Open PO Light Novel IWTBAS, Fanbook Meanie, etc

0

Halo. Saya mau Open PO Fanbook Light Novel No Senses aka IWTBAS Meanie Couple. Sekalian Open Po Fanbook Fudanshi Janai, [Fated Pairs sama Nephilim (Repeat PO)]

Karena ini FF pertama saya, saya bakal bukuin dan mau nawarin ke reader yang ada di sini. Siapa tau ada yang mau pegang versi bukunya.

Tenang aja, buat reader wattpad, No Senses bakal di publish sampai tamat kok. Cuman ya kecepatan update tetap disesuaikan sama respon readernya juga.

Bedanya No Senses versi buku sama Wattpad apa sih?

1. No Senses versi buku itu uncut. Unconsensored. Semuanya dijabarkan. Beda sama versi wattpad yang banyak dicut pas bagian rated.

2. No Senses versi buku ada visualisasi gambar yang khusus aku commis dari seseorang. Walau art dalam bukunya gak banyak. Karena memang Light novel artnya paling banyak empat gambar. Jadi di versi No senses, cuma ada 2 art yang di selip.

3. No Senses versi buku ada dua special chapter. Jadi total ada 22 chapter. Karena di wattpad cuman di publish sampai chap 20. Tanpa epilog.

4. No Senses versi buku itu adalah editing paling terupdate. Karena yang di versi wattpad, tulisannya masih acak-acakan.

5. Pastinya ga akan kepo soal lanjutan cerita. Soalnya di wattpad mungkin lama update karena siders

Open PO dari tanggal 11 December 2017 – 13 Januari 2018

Pembayaran paling lambat tanggal 16 Januari 2018

Estimasi Buku Selesai sekitar 2 minggu. Jadi buku dikirim tanggal 31 Januari 2018

Pengiriman dari Bandung

Spesifikasi buku :

Judul : No Senses

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 550+

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Harga : 129.500 (Belum ongkir)

Sekalian sama Fudanshi Janai

Sekalian sama Fudanshi Janai

Spesifikasi buku :

Judul : Fudanshi Janai

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 162 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Harga : Rp. 74.500(Belum ongkir)

Summary : Bagaimana jadinya jika Jeon Wonwoo – si Otaku yang mengoleksi puluhan wifu NTR, tanpa sengaja menemukan puluhan komik dan doujinshi Yaoi Rated di kamar Kim Mingyu yang notabene sahabat nista perotakuannya selama ini? Bisakah ia menerima Mingyu si Fudanshi? Atau terjerat pada lubang yang sama?

Summary : Bagaimana jadinya jika Jeon Wonwoo - si Otaku yang mengoleksi puluhan wifu NTR, tanpa sengaja menemukan puluhan komik dan doujinshi Yaoi Rated di kamar Kim Mingyu yang notabene sahabat nista perotakuannya selama ini? Bisakah ia menerima ...

Kalau kalian beli dua buku [Fudanshi Janai sama No Senses] bakal dapat potongan harga loh. Potongan harga 24.000. Dari harga Rp. 204.000 kalian cuma perlu bayar
Rp. 180.000. (24 rb uang loh say. Wkwk)

Sekalian juga ini sama repeat PO [Fated Pairs sama Nephilim] Yang kemarin ketinggalan ikut PO bisa pesan sekalian.

Spesifikasi Nephilim sama Fated Pairs ada di work nya. Untuk paket [Nephilim + Fated Pairs] Harganya Rp. 120.000

Kirim format pemesanan :

Nama :
Alamat:
No Hp:
buku yang di pesan:

Ke Line : babymingie
IG : astia_morichan
Email: astiamorichan@gmail.com

The Man Who Cant Be Moved [ Sequel Of Running Low] AkaKuro | Yaoi

0

 

 

 

Tetsuya mengalihkan fokus retinanya pada pemandangan yang ada di depan mata. Ia bisa melihat dengan jelas salju mulai turun satu persatu. Butiran putih yang kini menggenang di setiap pohon yang ada di depan kamarnya. Jika seperti ini, Tetsuya akan mengingat lagi kenangan lama. Ya. Kenangan bersama dengan Akashi Seijuurou- Pria yang pernah menjadi sahabat dekatnya. Pria yang menyatakan perasaannya. Pria yang selalu Tetsuya sakiti berkali-kali.

Jujur. Tetsuya sangat merindukannya sekarang. Dulu, jika Seijuurou ada, Tetsuya akan memeluk pria itu dengan erat. Agar ia tidak perlu menggigil karena kedinginan yang tubuhnya rasakan. Ia rindu kehangatan tubuh Seijuurou yang selalu memeluknya dengan erat. Tetsuya juga rindu kecupan singkat yang selalu Seijuurou lakukan saat ia pura-pura terlelap. Tetsuya bukanlah orang bodoh yang tidak tahu perasaan Seijuurou. Tatapan cinta Seijuurou selalu terpancar untuknya, dan Tetsuya tidak pernah mengelak, karena ia juga mencintai Seijuurou. Walaupun ia tahu semua ini salah. Maka hanya jalan inilah yang Tetsuya harus pilih.

 

“Ne.. Tetsu-kun..” Suara merdu dari wanita bersurai pink itu menggema di ruangan ini. Membuat Tetsuya menoleh saat melihat sosok Momoi Satsuki. Ah ralat. Kuroko Satsuki yang berjalan mendekat ke arahnya. Ya. Satsuki adalah istri sah Tetsuya. Sebenarnya, ia merasa kasihan pada Satsuki. Tetsuya harusnya tidak bertindak egois seperti ini, jika ia hanya menyakiti perasaan Satsuki. Sejak mereka menikah hampir dua tahun lalu, Tetsuya sama sekali tidak pernah menyentuh istri cantiknya itu. Karena Satsuki sadar, sebenarnya Tetsuya tidak mencintai dirinya lagi. Ah. Bukan. Tetsuya memang tidak pernah mencintainya selama ini.

 

Tetsuya mengerutkan alis saat melihat Satsuki menatapnya dengan pandangan sendu. Apalagi saat wanita itu menarik tangannya, agar Tetsuya bisa melihat dirinya dengan jelas.

Hening beberapa saat. Satsuki hanya menatap wajah Tetsuya lama, sebelum akhirnya ia berucap.

 

“Bagaimana jika kita berpisah saja, Tetsu-kun? Kau tahu? Kau tidak boleh seperti ini terus. Kau harus mencari lagi Akashi-kun. Aku tidak apa-apa. Sungguh.” Manik aquamarine Tetsuya membulat saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Satsuki. Ia bahkan tidak pernah membayangkan jika Satsuki akan mengatakan hal itu. Istrinya meminta cerai. Istrinya meninggalkan Tetsuya. Sama dengan Seijuurou yang meninggalkannya.

 

“K-kau ingin bercerai denganku?” Dan pertanyaan itu di sambut dengan anggukan pelan Satsuki. Tetsuya tahu, Satsuki sudah menderita selama ini. Terkadang, Tetsuya merasa menjadi orang yang sangat bodoh karena tidak tertarik dengan gadis secantik Satsuki.

 

“Ya. Tetsu-kun harus bahagia. Kau akan terlihat hidup jika ada Akashi-kun di sampingmu.” Suara Satsuki bergetar pelan, dan Tetsuya tahu, jika wanita itu tengah menahan isak tangisnya. Tetsuya juga tidak ingin menyakiti Satsuki. Wanita yang sudah ia kenal sejak lama itu terlalu baik untuknya. Satsuki pantas mendapatkan pria yang lebih baik darinya.

 

“Maafkan aku, Satsuki-chan.” Dan Tetsuya hanya bisa tersenyum getir saat melihat gelengan yang di berikan Satsuki. Jika bisa Tetsuya memohon, ia ingin mengulang waktu. Waktu dimana ia tidak memutuskan untuk berpacaran dengan Satsuki, karena ego bodohnya. Benar kata orang. Penyesalan itu selalu datang terakhir. Tetsuya menyesal. Kenapa ia tidak jujur tentang perasaannya pada Seijuurou saat itu.

 

The Man Who Cant Be Moved

Sequel of Running Low

Kuroko no Basuke c Tadatoshi Fujimaki

T

Romance, Hurt/Comfort/ Angst/ Maso kaya gue

WARNING KERAS! YAOI! MASO! TYPO’S, NGENES, OOC. DLL. GA SUKA? BACK OFF!

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

 

Song : The Man Who Cant Be Moved – The Script

 

a/n: Gue lagi jadi masosis. Serius gue lagi pengen di masoin/? Ga tau kenapa tiba-tiba demen cerita nyesek. Ah gue ga yakin sih ini nyesek apa ngga. Tapi yang jelas. Di part ini, gue mau masoin cuya. Kalo di running low gue masoin juyo. Disini cuya yang gue sakitin.

Padahal seharusnya gue belajar buat uts bulan ini. tapi entah malah ngetik begini. Yah doain aja uts gue lancar guys. Wkwk

Happy Reading

EnJOY!

.

.

Dulu, aku berpikir cinta yang aku punya untukmu adalah sebuah dosa.

Tapi ketika aku kehilangan dirimu, maka aku tidak takut masuk neraka sekalipun.

Jika cinta ini adalah dosa, aku akan melakukan dosa ini untukmu.

Dan aku pikir, aku begitu membencimu saat itu.

Tapi, sepertinya aku salah.

Tahukah kau apa yang lebih dalam dari perasaan benci?

Aku pikir itu adalah cinta.

Ya. Aku mencintaimu, Sei-kun.

(Quotes of ARTTL)

.

.

.

Tetsuya berjalan dengan terburu-buru. Menerobos kerumunan mahasiswa yang mengahalangi jalannya. Ya. Tetsuya sekarang sedang berada di University of California, Kampus terkenal yang ada di Amerika Serikat. Tetsuya pergi ke negara nan jauh itu, dengan tujuan untuk bertemu dengan Seijuurou. Konyol bukan? Ia niat melanjutkan gelar Doktornya hanya untuk Seijuurou. Pria yang bahkan belum tentu sudi bertemu dengannya lagi, saat pria itu justru sudah memutuskan akan menghilang dari kehidupannya.

 

Tapi ini adalah jalan terakhir yang Tetsuya punya. Ia merindukan Seijuurou sampai segila dan senekat ini. Tetsuya bahkan memaksa Aomine Daiki agar memberinya informasi tentang Seijuurou satu bulan lalu. Dan begini lah Tetsuya berakhir sekarang. Setelah mengurus segalanya, ia pindah ke San Fransisco, California, Kota tempat ia akan melanjutkan studi, juga tempat Seijuurou berada.

 

Jadi, ini yang akan Tetsuya lakukan sekarang. Mencari Seijuurou, setelah urusan di kampusnya selesai. Menurut Daiki, Seijuurou sekarang menjadi mahasiswa kedokteran di universitas yang sama dengannya. Dan Seijuurou sedang melakukan magang di salah satu rumah sakit paling besar di kota itu. Rumah Sakit California yang sangat terkenal seantreo itu. Tetsuya pikir, Seijuurou sudah menjadi orang yang sangat hebat. Yah. Tetsuya memang akui jika Seijuurou itu sangat jenius. Tapi Tetsuya tidak pernah tahu jika Seijuurou akan mengambil beasiswa di Univesitas ternama itu, dan kini menjadi salah satu dokter magang di Rumah Sakit ternama. Hanya dalam waktu singkat, Seijuurou sudah bisa seperti ini. Mungkin jika saja Seijuurou berniat untuk terus melanjutkan studinya seperti Tetsuya, ia yakin, Seijuurou sudah menjadi seorang Profesor saat ini.

 

Ah. Sudahlah. Tetsuya lelah berspekulasi tentang Seijuurou di masa depan. Tetsuya percaya jika Seijuurou akan menjadi orang sukses di masa depan. Dan sekarang sudah terbukti. Kali ini, Seijuurou berhasil menggapai mimpinya. Menjadi seorang dokter. Jika Tetsuya bertemu dengan Seijuurou nanti, ia akan mengucapkan selamat karena impian sejak kecil pria itu tercapai.

 

“A-ah.. M-maaf.” Tetsuya berujar lirih saat tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang, dan membuat pria bersurai abu itu mengaduh pelan saat bahunya tertabrak oleh Tetsuya.

 

“Seharusnya kau tidak berlari seperti itu.” Pria bersurai abu itu mendengus kesal ke arah Tetsuya, sambil memegangi bahunya yang masih berdenyut sakit. Ia tidak habis pikir jika tubuh mungil pria bersurai biru itu sangat kuat.

 

“Maafkan aku. Apa kau ingin aku antar ke rumah sakit sekarang? Aku akan mengantarmu.” Tetsuya berseru panik, dengan logat bahasa inggrisnya yang tidak terlalu lancar. Membuat pria bersurai abu itu terkikik saat mendengarnya. Ternyata pria bersurai biru itu sangat lucu.

 

“Hahaha. Tidak usah.” Pria bersurai abu itu tertawa pelan, sambil mengulurkan tangannya ke arah Tetsuya. “Mayuzumi Chihiro.” Ia memperkenalkan dirinya pada Tetsuya yang masih terlihat kebingungan di depannya.

 

“K-kuroko Tetsuya.” Tetsuya membalas uluran tangan Mayuzumi dengan hangat, tanpa tahu tubuh Mayuzumi menegang saat mendengar namanya. Seolah teringat akan satu hal yang ia lupakan.

 

“Kau berasal dari Jepang?” Pertanyaan yang di lontarkan Mayuzumi membuat Tetsuya kembali mengernyitkan alisnya bingung. Bagaimana bisa Mayuzumi tahu dirinya berasal dari Jepang? Apa Mayuzumi itu seorang cenayang? Ah. Sepertinya Tetsuya terlalu suka menonton drama jika berspekulasi bahwa pria tampan yang ada di depannya adalah cenanyang. Well, nanti Tetsuya akan berusaha agar tidak menonton drama lagi.

 

“Saat aku ke Jepang satu tahun lalu,” Mayuzumi terdiam sebentar. Seakan berpikir, sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.

“ Aku pernah melihat orang yang mirip denganmu di foto.” Mayuzumi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Ah.. Tapi tidak menutup kemungkinan jika orang yang aku lihat di foto adalah kau. Mungkin aku salah orang.” Dan Mayuzumi kembali tertawa kecil, sebelum matanya berbinar saat melihat sosok yang kini berdiri lima meter di belakang Tetsuya.

 

“Yo.. Sei-chan!!” Mayuzumi berseru sambil melambaikan tangannya. Membuat Tetsuya ikut menoleh. Dan alangkah terkejutnya Tetsuya, saat manik aquamarine itu menangkap sosok yang selama ini ia cari. Ia rindukan. Di depannya, berdiri sosok pria bersurai crimson yang memakai jas putih di sertai stetoskop yang menggantung di lehernya. Dia- Seijuurou- menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk Tetsuya artikan. Manik heterochromia itu mengerjap kaget, seakan tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap.

 

“Tetsuya..” Dan suara bariton milik Seijuurou yang selalu Tetsuya rindukan itu menggema di telinganya. Membuat jantungnya melompat kegirangan saat suara itu seolah menghilangkan rasa rindunya selama satu tahun ini. Ia rindu suara Seijuurou. Sangat. Sampai rasanya Tetsuya tidak tahu bagaimana caranya untuk bernafas.

 

“S-sei-kun..” Suara Tetsuya bergetar saat memanggil nama Seijuurou dengan nada sarat akan kerinduan. Ia rindu. Hanya itu yang Tetsuya tahu. Ingin rasanya Tetsuya menerjang tubuh Seijuurou, dan memeluknya dengan erat.

 

Mereka hanya terdiam. Saling tatap beberapa detik, saat manik aquamarine Tetsuya menatap sosok Seijuurou dengan sendu. Di ikut dengan manik heterochromia Seijuurou yang menatapnya dengan intens. Dari tatapan itu, Tetsuya tahu satu hal. Seijuurou tidak merasakan hal yang sama untuknya.

 

“Ah.. Ternyata benar. Tetsuya ini yang ada di fotomu kan, Sei?” Mayuzumi memecah keheningan. Membuat alis Tetsuya mengernyit, dan di ikuti Seijuurou yang sekarang tersenyum tipis padanya dan Mayuzumi. Sepertinya Seijuurou cukup baik mengendalikan dirinya saat ini.

 

“Ya. Tetsuya adalah temanku. Dia yang aku ceritakan menikah hampir dua tahun lalu.” Ucap Seijuurou sarkatik. Tanpa tahu jika Tetsuya merasa tersinggung karena ucapannya. Teman katanya? Apa ia tidak salah dengar? Seijuurou hanya menganggapnya sebagai teman saja.

“Jadi dimana istrimu, Tetsuya?”

 

“Aku sudah bercerai dengannya setengah tahun yang lalu.” Ucap Tetsuya dengan tatapan datarnya. Dan ucapan itu membuat Seijuurou cukup kaget saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut si surai biru. Entahlah. Tetsuya tidak bisa menebak raut wajah datar Seijuurou saat ini.

 

“Jadi, apa yang kau lakukan di sini Tetsuya?” Pertanyaan Seijuurou terdengar to the point. Seperti ingin segera menjauh dari Tetsuya secepatnya.

 

Ingin rasanya Tetsuya menjawab jika ia merindukan pria itu. Ia ingin bertemu dengan Seijuurou dan meminta maaf atas segalanya yang pernah ia lakukan. Juga berkata jujur, jika ia sangat mencintai Seijuurou, sampai Tetsuya tidak akan peduli jika dunia menghujatnya sekali pun.

 

“Melanjutkan pendidikkanku di universitas ini, Akashi-kun.” Kali ini Tetsuya bisa melihat Seijuurou tersenyum getir. Ia tidak tahu apa arti senyuman yang Seijuurou berikan untuknya.

 

“Kalau begitu selamat datang di kampus ini.” Seijuurou menunjukkan senyum simpulnya. Tapi Tetsuya tahu, senyuman itu palsu. Senyuman itu sama sekali tidak tulus Seijuurou berikan untuknya.

 

“Ayo, Mayuzumi. Aku akan mengajarimu tentang anatomi lagi.” Seijuurou berbalik, sambil menarik tangan Mayuzumi. Menggenggamnya dengan erat. Hingga membuat Tetsuya mencelos melihat pemandangan yang ada di depannya itu. Seijuurou mengabaikannya saat mereka pertama kali bertemu sejak dua tahun terakhir. Seijuurou menjauhinya. Ekspektasi yang selama ini Tetsuya impikan sama sekali tidak terwujud. Berbeda. Benar-benar berbeda 180 derajat.

 

“E-eh? Bukankah kau akan ke rumah sakit lagi?”

 

“Nanti. Setelah kau mengerti tentang apa yang aku ajarkan.”

 

Ingin rasanya Tetsuya berteriak kesakitan saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Seharusnya, Seijuurou hanya tersenyum seperti itu padanya. Senyum Seijuurou itu hanya untuk Tetsuya. Candaan Seijuurou itu hanya untuknya. Seharusnya dirinya yang ada di posisi itu, bukan Mayuzumi.

Ternyata perasaan ini lebih menyakitkan. Kali ini, Tetsuya mengerti bagaimana perasaan Seijuurou saat dirinya memilih bersama Satsuki. Rasanya hati Tetsuya serasa kosong dan tidak berarti apapun. Hampa. Seakan Tetsuya tidak punya hati lagi untuk merasakan apa yang namanya kesedihan. Menangis pun Tetsuya sudah tidak sanggup. Ia sudah lelah menangisi penyesalannya untuk Seijuurou dua tahun lalu. Tapi kali ini, rasa sakit bagaikan di rajam tombak panas pada ulu hatinya itu benar-benar terasa menyakitkan. Sampai rasanya Tetsuya tidak sanggup mengatur napasnya yang kini memburu.

 

“Maaf.” Hanya gumamam lirih itu yang bisa Tetsuya sampaikan saat melihat punggung mereka menjauh dari pandangannya. Jika bisa, Tetsuya ingin mengulang waktu. Dimana ia tidak menjadi orang idiot yang mengikuti egonya. Tetsuya janji. Ia tidak akan menyerah sampai sini. Ia akan membuat Seijuurou mencintainya lagi, walau itu membutuhkan waktu cukup lama. Jika dulu Seijuurou bisa jatuh cinta pada Tetsuya, bukan hal tidak mungkin jika Seijuurou akan mencintainya lagi. Sekarang, Tetsuya memutuskan untuk terus menggapai Seijuurou. Membuat rasa penyesalannya berganti menjadi sebuah kebahagian yang selama ini Tetsuya harapkan. Ia harap, keinginannya terkabul. Tuhan mengizinkannya bersatu dengan Seijuurou suatu hari nanti.

 

FIN..

 

Oke. Geblek emang gue. Ini Cuma side story dari pandangan cuya aja kok. Jadi kalo kemarin itu gue buat sudut pandangan perasaan juyo. Di sini gue buat sudut pandangan dari cuya.

Tamat? Boleh tamat aja. wkwk

Next? Boleh. Tapi liat mood. Kalo emang lagi pengen ngelanjut gue pasti bakal buat happy ending. Gimana kalian aja wkwkwk.

Respon dong ini maso ga? Feelnya dapet ga? Biar gue ga kapok bikin ff maso lain kali. wkwk.

Btw mau buka lapak. Gue jual softcase sama hardcase hp yang bisa req gambar. Mau gambar akakuro juga bisa. All type insya allah ada. Kalo minat hub gue aja di twitter/fb/ line : astia_morichan

Sankyuu ^^

 

So, Mind To Review?

Astia Morichan

 

 

 

 

 

Caste Heaven | Meanie| Yaoi| Remake | Warning !

1

Jeon Wonwoo tersenyum penuh kemenangan saat melihat pemuda bersurai coklat yang kini nampak tak berdaya saat Hong Jisoo melemparkan bola basket ke wajahnya. Hingga hidung Jeonghan mengeluarkan darah, dan wajahnya nampak sedikit memar akibat pukulan bola itu. Tubuh Jeonghan bergetar hebat saat rasa nyeri yang di timbulkan di wajahnya membuat ia ingin menangis.

 

“Haha. Kalian lihat wajah Jeonghan? Lucu sekali. Haha.” Jisoo tertawa dengan lebar saat melihat Jeonghan kesakitan. Pemuda bersurai coklat itu mulai berdiri walau sedikit limbung. Ia berjalan menjauh dari gymnasium. Mungkin Jeonghan akan menghabiskan pelajaran olahraganya di ruang kesehatan. Ia harap tidak akan ada yang mengganggunya, dan melihatnya dengan penuh tatapan kasihan. Jeonghan memang tahu peraturan dalam game ini. Raja yang dapat mengatur kelas, dan target yang mempunyai ranking terendah yang akan di bully seperti dirinya selama satu tahun. Itu adalah hukum dunia caste.

 

Wonwoo terkekeh pelan saat melihat pemandangan itu. ia suka saat melihat semua orang bertekuk lutut di hadapannya. Semua orang akan menghormatinya, dan ia bisa mendapatkan apapun karena game ini. Jeon Wonwoo adalah Raja di dalam Caste Game yang seluruh siswa mainkan. Dan targetnya selama satu tahun ini adalah Jeonghan. Pemuda lugu yang dulu rela menukar kartu dengannya, hingga ia menjadi target untuk di bully. Di sekolah ini, segalanya hanya di tentukan oleh game. Jika kau menjadi rajanya, maka kau bebas melakukan apapun.

 

.

oOo

.

Caste Heaven

RM 18

Romance, Drama, Gore, sadistic, etc

Warning! Yaoi! OOC, Typo yang akan membuat mata iritasi. Mature Content yang mungkin akan cukup Hard Core. Sehingga di sarankan untuk yang belum cukup umur, harap menyingkir dengan cepat.

Dosa di tanggung oleh reader sendiri. Wkwk

 

Caste Game adalah Game yang menentukan segalanya di sekolah ini. Siapa Raja, dan juga Target Bully selama satu tahun. Raja lah yang memegang kendali, dan Jeon Wonwoo adalah Raja di Game ini. Ia bebas melakukan apapun, dan Wonwoo juga tahu jika semua orang ingin merebut tahtanya. Termasuk orang yang sudah ia percaya.

 

a/n : Ini adalah Remake Caste Heaven yang di tulis oleh Chise Ogawa. Saya Warning sekali lagi ini adalah Remake. Demi apa gue suka banget manga ini sampai tercipta lah FF Remake ini. Jadi sepertinya FF Meanie Remake yang gue buat bakalan Caste Heaven aja. Wkwk . Santai bro, sama-sama Hawt kok.

Saya juga akan mewarning kalian jika SEME DI FF INI NANTI BAKALAN BRENGSEK SEMUA. JADI BUAT YANG GA KUAT TOLONG MENYINGKIR. WKWK

 

KIM MINGYU X JEON WONWOO

OTHER PAIR FIND YOURSELF

 

ENJOY!

.

 

“Anhh..” Suara desahan gadis bersurai kemerahan yang berada di atas tubuh Wonwoo terdengar dengan keras. Padahal Wonwoo hanya memainkan puting payudara gadis itu dengan pelan, dan gadis bernama Yunji malah mendesah keenakan di atas tubuhnya. Sungguh. Wonwoo tidak suka mendengar desahan yang di keluarkan Yunji. Bukannya bergairah, gadis itu malah membuat genitalnya kembali tertidur akibat desahan menjijikannya.

 

“Keluar.” Wonwoo berujar dengan dingin. Ia mulai menghempaskan tubuh Yunji sampai terjatuh, dan menarik gadis itu untuk keluar dari ruangan osis yang menjadi hak miliknya sebagai raja.

 

“Hey! A-apa yang—“ Belum sempat Yunji protes, Wonwoo sudah mendorongnya hingga Yunji keluar sepenuhnya. Wajah Yunji nampak merah padam saat melihat sosok pemuda bersurai hitam yang berdiri di samping pintu. Ia segera pergi menjauh dan merapikan seragamnya yang nampak berantakan. Ah, ia malu di lihat seperti itu oleh Kim Mingyu.

 

“Mingyu?” Wonwoo menoleh ke arah Mingyu yang sekarang menatapnya dengan manik obsidian yang memicing,

 

“Kau membawa gadis dengan payudara besar seperti biasa.” Wonwoo hanya membalas pernyataan itu dengan menggedikan bahunya. Kemudian ia mulai mengacak pelan surai kecoklatannya dengan asal.

 

“Tapi bukankah dia pacarmu?”

 

Not again. Suaranya membuatku turn off dengan cepat.” Wonwoo mulai membuka kancing seragamnya satu persatu. Hingga dada polosnya terlihat. Kulit Wonwoo yang terlihat seperti porselen, membuat Mingyu menelan salivanya dalam saat melihat pemandangan tubuh Wonwoo yang terlihat sangat menggiurkan. Wajah Mingyu memerah sempurna saat melihat Wonwoo menatapnya bingung. Sial! Tubuh Wonwoo memang sangat menggoda.

 

“A-aku akan ke kelas.” Mingyu memalingkan wajahnya yang memerah. Kemudian segera menjauh dari Wonwoo yang masih tidak mengerti dengan perubahan wajah Mingyu saat melihat tubuhnya.

 

He’s such a loyal dog.” Wonwoo menggedikkan bahunya. Sebelum mulai berbalik dan melihat sosok Seungcheol yang tersenyum ke arahnya. Kemudian Seungcheol masuk ke dalam ruangan osis, dan di ikuti oleh Wonwoo dari belakang.

 

“Bukankah kau keterlaluan memperlihatkan tubuh polosmu pada pemuda yang masih perjaka?” Wonwoo mulai duduk di sofa panjang berwarna coklat yang ada di depannya. Matanya memicing ke arah Seungcheol yang kini duduk di atas meja.

 

“Dia masih perjaka? Are you kidding me?”

 

“Yap. He’s still virgin.”

 

“Aku tidak tahu tentang hal itu.”

 

“Tentu saja. Karena kau tidak pernah peduli tentang apapun.” Seungcheol bisa melihat Wonwoo mendengus tak suka ke arahnya.

“Oh, ya. Aku punya hal yang menarik untuk kau dengar.” Alis Wonwoo tertaut saat melihat Seungcheol menyunggingkan senyum tipis di wajah tampanya. Sepertinya Wonwoo mulai tertarik dengan arah pembicaraan mereka.

 

“Apa?” Seungcheol mulai berjalan ke arah Wonwoo sambil mengambil beberapa kertas kecil yang ada di saku seragamnya.

 

This is for ya.” Seungcheol meletakan kertas itu di dalam genggaman tangan Wonwoo. Kali ini Wonwoo tahu kertas apa yang Seungcheol katakan menarik. Itu adalah foto dirinya dengan berbagai macam foto menggoda. Banyak sekali foto dirinya yang tidak mengenakan baju atasan. Hingga tubuh bagian atasnya terlihat.

 

“Seseorang memotretku secara rahasia?” Wonwoo mulai melihat lembaran foto dirinya. Mengamati berbagai macam foto yang bahkan Wonwoo sendiri tidak sadar pernah melakukan pose seperti itu.

 

“Kau sepertinya populer, Won. Aku dengar beberapa orang bahkan membeli fotomu hanya untuk mastubrasi saja.” Seungcheol terkekeh pelan. Kemudian tangannya bergerak dengan jarinya yang membentuk sebuah kotak di depan matanya. “Kalau begitu pose untukku.” Seungcheol bergerak mendekat ke arah Wonwoo. Berlagak seperti fotografer handal.

 

“Cih.” Wonwoo ikut terkekeh dan menunjukan seringaiannya. Ia mulai membuka seragammnya sampai puting kemerahannya terlihat. Kakinya mengangkang lebar. Tak lupa tangannya di tempelkan ke dagu dengan tatapan tajamnya yang khas.

 

“100.000 won for sexy shots.” Tatapan tajamnya mengarah pada Seungcheol yang sekarang tepat berada di depannya. Kemudian tangannya bergerak mengambil sebuah cutter dan mengarahkannya pada Seungcheol. Pemuda itu nampak menelan salivanya karena takut.

 

“Terlalu banyak bersenang-senang akan membawa penderitaan untukmu, The Jack.”

 

“Kau tahu? Aku hanya bercanda.” Seungcheol mulai berjalan mundur dan berjalan menjauh dari Wonwoo. Ia tidak ingin berurusan dengan Wonwoo lebih lama. Kemudian ia mulai berbalik dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Wonwoo yang kembali berbaring di sofa dengan mata terpejam.

 

He’s never learn.” Wonwoo bergumam pelan. Sebelum akhirnya memejamkan mata dan mulai tertidur. Sebenarnya Wonwoo sudah lelah dengan semua ini. Semua orang di tempat ini memakai topeng mereka dengan sangat baik.

 

“Lakukan apapun selagi kau bisa, Wonwoo. Aku akan mengambil kursi rajamu. Membuatmu jatuh, dan telanjang hanya di depanku saja.” Bisikan itu terdengar pelan, dan Wonwoo tidak pernah tahu jika itu adalah bisikan maut yang akan mengantarkannya pada gerbang neraka nanti.

 

.

oOo

.

 

“Wonwoo!” Mingyu berteriak dengan keras saat membuka pintu ruangan osis itu. Membuat bunyi derit yang sangat keras, hingga Wonwoo mengerang karena tidurnya terganggu.

 

“Huh?” Matanya terbuka pelan saat retinanya melihat sosok Mingyu yang kini tersenyum lebar di hadapannya. Ia mulai mengerjapkan matanya dengan pelan, agar penglihatnnya kembali terfokus.

 

“Ke kelas sekarang juga. Caste Game akan di mulai.” Dan Mingyu mulai menariknya untuk bangun. Pemuda itu bahkan mengabaikan decakan sebalnya karena menarik dirinya seenak jidat keluar ruangan. Wonwoo bahkan harus merapikan seragamnya di tengah-tengah koridor dengan semua orang yang menatapnya dengan lapar. Sial! Ia akan memberi pelajaran untuk Mingyu nanti.

 

Hanya perlu lima menit saja untuk mereka sampai di kelas. Semua murid sudah berada di tempat duduknya masing-masing. Mereka tersenyum lega saat melihat Wonwoo dan Mingyu sudah sampai. Itu artinya, Game akan segera di mulai. Game yang akan menentukan siapa target bully selanjutnya untuk satu tahun terakhir mereka sebelum kelulusan.

 

Game Start!” Wonwoo berteriak dengan lantang, dan semua siswa mulai bersorak sambil bergegas untuk keluar dari kelas. Mencari kartu yang akan menentukan nasib mereka masing-masing selama satu tahun nanti.

TeBeCe

ADEGAN SELANJUTNYA AKAN SANGAT HARD. JADI SIAPKAN DIRI KALIAN NANTI. WKWK. ANGGAP INI ADALAH PROLOG.

JADI MIND TO REVIEW?

 

Astia Morichan

I Want To Be A Straight, But | Meanie FF | Chap 3|

13

Pemuda bersurai hitam berjalan menaiki tangga dengan gusar. Choi Seungcheol sudah mendapat izin dari Ren untuk segera menemui Jeonghan yang sejak tadi tidak mau keluar kamarnya. Jujur saja, ia sangat khawatir pada Jeonghan. Tidak biasanya sahabat kecilnya itu merajuk seperti ini. Padahal Seungcheol sudah menjelaskan semuanya. Tapi sepertinya Jeonghan tidak akan pernah mengerti. Semua ini ia lakukan untuk kebahagian Jeonghan. Ia rela melepaskan semuanya hanya untuk sahabatnya itu.

 

Ketukan pintu mulai terdengar dengan keras. Seungcheol mengetuknya dengan tidak sabaran, sambil memanggil nama Jeonghan beberapa kali. Berharap pemuda itu segera membuka pintu, dan membiarkannya memohon untuk kesekian kali.

 

“Jeonghan, aku tahu kau mendengarku. Buka pintunya, atau ku dobrak dengan paksa.” Suara Seungcheol terkesan dingin. Tidak ingin di bantah. Dan Jeonghan yang berada di dalam tahu jika sahabatnya itu tengah menahan amarah. Jika bisa, Jeonghan ingin menghilang saja dan tidak bertemu dengan Seungcheol hari ini. Tapi sepertinya, ia memang tidak punya pilihan selain membuka pintu kamarnya.

 

Suara deritan pintu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar itu. Seungcheol dapat melihat sosok Jeonghan yang hanya mengenakan boxer pendek beserta kaos putih polos yang membalut tubuhnya. Rambut pemuda itu terlihat acak-acakan. Matanya memerah dengan sempurna. Jeonghan yang biasanya mementingkan penampilannya kini nampak kacau.

 

“Jika kau ingin meminta izinku untuk pergi ke Tokyo, maka pergi dari sini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau pergi tanpa seizinku!” Suara Jeonghan terdengar bergetar saat berteriak pada Seungcheol. Matanya menatap Seungcheol tajam. Tapi tatapan itu malah membuat Seungcheol terkekeh saat melihatnya.

Seungcheol mulai berjalan maju, dan membuat Jeonghan memundurkan tubuhnya kebelakang secara refleks. Hingga Seungcheol bisa masuk ke dalam kamar sahabatnya itu.

Pintu kamar tertutup dengan sendirinya. Membuat Jeonghan harus menelan salivanya dalam. Ia tidak mungkin tahan jika Seungcheol berada di kamarnya saat mereka bertengkar seperti ini. Jeonghan pasti akan menahan Seungcheol untuk pergi dan memeluknya dengan erat di ranjang miliknya seperti biasa. Sial! Seungcheol selalu tahu kelemahannya.

 

“Aku pergi ke Tokyo untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara hubunganmu dengan pacar-pacarmu, Jeonghan.”

 

“Dan kau takut jika mereka selalu menyalahkanmu?” Jeonghan menaikkan suaranya. Matanya memicing. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Seungcheol. Kenapa pula Seungcheol harus pergi jauh darinya karena itu? Jeonghan memang tahu jika semua pria yang pernah menjadi pacarnya, selalu menyalahkan kedekatan hubungannya dengan Seungcheol. Meminta ia menjauh dari sahabatnya itu. Dan yah, Jeonghan menolak mentah-mentah. Lalu ia akan putus dengan pacarnya, dan kembali kepada Seungcheol yang selalu memeluknya dengan erat.

 

“Kau tidak pernah menjadi pengganggu, Cheolie! For God’s sake! Kau pikir dengan meninggalkanku aku akan baik-baik saja, eoh? Saat aku putus dengan pacarku nanti, siapa yang bisa aku peluk selain kau, huh?” Jeonghan mendelik tak suka ke arah Seungcheol yang sekarang terdiam di depannya. Ia mulai berani mendekat ke arah Seungcheol. Hingga Jeonghan sudah berada tepat di depan pria itu.

 

“Kau tahu? Aku baru saja putus dengan Minhyuk.” Seungcheol masih terdiam. Matanya masih menatap Jeonghan dengan intens, saat melihat pemuda bersurai coklat itu semakin mendekat ke arahnya. Kemudian memeluknya dengan erat. Pelukan yang seolah mengatakan jika Seungcheol tidak boleh pergi dari sisinya.

 

“Kau tidak ingin membalas pelukanku?” Jeonghan mendongak ke arah Seungcheol yang sekarang menghela napasnya lelah. Sepertinya memang sulit membiarkan Jeonghan sendirian. Ia sudah terlanjur terikat dengan sahabatnya itu. Seungcheol tidak akan lepas dari genggaman tangan Jeonghan. Ah. Sepertinya ia harus kembali membatalkan kepergiannya ke Tokyo. Mungkin ia akan memilih untuk melanjutkan kuliah S2nya di Universitas Seoul. Bukan di Todai.

 

Tangan Seuncheol terulur. Memeluk pinggang Jeonghan dengan pelan. Ia mulai menelusupkan kepalanya ke leher Jeonghan. Mengendus wangi pemuda itu yang selalu membuat Seungcheol hilang kendali atas dirinya. Sebelum akhirnya memberi kecupan singkat di leher Jeonghan yang membuat pemuda itu menggeliat geli dalam pelukannya.

 

“Kau egois, Hannie.” Bisikan seduktif di leher Jeonghan membuat pemuda bersurai coklat itu terkikik geli.

 

“Yes, I know.” Jeonghan tersenyum bahagia dalam pelukan Seungcheol. Hal yang paling membuatnya bahagia adalah dimana Seungcheol memeluknya seperti sekarang.

 

“Batalkan kepergianmu ke Jepang.”

 

“Yes, ma Lord.” Dan Jeonghan kembali terkekeh saat mendengar jawaban dari Seungcheol. Bersama Seungcheol ia selalu bisa tertawa seperti ini. Sungguh, jika bisa Jeonghan ingin mengaku bahwa ia memiliki perasaan lain saat bersama Seungcheol seperti sekarang. Tapi ia tidak mungkin merusak persahabatan yang sudah ia jalin dengan Seungcheol, jika ternyata Seungcheol tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya.

 

.

oOo

.

I Want To Be A Straight, But..

RM 18!!

Romance, Drama

Yaoi, Mature Content, Typo’s, OOC, alur cepet, etc.

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

Wonwoo hanyalah seorang Gay yang ingin kembali menjadi straight, berobat pada seorang psikolog muda – Kim Mingyu yang homo phobic. Bisakah Wonwoo kembali normal? Atau Mingyu yang menjadi Gay karena terjerat pesona dari Jeon Wonwoo?

 

Cast: Kim KyuHyun X Lee Sungmin [Super Junior]

Hwang Minhyun X Hwang Minki aka Ren [Nuest]

Hwang Junghan X Choi Seungcheol [Svt]

 

Cast di FF ini OTP saya semua! Wkwk. Kalau ada yang nanya dan gak tau siapa itu Ren, Minhyun sama Nuest itu apa… Tolong searching dulu, karena mereka mau comeback tgl 29 nanti. Wkwk. Nuest itu sunbae-nim svt. Kalo kalian pledis fams yang kenal svt lewat nuest kayak saya pasti tahu. Karena di mv face lah saya mencintai wonu dan di phpin pledis karena svt ga debut mele berkali-kali. /oke ini curhat/

 

a/n: Saya ingetin lagi. Psikolog itu bisa di sebut dokter kalo udah s2 dan buka praktek sendiri. Waktu itu saya nanya sama dosen unpad, dan beliau kasih tau bedanya. Kecuali kalau pasiennya emang punya gangguan jiwa, mereka bakal di rekomen ke psikiater. Tbh homo itu bukan gangguan jiwa, makanya psikolog yang pantes saya buat di ff ini.\

EnJOY!

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan menapaki trotoar yang ramai di padati orang-orang di tengah keramaian kota Seoul. Tangannya menggenggam erat tas kerja miliknya yang berisi beberapa script novel. Wonwoo harus kerja lembur untuk mengerjakan deadlinenya. Ia sudah cukup untuk bermalas-malasan. Script novel yang harus ia edit masih banyak. Jadi baru sekaranglah Wonwoo bisa pulang dan bernapas lega. Untung saja ini masih jam sembilan malam. Jadi ia bisa mencari makan malam di luar. Wonwoo bahkan melewatkan makan siangnya karena deadlinenya itu. Hingga perutnya berteriak minta di isi seperti sekarang.

 

Langkahnya terhenti di persimpangan sebuah cafe kecil yang memang cukup ramai di padati para remaja. Sudah di putuskan. Ia akan makan di cafe itu malam ini. Walaupun harus sendiri. Well, salahkan Jeonghan yang tidak ingin menemaninya karena sibuk dengan pertengkaran tidak mutu dengan sahabat kecilnya itu.

Wonwoo berjalan masuk ke dalam cafe itu. Cafe itu sudah di padati oleh banyak pengunjung. Tidak ada satu pun kursi kosong untuk Wonwoo tempati. Padahal ia sudah meneliti ke segala arah penjuru. Tapi tetap saja tidak bisa menemukan satu pun meja kosong. Di bagian dalam dan juga luar Cafe semua terisi dengan penuh. Tidak ada pilihan selain mencari cafe lain untuk makan malamnya.

 

“Maaf. Cafe kami sedang penuh malam ini. Apa anda ingin menjadi waiting list terlebih dahulu?” Wonwoo memutar bola matanya ke arah gadis pelayan bersurai hitam di depannya. Waiting list? Hey! Wonwoo itu sudah lapar. Ia tidak mungkin menunggu lagi. Lebih baik ia mencari cafe lain.

“Tidak, terimakasih.” Dengan lemas, Wonwoo mulai berbalik, dan ingin berjalan menjauh dari dalam cafe. Ia kembali menatap sekeliling bagian luar cafe yang tetap saja masih penuh. Tidak ada satu pun meja kosong di sana.

 

“Hah.. “ Menghela napas lelah, sebelum akhirnya melangkah untuk menjauh dari cafe itu. Tapi langkahnya kemudian terhenti saat suara bariton yang sangat di kenalnya memanggil.

 

“Wonwoo Hyung!” Wonwoo menoleh ke belakang. Ia bisa melihat sosok Kim Mingyu yang sedang duduk di sudut cafe bagian luar, sambil melambaikan sebelah tangan padanya. Psikolog muda itu tersenyum tipis. Sekarang, Wonwoo kembali terpesona dengan sosok Mingyu yang hanya mengenakan celana jeans beserta kaos putih polos yang membalut dada bidangnya. Demi Tuhan! Wonwoo tidak dapat memungkiri jika ia memang sangat tertarik pada Mingyu. Ia bahkan lupa dengan rasa lapar yang menyerang perutnya saat melihat Mingyu.

 

Wonwoo mencoba menguasai dirinya. Ia mulai berjalan ke arah meja tempat Mingyu duduk. Beberapa pengunjung wanita ikut menatap ke arah Mingyu. Sial! Wonwoo sangat yakin jika para wanita itu terpesona oleh sosok Mingyu. Terbukti dari pandangan berbinar yang mengarah pada Mingyu.

 

“Apa kau tidak mendapat meja? Kau bisa bergabung denganku, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum singkat ke arah Wonwoo. Manik obsidiannya mengisyaratkan dengan jelas agar Wonwoo segera duduk di depannya.

 

“Bolehkah? Kau tidak bersama seseorang?”

 

“Tidak. Aku hanya sendirian ke sini.” Mingyu menaikkan kedua bahunya. Tangannya kembali bergerak mengaduk americano yang tadi ia pesan.

 

“Kalau begitu aku akan menemanimu. Aku bersyukur bertemu denganmu.” Wonwoo menarik kursi dengan pelan. Kemudian duduk dengan kasual. Tatapan matanya menatap obsidian Mingyu dengan intens.

 

“Kenapa Hyung?” Obsidian Mingyu membalas tatapan tajam Wonwoo. Membuat Wonwoo memutar bola matanya. Ia pikir Mingyu akan takluk oleh tatapan matanya saja, dan terpesona oleh tatapannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Wonwoo jadi berpikir tentang niatnya untuk sembuh menjadi gay. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun, jika dokternya adalah Mingyu. Memikirkan hal itu malah membuat kepala Wonwoo menjadi pusing.

 

“Tidak apa-apa.” Wonwoo menghela napasnya pelan. Tangannya mulai mengambil buku menu yang ada di depannya. Membukanya, dan mulai meneliti berbagai macam menu yang akan ia pesan. Setelah beberapa menit, akhirnya Wonwoo mengangkat sebelah tangannya ke arah pelayan pria yang kini berjalan ke arah meja mereka.

 

“Sphagetti dan Lemon tea saja.” Wonwoo langsung mengutarakan pesanannya saat pelayan itu mendekat. Kemudian pelayan bername tag Jinshi itu mengangguk pelan. Sebelum akhirnya kembali menjauhi meja mereka.

 

“Jadi apa yang sedang kau lakukan di malam hari seperti ini Dokter Kim?” Wonwoo memangku dagunya. Tatapan matanya masih terarah pada Mingyu sekarang.

 

“Aku hanya bosan berada di rumah, dan kebetulan aku lapar. Jadi aku makan di cafe ini.” Mingyu mengambil gelas americano miliknya. Kemudian menyesapnya. “Bagaimana denganmu, Hyung?”

 

“Aku hanya lapar, dan menemukan cafe ini begitu saja.”

 

“Ah..” Mingyu mengangguk tanda mengerti.

 

“Apa kau baru saja pulang dari tempat kerjamu?” Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Di mata Mingyu, terlihat jelas sekali jika pria itu memang sudah kelelahan. Kerutan di dahi Wonwoo membuktikan jika pria itu sedang banyak tekanan.

 

“Masih di kejar deadline?” Mingyu bisa melihat Wonwoo membulatkan matanya, sambil kembali mengangguk. Sepertinya Mingyu masih ingat perkataannya minggu lalu.

 

“Ya, dan kau tahu? Deadline editingku hari Sabtu nanti. Benar-benar menyebalkan. Padahal aku sudah mengerjakan proses editingnya dengan benar.” Wonwoo mulai mengeluh keluh kesahnya pada Mingyu begitu saja. Padahal Wonwoo tidak pernah seterbuka ini pada seseorang, dan Mingyu adalah pengecualian. Rasanya, ia bisa percaya dengan mudah pada Mingyu.

 

“Kalau begitu bersemangatlah, Hyung.” Tangan Mingyu terulur untuk menyentuh surai hitam Wonwoo. Mengusapnya dengan pelan, dan juga kekehan khas miliknya terdengar. Kali ini, Wonwoo bisa merasakan rona merah kembali menjalar di pipinya. Jantungnya kembali berdetak tak karuan karena sentuhan kecil seperti ini.

 

“E-ehm.. Maaf membuat anda menunggu, Tuan.” Suara deheman Jinshi, membuat Mingyu menarik tangannya dari kepala Wonwoo. Mingyu terlihat salah tingkah saat melihat pelayan itu menyimpan pesanan Wonwoo, dan tersenyum penuh arti ke arahnya. Sebelum akhirnya membungkuk pamit dan kembali menjauhi mejanya dengan Wonwoo.

 

“Kau merusak tatanan rambutku.” Wonwoo kembali bersuara dengan nada dinginnya. Ia tidak ingin suasana menjadi aneh hanya karena kejadian kecil seperti itu. Wonwoo tentu tidak lupa jika psikolog yang ada di depannya adalah seorang homophobic.

 

“Kau tetap jelek walaupun rambutmu acak-acakan, Hyung.”

 

“Ya!!” Wonwoo melototkan matanya ke arah Mingyu saat mendengar ejekan dokter muda itu. Bukannya takut, Mingyu malah tertawa puas saat melihatnya mempoutkan bibir dan memberinya delikan tak suka.

 

“Hahaha. Kau benar-benar lucu, Hyung.” Mingyu tertawa sambil menekan perutnya akibat tertawa yang berlebihan. Tapi Mingyu tidak berbohong soal itu. Ia suka saat Wonwoo merajuk marah saat di godanya. Jujur saja, ada rasa penasaran aneh tersendiri dari Wonwoo yang membuat Mingyu ingin mengenal lebih pasiennya itu.

 

“Hemmm..” Wonwoo berdehem pelan mengiyakan ucapan Mingyu. Ia harus fokus pada makanannya sekarang. Wonwoo tidak boleh terpesona pada Mingyu yang sekarang tertawa lebar karenanya.

Dengan pelan, ia mulai menggulung helaian spagetti dengan garpu, dan mulai menguyahnya. Mengabaikan tatapan Mingyu yang mulai terdiam sambil menatapnya dengan intens. Sial! sial! Mingyu menggodanya hanya dengan tatapan miliknya itu.

 

“Baiklah. Maafkan aku, Hyung. Aku hanya bercanda. Sebagai permintaan maaf, aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?” Wonwoo mendongak, dan menatap Mingyu dengan tatapan berbinar. Ah, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Wonwoo bisa bersama Mingyu lebih lama.

 

“Benarkah?”

 

“Ya. Aku akan mengantarmu.”

 

“Kalau begitu aku tidak akan menolak.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa melihat Mingyu terkekeh pelan. Suaranya mengalun dengan indah. Membuat Wonwoo seolah tersihir oleh Mingyu untuk kesekian kalinya. Segala hal tentang Mingyu seolah menarik Wonwoo.

 

Mingyu mulai mengajaknya mengobrol tentang pekerjaan. Apa yang Wonwoo lakukan beberapa hari terakhir, dan juga apakah Wonwoo mengikuti sarannya. Dan Wonwoo menjawab semua pertanyaan itu. Ia menceritakan segalanya kepada Mingyu. Dan untuk saran yang psikolog itu berikan, Wonwoo masih belum melakukannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan sepertinya Mingyu mengerti keadaannya sekarang.

 

“Habiskan makananmu, Hyung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan.” Wonwoo mendongak ke atas. Ia bisa melihat awan semakin menjadi hitam pekat. Tidak ada bintang atau bulan di langit. Angin malam juga berhembus dengan kencang. Membuat Wonwoo ingin memeluk tubuhnya sendiri. Ah, ia lupa membawa jaket tebalnya.

 

“Y-ya.” Wonwoo mengangguk. Ia lebih memilih untuk menurut pada Mingyu. Lagi pula ini sudah hampir pukul sebelas malam. Wonwoo juga tidak yakin jika masih ada taxi atau bis yang lewat malam ini. Wonwoo lebih memilih untuk di antar oleh Mingyu. Lagi pula ia bisa melihat wajah Mingyu lebih lama nantinya.

 

Wonwoo kembali memakan spagettinya dengan lahap. Di ikuti Mingyu yang sekarang menyesap minumannya, dengan tatapan yang masih mengarah pada Wonwoo. Jika boleh jujur, Wonwoo sangat malu di tatap seintens itu oleh Mingyu.

 

“M-mwo?” Wonwoo mencoba menelan suapan spagetti terakhirnya. Pipinya mengembung dengan mata yang membulat ke arah Mingyu. Dan tawa khas Mingyu kembali terdengar saat melihat wajah Wonwoo di belakang.

 

“Hahaha.. H-hyung.. Wajahmu.. Hahaha…” Mingyu tertawa dengan keras. Membuat Wonwoo mendelik sebal, karena ia kembali di tertawakan. Padahal tidak ada yang salah sama sekali dengan wajahnya.

 

“Hey, Kim Mingyu! Berhenti tertawa. Kau membuatku malu.” Wonwoo berdesis ke arah Mingyu saat ia bisa merasakan tatapan orang-orang mengarah kepadanya. Tapi sialnya, Mingyu malah semakin mengencangkan suaranya.

 

“Ya! Mingyu-ya!” Wonwoo menaikkan suaranya lebih kencang. Ia bisa melihat Mingyu mencoba menahan tawanya, dan menatapnya geli.

 

“Haha. Maafkan aku. Kau lucu sekali, Hyung.” Mingyu kembali mengacak surai hitam Wonwoo dengan lembut. Kali ini sentuhan itu cukup lama, dan Wonwoo sama sekaii tidak menolaknya. Ia bahkan menatap manik obsidian Mingyu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan fokusnya sama sekali.

 

Ctarrr

 

Suara petir yang menggelegar memecah keheningan malam. Ada kilat yang membelah langit malam. Lalu setelahnya, tetesan hujan turun dengan deras. Sangat deras sampai Mingyu dan Wonwoo kembali tersadar dari lamunan masing-masing.

Cipratan air mengenai pakaian mereka, karena mereka memilih untuk duduk di luar cafe. Wonwoo berdecak sebal karena pakaiannya mulai basah. Di ikuti Mingyu yang kini menariknya untuk masuk ke dalam cafe.

 

“Ini menyebalkan! Kenapa harus hujan segala?” Wonwoo menggerutu sambil memeluk tubuhnya sendiri, agar rasa dingin yang menusuk kulitnya menghilang. Tubuhnya bergetar karena dingin. Jujur saja, Wonwoo tidak suka saat tubuhnya dingin seperti es sekarang.

 

“Well. Sepertinya hujan tidak akan berhenti.” Wonwoo mengangguk mengiyakan. Ia mulai melihat ke sekeliling. Cafe ini sudah kosong. Hanya ada sekitar sepuluh orang saja di sini. Karena memang sebentar lagi, cafe ini akan tutup.

 

“Bagaimana jika kau menginap saja di rumahku? Akan cukup lama jika mengantarmu sampai rumah. Aku yakin malam ini pasti akan macet karena hujan.” Wonwoo menoleh dengan mata membulat sempurna ke arah Mingyu yang sekarang tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Tolong katakan jika Wonwoo benar-benar salah dengar. Mingyu mengajaknya menginap? Ini pasti mimpi.

 

“E-eh?”

 

“Ya. Cafe ini akan tutup sebentar lagi.” Mingyu melirik ke dalam, di mana para pelayan cafe sudah mulai membereskan ruangan dalam. “Kita akan lari sampai ke dalam mobilku. Tenang saja, rumahku tidak jauh dari sini.” Dan selanjutnya, Wonwoo bisa merasakan tangannya di tarik dalam genggaman hangat Mingyu. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan lupa jika air hujan deras sialan ini mengguyur tubuhnya sampai basah kusup. Mingyu mengajaknya berlari di tengah hujan, dengan tangan yang saling berpegangan. Kali ini, Wonwoo sama sekali tidak benci dengan udara dingin dan juga hujan ini. Karena ia bisa merasakan sensasi hangat dan juga perlindungan dari genggaman tangan Mingyu.

.

oOo

.

Wonwoo berjalan dengan pelan. Mengikuti langkah Mingyu yang sekarang berada di depannya. Pria itu sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah megah bergaya eropa, dan mereka turun dengan keadaan basah kuyup karena tadi harus berlari menembus hujan. Sejak tadi, Wonwoo hanya bisa berdecak kagum memandangi rumah Mingyu yang bisa di bilang sangat megah dan mewah. Rumah Mingyu lebih mewah dari pada milik Jeonghan. Mereka bahkan harus masuk sejauh satu kilo meter untuk tepat berada di depan mansion mewah itu. Wonwoo tidak menyangka jika psikolog muda itu sekaya ini.

 

Pintu kembar jati setinggi tiga meter di buka pelan. Lampu di ruang tengah ini padam. Hanya lampu yang berada di pojok lah yang menyala. Membuat penerangan minim yang bisa membuat Wonwoo melihat bagaimana mewahnya rumah ini. Ada banyak sekali furniture mewah di sana. Walaupun ruangan tengah minim oleh cahaya, Wonwoo tetap bisa melihat dengan jelas kemewahan rumah ini.

 

“Anhh…” Suara erangan tiba-tiba terdengar dengan jelas. Membuat tubuh Wonwoo menegang di tempat saat mendengarnya. Ia mendengar suara desahan pria di ruangan ini. Wonwoo harap ia salah dengar. Karena tidak mungkin ada yang bercinta di rumah megah ini. Terutama di dapur. Tapi jika ini adalah rumah Jeonghan, Wonwoo tidak akan heran.

 

“Mmhhh…” Kali ini suara desahan tertahan semakin jelas saat Mingyu menarik tangannya paksa menuju tangga berbentuk spiral. Sekarang Wonwoo yakin jika ia sama sekali tidak salah dengar. Pendengarannya masih normal. Karena dari sudut matanya ia bisa dengan jelas pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.

 

“Tutup telinga mu, Hyung.” Mingyu berujar dingin saat pemuda itu menariknya menaiki tangga dengan cepat. Melewati dapur yang di mana terdapat dua sosok pria di sana. Wonwoo bisa melihat dengan jelas jika dua orang pria itu sedang bercumbu dengan panas di dapur. Pakaian pria bersurai pirang itu bahkan sudah acak-acakan. Piyamanya sudah tidak terkancing, karena pria bersurai hitam itu menciumnnya dengan ganas sambil mencoba merobek piyama yang di pakai oleh pria itu.

 

“Aw..” Wonwoo meringis saat Mingyu meremas tangannya cukup keras. Sekarang mereka sudah berada di lantai atas. Tepat berada di depan sebuah ruangan yang Wonwoo yakini adalah sebuah kamar. Kali ini Mingyu terlihat menyeramkan. Aura dingin nan menakutkan terlihat di sekeliling tubuhnya. Mungkin ini adalah salah satu alasan Mingyu menjadi seorang homophobic. Sekarang Wonwoo sudah mengetahuinya.

 

Mingyu menarik kenop pintu dengan pelan. Setelah terbuka dengan lebar, ia menarik Wonwoo untuk masuk ke dalam kamar bercat putih. Di sana ada ranjang kingsize bersprei biru, dan juga sebuah mini theater yang di lengkapi play station. Tak lupa sebuah mini bar kecil yang berada di sudut ruangan. Tepat di samping rak buku-buku kedokteran milik Mingyu.

 

“Maaf, karena kau harus melihat kejadian memalukkan seperti itu.” Mingyu melepas genggaman tangan Wonwoo.

 

“Kau membuat tanganku sakit, Gyu.” Wonwoo mendengus sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Membuat Mingyu berbalik ke arahnya, dan kembali menggenggam tangan Wonwoo. Mingyu menatapnya penuh rasa bersalah, sambil mengelus pergelangan tangannya. Berharap jika rasa sakit yang ia timbulkan di pergelangan tangan Wonwoo dapat menghilang.

 

“Maaf. Aku jadi melampiaskan kekesalanku padamu. Maafkan aku, Hyung.”

 

“Baiklah. Aku juga harus berterimakasih padamu karena sudah mengizinkanku untuk menginap.” Wonwoo menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia masih tidak menyangka jika sekarang berada di dalam satu ruangan bersama Mingyu.

 

“Tak apa, Hyung.” Mingyu kembali tersenyum, sambil mengacak surai hitam Wonwoo yang basah. Sepertinya, mengacak surai pria itu sudah menjadi hal favorit yang akan Mingyu lakukan.

 

“H-hatchii..” Wonwoo mulai bersin, sambil menggosok hidungnya yang memerah. Ah. Sepertinya ia sadar jika kedinginan seperti ini sangat tidak bagus. Wonwoo harus segera mandi air hangat, atau setidaknya tidur dengan selimut double.

 

“Kau kedinginan, Hyung. Aku akan menyiapkan air hangat di bathup untuk mu. Tunggulah sebentar.” Mingyu mulai terlihat panik saat melihat wajah Wonwoo yang sekarang memerah dengan sempurna.

 

“Ahh. Tunggu sebentar, Hyung.” Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Ia mulai berjalan menuju ke arah mini bar miliknya. Membuka lemari es kecil, dan mengeluarkan sebuah botol beer dengan kadar alkohol 20%. Beer bisa membuat tubuh hangat dengan cepat. Setidaknya ini akan menghangatkan tubuh Wonwoo.

 

Mingyu segera menarik sekaleng beer, dan membawanya ke arah Wonwoo. Pria bersurai hitam itu mengulurkannya ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo mendongak, sambil mengernyitkan alisnya. Untuk apa Mingyu memberinya beer? Hey! Wonwoo itu tidak suka alkohol. Ia bahkan tidak pernah menyecap minuman alkohol seperti itu.

 

“Untukmu. Ini akan menghangatkan tubuhmu dengan cepat Hyung. Minumlah. Aku akan menyiapkan air panas untukmu.” Mingyu menjelaskan dengan pelan. Ia menyelipkan sekaleng beer itu di dalam genggaman tangan Wonwoo. Setelah itu, Mingyu berbalik menjauh dari Wonwoo. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Punggung tegap Mingyu yang basah tercetak dengan jelas di kaos putih yang ia pakai. Sial! Pria itu memang menggodanya!

 

“Hah.. “ Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai berjalan menuju ranjang king size, sambil membuka kancing kemejanya satu persatu. Air hujan yang menempel di bajunya itu malah membuatnya semakin menggigil. Wonwoo juga mulai melepas sepatu beserta celana denim yang ia kenakan. Sehingga ia hanya mengenakan underwear saja.

Wonwoo bisa merasakan hawa dingin ac di kamar Mingyu menerpa kulitnya. Dengan cepat, ia segera naik ke atas ranjang, dan masuk ke dalam selimut tebal milik Mingyu. Sehingga aura dingin berganti menghangatkan kulitnya sedikit demi sedikit.

 

“Ahh.. Nyaman sekali..” Wonwoo bergumam. Ia mulai duduk, sambil membuka kaleng beer yang ada di tangannya. Dengan senyum mengembang, ia segera menegak beer itu. Beberapa teguk, sebelum akhirnya Wonwoo merasa puas karena minuman itu seakan membuatnya melayang. Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh. Menggantikan rasa dingin yang tadi ia rasakan.

 

Wonwoo menyukai sensasi ini. Tanpa menunggu lagi, ia segera menegak kaleng beer itu sampai tandas. Sehingga tak ada yang tersisa setetes pun. Sial! Wonwoo ingin lagi! Sensasi ini benar-benar membuat tubuhnya memanas dengan cepat.

 

“Ahh..” Wonwoo mendesah kecil saat botol kaleng dingin itu menyentuh putingnya. Sensasi aneh kembali Wonwoo rasakan. Putingnya menegang dengan cepat hanya karena sentuhan kecil itu. Membuat Wonwoo ingin menyentuh tubuhnya sendiri.

 

Dan tanpa berkipir dua kali. Ia mulai menyentuh putingnya. Bagian sensitive yang selalu Wonwoo mainkan saat onani. Tubuhnya meringkuk. Selimut yang tadi menutupi tubuh polosnya terjatuh ke lantai. Hingga memperlihatkan tubuh polos pria itu. Sebelah tangan Wonwoo menyentuh puting kanannya, dan tangan kirinya menyentuh genital yang sudah menegang di balik underwear yang ia pakai. Meremasnya dengan gerakan perlahan, yang membuat darahnya berdesir dua kali lipat.

 

“H-Hyung, Apa yang sedang kau lakukan?” Dan suara bariton itu membuat Wonwoo menghentikan aktivitasnya. Ia mendapati sosok Mingyu yang sekarang membulatkan manik obsidiannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.

 

TeBeCe

Oh yeah.. kampret kan gue? Wkwk emang. Gue emang kampret. Selalu seperti ini. sabar yah. Wkwk

Sorry lama. Saya sibuk soalnya. Ini seriusan. Bukannya pura-pura sibuk loh. Saya ini lagi freetime makanya ngerjain FF lagi. Kemaren sibuk ngerjain FF buat event di tengah-tengah kegalauan dan sibuknya real life ngurusin sekolah. Sekarang juga lagi sibuk ngerjain FF buat event lagi. Deadlinenya bentar lagi pula. Aduh hayati ga kuat. Wkwk

Sekali lagi maaf karena ngaret. Wkwk makasih buat yang udah review. Saya cinta kalian !! :*

Betewe jangan harap ini kayak ten count yah. Ini ga akan sepenuhnya sama. Saya hanya ngambil beberapa scene yang mungkin mirip. Ini bukan remake soalnya. Wkwk

 

Euhmm.. Buat Treat Me Gentle Ver.. Saya masih galau siapa yang harus saya buat remakenya. Wkwk. Bagian ini juga keinspirasi brief pantsu nemu. Wkwk. Iya gue emang nista bin kampret.

Udah ah bacotnya. Jangan lupa Review loh biar aku semangat!! Jangan jadi siders mulu dong qaqa. Nanti ga aku kasih scene ena-ena loh. Wkwk. Kalau reviewnya lebih banyak dari yang kemaren biasanya aku update cepet karena semangat. Wkwk.

 

So, Mind To Review?

 

Astia Morichan ^^

Ruin | KyuMin Fanfict| Yaoi|OneShot

0

Cause I’m not tryna ruin your happiness.

Eventhough you dont mean to hurt me. You keep tearing me apart.

~KyuMin~

 

Seperti biasa. Ini adalah khayalan saya. Khayalan sedih saya. Saya sedih kalo ingat kejadian dua tahun lalu.

 

.

.

 

Kata orang, jatuh cinta itu indah. Jatuh cinta juga bisa membuatmu sakit sampai rasanya, nyawamu akan di renggut saat orang yang kau cintai meninggalkanmu.

Dan Kyuhyun merasakannya. Ia tahu apa yang orang-orang katakan tentang cinta bukan bualan semata. Mereka semua benar. Cinta itu indah dan juga menyakitkan. Kyuhyun mengalaminya. Ia berkali-kali jatuh hanya karena terlalu mencintai seorang Lee Sungmin.

Kyuhyun jatuh cinta pada pemuda manis itu sejak pertama kali mereka bertemu. Apalagi saat cinta terlarang ini terbalas oleh Sungmin. Kyuhyun sangat bahagia, sampai rasanya ia tidak bisa menjelaskan semua kebahagian yang Sungmin berikan.

 

“Aku mencintaimu, Hyung.” Wajah pemuda berkulit pucat itu merona. Kyuhyun sangat gugup saat mengatakan hal ini pada Sungmin. Jantungnya berdetak dengan keras. Ini adalah keputusan besar yang Kyuhyun ambil. Kyuhyun akan mengambil semua resiko yang ada. Jika Sungmin akan menjauhinya nanti karena pengakuannya. Kyuhyun tidak tahan memendam perasaan ini lebih lama lagi.

 

“Aku pria. Sama sepertimu, Kyuhyun-ah.” Suara Sungmin sangat pelan. Seperti berbisik. Jika saja mereka tidak berada di kamar, mungkin saja Kyuhyun tidak bisa mendengarnya.

 

“Aku tidak peduli, Hyung. Jika dunia menghujat kita nanti, aku adalah orang yang akan menggenggam tanganmu sampai akhir Lee Sungmin.” Tangannya terulur ke arah dagu Sungmin. Membuat Sungmin mengadah, dan menatap manik obsidian Kyuhyun yang kelam. Manik obsidian yang selalu membuatnya terpesona dan terjerat sekaligus.

 

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, Kyu. Jika kita memulai ini, mungkin bukan kau saja yang hancur. Tapi aku juga. Ini salah. Ini tidak boleh terjadi.” Sungmin menggeleng dengan keras. Ia tidak mau memulai hal ini. Walau hatinya bersorak bahagia saat mendengar pengakuan Kyuhyun. Kyuhyun mencintainya. Seperti ia yang mencintai Kyuhyun.

 

“Aku akan mengambil semua resikonya, Ming. Kau menyukaiku, dan aku juga sangat menyukaimu. Kita jalani semuanya bersama. Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.” Kyuhyun menarik tangan Sungmin. Menggenggamnya dengan erat. Seolah meyakinkan Sungmin jika semua akan baik-baik saja.

 

“Percaya padaku, Ming.” Sungmin mengangguk sebagai balasan. Setelahnya, Kyuhyun bisa bernapas dengan lega. Senyum bahagia terukir di wajah tampannya. Sungmin menyetujuinya. Sekarang Lee Sungmin adalah kekasih dari Cho Kyuhyun.

Di tariknya tubuh mungil Sungmin ke dalam dekapan hangatnya. Kyuhyun memeluknya dengan erat. Ia tak henti mengucapkan terimakasih pada Sungmin. Di sertai dengan kecupan singkat di bibir plum pemuda itu. Ciuman pertama mereka yang membuat darah mendesir di sertai rasa bahagia yang membuncah. Sampai Kyuhyun tidak bisa menjabarkan semuanya lagi.

 

“Cih.” Kyuhyun mendecih pelan, saat ia kembali mengingat momen itu. Jika saja Sungmin tidak pernah memberi perhatian saat ia pertama kali menjadi member Super Junior, mungkin saja Kyuhyun tidak akan terpesona. Jika saja Sungmin ikut mengabaikannya, mungkin Kyuhyun tidak akan jatuh cinta pada pemuda itu.

.

oOo

.

 

Saat ini ia tengah berada di sebuah ruangan khusus miliknya yang ada gedung theater. Bersama Lee Sungmin yang datang dengan raut wajah marah beserta amukan marahnya untuk Kyuhyun. Pria itu kembali marah hanya karena hal sepele. Padahal Kyuhyun sudah menjelaskannya berkali-kali. Tapi tetap saja Sungmin selalu seperti ini. Kyuhyun sudah lelah di permainkan oleh kekasihnya.

 

“Kita hentikan semua ini, Hyung.” Manik obsidiannya menatap tajam pria mungil bersurai hitam yang ada di depannya. Kyuhyun bisa melihat Sungmin membulatkan manik foxynya seakan meminta penjelasan.

 

“Kau benar. Mungkin seharusnya kita tidak memulai ini semua. Seharusnya kau menolakku mentah-mentah saat itu!” Kyuhyun berteriak ke arahnya. Ia sudah lelah dengan semua ini. Mereka kembali bertemu secara sembunyi-sembunyi. Seperti saat ini, Lee Sungmin datang menonton acara drama musikal miliknya. Lalu pemuda itu berteriak marah saat Kyuhyun melakukan beberapa adegan panas bersama pemain lainnya di sana.

Sungmin-nya tidak mengerti, jika Kyuhyun sudah lelah. Jika Sungmin memang sangat mencintainya, seharusnya ia meninggalkan wanita itu.

 

“Istrimu mungkin menunggu di rumah. Pulanglah. Aku lelah, Hyung.”

Sungmin masih terdiam. Enggan menjawab. Ia tidak ingin semua ini berakhir.

 

“Apa kau tidak ingin aku berada di sisimu lagi,  Kyu?” Sungmin mendongak. Manik foxynya mulai berair, dan Kyuhyun benci melihat Sungmin menangis seperti itu.

 

“Kali ini, aku bertanya padamu untuk terakhir kalinya. Siapa yang akan kau pilih? Aku atau istri yang kau nikahi itu?” Suara Kyuhyun semakin dingin. Manik obsidiannya kembali menatap Sungmin dengan tajam. Kyuhyun butuh jawaban yang pasti. Ia sudah lelah menunggu.

 

“Kau tahu alasanku menikahinya, Cho!”

 

“Dan aku tidak peduli apapun alasanmu itu, Lee Sungmin. Jika kau memang setakut itu kehilanganku, maka ceraikan dia! Aku tidak ingin di cap sebagai selingkuhan suami orang.” Kyuhyun menekan kata-katanya. Membuat Sungmin memberingsut mudur. Tubuh pemuda itu bergetar hebat. Dan Kyuhyun tahu, jika ia sudah keterlaluan.

“M-m-maafkan.. A-aku.” Sungmin menunduk. Menyembunyikan air mata yang sekarang mulai menghiasi wajahnya.

 

“Kau tahu ? Sudah berapa kali kau membunuhku, Lee Sungmin? Kau sudah berkali-kali membunuhku, lalu menghidupkanku kembali dengan cintamu itu. Kau tahu? Aku bahkan rela di sakiti olehmu, Ming. Apa kau sama sekali tidak mengerti? Aku bukanlah seorang malaikat yang sabar menunggu kekasihku bersama orang lain. Aku lelah bertahan untukmu, Ming. ” Ada rasa tidak rela saat melihat Sungmin menangis seperti ini di hadapannya. Ingin sekali Kyuhyun memeluk Sungmin saat ini. Tapi Kyuhyun tidak bisa bertahan terus seperti ini. Jika Sungmin memang mencintainya, pria itu pasti akan memilihnya lagi.

 

“D-dia hamil, Kyu..” dan Kyuhyun kembali merasakan nyawanya di renggut paksa. Lee Sungmin kembali membunuhnya kali ini. Rasa sakit yang timbul di hatinya lebih terasa menyakitkan. Udara di sekitarnya seakan menipis. Kyuhyun tidak bisa bernapas dengan baik. Rasanya sesak sekali. Sampai ia ingin sekali menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, jika ini benar-benar menyakitkan.

 

“Selamat. Kau sudah menjadi seorang ayah.” Kyuhyun mencoba memberikan senyum terbaikknya. Mungkin ini adalah jalan yang paling baik. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagian keluarga kecil kekasih tercintanya.

 

“Aku tidak ingin mendengar ucapan selamat darimu, Cho!” Sungmin berteriak. Di sertai isakan lirih yang lolos dari bibirnya.

 

“Lalu kau ingin aku mengucapkan apa?”

 

Sungmin kembali terdiam kaku. Ia bingung. Ia masih sangat mencintai Kyuhyun.

 

“Hentikan ini. Aku akan melupakan semuanya. Aku juga akan mencari gadis untuk aku nikahi nanti. Tenang saja. Kau akan menjadi orang pertama yang akan ku beritahu.” Kyuhyun menarik Sungmin ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, dan mencoba menghirup aroma Sungmin untuk terakhir kalinya. Ini akan menjadi pelukan mereka yang terakhir. Dan Kyuhyun akan mengingat semua ini dengan baik.

“Mianhae, Saranghae Cho Kyuhyun. Kau harus bahagia. Sama sepertiku.” Dan Kyuhyun hanya bisa mengangguk di dalam pelukan Sungmin. Tubuhnya ikut bergetar menahan isak tangisnya. Ini menyakitkan. Cinta yang awalnya Kyuhyun pikir akan selalu menjadi indah, kini telah membusuk dan menyakiti dirinya sendiri. Seharusnya Kyuhyun tahu, jika ia tidak boleh memulainya. Jika saja Kyuhyun mempunyai keberanian lebih saat itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Sungmin akan menjadi miliknya, dan mereka akan bahagia selamanya.

 

Kyuhyun hanya akan mengingat semua ini dalam memori kelamnya. Ia akan mengubur semuanya, dan mencoba kembali hidup seperti saat dimana Lee Sungmin tidak ada.

“Nado saranghae, Cho Sungmin.”

 

FIN

 

MEWEK GUE NGETIK INI…

Galau gue. Masbuloh?
Ada kah yang miris kaya gue?
Adakah Joyer di sini yang penderitaannya sama kaya gue?
Gue kangen para joyer. Gue kangen author kyumin. Gue kangen. Gue rindu. Sangat.
Gue kangen share kenistaan bareng.
Ada yang same feel sama gue?

GUE CURHAT AH.. SEDIH MASA LIAT AUTHOR KYUMIN PADA GA NULIS FF KYUMIN LAGI. OKE SAYA JUGA TERMASUK. SAYA TAHU ITU KOK. SEDIH TAU.. PAS LIAT SIGMAME EON GA AKAN UP LAGI KM. PAS RAINY EON JUGA. SEDIH SAYA. MEREKA AUTHOR FAV SAYA SEMUA. YANG MASIH STAND STILL HANYA MAMIJU2E EON AJA.

APA SAYA JUGA HARUS BALIK LAGI NULIS KYUMIN SEPERTI EMPAT TAHUN LALU? HARUSKAH? TAPI SAYA SEDIH. SAYA NULIS KYUMIN KALO PAS GALAU MELANDA KAYAK GINI.

SAYA HARUS APA? KYUMIN ITU OTP PERTAMA SAYA. OTP TERBAIK. OTP YANG SAYA ANGGAP REAL, DAN SAYA GA PERNAH MERAGUKAN KEREALAN MEREKA. TAPI SIALNYA, TAKDIR BERKATA LAIN.

CINTA SAYA BUAT KYUMIN MASIH BESAR. BELUM TERHAPUS. BELUM ADA OTP LAIN YANG MENGGANTIKAN SOSOK KYUMIN DI HATI SAYA. AKAKURO AJA BELUM SEPENUHNYA. 😥

MASIH ADA YANG NGEGANJEL. DARI KYUMIN. ADA YANG BELUM BERES, DAN SAYA MASIH HARUS NUNGGU SEMUANYA SELESE. ADA YANG NGERASAAIN HAL SAMA KAYAK SAYA? KAYA GITU TUH.

 

EOTHAE?

 

Bye aja deh. Saya mau curhat di blog aja.

Sayonara

Salam JOYer sejahtera!

Astia Morichan