I Wanna Be Dominan, Sei! |AkaKuro| Sequel Extra Incubus

Akashi Seiya mengerucutkan bibirnya kesal, saat melihat Akashi Tetsuya duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk di teras depan. Menatap lurus pepohohonan yang di selimuti oleh salju putih. Kemudian Tetsuya melirik ke arah bocah bersurai crimson yang masih terlihat merajuk. Sebenarnya Tetsuya tahu, alasan putranya itu kesal. Seiya kesal karena Seijuurou tidak membawanya ke perbatasan kota. Ada alasan khusus kenapa Seijuurou menolak. Ia akan menemui Oracle Delphi- Cenayang terpilih Putra Apollo- yang akan meramalkan nasib keluarga kecil mereka.

 

“Seiya kenapa?” Suara Tetsuya yang lembut mengalun, hingga membuat Seiya menoleh. Tangan Tetsuya bergerak mengelus perut yang membuncit. Sekarang, ia sudah memasuki bulan ke tujuh. Sebagai omega yang tengah mengandung, bulan ke tujuh adalah hal paling rawan.

 

“Kapan adikku lahir, Daddy?” Seiya menatap Tetsuya penuh pengharapan. Tetsuya tahu benar, jika Seiya sangat menantikan calon adikknya. Seiya sudah terlalu lama kesepian. Di daerah hutan ini, tidak ada teman yang sebaya dengan putranya itu. Berkali-kali juga Seiya mengajak Seijuurou pindah ke kota. Tapi permintaan putranya sama sekali tidak di gubris. Bukan tidak ingin, tapi memang tidak memungkinkan untuk berada di kota. Bisa saja ada makluk immortal lain mengatakan pada kawanan incubus keberadaan suaminya. Tetsuya dan Seijuurou hanya tidak ingin keluarga kecil mereka terganggu oleh para incubus itu.

 

Tetsuya menyunggingkan sebuah senyum manis. Tangannya terulur. Mengambil tangan Seiya, dan menyimpannya di atas perut Tetsuya yang sudah membesar. Tangan Seiya di gerakan pelan, agar jemari bocah itu mengelus perutnyadengan lembut.

 

Tetsuya bisa melihat jika Seiya tertegun. Manik heterochomia bocah itu membulat takjub, saat merasakan pergerakan kecil dalam perut Tetsuya.

 

“Hwah.. Bergerak..” Seiya berseru antusias. Kemudian mendekatkan kepala ke arah perut Tetsuya. Mencoba merasakan dari jarak dekat pergerakan calon adiknya. Tangan bocah itu kembali mengelus perut Tetsuya.

 

“Seiya harus bersabar. Mengerti?” Tetsuya mengelus surai crimson bocah itu.

 

“Uhm…” Seiya mengangguk pelan. Sungguh. Ia benar-benar tidak sabar ingin mempunyai seorang adik. Seiya ingin mempunyai teman yang menemaninya di rumah. Ia harap, keinginannya dapat terkabul dengan cepat. Terutama untuk pindah ke kota lagi.

.

oOO

.

 

I Wanna Be A Dominan, Sei!

T+

Family, Romance, Drama, Fantasy

 

Seijuurou X Tetsuya

 

A/n: FF Extra incubus ini, di dedikasikan untuk ultah uke favorit saya. Mwahaha. Happy Bday Tetsuya-chii! Makin langgeng sama juyo loh :’* mwah :’* aku cinta kamuuu :’*

Seriusan, ini gaje binggo. Kalo ga suka boleh menjauh. Saya hanya ingin berbagi asupan *tebar kembang*

enJOY!

.

oOo

.

.

Akashi Seijuurou berjalan mendekat ke arah mate abadinya– AkashiTetsuya- yang berdiri di tengah-tengah teras. Tetsuya sedang menatap keindahan langit malam, sambil mengelus perutnya yang sudah membesar . Senyum mengembang di wajah cantik Tetsuya. Membuat Seijuurou ikut tersenyum. Ah, rasanya Seijuurou merindukan lagi sosok Tetsuya dalam pelukannya. Padahal baru enam jam, ia meninggalkan rumah untuk bertemu dengan Oracle yang ada di kota. Di saat-saat kehamilan Tetsuya yang semakin membesar, Seijuurou akan selalu merindukan dan mengkhawatirkan mate-nya itu.

 

Malam ini, Tetsuya terlihat memesona di mata Seijuurou. Sampai Seijuurou tidak dapat memalingkan wajahnya dari Tetsuya barang sedikit pun. Pria bersurai biru itu terlihat sangat cantik, saat wajahnya di sinari oleh pantulan bulan. Sudah menjadi kebiasaan Tetsuya, jika pria itu akan menghabiskan malam pergantian umurnya dengan menatap langit malam yang selalu di hiasi bulan dan bintang. Bersama indahnya hamparan salju yang menutupi permukaan tanah.

 

Seijuurou menelan saliva dalam, saat melihat Hakama tidur berwarna biru muda yang di pakai Tetsuya terlihat sangat pas. Membalut tubuh si surai biru yang semakin terlihat sintal dan berisi. Atau dengan kata lain; sexy yang menggiurkan. Bagi Seijuurou, Tetsuya yang seperti ini memang menggoda.

 

Kemudian, Seijuurou kembali melangkah. Jaraknya dengan si surai biru hanya terpaut dua meter di depan. Langkah Seijuurou tidak terdengar saat bergesekan dengan tatami di bawah. Sampai ia sendiri yakin, jika Tetsuya tidak akan tahu keberadaannya yang sudah berdiri tepat di belakang.

 

“Melamun?” Bisikan pelan dari Seijuurou terdengar. Di ikuti dengan lengannya yang melingkar di perut Tetsuya. Jemari Seijuurou mengelusnya dengan pelan. Takut jika Tetsuya tidak menyukai sentuhannya seperti beberapa waktu lalu.

 

“Tidak..” Tetsuya melirik ke arah Seijuurou yang memeluk tubuhnya dari belakang. Tangan si surai biru bergerak menghentikan elusan yang suaminya lakukan. Kemudian menggengam tangan Seijuurou, agar tetap mengeratkan pelukan mereka. Menghantarkan rasa hangat agar tetap menyelimuti keduanya.

 

“Aku hanya ingat saat mengandung Seiya dulu.” Seijuurou terdiam. Tidak mengeluarkan suara apapun. Kepalanya bergerak untuk mengendus leher Tetsuya. Aroma vanilla menguar dari leher jenjang si surai biru. Wangi Tetsuya memang menggiurkan. Membuat Seijuurou tidak tahan untuk memberikan satu kecupan di sana.

 

“Seii..” Tetsuya memberenggut. Mencoba melepaskan diri dari pelukan Seijuurou. Tapi nihil, Seijuurou memeluknya terlalu erat. Hingga membuat si surai biru menghela napas pasrah.

 

“Diamlah sebentar, Tetsuya. Aku hanya ingin memelukmu.” Tetsuya kembali terdiam. Ia membiarkan tangan Seijuurou bermain untuk mengelus perut besarnya, dan kembali mengecup area leher jenjang Tetsuya. Sebelum akhirnya memberikan hisapan kecil yang menimbulkan tanda kemerahan yang kontras di leher si surai biru.

 

“Apa yang di katakan Oracle padamu, Sei-kun?” Tetsuya mencoba bertanya mengenai pertemuan Seijuurou dengan Oracle itu. Ramalan Putra Apollo yang tidak pernah meleset.

 

“Ramalannya mengatakan, kita harus terus menjaga Seiya dan juga adiknya nanti. Lalu aku harus menyelesaikan masalahku dengan kawanan incubus. Oracle bilang, nyawa putra kedua kita yang menjadi taruhan. Dia bisa menjadi pimpinan para incubus di masa depan.” Seijuurou memaparkan semua ramalan itu pada Tetsuya. Itu adalah ramalan singkat yang di dapatnya barusan. Calon adik Seiya akan menjadi incubus sepertinya. Sebenarnya Seijuurou juga menanyakan perihal masa depan Seiya. Ia takut jika ramalan mengenai putranya itu benar. Apalagi Seijuurou sama sekali belum tahu wujud sebenarnya dari Seiya. Putranya itu sama sekali belum melakukan perubahan.

 

“Aku takut, Sei-kun.” Tangan Seijuurou semakin di genggam erat. Seolah menyalurkan rasa takutnya lewat cengkraman itu.

 

“Percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian.” Seijuurou mendaratkan kecupan kecil di bahu Tetsuya.

 

“Jadi, apa keinginanmu, Tetsuya?” Seijuurou berbisik pelan. Ia bisa merasakan jika Tetsuya tengah menahan napas saat mendengar pertanyaan yang Seijuurou lontarkan. Kemudian tangan si surai biru mencoba melonggarkan pelukannya. Tetsuya berbalik. Menatap wajah Seijuurou yang kini berjarak beberapa senti dari wajahnya. Hembusan napas hangat Seijuurou menggelitik wajahnya, hingga membuat Tetsuya menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

 

“Kau tahu apa keinginanku, Sei-kun.” Tangan Tetsuya terulur. Mengelus pipi Seijuurou dengan lembut. Hingga membuat Seijuurou menutup mata. Menikmati sentuhan kecil yang Tetsuya berikan padanya.

 

“Jangan memaksakan dirimu, Sei-kun.” Manik heterochomia kembali terbuka. Menatap sosok Tetsuya yang memandangnya sayu. Tatapan yang selalu membuat Seijuurou melemah, dan ingin membereskan semua masalah yang telah ia mulai. Seijuurou tentu tahu apa yang selalu membuat mate abadinya itu cemas.

 

“Maaf.” Diraih tangan Tetsuya yang berada di pipi. Menggengam tangan mungil itu dengan erat. Kemudian mengecupnya dengan lembut.

 

“Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua masalah yang aku mulai dengan kawananku. Kau tahu? Aku juga tidak ingin kita terus melakukan pelarian konyol seperti sekarang.”

 

“Aku hanya tidak ingin semuanya menjadi rumit. Aku sudah tidak di terima di kawanan serigala. Kita tidak punya tempat lain selain ikut berbaur dengan para manusia.” Tetsuya mengigit bibir bawah dengan kuat. Menahan geraman yang di keluarkan serigalanya.

 

“Aku tahu. Percayakan semua padaku, Tetsuya.” Di raihnya pinggang Tetsuya. Kemudian memeluk tubuh si surai biru dengan erat. Perut Tetsuya yang membesar, tidak menjadi halangan bagi Seijuurou. Kemudian tangan si surai crimson bergerak mengelus punggung Tetsuya, agar semua kegelisahan yang terpendam bisa hilang lewat sentuhannya.

 

Tetsuya terdiam dalam dekapan Seijuurou. Ia menikmati sentuhan ajaib Seijuurou yang mampu menghilangkan semua kegundahan yang memenuhi otaknya. Berbagi pelukan seperti ini adalah hal yang selalu Tetsuya rindukan.

 

“Sei-kun..”

 

“Hm?”

 

“Kau ingat? Tengah malam nanti, tepat saat malam berganti adalah hari apa?” Tetsuya bertanya, sambil mengeratkan pelukannya. Jantungnya mulai berdebar tak karuan. Padahal, sudah beberapa tahun Tetsuya selalu melakukan hal ini saat umurnya akan bertambah.

 

“Tentu saja. Aku tadi bertanya apa yang Tetsuya ingin kan.” Seijuurou melonggarkan pelukan. Kini ia bisa melihat wajah Tetsuya yang memerah.

 

“Kau tahu apa yang aku inginkan selain memintamu membereskan masalah dengan kawanan incubus.” Tetsuya mengerucutkan bibir. Ia tahu, jika Seijuurou hanya pura-pura lupa. Permintaan Tetsuya itu selalu sederhana, tidak lebih. Dan ia selalu meminta itu setiap tahun pada Seijuurou.

 

“Aku tahu. Tetsuya ingin aku menghamilimu lagi, setelah putra kedua kita lahir. Iya kan?” Pukulan kecil di terima di dada Seijuurou. Kali ini Tetsuya benar-benar menggemaskan dengan bibirnya yang mengerucut.

 

“Aku serius, Sei-kun!”

 

“Tidak bisakah kau ganti permintaan konyolmu itu?” Seijuurou mendegus. Bukannya ia tidak ingin mengabulkan permintaan Tetsuya, tapi ia memang tidak bisa. Permintaan Tetsuya benar-benar tabu.

 

“Apa seberat itu permintaanku, hingga kau selalu menolaknya setiap tahun?!” Tetsuya melepas pelukan Seijuurou. Berbalik menatap kegelapan hutan malam yang di hiasi salju putih. Enggan menatap Seijuurou yang frustasi menanggapi permintaannya.

 

“Hah..” Seijuurou menghela napas lelah, sebelum berjalan mendekati Tetsuya. Dan kembali memeluk tubuh si surai biru dari belakang.

 

“Tetsuya, jika kau ingin mendominasi permainan ranjang kita, itu mustahil.” Seijuurou bisa merasakan Tetsuya mendegus kasar, dan mencoba melepaskan pelukannya.

 

“Apa Tetsuya tidak puas dengan kemampuanku, hingga kau selalu bersikeras ingin menjadi dominan?” Seijuurou membalikan tubuh Tetsuya. Hingga si surai biru kembali menatapnya.

 

“Tetsuya, takdirmu itu adalah menjadi omega.” Tangan Seijuurou bergerak menangkup pipi Tetsuya. Ia mulai menipiskan jarak, hingga hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain.

 

“Menyerahlah Tetsuya, kau hanya ku izinkan mengerang di bawah tubuhku saja.” Kali ini wajah Tetsuya semakin merona mendengar penuturan frontal dari Seijuurou. Apa menjadi top yang mendominasi Seijuurou adalah ketidakmustahilan?

 

“Aku tidak mau. Aku penasaran bagaimana jika Sei-kun yang berada di posisiku!” Tetsuya bersikeras. Manik aquamarine menatap tajam Seijuurou. Tidak mau kalah.

 

“Apa tidak cukup jika aku mengatakan mencintai Tetsuya ribuan kali sebagai ganti dari permintaan konyol mu itu?”

 

“Jika Sei-kun memang mencintaiku, kau harus mengabulkan permintaanku ini setelah bayi kita lahir. Bagaimana?” Kali ini, Seijuurou menggeram gemas. Tangan yang berawal mengelus pipi Tetsuya, kini beralih mencubit pipinya pelan.

 

“Yang hamil itu kau, Tetsuya. Masa aku yang harus beralih posisi saat bayi kita lahir nanti? Aku bukan omega yang bisa hamil, Tetsuya.” Seijuurou mendengus, saat melihat Tetsuya mengerucutkan bibir tanda tidak setuju.

 
“Kita harus mencobanya, Sei-kun! Siapa tahu incubus bisa hamil jika aku yang mencobanya. Bagaimana?”

 

“Ah.. Tetsuya benar-benar berisik.” Kepala Tetsuya kembali di tarik. Seijuurou menangkup pipi Tetsuya dengan kedua tangan. Manik heterochomianya bisa melihat manik aquamarine Tetsuya membulat, saat Seijuurou kembali menipiskan jarak.

 

“Tidak usah macam-macam, Tetsuya. Aku akan selalu menjadi dominan, dan itu absolut.” Sebelum sempat Tetsuya mengelak, bibir Seijuurou sudah menempel tepat di bibir. Mengecupnya beberapa kali, hingga membuat Tetsuya terlena. Mulut si surai biru terbuka kecil. Ia membiarkan Seijuurou melesakan lidah. Mengekspolarsi dinding-dinding mulutnya, dengan lidah lihai pria itu.

 

“Ahhh..” Erangan kecil lolos dari mulut Tetsuya, saat kedua lidah saling bertautan satu sama lain. Tetsuya membiarkan lidah Seijuurou mendominasi. Menghisap dan menjilat lidahnya beberapa kali. Hingga membuat Tetsuya hilang kendali, dan melupakan permintaan konyolnya. Sepertinya Tetsuya memang akan selalu kalah dari Seijuurou.

 

“Selamat ulang tahun, Tetsuya. Aku mencintaimu.” Seijuurou berbisik di sela-sela ciumannya. Sebelum kembali melumat bibir Tetsuya dengan penuh gebu. Membiarkan Tetsuya mengerang kecil, karena ciuman liar yang selalu Seijuurou lakukan di saat perut Tetsuya sudah membesar seperti sekarang. Tetsuya harap, mereka akan selalu bahagia seperti ini. Tidak ada pelarian lagi, dan keluarga kecil yang selalu Tetsuya harapkan bisa hidup dengan nyaman di dunia manusia.

 

FIN

 

Wkwk gaje yah? Pendek pula. Biarin lah, yang penting aku ikut merayakan ultah neng cuya *tebar kembang

 

Jaa ne. Sampai jumpa di cerita absrud lainnya.

 

Vomen?

Astia Morichan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s