Killing Stalking | Yaoi| Meanie| Hardcore| Chap 1

2

Killing Stalking

 

MAAF. BOCAH DI PERSILAHKAN UNTUK MINGGAT DARI CERITA SAYA. TOLONG YAH. NANTI PIKIRAN KALIAN MALAH KOTOR.

DOSA ANDA TANGGUNG SENDIRI, BRAY!

 

RM 18!!

 

Angst, Gore, Violet, Rape,

 

Warning!! YAOI, TYPO’S, RAPE, LIL BIT VIOLET, EYD, SLUTTY WONWOO, TIDAK SESUAI, DLL

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Based On Killing Stalking by Koogi and Saezuru by Yoneda Kou. Tapi saya komplikasikan dengan imajinasi bejat saya, hingga berbeda. Lagian ini ga akan panjang kok. Cuma FF iseng karena saya kurang asupan.

a/n: Ini di ketik ketika inget Sangwoo di chap 18, dan juga pas banget gue lagi dengerin bl cd saezuru. Wkwk. Makin bejadlah pikiran gue selama liburan.

Gue bosen masoin Wonu di setiap FF gue, jadi disini gue mau masoin Mingyu aja. Hehe. Kali-kali bias gue dong bahagia bisa jadi super dominan buat fap ama Gyu. wkkwk

 

enJOY!

 

Kim Mingyu menyunggingkan sebuah senyum tipis, saat melihat sosok Jeon Wonwoo yang berjarak delapan meter di depan. Pria bersurai coklat yang memakai kacamata bulat bertengger di wajah manisnya itu, sedang bercakap-cakap dengan para gadis di taman Fakultas Ekonomi. Wonwoo tersenyum ramah ke arah para gadis yang memekik saat ia menggoda mereka. Membuat Mingyu mendecih tak suka. Andai saja, ia bisa sedekat itu dengan Wonwoo. Sudah pasti, Mingyu akan bahagia, dan tidak akan berdelusi berlebihan tentang Wonwoo lagi.

 

Sudah hampir dua tahun lebih, Mingyu menyukai Wonwoo. Sejak ia masuk ke kampus bergengsi ini, Mingyu sudah menyukai Wonwoo- si anak Fakultas Teknik; yang gedungnya bersebrangan dengan Fakultas Ekonomi. Ia jatuh cinta pada senyum manis Jeon Wonwoo. Wonwoo itu candu bagi Mingyu. Candu bagi jantungnya yang berdebar tak karuan, saat Wonwoo berjarak dua puluh meter di depan. Wonwoo juga sudah menjadi bahan delusi Mingyu untuk onani tiap malam.

 

“Tidak bosan menatapnya dari kejauhan, Kim?” Suara bass milik Seungcheol membuyarkan fokus Mingyu. Pria bersurai pirang itu menoleh. Menatap sinis Seungcheol yang sekarang mendekat ke arahnya. Mingyu tahu, Seungcheol hanya ingin mengolok-olok dirinya, karena tidak mampu mendekati Wonwoo. Julukan yang selalu Seungcheol lontarkan padanya adalah ‘Kim Mingyu si stalker Jeon Wonwoo sampai mati’. Julukannya terlalu panjang? Memang. Tapi Seungcheol tetap tidak peduli, dan terus mengejek Mingyu seperti itu.

 

“Jika aku jadi kau, aku sudah patah hati melihat Wonwoo flirting di depanku.” Mingyu mendengus kasar ke arah Seungcheol. Membuat pria bersurai hitam itu terkekeh penuh kemenangan.

 

“Aku akan memberitahu rumah Wonwoo. Kau bisa kesana, dan menggoda Wonwoo di rumah miliknya. Kau tahu? Kawasan rumah Wonwoo itu sepi. Aku tahu, jika kau sudah menahan birahi dan fantasi sexual pada Wonwoo. Jadi, gunakan kesempatan ini, Gyu.” Seungcheol berbisik pelan di telinga Mingyu. Tangannya terulur. Menyelipkan kertas berisi alamat di jemari Mingyu.

 

“Semoga berhasil.” Kemudian Seungcheol berjalan menjauh. Meninggalkan Mingyu yang masih menatap secarik kertas di tangan. Sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman tipis di wajah. Kali ini, ia berambisi untuk memiliki Jeon Wonwoo.

 

.

oOo

.

Kim Mingyu berjalan dengan pelan. Melewati deretan rumah yang berada di komplek perumahan yang berada di kawasan Jung-gu. Komplek ini nampak sepi. Rumah-rumah yang berderet nampak tidak berpenghuni. Bahkan tidak ada satu pun mobil yang lewat. Seakan tempat ini memang di dedikasikan untuk melakukan kegiatan maksiat.

 

“Ah.. Ketemu.” Mingyu menarik sebuah senyum kecil di wajah, saat manik obsidiannya membaca nomer rumah yang tercatat di kertas, sama dengan rumah yang berada di depan matanya. Jika benar, ini adalah rumah milik Wonwoo. Rumah Wonwoo nampak begitu sederhana. Sepertinya di dalam hanya ada satu kamar, satu set dapur dan ruang tamu. Halaman rumah ini juga kecil, walaupun ada carport kecil di samping. Carport yang hanya cukup untuk satu mobil.

 

Langkah Mingyu semakin berat saat tangannya terulur untuk membuka pagar rumah itu. Pria bersurai pirang itu melirik ke sana kemari untuk mengecek apakah ada orang yang melihat tindakannya yang mencurigakan. Setelah dirasanya pas, karena jalanan nampak legang, Mingyu mulai menarik pintu pagar. Menghasilkan bunyi derit gesekan besi. Setelahnya, Mingyu masuk ke dalam seperti pencuri.

 

Decitan sepatu Mingyu terdengar menghentak tanah di bawah. Ia mulai menaiki tangga yang akan mengantarnya ke pintu depan rumah Wonwoo. Beberapa menit setelahnya, Mingyu sudah berada tepat di depan rumah itu. Jantungnya berdegup tak tentu arah, saat tangan Mingyu terulur untuk menekan tombol intercome di pintu. Sebenarnya, Mingyu ragu jika pin yang ia masukan benar. Tapi Mingyu hanya bisa berharap. Ia benar-benar ingin masuk ke dalam rumah Wonwoo. Memerangkap pria itu dalam kungkungan tubuhnya.

 

Rencana Mingyu sekarang adalah menunggu Wonwoo pulang dari kampus. Setahu Mingyu, Wonwoo masih mempunyai satu mata kuliah setengah jam lagi. Jadi sudah di pastikan, pria itu tidak akan berada di rumah.

 

Mingyu menggigit bibir bawah cukup keras. Telunjuknya bergerak menekan tombol angka kecil di intercome dekat kenop pintu.

 

1707

 

TITTT

 

“Sial!” Mingyu mengumpat pelan, ketika password yang ia tekan salah. Sial! Padahal Mingyu sudah yakin jika itu benar. Setahu Seungcheol, Wonwoo akan memakai tanggal lahir miliknya sebagai password keamanan pintu.

 

Menghela napas kasar, sebelum akhirnya memilih untuk mencoba lagi. Kali ini, Mingyu pastikan jika tombol yang ia tekan benar.

 

1996

 

Klik

 

Bunyi klik tiba-tiba terdengar. Membuat Mingyu menghela napas lega, sambil bersorak senang dalam hati. Ternyata tebakan Mingyu tidak meleset selama ini. Dengan pelan, tangan Mingyu bergerak untuk mendorong pintu jati di depannya. Hingga menghasilkan suara decitan kecil.

 

Manik obsidian Mingyu menyipit, ketika ia berhasil masuk ke dalam rumah Wonwoo. Lampu ruang tengah terlihat menyala dengan terang. Mingyu yakin, jika Wonwoo lupa mematikannya. Rumah Wonwoo memang terbukti sederhana. Sepuluh meter dari ruang depan, hanya terdapat dapur dan ruang makan. Kemudian jika berbelok ke kiri, ada sebuah pintu kecil. Bisa Mingyu asumsikan jika itu adalah kamar Wonwoo.

 

Bunyi langkah Mingyu yang berdecitan dengan lantai marmer di bawah semakin terdengar. Ia mulai menilik ke segala arah. Meneliti setiap inci dari rumah Wonwoo yang selama ini ia idamkan. Kemudian langkah Mingyu terhenti, saat berada di ujung ruangan. Tepat di dekat pintu kamar Wonwoo, ternyata ada sebuah tangga yang terhubung ke bawah. Seperti ruangan kecil sempit.

 

“Shh…”

 

Jantung Mingyu berdebar tak karuan, saat mendengar suara ringisan kesakitan yang berada tepat di bawah tangga gelap ini. Jujur saja, Mingyu sedikit takut. Ia takut jika ternyata Wonwoo sudah pulang, dan rencananya menyergap Wonwoo gagal total. Dengan berbekal keberanian dan pengharapan keberuntungan, Mingyu kembali melangkah menuju tangga yang akan menghubungkannya dengan ruangan gelap di bawah.

 

Tapp Tapp

 

Suara langkah Mingyu semakin terdengar menghentak tangga kayu itu. Di ikuti dengan degupan jantungnya sendiri. Mingyu yakin, jika dirinya sudah mengeluarkan keringat dingin. Sebenarnya ada ketakutan kedua yang Mingyu pikirkan. Ia takut jika ternyata Wonwoo menyimpan seseorang atau lebih tepat pacarnya.

Beberapa menit kemudian, Mingyu sudah berada tepat di ruangan bawah itu. Ternyata ruangan itu terhubung dengan carport. Tapi di carport ini tidak terdapat mobil. Di sana hanya terdapat tumpukan rak buku, dan barang yang nampaknya tidak di gunakan lagi. Terlihat berantakan.

 

Mingyu mencoba meneliti ruangan kecil dan sempit itu dengan seksama. Tempat ini memang gelap, sampai Mingyu harus memastikan jika semua yang retinanya tangkap adalah kebenaran. Bukan fatamorgana.

 

“Shit!” Mingyu mengumpat kecil, di ikuti dengan manik obsidian yang membulat horor. Ia sendiri tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap. Kali ini, fokus Kim Mingyu tepat berada di depan seorang pria bersurai coklat yang telanjang bulat. Benar-benar telanjang. Mingyu kenal pria itu. Dia adalah Hong Jisoo. Kakak Tingkat Mingyu; Anak Fakultas Hukum yang pernah flirting dengan Wonwoo. Pria itu terikat di sebuah kursi. Tubuhnya penuh dengan luka cambuk. Jisoo seperti tidak bernyawa lagi, namun yang membuat Mingyu yakin jika Jisoo masih hidup adalah ringisan pelan yang keluar dari mulutnya. Ternyata yang sejak tadi ia degar adalah suara Jisoo.

 

Dengan langkah cepat, Mingyu mencoba mendekat ke arah Jisoo yang berjarak sepuluh meter di depan. Jisoo terikat di dekat tumpukan rak buku yang menjulang tinggi. Sial! Bagaimana mungkin jika Jisoo terkurung di rumah Wonwoo? Sebenarnya apa yang sudah pria itu lakukan pada Wonwoo?

 

“Hyung? Kau bisa mendengarku?” Mingyu berbisik pelan saat jaraknya dengan Jisoo sudah dekat. Tangannya menepuk pipi pria itu pelan. Hingga membuat Jisoo kembali meringis, dan mulai mengadah ke arah Mingyu. Mata pria itu mulai terbuka dengan pelan, di ikuti dengan bibirnya.

 

“P-pergi, G-gyu… “ Napas Jisoo terdengar putus-putus. Suaranya kecil, bahkan Mingyu harus mendekatkan telinga agar bisa mendengar apa yang pria itu katakan.

 

“B-b-bahaya..” Sekali lagi napas Jisoo terdengar tak beraturan. Membuat Mingyu menggeram kesal. Kemudian tangannya bergerak untuk melepaskan ikatan tali yang melilit di tubuh Jisoo.

 

“P-pergi.. W-wonwoo akan d-datang. C-cepat..” Napas Jisoo mulai memburu. Kali ini, matanya membulat tajam ke arah Mingyu. Seakan menyiratkan jika ia serius dengan ucapannya. Tapi sayang, Mingyu hanya bisa terkekeh pelan. Memang kenapa jika Wonwoo akan datang? Ia yakin, tidak mungkin jika Wonwoo yang manis akan melakukan hal semenakutkan ini pada Jisoo.

 

“G-gyu…” Mata Jisoo kembali menatap horor sosok Mingyu. Tidak. Fokus pria itu tidak berada pada Mingyu. Hingga membuat Mingyu mengerutkan dahi, karena jelas bukan Mingyu yang Jisoo lihat.

 

Wae? Aku akan mencoba membebas—-“ Belum sempat Mingyu menyelesaikan ucapannya, tubuh Mingyu oleng. Ia terjatuh ke bawah dengan kepala berdenyut sakit saat merasakan pukulan keras menghantam kepalanya. Membuat manik obsidian Mingyu meredup, sebelum mendengar suara yang ia kenali selama ini, dan semuanya menjadi gelap bagi Mingyu.

 

“Selamat datang di duniaku, Kim Mingyu.”

 

TeBeCe

 

Chap Depan tamat. Ini Cuma two shot. Di private pula chap depan. Gue mau masoin gyu. Wkwk. Gue pastiin ini update satnite depan. Wkwk

Bye!

Vomen?

Astia morichan

 

 

 

 

Fudanshi Janai | Chap 3 | Meanie| Yaoi|

1

Fudanshi Janai!

R18!

Romance, Drama

Warning ! OOC, Typo’s, EYD dan Kaidah kata tidak sesuai KBBI, Absurd, YAOI, dll.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

a/n: FF ini di dedikasikan buat Kak Kiaara yang nagih lanjutan ini dari kemaren. Wkwk. Senangnya hati ku, karena kak Ki berkenan baca cerita absurd ini. makasih juga asupan AkaKuro pwp kemaren malem. Lop yu kak! Dan jangan lupa buat FF Meanie juga nanti kak. Aku menunggu. Mwahhh :*

 

ps: Ada bagian bahasa Jepang yang gue ambil di Bl Cd Hidoku vol 1. Kalo tulisannya salah, mohon maaf. Wkwk

ada yang nanya unem wttpad gue apa. Ini @morichan_ saya kalau post ff nista hardcore Cuma di wattpad. Ngga di ffn. Wkwk.

enJOY!

.

OoO

 

 

Kim Mingyu terdiam membisu. Menunggu jawaban dari si surai coklat yang masih bungkam. Sahabatnya itu masih terdiam di pangkuannya. Mingyu bahkan bisa merasakan napas hangat Wonwoo menerpa permukaan wajah. Sepertinya, Jeon Wonwoo masih mencoba mencerna apa yang tengah ia tawarkan. Well, Mingyu akui tawarannya cukup tidak masuk akal, dan sangat lancang. Mengingat Wonwoo adalah seorang straight.

 

“A-a-aku—“ Wonwoo menggantungkan kalimat. Wajahnya masih terlihat sangat datar. Tanpa ekspresi. Berbeda dengan Mingyu yang sejak tadi gugup, dan mencoba menetralkan debaran jantungnya yang menggila.

 

“A-apa kau setuju?” Mingyu mencoba bertanya. Manik obsidian menatap Wonwoo dengan ragu. Sebelah tangan bergerak melingkar di pinggul Wonwoo. Hingga kedua tubuh mereka benar-benar merapat.

 

Pletakk

 

“Aww…” Mingyu meringis sakit, saat Wonwoo memukul kepalanya dengan komik cukup keras. Ia bahkan bisa merasakan kepalanya berdenyut. Cih. Sepertinya, Wonwoo berniat membuat Mingyu amnesia.

 

“Kau ingin membuatku bodoh, Jeon??!!” Mingyu berujar kesal. Tangannya bergerak mengelus kepala yang masih berdenyut sakit. Wonwoo memukulnya cukup keras.

 

“Kau memang bodoh. Ah. Bukan. Kau sudah menjadi seorang idiot jika menawarkanku hal senista itu!” Wonwoo memberenggut. Manik foxy menatap Mingyu penuh selidik. Kali ini, Wonwoo ragu jika sahabatnya sama sekali tidak berbelok. Dulu, Wonwoo pernah membaca satu tweet-an seorang Fujoshi di timeline. ‘Fudanshi itu hanya mitos.’ Jangan-jangan, Mingyu juga seperti itu.

 

“Aku kan hanya penasaran, Wonwoo-ya. Lagi pula, kau juga sama penasarannya denganku. Kalau kita tidak mencobanya, kau dan aku akan mati penasaran.”

 

“Tapi tidak dengan memperagakan semua hal yang ada di komik ini, Gyu!” Wonwoo mendengus keras. Kemudian ia menamparkan komik berjudul Hidoku Shinaide ke wajah Mingyu. Hingga mau tidak mau, membuat Mingyu dengan sigap menangkapnya. Takut-takut jika cover komik itu rusak. Hidoku Shinaide adalah salah satu komik paling favorite Mingyu.

 

“Ya!! Kau benar-benar anarkis, Jeon!” Wonwoo memutar bola mata malas. Ck, Mingyu terlalu berlebihan. Hanya karena komik yaoi, pemuda itu seperti kehilangan benda paling berharga saja.

 

“Kali ini, aku jadi bertanya-tanya apakah kau benar-benar seorang pria straight seperti ku?” Mingyu menelan saliva dalam, mendengar pernyataan yang di lontarkan si surai coklat. Jika Mingyu salah jawab, persahabatan mereka yang menjadi taruhannya.

 

“Tentu saja aku masih menyukai perempuan.” Mingyu bisa melihat manik foxy Wonwoo menyipit. Seolah mencoba membongkar kebohongan yang sudah ia bangun. Kemudian Wonwoo mulai mendekatkan wajah pada Mingyu. Semakin mendekat, hingga jarak mereka memendek. Hidung mereka bahkan bersentuhan satu sama lain.

 

“Bi-bisakah kau menjauhkan wajahmu, Wonu-ya?” Mingyu berujar gugup. Manik obsidian melirik ke arah lain. Asal tidak ke manik foxy Wonwoo yang masih menatapnya penuh selidik. Jika begini caranya, bisa-bisa Wonwoo mendengar debaran jantung Mingyu yang menggema tak tentu arah.

 

“Kenapa kau terlihat gugup, Gyu?” Wajah Wonwoo di gerakan ke samping, agar bisa bersitatap dengan obsidian kelam milik Mingyu. Kali ini, Wonwoo benar-benar ragu jika sahabatnya ini adalah seorang pria straight. Besar kemungkinan jika Mingyu adalah gay, atau yang lebih parah adalah jika pemuda bersurai pirang itu menyukainya. Melihat wajah Mingyu yang sedikit merona, membuat Wonwoo yakin dengan semua analisa yang ia miliki.

 

“Kau menyukaiku, Gyu?!” Wonwoo berseru cukup keras. Hingga membuat obsidian si surai pirang kembali melirik ke arahnya. Wajah mereka masih terpaut beberapa senti, dan manik obsidian Mingyu membalas tatapan tajam dari Jeon Wonwoo. Membuat Wonwoo membungkam mulut, dan terdiam menunggu jawaban.

 

“Kau ingin aku menjawabnya?” Pertanyaan yang di keluarkan Mingyu terkesan dingin. Datar, dan itu semakin membuat Wonwoo tidak tahu harus menjawab apa. Kepalanya seakan kosong hanya untuk menyusun sebuah kalimat ‘Katakan jika kau tidak benar-benar meyukaiku, Gyu! Kau bukan gay!’

 

“Kenapa kali ini kau diam?” Wonwoo bisa melihat kekehan kecil yang keluar dari mulut Mingyu. Sial, Mingyu meremehkannya.

 

“Kau bukan g—-“ Belum sepenuhnya Wonwoo menjawab, benda bertekstur lembut menempel di bibirnya. Itu adalah bibir Mingyu! Mingyu menciumnya tepat di bibir!

 

Wonwoo terdiam. Tergugu. Tidak bergerak di tempat, saat Mingyu mencoba melumat bibirnya dengan gerakan lembut, tidak terkesan memaksa. Lidah Mingyu bergerak menjilat bibir bawah Wonwoo penuh sensual. Sebelum menggigitnya pelan, hingga membuat Wonwoo memekik, dan membuka mulutnya.

 

“Ahh…” Erangan kecil lolos dari mulut Wonwoo, saat lidah Mingyu melesak masuk ke dalam mulutnya. Menyapa lembut lidah Wonwoo yang masih terdiam. Sebelum bergerak mengeksplorasi seluruh dinding mulut si surai coklat. Lidah Mingyu dengan lihai menyentuh titik sensitive di dalam mulut Wonwoo. Membelai dinding-dinding mulut Wonwoo, hingga membuat kepala Wonwoo seakan pusing akibat ciuman itu.

 

“Mhhh…” Desahan Wonwoo mengalun dengan indah, saat lidah Mingyu membelit lidahnya. Menghisap kuat lidah Wonwoo, hingga kecipak saliva terdengar jelas di ruangan ini. Jujur, ini kali pertama Wonwoo di cium seseorang. Dan orang yang berhasil merebut ciuman pertamanya adalah Kim Mingyu. Laki-laki. Seperti dirinya. Bukan seorang gadis dengan oppai boombastis seperti Rias Grimmory atau Momoi Satsuki.

 

Wonwoo mengerjapkan mata pelan. Kepalanya mencoba berfikir keras, saat ciuman yang Mingyu berikan terkesan liar. Membuat Wonwoo tersadar akan kenikmatan sesaat yang ia rasakan.

 

“Awww…” Ringisan kecil Mingyu terdengar, saat Wonwoo mengigit lidahnya cukup keras. Hingga pautan bibir mereka terlepas begitu saja.

 

“Kau gila, Jeon! Kenapa mengigitku?!” Mingyu mengaduh saat merasakan lidahnya berdarah akibat gigitan Wonwoo. Sementara si surai coklat tetap terdiam, sambil menstabilkan napas yang memburu, karena ciuman liar seenaknya yang sudah Mingyu lakukan.

 

“Kau yang gila, Kim!! Sial! sial!” Wonwoo berteriak penuh emosi. Wajahnya memerah sempurna sampai ke telinga. Manik foxynya menatap Mingyu dengan tatapan membunuh, sebelum akhirnya kembali memberi pukulan pada kepala Mingyu.

 

“Aww.. Kau bisa membunuhku, Won..” Mingyu mengaduh. Tapi ia tetap diam di tempat, tidak bergerak sedikitpun karena Wonwoo masih tetap tidak beranjak dari pangkuannya. Pukulan Wonwoo semakin bertubi-tubi di layangkan pada kepalanya yang tidak bersalah.

 

“Kau memang seharusnya mati, Gyu!! Sial! kau menyebalkan!!” Dan pukulan terakhir Wonwoo layangkan. Sebelum akhirnya ia beranjak dari pangkuan Mingyu. Berdiri, dan segera berlari ke arah pintu keluar.

 

“Buka pintu ini, sialan!!” Wonwoo berteriak. Meraung penuh nafsu di depan pintu otomatis yang hanya bisa di buka dengan sidik jari Mingyu.

 

“Memohon padaku, Jeon. Maka aku akan membukakannya untukmu. Atau kau ingin mendengar jawabanku atas pertanyaanmu barusan?” Mingyu menyeringai kecil. Kali ini, ia sudah berdiri, dan berjalan ke arah couch. Duduk dengan elegan. Mengabaikan sosok Wonwoo yang masih berdiri di depan pintu keluar. Mingyu tahu, Wonwoo sedang menahan kekesalannya. Ah. Mingyu bahkan sudah tidak peduli jika Wonwoo mengakhiri persahabatan mereka. Ia sudah terlanjur berbuat nekat dengan mencium bibir ranum milik sahabatnya itu. Tapi sungguh, Mingyu sama sekali tidak menyesal mencium bibir Wonwoo. Mencium bibir sahabatnya itu adalah salah satu keinginan pertama Mingyu.

 

“Sial!! aku ingin pulang!!” Wonwoo berteriak marah. Sebenarnya tingkah Wonwoo ini benar-benar lucu. Well, Mingyu memang sudah kebal dengan semua perlakuan anarkis yang pemuda itu lakukan jika sedang marah seperti ini. Malah di mata Mingyu, kemarahan si surai coklat itu cukup menggemaskan. Lagi pula, seingat Mingyu selama berteman dengan Wonwoo bertahun-tahun, pemuda bersurai coklat itu tidak akan pernah bisa marah terlalu lama pada Mingyu.

 

“Bukankah kau yang bilang ingin menginap di rumahku? Jika kau menginap, kita bisa mempraktekan adegan yang ada di komik ini. Kau penasaran bukan?” Mingyu kembali terkekeh. Tangannya terulur mengambil sebuah remote dvd player. Kemudian menekan tombol on. Hingga terdengar sebuah suara dubbing Jepang di sana. Kim Mingyu sedang menyalakan sebuah BL CD Drama. Tadi ia belum sempat mengganti CD Drama yang ada di dalam dvd dengan Ten Count. Dan yang ada di dalam dvd playernya adalah BL CD Drama Hidoku Shinaide volume satu. Well, Mingyu penasaran bagaimana reaksi Wonwoo saat mendengar suara desahan yang berbaur menjadi satu dalam cd ini.

 

‘Jaa.. Nanda… Namida Nozoumi..’

 

‘Wakanaika.. Ne, Nemugasa-kun.. Zubo nuge…’

 

‘Eh…’

 

‘Shite misette Nemugasa..’

 

‘Arghhhh…’

 

‘Itsumo dounna shiteruno… ne.. Nemugasa-kun…’

 

‘M-mmah… ahhhh…’

 

‘Hayaku nuge.’

 

 

Suara desahan dalam dubbing mengalun dengan keras di ruangan ini. Menggema sampai ke setiap sudut tempat Wonwoo berdiri. Gila! Kim Mingyu benar-benar gila karena memainkan BL CD Drama yang seperti ini. Astaga.. Desahan yang mengalun itu seakan membuat Wonwoo harus mendengarkannya dengan jelas.

 

‘Ahhh.. Ahh… M-mayanhhh….’

 

Wonwoo menelan salivanya sendiri. Tubuhnya terdiam kaku. Otaknya seakan ikut memvisualisasi apa yang sudah ia dengar. Apalagi saat mendengar bunyi decitan kulit. Dalam imajinya sekarang, Wonwoo bisa mengerti dan mengimajinasikan semua hal yang sedang bl cd itu perdengarkan. Apalagi Wonwoo mengerti bahasa Jepang. Begitu pun dengan Mingyu, hingga mereka berdua bisa memahami dengan jelas erang-erangan erotis yang berpadu.

 

“Kim Mingyu sialan! Matikan !” Wonwoo berteriak murka. Suaranya cukup keras, walau ia masih berdiri di tempat pintu keluar. Hingga Mingyu menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh arti. Jika membunuh di izinkan, sudah pasti Wonwoo ingin membunuh Mingyu yang benar-benar menyesatkan otaknya.

 

Akibat ciuman di bibir yang Wonwoo rasakan, juga erangan yang menggema di seluruh ruangan ini. Mau tidak mau membuat tubuh Wonwoo ikut memanas dalam sekejap. Ia bereaksi dengan suara erangan dan imajinasi di otaknya yang ikut membayangkan adegan-adegan nista dalam kepala. Wonwoo tertarik untuk mendalami lebih jauh. Apalagi jika ia mengingat kembali ciuman yang Mingyu berikan padanya.

 

‘Enghh… Ahhh…. Ehmmm ’

 

‘Ikara, kagamete.’

 

“Ya!! Kim Mingyu!!” Wonwoo berteriak, sambil berlari ke arah Mingyu yang masih asik tersenyum tidak jelas, ketika suara desahan itu mengalun. Decitan sepatu milik Wonwoo yang menggema, tidak membuat si surai pirang menoleh sedikit pun. Mingyu masih asik dan mengabaikan Wonwoo yang sudah berdiri di depannya dalam sekejap.

 

Pletakk

 

“Aww…” Mingyu kembali meringis, saat merasakan pukulan di kepala. Jeon Wonwoo kembali menjitak kepalanya. Cukup keras, dan menyakitkan. Sepertinya menjitak kepala Mingyu akan menjadi hobi baru bagi Wonwoo.

 

“Kau berniat membuatku hilang ingatan, Jeon!” Mingyu mendengus kecil. Ia bisa melihat, jika Wonwoo marah sekarang. Mata Wonwoo masih menatapnya penuh dendam kesumat.

 

“Ini kamarku. Bukan salahku jika ingin mendengarkan bl cd ini. Kau bisa menutup telingamu, Wonwoo-ya.”

 

“Aku bilang matikan, Kim ! Apa kau sudah mendadak tuli?” Wonwoo merebut remote dvd yang ada di tangan Mingyu. Membuat si surai pirang kembali mendengus, saat Wonwoo berhasil mengambil remote dari tangannya.

 

Klikk

 

Dvd itu mati. Ruangan ini sudah hening, dan tidak terdengar lagi desahan-desahan erotis. Wonwoo menghela napas kecil karena ini. Ia lega. Sungguh. Mendengar hal seperti tadi membuat pikirannya malah melayang tak tentu arah. Sepulang dari rumah Mingyu, ia janji akan kembali berdelusi dengan figure Rias atau figure Hanabi ; pemeran utama di anime Kuzu No Hentai yang Wonwoo ikuti winter ini.

 

“Buka pintunya. Aku ingin pulang, Gyu. Jika berada di dekatmu, aku benar-benar ingin mencekik lehermu sampai mati.” Wonwoo memutar bola mata, saat mendengar Mingyu tertawa keras mendengar pernyataan yang ia lontarkan. Hey! Wonwoo itu serius. Bukannya bercanda. Ia tidak ingin menjadi buronan hanya karena membunuh seorang Fudanshi. Walaupun jika Wonwoo berhasil membunuh Mingyu, ia bisa menjadi viral di headline internet. ‘Membunuh seorang Fudanshi karena ciuman sepihak.’

 

“Kau menginap, Wonu-ya.” Mingyu tersenyum simpul ke arah Wonwoo. Tangannya terulur. Menarik lengan Wonwoo. Hingga si surai coklat terduduk di sampingnya. Mingyu masih bisa melihat jika Wonwoo marah.

 

“Kau marah padaku karena aku menciummu?” Wonwoo diam. Tidak menjawab pertanyaan yang Mingyu lontarkan.

 

“Maafkan aku, Wonu-ya. Aku hanya terbawa suasana. Kau tahu? Kau memang menggemaskan tadi.” Tangan Mingyu kini beralih menarik dagu Wonwoo. Hingga si surai coklat menoleh ke arahnya. Menatap manik obsidian Mingyu yang menyiratkan jika ia menyesal.

 

“Kau bukan gay kan?” Pertanyaan itu kembali Wonwoo lontarkan. Walau ia sendiri ragu jika ingin mendengar jawaban yang akan Mingyu berikan.

 

“Apa aku perlu menjawabnya?” Dan detik itu juga, Wonwoo bisa merasakan jantungnya di tikam oleh belati tak kasat mata. Bagaimana mungkin jika Mingyu benar-benar gay? Sejak dulu, mereka berdua berbagi asupan dengan melihat gadis beroppai!

 

“Kau benar-benar gay?” Wonwoo membulatkan mata. Ia kembali bertanya. Mencoba memastikan jika pendengarannya sama sekali tidak salah.

 

“Maaf. Dan aku juga benar-benar menyukaimu. Sejak dulu, saat kita pertama kali bertemu.” Pernyataan yang Mingyu ucapkan seakan membuat roh Wonwoo di renggut secara paksa. Bagaimana mungkin jika Mingyu yang ia kenal sama brengsek- seperti dirinya, ternyata menyukainya?

 

“Aku tahu kau marah karena aku menciummu. Itu juga gerak refleks, Won. Bibirmu dari jarak sedekat itu terlalu sayang untuk aku lewatkan begitu saja.” Tangan Mingyu bergerak menarik tubuh si surai coklat agar saling berhadapan. Kemudian Mingyu menangkup pipi Wonwoo agar manik foxynya terjerat pada obsidian si surai pirang.

 

Wonwoo masih terdiam. Enggan menjawab. Sel neuron di otaknya masih bekerja mencerna apa yang sudah reseptor telinganya tangkap. Ia marah karena di cium? Tentu saja. Wonwoo akan marah jika seorang pria menciumnya seperti itu. Ia tidak pernah di cium, jadi wajar jika Wonwoo akan marah.

 

Ia juga marah karena Mingyu tidak jujur saat di tanya olehnya, apa ia adalah seorang gay. Mingyu hanya mengaku sebagai Fudanshi, dan Wonwoo merasa di bohongi. Ia benci itu.

 

“Wonwoo-ya…” Mingyu kembali memanggil namanya. Suara merdu pemuda itu terdengar berkumandang di telinga. Membuat jantungnya kembali berdetak tak terkendali. Apalagi saat Mingyu menggerakan kedua tangannya, untuk mengelus pipi Wonwoo dengan lembut.

 

“Jika kau membenciku setelah ini, aku sama sekali tidak akan marah. Terimakasih sudah menjadi temanku selama ini.” Mingyu tersenyum kecil, dan senyuman Mingyu malah membuat Wonwoo merasa bersalah. Kenapa pula ia harus marah seperti itu? Mingyu adalah sahabatnya. Ia harus menerima Mingyu apa adanya. Tidak peduli jika Mingyu gay atau menyukainya. Mungkin sebagai sahabat, Wonwoo bisa membantu Mingyu kembali ke jalan yang benar.

 

Wonwoo menghela napas pelan. Kemudian tangannya bergerak mencengkram bahu Mingyu, dengan posisi Mingyu tetap mengelus pipinya. Manik foxy Wonwoo menatap tajam obsidian kelam si surai pirang.

 

“Mingyu… aku tetap sahabatmu, dan aku minta maaf.” Dahi Mingyu mengernyit tidak mengerti.

 

“Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Tapi kau akan selalu menjadi sahabatku, Gyu. Dan aku akan membantumu agar kembali ke jalan yang benar. Percaya padaku. Kau tidak akan pernah menyukaiku lagi, setelah kita sama-sama mempunyai gadis beroppai yang selalu kita bicarakan dulu.” Wonwoo tersenyum penuh semangat. Seolah meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja, dan ia tidak akan meninggalkan Mingyu hanya karena menjadi seorang gay.

 

“Terimakasih, Wonwoo-ya..” Dan Wonwoo tersenyum kecil, sambil mengangguk penuh antusias. Tanpa tahu seringaian kecil yang tersungging di wajah Kim Mingyu.

 

TeBeCe

 

‘Jaa.. Nanda… Namida Nozoumi..’( What do you want?)

 

‘Wakanaika.. Ne, Nemugasa-kun.. Zubo nuge…’ (Oh Well, whatever.. Stop wasting time)

 

‘Shite misette Nemugasa..’( Hurry Up and strip)

 

‘Hayaku nuge.’( Hurry up, How do you do mastubrate?)

 

Kalo ada yang salah, monggo di koreksi aja. Wkwk.

 

 

Wkwkw

Makin gaje ya? Ga tau deh. Gue udah bilang ini itu Cuma FF iseng aja. Ga ada plot, jadi yah hasilnya begini. Pendel-pendek pula. Absurd pula.

Saya udah ngingetin ini tuh emang iwtbas versi nista wkwk. Kalo di iwtbas kan wonu yang gay. Dan profesi mereka kewl. Nah kalo di sini mingyu yang gay, dan profesi keduanya sama2 otaku wibu wota bejadd wkwk

Sudahlah. Mind To Review?

 

Astia Morichan