Fudanshi Janai ! Chap 2| Meanie Couple | Yaoi

Fudanshi Janai!

R18!

Romance, Drama

Warning ! OOC, Typo’s, EYD dan Kaidah kata tidak sesuai KBBI, Absurd, YAOI, dll.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Bagaimana jadinya jika Jeon Wonwoo- si Otaku yang mengoleksi puluhan wifu beroppai besar, tanpa sengaja menemukan puluhan komik dan doujinshi Yaoi R18! Di kamar Kim Mingyu yang notabene-nya sahabat nista perotakuannya selama ini?

a/n: Sumpah ini FF iseng. Kenapa di taruh di M? Karena saya suka kebablasan ngehardcore kalo nulis otepeh. Oke. Sekian.

Kalo ada istilah yang ga ngerti. Silahkan baca di akhir cerita. Karena saya tahu. Ga semua penyuka yaoi fujoshi itu otaku yang demen ngehardcore ditemani doujinshi serta cd drama bl.

enJOY!

.

OoO

 
Jeon Wonwoo melongo seperti orang bodoh, ketika Kim Mingyu – sahabat pernistaan otaku; yang ia sangka memiliki presepsi sama dengannya; sama-sama menyukai oppai besar itu, kini harus menelan sebuah pil kepahitan bernama kenyataan. Kim Mingyu adalah Fudanshi. Sahabatnya itu adalah Fudanshi. Penyuka cerita cinta dua orang pria. Homosexual. Gay.

 

“Kau tahu Wonu-ya? Husbando ku adalah Tetsuya. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Jika kau menyukai Momoi, maka aku hanya menyukai Tetsuya dan Ryouta.” Wonwoo masih bungkam. Diam. Membiarkan Mingyu yang mulai mengoceh, sambil mengeluarkan merchandies yang tadi ia beli di Anime Lux. Astaga. Wonwoo masih tidak percaya dengan semua ini. Ia lebih memilih Momoi Satsuki yang sexy dan menggemaskan dari pada Tetsuya si phantom yang notabene- laki-laki.

 

“Aku juga sangat menyukai Nemu-chan.” Tangan Mingyu bergerak. Mengambil miniatur megane brief pantsu di depannya. “Dia adalah uke. Sama seperti mu. Dan aku menyukainya.” Dan ucapan terakhir Mingyu semakin membuat Wonwoo membulatkan matanya horor. Uke katanya? Sama seperti dirinya pula? Apa ia secara tidak langsung mengaku jika menyukai Wonwoo? Astaga! Wonwoo memang bukan seorang Fudanshi, tapi ia jelas tahu istilah uke atau pun seme. Uke adalah Bottom; yang di masuki. Dan Kim Mingyu berani menyamakan Wonwoo dengan seorang uke di komik Yaoi kesukaannya itu.

 

“M-maksudku, jika kau ada di role yaoi, tentu kau adalah uke.  Seperti Nemugasa. Apalagi jika kau memakai kacamata bulatmu itu Wonu-ya.” Mingyu tersenyum kecil pada Wonwoo, sambil membayangkan bagaimana jika Wonwoo memakai kacamata bulatnya. Jujur saja, Mingyu memang sangat suka saat Wonwoo memakai kacamata. Katakanlah Mingyu megane fetish- asalkan itu hanya berlaku bagi Jeon Wonwoo seorang.

 

“E-er.. A-apa kau gay?” Wonwoo bertanya ragu. To the point. Ia melirik ke arah lain, sambil menggaruk belakang kepalanya. Manik foxynya menatap Mingyu gugup. Sebenarnya Wonwoo tidak sanggup menerima kenyataan jika sahabatnya adalah gay. Jika Mingyu hanyalah seorang fudanshi, tentu bukan masalah. Tapi jika di tambah ia juga gay? Wonwoo tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah punya teman yang berorientasi sexual menyimpang. Jadi ini adalah kali pertama, Wonwoo berhadapan dengan salah satunya; dan itu Mingyu.

 

“B-bukan. Tentu saja bukan. Aku hanya fudanshi, Wonwoo-ya. Kau tidak perlu takut padaku. Aku bukan homosexual.” Mingyu mencoba mengelak, sambil tersenyum kaku ke arah Wonwoo. Dan usahanya berhasil. Mingyu bisa melihat Wonwoo menghela napasnya lega. Pemuda bersurai coklat itu tertawa kecil, dan meloncat ke arah Mingyu. Kemudian memeluk tubuh kokoh sahabatnya itu.

 

“Aku tahu, kau tidak mungkin gay. Syukurlah, Gyu.” Wonwoo mengeratkan pelukan. Menyelusupkan wajahnya pada dada bidang Mingyu. Tak lupa tawa geli tetap menghiasi wajah si surai coklat itu. Wonwoo tampak bahagia dengan semua presepsi yang ia punya untuk Mingyu. Setidaknya, Mingyu bukanlah seorang gay, dan Wonwoo cukup mempercayai hal itu.

 

“Y-ya.” Mingyu berujar gugup. Tangannya bergerak membalas pelukan Wonwoo sama eratnya. Mingyu selalu menyukai momen kecil seperti ini bersama Wonwoo. Walaupun ia harus menyembunyikan fakta jika dirinya adalah gay.

 

“Saa.. ” Wonwoo mengadahkan kepalanya. Menatap obsidian Mingyu dengan penuh binar.

 

“Jadi perlihatkan semua goodies yang selalu kau sembunyikan itu. Aku tahu kau tidak menyimpan goodiesmu di sini. Kau tahu? Aku selalu penasaran dengan apa yang kau beli.” Wonwoo melepas pelukannya pada Mingyu. Membuat Mingyu menghela  napas kecewa, karena kehangatan yang selalu ia dambakan hilang begitu saja.

 

“Tentu saja.” Mingyu berjalan lima meter ke depan. Langkahnya berhenti di sebuah rak buku koleksi komik shonen miliknya. Kemudian tangan Mingyu bergerak menyentuh sebuah tombol transparan yang ada di samping lemari buku; yang tertutup oleh sebuah stiker bergambar Momoi Satsuki. Menekannya pelan. Hingga beberapa detik kemudian, lemari buku itu bergeser ke arah kanan samping. Memperlihatkan sebuah pintu bercat hitam.

 

“Wow..” Wonwoo berdecak kagum melihat semua ini. Ia benar-benar tidak percaya jika Kim Mingyu mempunyai ruangan rahasia. Selama bertahun-tahun menjadi teman Mingyu, ia baru tahu jika ada sesuatu yang tersembunyi di balik rak buku.

 

“Aku menyimpan semuanya di ruangan ini.” Mingyu menekan jari telunjuknya pada screen finger yang ada tepat di samping kenop. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi ‘ting’, lalu pintu itu mulai bergeser ke arah samping.

 

Daebak..” Wonwoo berseru tak percaya melihat pemandangan yang ada di balik pintu itu. Ia mulai mendekat. Hingga Wonwoo sudah berada di depan Mingyu, dan mereka masuk ke dalam ruangan itu. Sebelum akhirnya terdengar bunyi dentingan; yang menandakan jika pintu sudah kembali tertutup.

 

Manik foxy Wonwoo menatap ke segala penjuru ruangan. Ruangan ini berisi enam rak buku yang menjulang tinggi. Tiga rak yang berisi miniatur. Satu set home theather, beserta couch panjang; yang di lengkapi dengan karpet beludru coklat di bawah. Kemudian di lengkapi juga dengan dua set komputer terbaru; yang Wonwoo yakini, di pakai oleh Mingyu untuk mengupdate info husbandonya. Di setiap dinding terpampang poster Yaoi yang sangat besar, dan juga beberapa poster husbando yang sudah Mingyu sebutkan. Satu poster bertuliskan Hidoku Shinaide, dengan gaya dua orang pria saling bergandengan tangan, dan di bawahnya tertulis Maya-Nemu, tersimpan di atas home theater. Kemudian poster besar Kuroko Tetsuya mengenakan hakama; yang menampilkan bahu mulusnya- terpampang di depan komputer. Ada juga poster yang tak kalah mengerikan seperti yang tadi Wonwoo lihat. Sebuah poster bertuliskan Caste Heaven – Karino- Azusa yang sedang blow job. Di ikuti dengan poster manhwa berjudul Killing Stalking; yang memperlihatkan Sangwoo dan Yoonbum terpajang di beberapa spot.

 

Daebak…” Wonwoo kembali bergumam pelan. Sungguh. Ia masih tidak percaya jika Mingyu separah ini. Well, walaupun ia memang tidak sama baiknya dari Mingyu, tapi Wonwoo tetap normal dengan mengoleksi para wifu; catat- Wanita beroppai. Bukan pria berotong alias berbatang.

 

Wonwoo melangkah ke arah rak buku. Mengambil satu doujinshi yang bergambar dua orang pria- yang tadi sering Mingyu sebutkan; Maya-Nemu.

 

“Kim Minseo?!” Wonwoo berteriak saat manik foxynya menatap karya doujinshi yang ia pegang. Cover doujinshi itu bergambar Maya dan Nemu yang tengah bercumbu. Doujinshi itu berjudul Back Fetish by Kim Minseo. Tidak mungkin kan jika Kim Minseo yang ia kenal juga menyukai Yaoi?

 

“Ah.. Ya. Itu adalah karya yang Seo-ya buat pertama kali. Bacalah. Adikku benar-benar berbakat.” Mingyu tersenyum bangga, sambil menceritakan tentang adiknya. Tolong catat. Kim Minseo adalah adik dari Kim Mingyu.

 

“T-tunggu sebentar..” Wonwoo berbalik ke arah Mingyu yang sekarang berdiri di belakangnya. Menatap pria itu dengan penuh kebingungan yang terpantri di wajah.

 

“M-minseo-ya juga menyukai yaoi?” Pertanyaan di jawab oleh anggukan pelan dari Mingyu. Membuat Wonwoo kembali membulatkan mata horor. Astaga! Ternyata Minseo yang sudah Wonwoo anggap sebagai adik kesayangannya juga ikut terkontaminasi oleh kakaknya yang nista itu.

 

“Kau meracuni pikiran adikmu dengan memperlihatkan koleksi mu ini!!” Wonwoo berteriak. Menuduh. Tidak terima jika Minseo yang ia tahu polos, adalah seorang fujoshi. “Kau membuat Minseo kesayanganku menjadi tidak polos lagi!!”

 

“Haha…” Mingyu tertawa lepas. Tergelak mendengar pernyataan yang Wonwoo keluarkan. Polos katanya? Adiknya itu polos dari mana? Mingyu saja tidak percaya jika adiknya itu polos. Dulu, adiknya itu juga sama gilanya. Sama-sama menyembunyikan jati diri sebagai pencinta yaoi. “Kau tertipu oleh pecitraan yang ia buat.” Tangan Mingyu terulur, mengelus surai kecoklatan milik Wonwoo. Membuat Wonwoo terdiam, dan membiarkan Mingyu menyentuhnya.

 

“Kau tahu? Dia sudah menjadi seorang Fujoshi sejak masih di kelas 2 smp. Jadi kau bisa menghitung berapa tahun dia menjadi seorang pencinta yaoi.”

 

“H-hampir empat tahun.” Mingyu mengangguk sebagai jawaban. Kemudian ia mulai berjalan ke arah home theater. Dan memilih untuk duduk di couch berwarna silver. Membiarkan Wonwoo untuk tetap melihat-lihat semua koleksi yang ia punya.

 

“Jujur. Baru pertama kali ini, aku mau membaca manga yaoi. Semua ini gara-gara kau, Gyu!” Tangan Wonwoo kembali beralih untuk mengambil lima komik bertemakan ‘Hidoku Shinaide’. Jujur saja, Wonwoo penasaran tipe husbando yang selalu Mingyu sebutkan itu sejak tadi. Padahal, sebenarnya Wonwoo lebih memilih untuk membaca manga yuri. Atau jika pun terpaksa, ia akan memilih menonton anime ova boku no pico; anime trap pertama yang ia tonton. Ah. Mengingat pico malah membuat kenangan suram bermuculan. Gadis cantik nan kawaii- berthreesome ria yang menjelma menjadi gadis berbatang.

 

“Aku akan mencoba membacanya.” Wonwoo membawa ke lima komik itu di tangan. Berjalan ke arah Mingyu yang kini tengah asik memilih beberapa kaset yang ia letakkan di meja kecil yang ada di depan home theater.

 

“Apa yang kau pilih?” Suara Wonwoo membuat Mingyu menoleh padanya. Kemudian ia membulatkan mata horor, saat melihat satu cover seorang pria bersurai cream yang memakai sarung tangan,berdiri di samping seorang pria bersurai hitam. Cover dvd itu bertuliskan “Ten Count”. Dan Wonwoo yakin, itu bukanlah dvd drama yang di layak di tonton olehnya.

 

“BL drama. Kau tahu? Aku menyukai salah satu drama bl ini. Kemarin, aku belum sempat untuk mendengarkan volume 4.” Mingyu menarik kaset itu, hingga berada di jari telunjuknya. Sebelah tangan terulur untuk menekan tombol dvd player agar terbuka.

 

Andwaee!!!” Wonwoo berteriak ke arah Mingyu. Kemudian berlari kecil ke arah pria bersurai blonde itu. Hingga tanpa sengaja, kakinya menabrak sudut meja. Hingga beban tubuh Wonwoo oleng, dan hampir terjatuh.

 

“YA!!” Suara teriakan Mingyu di barengi dengan suara gedebuk pelan, saat tubuh Wonwoo di tarik, dan terjatuh menimpa tubuh Mingyu. Wonwoo berada di atas tubuh sahabatnya itu. Dari jarak sedekat ini, ia bisa merasakan deru napas Mingyu yang hangat menerpa wajahnya. Wonwoo menikmati bagaimana wangi mint menenangkan yang menguar dari tubuh Mingyu, dan juga debaran jantungnya sendiri; yang entah kenapa berdetak tak karuan, saat sadar wajahnya dan Mingyu hanya terpaut beberapa senti. Hingga membuat Wonwoo tanpa sadar mengerjapkan mata beberapa kali, ketika obsidian milik Mingyu terus menatapnya intens. Mingyu seakan tidak ingin mengambil inisiatif untuk menarik tubuh Wonwoo agar tidak menindihnya. Dan entah kenapa Wonwoo seolah terlena, dengan pelukan Mingyu di pinggangnya. Ia nyaman dengan suasana weirdo yang tengah terjadi.

 

“Apa aku terlalu tampan, hingga kau betah memandangi wajahku, Jeon?” Suara kekehan Mingyu seakan membuat Wonwoo tersadar dari lamunannya. Wajahnya merah padam, akibat godaan menyebalkan yang di layangkan sahabatnya. Ini gila! Sepertinya otaknya sudah tidak waras akibat melihat koleksi nista milik Mingyu.

 

Aho..*” Wonwoo bergumam pelan dengan wajahnya yang merah padam. Kemudian ia mulai menarik tubuh, hingga duduk di samping Mingyu. Di ikuti dengan Mingyu yang kini duduk bersila di sampingnya.

 

“Ne,, Wonwoo-ya…” Mingyu memanggil nama Wonwoo sambil terus menatap sahabatnya itu; yang kini mulai sibuk dengan melihat-lihat isi komik yang tadi ia bawa. “Apa kau tidak penasaran?”

 

“Tentang apa?” Wonwoo menjawab. Tanpa menoleh ke arahnya. Kini Wonwoo seakan terfokus pada jalan cerita yang tengah ia baca. Mingyu bisa melihat ekspresi senyum, heran, dan ngeri tercetak jelas dari wajah pemuda itu. Membuat Mingyu tersenyum kecil. Ah. Apa ia bisa menarik Wonwoo agar masuk ke dalam perangkapnya? Jika ya, maka Mingyu tidak akan bisa mundur lagi, dan harus terpaksa menjauh jika Wonwoo akan membenci saran.

 

Mingyu mulai mempersempit jarak. Hingga bahu mereka menempel satu sama lain. Tangannya bergerak ke arah depan. Tepat ke arah komik di tangan Wonwoo; yang menampilkan Nemugasa tengah di tusuk beberapa kali oleh genital besar milik Hideyuki. Menampilkan desahan desahan, dan scene kotor di beberapa halaman ke depan.

 

“Aku penasaran kenapa mereka terlihat menikmatinya.” Mingyu merasa oksigen di ruangan ini mendadak hilang, saat ia berhasil mengucapkannya. Hening. Tidak ada suara atau jawaban dari Wonwoo. Mingyu hanya bisa mendengar bunyi kertas di buka.

 

“Ya, aku juga penasaran. Kau lihat ini?” Wonwoo menarik komik yang di pegang agar Mingyu bisa melihatnya. Kini komik itu menampilkan bagaimana besarnya genital yang di milik oleh Hideyuki.Penis pria ini benar-benar besar! Bagaimana mungkin itu bisa masuk ke dalam lubang pantat yang kecil? Aku tidak mengerti. Sungguh.” Wonwoo mengoceh. Mengeluarkan kembali pertanyaan- pertanyaan pada Mingyu, sambil tetap memperlihatkan scene yang ada di komik itu.

 

“Lalu ini, kau lihat? Bagaimana mungkin jika ia bisa mendesah keenakan, saat putingnya di gigit dan di pilin seperti itu? Aku saja jika onani tidak pernah memainkan putingku.” Kemudian tangan Wonwoo kembali beralih ke volume empat. Ia mulai melanjutkan pertanyaan yang akan di ajukan pada Mingyu.

 

“Aku tahu, jika plot cerita ini memang bagus, di tambah pretty art dari authornya. Tapi sungguh aku tidak mengerti dengan bagian yang ini, Gyu.” Wonwoo menunjukan satu scene di mana Hideyuki tengah melijat lubang pantat milik Nemugasa. “Bagaimana bisa pria itu menjilat lubang pantat? Bukankah itu menjijikan, Gyu? Tapi kenapa mereka terlihat menikmatinya?”

 

Entah Mingyu harus tertawa, atau miris mendengar pertanyaan polos yang Wonwoo keluarkan. Wonwoo itu rajin onani dan berdelusi dengan yeoja dua dimensi, tapi tidak mengerti dengan hal berbau sex pria dan pria. Ah. Sepertinya rencana Mingyu akan berjalan dengan lancar. Wonwoo penasaran dengan semua itu.

 

“Ehhm..” Mingyu berdehem pelan, sebelum menarik tangan Wonwoo. Pemuda bersurai blonde itu menarik tubuh Wonwoo dalam satu gerakan cepat. Hingga membuat si surai coklat memekik pelan, karena entah bagaimana caranya, kini ia sudah duduk mengangkang di pangkuan Mingyu.

 

“Jika kau penasaran, kenapa kau tidak mencoba hal seperti itu bersamaku, Wonu-ya?” Bisikan seduktif di layangkan Mingyu pada telinganya. Membuat tubuh Wonwoo bergetar pelan akibat sensasi yang pertama kali ia rasakan. Apalagi ketika tubuh mereka benar-benar menempel erat, dan menghantarkan rasa panas yang menjalar.

 

“Jika kau ingin tahu, kita bisa melakukan semua kegiatan yang ada di komik itu agar rasa penasaranmu terjawab. Bagaimana?” Dan Mingyu bisa mendengar bagaimana debaran jantung miliknya berpacu dengan cepat, ketika mulut Wonwoo mulai terbuka kecil, untuk menjawab pertanyaan yang Mingyu ajukan.

 

“A-aku—“

 

Tebece

Wkwkwk

 

  • Aho : Baka; Bodoh
  • Yuri : Girl X Girl
  • Fujo : yah macem kita ini apa. Cewe nista nan poloz yang demen humu.

 

 

Anjayy gue ga tau kenapa ini jadinya kayak gini. Seriusan, ini hanya ff iseng. Ga ada plot cerita. Hanya berjalan ketika gue tiba-tiba stress dan malah lanjutannya kek gini.

Ga suka? Jangan baca. Gue ga maksa. Toh gue nulis Cuma buat asupan gue sendiri.

 

Oh iya, buat iwtbas sama caste heaven udah gue publish ulang. Yang di FFN gue hapus. Dan yang di wattpad gue private dari chap 3. Sumpah gue males liat siders, jadi gue private. Jadi biarkan followers yang baca. Wkwk

 

Tbh kenapa gue private? Satu. Karena kedua ff itu menurut gue nista. Kalo ga nista2 amat mah. Gue jg bakal di open. Sayangnya otak gue sengklek pas buat kedua cerita itu. Jadi dah gitu.

 

Vomen ?

Astia Morichan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s