OPEN PO FANBOOK MEANIE

0

Halo…

Apa kabar kalian? Sehatkah? Baik-baik dong ya :3

Karena sudah direncanakan untuk dicetak, dan juga ada beberapa permintaan mengenai angkat cetak fanbook ini. Maka saya memutuskan buat open po fanbook Mate.

Well. Di fanbook Mate bukan cuma Mate aja. Tapi FF Bite yang didiscontinued di wattpad sebelumnya, dilanjutkan di dalam fanbook ini. Jadi di dalam satu buku, kalian bisa baca Mate dan Bite sekaligus.

Bedanya Mate di WP sama fanbook apa sih?

1. Jelas beda. Versi fanbook itu uncut. No sensor. Penuh dengan scene you know what i mean. Mating scene 😂 di Bite pun begitu. Fanbook ini sudah jelas Remake manga yaoi hardcore yang memang mature

2. Ada beberapa art. Seperti yang di No Senses. Art yang sudah aku komis dari dua artist.

3. Yang penasaran Mate kenapa banyak part hilang. Tanya wattpad. Mengapa dia menghilangkan mode private. Wkwk. Jadi yang mau baca, ada di fanbook

Here we go!

Open PO dari tanggal 20 September- 21 Oktober 2018

Sebulan PO nya

Pembayaran paling lambat tanggal 24 Oktober 2018

Estimasi Buku Selesai sekitar 2 minggu. Jadi buku dikirim tanggal 8 September 2018

Pengiriman dari Bandung

Pengiriman dari Bandung

Spesifikasi buku :

Judul : Mate

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : + 300 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Content : Mate, dan Bite

Harga : Rp. 107.500

Story of Meanie

Buku ini adalah kumpulan one shot yang saya buat

Buku ini adalah kumpulan one shot yang saya buat. Entah kalian tertarik atau enggak. Tapi saya hanya menawarkan. Ada beberapa cerita yang tidak dipublikasikan di wp. Terus ada juga cerita Wonu nyeme dan Mingyu nguke di sana. Kalau kepo, ya bisa baca  di fanbook itu. Wkwk

Spesifikasi Buku

Judul : Story Of Meanie

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 205 + halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Harga : Rp. 82.500

Content: banyak. Lihat dicover ya

Kalau kalian beli dua buku. Mate dan Story of Meanie. Nanti dapat potongan diskon. Jadi kalian gak perlu bayar [107.500+82.500 = 190.000] tapi kalian cuma bayar Rp. 170.000 (irit 20k. Lumayan kan 20k juga duit. Wkwk)

Terus karena ada beberapa yang nanya Fanbook sebelumnya. Yowes sekalian aku PO ulang. Tapi ya itu. Perpaket ya. Ga terima satuan.

No Senses + Fudanshi Janai (Rp. 200.000) (perpaket ya. No satuan)

 No satuan)

Spesifikasi buku :

Spesifikasi buku :

Judul : No Senses

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 560

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Judul : Fudanshi Janai

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 162 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Fated Pairs + Nephilim (Rp

Fated Pairs + Nephilim (Rp. 120.000)

Judul : Fated Pairs

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 154 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Content dalam buku : Fated Pairs dan Incubus

Judul : Nephilim

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 171 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Content dalam buku : Nephilim dan My Fallen Angel

Kirim format pemesanan :

Nama :
Alamat:
No Hp:
buku yang di pesan:

Ke Line : babymingie
IG : astia_morichan
Email: astiamorichan@gmail.com

WATTPAD : morichan_

Kyuhyun-ah, Saranghae | KyuMin| Yaoi| OS

0

#WelcomeBackSungmin

#HappyBirthday Sungmin

 

Kembali. FF ini adalah Khayalan dan keinginan terdalam saya untuk KyuMin ketika gue kangen mereka. Dan ngeliat wajah unyu seorang Lee Sungmin yang tidak berubah, keluar dari wamil.

Kalau ga suka dengan presepsi KyuMin Is REAL. Silahkan BACK OFF! Jangan baca cerita saya.

Sekian.

enJOY!!

.

  • #Kyuhyun-ah, Saranghae-

.

 

 

Cho Kyuhyun terdiam mematung, saat retinanya menangkap sosok seorang pria yang sudah lama ia rindukan. Dia adalah Lee Sungmin- kekasih gelapnya- suami dari istri orang. Miris? Ya. Itulah status seorang Cho Kyuhyun saat ini. Sekarang, Lee Sungmin sudah menyelesaikan wajib militernya selama dua tahun. Meninggalkan Kyuhyun yang kesepian karena jarang bertemu kekasih bunny-nya itu. Selama Sungmin menjalani wajib militer, mereka hanya bertemu selama tiga bulan sekali. Itu pun jika Sungmin sedang libur dari tugasnya. Mereka akan kembali melakukan rendezvous di sebuah hotel, dan berujung saling berbagi kehangatan semalam. Selalu seperti itu. Seperti sekarang.

 

“Kyuhyun-ah..” Suara lembut milik Lee Sungmin mengalun di gendang telinga Kyuhyun. Bagaikan melodi harmonis yang selalu ia rindukan. Ya. Kyuhyun memang akan selalu merindukan sosok Sungmin. Tidak peduli jika kekasihnya itu sudah menjadi milik orang.

 

“Hyung…”Suara bariton Kyuhyun terdengar sangat serak saat ini. Beberapa detik kemudian tubuh bidangnya di peluk erat oleh Sungmin. Sungmin menelusupkan wajahnya pada dada bidang Kyuhyun. Mengendus wangi mint maskulin milik kekasihnya. Sungmin juga sama; merindukan Kyuhyun sama gilanya. Bukannya menghampiri istrinya yang menunggu di rumah, ia malah mengajak Kyuhyun bertemu di hotel yang selalu mereka sewa.

 

“Aku merindukanmu, Kyu..” Sungmin berujar lirih. Tubuh pria itu bergetar dalam pelukan Kyuhyun. Membuat Kyuhyun mengeratkan pelukan mereka. Mengelus lembut punggung kekasihnya itu dengan pelan.

 

“Aku juga, Hyung..” Kyuhyun menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Sungmin. Mengendus aroma vanilla memabukan yang menguar pada tubuh kekasihnya. Sungguh. Kyuhyun sangat merindukan kebersamaan mereka. Walaupun mereka harus menutupi hal seperti ini.

 

“Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana?”

 

“Uhm.. “ Sungmin mengangguk pelan. Kemudian ia melerai pelukan mereka. Manik foxy menatap sendu obsidian yang sekarang menatapnya bingung. Dahi Kyuhyun mengernyit. Menunggu apa yang akan Sungmin ucapkan selanjutnya. “T-tapi kenapa setelah aku kembali, kau yang memutuskan untuk wamil, Kyu? Bukankah kau tidak wajib untuk mengikuti wamil ?”

 

Kyuhyun menyunggingkan sebuah senyum simpul. Ah. Ternyata Sungmin-nya itu mengkawatirkan hal ini. Takut jika mereka akan terpisah lagi. Ya. Kyuhyun memang tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti kewajiban negaranya. Karena ia mengidap pneumothorax. Tapi ia tetap ingin mengikuti program wajib militernya. Kyuhyun juga ingin mempunyai pengalaman militer, sebelum akhirnya ia memutuskan sebuah tujuan yang selama ini ia tunggu. Kembali meminta jawaban dari seorang Lee Sungmin atas penantiannya selama ini.

 

“Hey.. Aku juga ingin merasakan militer itu seperti apa, Hyung.” Tangan terulur. Mengelus pipi chubby Sungmin dengan lembut. Membuat kekasihnya itu menutup matanya. Menikmati sentuhan hangat yang Kyuhyun berikan.

 

“Tenang saja, kita akan tetap bertemu nanti.” Kyuhyun menipiskan jarak. Menyentuhkan keningnya dengan Sungmin. Hingga Kyuhyun bisa merasakan herpaan napas Sungmin menyentuh wajahnya, saat kedua hidung saling bersentuhan.

 

“Aku akan mengambil divisi pelayanan masyarakat. Jadi kita akan sering bertemu. Itu pun jika kau mengunjungiku.” Kyuhyun terkekeh kecil. Sebelum mendaratkan sebuah kecupan kecil pada pipi Sungmin.

 

“T-tapi tetap saja, Kyu—“ Ucapan Sungmin terhenti saat ia merasakan jari telunjuk Kyuhyun tepat berada di bibirnya. Apa Kyuhyun lupa jika dirinya tidak boleh kelelahan sama sekali? Jika penyakit Kyuhyun kambuh, Sungmin lagi yang akan cemas.

 

“Apa kau takut ketahuan awak media, Hyung? Lee Sungmin Super Junior, di kabarkan selalu mengunjungi Cho Kyuhyun di divisi sang Maknae.” Kyuhyun kembali tertawa kecil, saat melihat Sungmin memberenggut, dan mendorong tubuhnya menjauh.

 

“Jangan ungkit hal itu lagi, Kyu..” Sungmin berbalik. Berjalan ke arah ranjang, dan duduk di sana. Manik foxynya tidak lepas dari sosok Kyuhyun yang berdiri dua meter di depan.

 

Wae? Takut ketahuan istri kesayanganmu?” Kyuhyun berucap sarkatik. Sambil berjalan mendekat ke arah Sungmin yang sekarang mendengus kesal. Cho Kyuhyun kembali membawa perkara lama.

 

“Bisakah kau tidak membawa nama orang lain saat bersamaku, Cho?”

 

“Dan bisakah kau memberiku jawaban yang tepat, sebelum aku benar-benar pergi militer?”

 

“Kau keras kepala.” Sungmin mengadahkan kepalanya, saat Kyuhyun berdiri tepat di depannya. Obsidian itu menatapnya sendu. Dan Sungmin benci di tatap seperti itu oleh Kyuhyun. Bukan hanya Kyuhyun yang sakit di sini. Tapi ia juga.

 

“Begitu juga kau, Ming.” Kyuhyun mulai menumpukan kedua lututnya ke lantai. Hingga kepalanya bisa sejajar dengan wajah Sungmin. “Tinggalkan wanitamu, dan pergi bersamaku, setelah wajib militerku selesai.”

 

“Kyuhyun-ah..” Tangan Sungmin terulur. Mengelus pipi Kyuhyun pelan. “Kau tahu? Aku benar-benar mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

 

Manik foxy yang menatap obsidian itu begitu intens. Tapi tidak membuat Kyuhyun luluh dengan tatapan kekasihnya. Jika Sungmin berpikir Kyuhyun akan menyerah untuknya, maka pria itu salah besar. Kyuhyun akan selalu mengungkit masalah mereka. Ia tidak ingin selalu menjadi bagian ketiga dalam hidup pria itu.

 

“Dan kau tahu seberapa besar cintaku untukmu, Lee Sungmin ? Tidakkah kau berpikir jika aku bisa saja lelah dengan hubungan ini?” Suara Kyuhyun terdengar lirih. Obisidian itu meredup saat di tatap oleh foxy menenangkan milik Sungmin.

 

“Tidak. kau tidak boleh lelah terhadapku, Kyu. Kau milikku!” Sungmin menaikan suaranya. Tangannya menangkup pipi Kyuhyun, dan memberinya kecupan kecil di sekeliling wajah pria itu.

 

“Kau egois, Ming.” Kyuhyun mendengus keras. Cho Kyuhyun memang tidak akan pernah menang jika melawan kekeras kepalaan Lee Sungmin.

 

“Maafkan aku. Aku benar-benar mencintaimu, Kyu.” Kecupan di bibir Sungmin layangkan beberapa kali. “Tunggu aku untuk menyelesaikan semuanya, Kyu. Aku janji akan melepaskan semuanya hanya untukmu. Kau hanya perlu menungguku sebentar lagi.” Sungmin menghamburkan tubuhnya pada dada bidang Kyuhyun. Hingga Kyuhyun kehilangan keseimbangannya, dan terjatuh di lantai. Dengan tubuh Sungmin yang berada di atasnya. Memeluk leher Kyuhyun dengan erat.

 

“Hanya sampai wajib militerku selesai nanti, Ming. Aku akan menagih janji mu.” Kyuhyun mengangkat dagu Sungmin, hingga kekasihnya itu mengadah ke arahnya. Tengkuk di tarik untuk semakin mendekat. “Selamat datang, Ming. Dan Selamat Ulang Tahun, Cho Sungmin- kekasihku. Aku sangat mencintaimu.” Ucapan terakhir dari Kyuhyun di iringi dengan kecupan lembut di bibir. Bibir mereka saling bertaut. Berbagi kerindukan yang hilang. Saling mengisi satu sama lain, ketika lidah bertautan, dan di iringi decakan saliva berserta erangan yang akan terjadi di kamar ini untuk beberapa jam kedepan.

 

“Terimakasih, aku juga mencintaimu, Kyuhyun-ah..”

 

 

FIN

 

Oke gaje memang. Dan #WelcomeBackSungmin #HappyBirthDayLee Sungmin

 

Selamat datang kembali bunny ming, dan selamat ulang tahun, dan Tahun baru. Semoga di tahun depan, kamu cerai ye sama bini lu. Haha. Balikan yah sama Kyu. Jangan kode-kodean mulu. Daku baper kalo liat kode-kode dari seme lu ming.

Daku juga miris. Daku rindu momen kalian. Eh Ming balik, Kyu yang wamil. Jadi dah gue gegana di awal taun 2017.

Yah. Saya hanya berharap yang terbaik untuk OTP terbaik sepanjang masa dalam hidup saya. Bagi saya, KyuMin akan selalu terkenang. Walau gue berhenti nulis KyuMin, tapi gue tetap cinta mereka. KyuMin selalu muncul di beberapa ff pair lain yang ada di archive gue. Karena apa? Gue adalah JOYer yang tidak bisa meninggalkan mereka, sekali pun KyuMin udah karam. Tapi seengaknya, sebelum semuanya berakhir, tidak menutup kemungkinan Ming cerai, selama Kyu juga belom kawin. Mwahaha.

Oke gue ingatkan. Ini hanyalah imajinasi nista dan keinginan sesaat dari gue. Kalo ga suka? Gue perkenankan kalian untuk tidak membaca. Apalagi komen dengan mengatakan. KyuMin itu straight. Blalala.

Bagi gue, KyuMin itu Real. Titik. Masbayu sama presepsi gue?

Wkwk

Bye. Happy New Year

Astia Morichan

Nephilim | Meanie Couple | Yaoi | Fantasy | Prince Of Dark X Angel

0

Kim Mingyu menatap tajam sosok pria paruh baya bersurai hitam yang mirip dengannya . Pria itu duduk dengan gagah di kursi kebanggaan miliknya yang berada di depan altar dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi di sampingnya. Tidak lupa dengan baju zirah yang melekat di tubuh pria berwibawa- Kim Kyuhyun- Ayah Mingyu yang merupakan penguasa Dunia Bawah. Kyuhyun lebih di kenal sebagai Dewa Hades(1) bagi para manusia. Sedangkan Mingyu adalah anak semata wayangnya dari Persephone (2).

Aku bosan di sini Ayah.” Ucap Mingyu. Manik obisidiannya masih menatap Kyuhyun dengan tajam. Seakan menyuruh agar Ayahnya itu mengerti keinginan yang sudah lama Mingyu pendam. Jujur saja, Mingyu bosan tinggal di Dunia bawah, atau paling tepatnya neraka. Mingyu juga sudah lelah jika setiap hari harus melihat sungai phlegethon(3), acheron(4), lethe(5), padangasphodel(6) dan juga padang hukuman(7) – dimana roh-roh orang jahat berteriak kesakitan, dan meminta tolong pada Mingyu untuk di bebaskan dari rasa sakit.

Apa yang ingin anda lakukan, Mingyu-ssi?” Hong Jisoo – sang Thanatos(8) yang merupakan abdi dari sang ayah bertanya. Mingyu mendelik- menatap tak suka ke arah Jisoo yang selalu menggangu rencana miliknya. Jisoo memang selalu curiga pada Mingyu. Padahal Jisoo hanya abdi dari sang ayah yang sama sekali tidak berpengaruh bagi Kerajaan di Dunia Bawah.

Bukan urusanmu.” Mingyu melirik sekilas ke arah Jisoo. Kemudian ia kembali menatap sang ayah yang masih terdiam. Tidak mengubris keinginan Mingyu sama sekali.

Aku akan pergi ke dunia manusia. Bersama para roh orang mati bisa membuatku gila.” Dan tanpa meminta persetujuan siapapun, Mingyu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang singgsana ayahnya. Mingyu hanya ingin segera pergi ke pintu ajal(9)- yang menghubungkan dunia fana dengan dunia bawah. Mingyu memang sudah merencanakan hal ini sejak dulu. Ia ingin menghirup udara bebas, dan tinggal di dunia fana. Meninggalkan dunia bawah yang kelam dimana hanya di tinggali oleh dirinya, ayah, ibu dan juga beberapa abdi dari sang ayah. Mingyu juga akan meninggalkan semua roh orang mati yang di ada di padang hukuman agar berhenti mengikutinya. Mungkin jika di dunia fana, Mingyu tidak akan bertemu lagi dengan kerangka orang mati, dan para roh yang masih mempunyai urusan manusiawi. Walaupun Mingyu masih mempunyai kekuatan untuk memanggil pasukan zombie dengan kerangkanya saja untuk melindungi Mingyu jika terdesak bahaya. Seperti di incar oleh Zeus, dan juga beberapa makluk ghaib yang mengincar nyawa pangeran kegelapan untuk menguasai dunia fana.

Nephilim

RM 18!

Romance, Fantasy, Drama, Supernatural

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

Kim Mingyu sang Pangeran Kegelapan—Putra Hades memutuskan untuk pergi ke dunia fana. Di sana, ia bertemu dengan Jeon Wonwoo- manusia dengan paras cantik yang mempunyai aura angelik dalam dirinya. Wonwoo bahkan tidak tahu siapa dirinya jika ia tidak di pertemukan dengan Mingyu. Apalagi ketika pasukan bersayap menyerang Wonwoo, dan Mingyu yang menolongnya setiap saat.

Susunan strata makluk immortal saya jelasin nanti.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

a/n: FF ini adalah rombakan dari FF saya yang Prince Of The Dark. Saya ubah jadi Meanie. Karena yang PoF itu FF event yang failed karena seharusnya FF itu berakhir dengan 12 chap sesuai alur cerita. Karena kemarin pof akakuro deadline. Tamatnya ga banget. Dan akhirnya saya mutusin buat lanjutin ini dalam versi Meanie. Karena kalo di lanjut ke akakuro. Mereka udah klaim tamatnya seperti itu.

Over all yang versi Meanie dari chap 3 dan seterusnya bakal beda dari yang AkaKuro.

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari Fanfict ini. ini hanya untuk kesenangan writer abal macam saya saja.

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

Jeon Wonwoo berjalan gontai menuju lift yang akan mengantar tubuh letihnya ke sebuah kamar apartemen usang yang berada di lantai tujuh gedung bertingkat ini. Wonwoo merasa tubuhnya remuk sekarang, karena seharian ini ia harus bekerja part time di dua tempat. Ketika pagi menjelang, ia juga harus kembali belajar di kampusnya. Wonwoo sudah semester empat sekarang. Ia harus rajin belajar, dan juga mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Karena Wonwoo tidak ingin merepotkan bibi-nya yang ada di Busan. Wonwoo sudah kehilangan orangtuanya sejak berumur dua tahun. Ia bahkan tidak ingat sama sekali wajah sang ibu yang melahirkannya. Wonwoo hanya tahu wajah ibunya di foto. Begitu pun dengan sang ayah yang tidak pernah Wonwoo kenali. Terkadang Wonwoo merasa hidupnya tidak adil. Tapi ia memang harus merasa bersyukur pada Tuhan karena membiarkannya hidup sampai detik ini. Wonwoo masih mempunyai banyak impian, dan Wonwoo berharap impiannya terkabul satu persatu dari usaha yang selama ini ia lakukan.

“Hah..” Wonwoo menghela napasnya pelan saat ia sudah sampai berada di depan pintu apartemen kecil miliknya. Tangannya bergerak untuk memasukkan kunci dan mulai membukanya. Kemudian beralih meraih kenop pintu, lalu membukanya perlahan. Bunyi pintu berderit terdengar. Menandakan bahwa pintu itu terbuka. Karena Wonwoo tidak ingin mengganggu tetangganya yang pasti sudah tertidur lelap sekarang.

Wonwoo mulai melangkah masuk ke dalam. Baru saja satu langkah Wonwoo masuk, ekor matanya menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang berdiri sepuluh meter dari tempatnya. Ketika Wonwoo mulai berbalik, ternyata pemuda itu sedang berdiri di ujung lorong—di samping lift dan menatap pemandangan kota lewat jendela besar di sana. Wonwoo tidak mengenal sosok itu. Baru kali ini Wonwoo melihatnya.

Mungkinkah tetangga barunya? Tapi setahu Wonwoo, semua kamar yang ada di lantai tujuh itu sudah penuh. Jadi tidak mungkin ada penghuni baru di sini. Kecuali tamu, tentu saja. Ah. Memikirkannya malah membuat Wonwoo pusing. Lebih baik ia segera masuk ke dalam, dan mengabaikan pemuda itu. Lagi pula, Wonwoo memang tidak mengenalnya. Jadi bukan masalah bagi Wonwoo jika ia bersikap tidak peduli seperti sekarang. Wonwoo hanya tidak ingin berpikiran buruk tentang lelaki itu.

Wonwoo menganggukan kepalanya pelan. Meyakinkan dirinya, jika pemuda itu bukanlah orang jahat. Kemudian Wonwoo kembali berbalik, dan mulai masuk ke dalam apartemen mungilnya. Apartemen Wonwoo memang sangat sederhana. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan juga dapur yang menyatu bersama ruang tengah. Baginya apartemen ini sudah cukup. Lagi pula harga sewanya sangat murah, jadi Wonwoo merasa sangat betah tinggal di sini.

“A-ah.. Sebaiknya aku tidur.” Wonwoo mulai melepaskan backpack kecil miliknya, dan menyimpannya di sofa. Kemudian ia berjalan ke arah kamar, dan berganti pakaian dengan piyama berwarna biru. Wonwoo tidak ingin mandi, ia hanya menyikat gigi dan membasuh wajahnya saja. Cuaca malam ini sangat dingin, ia tidak ingin mati kedinginan karena berendam. Jadi Wonwoo memutuskan untuk segera tidur, dan menjelajahi mimpinya. Walaupun dirinya sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Mimpi dimana ia mempunyai sayap, dan di kejar oleh beberapa pasukan bersayap yang mengincar nyawanya.

.

oOo

.

Wonwoo berlari kecil menuju cafe yang berada di perempatan jalan Gwanghwamun. Wonwoo mendapat shift sore hari ini, dan ia malah terlambat datang ke tempat kerjanya karena harus membantu Seokmin Seongsaeng- Dosen menyebalkan yang selalu menyuruh Wonwoo ini dan itu. Walaupun Wonwoo juga tidak keberatan, karena Seokmin adalah orang yang baik padanya.

“Hah.. Hah..” Napas Wonwoo tersenggal saat ia sampai di depan pintu cafe. Di sana sudah ada Yoon Jeonghan yang sudah memakai kemeja putih dan juga celana hitam panjang, sambil membawa sebuah nampan berisi jus pesanan pelanggan—menatap Wonwoo dengan padangan heran. Seolah berkata ‘Kenapa kau terlambat?’

“Maaf atas keterlambatanku.” Wonwoo membungkukan tubuhnya ke arah Chwe Hansol- pemilik cafe yang menjadi bos Wonwoo. Pria berparas western itu mulai mendekat ke arah Wonwoo. Wajah stoic milik Hansol memang tidak pernah bisa terbaca oleh pikiran Wonwoo.

“Kenapa kau terlambat Wonwoo? Kau tahu kan jika cafe selalu di padati pelanggan ?” Wonwoo menunduk. Enggan menatap bosnya yang sekarang mengurut pelipisnya. “Sudahlah. Cepat ganti pakaianmu. Banyak pekerjaan yang menunggumu, Wonwoo-ya.” Kemudian Hansol berbalik. Meninggalkan Wonwoo yang sekarang bisa menghela napas lega. Jujur saja, Wonwoo sudah sering datang terlambat ke cafe. Maka dari itu ia selalu di omeli oleh Hansol akibat keterlambatan yang sama sekali tidak Wonwoo recanakan.

“Maafkan aku, Sunbae.” Ucap Wonwoo penuh penyesalan saat Hansol sudah menjauh dari pandangannya. Kemudian Wonwoo segera pergi ke belakang dapur. Ada ruang ganti di sana, dan Wonwoo harus segera berganti baju. Hanya butuh beberapa menit bagi Wonwoo untuk mengganti kaos berwarna birunya, dengan kemeja berwarna putih yang Wonwoo gulung seperempat lengannya. Celana jeans levis di ganti oleh celana denim berwarna hitam yang terlihat pas di kaki jenjang pemuda bersurai coklat itu. Tidak lupa dengan celemek berwarna hitam senada dengan celananya melingkar di pinggang Wonwoo. Setelah merasa cukup rapi, Wonwoo segera meninggalkan ruang ganti, dan pergi menuju dapur. Di dapur, semua orang terlihat sangat sibuk mengantarkan pesanan. Jihoon- yang merupakan koki kedua pun nampak sangat sibuk karena sepertinya Seungkwan- kekasih Hansol tidak ada dapur. Jadi Jihoon yang harus mengcover semua pesanan pelanggan.

“Wonwoo-ya, kau melayani pelanggan saja dan mengantarkan pesanan. Masih banyak yang belum di layani di luar cafe.” Hansol yang kini sibuk menyiapkan berbagai minuman, berteriak ke arah Wonwoo.

“Baiklah.” Tanpa menunggu lebih lama, Wonwoo segera melesat pergi meninggalkan dapur. Ia mulai menghampiri beberapa pelanggan yang duduk di luar bisa melihat mereka menggerutu karena masih belum bisa memesan. Mereka adalah empat orang gadis berseragam SMA yang duduk di pojok- tepat di belakang taman. Mungkin mereka memilih latar paling bagus di cafe ini. Karena jika mereka duduk di sana, akan terbentang taman yang cukup besar. Dengan pepohonan yang menjulang tinggi di segala penjuru. Nuansa hijau yang sarat akan hutan akan terasa jika duduk di sana. Cafe ini memang terkenal karena mempunyai latar hutan yang menarik. Setahu Wonwoo, Hansol membangun cafe bertemakan hutan ini untuk Seungkwan- sebagai hadiah anniversary mereka.

“Maaf. Apa ada yang ingin anda pesan?” Wonwoo memamerkan senyum menawan miliknya. Membuat empat orang gadis yang tadi sedang menggerutu terdiam saat melihat senyum Wonwoo. Mereka seolah terhipnotis oleh senyuman Wonwoo yang mempunyai magis tersendiri.

“I-iya. Ehm.. Siapa namamu?” Bukannya memesan, gadis bersurai pirang bertanya nama Wonwoo dengan pipinya yang merona, ketika Wonwoo menyodorkan menu makanan di atas meja.

“Jeon Wonwoo.” Wonwoo tersenyum simpul ke arah gadis itu. Wonwoo bisa melihat wajah gadis itu memerah sempurna. Ah. Mungkin saja gadis itu sedang sakit. Ia tidak ingin ambil pusing.

“Kau bisa memanggilku lagi jika sudah selesai memesan, Nona.” Wonwoo membungkuk perlahan, sebelum menjauh dari kerumunan para gadis yang masih terpesona akan wajah Wonwoo. Well. Jangan salahkan Wonwoo jika ia mempunyai senyum menawan yang mampu memikat semua orang. Ini adalah hal yang biasa jika ada para gadis, bahkan pria menanyakan perihal Wonwoo.

“Hey.. Wonwoo-ya !” Suara bass dengan nada berat yang sangat Wonwoo kenali itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Wonwoo bisa melihat sosok pemuda bersurai hitam sedang melambaikan tangannya. Pemuda itu- Choi Seungcheol- Sahabat sekaligus pacar dari Jeonghan- sedang duduk di kursi luar baris pertama.

“Halo, Hyung.” Wonwoo berjalan mendekat ke arah Seungcheol yang sekarang tersenyum lebar ke arahnya.

“Wonwoo-ya, apa kau melihat Jeonghan? Aku sudah menunggunya di sini setengah jam. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya.” Seungcheol menghela napasnya lelah. Raut wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi muram saat mengingat Jeonghan. Wonwoo yakin, jika mereka sedang bertengkar. Ia juga sudah tidak melihat Jeonghan melayani beberapa pelanggan. Biasanya Jeonghan selalu ada di depan, dan suara tawanya yang khas selalu terdengar.

“Tadi aku melihatnya. Apa kau bertengkar dengan Jeonghan Hyung?” Wonwoo mengedarkan pandangannya. Meneliti ke segala penjuru. Siapa tahu ia bisa melihat sosok Jeonghan dan juga beberapa pelanggan yang harus Wonwoo tulis pesanannya.

“Aku bertengkar dengannya. Jika kau bertemu dengan Jeonghan di dalam, bisakah kau memberitahunya aku ada di sini?” Seungcheol menatap Wonwoo penuh harap. Wonwoo hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Tentu saja, Hyung. Apa kau ingin memesan juga?” Wonwoo bertanya, dan di hadiahi anggukan pelan dari Seungcheol.

Americano saja.” Wonwoo mengeluarkan sebuah memo kecil bersama pulpen yang ia simpan di saku celemek. Kemudian tangannya bergerak di atas kertas untuk menulis pesanan Seungcheol. Sebelum mulai mengangguk setelah selesai menulis pesanan Seungcheol.

“Baiklah. Tunggu sebentar, Hyung.” Dan Wonwoo mulai berbalik menjauh dari Seungcheol. Ia berniat untuk segera kembali ke dalam cafe dan membawa pesanan temannya itu. Tapi tatapan Wonwoo terpaku pada dua sosok lelaki dengan jubah hitam yang berada di balik pohon palm, menatap Wonwoo tajam. Dari jarak seperti ini, Wonwoo bisa melihat mata kedua sosok itu berwarna semerah darah. Wonwoo juga bisa melihat salah satu sosok lelaki itu menggerakan mulutnya dan Wonwoo seakan mengerti dengan apa yang di ucapkan mereka. Seolah berkata ‘Nephilim. Kita menemukannya.’

Tubuh Wonwoo menegang dengan cepat, matanya membulat sempurna saat melihat tonjolan daging berbentuk sayap keluar dari punggung kedua orang itu. Sayapnya berwarna hitam pekat membentang lebar. Wonwoo bahkan bisa merasakan angin kecil menerpa wajahnya saat kedua sosok itu memukul udara dengan sayap mereka. Sebelum akhirnya mereka terbang dengan tatapan intens yang terarah pada Wonwoo.

“Hey.. Wonu-ya?” Suara Seungcheol tidak terdengar lagi oleh Wonwoo. Pikiran Wonwoo mulai kosong. Darahnya berdesir. Tubuh Wonwoo mulai memanas ketika ia merasakan otot-otot punggungnya menegang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Wonwoo hanya tahu jika ia tidak bisa merasakan apapun, dan semuanya gelap. Wonwoo masih bisa mendengar teriakan panik dari orang-orang, dan juga suara Seungcheol berserta Jeonghan dan Hansol yang memanggil dirinya agar tetap sadar.

.

oOo

.

“Hey.. Wonwoo-ya.. Apa kau tidak ingin bangun?” Suara Jeonghan terdengar khawatir saat melihat Wonwoo terbaring lemah di hadapannya. Sejak tadi, Jeonghan mengguncangkan bahu Wonwoo dengan gerakan pelan. Berharap jika Wonwoo akan bangun dari pingsannya. Wonwoo sudah pingsan selama satu jam, dan ia sangat khawatir dengan keadaan Wonwoo yang seperti ini. Sejak tadi Jeonghan bahkan mengabaikan gerutuan dari Seungcheol, karena Jeonghan tidak ingin membawa Wonwoo dulu ke klinik yang ada di depan persimpangan. Karena jika Jeonghan melakukan itu, pengunjung yang ada di cafe akan terganggu. Jadi Jeonghan memutuskan untuk memanggil seorang dokter yang bernama Hwang Minhyun- Dokter muda berparas tampan yang sekarang memeriksa keadaan Wonwoo yang berbaring lemah di atas single bed yang ada di rest room cafe ini.

“Dia hanya kecapean saja. Kau tidak usah khawatir. Aku akan memberinya beberapa obat vitamin.” Minhyun menyimpan kembali stetoskop ke dalam tas hitam miliknya. Kemudian pria bersurai kecoklatan itu mengeluarkan sebuah bolpoint di sertai kertas memo kecil. Tangan Minhyun bergerak lincah di atas kertas. Menulis beberapa kata yang Jeonghan yakini adalah resep obat yang harus ia tebus untuk Wonwoo.

“Kau bisa membeli resep ini di klinik depan. Aku harap kau bisa menjaganya. Dia mungkin sedang tertekan oleh sesuatu. Jangan sampai membuatnya tertekan dan stress.” Minhyun mulai berdiri sambil merapihkan kemeja hitam miliknya yang sama sekali tidak kusut. Kemudian ia membungkuk untuk pamit. Di sertai oleh senyuman Jeonghan, dan delikan tajam dari Seungcheol.

“Terimakasih, Minhyun-ssi.” Minhyun hanya mengangguk kecil, sebelum akhirnya berjalan ke luar pintu dan meninggalkan rest room itu.

“Aduh Wonwoo-ya.. kenapa kau tidak bang-” Mata Jeonghan membulat saat melihat Wonwoo mulai mengerjapkan mata dengan perlahan. Mata yang awalnya tertutup terbuka dengan gerakan pelan. Memperlihatkan bagaimana jernihnya mata Wonwoo, yang selalu membuat Jeonghan kagum sekaligus iri karena mata Wonwoo begitu indah.

“A-ah.. Syukurlah Wonwoo-ya. Kau sudah sadar!” Jeonghan berteriak girang. Tubuhnya bergerak dengan refleks memeluk tubuh Wonwoo yang masih berbaring. Jeonghan benar-benar lega karena pemuda bersurai coklat itu baik-baik saja.

“Oi.. Wonwoo bisa mati kehabisan napas karena kau peluk seperti itu, bodoh!” Seungcheol mencibir ke arah Jeonghan. Membuat si surai pirang mendelik ganas ke arah pemuda itu.

“Diam kau!” Jeonghan mengerucutkan bibirnya kesal karena ucapan Seungcheol. Kemudian tatapannya kembali ke arah Wonwoo yang sekarang memejamkan matanya, dengan dahi mengernyit seperti menahan sakit.

“E-eh? W-wonu-ya, kau kenapa?” Jeonghan berujar gugup. Ia mulai melepaskan pelukannya pada Wonwoo, dan menatap Wonwoo dengan raut wajah khawatir.

“S-sakit, H-hyung… P-punggungku.. U-uhh…” Wonwoo mulai meringkukan badannya. Berharap rasa sakit yang menjalar di punggungnya hilang. Wonwoo bisa merasakan otot-otot punggungnya bergerak dan memanas saat ini. Ia tidak pernah mengalami kesakitan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“C-cheolie.. Pe-pergi ambil obat di apotek Dokter Minhyun. P-p-palii!” Jeonghan mulai berteriak panik. Di ikuti dengan Seungcheol yang sekarang bingung harus melakukan apa. Karena bagi Seungcheol, ini adalah pertama kali Wonwoo kesakitan seperti itu.

“Cepat!” Teriakan Jeonghan membuat Seungcheol kembali sadar dari keterkejutannya. Seungcheol mengangguk cepat, dan segera melesat pergi keluar dari ruangan itu untuk pergi menyusul Dokter Minhyun dan juga meminta resep obat di kliniknya. Meninggalkan Jeonghan yang semakin panik saat melihat Wonwoo meringis kesakitan. Jeonghan benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jeonghan tidak mungkin berteriak histeris keluar memanggil Hansol. Ia tidak ingin membuat kegaduhan di cafe ini.

“T-tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan minum. Tunggulah sebentar.” Jeonghan mengelus punggung Wonwoo dengan pelan. Berharap Wonwoo masih sadar dan mendengarnya. Kemudian Jeonghan keluar dengan langkah panjang. Pintu kayu itu di buka paksa tanpa di tutup kembali. Agar jika Wonwoo semakin kesakitan, pemuda bersurai coklat itu bisa berteriak, dan Jeonghan dapat mendengarnya dengan jelas. Kemudian pergi menolongnya. Jeonghan memang selalu berpikiran simple jika dalam keadaan genting. Pemuda bersurai pirang itu memang bisa di andalkan.

“A-ahh…” Ringisan sakit Wonwoo makin menjadi. Wonwoo masih bisa merasakan otot-otot mulai berkontraksi di dalam punggungnya. Bergerak pelan di balik tulang punggungnya. Ini benar-benar menyakitkan.

“T-tolong…” Suara Wonwoo terdengar lirih. Matanya mulai tertutup setengah. Tapi Wonwoo masih bisa melihat dengan jelas sosok pemuda bersurai hitam yang berjalan mendekat ke arah Wonwoo. Ia kenal dengan pemuda itu. Pemuda bersurai hitam itu adalah tetangga barunya yang Wonwoo lihat kemarin malam.

“Ternyata aura angelik berasal darimu.” Pemuda bersurai hitam itu membungkukan badannya saat jaraknya dengan Wonwoo semakin dekat. Wonwoo bisa merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya dengan lembut. Wonwoo tidak tahu jika napas pemuda itu malah membuat sesuatu di balik punggung Wonwoo kembali bergerak tak beraturan. Darahnya kembali berdesir di dalam tubuh Wonwoo.

“Aku Kim Mingyu. Kau harus mengingatnya saat kita bertemu lagi nanti.” Pemuda misterius—Mingyu—berbisik pelan di telinga Wonwoo. “Aku akan menolongmu. Aura angelik milikmu itu berbeda dan menarik.” Mingyu tersenyum asimetris ke arah Wonwoo Tangan Mingyu yang hangat bergerak perlahan menyentuh wajah Wonwoo dengan lembut. Sebelum menyentuh kelopak mata Wonwoo dengan perlahan, dan Wonwoo tidak sadarkan diri setelahnya. Wonwoo hanya ingat jika pemuda itu berhasil membuat energi dari dalam tubuhnya menghilang. Menghilangkan rasa sakit yang sejak tadi bersarang pada punggung Wonwoo.

.

oOo

.

Wonwoo membuka matanya secara paksa. Napasnya tersenggal tak beraturan. Dadanya naik turun tak terkendali. Mimpi itu lagi. Wonwoo kembali bermimpi tentang dirinya yang di kejar pasukan bersayap. Di dalam mimpi, Wonwoo sama sekali tidak punya tujuan kemana harus bersembunyi. Wonwoo benar-benar tidak suka dengan mimpi buruk yang selalu ia dapat ketika tidur. Karena ketika ia terbangun sampai sekarang, mimpi tersebut masih ada di benaknya. Dan Wonwoo kembali takut untuk tertidur.

Wonwoo menoleh ke arah nakas. Melihat jam weker kecil di sampingnya. Sekarang masih jam tiga pagi. Wonwoo baru tertidur tiga jam. Jika seperti ini, Wonwoo tidak ingin kembali tertidur. Tadi malam, Jeonghan mengantar Wonwoo pulang ke apartemen. Pemuda bersurai pirang itu bahkan nekad untuk menginap di tempat Wonwoo. Jeonghan berkata jika ia takut Wonwoo kembali kesakitan, dan tidak ada orang yang akan menolongnya. Tapi Wonwoo menolak kebaikan Jeonghan dengan halus. Ia tidak ingin membuat Jeonghan dan Seungcheol kerepotan. Mereka pasti sudah mengurusnya selama Wonwoo pingsan beberapa jam di cafe. Wonwoo tidak ingin kembali membuat kedua sahabatnya itu susah karena dirinya.

Wonwoo mulai menarik selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Ia mulai berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Mungkin udara segar bisa menenangkan perasaan Wonwoo. Ia tidak ingin berpikiran negatif sekarang. Wonwoo hanya ingin melupakan kejadian yang menimpanya hari ini. Tentang kedua sosok pria bersayap, pemuda dengan surai hitam yang menolongnya, dan juga mimpi-mipi buruk yang masuk ke dalam alam bawah sadar Wonwoo.

Di raih kenop pintu yang menghubungkannya dengan koridor luar apartemen. Di sini tidak ada siapapun kecuali Wonwoo. Hening. Hanya ada suara binatang malam yang terdengar. Wonwoo menoleh ke arah jendela yang memperlihatkan bagaimana indahnya pemandangan Kota Seoul yang berkerlap kerlip dari atas sini. Jika udara malam tidak membuat Wonwoo menggigil di pertengahan musim semi ini, mungkin Wonwoo lebih memilih berdiam diri sambil menatap pemandangan kota Seoul dari jendela.

Dengan langkah mantap, Wonwoo mulai berjalan ke arah lift yang akan mengantarnya ke lantai satu. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke minimarket dua puluh empat jam yang berada dua kilo meter di tempat apartemennya.

Lagi-lagi langkah Wonwoo harus berhenti saat matanya kembali menangkap sosok pemuda bersurai hitam yang sekarang memandangi pemandangan kota di balik jendela besar itu. Pemuda itu masih sama seperti yang Wonwoo lihat empat jam lalu. Berdiri dengan senyum tipis yang bertengger di wajah tampannya. Ingin sekali Wonwoo bertanya kenapa pemuda itu masih diam di sana. Padahal ini sudah malam. Ia juga ingin bertanya apa benar jika pemuda itu yang datang menolongnya di cafe?

Tombol lift di tekan perlahan oleh Wonwoo. Ia hanya perlu menunggu agar pintu lift ini terbuka, dan segera pergi meninggalkan pemuda itu. Entahlah, ada sesuatu yang aneh dalam diri pemuda itu. Wonwoo tidak tahu kenapa ia bisa merasakannya. Wonwoo hanya tahu, jika pemuda itu mungkin saja berbahaya. Seperti kedua sosok misterius bersayap yang Wonwoo lihat di cafe.

“Hei, Apa kau tahu? Ternyata dunia fana tidak berubah sejak terakhir kali aku datang ke sini.” Dahi Wonwoo mengernyit heran saat mendengarnya. Dunia fana? Apa Wonwoo sedang berhadapan dengan orang mabuk sekarang? atau pemuda yang ada di hadapannya ini adalah seorang alien sehingga ia jarang berkunjung ke bumi? Ah. Baiklah. Lupakan tentang itu. Mungkin Wonwoo akan mengurangi membaca cerita fiktif tentang alien.

“A-apa kau baru saja datang ke Seoul?” Wonwoo mencoba membuka suaranya. Ia tidak ingin berfikiran negatif tentang pemuda itu. Mungkin saja kan pemuda itu baru datang dari Desa.

“Tidak. Aku datang dari dunia bawah.” Kali ini, Wonwoo sangat yakin jika orang yang di depannya ini mempunyai gangguan jiwa. Memang ada kota di Korea yang bernama dunia bawah? Tentu saja tidak ada. Sekarang, Wonwoo benar-benar ingin pergi dari sini. Ia tidak mau meladeni pemuda itu lebih lama. Dan kenapa lift ini sama sekali tidak bekerja? Apa petugas apartemen mematikannya? Jika seperti itu Wonwoo harus menuruni anak tangga untuk sampai ke bawah.

“Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?” Kali ini Wonwoo kembali melirik ke arah pemuda aneh itu. Dengan gugup, Wonwoo mulai mengangguk sebagai jawaban. Dan anggukan Wonwoo malah membuat pemuda itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman menawan.

“Lupakan saja apa yang ku katakan padamu. Siapa namamu?” Pemuda bersurai hitam itu mulai menatap Wonwoo dengan pandangan menilai. Setelahnya ia menggulum sebuah senyuman tipis.

“Jeon Wonwoo. Kau?”

“Kim Mingyu. Seharusnya kau tidak lupa namaku.” Mingyu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Wonwoo. Sementara Wonwoo malah memundurkan tubuh mungilnya dengan refleks. Hingga membentur dinding yang ada di belakangnya.

“Hey. Wonwoo-ya.. Apa kau percaya jika iblis dan juga malaikat itu ada?” Alis Wonwoo mengerut. Kembali tidak mengerti dengan apa yang Mingyu ucapkan. Kenapa Mingyu bertanya tentang hal itu? Tentu saja Wonwoo percaya. Malaikat dan Iblis itu nyata. Di dalam alkitab dan juga perjanjian lama di ceritakan dengan detail bagaimana malaikat. Ah. Apa Mingyu itu seorang atheis sehingga bertanya hal ini pada Wonwoo?

“Tentu saja.” Wonwoo mengangguk mantap. Mengabaikan tatapan intens dari Mingyu yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya.

“Lalu bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau adalah malaikat?” Dan ucapan dari Mingyu membuat tubuh Wonwoo menegang dalam sekejap. Pertanyaan yang di ucapkan Mingyu memenuhi seluruh otaknya. Membuat kepala Wonwoo seakan penuh karena pertanyaan itu. Tapi Wonwoo tahu, itu semua sama sekali tidak mungkin. Wonwoo itu manusia, bukan malaikat seperti yang Mingyu ucapkan.

“Kau gila Mingyu-ssi.” Matanya menatap tak suka ke arah Mingyu. Sebelum mendorong tubuh Mingyu menjauh, dan kembali berbalik ke arah apartemen miliknya. Sepertinya Mingyu memang tidak waras. Seharusnya Wonwoo tidak mengobrol dengan Mingyu.

“Kau adalah nephilim, Jeon Wonwoo. Aku bisa merasakannya.” Suara bariton milik Mingyu menggema di seluruh koridor sepi itu. Membuat Wonwoo membalikkan badannya, berniat untuk kembali melihat sosok Mingyu yang sekarang menghilang. Bagai di telan angin malam.

Nephilim..” Wonwoo bergumam pelan. Kata-kata itu sama sekali tidak asing di telinga Wonwoo. Seolah Wonwoo memang sering mendengarnya. Sepertinya Wonwoo harus kembali membuka buku lamanya, dan mencari tahu soal Nephilim. Karena kedua sosok bersayap tadi juga menyebut jika dirinya adalah nephilim.

TeBeCe

Glousarium :

1. Dewa Hades : Dewa penguasa Dunia Bawah

2. Persephone : Ratu Dunia Bawah. Istri Hades.

3. sungai phlegethon : Sungai api yang menjalar dari kerajaan Hades ke Tartarus. Tempat menyiksa orang mati di padang hukuman.

4. sungai acheron : Sungai rasa sakit

5. Sungai lethe: Sungai bisa membuat orang kehilangan ingatan

6. padang asphodel : Tempat di dunia bawah di mana orang mati yang amal baik dan buruknya seimbang.

7. padang hukuman : Tempat di dunia bawah untuk menyiksa roh orang jahat.

8. Thanatos : Dewa Kematian Yunani. Abdi Hades.

Pintu Ajal : Pintu yang menghubungkan dunia manusia dan dunia bawah.

Pertama saya mau minta maaf karena FF ini absurd. Salahin imajinasi nista saya yang kelewatan sehingga mencampur semuanya menjadi satu. Wkwk

Iseng aja gue rombak ini. karena greget pas baca ulang pof ga sesuai keinginan gue dulu karena deadline yang nyiksa waktu itu . wkwk

Saya ga mau banyak cingcong. Berkenankah Review guys?

Astia Morichan

Rendezvous | KyuMin | OS

0

Ini hanyalah khayalan saya mengenai KyuMin. Kalau imajinasi kita tak sama tentag KyuMin tolong menjauh saja :’) sekalian curhat boleh kali yah chingudeul. Para JOYers,, apa kalian merindukan KyuMin sama seperti saya yang merindukan mereka. Jujur, hati saya masih berharap jika KyuMin masih bersama. Ada sesuatu dari KyuMin yang belum selesai sampai saya rela menunggu apa yang akan terjadi ke depan. Ada beberapa alasan KyuHyun juga yang membuat saya tetap teguh jadi Joyers. Jadi inilah khayalan saya. Apa kalian masih menjadi Joy dan berharap seperti saya?

enJOY!

Cinta itu konyol. Kyuhyun sangat mengakui hal itu. Karena ia rela menjadi orang idiot dan tersakiti hanya untuk seorang Lee Sungmin- namja yang ia cintai sampai kapanpun.

Begitu pula dengan Sungmin. Sungmin tidak bisa melepaskan sosok Cho Kyuhyun yang sudah menghiasi kehidupannya selama hampir delapan tahun bersama. Ia mencintai Kyuhyun. Sungmin membutuhkan Kyuhyun selayaknya ia membutuhkan oksigen.

.

.

.

Lee Sungmin menatap tajam pria bersurai coklat yang sekarang membuka pintu kamar hotel miliknya- yang beberapa jam lalu ia pesan. Rendezvous again. Well, Sungmin sudah tidak peduli tentang hal itu. Sungmin hanya peduli tentang Cho Kyuhyun yang sekarang mengangkat sebelah alisnya, sambil melepaskan topi yang sejak tadi ia pakai. Kyuhyun hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut tubuh bidangnya. Sungmin yakin, jika Kyuhyun sengaja memakai kaos putih itu untuk menggoda beberapa gadis. Sial! memikirkannya saja membuat Sungmin kesal setengah mati.

“Waeyo, Hyung? Kau menatapku seperti aku ini adalah seorang penjahat.” Kyuhyun tersenyum asimetris sebelum melangkahkan kakinya ke arah Sungmin yang masih berdiri dengan tatapan sangar di depannya. Sungmin bisa melihat Kyuhyun tersenyum tanpa rasa bersalah ke arahnya. Pria itu masih menyunggingkan senyum menggoda dan juga tatapan lembut yang masih mengarah ke arahnya.

“Kenapa kau ingin bertemu denganku? Apa kau kabur dalam pelatihan negara, Hyung? Kau nakal sekali.” Kyuhyun terkekeh pelan. Tangannya terulur untuk menarik Sungmin masuk ke dalam pelukannya. Ah- ia benar-benar merindukan sosok Sungmin. Sudah satu bulan mereka tidak bertemu. Jika bisa, Kyuhyun ingin mengurung Sungmin di dalam kamar pribadinya.

Kyuhyun membenamkan kepalanya pada ceruk leher Sungmin. Menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang menguar dari tubuh namja itu. Ah, wangi Sungmin memang memabukkan. Kyuhyun tidak akan bosan dengan wangi tubuh Sungmin. Hanya mencium wangi tubuh Sungmin saja sudah bisa membuat perasaan Kyuhyun tenang dengan sekejap.

“Uh… Kau tidak merindukanku, Kyu!” Sungmin mencoba mendorong tubuh Kyuhyun. Tapi sayangnya, usaha miliknya sangat sia-sia. Kyuhyun malah mencengkram pinggang Sungmin dengan erat, sehingga ia sama sekali tidak bisa bergerak beberapa menit. Sebelum akhirnya, Kyuhyun mulai membuka mulutnya.

“Kau marah padaku, Hyung?” Kyuhyun melepas pelukan mereka. Ia bisa melihat Sungmin mengerucutkan bibirnya, dan juga manik foxy milik Sungmin mulai berlinang air mata. Tubuh Sungmin bahkan mulai bergetar pelan saat tangannya memukul pelan dada Kyuhyun.

“Hiks… K-kau jahat, K-kyu.. Hikss..” Tangis Sungmin yang terisak membuat Kyuhyun mengernyitkan alisnya. Ia bingung. Kyuhyun tidak mengerti apa yang sudah ia perbuat sehingga Sungmin menangis seperti sekarang. Seingat Kyuhyun, ia sama sekali tidak membuat suatu kesalahan yang membuat Sungmin sakit hati.

“H-hey, Hyung? Apa yang telah aku lakukan, eoh?” Kyuhyun menangkup kedua pipi Sungmin, dan mulai mengusapnya dengan pelan. Mempertemukan manik obisidan miliknya, dengan manik foxy Sungmin. Obisidian itu menatap Sungmin dengan lembut. Seolah mengatakan bahwa Kyuhyun tidak akan pernah meninggalkannya.

“K-kau mencium gadis itu!” Sungmin berteriak tak suka sambil memukul dada bidang Kyuhyun lagi. Sementara Kyuhyun hanya mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Hey! Kyuhyun tidak mencium seorang gadis hari ini. Ia juga tidak mempunyai seorang selingkuhan wanita.

“Aku tidak mencium siapapun, Hyung.” Kyuhyun kembali mengelus pipi Sungmin, dan mencoba membuat namja itu tenang. Kyuhyun tahu jika saat ini perasaan Sungmin sedang tidak bagus.

“Aku melihat kau mencium gadis yang ada di drama itu! Kau mencium dan memeluknya! Saat aku makan di kedai soju bersama yang lain, drama itu muncul dan memperlihatkan bagaimana kau berakting Cho! Aku membencinya saat kau memperlakukannya dengan lembut seperti itu! Maka dari itu aku mengajakmu bertemu.” Luapan emosi dari Sungmin membuat Kyuhyun terkekeh pelan saat mendengarnya. Drama yah? Kyuhyun baru ingat jika dramanya tayang musim semi tahun ini. Padahal, ia sudah melakukan syuting untuk drama berdurasi dua belas menit itu tahun lalu. Dan sepertinya ia juga sudah memberitahu Sungmin jika ia akan bermain dalam sebuah drama picisan dan melakukan beberapa adegan- yang Kyuhyun yakin membuat Sungmin marah seperti ini. Ah, Sungmin benar-benar egois.

“Kau tahu? Saat aku menciumnya seperti ini..” Kyuhyun mendekatkan bibirnya pada Sungmin, dan mulai mengecup singkat bibir plum namja itu dengan lembut.

“Aku memikirkanmu, Lee Sungmin. Dan saat aku memeluknya seperti ini..” Kyuhyun membawa Sungmin dalam pelukan hangatnya. Membuat tubuh Sungmin tenang dan tidak kembali bergetar karena isak tangisnya.

“Aku hanya memikirkan Lee Sungmin, seorang yang sekarang sudah di miliki oleh orang lain. Bukankah kau egois, Hyung?” Kyuhyun terkekeh sambil mengecup pucuk kepala Sungmin pelan. Ia bisa merasakan Sungmin mengeratkan pelukan mereka.

“Kau yang jahat, Hyung. Bukan aku. Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku saat melihatmu dua tahun lalu bersanding di pelaminan dengan orang lain? Saat itu, duniaku sudah hancur Hyung. Ah, Andwae. Duniaku hancur saat kau memutuskan untuk memilihnya, dan tetap bersamaku di belakangnya.” Kyuhyun terkekeh lagi. Membuat Sungmin menegang saat mendengar ucapan Kyuhyun. Sungmin akui, ia memang jahat pada Kyuhyun. Kyuhyun terlalu baik padanya sampai ia rela terluka untuk Sungmin. Sungmin merasa seperti orang jahat karena membuat Kyuhyun menderita seperti sekarang. Jika bisa, Sungmin ingin memilih untuk bersama Kyuhyun selamanya.

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah..”Suara Sungmin bergetar hebat. Tangan Sungmin mencengkram erat kaos yang Kyuhyun kenakan. Bahu namja itu kembali bergetar karena menahan isak tangisnya.

“Jika bisa, aku tidak ingin jatuh cinta padamu, Hyung. Tapi sayangnya, kau membuat duniaku berwarna dengan cinta saat kita bersama. Tapi saat kau memutuskan untuk bersama wanita itu, duniaku hancur. Aku masih belum siap untuk jatuh saat kau menghempaskanku dari ketinggian yang tidak mungkin aku gapai.”

“Kyuhyun-ah…” Sungmin mengadahkan kepalanya. Menatap manik obsidian Kyuhyun dengan tatapan sayunya. Sungmin benar-benar merasa bersalah pada Kyuhyun. Ia adalah orang yang paling jahat di dunia ini, karena menyakiti Kyuhyun yang sangat mencintainya.

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Sampai rasanya, cinta ini menjadi sangat menyakitkan. Aku tahu, aku adalah orang yang paling egois karena mencintaimu seperti ini. Tapi jika kau ingin kita berhenti, aku siap Kyu. Aku juga ingin kau bahagia.” Sungmin mengelus pipi Kyuhyun dengan perlahan, sebelum mengecup pipi Kyuhyun lama dan meresapinya agar bisa selalu Sungmin ingat sampai kapanpun.

“Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Aku mencintaimu, Ming. Aku masih bisa menahan rasa sakit ini.” Kyuhyun kembali memeluk Sungmin dengan erat. Ia benar-benar merindukan Sungmin yang menjadi kekasihnya malam ini. bukan Sungmin yang menjadi Hyungnya, atau Sungmin yang menjadi rekan kerjanya, atau juga Sungmin yang menjadi suami dari istri orang. Kyuhyun merindukan Sungmin kekasihnya yang akan selalu menjadi miliknya sampai kapanpun.

“Jika kau menemukan seseorang yang lebih baik dari ku, kau harus bersamanya. Arraseo?” Kyuhyun bisa mendengar nada tidak rela yang Sungmin keluarkan. Mereka sudah sepakat tentang hal ini. walaupun pada awalnya Kyuhyun tidak setuju dan menolak mentah-mentah keinginan Sungmin tentang hal ini saat itu. Tapi sekarang, Sungmin harus mencoba merelakan segalanya jika ia tidak ingin Kyuhyun tersakiti.

“Aku tahu, Ming. Aku mencintaimu sampai kapan pun.”

“Aku tahu. Maafkan aku, Kyu. Aku juga sangat mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Dan setelahnya, Kyuhyun membawa Sungmin ke dalam ciuman panjangnya. Mungkin akan ada saatnya mereka bisa bersama kembali. Tuhan hanya belum membuat semuanya sempurna bagi Kyuhyun dan Sungmin. Mereka tidak salah. Mereka tidak pantas di hujat. Cinta mereka itu murni. Hanya saja, salahkan Cupid yang salah memanahkan panah pada mereka, karena mereka sesama lelaki. Ini adalah salah Cupid. Bukan kesalahan Kyuhyun dan Sungmin sehingga mereka jatuh cinta.

FIN

YAH SAYA MEMANG GALAU TENTANG KYUMIN!
MASBAYU? MASALAH BUAT YU? WKWK
KYUMIN OH KYUMIN
KENAPA OH KENAPA KALIAN TIDAK BERSATU LAYAKNYA BAOZI DAN HANA?! WHY? WHY?

Love Is Blind, Right? | KyuMin | OS

0

Ini hanyalah khayalan saya tentang KyuMin. Awalnya sih, cuman niat flashback. Liat-liat video ttng KyuMin. Eh, malah jadinya baper ;'( dan akhirnya terciptalah khayalan seperti ini. Hikss.. Kyuhyun-ah, aku hanya ingin kau bahagia. Cukup. Itu saja. Tidak lebih.

.

oOo

.

Bukankah cinta itu buta? Walaupun di sakiti olehnya berulang-ulang. Tanganku selalu terbuka lebar untuknya. Seberapa egois dirinya, aku akan selalu berada di sampingnya. Bodoh dan konyol kan? Tentu saja. Karena cinta itu sangat konyol dan tidak masuk akal.’

.

oOo

.

Di kamar bernuansa pink itu, nampak kedua namja tengah berhadapan. Satu namja berkulit pucat yang menatap namja yang lebih pendek dengannya.

“Aku ingin bercerai dengannya, Kyuhyun-ah,” manik foxynya menatap yakin Kyuhyun yang sekarang menautkan kedua alisnya bingung. Tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Hyung kesayangannya itu. Tapi ada secercah harapan di hatinya agar bisa memiliki lagi laki-laki itu.

“Aku lelah. A-aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu…” lanjutnya dengan bibir bergetar. Isakan lirih yang keluar dari mulutnya terdengar jelas oleh Kyuhyun. “A-aku mohon bawa aku pergi.” Sungmin menarik lengan Kyuhyun. Memeluk lengan namja berkulit pucat itu dengan erat.

“Min,” Suara bariton penuh kerinduan itu mengalun indah di telinga Sungmin.
“Kau tahu? Cintaku padamu sudah terlalu besar. ” Sungmin mendongak, bibirnya masih bergetar.

“Kau memiliki tanggung jawab, Hyung-ah.” Jujur. Ingin rasanya Kyuhyun membekap mulutnya dan mengatakan bahwa sebenarnya Ia ingin Sungmin menjadi miliknya lagi. Tapi Kyuhyun tahu, itu semua tidak mungkin bisa terjadi.

“Pulanglah Min.”

“A-apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Kyuhyun-ah?”

“Bukankah kau tahu aku sangat mencintai dirimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri?”

“Kalau begitu bawa aku pergi. Miliki aku lagi, Kyu.” Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Membuat Kyuhyun mencelos. Ia tidak ingin membuat Sungmin menangis lagi. Ia hanya ingin kebahagian untuk Hyungnya itu. Kyuhyun hanya tidak ingin Sungmin di hujat oleh seluruh dunia hanya karena dirinya. Tidak. Kyuhyun tidak ingin semua itu terjadi.

“Aku hanya ingin kau bahagia, Min.” Kyuhyun menangkup kedua pipi Sungmin. Menghapus air matanya, sebelum mengelus pelan pipi chubbynya dengan lembut. Sentuhan Kyuhyun selalu membuatnya tenang. Sungmin menyukai semuanya tentang Kyuhyun. Sungmin tahu Ia egois, karena selalu menyakiti Kyuhyun yang sangat mencintainya. Tapi itu tidak lebih karena Sungmin mencintai namja berkulit pucat itu.

“Bawa aku pergi. Hiks… Kyu… A-aku hanya ingin dirimu.. Hiks… M-maafkan a-aku… Hiks… ” Tangis Sungmin pecah seketika. Suaranya bergetar hebat. Nafasnya tersendat, karena kesulikan menghirup oksigen. Sungmin tidak peduli, yang penting Ia ingin menangis sekarang agar perasaan menyesalnya hilang begitu saja.

Melihat Sungmin yang tampak kacau, Kyuhyun membawa Sungmin dalam dekapannya. Mengelus punggungnya dengan lembut. Berharap tangisan dari namja pemilik foxy eyes itu akan berhenti di ikuti dengan kesedihan dan penderitaannya yang menghilang.

“Aku tahu, Min. Tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja.” Sungmin menganguk pelan dalam pelukan Kyuhyun.

“B-berjanjilah padaku, jika kau akan membawaku p-pergi.” Suaranya masih bergetar. Sungmin semakin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun.

“Hn. Aku berjanji padamu Cho Sungmin.”

.

.

Setelah kejadian dimana Sungmin menangis meraung-raung di kamar mereka yang ada di dorm. Sungmin memutuskan untuk berhenti dari wajib militer yang Ia jalani selama satu tahun itu. Padahal tinggal satu tahun lagi abdinya pada negara selesai. Tapi Sungmin berhenti dengan bukti dan alasan yang cukup kuat agar pemerintah bisa menghentikan wajib militernya. Dan itu berhasil. Setelah itu, Sungmin memutuskan untuk segera menyelesaikan proses perceraiannya dengan Saeun. Awalnya istrinya itu menolak mentah-mentah. Dengan alasan bahwa Ia sangat mencintai Sungmin. Tapi akhirnya istrinya itu harus menelan pil pahit bernama kekecewaan karena Sungmin mengaku bahwa dirinya menyimpang. Sakit. Itulah yang wanita itu rasakan. Walaupun dengan enggan, Saeun memutuskan untuk menyetujui perceraian mereka.

Disinilah Sungmin berada sekarang, setelah menyelesaikan semua persoalannya. Sungmin memakai mantel tebal berwarna coklat. Wajahnya di tutupi oleh masker berwarna hitam. Tak lupa juga sebuah topi coklat yang menutupi wajahnya agar tak terlihat oleh netizen yang berada di Bandara Incheon. Kyuhyun pun sama. Pria berkulit pucat itu juga menyamarkan dirinya. Tangan kekarnya menggenggam jemari Sungmin erat. Menariknya lembut ke dalam pintu pesawat. Mereka duduk di ruangan vip di pesawat itu. Tujuan mereka adalah Belanda.

“Apa kau tidak akan menyesal, Min?” Suara bariton milik Kyuhyun membuatnya mendongak. Manik foxynya kini menatap obsidian kelam milik Kyuhyun. Lalu sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tulus. Tangan Sungmin bergerak pelan menangkup pipi Kyuhyun. Dan mengusapnya lembut.

“Kau tahu?” Matanya memicing ke arah Kyuhyun. Setelahnya Sungmin terkekeh pelan. “Penyesalanku itu hanya satu Kyuhyun-ah. Saat aku memutuskan untuk meninggalkanmu.”

Kyuhyun terdiam. Menunggu Sungmin untuk menumpahkan segala perasaannya.

“Terimakasih atas semua cinta yang kau berikan padaku. Terimakasih karna kau selalu mencintaiku yang egois ini. Terimakasih Kyuhyun-ah.” Setelahnya, Sungmin mendaratkan ciuman lembut di bibir Kyuhyun. Ciuman penuh cinta yang di balas dengan tekanan lembut dari Cho Kyuhyun.

“Aku lebih mencintaimu Ming.” Bisik Kyuhyun di sela-sela ciumannya.

.

oOo

.

Tamat! Banzaii! Tamatt. Hahaha. Nyeseekk… krikk… sakit, kalau inget mereka. Iya gak JOY? Adakah yang masih merindukan mereka sekarang? yah, Kyuhyun dan Sungmin. mungkin mereka mencintai dalam hati :’) hiksss…

Ruin | KyuMin Fanfict| Yaoi|OneShot

0

Cause I’m not tryna ruin your happiness.

Eventhough you dont mean to hurt me. You keep tearing me apart.

~KyuMin~

 

Seperti biasa. Ini adalah khayalan saya. Khayalan sedih saya. Saya sedih kalo ingat kejadian dua tahun lalu.

 

.

.

 

Kata orang, jatuh cinta itu indah. Jatuh cinta juga bisa membuatmu sakit sampai rasanya, nyawamu akan di renggut saat orang yang kau cintai meninggalkanmu.

Dan Kyuhyun merasakannya. Ia tahu apa yang orang-orang katakan tentang cinta bukan bualan semata. Mereka semua benar. Cinta itu indah dan juga menyakitkan. Kyuhyun mengalaminya. Ia berkali-kali jatuh hanya karena terlalu mencintai seorang Lee Sungmin.

Kyuhyun jatuh cinta pada pemuda manis itu sejak pertama kali mereka bertemu. Apalagi saat cinta terlarang ini terbalas oleh Sungmin. Kyuhyun sangat bahagia, sampai rasanya ia tidak bisa menjelaskan semua kebahagian yang Sungmin berikan.

 

“Aku mencintaimu, Hyung.” Wajah pemuda berkulit pucat itu merona. Kyuhyun sangat gugup saat mengatakan hal ini pada Sungmin. Jantungnya berdetak dengan keras. Ini adalah keputusan besar yang Kyuhyun ambil. Kyuhyun akan mengambil semua resiko yang ada. Jika Sungmin akan menjauhinya nanti karena pengakuannya. Kyuhyun tidak tahan memendam perasaan ini lebih lama lagi.

 

“Aku pria. Sama sepertimu, Kyuhyun-ah.” Suara Sungmin sangat pelan. Seperti berbisik. Jika saja mereka tidak berada di kamar, mungkin saja Kyuhyun tidak bisa mendengarnya.

 

“Aku tidak peduli, Hyung. Jika dunia menghujat kita nanti, aku adalah orang yang akan menggenggam tanganmu sampai akhir Lee Sungmin.” Tangannya terulur ke arah dagu Sungmin. Membuat Sungmin mengadah, dan menatap manik obsidian Kyuhyun yang kelam. Manik obsidian yang selalu membuatnya terpesona dan terjerat sekaligus.

 

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, Kyu. Jika kita memulai ini, mungkin bukan kau saja yang hancur. Tapi aku juga. Ini salah. Ini tidak boleh terjadi.” Sungmin menggeleng dengan keras. Ia tidak mau memulai hal ini. Walau hatinya bersorak bahagia saat mendengar pengakuan Kyuhyun. Kyuhyun mencintainya. Seperti ia yang mencintai Kyuhyun.

 

“Aku akan mengambil semua resikonya, Ming. Kau menyukaiku, dan aku juga sangat menyukaimu. Kita jalani semuanya bersama. Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.” Kyuhyun menarik tangan Sungmin. Menggenggamnya dengan erat. Seolah meyakinkan Sungmin jika semua akan baik-baik saja.

 

“Percaya padaku, Ming.” Sungmin mengangguk sebagai balasan. Setelahnya, Kyuhyun bisa bernapas dengan lega. Senyum bahagia terukir di wajah tampannya. Sungmin menyetujuinya. Sekarang Lee Sungmin adalah kekasih dari Cho Kyuhyun.

Di tariknya tubuh mungil Sungmin ke dalam dekapan hangatnya. Kyuhyun memeluknya dengan erat. Ia tak henti mengucapkan terimakasih pada Sungmin. Di sertai dengan kecupan singkat di bibir plum pemuda itu. Ciuman pertama mereka yang membuat darah mendesir di sertai rasa bahagia yang membuncah. Sampai Kyuhyun tidak bisa menjabarkan semuanya lagi.

 

“Cih.” Kyuhyun mendecih pelan, saat ia kembali mengingat momen itu. Jika saja Sungmin tidak pernah memberi perhatian saat ia pertama kali menjadi member Super Junior, mungkin saja Kyuhyun tidak akan terpesona. Jika saja Sungmin ikut mengabaikannya, mungkin Kyuhyun tidak akan jatuh cinta pada pemuda itu.

.

oOo

.

 

Saat ini ia tengah berada di sebuah ruangan khusus miliknya yang ada gedung theater. Bersama Lee Sungmin yang datang dengan raut wajah marah beserta amukan marahnya untuk Kyuhyun. Pria itu kembali marah hanya karena hal sepele. Padahal Kyuhyun sudah menjelaskannya berkali-kali. Tapi tetap saja Sungmin selalu seperti ini. Kyuhyun sudah lelah di permainkan oleh kekasihnya.

 

“Kita hentikan semua ini, Hyung.” Manik obsidiannya menatap tajam pria mungil bersurai hitam yang ada di depannya. Kyuhyun bisa melihat Sungmin membulatkan manik foxynya seakan meminta penjelasan.

 

“Kau benar. Mungkin seharusnya kita tidak memulai ini semua. Seharusnya kau menolakku mentah-mentah saat itu!” Kyuhyun berteriak ke arahnya. Ia sudah lelah dengan semua ini. Mereka kembali bertemu secara sembunyi-sembunyi. Seperti saat ini, Lee Sungmin datang menonton acara drama musikal miliknya. Lalu pemuda itu berteriak marah saat Kyuhyun melakukan beberapa adegan panas bersama pemain lainnya di sana.

Sungmin-nya tidak mengerti, jika Kyuhyun sudah lelah. Jika Sungmin memang sangat mencintainya, seharusnya ia meninggalkan wanita itu.

 

“Istrimu mungkin menunggu di rumah. Pulanglah. Aku lelah, Hyung.”

Sungmin masih terdiam. Enggan menjawab. Ia tidak ingin semua ini berakhir.

 

“Apa kau tidak ingin aku berada di sisimu lagi,  Kyu?” Sungmin mendongak. Manik foxynya mulai berair, dan Kyuhyun benci melihat Sungmin menangis seperti itu.

 

“Kali ini, aku bertanya padamu untuk terakhir kalinya. Siapa yang akan kau pilih? Aku atau istri yang kau nikahi itu?” Suara Kyuhyun semakin dingin. Manik obsidiannya kembali menatap Sungmin dengan tajam. Kyuhyun butuh jawaban yang pasti. Ia sudah lelah menunggu.

 

“Kau tahu alasanku menikahinya, Cho!”

 

“Dan aku tidak peduli apapun alasanmu itu, Lee Sungmin. Jika kau memang setakut itu kehilanganku, maka ceraikan dia! Aku tidak ingin di cap sebagai selingkuhan suami orang.” Kyuhyun menekan kata-katanya. Membuat Sungmin memberingsut mudur. Tubuh pemuda itu bergetar hebat. Dan Kyuhyun tahu, jika ia sudah keterlaluan.

“M-m-maafkan.. A-aku.” Sungmin menunduk. Menyembunyikan air mata yang sekarang mulai menghiasi wajahnya.

 

“Kau tahu ? Sudah berapa kali kau membunuhku, Lee Sungmin? Kau sudah berkali-kali membunuhku, lalu menghidupkanku kembali dengan cintamu itu. Kau tahu? Aku bahkan rela di sakiti olehmu, Ming. Apa kau sama sekali tidak mengerti? Aku bukanlah seorang malaikat yang sabar menunggu kekasihku bersama orang lain. Aku lelah bertahan untukmu, Ming. ” Ada rasa tidak rela saat melihat Sungmin menangis seperti ini di hadapannya. Ingin sekali Kyuhyun memeluk Sungmin saat ini. Tapi Kyuhyun tidak bisa bertahan terus seperti ini. Jika Sungmin memang mencintainya, pria itu pasti akan memilihnya lagi.

 

“D-dia hamil, Kyu..” dan Kyuhyun kembali merasakan nyawanya di renggut paksa. Lee Sungmin kembali membunuhnya kali ini. Rasa sakit yang timbul di hatinya lebih terasa menyakitkan. Udara di sekitarnya seakan menipis. Kyuhyun tidak bisa bernapas dengan baik. Rasanya sesak sekali. Sampai ia ingin sekali menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, jika ini benar-benar menyakitkan.

 

“Selamat. Kau sudah menjadi seorang ayah.” Kyuhyun mencoba memberikan senyum terbaikknya. Mungkin ini adalah jalan yang paling baik. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagian keluarga kecil kekasih tercintanya.

 

“Aku tidak ingin mendengar ucapan selamat darimu, Cho!” Sungmin berteriak. Di sertai isakan lirih yang lolos dari bibirnya.

 

“Lalu kau ingin aku mengucapkan apa?”

 

Sungmin kembali terdiam kaku. Ia bingung. Ia masih sangat mencintai Kyuhyun.

 

“Hentikan ini. Aku akan melupakan semuanya. Aku juga akan mencari gadis untuk aku nikahi nanti. Tenang saja. Kau akan menjadi orang pertama yang akan ku beritahu.” Kyuhyun menarik Sungmin ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, dan mencoba menghirup aroma Sungmin untuk terakhir kalinya. Ini akan menjadi pelukan mereka yang terakhir. Dan Kyuhyun akan mengingat semua ini dengan baik.

“Mianhae, Saranghae Cho Kyuhyun. Kau harus bahagia. Sama sepertiku.” Dan Kyuhyun hanya bisa mengangguk di dalam pelukan Sungmin. Tubuhnya ikut bergetar menahan isak tangisnya. Ini menyakitkan. Cinta yang awalnya Kyuhyun pikir akan selalu menjadi indah, kini telah membusuk dan menyakiti dirinya sendiri. Seharusnya Kyuhyun tahu, jika ia tidak boleh memulainya. Jika saja Kyuhyun mempunyai keberanian lebih saat itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Sungmin akan menjadi miliknya, dan mereka akan bahagia selamanya.

 

Kyuhyun hanya akan mengingat semua ini dalam memori kelamnya. Ia akan mengubur semuanya, dan mencoba kembali hidup seperti saat dimana Lee Sungmin tidak ada.

“Nado saranghae, Cho Sungmin.”

 

FIN

 

MEWEK GUE NGETIK INI…

Galau gue. Masbuloh?
Ada kah yang miris kaya gue?
Adakah Joyer di sini yang penderitaannya sama kaya gue?
Gue kangen para joyer. Gue kangen author kyumin. Gue kangen. Gue rindu. Sangat.
Gue kangen share kenistaan bareng.
Ada yang same feel sama gue?

GUE CURHAT AH.. SEDIH MASA LIAT AUTHOR KYUMIN PADA GA NULIS FF KYUMIN LAGI. OKE SAYA JUGA TERMASUK. SAYA TAHU ITU KOK. SEDIH TAU.. PAS LIAT SIGMAME EON GA AKAN UP LAGI KM. PAS RAINY EON JUGA. SEDIH SAYA. MEREKA AUTHOR FAV SAYA SEMUA. YANG MASIH STAND STILL HANYA MAMIJU2E EON AJA.

APA SAYA JUGA HARUS BALIK LAGI NULIS KYUMIN SEPERTI EMPAT TAHUN LALU? HARUSKAH? TAPI SAYA SEDIH. SAYA NULIS KYUMIN KALO PAS GALAU MELANDA KAYAK GINI.

SAYA HARUS APA? KYUMIN ITU OTP PERTAMA SAYA. OTP TERBAIK. OTP YANG SAYA ANGGAP REAL, DAN SAYA GA PERNAH MERAGUKAN KEREALAN MEREKA. TAPI SIALNYA, TAKDIR BERKATA LAIN.

CINTA SAYA BUAT KYUMIN MASIH BESAR. BELUM TERHAPUS. BELUM ADA OTP LAIN YANG MENGGANTIKAN SOSOK KYUMIN DI HATI SAYA. AKAKURO AJA BELUM SEPENUHNYA. 😥

MASIH ADA YANG NGEGANJEL. DARI KYUMIN. ADA YANG BELUM BERES, DAN SAYA MASIH HARUS NUNGGU SEMUANYA SELESE. ADA YANG NGERASAAIN HAL SAMA KAYAK SAYA? KAYA GITU TUH.

 

EOTHAE?

 

Bye aja deh. Saya mau curhat di blog aja.

Sayonara

Salam JOYer sejahtera!

Astia Morichan