OPEN PO FANBOOK MEANIE

0

Haii..

Nephilim tidak saya lanjut di wattpad. Kelanjutannya hanya ada di fanbook. Saya tidak akan menghapus part yang sudah di publish.

Contoh buku Fix udah jadinya kalian bisa lihat di instagram aku

Gue adain GA nih. Kalau ada 25 orang yg tf duluan buat fanbook Meanie itu. Khusus yg satu set, gue bakal undi 3 orang buat dapetin pdf FUDANSHI JANAI yang lg gue garap setelah deadline MinYoon.

Open PO dari tanggal 14 September 2017 – 30 September 2017

Pembayaran paling lambat tanggal 3 Oktober 2017

Estimasi Buku Selesai sekitar 2 minggu. Jadi buku dikirim tanggal 16 Oktober 2017

Pengiriman dari Bandung

Spesifikasi buku :

Judul : Fated Pairs

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 154 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Content dalam buku : Fated Pairs dan Incubus

Harga : Rp. 69.500,- (belum ongkir)

Sinopsis Fated Pairs : Mingyu dan Wonwoo itu tidak akan pernah akur sampai kapan pun. Tapi saat Wonwoo mengalami masa ‘heat’, inner serigalanya memekik kegirangan. Menginginkan sosok Mingyu- sang elder dari pack Red Moon yang sangat ia benci.

Sinopsis Incubus : Wonwoo hanya seorang omega biasa yang merupakan putra sang Alpha, bertemu dengan Mingyu- sang incubus yang membuat serigala dalam dirinya memekik kegirangan. Menolong Mingyu yang sekarat dengan sentuhan tubuhnya. Hingga mereka terikat satu sama lain karena Jeon Wonwoo mengandung putra incubus.

Ada juga Fanbook Nephilim

Spesifikasi buku :

Judul : Nephilim

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 171 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Content dalam buku : Nephilim dan My Fallen Angel

Harga : Rp. 74.500,- (belum ongkir)

Sinopsis Nephilim : Jeon Wonwoo tidak pernah tahu ia adalah seorang Nephilim yang merupakan Putra Lucifer- Malaikat Pembelot jika ia tidak bertemu dengan Kim Mingyu. Ketika dirinya bingung, dan incar oleh malaikat Tuhan, Mingyu selalu berada di sampingnya. Walaupun Hades menentang keputusan Putranya itu. Bisakah Mingyu meyakinkan Wonwoo jika semuanya baik-bak saja?

Sinopsis My Fallen Angel : Jeon Wonwoo hanya seorang malaikat yang ditakdirkan menjadi mate abadi Kim Mingyu- Sang Pangeran Iblis Penguasa Niflheim. Tapi sayang, sang malaikat bertugas untuk membunuh seluruh saudara Mingyu, dan membuat sang iblis berambisi menggunakan darah si malaikat untuk membangkitkan seluruh saudaranya. Bisakah itu terwujud? Atau Mingyu yang mengharuskan membunuh sang mate yang selalu menjadi abdi setia para Asgard?

Spesial buat yang beli dua buku. Seharusnya harga asli 144.00 Tapi karena beli dua saya kasih diskon jadi Rp. 120.000 (Untuk dua buku) . Lumayan kan diskon 24k. 24k itu uang loh sayang wkwk

Ini contoh cover dari Nephilim dan Fated Pairs

Ini contoh cover dari Nephilim dan Fated Pairs

Untuk yang berminat. Kalian bisa isi format pembelian. Habis itu kirim ke saya.

Nama :

Alamat :

No Hp :

Judul Buku yang mau di beli :

Kirim format pembelian nya boleh ke Line, email, ig

Line : babymingie

IG : astia_morichan

email : astiamorichan@gmail.com

Sampai jumpa ^^ Dan jangan lupa ikutan PO. wkwk

Advertisements

Fated Pairs | Chap 1| Meanie Couple | Yaoi

0

Jeon Wonwoo mendengus tak suka, saat manik foxynya menatap sosok Kim Mingyu. Pria bersurai pirang itu berjalan dengan gaya arogan seperti biasa. Ketika Mingyu melewati koridor di saat jam istirahat seperti ini, semua gadis dan pria yang merupakan omega (1) atau warrior (2) akan berteriak histeris. Berharap pria itu melirik ke arah mereka, dan mau bercinta satu malam. Benar-benar murah bukan? Seharusnya, mereka bercinta dan menjaga keperawanan untuk mate-nya (3) nanti. Bukan menjajakan tubuh pada pria yang bahkan bukan seorang alpha (4).

Pathetic..” Wonwoo menggelengkan kepala. Ia beruntung tidak terpesona pada sosok Kim Mingyu. Hanya karena di takdirkan menjadi seorang elder (5) saja, pria itu sudah berkepala besar. Well, memang menjadi seorang elder adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi Mingyu dari kawanan Red Moonpack (6) terkenal di antara semua kawanan serigala.

“Kau mengucapkan sesuatu, Jeon?” Suara bariton itu terdengar tepat di depan wajah Wonwoo. Membuat si surai coklat mendongak, sambil mengerjapkan mata. Retinanya menangkap sosok Mingyu yang menatapnya dengan tatapan merendahkan. Kemudian dari ekor matanya, Wonwoo bisa melihat jika semua orang yang sedang berada di koridor menatap mereka. Seolah ingin tahu apa lagi yang akan Wonwoo lakukan pada seorang elder.

“Kau menyedihkan, Kim..” Manik foxynya menatap Mingyu dengan pandangan meremehkan. Tatapan tidak suka benar-benar tersirat jelas di sana. Tapi sayang, tatapan itu sama sekali tidak membuat si surai pirang takut. Mingyu hanya tertawa dengan nada meremehkan. Seolah Wonwoo itu tidak sadar diri sedang berbicara dengan siapa. Dan Wonwoo benci itu.

“Bukankah yang menyedihkan itu kau, Wonwoo-ya?” Seringaian tercetak jelas di wajah tampan Mingyu. Tangan pria itu bergerak. Menarik dagu Wonwoo dengan jari telunjuknya. Agar fokus si surai coklat terarah ke arahnya.

“Umurmu sudah hampir delapan belas tahun, Jeon. Dan kau tidak pernah merasakan ‘Heat’ (7) . Mungkin Moon Goddes (8) mengutukmu agar tidak bisa mendapatkan mate.” Dan kali ini, ucapan Mingyu benar-benar tidak dapat ia toleransi. Pria itu merendahkannya sekali lagi. Di depan orang banyak. Bahkan sekarang Wonwoo bisa merasakan bisikan penuh hinaan terarah padanya.

Bughh

Bogeman mentah di layangkan oleh Wonwoo di pipi si surai pirang. Membuat Mingyu tersungkur beberapa senti. Terjatuh dengan tidak elit. Jangan heran, walaupun Wonwoo adalah seorang omega- strata terendah, tapi ia sudah di ajarkan berlatih keras bersama Jun yang merupakan warrior paling terkenal di kawanan Blue Circle.

“Sial! apa yang kau lakukan?!” Mingyu berteriak penuh amarah. Matanya memerah, dengan tubuh yang bergetar. Siap untuk berubah wujud, dan menghajar sosok Wonwoo di tempat.

“Memberimu sebuah pelajaran, Kim!” Dan setelahnya Wonwoo berbalik. Menghentakan kaki. Meninggalkan Mingyu yang mulai mengumpat tak tentu arah padanya. Well, sepertinya Mingyu memang sedang mengingat peraturan. Saat di sekolah, di larang untuk berubah ke dalam wujud serigala.

.

ΩΩΩΩ

.

Fated Pairs

M

Werewolf, Romance, Drama, Angst

Two / Three Shot

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Elder X Omega

Warning! Yaoi! Gaje. Tidak sesuai kaidah KBII. Eyd absurd, dll

Mingyu dan Wonwoo itu tidak akan pernah akur sampai kapan pun. Tapi saat Wonwoo mengalami masa ‘heat’, inner serigalanya memekik kegirangan. Menginginkan sosok Mingyu- sang elder dari pack Red Moon yang sangat ia benci.

a/n: Terinspirasi saat baca sayonara alpha. Wkwk. Jadi aja iseng.

enJOY!

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo menghentakan kaki dengan kesal, saat ia memasuki ruangan kelas. Membuat beberapa fokus yang ada di sana menoleh ke arah Wonwoo, dan menatapnya tidak suka. Tapi Wonwoo tidak peduli. Itu bukan urusannya jika orang-orang yang ada di ruangan ini tidak suka pada Wonwoo karena selalu berurusan dengan Mingyu. Semua itu sama sekali bukan keinginannya!

“Sial!” Wonwoo mengumpat cukup keras, sambil menarik kursi. Kemudian mendudukan diri di sana. Dari ekor matanya, Ia bisa melihat Jeonghan membalikan badan, dan menghampiri Wonwoo dengan tatapan khawatir yang menghiasi wajah cantik pria itu.

“Kenapa lagi, Won?” Jeonghan bertanya, kemudian duduk di kursi yang ada di depan Wonwoo. Hingga mereka saling berhadapan. Sebenarnya Jeonghan tahu kenapa alasan Wonwoo bisa semarah ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena Kim Mingyu. Bukan hal aneh jika Wonwoo dan Mingyu akan selalu bertengkar setiap kali bertemu. Ia saja heran, kenapa mereka bisa seperti itu. Saat Jeonghan bertanya awal pertemuan mereka sampai berakhir menjadi musuh bebuyutan saja, Wonwoo tidak tahu kenapa sampai berujung pertengkaran tanpa akhir dengan Mingyu.

“Kim Mingyu. Dia kembali mengejekku! Kau tahu apa yang dia bilang? Mingyu sialan itu bilang jika aku di kutuk tidak akan mempunyai mate seumur hidup, hanya karena aku belum pernah mengalami heat!” Wonwoo mulai menggerutu. Ia bercerita dengan mata penuh dendam kesumat yang tersirat di foxynya. Membuat Jeonghan menggelengkan kepala. Semoga Tuhan bisa membuat mereka berdua akur. Jujur saja, kepala Jeonghan akan langsung pening jika setiap hari mendengarkan umpatkan Wonwoo untuk Mingyu.

“Malam ini bulan purnama. Buktikan saja jika kau bisa bertemu mate-mu malam ini, atau setidaknya jika tidak bertemu dengan mate abadi, kau bisa merasakan heat saat melihat para alpha.” Jeonghan mengingatkan. Malam ini memang bulan purnama. Waktu dimana para serigala bertemu dengan mate abadi yang sudah di takdirkan.

Kali ini, Wonwoo menyeringai kecil. Ia merasa di ingatkan. Kalau begitu, malam ini Wonwoo akan serius mengelilingi hutan di area pertemuan yang sudah di adakan beberapa pack. Ia tidak akan berdiam diri lagi di rumah. Wonwoo akan membuktikan jika ia bisa menemukan matenya dan membawanya pada Mingyu yang arogan itu.

“Kau benar. Kali ini, aku harus berhasil menemukan mate-ku!” Wonwoo menyeringai kecil. Membuat Jeonghan terkekeh saat melihat ekspresi sahabatnya itu.

“Kau akan berkeliling di hutan dan bercinta di bawah pohon lagi bersama Seungcheol Hyung malam ini?” Pertanyaan polos Wonwoo sukses membuat wajah Jeonghan memerah sempurna. Seperti tomat.

“Ya! Jangan menanyakan hal privasi seperti itu!” Jeonghan mengerucutkan bibir kesal, dan itu malah membuat Wonwoo tertawa puas.

“Doakan aku agar mempunyai mate, sama seperti mu.” Jeonghan mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia selalu berdoa yang terbaik untuk Wonwoo. Tapi doa yang selalu Jeonghan panjatkan hanya satu; Mingyu dan Wonwoo selalu akur sampai tua.

.

ΩΩΩΩ

.

Mingyu mendengus keras, saat ia memasuki kelas. Raut wajahnya tidak terlihat bersahabat. Membuat semua orang yang ada di sana menjaga jarak. Tidak ingin cari masalah. Jika seperti itu, biasanya Mingyu akan mengeluarkan aura mematikan. Kekuatan Mingyu memang menganggumkan. Dia adalah sang elder yang di perlakukan spesial oleh alpha. Apalagi Mingyu masuk ke dalam kawanan Red Mood. Pack terkuat di antara yang lain.

“Apa yang terjadi padamu? Bertengkar dengan Wonwoo lagi?” Hansol berseru cukup keras. Membuat Mingyu menggeram tak suka pada pria berwajah westren itu. Tapi geramannya tidak membuat Hansol takut. Justru pria itu malah berjalan mendekat, dan saat jarak mereka menipis, Hansol merangkul bahu Mingyu.

Hey, Dude! Jangan seperti itu. Kau bisa kena karma nanti jika mengejek Wonwoo.” Mingyu mendengus kasar. Ia mulai menepis tangan Hansol, dan menarik kursi yang ada di depan. Kemudian duduk dengan gaya arogan yang mampu membuat Hansol menggelengkan kepala.

“Bagaimana jika Moon Goddes malah memasangkanmu dengan Wonwoo? Kau juga belum menemukan matemu, Gyu.” Mingyu kembali mendelik. Tidak suka dengan ucapan yang di keluarkan sahabatnya itu. Mana mungkin Wonwoo mate-nya? Jangan bercanda! Sekali pun Wonwoo adalah mate-nya, Mingyu pasti akan menolak pria itu.

“Aku lebih baik mati membusuk di saat umurku dua puluh dua, dari pada harus bersama Wonwoo.” Tawa Hansol pecah mendengar ucapan yang di lontarkan Mingyu. Sebegitu tidak sukanya kah Mingyu pada Wonwoo? Padahal Wonwoo adalah omega terpandang, dan banyak sekali alpha yang tertarik pada pria itu.

“Ingat, Gyu. Kau itu berumur panjang. Bisa jadi kau berumur empat ratus tahun, karena kau adalah seorang elder. Kemudian kau bisa menjadi tetua nanti. Tapi kau harus ingat, mate bisa menambah kekuatanmu itu. Saat bertemu dengan mate-mu, kau tidak akan bisa menolaknya. Sekali pun itu bisa jadi Wonwoo.” Hansol mengingatkan, dan itu malah membuat Mingyu semakin menatapnya tidak suka. Ia tahu jelas jika Mingyu tidak suka di ingatkan tentang posisi eldernya itu, apalagi dengan membawa topik Wonwoo.

“Tapi Wonwoo tidak mungkin menjadi mate-ku.”

“Kita tidak tahu apa yang di pikirkan, Moon Goddes. Siapa tahu Wonwoo memang mate-mu.”

“Kau mengada-ada.”

“Apa kau tidak ingat ucapan Oracle(9) yang kita temui tiga bulan lalu tentang nasibmu itu?” Kali ini, Mingyu terdiam. Tidak menjawab. Ia tentu tidak akan lupa tentang pertemuan mereka dengan oracle. Mingyu juga tidak lupa dengan ramalan mengenai nasibnya.

“Aku tidak ingin membahas itu. Lagi pula, orang itu tidak mungkin Wonwoo.” Mingyu mulai berdiri dari duduknya. Menatap tajam Hansol yang terkekeh, kemudian melangkah menjauh dari pria itu. Berbicara dengan Hansol malah membuat mood Mingyu semakin tidak bagus.

“Mau kemana? Kelas akan dimulai?” Hansol berteriak. Kembali mengingatkan agar Mingyu segera kembali.

“Bukan urusanmu!” Dan setelahnya, Mingyu keluar dari pintu kelas. Punggungnya sudah tidak dapat di lihat lagi oleh Hansol. Membuat Hansol menggelengkan kepala melihat tingkah Mingyu. Ia hanya bisa berharap yang terbaik untuk Mingyu, dan ramalan itu tidak akan pernah terjadi.

.

ΩΩΩΩ

.

Wonwoo menghela napas kasar. Ini sudah pukul jam delapan malam, dan ia masih berada di sekolah. Seharusnya Wonwoo sudah ada di hutan. Berbaur dengan para kawanan. Menunggu mate-nya datang, dan setelah bertemu dengan mate seumur hidup, ia bisa mengalami masa heat yang selalu di idamkan. Tapi sayang, harapan itu harus sirna dalam sekejap. Ia tertidur di perpustakaan, dan baru terbangun karena mendengar suara lolongan. Beruntung, perpustakaan itu tidak di kunci. Jadi Wonwoo bisa keluar dari sana dengan mudah.

“Sial! Sial!” Wonwoo mengumpat dengan keras. Ia mulai berlari. Suara hentakan kaki menggema. Menghentak lantai di bawahnya. Koridor ini sudah nampak sepi. Legang. Tidak ada siapapun. Kecuali Wonwoo yang masih mencoba keluar dari gedung sekolah ini.

“Ehh…” Si surai coklat menghentikan langkah. Ia terdiam, saat mencium bau yang berbeda. Hidungnya mulai mengendus udara. Bau itu seakan menariknya dalam sekejap, dan Wonwoo bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar. Darahnya berdesir, karena bau itu semakin tercium jelas. Bahkan Wonwoo bisa merasakan jika serigalanya mulai memekik kegirangan.

Ikuti, Won..’ Inner serigalanya mulai memasuki pikiran. Tapi sulit untuk Wonwoo menurutinya. Karena bau itu justru membuat tubuhnya serasa lemas dalam sekejap. Tubuhnya semakin memanas. Wonwoo yakin jika seluruh wajahnya sudah memerah sempurna.

“Ahh…” Erangan kecil lolos, saat jemari si surai coklat bergerak menyentuh pahanya sendiri. Mencoba berdiri dengan tegak dengan cara mencengkram celana denim yang di kenakan, malah membuat tubuh Wonwoo semakin tidak karuan.

“A-apa y-yang terjadi padaku?” Lirihan itu terdengar parau. Wonwoo kembali melangkah menuju bau yang menuntunnya.

Heat. Kau mengalaminya, bodoh! Sekarang ikuti bau itu. Siapa tahu, dia adalah mate-mu.’ Inner serigala kembali meraung merasuki pikiran. Mencoba mengambil alih tubuh Wonwoo. Ia tahu jika Will- serigalanya bahagia akibat heat pertama mereka. Sekarang Wonwoo tahu, bagaimana proses heat yang selalu para omega lakukan dengan cara mengeluarkan feromon berlebih. Mungkin bau feromon Wonwoo juga sedang menguar. Ia bersyukur tidak ada orang di sekolah. Jika sampai feromon berlebihnya keluar, mungkin saja Wonwoo bisa di lecehkan di tempat.

“Diam, Will! A-aku sedang mencoba..” Hidung kembali mengendus. Bergerak membau segala penjuru. Langkah Wonwoo bergerak tak menentu. Bergerak menjauh dari koridor, sampai ia berada tepat di luar gedung. Manik foxy menilik. Mengamati suasana luar. Angin dingin berhembus. Menerpa tubuh si surai coklat, membuat bau itu semakin tercium. Kepala mulai mengadah. Wonwoo bisa melihat bagaimana pancaran bulan purnama sekarang. terlihat indah, tapi sayang ia sendiri di sini. Tidak ada yang menemaninya menikmati keindahan malam.

“Seharusnya aku sudah berada di hutan. Bukan di sini. Kita tidak akan menemukan mate di sini, Will..” Wonwoo kembali berujar lirih. Ia kecewa. Bau itu memang terhenti di sini, dan Wonwoo tidak dapat menemukan siapa pun di sana. Di luar gedung sekolah tepat Wonwoo bediri, hanya ada taman kecil yang sering ramai jika sedang istirahat. Di tambah pepohonan tinggi yang menjulang. Tidak ada yang aneh. Atau paling tepatnya tidak ada siapa pun di tempat ini.

Srakkk

Tubuh Wonwoo kembali menegang saat mendengar suara kecil yang mampu mengalihkan fokus. Manik foxy kembali menilik. Mengamati arah semak belukar. Serta pohon plum di sekitar taman. Dan retinanya sukses membulat, saat mengamati satu sosok yang sedang terduduk di salah satu pohon. Wonwoo kembali merasakan tubuhnya memanas tak karuan. Seolah ada sesuatu yang melesak ingin keluar dari tubuh, dan ia tidak tahu apa itu.

Si surai coklat kembali melangkah. Mendekati sosok itu. Bibir bawah di gigit dengan kuat. Takut mengeluarkan suara. Wonwoo hanya perlu mendengar suara debaran jantungnya sendiri yang menggema. Bertalu dengan kencang, ketika jaraknya dengan sosok itu hanya tinggal lima meter.

Dahi mengerut. Matanya membulat sempurna, saat sadar sosok yang fokusnya tangkap. Udara di sekeliling sudah di penuhi oleh bau itu. Bau memabukan yang kini berbaur dengan bau feromon miliknya. Inner serigalanya memberontak. Ingin menguasai tubuh Wonwoo, saat tubuh si surai coklat itu terdiam membatu di tempat.

Mate! Itu mate kita, Won!’

Wonwoo menelan saliva dalam, ketika sosok bersurai pirang itu membuka mata. Obsidian kelamnya mulai terlihat, dan alahkan terkejutnya Wonwoo, saat sosok itu mulai berdiri. Menggeram ke arahnya.

“T-tidak mungkin.. i-itu M-mingyu…” Wonwoo menggelengkan kepala. Mencoba menyadarkan diri jika semua ini mungkin adalah delusi tak masuk akal. Kim Mingyu tidak mungkin menjadi mate-nya. Sampai kapanpun, itu tidak mungkin terjadi.

“Kau…” Suara bariton yang mengalun dari mulut Mingyu malah membuat tubuh Wonwoo memanas dengan cepat. Manik foxynya bisa melihat jika Mingyu mulai mendekat. Manik obsidian yang awalnya hitam kelam, berubah menjadi merah darah.

“Jangan mendekat, Kim!” Wonwoo berseru panik. Tubuhnya tidak bisa di gerakan sekarang. Tapi ia harus lari. Mingyu tidak boleh mendekatinya di saat ia mengalami heat. Apalagi jika Mingyu memang berniat untuk melakukan mating bound (10). Itu tidak boleh sampai terjadi.

“Bau feromon milikmu menyengat, Wonwoo-ya..” Suara Mingyu kembali mengalun. Hentakan kaki kembali terdengar. Mendekat ke arah Wonwoo. Jantung Wonwoo semakin berdebar tak tentu arah, karena Mingyu semakin menipiskan jarak.

“Jangan biarkan para alpha tertarik dengan bau milikmu itu, Won..” Mingyu mendesis penuh posesif. Tidak suka, saat bau feromon yang Wonwoo keluarkan semakin menyengat ketika ia mendekat.

“Tidak mungkin! Ini tidak masuk akal!” Wonwoo kembali berteriak, dan ia mulai bisa membalikan badan. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Serigalanya mencoba menolak permintaan Wonwoo. Tidak rela jika harus berpisah dengan mate-nya itu.

Tubuh si surai coklat mulai bertransformasi. Membesar secepat kilat, dan berubah menjadi sosok serigala berbulu abu-abu yang bergradasi dengan warna putih setinggi tiga meter. Serigala Wonwoo mengibaskan ekor, dan mulai berlari menjauh. Meninggalkan sosok Mingyu yang menggeram marah, dan mulai mengejar sosok Wonwoo dalam balutan transformasi sosok serigala berbulu coklat lebat setinggi empat meter. Matanya memerah sempurna, saat sosok abadinya itu berlari tak menentu. Dan Mingyu mulai mengejar. Ia tidak akan membiarkan Wonwoo lari malam ini. Setelah tahu, jika pria itu memang mate yang Moon Goddes takdirkan untuknya. Jika Wonwoo adalah mate-nya, maka Mingyu harus menjaga pria itu agar ramalan oracle tidak akan pernah terjadi.

TeBeCe

Glousarium :

Omega : Serigala yang bisa hamil. Biasanya pasangan mereka adalah para alpha. Dan kawanan omega itu strata paling rendah,juga paling sedikit.

Warrior : Serigala petarung.

Mate : Pasangan abadi. Takdir. Sehidup semati

Alpha : Pemimpin para kawanan serigala.

Elder : Serigala dengan kemampuan spesial yang dapat menguasai beberapa elemen kehidupan. Hanya ada satu atau dua elder di setiap kawanan. Dan umur elder biasanya itu panjang. Hingga elder bisa jadi tetua.

Pack : kawanan

Heat : Proses yang hanya di miliki omega. Biasanya suka pengen di sentuh. Apalagi sama mate-nya. Saat masa heat, biasanya ngeluarin bau feromon yang mampu narik serigala lain. Sekali pun itu bukan matenya.

Moon Goddes : Dewa Dewi yang ngejodohin para serigala

Oracle : Cenayang. Putra Apollo

Mating bound : Proses mating. Penandaan. Naena.

Wkwkk gaje yah sebenernya. Ya udah sih, ini Cuman iseng doang kok. Ga lebih wkwk. Kalau ada istilah yang salah, silahkan kasih tau. Biar di revisi.

Ini tuh emang tumben aja pengen buat ABO yang matenya bener-bener sama-sama serigala. Biasanya aku tuh kalo buat ff fantasy mate-nya suka ngawur. Wkwk

Kayak serigala X vampire

Incubus x omega

Demon x fallen angel

Nah yang ini baru ngga terlalu ngawur. Ngawur sih sebenernya. Wkwk. Biasanya kan alpha x omega. Cuman aku maunya anti mainstream. Ga mau samaan kayak ff abo lain yang pernah Aku baca. Jadi deh elder x omega. Wkwk

Bye. Mind to Review?

Astia morichan

Fated Pairs | Meanie | Chap 2| Meanie Couple

2

Hati-hati dengan makhluk bersayap. Berbahaya. Kau akan merasakan kepedihan, serta kehilangan lebih menyakitkan dari yang pernah kau alami. Kekuatan yang selama ini menjadi milikmu akan hilang sebagian bersama dengan perginya sang jiwa.” Sang Oracle- Putra Apollo yang bernama Lee Jihoon itu membuka mata. Menampilkan sepasang mata tajam dan penuh keprihatinan yang terarah pada Kim Mingyu- sang elder; yang rela datang mengunjungi pondok harpy . Tepat berada di ujung hutan bagian selatan, jauh dari wilayah Red Moon sendiri.

Jihoon telah memaparkan semua visualisasi yang ia lihat di masa depan saat memegang tangan Mingyu pertama kali. Apollo memberinya sebuah ilham yang akan menjadi kenyataan di masa akan datang. Semua ramalan dari Jihoon tidak akan pernah meleset. Termasuk mengenai nasib yang akan menimpa si surai pirang.

Apa maksudmu?” Suara bariton Mingyu terdengar dingin. Mencekam. Seolah mengatakan jika Jihoon harus menjelaskan semua ramalan yang ia dapat. Mingyu masih belum mengerti dengan jelas apa yang sang Oracle katakan. Kenapa sang mate harus pergi dari hidupnya? Lalu siapa sang makluk bersayap yang tadi di sebut itu?

Maaf,” Jihoon menggeleng pelan. “aku tidak punya wewenang untuk memaparkan semua ramalan ini dengan jelas. Tapi aku hanya bisa memberitahumu satu hal.” Sang Oracle menghela napas, sebelum meneruskan ucapannya. Hingga sang elder kembali memberikan tatapan intens lewat manik obsidian kelamnya.

Jika kau bertemu dengan mate-mu, jaga dia. Jangan pernah melepaskan pandanganmu darinya, atau kau akan menyesal seumur hidupmu.” Jihoon melepaskan tangan Mingyu. Ia bisa melihat jika sang elder masih terlihat kebingungan dengan semua ini. Pasalnya, Jihoon juga tidak bisa memberitahu semua hal yang sudah sang Apollo perlihatkan. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran yang bisa membuat elder kuat ini terpuruk.

Apa kau tidak mengatakan omong kosong?”

Tidak. Aku sama sekali tidak berbohong soal ini. Jika kau tidak percaya, itu terserah padamu. Aku hanya ingin mengingatkan, jika takdir bisa saja berubah asal kau mampu mencegah hal itu.” Jihoon berdiri dari duduknya. Ia pergi ke belakang pondok. Meninggalkan Mingyu yang masih terdiam dan berfikir keras tentang ramalan yang akan terjadi. Setelah ini, Mingyu akan menanyakan semuanya kepada Hansol. Pemuda itu mampu menjelaskan teka-teki yang jabarkan sang Oracle.

Jika apa yang di katakan oleh Jihoon adalah sebuah kebenaran, maka Mingyu tidak dapat menganggap remeh ramalan itu. Walaupun sebenarnya, ia tidak percaya dengan ramalan. Datang ke tempat Jihoon pun hanya karena paksaan dari para tetua. Jika tidak terpaksa, Mingyu tidak usah repot-repot datang hanya untuk mendengarkan omong kosong belaka seperti sekarang.

.

ΩΩΩ

.

Fated Pairs

Elder X Omega

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Song : Glourious – Hey! Say! JUMP

a/n: Lama yah? Hahaha. Maaf. Saya ga ada semangat. Tiba-tiba dapet WB, dan saya masih dalam tahap males editing. Ini aja editingnya sekenanya. Saya juga sibuk karena ini mau UAS. Di tambah saya juga sibuk kerjain Commissioned Fanfict. Hehe.

So, EnJOY!

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo dengan balutan serigala abu-abu bergradasi putih besar itu berlari cepat. Menerobos jalanan yang untungnya sepi. Legang. Tanpa adanya kendaraan manusia yang lewat di sana. Langkah semakin cepat untuk memasuki hutan yang tinggal satu kilo meter di depan. Serigala itu berlari tanpa menoleh pada sosok serigala berbulu coklat yang lebih besar di belakangnya. Ya. Kim Mingyu ikut mengejarnya setelah tahu jika mereka adalah mate. Dan yang lebih parah lagi, Wonwoo sedang mengalami heat. Ia tidak bisa berlari cepat seperti biasanya. Wonwoo harus segera sampai ke rumah dan meminum pill surppressants(1) ; pengontrol hormon feromon. Jika tidak segera menelannya, feromon dalam tubuhnya mampu menarik kawanan serigala untuk memperkosa Wonwoo di tempat. Begitu pula dengan dirinya yang akan kesakitan karena ingin di sentuh.

Jujur. Wonwoo sama sekali tidak percaya jika semua ini adalah kenyataan. Sejak tadi, Will terus berteriak dalam innernya. Memberontak keras untuk mengambil alih tubuh, karena ingin segera berada di samping mate-nya sendiri, dan melakukan mating bound. Tapi sayang, keinginan sang serigala tidak dapat Wonwoo patuhi. Ia tidak akan pernah menerima Mingyu menjadi mate-nya. Tidak akan pernah. Sampai kapanpun juga.

Srakkk

Wonwoo menghentikan langkah seketika. Tubuhnya tiba-tiba saja berhenti dalam tarikan gerak refleks. Will meringik cukup keras tanda bahaya, saat sebuah pelindung berwarna biru membulat di sekeliling mereka. Hingga sang serigala tidak bisa keluar melewatinya.

Wonwoo mengernyit heran. Jantungnya semakin berpacu dengan keras tak karuan akibat sebuah pelindung biru yang tiba-tiba mengurung dirinya. Kali ini, ketakutannya bertambah dua kali lipat. Sumpah. Wonwoo ingin mengutuk Moon Goddess yang tega memberikan heat padanya dengan penuh cobaan.

“Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Pelindung ini akan menutupi tubuhmu dari mate yang sedang mengejar. Diam di sana sampai mate-mu menghilang dan kembali pada kawanan.” Suara bass yang terdengar merdu tiba-tiba saja masuk ke dalam kepala Wonwoo. Seolah betelepati secara langsung. Tanpa menunjukan wujud yang sebenarnya. Bahkan karena suara itu, feromon heat yang sejak tadi menguar, tiba-tiba saja hilang. Wonwoo tidak membutuhkan pill lagi untuk meredam birahi sesaatnya yang membuat tubuh gelisah.

“S-siapa kau?” Suara geraman Will kali ini mendominasi. Sosok serigalanya mengambil ancang-ancang. Siap tempur, jika saja sosok misterius itu tiba-tiba muncul, kemudian menyerang. Sejak dulu, Wonwoo di ajarkan untuk selalu hati-hati dan tidak mudah percaya pada siapapun. Karena setahu yang ia ingat, setiap makluk selalu dengan mudah merubah pikiran dalam sekejap.

“Tenanglah. Aku hanya membantumu Omega.” Suara itu kembali mengalun, dan tanpa sadar membuat Wonwoo terdiam. Dirinya seolah percaya dengan apa yang sosok itu ucapkan. Wonwoo pikir, ia mengenali suara itu. Tapi sang omega lupa siapa pemilik suara bass yang sekarang membuatkannya pelindung. Ia hanya bisa diam dan mengangguk mengiyakan.

Di dalam pelindung, Wonwoo dapat melihat dengan jelas sosok serigala Mingyu mulai muncul. Mingyu berjalan mendekat ke arahnya. Kepala serigala berbulu coklat itu bergerak ke segala penjuru. Sesekali Mingyu menggeram kesal, karena tidak dapat menemukan apa yang ia cari, yaitu dirinya. Sekarang, Wonwoo percaya jika pelindung ini benar-benar membutakan penglihatan sang mate. Terbukti dengan serigala coklat itu yang kembali berlari. Melewati dirinya begitu saja. Seolah ia memang tidak melihat Wonwoo berdiri sama sekali di sana.

Tanpa sadar, Wonwoo menghela napas lega ketika jarak Mingyu memang sudah terbilang jauh dari tempatnya. Beberapa detik setelahnya, transformasi wujud serigala Will berubah sepenuhnya. Menjadi sosok manusia Wonwoo seperti biasa. Seragam si surai coklat terlihat kotor akibat tanah. Tapi Wonwooo tidak peduli lagi soal pakaiannya yang kacau. Wonwoo hanya peduli pada sosok yang membuatkannya pelindung ini. Pelindung biru itu masih membulat. Mengitari tubuh Wonwoo. Hingga Wonwoo masih tidak bisa keluar dari sana.

Sungguh. Wonwoo benar-benar penasaran dengan sosok itu. Kenapa pula sang penolong harus repot-repot membantunya saat di kejar oleh Mingyu yang notabene adalah mate Wonwoo sendiri? Jika memang sang penolong tahu, seharusnya ia membiarkan Wonwoo di terkam oleh Mingyu saja.

“L-lepaskan aku.” Wonwoo berteriak cukup keras. Sebenarnya, ia takut dengan sosok sang penolong. Sudah dapat di pastikan jika yang menolong Wonwoo bukanlah seorang serigala. Kemungkinan besar yang mempunyai kemampuan seperti itu adalah para demon (2), incubus(3), dan pangeran kegelapan(4). Walau Wonwoo sendiri belum pernah menemui makluk yang tadi ia asumsikan. Tapi Wonwoo yakin jika yang menolong adalah salah satu dari mereka. Apalagi dengan aura mencekam yang tiba-tiba saja Wonwoo rasakan. Ia semakin yakin jika sang penolong bukan golongan makluk baik hati.

“Kau mengenalku.” Suara bass kembali terdengar. Sesekali tertawa renyah, saat pelindung yang ia ciptakan menghilang dari sekitar tubuh Wonwoo.

Srakk

Suara denting pohon yang di tendang, beserta semak-semak yang terinjak, mampu membuat Wonwoo menoleh ke belakang. Tepat pada pohon oak yang berdiri paling kokoh di sana. Manik foxy menyipit sempurna, saat menemukan sosok pemuda yang tiba-tiba saja berjalan ke arahnya.

Dalam benaknya, Wonwoo merasa kenal dengan pemuda itu. Cahaya bulan tidak membantu Wonwoo untuk melihat dengan jelas sosok itu. Wonwoo harus mengerutkan dahi untuk berpikir tentang sosok tinggi itu. Ia merasa kenal, tapi sang omega tidak tahu siapa sosok itu.

“E-eh? A-aron hyung?” Si surai coklat memekik cukup keras, saat sosok pemuda yang memakai seragam seperti dirinya muncul. Sosok itu adalah Kwak Aron. Kakak kelas tingkat tiga di sekolahnya. Jujur saja, ia tidak menyangka jika Aron yang menolongnya. Jika pelindung itu berasal dari Aron, besar kemungkinan jika sang kakak kelas bukanlah seorang werewolf.

“Kau baik-baik saja?” Aron kembali bertanya saat jaraknya dengan Wonwoo semakin menipis. Sementara Wonwoo memundurkan tubuh secara refleks. Sungguh. Ia takut dengan Aron sekarang. Jika dulu Wonwoo nyaman bersama kakak kelas, maka sekarang, presepsi itu berubah secepat kilat akibat siapa sesungguhnya sosok Aron. Kekuatan Aron cukup berbahaya, dan ia yakin jika kekuatan sang penolong mampu membakar tubuhnya dalam sekejap.

“Kau takut padaku?” Aron bertanya, dan si surai coklat hanya mampu terdiam. Wonwoo hanya bisa menundukan kepala. Enggan menjawab, atau pun menggerakan tubuhnya lagi.

“Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Kau tahu tentang Archangel (5) ? Orang-orang dunia atas memanggilku dengan Uriel (6).” Sang malaikat tersenyum menawan. Membuat Wonwoo yang melihat lewat ekor mata, tiba-tiba mendongakan kepala. Ia terhipnotis dengan senyuman itu. Apalagi dengan aura yang Aron pancarkan berubah menjadi aura penuh kedamaian. Hingga membuat semua ketakutan yang tadi bersarang dalam hati tiba-tiba lenyap dalam sekejap karena melihat sebuah senyuman sang malaikat.

Ini adalah kali pertama bagi Wonwoo melihat seorang malaikat. Jujur, ia masih tidak percaya dengan apa yang Aron ucapkan. Karena sesosok Archangel tidak akan mungkin berada dalam dunia manusia dalam waktu yang cukup lama.

“K-kenapa bisa ada seorang malaikat di sini? Ini bukan wilayahmu.” Wonwoo mencoba bertanya dengan terbata. Jujur, ia memang penasaran, dan butuh penjelasan lebih. Sang Omega tidak akan mungkin percaya begitu saja.

“Tidak boleh?” Aron menggerlingkan mata penuh godaan, dan hal itu malah membuat Wonwoo salah tingkah karena malu. Sial! Malaikat itu menggodanya dengan tiba-tiba.

“Bukan. Hanya saja, ini bukan wilayahmu. Ini kawasan para serigala.”

“Aku hanya kebetulan lewat saja, dan melihatmu ketakutan saat di kejar oleh mate ketika kau sedang heat. Apa kau takut dengan mating bound?” Pertanyaan yang di lontarkan Aron semakin membuat Wonwoo merasa malu. Entahlah, jika di tanya tentang mating bound, Wonwoo selalu kikuk. Ia memang tidak pernah mengalaminya, dan jika pun Wonwoo akan mengalami mating, ia tidak ingin melakukan hal itu dengan Mingyu. Sekali pun Mingyu memang mate-nya.

“Bukan urusanmu, Hyung.” Wonwoo menundukan kepala. Enggan menatap sang malaikat yang bisa saja kembali membuat Wonwoo terhipnotis dalam sekejap dengan kekuatannya itu.

“Apa kau menolak mate-mu?” Aron kembali bertanya, dan hal itu malah membuat Wonwoo menggeram kesal. Sungguh, ia tidak dalam kondisi yang tepat untuk di tanya tentang hal seperti ini. Apalagi jika menyangkut Mingyu- sang mate yang sudah menjadi takdirnya.

“Sekali lagi, ini bukan urusanmu,” Wonwoo menatap tajam Aron. Jika tadi ia malu, sekarang Wonwoo sudah kembali menunjukan keberanian seperti biasa. “terimakasih karena menolongku, dan sampai jumpa lagi, hyung.”

Wonwoo mengangguk kecil, sebagai tandai hormat pada sang malaikat. Kemudian berjalan melewati Aron yang masih terkekeh kecil. Seolah tidak peduli dengan ucapan sarkas yang di lontarkan sang omega.

“Won, aku tertarik padamu.” Aron berteriak cukup keras, saat jarak Wonwoo mulai menjauh dari pandangannya. Meninggalkan dirinya yang masih tersenyum penuh arti. Menatap sosok sang omega yang mulai tak terlihat di telan oleh kegelapan malam.

.

oOo

.

Mingyu berlari kencang menuju wilayah Red Moon. Saat jaraknya dengan pondok utama terlihat, transformasi serigalanya menghilang. Di gantikan dengan sosok manusia miliknya. Si surai pirang mulai mengumpat keras, saat melihat sekeliling kawasan Red Moon. Kawanannya nampak tidak ada di sana. Sepertinya mereka semua sedang menghadiri pertemuan semua kawanan di tengah hutan bagian utara, dan setelahnya akan melakukan mating bond dengan mate masing-masing.

Langkah kaki panjang si surai pirang mengantarkannya ke arah pondok milik keluarga Kim. Dengan gontai, Mingyu memutuskan untuk duduk di teras. Kepalanya mengadah untuk menatap bagaimana indahnya bulan dan bintang di antara gelapnya langit malam. Jujur saja, saat ini, birahi Mingyu masih berada di puncak tertinggi ketika melihat Wonwoo pertama kali. Beruntung, Mingyu mampu menahan semua birahi sang serigala karena dirinya tidak mudah untuk di kalahkan oleh sang inner. Mungkin jika serigala lain, saat bulan purnama datang, serta tidak dapat bertemu dengan mate akan berteriak gila, saking sakitnya membutuhkan pelampiasan.

“Sial!” Umpatan keras kembali Mingyu lontarkan. Jujur saja, dirinya masih tidak tenang. Sejak tadi, Mingyu memikirkan kemana sosok Wonwoo menghilang. Mate-nya itu tidak akan mudah menghilang dengan cepat dalam keadaan menahan birahi seperti itu. Apalagi dengan feromon miliknya yang menyebar di kala bulan purnama seperti ini.

“Arghhhttt… Aku harus ke Blue Circle sekalipun kepalaku di penggal karena menerobos kawasan itu!” Mingyu mengacak surai pirangnya frustasi. Ia sudah tidak punya pilihan lain. Satu-satunya yang dapat Mingyu pikirkan adalah jika Wonwoo pergi ke pondok rumahnya di Blue Circle. Pemuda itu tidak akan mungkin berkeliaran lebih jauh saat mengalami heat seperti ini.

Mingyu berdiri dari duduknya. Kemudian tubuhnya kembali bergetar, dan setelah itu bertransformasi menjadi sosok serigala berbulu coklat. Sang elder mengibaskan ekor besarnya, sebelum memutuskan untuk berlari secepat kilat. Meninggalkan kawasan Red Moon yang sepi di belakangnya.

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo berjalan dengan lunglai. Kakinya serasa lemas dalam sekejap, dan tubuhnya tiba-tiba saja kembali memanas. Heatnya kembali hadir saat Aron sudah tidak berada di samping Wonwoo lagi. Beruntung, saat heat itu kembali hadir, Wonwoo sudah sampai di depan gerbang pintu masuk ke wilayah Blue Circle. Double Lucky, tidak ada para kawanan. Itu artinya, tidak akan ada yang menyerang Wonwoo dalam kondisi heat seperti sekarang.

Brakk

Kaki sang omega tersandung kerikil. Tubuh si surai coklat terjatuh. Membentur tanah dengan keadaan tengkurap. Sepertinya, mengumpat tidak akan cukup untuk menghilangkan emosi karena kesialan yang ia dapat hari ini.

Kaki Wonwoo bergerak gelisah, hingga ia mulai meringkuk dengan tanah sebagai alasnya. Jujur saja, tubuh Wonwoo sudah tidak kuat. Ia ingin menyentuh dirinya sendiri di sini. Rasa panas yang menyerang tubuh, serta peluh-peluh yang menghiasi setiap inci kemolekan tubuhnya, membuat sang omega ingin melepaskan diri dari pakian yang melekat.

“S-sial…” Umpatan lirih Wonwoo terdengar tak berarti. Bibir bawah di gigit cukup keras, agar meredam desahan yang hampir keluar dari mulut. Sungguh. Wonwoo kesal. Pasalnya, ia hanya berjarak beberapa meter lagi dari rumah. Tapi kenapa tubuhnya sudah tidak kuat? Jika dulu ia mendambakan akan datangnya heat, maka sekarang berbeda. Si surai coklat membencinya. Apalagi jika ingat jika semua ini bermula dari Mingyu- sang musuh bebuyutan.

“Aghhtthh..” Geraman lirih lolos dari mulut Wonwoo. Tubuhnya mulai bergerak. Mencoba untuk merangkak maju, dengan menggerakan tangan. Meraih setapak batu kecil di depan agar ia bisa memajukan tubuh. Tapi sial, justru gesekan tubuhnya dengan tanah di bawah, makin membuat tubuhnya semakin panas. Wonwoo semakin menggeliat tak karuan, akibat sensasi gesekan itu.

Sudahlah. Wonwoo sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Ia mulai membalikan tubuh, hingga dirinya telentang. Manik foxy tertutup dengan perlahan. Seolah tidak ingin peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Tangan si surai coklat mulai bergerak membuka kaitan seragam dengan gerakan cukup cepat. Hingga kaitan seragam itu sudah terbuka sempurna. Memperlihatkan bagaimana mulusnya kulit seputih porselen sang Omega. Bau feromon milik Wonwoo menguar cukup pekat memenuhi kawasan Blue Circle. Berbaur dengan udara setara dengan kecepatan kilat.

“Anhhh..” Sang Omega mendesah kecil, saat jemarinya bergerak menyentuh dada. Kemudian beralih menyentuh puting kemerahan yang terlihat menegang. Menantang untuk di permainkan atau di lumat oleh benda lunak tak bertulang. Tangan Wonwoo kembali mengambil alih. Ia memilin putingnya sendiri, sesekali mencubit dengan gerakan memutar, yang membuat kepalanya seakan penuh dengan euforia kesenangan di saat festifal musim panas.

“Uhhh…” Wonwoo melengguh, sambil menggigit lagi bibir bawahnya. Sepasang kaki bergerak menyilang, agar menekan selangkangan yang sudah menegang sempurna di balik celana.

“Ggrrrhhh…” Suara geraman tiba-tiba terdengar memenuhi gendang telinga. Geraman yang mampu membuat neuron saraf berfungsi semakin liar. Kepalanya bergerak gelisah, dan retina sang omega menatap lirih sang serigala berbulu coklat yang menatapnya dengan penuh amarah bercampur gairah di balik manik kemerahan itu.

Sosok serigala mulai berubah menjadi sosok manusia miliknya sendiri. Kim Mingyu berdiri di hadapan Jeon Wonwoo yang masih berbaring di bawah tanah. Obsidiannya mengkilat penuh nafsu saat melihat kondisi tubuh sang mate. Tubuh Wonwoo menggodanya untuk di kecup, di jilat dan di tandai. Apalagi dengan aroma feromon Wonwoo yang menusuk indra penciuman.

Sel neuron di kepala sang elder mulai memerintahkan semua keinginan sang serigala. Inner serigala berteriak penuh gebu agar segera menerkam sang omega yang sudah terlihat tidak berdaya. Mingyu tahu hanya dengan melihat kondisi Wonwoo yang seperti itu. Jika di biarkan, maka Wonwoo akan semakin kesakitan. Begitu pula dengan dirinya sendiri. Karena tubuh Mingyu kembali memanas dalam sekejap, akibat mencium bau feromon sang omega. Birahi yang awalnya menyusut perlahan, naik dengan drastis akibat sang mate.

“Wonwoo…” Mingyu menggeram kecil. Ia mulai berjongkok di hadapan sang omega. Tangannya terulur. Mengelus pipi Wonwoo dengan gerakan pelan. Tapi mampu membuat sang omega menggeram karena menginginkan lebih.

“Kau tidak bisa menolakku.” Ucapan penuh nada keabsolutan terdengar, di sertai dengan satu tarikan tangan, hingga tubuh Wonwoo terangkat. Mingyu menggendong tubuh Wonwoo ala bridal, dan sang omega sama sekali tidak bisa menolak. Dirinya sudah lelah, dan ia membutuhkan pertolongan. Apapun itu. Asal rasa sakit akibat heatnya ini menghilang.

“J-janganhh.. m-menandaikuh…” Wonwoo berbisik di antara perpotongan leher Mingyu. Membuat sang elder mendengus dengan nada meremehkan. Bagaimana mungkin Wonwoo meminta hal yang mustahil ia kabulkan seperti itu?

“Kita lihat nanti, Jeon. Siapa yang lebih dominan mencapai tujuannya. Aku atau kau.” Ucapan Mingyu berakhir bersamaan dengan suara derit pintu yang terdengar terbuka. Sebuah deritan yang akan mengantarkan Jeon Wonwoo pada lubang penuh kebencian untuk sang mate.

Tebece

Glousarium :

1. Pill surppressants : pill yang di minum oleh para omega untuk mengontrol feromon heat berlebih. Di gunakan saat tidak ada pelampiasan. Karena biasanya heat terjadi satu bulan itu satu nor dua kali. setiap omega terbiasa membawa pill ini.

2. Demon : iblis.

3. Incubus : Spesies iblis yang melakukan sex untuk menyerap sari-sari kehidupan

4. Pangeran kegelapan: Son Of Hades.

5. Archangel : Pasukan malaikat Tuhan. Malaikat tertinggi. Kedudukannya lebih tinggi di antara para malaikat lainnya. Ada 10 malaikat yang termasuk ke dalam Archangel dalam Al-Qur’an. Tapi dalam kitab injil dan Yahudi hanya ada 7 yang termasuk ke dalam Archangel.

6. Uriel : Fire Of God. Malaikat Tuhan yang bertugas menjaga pintu gerbang Tartarus aka Gerbang menuju Neraka.

Ps : Jika ada glousarium yang salah. kalian bisa koreksi.

Well. Jujur. Gue ga tau chap depan tamat atau belum. Wkwk. Masih ngambang. Yang penting saya jelaskan disini, jangan berharap lebih dengan ending yang akan saya buat. Sejak awal, ff ini maso. Semaso perasaan dan kokoro. Mehh -_-

Oke. Sampai jumpa lagi. Wkwk. Entah apa yang bakal di update setelah gue uts. Mau edit iwtbas, tapi gue males. Entah kenapa -_- mau ngetik caste heaven, gue lagi ga ada mood. -_- motivasi gue tolong wkwk

Ps : Gue masih terima Commisioned Fanfict. Kalau mau silahkan inbox saya ^^ Kalian bebas request genre, rated, dan saya bakal buat sesuai keinginan. Silahkan cek di work saya yang judulnya Commissioned FF ^^ Saya hanya terima 3 Comm. Berarti hanya sisa 2 lagi.

Jadi setelah UTS saya berakhir, hanya FF Comm yang saya upload ^^

Jaa ne.. sampai jumpa di updatean selanjutnya.

REVIEW?

Astia Morichan

Fudanshi Janai | Meanie | Chap 4| Meanie Couple | Yaoi

0

Jeon Wonwoo menggigit bibir kuat-kuat. Matanya mencoba terpejam dengan dengan erat. Di tutup dengan rapat. Berharap bisa segera mencapai alam mimpi. Tapi sayang, semua keinginannya harus terkubur rapat-rapat. Pasalnya, Kim Mingyu masih tetap mengganggunya di saat ingin terlelap. Si surai pirang asik menarik pinggangnya. Hingga Wonwoo terjembab dalam sebuah pelukan erat. Dimana Mingyu menerpakan napas hangat teratur di hadapan wajah si surai coklat.

Sungguh. Posisi mereka benar-benar tidak dapat dikatakan benar. Ini salah. Mereka salah posisi. Seharusnya Wonwoo memang menyuruh Mingyu untuk tidur di ruang rahasia miliknya itu. Tapi mereka harus terjebak di kamar biasa milik si surai pirang. Hanya karena kekeras kepalaan Mingyu yang ingin tidur bersama. Dan hal ini yang harus Wonwoo sesali. Jujur, ia benar-benar menyesal.

Kini di depannya. Tepat berjarak lima senti di depan wajahnya, wajah tampan Mingyu terpampang jelas. Wonwoo dapat melihat pahatan indah yang sudah Tuhan ciptakan. Ia tidak memungkiri ketampanan sahabatnya itu. Mingyu memang tampan. Penuh karismatik. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang menggoda itu terlihat sangat sempurna. Tidak heran jika di sekolah, Mingyu mempunyai banyak penggemar, dan Jeon Wonwoo baru menyadarinya sekarang.

Dirinya seolah terhipnotis saat memandangi wajah Mingyu. Ada debaran aneh menggelitik hati, dan sengatan kecil di perut saat tubuh mereka semakin merapat. Sekarang, hidung Wonwoo dan si surai pirang saling bersentuhan. Bibir merah nan basah milik Mingyu hanya terpaut beberapa senti, dan Wonwoo seakan tergoda untuk mengecupnya. Jujur. Ia masih ingat bagaimana lembutnya bibir Mingyu saat mengecupnya beberapa jam lalu.

Sial! kenapa pula Wonwoo harus memikirkan hal itu? tidak. Tidak boleh. Wonwoo harus melupakan semua hal yang terjadi. Ia juga harus membuat sahabatnya ini kembali normal. Tolong ingatkan Wonwoo untuk setia pada wifu beroppai bombastis. Jangan sampai ia terjerumus dengan pria berbatang. Jangan biarkan seorang Jeon Wonwoo khilaf hanya karena terpesona dengan sang sahabat yang mempunyai otong seperti dirinya.

“Ingat Jeon! Kau masih mencintai Satsuki. Ingat juga bagaimana bentuk tubuh aduhai milik Akane-san.” Wonwoo bergumam kecil, sambil menutup mata rapat-rapat agar tidak dapat melihat wajah Mingyu. Pikirannya mencoba melayang. Membayangkan sosok telanjang Akane yang ada di anime Kuzu no Hentai. Walau wanita itu jalang, tapi Wonwoo menyukai badannya yang aduhai. Ia harus tetap mendelusikan para wifu jika tidak ingin berbelok pada hasutan Mingyu.

.

.

Fudanshi |Janai!

a/n: Happy Bday Kim Mingyu. Otame. Dan yah ini emang FF yang di dedikasi buat ultahnya Mingyu. Sumpah. Pas ngetik ini emang mentok. Sementok-mentoknya karena saya ga punya plot apa-apa untuk cerita ini. plot di dapat ketika mendapat pencerahan atas statistik -_-

dan Well, Happy Bday Kim Mingyu! Jangan selingkuh mulu tem. Wkwkwk. Oh iya dan ini FF terakhir saya sebelum hiatus. Mau hiatus aku tuh. Sibuk. Haha.

Ps: Ini ga ada editing. Maaf kalau bobrok. Haha. Gaje pula. Sudahlah. Yang penting update.

enJOY!

.

.

Brakk

“Aku pulan- KYAAAAAA!” Suara gebrakan pintu yang keras, serta sebuah teriakan mengalun dengan kencang. Teriakan penuh histeris dari sosok Kim Minseo yang masuk tiba-tiba ke dalam kamar sang kakak. Matanya membelalak kaget. Seolah tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Fokusnya dapat menangkap jelas sosok Mingyu bersama Wonwoo. Berpelukan. Bersama. Dalam satu selimut. Berbagi kehangatan.

“KYAAAAA! MIMPI APA AKU SEMALAM YA TUHAN?!” Teriakan gadis itu semakin menggema dengan keras. Dengan cepat ia menarik ponsel di dalam saku celana. Beberapa detik setelahnya, terdengar suara jepretan kamera. Beberapa kali. Karena Minseo sampai harus mengelilingi ranjang dan menahan teriakan hanya untuk mengabadikan momen langka itu.

“Nghh… Berisik…” Lenguhan Wonwoo terdengar. Membuat Minseo menghentikan aksinya. Tubuh gadis itu diam membatu seketika, saat melihat dengan jelas jika Wonwoo malah merapatkan tubuhnya pada Mingyu. Mengeluskan hidung bangirnya pada dada bidang sang kakak. Hingga membuat Mingyu semakin mengeratkan pelukan pada pinggang si surai coklat. Tak lupa, sebelah tangan sang kakak bergerak membelai lekukan punggung Wonwoo. Hingga si surai coklat tanpa sadar melengguh lagi dalam tidurnya.

Entah harus berapa kali Minseo menelan saliva dalam-dalam. Ia sudah mencoba meredam teriakan agar tidak membangungkan kedua sosok sepasang adam itu. Dalam imaji, Minseo selalu membayangkan hal ini menjadi sebuah ekspektasi nyata. Sekarang, imajinasinya menjadi kenyataan. Tidak sia-sia Minseo menggambar sebuah doujinshi dengan karakter Mingyu dan Wonwoo tanpa sepengetahuan mereka. Sungguh. Hari ini, Minseo sangat bahagia karena dapat melihat secara langsung bagaimana Kerealan hubungan kakaknya dengan Wonwoo. Dalam hati, ia bersorak penuh gembira merestui hubungan mereka.

Sejak pertama kali bertemu dengan Wonwoo, Minseo sudah yakin jika si surai coklat itu akan menjadi pasangan dari kakaknya. Mengingat sang kakak adalah seorang fudanshi kelas kakap seperti dirinya, yang tidak menutupi kemungkinan jika ia adalah seorang gay. Karena ingat. Fudanshi itu hanya sebuah mitos belaka. Tidak akan ada laki-laki normal yang menyukai cerita picisan para pelaku penyimpangan homosexual.

“Euhhmmm…” Wonwoo bergumam kecil, di sertai dengan matanya yang mulai terbuka pelan. Memperlihatkan manik foxynya yang mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan retina. Si surai coklat terdiam sekejap hanya untuk mengumpulkan nyawa, dan membiarkan sel neuron di otak bekerja untuk menghantarkan informasi yang sudah mata dan indera perasanya rasakan.

“Whwahhhh…” Wonwoo berteriak kaget, di sertai dengan gerak refleks tangan untuk mendorong tubuh Mingyu. Hingga si surai pirang yang tadi masih asik di alam mimpi, terjatuh dari lantai. Terjembab ke lantai marmer dingin. Membuat Mingyu meringis sakit di bagian pantat.

“Aww.. Apa yang kau lakukan Won?!” Mingyu meringis sakit. Kesadarannya kembali dengan cepat karena Minseo terjatuh. Sekarang ia bisa melihat sosok Wonwoo yang menatapnya tajam, di sertai dengan pipi yang memerah. Sejak awal ia bangun, si surai coklat sudah menyadari keberadaan sosok yang berdiri di samping ranjang sebelah Mingyu. Sungguh. Ia benar-benar malu. Apa Minseo memikirkan hal yang aneh tentang dirinya dan Mingyu? Adik polos kesayangannya itu tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka.

“Hahaha…” Suara tawa yang sangat Mingyu kenali terdengar jelas dari arah belakang. Si surai pirang segera berbalik, dan di sana, ia dapat melihat sosok Minseo yang tertawa keras. Sial! adiknya itu sudah berada di kamar sejak tadi, dan kini menertawakannya.

“Ya! Sejak kapan kau pulang?” Mingyu mulai berdiri dari acara terjatuhnya. Kini ia berdiri di hadapan Minseo yang mulai tersenyum penuh arti. Senyuman mengerikan yang bisa Mingyu artikan. ‘Apa kau sudah membuat Wonwoo Onii-san menjadi gay?’

“Hehe.. sejak dua puluh menit lalu aku sudah pulang dan melihat kalian tertidur sambil berpelukan.” Minseo tersenyum menggoda. Gadis itu berjalan melewati Mingyu dan duduk di samping Wonwoo yang masih diam di ranjang. Pemuda itu terlihat berpikir keras. Mungkin ingin menghindari topik ketahuan berpelukan di hadapan sang adik kesayangan.

“Tidak apa-apa Wonwoo Onii-san,” Minseo menggantungkan kalimat. Alisnya bergerak naik turun di sertai dengan senyum godaan ke arah Wonwoo. Membuat si surai coklat mengernyit heran. Tidak mengerti maksud dari adik kecilnya itu.

“apa kau menyukai Mingyu oppa?” Minseo berbisik pelan, dan pertanyaan itu mampu membuat Wonwoo melototkan mata. Ia menggeleng keras sebagai jawaban, dan hal itu malah membuat Minseo terkekeh penuh kemenangan.

“Hehe. Ya sudahlah Nii-san. Aku mendukungmu seratus persen jika bersama Gyu Oppa.” Dan setelahnya, gadis itu mulai berdiri. Berjalan keluar kamar.

“Ah. Iya. Oppa. Aku sudah membawakan doujin AoKise yang kau minta. Kau bisa mengambilnya di kamarku.” Kemudian Minseo meninggalkan Wonwoo dan Mingyu lagi di ruangan ini.

“Apa yang Minseo katakan?” Mingyu menilik menatap Wonwoo yang mulai melempar selimut. Si surai coklat berdiri dan berjalan ke arah toilet. Mengabaikan Mingyu yang masih terlihat keheranan.

“Aku akan pulang sekarang, Gyu.” Setelahnya Wonwoo menutup pintu toilet dengan keras. Mengabaikan Mingyu yang masih bingung dengan apa yang sudah adiknya katakan pada Wonwoo.

.

oOO

.

Jeon Wonwoo mendengus kesal saat menatap sosok pemuda bersurai coklat sebahu sudah duduk di ranjang milknya. Yoon Jeonghan tersenyum lima jari ke arahnya. Seolah tidak menyadari raut wajah penuh kebencian yang menguar dari Wonwoo. Pasalnya Wonwoo tidak selalu mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamarnya yang penuh dengan poster-poster wifu. Hanya Mingyu saja yang ia izinkan masuk, karena mereka adalah sahabat satu perjuangan. Baekhyun saja yang selaku sang Ibu tidak pernah ia izinkan. Dan ini. Jeonghan yang merupakan sepupu jauhnya, selalu seenaknya masuk ke dalam kamar. Seolah kamar miliknya.

“Apa yang kau inginkan?” Wonwoo memutar bola mata kesal. Ia membuang asal tas selempangnya. Kemudian berjalan ke arah ranjang, dan membaringkan diri. Mengabaikan sosok Jeonghan yang masih tersenyum tidak jelas.

Jujur, Wonwoo sedang tidak mood meladeni tingkah Jeonghan. Dirinya sudah lelah, karena baru saja pulang dari rumah Mingyu secara tiba-tiba. Wonwoo ingin menghindar dari Minseo agar tidak menanyakan hal itu.

“Hanya mengunjungimu. Aku bosan berada di apartemen.” Jeonghan ikut membaringkan tubuhnya di samping Wonwoo.

“Kau masih saja menyukai gadis dua dimensi, Won..” Komentar Jeonghan di hadiahi delikan tidak suka.

“Berisik..”

“Aku jadi bertanya-tanya, apa kau menyukai gadis nyata? Jangan-jangan kau hanya bisa turn on jika membayangkan gadis khayalan dua dimensi? Bukan gadis yang menjadi teman nyatamu? Haha..” Jeonghan tertawa menyindir, dan hasil tawanya di hadiahi dengan timpukan guling pada tubuh sang sepupu. Membuat Jeonghan dengan refleks menangkisnya dengan cepat.

“Tentu saja aku bisa membayangkan manusia nyata yang bisa menjadi bahan delusiku!” Wonwoo mulai terduduk, dan kembali memberikan tatapan mematikan pada Jeonghan. Tapi sayang, tatapan itu sama sekali tidak mempengaruhi sang sepupu. Jeonghan malah semakin tertawa bahagia melihatnya.

“Buktikan, Jeon. Haha..” Suara tawa Jeonghan malah semakin terdengar memuakan di telinga Wonwoo.

“Baik. Aku akan membuktikannya, dan mengirimu video onaniku!”

“Hwahh… kau sungguh berani Wonu-ya,,” Jeonghan bertepuk tangan cukup keras. Tepukan tangan yang terasa meremehkan jika Wonwoo memang benar-benar bisa melakukan apa yang sudah ia ucapkan. Jujur saja, Jeonghan tidak yakin Wonwoo akan berani mengirimkan video onani dirinya sendiri. “siapa yang akan kau delusikan? Sahabatmu itu? Mingyu?”

“YA!” Kali ini, sebuah bantal kembali mendarat, tapi dengan mudah tertangkis dengan mudah oleh Jeonghan. Karena sang sepupu sudah berpindah tempat dan duduk di kursi meja belajar miliknya.

“Aku benar kan? Kau sama sekali tidak mempunyai bahan delusi gadis nyata. Teman wanita saja tidak punya. Haha..”

“A-aku punya..” Wonwoo menggigit bibir bawah dengan gugup. Kepalanya di paksa berpikir dengan keras. Ia mencoba mencari alasan yang cukup logis. Jika di pikir, ucapan Jeonghan memang ada benarnya. Selama ini, Wonwoo tidak pernah tertarik dengan seorang gadis nyata. Ia hanya tertarik pada gadis dua dimensi. Beronani pun hanya berdelusi dengan chara anime. Bukan dengan gadis nyata. Di sentuh pun tidak pernah. Berciuman? Pernah. Tapi itu pun dengan Mingyu. Tidak ada yang spesial, dan ia tidak mungkin mengakunya pada Jeonghan.

“Siapa?” Jeonghan memicingkan mata penuh selidik. Seolah menggali kebohongan yang Wonwoo ciptakan.

“Ada. Aku punya.”

“Mingyu?” Jeonghan menyeringai penuh godaan, dan hal itu malah membuat wajah Wonwoo memerah sempurna. Di lihat dari ekspresi si surai coklat, sepertinya Wonwoo memang sudah berubah haluan karena sahabatnya itu.

“Hwahh… kau sudah menjadi gay seperti ku?!” Jeonghan berteriak histeris. Menyatakan pernyataan sepihak yang ada di dalam benak dirinya. Jeonghan yakin jika Wonwoo memang sudah berbelok.

“TIDAK! AKU BUKAN GAY SEPERTIMU! DAN AKU AKAN BUKTIKAN JIKA BISA BERDELUSI DENGAN GADIS NYATA. SEPERTI YEWON !” Wonwoo berteriak marah. Wajahnya sudah memerah sempurna. Menahan amarah yang bersarang dalam hati akibat ucapan Jeonghan. Bagaimana mungkin jika sepupunya itu berpikir nista seperti itu? Ia tidak akan mungkin menjadi seorang gay. Apalagi jika pasangan gay nya adalah Mingyu. Fudanshi akut yang sama sekali tidak mempunyai faedah dalam kehidupannya.

“Buktikan saja padaku, Wonu-ya…” Dan setelahnya, Jeonghan melambaikan tangan. Berbalik menjauh dari kamar Wonwoo. Meninggalkan sang sepupu yang sekarang mengumpat kesal karena tidak terima dengan semua yang sudah ia ucapkan.

.

oOO

.

Wonwoo menggeram kesal. Sungguh ia sangat tidak menyukai sifat Jeonghan yang sok tahu. Maka dari itu Wonwoo akan membuktikan semuanya pada sang sepupu. Ia akan memberikan video onani dirinya sendiri, kemudian memperlihatkannya pada Jeonghan, lalu menghapusnya kembali. Simpel bukan? Lagi pula hanya video berdelusi. Wonwoo bisa membayangkan Yewon. Gadis paling cantik di kelasnya. Walaupun ia sama sekali tidak terlalu tertarik pada gadis itu, tapi Wonwoo yakin jika dirinya bisa melakukan onani dengan membayangkan Yewon. Lagi pula, tubuh Yewon benar-benar sempurna. Sexy seperti Momoi Satsuki.

Sekarang, dirinya sudah berada di dalam kamar mandi miliknya. Si surai coklat juga sudah menyetel video ponsel yang di pasang di dekat wastafel yang menghadap pada dirinya. Wonwoo sudah melorotkan celana sampai selutut. Ia duduk di atas kloset dengan perasaan ragu. Ia hanya tinggal membuka celana dalam saja. Setelah itu, semua akan selesai dan berakhir sebagaimana mestinya.

“Ahh.. sudahlah. Tidak ada gunanya menyesal.” Wonwoo kembali menggerutu. Tangan mulai bergerak melorotkan celana dalam berwarna putih miliknya. Hingga tubuh bagian Wonwoo sudah telanjang sepenuhnya.

Menelan saliva dalam, sebelum mulai menyentuh genitalnya secara pelan. Sentuhan pelan. Tapi mampu membuat tubuh si surai coklat bagaikan tersengat aliran listrik yang langsung mengalir ke seluruh tubuh. Wonwoo memejamkan matanya erat. Bibir bawah di gigit keras agar tidak mengeluarkan desahan sedikitpun, saat tangannya mulai bergerak naik turun menyentuh batang genitalnya sendiri. Meraba, mengelus, dan mengocoknya dengan pelan.

“Anhh…” Desahan kecil lolos begitu saja. Dalam imajinasinya saat ini, tidak ada sosok Yewon. Reseptor otak Wonwoo hanya bisa membayangkan satu sosok. Satu sosok yang sama sekali tidak ingin ia ucapkan. Tapi dalam benaknya, Wonwoo benar-benar menginginkan sentuhan itu.

Jujur. Wonwoo masih mengingat dengan jelas bagaimana sentuhan hangat Mingyu. Pelukan pemuda itu, dan juga ciumannya. Entah kenapa, saat ini, Wonwoo malah membayangkan jika bibir Mingyu tengah bergelirya ke seluruh tubuhnya. Katakan ia memang gila saat ini. Tapi si surai coklat tidak peduli. Asalkan fantasi liarnya membuat tubuh melayang, maka semua tidak akan menjadi masalah. Sekali pun Jeonghan kembali mengejeknya.

“G-gyunhhh…” Desahan yang mengalun mengumandangkan nama sang sahabat terdengar begitu saja. Di ikuti dengan gerakan tangan yang semakin bergerak dengan cepat namun teratur. Membuat seluruh darah dari dalam tubuhnya mengalir pada satu titik genital dan bertumpu di sana.

“Akhhh… Gyuuhhh…

“W-w-wonwoo.. a-apa yang kau lakukan?” Suara bariton tiba-tiba mengalun merasuki gendang telinga si surai coklat. Reseptor telinga dengan refleks mengantarkan impuls ke otak dalam beberapa detik. Hingga tubuh Wonwoo tiba-tiba saja menengang. Membatu. Gerakan tangannya pun terhenti seketika. Di ikuti dengan matanya yang membulat horor saat melihat sosok yang terpaku di hadapannya.

Entahlah. Sepertinya mengumpat beberapa kali pun tidak akan pernah cukup. Kesialan memang sedang menimpa dirinya hari ini. Pertama adalah di tantang oleh Jeonghan, dan yang kedua adalah dirinya yang lupa mengunci pintu saat akan melakukan hal nista di dalam kamar mandi.

“M-ming-gyu…”

TeBeCe

Wkwkwk. Asli ini emang mentok, dan saya ga tau kenapa ini malah jadi kayak gini. Gaje? Memang. Saya memang ratu ga jelas kalau buat FF. Plot ini aja seolah dapet pencerahan setelah baca tips dari Kak Kii.

Ternyata gue berfaedah.. dari pada cerita ini di dis. Mending di bobrokin aja sekalian. Wkwk

Bye. Dan Happy Bday Mingyu.. Happy Bday too Mori-chan..

Duh tebaran momen bareng pas ultah, serasa dunia milik berdua ae lu gyu. Wkwk

Tadi mau di jadiin 5 k. Tapi ga cukup waktunya dan tugas gue jg ngejar buat di kerjain. Hahah. Jadi pendek. Wkwkwk

Bye mau hiatus. Mwahh :*

Review?

Morichan

Fudanshi Janai | Chap 3 | Meanie| Yaoi|

1

Fudanshi Janai!

R18!

Romance, Drama

Warning ! OOC, Typo’s, EYD dan Kaidah kata tidak sesuai KBBI, Absurd, YAOI, dll.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

a/n: FF ini di dedikasikan buat Kak Kiaara yang nagih lanjutan ini dari kemaren. Wkwk. Senangnya hati ku, karena kak Ki berkenan baca cerita absurd ini. makasih juga asupan AkaKuro pwp kemaren malem. Lop yu kak! Dan jangan lupa buat FF Meanie juga nanti kak. Aku menunggu. Mwahhh :*

 

ps: Ada bagian bahasa Jepang yang gue ambil di Bl Cd Hidoku vol 1. Kalo tulisannya salah, mohon maaf. Wkwk

ada yang nanya unem wttpad gue apa. Ini @morichan_ saya kalau post ff nista hardcore Cuma di wattpad. Ngga di ffn. Wkwk.

enJOY!

.

OoO

 

 

Kim Mingyu terdiam membisu. Menunggu jawaban dari si surai coklat yang masih bungkam. Sahabatnya itu masih terdiam di pangkuannya. Mingyu bahkan bisa merasakan napas hangat Wonwoo menerpa permukaan wajah. Sepertinya, Jeon Wonwoo masih mencoba mencerna apa yang tengah ia tawarkan. Well, Mingyu akui tawarannya cukup tidak masuk akal, dan sangat lancang. Mengingat Wonwoo adalah seorang straight.

 

“A-a-aku—“ Wonwoo menggantungkan kalimat. Wajahnya masih terlihat sangat datar. Tanpa ekspresi. Berbeda dengan Mingyu yang sejak tadi gugup, dan mencoba menetralkan debaran jantungnya yang menggila.

 

“A-apa kau setuju?” Mingyu mencoba bertanya. Manik obsidian menatap Wonwoo dengan ragu. Sebelah tangan bergerak melingkar di pinggul Wonwoo. Hingga kedua tubuh mereka benar-benar merapat.

 

Pletakk

 

“Aww…” Mingyu meringis sakit, saat Wonwoo memukul kepalanya dengan komik cukup keras. Ia bahkan bisa merasakan kepalanya berdenyut. Cih. Sepertinya, Wonwoo berniat membuat Mingyu amnesia.

 

“Kau ingin membuatku bodoh, Jeon??!!” Mingyu berujar kesal. Tangannya bergerak mengelus kepala yang masih berdenyut sakit. Wonwoo memukulnya cukup keras.

 

“Kau memang bodoh. Ah. Bukan. Kau sudah menjadi seorang idiot jika menawarkanku hal senista itu!” Wonwoo memberenggut. Manik foxy menatap Mingyu penuh selidik. Kali ini, Wonwoo ragu jika sahabatnya sama sekali tidak berbelok. Dulu, Wonwoo pernah membaca satu tweet-an seorang Fujoshi di timeline. ‘Fudanshi itu hanya mitos.’ Jangan-jangan, Mingyu juga seperti itu.

 

“Aku kan hanya penasaran, Wonwoo-ya. Lagi pula, kau juga sama penasarannya denganku. Kalau kita tidak mencobanya, kau dan aku akan mati penasaran.”

 

“Tapi tidak dengan memperagakan semua hal yang ada di komik ini, Gyu!” Wonwoo mendengus keras. Kemudian ia menamparkan komik berjudul Hidoku Shinaide ke wajah Mingyu. Hingga mau tidak mau, membuat Mingyu dengan sigap menangkapnya. Takut-takut jika cover komik itu rusak. Hidoku Shinaide adalah salah satu komik paling favorite Mingyu.

 

“Ya!! Kau benar-benar anarkis, Jeon!” Wonwoo memutar bola mata malas. Ck, Mingyu terlalu berlebihan. Hanya karena komik yaoi, pemuda itu seperti kehilangan benda paling berharga saja.

 

“Kali ini, aku jadi bertanya-tanya apakah kau benar-benar seorang pria straight seperti ku?” Mingyu menelan saliva dalam, mendengar pernyataan yang di lontarkan si surai coklat. Jika Mingyu salah jawab, persahabatan mereka yang menjadi taruhannya.

 

“Tentu saja aku masih menyukai perempuan.” Mingyu bisa melihat manik foxy Wonwoo menyipit. Seolah mencoba membongkar kebohongan yang sudah ia bangun. Kemudian Wonwoo mulai mendekatkan wajah pada Mingyu. Semakin mendekat, hingga jarak mereka memendek. Hidung mereka bahkan bersentuhan satu sama lain.

 

“Bi-bisakah kau menjauhkan wajahmu, Wonu-ya?” Mingyu berujar gugup. Manik obsidian melirik ke arah lain. Asal tidak ke manik foxy Wonwoo yang masih menatapnya penuh selidik. Jika begini caranya, bisa-bisa Wonwoo mendengar debaran jantung Mingyu yang menggema tak tentu arah.

 

“Kenapa kau terlihat gugup, Gyu?” Wajah Wonwoo di gerakan ke samping, agar bisa bersitatap dengan obsidian kelam milik Mingyu. Kali ini, Wonwoo benar-benar ragu jika sahabatnya ini adalah seorang pria straight. Besar kemungkinan jika Mingyu adalah gay, atau yang lebih parah adalah jika pemuda bersurai pirang itu menyukainya. Melihat wajah Mingyu yang sedikit merona, membuat Wonwoo yakin dengan semua analisa yang ia miliki.

 

“Kau menyukaiku, Gyu?!” Wonwoo berseru cukup keras. Hingga membuat obsidian si surai pirang kembali melirik ke arahnya. Wajah mereka masih terpaut beberapa senti, dan manik obsidian Mingyu membalas tatapan tajam dari Jeon Wonwoo. Membuat Wonwoo membungkam mulut, dan terdiam menunggu jawaban.

 

“Kau ingin aku menjawabnya?” Pertanyaan yang di keluarkan Mingyu terkesan dingin. Datar, dan itu semakin membuat Wonwoo tidak tahu harus menjawab apa. Kepalanya seakan kosong hanya untuk menyusun sebuah kalimat ‘Katakan jika kau tidak benar-benar meyukaiku, Gyu! Kau bukan gay!’

 

“Kenapa kali ini kau diam?” Wonwoo bisa melihat kekehan kecil yang keluar dari mulut Mingyu. Sial, Mingyu meremehkannya.

 

“Kau bukan g—-“ Belum sepenuhnya Wonwoo menjawab, benda bertekstur lembut menempel di bibirnya. Itu adalah bibir Mingyu! Mingyu menciumnya tepat di bibir!

 

Wonwoo terdiam. Tergugu. Tidak bergerak di tempat, saat Mingyu mencoba melumat bibirnya dengan gerakan lembut, tidak terkesan memaksa. Lidah Mingyu bergerak menjilat bibir bawah Wonwoo penuh sensual. Sebelum menggigitnya pelan, hingga membuat Wonwoo memekik, dan membuka mulutnya.

 

“Ahh…” Erangan kecil lolos dari mulut Wonwoo, saat lidah Mingyu melesak masuk ke dalam mulutnya. Menyapa lembut lidah Wonwoo yang masih terdiam. Sebelum bergerak mengeksplorasi seluruh dinding mulut si surai coklat. Lidah Mingyu dengan lihai menyentuh titik sensitive di dalam mulut Wonwoo. Membelai dinding-dinding mulut Wonwoo, hingga membuat kepala Wonwoo seakan pusing akibat ciuman itu.

 

“Mhhh…” Desahan Wonwoo mengalun dengan indah, saat lidah Mingyu membelit lidahnya. Menghisap kuat lidah Wonwoo, hingga kecipak saliva terdengar jelas di ruangan ini. Jujur, ini kali pertama Wonwoo di cium seseorang. Dan orang yang berhasil merebut ciuman pertamanya adalah Kim Mingyu. Laki-laki. Seperti dirinya. Bukan seorang gadis dengan oppai boombastis seperti Rias Grimmory atau Momoi Satsuki.

 

Wonwoo mengerjapkan mata pelan. Kepalanya mencoba berfikir keras, saat ciuman yang Mingyu berikan terkesan liar. Membuat Wonwoo tersadar akan kenikmatan sesaat yang ia rasakan.

 

“Awww…” Ringisan kecil Mingyu terdengar, saat Wonwoo mengigit lidahnya cukup keras. Hingga pautan bibir mereka terlepas begitu saja.

 

“Kau gila, Jeon! Kenapa mengigitku?!” Mingyu mengaduh saat merasakan lidahnya berdarah akibat gigitan Wonwoo. Sementara si surai coklat tetap terdiam, sambil menstabilkan napas yang memburu, karena ciuman liar seenaknya yang sudah Mingyu lakukan.

 

“Kau yang gila, Kim!! Sial! sial!” Wonwoo berteriak penuh emosi. Wajahnya memerah sempurna sampai ke telinga. Manik foxynya menatap Mingyu dengan tatapan membunuh, sebelum akhirnya kembali memberi pukulan pada kepala Mingyu.

 

“Aww.. Kau bisa membunuhku, Won..” Mingyu mengaduh. Tapi ia tetap diam di tempat, tidak bergerak sedikitpun karena Wonwoo masih tetap tidak beranjak dari pangkuannya. Pukulan Wonwoo semakin bertubi-tubi di layangkan pada kepalanya yang tidak bersalah.

 

“Kau memang seharusnya mati, Gyu!! Sial! kau menyebalkan!!” Dan pukulan terakhir Wonwoo layangkan. Sebelum akhirnya ia beranjak dari pangkuan Mingyu. Berdiri, dan segera berlari ke arah pintu keluar.

 

“Buka pintu ini, sialan!!” Wonwoo berteriak. Meraung penuh nafsu di depan pintu otomatis yang hanya bisa di buka dengan sidik jari Mingyu.

 

“Memohon padaku, Jeon. Maka aku akan membukakannya untukmu. Atau kau ingin mendengar jawabanku atas pertanyaanmu barusan?” Mingyu menyeringai kecil. Kali ini, ia sudah berdiri, dan berjalan ke arah couch. Duduk dengan elegan. Mengabaikan sosok Wonwoo yang masih berdiri di depan pintu keluar. Mingyu tahu, Wonwoo sedang menahan kekesalannya. Ah. Mingyu bahkan sudah tidak peduli jika Wonwoo mengakhiri persahabatan mereka. Ia sudah terlanjur berbuat nekat dengan mencium bibir ranum milik sahabatnya itu. Tapi sungguh, Mingyu sama sekali tidak menyesal mencium bibir Wonwoo. Mencium bibir sahabatnya itu adalah salah satu keinginan pertama Mingyu.

 

“Sial!! aku ingin pulang!!” Wonwoo berteriak marah. Sebenarnya tingkah Wonwoo ini benar-benar lucu. Well, Mingyu memang sudah kebal dengan semua perlakuan anarkis yang pemuda itu lakukan jika sedang marah seperti ini. Malah di mata Mingyu, kemarahan si surai coklat itu cukup menggemaskan. Lagi pula, seingat Mingyu selama berteman dengan Wonwoo bertahun-tahun, pemuda bersurai coklat itu tidak akan pernah bisa marah terlalu lama pada Mingyu.

 

“Bukankah kau yang bilang ingin menginap di rumahku? Jika kau menginap, kita bisa mempraktekan adegan yang ada di komik ini. Kau penasaran bukan?” Mingyu kembali terkekeh. Tangannya terulur mengambil sebuah remote dvd player. Kemudian menekan tombol on. Hingga terdengar sebuah suara dubbing Jepang di sana. Kim Mingyu sedang menyalakan sebuah BL CD Drama. Tadi ia belum sempat mengganti CD Drama yang ada di dalam dvd dengan Ten Count. Dan yang ada di dalam dvd playernya adalah BL CD Drama Hidoku Shinaide volume satu. Well, Mingyu penasaran bagaimana reaksi Wonwoo saat mendengar suara desahan yang berbaur menjadi satu dalam cd ini.

 

‘Jaa.. Nanda… Namida Nozoumi..’

 

‘Wakanaika.. Ne, Nemugasa-kun.. Zubo nuge…’

 

‘Eh…’

 

‘Shite misette Nemugasa..’

 

‘Arghhhh…’

 

‘Itsumo dounna shiteruno… ne.. Nemugasa-kun…’

 

‘M-mmah… ahhhh…’

 

‘Hayaku nuge.’

 

 

Suara desahan dalam dubbing mengalun dengan keras di ruangan ini. Menggema sampai ke setiap sudut tempat Wonwoo berdiri. Gila! Kim Mingyu benar-benar gila karena memainkan BL CD Drama yang seperti ini. Astaga.. Desahan yang mengalun itu seakan membuat Wonwoo harus mendengarkannya dengan jelas.

 

‘Ahhh.. Ahh… M-mayanhhh….’

 

Wonwoo menelan salivanya sendiri. Tubuhnya terdiam kaku. Otaknya seakan ikut memvisualisasi apa yang sudah ia dengar. Apalagi saat mendengar bunyi decitan kulit. Dalam imajinya sekarang, Wonwoo bisa mengerti dan mengimajinasikan semua hal yang sedang bl cd itu perdengarkan. Apalagi Wonwoo mengerti bahasa Jepang. Begitu pun dengan Mingyu, hingga mereka berdua bisa memahami dengan jelas erang-erangan erotis yang berpadu.

 

“Kim Mingyu sialan! Matikan !” Wonwoo berteriak murka. Suaranya cukup keras, walau ia masih berdiri di tempat pintu keluar. Hingga Mingyu menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh arti. Jika membunuh di izinkan, sudah pasti Wonwoo ingin membunuh Mingyu yang benar-benar menyesatkan otaknya.

 

Akibat ciuman di bibir yang Wonwoo rasakan, juga erangan yang menggema di seluruh ruangan ini. Mau tidak mau membuat tubuh Wonwoo ikut memanas dalam sekejap. Ia bereaksi dengan suara erangan dan imajinasi di otaknya yang ikut membayangkan adegan-adegan nista dalam kepala. Wonwoo tertarik untuk mendalami lebih jauh. Apalagi jika ia mengingat kembali ciuman yang Mingyu berikan padanya.

 

‘Enghh… Ahhh…. Ehmmm ’

 

‘Ikara, kagamete.’

 

“Ya!! Kim Mingyu!!” Wonwoo berteriak, sambil berlari ke arah Mingyu yang masih asik tersenyum tidak jelas, ketika suara desahan itu mengalun. Decitan sepatu milik Wonwoo yang menggema, tidak membuat si surai pirang menoleh sedikit pun. Mingyu masih asik dan mengabaikan Wonwoo yang sudah berdiri di depannya dalam sekejap.

 

Pletakk

 

“Aww…” Mingyu kembali meringis, saat merasakan pukulan di kepala. Jeon Wonwoo kembali menjitak kepalanya. Cukup keras, dan menyakitkan. Sepertinya menjitak kepala Mingyu akan menjadi hobi baru bagi Wonwoo.

 

“Kau berniat membuatku hilang ingatan, Jeon!” Mingyu mendengus kecil. Ia bisa melihat, jika Wonwoo marah sekarang. Mata Wonwoo masih menatapnya penuh dendam kesumat.

 

“Ini kamarku. Bukan salahku jika ingin mendengarkan bl cd ini. Kau bisa menutup telingamu, Wonwoo-ya.”

 

“Aku bilang matikan, Kim ! Apa kau sudah mendadak tuli?” Wonwoo merebut remote dvd yang ada di tangan Mingyu. Membuat si surai pirang kembali mendengus, saat Wonwoo berhasil mengambil remote dari tangannya.

 

Klikk

 

Dvd itu mati. Ruangan ini sudah hening, dan tidak terdengar lagi desahan-desahan erotis. Wonwoo menghela napas kecil karena ini. Ia lega. Sungguh. Mendengar hal seperti tadi membuat pikirannya malah melayang tak tentu arah. Sepulang dari rumah Mingyu, ia janji akan kembali berdelusi dengan figure Rias atau figure Hanabi ; pemeran utama di anime Kuzu No Hentai yang Wonwoo ikuti winter ini.

 

“Buka pintunya. Aku ingin pulang, Gyu. Jika berada di dekatmu, aku benar-benar ingin mencekik lehermu sampai mati.” Wonwoo memutar bola mata, saat mendengar Mingyu tertawa keras mendengar pernyataan yang ia lontarkan. Hey! Wonwoo itu serius. Bukannya bercanda. Ia tidak ingin menjadi buronan hanya karena membunuh seorang Fudanshi. Walaupun jika Wonwoo berhasil membunuh Mingyu, ia bisa menjadi viral di headline internet. ‘Membunuh seorang Fudanshi karena ciuman sepihak.’

 

“Kau menginap, Wonu-ya.” Mingyu tersenyum simpul ke arah Wonwoo. Tangannya terulur. Menarik lengan Wonwoo. Hingga si surai coklat terduduk di sampingnya. Mingyu masih bisa melihat jika Wonwoo marah.

 

“Kau marah padaku karena aku menciummu?” Wonwoo diam. Tidak menjawab pertanyaan yang Mingyu lontarkan.

 

“Maafkan aku, Wonu-ya. Aku hanya terbawa suasana. Kau tahu? Kau memang menggemaskan tadi.” Tangan Mingyu kini beralih menarik dagu Wonwoo. Hingga si surai coklat menoleh ke arahnya. Menatap manik obsidian Mingyu yang menyiratkan jika ia menyesal.

 

“Kau bukan gay kan?” Pertanyaan itu kembali Wonwoo lontarkan. Walau ia sendiri ragu jika ingin mendengar jawaban yang akan Mingyu berikan.

 

“Apa aku perlu menjawabnya?” Dan detik itu juga, Wonwoo bisa merasakan jantungnya di tikam oleh belati tak kasat mata. Bagaimana mungkin jika Mingyu benar-benar gay? Sejak dulu, mereka berdua berbagi asupan dengan melihat gadis beroppai!

 

“Kau benar-benar gay?” Wonwoo membulatkan mata. Ia kembali bertanya. Mencoba memastikan jika pendengarannya sama sekali tidak salah.

 

“Maaf. Dan aku juga benar-benar menyukaimu. Sejak dulu, saat kita pertama kali bertemu.” Pernyataan yang Mingyu ucapkan seakan membuat roh Wonwoo di renggut secara paksa. Bagaimana mungkin jika Mingyu yang ia kenal sama brengsek- seperti dirinya, ternyata menyukainya?

 

“Aku tahu kau marah karena aku menciummu. Itu juga gerak refleks, Won. Bibirmu dari jarak sedekat itu terlalu sayang untuk aku lewatkan begitu saja.” Tangan Mingyu bergerak menarik tubuh si surai coklat agar saling berhadapan. Kemudian Mingyu menangkup pipi Wonwoo agar manik foxynya terjerat pada obsidian si surai pirang.

 

Wonwoo masih terdiam. Enggan menjawab. Sel neuron di otaknya masih bekerja mencerna apa yang sudah reseptor telinganya tangkap. Ia marah karena di cium? Tentu saja. Wonwoo akan marah jika seorang pria menciumnya seperti itu. Ia tidak pernah di cium, jadi wajar jika Wonwoo akan marah.

 

Ia juga marah karena Mingyu tidak jujur saat di tanya olehnya, apa ia adalah seorang gay. Mingyu hanya mengaku sebagai Fudanshi, dan Wonwoo merasa di bohongi. Ia benci itu.

 

“Wonwoo-ya…” Mingyu kembali memanggil namanya. Suara merdu pemuda itu terdengar berkumandang di telinga. Membuat jantungnya kembali berdetak tak terkendali. Apalagi saat Mingyu menggerakan kedua tangannya, untuk mengelus pipi Wonwoo dengan lembut.

 

“Jika kau membenciku setelah ini, aku sama sekali tidak akan marah. Terimakasih sudah menjadi temanku selama ini.” Mingyu tersenyum kecil, dan senyuman Mingyu malah membuat Wonwoo merasa bersalah. Kenapa pula ia harus marah seperti itu? Mingyu adalah sahabatnya. Ia harus menerima Mingyu apa adanya. Tidak peduli jika Mingyu gay atau menyukainya. Mungkin sebagai sahabat, Wonwoo bisa membantu Mingyu kembali ke jalan yang benar.

 

Wonwoo menghela napas pelan. Kemudian tangannya bergerak mencengkram bahu Mingyu, dengan posisi Mingyu tetap mengelus pipinya. Manik foxy Wonwoo menatap tajam obsidian kelam si surai pirang.

 

“Mingyu… aku tetap sahabatmu, dan aku minta maaf.” Dahi Mingyu mengernyit tidak mengerti.

 

“Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Tapi kau akan selalu menjadi sahabatku, Gyu. Dan aku akan membantumu agar kembali ke jalan yang benar. Percaya padaku. Kau tidak akan pernah menyukaiku lagi, setelah kita sama-sama mempunyai gadis beroppai yang selalu kita bicarakan dulu.” Wonwoo tersenyum penuh semangat. Seolah meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja, dan ia tidak akan meninggalkan Mingyu hanya karena menjadi seorang gay.

 

“Terimakasih, Wonwoo-ya..” Dan Wonwoo tersenyum kecil, sambil mengangguk penuh antusias. Tanpa tahu seringaian kecil yang tersungging di wajah Kim Mingyu.

 

TeBeCe

 

‘Jaa.. Nanda… Namida Nozoumi..’( What do you want?)

 

‘Wakanaika.. Ne, Nemugasa-kun.. Zubo nuge…’ (Oh Well, whatever.. Stop wasting time)

 

‘Shite misette Nemugasa..’( Hurry Up and strip)

 

‘Hayaku nuge.’( Hurry up, How do you do mastubrate?)

 

Kalo ada yang salah, monggo di koreksi aja. Wkwk.

 

 

Wkwkw

Makin gaje ya? Ga tau deh. Gue udah bilang ini itu Cuma FF iseng aja. Ga ada plot, jadi yah hasilnya begini. Pendel-pendek pula. Absurd pula.

Saya udah ngingetin ini tuh emang iwtbas versi nista wkwk. Kalo di iwtbas kan wonu yang gay. Dan profesi mereka kewl. Nah kalo di sini mingyu yang gay, dan profesi keduanya sama2 otaku wibu wota bejadd wkwk

Sudahlah. Mind To Review?

 

Astia Morichan