Gloomy | Yaoi| Victuuri | Yuri!!! On Ice FF

0

Gloomy

T

Romance, Drama

Warning ! Typo’s, Yaoi, OOC, dll.

Ketika Yuri galau karena Victor salah paham mengenai cincin yang ia berikan. Pelatihnya itu menganggap Yuri melamarnya. Dan Yuri harus menyelesaikan kesalahpahaman yang ia buat. Ia tidak ingin perasaan cintanya untuk Victor di anggap main-main. Maka dari itu, Yuri sudah membulatkan tekad. Mengakui cintanya pada Victor!

a/n: Setting di ambil pas mau grand prix yah. Pas Victor ama si Chris beres berendem. Wkwk. Di ambil di eps 10. Cuman yah gue aplikasikan dengan imajinasi gue. Wkkwk.

Victor Nikiforov X Katsuki Yuri

EnJOY

.

.

Pria bersurai hitam dengan kacamata yang terbingkai di wajahnya yang chubby itu, tengah mengigit bibir bawahnya keras. Sejak tadi, Katsuki Yuri nampak gelisah. Pasalnya final Grand Prix adalah esok hari. Dan Yuri benar-benar takut jika ia akan mengecewakan pelatih terkasihnya – Victor Nikiforov- yang rela melatih pria gempal seperti dirinya menjadi angsa penuh karisma. Yuri hanya ingin membuat Victor bangga. Ia hanya ingin pria itu selalu bersamanya. Selamanya. Seperti janji yang tengah mereka buat beberapa jam lalu. Astaga! Yuri malu jika mengingatnya!

Suara pintu yang terbuka dengan kasar, membuat Yuri berjengit kaget. Kemudian terduduk. Matanya yang bulat bisa melihat sosok Victor yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian privatnya saja. Dada bidang menggoda itu nampak basah. Begitu pula dengan surai abunya yang basah, membuat kesan eros itu terasa. Dan Yuri malu mengakuinya jika ia terpesona pada tubuh Victor.

“Yuri, apa kau sudah tidur?” Suara bariton Victor menyadarkan Yuri dari lamunannya. Ia dengan cepat mengerjap, saat melihat Victor berjalan ke arahnya, sebelum menutup pintu kamar hotel mereka.

“B-belum.” Yuri menggeleng pelan. Ia mengalihkan kepalanya ke arah samping, asalkan tidak melihat sosok Victor yang berjalan mendekat ke arahnya. Sebelum akhirnya pria bersurai abu itu duduk di samping ranjang. Dan hal itu membuat Yuri gugup tak karuan. Jantungnya berdegup dengan kencang, dan ia takut, jika nanti Victor akan mendengar detakan jantungnya yang memalukan.

“Ah.. Apa kau gugup? Kau harusnya tidur, Yuri.” Tangan Victor terulur, mengelus surai hitam Yuri. Membuat si megane mengerjapkan matanya. Ia terdiam saat merasakan tangan besar Victor mengelus surai hitamnya dengan lembut. Membuat Yuri nyaman karenanya.

“Apa kau mau aku tidur bersamaku malam ini? Tapi kita belum sah menjadi suami-istri Yuri.” Dan ucapan yang keluar dari pelatihnya itu, membuat wajah si pencinta katsudon merah padam. Kenapa Victor harus mengingatkannya tentang hal itu? Padahal, Yuri mencoba melupakannya. Victor itu pasti hanya mempermainkan perasaan Yuri, supaya ketika ia skating, Yuri bisa merasakan cinta akan eros. Victor itu tidak mencintainya, karena pria itu sama sekali tidak pernah mengucapkan kata sakral itu padanya. Begitu pun dengan Yuri.

“B-berhenti bercanda, Victor. A-aku akan tidur sekarang.” Yuri mencoba mendorong dada bidang Victor agar pria itu menjauh. Tapi sayangnya, gerakan tangannya terhenti, saat Victor menggengam tangannya. Kemudian mengelusnya pelan, sebelum membawa tangan Yuri untuk di kecup dengan mesra. Dan perlakuan Victor semakin membuat Yuri serasa akan meledak. Ya Tuhan, Yuri harap jantungnya tidak berhenti berdetak.

“Apa aku terlihat bercanda?” Victor menatap Yuri dengan intens. Dan tatapan dari si surai abu itu membuat Yuri terpaku. Seakan terhipnotis saat fokusnya hanya untuk Victor.

“V-victor..” Yuri mencoba memanggil nama pria itu pelan. Sepertinya, Yuri memang harus meluruskan permasalahannya dengan Victor. Masalah hati. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Walaupun nanti Yuri harus sakit hati, tapi ia tetap tidak akan membawa masalah ini pada ice skatingnya. Yuri akan tetap mendapatkan medali emas untuk Victor, walau Pelatihnya itu menolak perasaannya. Karena Yuri tahu, Victor hanya bermain dengan hatinya.

“Hm?” Victor berdehem. Tangannya kembali terulur mengelus pipi chubby Yuri yang terasa lembut.

“Sepertinya kau salah paham,” Yuri menggantungkan kalimatnya. Menunggu reaksi yang akan di tunjukan oleh Victor. Tapi pria bersurai abu itu malah mengernyitkan alisnya. Menunggu Yuri untuk melanjutkan ucapannya.

“A-aku memberikanmu cincin itu untuk hadiah. Karena kau mau melatihku selama delapan bulan ini. B-bukan melamarmu untuk menjadi pendamping hidup.” Yuri menundukan wajahnya. Enggan melihat wajah Victor.

“W-walaupun aku memang berharap seperti itu. K-karena aku mencintaimu, V-victor. M-maafkan aku.” Yuri mencengkram erat celana piyamanya, untuk menyalurkan kegugupannya. Karena sejak tadi Victor hanya terdiam. Dan Yuri terlalu takut untuk menatap Victor. Yuri takut di tolak.

Hening. Selama beberapa menit, Yuri tidak merasakan Victor bereaksi karena pengakuan cintanya tengah malam. Yuri hanya bisa mendengar detik jam yang terus melaju.

“A-aku tidak berharap kau membalas perasaanku. Sungguh.” Yuri kembali berucap, dengan tetap menundukan kepalanya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Berharap Victor segera memberinya sebuah jawaban.

“Yuri.” Suara bariton milik Victor, membuat Yuri mengadah. Kini, Yuri bisa melihat dengan jelas jika Victor tersenyum geli untuknya. Membuatnya mengerjap tak jelas seperti orang bodoh, saat melihat Victor terkekeh pelan. Kemudian pelatihnya itu malah tertawa terbahak, dan Yuri benar-benar tidak mengerti. Apa Victor menganggapnya bercanda? Jika seperti itu, maka Yuri benar-benar kecewa pada Victor.

“A-aku sama sekali tidak bercanda!” Yuri menaikan suaranya. Terdengar seperti membentak Victor, dan itu membuat Victor menghentikan tawanya. Tapi pandangan geli itu masih tetap ada untuk Yuri.

“Aku tahu..” Victor kembali terkekeh, dan tangannya bergerak untuk membawa Yuri ke dalam dekapan hangatnya. Victor memeluk Yuri dengan erat. Tangan pria itu mengelus punggung Yuri dengan lembut. Dan sentuhan pelatihnya itu malah membuat Yuri semakin bingung sekarang.

“Apa Yuri ingin dengar jawabanku?” Pria bersurai abu itu berbisik sensual di telinga Yuri. Membuat Yuri merinding di buatnya, dan tanpa sadar mengangguk dengan cepat.

Victor melepas pelukannya. kini ia bisa melihat wajah Yuri yang merah padam, menatap ke arahnya. Dengan tatapan penuh tanya, dan ekspresi Yuri benar-benar menggemaskan.

“Aku juga tidak bercanda saat mengatakan ingin menikah denganmu.” Victor terdengar sangat serius saat mengucapnya. Tatapan matanya menatap Yuri dengan tajam. Seakan menjelaskan semua keseriusan yang ia punya untuk pencinta katsudon itu.

“Aku mencintai, Katsuki Yuri. Apa kau tahu saat perayaan final grand prix tahun lalu?” Yuri terdiam saat mendengar semua penuturan yang terucap dari mulut Victor. Ia mencoba menetralkan detak jantungnya yang semakin menggila sekarang.

“Saat itu lah aku selalu memperhatikanmu, Yuri. Saat kau mabuk, dan berucap ingin menjadikanku pelatihmu, maka saat itu aku jatuh cinta padamu.” Victor menangkup wajah Yuri. Mengelus pipi megane yang tengah merona hebat akibat pengakuannya.

“Aku mencintaimu Yuri, dan aku tidak menerima penolakan. Kau akan tetap menjadi pengantinku, setelah Final Grand Prix besok.”Dan setelahnya, Victor mendaratkan kecupan singkat di bibir tebal Yuri. Pria itu mengecup bibir Yuri berkali-kali, sebelum akhirnya melumat bibir Yuri dengan penuh sensual. Membuat Yuri kini tersentak kaget akibat serangan mendadak Victor. Ia tidak bisa menolak bukan? Kali ini, sentuhan bibir Victor terasa penuh cinta untuk Yuri. Lumatan sensual pria itu membuat seluruh tubuh Yuri menjadi panas dengan cepat.

“Ehmm…” Erangan tertahan yang keluar dari mulut Yuri, membuat Victor tersenyum dalam ciuman mereka. Yuri membalasnya. Itu artinya, Victor hanya perlu membuat Yuri menjadi miliknya malam ini. Membuat pria megane itu mengerang dalam kungkungannya.

FIN

Anjir ini gaje banget. Wkwk. Gapapalah. Tapi gue demen wkwk. Niatnya mau NC. Cuman gue kurang asupan. Adakah yang punya link djs Victuri ? tapi yang english. Gue ga mau yang raw. Karena ga ngerti. Wkwk. Bagi link dong aku. Wkwk

Ih. Ih. Bagi asupan juga FF Victuri dong. Gue need nih. Tapi maunya yang hawt. Wkwk

Udah ah. Mind To Review?

Astia Morichan

Advertisements

Protected: I Want To Be A Straight Ch 5 | Meanie Couple


This content is password protected. To view it please enter your password below:

Caste Heaven | Chap 2| Meanie FF| Remake | Svt| Yaoi Hardcore! Warn !

2

 

Caste Heaven

RM 18

Romance, Drama, Gore, sadistic, etc

Warning! Yaoi! OOC, Typo yang akan membuat mata iritasi. Mature Content yang mungkin akan cukup Hard Core. Sehingga di sarankan untuk yang belum cukup umur, harap menyingkir dengan cepat.

Dosa di tanggung oleh reader sendiri. Wkwk

 

Caste Game adalah Game yang menentukan segalanya di sekolah ini. Siapa Raja, dan juga Target Bully selama satu tahun. Raja lah yang memegang kendali, dan Jeon Wonwoo adalah Raja di Game ini. Ia bebas melakukan apapun, dan Wonwoo juga tahu jika semua orang ingin merebut tahtanya. Termasuk orang yang sudah ia percaya.

 

a/n : Ini adalah Remake Caste Heaven yang di tulis oleh Chise Ogawa. Saya Warning sekali lagi ini adalah Remake. Demi apa gue suka banget manga ini sampai tercipta lah FF Remake ini. Jadi sepertinya FF Meanie Remake yang gue buat bakalan Caste Heaven aja. Wkwk . Santai bro, sama-sama Hawt kok.

Saya juga akan mewarning kalian jika SEME DI FF INI NANTI BAKALAN BRENGSEK SEMUA. JADI BUAT YANG GA KUAT TOLONG MENYINGKIR. WKWK

 

KIM MINGYU X JEON WONWOO

OTHER PAIR FIND YOURSELF

 

ENJOY!

.

 

Jeon Wonwoo berjalan dengan gaya arogan miliknya seperti biasa. Melewati tangga yang akan mengantarnya ke lantai dua. Pemuda ini nampak santai. Tidak terburu-buru layaknya semua siswa yang ada di kelas saat ini. Padahal Caste Game telah di mulai. Tapi bagi Wonwoo ini bukanlah apa-apa. Untuk periode satu tahun ke depan nanti, hanya ia yang akan menjadi raja seterusnya. Tidak akan ada yang berani mengkhianati Wonwoo. Semua orang takluk padanya.

 

“Cih. Semua orang terlihat sangat frustasi saat ini.” Wonwoo mendengus. Mengabaikan deru langkah seseorang dari belakang yang mengejarnya.

 

“Tentu saja. Aku akan mencoba menjadi ranking pertama.” Suara bariton milik Mingyu menggema. Membuat Wonwoo menoleh ke arah pemuda bersurai hitam yang sekarang berjalan mendekatinya. Sebuah senyum simpul tercetak jelas di wajah tampan Mingyu.

 

“Aku ingin kau mengakuiku, Wonwoo-ya.” Mingyu berbisik di telinga Wonwoo. Dan Wonwoo hanya bisa menyeringai kecil saat ia bisa menatap jelas wajah Mingyu yang ada di depannya. Tangannya terulur ke leher pemuda itu. Senyum menggoda Wonwoo berikan pada Mingyu. Membuat pemuda itu kaget karena tingkahnya. Manik obsidiannya menatap intens ke arah Wonwoo. Tatapan yang sama sekali tidak membuat Wonwoo takut.

 

“Mingyu-ya, apa kau benar-benar menyukaiku sedalam itu?” Wonwoo menipiskan jarak. Dari jarak sedekat itu, Mingyu bisa mencium jelas aroma citrus yang menguar dari tubuh Wonwoo. Apalagi saat Wonwoo menarik dasi seragamnya, hingga jarak antara mereka semakin menipis.

 

“And then, bring the ‘King’ Card from me.” Wonwoo berbisik seduktif di telinga Mingyu. Membuat wajah Mingyu memerah sempurna karena bisikan kecil Wonwoo di telinganya.

 

“Tentu. Tapi b-bagaimana?” Wajah Mingyu terlihat panik sekarang. Seakan bingung bagaimana untuk mencari kartu itu, dan Wonwoo benar-benar menikmati ekspresi yang Mingyu perlihatkan untuknya.

 

“Bukankah banyak cara yang bisa kau gunakan? Mengancam atau mengalahkan mereka, Mingyu-ya.”

 

“T-tapi—“ Belum selesai Mingyu membantah, ia terdiam saat melihat Wonwoo menggerakan telunjuknya dengan sensual. Lidahnya terjulur menyentuh telunjuknya sendiri.

 

“Bukankah ada pepatah yang mengatakan jika kau mencintai seseorang, maka kau akan mengorbankan apapun?” Wonwoo kembali mendekatkan wajahnya. Hingga bibirnya hampir saja menyentuh bibir Mingyu. “ Itu benar-benar keren kan? Dan jika aku adalah orang yang di cintainya, I would get wet for him.”

 

Wonwoo terdiam saat melihat seringaian kecil di bibir Mingyu. Tangan pemuda itu bergerak untuk menarik tangannya. Mencengkram dengan erat, hingga membuat Wonwoo meringis kecil akibat cengkraman itu. Wonwoo bisa merasakan manik obsidian Mingyu menatap tajam dirinya. Tatapan yang seakan membuat dirinya tak bisa berkutik sedikitpun. Bahkan saat ia mengadah untuk menatap obsidian Mingyu, Wonwoo sama sekali tidak bisa membalas tatapan tajamnya. Wonwoo seolah takut melihat tatapan yang Mingyu berikan untuknya.

 

“Aku akan membawanya untukmu.” Suara bariton itu penuh tekanan dan keseriusan yang membuat Wonwoo tetap diam. Tubuh Wonwoo seakan menjadi kaku saat melihat Mingyu menyeringai kecil. Seringaian yang bisa membuat tubuh Wonwoo meremang karena takut.

 

“Hmph. Aku menunggu berita bagus darimu, Mingyu-ya.” Dan setelahnya, Mingyu mengangguk. Kemudian melepaskan cengkramannya pada Wonwoo. Ia mulai berbalik, dan berjalan menjauh dari Wonwoo. Menaiki tangga ke lantai atas, dan meninggalkan Wonwoo sendiri yang sekarang nampak puas karena Mingyu menuruti ucapannya.

 

“Oh. Menarik.” Senyuman licik kembali tercetak di wajah Wonwoo. Well, semuanya akan menjadi sangat mudah bagi dirinya. Mingyu saja bertekuk lutut di hadapannya. Ah. Ini benar-benar menyenangkan. Wonwoo harap kesenangan ini tidak akan pernah berakhir. Ia akan selamanya menjadi raja selama bersekolah disini.

 

“Baiklah. Aku akan bersantai sejenak. Ini benar-benar melelahkan.” Wonwoo menggedikan bahunya. Sebelum ia mulai melangkah. Belum sempat ia melangkah, Wonwoo bisa merasakan sebuah tangan menyentuh pergelangan kakinya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat sosok yang sekarang berjongkok di belakangnya. Mencoba mengambil sebuah kartu yang hampir saja ia injak.

 

“Ambil.” Wonwoo mengucapkannya dengan nada penuh perintah. Tatapannya masih memandang rendah pemuda bersurai coklat yang ada di depannya. Jeonghan diam tak berkutik saat melihat Wonwoo sekarang. Pemuda itu terlihat sangat ragu untuk mengambilnya.

 

I dont need ‘Jack’” Wonwoo membungkukkan tubuhnya ke arah Jeonghan yang masih terdiam di tempatnya.

 

Well done Jeonghanie. Mulai saat ini, kau tidak akan menjadi target lagi. Ambilah.” Wonwoo menyodorkan kartu itu dengan kakinya ke arah Jeonghan. Ia bisa melihat Jeonghan mengangguk patuh. Tangan Jeonghan terulur untuk mengambil kartu yang berada di bawah sepatu Wonwoo.

 

Wonwoo kemudian menyingkir, dan membiarkan Jeonghan berdiri dari jongkoknya. Ia memberi jalan pada pemuda itu. “Gomawo Jeonghanie, karena telah memberikan kartu raja untukku saat itu.” Wonwoo menepuk bahu Jeonghan yang bergetar. Kemudian ia mulai mendengus kasar, dan berjalan menuruni tangga selanjutnya. Meninggalkan Jeonghan yang sekarang bisa menghela napasnya lega.

 

Wonwoo kembali melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga yang akan mengantarnya ke lantai dasar. Senyum asimetris tersungging di wajahnya saat mengingat bagaimana wajah memelas Jeonghan. Well, sepertinya pendapat itu memang benar. Hanya akan ada dua tipe manusia di dunia ini. Yang menghancurkan, atau di hancurkan. Dan Wonwoo akan selalu menjadi orang yang menghancurkan. Ia tidak akan mungkin di hancurkan dengan mudahnya oleh orang lain. Tentu saja, karena semua orang akan segan pada seorang Jeon Wonwoo.

 

“E-eh..” Wonwoo memekik kaget saat ia bisa merasakan punggungnya di dorong dari belakang. Hingga ia terjatuh sampai beberapa anak tangga, dan semuanya menjadi gelap bagi Wonwoo.

 

Ia tidak dapat melihat apapun saat mencoba untuk membuka matanya sekarang. Ada kain yang menutup penglihatannya hingga Wonwoo tidak dapat melihat apapun. Wonwoo hanya bisa mendengar dan merasakan. Seseorang mencengkram tangannya kebelakang, dan mengikat kedua tangannya ke atas. Hingga Wonwoo tidak dapat bergerak untuk membuka kaitan yang menutup matanya. Wonwoo tidak bisa berkutik sedikitpun. Ia bagaikan mangsa yang terpojok.

 

Jantung Wonwoo berdebar dengan kencang saat sebuah tangan bergerak untuk melepas celana yang ia pakai. Hingga rasa dingin lantai marmer di bawahnya terasa menyentuh permukaan tubuh bagian bawah Wonwoo. Ia juga bisa merasakan underwear yang di pakainya di lepas dengan paksa. Tak lupa kaitan seragam Wonwoo terbuka hingga menampilkan dada seputih porselen milik pemuda itu. Wonwoo tidak sepenuhnya telanjang. Ia masih bisa merasakan seragamnya masih tetap menempel di tubuhnya walau terbuka. Hanya saja tubuh bagian bawah Wonwoo telanjang sempurna.

 

Kali ini, Wonwoo mengerti apa arti ketakutan dan tidak berdaya. Ia ingin berteriak dengan kencang saat sebuah jari bergerak melumuri lubang analnya dengan sebuah cairan yang Wonwoo tidak tahu itu apa, dan kemudian jari itu bergerak masuk ke dalam lubang analnya. Menimbulkan sensasi nyeri yang amat sangat saat jari itu bergerak tidak konstan untuk melebarkan lubangnya. Ingin sekali Wonwoo berteriak dan meronta atau mencakar apapun, saat rasa sakit itu semakin menjadi mengerjai bagian tubuh bawahnya. Tapi teriakan Wonwoo terendam karena sebuah tangan menyumpal mulutnya. Sebelah tangan orang itu menyentuh bagian-bagian tubuhnya. Meremas genital Wonwoo dengan kasar, dan tak lupa memberikan sebuah hisapan pada puting Wonwoo. Wonwoo bisa merasakan bagaimana lidah panas itu bergerak menjilat bagian tubuh atasnya. Rasanya Wonwoo benar-benar menjadi orang paling hina sekarang.

 

“Arghhhttt…” Wonwoo mengerang kesakitan saat merasakan tubuhnya di belah paksa oleh genital yang masuk ke dalam lubang analnya. Tubuhnya seakan di sobek, saat genital itu menghujam tubuhnya dalam sekali hentak. Mengantarkan rasa panas dan dentuman kesakitan di bagian bawahnya terasa. Wonwoo dapat merasakan cairan amis merembes keluar di sertai cairan precum yang bersatu.

 

“Unghh…” Wonwoo menggeram saat teriakannya masih tidak bisa di dengar. Tubuhnya terus di hujam dengan hentakan kasar. Membuat bagian bawah tubuh Wonwoo terasa kebas. Genital itu terus menyodoknya dengan kencang. Menabrak titik prostat dirinya dengan keras. Membuat erangan Wonwoo semakin jelas saat titik kenikmatannya di hujam seperti itu.

 

“Anhhh..” Wonwoo menghela napasnya lega saat cairan sperma itu tumpah merembes keluar dari lubang analnya. Ia juga bisa mendengar bunyi klop saat genital itu di cabut dari lubangnya. Membuat analnya kembali kosong.

 

“Hah.. Hah..” Wonwoo mengatur napasnya dengan terburu-buru. Tubuhnya kini terkulai lemas di lantai. Ia terlihat sangat kacau sekarang. Seragam atasnya terbuka dan hanya menutupi tubuhnya sampai setengah paha. Cairan sperma masih keluar dari lubang anal Wonwoo. Membuat tubuh pemuda itu nampak kotor sekarang. Wonwoo tidak mempunyai tenaga lebih untuk memperhatikan penampilannya. Ia hanya ingin melihat siapa orang yang berani memperkosanya seperti ini. Demi Tuhan yang menguasai langit dan alam semesta! Wonwoo bersumpah akan membunuh orang itu!

 

“Apa kau menikmati istirahat yang menyenangkan ini bersamaku? Sampai kau tidak bisa bergerak seperti ini.” Suara bariton menggema. Kali ini, suara itu membuat Wonwoo takut untuk menggerakan tubuhnya. Ia kenal dengan suara itu.

 

“Aku menyukai ekspresimu yang seperti ini.” Tangan itu bergerak untuk melepaskan kaitan yang menutup mata Wonwoo. Membuat Wonwoo bisa melihat dengan jelas sosok yang sekarang berdiri di hadapannya. Mata Wonwoo menatap nyalang sosok itu. Dia Kim Mingyu. Mingyu yang ia percaya mengkhianatinya!

 

“Apa?” Mingyu terkekeh pelan sambil mengancingkan seragamnya. Senyum meremehkan kini Mingyu layangkan pada Wonwoo. “ Kau ingin melawanku ketika tidak mempunyai tenaga sedikitpun?”

 

“Mingyu!” Tatapan nyalang penuh kebencian Wonwoo layangkan pada Mingyu. Ia mulai bangkit dari acara berbaringnya. Hingga Wonwoo terduduk sambil mengadah ke arah Mingyu. Sial! Wonwoo benar-benar tidak bisa menggerakan tubuhnya sekarang.

 

“ Aku akan membunuhmu! Kupastikan itu ! Aku akan membunuhmu Kim Mingyu!!” Wonwoo berteriak nyaring. Suaranya terdengar penuh dendam. Siapapun yang mendengarnya pasti akan ketakutan melihat tatapan dan teriakan Wonwoo sekarang.

 

“Aku akan membuatmu menyesal karena membuatku seperti ini. Kau tahu? Aku adalah raja!”

 

“Cihh.” Mingyu mendecih. Kemudian ia mulai berjongkok di depan Wonwoo. Tangannya bergerak untuk menarik rambut hitam Wonwoo. Hingga Wonwoo mengadah ke arahnya.

 

“Apa kau tahu pada siapa kau bicara, Little Wonu?” Mingyu mendekatkan wajah ke arah Wonwoo. Hingga jarak mereka semakin menipis. Dari jarak sedekat ini, Wonwoo dapat mencium aroma mint yang menguardari tubuh Mingyu. “Sepertinya kau masih belum mengerti.”

 

Suara bel berbunyi. Membuat Mingyu melepaskan cengkramannya pada rambut Wonwoo. Bel itu adalah sebuah tanda, dan juga pengumuman.

 

‘Ini adalah komite eksekutif Caste Game. Hanya ada satu kartu yang tersisa. Itu artinya pencarian kartu untuk grade dua sudah selesai. Semua siswa yang masih berada di sekolah di harapkan untuk meninggalkan sekolah. Raja baru di grade dua grup satu adalah Kim Mingyu. Pengumuman lebih lanjut akan kami umumkan besok. Terimakasih.’

 

MINGYU ! YOU BETRAYED ME!” Wonwoo berteriak marah. Tangannya berusah menggapai tubuh Mingyu yang sekarang masih berdiri di depannya dengan senyum angkuh.

 

“Hey, Wonwoo-ya. Aku menepati janjiku. Aku membawakan kartu yang cocok untukmu. Seharusnya kau memberiku reward atas itu.” Mingyu kembali menyeringai licik. Kemudian ia mulai menjatuhkan sebuah kartu joker di hadapan Wonwoo.

 

“Well.. Well..” Manik obsidian Mingyu menatap puas sosok Wonwoo yang kini terduduk dengan tatapan kosong yang mengarah ke arahnya. “Aku selalu ingin melihatmu menderita seperti ini, Jeon Wonwoo.”

 

TeBeCe

Pendek lagi? Maafin wkwk. Soalnya ini sebenernya harusnya nyatu sama chap kemaren. Jadi satu chap. Cuman di cut. Gapapa kan? Wkwk. Nah kalo chap depan saya jamin bakal panjang. Percaya deh. Asal kalian review aja. Wkkwk. Jangan jadi siders mulu dong qaqa. Wkwk

 

Btw I want to be straight ch 5 juga udah beres. Tinggal publish. Cuman karena responnya kurang greget gue belom publish lagi. Wkwk. Sidernya banyak gewla. Jadi gue nunggu aja sampe reviewnya lebih banyak dari chap kemaren.

 

Wkwk, gimana chap ini? Adegan rapenya kerasa ga? Wkwk tbh susah buat scene iini -_- ini kan adegan pemerkosaan tanpa tahu siapa yang rape/? wkwk

 

Udah ah. Mind To Review?

Astia Morichan

 

Caste Heaven | Meanie| Yaoi| Remake | Warning !

1

Jeon Wonwoo tersenyum penuh kemenangan saat melihat pemuda bersurai coklat yang kini nampak tak berdaya saat Hong Jisoo melemparkan bola basket ke wajahnya. Hingga hidung Jeonghan mengeluarkan darah, dan wajahnya nampak sedikit memar akibat pukulan bola itu. Tubuh Jeonghan bergetar hebat saat rasa nyeri yang di timbulkan di wajahnya membuat ia ingin menangis.

 

“Haha. Kalian lihat wajah Jeonghan? Lucu sekali. Haha.” Jisoo tertawa dengan lebar saat melihat Jeonghan kesakitan. Pemuda bersurai coklat itu mulai berdiri walau sedikit limbung. Ia berjalan menjauh dari gymnasium. Mungkin Jeonghan akan menghabiskan pelajaran olahraganya di ruang kesehatan. Ia harap tidak akan ada yang mengganggunya, dan melihatnya dengan penuh tatapan kasihan. Jeonghan memang tahu peraturan dalam game ini. Raja yang dapat mengatur kelas, dan target yang mempunyai ranking terendah yang akan di bully seperti dirinya selama satu tahun. Itu adalah hukum dunia caste.

 

Wonwoo terkekeh pelan saat melihat pemandangan itu. ia suka saat melihat semua orang bertekuk lutut di hadapannya. Semua orang akan menghormatinya, dan ia bisa mendapatkan apapun karena game ini. Jeon Wonwoo adalah Raja di dalam Caste Game yang seluruh siswa mainkan. Dan targetnya selama satu tahun ini adalah Jeonghan. Pemuda lugu yang dulu rela menukar kartu dengannya, hingga ia menjadi target untuk di bully. Di sekolah ini, segalanya hanya di tentukan oleh game. Jika kau menjadi rajanya, maka kau bebas melakukan apapun.

 

.

oOo

.

Caste Heaven

RM 18

Romance, Drama, Gore, sadistic, etc

Warning! Yaoi! OOC, Typo yang akan membuat mata iritasi. Mature Content yang mungkin akan cukup Hard Core. Sehingga di sarankan untuk yang belum cukup umur, harap menyingkir dengan cepat.

Dosa di tanggung oleh reader sendiri. Wkwk

 

Caste Game adalah Game yang menentukan segalanya di sekolah ini. Siapa Raja, dan juga Target Bully selama satu tahun. Raja lah yang memegang kendali, dan Jeon Wonwoo adalah Raja di Game ini. Ia bebas melakukan apapun, dan Wonwoo juga tahu jika semua orang ingin merebut tahtanya. Termasuk orang yang sudah ia percaya.

 

a/n : Ini adalah Remake Caste Heaven yang di tulis oleh Chise Ogawa. Saya Warning sekali lagi ini adalah Remake. Demi apa gue suka banget manga ini sampai tercipta lah FF Remake ini. Jadi sepertinya FF Meanie Remake yang gue buat bakalan Caste Heaven aja. Wkwk . Santai bro, sama-sama Hawt kok.

Saya juga akan mewarning kalian jika SEME DI FF INI NANTI BAKALAN BRENGSEK SEMUA. JADI BUAT YANG GA KUAT TOLONG MENYINGKIR. WKWK

 

KIM MINGYU X JEON WONWOO

OTHER PAIR FIND YOURSELF

 

ENJOY!

.

 

“Anhh..” Suara desahan gadis bersurai kemerahan yang berada di atas tubuh Wonwoo terdengar dengan keras. Padahal Wonwoo hanya memainkan puting payudara gadis itu dengan pelan, dan gadis bernama Yunji malah mendesah keenakan di atas tubuhnya. Sungguh. Wonwoo tidak suka mendengar desahan yang di keluarkan Yunji. Bukannya bergairah, gadis itu malah membuat genitalnya kembali tertidur akibat desahan menjijikannya.

 

“Keluar.” Wonwoo berujar dengan dingin. Ia mulai menghempaskan tubuh Yunji sampai terjatuh, dan menarik gadis itu untuk keluar dari ruangan osis yang menjadi hak miliknya sebagai raja.

 

“Hey! A-apa yang—“ Belum sempat Yunji protes, Wonwoo sudah mendorongnya hingga Yunji keluar sepenuhnya. Wajah Yunji nampak merah padam saat melihat sosok pemuda bersurai hitam yang berdiri di samping pintu. Ia segera pergi menjauh dan merapikan seragamnya yang nampak berantakan. Ah, ia malu di lihat seperti itu oleh Kim Mingyu.

 

“Mingyu?” Wonwoo menoleh ke arah Mingyu yang sekarang menatapnya dengan manik obsidian yang memicing,

 

“Kau membawa gadis dengan payudara besar seperti biasa.” Wonwoo hanya membalas pernyataan itu dengan menggedikan bahunya. Kemudian ia mulai mengacak pelan surai kecoklatannya dengan asal.

 

“Tapi bukankah dia pacarmu?”

 

Not again. Suaranya membuatku turn off dengan cepat.” Wonwoo mulai membuka kancing seragamnya satu persatu. Hingga dada polosnya terlihat. Kulit Wonwoo yang terlihat seperti porselen, membuat Mingyu menelan salivanya dalam saat melihat pemandangan tubuh Wonwoo yang terlihat sangat menggiurkan. Wajah Mingyu memerah sempurna saat melihat Wonwoo menatapnya bingung. Sial! Tubuh Wonwoo memang sangat menggoda.

 

“A-aku akan ke kelas.” Mingyu memalingkan wajahnya yang memerah. Kemudian segera menjauh dari Wonwoo yang masih tidak mengerti dengan perubahan wajah Mingyu saat melihat tubuhnya.

 

He’s such a loyal dog.” Wonwoo menggedikkan bahunya. Sebelum mulai berbalik dan melihat sosok Seungcheol yang tersenyum ke arahnya. Kemudian Seungcheol masuk ke dalam ruangan osis, dan di ikuti oleh Wonwoo dari belakang.

 

“Bukankah kau keterlaluan memperlihatkan tubuh polosmu pada pemuda yang masih perjaka?” Wonwoo mulai duduk di sofa panjang berwarna coklat yang ada di depannya. Matanya memicing ke arah Seungcheol yang kini duduk di atas meja.

 

“Dia masih perjaka? Are you kidding me?”

 

“Yap. He’s still virgin.”

 

“Aku tidak tahu tentang hal itu.”

 

“Tentu saja. Karena kau tidak pernah peduli tentang apapun.” Seungcheol bisa melihat Wonwoo mendengus tak suka ke arahnya.

“Oh, ya. Aku punya hal yang menarik untuk kau dengar.” Alis Wonwoo tertaut saat melihat Seungcheol menyunggingkan senyum tipis di wajah tampanya. Sepertinya Wonwoo mulai tertarik dengan arah pembicaraan mereka.

 

“Apa?” Seungcheol mulai berjalan ke arah Wonwoo sambil mengambil beberapa kertas kecil yang ada di saku seragamnya.

 

This is for ya.” Seungcheol meletakan kertas itu di dalam genggaman tangan Wonwoo. Kali ini Wonwoo tahu kertas apa yang Seungcheol katakan menarik. Itu adalah foto dirinya dengan berbagai macam foto menggoda. Banyak sekali foto dirinya yang tidak mengenakan baju atasan. Hingga tubuh bagian atasnya terlihat.

 

“Seseorang memotretku secara rahasia?” Wonwoo mulai melihat lembaran foto dirinya. Mengamati berbagai macam foto yang bahkan Wonwoo sendiri tidak sadar pernah melakukan pose seperti itu.

 

“Kau sepertinya populer, Won. Aku dengar beberapa orang bahkan membeli fotomu hanya untuk mastubrasi saja.” Seungcheol terkekeh pelan. Kemudian tangannya bergerak dengan jarinya yang membentuk sebuah kotak di depan matanya. “Kalau begitu pose untukku.” Seungcheol bergerak mendekat ke arah Wonwoo. Berlagak seperti fotografer handal.

 

“Cih.” Wonwoo ikut terkekeh dan menunjukan seringaiannya. Ia mulai membuka seragammnya sampai puting kemerahannya terlihat. Kakinya mengangkang lebar. Tak lupa tangannya di tempelkan ke dagu dengan tatapan tajamnya yang khas.

 

“100.000 won for sexy shots.” Tatapan tajamnya mengarah pada Seungcheol yang sekarang tepat berada di depannya. Kemudian tangannya bergerak mengambil sebuah cutter dan mengarahkannya pada Seungcheol. Pemuda itu nampak menelan salivanya karena takut.

 

“Terlalu banyak bersenang-senang akan membawa penderitaan untukmu, The Jack.”

 

“Kau tahu? Aku hanya bercanda.” Seungcheol mulai berjalan mundur dan berjalan menjauh dari Wonwoo. Ia tidak ingin berurusan dengan Wonwoo lebih lama. Kemudian ia mulai berbalik dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Wonwoo yang kembali berbaring di sofa dengan mata terpejam.

 

He’s never learn.” Wonwoo bergumam pelan. Sebelum akhirnya memejamkan mata dan mulai tertidur. Sebenarnya Wonwoo sudah lelah dengan semua ini. Semua orang di tempat ini memakai topeng mereka dengan sangat baik.

 

“Lakukan apapun selagi kau bisa, Wonwoo. Aku akan mengambil kursi rajamu. Membuatmu jatuh, dan telanjang hanya di depanku saja.” Bisikan itu terdengar pelan, dan Wonwoo tidak pernah tahu jika itu adalah bisikan maut yang akan mengantarkannya pada gerbang neraka nanti.

 

.

oOo

.

 

“Wonwoo!” Mingyu berteriak dengan keras saat membuka pintu ruangan osis itu. Membuat bunyi derit yang sangat keras, hingga Wonwoo mengerang karena tidurnya terganggu.

 

“Huh?” Matanya terbuka pelan saat retinanya melihat sosok Mingyu yang kini tersenyum lebar di hadapannya. Ia mulai mengerjapkan matanya dengan pelan, agar penglihatnnya kembali terfokus.

 

“Ke kelas sekarang juga. Caste Game akan di mulai.” Dan Mingyu mulai menariknya untuk bangun. Pemuda itu bahkan mengabaikan decakan sebalnya karena menarik dirinya seenak jidat keluar ruangan. Wonwoo bahkan harus merapikan seragamnya di tengah-tengah koridor dengan semua orang yang menatapnya dengan lapar. Sial! Ia akan memberi pelajaran untuk Mingyu nanti.

 

Hanya perlu lima menit saja untuk mereka sampai di kelas. Semua murid sudah berada di tempat duduknya masing-masing. Mereka tersenyum lega saat melihat Wonwoo dan Mingyu sudah sampai. Itu artinya, Game akan segera di mulai. Game yang akan menentukan siapa target bully selanjutnya untuk satu tahun terakhir mereka sebelum kelulusan.

 

Game Start!” Wonwoo berteriak dengan lantang, dan semua siswa mulai bersorak sambil bergegas untuk keluar dari kelas. Mencari kartu yang akan menentukan nasib mereka masing-masing selama satu tahun nanti.

TeBeCe

ADEGAN SELANJUTNYA AKAN SANGAT HARD. JADI SIAPKAN DIRI KALIAN NANTI. WKWK. ANGGAP INI ADALAH PROLOG.

JADI MIND TO REVIEW?

 

Astia Morichan

I Want To Be A Straight, But | Meanie FF | Chap 3|

13

Pemuda bersurai hitam berjalan menaiki tangga dengan gusar. Choi Seungcheol sudah mendapat izin dari Ren untuk segera menemui Jeonghan yang sejak tadi tidak mau keluar kamarnya. Jujur saja, ia sangat khawatir pada Jeonghan. Tidak biasanya sahabat kecilnya itu merajuk seperti ini. Padahal Seungcheol sudah menjelaskan semuanya. Tapi sepertinya Jeonghan tidak akan pernah mengerti. Semua ini ia lakukan untuk kebahagian Jeonghan. Ia rela melepaskan semuanya hanya untuk sahabatnya itu.

 

Ketukan pintu mulai terdengar dengan keras. Seungcheol mengetuknya dengan tidak sabaran, sambil memanggil nama Jeonghan beberapa kali. Berharap pemuda itu segera membuka pintu, dan membiarkannya memohon untuk kesekian kali.

 

“Jeonghan, aku tahu kau mendengarku. Buka pintunya, atau ku dobrak dengan paksa.” Suara Seungcheol terkesan dingin. Tidak ingin di bantah. Dan Jeonghan yang berada di dalam tahu jika sahabatnya itu tengah menahan amarah. Jika bisa, Jeonghan ingin menghilang saja dan tidak bertemu dengan Seungcheol hari ini. Tapi sepertinya, ia memang tidak punya pilihan selain membuka pintu kamarnya.

 

Suara deritan pintu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar itu. Seungcheol dapat melihat sosok Jeonghan yang hanya mengenakan boxer pendek beserta kaos putih polos yang membalut tubuhnya. Rambut pemuda itu terlihat acak-acakan. Matanya memerah dengan sempurna. Jeonghan yang biasanya mementingkan penampilannya kini nampak kacau.

 

“Jika kau ingin meminta izinku untuk pergi ke Tokyo, maka pergi dari sini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau pergi tanpa seizinku!” Suara Jeonghan terdengar bergetar saat berteriak pada Seungcheol. Matanya menatap Seungcheol tajam. Tapi tatapan itu malah membuat Seungcheol terkekeh saat melihatnya.

Seungcheol mulai berjalan maju, dan membuat Jeonghan memundurkan tubuhnya kebelakang secara refleks. Hingga Seungcheol bisa masuk ke dalam kamar sahabatnya itu.

Pintu kamar tertutup dengan sendirinya. Membuat Jeonghan harus menelan salivanya dalam. Ia tidak mungkin tahan jika Seungcheol berada di kamarnya saat mereka bertengkar seperti ini. Jeonghan pasti akan menahan Seungcheol untuk pergi dan memeluknya dengan erat di ranjang miliknya seperti biasa. Sial! Seungcheol selalu tahu kelemahannya.

 

“Aku pergi ke Tokyo untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara hubunganmu dengan pacar-pacarmu, Jeonghan.”

 

“Dan kau takut jika mereka selalu menyalahkanmu?” Jeonghan menaikkan suaranya. Matanya memicing. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Seungcheol. Kenapa pula Seungcheol harus pergi jauh darinya karena itu? Jeonghan memang tahu jika semua pria yang pernah menjadi pacarnya, selalu menyalahkan kedekatan hubungannya dengan Seungcheol. Meminta ia menjauh dari sahabatnya itu. Dan yah, Jeonghan menolak mentah-mentah. Lalu ia akan putus dengan pacarnya, dan kembali kepada Seungcheol yang selalu memeluknya dengan erat.

 

“Kau tidak pernah menjadi pengganggu, Cheolie! For God’s sake! Kau pikir dengan meninggalkanku aku akan baik-baik saja, eoh? Saat aku putus dengan pacarku nanti, siapa yang bisa aku peluk selain kau, huh?” Jeonghan mendelik tak suka ke arah Seungcheol yang sekarang terdiam di depannya. Ia mulai berani mendekat ke arah Seungcheol. Hingga Jeonghan sudah berada tepat di depan pria itu.

 

“Kau tahu? Aku baru saja putus dengan Minhyuk.” Seungcheol masih terdiam. Matanya masih menatap Jeonghan dengan intens, saat melihat pemuda bersurai coklat itu semakin mendekat ke arahnya. Kemudian memeluknya dengan erat. Pelukan yang seolah mengatakan jika Seungcheol tidak boleh pergi dari sisinya.

 

“Kau tidak ingin membalas pelukanku?” Jeonghan mendongak ke arah Seungcheol yang sekarang menghela napasnya lelah. Sepertinya memang sulit membiarkan Jeonghan sendirian. Ia sudah terlanjur terikat dengan sahabatnya itu. Seungcheol tidak akan lepas dari genggaman tangan Jeonghan. Ah. Sepertinya ia harus kembali membatalkan kepergiannya ke Tokyo. Mungkin ia akan memilih untuk melanjutkan kuliah S2nya di Universitas Seoul. Bukan di Todai.

 

Tangan Seuncheol terulur. Memeluk pinggang Jeonghan dengan pelan. Ia mulai menelusupkan kepalanya ke leher Jeonghan. Mengendus wangi pemuda itu yang selalu membuat Seungcheol hilang kendali atas dirinya. Sebelum akhirnya memberi kecupan singkat di leher Jeonghan yang membuat pemuda itu menggeliat geli dalam pelukannya.

 

“Kau egois, Hannie.” Bisikan seduktif di leher Jeonghan membuat pemuda bersurai coklat itu terkikik geli.

 

“Yes, I know.” Jeonghan tersenyum bahagia dalam pelukan Seungcheol. Hal yang paling membuatnya bahagia adalah dimana Seungcheol memeluknya seperti sekarang.

 

“Batalkan kepergianmu ke Jepang.”

 

“Yes, ma Lord.” Dan Jeonghan kembali terkekeh saat mendengar jawaban dari Seungcheol. Bersama Seungcheol ia selalu bisa tertawa seperti ini. Sungguh, jika bisa Jeonghan ingin mengaku bahwa ia memiliki perasaan lain saat bersama Seungcheol seperti sekarang. Tapi ia tidak mungkin merusak persahabatan yang sudah ia jalin dengan Seungcheol, jika ternyata Seungcheol tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya.

 

.

oOo

.

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, alur cepet, etc.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

 

Cast: Kim KyuHyun X Lee Sungmin [Super Junior]

Hwang Minhyun X Hwang Minki aka Ren [Nuest]

Hwang Junghan X Choi Seungcheol [Svt]

 

Cast di FF ini OTP saya semua! Wkwk. Kalau ada yang nanya dan gak tau siapa itu Ren, Minhyun sama Nuest itu apa… Tolong searching dulu, karena mereka mau comeback tgl 29 nanti. Wkwk. Nuest itu sunbae-nim svt. Kalo kalian pledis fams yang kenal svt lewat nuest kayak saya pasti tahu. Karena di mv face lah saya mencintai wonu dan di phpin pledis karena svt ga debut mele berkali-kali. /oke ini curhat/

 

a/n: Saya ingetin lagi. Psikolog itu bisa di sebut dokter kalo udah s2 dan buka praktek sendiri. Waktu itu saya nanya sama dosen unpad, dan beliau kasih tau bedanya. Kecuali kalau pasiennya emang punya gangguan jiwa, mereka bakal di rekomen ke psikiater. Tbh homo itu bukan gangguan jiwa, makanya psikolog yang pantes saya buat di ff ini.\

EnJOY!

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan menapaki trotoar yang ramai di padati orang-orang di tengah keramaian kota Seoul. Tangannya menggenggam erat tas kerja miliknya yang berisi beberapa script novel. Wonwoo harus kerja lembur untuk mengerjakan deadlinenya. Ia sudah cukup untuk bermalas-malasan. Script novel yang harus ia edit masih banyak. Jadi baru sekaranglah Wonwoo bisa pulang dan bernapas lega. Untung saja ini masih jam sembilan malam. Jadi ia bisa mencari makan malam di luar. Wonwoo bahkan melewatkan makan siangnya karena deadlinenya itu. Hingga perutnya berteriak minta di isi seperti sekarang.

 

Langkahnya terhenti di persimpangan sebuah cafe kecil yang memang cukup ramai di padati para remaja. Sudah di putuskan. Ia akan makan di cafe itu malam ini. Walaupun harus sendiri. Well, salahkan Jeonghan yang tidak ingin menemaninya karena sibuk dengan pertengkaran tidak mutu dengan sahabat kecilnya itu.

Wonwoo berjalan masuk ke dalam cafe itu. Cafe itu sudah di padati oleh banyak pengunjung. Tidak ada satu pun kursi kosong untuk Wonwoo tempati. Padahal ia sudah meneliti ke segala arah penjuru. Tapi tetap saja tidak bisa menemukan satu pun meja kosong. Di bagian dalam dan juga luar Cafe semua terisi dengan penuh. Tidak ada pilihan selain mencari cafe lain untuk makan malamnya.

 

“Maaf. Cafe kami sedang penuh malam ini. Apa anda ingin menjadi waiting list terlebih dahulu?” Wonwoo memutar bola matanya ke arah gadis pelayan bersurai hitam di depannya. Waiting list? Hey! Wonwoo itu sudah lapar. Ia tidak mungkin menunggu lagi. Lebih baik ia mencari cafe lain.

“Tidak, terimakasih.” Dengan lemas, Wonwoo mulai berbalik, dan ingin berjalan menjauh dari dalam cafe. Ia kembali menatap sekeliling bagian luar cafe yang tetap saja masih penuh. Tidak ada satu pun meja kosong di sana.

 

“Hah.. “ Menghela napas lelah, sebelum akhirnya melangkah untuk menjauh dari cafe itu. Tapi langkahnya kemudian terhenti saat suara bariton yang sangat di kenalnya memanggil.

 

“Wonwoo Hyung!” Wonwoo menoleh ke belakang. Ia bisa melihat sosok Kim Mingyu yang sedang duduk di sudut cafe bagian luar, sambil melambaikan sebelah tangan padanya. Psikolog muda itu tersenyum tipis. Sekarang, Wonwoo kembali terpesona dengan sosok Mingyu yang hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut dada bidangnya. Demi Tuhan! Wonwoo tidak dapat memungkiri jika ia memang sangat tertarik pada Mingyu. Ia bahkan lupa dengan rasa lapar yang menyerang perutnya saat melihat Mingyu.

 

Wonwoo mencoba menguasai dirinya. Ia mulai berjalan ke arah meja tempat Mingyu duduk. Beberapa pengunjung wanita ikut menatap ke arah Mingyu. Sial! Wonwoo sangat yakin jika para wanita itu terpesona oleh sosok Mingyu. Terbukti dari pandangan berbinar yang mengarah pada Mingyu.

 

“Apa kau tidak mendapat meja? Kau bisa bergabung denganku, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum singkat ke arah Wonwoo. Manik obsidiannya mengisyaratkan dengan jelas agar Wonwoo segera duduk di depannya.

 

“Bolehkah? Kau tidak bersama seseorang?”

 

“Tidak. Aku hanya sendirian ke sini.” Mingyu menaikkan kedua bahunya. Tangannya kembali bergerak mengaduk americano yang tadi ia pesan.

 

“Kalau begitu aku akan menemanimu. Aku bersyukur bertemu denganmu.” Wonwoo menarik kursi dengan pelan. Kemudian duduk dengan kasual. Tatapan matanya menatap obsidian Mingyu dengan intens.

 

“Kenapa Hyung?” Obsidian Mingyu membalas tatapan tajam Wonwoo. Membuat Wonwoo memutar bola matanya. Ia pikir Mingyu akan takluk oleh tatapan matanya saja, dan terpesona oleh tatapannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Wonwoo jadi berpikir tentang niatnya untuk sembuh menjadi gay. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun, jika dokternya adalah Mingyu. Memikirkan hal itu malah membuat kepala Wonwoo menjadi pusing.

 

“Tidak apa-apa.” Wonwoo menghela napasnya pelan. Tangannya mulai mengambil buku menu yang ada di depannya. Membukanya, dan mulai meneliti berbagai macam menu yang akan ia pesan. Setelah beberapa menit, akhirnya Wonwoo mengangkat sebelah tangannya ke arah pelayan pria yang kini berjalan ke arah meja mereka.

 

“Sphagetti dan Lemon tea saja.” Wonwoo langsung mengutarakan pesanannya saat pelayan itu mendekat. Kemudian pelayan bername tag Jinshi itu mengangguk pelan. Sebelum akhirnya kembali menjauhi meja mereka.

 

“Jadi apa yang sedang kau lakukan di malam hari seperti ini Dokter Kim?” Wonwoo memangku dagunya. Tatapan matanya masih terarah pada Mingyu sekarang.

 

“Aku hanya bosan berada di rumah, dan kebetulan aku lapar. Jadi aku makan di cafe ini.” Mingyu mengambil gelas americano miliknya. Kemudian menyesapnya. “Bagaimana denganmu, Hyung?”

 

“Aku hanya lapar, dan menemukan cafe ini begitu saja.”

 

“Ah..” Mingyu mengangguk tanda mengerti.

 

“Apa kau baru saja pulang dari tempat kerjamu?” Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Di mata Mingyu, terlihat jelas sekali jika pria itu memang sudah kelelahan. Kerutan di dahi Wonwoo membuktikan jika pria itu sedang banyak tekanan.

 

“Masih di kejar deadline?” Mingyu bisa melihat Wonwoo membulatkan matanya, sambil kembali mengangguk. Sepertinya Mingyu masih ingat perkataannya minggu lalu.

 

“Ya, dan kau tahu? Deadline editingku hari Sabtu nanti. Benar-benar menyebalkan. Padahal aku sudah mengerjakan proses editingnya dengan benar.” Wonwoo mulai mengeluh keluh kesahnya pada Mingyu begitu saja. Padahal Wonwoo tidak pernah seterbuka ini pada seseorang, dan Mingyu adalah pengecualian. Rasanya, ia bisa percaya dengan mudah pada Mingyu.

 

“Kalau begitu bersemangatlah, Hyung.” Tangan Mingyu terulur untuk menyentuh surai hitam Wonwoo. Mengusapnya dengan pelan, dan juga kekehan khas miliknya terdengar. Kali ini, Wonwoo bisa merasakan rona merah kembali menjalar di pipinya. Jantungnya kembali berdetak tak karuan karena sentuhan kecil seperti ini.

 

“E-ehm.. Maaf membuat anda menunggu, Tuan.” Suara deheman Jinshi, membuat Mingyu menarik tangannya dari kepala Wonwoo. Mingyu terlihat salah tingkah saat melihat pelayan itu menyimpan pesanan Wonwoo, dan tersenyum penuh arti ke arahnya. Sebelum akhirnya membungkuk pamit dan kembali menjauhi mejanya dengan Wonwoo.

 

“Kau merusak tatanan rambutku.” Wonwoo kembali bersuara dengan nada dinginnya. Ia tidak ingin suasana menjadi aneh hanya karena kejadian kecil seperti itu. Wonwoo tentu tidak lupa jika psikolog yang ada di depannya adalah seorang homophobic.

 

“Kau tetap jelek walaupun rambutmu acak-acakan, Hyung.”

 

“Ya!!” Wonwoo melototkan matanya ke arah Mingyu saat mendengar ejekan dokter muda itu. Bukannya takut, Mingyu malah tertawa puas saat melihatnya mempoutkan bibir dan memberinya delikan tak suka.

 

“Hahaha. Kau benar-benar lucu, Hyung.” Mingyu tertawa sambil menekan perutnya akibat tertawa yang berlebihan. Tapi Mingyu tidak berbohong soal itu. Ia suka saat Wonwoo merajuk marah saat di godanya. Jujur saja, ada rasa penasaran aneh tersendiri dari Wonwoo yang membuat Mingyu ingin mengenal lebih pasiennya itu.

 

“Hemmm..” Wonwoo berdehem pelan mengiyakan ucapan Mingyu. Ia harus fokus pada makanannya sekarang. Wonwoo tidak boleh terpesona pada Mingyu yang sekarang tertawa lebar karenanya.

Dengan pelan, ia mulai menggulung helaian spagetti dengan garpu, dan mulai menguyahnya. Mengabaikan tatapan Mingyu yang mulai terdiam sambil menatapnya dengan intens. Sial! sial! Mingyu menggodanya hanya dengan tatapan miliknya itu.

 

“Baiklah. Maafkan aku, Hyung. Aku hanya bercanda. Sebagai permintaan maaf, aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?” Wonwoo mendongak, dan menatap Mingyu dengan tatapan berbinar. Ah, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Wonwoo bisa bersama Mingyu lebih lama.

 

“Benarkah?”

 

“Ya. Aku akan mengantarmu.”

 

“Kalau begitu aku tidak akan menolak.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa melihat Mingyu terkekeh pelan. Suaranya mengalun dengan indah. Membuat Wonwoo seolah tersihir oleh Mingyu untuk kesekian kalinya. Segala hal tentang Mingyu seolah menarik Wonwoo.

 

Mingyu mulai mengajaknya mengobrol tentang pekerjaan. Apa yang Wonwoo lakukan beberapa hari terakhir, dan juga apakah Wonwoo mengikuti sarannya. Dan Wonwoo menjawab semua pertanyaan itu. Ia menceritakan segalanya kepada Mingyu. Dan untuk saran yang psikolog itu berikan, Wonwoo masih belum melakukannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan sepertinya Mingyu mengerti keadaannya sekarang.

 

“Habiskan makananmu, Hyung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan.” Wonwoo mendongak ke atas. Ia bisa melihat awan semakin menjadi hitam pekat. Tidak ada bintang atau bulan di langit. Angin malam juga berhembus dengan kencang. Membuat Wonwoo ingin memeluk tubuhnya sendiri. Ah, ia lupa membawa jaket tebalnya.

 

“Y-ya.” Wonwoo mengangguk. Ia lebih memilih untuk menurut pada Mingyu. Lagi pula ini sudah hampir pukul sebelas malam. Wonwoo juga tidak yakin jika masih ada taxi atau bis yang lewat malam ini. Wonwoo lebih memilih untuk di antar oleh Mingyu. Lagi pula ia bisa melihat wajah Mingyu lebih lama nantinya.

 

Wonwoo kembali memakan spagettinya dengan lahap. Di ikuti Mingyu yang sekarang menyesap minumannya, dengan tatapan yang masih mengarah pada Wonwoo. Jika boleh jujur, Wonwoo sangat malu di tatap seintens itu oleh Mingyu.

 

“M-mwo?” Wonwoo mencoba menelan suapan spagetti terakhirnya. Pipinya mengembung dengan mata yang membulat ke arah Mingyu. Dan tawa khas Mingyu kembali terdengar saat melihat wajah Wonwoo di belakang.

 

“Hahaha.. H-hyung.. Wajahmu.. Hahaha…” Mingyu tertawa dengan keras. Membuat Wonwoo mendelik sebal, karena ia kembali di tertawakan. Padahal tidak ada yang salah sama sekali dengan wajahnya.

 

“Hey, Kim Mingyu! Berhenti tertawa. Kau membuatku malu.” Wonwoo berdesis ke arah Mingyu saat ia bisa merasakan tatapan orang-orang mengarah kepadanya. Tapi sialnya, Mingyu malah semakin mengencangkan suaranya.

 

“Ya! Mingyu-ya!” Wonwoo menaikkan suaranya lebih kencang. Ia bisa melihat Mingyu mencoba menahan tawanya, dan menatapnya geli.

 

“Haha. Maafkan aku. Kau lucu sekali, Hyung.” Mingyu kembali mengacak surai hitam Wonwoo dengan lembut. Kali ini sentuhan itu cukup lama, dan Wonwoo sama sekaii tidak menolaknya. Ia bahkan menatap manik obsidian Mingyu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan fokusnya sama sekali.

 

Ctarrr

 

Suara petir yang menggelegar memecah keheningan malam. Ada kilat yang membelah langit malam. Lalu setelahnya, tetesan hujan turun dengan deras. Sangat deras sampai Mingyu dan Wonwoo kembali tersadar dari lamunan masing-masing.

Cipratan air mengenai pakaian mereka, karena mereka memilih untuk duduk di luar cafe. Wonwoo berdecak sebal karena pakaiannya mulai basah. Di ikuti Mingyu yang kini menariknya untuk masuk ke dalam cafe.

 

“Ini menyebalkan! Kenapa harus hujan segala?” Wonwoo menggerutu sambil memeluk tubuhnya sendiri, agar rasa dingin yang menusuk kulitnya menghilang. Tubuhnya bergetar karena dingin. Jujur saja, Wonwoo tidak suka saat tubuhnya dingin seperti es sekarang.

 

“Well. Sepertinya hujan tidak akan berhenti.” Wonwoo mengangguk mengiyakan. Ia mulai melihat ke sekeliling. Cafe ini sudah kosong. Hanya ada sekitar sepuluh orang saja di sini. Karena memang sebentar lagi, cafe ini akan tutup.

 

“Bagaimana jika kau menginap saja di rumahku? Akan cukup lama jika mengantarmu sampai rumah. Aku yakin malam ini pasti akan macet karena hujan.” Wonwoo menoleh dengan mata membulat sempurna ke arah Mingyu yang sekarang tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Tolong katakan jika Wonwoo benar-benar salah dengar. Mingyu mengajaknya menginap? Ini pasti mimpi.

 

“E-eh?”

 

“Ya. Cafe ini akan tutup sebentar lagi.” Mingyu melirik ke dalam, di mana para pelayan cafe sudah mulai membereskan ruangan dalam. “Kita akan lari sampai ke dalam mobilku. Tenang saja, rumahku tidak jauh dari sini.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa merasakan tangannya di tarik dalam genggaman hangat Mingyu. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan lupa jika air hujan deras sialan ini mengguyur tubuhnya sampai basah kusup. Mingyu mengajaknya berlari di tengah hujan, dengan tangan yang saling berpegangan. Kali ini, Wonwoo sama sekali tidak benci dengan udara dingin dan juga hujan ini. Karena ia bisa merasakan sensasi hangat dan juga perlindungan dari genggaman tangan Mingyu.

.

oOo

.

Wonwoo berjalan dengan pelan. Mengikuti langkah Mingyu yang sekarang berada di depannya. Pria itu sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah megah bergaya eropa, dan mereka turun dengan keadaan basah kuyup karena tadi harus berlari menembus hujan. Sejak tadi, Wonwoo hanya bisa berdecak kagum memandangi rumah Mingyu yang bisa di bilang sangat megah dan mewah. Rumah Mingyu lebih mewah dari pada milik Jeonghan. Mereka bahkan harus masuk sejauh satu kilo meter untuk tepat berada di depan mansion mewah itu. Wonwoo tidak menyangka jika psikolog muda itu sekaya ini.

 

Pintu kembar jati setinggi tiga meter di buka pelan. Lampu di ruang tengah ini padam. Hanya lampu yang berada di pojok lah yang menyala. Membuat penerangan minim yang bisa membuat Wonwoo melihat bagaimana mewahnya rumah ini. Ada banyak sekali furniture mewah di sana. Walaupun ruangan tengah minim oleh cahaya, Wonwoo tetap bisa melihat dengan jelas kemewahan rumah ini.

 

“Anhh…” Suara erangan tiba-tiba terdengar dengan jelas. Membuat tubuh Wonwoo menegang di tempat saat mendengarnya. Ia mendengar suara desahan pria di ruangan ini. Wonwoo harap ia salah dengar. Karena tidak mungkin ada yang bercinta di rumah megah ini. Terutama di dapur. Tapi jika ini adalah rumah Jeonghan, Wonwoo tidak akan heran.

 

“Mmhhh…” Kali ini suara desahan tertahan semakin jelas saat Mingyu menarik tangannya paksa menuju tangga berbentuk spiral. Sekarang Wonwoo yakin jika ia sama sekali tidak salah dengar. Pendengarannya masih normal. Karena dari sudut matanya ia bisa dengan jelas pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.

 

“Tutup telinga mu, Hyung.” Mingyu berujar dingin saat pemuda itu menariknya menaiki tangga dengan cepat. Melewati dapur yang di mana terdapat dua sosok pria di sana. Wonwoo bisa melihat dengan jelas jika dua orang pria itu sedang bercumbu dengan panas di dapur. Pakaian pria bersurai pirang itu bahkan sudah acak-acakan. Piyamanya sudah tidak terkancing, karena pria bersurai hitam itu menciumnnya dengan ganas sambil mencoba merobek piyama yang di pakai oleh pria itu.

 

“Aw..” Wonwoo meringis saat Mingyu meremas tangannya cukup keras. Sekarang mereka sudah berada di lantai atas. Tepat berada di depan sebuah ruangan yang Wonwoo yakini adalah sebuah kamar. Kali ini Mingyu terlihat menyeramkan. Aura dingin nan menakutkan terlihat di sekeliling tubuhnya. Mungkin ini adalah salah satu alasan Mingyu menjadi seorang homophobic. Sekarang Wonwoo sudah mengetahuinya.

 

Mingyu menarik kenop pintu dengan pelan. Setelah terbuka dengan lebar, ia menarik Wonwoo untuk masuk ke dalam kamar bercat putih. Di sana ada ranjang kingsize bersprei biru, dan juga sebuah mini theater yang di lengkapi play station. Tak lupa sebuah mini bar kecil yang berada di sudut ruangan. Tepat di samping rak buku-buku kedokteran milik Mingyu.

 

“Maaf, karena kau harus melihat kejadian memalukkan seperti itu.” Mingyu melepas genggaman tangan Wonwoo.

 

“Kau membuat tanganku sakit, Gyu.” Wonwoo mendengus sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Membuat Mingyu berbalik ke arahnya, dan kembali menggenggam tangan Wonwoo. Mingyu menatapnya penuh rasa bersalah, sambil mengelus pergelangan tangannya. Berharap jika rasa sakit yang ia timbulkan di pergelangan tangan Wonwoo dapat menghilang.

 

“Maaf. Aku jadi melampiaskan kekesalanku padamu. Maafkan aku, Hyung.”

 

“Baiklah. Aku juga harus berterimakasih padamu karena sudah mengizinkanku untuk menginap.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia masih tidak menyangka jika sekarang berada di dalam satu ruangan bersama Mingyu.

 

“Tak apa, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum, sambil mengacak surai hitam Wonwoo yang basah. Sepertinya, mengacak surai pria itu sudah menjadi hal favorit yang akan Mingyu lakukan.

 

“H-hatchii..” Wonwoo mulai bersin, sambil menggosok hidungnya yang memerah. Ah. Sepertinya ia sadar jika kedinginan seperti ini sangat tidak bagus. Wonwoo harus segera mandi air hangat, atau setidaknya tidur dengan selimut double.

 

“Kau kedinginan, Hyung. Aku akan menyiapkan air hangat di bathup untuk mu. Tunggulah sebentar.” Mingyu mulai terlihat panik saat melihat wajah Wonwoo yang sekarang memerah dengan sempurna.

 

“Ahh. Tunggu sebentar, Hyung.” Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Ia mulai berjalan menuju ke arah mini bar miliknya. Membuka lemari es kecil, dan mengeluarkan sebuah botol beer dengan kadar alkohol 20%. Beer bisa membuat tubuh hangat dengan cepat. Setidaknya ini akan menghangatkan tubuh Wonwoo.

 

Mingyu segera menarik sekaleng beer, dan membawanya ke arah Wonwoo. Pria bersurai hitam itu mengulurkannya ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo mendongak, sambil mengernyitkan alisnya. Untuk apa Mingyu memberinya beer? Hey! Wonwoo itu tidak suka alkohol. Ia bahkan tidak pernah menyecap minuman alkohol seperti itu.

 

“Untukmu. Ini akan menghangatkan tubuhmu dengan cepat Hyung. Minumlah. Aku akan menyiapkan air panas untukmu.” Mingyu menjelaskan dengan pelan. Ia menyelipkan sekaleng beer itu di dalam genggaman tangan Wonwoo. Setelah itu, Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Punggung tegap Mingyu yang basah tercetak dengan jelas di kaos putih yang ia pakai. Sial! Pria itu memang menggodanya!

 

“Hah.. “ Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai berjalan menuju ranjang king size, sambil membuka kancing kemejanya satu persatu. Air hujan yang menempel di bajunya itu malah membuatnya semakin menggigil. Wonwoo juga mulai melepas sepatu beserta celana denim yang ia kenakan. Sehingga ia hanya mengenakan underwear saja.

Wonwoo bisa merasakan hawa dingin ac di kamar Mingyu menerpa kulitnya. Dengan cepat, ia segera naik ke atas ranjang, dan masuk ke dalam selimut tebal milik Mingyu. Sehingga aura dingin berganti menghangatkan kulitnya sedikit demi sedikit.

 

“Ahh.. Nyaman sekali..” Wonwoo bergumam. Ia mulai duduk, sambil membuka kaleng beer yang ada di tangannya. Dengan senyum mengembang, ia segera menegak beer itu. Beberapa teguk, sebelum akhirnya Wonwoo merasa puas karena minuman itu seakan membuatnya melayang. Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh. Menggantikan rasa dingin yang tadi ia rasakan.

 

Wonwoo menyukai sensasi ini. Tanpa menunggu lagi, ia segera menegak kaleng beer itu sampai tandas. Sehingga tak ada yang tersisa setetes pun. Sial! Wonwoo ingin lagi! Sensasi ini benar-benar membuat tubuhnya memanas dengan cepat.

 

“Ahh..” Wonwoo mendesah kecil saat botol kaleng dingin itu menyentuh putingnya. Sensasi aneh kembali Wonwoo rasakan. Putingnya menegang dengan cepat hanya karena sentuhan kecil itu. Membuat Wonwoo ingin menyentuh tubuhnya sendiri.

 

Dan tanpa berkipir dua kali. Ia mulai menyentuh putingnya. Bagian sensitive yang selalu Wonwoo mainkan saat onani. Tubuhnya meringkuk. Selimut yang tadi menutupi tubuh polosnya terjatuh ke lantai. Hingga memperlihatkan tubuh polos pria itu. Sebelah tangan Wonwoo menyentuh puting kanannya, dan tangan kirinya menyentuh genital yang sudah menegang di balik underwear yang ia pakai. Meremasnya dengan gerakan perlahan, yang membuat darahnya berdesir dua kali lipat.

 

“H-Hyung, Apa yang sedang kau lakukan?” Dan suara bariton itu membuat Wonwoo menghentikan aktivitasnya. Ia mendapati sosok Mingyu yang sekarang membulatkan manik obsidiannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.

 

TeBeCe

Oh yeah.. kampret kan gue? Wkwk emang. Gue emang kampret. Selalu seperti ini. sabar yah. Wkwk

Sorry lama. Saya sibuk soalnya. Ini seriusan. Bukannya pura-pura sibuk loh. Saya ini lagi freetime makanya ngerjain FF lagi. Kemaren sibuk ngerjain FF buat event di tengah-tengah kegalauan dan sibuknya real life ngurusin sekolah. Sekarang juga lagi sibuk ngerjain FF buat event lagi. Deadlinenya bentar lagi pula. Aduh hayati ga kuat. Wkwk

Sekali lagi maaf karena ngaret. Wkwk makasih buat yang udah review. Saya cinta kalian !! :*

Betewe jangan harap ini kayak ten count yah. Ini ga akan sepenuhnya sama. Saya hanya ngambil beberapa scene yang mungkin mirip. Ini bukan remake soalnya. Wkwk

 

Euhmm.. Buat Treat Me Gentle Ver.. Saya masih galau siapa yang harus saya buat remakenya. Wkwk. Bagian ini juga keinspirasi brief pantsu nemu. Wkwk. Iya gue emang nista bin kampret.

Udah ah bacotnya. Jangan lupa Review loh biar aku semangat!! Jangan jadi siders mulu dong qaqa. Nanti ga aku kasih scene ena-ena loh. Wkwk. Kalau reviewnya lebih banyak dari yang kemaren biasanya aku update cepet karena semangat. Wkwk.

 

So, Mind To Review?

 

Astia Morichan ^^