Protected: This Kiss Is A Lie | Meanie Couple| Yaoi| Smut| Warn! OS!


This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

I Want To Be A Straight, But | Meanie FF | Chap 3|

13

Pemuda bersurai hitam berjalan menaiki tangga dengan gusar. Choi Seungcheol sudah mendapat izin dari Ren untuk segera menemui Jeonghan yang sejak tadi tidak mau keluar kamarnya. Jujur saja, ia sangat khawatir pada Jeonghan. Tidak biasanya sahabat kecilnya itu merajuk seperti ini. Padahal Seungcheol sudah menjelaskan semuanya. Tapi sepertinya Jeonghan tidak akan pernah mengerti. Semua ini ia lakukan untuk kebahagian Jeonghan. Ia rela melepaskan semuanya hanya untuk sahabatnya itu.

 

Ketukan pintu mulai terdengar dengan keras. Seungcheol mengetuknya dengan tidak sabaran, sambil memanggil nama Jeonghan beberapa kali. Berharap pemuda itu segera membuka pintu, dan membiarkannya memohon untuk kesekian kali.

 

“Jeonghan, aku tahu kau mendengarku. Buka pintunya, atau ku dobrak dengan paksa.” Suara Seungcheol terkesan dingin. Tidak ingin di bantah. Dan Jeonghan yang berada di dalam tahu jika sahabatnya itu tengah menahan amarah. Jika bisa, Jeonghan ingin menghilang saja dan tidak bertemu dengan Seungcheol hari ini. Tapi sepertinya, ia memang tidak punya pilihan selain membuka pintu kamarnya.

 

Suara deritan pintu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar itu. Seungcheol dapat melihat sosok Jeonghan yang hanya mengenakan boxer pendek beserta kaos putih polos yang membalut tubuhnya. Rambut pemuda itu terlihat acak-acakan. Matanya memerah dengan sempurna. Jeonghan yang biasanya mementingkan penampilannya kini nampak kacau.

 

“Jika kau ingin meminta izinku untuk pergi ke Tokyo, maka pergi dari sini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau pergi tanpa seizinku!” Suara Jeonghan terdengar bergetar saat berteriak pada Seungcheol. Matanya menatap Seungcheol tajam. Tapi tatapan itu malah membuat Seungcheol terkekeh saat melihatnya.

Seungcheol mulai berjalan maju, dan membuat Jeonghan memundurkan tubuhnya kebelakang secara refleks. Hingga Seungcheol bisa masuk ke dalam kamar sahabatnya itu.

Pintu kamar tertutup dengan sendirinya. Membuat Jeonghan harus menelan salivanya dalam. Ia tidak mungkin tahan jika Seungcheol berada di kamarnya saat mereka bertengkar seperti ini. Jeonghan pasti akan menahan Seungcheol untuk pergi dan memeluknya dengan erat di ranjang miliknya seperti biasa. Sial! Seungcheol selalu tahu kelemahannya.

 

“Aku pergi ke Tokyo untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara hubunganmu dengan pacar-pacarmu, Jeonghan.”

 

“Dan kau takut jika mereka selalu menyalahkanmu?” Jeonghan menaikkan suaranya. Matanya memicing. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Seungcheol. Kenapa pula Seungcheol harus pergi jauh darinya karena itu? Jeonghan memang tahu jika semua pria yang pernah menjadi pacarnya, selalu menyalahkan kedekatan hubungannya dengan Seungcheol. Meminta ia menjauh dari sahabatnya itu. Dan yah, Jeonghan menolak mentah-mentah. Lalu ia akan putus dengan pacarnya, dan kembali kepada Seungcheol yang selalu memeluknya dengan erat.

 

“Kau tidak pernah menjadi pengganggu, Cheolie! For God’s sake! Kau pikir dengan meninggalkanku aku akan baik-baik saja, eoh? Saat aku putus dengan pacarku nanti, siapa yang bisa aku peluk selain kau, huh?” Jeonghan mendelik tak suka ke arah Seungcheol yang sekarang terdiam di depannya. Ia mulai berani mendekat ke arah Seungcheol. Hingga Jeonghan sudah berada tepat di depan pria itu.

 

“Kau tahu? Aku baru saja putus dengan Minhyuk.” Seungcheol masih terdiam. Matanya masih menatap Jeonghan dengan intens, saat melihat pemuda bersurai coklat itu semakin mendekat ke arahnya. Kemudian memeluknya dengan erat. Pelukan yang seolah mengatakan jika Seungcheol tidak boleh pergi dari sisinya.

 

“Kau tidak ingin membalas pelukanku?” Jeonghan mendongak ke arah Seungcheol yang sekarang menghela napasnya lelah. Sepertinya memang sulit membiarkan Jeonghan sendirian. Ia sudah terlanjur terikat dengan sahabatnya itu. Seungcheol tidak akan lepas dari genggaman tangan Jeonghan. Ah. Sepertinya ia harus kembali membatalkan kepergiannya ke Tokyo. Mungkin ia akan memilih untuk melanjutkan kuliah S2nya di Universitas Seoul. Bukan di Todai.

 

Tangan Seuncheol terulur. Memeluk pinggang Jeonghan dengan pelan. Ia mulai menelusupkan kepalanya ke leher Jeonghan. Mengendus wangi pemuda itu yang selalu membuat Seungcheol hilang kendali atas dirinya. Sebelum akhirnya memberi kecupan singkat di leher Jeonghan yang membuat pemuda itu menggeliat geli dalam pelukannya.

 

“Kau egois, Hannie.” Bisikan seduktif di leher Jeonghan membuat pemuda bersurai coklat itu terkikik geli.

 

“Yes, I know.” Jeonghan tersenyum bahagia dalam pelukan Seungcheol. Hal yang paling membuatnya bahagia adalah dimana Seungcheol memeluknya seperti sekarang.

 

“Batalkan kepergianmu ke Jepang.”

 

“Yes, ma Lord.” Dan Jeonghan kembali terkekeh saat mendengar jawaban dari Seungcheol. Bersama Seungcheol ia selalu bisa tertawa seperti ini. Sungguh, jika bisa Jeonghan ingin mengaku bahwa ia memiliki perasaan lain saat bersama Seungcheol seperti sekarang. Tapi ia tidak mungkin merusak persahabatan yang sudah ia jalin dengan Seungcheol, jika ternyata Seungcheol tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya.

 

.

oOo

.

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, alur cepet, etc.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

 

Cast: Kim KyuHyun X Lee Sungmin [Super Junior]

Hwang Minhyun X Hwang Minki aka Ren [Nuest]

Hwang Junghan X Choi Seungcheol [Svt]

 

Cast di FF ini OTP saya semua! Wkwk. Kalau ada yang nanya dan gak tau siapa itu Ren, Minhyun sama Nuest itu apa… Tolong searching dulu, karena mereka mau comeback tgl 29 nanti. Wkwk. Nuest itu sunbae-nim svt. Kalo kalian pledis fams yang kenal svt lewat nuest kayak saya pasti tahu. Karena di mv face lah saya mencintai wonu dan di phpin pledis karena svt ga debut mele berkali-kali. /oke ini curhat/

 

a/n: Saya ingetin lagi. Psikolog itu bisa di sebut dokter kalo udah s2 dan buka praktek sendiri. Waktu itu saya nanya sama dosen unpad, dan beliau kasih tau bedanya. Kecuali kalau pasiennya emang punya gangguan jiwa, mereka bakal di rekomen ke psikiater. Tbh homo itu bukan gangguan jiwa, makanya psikolog yang pantes saya buat di ff ini.\

EnJOY!

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan menapaki trotoar yang ramai di padati orang-orang di tengah keramaian kota Seoul. Tangannya menggenggam erat tas kerja miliknya yang berisi beberapa script novel. Wonwoo harus kerja lembur untuk mengerjakan deadlinenya. Ia sudah cukup untuk bermalas-malasan. Script novel yang harus ia edit masih banyak. Jadi baru sekaranglah Wonwoo bisa pulang dan bernapas lega. Untung saja ini masih jam sembilan malam. Jadi ia bisa mencari makan malam di luar. Wonwoo bahkan melewatkan makan siangnya karena deadlinenya itu. Hingga perutnya berteriak minta di isi seperti sekarang.

 

Langkahnya terhenti di persimpangan sebuah cafe kecil yang memang cukup ramai di padati para remaja. Sudah di putuskan. Ia akan makan di cafe itu malam ini. Walaupun harus sendiri. Well, salahkan Jeonghan yang tidak ingin menemaninya karena sibuk dengan pertengkaran tidak mutu dengan sahabat kecilnya itu.

Wonwoo berjalan masuk ke dalam cafe itu. Cafe itu sudah di padati oleh banyak pengunjung. Tidak ada satu pun kursi kosong untuk Wonwoo tempati. Padahal ia sudah meneliti ke segala arah penjuru. Tapi tetap saja tidak bisa menemukan satu pun meja kosong. Di bagian dalam dan juga luar Cafe semua terisi dengan penuh. Tidak ada pilihan selain mencari cafe lain untuk makan malamnya.

 

“Maaf. Cafe kami sedang penuh malam ini. Apa anda ingin menjadi waiting list terlebih dahulu?” Wonwoo memutar bola matanya ke arah gadis pelayan bersurai hitam di depannya. Waiting list? Hey! Wonwoo itu sudah lapar. Ia tidak mungkin menunggu lagi. Lebih baik ia mencari cafe lain.

“Tidak, terimakasih.” Dengan lemas, Wonwoo mulai berbalik, dan ingin berjalan menjauh dari dalam cafe. Ia kembali menatap sekeliling bagian luar cafe yang tetap saja masih penuh. Tidak ada satu pun meja kosong di sana.

 

“Hah.. “ Menghela napas lelah, sebelum akhirnya melangkah untuk menjauh dari cafe itu. Tapi langkahnya kemudian terhenti saat suara bariton yang sangat di kenalnya memanggil.

 

“Wonwoo Hyung!” Wonwoo menoleh ke belakang. Ia bisa melihat sosok Kim Mingyu yang sedang duduk di sudut cafe bagian luar, sambil melambaikan sebelah tangan padanya. Psikolog muda itu tersenyum tipis. Sekarang, Wonwoo kembali terpesona dengan sosok Mingyu yang hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut dada bidangnya. Demi Tuhan! Wonwoo tidak dapat memungkiri jika ia memang sangat tertarik pada Mingyu. Ia bahkan lupa dengan rasa lapar yang menyerang perutnya saat melihat Mingyu.

 

Wonwoo mencoba menguasai dirinya. Ia mulai berjalan ke arah meja tempat Mingyu duduk. Beberapa pengunjung wanita ikut menatap ke arah Mingyu. Sial! Wonwoo sangat yakin jika para wanita itu terpesona oleh sosok Mingyu. Terbukti dari pandangan berbinar yang mengarah pada Mingyu.

 

“Apa kau tidak mendapat meja? Kau bisa bergabung denganku, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum singkat ke arah Wonwoo. Manik obsidiannya mengisyaratkan dengan jelas agar Wonwoo segera duduk di depannya.

 

“Bolehkah? Kau tidak bersama seseorang?”

 

“Tidak. Aku hanya sendirian ke sini.” Mingyu menaikkan kedua bahunya. Tangannya kembali bergerak mengaduk americano yang tadi ia pesan.

 

“Kalau begitu aku akan menemanimu. Aku bersyukur bertemu denganmu.” Wonwoo menarik kursi dengan pelan. Kemudian duduk dengan kasual. Tatapan matanya menatap obsidian Mingyu dengan intens.

 

“Kenapa Hyung?” Obsidian Mingyu membalas tatapan tajam Wonwoo. Membuat Wonwoo memutar bola matanya. Ia pikir Mingyu akan takluk oleh tatapan matanya saja, dan terpesona oleh tatapannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Wonwoo jadi berpikir tentang niatnya untuk sembuh menjadi gay. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun, jika dokternya adalah Mingyu. Memikirkan hal itu malah membuat kepala Wonwoo menjadi pusing.

 

“Tidak apa-apa.” Wonwoo menghela napasnya pelan. Tangannya mulai mengambil buku menu yang ada di depannya. Membukanya, dan mulai meneliti berbagai macam menu yang akan ia pesan. Setelah beberapa menit, akhirnya Wonwoo mengangkat sebelah tangannya ke arah pelayan pria yang kini berjalan ke arah meja mereka.

 

“Sphagetti dan Lemon tea saja.” Wonwoo langsung mengutarakan pesanannya saat pelayan itu mendekat. Kemudian pelayan bername tag Jinshi itu mengangguk pelan. Sebelum akhirnya kembali menjauhi meja mereka.

 

“Jadi apa yang sedang kau lakukan di malam hari seperti ini Dokter Kim?” Wonwoo memangku dagunya. Tatapan matanya masih terarah pada Mingyu sekarang.

 

“Aku hanya bosan berada di rumah, dan kebetulan aku lapar. Jadi aku makan di cafe ini.” Mingyu mengambil gelas americano miliknya. Kemudian menyesapnya. “Bagaimana denganmu, Hyung?”

 

“Aku hanya lapar, dan menemukan cafe ini begitu saja.”

 

“Ah..” Mingyu mengangguk tanda mengerti.

 

“Apa kau baru saja pulang dari tempat kerjamu?” Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Di mata Mingyu, terlihat jelas sekali jika pria itu memang sudah kelelahan. Kerutan di dahi Wonwoo membuktikan jika pria itu sedang banyak tekanan.

 

“Masih di kejar deadline?” Mingyu bisa melihat Wonwoo membulatkan matanya, sambil kembali mengangguk. Sepertinya Mingyu masih ingat perkataannya minggu lalu.

 

“Ya, dan kau tahu? Deadline editingku hari Sabtu nanti. Benar-benar menyebalkan. Padahal aku sudah mengerjakan proses editingnya dengan benar.” Wonwoo mulai mengeluh keluh kesahnya pada Mingyu begitu saja. Padahal Wonwoo tidak pernah seterbuka ini pada seseorang, dan Mingyu adalah pengecualian. Rasanya, ia bisa percaya dengan mudah pada Mingyu.

 

“Kalau begitu bersemangatlah, Hyung.” Tangan Mingyu terulur untuk menyentuh surai hitam Wonwoo. Mengusapnya dengan pelan, dan juga kekehan khas miliknya terdengar. Kali ini, Wonwoo bisa merasakan rona merah kembali menjalar di pipinya. Jantungnya kembali berdetak tak karuan karena sentuhan kecil seperti ini.

 

“E-ehm.. Maaf membuat anda menunggu, Tuan.” Suara deheman Jinshi, membuat Mingyu menarik tangannya dari kepala Wonwoo. Mingyu terlihat salah tingkah saat melihat pelayan itu menyimpan pesanan Wonwoo, dan tersenyum penuh arti ke arahnya. Sebelum akhirnya membungkuk pamit dan kembali menjauhi mejanya dengan Wonwoo.

 

“Kau merusak tatanan rambutku.” Wonwoo kembali bersuara dengan nada dinginnya. Ia tidak ingin suasana menjadi aneh hanya karena kejadian kecil seperti itu. Wonwoo tentu tidak lupa jika psikolog yang ada di depannya adalah seorang homophobic.

 

“Kau tetap jelek walaupun rambutmu acak-acakan, Hyung.”

 

“Ya!!” Wonwoo melototkan matanya ke arah Mingyu saat mendengar ejekan dokter muda itu. Bukannya takut, Mingyu malah tertawa puas saat melihatnya mempoutkan bibir dan memberinya delikan tak suka.

 

“Hahaha. Kau benar-benar lucu, Hyung.” Mingyu tertawa sambil menekan perutnya akibat tertawa yang berlebihan. Tapi Mingyu tidak berbohong soal itu. Ia suka saat Wonwoo merajuk marah saat di godanya. Jujur saja, ada rasa penasaran aneh tersendiri dari Wonwoo yang membuat Mingyu ingin mengenal lebih pasiennya itu.

 

“Hemmm..” Wonwoo berdehem pelan mengiyakan ucapan Mingyu. Ia harus fokus pada makanannya sekarang. Wonwoo tidak boleh terpesona pada Mingyu yang sekarang tertawa lebar karenanya.

Dengan pelan, ia mulai menggulung helaian spagetti dengan garpu, dan mulai menguyahnya. Mengabaikan tatapan Mingyu yang mulai terdiam sambil menatapnya dengan intens. Sial! sial! Mingyu menggodanya hanya dengan tatapan miliknya itu.

 

“Baiklah. Maafkan aku, Hyung. Aku hanya bercanda. Sebagai permintaan maaf, aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?” Wonwoo mendongak, dan menatap Mingyu dengan tatapan berbinar. Ah, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Wonwoo bisa bersama Mingyu lebih lama.

 

“Benarkah?”

 

“Ya. Aku akan mengantarmu.”

 

“Kalau begitu aku tidak akan menolak.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa melihat Mingyu terkekeh pelan. Suaranya mengalun dengan indah. Membuat Wonwoo seolah tersihir oleh Mingyu untuk kesekian kalinya. Segala hal tentang Mingyu seolah menarik Wonwoo.

 

Mingyu mulai mengajaknya mengobrol tentang pekerjaan. Apa yang Wonwoo lakukan beberapa hari terakhir, dan juga apakah Wonwoo mengikuti sarannya. Dan Wonwoo menjawab semua pertanyaan itu. Ia menceritakan segalanya kepada Mingyu. Dan untuk saran yang psikolog itu berikan, Wonwoo masih belum melakukannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan sepertinya Mingyu mengerti keadaannya sekarang.

 

“Habiskan makananmu, Hyung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan.” Wonwoo mendongak ke atas. Ia bisa melihat awan semakin menjadi hitam pekat. Tidak ada bintang atau bulan di langit. Angin malam juga berhembus dengan kencang. Membuat Wonwoo ingin memeluk tubuhnya sendiri. Ah, ia lupa membawa jaket tebalnya.

 

“Y-ya.” Wonwoo mengangguk. Ia lebih memilih untuk menurut pada Mingyu. Lagi pula ini sudah hampir pukul sebelas malam. Wonwoo juga tidak yakin jika masih ada taxi atau bis yang lewat malam ini. Wonwoo lebih memilih untuk di antar oleh Mingyu. Lagi pula ia bisa melihat wajah Mingyu lebih lama nantinya.

 

Wonwoo kembali memakan spagettinya dengan lahap. Di ikuti Mingyu yang sekarang menyesap minumannya, dengan tatapan yang masih mengarah pada Wonwoo. Jika boleh jujur, Wonwoo sangat malu di tatap seintens itu oleh Mingyu.

 

“M-mwo?” Wonwoo mencoba menelan suapan spagetti terakhirnya. Pipinya mengembung dengan mata yang membulat ke arah Mingyu. Dan tawa khas Mingyu kembali terdengar saat melihat wajah Wonwoo di belakang.

 

“Hahaha.. H-hyung.. Wajahmu.. Hahaha…” Mingyu tertawa dengan keras. Membuat Wonwoo mendelik sebal, karena ia kembali di tertawakan. Padahal tidak ada yang salah sama sekali dengan wajahnya.

 

“Hey, Kim Mingyu! Berhenti tertawa. Kau membuatku malu.” Wonwoo berdesis ke arah Mingyu saat ia bisa merasakan tatapan orang-orang mengarah kepadanya. Tapi sialnya, Mingyu malah semakin mengencangkan suaranya.

 

“Ya! Mingyu-ya!” Wonwoo menaikkan suaranya lebih kencang. Ia bisa melihat Mingyu mencoba menahan tawanya, dan menatapnya geli.

 

“Haha. Maafkan aku. Kau lucu sekali, Hyung.” Mingyu kembali mengacak surai hitam Wonwoo dengan lembut. Kali ini sentuhan itu cukup lama, dan Wonwoo sama sekaii tidak menolaknya. Ia bahkan menatap manik obsidian Mingyu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan fokusnya sama sekali.

 

Ctarrr

 

Suara petir yang menggelegar memecah keheningan malam. Ada kilat yang membelah langit malam. Lalu setelahnya, tetesan hujan turun dengan deras. Sangat deras sampai Mingyu dan Wonwoo kembali tersadar dari lamunan masing-masing.

Cipratan air mengenai pakaian mereka, karena mereka memilih untuk duduk di luar cafe. Wonwoo berdecak sebal karena pakaiannya mulai basah. Di ikuti Mingyu yang kini menariknya untuk masuk ke dalam cafe.

 

“Ini menyebalkan! Kenapa harus hujan segala?” Wonwoo menggerutu sambil memeluk tubuhnya sendiri, agar rasa dingin yang menusuk kulitnya menghilang. Tubuhnya bergetar karena dingin. Jujur saja, Wonwoo tidak suka saat tubuhnya dingin seperti es sekarang.

 

“Well. Sepertinya hujan tidak akan berhenti.” Wonwoo mengangguk mengiyakan. Ia mulai melihat ke sekeliling. Cafe ini sudah kosong. Hanya ada sekitar sepuluh orang saja di sini. Karena memang sebentar lagi, cafe ini akan tutup.

 

“Bagaimana jika kau menginap saja di rumahku? Akan cukup lama jika mengantarmu sampai rumah. Aku yakin malam ini pasti akan macet karena hujan.” Wonwoo menoleh dengan mata membulat sempurna ke arah Mingyu yang sekarang tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Tolong katakan jika Wonwoo benar-benar salah dengar. Mingyu mengajaknya menginap? Ini pasti mimpi.

 

“E-eh?”

 

“Ya. Cafe ini akan tutup sebentar lagi.” Mingyu melirik ke dalam, di mana para pelayan cafe sudah mulai membereskan ruangan dalam. “Kita akan lari sampai ke dalam mobilku. Tenang saja, rumahku tidak jauh dari sini.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa merasakan tangannya di tarik dalam genggaman hangat Mingyu. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan lupa jika air hujan deras sialan ini mengguyur tubuhnya sampai basah kusup. Mingyu mengajaknya berlari di tengah hujan, dengan tangan yang saling berpegangan. Kali ini, Wonwoo sama sekali tidak benci dengan udara dingin dan juga hujan ini. Karena ia bisa merasakan sensasi hangat dan juga perlindungan dari genggaman tangan Mingyu.

.

oOo

.

Wonwoo berjalan dengan pelan. Mengikuti langkah Mingyu yang sekarang berada di depannya. Pria itu sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah megah bergaya eropa, dan mereka turun dengan keadaan basah kuyup karena tadi harus berlari menembus hujan. Sejak tadi, Wonwoo hanya bisa berdecak kagum memandangi rumah Mingyu yang bisa di bilang sangat megah dan mewah. Rumah Mingyu lebih mewah dari pada milik Jeonghan. Mereka bahkan harus masuk sejauh satu kilo meter untuk tepat berada di depan mansion mewah itu. Wonwoo tidak menyangka jika psikolog muda itu sekaya ini.

 

Pintu kembar jati setinggi tiga meter di buka pelan. Lampu di ruang tengah ini padam. Hanya lampu yang berada di pojok lah yang menyala. Membuat penerangan minim yang bisa membuat Wonwoo melihat bagaimana mewahnya rumah ini. Ada banyak sekali furniture mewah di sana. Walaupun ruangan tengah minim oleh cahaya, Wonwoo tetap bisa melihat dengan jelas kemewahan rumah ini.

 

“Anhh…” Suara erangan tiba-tiba terdengar dengan jelas. Membuat tubuh Wonwoo menegang di tempat saat mendengarnya. Ia mendengar suara desahan pria di ruangan ini. Wonwoo harap ia salah dengar. Karena tidak mungkin ada yang bercinta di rumah megah ini. Terutama di dapur. Tapi jika ini adalah rumah Jeonghan, Wonwoo tidak akan heran.

 

“Mmhhh…” Kali ini suara desahan tertahan semakin jelas saat Mingyu menarik tangannya paksa menuju tangga berbentuk spiral. Sekarang Wonwoo yakin jika ia sama sekali tidak salah dengar. Pendengarannya masih normal. Karena dari sudut matanya ia bisa dengan jelas pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.

 

“Tutup telinga mu, Hyung.” Mingyu berujar dingin saat pemuda itu menariknya menaiki tangga dengan cepat. Melewati dapur yang di mana terdapat dua sosok pria di sana. Wonwoo bisa melihat dengan jelas jika dua orang pria itu sedang bercumbu dengan panas di dapur. Pakaian pria bersurai pirang itu bahkan sudah acak-acakan. Piyamanya sudah tidak terkancing, karena pria bersurai hitam itu menciumnnya dengan ganas sambil mencoba merobek piyama yang di pakai oleh pria itu.

 

“Aw..” Wonwoo meringis saat Mingyu meremas tangannya cukup keras. Sekarang mereka sudah berada di lantai atas. Tepat berada di depan sebuah ruangan yang Wonwoo yakini adalah sebuah kamar. Kali ini Mingyu terlihat menyeramkan. Aura dingin nan menakutkan terlihat di sekeliling tubuhnya. Mungkin ini adalah salah satu alasan Mingyu menjadi seorang homophobic. Sekarang Wonwoo sudah mengetahuinya.

 

Mingyu menarik kenop pintu dengan pelan. Setelah terbuka dengan lebar, ia menarik Wonwoo untuk masuk ke dalam kamar bercat putih. Di sana ada ranjang kingsize bersprei biru, dan juga sebuah mini theater yang di lengkapi play station. Tak lupa sebuah mini bar kecil yang berada di sudut ruangan. Tepat di samping rak buku-buku kedokteran milik Mingyu.

 

“Maaf, karena kau harus melihat kejadian memalukkan seperti itu.” Mingyu melepas genggaman tangan Wonwoo.

 

“Kau membuat tanganku sakit, Gyu.” Wonwoo mendengus sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Membuat Mingyu berbalik ke arahnya, dan kembali menggenggam tangan Wonwoo. Mingyu menatapnya penuh rasa bersalah, sambil mengelus pergelangan tangannya. Berharap jika rasa sakit yang ia timbulkan di pergelangan tangan Wonwoo dapat menghilang.

 

“Maaf. Aku jadi melampiaskan kekesalanku padamu. Maafkan aku, Hyung.”

 

“Baiklah. Aku juga harus berterimakasih padamu karena sudah mengizinkanku untuk menginap.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia masih tidak menyangka jika sekarang berada di dalam satu ruangan bersama Mingyu.

 

“Tak apa, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum, sambil mengacak surai hitam Wonwoo yang basah. Sepertinya, mengacak surai pria itu sudah menjadi hal favorit yang akan Mingyu lakukan.

 

“H-hatchii..” Wonwoo mulai bersin, sambil menggosok hidungnya yang memerah. Ah. Sepertinya ia sadar jika kedinginan seperti ini sangat tidak bagus. Wonwoo harus segera mandi air hangat, atau setidaknya tidur dengan selimut double.

 

“Kau kedinginan, Hyung. Aku akan menyiapkan air hangat di bathup untuk mu. Tunggulah sebentar.” Mingyu mulai terlihat panik saat melihat wajah Wonwoo yang sekarang memerah dengan sempurna.

 

“Ahh. Tunggu sebentar, Hyung.” Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Ia mulai berjalan menuju ke arah mini bar miliknya. Membuka lemari es kecil, dan mengeluarkan sebuah botol beer dengan kadar alkohol 20%. Beer bisa membuat tubuh hangat dengan cepat. Setidaknya ini akan menghangatkan tubuh Wonwoo.

 

Mingyu segera menarik sekaleng beer, dan membawanya ke arah Wonwoo. Pria bersurai hitam itu mengulurkannya ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo mendongak, sambil mengernyitkan alisnya. Untuk apa Mingyu memberinya beer? Hey! Wonwoo itu tidak suka alkohol. Ia bahkan tidak pernah menyecap minuman alkohol seperti itu.

 

“Untukmu. Ini akan menghangatkan tubuhmu dengan cepat Hyung. Minumlah. Aku akan menyiapkan air panas untukmu.” Mingyu menjelaskan dengan pelan. Ia menyelipkan sekaleng beer itu di dalam genggaman tangan Wonwoo. Setelah itu, Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Punggung tegap Mingyu yang basah tercetak dengan jelas di kaos putih yang ia pakai. Sial! Pria itu memang menggodanya!

 

“Hah.. “ Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai berjalan menuju ranjang king size, sambil membuka kancing kemejanya satu persatu. Air hujan yang menempel di bajunya itu malah membuatnya semakin menggigil. Wonwoo juga mulai melepas sepatu beserta celana denim yang ia kenakan. Sehingga ia hanya mengenakan underwear saja.

Wonwoo bisa merasakan hawa dingin ac di kamar Mingyu menerpa kulitnya. Dengan cepat, ia segera naik ke atas ranjang, dan masuk ke dalam selimut tebal milik Mingyu. Sehingga aura dingin berganti menghangatkan kulitnya sedikit demi sedikit.

 

“Ahh.. Nyaman sekali..” Wonwoo bergumam. Ia mulai duduk, sambil membuka kaleng beer yang ada di tangannya. Dengan senyum mengembang, ia segera menegak beer itu. Beberapa teguk, sebelum akhirnya Wonwoo merasa puas karena minuman itu seakan membuatnya melayang. Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh. Menggantikan rasa dingin yang tadi ia rasakan.

 

Wonwoo menyukai sensasi ini. Tanpa menunggu lagi, ia segera menegak kaleng beer itu sampai tandas. Sehingga tak ada yang tersisa setetes pun. Sial! Wonwoo ingin lagi! Sensasi ini benar-benar membuat tubuhnya memanas dengan cepat.

 

“Ahh..” Wonwoo mendesah kecil saat botol kaleng dingin itu menyentuh putingnya. Sensasi aneh kembali Wonwoo rasakan. Putingnya menegang dengan cepat hanya karena sentuhan kecil itu. Membuat Wonwoo ingin menyentuh tubuhnya sendiri.

 

Dan tanpa berkipir dua kali. Ia mulai menyentuh putingnya. Bagian sensitive yang selalu Wonwoo mainkan saat onani. Tubuhnya meringkuk. Selimut yang tadi menutupi tubuh polosnya terjatuh ke lantai. Hingga memperlihatkan tubuh polos pria itu. Sebelah tangan Wonwoo menyentuh puting kanannya, dan tangan kirinya menyentuh genital yang sudah menegang di balik underwear yang ia pakai. Meremasnya dengan gerakan perlahan, yang membuat darahnya berdesir dua kali lipat.

 

“H-Hyung, Apa yang sedang kau lakukan?” Dan suara bariton itu membuat Wonwoo menghentikan aktivitasnya. Ia mendapati sosok Mingyu yang sekarang membulatkan manik obsidiannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.

 

TeBeCe

Oh yeah.. kampret kan gue? Wkwk emang. Gue emang kampret. Selalu seperti ini. sabar yah. Wkwk

Sorry lama. Saya sibuk soalnya. Ini seriusan. Bukannya pura-pura sibuk loh. Saya ini lagi freetime makanya ngerjain FF lagi. Kemaren sibuk ngerjain FF buat event di tengah-tengah kegalauan dan sibuknya real life ngurusin sekolah. Sekarang juga lagi sibuk ngerjain FF buat event lagi. Deadlinenya bentar lagi pula. Aduh hayati ga kuat. Wkwk

Sekali lagi maaf karena ngaret. Wkwk makasih buat yang udah review. Saya cinta kalian !! :*

Betewe jangan harap ini kayak ten count yah. Ini ga akan sepenuhnya sama. Saya hanya ngambil beberapa scene yang mungkin mirip. Ini bukan remake soalnya. Wkwk

 

Euhmm.. Buat Treat Me Gentle Ver.. Saya masih galau siapa yang harus saya buat remakenya. Wkwk. Bagian ini juga keinspirasi brief pantsu nemu. Wkwk. Iya gue emang nista bin kampret.

Udah ah bacotnya. Jangan lupa Review loh biar aku semangat!! Jangan jadi siders mulu dong qaqa. Nanti ga aku kasih scene ena-ena loh. Wkwk. Kalau reviewnya lebih banyak dari yang kemaren biasanya aku update cepet karena semangat. Wkwk.

 

So, Mind To Review?

 

Astia Morichan ^^

I Want To Be A Straight, But.. Chapther 2 | Meanie Couple FF| Mingyu X Wonwoo

1

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, alur cepet, etc.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

 

Cast: Kim KyuHyun X Lee Sungmin [Super Junior]

Hwang Minhyun X Hwang Minki aka Ren [Nuest]

Hwang Junghan X …….

 

a/n: Keinspirasi saat inget kousurun boukun, sekaiichi hatsukoi, dan Ten Count. Wkwkw mungkin bakal ada beberapa bagian dari manga itu yang masuk dalam cerita ini. well, ini FF Meanie Couple pertama aku. Kemarin abis liat seventeen tv yang dulu liat banyak moment Meanie. Jadi terciptalah imajinasi bejat nan nista ini. wkwkwk

kenapa saya ambil Mingyu itu psikolog? Soalnya Psikolog juga bisa buat ngobatin konsultasi kayak gay dan semacamnya. Kalau pakai psikiater berarti saya ngebuat Wonwoo bakal di hakimi sama Mingyu. FYI Psikolog sama Psikiater itu beda yah. Kalau psikiater itu lebih kasar lah. Kalau mau sembuhin gay itu ga bisa di psikiater nanti di judge. Ke psikolog lebih baik. Soalnya psikolog juga bisa di sebut dokter kalau udah S2 dan buka prakter sendiri. Temen saya juga di jurusan psikolog makanya saya jelasin ini. soalnya pasti pada nyuruh psikiater aja. Padahal psikolog juga dokter. Kan gay itu bukan penyakit jiwa. Tbh FF ini sebenernya juga keinspirasi saat nonton indonesian lawyer club tentang klub pelangi , kaum straight, dan juga psikolog dan psikiater. Di sana jelas perbedaan yang beda. Kurose sensei juga psikolog kan yah. Wkwk

EnJOY!!

.

oOo

.

Jeon Wonwoo melangkahkan kakinya perlahan. Melewati beberapa koridor yang akan mengantarnya pada ruangan Mingyu- Psikolog yang akan mengobatinya. Wonwoo sudah berjanji pada Mingyu akan datang berkosultasi sore ini. Jujur saja, Wonwoo benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Mingyu. Baru pertama kali Wonwoo benar-benar merasakan ketertarikan seperti ini pada seorang pria. Sejak dulu, Wonwoo bukanlah tipe orang yang akan mengejar seseorang.Tapi ini adalah pengecualian. Wonwoo memang tertarik pada Mingyu. Semua yang ada pada diri Mingyu sangat sempurna, dan Wonwoo menyukainya. Mungkin memang benar Wonwoo ingin sembuh dari orientas sexualnya yang menyimpang. Tapi tidak ada salahnya bukan menikmati saat-saat ia tidak akan menjadi gay lagi dengan mencoba berdekatan dengan Mingyu? Mungkin saja Mingyu memang akan membukakan pikirannya tentang buruknya menjadi homosexual.

Pintu kayu jati berwarna coklat mulai Wonwoo ketuk dengan perlahan. Beberapa kali. Sampai terdengar suara bariton di dalam ruangan itu.

 

“Masuklah.” Suara bariton yang terdengar maskulin itu terdengar bagai angin semilir musim semi di telinga Wonwoo. Wonwoo dapat merasakan jantung berdetak cepat hanya karena suara itu. Sungguh. Wonwoo sangat kesal kenapa jantungnya bisa berdetak kencang seperti ini!! Seperti bukan dirinya saja.

 

“Permisi.” Wonwoo membuka pintu coklat itu perlahan. Retinanya bisa menangkap sosok Mingyu yang duduk di depan mejanya sambil menatap ke arah Wonwoo dengan senyum menawan yang Mingyu perlihatkan saat pertama kali mereka bertemu. Ah. Senyum Mingyu memang selalu membuat Wonwoo hilang akal.

 

“Silahkan duduk, Hyung.” Wonwoo mengangguk perlahan. Kemudian menarik kursi hitam di depannya, dan duduk dengan gaya kasual seperti biasa. Wonwoo mencoba menghilangkan segala kegugupannya dengan menggenggam erat celana denim hitam yang ia kenakan. Sampai sekarang, jantungnya masih belum bisa di ajak kerja sama. Wonwoo benar-benar takut jika Mingyu dapat mendengar debaran jantungnya yang menggila.

 

“Well, kita mulai saja Hyung.” Suara Mingyu memecah keheningan. Pria bersurai hitam itu tersenyum simpul ke arah Wonwoo. Kemudian ia memulai mengambil sebuah pulpen hitam, dan memaninkan pulpen itu di jari-jarinya yang panjang. Membuat Wonwoo menelan salivanya dalam saat memperhatikan jemari panjang Mingyu yang menari di depan. Ah, Bagaimana jika jemari panjang itu menyentuh tubuh telanjang? Bagaimana jika jari Mingyu memainkan genitalnya yang menegang akibat sentuhan dari dokter itu? Sial! Memikirkannya saja malah membuat tubuh Wonwoo memanas dengan cepat. Mungkin setelah pulang, Wonwoo akan melakukan onani dengan Mingyu sebagai objek fantasinya.

 

“Apa kau berkenan jika menceritakan semua hal tentang dirimu, Hyung?” Pertanyaan yang di lontarkan Mingyu membuat Wonwoo mengernyitkan alisnya perlahan. Sebelum menggelengkan kepalanya pelan. Jujur saja, pikiran Wonwoo sedang tidak fokus. Ia masih terperangkap dalam khayalannya tentang Mingyu.

 

“Apa yang ingin kau tanyakan? Tanyakan saja, Mingyu-ah. Kau dokternya, dan aku adalah pasien yang ingin sembuh sekarang.” Wonwoo bisa melihat sudut garis bibir Mingyu membentuk sebuah senyuman. Sebelum terdengar suara kekehan pelan, yang membuat Wonwoo kembali terpaku menikmati pemandangan indah di depannya. Kim Mingyu sedang tertawa lepas sambil menatap ke arahnya. Demi Tuhan! Mingyu sangat menggoda!

 

“Ehm.. Baiklah, Hyung.” Mingyu berdehem sebentar, sebelum kembali menetralkan suaranya.

 

“Jadi bagaimana kau bisa menjadi gay seperti sekarang? Apa sudah lama?” Kening Wonwoo mengernyit perlahan. Sebelum Wonwoo memejamkan kedua matanya, dan mulai berpikir bagaimana ia bisa menjadi seorang gay. Seingat Wonwoo, sejak ia masih berada di elementary, ia sudah menyukai seorang pria yang selalu menemaninya. Tapi Wonwoo sama sekali tidak membawa rumit hal seperti itu. Yang jelas, Wonwoo sama sekali tidak tertarik dengan seorang wanita sejak dulu.

 

“Mungkin sejak aku di sekolah menengah.” Wonwoo menggaruk sebelah pipinya. Suaranya terdengar tidak yakin. Membuat Mingyu mengernyitkan alisnya heran, dan hal itu malah membuat Wonwoo semakin terpaku melihat ketampanan dokter di depannya. Astaga! Kenapa Tuhan tega sekali padanya memberikan seorang dokter tampan untuk menyembuhkan dirinya? Padahal niat Wonwoo sudah baik ingin kembali menjadi Straight. Tapi sepertinya Tuhan masih ingin mempersulit keadaanya sekarang.

 

“Mungkin?”

 

“Ya. Sejak di sekolah menengah, aku mulai berpacaran dengan kakak kelasku. Tapi sepertinya, aku menjadi gay sejak kecil. Karena sejak dulu, aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita.” Wonwoo bisa melihat Mingyu mengangguk pelan, sebelum ia mulai menggerakan jarinya untuk menulis pada sebuah kertas yang sudah ia siapkan.

 

“Apa yang kau lihat dari seorang pria? Maaf sebelumnya, Hyung. Bukankah kau tahu jika ia sama denganmu?” Wonwoo mengangguk pelan. Ia mengerti apa yang ada di pikiran Mingyu sekarang.

 

“Aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak peduli, yang jelas aku tertarik pada seorang pria. Apa itu cukup untuk menjawab pertanyaanmu?” Mingyu terdiam sejenak, sebelum ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

 

“Maaf jika ini privasi, Hyung.” Wajah Mingyu terlihat memerah sebelum ia mulai menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.

 

“Apa kau pernah melakukan sex dengan pasangan priamu sebelumnya?” Pertanyaan yang di lontarkan Mingyu membuat Wonwoo membulatkan matanya, sebelum ia kembali membuat emosi di wajahnya tidak terlalu terlihat kaget. Jujur saja, ia benar-benar malu jika di tanya tentang hal itu. Sebenarnya, Wonwoo sama sekali belum melakukan hal yang lebih dari sebuah ciuman atau make out yang hanya sampai oral sex saja dengan para mantan pacarnya. Maka dari itu, Wonwoo selalu di putuskan oleh mantannya karena tidak ingin di ajak bercinta. Ah. Its so fucking disgusting. Wonwoo benar-benar benci jika harus mengingatnya sekarang.

 

“E-err.. Tidak. aku hanya melakukan kissing dan oral sex saja. Tidak ada yang lebih dari itu.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia malu jika harus menceritakan pengalaman sex-nya pada seorang yang baru ia kenal kemarin.

 

“Baiklah. Aku mengerti, Hyung.” Suara Mingyu yang terdengar menenangkan, membuat Wonwoo kembali mendongak ke arah dokter itu. Ia bisa melihat Wonwoo tersenyum ke arahnya. Sebelum dokter itu menyodorkan sebuah kertas putih yang sudah ia hiasi dengan tulisan tangannya ke arah Wonwoo.

Wonwoo dengan senang hati menerima kertas itu. Kemudian matanya mulai meneliti apa saja yang di tulis mingyu di dalam kertas itu. Terdapat beberapa bagian dari 1-10 yang dapat Wonwoo lihat.

  1. Mencoba berkencanlah dengan seorang wanita
  2. Banyak-banyak berinteraksi dengan seorang wanita yang menarik perhatianmu
  3. Jauhi berinteraksi dengan pria yang membuatmu tertarik
  4. Jangan terlalu dekat dengan temanmu yang mempunyai orientasi menyimpang
  5. Berpikir positif jika kau ingin kembali menjadi normal.

 

 

 

“Aku menyarakan sepuluh hal itu padamu, Hyung. Untuk membuatmu kembali menjadi pria normal lagi. Kelima hal lainnya bisa kau isi sendiri, atau kau bisa meminta saran lain padaku. Setiap hari kamis dan sabtu kau bisa datang padaku untuk konsultasi.” Wonwoo mengangguk tanda mengerti apa yang di ucapkan psikolog muda yang ada di hadapannya.

 

“Arraseo.” Wonwoo memasukan kertas yang di berikan Mingyu ke dalam backpack hitamnya.

 

“Ah.. ini kartu namaku. Di sana ada nomor handphoneku, Hyung. kau bisa menghubungiku jika membutuhkan bantuan.” Mingyu kembali menyodorkan sebuah kartu nama ke arah Wonwoo. Wonwoo pun menerimanya dengan senang hati. Karena sekarang, ia bisa mengubungi Mingyu lewat handphone. Lagi pula, Wonwoo bisa mencari alasan untuk menelfon Mingyu nantinya.

 

“Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu Mingyu-ya.” Wonwoo mulai berdiri dari duduknya. Kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Mingyu yang langsung berdiri dan menggenggam tangannya dengan erat. Wonwoo bisa merasakan getaran statis itu saat tangan besar Mingyu menggenggamnya. Ah, Wonwoo benar-benar menyukai sensasi ini. ia tidak ingin melepaskan tangan Mingyu sekarang.

 

“Terimakasih sudah berkunjung, Hyung. hati-hati di jalan. kau tahu? Jika malam hari selalu banyak orang jahat berkeliaran.” Mingyu melepaskan tangannya pada Wonwoo, dengan senyum yang masih bertengger di wajahnya. Sial! Jika Mingyu seperti ini, Wonwoo benar-benar tidak ingin melepaskannya.

 

“Aku tahu.” Wonwoo menyunggingkan senyum simetrisnya pada Wonwoo. Membuat dokter muda itu terpaku beberapa saat, sebelum kembali membalas senyuman dari Wonwoo.

 

“Sampai jumpa lusa, Mingyu-ya.” Wonwoo mulai berdiri dari duduknya. Merapikan kemejanya yang terlihat kusut, sebelum kembali membawa backpack hitamnya. Wonwoo bisa melihat Mingyu masih memperhatikan dirinya dengan tatapan intens yang tidak dapat Wonwoo mengerti. Ah, tatapan Mingyu seakan menelanjanginya di tempat. Wonwoo tidak akan tahan jika di tatap terus seperti itu. Sepertinya pulang adalah jalan yang paling baik sekarang. Wonwoo juga akan menginap di rumah Junghan, dan bercerita tentang hal ini.

 

“Aku akan menghubungimu jika akan melakukan konsultasi lusa nanti. Kau tahu? Sebenarnya aku sedang di kejar deadline oleh managerku yang menyebalkan itu.” Wonwoo mendecih pelan, sebelum kembali tersenyum ke arah Mingyu dan mulai berbalik ke arah pintu yang akan mengantarnya keluar dari ruangan ini.

 

“Sampai jumpa.” Wonwoo membuka kenop pintu itu, dan berjalan keluar tanpa melihat ke arah Mingyu yang masih menatap punggungnya menjauh.

.

oOo

.

 

Wonwoo menyunggingkan sebuah senyuman di wajah tampannya, saat retinanya menangkap sosok Junghan yang membuka pintu rumahnya. Ia bisa melihat Junghan melontarkan tatapan menggoda yang Wonwoo balas dengan sebuah delikan. Membuat pria bersurai coklat itu mengerucutkan bibirnya.

“Well, masuklah. And then, you must tell me everything.” Junghan terkekeh pelan. Sebelum mempersilahkan Wonwoo masuk ke dalam rumah sederhana miliknya. Sebenarnya, rumah Junghan cukup mewah. Rumah Junghan terkesan klasik, karena banyak sekali lukisan yang tertempel di dinding rumah megah itu. Beberapa pilar besar juga semakin memperkokoh keindahan dari rumah Junghan. Hwang Minhyun- Ayah Junghan memang terkenal dengan bisnisnya yang sukses di Asia.

 

“Siapa itu, Hannie?” Suara merdu yang sangat Wonwoo kenali terdengar memenuhi ruang tengah. Sebelum Wonwoo dapat melihat sosok Hwang Minki yang sekarang mengenakan kemeja putih setulut. Memperlihatkan paha mulus pria itu. Pria bersurai pirang itu mempunyai tubuh dan wajah layaknya seorang wanita. Sama seperti Junghan. Mereka terlihat seperti anak kembar. Bukan seperti Ibu dan anak. Ah, Wonwoo lupa jika Minki atau yang biasa Wonwoo sebut Ren adalah seorang pria. Istri dari Hwang Minhyun, yang kemudian melahirkan seorang Hwang junghan sekarang. Pasangan gay yang bisa melahirkan seorang anak. Wonwoo benar-benar terkesan dengan kerja keras dari Minhyun dan Ren saat berjuang untuk membuat Junghan tumbuh di dalam perut pria berwajah cantik itu.

 

“Wonwoo-ah.. Ternyata itu kau. Ah, aku sangat merindukanmu, Wonnie.” Ren berlari ke arah Wonwoo, dan memeluk tubuh Wonwoo dengan erat. Ren selalu seperti ini. Berkepribadian hangat, yang membuat Wonwoo merasa sangat nyaman. Berbeda sekali dengan sifat ibunya yang berwatak keras. Wonwoo benar-benar bersyukur jika Ibunya masih tinggal di Busan, dan mengizinkan Wonwoo untuk tinggal di Seoul sendiri.

 

“Aku juga, Eomma.” Wonwoo membalas pelukan dari Ren sama eratnya. Ia sangat merindukan sosok hangat Ren yang sudah ia anggap sebagai pengganti ibunya sejak dulu. Jujur saja, sebenarnya Wonwoo sangat ingin jika Ren lah yang menjadi ibunya.

 

“Apa kau ingin makan dulu? Aku sudah memasak banyak hari ini. Tapi ini belum jam tujuh. Minhyunie belum pulang dari kantor.” Ren mengerucutkan bibirnya. Pria itu terlihat sangat kesal sekarang. “Padahal aku sudah memakai kemeja putih miliknya, untuk menggodanya malam ini.”

 

“Ck, Eomma.. It’s so disgusting. Dont tell me about your sex scene.” Junghan memutar bola matanya. Kemudian mulai menarik tangan Wonwoo menjauh dari Ren yang kembali mengerucutkan bibirnya kesal.

 

“Hannie.. Aku tidak akan memberikan uang tambahan jika kau seperti itu!”

 

I have a job, Eomma. I have a money, now.” Wonwoo terkekeh saat melihat perdebatan ibu dan anak yang ada di depannya. Ah. Wonwoo benar-benar iri sekarang.

 

“Kau tidak akan mendapatkan makan malam hari ini!” Ren menghentakan kakinya kesal, sebelum berbalik menjauh, dan kembali ke arah dapur untuk menata kembali masakan yang sudah ia siapkan.

 

“Ibumu tidak pernah berubah.” Wonwoo kembali berucap saat ia dan Junghan sudah sampai di lantai dua, dan masuk ke dalam kamar Junghan yang bercat hijau muda. Ada ranjang king size, mini theater dan juga meja kerja yang di isi dengan beberapa naskah script yang Wonwoo yakin sudah pria bersurai coklat itu kerjakan beberapa jam lalu.

 

“Yup. He’s still act like butchy for ma father.” Wonwoo kembali terkekeh saat mendengar jawaban dari Junghan. Wonwoo memang tahu, jika Ren selalu menggoda di hadapan Minhyun. Pernah suatu hari saaat Wonwoo datang berkunjung, ia melihat Ren dan Minhyun sedang bercinta di atas sofa ruang tengah saat sore hari. Untung saja keluarga Hwang tidak mempunyai maid. Jika ada, Wonwoo yakin para maid itu akan terkena serangan jantung mendadak saat mendapati majikannya sex di sembarang tempat. Dan mungkin itu juga adalah alasan mengapa keluarga Hwang sama sekali tidak mempunya maid di rumah megah mereka. Karena Minhyun dan Ren hobby bercinta di setiap sudut bagian rumah mereka.

 

“Yeah. Your mother is same like you, Hyung.” Wonwoo tertawa lepas. Membuat Junghan mendelik, sambil melemparkan sebuah bantal ke arah Wonwoo. Dan itu berhasil membuat Wonwoo berdecak kesal saat bantal itu mengenai perutnya. Kemudian Wonwoo mulai berbaring terlentang di ranjang bersprei biru. Di ikuti dengan Junghan yang sekarang duduk bersila di sampingnya.

 

So, Tell me about, Mingyu.Now.” Wonwoo menghela nafas pelan. Sebelum mengangguk perlahan, dan mulai menceritakan kejadian saat ia dan Mingyu bertemu. Wonwoo bercerita dengan sangat detail. Membuat Junghan mengangguk mengerti saat Wonwoo mengakhiri ceritanya dengan senyum yang bertengger di wajah minim ekspresinya itu.

 

“Kau jatuh cinta padanya, Wonnie. I can feel it. Kau tidak pernah sehidup ini saat menceritakan seseorang. Bahkan saat kau menceritakan tentang Aron, kau tidak pernah tersenyum bahagia seperti itu. You really fall in love with him, Wonnie!” Junghan berdecak kagum, sambil bertepuk tangan bahagia. Karena baru kali ini Junghan melihat ekspresi berbeda dari wajah Wonwoo yang terkesan dingin itu.

 

“Mungkin. Tapi aku ingin sembuh, Hyung. Bisakah itu terjadi?” Wonwoo mengerjapkan matanya perlahan. Sebelum ia mendengar tawa menggelegar dari Junghan yang membuat Wonwoo naik darah.

 

“Its never gonna be happend, Wonnie. You are Gay, and its absolut. Haha.”

 

.

oOo

.

 

Kim Mingyu memarkirkan mobil luxury berwarna hitam miliknya, saat ia sudah sampai di sebuah rumah bergaya eropa. Jujur saja, Mingyu tidak menyukai rumahnya. Ada banyak alasan kenapa Mingyu sangat tidak menyukai rumah megah bak istana miliknya. Sejak pria laknat itu datang ke dalam rumahnya, Mingyu sudah menganggap rumah itu bagaikan neraka. Jika bisa memilih, Mingyu ingin sekali tinggal di sebuah apartemen kecil dari pada tinggal di rumah itu. Tapi sayangnya, ayahnya sama sekali tidak mengizinkan keinginannya berjalan dengan lancar. Mingyu harus berada di sana bersama ayah dan juga pria sialan yang mengganggu kehidupan keluarga harmonisnya. Pria sialan yang menggoda ayahnya jugalah yang menyebabkan ibunya meninggal. Sungguh, Mingyu sangat membenci pria bernama Lee Sungmin itu!

 

“Aku pulang.” Mingyu berucap pelan saat ia membuka pintu setinggi tiga meter di depannya. Memperlihatkan ruang tengah keluarga dengan beberapa sofa beludru berwarna coklat di sana. Ada juga sebuah mini theater di sana.

Manik obsidian Mingyu bisa melihat dua sosok pria yang sedang duduk berduaan. Si surai pirang kini menoleh ke arahnya dengan senyum yang bertengger di wajah pria itu. Ayahnya juga kini menoleh ke arah Mingyu.

 

“Mingyu-ya, kau sudah pulang? Tumben sekali kau pulang cepat.” Pria bersurai pirang- Lee Sungmin tersenyum ke arah Mingyu. Senyum yang sangat Mingyu benci jika pria itu sedang mencari muka di depan ayahnya. Mingyu selalu berpikir kenapa ayahnya bisa menyukai Sungmin? Sungmin itu laki-laki. Ayahnya juga laki-laki. Kenapa ayahnya bisa mempunyai orientasi yang menyimpang seperti itu? Ini adalah salah satu alasan kenapa Mingyu sangat membenci para gay. Gay seperti Sungmin lah yang menggoda ayahnya- Kyuhyun, sehingga keluarganya hancur berantakan.

 

“Cih.” Mingyu mendecih tak suka ke arah Sungmin. Mingyu tidak peduli dengan raut wajah Kyuhyun yang sekarang terlihat marah. Rahang pria paruh baya itu mengeras, sambil mengeluarkan geraman tak suka akan sikap Mingyu. Ia yakin jika sebentar lagi Kyuhyun akan berteriak dan memarahi dirinya karena ini.

 

“Bisakah kau bersikap sopan pada, Sungmin?” Suara bariton Kyuhyun terdengar menakutkan memenuhi ruangan itu. Mingyu juga menghentikan langkahnya saat ia akan menaiki tangga berbentuk spiral yang akan terhubung dengan kamarnya.

 

“Dan bisakah kau mengusir gay itu? Kornea mataku bisa rusak jika melihatnya, Appa.” Mingyu mendelik ke arah Kyuhyun. Manik obisidan miliknya membalas tatapan tajam dari Kyuhyun. Mingyu bisa melihat Ayahnya menggeram dan mulai bergerak ke arahnya. Tapi sayangnya, tangan Sungmin menahannya. Agar Kyuhyun tetap di tempatnya.

 

“Sudahlah, Kyu, Nan Gwaenchana.” Sungmin tersenyum perlahan, sambil mengusap pelan lengan pria itu. Membuat Kyuhyun menghela nafas lelah, saat manik obsidiannya melihat ke arah Mingyu yang sudah menghilang masuk ke dalam kamarnya. Jujur saja, Kyuhyun tahu kenapa Mingyu bisa seperti itu. Bukankah tidak masuk akal saat dirinya mengatakan jika Sungmin adalah ibu kandung yang melahirkan Mingyu ke dunia. Kyuhyun sangat mengenal anaknya itu. Mingyu selalu berpikir logis dan rasional. Ia tidak mungkin bisa mempercayai apa yang sudah ia jelaskan padanya.

 

“Maafkan aku, Ming.” Kyuhyun mengusap lembut pipi Sungmin. Membuat pria bersurai pirang itu terkekeh perlahan.

 

“Aku tidak apa-apa, Kyu. Bukankah Mingyu memang duplikat darimu yang sangat keras kepala? Aku mengerti kenapa ia bisa seperti itu.” Sungmin kembali tersenyum. Tangannya bergerak menarik tangan Kyuhyun dan mulai menggenggamnya dengan erat. Membuat Kyuhyun mengerti, jika pria yang di cintainya ini sangat membutuhkan pegangan. Kyuhyun mengerti perasaan Sungmin. Kyuhyun tahu tatapan sendu yang selalu Sungmin berikan pada Mingyu. Sungmin sangat ingin jika Mingyu mengakuinya.

 

“Terimakasih, Ming.” Dan setelahnya, Kyuhyun membawa Sungmin ke dalam dekapan hangatnya. Membiarkan Sungmin menangis dalam diam di pelukannya.

 

TeBeCe.

Selamat tinggal untuk chapther ini. dan sampai jumpa di chapther berikutnya. Wkwk sibuk saya. So, ga bisa update cepet. Banyak hutang ff, dan ff ini yang beres duluan. Jadi yah saya upload. Haha.

Jangan lupa review. And then saya juga bakal bales review kalian disini aja yah. Tapi kalau mau jelas, bisa kok lewat pm. Nyantai ae sama saya mah.

 

 

 

OH IYA SEVENTEEN COMEBACK WOY! MAJOR TRALALA ITU MEANIE COUPLE. HAWT! MOMENTNYA HAWT!!

 

See ya ^^

Mind To Review?

Astia Morichan