai coklat itu masih menangis dalam diam. Mengabaikan Jun yang sekarang bingung harus berbuat apa. Jun tidak terlalu pintar menghibur seseorang. Ia bahkan lupa kali terakhir ada seseorang yang mau menemaninya.

 

“Berhentilah menangis. Kau harus tinggal di sini jika tidak ingin di bunuh oleh Verchiel.” Wonwoo mendongak ke arah Jun yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia mulai mengusap pipi untuk menghilangkan jejak air matanya. Manik foxy itu kembali menatap Jun dengan pandangan penuh tanya. Berharap jika Jun menjawab siapa itu Verchiel.

 

Verchiel adalah malaikat utusan Tuhan; penghuni Alfheim, yang selalu memburu malaikat sepertiku, dan juga para Nephilim. Kau berada di Aerie sekarang, Wonwoo. Di tempat ini, semua malaikat pembelot dan juga Nephilim sepertimu tinggal.” Jun mulai menjelaskan dengan detail bagaimana Aerie terbentuk, dan siapa saja pasukan Verchiel yang selalu membunuh kaum Nephilim. Bagaimana Lucifer terbunuh, dan kenapa para utusan Tuhan memburu semua kaumnya.

 

“Jika kau keluar dari istana ini, kau akan menemukan sebuah pemukiman di mana para Nephilim sepertimu tinggal. Di Aerie, para Nephilim akan merasa aman. Kau tidak perlu takut lagi jika Verchiel akan datang memburumu, Wonwoo-ya. Para Elf, melindungi wilayah Aerie.”

 

Wonwoo mengangguk pelan. Ia mulai mengerti semua penjelasan yang Jun jabarkan tadi. Tapi Wonwoo tidak ingin berada di sini. Ia ingin pulang, dan bertemu dengan Mingyu. Wonwoo belum siap jika harus berada di Aerie. Lagi pula, ia harus memastikan semua yang sudah Jun jelaskan.

 

“Beri aku waktu untuk berpikir Jun-ssi. Tolong antarkan aku pulang.”

 

“Baik. Tapi Soonyoung akan mengikuti dan menjagamu, Wonwoo.” Wonwoo menggeleng dengan cepat mendengar penuturan Jun. Ia tidak ingin di ikuti oleh Soonyoung. Wonwoo butuh waktu untuk sendiri dan mencoba mencari tahu kebenaran dari semua ini. Ia harus bertemu dengan Mingyu. Satu-satunya penolong Wonwoo adalah pemuda bersurai hitam itu.

 

“Tidak. tolong biarkan aku memikirkan semuanya sendiri.” Wonwoo bisa melihat Jun menghela napasnya. Kemudian pria itu mendengus tak suka, dan melirikkan matanya ke arah Soonyoung yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk. Tatapan isyarat agar pemuda bersurai hitam itu mendekat.

 

“Antar Wonwoo pulang. Setelah itu kau kembali lagi ke Aerie.” Jun membalikkan badannya. Berjalan menjauhi Wonwoo. Jubah merahnya berkibar, dan setelah itu sosok Jun menghilang bagaikan hembusan angin.

 

“Kau ingin kembali ke cafe atau apartemenmu, Wonwoo-ssi?” Soonyoung membentangkan sayap-sayap hitamnya. Sebelum akhirnya mulai mengibaskannya dengan pelan, hingga tubuhnya melayang. Ia mulai mengulurkan tangannya ke arah Wonwoo.

 

“Apartemenku.” Wonwoo menggapai uluran tangan Soonyoung, sehingga ia berada di pelukan pemuda bersurai hitam itu. Kemudian mereka terbang ke atas, meninggalkan ruang singgasana Jun. Wonwoo berharap keputusannya kali ini sama sekali tidak salah. Ia membutuhkan Mingyu untuk menjelaskan semua keraguan yang ada di hatinya.

 

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan dengan gontai menuju koridor apartemen yang akan mengantarkan tubuh mungilnya menuju kamar apartemen yang berada di pojok lantai tujuh ini. Tadi Soonyoung sudah mengantarnya sampai ke depan gedung apartemen. Setelah itu Soonyoung kembali memukul udara dengan sayap hitamnya, dan terbang meninggalkan Wonwoo. Jadi disini Wonwoo berada. Ia sudah kembali ke dunia asalnya. Bukan di Aerie– tempat para Nephilim berada.

Wonwoo mulai membuka kenop pintu kamarnya dengan pelan. Sebenarnya Wonwoo berharap akan bertemu dengan Mingyu. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Biasanya Mingyu sudah berdiri di samping lift, sambil menatap pemandangan kota. Tapi nyatanya, pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Entah kenapa Wonwoo merasa kecewa saat tidak dapat menemukan sosok Mingyu.

 

“Hah..” Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai masuk ke dalam apartemen. Tangannya meraba dinding untuk menekan saklar lampu agar lampu di ruang tengah menyala. Kemudian cahaya lampu mulai menyinari ruangan itu. Membuat mata Wonwoo menyipit perlahan karena ia melihat sesosok bayangan yang sedang duduk di sofa kecil miliknya. Sosok itu mulai berbalik ke arahnya, dan menatap Wonwoo.

 

“Wonwoo-ya.. Apa yang kau lakukan selama dua hari ini?!” Suara bariton yang sangat Wonwoo kenal itu menggema memenuhi ruangan. Kali ini, Wonwoo bisa melihat dengan jelas sosok Kim Mingyu yang berdiri di dekat sofa sambil menatapnya dengan tajam. Wonwoo bisa merasakan kekhawatiran di dalam manik obsidiannya.

 

Langkah Mingyu semakin dekat dengan Wonwoo. Membuat Wonwoo memundurkan tubuhnya. Menyentuh pintu yang ada di belakangnya sehingga tertutup dengan sempurna. Wonwoo tahu jika Mingyu marah padanya. Mingyu tidak pernah menatapnya sedingin itu.

 

“Apa yang kau lakukan selama dua hari, Wonwoo? Kau tahu? Aku kebingungan mencarimu kemana-mana!” Dahi Wonwoo mengernyit saat mendengar pertanyaan beruntun dari Mingyu. Dua hari? Wonwoo sudah berada di Aerie dua hari?

 

“A-apa maksudmu, Gyu?” Wonwoo mendongak. Menatap manik obsidian Mingyu yang menatapnya tajam. Ini kembali membingungkan untuk Wonwoo. Ia pikir hanya beberapa jam saja berada di Aerie.

 

“Kau menghilang selama dua hari.” Mingyu menghela napasnya lelah. Kali ini tangannya terulur untuk menarik Wonwoo ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sungguh, Mingyu merindukan sosok Wonwoo. Ia sudah kebingungan mencari Wonwoo selama dua hari ini. Ia bahkan tidak dapat mengendus keberadaan Wonwoo di manapun. Mingyu takut jika pasukan Verchiel menyerang Wonwoo. Ia tidak ingin itu semua terjadi. Mingyu akan melindungi Wonwoo sampai kapanpun.

 

“Syukurlah, Wonu-ya. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Mingyu menelusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Wonwoo. Menghirup dalam aroma vanilla dari tubuh Wonwoo. Aroma tubuhnya yang sudah menjadi obat penenang tersendiri untuk Mingyu. Rasa khawatir dan ketakutan dalam dirinya menghilang hanya dengan mencium aroma tubuh Wonwoo.

 

“M-maaf, Mingyu.” Wonwoo bergumam pelan. Tangannya bergerak untuk membalas pelukan Mingyu sama eratnya. Jujur saja, Wonwoo butuh pegangan. Ia membutuhkan sosok Mingyu untuk membuatnya mengerti tentang hal tidak masuk akal yang menimpa kehidupannya selama beberapa terakhir ini.

 

“Aku takut, Gyu..” Suara Wonwoo bergetar. Mingyu tahu ada yang tidak beres selama Wonwoo pergi. Ia bisa merasakan pelukan Wonwoo semakin mengerat, dan juga tubuh pemuda bersurai coklat itu mulai bergetar ketakutan, di sertai isakan lirih yang lolos dari mulut Wonwoo.

 

“G-gyu… A-aku takut.. T-tolong…” Suara lirih Wonwoo terdengar menyesakkan bagi Mingyu. Ia tidak ingin melihat Wonwoo ketakutan seperti sekarang. Tangan Mingyu bergerak untuk menggendong tubuh Wonwoo ala bridal. Wonwoo diam. Tidak menolak dengan perlakuan Mingyu. Ia malah membenamkan wajahnya pada leher Mingyu dan menangis di sana. Mingyu membawanya ke kamar. Kemudian pemuda bersurai hitam itu membaringkan tubuh mungilnya di ranjang. Wonwoo bisa melihat dengan jelas Mingyu duduk di sampingnya dengan tatapan khawatir.

 

“Ceritakan semuanya padaku.” Perintah Mingyu yang penuh ke absolutan, membuat Wonwoo mengangguk dengan cepat, dan mulai mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu ia mulai menceritakan segalanya. Tentang Aerie, Jun, Soonyoung, Chanyeol, dan juga Verchiel. Wonwoo bisa melihat raut wajah Mingyu berubah. Rahang pemuda bersurai hitam itu mulai mengeras. Tangan Mingyu terkepal dengan erat.

 

“Kau tidak boleh bertemu dengan Jun lagi. Dengarkan aku Wonwoo-ya.” Manik obsidian menatapnya tajam. Seakan tidak ingin di bantah. “Aku akan melindungimu sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkan makhluk jahanam itu menyentuhmu. Apalagi Verchiel sialan itu!” Mingyu kembali kembali memeluk tubuh Wonwoo dengan erat. Ia tidak akan membuat Wonwoo menderita. Apapun yang terjadi. Karena Wonwoo adalah miliknya.

 

“Terimakasih, Gyu.” Wonwoo kembali memeluk tubuh kokoh Mingyu. Mereka berbagi pelukan dan beberapa ciuman Mingyu hadiahkan di bibir plum Wonwoo. Bagi Mingyu, pemuda bersurai coklat itu adalah candu. Jika Wonwoo tidak ada, mungkin Mingyu akan menjadi gila seperti dua hari kemarin saat ia tidak dapat menemukan sosok Nephilim itu.

.

oOo

.

 

Mingyu menatap dalam Wonwoo yang sekarang tertidur dengan lelap. Wajah Wonwoo terlihat sangat damai. Sebuah senyum kecil tersungging menghiasi wajah cantik pemuda bersurai coklat itu. Mingyu yakin, jika Wonwoo sedang bermimpi indah. Karena semua kegelisahan di dalam hati Wonwoo sudah meluap. Pemuda bersurai coklat itu menangis dan tak hentinya mengatakan terimakasih di sela-sela ciuman hangat mereka. Kemudian Wonwoo jatuh tertidur dalam pelukannya.

 

Mingyu menampilkan senyum asimetris di wajahnya. Ia bersyukur datang kembali ke dunia manusia, dan di pertemukan dengan Wonwoo. Mingyu yang awalnya tidak tertarik dengan apapun, kini tertarik oleh sosok Wonwoo. Mungkin manusia menyebut hal ini sebagai jatuh cinta. Ya. Mingyu jatuh cinta pada Wonwoo. Ia selalu ingin berada di dekat pemuda itu, dan melindunginya dari para makhluk kotor yang mencoba melukai Wonwoo.

 

“Aku tidak menyangka akan melakukan hal konyol seperti ini.” Tangan Mingyu terulur untuk mengelus surai coklat Wonwoo dengan pelan. Kemudian ia mulai menunduk dan mencium kening Wonwoo. “Hades akan marah padaku jika tahu aku berurusan dengan para malaikat.”Mingyu terkekeh pelan, saat mengingat kembali sosok Ayahnya. Ia sangat yakin jika Kyuhyun akan murka. Jujur saja, Mingyu sangat suka melihat Ayahnya itu marah. Walaupun Persephone selalu bisa menenangkan ayahnya dengan cepat.

 

“Mingyu-ssi. Apa anda merasakan keberadaan Thanatos?” Suara Yao yang kecil memecah keheningan. Membuat Mingyu sadar jika sejak tadi Yao masih mengikutinya. Ia pikir anjing itu sudah menuruti perintahnya untuk kembali ke Gerha Hades(2).

 

“T-thanatos ada di sini.” Suara Yao mencicit. Membuat Mingyu tersenyum meremehkan ke arah pintu kamar. Di sana ia sudah melihat sosok Thanatos. Mingyu bukanlah orang bodoh yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Thanatos yang menguarkan aura mematikan di sekelilingnya.

 

“Saya tidak menyangka jika anda berurusan dengan Nephilim itu.” Suara Jisoo terdengar meremehkan. Membuat Mingyu menggeram tak suka ke arahnya. Ini yang Mingyu tidak suka dari abdi ayahnya itu. Jisoo selalu mencampuri segala urusannya.

 

“Dan aku tidak menyangka jika kau kembali mencampuri urusanku. Apa Hades mengutusmu?” Suara sarkatik Mingyu hadiahkan untuk Jisoo. Kemudian pemuda bersurai hitam itu mulai berjalan ke arah Jisoo. Manik obsidian menatap tak suka ke arah Jisoo yang tidak pernah tunduk oleh tatapannya.

 

“Ya. Kyuhyun-ssi sudah tahu jika anda berurusan dengan Nephilim. Beliau ingin anda pulang ke Gerha Hades.”

 

“Tidak. Aku tidak akan pulang. Sampaikan pesanku untuk Ayah dan Ibu. Aku akan bersama Wonwoo di sini.” Mingyu berbalik. Berjalan ke arah Wonwoo, dan mengabaikan sosok Jisoo yang menggeram marah.

 

“Kyuhyun-ssi akan marah dan membunuh Nephilim itu jika anda tidak pulang, Mingyu-ssi.” Ada nada memaksa di dalam ucapan Jisoo yang membuat Mingyu kembali mendengus, sebelum melirik Jisoo lewat ekor matanya.

 

“Aku akan melindunginya dari apapun. Pergilah, Hyung. Aku tidak ingin menyakitimu.” Aura kematian menyebar di sekeliling tubuh Mingyu. Membuat Jisoo memundurkan tubuhnya. Jisoo masih ingin hidup. Ia tidak ingin hidupnya sia-sia karena hal ini. Lebih baik ia membiarkan Mingyu, dan kembali melapor pada Kyuhyun.

 

“Saya sudah memperingatkan anda. Nephilim itu berbahaya bagi makhluk dunia bawah seperti kita, Mingyu-ssi.” Dan setelahnya, sosok Jisoo menghilang di gantikan oleh gumpalan cahaya hitam yang mengecil, kemudian hilang bagai di terpa oleh angin.

 

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Wonwoo.” Geraman Mingyu terdengar menakutkan. Mingyu belum pernah seserius ini sebelumnya. Jika ada yang menyakiti Wonwoo, itu artinya mereka akan berurusan dengan Mingyu. Sekalipun itu adalah malaikat utusan Tuhan, Wonwoo tidak akan pernah takut.

 

.

oOo

.

 

 

Pemuda bersurai hitam dengan hanbok berwarna putih itu menatap tajam bawahannya. Aron atau yang lebih di kenal sebagai Verchiel menggeram. Ia tidak habis pikir jika ada keturunan dari Lucifer yang masih berada di dunia manusia. Aron pikir semua Nephilim dan para malaikat pembelot bersembunyi di Aerie. Ini adalah kesempatan langka. Ia tidak akan membiarkan buronannya lepas lagi. Kali ini, Aron bertekad untuk membunuh Nephilim bernama Jeon Wonwoo.

 

“Tapi Aron-ssi, sosok Mingyu selalu terlihat di samping Nephilim itu.” Dahi Aron mengerut mendengar penuturan dari Baekho- sang bawahan yang sudah ia tugaskan memantau Wonwoo. Mingyu yah? Jika memang benar Mingyu ikut campur dalam urusan ini, itu berarti Mingyu menantang Zeus- Penguasa Langit.

 

“Menarik. Putra Hades terlibat dengan Nephilim.” Seringaian licik terukir jelas di wajah Aron. Ini adalah hal yang paling menarik. Jika Mingyu terlibat, mungkin saja perang langit akan kembali terjadi. Murka Zeus dan Hades selalu menggemparkan bumi.

 

“Tangkap Wonwoo secepatnya, dan bawa padaku. Walaupun Mingyu ada di samping Nephilim itu.” Wajah Baekho memucat saat mendengar perintah dari Aron. Ah. Ia masih ingin hidup. Kekuatannya sama sekali belum cukup kuat untuk menentang putra Hades. Ini namanya cari mati.

 

“Jika kau tidak bisa membawa Wonwoo, aku akan mematahkan sayapmu.” Baekho menelan salivanya dalam. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti Aron. Semua pilihan yang di berikan Aron tidak ada yang bagus. Sama-sama jalan kematian.

 

“Baik, Aron-ssi.” Baekho menundukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum ia mulai mengepakkan sayap putihnya, dan melayang menjauh dari kastil Verchiel. Baekho harus melaksanakan tugasnya. Ia tidak ingin jika sayapnya di patahkan. Itu sama saja artinya dengan menjadi malaikat pembelot. Baekho akan membawa Wonwoo apapun yang terjadi.

 

Tebece

 

Glousarium :

  1. Verchiel : Malaikat Utusan Tuhan. Abdi Zeus yang bertugas untuk memburu para kaum pembelot.

 

  1. Gerha Hades : Kerajaan Dunia Bawah. Tempat Hades tinggal.

 

 

Well, chap depan mulai bakalan beda sama POF. So, bagi yang ngikutin pof, maka lanjutan cerita itu yang sebenarnya adalah di sini.

Huhu. Andai ga dedlen. Mungkin ini bakal jadi akakuro full dulu wkwk. But gapapa, akakuro shipper, buat fantasy-fantasyan. Saya bakal lanjut incubus nanti.

Jadi biarkan pof menjadi milik Meanie. *jyah wkk

 

Caste heavenn di up taun baru yah. Mwah :*

 

So, berkenankah berkomentar? Atau ada yang mau nanya kalau ga ngerti pendeskripsian semuanya? Jangan lupa komen

 

Vomen?

 

Astia Morichan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s