You’re Mine Tetsuya | Chap 5| AkaKuro| Yaoi

0

Tetsuya terdiam kaku saat Seijuurou mendudukan tubuh mungilnya di sebuah couch beludru berwarna coklat yang ada di apartemen mewah- yang bagaikan suite room di hotel ternama- milik Akashi Seijuurou. Tetsuya tidak pernah tahu jika Seijuurou mempunyai apartemen semewah ini. Well, harus di akui, keluarga Akashi memang kaya raya. Sejak tadi, Tetsuya bahkan berdecak kagum ke seluruh penjuru ruangan mewah milik Seijuurou ini. Apartemen Seijuurou sangat luas untuk di isi oleh satu orang saja. Ruang tengah, lalu ada sebuah sekat yang memisahkannya dengan dapur, dan terakhir kamar milik Seijuurou. Di kamar ini, ada beberapa rak buku yang menjulang tinggi, di sertai satu set cheese game yang di simpan di sudut ruangan yang mengarah ke balkon.

 

“Minumlah dulu, Tetsuya. Aku sudah memberitahu Ibu mu jika kau menginap di tempatku.” Suara Seijuurou membuyarkan lamunan Tetsuya. Membuat pemuda bersurai biru itu tersentak, dan mengerjapkan matanya, saat melihat Seijuurou mengulurkan sekaleng cola.

 

“T-terimakasih.” Tetsuya mengambil cola itu dengan cepat. Ia tidak ingin menatap Seijuurou lama. Debaran jantungnya selalu menggila saat berada di dekat pemuda itu. Apalagi Tetsuya masih ingat kejadian beberapa jam lalu saat dirinya mendesah di bawah kungkungan Seijuurou. Sungguh, Tetsuya benar-benar malu!!

 

“Hm.” Seijuurou berdehem pelan. Lewat ekor mata Tetsuya, ia bisa melihat pemuda bersurai crimson itu duduk di sampingnya. Membuat Tetsuya refleks menjauhkan jarak dari Seijuurou. Dan tingkahnya itu malah di hadiahi kekehan khas Seijuurou, yang terdengar menyebalkan di telinga Tetsuya.

 

“Aku tidak tahu jika Tetsuya benar-benar menyukaiku.” Ucapan Seijuurou yang di iringi tawa itu membuat Tetsuya hampir saja tersedak dengan matanya yang menatap horor pada Seijuurou. Hey! Sejak kapan Seijuurou menjadi orang sepede ini?

 

“Kau terlalu percaya diri Akashi-kun.” Tetsuya mendelik ke arahnya, dan delikan itu malah membuat Seijuurou menyeringai kecil. Sebelum akhirnya menarik tangan Tetsuya, hingga pemuda bersurai biru itu memekik pelan, dan menatap ke arah Seijuurou. Tubuh mungil Tetsuya terdorong hingga berbaring di couch, dan kembali berada di bawah kungkungan Seijuurou.

 

“Ini bukti jika Tetsuya menyukaiku.” Seijuurou mendekatkan wajahnya, dan hal itu membuat Tetsuya menahan nafas saat wajah Seijuurou hanya berjarak beberapa senti.

 

“Apa Tetsuya tahu teori cinta prisma segitiga?” Tetsuya dengan cepat menggeleng dengan mata terpejam saat mendengar pertanyaan Seijuurou. Teori cinta prisma segitiga katanya? Memang ada teori seperti itu? Teori yang Tetsuya tahu adalah teori hukum mutlak matematika dalam kalkulus, yang sepertinya sangat cocok untuk Seijuurou.

 

“Kalau begitu, aku akan memberitahu Tetsuya.” Seijuurou berbisik seduktif di telinga Tetsuya, sebelum akhirnya meniup telinga Tetsuya dengan pelan. Hingga membuat Tetsuya yang sejak tadi menahan napas, mendesah kecil.

 

“Satu..” Bibir Seijuurou mengecup telinga Tetsuya. “Pendekatan. Aku sudah mengetahui seluk beluk Tetsuya. Begitupun Tetsuya yang sangat mengenalku.” Lalu tangan Seijuurou bergerak menyentuh leher Tetsuya, hingga membuat Tetsuya sedikit memiringkan lehernya.

 

“Dua..” Kini ciuman itu mendarat di leher Tetsuya. Mengecup leher jenjang itu pelan, sebelum akhirnya memberi sebuah tanda kepemilikan di sana. Menghisap dan menjilatnya beberapa kali, hingga membuat Tetsuya mengerang hanya karena ciuman itu. “Ketertarikan. Seperti aku yang sangat tertarik dan menyukai Tetsuya sejak dulu.”

 

Ucapan Seijuurou, entah kenapa membuat Tetsuya semakin berdebar tak karuan. Rasanya Tetsuya bahagia hanya mendengar ucapan itu. Bagaikan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Tetsuya benar-benar takut jika Seijuurou mendengar detak jantungnya yang semakin menggila.

 

“Ketiga..” Kali ini, bibir Seijuurou berada tepat di bibir plum Tetsuya. Kemudian mengecupnya cukup lama. Ciuman singkat tanpa adanya nafsu di sana. “Komitmen. Aku hanya bisa menjanjikan satu hal untuk Tetsuya.” Seijuurou menjauhkan jaraknya pada Tetsuya. Hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Tetsuya yang sudah benar-benar memerah di depannya itu sungguh menggoda.

“Jika Tetsuya ikut pindah bersamaku, aku janji akan membahagiakan Tetsuya. Tidak peduli jika nanti orangtua kita mengetahui hubunganku dengan Tetsuya. Aku hanya ingin tinggal bersama Tetsuya. Asal Tetsuya bersamaku, maka semua akan baik-baik saja.” Tetsuya bisa melihat keseriusan dari manik heterechomia itu. Seijuurou nampak sangat serius dengan ucapan, dan membuat Tetsuya entah kenapa merasa sangat bahagia. Tetsuya bahkan lupa jika sejak tadi ia memikirkan orientasi seksualnya seperti apa. Saat ini, Tetsuya seakan tidak peduli. Mungkinkah benar jika Tetsuya mencintai Seijuurou?

 

“Ketika ketiga unsur itu menjadi satu, maka itu adalah cinta. Aku mencintai Tetsuya. Tidak peduli jika dunia akan menghujat kita nanti. Asal Tetsuya bersamaku, maka itu sudah cukup.”

 

Mereka terdiam beberapa sesaat. Sebelum akhirnya suara helaan nafas dari Tetsuya terdengar. Tangan pemuda bersurai biru itu kini bergerak untuk menangkup wajah Seijuurou. Membuat si surai crimson itu mengernyitkan alisnya. Apa sekarang Tetsuya sudah berubah pikiran dan menerima Seijuurou apa adanya?

 

“Aku tidak tahu.” Kali ini, Tetsuya menggeleng dengan keras.

 

“A-apa yang Akashi-kun harapkan dari hubungan ini? Kau tahu? Tidak akan ada harapan dari hubungan dua orang pria, Akashi-kun.”

 

“Kau mencintaiku Tetsuya.” Manik heterechomia menatap tajam. Seakan enggan mendengar penolakan yang keluar dari mulut Tetsuya. Seijuurou bahkan tidak peduli dengan pemikiran orang lain.

 

“Masa depan Akashi-kun akan hancur jika bersamaku.” Itu benar. Apa yang Tetsuya ucapkan adalah sebuah kebenaran. Jika Tetsuya memulai hubungannya bersama Seijuurou, hidup pemuda itu akan hancur. Apalagi jika Ayah Seijuurou tahu hubungan mereka. Itu aib. Tidak akan ada akhir bahagia dari hubungan dua orang pria. Walaupun Tetsuya akui, jika mungkin memang ia mempunyai perasaan untuk Seijuurou. Debaran itu nyata, dan itu hanya untuk Seijuurou saja.

 

“Kau bukan Tuhan yang bisa memprediksikan segalanya!” Seijuurou membentak Tetsuya. Tangannya bergerak mencengkram bahu pemuda bersurai biru itu dengan erat. Hingga membuat Tetsuya meringis karena cengkraman Seijuurou terlalu kasar.

 

“Aku hanya tidak ingin Akashi-kun hancur karena ego semata. Kau hanya bingung, Akashi-kun!” Suara Tetsuya meninggi beberapa oktaf. “ Dan A-aku bukan g-gay.”Suaranya mengecil dan mengalihkan pandangannya dari Seijuurou.

 

“Aku mengatakan yang sebenarnya Tetsuya! Aku mencintaimu, Kuroko Tetsuya!”

 

“Ini salah Akashi-kun!” Manik aquamarinenya mulai membalas tatapan tajam Seijuurou.

 

“Aku akan membuktikannya pada Tetsuya. Dan kau juga sama denganku. Tetsuya mencintaiku.” Ucapan terakhir Seijuurou berakhir di iringi dengan pekikan keras Tetsuya, saat Seijuurou mendaratkan bibirnya pada perpotongan leher Tetsuya, dan mengigit leher itu hingga membuat tanda yang kontras di sana. Kemudian manik heterochomia itu menatap tajam Tetsuya yang kini menatapnya takut. Tatapan Seijuurou seakan menguliti dirinya.

 

“Tetsuya hanya perlu menikmati saja.” Sebelum Tetsuya sempat membalas ucapan Seijuurou, pemuda bersurai crimson itu membawanya ke dalam ciuman panjang miliknya. Melumat bibir Tetsuya dengan kasar, hingga membuat Tetsuya membuka mulutnya. Membiarkan lidah Seijuurou membelai lembut lidah miliknya, dan menghisap lidahnya dengan kasar.

 

“Ehmm….” Erangan tertahan itu terdengar. Tenaga Tetsuya seolah di serap habis akibat ciuman Seijuurou yang membuat kepalanya seakan pusing. Apalagi saat tangan Seijuurou bergerak membuka kaitan kancing seragam miliknya. Hingga membuat tubuh Tetsuya terekspos. Memperlihatkan tubuh seputih porselen, yang membuat Seijuurou hilang akal saat menyentuhnya. Apalagi saat tangannya menyentuh lembut tubuh Tetsuya dengan gerakan sensual, yang membuat Tetsuya mengigit bibir bawahnya keras-keras. Agar tidak mengeluarkan sebuah desahan.

 

“Anhhh..” Desahan itu keluar dari mulut Tetsuya. Saat lidah Seijuurou bergerang menyentuh putingnya. Menghisapnya dengan pelan. Hingga membuat Tetsuya hilang akal. Sungguh. Tetsuya tidak tahan dengan sensasi yang Seijuurou berikan. Tubuh dan genitalnya sudah menegang karena sentuhan itu. Ini semua salah. Tetsuya harus menghentikan semuanya. Sebelum benar-benar terlambat.

 

“A-akashi-kun..” Seijuurou mengadah saat mendengar suara kecil Tetsuya memanggil namanya. Ia bisa melihat Tetsuya menatapnya dengan sayu, dan penuh permohonan.

 

“L-lepaskan aku..” Suara Tetsuya begitu lirih. Matanya mulai berair menahan tangis. Tapi Tetsuya yang seperti ini lah yang menghancurkan pertahanannya. Tetsuya menggodanya dengan ekspresinya yang seperti itu.

 

“A-aku akan membencimu jika kau melanjutkan ini.” Kali ini suara Tetsuya terdengar lebih tegas. Membuat Seijuurou terdiam sejenak. Sebelum akhirnya menjauh dari tubuh Tetsuya. Pemuda bersurai crimson itu kini mulai berdiri. Meninggalkan Tetsuya yang sekarang memberingsut dan langsung terduduk.

 

“Maafkan aku.” Ucapan singkat itu terdengar. Sebelum akhirnya Seijuurou berjalan menjauh. “Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran Tetsuya.”

 

Tetsuya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera merapikan kembali seragamnya. Memakainya dengan terburu-buru. Membawa tasnya, dan mulai menjauh dari Seijuurou. Berjalan ke arah pintu yang akan mengantarkannya keluar. Walau sejujurnya, jauh di dalam lubuk hati Tetsuya, ia kecewa pada Seijuurou karena membiarkan dirinya pergi seperti ini. ia juga marah pada dirinya sendiri, karena masih mengharapkan Seijuurou untuk mengejarnya. Egois bukan?

 

.

oOo

.

You’re Mine Tetsuya !!

M

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

Romance, Drama

Warning: Typo, OOC, Yaoi dll. Please be patient with me ^^

Kuroko tahu Ucapan Akashi itu mutlak. Tapi Ia tak mengerti dengan perintah Akapyi shi yang menyuruhnya untuk pindah ke SMA Rakuzan dan meninggalkan Seirin. Lalu keadaan dimana Akashi menciumnya sepihak. Hey! Kuroko itu normal kan? Dan hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

a/n: Sumpah. Ini ngaret banget, hampir setahun yah? -_- demi apa gue ngaretin banget kerjain FF ini. well, ternyata buat canon itu susah. Gue sampe stuck mau buat ini kayak gimana. Chap depan tamat aja deh. Takut malah jadi kacau karena ini basisnya ke Canon-_- lelah gue qaqa -_- BL AKKR aku dis aja yah. Daku hapus. Gomen. Maafkan -_- kalo kalian lupa cerita ini. baca lagi dari awal ._.

EnJOY!

Happy Reading

.

oOo

.

 

Tetsuya membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia bahkan mengabaikan teriakan ibunya dari bawah. Karena tiba-tiba berlari masuk ke rumah, dan menaiki tangga tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Jujur, Tetsuya bingung. Ada yang salah dengan dirinya. Tetsuya tidak mengerti. Ia bahkan membanting tas miliknya, sebelum akhirnya berbaring di atas ranjang dan merutuki kebodohan yang ia punya.

 

“Ini menyakitkan.” Tangan Tetsuya bergerak menyentuh dadanya yang seakan teriris. Manik aquamarine yang sejak tadi menatap langit-langit kamar mulai berair. Tetsuya tidak tahu kenapa ia ingin menangis. Ia hanya merasa kehilangan.

 

Seharusnya Tetsuya senang karena Seijuurou melepasnya. Bukankah Tetsuya ingin Seijuurou kembali ke Kyoto dan tidak mengejarnya lagi? Bukankah Tetsuya ingin Seijuurou sadar jika hubungan sesama jenis itu salah? Setelah Seijuurou menyerah, kenapa Tetsuya harus sedih? Bahkan bernapas pun rasanya sulit sekali.

 

Mata Tetsuya mulai tertutup.membiarkan linangan air mata membasahi pipinya. Mungkin menangis akan menghilangkan rasa menyakitkan yang sekarang menggerogoti hatinya. Tetsuya harap jika ia tidak benar-benar jatuh cinta pada sosok Seijuurou. Walaupun mengucapkan mantra, jika ia bukanlah gay pun, itu tidak akan berefek saat ini. Jika memang ia tidak jatuh cinta untuk Seijuurou, Tetsuya seharusnya tidak bereaksi karena di sentuh pemuda itu. Tetsuya seharusnya marah, dan bukannya membiarkan Seijuurou menyentuh tubuhnya dengan seenak jidat.

 

“Ini bukan cinta.” Bergumam pelan hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ini bukan cinta. Rapalan mantra itu mungkin tidak akan berefek. Tapi biarkan Tetsuya berharap mantra itu akan mempunyai efek di esok hari. Tetsuya harap, ketika ia terbangun nanti perasaannya untuk Seijuurou akan segera menghilang.

.

oOo

.

 

Keesokan paginya, Tetsuya terbangun dengan perasaan kosong. Tidak menentu. Masih ada yang hilang dari dalam diri Tetsuya, dan ia tidak tahu sesuatu yang hilang itu apa. Tetsuya merasa hampa. Bahkan ia merasa enggan untuk bangkit dari tempat tidur, saat suara Ibunya berteriak dari bawah. Tetsuya juga tidak peduli jika ia akan telat. Tetsuya benar-benar malas.

 

 

Drrtt

 

Getaran ponsel Tetsuya membuatnya mengalihkan perhatian pada nakas yang ada di samping. Dimana ponsel miliknya tersimpan. Manik aquamarinenya bisa melihat dengan jelas sebuah pesan masuk yang berasal dari Ryouta.

Dengan cekatan, ia mulai mengambil ponselnya, sambil tetap berbaring di ranjang. Tangan Tetsuya menggeser slide layar hingga terbukalah pesan singkat itu.

 

From : Kise-kun

 

Tetsuya-chii, apa benar Akashi-chii sudah kembali ke Kyoto? Padahal aku dan Aomine-chii ingin mengajaknya makan malam nanti.

 

Jantung Tetsuya kembali berdetak tak karuan saat membaca nama Seijuurou di sebutkan. Benarkah Seijuurou sudah pergi ke Kyoto? Kenapa bisa secepat itu?

 

To : Kise-kun

 

Aku tidak tahu, Kise-kun.

 

Tetsuya mengetik pesan itu cepat, sebelum mengirimnya pada Ryouta. Tetsuya memang tidak tahu. Ia tidak tahu jika Seijuurou pergi secepat itu. Entah kenapa Tetsuya bisa merasakan dadanya kembali sesak saat menyadari jika mungkin ini adalah kesalahannya Seijuurou pergi. Kenapa Seijuurou harus pergi? Kenapa Tetsuya kecewa? Bukankah seharusnya Tetsuya senang karena Seijuurou tidak akan mengganggu kehidupannya lagi?

 

From : Kise-kun

 

Tadi aku menelepon Akashi-chii. Tapi yang mengankat ponselnya malah Mayuzumi. Aku heran kenapa ponsel Akashi-chii ada pada Mayuzumi di saat seperti ini. aku bahkan belum bersiap ke sekolah. Ya sudahlah Kuroko-chii. Mungkin lain kali aku akan mengajak Akashi-chii makan bersama kita.

 

Saat membaca deretan pesan dari Ryouta, entah kenapa Tetsuya merasa tidak suka dengan keberadaan Mayuzumi. Pria itu memang dekat dengan Seijuurou. Tetsuya tahu itu. Mereka pernah bertemu saat di winter cup dulu. Jika Seijuurou sudah berada di Kyoto pagi ini, maka pemuda itu memang pergi ke rumahnya saat Tetsuya memutuskan pulang. Jika Seijuurou mencintai Tetsuya, bukankah pemuda itu seharusnya berusaha lebih untuk mendapatkannya? Ah. Kenapa pula Tetsuya harus berharap seperti itu?

 

“S-sepertinya aku memang harus mendinginkan kepalaku.” Tetsuya bergumam ragu. Merapalkan mantra jika ia sama sekali tidak mencintai Seijuurou. Dan berharap mantra itu bekerja walau beberapa saat.

 

TebeCe

 

Chap depan tamat deh. Serius. Mau daku selesein aja. Ini makin gaje dari plot awal yah? Entah lah gue aja ga paham apa yang gue ketik -_-

 

Sampai jumpa. Dadah. Sayonara.

Mind To Vomen?

Advertisements

The Man Who Cant Be Moved [ Sequel Of Running Low] AkaKuro | Yaoi

0

 

 

 

Tetsuya mengalihkan fokus retinanya pada pemandangan yang ada di depan mata. Ia bisa melihat dengan jelas salju mulai turun satu persatu. Butiran putih yang kini menggenang di setiap pohon yang ada di depan kamarnya. Jika seperti ini, Tetsuya akan mengingat lagi kenangan lama. Ya. Kenangan bersama dengan Akashi Seijuurou- Pria yang pernah menjadi sahabat dekatnya. Pria yang menyatakan perasaannya. Pria yang selalu Tetsuya sakiti berkali-kali.

Jujur. Tetsuya sangat merindukannya sekarang. Dulu, jika Seijuurou ada, Tetsuya akan memeluk pria itu dengan erat. Agar ia tidak perlu menggigil karena kedinginan yang tubuhnya rasakan. Ia rindu kehangatan tubuh Seijuurou yang selalu memeluknya dengan erat. Tetsuya juga rindu kecupan singkat yang selalu Seijuurou lakukan saat ia pura-pura terlelap. Tetsuya bukanlah orang bodoh yang tidak tahu perasaan Seijuurou. Tatapan cinta Seijuurou selalu terpancar untuknya, dan Tetsuya tidak pernah mengelak, karena ia juga mencintai Seijuurou. Walaupun ia tahu semua ini salah. Maka hanya jalan inilah yang Tetsuya harus pilih.

 

“Ne.. Tetsu-kun..” Suara merdu dari wanita bersurai pink itu menggema di ruangan ini. Membuat Tetsuya menoleh saat melihat sosok Momoi Satsuki. Ah ralat. Kuroko Satsuki yang berjalan mendekat ke arahnya. Ya. Satsuki adalah istri sah Tetsuya. Sebenarnya, ia merasa kasihan pada Satsuki. Tetsuya harusnya tidak bertindak egois seperti ini, jika ia hanya menyakiti perasaan Satsuki. Sejak mereka menikah hampir dua tahun lalu, Tetsuya sama sekali tidak pernah menyentuh istri cantiknya itu. Karena Satsuki sadar, sebenarnya Tetsuya tidak mencintai dirinya lagi. Ah. Bukan. Tetsuya memang tidak pernah mencintainya selama ini.

 

Tetsuya mengerutkan alis saat melihat Satsuki menatapnya dengan pandangan sendu. Apalagi saat wanita itu menarik tangannya, agar Tetsuya bisa melihat dirinya dengan jelas.

Hening beberapa saat. Satsuki hanya menatap wajah Tetsuya lama, sebelum akhirnya ia berucap.

 

“Bagaimana jika kita berpisah saja, Tetsu-kun? Kau tahu? Kau tidak boleh seperti ini terus. Kau harus mencari lagi Akashi-kun. Aku tidak apa-apa. Sungguh.” Manik aquamarine Tetsuya membulat saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Satsuki. Ia bahkan tidak pernah membayangkan jika Satsuki akan mengatakan hal itu. Istrinya meminta cerai. Istrinya meninggalkan Tetsuya. Sama dengan Seijuurou yang meninggalkannya.

 

“K-kau ingin bercerai denganku?” Dan pertanyaan itu di sambut dengan anggukan pelan Satsuki. Tetsuya tahu, Satsuki sudah menderita selama ini. Terkadang, Tetsuya merasa menjadi orang yang sangat bodoh karena tidak tertarik dengan gadis secantik Satsuki.

 

“Ya. Tetsu-kun harus bahagia. Kau akan terlihat hidup jika ada Akashi-kun di sampingmu.” Suara Satsuki bergetar pelan, dan Tetsuya tahu, jika wanita itu tengah menahan isak tangisnya. Tetsuya juga tidak ingin menyakiti Satsuki. Wanita yang sudah ia kenal sejak lama itu terlalu baik untuknya. Satsuki pantas mendapatkan pria yang lebih baik darinya.

 

“Maafkan aku, Satsuki-chan.” Dan Tetsuya hanya bisa tersenyum getir saat melihat gelengan yang di berikan Satsuki. Jika bisa Tetsuya memohon, ia ingin mengulang waktu. Waktu dimana ia tidak memutuskan untuk berpacaran dengan Satsuki, karena ego bodohnya. Benar kata orang. Penyesalan itu selalu datang terakhir. Tetsuya menyesal. Kenapa ia tidak jujur tentang perasaannya pada Seijuurou saat itu.

 

The Man Who Cant Be Moved

Sequel of Running Low

Kuroko no Basuke c Tadatoshi Fujimaki

T

Romance, Hurt/Comfort/ Angst/ Maso kaya gue

WARNING KERAS! YAOI! MASO! TYPO’S, NGENES, OOC. DLL. GA SUKA? BACK OFF!

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

 

Song : The Man Who Cant Be Moved – The Script

 

a/n: Gue lagi jadi masosis. Serius gue lagi pengen di masoin/? Ga tau kenapa tiba-tiba demen cerita nyesek. Ah gue ga yakin sih ini nyesek apa ngga. Tapi yang jelas. Di part ini, gue mau masoin cuya. Kalo di running low gue masoin juyo. Disini cuya yang gue sakitin.

Padahal seharusnya gue belajar buat uts bulan ini. tapi entah malah ngetik begini. Yah doain aja uts gue lancar guys. Wkwk

Happy Reading

EnJOY!

.

.

Dulu, aku berpikir cinta yang aku punya untukmu adalah sebuah dosa.

Tapi ketika aku kehilangan dirimu, maka aku tidak takut masuk neraka sekalipun.

Jika cinta ini adalah dosa, aku akan melakukan dosa ini untukmu.

Dan aku pikir, aku begitu membencimu saat itu.

Tapi, sepertinya aku salah.

Tahukah kau apa yang lebih dalam dari perasaan benci?

Aku pikir itu adalah cinta.

Ya. Aku mencintaimu, Sei-kun.

(Quotes of ARTTL)

.

.

.

Tetsuya berjalan dengan terburu-buru. Menerobos kerumunan mahasiswa yang mengahalangi jalannya. Ya. Tetsuya sekarang sedang berada di University of California, Kampus terkenal yang ada di Amerika Serikat. Tetsuya pergi ke negara nan jauh itu, dengan tujuan untuk bertemu dengan Seijuurou. Konyol bukan? Ia niat melanjutkan gelar Doktornya hanya untuk Seijuurou. Pria yang bahkan belum tentu sudi bertemu dengannya lagi, saat pria itu justru sudah memutuskan akan menghilang dari kehidupannya.

 

Tapi ini adalah jalan terakhir yang Tetsuya punya. Ia merindukan Seijuurou sampai segila dan senekat ini. Tetsuya bahkan memaksa Aomine Daiki agar memberinya informasi tentang Seijuurou satu bulan lalu. Dan begini lah Tetsuya berakhir sekarang. Setelah mengurus segalanya, ia pindah ke San Fransisco, California, Kota tempat ia akan melanjutkan studi, juga tempat Seijuurou berada.

 

Jadi, ini yang akan Tetsuya lakukan sekarang. Mencari Seijuurou, setelah urusan di kampusnya selesai. Menurut Daiki, Seijuurou sekarang menjadi mahasiswa kedokteran di universitas yang sama dengannya. Dan Seijuurou sedang melakukan magang di salah satu rumah sakit paling besar di kota itu. Rumah Sakit California yang sangat terkenal seantreo itu. Tetsuya pikir, Seijuurou sudah menjadi orang yang sangat hebat. Yah. Tetsuya memang akui jika Seijuurou itu sangat jenius. Tapi Tetsuya tidak pernah tahu jika Seijuurou akan mengambil beasiswa di Univesitas ternama itu, dan kini menjadi salah satu dokter magang di Rumah Sakit ternama. Hanya dalam waktu singkat, Seijuurou sudah bisa seperti ini. Mungkin jika saja Seijuurou berniat untuk terus melanjutkan studinya seperti Tetsuya, ia yakin, Seijuurou sudah menjadi seorang Profesor saat ini.

 

Ah. Sudahlah. Tetsuya lelah berspekulasi tentang Seijuurou di masa depan. Tetsuya percaya jika Seijuurou akan menjadi orang sukses di masa depan. Dan sekarang sudah terbukti. Kali ini, Seijuurou berhasil menggapai mimpinya. Menjadi seorang dokter. Jika Tetsuya bertemu dengan Seijuurou nanti, ia akan mengucapkan selamat karena impian sejak kecil pria itu tercapai.

 

“A-ah.. M-maaf.” Tetsuya berujar lirih saat tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang, dan membuat pria bersurai abu itu mengaduh pelan saat bahunya tertabrak oleh Tetsuya.

 

“Seharusnya kau tidak berlari seperti itu.” Pria bersurai abu itu mendengus kesal ke arah Tetsuya, sambil memegangi bahunya yang masih berdenyut sakit. Ia tidak habis pikir jika tubuh mungil pria bersurai biru itu sangat kuat.

 

“Maafkan aku. Apa kau ingin aku antar ke rumah sakit sekarang? Aku akan mengantarmu.” Tetsuya berseru panik, dengan logat bahasa inggrisnya yang tidak terlalu lancar. Membuat pria bersurai abu itu terkikik saat mendengarnya. Ternyata pria bersurai biru itu sangat lucu.

 

“Hahaha. Tidak usah.” Pria bersurai abu itu tertawa pelan, sambil mengulurkan tangannya ke arah Tetsuya. “Mayuzumi Chihiro.” Ia memperkenalkan dirinya pada Tetsuya yang masih terlihat kebingungan di depannya.

 

“K-kuroko Tetsuya.” Tetsuya membalas uluran tangan Mayuzumi dengan hangat, tanpa tahu tubuh Mayuzumi menegang saat mendengar namanya. Seolah teringat akan satu hal yang ia lupakan.

 

“Kau berasal dari Jepang?” Pertanyaan yang di lontarkan Mayuzumi membuat Tetsuya kembali mengernyitkan alisnya bingung. Bagaimana bisa Mayuzumi tahu dirinya berasal dari Jepang? Apa Mayuzumi itu seorang cenayang? Ah. Sepertinya Tetsuya terlalu suka menonton drama jika berspekulasi bahwa pria tampan yang ada di depannya adalah cenanyang. Well, nanti Tetsuya akan berusaha agar tidak menonton drama lagi.

 

“Saat aku ke Jepang satu tahun lalu,” Mayuzumi terdiam sebentar. Seakan berpikir, sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.

“ Aku pernah melihat orang yang mirip denganmu di foto.” Mayuzumi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Ah.. Tapi tidak menutup kemungkinan jika orang yang aku lihat di foto adalah kau. Mungkin aku salah orang.” Dan Mayuzumi kembali tertawa kecil, sebelum matanya berbinar saat melihat sosok yang kini berdiri lima meter di belakang Tetsuya.

 

“Yo.. Sei-chan!!” Mayuzumi berseru sambil melambaikan tangannya. Membuat Tetsuya ikut menoleh. Dan alangkah terkejutnya Tetsuya, saat manik aquamarine itu menangkap sosok yang selama ini ia cari. Ia rindukan. Di depannya, berdiri sosok pria bersurai crimson yang memakai jas putih di sertai stetoskop yang menggantung di lehernya. Dia- Seijuurou- menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk Tetsuya artikan. Manik heterochromia itu mengerjap kaget, seakan tidak percaya dengan apa yang retinanya tangkap.

 

“Tetsuya..” Dan suara bariton milik Seijuurou yang selalu Tetsuya rindukan itu menggema di telinganya. Membuat jantungnya melompat kegirangan saat suara itu seolah menghilangkan rasa rindunya selama satu tahun ini. Ia rindu suara Seijuurou. Sangat. Sampai rasanya Tetsuya tidak tahu bagaimana caranya untuk bernafas.

 

“S-sei-kun..” Suara Tetsuya bergetar saat memanggil nama Seijuurou dengan nada sarat akan kerinduan. Ia rindu. Hanya itu yang Tetsuya tahu. Ingin rasanya Tetsuya menerjang tubuh Seijuurou, dan memeluknya dengan erat.

 

Mereka hanya terdiam. Saling tatap beberapa detik, saat manik aquamarine Tetsuya menatap sosok Seijuurou dengan sendu. Di ikut dengan manik heterochromia Seijuurou yang menatapnya dengan intens. Dari tatapan itu, Tetsuya tahu satu hal. Seijuurou tidak merasakan hal yang sama untuknya.

 

“Ah.. Ternyata benar. Tetsuya ini yang ada di fotomu kan, Sei?” Mayuzumi memecah keheningan. Membuat alis Tetsuya mengernyit, dan di ikuti Seijuurou yang sekarang tersenyum tipis padanya dan Mayuzumi. Sepertinya Seijuurou cukup baik mengendalikan dirinya saat ini.

 

“Ya. Tetsuya adalah temanku. Dia yang aku ceritakan menikah hampir dua tahun lalu.” Ucap Seijuurou sarkatik. Tanpa tahu jika Tetsuya merasa tersinggung karena ucapannya. Teman katanya? Apa ia tidak salah dengar? Seijuurou hanya menganggapnya sebagai teman saja.

“Jadi dimana istrimu, Tetsuya?”

 

“Aku sudah bercerai dengannya setengah tahun yang lalu.” Ucap Tetsuya dengan tatapan datarnya. Dan ucapan itu membuat Seijuurou cukup kaget saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut si surai biru. Entahlah. Tetsuya tidak bisa menebak raut wajah datar Seijuurou saat ini.

 

“Jadi, apa yang kau lakukan di sini Tetsuya?” Pertanyaan Seijuurou terdengar to the point. Seperti ingin segera menjauh dari Tetsuya secepatnya.

 

Ingin rasanya Tetsuya menjawab jika ia merindukan pria itu. Ia ingin bertemu dengan Seijuurou dan meminta maaf atas segalanya yang pernah ia lakukan. Juga berkata jujur, jika ia sangat mencintai Seijuurou, sampai Tetsuya tidak akan peduli jika dunia menghujatnya sekali pun.

 

“Melanjutkan pendidikkanku di universitas ini, Akashi-kun.” Kali ini Tetsuya bisa melihat Seijuurou tersenyum getir. Ia tidak tahu apa arti senyuman yang Seijuurou berikan untuknya.

 

“Kalau begitu selamat datang di kampus ini.” Seijuurou menunjukkan senyum simpulnya. Tapi Tetsuya tahu, senyuman itu palsu. Senyuman itu sama sekali tidak tulus Seijuurou berikan untuknya.

 

“Ayo, Mayuzumi. Aku akan mengajarimu tentang anatomi lagi.” Seijuurou berbalik, sambil menarik tangan Mayuzumi. Menggenggamnya dengan erat. Hingga membuat Tetsuya mencelos melihat pemandangan yang ada di depannya itu. Seijuurou mengabaikannya saat mereka pertama kali bertemu sejak dua tahun terakhir. Seijuurou menjauhinya. Ekspektasi yang selama ini Tetsuya impikan sama sekali tidak terwujud. Berbeda. Benar-benar berbeda 180 derajat.

 

“E-eh? Bukankah kau akan ke rumah sakit lagi?”

 

“Nanti. Setelah kau mengerti tentang apa yang aku ajarkan.”

 

Ingin rasanya Tetsuya berteriak kesakitan saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Seharusnya, Seijuurou hanya tersenyum seperti itu padanya. Senyum Seijuurou itu hanya untuk Tetsuya. Candaan Seijuurou itu hanya untuknya. Seharusnya dirinya yang ada di posisi itu, bukan Mayuzumi.

Ternyata perasaan ini lebih menyakitkan. Kali ini, Tetsuya mengerti bagaimana perasaan Seijuurou saat dirinya memilih bersama Satsuki. Rasanya hati Tetsuya serasa kosong dan tidak berarti apapun. Hampa. Seakan Tetsuya tidak punya hati lagi untuk merasakan apa yang namanya kesedihan. Menangis pun Tetsuya sudah tidak sanggup. Ia sudah lelah menangisi penyesalannya untuk Seijuurou dua tahun lalu. Tapi kali ini, rasa sakit bagaikan di rajam tombak panas pada ulu hatinya itu benar-benar terasa menyakitkan. Sampai rasanya Tetsuya tidak sanggup mengatur napasnya yang kini memburu.

 

“Maaf.” Hanya gumamam lirih itu yang bisa Tetsuya sampaikan saat melihat punggung mereka menjauh dari pandangannya. Jika bisa, Tetsuya ingin mengulang waktu. Dimana ia tidak menjadi orang idiot yang mengikuti egonya. Tetsuya janji. Ia tidak akan menyerah sampai sini. Ia akan membuat Seijuurou mencintainya lagi, walau itu membutuhkan waktu cukup lama. Jika dulu Seijuurou bisa jatuh cinta pada Tetsuya, bukan hal tidak mungkin jika Seijuurou akan mencintainya lagi. Sekarang, Tetsuya memutuskan untuk terus menggapai Seijuurou. Membuat rasa penyesalannya berganti menjadi sebuah kebahagian yang selama ini Tetsuya harapkan. Ia harap, keinginannya terkabul. Tuhan mengizinkannya bersatu dengan Seijuurou suatu hari nanti.

 

FIN..

 

Oke. Geblek emang gue. Ini Cuma side story dari pandangan cuya aja kok. Jadi kalo kemarin itu gue buat sudut pandangan perasaan juyo. Di sini gue buat sudut pandangan dari cuya.

Tamat? Boleh tamat aja. wkwk

Next? Boleh. Tapi liat mood. Kalo emang lagi pengen ngelanjut gue pasti bakal buat happy ending. Gimana kalian aja wkwkwk.

Respon dong ini maso ga? Feelnya dapet ga? Biar gue ga kapok bikin ff maso lain kali. wkwk.

Btw mau buka lapak. Gue jual softcase sama hardcase hp yang bisa req gambar. Mau gambar akakuro juga bisa. All type insya allah ada. Kalo minat hub gue aja di twitter/fb/ line : astia_morichan

Sankyuu ^^

 

So, Mind To Review?

Astia Morichan

 

 

 

 

 

Prince Of The Dark Chap 3| AkaKuro| Yaoi| LovelyPhantom

0

Bocah bersurai biru menampilkan sebuah senyumanlebar saat melihat sosok wanita tua yang membawa nampan berisi cookies. Ia baru saja mengangkat cookies itu dari oven. Manik aquamarine si surai biru – Kuroko Tetsuya menatap penuh binar ke arah kue yang sedang neneknya hidangkan di atas meja. Tetsuya selalu suka momen seperti ini. Ah. Lebih tepatnya ia sangat menyukai cookies yang neneknya buat. Apalagi nenek Tetsuya- Haruka selalu membuat kue favoritnya ketika ia pulang sekolah. Seperti sekarang. Aroma kue menyebar di sekeliling dapur, dan membuat perut Tetsuya bersorak senang karena lapar.

 

“Ne.. Tet-chan.. kenapa tidak ganti baju dulu, hm?” Haruka menatap Tetsuya dengan lembut, saat melihat Tetsuya berlari ke arahnya dan duduk di meja makan dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Bocah itu menatapnya dengan tatapan berbinar yang selalu membuat Haruka luluh. Kemudian ia mulai melepaskan sarung tangan beserta celemek yang membalut tubuh rampingnya. Di simpan celemek dan sarung tangan di samping nakas yang berada di belakang. Lalu ia mulai berjalan ke arah Tetsuya, dan menyodorkan piring berisi kue kesukaan si biru, beserta susu vanilla favoritnya.

 

“Aku ingin memakan kuenya sekarang Baa-san.” Tetsya mempoutkan bibirnya. Ia mulai merajuk dan memberikan tatapan memohon pada sang nenek. Membuat wanita tua bersurai hitam itu terkekeh dan mengelus surai biru Tetsuya.

 

“Baik. Tet-chan bisa memakannya jika menuruti permintaan Baa-san kali ini. Bagaimana?” Haruka berjongkok di samping bocah smp itu. Membuat Tetsuya menatap bingung Haruka dengan alis bertaut tidak mengerti. Jarang sekali Haruka seperti ini.

 

“Memangnya Obaa-san mau meminta apa dari Tetsuya?” Tetsuya memiringkan kepalanya. Manik aquamarine menatap bingung sang nenek yang sekarang malah mencubit pipi Tetsuya dengan gemas.

 

“Tet-chan tidak boleh bertemu lagi dengan Shima Oji-san.” Manik aquamarine bocah itu membulat tanda tidak setuju. Haruka sangat yakin jika Tetsuya tidak mau menuruti permintaannya kali ini. Apalagi dengan Shima- sang Lucifer keras kepala yang ingin membawa pergi Tetsuya. Haruka tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya. Apalagi membiarkan seorang malaikat pembelot mengurus Tetsuya.

 

“E-eh? Kenapa tidak boleh? Shima Oji-san sangat baik pada Tetsuya. Aku tidak ingin menuruti permintaan Baa-san.” Tetsuya melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut di sertai delikan tak suka yang ia berikan pada Haruka.

 

“Shima Oji-san itu sangat berbahaya. Apa Tetsuya ingin tahu siapa sebenarnya Shima Oji-san?” Penawaran sang nenek terdengar menggiurkan bagi Tetsuya. Haruka bisa melihat Tetsuya kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh keingintahuan tercetak jelas di manik aquamarine bocah itu.

 

“Memangnya kenapa dengan Shima Oji-san?” Haruka menatap Tetsuya dengan sendu. Tangannya kembali terulur untuk mengelus pipi Tetsuya dengan lembut. Haruka tentu sangat mengerti jika Tetsuya merindukan sosok ayah. Shima datang dan mengaku sebagai paman jauh Tetsuya. Lalu ia sering mengajaknya bermain setiap hari. Tentu saja Haruka sangat khawatir jika Shima membocorkan identitas sebenernya pada Tetsuya, jika ia adalah ayah dari si surai biru. Haruka sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia hanya ingin Tetsuya menjadi manusia normal seperti temannya yang lain. Kehadiran Shima hanya akan menjadi pengaruh buruk untuk Tetsuya. Kekuatan Tetsuya akan semakin berkembang jika Shima selalu berada di dekatnya. Haruka tidak ingin Tetsuya mempunyai kekuatan para malaikat.

 

“Baa-san akan menceritakan semuanya pada Tetsuya. Tapi setelah itu, Tet-chan tidak akan ingat apapun lagi. Bagaimana?” Kembali, aquamarine sejernih biru langit itu membelalak, dan memberenggut tidak setuju. Tetsuya kembali menunjukan aksi tidak setuju atas apa yang Haruka ucapkan.

 

“Jika Tetsuya tidak menurut, Baa-san tidak akan memberikan Tet-chan cemilan lagi.” Piring berisi cookies di ambil kembali dari hadapan Tetsuya. Membuat bocah itu kembali mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya mulai mengangguk tanda setuju. Lagi pula, Tetsuya bisa bertemu secara sembunyi dengan Shima Oji-san nanti. Lalu ia tidak akan mungkin melupakan semua yang di ceritakan neneknya. Tetsuya itu pintar. Ia akan ingat dalam sekejap ucapan Haruka nanti.

 

“Wakatta. Tetsuya mengerti. Sekarang ceritakan tentang Shima Oji-san, dan juga berikan cake itu padaku.” Tetsuya bisa melihat Haruka tersenyum dengan lebar kali ini. Ia yakin, jika Haruka sangat senang karena keputusannya itu. Kemudian Haruka mulai menarik kursi di samping Tetsuya, dan duduk di sana. Membuat Tetsuya menoleh pada wanita tua itu yang sekarang menghela napasnya pelan, sebelum memulai ceritanya.

 

“Ne.. Apa Tet-chan percaya dengan malaikat? Lalu dengan Iblis, dan juga Tuhan?” Haruka menatap ke arah Tetsuya dengan tajam. Membuat bocah itu gugup, karena ini adalah kali pertama Haruka menjadi serius seperti ini. Biasanya, neneknya itu akan selalu tersenyum dan memberikan guyonan yang membuat Tetsuya tertawa lepas. Bukannya bertanya hal aneh seperti ini.

 

Dahi Tetsuya mengernyit pelan. Mencoba untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di berikan dari Haruka. Bocah bersurai biru itu mengetukkan jari pada ujung meja dengan mata tertutup. Berharap akan menemukan jawabannya. Tetsuya tentu sangat percaya jika Tuhan itu ada. Lalu tentang iblis dan juga malaikat tentu ada. Tetsuya belajar semua itu setiap hari minggu di Gereja. Ia bukanlah seorang atheis. Jadi tentu saja Tetsuya percaya. Walaupun ia sama sekali belum pernah bertemu malaikat dan iblis dengan matanya sendiri.

 

“Ya. Pastor Michael bilang padaku jika malaikat dan iblis juga nyata. Aku juga belajar banyak tentang para malaikat dan Iblis yang mengganggu manusia.” Dahi Tetsuya mengernyit. Berusaha untuk kembali mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

“Tapi Baa-san.. Shima Oji-san pernah berkata jika aku adalah seorang Nephilim, dan aku harus menyembunyikan kekuatanku agar Verchiel (1) tidak menemukan keberadaanku.” Badan wanita tua itu menegang. Matanya membulat, menatap Tetsuya kaget. “Ne.. Baa-san.. Apa kau tahu maksud dari Shima Oji-san? Nephilim itu apa?” Tetsuya memiringkan kepalanya. Manik aquamarine itu menatap Haruka penuh tanya. Berharap Haruka bisa menghilangkan rasa penasarannya selama beberapa hari terakhir. Karena Tetsuya memang tidak mengerti tentang peringatan dari Shima. Ketika ia ingin bertanya lagi tentang hal itu, Shima malah pergi meninggalkannya. Bahkan sampai sekarang Tetsuya belum bertemu dengan pria itu lagi.

 

Haruka menelan salivanya dalam. Ia mencoba kembali menetralkan emosi yang tercetak di wajahnya. Kali ini, Haruka harus menjelaskan semuanya pada Tetsuya. Lalu membuat bocah itu melupakan segala hal tentang Lucifer brengsek itu, dan juga memberikan Tetsuya pelindung agar ia tidak akan bisa melihat lagi sosok Lucifer selamanya, juga pengikut Lucifer yang mengincar Tetsuya. Haruka juga tidak ingin jika Tetsuya di incar oleh Verchiel, atau Gabrielle. Cucunya itu sama sekali tidak bersalah jika terlahir menjadi seorang Nephilim.

 

Tangan Haruka terulur untuk menyentuh surai biru Tetsuya. Membuat bocah itu mengerjapkan matanya bingung.

 

“Tetsuya adalah seorang Nephilim. Setengah malaikat, dan ayah Tetsuya adalah Lucifer yang merupakan malaikat pembelot. Ia adalah Shima.” Haruka bisa melihat Tetsuya membelalakan matanya kaget. Tentu Haruka sangat yakin jika Tetsuya masih mencoba mencerna semua yang ia jelaskan secara singkat. Tapi sebelum Tetsuya mengerti segalanya, Haruka akan membuat bocah itu kembali lupa. Tetsuya tidak boleh mengingat apa yang ia ucapkan.

 

Tangan Haruka bergerak ke samping leher Tetsuya, dan menekan keras selangka leher Tetsuya. Membuat bocah itu menjerit kaget saat merasakan sebuah cahaya berkumpul di lekukkan lehernya. Pelindung cahaya mulai mengelilingi tubuh Tetsuya. Pelindung yang Haruka buat, akan membuat Lucifer, Verchiel, dan segala makhluk lainnya tidak dapat menyadari keberedaaan Tetsuya. Pelindung itu juga yang membuat Tetsuya kehilangan kesadaran dirinya, dan juga kehilangan beberapa kilasan ingatannya tentang Shima.

 

“Maafkan aku, Tet-chan.” Tubuh kecil itu terjatuh dalam pangkuan Haruka. Semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan Tetsuya. Ini adalah cara yang terbaik agar Tetsuya selamat.

 

 

Prince Of The Dark

 

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

 

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

 

 

a/n: Ini FF kembali saya dedikasikan untuk event #LovelyPhantom dan merayakan ratu harem kita Kuroko Tetsuya yang semakin manis minta di makan/? Eh. FF ini kembali di angkat dan terinspirasi oleh beberapa mitologi yang di gabung bersama imajinasi mesum dan nista saya. Kalau kalian tidak suka dengan apa yang saya tulis silahkan menyingkir dan tekan tombol back. Saya tidak bertanggung jawab jika mata kalian iritasi ketika baca tulisan saya.

 

Ada beberapa Glousarium yang saya sesuaikan dengan imajinasi saya. Semoga kalian paham dengan semua istilah absurd yang ada di cerita saya ini. Jika ada masukan, saya akan sangat senang mengedit kembali FF ini.

 

~LovelyPhantom~

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

Tubuh pemuda bersurai biru itu menegang dengan mata membulat kaget saat mendengar semua penjelasan dari pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang melekat di tubuhnya. Pria itu bernama Kagami Taiga yang mengaku sebagai kakak kandung dari Tetsuya. Kemudian pria yang sekarang mengenakan pakaian layaknya seorang raja di zaman Arthur yang pernah Tetsuya tonton itu menunjukkan suatu hal yang tidak dapat Tetsuya percaya.

Saat tangan Kagami terulur untuk menyentuh bahu Tetsuya. Ia mulai merasakan kilasan ingatan di dalam otaknya. Ingatan itu meluap dengan cepat bagaikan kilasan film yang membuat kepalaTetsuya pening. Tetsuya ingat semuanya. Ia ingat bagaimana neneknya selalu mengelak jika bertanya dimana Shima Oji-san, dan kenapa neneknya membenci Shima. Lalu dengan hadirnya Seijuurou yang memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim. Sekarang semuanya menjadi terhubung, dan Tetsuya tahu siapa dirinya. Ia adalah Nephilim- makhluk setengah malaikat yang berasal dari Lucifer– Sang malaikat pembelot pertama. Jujur saja, ini semua masih seperti mimpi buruk untuk Tetsuya. Ia sulit untuk mempercayai semua hal yang tidak masuk logika. Semua kejadian yang menimpa Tetsuya tidak masuk di akal.

 

“A-aku tidak mengerti.” Tetsuya tergugup. Ia memundurkan badannya perlahan menjauh dari Kagami. Kepalanya menggeleng tanda tidak setuju dengan semua kilasan memori yang Kagami berikan padanya.

 

“Kau adalah adikku. Putra dari Lucifer, walaupun kau hanyalah setengah malaikat Kuroko.” Suara Kagami terdengar menakutkan bagi Tetsuya. Ia sangat berbeda dengan Seijuurou. Walaupun pemuda bersurai crimson itu selalu seenaknya, tapi Tetsuya selalu merasa nyaman jika Seijuurou ada di sampingnya. Saat ini, Tetsuya berharap Seijuurou datang menolongnya.

 

“Aku hanyalah manusia biasa.” Tetsuya mengangkat kepalanya. Memberikan Kagami tatapan tajam, dan hal itu malah membuat Kagami tertawa lepas.

 

“Hey, Kuroko.. harus berapa kali aku bilang bahwa kau itu Nephilim?” Kagami mendekat ke arah Tetsuya. Membuat pemuda bersurai biru itu memundurkan tubuhnya dengan refleks. Aura Kagami benar-benar berbahaya. Tetsuya tidak menyukai aura yang menguar dari tubuh Kagami. Aura itu mencekam. Seolah membuat Tetsuya tenggelam dalam kegelapan.

 

“Aku akan pergi dari sini. Tolong lepaskan aku.”

 

“Dan kau melupakan niat awalmu ketika bertemu denganku, Kuroko?” Manik aquamarine kembali membulat. Tentu saja Tetsuya ingat kenapa ia menerima ajakan dari Hayama. Ia ingin bertemu dengan Shima. Walaupun Tetsuya harus mengakui jika Shima itu adalah seorang malaikat pembelot. Lucifer– Sang pemberontak Tuhan.

 

“Di-dimana Shima Oji-san?” Tetsuya kembali bertanya. Ia mencoba melupakan rasa takutnya demi hal ini. Tetsuya tidak boleh ragu. Semua yang ia lakukan adalah untuk Shima. Apapun yang terjadi, ia harus bertemu dengan Shima.

 

“Maksudmu Lucifer? Ayah kita?”

 

“Y-ya. Aku ingin bertemu dengannya.” Tetsuya bisa melihat tatapan tajam dari Kagami meredup. Ada kesedihan yang terpancar di mata itu. Tetsuya bisa merasakannya dengan jelas.

 

“Ayah sudah di bunuh oleh Verchiel.” Suara Kagami terdengar dingin dan penuh akan dendam. Tangan pria bersurai merah itu terkepal dengan erat, seolah menahan amarahnya agar tidak meledak. Aura kebencian menguar di seluruh tubuhnya.

 

“Apa maksudmu, Kagami-kun? Aku sama sekali tidak bercanda dengan hal seperti ini!” Suara Tetsuya mengeras. Ia mulai mendekat ke arah Kagami, dan mencengkram erat baju zirah berbalut besi yang melekat di tubuh pria itu. Kesabaran Tetsuya sudah habis. Ia tidak ingin di permainkan lagi oleh Kagami.

 

“Apa aku terlihat bercanda, Kuroko?” Tatapan dingin menusuk dari Kagami membuat Tetsuya terdiam. Tangan yang semula berada di lengan Kagami, kini terkulai lemas. Tetsuya kembali di jatuhkan oleh berita mengejutkan dari Kagami. Ia belum siap mendengar kabar bahwa Shima- paman yang selama ini Tetsuya harap bisa bertemu lagi, sudah tidak ada. Ia terbunuh, dan Tetsuya tidak dapat melihatnya lagi. Sekarang Tetsuya merasakan hatinya remuk. Air mata tiba-tiba membasahi pipi Tetsuya. Jujur saja, Tetsuya tidak tahu kenapa ia menangis. Padahal ia dan Shima hanya dekat selama satu tahun saja. Setelah itu Pamannya menghilang, dan Tetsuya seakan lupa dengan keberadaannya.

 

Tubuh mungil Tetsuya bergetar. Pemuda bersurai biru itu masih menangis dalam diam. Mengabaikan Kagami yang sekarang bingung harus berbuat apa. Kagami tidak terlalu pintar menghibur seseorang. Ia bahkan lupa kali terakhir ada seseorang yang mau menemaninya.

 

“Berhentilah menangis. Kau harus tinggal di sini jika tidak ingin di bunuh oleh Verchiel.” Tetsuya mendongak ke arah Kagami yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia mulai mengusap pipi untuk menghilangkan jejak air matanya. Manik aquamarine itu kembali menatap Kagami dengan pandangan penuh tanya. Berharap jika Kagami menjawab siapa itu Verchiel.

 

Verchiel adalah malaikat utusan Tuhan yang selalu memburu malaikat sepertiku, dan juga para Nephilim. Kau berada di Aerie sekarang, Tetsuya. Di tempat ini, semua malaikat pembelot dan juga Nephilim sepertimu tinggal.” Kagami mulai menjelaskan dengan detail bagaimana Aerie terbentuk, dan siapa saja pasukan Verchiel yang selalu membunuh kaum Nephilim. Bagaimana Lucifer terbunuh, dan kenapa para utusan Tuhan memburu semua kaumnya.

 

“Jika kau keluar dari istana ini, kau akan menemukan sebuah pemukiman di mana para Nephilim sepertimu tinggal. Di Aerie, para Nephilim akan merasa aman. Kau tidak perlu takut lagi jika Verchiel akan datang memburumu, Kuroko. Para Elf, melindungi wilayah Aerie.”

 

Kuroko mengangguk pelan. Ia mulai mengerti semua penjelasan yang Kagami jabarkan tadi. Tapi Tetsuya tidak ingin berada di sini. Ia ingin pulang, dan bertemu dengan Seijuurou. Tetsuya belum siap jika harus berada di Aerie. Lagi pula, ia harus memastikan semua yang sudah Kagami jelaskan.

 

“Beri aku waktu untuk berpikir Kagami-kun. Tolong antarkan aku pulang.”

 

“Baik. Tapi Hayama akan mengikuti dan menjagamu, Kuroko.” Tetsuya menggeleng dengan cepat mendengar penuturan Kagami. Ia tidak ingin di ikuti oleh Hayama. Tetsuya butuh waktu untuk sendiri dan mencoba mencari tahu kebenaran dari semua ini. Ia harus bertemu dengan Seijuurou. Satu-satunya penolong Tetsuya adalah pemuda bersurai crimson itu.

 

“Tidak. tolong biarkan aku memikirkan semuanya sendiri.” Tetsuya bisa melihat Kagami menghela napasnya. Kemudian pria itu mendengus tak suka, dan melirikkan matanya ke arah Hayama yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk. Tatapan isyarat agar pemuda bersurai orange itu mendekat.

 

“Antar Kuroko pulang. Setelah itu kau kembali lagi ke Aerie, Hayama.” Kagami membalikkan badannya. Berjalan menjauhi Tetsuya. Jubah merahnya berkibar, dan setelah itu sosok Kagami menghilang bagaikan hembusan angin.

 

“Kau ingin kembali ke cafe atau apartemenmu, Kuroko-sama?” Hayama membentangkan sayap-sayap hitamnya. Sebelum akhirnya mulai mengibaskannya dengan pelan, hingga tubuhnya melayang. Ia mulai mengulurkan tangannya ke arah Tetsuya.

 

“Apartemenku.” Tetsuya menggapai uluran tangan Hayama, sehingga ia berada di pelukan pemuda bersurai orange itu. Kemudian mereka terbang ke atas, meninggalkan ruang singgasana Kagami. Tetsuya berharap keputusannya kali ini sama sekali tidak salah. Ia membutuhkan Seijuurou untuk menjelaskan semua keraguan yang ada di hatinya.

 

.

oOo

.

 

Tetsuya berjalan dengan gontai menuju koridor apartemen yang akan mengantarkan tubuh mungilnya menuju kamar apartemen yang berada di pojok lantai tujuh ini. Tadi Hayama sudah mengantarnya sampai ke depan gedung apartemen. Setelah itu Hayama kembali memukul udara dengan sayap hitamnya, dan terbang meninggalkan Tetsuya. Jadi disini Tetsuya berada. Ia sudah kembali ke dunia asalnya. Bukan di Aerie– tempat para Nephilim berada.

Tetsuya mulai membuka kenop pintu kamarnya dengan pelan. Sebenarnya Tetsuya berharap akan bertemu dengan Seijuurou. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Biasanya Seijuurou sudah berdiri di samping lift, sambil menatap pemandangan kota. Tapi nyatanya, pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Entah kenapa Tetsuya merasa kecewa saat tidak dapat menemukan sosok Seijuurou.

 

“Hah..” Tetsuya menghela napas pelan. Ia mulai masuk ke dalam apartemen. Tangannya meraba dinding untuk menekan saklar lampu agar lampu di ruang tengah menyala. Kemudian cahaya lampu mulai menyinari ruangan itu. Membuat mata Tetsuya menyipit perlahan karena ia melihat sesosok bayangan yang sedang duduk di sofa kecil miliknya. Sosok itu mulai berbalik ke arahnya, dan menatap Tetsuya.

 

“Tetsuya.. Apa yang kau lakukan selama dua hari ini?!” Suara bariton yang sangat Tetsuya kenal itu menggema memenuhi ruangan. Kali ini, Tetsuya bisa melihat dengan jelas sosok Akashi Seijuurou yang berdiri di dekat sofa sambil menatapnya dengan tajam. Tetsuya bisa merasakan kekhawatiran di dalam manik heterecomenya.

 

Langkah Seijuurou semakin dekat dengan Tetsuya. Membuat Tetsuya memundurkan tubuhnya. Menyentuh pintu yang ada di belakangnya sehingga tertutup dengan sempurna. Tetsuya tahu jika Seijuurou marah padanya. Seijuurou tidak pernah menatapnya sedingin itu.

 

“Apa yang kau lakukan selama dua hari, Tetsuya? Kau tahu? Aku kebingungan mencarimu kemana-mana!” Dahi Tetsuya mengernyit saat mendengar pertanyaan beruntun dari Seijuurou. Dua hari? Tetsuya berada di Aerie dua hari?

 

“A-apa maksudmu Akashi-kun?” Tetsuya mendongak. Menatap manik heterecome Seijuurou yang menatapnya tajam. Ini kembali membingungkan untuk Tetsuya. Ia pikir hanya beberapa jam saja berada di Aerie.

 

“Kau menghilang selama dua hari.” Seijuurou menghela napasnya lelah. Kali ini tangannya terulur untuk menarik Tetsuya ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sungguh, Seijuurou merindukan sosok Tetsuya. Ia sudah kebingungan mencari Tetsuya selama dua hari ini. Ia bahkan tidak dapat mengendus keberadaan Tetsuya di manapun. Seijuurou takut jika pasukan Verchiel menyerang Tetsuya. Ia tidak ingin itu semua terjadi. Seijuurou akan melindungi Tetsuya sampai kapanpun.

 

“Syukurlah, Tetsuya. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Seijuurou menelusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Tetsuya. Menghirup dalam aroma vanilla dari tubuh Tetsuya. Aroma tubuhnya yang sudah menjadi obat penenang tersendiri untuk Seijuurou. Rasa khawatir dan ketakutan dalam dirinya menghilang hanya dengan mencium aroma tubuh Tetsuya.

 

“M-maaf, Akashi-kun.” Tetsuya bergumam pelan. Tangannya bergerak untuk membalas pelukan Seijuurou sama eratnya. Jujur saja, Tetsuya butuh pegangan. Ia membutuhkan sosok Seijuurou untuk membuatnya mengerti tentang hal tidak masuk akal yang menimpa kehidupannya selama beberapa terakhir ini.

 

“Aku takut, Akashi-kun..” Suara Tetsuya bergetar. Seijuurou tahu ada yang tidak beres selama Tetsuya pergi. Ia bisa merasakan pelukan Tetsuya semakin mengerat, dan juga tubuh pemuda bersurai biru itu mulai bergetar ketakutan, di sertai isakan lirih yang lolos dari mulut Tetsuya.

 

“Akashi-kun… A-aku takut.. T-tolong…” Suara lirih Tetsuya terdengar menyesakkan bagi Seijuurou. Ia tidak ingin melihat Tetsuya ketakutan seperti sekarang. Tangan Seijuurou bergerak untuk menggendong tubuh Tetsuya ala bridal. Tetsuya diam. Tidak menolak dengan perlakuan Seijuurou. Ia malah membenamkan wajahnya pada leher Seijuurou dan menangis di sana. Seijuurou membawanya ke kamar. Kemudian pemuda bersurai crimson itu membaringkan tubuh mungilnya di ranjang. Tetsuya bisa melihat dengan jelas Seijuurou duduk di sampingnya dengan tatapan khawatir.

 

“Ceritakan semuanya padaku.” Perintah Seijuurou yang penuh ke absolutan, membuat Tetsuya mengangguk dengan cepat, dan mulai mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu ia mulai menceritakan segalanya. Tentang Aerie, Kagami, Hayama, Shima, dan juga Verchiel. Tetsuya bisa melihat raut wajah Seijuurou berubah. Rahang pemuda bersurai crimson itu mulai mengeras. Tangan Seijuurou terkepal dengan erat.

 

“Kau tidak boleh bertemu dengan Kagami lagi. Dengarkan aku Tetsuya.” Manik heterecome menatapnya tajam. Seakan tidak ingin di bantah. “Aku akan melindungimu sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkan makhluk jahanam itu menyentuhmu. Apalagi Verchiel sialan itu!” Seijuurou kembali kembali memeluk tubuh Tetsuya dengan erat. Ia tidak akan membuat Tetsuya menderita. Apapun yang terjadi. Karena Tetsuya adalah miliknya.

 

“Terimakasih, Akashi-kun.” Tetsuya kembali memeluk tubuh kokoh Seijuurou. Mereka berbagi pelukan dan beberapa ciuman Seijuurou hadiahkan di bibir Tetsuya. Bagi Seijuurou, pemuda bersurai biru itu adalah candu. Jika Tetsuya tidak ada, mungkin Seijuurou akan menjadi gila seperti dua hari kemarin saat ia tidak dapat menemukan sosok Nephilim itu.

.

oOo

.

 

Seijuurou menatap dalam Tetsuya yang sekarang tertidur dengan lelap. Wajah Tetsuya terlihat sangat damai. Sebuah senyum kecil tersungging menghiasi wajah cantik pemuda bersurai biru itu. Seijuurou yakin, jika Tetsuya sedang bermimpi indah. Karena semua kegelisahan di dalam hati Tetsuya sudah meluap. Pemuda bersurai biru itu menangis dan tak hentinya mengatakan terimakasih di sela-sela ciuman hangat mereka. Kemudian Tetsuya jatuh tertidur dalam pelukannya.

 

Seijuurou menampilkan senyum asimetris di wajahnya. Ia bersyukur datang kembali ke dunia manusia, dan di pertemukan dengan Tetsuya. Seijuurou yang awalnya tidak tertarik dengan apapun, kini tertarik oleh sosok Tetsuya. Mungkin manusia menyebut hal ini sebagai jatuh cinta. Ya. Seijuurou jatuh cinta pada Tetsuya. Ia selalu ingin berada di dekat pemuda itu, dan melindunginya dari para makhluk kotor yang mencoba melukai Tetsuya.

 

“Aku tidak menyangka akan melakukan hal konyol seperti ini.” Tangan Seijuurou terulur untuk mengelus surai biru Tetsuya dengan pelan. Kemudian ia mulai menunduk dan mencium kening Tetsuya. “Hades akan marah padaku jika tahu aku berurusan dengan para malaikat.” Seijuurou terkekeh pelan, saat mengingat kembali sosok Ayahnya. Ia sangat yakin jika Masaomi akan murka. Jujur saja, Seijuurou sangat suka melihat Ayahnya itu marah. Walaupun Persephone selalu bisa menenangkan ayahnya dengan cepat.

 

“Seijuurou-sama. Apa anda merasakan keberadaan Thanatos-sama?” Suara Nigou yang kecil memecah keheningan. Membuat Seijuurou sadar jika sejak tadi Nigou masih mengikutinya. Ia pikir anjing itu sudah menuruti perintahnya untuk kembali ke Gerha Hades(2).

 

“T-thanatos-sama ada di sini.” Suara Nigou mencicit. Membuat Seijuurou tersenyum meremehkan ke arah pintu kamar. Di sana ia sudah melihat sosok Thanatos. Seijuurou bukanlah orang bodoh yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Thanatos yang menguarkan aura mematikan di sekelilingnya.

 

“Saya tidak menyangka jika anda berurusan dengan Nephilim itu.” Suara Nijimura terdengar meremehkan. Membuat Seijuurou menggeram tak suka ke arahnya. Ini yang Seijuurou tidak suka dari abdi ayahnya itu. Nijimura selalu mencampuri segala urusannya.

 

“Dan aku tidak menyangka jika kau kembali mencampuri urusanku. Apa Hades mengutusmu?” Suara sarkatik Seijuurou hadiahkan untuk Nijimura. Kemudian pemuda bersurai crimson itu mulai berjalan ke arah Seijuurou. Manik heterecome menatap tak suka ke arah Nijimura yang tidak pernah tunduk oleh tatapannya.

 

“Ya. Masaomi-sama sudah tahu jika anda berurusan dengan Nephilim. Beliau ingin anda pulang ke Gerha Hades.”

 

“Tidak. Aku tidak akan pulang. Sampaikan pesanku untuk Ayah dan Ibu. Aku akan bersama Tetsuya di sini.” Seijuurou berbalik. Berjalan ke arah Tetsuya, dan mengabaikan sosok Nijimura yang menggeram marah.

 

“Masaomi-sama akan marah dan membunuh Nephilim itu jika anda tidak pulang, Seijuurou-sama.” Ada nada memaksa di dalam ucapan Nijimura yang membuat Seijuurou kembali mendengus, sebelum melirik Nijimura lewat ekor matanya.

 

“Aku akan melindunginya dari apapun. Pergilah, Nijimura. Aku tidak ingin menyakitimu.” Aura kematian menyebar di sekeliling tubuh Seijuurou. Membuat Nijimura memundurkan tubuhnya. Nijimura masih ingin hidup. Ia tidak ingin hidupnya sia-sia karena hal ini. Lebih baik ia membiarkan Seijuurou, dan kembali melapor pada Masaomi.

 

“Saya sudah memperingatkan anda. Nephilim itu berbahaya bagi makhluk dunia bawah seperti kita, Seijuurou-sama.” Dan setelahnya, sosok Nijimura menghilang di gantikan oleh gumpalan cahaya hitam yang mengecil, kemudian hilang bagai di terpa oleh angin.

 

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Tetsuya.” Geraman Seijuurou terdengar menakutkan. Seijuurou belum pernah seserius ini sebelumnya. Jika ada yang menyakiti Tetsuya, itu artinya mereka akan berurusan dengan Seijuurou. Sekalipun itu adalah malaikat utusan Tuhan, Seijuurou tidak akan pernah takut.

 

.

oOo

.

 

 

Pemuda bersurai hitam dengan hakama berwarna putih itu menatap tajam bawahannya. Izuki atau yang lebih di kenal sebagai Verchiel menggeram. Ia tidak habis pikir jika ada keturunan dari Lucifer yang masih berada di dunia manusia. Izuki pikir semua Nephilim dan para malaikat pembelot bersembunyi di Aerie. Ini adalah kesempatan langka. Ia tidak akan membiarkan buronannya lepas lagi. Kali ini, Izuki bertekad untuk membunuh Nephilim bernama Kuroko Tetsuya.

 

“Tapi Izuki-sama, sosok Seijuurou-sama selalu terlihat di samping Nephilim itu.” Dahi Izuki mengerut mendengar penuturan dari Izuna- sang bawahan yang sudah ia tugaskan memantau Tetsuya. Seijuurou yah? Jika memang benar Seijuurou ikut campur dalam urusan ini, itu berarti Seijuurou menantang Zeus- Penguasa Langit.

 

“Menarik. Putra Hades terlibat dengan Nephilim.” Seringaian licik terukir jelas di wajah Izuki. Ini adalah hal yang paling menarik. Jika Seijuurou terlibat, mungkin saja perang langit akan kembali terjadi. Murka Zeus dan Hades selalu menggemparkan bumi.

 

“Tangkap Kuroko secepatnya, dan bawa padaku. Walaupun Seijuurou ada di samping Nephilim itu.” Wajah Izuna memucat saat mendengar perintah dari Izuki. Ah. Ia masih ingin hidup. Kekuatannya sama sekali belum cukup kuat untuk menentang putra Hades. Ini namanya cari mati.

 

“Jika kau tidak bisa membawa Kuroko, aku akan mematahkan sayapmu.” Izuna menelan salivanya dalam. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti Izuki. Semua pilihan yang di berikan Izuki tidak ada yang bagus. Sama-sama jalan kematian.

 

“Baik, Izuki-sama.” Izuna menundukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum ia mulai mengepakkan sayap putihnya, dan melayang menjauh dari kastil Verchiel. Izuna harus melaksanakan tugasnya. Ia tidak ingin jika sayapnya di patahkan. Itu sama saja artinya dengan menjadi malaikat pembelot. Izuna akan membawa Tetsuya apapun yang terjadi.

 

Tebece

 

Glousarium :

  1. Verchiel : Malaikat Utusan Tuhan. Abdi Zeus yang bertugas untuk memburu para kaum pembelot.

 

  1. Gerha Hades : Kerajaan Dunia Bawah. Tempat Hades tinggal.

 

 

Akhirnya selesai. Saya ngebut kerjain ini fict karena deadline semakin dekat. Semoga saya bisa ngerjain deadline di sela-sela kehidupan real life saya yang sibuknya sangat go to hell sekali 😥 semoga tanggal 31 semuanya selesai yah.

Sayonara! Jangan lupa tinggalkan jejak, karena review kalian sangatlah berarti untuk saya.

Silahkan tinggalkan masukan dan kritikan juga. Saya sangat berharap jika kalian bisa ngerasain feelnya pas baca FF ini. karena sejujurnya, saya takut kalo imajinasi saya ga sampai sama reader. Karena kesulitan dalam FF fantasy itu adalah menggambarkan. Dan saya takut penggambaran semua cerita di ff ini ga sampai. Jadi silahkan berkomentar!

 

AkaKuro Banzai!

Mind To Review?

Astia Morichan ^^