READERS BLOG TOLONG BACA

2

kalau ada yang nanya password, dan sama saya ga di bales di kolom komenan, atau pun email, karena notif email suka ketimpuk. silahkan baca lanjutannya di wattpad saya @morichan_ semua cerita sasuhina yang you must love me, naruhina married project, ff meanie ada di wattpad. di cek aja, makasih.

Advertisements

Please Read For All My Reader

0

Hai

Annyeong ^^

Domou minna-san ^^

 

Saya mau kasih tau. Kabar buruk sebenarnya. Bagi para pembaca cerita Yaoi yyang saya buat. Atau bagi para reader yang membaca cerita rated yang saya buat bagi di FFN atau di wattapad. Kalau di blog cerita akan otomatis terpassword jadi saya ga akan hapus. Tapi untuk FFN dan wattpad saya hapus ^^

 

Mungkin saya hanya akan memposting untuk diri saya sendiri. Kelanjutan FF hanya untuk saya saja . saya minta maaf. ada beberapa hal yang mengharuskan saya untuk berhenti mempost cerita Yaoi Rated. Saya minta maaf.

Jujur saya takut. Haha.

 

Jadi nanti Saya hanya mempost cerita rated T. dan seterusnya. Maupun itu straight atau Yaoi.

 

Kalaau mau baca kelanjutan ceritanya mending beli pdf atau bukunya di saya. Biar dosanya hanya aku dan kamu.

saya gak mau tebar dosa dan di baca banyak orang. jadi cukup nanti private aja dosanya. LOL

 

Terimakasih

Nanti bisa chat aku aja. buat PO saya update di sini. Arigatou. Itu pun jika ada yang mau baca dan kepo dengan ending yang saya buat. Line/Ig astia_morichan

 

astia morichan ^^

 

OPEN COMISSION FANFICT

0

Haii.. Haloo…
Ehm.. Jadi gini.. Saya mau coba buka Comission FF karena efek bu/? Wkwk.

1. IDR Harga Rp 5/ Kata. Jadi Kalau misalnya mau di buatin 5 k word harganya 25.000, dst

2. Paymentnya bisa pake pulsa atau transfer. Wkwk.

3. Bisa request ff genre apapun. Dengan pair apapun. Asal kalian jelasin mau kayak gimana.

4. Mau isinya rated naena semua juga bisa. Pwp bisa. Alur dan plot bisa kalian request.

5. Ff nya di post hanya jika klien mengizinkan. Kalo misalnya ga mau di post secara gratis yah gapapa. Saya kasih file pdf ke klien. Jadi comission itu hanya khusus di buat untuk yang request.

6. Buat contoh tulisan saya. Kalian bisa liat di work list.

7. Kalau minat pm aja.

8. Ada yang minat kagak gue buatin ff berpayment tapi. Wkwk

Kalo ga ada sih gapapa. Gue mau meratap gitu. Wkwk

Ps: saya open hanya 3 commision dulu. Dan commision saya kerjain pas awal bulan mei. Karena bulan ini saya ada uts. Kalau mau nanya lebih lanjut bisa chat line saya ‘astia_morichan

Salam!! Morichan!!

Killing Stalking | Yaoi| Meanie| Hardcore| Chap 1

2

Killing Stalking

 

MAAF. BOCAH DI PERSILAHKAN UNTUK MINGGAT DARI CERITA SAYA. TOLONG YAH. NANTI PIKIRAN KALIAN MALAH KOTOR.

DOSA ANDA TANGGUNG SENDIRI, BRAY!

 

RM 18!!

 

Angst, Gore, Violet, Rape,

 

Warning!! YAOI, TYPO’S, RAPE, LIL BIT VIOLET, EYD, SLUTTY WONWOO, TIDAK SESUAI, DLL

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Based On Killing Stalking by Koogi and Saezuru by Yoneda Kou. Tapi saya komplikasikan dengan imajinasi bejat saya, hingga berbeda. Lagian ini ga akan panjang kok. Cuma FF iseng karena saya kurang asupan.

a/n: Ini di ketik ketika inget Sangwoo di chap 18, dan juga pas banget gue lagi dengerin bl cd saezuru. Wkwk. Makin bejadlah pikiran gue selama liburan.

Gue bosen masoin Wonu di setiap FF gue, jadi disini gue mau masoin Mingyu aja. Hehe. Kali-kali bias gue dong bahagia bisa jadi super dominan buat fap ama Gyu. wkkwk

 

enJOY!

 

Kim Mingyu menyunggingkan sebuah senyum tipis, saat melihat sosok Jeon Wonwoo yang berjarak delapan meter di depan. Pria bersurai coklat yang memakai kacamata bulat bertengger di wajah manisnya itu, sedang bercakap-cakap dengan para gadis di taman Fakultas Ekonomi. Wonwoo tersenyum ramah ke arah para gadis yang memekik saat ia menggoda mereka. Membuat Mingyu mendecih tak suka. Andai saja, ia bisa sedekat itu dengan Wonwoo. Sudah pasti, Mingyu akan bahagia, dan tidak akan berdelusi berlebihan tentang Wonwoo lagi.

 

Sudah hampir dua tahun lebih, Mingyu menyukai Wonwoo. Sejak ia masuk ke kampus bergengsi ini, Mingyu sudah menyukai Wonwoo- si anak Fakultas Teknik; yang gedungnya bersebrangan dengan Fakultas Ekonomi. Ia jatuh cinta pada senyum manis Jeon Wonwoo. Wonwoo itu candu bagi Mingyu. Candu bagi jantungnya yang berdebar tak karuan, saat Wonwoo berjarak dua puluh meter di depan. Wonwoo juga sudah menjadi bahan delusi Mingyu untuk onani tiap malam.

 

“Tidak bosan menatapnya dari kejauhan, Kim?” Suara bass milik Seungcheol membuyarkan fokus Mingyu. Pria bersurai pirang itu menoleh. Menatap sinis Seungcheol yang sekarang mendekat ke arahnya. Mingyu tahu, Seungcheol hanya ingin mengolok-olok dirinya, karena tidak mampu mendekati Wonwoo. Julukan yang selalu Seungcheol lontarkan padanya adalah ‘Kim Mingyu si stalker Jeon Wonwoo sampai mati’. Julukannya terlalu panjang? Memang. Tapi Seungcheol tetap tidak peduli, dan terus mengejek Mingyu seperti itu.

 

“Jika aku jadi kau, aku sudah patah hati melihat Wonwoo flirting di depanku.” Mingyu mendengus kasar ke arah Seungcheol. Membuat pria bersurai hitam itu terkekeh penuh kemenangan.

 

“Aku akan memberitahu rumah Wonwoo. Kau bisa kesana, dan menggoda Wonwoo di rumah miliknya. Kau tahu? Kawasan rumah Wonwoo itu sepi. Aku tahu, jika kau sudah menahan birahi dan fantasi sexual pada Wonwoo. Jadi, gunakan kesempatan ini, Gyu.” Seungcheol berbisik pelan di telinga Mingyu. Tangannya terulur. Menyelipkan kertas berisi alamat di jemari Mingyu.

 

“Semoga berhasil.” Kemudian Seungcheol berjalan menjauh. Meninggalkan Mingyu yang masih menatap secarik kertas di tangan. Sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman tipis di wajah. Kali ini, ia berambisi untuk memiliki Jeon Wonwoo.

 

.

oOo

.

Kim Mingyu berjalan dengan pelan. Melewati deretan rumah yang berada di komplek perumahan yang berada di kawasan Jung-gu. Komplek ini nampak sepi. Rumah-rumah yang berderet nampak tidak berpenghuni. Bahkan tidak ada satu pun mobil yang lewat. Seakan tempat ini memang di dedikasikan untuk melakukan kegiatan maksiat.

 

“Ah.. Ketemu.” Mingyu menarik sebuah senyum kecil di wajah, saat manik obsidiannya membaca nomer rumah yang tercatat di kertas, sama dengan rumah yang berada di depan matanya. Jika benar, ini adalah rumah milik Wonwoo. Rumah Wonwoo nampak begitu sederhana. Sepertinya di dalam hanya ada satu kamar, satu set dapur dan ruang tamu. Halaman rumah ini juga kecil, walaupun ada carport kecil di samping. Carport yang hanya cukup untuk satu mobil.

 

Langkah Mingyu semakin berat saat tangannya terulur untuk membuka pagar rumah itu. Pria bersurai pirang itu melirik ke sana kemari untuk mengecek apakah ada orang yang melihat tindakannya yang mencurigakan. Setelah dirasanya pas, karena jalanan nampak legang, Mingyu mulai menarik pintu pagar. Menghasilkan bunyi derit gesekan besi. Setelahnya, Mingyu masuk ke dalam seperti pencuri.

 

Decitan sepatu Mingyu terdengar menghentak tanah di bawah. Ia mulai menaiki tangga yang akan mengantarnya ke pintu depan rumah Wonwoo. Beberapa menit setelahnya, Mingyu sudah berada tepat di depan rumah itu. Jantungnya berdegup tak tentu arah, saat tangan Mingyu terulur untuk menekan tombol intercome di pintu. Sebenarnya, Mingyu ragu jika pin yang ia masukan benar. Tapi Mingyu hanya bisa berharap. Ia benar-benar ingin masuk ke dalam rumah Wonwoo. Memerangkap pria itu dalam kungkungan tubuhnya.

 

Rencana Mingyu sekarang adalah menunggu Wonwoo pulang dari kampus. Setahu Mingyu, Wonwoo masih mempunyai satu mata kuliah setengah jam lagi. Jadi sudah di pastikan, pria itu tidak akan berada di rumah.

 

Mingyu menggigit bibir bawah cukup keras. Telunjuknya bergerak menekan tombol angka kecil di intercome dekat kenop pintu.

 

1707

 

TITTT

 

“Sial!” Mingyu mengumpat pelan, ketika password yang ia tekan salah. Sial! Padahal Mingyu sudah yakin jika itu benar. Setahu Seungcheol, Wonwoo akan memakai tanggal lahir miliknya sebagai password keamanan pintu.

 

Menghela napas kasar, sebelum akhirnya memilih untuk mencoba lagi. Kali ini, Mingyu pastikan jika tombol yang ia tekan benar.

 

1996

 

Klik

 

Bunyi klik tiba-tiba terdengar. Membuat Mingyu menghela napas lega, sambil bersorak senang dalam hati. Ternyata tebakan Mingyu tidak meleset selama ini. Dengan pelan, tangan Mingyu bergerak untuk mendorong pintu jati di depannya. Hingga menghasilkan suara decitan kecil.

 

Manik obsidian Mingyu menyipit, ketika ia berhasil masuk ke dalam rumah Wonwoo. Lampu ruang tengah terlihat menyala dengan terang. Mingyu yakin, jika Wonwoo lupa mematikannya. Rumah Wonwoo memang terbukti sederhana. Sepuluh meter dari ruang depan, hanya terdapat dapur dan ruang makan. Kemudian jika berbelok ke kiri, ada sebuah pintu kecil. Bisa Mingyu asumsikan jika itu adalah kamar Wonwoo.

 

Bunyi langkah Mingyu yang berdecitan dengan lantai marmer di bawah semakin terdengar. Ia mulai menilik ke segala arah. Meneliti setiap inci dari rumah Wonwoo yang selama ini ia idamkan. Kemudian langkah Mingyu terhenti, saat berada di ujung ruangan. Tepat di dekat pintu kamar Wonwoo, ternyata ada sebuah tangga yang terhubung ke bawah. Seperti ruangan kecil sempit.

 

“Shh…”

 

Jantung Mingyu berdebar tak karuan, saat mendengar suara ringisan kesakitan yang berada tepat di bawah tangga gelap ini. Jujur saja, Mingyu sedikit takut. Ia takut jika ternyata Wonwoo sudah pulang, dan rencananya menyergap Wonwoo gagal total. Dengan berbekal keberanian dan pengharapan keberuntungan, Mingyu kembali melangkah menuju tangga yang akan menghubungkannya dengan ruangan gelap di bawah.

 

Tapp Tapp

 

Suara langkah Mingyu semakin terdengar menghentak tangga kayu itu. Di ikuti dengan degupan jantungnya sendiri. Mingyu yakin, jika dirinya sudah mengeluarkan keringat dingin. Sebenarnya ada ketakutan kedua yang Mingyu pikirkan. Ia takut jika ternyata Wonwoo menyimpan seseorang atau lebih tepat pacarnya.

Beberapa menit kemudian, Mingyu sudah berada tepat di ruangan bawah itu. Ternyata ruangan itu terhubung dengan carport. Tapi di carport ini tidak terdapat mobil. Di sana hanya terdapat tumpukan rak buku, dan barang yang nampaknya tidak di gunakan lagi. Terlihat berantakan.

 

Mingyu mencoba meneliti ruangan kecil dan sempit itu dengan seksama. Tempat ini memang gelap, sampai Mingyu harus memastikan jika semua yang retinanya tangkap adalah kebenaran. Bukan fatamorgana.

 

“Shit!” Mingyu mengumpat kecil, di ikuti dengan manik obsidian yang membulat horor. Ia sendiri tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap. Kali ini, fokus Kim Mingyu tepat berada di depan seorang pria bersurai coklat yang telanjang bulat. Benar-benar telanjang. Mingyu kenal pria itu. Dia adalah Hong Jisoo. Kakak Tingkat Mingyu; Anak Fakultas Hukum yang pernah flirting dengan Wonwoo. Pria itu terikat di sebuah kursi. Tubuhnya penuh dengan luka cambuk. Jisoo seperti tidak bernyawa lagi, namun yang membuat Mingyu yakin jika Jisoo masih hidup adalah ringisan pelan yang keluar dari mulutnya. Ternyata yang sejak tadi ia degar adalah suara Jisoo.

 

Dengan langkah cepat, Mingyu mencoba mendekat ke arah Jisoo yang berjarak sepuluh meter di depan. Jisoo terikat di dekat tumpukan rak buku yang menjulang tinggi. Sial! Bagaimana mungkin jika Jisoo terkurung di rumah Wonwoo? Sebenarnya apa yang sudah pria itu lakukan pada Wonwoo?

 

“Hyung? Kau bisa mendengarku?” Mingyu berbisik pelan saat jaraknya dengan Jisoo sudah dekat. Tangannya menepuk pipi pria itu pelan. Hingga membuat Jisoo kembali meringis, dan mulai mengadah ke arah Mingyu. Mata pria itu mulai terbuka dengan pelan, di ikuti dengan bibirnya.

 

“P-pergi, G-gyu… “ Napas Jisoo terdengar putus-putus. Suaranya kecil, bahkan Mingyu harus mendekatkan telinga agar bisa mendengar apa yang pria itu katakan.

 

“B-b-bahaya..” Sekali lagi napas Jisoo terdengar tak beraturan. Membuat Mingyu menggeram kesal. Kemudian tangannya bergerak untuk melepaskan ikatan tali yang melilit di tubuh Jisoo.

 

“P-pergi.. W-wonwoo akan d-datang. C-cepat..” Napas Jisoo mulai memburu. Kali ini, matanya membulat tajam ke arah Mingyu. Seakan menyiratkan jika ia serius dengan ucapannya. Tapi sayang, Mingyu hanya bisa terkekeh pelan. Memang kenapa jika Wonwoo akan datang? Ia yakin, tidak mungkin jika Wonwoo yang manis akan melakukan hal semenakutkan ini pada Jisoo.

 

“G-gyu…” Mata Jisoo kembali menatap horor sosok Mingyu. Tidak. Fokus pria itu tidak berada pada Mingyu. Hingga membuat Mingyu mengerutkan dahi, karena jelas bukan Mingyu yang Jisoo lihat.

 

Wae? Aku akan mencoba membebas—-“ Belum sempat Mingyu menyelesaikan ucapannya, tubuh Mingyu oleng. Ia terjatuh ke bawah dengan kepala berdenyut sakit saat merasakan pukulan keras menghantam kepalanya. Membuat manik obsidian Mingyu meredup, sebelum mendengar suara yang ia kenali selama ini, dan semuanya menjadi gelap bagi Mingyu.

 

“Selamat datang di duniaku, Kim Mingyu.”

 

TeBeCe

 

Chap Depan tamat. Ini Cuma two shot. Di private pula chap depan. Gue mau masoin gyu. Wkwk. Gue pastiin ini update satnite depan. Wkwk

Bye!

Vomen?

Astia morichan

 

 

 

 

I Wanna Be Dominan, Sei! |AkaKuro| Sequel Extra Incubus

0

Akashi Seiya mengerucutkan bibirnya kesal, saat melihat Akashi Tetsuya duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk di teras depan. Menatap lurus pepohohonan yang di selimuti oleh salju putih. Kemudian Tetsuya melirik ke arah bocah bersurai crimson yang masih terlihat merajuk. Sebenarnya Tetsuya tahu, alasan putranya itu kesal. Seiya kesal karena Seijuurou tidak membawanya ke perbatasan kota. Ada alasan khusus kenapa Seijuurou menolak. Ia akan menemui Oracle Delphi- Cenayang terpilih Putra Apollo- yang akan meramalkan nasib keluarga kecil mereka.

 

“Seiya kenapa?” Suara Tetsuya yang lembut mengalun, hingga membuat Seiya menoleh. Tangan Tetsuya bergerak mengelus perut yang membuncit. Sekarang, ia sudah memasuki bulan ke tujuh. Sebagai omega yang tengah mengandung, bulan ke tujuh adalah hal paling rawan.

 

“Kapan adikku lahir, Daddy?” Seiya menatap Tetsuya penuh pengharapan. Tetsuya tahu benar, jika Seiya sangat menantikan calon adikknya. Seiya sudah terlalu lama kesepian. Di daerah hutan ini, tidak ada teman yang sebaya dengan putranya itu. Berkali-kali juga Seiya mengajak Seijuurou pindah ke kota. Tapi permintaan putranya sama sekali tidak di gubris. Bukan tidak ingin, tapi memang tidak memungkinkan untuk berada di kota. Bisa saja ada makluk immortal lain mengatakan pada kawanan incubus keberadaan suaminya. Tetsuya dan Seijuurou hanya tidak ingin keluarga kecil mereka terganggu oleh para incubus itu.

 

Tetsuya menyunggingkan sebuah senyum manis. Tangannya terulur. Mengambil tangan Seiya, dan menyimpannya di atas perut Tetsuya yang sudah membesar. Tangan Seiya di gerakan pelan, agar jemari bocah itu mengelus perutnyadengan lembut.

 

Tetsuya bisa melihat jika Seiya tertegun. Manik heterochomia bocah itu membulat takjub, saat merasakan pergerakan kecil dalam perut Tetsuya.

 

“Hwah.. Bergerak..” Seiya berseru antusias. Kemudian mendekatkan kepala ke arah perut Tetsuya. Mencoba merasakan dari jarak dekat pergerakan calon adiknya. Tangan bocah itu kembali mengelus perut Tetsuya.

 

“Seiya harus bersabar. Mengerti?” Tetsuya mengelus surai crimson bocah itu.

 

“Uhm…” Seiya mengangguk pelan. Sungguh. Ia benar-benar tidak sabar ingin mempunyai seorang adik. Seiya ingin mempunyai teman yang menemaninya di rumah. Ia harap, keinginannya dapat terkabul dengan cepat. Terutama untuk pindah ke kota lagi.

.

oOO

.

 

I Wanna Be A Dominan, Sei!

T+

Family, Romance, Drama, Fantasy

 

Seijuurou X Tetsuya

 

A/n: FF Extra incubus ini, di dedikasikan untuk ultah uke favorit saya. Mwahaha. Happy Bday Tetsuya-chii! Makin langgeng sama juyo loh :’* mwah :’* aku cinta kamuuu :’*

Seriusan, ini gaje binggo. Kalo ga suka boleh menjauh. Saya hanya ingin berbagi asupan *tebar kembang*

enJOY!

.

oOo

.

.

Akashi Seijuurou berjalan mendekat ke arah mate abadinya– AkashiTetsuya- yang berdiri di tengah-tengah teras. Tetsuya sedang menatap keindahan langit malam, sambil mengelus perutnya yang sudah membesar . Senyum mengembang di wajah cantik Tetsuya. Membuat Seijuurou ikut tersenyum. Ah, rasanya Seijuurou merindukan lagi sosok Tetsuya dalam pelukannya. Padahal baru enam jam, ia meninggalkan rumah untuk bertemu dengan Oracle yang ada di kota. Di saat-saat kehamilan Tetsuya yang semakin membesar, Seijuurou akan selalu merindukan dan mengkhawatirkan mate-nya itu.

 

Malam ini, Tetsuya terlihat memesona di mata Seijuurou. Sampai Seijuurou tidak dapat memalingkan wajahnya dari Tetsuya barang sedikit pun. Pria bersurai biru itu terlihat sangat cantik, saat wajahnya di sinari oleh pantulan bulan. Sudah menjadi kebiasaan Tetsuya, jika pria itu akan menghabiskan malam pergantian umurnya dengan menatap langit malam yang selalu di hiasi bulan dan bintang. Bersama indahnya hamparan salju yang menutupi permukaan tanah.

 

Seijuurou menelan saliva dalam, saat melihat Hakama tidur berwarna biru muda yang di pakai Tetsuya terlihat sangat pas. Membalut tubuh si surai biru yang semakin terlihat sintal dan berisi. Atau dengan kata lain; sexy yang menggiurkan. Bagi Seijuurou, Tetsuya yang seperti ini memang menggoda.

 

Kemudian, Seijuurou kembali melangkah. Jaraknya dengan si surai biru hanya terpaut dua meter di depan. Langkah Seijuurou tidak terdengar saat bergesekan dengan tatami di bawah. Sampai ia sendiri yakin, jika Tetsuya tidak akan tahu keberadaannya yang sudah berdiri tepat di belakang.

 

“Melamun?” Bisikan pelan dari Seijuurou terdengar. Di ikuti dengan lengannya yang melingkar di perut Tetsuya. Jemari Seijuurou mengelusnya dengan pelan. Takut jika Tetsuya tidak menyukai sentuhannya seperti beberapa waktu lalu.

 

“Tidak..” Tetsuya melirik ke arah Seijuurou yang memeluk tubuhnya dari belakang. Tangan si surai biru bergerak menghentikan elusan yang suaminya lakukan. Kemudian menggengam tangan Seijuurou, agar tetap mengeratkan pelukan mereka. Menghantarkan rasa hangat agar tetap menyelimuti keduanya.

 

“Aku hanya ingat saat mengandung Seiya dulu.” Seijuurou terdiam. Tidak mengeluarkan suara apapun. Kepalanya bergerak untuk mengendus leher Tetsuya. Aroma vanilla menguar dari leher jenjang si surai biru. Wangi Tetsuya memang menggiurkan. Membuat Seijuurou tidak tahan untuk memberikan satu kecupan di sana.

 

“Seii..” Tetsuya memberenggut. Mencoba melepaskan diri dari pelukan Seijuurou. Tapi nihil, Seijuurou memeluknya terlalu erat. Hingga membuat si surai biru menghela napas pasrah.

 

“Diamlah sebentar, Tetsuya. Aku hanya ingin memelukmu.” Tetsuya kembali terdiam. Ia membiarkan tangan Seijuurou bermain untuk mengelus perut besarnya, dan kembali mengecup area leher jenjang Tetsuya. Sebelum akhirnya memberikan hisapan kecil yang menimbulkan tanda kemerahan yang kontras di leher si surai biru.

 

“Apa yang di katakan Oracle padamu, Sei-kun?” Tetsuya mencoba bertanya mengenai pertemuan Seijuurou dengan Oracle itu. Ramalan Putra Apollo yang tidak pernah meleset.

 

“Ramalannya mengatakan, kita harus terus menjaga Seiya dan juga adiknya nanti. Lalu aku harus menyelesaikan masalahku dengan kawanan incubus. Oracle bilang, nyawa putra kedua kita yang menjadi taruhan. Dia bisa menjadi pimpinan para incubus di masa depan.” Seijuurou memaparkan semua ramalan itu pada Tetsuya. Itu adalah ramalan singkat yang di dapatnya barusan. Calon adik Seiya akan menjadi incubus sepertinya. Sebenarnya Seijuurou juga menanyakan perihal masa depan Seiya. Ia takut jika ramalan mengenai putranya itu benar. Apalagi Seijuurou sama sekali belum tahu wujud sebenarnya dari Seiya. Putranya itu sama sekali belum melakukan perubahan.

 

“Aku takut, Sei-kun.” Tangan Seijuurou semakin di genggam erat. Seolah menyalurkan rasa takutnya lewat cengkraman itu.

 

“Percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian.” Seijuurou mendaratkan kecupan kecil di bahu Tetsuya.

 

“Jadi, apa keinginanmu, Tetsuya?” Seijuurou berbisik pelan. Ia bisa merasakan jika Tetsuya tengah menahan napas saat mendengar pertanyaan yang Seijuurou lontarkan. Kemudian tangan si surai biru mencoba melonggarkan pelukannya. Tetsuya berbalik. Menatap wajah Seijuurou yang kini berjarak beberapa senti dari wajahnya. Hembusan napas hangat Seijuurou menggelitik wajahnya, hingga membuat Tetsuya menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

 

“Kau tahu apa keinginanku, Sei-kun.” Tangan Tetsuya terulur. Mengelus pipi Seijuurou dengan lembut. Hingga membuat Seijuurou menutup mata. Menikmati sentuhan kecil yang Tetsuya berikan padanya.

 

“Jangan memaksakan dirimu, Sei-kun.” Manik heterochomia kembali terbuka. Menatap sosok Tetsuya yang memandangnya sayu. Tatapan yang selalu membuat Seijuurou melemah, dan ingin membereskan semua masalah yang telah ia mulai. Seijuurou tentu tahu apa yang selalu membuat mate abadinya itu cemas.

 

“Maaf.” Diraih tangan Tetsuya yang berada di pipi. Menggengam tangan mungil itu dengan erat. Kemudian mengecupnya dengan lembut.

 

“Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua masalah yang aku mulai dengan kawananku. Kau tahu? Aku juga tidak ingin kita terus melakukan pelarian konyol seperti sekarang.”

 

“Aku hanya tidak ingin semuanya menjadi rumit. Aku sudah tidak di terima di kawanan serigala. Kita tidak punya tempat lain selain ikut berbaur dengan para manusia.” Tetsuya mengigit bibir bawah dengan kuat. Menahan geraman yang di keluarkan serigalanya.

 

“Aku tahu. Percayakan semua padaku, Tetsuya.” Di raihnya pinggang Tetsuya. Kemudian memeluk tubuh si surai biru dengan erat. Perut Tetsuya yang membesar, tidak menjadi halangan bagi Seijuurou. Kemudian tangan si surai crimson bergerak mengelus punggung Tetsuya, agar semua kegelisahan yang terpendam bisa hilang lewat sentuhannya.

 

Tetsuya terdiam dalam dekapan Seijuurou. Ia menikmati sentuhan ajaib Seijuurou yang mampu menghilangkan semua kegundahan yang memenuhi otaknya. Berbagi pelukan seperti ini adalah hal yang selalu Tetsuya rindukan.

 

“Sei-kun..”

 

“Hm?”

 

“Kau ingat? Tengah malam nanti, tepat saat malam berganti adalah hari apa?” Tetsuya bertanya, sambil mengeratkan pelukannya. Jantungnya mulai berdebar tak karuan. Padahal, sudah beberapa tahun Tetsuya selalu melakukan hal ini saat umurnya akan bertambah.

 

“Tentu saja. Aku tadi bertanya apa yang Tetsuya ingin kan.” Seijuurou melonggarkan pelukan. Kini ia bisa melihat wajah Tetsuya yang memerah.

 

“Kau tahu apa yang aku inginkan selain memintamu membereskan masalah dengan kawanan incubus.” Tetsuya mengerucutkan bibir. Ia tahu, jika Seijuurou hanya pura-pura lupa. Permintaan Tetsuya itu selalu sederhana, tidak lebih. Dan ia selalu meminta itu setiap tahun pada Seijuurou.

 

“Aku tahu. Tetsuya ingin aku menghamilimu lagi, setelah putra kedua kita lahir. Iya kan?” Pukulan kecil di terima di dada Seijuurou. Kali ini Tetsuya benar-benar menggemaskan dengan bibirnya yang mengerucut.

 

“Aku serius, Sei-kun!”

 

“Tidak bisakah kau ganti permintaan konyolmu itu?” Seijuurou mendegus. Bukannya ia tidak ingin mengabulkan permintaan Tetsuya, tapi ia memang tidak bisa. Permintaan Tetsuya benar-benar tabu.

 

“Apa seberat itu permintaanku, hingga kau selalu menolaknya setiap tahun?!” Tetsuya melepas pelukan Seijuurou. Berbalik menatap kegelapan hutan malam yang di hiasi salju putih. Enggan menatap Seijuurou yang frustasi menanggapi permintaannya.

 

“Hah..” Seijuurou menghela napas lelah, sebelum berjalan mendekati Tetsuya. Dan kembali memeluk tubuh si surai biru dari belakang.

 

“Tetsuya, jika kau ingin mendominasi permainan ranjang kita, itu mustahil.” Seijuurou bisa merasakan Tetsuya mendegus kasar, dan mencoba melepaskan pelukannya.

 

“Apa Tetsuya tidak puas dengan kemampuanku, hingga kau selalu bersikeras ingin menjadi dominan?” Seijuurou membalikan tubuh Tetsuya. Hingga si surai biru kembali menatapnya.

 

“Tetsuya, takdirmu itu adalah menjadi omega.” Tangan Seijuurou bergerak menangkup pipi Tetsuya. Ia mulai menipiskan jarak, hingga hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain.

 

“Menyerahlah Tetsuya, kau hanya ku izinkan mengerang di bawah tubuhku saja.” Kali ini wajah Tetsuya semakin merona mendengar penuturan frontal dari Seijuurou. Apa menjadi top yang mendominasi Seijuurou adalah ketidakmustahilan?

 

“Aku tidak mau. Aku penasaran bagaimana jika Sei-kun yang berada di posisiku!” Tetsuya bersikeras. Manik aquamarine menatap tajam Seijuurou. Tidak mau kalah.

 

“Apa tidak cukup jika aku mengatakan mencintai Tetsuya ribuan kali sebagai ganti dari permintaan konyol mu itu?”

 

“Jika Sei-kun memang mencintaiku, kau harus mengabulkan permintaanku ini setelah bayi kita lahir. Bagaimana?” Kali ini, Seijuurou menggeram gemas. Tangan yang berawal mengelus pipi Tetsuya, kini beralih mencubit pipinya pelan.

 

“Yang hamil itu kau, Tetsuya. Masa aku yang harus beralih posisi saat bayi kita lahir nanti? Aku bukan omega yang bisa hamil, Tetsuya.” Seijuurou mendengus, saat melihat Tetsuya mengerucutkan bibir tanda tidak setuju.

 
“Kita harus mencobanya, Sei-kun! Siapa tahu incubus bisa hamil jika aku yang mencobanya. Bagaimana?”

 

“Ah.. Tetsuya benar-benar berisik.” Kepala Tetsuya kembali di tarik. Seijuurou menangkup pipi Tetsuya dengan kedua tangan. Manik heterochomianya bisa melihat manik aquamarine Tetsuya membulat, saat Seijuurou kembali menipiskan jarak.

 

“Tidak usah macam-macam, Tetsuya. Aku akan selalu menjadi dominan, dan itu absolut.” Sebelum sempat Tetsuya mengelak, bibir Seijuurou sudah menempel tepat di bibir. Mengecupnya beberapa kali, hingga membuat Tetsuya terlena. Mulut si surai biru terbuka kecil. Ia membiarkan Seijuurou melesakan lidah. Mengekspolarsi dinding-dinding mulutnya, dengan lidah lihai pria itu.

 

“Ahhh..” Erangan kecil lolos dari mulut Tetsuya, saat kedua lidah saling bertautan satu sama lain. Tetsuya membiarkan lidah Seijuurou mendominasi. Menghisap dan menjilat lidahnya beberapa kali. Hingga membuat Tetsuya hilang kendali, dan melupakan permintaan konyolnya. Sepertinya Tetsuya memang akan selalu kalah dari Seijuurou.

 

“Selamat ulang tahun, Tetsuya. Aku mencintaimu.” Seijuurou berbisik di sela-sela ciumannya. Sebelum kembali melumat bibir Tetsuya dengan penuh gebu. Membiarkan Tetsuya mengerang kecil, karena ciuman liar yang selalu Seijuurou lakukan di saat perut Tetsuya sudah membesar seperti sekarang. Tetsuya harap, mereka akan selalu bahagia seperti ini. Tidak ada pelarian lagi, dan keluarga kecil yang selalu Tetsuya harapkan bisa hidup dengan nyaman di dunia manusia.

 

FIN

 

Wkwk gaje yah? Pendek pula. Biarin lah, yang penting aku ikut merayakan ultah neng cuya *tebar kembang

 

Jaa ne. Sampai jumpa di cerita absrud lainnya.

 

Vomen?

Astia Morichan