Protected: Prince Of The Dark Chap 4 | AkaKuro Fict| Yaoi| LovelyPhantom


This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Prince Of The Dark Chap 3| AkaKuro| Yaoi| LovelyPhantom

0

Bocah bersurai biru menampilkan sebuah senyumanlebar saat melihat sosok wanita tua yang membawa nampan berisi cookies. Ia baru saja mengangkat cookies itu dari oven. Manik aquamarine si surai biru – Kuroko Tetsuya menatap penuh binar ke arah kue yang sedang neneknya hidangkan di atas meja. Tetsuya selalu suka momen seperti ini. Ah. Lebih tepatnya ia sangat menyukai cookies yang neneknya buat. Apalagi nenek Tetsuya- Haruka selalu membuat kue favoritnya ketika ia pulang sekolah. Seperti sekarang. Aroma kue menyebar di sekeliling dapur, dan membuat perut Tetsuya bersorak senang karena lapar.

 

“Ne.. Tet-chan.. kenapa tidak ganti baju dulu, hm?” Haruka menatap Tetsuya dengan lembut, saat melihat Tetsuya berlari ke arahnya dan duduk di meja makan dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Bocah itu menatapnya dengan tatapan berbinar yang selalu membuat Haruka luluh. Kemudian ia mulai melepaskan sarung tangan beserta celemek yang membalut tubuh rampingnya. Di simpan celemek dan sarung tangan di samping nakas yang berada di belakang. Lalu ia mulai berjalan ke arah Tetsuya, dan menyodorkan piring berisi kue kesukaan si biru, beserta susu vanilla favoritnya.

 

“Aku ingin memakan kuenya sekarang Baa-san.” Tetsya mempoutkan bibirnya. Ia mulai merajuk dan memberikan tatapan memohon pada sang nenek. Membuat wanita tua bersurai hitam itu terkekeh dan mengelus surai biru Tetsuya.

 

“Baik. Tet-chan bisa memakannya jika menuruti permintaan Baa-san kali ini. Bagaimana?” Haruka berjongkok di samping bocah smp itu. Membuat Tetsuya menatap bingung Haruka dengan alis bertaut tidak mengerti. Jarang sekali Haruka seperti ini.

 

“Memangnya Obaa-san mau meminta apa dari Tetsuya?” Tetsuya memiringkan kepalanya. Manik aquamarine menatap bingung sang nenek yang sekarang malah mencubit pipi Tetsuya dengan gemas.

 

“Tet-chan tidak boleh bertemu lagi dengan Shima Oji-san.” Manik aquamarine bocah itu membulat tanda tidak setuju. Haruka sangat yakin jika Tetsuya tidak mau menuruti permintaannya kali ini. Apalagi dengan Shima- sang Lucifer keras kepala yang ingin membawa pergi Tetsuya. Haruka tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya. Apalagi membiarkan seorang malaikat pembelot mengurus Tetsuya.

 

“E-eh? Kenapa tidak boleh? Shima Oji-san sangat baik pada Tetsuya. Aku tidak ingin menuruti permintaan Baa-san.” Tetsuya melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut di sertai delikan tak suka yang ia berikan pada Haruka.

 

“Shima Oji-san itu sangat berbahaya. Apa Tetsuya ingin tahu siapa sebenarnya Shima Oji-san?” Penawaran sang nenek terdengar menggiurkan bagi Tetsuya. Haruka bisa melihat Tetsuya kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh keingintahuan tercetak jelas di manik aquamarine bocah itu.

 

“Memangnya kenapa dengan Shima Oji-san?” Haruka menatap Tetsuya dengan sendu. Tangannya kembali terulur untuk mengelus pipi Tetsuya dengan lembut. Haruka tentu sangat mengerti jika Tetsuya merindukan sosok ayah. Shima datang dan mengaku sebagai paman jauh Tetsuya. Lalu ia sering mengajaknya bermain setiap hari. Tentu saja Haruka sangat khawatir jika Shima membocorkan identitas sebenernya pada Tetsuya, jika ia adalah ayah dari si surai biru. Haruka sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia hanya ingin Tetsuya menjadi manusia normal seperti temannya yang lain. Kehadiran Shima hanya akan menjadi pengaruh buruk untuk Tetsuya. Kekuatan Tetsuya akan semakin berkembang jika Shima selalu berada di dekatnya. Haruka tidak ingin Tetsuya mempunyai kekuatan para malaikat.

 

“Baa-san akan menceritakan semuanya pada Tetsuya. Tapi setelah itu, Tet-chan tidak akan ingat apapun lagi. Bagaimana?” Kembali, aquamarine sejernih biru langit itu membelalak, dan memberenggut tidak setuju. Tetsuya kembali menunjukan aksi tidak setuju atas apa yang Haruka ucapkan.

 

“Jika Tetsuya tidak menurut, Baa-san tidak akan memberikan Tet-chan cemilan lagi.” Piring berisi cookies di ambil kembali dari hadapan Tetsuya. Membuat bocah itu kembali mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya mulai mengangguk tanda setuju. Lagi pula, Tetsuya bisa bertemu secara sembunyi dengan Shima Oji-san nanti. Lalu ia tidak akan mungkin melupakan semua yang di ceritakan neneknya. Tetsuya itu pintar. Ia akan ingat dalam sekejap ucapan Haruka nanti.

 

“Wakatta. Tetsuya mengerti. Sekarang ceritakan tentang Shima Oji-san, dan juga berikan cake itu padaku.” Tetsuya bisa melihat Haruka tersenyum dengan lebar kali ini. Ia yakin, jika Haruka sangat senang karena keputusannya itu. Kemudian Haruka mulai menarik kursi di samping Tetsuya, dan duduk di sana. Membuat Tetsuya menoleh pada wanita tua itu yang sekarang menghela napasnya pelan, sebelum memulai ceritanya.

 

“Ne.. Apa Tet-chan percaya dengan malaikat? Lalu dengan Iblis, dan juga Tuhan?” Haruka menatap ke arah Tetsuya dengan tajam. Membuat bocah itu gugup, karena ini adalah kali pertama Haruka menjadi serius seperti ini. Biasanya, neneknya itu akan selalu tersenyum dan memberikan guyonan yang membuat Tetsuya tertawa lepas. Bukannya bertanya hal aneh seperti ini.

 

Dahi Tetsuya mengernyit pelan. Mencoba untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di berikan dari Haruka. Bocah bersurai biru itu mengetukkan jari pada ujung meja dengan mata tertutup. Berharap akan menemukan jawabannya. Tetsuya tentu sangat percaya jika Tuhan itu ada. Lalu tentang iblis dan juga malaikat tentu ada. Tetsuya belajar semua itu setiap hari minggu di Gereja. Ia bukanlah seorang atheis. Jadi tentu saja Tetsuya percaya. Walaupun ia sama sekali belum pernah bertemu malaikat dan iblis dengan matanya sendiri.

 

“Ya. Pastor Michael bilang padaku jika malaikat dan iblis juga nyata. Aku juga belajar banyak tentang para malaikat dan Iblis yang mengganggu manusia.” Dahi Tetsuya mengernyit. Berusaha untuk kembali mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

“Tapi Baa-san.. Shima Oji-san pernah berkata jika aku adalah seorang Nephilim, dan aku harus menyembunyikan kekuatanku agar Verchiel (1) tidak menemukan keberadaanku.” Badan wanita tua itu menegang. Matanya membulat, menatap Tetsuya kaget. “Ne.. Baa-san.. Apa kau tahu maksud dari Shima Oji-san? Nephilim itu apa?” Tetsuya memiringkan kepalanya. Manik aquamarine itu menatap Haruka penuh tanya. Berharap Haruka bisa menghilangkan rasa penasarannya selama beberapa hari terakhir. Karena Tetsuya memang tidak mengerti tentang peringatan dari Shima. Ketika ia ingin bertanya lagi tentang hal itu, Shima malah pergi meninggalkannya. Bahkan sampai sekarang Tetsuya belum bertemu dengan pria itu lagi.

 

Haruka menelan salivanya dalam. Ia mencoba kembali menetralkan emosi yang tercetak di wajahnya. Kali ini, Haruka harus menjelaskan semuanya pada Tetsuya. Lalu membuat bocah itu melupakan segala hal tentang Lucifer brengsek itu, dan juga memberikan Tetsuya pelindung agar ia tidak akan bisa melihat lagi sosok Lucifer selamanya, juga pengikut Lucifer yang mengincar Tetsuya. Haruka juga tidak ingin jika Tetsuya di incar oleh Verchiel, atau Gabrielle. Cucunya itu sama sekali tidak bersalah jika terlahir menjadi seorang Nephilim.

 

Tangan Haruka terulur untuk menyentuh surai biru Tetsuya. Membuat bocah itu mengerjapkan matanya bingung.

 

“Tetsuya adalah seorang Nephilim. Setengah malaikat, dan ayah Tetsuya adalah Lucifer yang merupakan malaikat pembelot. Ia adalah Shima.” Haruka bisa melihat Tetsuya membelalakan matanya kaget. Tentu Haruka sangat yakin jika Tetsuya masih mencoba mencerna semua yang ia jelaskan secara singkat. Tapi sebelum Tetsuya mengerti segalanya, Haruka akan membuat bocah itu kembali lupa. Tetsuya tidak boleh mengingat apa yang ia ucapkan.

 

Tangan Haruka bergerak ke samping leher Tetsuya, dan menekan keras selangka leher Tetsuya. Membuat bocah itu menjerit kaget saat merasakan sebuah cahaya berkumpul di lekukkan lehernya. Pelindung cahaya mulai mengelilingi tubuh Tetsuya. Pelindung yang Haruka buat, akan membuat Lucifer, Verchiel, dan segala makhluk lainnya tidak dapat menyadari keberedaaan Tetsuya. Pelindung itu juga yang membuat Tetsuya kehilangan kesadaran dirinya, dan juga kehilangan beberapa kilasan ingatannya tentang Shima.

 

“Maafkan aku, Tet-chan.” Tubuh kecil itu terjatuh dalam pangkuan Haruka. Semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan Tetsuya. Ini adalah cara yang terbaik agar Tetsuya selamat.

 

 

Prince Of The Dark

 

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

 

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

 

 

a/n: Ini FF kembali saya dedikasikan untuk event #LovelyPhantom dan merayakan ratu harem kita Kuroko Tetsuya yang semakin manis minta di makan/? Eh. FF ini kembali di angkat dan terinspirasi oleh beberapa mitologi yang di gabung bersama imajinasi mesum dan nista saya. Kalau kalian tidak suka dengan apa yang saya tulis silahkan menyingkir dan tekan tombol back. Saya tidak bertanggung jawab jika mata kalian iritasi ketika baca tulisan saya.

 

Ada beberapa Glousarium yang saya sesuaikan dengan imajinasi saya. Semoga kalian paham dengan semua istilah absurd yang ada di cerita saya ini. Jika ada masukan, saya akan sangat senang mengedit kembali FF ini.

 

~LovelyPhantom~

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

Tubuh pemuda bersurai biru itu menegang dengan mata membulat kaget saat mendengar semua penjelasan dari pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang melekat di tubuhnya. Pria itu bernama Kagami Taiga yang mengaku sebagai kakak kandung dari Tetsuya. Kemudian pria yang sekarang mengenakan pakaian layaknya seorang raja di zaman Arthur yang pernah Tetsuya tonton itu menunjukkan suatu hal yang tidak dapat Tetsuya percaya.

Saat tangan Kagami terulur untuk menyentuh bahu Tetsuya. Ia mulai merasakan kilasan ingatan di dalam otaknya. Ingatan itu meluap dengan cepat bagaikan kilasan film yang membuat kepalaTetsuya pening. Tetsuya ingat semuanya. Ia ingat bagaimana neneknya selalu mengelak jika bertanya dimana Shima Oji-san, dan kenapa neneknya membenci Shima. Lalu dengan hadirnya Seijuurou yang memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim. Sekarang semuanya menjadi terhubung, dan Tetsuya tahu siapa dirinya. Ia adalah Nephilim- makhluk setengah malaikat yang berasal dari Lucifer– Sang malaikat pembelot pertama. Jujur saja, ini semua masih seperti mimpi buruk untuk Tetsuya. Ia sulit untuk mempercayai semua hal yang tidak masuk logika. Semua kejadian yang menimpa Tetsuya tidak masuk di akal.

 

“A-aku tidak mengerti.” Tetsuya tergugup. Ia memundurkan badannya perlahan menjauh dari Kagami. Kepalanya menggeleng tanda tidak setuju dengan semua kilasan memori yang Kagami berikan padanya.

 

“Kau adalah adikku. Putra dari Lucifer, walaupun kau hanyalah setengah malaikat Kuroko.” Suara Kagami terdengar menakutkan bagi Tetsuya. Ia sangat berbeda dengan Seijuurou. Walaupun pemuda bersurai crimson itu selalu seenaknya, tapi Tetsuya selalu merasa nyaman jika Seijuurou ada di sampingnya. Saat ini, Tetsuya berharap Seijuurou datang menolongnya.

 

“Aku hanyalah manusia biasa.” Tetsuya mengangkat kepalanya. Memberikan Kagami tatapan tajam, dan hal itu malah membuat Kagami tertawa lepas.

 

“Hey, Kuroko.. harus berapa kali aku bilang bahwa kau itu Nephilim?” Kagami mendekat ke arah Tetsuya. Membuat pemuda bersurai biru itu memundurkan tubuhnya dengan refleks. Aura Kagami benar-benar berbahaya. Tetsuya tidak menyukai aura yang menguar dari tubuh Kagami. Aura itu mencekam. Seolah membuat Tetsuya tenggelam dalam kegelapan.

 

“Aku akan pergi dari sini. Tolong lepaskan aku.”

 

“Dan kau melupakan niat awalmu ketika bertemu denganku, Kuroko?” Manik aquamarine kembali membulat. Tentu saja Tetsuya ingat kenapa ia menerima ajakan dari Hayama. Ia ingin bertemu dengan Shima. Walaupun Tetsuya harus mengakui jika Shima itu adalah seorang malaikat pembelot. Lucifer– Sang pemberontak Tuhan.

 

“Di-dimana Shima Oji-san?” Tetsuya kembali bertanya. Ia mencoba melupakan rasa takutnya demi hal ini. Tetsuya tidak boleh ragu. Semua yang ia lakukan adalah untuk Shima. Apapun yang terjadi, ia harus bertemu dengan Shima.

 

“Maksudmu Lucifer? Ayah kita?”

 

“Y-ya. Aku ingin bertemu dengannya.” Tetsuya bisa melihat tatapan tajam dari Kagami meredup. Ada kesedihan yang terpancar di mata itu. Tetsuya bisa merasakannya dengan jelas.

 

“Ayah sudah di bunuh oleh Verchiel.” Suara Kagami terdengar dingin dan penuh akan dendam. Tangan pria bersurai merah itu terkepal dengan erat, seolah menahan amarahnya agar tidak meledak. Aura kebencian menguar di seluruh tubuhnya.

 

“Apa maksudmu, Kagami-kun? Aku sama sekali tidak bercanda dengan hal seperti ini!” Suara Tetsuya mengeras. Ia mulai mendekat ke arah Kagami, dan mencengkram erat baju zirah berbalut besi yang melekat di tubuh pria itu. Kesabaran Tetsuya sudah habis. Ia tidak ingin di permainkan lagi oleh Kagami.

 

“Apa aku terlihat bercanda, Kuroko?” Tatapan dingin menusuk dari Kagami membuat Tetsuya terdiam. Tangan yang semula berada di lengan Kagami, kini terkulai lemas. Tetsuya kembali di jatuhkan oleh berita mengejutkan dari Kagami. Ia belum siap mendengar kabar bahwa Shima- paman yang selama ini Tetsuya harap bisa bertemu lagi, sudah tidak ada. Ia terbunuh, dan Tetsuya tidak dapat melihatnya lagi. Sekarang Tetsuya merasakan hatinya remuk. Air mata tiba-tiba membasahi pipi Tetsuya. Jujur saja, Tetsuya tidak tahu kenapa ia menangis. Padahal ia dan Shima hanya dekat selama satu tahun saja. Setelah itu Pamannya menghilang, dan Tetsuya seakan lupa dengan keberadaannya.

 

Tubuh mungil Tetsuya bergetar. Pemuda bersurai biru itu masih menangis dalam diam. Mengabaikan Kagami yang sekarang bingung harus berbuat apa. Kagami tidak terlalu pintar menghibur seseorang. Ia bahkan lupa kali terakhir ada seseorang yang mau menemaninya.

 

“Berhentilah menangis. Kau harus tinggal di sini jika tidak ingin di bunuh oleh Verchiel.” Tetsuya mendongak ke arah Kagami yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia mulai mengusap pipi untuk menghilangkan jejak air matanya. Manik aquamarine itu kembali menatap Kagami dengan pandangan penuh tanya. Berharap jika Kagami menjawab siapa itu Verchiel.

 

Verchiel adalah malaikat utusan Tuhan yang selalu memburu malaikat sepertiku, dan juga para Nephilim. Kau berada di Aerie sekarang, Tetsuya. Di tempat ini, semua malaikat pembelot dan juga Nephilim sepertimu tinggal.” Kagami mulai menjelaskan dengan detail bagaimana Aerie terbentuk, dan siapa saja pasukan Verchiel yang selalu membunuh kaum Nephilim. Bagaimana Lucifer terbunuh, dan kenapa para utusan Tuhan memburu semua kaumnya.

 

“Jika kau keluar dari istana ini, kau akan menemukan sebuah pemukiman di mana para Nephilim sepertimu tinggal. Di Aerie, para Nephilim akan merasa aman. Kau tidak perlu takut lagi jika Verchiel akan datang memburumu, Kuroko. Para Elf, melindungi wilayah Aerie.”

 

Kuroko mengangguk pelan. Ia mulai mengerti semua penjelasan yang Kagami jabarkan tadi. Tapi Tetsuya tidak ingin berada di sini. Ia ingin pulang, dan bertemu dengan Seijuurou. Tetsuya belum siap jika harus berada di Aerie. Lagi pula, ia harus memastikan semua yang sudah Kagami jelaskan.

 

“Beri aku waktu untuk berpikir Kagami-kun. Tolong antarkan aku pulang.”

 

“Baik. Tapi Hayama akan mengikuti dan menjagamu, Kuroko.” Tetsuya menggeleng dengan cepat mendengar penuturan Kagami. Ia tidak ingin di ikuti oleh Hayama. Tetsuya butuh waktu untuk sendiri dan mencoba mencari tahu kebenaran dari semua ini. Ia harus bertemu dengan Seijuurou. Satu-satunya penolong Tetsuya adalah pemuda bersurai crimson itu.

 

“Tidak. tolong biarkan aku memikirkan semuanya sendiri.” Tetsuya bisa melihat Kagami menghela napasnya. Kemudian pria itu mendengus tak suka, dan melirikkan matanya ke arah Hayama yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk. Tatapan isyarat agar pemuda bersurai orange itu mendekat.

 

“Antar Kuroko pulang. Setelah itu kau kembali lagi ke Aerie, Hayama.” Kagami membalikkan badannya. Berjalan menjauhi Tetsuya. Jubah merahnya berkibar, dan setelah itu sosok Kagami menghilang bagaikan hembusan angin.

 

“Kau ingin kembali ke cafe atau apartemenmu, Kuroko-sama?” Hayama membentangkan sayap-sayap hitamnya. Sebelum akhirnya mulai mengibaskannya dengan pelan, hingga tubuhnya melayang. Ia mulai mengulurkan tangannya ke arah Tetsuya.

 

“Apartemenku.” Tetsuya menggapai uluran tangan Hayama, sehingga ia berada di pelukan pemuda bersurai orange itu. Kemudian mereka terbang ke atas, meninggalkan ruang singgasana Kagami. Tetsuya berharap keputusannya kali ini sama sekali tidak salah. Ia membutuhkan Seijuurou untuk menjelaskan semua keraguan yang ada di hatinya.

 

.

oOo

.

 

Tetsuya berjalan dengan gontai menuju koridor apartemen yang akan mengantarkan tubuh mungilnya menuju kamar apartemen yang berada di pojok lantai tujuh ini. Tadi Hayama sudah mengantarnya sampai ke depan gedung apartemen. Setelah itu Hayama kembali memukul udara dengan sayap hitamnya, dan terbang meninggalkan Tetsuya. Jadi disini Tetsuya berada. Ia sudah kembali ke dunia asalnya. Bukan di Aerie– tempat para Nephilim berada.

Tetsuya mulai membuka kenop pintu kamarnya dengan pelan. Sebenarnya Tetsuya berharap akan bertemu dengan Seijuurou. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Biasanya Seijuurou sudah berdiri di samping lift, sambil menatap pemandangan kota. Tapi nyatanya, pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Entah kenapa Tetsuya merasa kecewa saat tidak dapat menemukan sosok Seijuurou.

 

“Hah..” Tetsuya menghela napas pelan. Ia mulai masuk ke dalam apartemen. Tangannya meraba dinding untuk menekan saklar lampu agar lampu di ruang tengah menyala. Kemudian cahaya lampu mulai menyinari ruangan itu. Membuat mata Tetsuya menyipit perlahan karena ia melihat sesosok bayangan yang sedang duduk di sofa kecil miliknya. Sosok itu mulai berbalik ke arahnya, dan menatap Tetsuya.

 

“Tetsuya.. Apa yang kau lakukan selama dua hari ini?!” Suara bariton yang sangat Tetsuya kenal itu menggema memenuhi ruangan. Kali ini, Tetsuya bisa melihat dengan jelas sosok Akashi Seijuurou yang berdiri di dekat sofa sambil menatapnya dengan tajam. Tetsuya bisa merasakan kekhawatiran di dalam manik heterecomenya.

 

Langkah Seijuurou semakin dekat dengan Tetsuya. Membuat Tetsuya memundurkan tubuhnya. Menyentuh pintu yang ada di belakangnya sehingga tertutup dengan sempurna. Tetsuya tahu jika Seijuurou marah padanya. Seijuurou tidak pernah menatapnya sedingin itu.

 

“Apa yang kau lakukan selama dua hari, Tetsuya? Kau tahu? Aku kebingungan mencarimu kemana-mana!” Dahi Tetsuya mengernyit saat mendengar pertanyaan beruntun dari Seijuurou. Dua hari? Tetsuya berada di Aerie dua hari?

 

“A-apa maksudmu Akashi-kun?” Tetsuya mendongak. Menatap manik heterecome Seijuurou yang menatapnya tajam. Ini kembali membingungkan untuk Tetsuya. Ia pikir hanya beberapa jam saja berada di Aerie.

 

“Kau menghilang selama dua hari.” Seijuurou menghela napasnya lelah. Kali ini tangannya terulur untuk menarik Tetsuya ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sungguh, Seijuurou merindukan sosok Tetsuya. Ia sudah kebingungan mencari Tetsuya selama dua hari ini. Ia bahkan tidak dapat mengendus keberadaan Tetsuya di manapun. Seijuurou takut jika pasukan Verchiel menyerang Tetsuya. Ia tidak ingin itu semua terjadi. Seijuurou akan melindungi Tetsuya sampai kapanpun.

 

“Syukurlah, Tetsuya. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Seijuurou menelusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Tetsuya. Menghirup dalam aroma vanilla dari tubuh Tetsuya. Aroma tubuhnya yang sudah menjadi obat penenang tersendiri untuk Seijuurou. Rasa khawatir dan ketakutan dalam dirinya menghilang hanya dengan mencium aroma tubuh Tetsuya.

 

“M-maaf, Akashi-kun.” Tetsuya bergumam pelan. Tangannya bergerak untuk membalas pelukan Seijuurou sama eratnya. Jujur saja, Tetsuya butuh pegangan. Ia membutuhkan sosok Seijuurou untuk membuatnya mengerti tentang hal tidak masuk akal yang menimpa kehidupannya selama beberapa terakhir ini.

 

“Aku takut, Akashi-kun..” Suara Tetsuya bergetar. Seijuurou tahu ada yang tidak beres selama Tetsuya pergi. Ia bisa merasakan pelukan Tetsuya semakin mengerat, dan juga tubuh pemuda bersurai biru itu mulai bergetar ketakutan, di sertai isakan lirih yang lolos dari mulut Tetsuya.

 

“Akashi-kun… A-aku takut.. T-tolong…” Suara lirih Tetsuya terdengar menyesakkan bagi Seijuurou. Ia tidak ingin melihat Tetsuya ketakutan seperti sekarang. Tangan Seijuurou bergerak untuk menggendong tubuh Tetsuya ala bridal. Tetsuya diam. Tidak menolak dengan perlakuan Seijuurou. Ia malah membenamkan wajahnya pada leher Seijuurou dan menangis di sana. Seijuurou membawanya ke kamar. Kemudian pemuda bersurai crimson itu membaringkan tubuh mungilnya di ranjang. Tetsuya bisa melihat dengan jelas Seijuurou duduk di sampingnya dengan tatapan khawatir.

 

“Ceritakan semuanya padaku.” Perintah Seijuurou yang penuh ke absolutan, membuat Tetsuya mengangguk dengan cepat, dan mulai mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu ia mulai menceritakan segalanya. Tentang Aerie, Kagami, Hayama, Shima, dan juga Verchiel. Tetsuya bisa melihat raut wajah Seijuurou berubah. Rahang pemuda bersurai crimson itu mulai mengeras. Tangan Seijuurou terkepal dengan erat.

 

“Kau tidak boleh bertemu dengan Kagami lagi. Dengarkan aku Tetsuya.” Manik heterecome menatapnya tajam. Seakan tidak ingin di bantah. “Aku akan melindungimu sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkan makhluk jahanam itu menyentuhmu. Apalagi Verchiel sialan itu!” Seijuurou kembali kembali memeluk tubuh Tetsuya dengan erat. Ia tidak akan membuat Tetsuya menderita. Apapun yang terjadi. Karena Tetsuya adalah miliknya.

 

“Terimakasih, Akashi-kun.” Tetsuya kembali memeluk tubuh kokoh Seijuurou. Mereka berbagi pelukan dan beberapa ciuman Seijuurou hadiahkan di bibir Tetsuya. Bagi Seijuurou, pemuda bersurai biru itu adalah candu. Jika Tetsuya tidak ada, mungkin Seijuurou akan menjadi gila seperti dua hari kemarin saat ia tidak dapat menemukan sosok Nephilim itu.

.

oOo

.

 

Seijuurou menatap dalam Tetsuya yang sekarang tertidur dengan lelap. Wajah Tetsuya terlihat sangat damai. Sebuah senyum kecil tersungging menghiasi wajah cantik pemuda bersurai biru itu. Seijuurou yakin, jika Tetsuya sedang bermimpi indah. Karena semua kegelisahan di dalam hati Tetsuya sudah meluap. Pemuda bersurai biru itu menangis dan tak hentinya mengatakan terimakasih di sela-sela ciuman hangat mereka. Kemudian Tetsuya jatuh tertidur dalam pelukannya.

 

Seijuurou menampilkan senyum asimetris di wajahnya. Ia bersyukur datang kembali ke dunia manusia, dan di pertemukan dengan Tetsuya. Seijuurou yang awalnya tidak tertarik dengan apapun, kini tertarik oleh sosok Tetsuya. Mungkin manusia menyebut hal ini sebagai jatuh cinta. Ya. Seijuurou jatuh cinta pada Tetsuya. Ia selalu ingin berada di dekat pemuda itu, dan melindunginya dari para makhluk kotor yang mencoba melukai Tetsuya.

 

“Aku tidak menyangka akan melakukan hal konyol seperti ini.” Tangan Seijuurou terulur untuk mengelus surai biru Tetsuya dengan pelan. Kemudian ia mulai menunduk dan mencium kening Tetsuya. “Hades akan marah padaku jika tahu aku berurusan dengan para malaikat.” Seijuurou terkekeh pelan, saat mengingat kembali sosok Ayahnya. Ia sangat yakin jika Masaomi akan murka. Jujur saja, Seijuurou sangat suka melihat Ayahnya itu marah. Walaupun Persephone selalu bisa menenangkan ayahnya dengan cepat.

 

“Seijuurou-sama. Apa anda merasakan keberadaan Thanatos-sama?” Suara Nigou yang kecil memecah keheningan. Membuat Seijuurou sadar jika sejak tadi Nigou masih mengikutinya. Ia pikir anjing itu sudah menuruti perintahnya untuk kembali ke Gerha Hades(2).

 

“T-thanatos-sama ada di sini.” Suara Nigou mencicit. Membuat Seijuurou tersenyum meremehkan ke arah pintu kamar. Di sana ia sudah melihat sosok Thanatos. Seijuurou bukanlah orang bodoh yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Thanatos yang menguarkan aura mematikan di sekelilingnya.

 

“Saya tidak menyangka jika anda berurusan dengan Nephilim itu.” Suara Nijimura terdengar meremehkan. Membuat Seijuurou menggeram tak suka ke arahnya. Ini yang Seijuurou tidak suka dari abdi ayahnya itu. Nijimura selalu mencampuri segala urusannya.

 

“Dan aku tidak menyangka jika kau kembali mencampuri urusanku. Apa Hades mengutusmu?” Suara sarkatik Seijuurou hadiahkan untuk Nijimura. Kemudian pemuda bersurai crimson itu mulai berjalan ke arah Seijuurou. Manik heterecome menatap tak suka ke arah Nijimura yang tidak pernah tunduk oleh tatapannya.

 

“Ya. Masaomi-sama sudah tahu jika anda berurusan dengan Nephilim. Beliau ingin anda pulang ke Gerha Hades.”

 

“Tidak. Aku tidak akan pulang. Sampaikan pesanku untuk Ayah dan Ibu. Aku akan bersama Tetsuya di sini.” Seijuurou berbalik. Berjalan ke arah Tetsuya, dan mengabaikan sosok Nijimura yang menggeram marah.

 

“Masaomi-sama akan marah dan membunuh Nephilim itu jika anda tidak pulang, Seijuurou-sama.” Ada nada memaksa di dalam ucapan Nijimura yang membuat Seijuurou kembali mendengus, sebelum melirik Nijimura lewat ekor matanya.

 

“Aku akan melindunginya dari apapun. Pergilah, Nijimura. Aku tidak ingin menyakitimu.” Aura kematian menyebar di sekeliling tubuh Seijuurou. Membuat Nijimura memundurkan tubuhnya. Nijimura masih ingin hidup. Ia tidak ingin hidupnya sia-sia karena hal ini. Lebih baik ia membiarkan Seijuurou, dan kembali melapor pada Masaomi.

 

“Saya sudah memperingatkan anda. Nephilim itu berbahaya bagi makhluk dunia bawah seperti kita, Seijuurou-sama.” Dan setelahnya, sosok Nijimura menghilang di gantikan oleh gumpalan cahaya hitam yang mengecil, kemudian hilang bagai di terpa oleh angin.

 

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Tetsuya.” Geraman Seijuurou terdengar menakutkan. Seijuurou belum pernah seserius ini sebelumnya. Jika ada yang menyakiti Tetsuya, itu artinya mereka akan berurusan dengan Seijuurou. Sekalipun itu adalah malaikat utusan Tuhan, Seijuurou tidak akan pernah takut.

 

.

oOo

.

 

 

Pemuda bersurai hitam dengan hakama berwarna putih itu menatap tajam bawahannya. Izuki atau yang lebih di kenal sebagai Verchiel menggeram. Ia tidak habis pikir jika ada keturunan dari Lucifer yang masih berada di dunia manusia. Izuki pikir semua Nephilim dan para malaikat pembelot bersembunyi di Aerie. Ini adalah kesempatan langka. Ia tidak akan membiarkan buronannya lepas lagi. Kali ini, Izuki bertekad untuk membunuh Nephilim bernama Kuroko Tetsuya.

 

“Tapi Izuki-sama, sosok Seijuurou-sama selalu terlihat di samping Nephilim itu.” Dahi Izuki mengerut mendengar penuturan dari Izuna- sang bawahan yang sudah ia tugaskan memantau Tetsuya. Seijuurou yah? Jika memang benar Seijuurou ikut campur dalam urusan ini, itu berarti Seijuurou menantang Zeus- Penguasa Langit.

 

“Menarik. Putra Hades terlibat dengan Nephilim.” Seringaian licik terukir jelas di wajah Izuki. Ini adalah hal yang paling menarik. Jika Seijuurou terlibat, mungkin saja perang langit akan kembali terjadi. Murka Zeus dan Hades selalu menggemparkan bumi.

 

“Tangkap Kuroko secepatnya, dan bawa padaku. Walaupun Seijuurou ada di samping Nephilim itu.” Wajah Izuna memucat saat mendengar perintah dari Izuki. Ah. Ia masih ingin hidup. Kekuatannya sama sekali belum cukup kuat untuk menentang putra Hades. Ini namanya cari mati.

 

“Jika kau tidak bisa membawa Kuroko, aku akan mematahkan sayapmu.” Izuna menelan salivanya dalam. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti Izuki. Semua pilihan yang di berikan Izuki tidak ada yang bagus. Sama-sama jalan kematian.

 

“Baik, Izuki-sama.” Izuna menundukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum ia mulai mengepakkan sayap putihnya, dan melayang menjauh dari kastil Verchiel. Izuna harus melaksanakan tugasnya. Ia tidak ingin jika sayapnya di patahkan. Itu sama saja artinya dengan menjadi malaikat pembelot. Izuna akan membawa Tetsuya apapun yang terjadi.

 

Tebece

 

Glousarium :

  1. Verchiel : Malaikat Utusan Tuhan. Abdi Zeus yang bertugas untuk memburu para kaum pembelot.

 

  1. Gerha Hades : Kerajaan Dunia Bawah. Tempat Hades tinggal.

 

 

Akhirnya selesai. Saya ngebut kerjain ini fict karena deadline semakin dekat. Semoga saya bisa ngerjain deadline di sela-sela kehidupan real life saya yang sibuknya sangat go to hell sekali 😥 semoga tanggal 31 semuanya selesai yah.

Sayonara! Jangan lupa tinggalkan jejak, karena review kalian sangatlah berarti untuk saya.

Silahkan tinggalkan masukan dan kritikan juga. Saya sangat berharap jika kalian bisa ngerasain feelnya pas baca FF ini. karena sejujurnya, saya takut kalo imajinasi saya ga sampai sama reader. Karena kesulitan dalam FF fantasy itu adalah menggambarkan. Dan saya takut penggambaran semua cerita di ff ini ga sampai. Jadi silahkan berkomentar!

 

AkaKuro Banzai!

Mind To Review?

Astia Morichan ^^

 

 

Prince Of The Dark | AkaKuro FF| LovelyPhantom

0

Akashi Seijuurou menatap tajam sosok pria paruh baya bersurai crimson yang mirip dengannya . Pria itu duduk dengan gagah di kursi kebanggaan miliknya yang berada di depan altar dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi di sampingnya. Tidak lupa dengan baju zirah yang melekat di tubuh pria berwibawa- Akashi Masaomi- Ayah Seijuurou yang merupakan penguasa Dunia Bawah. Masaomi lebih di kenal sebagai Dewa Hades(1) bagi para manusia. Sedangkan Seijuurou adalah anak semata wayangnya dari Persephone (2).

 

“Aku bosan di sini Ayah.” Ucap Seijuurou. Manik heterecomenya masih menatap Masaomi dengan tajam. Seakan menyuruh agar Ayahnya itu mengerti keinginan yang sudah lama Seijuurou pendam. Jujur saja, Seijuurou bosan tinggal di Dunia bawah, atau paling tepatnya neraka. Seijuurou juga sudah lelah jika setiap hari harus melihat sungai phlegethon(3), acheron(4), lethe(5), padang asphodel(6) dan juga padang hukuman(7) — dimana roh-roh orang jahat berteriak kesakitan, dan meminta tolong pada Seijuurou untuk di bebaskan dari rasa sakit.

 

“Apa yang ingin anda lakukan, Seijuurou-sama?” Nijimura- sang Thanatos(8) yang merupakan abdi dari sang ayah bertanya. Seijuurou mendelik- menatap tak suka ke arah Nijimura yang selalu menggangu rencana miliknya.Nijimura memang selalu curiga pada Seijuurou. Padahal Nijimura hanya abdi dari sang ayah yang sama sekali tidak berpengaruh bagi Kerajaan di Dunia Bawah ini.

 

“Bukan urusanmu.” Seijuurou melirik sekilas ke arah Nijimura. Kemudian ia kembali menatap sang ayah yang masih terdiam. Tidak mengubris keinginan Seijuurou sama sekali.

 

“Aku akan pergi ke dunia manusia. Bersama para roh orang mati bisa membuatku gila.” Dan tanpa meminta persetujuan siapapun, Seijuurou melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang singgsana ayahnya. Seijuurou hanya ingin segera pergi ke pintu ajal(9)– yang menghubungkan dunia fana dengan dunia bawah. Seijuurou memang sudah merencanakan hal ini sejak dulu. Ia ingin menghirup udara bebas, dan tinggal di dunia fana. Meninggalkan dunia bawah yang kelam dimana hanya di tinggali oleh dirinya, ayah, ibu dan juga beberapa abdi dari sang ayah. Seijuurou juga akan meninggalkan semua roh orang mati yang di ada di padang hukuman agar berhenti mengikutinya. Mungkin jika di dunia fana, Seijuurou tidak akan bertemu lagi dengan kerangka orang mati, dan para roh yang masih mempunyai urusan manusiawi. Walaupun Seijuurou masih mempunyai kekuatan untuk memanggil pasukan zombie dengan kerangkanya saja untuk melindungi Seijuurou jika terdesak bahaya. Seperti di incar oleh Zeus, dan juga beberapa makluk ghaib yang mengincar nyawa pangeran kegelapan untuk menguasai dunia fana.

 

Prince Of The Dark

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

 

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Seijuurou sang Pangeran Kegelapan—Putra Hades memutuskan untuk pergi ke dunia fana. Di sana, ia bertemu dengan Kuroko Tetsuya- manusia dengan paras cantik yang mempunyai aura angelik dalam dirinya. Tetsuya bahkan tidak tahu siapa dirinya jika ia tidak di pertemukan dengan Seijuurou. Apalagi ketika pasukan bersayap menyerang Tetsuya, dan Seijuurou yang menolongnya setiap saat.

 

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

 

a/n: Ini FF kembali saya dedikasikan untuk event #LovelyPhantom dan merayakan ratu harem kita Kuroko Tetsuya yang semakin manis minta di makan/? Eh. FF ini kembali di angkat dan terinspirasi oleh beberapa mitologi yang di gabung bersama imajinasi mesum dan nista saya. Kalau kalian tidak suka dengan apa yang saya tulis silahkan menyingkir dan tekan tombol back. Saya tidak bertanggung jawab jika mata kalian iritasi ketika baca tulisan saya.

 

Kali ini Glousarium sesuai dengan arti sebenernya. Ga saya ubah sama sekali seperti beberapa fict yang dulu.

 

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari Fanfict ini. ini hanya untuk merayakan kecantikan dan fabolousnya Cuya di mata Juyo :*

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

Kuroko Tetsuya berjalan gontai menuju lift yang akan mengantar tubuh letihnya ke sebuah kamar apartemen usang yang berada di lantai tujuh gedung bertingkat ini. Tetsuya merasa tubuhnya remuk sekarang, karena seharian ini ia harus bekerja part time di dua tempat. Ketika pagi menjelang, Tetsuya juga harus kembali belajar di kampusnya. Tetsuya sudah semester empat sekarang. Ia harus rajin belajar, dan juga mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Karena Tetsuya tidak ingin merepotkan bibi-nya yang ada di Hokaido. Tetsuya sudah kehilangan orangtuanya sejak berumur dua tahun. Tetsuya bahkan tidak ingat sama sekali wajah sang ibu yang melahirkannya. Tetsuya hanya tahu wajah ibunya di foto. Begitupun dengan sang ayah yang tidak pernah Tetsuya kenali. Terkadang Tetsuya merasa hidupnya tidak adil. Tapi Tetsuya memang harus merasa bersyukur pada Tuhan karena membiarkan Tetsuya hidup sampai detik ini. Tetsuya masih mempunyai banyak impian, dan Tetsuya berharap impiannya terkabul satu persatu dari usaha yang selama ini ia lakukan.

 

“Hah..” Tetsuya menghela napasnya pelan saat ia sudah sampai berada di depan pintu apartemen kecil miliknya. Tangan Tetsuya bergerak untuk memasukkan kunci dan mulai membukanya. Kemudian tangannya beralih meraih kenop pintu, lalu membukanya perlahan. Bunyi pintu berderit terdengar. Menandakan bahwa pintu itu terbuka secara perlahan. Karena Tetsuya tidak ingin mengganggu tetangganya yang pasti sudah tertidur lelap sekarang.

 

Tetsuya mulai melangkah masuk ke dalam. Baru saja satu langkah Tetsuya masuk, ekor matanya menangkap sosok pemuda bersurai crimson yang sekarang berdiri sepuluh meter dari tempatnya. Ketika Tetsuya mulai berbalik, ternyata pemuda itu sedang berdiri di ujung lorong—di samping lift dan menatap pemandangan kota lewat jendela besar di sana. Tetsuya tidak mengenal sosok itu. Baru kali ini Tetsuya melihatnya.

Mungkinkah tetangga barunya? Tapi setahu Tetsuya, semua kamar yang ada di lantai tujuh itu sudah penuh. Jadi tidak mungkin ada penghuni baru di sini. Kecuali tamu, tentu saja. Ah. Memikirkannya malah membuat Tetsuya pusing. Lebih baik ia segera masuk ke dalam, dan mengabaikan pemuda itu. Lagi pula, Tetsuya memang tidak mengenalnya. Jadi bukan masalah bagi Tetsuya jika ia bersikap tidak peduli seperti sekarang. Tetsuya hanya tidak ingin berpikiran buruk tentang lelaki itu.

 

Tetsuya menganggukkan kepalanya pelan. Meyakinkan dirinya, jika pemuda itu bukanlah orang jahat. Kemudian Tetsuya kembali berbalik, dan mulai masuk ke dalam apartemen mungilnya. Apartemen Tetsuya memang sangat sederhana. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dan juga dapur yang menyatu bersama ruang tengah. Bagi Tetsuya apartemen ini sudah cukup. Lagi pula harga sewanya sangat murah, jadi Tetsuya merasa sangat betah tinggal di sini.

 

“A-ah.. Sebaiknya aku tidur.” Tetsuya mulai melepaskan backpack kecil miliknya, dan menyimpannya di sofa. Kemudian ia berjalan ke arah kamar, dan berganti pakaian dengan piyama berwarna biru. Tetsuya tidak ingin mandi, ia hanya menyikat gigi dan membasuh wajahnya saja. Cuaca malam ini sangat dingin, Tetsuya tidak ingin mati kedinginan karena berendam. Jadi Tetsuya memutuskan untuk segera tidur, dan menjelajahi mimpinya. Walaupun Tetsuya sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Mimpi dimana dirinya mempunyai sayap, dan di kejar oleh beberapa pasukan bersayap yang mengincar nyawanya.

.

oOo

.

 

Tetsuya berlari kecil menuju cafe yang berada di perempatan jalan Shibuya. Tetsuya mendapat shift sore hari ini, dan ia malah terlambat datang ke tempat kerjanya karena harus membantu Kiyoshi Sensei- Dosen menyebalkan yang selalu menyuruh Tetsuya ini dan itu. Walaupun Tetsuya juga tidak keberatan, karena Kiyoshi Sensei adalah orang yang baik pada Tetsuya

 

“Hah.. Hah..” Napas Tetsuya tersenggal saat ia sampai di depan pintu cafe. Di sana sudah ada Kise Ryouta yang sudah memakai kemeja putih dan juga celana hitam panjang, sambil membawa sebuah nampan berisi jus pesanan pelanggan—menatap Tetsuya dengan padangan heran. Seolah berkata ‘Kenapa kau terlambat-ssu?’

 

“Maaf atas keterlambatanku.” Tetsuya membungkukkan tubuhnya ke arah Hyuuga Junpei- pemilik cafe yang menjadi bos Tetsuya. Pria berkacamata itu mulai mendekat ke arah Tetsuya. Wajah stoic milik Hyuuga memang tidak pernah bisa terbaca oleh pikiran Tetsuya.

 

“Kenapa kau terlambat Kuroko? Kau tahu kan jika cafe selalu di padati pelanggan ?” Tetsuya menunduk. Enggan menatap bosnya yang sekarang mengurut pelipisnya. “Sudahlah. Cepat ganti pakaianmu. Banyak pekerjaan yang menunggumu, Kuroko.” Kemudian Hyuuga berbalik. Meninggalkan Tetsuya yang sekarang bisa menghela napas lega. Jujur saja, Tetsuya sudah sering datang terlambat ke cafe. Maka dari itu ia selalu di omeli oleh Hyuuga akibat keterlambatan yang sama sekali tidak Tetsuya recanakan.

 

“Maafkan aku, Senpai.” Ucap Tetsuya penuh penyesalan saat Hyuuga sudah menjauh dari pandangannya. Kemudian Tetsuya segera pergi ke belakang dapur. Ada ruang ganti di sana, dan Tetsuya harus segera berganti baju. Hanya butuh beberapa menit bagi Tetsuya untuk mengganti kaos berwarna birunya, dengan kemeja berwarna putih yang Tetsuya gulung seperempat lengannya. Celana jeans levis di ganti oleh celana denim berwarna hitam yang terlihat pas di kaki Tetsuya. Tidak lupa dengan celemek berwarna hitam senada dengan celananya melingkar di pinggang Tetsuya. Setelah merasa cukup rapi, Tetsuya segera meninggalkan ruang ganti, dan pergi menuju dapur. Di dapur, semua orang terlihat sangat sibuk mengantarkan pesanan. Furihata- yang merupakan koki kedua pun nampak sangat sibuk karena sepertinya Riko-san- istri dari Hyuuga tidak ada di dapur. Jadi Furihata yang harus mengcover semua pesanan pelanggan.

 

“Kuroko, kau melayani pelanggan saja dan mengantarkan pesanan. Masih banyak yang belum di layani di luar cafe.” Hyuuga yang kini sibuk menyiapkan berbagai minuman, berteriak ke arah Tetsuya.

 

“Baiklah.” Tanpa menunggu lebih lama, Tetsuya segera melesat pergi meninggalkan dapur. Ia mulai menghampiri beberapa pelanggan yang duduk di luar cafe. Tetsuya bisa melihat mereka menggerutu karena masih belum bisa memesan. Mereka adalah empat orang gadis berseragam SMA yang duduk di pojok- tepat di belakang taman. Mungkin mereka memilih latar paling bagus di cafe ini. Karena jika mereka duduk di sana, akan terbentang taman yang cukup besar. Dengan pepohonan yang menjulang tinggi di segala penjuru. Nuansa hijau yang sarat akan hutan akan terasa jika duduk di sana. Cafe ini memang terkenal karena mempunyai latar hutan yang menarik. Setahu Tetsuya, Hyuuga membangun cafe bertemakan hutan ini untuk Riko- istrinya- sebagai hadiah pernikahan mereka.

 

“Maaf. Apa ada yang ingin anda pesan?” Tetsuya memamerkan senyum menawan miliknya. Membuat empat orang gadisyang tadi sedang menggerutu terdiam saat melihat senyum Tetsuya. Mereka seolah terhipnotis oleh senyuman Tetsuya yang mempunyai magis tersendiri.

 

“I-iya. A-ano.. Siapa namamu?” Bukannya memesan, gadis bersurai pirang bertanya nama Tetsuya dengan pipinya yang merona, ketika Tetsuya menyodorkan menu makanan di atas meja.

 

“Kuroko Tetsuya.” Tetsuya tersenyum simpul ke arah gadis itu. Tetsuya bisa melihat wajah gadis itu memerah sempurna. Ah. Mungkin saja gadis itu sedang sakit. Tetsuya tidak ingin ambil pusing.

 

“Kau bisa memanggilku lagi jika sudah selesai memesan, Nona.” Tetsuya membungkuk perlahan, sebelum menjauh dari kerumunan para gadis yang masih terpesona akan wajah Tetsuya. Well. Jangan salahkan Tetsuya jika ia mempunyai senyum menawan yang mampu memikat semua orang. Ini adalah hal yang biasa jika ada para gadis, bahkan pria menanyakan perihal Tetsuya.

 

“Hey.. Tetsu!” Suara bass dengan nada berat yang sangat Tetsuya kenali itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Tetsuya bisa melihat sosok pemuda berkulit tan sedang melambaikan tangannya. Pemuda itu- Aomine Daiki- Sahabat sekaligus pacar dari Ryouta- sedang duduk di kursi luar baris pertama.

 

“Domo Aomine-kun.” Tetsuya berjalan mendekat ke arah Daiki yang sekarang tersenyum lebar ke arahnya.

 

“Oi.. Tetsu, apa kau melihat Ryouta? Aku sudah menunggunya di sini setengah jam. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya.” Daiki menghela napasnya lelah. Raut wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi muram saat mengingat Ryouta. Tetsuya yakin jika mereka sedang bertengkar. Ia juga sudah tidak melihat Ryouta melayani beberapa pelanggan. Biasanya Ryouta selalu ada di depan, dan suara tawanya yang khas selalu terdengar.

 

“Tadi aku melihatnya. Apa Aomine-kun bertengkar dengan Kise-kun?” Tetsuya mengedarkan pandangannya. Meneliti ke segala penjuru. Siapa tahu ia bisa melihat sosok Ryouta dan juga beberapa pelanggan yang harus Tetsuya tulis pesanannya.

 

“Aku bertengkar dengannya. Jika kau bertemu dengan Ryouta di dalam, bisakah kau memberitahunya aku ada di sini, Tetsu?” Daiki menatap Tetsuya penuh harap. Tetsuya hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

“Tentu saja, Aomine-kun. Apa kau ingin memesan juga?” Tetsuya bertanya, dan di hadiahi anggukan pelan dari Daiki.

 

Americano saja.” Tetsuya mengeluarkan sebuah memo kecil bersama pulpen yang ia simpan di saku celemek. Kemudian tangannya bergerak di atas kertas untuk menulis pesanan Daiki. Sebelum mulai mengangguk setelah selesai menulis pesanan Daiki.

 

“Baiklah. Tunggu sebentar, Aomine-kun.” Dan Tetsuya mulai berbalik menjauh dari Daiki. Ia berniat untuk segera kembali ke dalam cafe dan membawa pesanan Daiki. Tapi tatapan aquamarinenya terpaku pada dua sosok lelaki dengan jubah hitam yang berada di balik pohon sakura, menatap Tetsuya tajam. Dari jarak seperti ini, Tetsuya bisa melihat mata kedua sosok itu berwarna semerah darah. Tetsuya juga bisa melihat salah satu sosok lelaki itu menggerakan mulutnya dan Tetsuya seakan mengerti dengan apa yang di ucapkan mereka. Seolah berkata ‘Nephilim. Kita menemukannya.’

 

Tubuh Tetsuya menegang dengan cepat, manik aquamarinenya membulat sempurna saat melihat tonjolan daging berbentuk sayap keluar dari punggung kedua orang itu. Sayapnya berwarna hitam pekat membentang lebar. Tetsuya bahkan bisa merasakan angin kecil menerpa wajahnya saat kedua sosok itu memukul udara dengan sayap mereka. Sebelum akhirnya mereka terbang dengan tatapan intens yang terarah pada Tetsuya.

 

“Hey.. Kuroko?” Suara Hyuuga tidak terdengar lagi oleh Tetsuya. Pikiran Tetsuya mulai kosong. Darah Tetsuya berdesir. Tubuh Tetsuya mulai memanas ketika ia merasakan otot-otot punggungnya menegang. Tetsuya tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Tetsuya hanya tahu jika ia tidak bisa merasakan apapun, dan semuanya gelap. Tetsuya masih bisa mendengar teriakan panik dari orang-orang, dan juga suara Hyuuga berserta Ryouta dan Daiki yang memanggil dirinya agar tetap sadar.

 

 

.

oOo

.

 

“Hey.. Kuroko-chii.. Apa kau tidak ingin bangun?” Suara Ryouta terdengar khawatir saat melihat Tetsuya terbaring lemah di hadapannya. Sejak tadi, Ryouta mengguncangkan bahu Tetsuya dengan gerakan pelan. Berharap jika Tetsuya akan bangun dari pingsannya. Tetsuya sudah pingsan selama satu jam, dan ia sangat khawatir dengan keadaan Tetsuya yang seperti ini. Sejak tadi Ryouta bahkan mengabaikan gerutuan dari Daiki, karena Ryouta tidak ingin membawa Tetsuya dulu ke klinik yang ada di depan persimpangan. Karena jika Ryouta melakukan itu, pengunjung yang ada di cafe akan terganggu. Jadi Ryouta memutuskan untuk memanggil seorang dokter yang bernama Midorima Shintarou. Dokter muda berparas tampan yang sekarang memeriksa keadaan Tetsuya yang berbaring lemah di atas single bed yang ada di rest room cafe ini.

 

“Dia hanya kecapean saja. Kau tidak usah khawatir. Aku akan memberinya beberapa obat vitamin.” Shintarou menyimpan kembali stetoskop ke dalam tas hitam miliknya. Kemudian pria bersurai hijau itu mengeluarkan sebuah pensil di sertai kertas memo kecil. Tangan Shintarou bergerak lincah di atas kertas. Menulis beberapa kata yang Ryouta yakini adalah resep obat yang harus ia tebus untuk Tetsuya.

 

“Kau bisa membeli resep ini di klinik depan. Aku harap kau bisa menjaganya. Dia mungkin sedang tertekan oleh sesuatu. Jangan sampai membuatnya tertekan dan stress.” Shintarou mulai berdiri sambil merapihkan kemeja hitam miliknya yang sama sekali tidak kusut. Kemudian ia membungkuk untuk pamit. Di sertai oleh senyuman Ryouta, dan delikan tajam dari Daiki.

 

“Terimakasih, Dokter Shintarou.” Shintarou hanya mengangguk kecil, sebelum akhirnya berjalan ke luar pintu dan meninggalkan rest room itu.

 

“Aduh Kuroko-chii.. kenapa kau tidak bang—“ Mata Ryouta membulat saat melihat Tetsuya mulai mengerjapkan mata dengan perlahan. Manik aquamarine yang awalnya tertutup, terbuka dengan gerakan pelan. Memperlihatkan bagaimana jernihnya mata Tetsuya, yang selalu membuat Ryouta kagum sekaligus iri karena mata Tetsuya begitu indah.

 

“A-ah.. Syukurlah Kuroko-chii sudah sadar!” Ryouta berteriak girang. Tubuhnya bergerak dengan refleks memeluk tubuh mungil Tetsuya yang masih berbaring. Ryouta benar-benar lega karena Tetsuya baik-baik saja.

 

“Oi.. Tetsu bisa mati kehabisan napas karena kau peluk seperti itu, bodoh!” Daiki mencibir ke arah Ryouta. Membuat si surai pirang mendelik ganas ke arah pemuda berkulit tan itu.

 

“Diam kau Ahomine!!” Ryouta mengerucutkan bibirnya kesal karena ucapan Daiki. Kemudian tatapannya kembali ke arah Tetsuya yang sekarang memejamkan matanya, dengan dahi mengernyit seperti menahan sakit.

 

“E-eh? Ku-kuroko-chii, kau kenapa?” Ryouta berujar gugup. Ia mulai melepaskan pelukannya pada Tetsuya, dan menatap Tetsuya dengan raut wajah khawatir.

 

“S-sakit, Ki-kise-kun… P-punggungku.. U-uhh…” Tetsuya mulai meringkukkan badannya. Berharap rasa sakit yang menjalar di punggungnya hilang. Tetsuya bisa merasakan otot-otot punggungnya bergerak dan memanas saat ini. Tetsuya tidak pernah mengalami kesakitan seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar menyakitkan.

 

“D-daiki.. Pe-pergi ambil obat di apotek Dokter Shintarou. Cepat-ssu!!” Ryouta mulai berteriak panik. Di ikuti dengan Daiki yang sekarang bingung harus melakukan apa. Karena bagi Daiki, ini adalah pertama kali Tetsuya kesakitan seperti itu.

 

“Cepat-ssu!!” Teriakan Ryouta membuat Daiki kembali sadar dari keterkejutannya. Daiki mengangguk cepat, dan segera melesat pergi keluar dari ruangan itu untuk pergi menyusul Dokter Shintarou dan juga meminta resep obat di kliniknya. Meninggalkan Ryouta yang semakin panik saat melihat Tetsuya meringis kesakitan. Ryouta benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ryouta tidak mungkin berteriak histeris keluar memanggil Hyuuga. Ia tidak ingin membuat kegaduhan di cafe ini.

 

“T-tunggu sebentar-ssu. Aku akan mengambilkan Kuroko-chii minum. Tunggulah sebentar.” Ryouta mengelus punggung Tetsuya dengan pelan. Berharap Tetsuya masih sadar dan mendengarnya. Kemudian Ryouta keluar dengan langkah panjang. Pintu kayu itu di buka paksa tanpa di tutup kembali. Agar jika Tetsuya semakin kesakitan, pemuda bersurai biru itu bisa berteriak, dan Ryouta dapat mendengarnya dengan jelas. Kemudian pergi menolongnya. Ryouta memang selalu berpikiran simpel jika dalam keadaan genting. Pemuda bersurai pirang itu memang bisa di andalkan.

 

“A-ahh…” Ringisan sakit Tetsuya makin menjadi. Tetsuya masih bisa merasakan ototnya mulai berkontraksi di dalam punggungnya. Bergerak pelan di balik tulang punggungnya. Ini benar-benar menyakitkan untuk Tetsuya.

 

“T-tolong…” Suara Tetsuya terdengar lirih. Manik aquamarinenya mulai tertutup setengah. Tapi Tetsuya masih bisa melihat dengan jelas sosok pemuda bersurai crimson yang berjalan mendekat ke arah Tetsuya. Ia kenal dengan pemuda itu. Pemuda bersurai crimson itu adalah tetangga barunya yang Tetsuya lihat kemarin malam.

 

“Ternyata aura angelik berasal darimu.” Pemuda bersurai crimson itu membungkukkan badannya saat jaraknya dengan Tetsuya semakin dekat. Tetsuya bisa merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya dengan lembut. Tetsuya tidak tahu jika napas pemuda itu malah membuat sesuatu di balik punggung Tetsuya kembali bergerak tak beraturan. Darahnya kembali berdesir di dalam tubuh Tetsuya.

 

“Aku Seijuurou. Kau harus mengingatnya saat kita bertemu lagi nanti.” Pemuda misterius—Seijuurou—berbisik pelan di telinga Tetsuya. “Aku akan menolongmu. Aura angelik milikmu itu berbeda dan menarik.” Seijuurou tersenyum asimetris ke arah Tetsuya. Tangan Seijuurou yang hangat bergerak perlahan menyentuh wajah Tetsuya dengan lembut. Sebelum menyentuh kelopak mata Tetsuya dengan perlahan, dan Tetsuya tidak sadarkan diri setelahnya. Tetsuya hanya ingat jika pemuda itu berhasil membuat energi dari dalam tubuhnya menghilang. Menghilangkan rasa sakit yang sejak tadi bersarang pada punggung Tetsuya.

.

oOo

.

Tetsuya membuka manik aquamarinenya secara paksa. Napasnya tersenggal tak beraturan. Dadanya naik turun tak terkendali. Mimpi itu lagi. Tetsuya kembali bermimpi tentang dirinya yang di kejar pasukan bersayap. Di dalam mimpi, Tetsuya sama sekali tidak punya tujuan kemana harus bersembunyi. Tetsuya benar-benar tidak suka dengan mimpi buruk yang selalu ia dapat ketika tidur. Karena ketika ia terbangun sampai sekarang, mimpi tersebut masih ada di benaknya. Dan Tetsuya takut untuk kembali tertidur.

 

Tetsuya menoleh ke arah nakas. Melihat jam weker kecil di sampingnya. Sekarang masih jam tiga pagi. Tetsuya baru tertidur tiga jam. Jika seperti ini, Tetsuya tidak ingin kembali tertidur. Tadi malam, Ryouta mengantar Tetsuya pulang ke apartemen. Pemuda bersurai pirang itu bahkan nekad untuk menginap di tempat Tetsuya. Ryouta berkata jika ia takut Tetsuya kembali kesakitan, dan tidak ada orang yang akan menolongnya. Tapi Tetsuya menolak kebaikan Ryouta dengan halus. Ia tidak ingin membuat Ryouta dan Daiki kerepotan. Mereka pasti sudah mengurusnya selama Tetsuya pingsan beberapa jam di cafe. Tetsuya tidak ingin kembali membuat kedua sahabatnya itu susah karena dirinya.

 

Tetsuya mulai menarik selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Ia mulai berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Mungkin udara segar bisa menenangkan perasaan Tetsuya. Ia tidak ingin berpikiran negatif sekarang. Tetsuya hanya ingin melupakan kejadian yang menimpanya hari ini. Tentang kedua sosok pria bersayap, pemuda dengan surai crimson yang menolongnya, dan juga mimpi-mipi buruk yang masuk ke dalam alam bawah sadar Tetsuya.

 

Di raih kenop pintu yang menghubungkannya dengan koridor luar apartemen. Di sini tidak ada siapapun kecuali Tetsuya. Hening. Hanya ada suara binatang malam yang terdengar. Tetsuya menoleh ke arah jendela yang memperlihatkan bagaimana indahnya pemandangan Kota Tokyo yang berkerlap kerlip dari atas sini. Jika udara malam tidak membuat Tetsuya menggigil di pertengahan musim semi ini, mungkin Tetsuya lebih memilih berdiam diri sambil menatap pemandangan kota Tokyo dari jendela.

Dengan langkah mantap, Tetsuya mulai berjalan ke arah lift yang akan mengantarnya ke lantai satu. Tetsuya sudah memutuskan untuk pergi ke minimarket dua puluh empat jam yang berada dua kilo meter di tempat apartemennya.

Lagi-lagi langkah Tetsuya harus berhenti saat matanya kembali menangkap sosok pemuda bersurai crimson yang sekarang memandangi pemandangan kota di balik jendela besar itu. Pemuda itu masih sama seperti yang Tetsuya lihat empat jam lalu. Berdiri dengan senyum tipis yang bertengger di wajah tampannya. Ingin sekali Tetsuya bertanya kenapa pemuda itu masih diam di sana. Padahal ini sudah malam. Ia juga ingin bertanya apa benar jika pemuda itu yang datang menolongnya di cafe?

 

Tombol lift di tekan perlahan oleh Tetsuya. Ia hanya perlu menunggu agar pintu lift ini terbuka, dan segera pergi meninggalkan pemuda itu. Entahlah, ada sesuatu yang aneh dalam diri pemuda itu. Tetsuya tidak tahu kenapa ia bisa merasakannya. Tetsuya hanya tahu, jika pemuda itu mungkin saja berbahaya. Seperti kedua sosok misterius bersayap yang Tetsuya lihat di cafe.

 

“Hei, Apa kau tahu? Ternyata dunia fana tidak berubah sejak terakhir kali aku datang ke sini.” Dahi Tetsuya mengernyit heran saat mendengarnya. Dunia fana? Apa Tetsuya sedang berhadapan dengan orang mabuk sekarang? atau pemuda yang ada di hadapannya ini adalah seorang alien sehingga ia jarang berkunjung ke bumi? Ah. Baiklah. Lupakan tentang itu. Mungkin Tetsuya akan mengurangi membaca cerita fiktif tentang alien.

 

“A-apa kau baru saja datang ke Tokyo?” Tetsuya mencoba membuka suaranya. Tetsuya tidak ingin berfikiran negatif tentang pemuda itu. Mungkin saja kan pemuda itu baru datang dari Desa.

 

“Tidak. Aku datang dari dunia bawah.” Kali ini, Tetsuya sangat yakin jika orang yang di depannya ini mempunyai gangguan jiwa. Memang ada kota di Jepang yang bernama dunia bawah? Tentu saja tidak ada. Sekarang, Tetsuya benar-benar ingin pergi dari sini. Ia tidak mau meladeni pemuda itu lebih lama. Dan kenapa lift ini sama sekali tidak bekerja? Apa petugas apartemen mematikannya? Jika seperti itu Tetsuya harus menuruni anak tangga untuk sampai ke bawah.

 

“Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?” Kali ini Tetsuya kembali melirik ke arah pemuda aneh itu. Dengan gugup, Tetsuya mulai mengangguk sebagai jawaban. Dan anggukan Tetsuya malah membuat pemuda itu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman menawan.

 

“Lupakan saja apa yang ku katakan padamu. Siapa namamu?” Pemuda bersurai crimson itu mulai menatap Tetsuya dengan pandangan menilai. Setelahnya ia menggulum sebuah senyuman tipis.

 

“Kuroko Tetsuya. Kau?”

 

“Akashi Seijuurou. Seharusnya kau tidak lupa namaku.” Seijuurou melangkahkan kakinya mendekat ke arah Tetsuya. Sementara Tetsuya malah memundurkan tubuh mungilnya dengan refleks. Hingga membentur dinding yang ada di belakangnya.

 

“Hey. Tetsuya.. Apa kau percaya jika iblis dan juga malaikat itu ada?” Alis Tetsuya mengerut. Kembali tidak mengerti dengan apa yang Seijuurou ucapkan. Kenapa Seijuurou bertanya tentang hal itu? Tentu saja Tetsuya percaya. Malaikat dan Iblis itu nyata. Di dalam alkitab dan juga perjanjian lama di ceritakan dengan detail bagaimana malaikat itu. Ah. Apa Seijuurou itu seorang atheis sehingga bertanya hal ini pada Tetsuya?

 

“Tentu saja.” Tetsuya mengangguk mantap. Mengabaikan tatapan intens dari Seijuurou yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya.

 

“Lalu bagaimana jika aku mengatakan bahwa Tetsuya adalah malaikat?” Dan ucapan dari Seijuurou membuat tubuh Tetsuya menegang dalam sekejap. Pertanyaan yang di ucapkan Seijuurou memenuhi seluruh otaknya. Membuat kepala Tetsuya seakan penuh karena pertanyaan itu. Tapi Tetsuya tahu, itu semua sama sekali tidak mungkin. Tetsuya itu manusia bukanlah malaikat seperti yang Seijuurou ucapkan.

 

“Kau gila Akashi-kun.” Manik aquamarinenya menatap tak suka ke arah Seijuurou. Sebelum mendorong tubuh Seijuurou menjauh, dan kembali berbalik ke arah apartemen miliknya. Sepertinya Seijuurou memang tidak waras. Seharusnya Tetsuya tidak mengobrol dengan Seijuurou.

 

“Kau adalah nephilim, Tetsuya. Aku bisa merasakannya.” Suara bariton milik Seijuurou menggema di seluruh koridor sepi itu. Membuat Tetsuya membalikkan badannya, berniat untuk kembali melihat sosok Seijuurou yang sekarang menghilang. Bagai di telan angin malam.

 

Nephilim..” Tetsuya bergumam pelan. Kata-kata itu sama sekali tidak asing di telinga Tetsuya. Seolah Tetsuya memang sering mendengarnya. Sepertinya Tetsuya harus kembali membuka buku lamanya, dan mencari tahu soal nephilim. Karena kedua sosok bersayap tadi juga menyebut jika dirinya adalah nephilim.

 

TeBeCe

Glousarium :

  1. Dewa Hades : Dewa penguasa Dunia Bawah

 

  1. Persephone : Ratu Dunia Bawah. Istri Hades.

 

 

  1. sungai phlegethon : Sungai api yang menjalar dari kerajaan Hades ke Tartarus. Tempat menyiksa orang mati di padang hukuman.

 

  1. sungai acheron : Sungai rasa sakit

 

 

  1. Sungai lethe: Sungai bisa membuat orang kehilangan ingatan

 

  1. padang asphodel : Tempat di dunia bawah di mana orang mati yang amal baik dan buruknya seimbang.

 

 

  1. padang hukuman : Tempat di dunia bawah untuk menyiksa roh orang jahat.
  2. Thanatos : Dewa Kematian Yunani. Abdi Hades.

 

 

  1. Pintu Ajal : Pintu yang menghubungkan dunia manusia dan dunia bawah.

 

 

Pertama saya mau minta maaf karena FF ini absurd. Salahin imajinasi nista saya yang kelewatan sehingga mencampur semuanya menjadi satu. Wkwk

 

Kedua saya juga mau minta maaf buat yang nunggu FF Akakuro saya yang YMT sama BL . Maaf yah ga di up. Soalnya saya mau tamatin dulu ceritanya, jadi langsung di post langsung sekaligus. Terus FFnya juga lagi edit ulang lagi sama saya. Jadi maaf banget yah.

Saya malah merantau ke cerita baru. Fantasy lagi, absurd lagi. FF ini bakal selese sebelum deadline Lovely Phantom. Jadi akhir Juli bakal selese. Saya kerjain fictnya seminggu sekali kalau ga ada tekanan batin di dunia Real Life saya. Doain yah semoga semua lancar untuk saya. Wkwk

 

Saya ga mau banyak cingcong. Berkenankah mereview, guys??

 

Salam AkaKuro!!

 

Astia Morichan ^^