Fated Pairs | Meanie | Chap 2| Meanie Couple

2

Hati-hati dengan makhluk bersayap. Berbahaya. Kau akan merasakan kepedihan, serta kehilangan lebih menyakitkan dari yang pernah kau alami. Kekuatan yang selama ini menjadi milikmu akan hilang sebagian bersama dengan perginya sang jiwa.” Sang Oracle- Putra Apollo yang bernama Lee Jihoon itu membuka mata. Menampilkan sepasang mata tajam dan penuh keprihatinan yang terarah pada Kim Mingyu- sang elder; yang rela datang mengunjungi pondok harpy . Tepat berada di ujung hutan bagian selatan, jauh dari wilayah Red Moon sendiri.

Jihoon telah memaparkan semua visualisasi yang ia lihat di masa depan saat memegang tangan Mingyu pertama kali. Apollo memberinya sebuah ilham yang akan menjadi kenyataan di masa akan datang. Semua ramalan dari Jihoon tidak akan pernah meleset. Termasuk mengenai nasib yang akan menimpa si surai pirang.

Apa maksudmu?” Suara bariton Mingyu terdengar dingin. Mencekam. Seolah mengatakan jika Jihoon harus menjelaskan semua ramalan yang ia dapat. Mingyu masih belum mengerti dengan jelas apa yang sang Oracle katakan. Kenapa sang mate harus pergi dari hidupnya? Lalu siapa sang makluk bersayap yang tadi di sebut itu?

Maaf,” Jihoon menggeleng pelan. “aku tidak punya wewenang untuk memaparkan semua ramalan ini dengan jelas. Tapi aku hanya bisa memberitahumu satu hal.” Sang Oracle menghela napas, sebelum meneruskan ucapannya. Hingga sang elder kembali memberikan tatapan intens lewat manik obsidian kelamnya.

Jika kau bertemu dengan mate-mu, jaga dia. Jangan pernah melepaskan pandanganmu darinya, atau kau akan menyesal seumur hidupmu.” Jihoon melepaskan tangan Mingyu. Ia bisa melihat jika sang elder masih terlihat kebingungan dengan semua ini. Pasalnya, Jihoon juga tidak bisa memberitahu semua hal yang sudah sang Apollo perlihatkan. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran yang bisa membuat elder kuat ini terpuruk.

Apa kau tidak mengatakan omong kosong?”

Tidak. Aku sama sekali tidak berbohong soal ini. Jika kau tidak percaya, itu terserah padamu. Aku hanya ingin mengingatkan, jika takdir bisa saja berubah asal kau mampu mencegah hal itu.” Jihoon berdiri dari duduknya. Ia pergi ke belakang pondok. Meninggalkan Mingyu yang masih terdiam dan berfikir keras tentang ramalan yang akan terjadi. Setelah ini, Mingyu akan menanyakan semuanya kepada Hansol. Pemuda itu mampu menjelaskan teka-teki yang jabarkan sang Oracle.

Jika apa yang di katakan oleh Jihoon adalah sebuah kebenaran, maka Mingyu tidak dapat menganggap remeh ramalan itu. Walaupun sebenarnya, ia tidak percaya dengan ramalan. Datang ke tempat Jihoon pun hanya karena paksaan dari para tetua. Jika tidak terpaksa, Mingyu tidak usah repot-repot datang hanya untuk mendengarkan omong kosong belaka seperti sekarang.

.

ΩΩΩ

.

Fated Pairs

Elder X Omega

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Song : Glourious – Hey! Say! JUMP

a/n: Lama yah? Hahaha. Maaf. Saya ga ada semangat. Tiba-tiba dapet WB, dan saya masih dalam tahap males editing. Ini aja editingnya sekenanya. Saya juga sibuk karena ini mau UAS. Di tambah saya juga sibuk kerjain Commissioned Fanfict. Hehe.

So, EnJOY!

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo dengan balutan serigala abu-abu bergradasi putih besar itu berlari cepat. Menerobos jalanan yang untungnya sepi. Legang. Tanpa adanya kendaraan manusia yang lewat di sana. Langkah semakin cepat untuk memasuki hutan yang tinggal satu kilo meter di depan. Serigala itu berlari tanpa menoleh pada sosok serigala berbulu coklat yang lebih besar di belakangnya. Ya. Kim Mingyu ikut mengejarnya setelah tahu jika mereka adalah mate. Dan yang lebih parah lagi, Wonwoo sedang mengalami heat. Ia tidak bisa berlari cepat seperti biasanya. Wonwoo harus segera sampai ke rumah dan meminum pill surppressants(1) ; pengontrol hormon feromon. Jika tidak segera menelannya, feromon dalam tubuhnya mampu menarik kawanan serigala untuk memperkosa Wonwoo di tempat. Begitu pula dengan dirinya yang akan kesakitan karena ingin di sentuh.

Jujur. Wonwoo sama sekali tidak percaya jika semua ini adalah kenyataan. Sejak tadi, Will terus berteriak dalam innernya. Memberontak keras untuk mengambil alih tubuh, karena ingin segera berada di samping mate-nya sendiri, dan melakukan mating bound. Tapi sayang, keinginan sang serigala tidak dapat Wonwoo patuhi. Ia tidak akan pernah menerima Mingyu menjadi mate-nya. Tidak akan pernah. Sampai kapanpun juga.

Srakkk

Wonwoo menghentikan langkah seketika. Tubuhnya tiba-tiba saja berhenti dalam tarikan gerak refleks. Will meringik cukup keras tanda bahaya, saat sebuah pelindung berwarna biru membulat di sekeliling mereka. Hingga sang serigala tidak bisa keluar melewatinya.

Wonwoo mengernyit heran. Jantungnya semakin berpacu dengan keras tak karuan akibat sebuah pelindung biru yang tiba-tiba mengurung dirinya. Kali ini, ketakutannya bertambah dua kali lipat. Sumpah. Wonwoo ingin mengutuk Moon Goddess yang tega memberikan heat padanya dengan penuh cobaan.

“Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Pelindung ini akan menutupi tubuhmu dari mate yang sedang mengejar. Diam di sana sampai mate-mu menghilang dan kembali pada kawanan.” Suara bass yang terdengar merdu tiba-tiba saja masuk ke dalam kepala Wonwoo. Seolah betelepati secara langsung. Tanpa menunjukan wujud yang sebenarnya. Bahkan karena suara itu, feromon heat yang sejak tadi menguar, tiba-tiba saja hilang. Wonwoo tidak membutuhkan pill lagi untuk meredam birahi sesaatnya yang membuat tubuh gelisah.

“S-siapa kau?” Suara geraman Will kali ini mendominasi. Sosok serigalanya mengambil ancang-ancang. Siap tempur, jika saja sosok misterius itu tiba-tiba muncul, kemudian menyerang. Sejak dulu, Wonwoo di ajarkan untuk selalu hati-hati dan tidak mudah percaya pada siapapun. Karena setahu yang ia ingat, setiap makluk selalu dengan mudah merubah pikiran dalam sekejap.

“Tenanglah. Aku hanya membantumu Omega.” Suara itu kembali mengalun, dan tanpa sadar membuat Wonwoo terdiam. Dirinya seolah percaya dengan apa yang sosok itu ucapkan. Wonwoo pikir, ia mengenali suara itu. Tapi sang omega lupa siapa pemilik suara bass yang sekarang membuatkannya pelindung. Ia hanya bisa diam dan mengangguk mengiyakan.

Di dalam pelindung, Wonwoo dapat melihat dengan jelas sosok serigala Mingyu mulai muncul. Mingyu berjalan mendekat ke arahnya. Kepala serigala berbulu coklat itu bergerak ke segala penjuru. Sesekali Mingyu menggeram kesal, karena tidak dapat menemukan apa yang ia cari, yaitu dirinya. Sekarang, Wonwoo percaya jika pelindung ini benar-benar membutakan penglihatan sang mate. Terbukti dengan serigala coklat itu yang kembali berlari. Melewati dirinya begitu saja. Seolah ia memang tidak melihat Wonwoo berdiri sama sekali di sana.

Tanpa sadar, Wonwoo menghela napas lega ketika jarak Mingyu memang sudah terbilang jauh dari tempatnya. Beberapa detik setelahnya, transformasi wujud serigala Will berubah sepenuhnya. Menjadi sosok manusia Wonwoo seperti biasa. Seragam si surai coklat terlihat kotor akibat tanah. Tapi Wonwooo tidak peduli lagi soal pakaiannya yang kacau. Wonwoo hanya peduli pada sosok yang membuatkannya pelindung ini. Pelindung biru itu masih membulat. Mengitari tubuh Wonwoo. Hingga Wonwoo masih tidak bisa keluar dari sana.

Sungguh. Wonwoo benar-benar penasaran dengan sosok itu. Kenapa pula sang penolong harus repot-repot membantunya saat di kejar oleh Mingyu yang notabene adalah mate Wonwoo sendiri? Jika memang sang penolong tahu, seharusnya ia membiarkan Wonwoo di terkam oleh Mingyu saja.

“L-lepaskan aku.” Wonwoo berteriak cukup keras. Sebenarnya, ia takut dengan sosok sang penolong. Sudah dapat di pastikan jika yang menolong Wonwoo bukanlah seorang serigala. Kemungkinan besar yang mempunyai kemampuan seperti itu adalah para demon (2), incubus(3), dan pangeran kegelapan(4). Walau Wonwoo sendiri belum pernah menemui makluk yang tadi ia asumsikan. Tapi Wonwoo yakin jika yang menolong adalah salah satu dari mereka. Apalagi dengan aura mencekam yang tiba-tiba saja Wonwoo rasakan. Ia semakin yakin jika sang penolong bukan golongan makluk baik hati.

“Kau mengenalku.” Suara bass kembali terdengar. Sesekali tertawa renyah, saat pelindung yang ia ciptakan menghilang dari sekitar tubuh Wonwoo.

Srakk

Suara denting pohon yang di tendang, beserta semak-semak yang terinjak, mampu membuat Wonwoo menoleh ke belakang. Tepat pada pohon oak yang berdiri paling kokoh di sana. Manik foxy menyipit sempurna, saat menemukan sosok pemuda yang tiba-tiba saja berjalan ke arahnya.

Dalam benaknya, Wonwoo merasa kenal dengan pemuda itu. Cahaya bulan tidak membantu Wonwoo untuk melihat dengan jelas sosok itu. Wonwoo harus mengerutkan dahi untuk berpikir tentang sosok tinggi itu. Ia merasa kenal, tapi sang omega tidak tahu siapa sosok itu.

“E-eh? A-aron hyung?” Si surai coklat memekik cukup keras, saat sosok pemuda yang memakai seragam seperti dirinya muncul. Sosok itu adalah Kwak Aron. Kakak kelas tingkat tiga di sekolahnya. Jujur saja, ia tidak menyangka jika Aron yang menolongnya. Jika pelindung itu berasal dari Aron, besar kemungkinan jika sang kakak kelas bukanlah seorang werewolf.

“Kau baik-baik saja?” Aron kembali bertanya saat jaraknya dengan Wonwoo semakin menipis. Sementara Wonwoo memundurkan tubuh secara refleks. Sungguh. Ia takut dengan Aron sekarang. Jika dulu Wonwoo nyaman bersama kakak kelas, maka sekarang, presepsi itu berubah secepat kilat akibat siapa sesungguhnya sosok Aron. Kekuatan Aron cukup berbahaya, dan ia yakin jika kekuatan sang penolong mampu membakar tubuhnya dalam sekejap.

“Kau takut padaku?” Aron bertanya, dan si surai coklat hanya mampu terdiam. Wonwoo hanya bisa menundukan kepala. Enggan menjawab, atau pun menggerakan tubuhnya lagi.

“Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Kau tahu tentang Archangel (5) ? Orang-orang dunia atas memanggilku dengan Uriel (6).” Sang malaikat tersenyum menawan. Membuat Wonwoo yang melihat lewat ekor mata, tiba-tiba mendongakan kepala. Ia terhipnotis dengan senyuman itu. Apalagi dengan aura yang Aron pancarkan berubah menjadi aura penuh kedamaian. Hingga membuat semua ketakutan yang tadi bersarang dalam hati tiba-tiba lenyap dalam sekejap karena melihat sebuah senyuman sang malaikat.

Ini adalah kali pertama bagi Wonwoo melihat seorang malaikat. Jujur, ia masih tidak percaya dengan apa yang Aron ucapkan. Karena sesosok Archangel tidak akan mungkin berada dalam dunia manusia dalam waktu yang cukup lama.

“K-kenapa bisa ada seorang malaikat di sini? Ini bukan wilayahmu.” Wonwoo mencoba bertanya dengan terbata. Jujur, ia memang penasaran, dan butuh penjelasan lebih. Sang Omega tidak akan mungkin percaya begitu saja.

“Tidak boleh?” Aron menggerlingkan mata penuh godaan, dan hal itu malah membuat Wonwoo salah tingkah karena malu. Sial! Malaikat itu menggodanya dengan tiba-tiba.

“Bukan. Hanya saja, ini bukan wilayahmu. Ini kawasan para serigala.”

“Aku hanya kebetulan lewat saja, dan melihatmu ketakutan saat di kejar oleh mate ketika kau sedang heat. Apa kau takut dengan mating bound?” Pertanyaan yang di lontarkan Aron semakin membuat Wonwoo merasa malu. Entahlah, jika di tanya tentang mating bound, Wonwoo selalu kikuk. Ia memang tidak pernah mengalaminya, dan jika pun Wonwoo akan mengalami mating, ia tidak ingin melakukan hal itu dengan Mingyu. Sekali pun Mingyu memang mate-nya.

“Bukan urusanmu, Hyung.” Wonwoo menundukan kepala. Enggan menatap sang malaikat yang bisa saja kembali membuat Wonwoo terhipnotis dalam sekejap dengan kekuatannya itu.

“Apa kau menolak mate-mu?” Aron kembali bertanya, dan hal itu malah membuat Wonwoo menggeram kesal. Sungguh, ia tidak dalam kondisi yang tepat untuk di tanya tentang hal seperti ini. Apalagi jika menyangkut Mingyu- sang mate yang sudah menjadi takdirnya.

“Sekali lagi, ini bukan urusanmu,” Wonwoo menatap tajam Aron. Jika tadi ia malu, sekarang Wonwoo sudah kembali menunjukan keberanian seperti biasa. “terimakasih karena menolongku, dan sampai jumpa lagi, hyung.”

Wonwoo mengangguk kecil, sebagai tandai hormat pada sang malaikat. Kemudian berjalan melewati Aron yang masih terkekeh kecil. Seolah tidak peduli dengan ucapan sarkas yang di lontarkan sang omega.

“Won, aku tertarik padamu.” Aron berteriak cukup keras, saat jarak Wonwoo mulai menjauh dari pandangannya. Meninggalkan dirinya yang masih tersenyum penuh arti. Menatap sosok sang omega yang mulai tak terlihat di telan oleh kegelapan malam.

.

oOo

.

Mingyu berlari kencang menuju wilayah Red Moon. Saat jaraknya dengan pondok utama terlihat, transformasi serigalanya menghilang. Di gantikan dengan sosok manusia miliknya. Si surai pirang mulai mengumpat keras, saat melihat sekeliling kawasan Red Moon. Kawanannya nampak tidak ada di sana. Sepertinya mereka semua sedang menghadiri pertemuan semua kawanan di tengah hutan bagian utara, dan setelahnya akan melakukan mating bond dengan mate masing-masing.

Langkah kaki panjang si surai pirang mengantarkannya ke arah pondok milik keluarga Kim. Dengan gontai, Mingyu memutuskan untuk duduk di teras. Kepalanya mengadah untuk menatap bagaimana indahnya bulan dan bintang di antara gelapnya langit malam. Jujur saja, saat ini, birahi Mingyu masih berada di puncak tertinggi ketika melihat Wonwoo pertama kali. Beruntung, Mingyu mampu menahan semua birahi sang serigala karena dirinya tidak mudah untuk di kalahkan oleh sang inner. Mungkin jika serigala lain, saat bulan purnama datang, serta tidak dapat bertemu dengan mate akan berteriak gila, saking sakitnya membutuhkan pelampiasan.

“Sial!” Umpatan keras kembali Mingyu lontarkan. Jujur saja, dirinya masih tidak tenang. Sejak tadi, Mingyu memikirkan kemana sosok Wonwoo menghilang. Mate-nya itu tidak akan mudah menghilang dengan cepat dalam keadaan menahan birahi seperti itu. Apalagi dengan feromon miliknya yang menyebar di kala bulan purnama seperti ini.

“Arghhhttt… Aku harus ke Blue Circle sekalipun kepalaku di penggal karena menerobos kawasan itu!” Mingyu mengacak surai pirangnya frustasi. Ia sudah tidak punya pilihan lain. Satu-satunya yang dapat Mingyu pikirkan adalah jika Wonwoo pergi ke pondok rumahnya di Blue Circle. Pemuda itu tidak akan mungkin berkeliaran lebih jauh saat mengalami heat seperti ini.

Mingyu berdiri dari duduknya. Kemudian tubuhnya kembali bergetar, dan setelah itu bertransformasi menjadi sosok serigala berbulu coklat. Sang elder mengibaskan ekor besarnya, sebelum memutuskan untuk berlari secepat kilat. Meninggalkan kawasan Red Moon yang sepi di belakangnya.

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo berjalan dengan lunglai. Kakinya serasa lemas dalam sekejap, dan tubuhnya tiba-tiba saja kembali memanas. Heatnya kembali hadir saat Aron sudah tidak berada di samping Wonwoo lagi. Beruntung, saat heat itu kembali hadir, Wonwoo sudah sampai di depan gerbang pintu masuk ke wilayah Blue Circle. Double Lucky, tidak ada para kawanan. Itu artinya, tidak akan ada yang menyerang Wonwoo dalam kondisi heat seperti sekarang.

Brakk

Kaki sang omega tersandung kerikil. Tubuh si surai coklat terjatuh. Membentur tanah dengan keadaan tengkurap. Sepertinya, mengumpat tidak akan cukup untuk menghilangkan emosi karena kesialan yang ia dapat hari ini.

Kaki Wonwoo bergerak gelisah, hingga ia mulai meringkuk dengan tanah sebagai alasnya. Jujur saja, tubuh Wonwoo sudah tidak kuat. Ia ingin menyentuh dirinya sendiri di sini. Rasa panas yang menyerang tubuh, serta peluh-peluh yang menghiasi setiap inci kemolekan tubuhnya, membuat sang omega ingin melepaskan diri dari pakian yang melekat.

“S-sial…” Umpatan lirih Wonwoo terdengar tak berarti. Bibir bawah di gigit cukup keras, agar meredam desahan yang hampir keluar dari mulut. Sungguh. Wonwoo kesal. Pasalnya, ia hanya berjarak beberapa meter lagi dari rumah. Tapi kenapa tubuhnya sudah tidak kuat? Jika dulu ia mendambakan akan datangnya heat, maka sekarang berbeda. Si surai coklat membencinya. Apalagi jika ingat jika semua ini bermula dari Mingyu- sang musuh bebuyutan.

“Aghhtthh..” Geraman lirih lolos dari mulut Wonwoo. Tubuhnya mulai bergerak. Mencoba untuk merangkak maju, dengan menggerakan tangan. Meraih setapak batu kecil di depan agar ia bisa memajukan tubuh. Tapi sial, justru gesekan tubuhnya dengan tanah di bawah, makin membuat tubuhnya semakin panas. Wonwoo semakin menggeliat tak karuan, akibat sensasi gesekan itu.

Sudahlah. Wonwoo sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Ia mulai membalikan tubuh, hingga dirinya telentang. Manik foxy tertutup dengan perlahan. Seolah tidak ingin peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Tangan si surai coklat mulai bergerak membuka kaitan seragam dengan gerakan cukup cepat. Hingga kaitan seragam itu sudah terbuka sempurna. Memperlihatkan bagaimana mulusnya kulit seputih porselen sang Omega. Bau feromon milik Wonwoo menguar cukup pekat memenuhi kawasan Blue Circle. Berbaur dengan udara setara dengan kecepatan kilat.

“Anhhh..” Sang Omega mendesah kecil, saat jemarinya bergerak menyentuh dada. Kemudian beralih menyentuh puting kemerahan yang terlihat menegang. Menantang untuk di permainkan atau di lumat oleh benda lunak tak bertulang. Tangan Wonwoo kembali mengambil alih. Ia memilin putingnya sendiri, sesekali mencubit dengan gerakan memutar, yang membuat kepalanya seakan penuh dengan euforia kesenangan di saat festifal musim panas.

“Uhhh…” Wonwoo melengguh, sambil menggigit lagi bibir bawahnya. Sepasang kaki bergerak menyilang, agar menekan selangkangan yang sudah menegang sempurna di balik celana.

“Ggrrrhhh…” Suara geraman tiba-tiba terdengar memenuhi gendang telinga. Geraman yang mampu membuat neuron saraf berfungsi semakin liar. Kepalanya bergerak gelisah, dan retina sang omega menatap lirih sang serigala berbulu coklat yang menatapnya dengan penuh amarah bercampur gairah di balik manik kemerahan itu.

Sosok serigala mulai berubah menjadi sosok manusia miliknya sendiri. Kim Mingyu berdiri di hadapan Jeon Wonwoo yang masih berbaring di bawah tanah. Obsidiannya mengkilat penuh nafsu saat melihat kondisi tubuh sang mate. Tubuh Wonwoo menggodanya untuk di kecup, di jilat dan di tandai. Apalagi dengan aroma feromon Wonwoo yang menusuk indra penciuman.

Sel neuron di kepala sang elder mulai memerintahkan semua keinginan sang serigala. Inner serigala berteriak penuh gebu agar segera menerkam sang omega yang sudah terlihat tidak berdaya. Mingyu tahu hanya dengan melihat kondisi Wonwoo yang seperti itu. Jika di biarkan, maka Wonwoo akan semakin kesakitan. Begitu pula dengan dirinya sendiri. Karena tubuh Mingyu kembali memanas dalam sekejap, akibat mencium bau feromon sang omega. Birahi yang awalnya menyusut perlahan, naik dengan drastis akibat sang mate.

“Wonwoo…” Mingyu menggeram kecil. Ia mulai berjongkok di hadapan sang omega. Tangannya terulur. Mengelus pipi Wonwoo dengan gerakan pelan. Tapi mampu membuat sang omega menggeram karena menginginkan lebih.

“Kau tidak bisa menolakku.” Ucapan penuh nada keabsolutan terdengar, di sertai dengan satu tarikan tangan, hingga tubuh Wonwoo terangkat. Mingyu menggendong tubuh Wonwoo ala bridal, dan sang omega sama sekali tidak bisa menolak. Dirinya sudah lelah, dan ia membutuhkan pertolongan. Apapun itu. Asal rasa sakit akibat heatnya ini menghilang.

“J-janganhh.. m-menandaikuh…” Wonwoo berbisik di antara perpotongan leher Mingyu. Membuat sang elder mendengus dengan nada meremehkan. Bagaimana mungkin Wonwoo meminta hal yang mustahil ia kabulkan seperti itu?

“Kita lihat nanti, Jeon. Siapa yang lebih dominan mencapai tujuannya. Aku atau kau.” Ucapan Mingyu berakhir bersamaan dengan suara derit pintu yang terdengar terbuka. Sebuah deritan yang akan mengantarkan Jeon Wonwoo pada lubang penuh kebencian untuk sang mate.

Tebece

Glousarium :

1. Pill surppressants : pill yang di minum oleh para omega untuk mengontrol feromon heat berlebih. Di gunakan saat tidak ada pelampiasan. Karena biasanya heat terjadi satu bulan itu satu nor dua kali. setiap omega terbiasa membawa pill ini.

2. Demon : iblis.

3. Incubus : Spesies iblis yang melakukan sex untuk menyerap sari-sari kehidupan

4. Pangeran kegelapan: Son Of Hades.

5. Archangel : Pasukan malaikat Tuhan. Malaikat tertinggi. Kedudukannya lebih tinggi di antara para malaikat lainnya. Ada 10 malaikat yang termasuk ke dalam Archangel dalam Al-Qur’an. Tapi dalam kitab injil dan Yahudi hanya ada 7 yang termasuk ke dalam Archangel.

6. Uriel : Fire Of God. Malaikat Tuhan yang bertugas menjaga pintu gerbang Tartarus aka Gerbang menuju Neraka.

Ps : Jika ada glousarium yang salah. kalian bisa koreksi.

Well. Jujur. Gue ga tau chap depan tamat atau belum. Wkwk. Masih ngambang. Yang penting saya jelaskan disini, jangan berharap lebih dengan ending yang akan saya buat. Sejak awal, ff ini maso. Semaso perasaan dan kokoro. Mehh -_-

Oke. Sampai jumpa lagi. Wkwk. Entah apa yang bakal di update setelah gue uts. Mau edit iwtbas, tapi gue males. Entah kenapa -_- mau ngetik caste heaven, gue lagi ga ada mood. -_- motivasi gue tolong wkwk

Ps : Gue masih terima Commisioned Fanfict. Kalau mau silahkan inbox saya ^^ Kalian bebas request genre, rated, dan saya bakal buat sesuai keinginan. Silahkan cek di work saya yang judulnya Commissioned FF ^^ Saya hanya terima 3 Comm. Berarti hanya sisa 2 lagi.

Jadi setelah UTS saya berakhir, hanya FF Comm yang saya upload ^^

Jaa ne.. sampai jumpa di updatean selanjutnya.

REVIEW?

Astia Morichan

Advertisements

Nephilim | Chap 3| Meanie Couple

0

Bocah bersurai coklat menampilkan sebuah senyuman lebar saat melihat sosok wanita tua yang membawa nampan berisi cookies. Ia baru saja mengangkat cookies itu dari oven. Manik foxy si surai coklat– Jeon Wonwoo menatap penuh binar ke arah kue yang sedang neneknya hidangkan di atas meja. Wonwoo selalu suka momen seperti ini. Ah. Lebih tepatnya ia sangat menyukai cookies yang neneknya buat. Apalagi nenek Wonwoo- JinYoung selalu membuat kue favoritnya ketika ia pulang sekolah. Seperti sekarang. Aroma kue menyebar di sekeliling dapur, dan membuat perut Wonwoo bersorak senang karena lapar.

 

“Ne.. Wonu-ya.. kenapa tidak ganti baju dulu, hm?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan lembut, saat melihat Wonwoo berlari ke arahnya dan duduk di meja makan dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Bocah itu menatapnya dengan tatapan berbinar yang selalu membuat Jinyoung luluh. Kemudian ia mulai melepaskan sarung tangan beserta celemek yang membalut tubuh rampingnya. Di simpan celemek dan sarung tangan di samping nakas yang berada di belakang. Lalu ia mulai berjalan ke arah Wonwoo, dan menyodorkan piring berisi kue kesukaan si coklat, beserta susu vanilla favoritnya.

 

“Aku ingin memakan kuenya sekarang, halmonie.” Wonwoo mempoutkan bibirnya. Ia mulai merajuk dan memberikan tatapan memohon pada sang nenek. Membuat wanita tua bersurai hitam itu terkekeh dan mengelus surai coklat Wonwoo.

 

“Baik. Wonu bisa memakannya jika menuruti permintaan nenek kali ini. Bagaimana?” Jinyoung berjongkok di samping bocah sd itu. Membuat Wonwoo menatap bingung Jinyoung dengan alis bertaut tidak mengerti. Jarang sekali Jinyoung seperti ini.

 

“Memangnya nenek mau meminta apa dari Wonu ?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap bingung sang nenek yang sekarang malah mencubit pipi Wonwoo dengan gemas.

 

“Wonu tidak boleh bertemu lagi dengan Chanyeol Ahjussi.” Manik foxy bocah itu membulat tanda tidak setuju. Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo tidak mau menuruti permintaannya kali ini. Apalagi dengan Chanyeol- sang Lucifer keras kepala yang ingin membawa pergi Wonwoo. Jinyoung tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya. Apalagi membiarkan seorang malaikat pembelot mengurus Wonwoo.

 

“E-eh? Kenapa tidak boleh? Chanyeol Ahjussi sangat baik pada Wonwoo. Aku tidak ingin menuruti permintaan halmonie.” Wonwoo melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut di sertai delikan tak suka yang ia berikan pada Jinyoung.

 

“Chanyeol Ahjussi itu sangat berbahaya. Apa Wonwoo ingin tahu siapa sebenarnya Chanyeol Ahjussi?” Penawaran sang nenek terdengar menggiurkan bagi Wonwoo. Jinyoung bisa melihat Wonwoo kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh keingintahuan tercetak jelas di manik foxy bocah itu.

 

“Memangnya kenapa dengan Chanyeol Ahjussi?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan sendu. Tangannya kembali terulur untuk mengelus pipi Wonwoo dengan lembut. Jinyoung tentu sangat mengerti jika Wonwoo merindukan sosok ayah. Chanyeol datang dan mengaku sebagai paman jauh Wonwoo. Lalu ia sering mengajaknya bermain setiap hari. Tentu saja Jinyoung sangat khawatir jika Chanyeol membocorkan identitas sebenarnya pada Wonwoo, jika ia adalah ayah dari si surai coklat. Jinyoung sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia hanya ingin Wonwoo menjadi manusia normal seperti temannya yang lain. Kehadiran Chanyeol hanya akan menjadi pengaruh buruk untuk Wonwoo. Kekuatan Wonwoo akan semakin berkembang jika Chanyeol selalu berada di dekatnya. Jinyoung tidak ingin Wonwoo mempunyai kekuatan para malaikat.

 

“Halmonie akan menceritakan semuanya pada Wonwoo. Tapi setelah itu, Wonu tidak akan ingat apapun lagi. Bagaimana?” Kembali, manik foxy itu membelalak, dan memberenggut tidak setuju. Wonwoo kembali menunjukan aksi tidak setuju atas apa yang Jinyoung ucapkan.

 

“Jika Wonwoo tidak menurut, Halmonie tidak akan memberikan Wonu cemilan lagi.” Piring berisi cookies di ambil kembali dari hadapan Wonwoo. Membuat bocah itu kembali mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya mulai mengangguk tanda setuju. Lagi pula, Wonwoo bisa bertemu secara sembunyi dengan Chanyeol nanti. Lalu ia tidak akan mungkin melupakan semua yang di ceritakan neneknya. Wonwoo itu pintar. Ia akan ingat dalam sekejap ucapan Jinyoung nanti.

 

“Arraseo. Aku mengerti. Sekarang ceritakan tentang Chanyeol Ahjussi, dan juga berikan cake itu padaku.” Wonwoo bisa melihat Jinyoung tersenyum dengan lebar kali ini. Ia yakin, jika Jinyoung sangat senang karena keputusannya itu. Kemudian Jinyoung mulai menarik kursi di samping Wonwoo, dan duduk di sana. Membuat Wonwoo menoleh pada wanita tua itu yang sekarang menghela napasnya pelan, sebelum memulai ceritanya.

 

“Ne.. Apa Wonu percaya dengan malaikat? Lalu dengan Iblis, dan juga Tuhan?” Jinyoung menatap ke arah Wonwoo dengan tajam. Membuat bocah itu gugup, karena ini adalah kali pertama Jinyoung menjadi serius seperti ini. Biasanya, neneknya itu akan selalu tersenyum dan memberikan guyonan yang membuat Wonwoo tertawa lepas. Bukannya bertanya hal aneh seperti ini.

 

Dahi Wonwoo mengernyit pelan. Mencoba untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di berikan dari Jinyoung. Bocah bersurai coklat itu mengetukkan jari pada ujung meja dengan mata tertutup. Berharap akan menemukan jawabannya. Wonwoo tentu sangat percaya jika Tuhan itu ada. Lalu tentang iblis dan juga malaikat tentu ada. Wonwoo belajar semua itu setiap hari minggu di Gereja. Ia bukanlah seorang atheis. Jadi tentu saja Wonwoo percaya. Walaupun ia sama sekali belum pernah bertemu malaikat dan iblis dengan matanya sendiri.

 

“Ya. Pastor Michael bilang padaku jika malaikat dan iblis juga nyata. Aku juga belajar banyak tentang para malaikat dan Iblis yang mengganggu manusia.” Dahi Wonwoo mengernyit. Berusaha untuk kembali mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

“Tapi Halmonie.. Chanyeol Ahjussi pernah berkata jika aku adalah seorang Nephilim, dan aku harus menyembunyikan kekuatanku agar Verchiel (1) tidak menemukan keberadaanku.” Badan wanita tua itu menegang. Matanya membulat, menatap Wonwoo kaget. “Ne.. Apa kau tahu maksud dari Chanyeol Ahjussi? Nephilim itu apa?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap Jinyoung penuh tanya. Berharap Jinyoung bisa menghilangkan rasa penasarannya selama beberapa hari terakhir. Karena Wonwoo memang tidak mengerti tentang peringatan dari Chanyeol. Ketika ia ingin bertanya lagi tentang hal itu, Chanyeol malah pergi meninggalkannya. Bahkan sampai sekarang Wonwoo belum bertemu dengan pria itu lagi.

 

Jinyoung menelan salivanya dalam. Ia mencoba kembali menetralkan emosi yang tercetak di wajahnya. Kali ini, Jinyoung harus menjelaskan semuanya pada Wonwoo. Lalu membuat bocah itu melupakan segala hal tentang Lucifer brengsek itu, dan juga memberikan Wonwoo pelindung agar ia tidak akan bisa melihat lagi sosok Lucifer selamanya, juga pengikut Lucifer yang mengincar Wonwoo. Jinyoung juga tidak ingin jika Wonwoo di incar oleh Verchiel, atau Gabrielle. Cucunya itu sama sekali tidak bersalah jika terlahir menjadi seorang Nephilim.

 

Tangan Jinyoung terulur untuk menyentuh surai coklat Wonwoo. Membuat bocah itu mengerjapkan matanya bingung.

 

“Wonwoo adalah seorang Nephilim. Setengah malaikat, dan ayah Wonwoo adalah Lucifer yang merupakan malaikat pembelot. Ia adalah Chanyeol.” Jinyoung bisa melihat Wonwoo membelalakan matanya kaget. Tentu Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo masih mencoba mencerna semua yang ia jelaskan secara singkat. Tapi sebelum Wonwoo mengerti segalanya, Jinyoung akan membuat bocah itu kembali lupa. Wonwoo tidak boleh mengingat apa yang ia ucapkan.

 

Tangan Jinyoung bergerak ke samping leher Wonwoo, dan menekan keras selangka leher Wonwoo. Membuat bocah itu menjerit kaget saat merasakan sebuah cahaya berkumpul di lekukkan lehernya. Pelindung cahaya mulai mengelilingi tubuh Wonwoo. Pelindung yang Jinyoung buat, akan membuat Lucifer, Verchiel, dan segala makhluk lainnya tidak dapat menyadari keberedaaan Wonwoo. Pelindung itu juga yang membuat Wonwoo kehilangan kesadaran dirinya, dan juga kehilangan beberapa kilasan ingatannya tentang Chanyeol.

 

“Maafkan aku, Wonu-ya.” Tubuh kecil itu terjatuh dalam pangkuan Jinyoung. Semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan Wonwoo. Ini adalah cara yang terbaik agar Wonwoo selamat.

 

 

Nephilim

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

a/n: Saya ingatkan. Lucifer itu bukan iblis yah awalnya. Lucifer itu adalah malaikat pertama yang di usir Tuhan dari surga. He’s fallen.

Semua chara yang masuk di sesuaikan dengan bias dan otp saya. wks

Strata dunia nanti ah. Belum secara menyeluruh ada kok di chap ini.

Kenapa marganya beda-beda padahal jun ama wonu dan chan itu se ayah? Well, saya jelaskan nanti. Ini masihlah chap awal. Penjelasan berlanjut sebagaimana cerita berjalan.

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

  • Some angels destinied to Fall –  

 

.

 

.

oOo

.

Tubuh pemuda bersurai coklat itu menegang dengan mata membulat kaget saat mendengar semua penjelasan dari pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang melekat di tubuhnya. Pria itu bernama Wen Junhui; yang mengaku sebagai kakak kandung dari Wonwoo. Kemudian pria yang sekarang mengenakan pakaian layaknya seorang raja di zaman Arthur yang pernah Wonwoo tonton itu menunjukkan suatu hal yang tidak dapat Wonwoo percaya.

Saat tangan Jun terulur untuk menyentuh bahu Wonwoo, ia mulai merasakan kilasan ingatan di dalam otaknya. Ingatan itu meluap dengan cepat bagaikan kilasan film yang membuat kepala Wonwoo pening. Wonwoo ingat semuanya. Ia ingat bagaimana neneknya selalu mengelak jika ia bertanya dimana Chanyeol, dan kenapa neneknya membenci Chanyeol. Lalu dengan hadirnya Mingyu; yang memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim. Sekarang semuanya menjadi terhubung, dan Wonwoo tahu siapa dirinya. Ia adalah Nephilim- makhluk setengah malaikat yang berasal dari Lucifer– Sang malaikat pembelot pertama. Jujur saja, ini semua masih seperti mimpi buruk untuk Wonwoo. Ia sulit untuk mempercayai semua hal yang tidak masuk logika. Semua kejadian yang menimpa Wonwoo tidak masuk di akal.

 

“A-aku tidak mengerti.” Wonwoo tergugup. Ia memundurkan badannya perlahan menjauh dari Jun. Kepalanya menggeleng tanda tidak setuju dengan semua kilasan memori yang Jun berikan padanya.

 

“Kau adalah adikku. Putra dari Lucifer, walaupun kau hanyalah setengah malaikat Wonwoo-ya.” Suara Jun terdengar menakutkan bagi Wonwoo. Ia sangat berbeda dengan Mingyu. Walaupun pemuda bersurai hitam itu selalu seenaknya, tapi Wonwoo selalu merasa nyaman jika Mingyu ada di sampingnya. Saat ini, Wonwoo berharap Mingyu datang menolongnya.

 

“Aku hanyalah manusia biasa.” Wonwoo mengangkat kepalanya. Memberikan Jun tatapan tajam, dan hal itu malah membuat Jun tertawa lepas.

 

“Hey, Wonwoo-ya.. harus berapa kali aku bilang bahwa kau itu Nephilim?” Jun mendekat ke arah Wonwoo. Membuat pemuda bersurai coklat itu memundurkan tubuhnya dengan refleks. Aura Jun benar-benar berbahaya. Wonwoo tidak menyukai aura yang menguar dari tubuh Jun. Aura itu mencekam. Seolah membuat Wonwoo tenggelam dalam kegelapan.

 

“Aku akan pergi dari sini. Tolong lepaskan aku.”

 

“Dan kau melupakan niat awalmu ketika bertemu denganku, Jeon Wonwoo?” Manik foxy kembali membulat. Tentu saja Wonwoo ingat kenapa ia menerima ajakan dari Soonyoung. Ia ingin bertemu dengan Chanyeol. Walaupun Wonwoo harus mengakui jika Chanyeol itu adalah seorang malaikat pembelot. Lucifer– Sang pemberontak Tuhan.

 

“Di-dimana Chanyeol Ahjussi?”Wonwoo kembali bertanya. Ia mencoba melupakan rasa takutnya demi hal ini. Wonwoo tidak boleh ragu. Semua yang ia lakukan adalah untuk Chanyeol. Apapun yang terjadi, ia harus bertemu dengan Chanyeol.

 

“Maksudmu Lucifer? Ayah kita?”

 

“Y-ya. Aku ingin bertemu dengannya.” Wonwoo bisa melihat tatapan tajam dari Jun meredup. Ada kesedihan yang terpancar di mata itu. Wonwoo bisa merasakannya dengan jelas.

 

“Ayah sudah di bunuh oleh Verchiel.” Suara Jun terdengar dingin dan penuh akan dendam. Tangan pria bersurai merah itu terkepal dengan erat, seolah menahan amarahnya agar tidak meledak. Aura kebencian menguar di seluruh tubuhnya.

 

“Apa maksudmu, Jun-ssi? Aku sama sekali tidak bercanda dengan hal seperti ini!” Suara Wonwoo meninggi. Ia mulai mendekat ke arah Jun, dan mencengkram erat baju zirah berbalut besi yang melekat di tubuh pria itu. Kesabaran Wonwoo sudah habis. Ia tidak ingin di permainkan lagi oleh Jun.

 

“Apa aku terlihat bercanda?” Tatapan dingin menusuk dari Jun membuat Wonwoo terdiam. Tangan yang semula berada di lengan Jun, kini terkulai lemas. Wonwoo kembali di jatuhkan oleh berita mengejutkan dari Jun. Ia belum siap mendengar kabar bahwa Chanyeol- paman yang selama ini Wonwoo harap bisa bertemu lagi, sudah tidak ada. Ia terbunuh, dan Wonwoo tidak dapat melihatnya lagi. Sekarang Wonwoo merasakan hatinya remuk. Air mata tiba-tiba membasahi pipi Wonwoo. Jujur saja, Wonwoo tidak tahu kenapa ia menangis. Padahal ia dan Chanyeol hanya dekat selama satu tahun saja. Setelah itu Pamannya menghilang, dan Wonwoo seakan lupa dengan keberadaannya.

 

Tubuh mungil Wonwoo bergetar. Pemuda bersurai coklat itu masih menangis dalam diam. Mengabaikan Jun yang sekarang bingung harus berbuat apa. Jun tidak terlalu pintar menghibur seseorang. Ia bahkan lupa kali terakhir ada seseorang yang mau menemaninya.

 

“Berhentilah menangis. Kau harus tinggal di sini jika tidak ingin di bunuh oleh Verchiel.” Wonwoo mendongak ke arah Jun yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia mulai mengusap pipi untuk menghilangkan jejak air matanya. Manik foxy itu kembali menatap Jun dengan pandangan penuh tanya. Berharap jika Jun menjawab siapa itu Verchiel.

 

Verchiel adalah malaikat utusan Tuhan; penghuni Alfheim, yang selalu memburu malaikat sepertiku, dan juga para Nephilim. Kau berada di Aerie sekarang, Wonwoo. Di tempat ini, semua malaikat pembelot dan juga Nephilim sepertimu tinggal.” Jun mulai menjelaskan dengan detail bagaimana Aerie terbentuk, dan siapa saja pasukan Verchiel yang selalu membunuh kaum Nephilim. Bagaimana Lucifer terbunuh, dan kenapa para utusan Tuhan memburu semua kaumnya.

 

“Jika kau keluar dari istana ini, kau akan menemukan sebuah pemukiman di mana para Nephilim sepertimu tinggal. Di Aerie, para Nephilim akan merasa aman. Kau tidak perlu takut lagi jika Verchiel akan datang memburumu, Wonwoo-ya. Para Elf, melindungi wilayah Aerie.”

 

Wonwoo mengangguk pelan. Ia mulai mengerti semua penjelasan yang Jun jabarkan tadi. Tapi Wonwoo tidak ingin berada di sini. Ia ingin pulang, dan bertemu dengan Mingyu. Wonwoo belum siap jika harus berada di Aerie. Lagi pula, ia harus memastikan semua yang sudah Jun jelaskan.

 

“Beri aku waktu untuk berpikir Jun-ssi. Tolong antarkan aku pulang.”

 

“Baik. Tapi Soonyoung akan mengikuti dan menjagamu, Wonwoo.” Wonwoo menggeleng dengan cepat mendengar penuturan Jun. Ia tidak ingin di ikuti oleh Soonyoung. Wonwoo butuh waktu untuk sendiri dan mencoba mencari tahu kebenaran dari semua ini. Ia harus bertemu dengan Mingyu. Satu-satunya penolong Wonwoo adalah pemuda bersurai hitam itu.

 

“Tidak. tolong biarkan aku memikirkan semuanya sendiri.” Wonwoo bisa melihat Jun menghela napasnya. Kemudian pria itu mendengus tak suka, dan melirikkan matanya ke arah Soonyoung yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk. Tatapan isyarat agar pemuda bersurai hitam itu mendekat.

 

“Antar Wonwoo pulang. Setelah itu kau kembali lagi ke Aerie.” Jun membalikkan badannya. Berjalan menjauhi Wonwoo. Jubah merahnya berkibar, dan setelah itu sosok Jun menghilang bagaikan hembusan angin.

 

“Kau ingin kembali ke cafe atau apartemenmu, Wonwoo-ssi?” Soonyoung membentangkan sayap-sayap hitamnya. Sebelum akhirnya mulai mengibaskannya dengan pelan, hingga tubuhnya melayang. Ia mulai mengulurkan tangannya ke arah Wonwoo.

 

“Apartemenku.” Wonwoo menggapai uluran tangan Soonyoung, sehingga ia berada di pelukan pemuda bersurai hitam itu. Kemudian mereka terbang ke atas, meninggalkan ruang singgasana Jun. Wonwoo berharap keputusannya kali ini sama sekali tidak salah. Ia membutuhkan Mingyu untuk menjelaskan semua keraguan yang ada di hatinya.

 

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan dengan gontai menuju koridor apartemen yang akan mengantarkan tubuh mungilnya menuju kamar apartemen yang berada di pojok lantai tujuh ini. Tadi Soonyoung sudah mengantarnya sampai ke depan gedung apartemen. Setelah itu Soonyoung kembali memukul udara dengan sayap hitamnya, dan terbang meninggalkan Wonwoo. Jadi disini Wonwoo berada. Ia sudah kembali ke dunia asalnya. Bukan di Aerie– tempat para Nephilim berada.

Wonwoo mulai membuka kenop pintu kamarnya dengan pelan. Sebenarnya Wonwoo berharap akan bertemu dengan Mingyu. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Biasanya Mingyu sudah berdiri di samping lift, sambil menatap pemandangan kota. Tapi nyatanya, pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Entah kenapa Wonwoo merasa kecewa saat tidak dapat menemukan sosok Mingyu.

 

“Hah..” Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai masuk ke dalam apartemen. Tangannya meraba dinding untuk menekan saklar lampu agar lampu di ruang tengah menyala. Kemudian cahaya lampu mulai menyinari ruangan itu. Membuat mata Wonwoo menyipit perlahan karena ia melihat sesosok bayangan yang sedang duduk di sofa kecil miliknya. Sosok itu mulai berbalik ke arahnya, dan menatap Wonwoo.

 

“Wonwoo-ya.. Apa yang kau lakukan selama dua hari ini?!” Suara bariton yang sangat Wonwoo kenal itu menggema memenuhi ruangan. Kali ini, Wonwoo bisa melihat dengan jelas sosok Kim Mingyu yang berdiri di dekat sofa sambil menatapnya dengan tajam. Wonwoo bisa merasakan kekhawatiran di dalam manik obsidiannya.

 

Langkah Mingyu semakin dekat dengan Wonwoo. Membuat Wonwoo memundurkan tubuhnya. Menyentuh pintu yang ada di belakangnya sehingga tertutup dengan sempurna. Wonwoo tahu jika Mingyu marah padanya. Mingyu tidak pernah menatapnya sedingin itu.

 

“Apa yang kau lakukan selama dua hari, Wonwoo? Kau tahu? Aku kebingungan mencarimu kemana-mana!” Dahi Wonwoo mengernyit saat mendengar pertanyaan beruntun dari Mingyu. Dua hari? Wonwoo sudah berada di Aerie dua hari?

 

“A-apa maksudmu, Gyu?” Wonwoo mendongak. Menatap manik obsidian Mingyu yang menatapnya tajam. Ini kembali membingungkan untuk Wonwoo. Ia pikir hanya beberapa jam saja berada di Aerie.

 

“Kau menghilang selama dua hari.” Mingyu menghela napasnya lelah. Kali ini tangannya terulur untuk menarik Wonwoo ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sungguh, Mingyu merindukan sosok Wonwoo. Ia sudah kebingungan mencari Wonwoo selama dua hari ini. Ia bahkan tidak dapat mengendus keberadaan Wonwoo di manapun. Mingyu takut jika pasukan Verchiel menyerang Wonwoo. Ia tidak ingin itu semua terjadi. Mingyu akan melindungi Wonwoo sampai kapanpun.

 

“Syukurlah, Wonu-ya. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Mingyu menelusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Wonwoo. Menghirup dalam aroma vanilla dari tubuh Wonwoo. Aroma tubuhnya yang sudah menjadi obat penenang tersendiri untuk Mingyu. Rasa khawatir dan ketakutan dalam dirinya menghilang hanya dengan mencium aroma tubuh Wonwoo.

 

“M-maaf, Mingyu.” Wonwoo bergumam pelan. Tangannya bergerak untuk membalas pelukan Mingyu sama eratnya. Jujur saja, Wonwoo butuh pegangan. Ia membutuhkan sosok Mingyu untuk membuatnya mengerti tentang hal tidak masuk akal yang menimpa kehidupannya selama beberapa terakhir ini.

 

“Aku takut, Gyu..” Suara Wonwoo bergetar. Mingyu tahu ada yang tidak beres selama Wonwoo pergi. Ia bisa merasakan pelukan Wonwoo semakin mengerat, dan juga tubuh pemuda bersurai coklat itu mulai bergetar ketakutan, di sertai isakan lirih yang lolos dari mulut Wonwoo.

 

“G-gyu… A-aku takut.. T-tolong…” Suara lirih Wonwoo terdengar menyesakkan bagi Mingyu. Ia tidak ingin melihat Wonwoo ketakutan seperti sekarang. Tangan Mingyu bergerak untuk menggendong tubuh Wonwoo ala bridal. Wonwoo diam. Tidak menolak dengan perlakuan Mingyu. Ia malah membenamkan wajahnya pada leher Mingyu dan menangis di sana. Mingyu membawanya ke kamar. Kemudian pemuda bersurai hitam itu membaringkan tubuh mungilnya di ranjang. Wonwoo bisa melihat dengan jelas Mingyu duduk di sampingnya dengan tatapan khawatir.

 

“Ceritakan semuanya padaku.” Perintah Mingyu yang penuh ke absolutan, membuat Wonwoo mengangguk dengan cepat, dan mulai mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu ia mulai menceritakan segalanya. Tentang Aerie, Jun, Soonyoung, Chanyeol, dan juga Verchiel. Wonwoo bisa melihat raut wajah Mingyu berubah. Rahang pemuda bersurai hitam itu mulai mengeras. Tangan Mingyu terkepal dengan erat.

 

“Kau tidak boleh bertemu dengan Jun lagi. Dengarkan aku Wonwoo-ya.” Manik obsidian menatapnya tajam. Seakan tidak ingin di bantah. “Aku akan melindungimu sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkan makhluk jahanam itu menyentuhmu. Apalagi Verchiel sialan itu!” Mingyu kembali kembali memeluk tubuh Wonwoo dengan erat. Ia tidak akan membuat Wonwoo menderita. Apapun yang terjadi. Karena Wonwoo adalah miliknya.

 

“Terimakasih, Gyu.” Wonwoo kembali memeluk tubuh kokoh Mingyu. Mereka berbagi pelukan dan beberapa ciuman Mingyu hadiahkan di bibir plum Wonwoo. Bagi Mingyu, pemuda bersurai coklat itu adalah candu. Jika Wonwoo tidak ada, mungkin Mingyu akan menjadi gila seperti dua hari kemarin saat ia tidak dapat menemukan sosok Nephilim itu.

.

oOo

.

 

Mingyu menatap dalam Wonwoo yang sekarang tertidur dengan lelap. Wajah Wonwoo terlihat sangat damai. Sebuah senyum kecil tersungging menghiasi wajah cantik pemuda bersurai coklat itu. Mingyu yakin, jika Wonwoo sedang bermimpi indah. Karena semua kegelisahan di dalam hati Wonwoo sudah meluap. Pemuda bersurai coklat itu menangis dan tak hentinya mengatakan terimakasih di sela-sela ciuman hangat mereka. Kemudian Wonwoo jatuh tertidur dalam pelukannya.

 

Mingyu menampilkan senyum asimetris di wajahnya. Ia bersyukur datang kembali ke dunia manusia, dan di pertemukan dengan Wonwoo. Mingyu yang awalnya tidak tertarik dengan apapun, kini tertarik oleh sosok Wonwoo. Mungkin manusia menyebut hal ini sebagai jatuh cinta. Ya. Mingyu jatuh cinta pada Wonwoo. Ia selalu ingin berada di dekat pemuda itu, dan melindunginya dari para makhluk kotor yang mencoba melukai Wonwoo.

 

“Aku tidak menyangka akan melakukan hal konyol seperti ini.” Tangan Mingyu terulur untuk mengelus surai coklat Wonwoo dengan pelan. Kemudian ia mulai menunduk dan mencium kening Wonwoo. “Hades akan marah padaku jika tahu aku berurusan dengan para malaikat.”Mingyu terkekeh pelan, saat mengingat kembali sosok Ayahnya. Ia sangat yakin jika Kyuhyun akan murka. Jujur saja, Mingyu sangat suka melihat Ayahnya itu marah. Walaupun Persephone selalu bisa menenangkan ayahnya dengan cepat.

 

“Mingyu-ssi. Apa anda merasakan keberadaan Thanatos?” Suara Yao yang kecil memecah keheningan. Membuat Mingyu sadar jika sejak tadi Yao masih mengikutinya. Ia pikir anjing itu sudah menuruti perintahnya untuk kembali ke Gerha Hades(2).

 

“T-thanatos ada di sini.” Suara Yao mencicit. Membuat Mingyu tersenyum meremehkan ke arah pintu kamar. Di sana ia sudah melihat sosok Thanatos. Mingyu bukanlah orang bodoh yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Thanatos yang menguarkan aura mematikan di sekelilingnya.

 

“Saya tidak menyangka jika anda berurusan dengan Nephilim itu.” Suara Jisoo terdengar meremehkan. Membuat Mingyu menggeram tak suka ke arahnya. Ini yang Mingyu tidak suka dari abdi ayahnya itu. Jisoo selalu mencampuri segala urusannya.

 

“Dan aku tidak menyangka jika kau kembali mencampuri urusanku. Apa Hades mengutusmu?” Suara sarkatik Mingyu hadiahkan untuk Jisoo. Kemudian pemuda bersurai hitam itu mulai berjalan ke arah Jisoo. Manik obsidian menatap tak suka ke arah Jisoo yang tidak pernah tunduk oleh tatapannya.

 

“Ya. Kyuhyun-ssi sudah tahu jika anda berurusan dengan Nephilim. Beliau ingin anda pulang ke Gerha Hades.”

 

“Tidak. Aku tidak akan pulang. Sampaikan pesanku untuk Ayah dan Ibu. Aku akan bersama Wonwoo di sini.” Mingyu berbalik. Berjalan ke arah Wonwoo, dan mengabaikan sosok Jisoo yang menggeram marah.

 

“Kyuhyun-ssi akan marah dan membunuh Nephilim itu jika anda tidak pulang, Mingyu-ssi.” Ada nada memaksa di dalam ucapan Jisoo yang membuat Mingyu kembali mendengus, sebelum melirik Jisoo lewat ekor matanya.

 

“Aku akan melindunginya dari apapun. Pergilah, Hyung. Aku tidak ingin menyakitimu.” Aura kematian menyebar di sekeliling tubuh Mingyu. Membuat Jisoo memundurkan tubuhnya. Jisoo masih ingin hidup. Ia tidak ingin hidupnya sia-sia karena hal ini. Lebih baik ia membiarkan Mingyu, dan kembali melapor pada Kyuhyun.

 

“Saya sudah memperingatkan anda. Nephilim itu berbahaya bagi makhluk dunia bawah seperti kita, Mingyu-ssi.” Dan setelahnya, sosok Jisoo menghilang di gantikan oleh gumpalan cahaya hitam yang mengecil, kemudian hilang bagai di terpa oleh angin.

 

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Wonwoo.” Geraman Mingyu terdengar menakutkan. Mingyu belum pernah seserius ini sebelumnya. Jika ada yang menyakiti Wonwoo, itu artinya mereka akan berurusan dengan Mingyu. Sekalipun itu adalah malaikat utusan Tuhan, Wonwoo tidak akan pernah takut.

 

.

oOo

.

 

 

Pemuda bersurai hitam dengan hanbok berwarna putih itu menatap tajam bawahannya. Aron atau yang lebih di kenal sebagai Verchiel menggeram. Ia tidak habis pikir jika ada keturunan dari Lucifer yang masih berada di dunia manusia. Aron pikir semua Nephilim dan para malaikat pembelot bersembunyi di Aerie. Ini adalah kesempatan langka. Ia tidak akan membiarkan buronannya lepas lagi. Kali ini, Aron bertekad untuk membunuh Nephilim bernama Jeon Wonwoo.

 

“Tapi Aron-ssi, sosok Mingyu selalu terlihat di samping Nephilim itu.” Dahi Aron mengerut mendengar penuturan dari Baekho- sang bawahan yang sudah ia tugaskan memantau Wonwoo. Mingyu yah? Jika memang benar Mingyu ikut campur dalam urusan ini, itu berarti Mingyu menantang Zeus- Penguasa Langit.

 

“Menarik. Putra Hades terlibat dengan Nephilim.” Seringaian licik terukir jelas di wajah Aron. Ini adalah hal yang paling menarik. Jika Mingyu terlibat, mungkin saja perang langit akan kembali terjadi. Murka Zeus dan Hades selalu menggemparkan bumi.

 

“Tangkap Wonwoo secepatnya, dan bawa padaku. Walaupun Mingyu ada di samping Nephilim itu.” Wajah Baekho memucat saat mendengar perintah dari Aron. Ah. Ia masih ingin hidup. Kekuatannya sama sekali belum cukup kuat untuk menentang putra Hades. Ini namanya cari mati.

 

“Jika kau tidak bisa membawa Wonwoo, aku akan mematahkan sayapmu.” Baekho menelan salivanya dalam. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti Aron. Semua pilihan yang di berikan Aron tidak ada yang bagus. Sama-sama jalan kematian.

 

“Baik, Aron-ssi.” Baekho menundukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum ia mulai mengepakkan sayap putihnya, dan melayang menjauh dari kastil Verchiel. Baekho harus melaksanakan tugasnya. Ia tidak ingin jika sayapnya di patahkan. Itu sama saja artinya dengan menjadi malaikat pembelot. Baekho akan membawa Wonwoo apapun yang terjadi.

 

Tebece

 

Glousarium :

  1. Verchiel : Malaikat Utusan Tuhan. Abdi Zeus yang bertugas untuk memburu para kaum pembelot.

 

  1. Gerha Hades : Kerajaan Dunia Bawah. Tempat Hades tinggal.

 

 

Well, chap depan mulai bakalan beda sama POF. So, bagi yang ngikutin pof, maka lanjutan cerita itu yang sebenarnya adalah di sini.

Huhu. Andai ga dedlen. Mungkin ini bakal jadi akakuro full dulu wkwk. But gapapa, akakuro shipper, buat fantasy-fantasyan. Saya bakal lanjut incubus nanti.

Jadi biarkan pof menjadi milik Meanie. *jyah wkk

 

Caste heavenn di up taun baru yah. Mwah :*

 

So, berkenankah berkomentar? Atau ada yang mau nanya kalau ga ngerti pendeskripsian semuanya? Jangan lupa komen

 

Vomen?

 

Astia Morichan

Nephilim | Chap 2| Meanie

0

Pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang membalut dada bidangnya itu menggeram marah. Pria itu – Wen Jun Hui- yang merupakan penguasa Aerie (1) menatap tajam Kwon Soonyoung yang sekarang membungkuk penuh hormat padanya. Semua penduduk Aerie tidak akan membantah apa yang di ucapkan Jun- selaku penerus tahta sang Lucifer(2)– Malaikat Pembelot yang sejak dulu memimpin Aerie. Aerie berada di perbatasan dunia manusia dan juga dunia para Elf(3), yang berada di akhir zona dunia Alfheim(5). Sehingga para malaikat pengabdi Zeus(5) tidak dapat mendekati Aerie. Karena wilayah Aerie di lindungi oleh pelindung yang di ciptakan kawanan Elf- abdi setia Lucifer.

 

“Bukankah aku menyuruhmu untuk membawa Wonwoo secepatnya? Apa kau tuli Soonyoung?” Desisan marah Jun terdengar menakutkan bagi Soonyoung. Pemuda bersurai blonde itu bisa merasakan udara di sekitarnya menipis hanya dengan mendengar geraman dari Jun.

 

“Maafkan hamba, Jun-ssi. Saya tidak bisa mendekat ke arah Wonwoo. Ada penghalang di sekelilingnya. Ia belum sepenuhnya mengingat kita. Ingatannya hilang. Wanita tua itu menanamkan pelindung di dalam tubuh Wonwoo.” Jun terdiam mendengar penjelasan dari Soonyoung. Jun ingat betul jika Wonwoo- adiknya itu tidak akan ingat padanya. Wonwoo hanya mengingat Ayahnya – Sang Lucifer yang terbunuh oleh Verchiel. Wonwoo juga tidak tahu jika Lucifer adalah ayahnya. Karena Lucifer hanya mengaku sebagai paman jauh dari pemuda bersurai coklat itu.

 

“Wonwoo harus mengingat Lucifer. Ia harus ingat apa yang Lucifer katakan. Lucifer sudah memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim(5) pada Wonwoo. Kau harus membuat Wonwoo mengingatnya!” Soonyoung menelan salivanya dalam. Tentu saja ini adalah tugas yang cukup sulit baginya. Ia bahkan tidak tertarik dengan Nephilim campuran itu.

 

“Tapi ada aura Pangeran Kegelapan Hades saat saya mencoba semakin mendekat ke arah Wonwoo.” Soonyoung bisa melihat ekspresi kaget di wajah sangar Jun. Soonyoung sangat yakin jika Jun tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan. Terbukti dengan aura dingin mengancam yang tiba-tiba saja memenuhi ruangan megah ini.

 

“Aku tidak ingin kau bercanda tentang hal seperti itu! Putra Hades tidak mungkin meninggalkan Dunia Bawah!” Soonyoung tertunduk. Enggan membantah pernyataan dari Jun. Mungkin juga ia salah mengira jika aura itu adalah milik Mingyu- sang Pangeran Dunia Bawah. Tapi Soonyoung sangat yakin jika itu adalah Mingyu. Bahkan Minghao yang saat itu menemaninya juga merasakan aura gelap Mingyu.

 

“Bawa Wonwoo secepatnya. Aku tidak ingin Verchiel memburu adikku satu-satunya.” Suara tegas yang terdengar menakutkan itu kembali membuat bulu kuduk Soonyoung merinding. Sungguh, ia tidak ingin berada di ruangan Jun lebih lama. Soonyoung tidak ingin cari mati.

 

“Baik, Jun-ssi.” Membungkuk hormat, sebelum akhirnya mulai berdiri dan berbalik menuju pintu kembar setinggi enam meter di depannya. Meninggalkan Jun yang sekarang kembali berkutat dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Jun tidak ingin Wonwoo di ambil oleh Verchiel. Malaikat utusan Tuhan yang sangat ingin memusnahkan seluruh Nephilim, dan juga Malaikat pembelot seperti dirinya.

Nephilim

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

a/n: Saya ingatkan. Lucifer itu bukan iblis yah awalnya. Lucifer itu adalah malaikat pertama yang di usir Tuhan dari surga. He’s fallen.

Semua chara yang masuk di sesuaikan dengan bias dan otp saya. wks

Strata dunia nanti ah. Belum secara menyeluruh ada kok di chap ini.

 

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu. Ada juga glousarium yang sangat tidak masuk akal. Karena beberapa istilah terinspirasi dari novel fallen. Ini juga keinspirasi sama novel fallen sih. Walaupun saya belum tamat baca itu novel. Padahal Aaronnya go hawt loh! Ada juga istilah yang saya ambil dari novel heroes olympus, serta magnus chase, untuk mendukung imajinasi kacau saya.

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

  • Some angels destinied to Fall –  

.

 

Kim Mingyu berjalan pelan menelusuri trotoar yang akan mengantarkannya ke daerah Gwanghwangmun. Sebenarnya Mingyu tidak tahu kenapa ia kembali ke daerah itu. Ini adalah wilayah tempat pemuda beraura angelik— Jeon Wonwoo- yang membuat Mingyu semakin penasaran. Aroma tubuh dari pemilik aura angelik itu menarik dirinya. Jujur saja, Mingyu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tidak pernah merasa tertarik oleh suatu hal yang membingungkan. Seperti saat ini. Mingyu hanya ingin berada di dekat Wonwoo. Pemuda itu bagaikan sebuah magnet. Padahal ia hanyalah seorang Nephilim. Darah dari sang malaikat pembelot mengalir di dalam pembuluh nadi Wonwoo. Dan Mingyu tentu tahu, darah siapa yang mengalir dalam pembuluh nadi Wonwoo. Seharusnya Mingyu tidak perlu berurusan dengan kaum malaikat pengikut Tuhan, dan juga beberapa pembelot. Mingyu tidak ingin dunia bumi yang ia cintai hancur jika ada perang antara para iblis dari dunia bawah, melawan para malaikat pimpinan Zeus.

 

“Mingyu-ssi, ayo kita pulang.” Suara cicitan kecil terdengar di telinga Mingyu. Itu adalah suara dari Yao- anjing labrador dengan api yang membalut tubuhnya. Tapi itu hanya transformasi jika di dunia bawah. Sekarang Yao hanyalah makhluk sekecil kutu yang menempel di bahu Mingyu.

 

“Bukankah aku menyuruhmu untuk pulang? Jangan mengikutiku.” Mingyu berkata pelan. Ia kembali berjalan menelusuri jalanan yang tanpa Mingyu sadari, dirinya sudah sampai di cafe yang terlihat di padati oleh pengunjung. Cafe dimana Wonwoo bekerja.

 

“Tidak, Mingyu-ssi. Saya tidak akan meninggalkan anda.” Mingyu menghela napas mendengar penuturan anjing itu. Dulu, ia tidak sengaja menemukan Yao yang berada di hulu sungai Plegethon. Kemudian menolong anjing malang itu ; yang tertindas oleh pengikut Ouranous(6). Sebelum akhirnya, Yao memutuskan untuk menjadi pelayan dari Mingyu.

 

“Terserah. Tapi aku tidak akan pulang.” Senyum simpul tercetak jelas di wajah Mingyu, saat manik obsidiannya menangkap jelas sosok Wonwoo yang sekarang sedang melayani pelanggan wanita di depan. Wonwoo terlihat sangat menawan saat memakai celana hitam denimnya dan juga kemeja berwarna putih yang membalut tubuh kecilnya. Fokus Mingyu hanya untuk Wonwoo. Ia terpesona dengan kecantikan Wonwoo. Mingyu bahkan mengabaikan celotehan dari Yao tentang kaum malaikat pembelot dan hal tidak penting lainnya. Demi Hades! Mingyu tidak peduli. Ia hanya peduli tentang Wonwoo yang sekarang adalah magnet untuk dirinya.

 

Langkah kaki di percepat. Mingyu mulai berjalan mendekat ke arah cafe yang sore ini di padati oleh banyak pengunjung. Ia bisa merasakan semua tatapan tertuju ke arahnya. Termasuk Wonwoo yang sekarang membulatkan matanya. Mulut pemuda bersurai coklat itu membulat. Seakan kaget dan tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap.

 

“Jeon Wonwoo.” Suara bariton mengalun dengan merdu. Bagaikan semilir angin musim semi untuk Wonwoo. Tubuh pemuda bersurai coklat itu membatu, saat jaraknya dengan Mingyu mulai menipis. Nampan berwarna coklat yang tadi ia pegang terlepas membentur lantai. Membuat seorang pelanggan wanita bersurai pirang memekik kaget, karena Wonwoo membanting nampan itu dengan keras.

 

“Apa kau mendengarku, Wonwoo?” Mingyu berbisik pelan di telinga Wonwoo. Bisikan menggelitik yang membuat darahnya mendesir. Wonwoo seakan lupa dengan apa yang seharusnya ia kerjakan. Wonwoo bahkan tidak peduli dengan gerutuan wanita yang ada di depannya sekarang. Ia hanya terfokus pada Mingyu.

 

“Mingyu-ssi? Apa yang kau lakukan disini?” Untuk beberapa detik, akhirnya Wonwoo bisa melontarkan pertanyaan yang ada di otaknya. Ia terlalu bingung dengan kehadiran Mingyu. Kenapa pemuda itu datang lagi? Padahal tadi malam Wonwoo mengatakan hal yang buruk padanya. Tidak seharusnya ia bertemu lagi dengan pemuda aneh yang mengaku berasal dari dunia bawah, dan juga berkata bahwa dirinya adalah seorang malaikat.

 

“Hanya ingin melihatmu.” Wonwoo bisa merasakan pipinya memanas saat mendengar penuturan datar dari Mingyu. Apalagi saat manik obsidian milik pemuda itu menatapnya dengan intens. Seakan Wonwoo adalah fokus satu-satunya untuk Mingyu. Pemuda bersurai hitam itu juga tidak peduli dengan bisikan kagum yang ada di sekelilingnya. Seharusnya Mingyu risih mendengar bisikan kagum dari para pelanggan untuknya. Seperti Wonwoo yang merasa risih saat di tatap seperti itu oleh Mingyu. Tatapan yang bisa membuatnya gugup tak karuan.

 

“Wonwoo-ya? Kenapa kau diam saja? E-eh? Ini temanmu?” Suara Jeonghan yang menggema terdengar keras. Membuat Wonwoo segera tersadar kembali dengan apa yang ia lakukan bersama Mingyu. Tidak seharusnya Wonwoo mengabaikan pelanggan, hanya karena Mingyu mendekat ke arahnya.

 

Dengan gerakan gugup, Wonwoo mulai menoleh ke arah suara Jeonghan berasal. Pemuda bersurai pirang itu berjalan menghampiri Wonwoo dengan senyum hangat miliknya yang mampu membuat semua pelanggan ikut tersenyum melihat Jeonghan. Setelah jaraknya dengan Wonwoo mulai dekat, kini Jeonghan mengamati dengan seksama pemuda bersurai hitam yang berdiri di depan Wonwoo. Senyum geli terukir di wajah manis Jeonghan saat melihat pemuda bersurai hitam yang menatap Wonwoo dengan pandangan mendamba. Jeonghan sangat yakin, jika pemuda itu menyukai Wonwoo. Ah. Selera Wonwoo memang sama dengannya. Sama-sama menyukai seme berparas tampan. E-eh. Apakah Seungcheol termasuk?

 

“Wonwoo-ya, kenapa kau tidak memberitahuku jika mempunyai teman setampan ini?” Jeonghan menggerutu ke arah Wonwoo, saat jaraknya dengan pemuda bersurai coklat itu hanya beberapa senti. Tangannya menarik Wonwoo menjauh dari Mingyu, dan membuat Wonwoo berada di dekatnya. Lengan Jeonghan merangkul mesra pundak Wonwoo. Membuat Mingyu menggeram tak suka.

 

“Lepaskan tanganmu dari Wonwoo.” Suara sarat akan ancaman itu terdengar menakutkan bagi Jeonghan. Tatapan tajam yang di lontarkan oleh Mingyu membuat tubuhnya bergetar takut. Refleks, ia melepaskan genggaman tangannya pada Wonwoo. Membiarkan Wonwoo di tarik ke dalam pelukan pemuda bersurai hitam yang sekarang masih memandangnya dengan pandangan membunuh.

 

“D-dia menakutkan.” Jeonghan menelan salivanya dalam saat merasakan aura tidak mengenakan di sekitar Mingyu. Jujur saja, Jeonghan masih menginginkan hidup damai tanpa kecaman membunuh seperti itu. Lebih baik ia segera melarikan diri. Jeonghan yakin, jika Wonwoo punya cara jitu tersendiri untuk menghadapi Mingyu.

 

“A-aku pergi saja.” Kemudian Jeonghan berbalik menjauh. Meninggalkan Mingyu dan juga Wonwoo di belakangnya. Membiarkan Wonwoo kembali bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Aura panas kembali terasa. Kontraksi otot-otot punggungnya kembali membuat Wonwoo meringis kesakitan. Tubuhnya mulai limbung. Kepala Wonwoo semakin terasa pening. Kemudian ia bisa merasakan tubuhnya melayang disertai bisikan lembut dari Mingyu, saat matanya mulai tertutup, dan tidak sadarkan diri.

 

“Pelindungmu melemah, Wonwoo-ya.”

.

oOo

.

 

Wonwoo mengerjapkan matanya dengan perlahan. Matanya yang tadi tertutup, kini mulai terbuka. Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali agar ia bisa menangkap dengan jelas apa yang ada di depannya sekarang. Retinanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sangat Wonwoo kenali. Itu adalah sosok Kim Mingyu. Pemuda itu duduk di sampingnya, dengan tangan yang menggenggam erat tangan Wonwoo. Tatapan penuh khawatir tercetak jelas di manik obsidian pemuda itu.

 

“Kau sudah sadar, Wonwoo?” Suara Mingyu membuat Wonwoo tersadar. Sekarang neuronnya sudah bekerja kembali. Wonwoo sedang berada di kamar apartemen miliknya. Tapi sejak kapan ia ada di sini? Dan kenapa pula Mingyu ada di kamarnya?

 

Wonwoo menoleh ke arah jam weker kecil yang ia simpan di nakas sebelah kiri. Matanya membulat saat menangkap angka di jam tersebut. Sekarang sudah jam sembilan. Sudah malam. Itu artinya shift kerjanya sudah berakhir sejak dua jam lalu. Sekarang ia ingat kenapa bisa berada di kamarnya. Mingyu pasti membawanya pulang ketika ia merasakan sakit di punggungnya, dan mulai tak sadarkan diri.

 

Wonwoo mulai mendudukkan dirinya di atas ranjang. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Mingyu. Matanya bersibobrok dengan obsidian yang sekarang menatapnya intens. Tatapan Mingyu selalu membuat Wonwoo tidak dapat mengalihkan fokusnya. Wonwoo seakan di suruh untuk menyelami keindahan manik obsidian Mingyu saat menatapnya.

 

“Kau membawaku kesini, Mingyu-ssi?” Wonwoo mencoba mendatarkan suaranya. Ia tidak ingin Mingyu tahu bahwa dirinya sedang gugup. “Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun? Tidak seharusnya kau masuk ke dalam rumah orang, Mingyu-ssi.” Delikan tajam Wonwoo hadiahkan pada Wonwoo. Tapi sayangnya Mingyu malah terkekeh melihat Wonwoo yang sedang memarahinya sekarang.

 

“Hey, seharusnya kau berterimakasih padaku Wonwoo-ya. Aku yang membawamu saat kau pingsan, karena pelindungmu melemah.” Tangan Mingyu terulur. Mengelus surai coklat Wonwoo dengan perlahan. Mingyu bisa melihat ekspresi Wonwoo mulai berubah. Pemuda bersurai coklat itu mengerutkan alisnya bingung. Seakan tidak mengerti dengan apa yang Mingyu ucapkan.

 

“Apa kau tidak tahu jika dirimu adalah Nephilim, Wonwoo? Kau sering mengalami sakit di punggung dan pingsan. Itu karena pelindungmu mulai melemah.” Mingyu mendengus. Tidak habis pikir jika Wonwoo sama sekali tidak tahu jati dirinya. Mungkin Mingyu memang tidak bisa menyalahkan Wonwoo karena hal ini. Pemuda bersurai coklat itu jelas di pasangi oleh pelindung. Membuat dirinya tidak akan mengalami transformasi sebagai Nephilim seutuhnya.

 

“Kau menyebutku Nephilim? Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ucapanmu, Mingyu-ssi!” Suara Wonwoo mengeras. Menandakan ia benar-benar kesal dengan semua penuturan Mingyu. Wonwoo sama sekali tidak tahu apa itu Nephilim. Kenapa setiap ia bertemu dengan Mingyu, pemuda itu selalu mengatakan hal aneh tentang dirinya? Wonwoo itu manusia biasa, bukan seorang Nephilim seperti yang Mingyu katakan.

 

Wonwoo menatap tak suka ke arah Mingyu yang sekarang membalas tatapan tajamnya. Seakan tidak takut dengan tatapan itu. Mungkin di mata Mingyu, delikan tajam Wonwoo malah mirip seperti bocah yang sedang merajuk.

 

“Apa kau ingin aku menghilangkan penghalang ini, Wonwoo-ya?” Seringaian licik tercetak di wajah tampan Mingyu. Tubuh pemuda bersurai hitam itu mulai mendekat ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo memundurkan tubuhnya, hingga bertabrakan dengan kepala ranjang. Wonwoo bisa merasakan aura berbahaya mulai menguar dari tubuh Mingyu.

 

Tangan Mingyu bergerak menyentuh pipi Wonwoo dengan gerakan pelan. Mengelusnya dengan gerakan lembut, yang membuat Wonwoo hanyut dalam sentuhan hangat itu. Darahnya kembali berdesir, dengan jantung yang berdetak dua kali lipat, saat Mingyu menarik dagunya hingga ia mengadah ke arah pemuda bersurai hitam itu. Kedua mata saling beradu. Jarak mereka semakin menipis. Mingyu menghilangkan jaraknya dengan Wonwoo. Bibirnya mulai menyentuh bibir ranum Wonwoo. Mengecupnya berkali-kali. Sebelum melumatnya dengan perlahan. Bagaikan permen manis yang pernah Mingyu makan di dunia manusia pertama kali. Bibir Wonwoo sangat manis, membuatnya tidak bisa berhenti untuk mengecap rasa manis yang ada di bibir pemuda bersurai coklat itu.

 

“Nghh…” Wonwoo mengerang pelan, saat Mingyu membelit lidahnya dan mengulumnya dengan penuh gairah. Tubuh Wonwoo kembali panas hanya karena sentuhan dari Mingyu. Ciuman ini membuat Wonwoo hilang akal. Ia bahkan membalas lumatan yang Mingyu berikan. Wonwoo tidak pernah di cium seperti ini. Ini adalah pertama kali untuk Wonwoo, dan ia menyukai sensasi ciuman yang di berikan oleh Mingyu.

 

“Mhhh..” Desahan tertahan milik Wonwoo membuat Mingyu tersenyum senang dalam ciuman mereka. Mingyu bisa merasakan tangan Wonwoo mengalung indah di lehernya, dan menariknya semakin dekat. Hingga tubuh mereka terjatuh di atas ranjang, dengan Mingyu yang menindih tubuh mungil pemuda bersurai coklat yang masih asik melumat bibirnya.

 

“Anhhh…” Wonwoo memekik keras. Melepaskan ciumannya dengan Mingyu secara paksa, saat kontraksi di punggungnya kembali hadir. Rasa sakit itu muncul. Beserta pergerakan otot punggung yang seakan bergeser dari persendiannya sendiri.

 

“Apa kau ingin aku menghilangkannya, Wonu-ya?” Bisikan seduktif Mingyu terdengar bagaikan penenang untuk Wonwoo. Ia bisa merasakan herpaan napas panas Mingyu di lehernya. Lidah tak bertulang Mingyu terjulur. Menjilat leher jenjang Wonwoo, sebelum akhirnya menghisapnya dengan pelan. Meninggalkan tanda yang sangat kontras di leher pemuda bersurai coklat itu. Wonwoo juga dapat meraskan tangan Mingyu menelesup masuk melalui celah kemejanya, sebelum akhirnya kemeja itu sobek dan dada polos Wonwoo terpampang jelas di hadapan Mingyu.

 

“S-sakithh…” Ringisan Wonwoo kembali terdengar. Ini terlalu menyakitkan. Wonwoo tidak menyukai rasa sakit yang di timbulkan punggungnya.

 

“Jika kau ingin aku menghilangkan rasa sakit ini sepenuhnya, kau akan terikat selamanya bersamaku Jeon Wonwoo.” Dan setelahnya, Mingyu tersenyum senang karena melihat Wonwoo menganggukkan kepalanya tanda setuju.

 

Kepala Mingyu bergerak ke arah leher Wonwoo. Mengecup lembut leher jenjang pemuda bersurai coklat itu berkali-kali, sebelum akhirnya meninggalkan jejak kemerahan di sana. Wonwoo mengerang saat lidah Mingyu bermain di lehernya. Membuat getaran di dalam tubuhnya semakin menjadi. Juga gerakan aneh di punggungnya yang bergerak liar tak karuan. Bagaikan daging di dalam punggungnya bergerak keluar dari persendian.

 

“Akan ku perlihatkan bagaimana wujud aslimu, Wonu-ya.” Mingyu berbisik pelan di telinga Wonwoo. Pemuda bersurai hitam itu mulai menggerakan tangannya. Mengelus punggung Wonwoo yang polos dengan gerakan lembut. Sebelum akhirnya tangan Mingyu berhenti di tulang punggung Wonwoo. Menekannya dengan cukup keras. Membuat si surai coklat itu berteriak kesakitan.

 

“Arghhhtt…” Jeritan Wonwoo menggema di ruangan itu. Di iringi dengan suara gebrakan otot-otot punggungnya yang mencuat. Membentuk sebuah sayap berwarna putih yang membentang indah di balik punggung Wonwoo. Daging telanjang yang membentang di punggung Wonwoo terasa sangat membara saat bentuk-bentuk arkais itu bermunculan di atas permukaan sigil-sigil putihnya. Sungguh. Itu adalah sayap malaikat terindah yang pernah Mingyu lihat selama ia hidup. Sayap Wonwoo begitu hidup, dan sigil-sigil berukir arkais itu tidak bisa ia lewatkan begitu saja. Simbol arkais menandakan malaikat terkuat yang mewakili prajurit elite.

 

“Ini adalah wujud asli dirimu, Jeon Wonwoo.” Mingyu mengelus pelan sayap yang membentang di belakang punggung Wonwoo dengan pelan. Mingyu tidak tahu apa yang di pikirkan Wonwoo saat ini. Pemuda itu terdiam di dalam pelukannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dirinya alami. Mata Wonwoo terlihat kosong. Mingyu sangat yakin jika Wonwoo mengira ini semua adalah mimpi buruk baginya.

 

“Ini adalah wujud aslimu sebagai Nephilim. Ingat Wonu-ya, kau milikku sekarang.” Tubuh bersayap itu di rengkuh dengan pelan oleh Mingyu. Membuat sayap-sayap di balik punggung Wonwoo menyusut kembali. Sigil-sigil di permukaan kulit Wonwoo mulai menghilang. “Kau akan mengingat semuanya.” Dan setelahnya, Wonwoo memejamkan mata. Sebelum kehilangan kesadaran atas dirinya.

 

.

oOo

.

 

Jeon Wonwoo berjalan perlahan menuju area taman yang ada di area fakultas sastra di kampusnya. Hari ini ia tidak ada jadwal bekerja di cafe. Wonwoo sedang libur. Sekarang ia harus mengerjakan tugasnya di perpustakan untuk mencari referensi. Walaupun hari ini sudah sore, Wonwoo tidak peduli. Ia hanya ingin tugasnya selesai, dan juga melupakan soal Mingyu. Kejadian dua hari yang lalu bagaikan mimpi untuk Wonwoo. Ia tidak percaya dengan sayap yang tiba-tiba tumbuh di belakang punggungnya. Membentang dengan lebar, dan kemudian menyusut kembali akibat sentuhan hangat dari Mingyu. Sebenarnya Wonwoo ingin tahu tentang Mingyu. Kenapa pemuda itu mengetahui segala hal tentang dirinya? Siapa pemuda itu sebenarnya? Mereka hanya bertemu beberapa kali. Tapi Mingyu selalu ada di saat Wonwoo membutuhkan pertolongan.

 

“Hah..” Menghela napas pelan, sebelum memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman kecil itu. Entah kenapa niat Wonwoo untuk mengerjakan tugas di perpustakaan yang berada di fakultas sastra tiba-tiba saja lenyap begitu saja, akibat mengingat kembali Mingyu. Sekarang Wonwoo merasa gila karena tidak bisa menemukan kembali sosok Mingyu yang biasanya selalu berdiri di balkon apartemen. Ia merasa merindukan sosok pemuda bersurai hitam itu. Tidak seharusnya Wonwoo merasakan hal menggelikan seperti ini pada seorang pria. Sepertinya Mingyu membawa dampak negatif bagi Wonwoo.

 

“Ya Tuhan, ini menyebalkan!” Wonwoo menggerutu dengan keras, sambil menendang sebuah batu kecil. Tidak ada siapapun di area taman fakultas sastra. Jadi Wonwoo tidak perlu takut jika batu kecil yang di tendangnya akan menendang mahasiswa yang lewat di depannya.

 

Wonwoo mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Ia tidak pernah tahu jika taman ini akan menjadi sangat sepi saat jam enam sore seperti ini. Mungkin saja semua orang yang ada di kampus sudah tidak ada lagi di sana. Ini menjadi dua kali menyebalkan, karena Wonwoo baru sadar jika hari sudah sesore ini. Tidak mungkin ada penjaga perpustakaan sekarang.

 

Pemuda bersurai coklat itu mulai berdiri dari duduknya. Wonwoo memutuskan untuk pulang, dan mengerjakan tugasnya di apartemen saja. Pikirannya malah kacau saat berada di sini, dan itu menyebalkan. Dengan langkah gontai, ia mulai berjalan berbalik meninggalkan fakultas sastra di belakangnya. Angin musim semi bertiup sangat kencang. Menerpa wajah Wonwoo, sehingga ia harus menutup kedua matanya agar debu tidak masuk.

 

Badan Wonwoo bergerak mundur ke belakang akibat angin kencang itu. Dari sipitan matanya, Wonwoo bisa melihat sesosok pria yang di kelilingi oleh pusaran angin akibat kepakan sayap yang membentang di belakang punggungnya. Sayap berwarna hitam itu memukul udara dengan pelan kali ini. Hingga bunyi deru angin semakin memelan, dan tidak lagi membuat pusaran debu di sekeliling taman itu.

 

“Jeon Wonwoo…” Suara bernada berat itu memanggil Wonwoo dengan penuh kecaman.

 

Wonwoo bisa merasakan waktu berhenti saat ini. Ia tidak tahu kenapa bisa mengetahui jika waktu berhenti. Hanya saja, Wonwoo bisa merasakan dengan jelas jika udara di sekelilingnya menghilang. Tidak ada bunyi lain lagi di tempat ini. Aura kehidupan seolah menghilang, dan Wonwoo hanya bisa merasakan dirinya sendiri di tempat itu. Kemudian pemuda bersurai coklat itu mulai membuka matanya dengan pelan. Berharap jika apa yang telah retinanya tadi tangkap adalah kamuflase, dan delusi Wonwoo yang terlalu berlebihan. Tapi sayangnya, apa yang di tangkap oleh fokus Wonwoo itu nyata. Ia bisa melihat sosok pria berbalut kaos orange dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya. Sayap berwarna hitam mengepak dengan sangat indah. Sigil-sigil sayap pria bersurai orange dengan wajah tegas itu terlihat sangat indah di mata Wonwoo.

 

“Si-siapa kau?” Wonwoo bertanya dengan tergagap. Lidahnya terasa sangat kelu saat ini. Ia benar-benar tidak percaya jika apa yang di lihatnya adalah nyata. Jika bisa, Wonwoo ingin meyakinkan dirinya bahwa ini semua adalah mimpi. Tapi sejak Mingyu memberitahunya, semua keinginan itu seakan menghilang dengan sekejap. Mungkin eksistensi akan malaikat dan makluk lainnya akan Wonwoo percaya. Karena ternyata makluk seperti itu memang ada dan nyata.

 

“Kwon Soonyoung. Kau adalah adik dari Wen Jun Hui, Jeon Wonwoo.” Soonyoung mendekat sambil menyusutkan sayap di belakang punggungnya. Membuatnya menjadi manusia normal biasa yang berasal dari dunia manusia.

 

“Ikut bersamaku, Wonwoo-ssi. Aku akan membuatmu mengingat segalanya, dan menjauhkan dirimu dari Verchiel.” Tangan Soonyoung terulur ke arah Wonwoo. Membuat pemuda bersurai coklat itu memundurkan tubuhnya dengan refleks.

 

Soonyoung menyunggingkan sebuah senyum tipis di wajahnya. Ia tentu mengerti jika Wonwoo takut padanya. Wonwoo yang seorang manusia biasa dan tidak mengetahui jati diri yang sebenarnya tentu akan ketakutan melihat sosok Soonyoung yang merupakan malaikat pembelot. Soonyoung yakin jika Wonwoo sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang di lihatnya adalah sebuah kenyataan.

 

“Tidak usah takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu, Wonwoo-ssi. Apa kau tidak ingat dengan Park Chanyeol?” Mata Wonwoo membulat mendengar pertanyaan dari Soonyoung. Kenapa bisa pria asing itu tahu tentang Chanyeol ahjussi? Paman yang sudah Wonwoo anggap sebagai ayahnya itu menghilang tujuh tahun lalu tanpa ada kabar sedikitpun. Sekarang Wonwoo berharap jika pria bersurai blonde ini mengetahui keberadaan pamannya itu.

 

“Apa kau tahu di mana pamanku berada?” Wonwoo bertanya penuh antusias. Tapi Soonyoung malah tersenyum kecut sekarang, dan memperlihatkan wajah penuh penyesalan.

 

“Jika kau ingin tahu jawabannya, kau harus ikut bersamaku. Bertemu dengan Jun.” Suara Soonyoung terdengar sangat meyakinkan di telinga Wonwoo. Tentu saja ia sangat penasaran dengan keberadaan pamannya yang tiba-tiba saja menghilang. Wonwoo ingin bertemu dengan Chanyeol lagi. Sosok Chanyeol sangat berharga bagi Wonwoo. Jika benar Soonyoung akan membawanya bertemu dengan Chanyeol, maka Wonwoo akan menerjang rasa takut yang sekarang singgah di hatinya.

 

“Bawa aku, Soonyoung -ssi.” Pernyataan Wonwoo di hadiahi senyuman tipis dari Soonyoung. Kemudian pria bersurai blonde itu mengeluarkan kembali sayap hitam di balik punggungnya. Sayap hitam yang membentang dengan lebar, sebelum akhirnya memukul udara dan kembali membuat pusaran angin kecil.

 

“Kemarilah, Wonwoo-ssi.” Tangan Soonyoung terulur. Membuat Wonwoo meraihnya dengan pelan. Hingga sekarang ia berada dalam kungkungan Soonyoung yang membawa tubuh kecil Wonwoo terbalut oleh sigil-sigil sayap Soonyoung. Lalu menghilang. Meninggalkan tanah di bawah mereka.

 

 

TeBeCe

 

Glousarium :

  1. Aerie : Dunia para malaikat pembelot Tuhan

 

  1. Lucifer : Pemimpin para malaikat pembelot Tuhan
  2. Elf : Kaum Fairy

 

 

  1. Alfheim : Dunia para elf, fairy, fallen angel

 

  1. Zeus : Tuhan. Dewa Penguasa Langit Dunia Atas manusia

 

 

  1. Nephilim : Manusia setengah malaikat. Mempunyai kekuatan malaikat di dalam dirinya.

 

  1. Ouranous : Raksasa yang ada di Dunia Bawah. Bangsa Titan.

 

Dan juga jika kalian berkenan. Bisa kah kalian berkomentar apakah fict ini terkesan lame, dan apa feel kalian dapet ga pas baca cerita ini? jujur saya agak kurang pede dengan tulisan saya. Semacam mau cari jati diri saya dalam menulis. Apa ini layak di baca, atau tidak sama sekali. Onegaisimasu-ssu!

Well. Saya selesai dengan Glousarium. Ada beberapa Glousarium yang saya sesuaikan dengan imajinasi saya.

 

Saya lagi semangat edit ini. karena emang greget dan butuh asupan tersendiri buat Meanie wkwk. Fict lain sabar aja yah. Wkwk. Mood gue belum dapet. Bwahaha.

 

So, Mind To Review?

 

 

Astia Morichan

 

Nephilim | Meanie Couple | Yaoi | Fantasy | Prince Of Dark X Angel

0

Kim Mingyu menatap tajam sosok pria paruh baya bersurai hitam yang mirip dengannya . Pria itu duduk dengan gagah di kursi kebanggaan miliknya yang berada di depan altar dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi di sampingnya. Tidak lupa dengan baju zirah yang melekat di tubuh pria berwibawa- Kim Kyuhyun- Ayah Mingyu yang merupakan penguasa Dunia Bawah. Kyuhyun lebih di kenal sebagai Dewa Hades(1) bagi para manusia. Sedangkan Mingyu adalah anak semata wayangnya dari Persephone (2).

Aku bosan di sini Ayah.” Ucap Mingyu. Manik obisidiannya masih menatap Kyuhyun dengan tajam. Seakan menyuruh agar Ayahnya itu mengerti keinginan yang sudah lama Mingyu pendam. Jujur saja, Mingyu bosan tinggal di Dunia bawah, atau paling tepatnya neraka. Mingyu juga sudah lelah jika setiap hari harus melihat sungai phlegethon(3), acheron(4), lethe(5), padangasphodel(6) dan juga padang hukuman(7) – dimana roh-roh orang jahat berteriak kesakitan, dan meminta tolong pada Mingyu untuk di bebaskan dari rasa sakit.

Apa yang ingin anda lakukan, Mingyu-ssi?” Hong Jisoo – sang Thanatos(8) yang merupakan abdi dari sang ayah bertanya. Mingyu mendelik- menatap tak suka ke arah Jisoo yang selalu menggangu rencana miliknya. Jisoo memang selalu curiga pada Mingyu. Padahal Jisoo hanya abdi dari sang ayah yang sama sekali tidak berpengaruh bagi Kerajaan di Dunia Bawah.

Bukan urusanmu.” Mingyu melirik sekilas ke arah Jisoo. Kemudian ia kembali menatap sang ayah yang masih terdiam. Tidak mengubris keinginan Mingyu sama sekali.

Aku akan pergi ke dunia manusia. Bersama para roh orang mati bisa membuatku gila.” Dan tanpa meminta persetujuan siapapun, Mingyu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang singgsana ayahnya. Mingyu hanya ingin segera pergi ke pintu ajal(9)- yang menghubungkan dunia fana dengan dunia bawah. Mingyu memang sudah merencanakan hal ini sejak dulu. Ia ingin menghirup udara bebas, dan tinggal di dunia fana. Meninggalkan dunia bawah yang kelam dimana hanya di tinggali oleh dirinya, ayah, ibu dan juga beberapa abdi dari sang ayah. Mingyu juga akan meninggalkan semua roh orang mati yang di ada di padang hukuman agar berhenti mengikutinya. Mungkin jika di dunia fana, Mingyu tidak akan bertemu lagi dengan kerangka orang mati, dan para roh yang masih mempunyai urusan manusiawi. Walaupun Mingyu masih mempunyai kekuatan untuk memanggil pasukan zombie dengan kerangkanya saja untuk melindungi Mingyu jika terdesak bahaya. Seperti di incar oleh Zeus, dan juga beberapa makluk ghaib yang mengincar nyawa pangeran kegelapan untuk menguasai dunia fana.

Nephilim

RM 18!

Romance, Fantasy, Drama, Supernatural

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

Kim Mingyu sang Pangeran Kegelapan—Putra Hades memutuskan untuk pergi ke dunia fana. Di sana, ia bertemu dengan Jeon Wonwoo- manusia dengan paras cantik yang mempunyai aura angelik dalam dirinya. Wonwoo bahkan tidak tahu siapa dirinya jika ia tidak di pertemukan dengan Mingyu. Apalagi ketika pasukan bersayap menyerang Wonwoo, dan Mingyu yang menolongnya setiap saat.

Susunan strata makluk immortal saya jelasin nanti.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

a/n: FF ini adalah rombakan dari FF saya yang Prince Of The Dark. Saya ubah jadi Meanie. Karena yang PoF itu FF event yang failed karena seharusnya FF itu berakhir dengan 12 chap sesuai alur cerita. Karena kemarin pof akakuro deadline. Tamatnya ga banget. Dan akhirnya saya mutusin buat lanjutin ini dalam versi Meanie. Karena kalo di lanjut ke akakuro. Mereka udah klaim tamatnya seperti itu.

Over all yang versi Meanie dari chap 3 dan seterusnya bakal beda dari yang AkaKuro.

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari Fanfict ini. ini hanya untuk kesenangan writer abal macam saya saja.

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

Jeon Wonwoo berjalan gontai menuju lift yang akan mengantar tubuh letihnya ke sebuah kamar apartemen usang yang berada di lantai tujuh gedung bertingkat ini. Wonwoo merasa tubuhnya remuk sekarang, karena seharian ini ia harus bekerja part time di dua tempat. Ketika pagi menjelang, ia juga harus kembali belajar di kampusnya. Wonwoo sudah semester empat sekarang. Ia harus rajin belajar, dan juga mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Karena Wonwoo tidak ingin merepotkan bibi-nya yang ada di Busan. Wonwoo sudah kehilangan orangtuanya sejak berumur dua tahun. Ia bahkan tidak ingat sama sekali wajah sang ibu yang melahirkannya. Wonwoo hanya tahu wajah ibunya di foto. Begitu pun dengan sang ayah yang tidak pernah Wonwoo kenali. Terkadang Wonwoo merasa hidupnya tidak adil. Tapi ia memang harus merasa bersyukur pada Tuhan karena membiarkannya hidup sampai detik ini. Wonwoo masih mempunyai banyak impian, dan Wonwoo berharap impiannya terkabul satu persatu dari usaha yang selama ini ia lakukan.

“Hah..” Wonwoo menghela napasnya pelan saat ia sudah sampai berada di depan pintu apartemen kecil miliknya. Tangannya bergerak untuk memasukkan kunci dan mulai membukanya. Kemudian beralih meraih kenop pintu, lalu membukanya perlahan. Bunyi pintu berderit terdengar. Menandakan bahwa pintu itu terbuka. Karena Wonwoo tidak ingin mengganggu tetangganya yang pasti sudah tertidur lelap sekarang.

Wonwoo mulai melangkah masuk ke dalam. Baru saja satu langkah Wonwoo masuk, ekor matanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang berdiri sepuluh meter dari tempatnya. Ketika Wonwoo mulai berbalik, ternyata pemuda itu sedang berdiri di ujung lorong—di samping lift dan menatap pemandangan kota lewat jendela besar di sana. Wonwoo tidak mengenal sosok itu. Baru kali ini Wonwoo melihatnya.

Mungkinkah tetangga barunya? Tapi setahu Wonwoo, semua kamar yang ada di lantai tujuh itu sudah penuh. Jadi tidak mungkin ada penghuni baru di sini. Kecuali tamu, tentu saja. Ah. Memikirkannya malah membuat Wonwoo pusing. Lebih baik ia segera masuk ke dalam, dan mengabaikan pemuda itu. Lagi pula, Wonwoo memang tidak mengenalnya. Jadi bukan masalah bagi Wonwoo jika ia bersikap tidak peduli seperti sekarang. Wonwoo hanya tidak ingin berpikiran buruk tentang lelaki itu.

Wonwoo menganggukan kepalanya pelan. Meyakinkan dirinya, jika pemuda itu bukanlah orang jahat. Kemudian Wonwoo kembali berbalik, dan mulai masuk ke dalam apartemen mungilnya. Apartemen Wonwoo memang sangat sederhana. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan juga dapur yang menyatu bersama ruang tengah. Baginya apartemen ini sudah cukup. Lagi pula harga sewanya sangat murah, jadi Wonwoo merasa sangat betah tinggal di sini.

“A-ah.. Sebaiknya aku tidur.” Wonwoo mulai melepaskan backpack kecil miliknya, dan menyimpannya di sofa. Kemudian ia berjalan ke arah kamar, dan berganti pakaian dengan piyama berwarna biru. Wonwoo tidak ingin mandi, ia hanya menyikat gigi dan membasuh wajahnya saja. Cuaca malam ini sangat dingin, ia tidak ingin mati kedinginan karena berendam. Jadi Wonwoo memutuskan untuk segera tidur, dan menjelajahi mimpinya. Walaupun dirinya sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Mimpi dimana ia mempunyai sayap, dan di kejar oleh beberapa pasukan bersayap yang mengincar nyawanya.

.

oOo

.

Wonwoo berlari kecil menuju cafe yang berada di perempatan jalan Gwanghwamun. Wonwoo mendapat shift sore hari ini, dan ia malah terlambat datang ke tempat kerjanya karena harus membantu Seokmin Seongsaeng- Dosen menyebalkan yang selalu menyuruh Wonwoo ini dan itu. Walaupun Wonwoo juga tidak keberatan, karena Seokmin adalah orang yang baik padanya.

“Hah.. Hah..” Napas Wonwoo tersenggal saat ia sampai di depan pintu cafe. Di sana sudah ada Yoon Jeonghan yang sudah memakai kemeja putih dan juga celana hitam panjang, sambil membawa sebuah nampan berisi jus pesanan pelanggan—menatap Wonwoo dengan padangan heran. Seolah berkata ‘Kenapa kau terlambat?’

“Maaf atas keterlambatanku.” Wonwoo membungkukan tubuhnya ke arah Chwe Hansol- pemilik cafe yang menjadi bos Wonwoo. Pria berparas western itu mulai mendekat ke arah Wonwoo. Wajah stoic milik Hansol memang tidak pernah bisa terbaca oleh pikiran Wonwoo.

“Kenapa kau terlambat Wonwoo? Kau tahu kan jika cafe selalu di padati pelanggan ?” Wonwoo menunduk. Enggan menatap bosnya yang sekarang mengurut pelipisnya. “Sudahlah. Cepat ganti pakaianmu. Banyak pekerjaan yang menunggumu, Wonwoo-ya.” Kemudian Hansol berbalik. Meninggalkan Wonwoo yang sekarang bisa menghela napas lega. Jujur saja, Wonwoo sudah sering datang terlambat ke cafe. Maka dari itu ia selalu di omeli oleh Hansol akibat keterlambatan yang sama sekali tidak Wonwoo recanakan.

“Maafkan aku, Sunbae.” Ucap Wonwoo penuh penyesalan saat Hansol sudah menjauh dari pandangannya. Kemudian Wonwoo segera pergi ke belakang dapur. Ada ruang ganti di sana, dan Wonwoo harus segera berganti baju. Hanya butuh beberapa menit bagi Wonwoo untuk mengganti kaos berwarna birunya, dengan kemeja berwarna putih yang Wonwoo gulung seperempat lengannya. Celana jeans levis di ganti oleh celana denim berwarna hitam yang terlihat pas di kaki jenjang pemuda bersurai coklat itu. Tidak lupa dengan celemek berwarna hitam senada dengan celananya melingkar di pinggang Wonwoo. Setelah merasa cukup rapi, Wonwoo segera meninggalkan ruang ganti, dan pergi menuju dapur. Di dapur, semua orang terlihat sangat sibuk mengantarkan pesanan. Jihoon- yang merupakan koki kedua pun nampak sangat sibuk karena sepertinya Seungkwan- kekasih Hansol tidak ada dapur. Jadi Jihoon yang harus mengcover semua pesanan pelanggan.

“Wonwoo-ya, kau melayani pelanggan saja dan mengantarkan pesanan. Masih banyak yang belum di layani di luar cafe.” Hansol yang kini sibuk menyiapkan berbagai minuman, berteriak ke arah Wonwoo.

“Baiklah.” Tanpa menunggu lebih lama, Wonwoo segera melesat pergi meninggalkan dapur. Ia mulai menghampiri beberapa pelanggan yang duduk di luar bisa melihat mereka menggerutu karena masih belum bisa memesan. Mereka adalah empat orang gadis berseragam SMA yang duduk di pojok- tepat di belakang taman. Mungkin mereka memilih latar paling bagus di cafe ini. Karena jika mereka duduk di sana, akan terbentang taman yang cukup besar. Dengan pepohonan yang menjulang tinggi di segala penjuru. Nuansa hijau yang sarat akan hutan akan terasa jika duduk di sana. Cafe ini memang terkenal karena mempunyai latar hutan yang menarik. Setahu Wonwoo, Hansol membangun cafe bertemakan hutan ini untuk Seungkwan- sebagai hadiah anniversary mereka.

“Maaf. Apa ada yang ingin anda pesan?” Wonwoo memamerkan senyum menawan miliknya. Membuat empat orang gadis yang tadi sedang menggerutu terdiam saat melihat senyum Wonwoo. Mereka seolah terhipnotis oleh senyuman Wonwoo yang mempunyai magis tersendiri.

“I-iya. Ehm.. Siapa namamu?” Bukannya memesan, gadis bersurai pirang bertanya nama Wonwoo dengan pipinya yang merona, ketika Wonwoo menyodorkan menu makanan di atas meja.

“Jeon Wonwoo.” Wonwoo tersenyum simpul ke arah gadis itu. Wonwoo bisa melihat wajah gadis itu memerah sempurna. Ah. Mungkin saja gadis itu sedang sakit. Ia tidak ingin ambil pusing.

“Kau bisa memanggilku lagi jika sudah selesai memesan, Nona.” Wonwoo membungkuk perlahan, sebelum menjauh dari kerumunan para gadis yang masih terpesona akan wajah Wonwoo. Well. Jangan salahkan Wonwoo jika ia mempunyai senyum menawan yang mampu memikat semua orang. Ini adalah hal yang biasa jika ada para gadis, bahkan pria menanyakan perihal Wonwoo.

“Hey.. Wonwoo-ya !” Suara bass dengan nada berat yang sangat Wonwoo kenali itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Wonwoo bisa melihat sosok pemuda bersurai hitam sedang melambaikan tangannya. Pemuda itu- Choi Seungcheol- Sahabat sekaligus pacar dari Jeonghan- sedang duduk di kursi luar baris pertama.

“Halo, Hyung.” Wonwoo berjalan mendekat ke arah Seungcheol yang sekarang tersenyum lebar ke arahnya.

“Wonwoo-ya, apa kau melihat Jeonghan? Aku sudah menunggunya di sini setengah jam. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya.” Seungcheol menghela napasnya lelah. Raut wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi muram saat mengingat Jeonghan. Wonwoo yakin, jika mereka sedang bertengkar. Ia juga sudah tidak melihat Jeonghan melayani beberapa pelanggan. Biasanya Jeonghan selalu ada di depan, dan suara tawanya yang khas selalu terdengar.

“Tadi aku melihatnya. Apa kau bertengkar dengan Jeonghan Hyung?” Wonwoo mengedarkan pandangannya. Meneliti ke segala penjuru. Siapa tahu ia bisa melihat sosok Jeonghan dan juga beberapa pelanggan yang harus Wonwoo tulis pesanannya.

“Aku bertengkar dengannya. Jika kau bertemu dengan Jeonghan di dalam, bisakah kau memberitahunya aku ada di sini?” Seungcheol menatap Wonwoo penuh harap. Wonwoo hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Tentu saja, Hyung. Apa kau ingin memesan juga?” Wonwoo bertanya, dan di hadiahi anggukan pelan dari Seungcheol.

Americano saja.” Wonwoo mengeluarkan sebuah memo kecil bersama pulpen yang ia simpan di saku celemek. Kemudian tangannya bergerak di atas kertas untuk menulis pesanan Seungcheol. Sebelum mulai mengangguk setelah selesai menulis pesanan Seungcheol.

“Baiklah. Tunggu sebentar, Hyung.” Dan Wonwoo mulai berbalik menjauh dari Seungcheol. Ia berniat untuk segera kembali ke dalam cafe dan membawa pesanan temannya itu. Tapi tatapan Wonwoo terpaku pada dua sosok lelaki dengan jubah hitam yang berada di balik pohon palm, menatap Wonwoo tajam. Dari jarak seperti ini, Wonwoo bisa melihat mata kedua sosok itu berwarna semerah darah. Wonwoo juga bisa melihat salah satu sosok lelaki itu menggerakan mulutnya dan Wonwoo seakan mengerti dengan apa yang di ucapkan mereka. Seolah berkata ‘Nephilim. Kita menemukannya.’

Tubuh Wonwoo menegang dengan cepat, matanya membulat sempurna saat melihat tonjolan daging berbentuk sayap keluar dari punggung kedua orang itu. Sayapnya berwarna hitam pekat membentang lebar. Wonwoo bahkan bisa merasakan angin kecil menerpa wajahnya saat kedua sosok itu memukul udara dengan sayap mereka. Sebelum akhirnya mereka terbang dengan tatapan intens yang terarah pada Wonwoo.

“Hey.. Wonu-ya?” Suara Seungcheol tidak terdengar lagi oleh Wonwoo. Pikiran Wonwoo mulai kosong. Darahnya berdesir. Tubuh Wonwoo mulai memanas ketika ia merasakan otot-otot punggungnya menegang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Wonwoo hanya tahu jika ia tidak bisa merasakan apapun, dan semuanya gelap. Wonwoo masih bisa mendengar teriakan panik dari orang-orang, dan juga suara Seungcheol berserta Jeonghan dan Hansol yang memanggil dirinya agar tetap sadar.

.

oOo

.

“Hey.. Wonwoo-ya.. Apa kau tidak ingin bangun?” Suara Jeonghan terdengar khawatir saat melihat Wonwoo terbaring lemah di hadapannya. Sejak tadi, Jeonghan mengguncangkan bahu Wonwoo dengan gerakan pelan. Berharap jika Wonwoo akan bangun dari pingsannya. Wonwoo sudah pingsan selama satu jam, dan ia sangat khawatir dengan keadaan Wonwoo yang seperti ini. Sejak tadi Jeonghan bahkan mengabaikan gerutuan dari Seungcheol, karena Jeonghan tidak ingin membawa Wonwoo dulu ke klinik yang ada di depan persimpangan. Karena jika Jeonghan melakukan itu, pengunjung yang ada di cafe akan terganggu. Jadi Jeonghan memutuskan untuk memanggil seorang dokter yang bernama Hwang Minhyun- Dokter muda berparas tampan yang sekarang memeriksa keadaan Wonwoo yang berbaring lemah di atas single bed yang ada di rest room cafe ini.

“Dia hanya kecapean saja. Kau tidak usah khawatir. Aku akan memberinya beberapa obat vitamin.” Minhyun menyimpan kembali stetoskop ke dalam tas hitam miliknya. Kemudian pria bersurai kecoklatan itu mengeluarkan sebuah bolpoint di sertai kertas memo kecil. Tangan Minhyun bergerak lincah di atas kertas. Menulis beberapa kata yang Jeonghan yakini adalah resep obat yang harus ia tebus untuk Wonwoo.

“Kau bisa membeli resep ini di klinik depan. Aku harap kau bisa menjaganya. Dia mungkin sedang tertekan oleh sesuatu. Jangan sampai membuatnya tertekan dan stress.” Minhyun mulai berdiri sambil merapihkan kemeja hitam miliknya yang sama sekali tidak kusut. Kemudian ia membungkuk untuk pamit. Di sertai oleh senyuman Jeonghan, dan delikan tajam dari Seungcheol.

“Terimakasih, Minhyun-ssi.” Minhyun hanya mengangguk kecil, sebelum akhirnya berjalan ke luar pintu dan meninggalkan rest room itu.

“Aduh Wonwoo-ya.. kenapa kau tidak bang-” Mata Jeonghan membulat saat melihat Wonwoo mulai mengerjapkan mata dengan perlahan. Mata yang awalnya tertutup terbuka dengan gerakan pelan. Memperlihatkan bagaimana jernihnya mata Wonwoo, yang selalu membuat Jeonghan kagum sekaligus iri karena mata Wonwoo begitu indah.

“A-ah.. Syukurlah Wonwoo-ya. Kau sudah sadar!” Jeonghan berteriak girang. Tubuhnya bergerak dengan refleks memeluk tubuh Wonwoo yang masih berbaring. Jeonghan benar-benar lega karena pemuda bersurai coklat itu baik-baik saja.

“Oi.. Wonwoo bisa mati kehabisan napas karena kau peluk seperti itu, bodoh!” Seungcheol mencibir ke arah Jeonghan. Membuat si surai pirang mendelik ganas ke arah pemuda itu.

“Diam kau!” Jeonghan mengerucutkan bibirnya kesal karena ucapan Seungcheol. Kemudian tatapannya kembali ke arah Wonwoo yang sekarang memejamkan matanya, dengan dahi mengernyit seperti menahan sakit.

“E-eh? W-wonu-ya, kau kenapa?” Jeonghan berujar gugup. Ia mulai melepaskan pelukannya pada Wonwoo, dan menatap Wonwoo dengan raut wajah khawatir.

“S-sakit, H-hyung… P-punggungku.. U-uhh…” Wonwoo mulai meringkukan badannya. Berharap rasa sakit yang menjalar di punggungnya hilang. Wonwoo bisa merasakan otot-otot punggungnya bergerak dan memanas saat ini. Ia tidak pernah mengalami kesakitan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“C-cheolie.. Pe-pergi ambil obat di apotek Dokter Minhyun. P-p-palii!” Jeonghan mulai berteriak panik. Di ikuti dengan Seungcheol yang sekarang bingung harus melakukan apa. Karena bagi Seungcheol, ini adalah pertama kali Wonwoo kesakitan seperti itu.

“Cepat!” Teriakan Jeonghan membuat Seungcheol kembali sadar dari keterkejutannya. Seungcheol mengangguk cepat, dan segera melesat pergi keluar dari ruangan itu untuk pergi menyusul Dokter Minhyun dan juga meminta resep obat di kliniknya. Meninggalkan Jeonghan yang semakin panik saat melihat Wonwoo meringis kesakitan. Jeonghan benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jeonghan tidak mungkin berteriak histeris keluar memanggil Hansol. Ia tidak ingin membuat kegaduhan di cafe ini.

“T-tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan minum. Tunggulah sebentar.” Jeonghan mengelus punggung Wonwoo dengan pelan. Berharap Wonwoo masih sadar dan mendengarnya. Kemudian Jeonghan keluar dengan langkah panjang. Pintu kayu itu di buka paksa tanpa di tutup kembali. Agar jika Wonwoo semakin kesakitan, pemuda bersurai coklat itu bisa berteriak, dan Jeonghan dapat mendengarnya dengan jelas. Kemudian pergi menolongnya. Jeonghan memang selalu berpikiran simple jika dalam keadaan genting. Pemuda bersurai pirang itu memang bisa di andalkan.

“A-ahh…” Ringisan sakit Wonwoo makin menjadi. Wonwoo masih bisa merasakan otot-otot mulai berkontraksi di dalam punggungnya. Bergerak pelan di balik tulang punggungnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“T-tolong…” Suara Wonwoo terdengar lirih. Matanya mulai tertutup setengah. Tapi Wonwoo masih bisa melihat dengan jelas sosok pemuda bersurai hitam yang berjalan mendekat ke arah Wonwoo. Ia kenal dengan pemuda itu. Pemuda bersurai hitam itu adalah tetangga barunya yang Wonwoo lihat kemarin malam.

“Ternyata aura angelik berasal darimu.” Pemuda bersurai hitam itu membungkukan badannya saat jaraknya dengan Wonwoo semakin dekat. Wonwoo bisa merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya dengan lembut. Wonwoo tidak tahu jika napas pemuda itu malah membuat sesuatu di balik punggung Wonwoo kembali bergerak tak beraturan. Darahnya kembali berdesir di dalam tubuh Wonwoo.

“Aku Kim Mingyu. Kau harus mengingatnya saat kita bertemu lagi nanti.” Pemuda misterius—Mingyu—berbisik pelan di telinga Wonwoo. “Aku akan menolongmu. Aura angelik milikmu itu berbeda dan menarik.” Mingyu tersenyum asimetris ke arah Wonwoo Tangan Mingyu yang hangat bergerak perlahan menyentuh wajah Wonwoo dengan lembut. Sebelum menyentuh kelopak mata Wonwoo dengan perlahan, dan Wonwoo tidak sadarkan diri setelahnya. Wonwoo hanya ingat jika pemuda itu berhasil membuat energi dari dalam tubuhnya menghilang. Menghilangkan rasa sakit yang sejak tadi bersarang pada punggung Wonwoo.

.

oOo

.

Wonwoo membuka matanya secara paksa. Napasnya tersenggal tak beraturan. Dadanya naik turun tak terkendali. Mimpi itu lagi. Wonwoo kembali bermimpi tentang dirinya yang di kejar pasukan bersayap. Di dalam mimpi, Wonwoo sama sekali tidak punya tujuan kemana harus bersembunyi. Wonwoo benar-benar tidak suka dengan mimpi buruk yang selalu ia dapat ketika tidur. Karena ketika ia terbangun sampai sekarang, mimpi tersebut masih ada di benaknya. Dan Wonwoo kembali takut untuk tertidur.

Wonwoo menoleh ke arah nakas. Melihat jam weker kecil di sampingnya. Sekarang masih jam tiga pagi. Wonwoo baru tertidur tiga jam. Jika seperti ini, Wonwoo tidak ingin kembali tertidur. Tadi malam, Jeonghan mengantar Wonwoo pulang ke apartemen. Pemuda bersurai pirang itu bahkan nekad untuk menginap di tempat Wonwoo. Jeonghan berkata jika ia takut Wonwoo kembali kesakitan, dan tidak ada orang yang akan menolongnya. Tapi Wonwoo menolak kebaikan Jeonghan dengan halus. Ia tidak ingin membuat Jeonghan dan Seungcheol kerepotan. Mereka pasti sudah mengurusnya selama Wonwoo pingsan beberapa jam di cafe. Wonwoo tidak ingin kembali membuat kedua sahabatnya itu susah karena dirinya.

Wonwoo mulai menarik selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Ia mulai berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Mungkin udara segar bisa menenangkan perasaan Wonwoo. Ia tidak ingin berpikiran negatif sekarang. Wonwoo hanya ingin melupakan kejadian yang menimpanya hari ini. Tentang kedua sosok pria bersayap, pemuda dengan surai hitam yang menolongnya, dan juga mimpi-mipi buruk yang masuk ke dalam alam bawah sadar Wonwoo.

Di raih kenop pintu yang menghubungkannya dengan koridor luar apartemen. Di sini tidak ada siapapun kecuali Wonwoo. Hening. Hanya ada suara binatang malam yang terdengar. Wonwoo menoleh ke arah jendela yang memperlihatkan bagaimana indahnya pemandangan Kota Seoul yang berkerlap kerlip dari atas sini. Jika udara malam tidak membuat Wonwoo menggigil di pertengahan musim semi ini, mungkin Wonwoo lebih memilih berdiam diri sambil menatap pemandangan kota Seoul dari jendela.

Dengan langkah mantap, Wonwoo mulai berjalan ke arah lift yang akan mengantarnya ke lantai satu. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke minimarket dua puluh empat jam yang berada dua kilo meter di tempat apartemennya.

Lagi-lagi langkah Wonwoo harus berhenti saat matanya kembali menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang memandangi pemandangan kota di balik jendela besar itu. Pemuda itu masih sama seperti yang Wonwoo lihat empat jam lalu. Berdiri dengan senyum tipis yang bertengger di wajah tampannya. Ingin sekali Wonwoo bertanya kenapa pemuda itu masih diam di sana. Padahal ini sudah malam. Ia juga ingin bertanya apa benar jika pemuda itu yang datang menolongnya di cafe?

Tombol lift di tekan perlahan oleh Wonwoo. Ia hanya perlu menunggu agar pintu lift ini terbuka, dan segera pergi meninggalkan pemuda itu. Entahlah, ada sesuatu yang aneh dalam diri pemuda itu. Wonwoo tidak tahu kenapa ia bisa merasakannya. Wonwoo hanya tahu, jika pemuda itu mungkin saja berbahaya. Seperti kedua sosok misterius bersayap yang Wonwoo lihat di cafe.

“Hei, Apa kau tahu? Ternyata dunia fana tidak berubah sejak terakhir kali aku datang ke sini.” Dahi Wonwoo mengernyit heran saat mendengarnya. Dunia fana? Apa Wonwoo sedang berhadapan dengan orang mabuk sekarang? atau pemuda yang ada di hadapannya ini adalah seorang alien sehingga ia jarang berkunjung ke bumi? Ah. Baiklah. Lupakan tentang itu. Mungkin Wonwoo akan mengurangi membaca cerita fiktif tentang alien.

“A-apa kau baru saja datang ke Seoul?” Wonwoo mencoba membuka suaranya. Ia tidak ingin berfikiran negatif tentang pemuda itu. Mungkin saja kan pemuda itu baru datang dari Desa.

“Tidak. Aku datang dari dunia bawah.” Kali ini, Wonwoo sangat yakin jika orang yang di depannya ini mempunyai gangguan jiwa. Memang ada kota di Korea yang bernama dunia bawah? Tentu saja tidak ada. Sekarang, Wonwoo benar-benar ingin pergi dari sini. Ia tidak mau meladeni pemuda itu lebih lama. Dan kenapa lift ini sama sekali tidak bekerja? Apa petugas apartemen mematikannya? Jika seperti itu Wonwoo harus menuruni anak tangga untuk sampai ke bawah.

“Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?” Kali ini Wonwoo kembali melirik ke arah pemuda aneh itu. Dengan gugup, Wonwoo mulai mengangguk sebagai jawaban. Dan anggukan Wonwoo malah membuat pemuda itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman menawan.

“Lupakan saja apa yang ku katakan padamu. Siapa namamu?” Pemuda bersurai hitam itu mulai menatap Wonwoo dengan pandangan menilai. Setelahnya ia menggulum sebuah senyuman tipis.

“Jeon Wonwoo. Kau?”

“Kim Mingyu. Seharusnya kau tidak lupa namaku.” Mingyu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Wonwoo. Sementara Wonwoo malah memundurkan tubuh mungilnya dengan refleks. Hingga membentur dinding yang ada di belakangnya.

“Hey. Wonwoo-ya.. Apa kau percaya jika iblis dan juga malaikat itu ada?” Alis Wonwoo mengerut. Kembali tidak mengerti dengan apa yang Mingyu ucapkan. Kenapa Mingyu bertanya tentang hal itu? Tentu saja Wonwoo percaya. Malaikat dan Iblis itu nyata. Di dalam alkitab dan juga perjanjian lama di ceritakan dengan detail bagaimana malaikat. Ah. Apa Mingyu itu seorang atheis sehingga bertanya hal ini pada Wonwoo?

“Tentu saja.” Wonwoo mengangguk mantap. Mengabaikan tatapan intens dari Mingyu yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya.

“Lalu bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau adalah malaikat?” Dan ucapan dari Mingyu membuat tubuh Wonwoo menegang dalam sekejap. Pertanyaan yang di ucapkan Mingyu memenuhi seluruh otaknya. Membuat kepala Wonwoo seakan penuh karena pertanyaan itu. Tapi Wonwoo tahu, itu semua sama sekali tidak mungkin. Wonwoo itu manusia, bukan malaikat seperti yang Mingyu ucapkan.

“Kau gila Mingyu-ssi.” Matanya menatap tak suka ke arah Mingyu. Sebelum mendorong tubuh Mingyu menjauh, dan kembali berbalik ke arah apartemen miliknya. Sepertinya Mingyu memang tidak waras. Seharusnya Wonwoo tidak mengobrol dengan Mingyu.

“Kau adalah nephilim, Jeon Wonwoo. Aku bisa merasakannya.” Suara bariton milik Mingyu menggema di seluruh koridor sepi itu. Membuat Wonwoo membalikkan badannya, berniat untuk kembali melihat sosok Mingyu yang sekarang menghilang. Bagai di telan angin malam.

Nephilim..” Wonwoo bergumam pelan. Kata-kata itu sama sekali tidak asing di telinga Wonwoo. Seolah Wonwoo memang sering mendengarnya. Sepertinya Wonwoo harus kembali membuka buku lamanya, dan mencari tahu soal Nephilim. Karena kedua sosok bersayap tadi juga menyebut jika dirinya adalah nephilim.

TeBeCe

Glousarium :

1. Dewa Hades : Dewa penguasa Dunia Bawah

2. Persephone : Ratu Dunia Bawah. Istri Hades.

3. sungai phlegethon : Sungai api yang menjalar dari kerajaan Hades ke Tartarus. Tempat menyiksa orang mati di padang hukuman.

4. sungai acheron : Sungai rasa sakit

5. Sungai lethe: Sungai bisa membuat orang kehilangan ingatan

6. padang asphodel : Tempat di dunia bawah di mana orang mati yang amal baik dan buruknya seimbang.

7. padang hukuman : Tempat di dunia bawah untuk menyiksa roh orang jahat.

8. Thanatos : Dewa Kematian Yunani. Abdi Hades.

Pintu Ajal : Pintu yang menghubungkan dunia manusia dan dunia bawah.

Pertama saya mau minta maaf karena FF ini absurd. Salahin imajinasi nista saya yang kelewatan sehingga mencampur semuanya menjadi satu. Wkwk

Iseng aja gue rombak ini. karena greget pas baca ulang pof ga sesuai keinginan gue dulu karena deadline yang nyiksa waktu itu . wkwk

Saya ga mau banyak cingcong. Berkenankah Review guys?

Astia Morichan