Open PO Light Novel IWTBAS, Fanbook Meanie, etc

0

Halo. Saya mau Open PO Fanbook Light Novel No Senses aka IWTBAS Meanie Couple. Sekalian Open Po Fanbook Fudanshi Janai, [Fated Pairs sama Nephilim (Repeat PO)]

Karena ini FF pertama saya, saya bakal bukuin dan mau nawarin ke reader yang ada di sini. Siapa tau ada yang mau pegang versi bukunya.

Tenang aja, buat reader wattpad, No Senses bakal di publish sampai tamat kok. Cuman ya kecepatan update tetap disesuaikan sama respon readernya juga.

Bedanya No Senses versi buku sama Wattpad apa sih?

1. No Senses versi buku itu uncut. Unconsensored. Semuanya dijabarkan. Beda sama versi wattpad yang banyak dicut pas bagian rated.

2. No Senses versi buku ada visualisasi gambar yang khusus aku commis dari seseorang. Walau art dalam bukunya gak banyak. Karena memang Light novel artnya paling banyak empat gambar. Jadi di versi No senses, cuma ada 2 art yang di selip.

3. No Senses versi buku ada dua special chapter. Jadi total ada 22 chapter. Karena di wattpad cuman di publish sampai chap 20. Tanpa epilog.

4. No Senses versi buku itu adalah editing paling terupdate. Karena yang di versi wattpad, tulisannya masih acak-acakan.

5. Pastinya ga akan kepo soal lanjutan cerita. Soalnya di wattpad mungkin lama update karena siders

Open PO dari tanggal 11 December 2017 – 13 Januari 2018

Pembayaran paling lambat tanggal 16 Januari 2018

Estimasi Buku Selesai sekitar 2 minggu. Jadi buku dikirim tanggal 31 Januari 2018

Pengiriman dari Bandung

Spesifikasi buku :

Judul : No Senses

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 550+

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Harga : 129.500 (Belum ongkir)

Sekalian sama Fudanshi Janai

Sekalian sama Fudanshi Janai

Spesifikasi buku :

Judul : Fudanshi Janai

Kertas : Book paper 72 gram

Jumlah halaman : 162 halaman

Ukuran buku : 14 x 20 cm

Harga : Rp. 74.500(Belum ongkir)

Summary : Bagaimana jadinya jika Jeon Wonwoo – si Otaku yang mengoleksi puluhan wifu NTR, tanpa sengaja menemukan puluhan komik dan doujinshi Yaoi Rated di kamar Kim Mingyu yang notabene sahabat nista perotakuannya selama ini? Bisakah ia menerima Mingyu si Fudanshi? Atau terjerat pada lubang yang sama?

Summary : Bagaimana jadinya jika Jeon Wonwoo - si Otaku yang mengoleksi puluhan wifu NTR, tanpa sengaja menemukan puluhan komik dan doujinshi Yaoi Rated di kamar Kim Mingyu yang notabene sahabat nista perotakuannya selama ini? Bisakah ia menerima ...

Kalau kalian beli dua buku [Fudanshi Janai sama No Senses] bakal dapat potongan harga loh. Potongan harga 24.000. Dari harga Rp. 204.000 kalian cuma perlu bayar
Rp. 180.000. (24 rb uang loh say. Wkwk)

Sekalian juga ini sama repeat PO [Fated Pairs sama Nephilim] Yang kemarin ketinggalan ikut PO bisa pesan sekalian.

Spesifikasi Nephilim sama Fated Pairs ada di work nya. Untuk paket [Nephilim + Fated Pairs] Harganya Rp. 120.000

Kirim format pemesanan :

Nama :
Alamat:
No Hp:
buku yang di pesan:

Ke Line : babymingie
IG : astia_morichan
Email: astiamorichan@gmail.com

Advertisements

Fated Pairs | Chap 1| Meanie Couple | Yaoi

0

Jeon Wonwoo mendengus tak suka, saat manik foxynya menatap sosok Kim Mingyu. Pria bersurai pirang itu berjalan dengan gaya arogan seperti biasa. Ketika Mingyu melewati koridor di saat jam istirahat seperti ini, semua gadis dan pria yang merupakan omega (1) atau warrior (2) akan berteriak histeris. Berharap pria itu melirik ke arah mereka, dan mau bercinta satu malam. Benar-benar murah bukan? Seharusnya, mereka bercinta dan menjaga keperawanan untuk mate-nya (3) nanti. Bukan menjajakan tubuh pada pria yang bahkan bukan seorang alpha (4).

Pathetic..” Wonwoo menggelengkan kepala. Ia beruntung tidak terpesona pada sosok Kim Mingyu. Hanya karena di takdirkan menjadi seorang elder (5) saja, pria itu sudah berkepala besar. Well, memang menjadi seorang elder adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi Mingyu dari kawanan Red Moonpack (6) terkenal di antara semua kawanan serigala.

“Kau mengucapkan sesuatu, Jeon?” Suara bariton itu terdengar tepat di depan wajah Wonwoo. Membuat si surai coklat mendongak, sambil mengerjapkan mata. Retinanya menangkap sosok Mingyu yang menatapnya dengan tatapan merendahkan. Kemudian dari ekor matanya, Wonwoo bisa melihat jika semua orang yang sedang berada di koridor menatap mereka. Seolah ingin tahu apa lagi yang akan Wonwoo lakukan pada seorang elder.

“Kau menyedihkan, Kim..” Manik foxynya menatap Mingyu dengan pandangan meremehkan. Tatapan tidak suka benar-benar tersirat jelas di sana. Tapi sayang, tatapan itu sama sekali tidak membuat si surai pirang takut. Mingyu hanya tertawa dengan nada meremehkan. Seolah Wonwoo itu tidak sadar diri sedang berbicara dengan siapa. Dan Wonwoo benci itu.

“Bukankah yang menyedihkan itu kau, Wonwoo-ya?” Seringaian tercetak jelas di wajah tampan Mingyu. Tangan pria itu bergerak. Menarik dagu Wonwoo dengan jari telunjuknya. Agar fokus si surai coklat terarah ke arahnya.

“Umurmu sudah hampir delapan belas tahun, Jeon. Dan kau tidak pernah merasakan ‘Heat’ (7) . Mungkin Moon Goddes (8) mengutukmu agar tidak bisa mendapatkan mate.” Dan kali ini, ucapan Mingyu benar-benar tidak dapat ia toleransi. Pria itu merendahkannya sekali lagi. Di depan orang banyak. Bahkan sekarang Wonwoo bisa merasakan bisikan penuh hinaan terarah padanya.

Bughh

Bogeman mentah di layangkan oleh Wonwoo di pipi si surai pirang. Membuat Mingyu tersungkur beberapa senti. Terjatuh dengan tidak elit. Jangan heran, walaupun Wonwoo adalah seorang omega- strata terendah, tapi ia sudah di ajarkan berlatih keras bersama Jun yang merupakan warrior paling terkenal di kawanan Blue Circle.

“Sial! apa yang kau lakukan?!” Mingyu berteriak penuh amarah. Matanya memerah, dengan tubuh yang bergetar. Siap untuk berubah wujud, dan menghajar sosok Wonwoo di tempat.

“Memberimu sebuah pelajaran, Kim!” Dan setelahnya Wonwoo berbalik. Menghentakan kaki. Meninggalkan Mingyu yang mulai mengumpat tak tentu arah padanya. Well, sepertinya Mingyu memang sedang mengingat peraturan. Saat di sekolah, di larang untuk berubah ke dalam wujud serigala.

.

ΩΩΩΩ

.

Fated Pairs

M

Werewolf, Romance, Drama, Angst

Two / Three Shot

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Elder X Omega

Warning! Yaoi! Gaje. Tidak sesuai kaidah KBII. Eyd absurd, dll

Mingyu dan Wonwoo itu tidak akan pernah akur sampai kapan pun. Tapi saat Wonwoo mengalami masa ‘heat’, inner serigalanya memekik kegirangan. Menginginkan sosok Mingyu- sang elder dari pack Red Moon yang sangat ia benci.

a/n: Terinspirasi saat baca sayonara alpha. Wkwk. Jadi aja iseng.

enJOY!

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo menghentakan kaki dengan kesal, saat ia memasuki ruangan kelas. Membuat beberapa fokus yang ada di sana menoleh ke arah Wonwoo, dan menatapnya tidak suka. Tapi Wonwoo tidak peduli. Itu bukan urusannya jika orang-orang yang ada di ruangan ini tidak suka pada Wonwoo karena selalu berurusan dengan Mingyu. Semua itu sama sekali bukan keinginannya!

“Sial!” Wonwoo mengumpat cukup keras, sambil menarik kursi. Kemudian mendudukan diri di sana. Dari ekor matanya, Ia bisa melihat Jeonghan membalikan badan, dan menghampiri Wonwoo dengan tatapan khawatir yang menghiasi wajah cantik pria itu.

“Kenapa lagi, Won?” Jeonghan bertanya, kemudian duduk di kursi yang ada di depan Wonwoo. Hingga mereka saling berhadapan. Sebenarnya Jeonghan tahu kenapa alasan Wonwoo bisa semarah ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena Kim Mingyu. Bukan hal aneh jika Wonwoo dan Mingyu akan selalu bertengkar setiap kali bertemu. Ia saja heran, kenapa mereka bisa seperti itu. Saat Jeonghan bertanya awal pertemuan mereka sampai berakhir menjadi musuh bebuyutan saja, Wonwoo tidak tahu kenapa sampai berujung pertengkaran tanpa akhir dengan Mingyu.

“Kim Mingyu. Dia kembali mengejekku! Kau tahu apa yang dia bilang? Mingyu sialan itu bilang jika aku di kutuk tidak akan mempunyai mate seumur hidup, hanya karena aku belum pernah mengalami heat!” Wonwoo mulai menggerutu. Ia bercerita dengan mata penuh dendam kesumat yang tersirat di foxynya. Membuat Jeonghan menggelengkan kepala. Semoga Tuhan bisa membuat mereka berdua akur. Jujur saja, kepala Jeonghan akan langsung pening jika setiap hari mendengarkan umpatkan Wonwoo untuk Mingyu.

“Malam ini bulan purnama. Buktikan saja jika kau bisa bertemu mate-mu malam ini, atau setidaknya jika tidak bertemu dengan mate abadi, kau bisa merasakan heat saat melihat para alpha.” Jeonghan mengingatkan. Malam ini memang bulan purnama. Waktu dimana para serigala bertemu dengan mate abadi yang sudah di takdirkan.

Kali ini, Wonwoo menyeringai kecil. Ia merasa di ingatkan. Kalau begitu, malam ini Wonwoo akan serius mengelilingi hutan di area pertemuan yang sudah di adakan beberapa pack. Ia tidak akan berdiam diri lagi di rumah. Wonwoo akan membuktikan jika ia bisa menemukan matenya dan membawanya pada Mingyu yang arogan itu.

“Kau benar. Kali ini, aku harus berhasil menemukan mate-ku!” Wonwoo menyeringai kecil. Membuat Jeonghan terkekeh saat melihat ekspresi sahabatnya itu.

“Kau akan berkeliling di hutan dan bercinta di bawah pohon lagi bersama Seungcheol Hyung malam ini?” Pertanyaan polos Wonwoo sukses membuat wajah Jeonghan memerah sempurna. Seperti tomat.

“Ya! Jangan menanyakan hal privasi seperti itu!” Jeonghan mengerucutkan bibir kesal, dan itu malah membuat Wonwoo tertawa puas.

“Doakan aku agar mempunyai mate, sama seperti mu.” Jeonghan mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia selalu berdoa yang terbaik untuk Wonwoo. Tapi doa yang selalu Jeonghan panjatkan hanya satu; Mingyu dan Wonwoo selalu akur sampai tua.

.

ΩΩΩΩ

.

Mingyu mendengus keras, saat ia memasuki kelas. Raut wajahnya tidak terlihat bersahabat. Membuat semua orang yang ada di sana menjaga jarak. Tidak ingin cari masalah. Jika seperti itu, biasanya Mingyu akan mengeluarkan aura mematikan. Kekuatan Mingyu memang menganggumkan. Dia adalah sang elder yang di perlakukan spesial oleh alpha. Apalagi Mingyu masuk ke dalam kawanan Red Mood. Pack terkuat di antara yang lain.

“Apa yang terjadi padamu? Bertengkar dengan Wonwoo lagi?” Hansol berseru cukup keras. Membuat Mingyu menggeram tak suka pada pria berwajah westren itu. Tapi geramannya tidak membuat Hansol takut. Justru pria itu malah berjalan mendekat, dan saat jarak mereka menipis, Hansol merangkul bahu Mingyu.

Hey, Dude! Jangan seperti itu. Kau bisa kena karma nanti jika mengejek Wonwoo.” Mingyu mendengus kasar. Ia mulai menepis tangan Hansol, dan menarik kursi yang ada di depan. Kemudian duduk dengan gaya arogan yang mampu membuat Hansol menggelengkan kepala.

“Bagaimana jika Moon Goddes malah memasangkanmu dengan Wonwoo? Kau juga belum menemukan matemu, Gyu.” Mingyu kembali mendelik. Tidak suka dengan ucapan yang di keluarkan sahabatnya itu. Mana mungkin Wonwoo mate-nya? Jangan bercanda! Sekali pun Wonwoo adalah mate-nya, Mingyu pasti akan menolak pria itu.

“Aku lebih baik mati membusuk di saat umurku dua puluh dua, dari pada harus bersama Wonwoo.” Tawa Hansol pecah mendengar ucapan yang di lontarkan Mingyu. Sebegitu tidak sukanya kah Mingyu pada Wonwoo? Padahal Wonwoo adalah omega terpandang, dan banyak sekali alpha yang tertarik pada pria itu.

“Ingat, Gyu. Kau itu berumur panjang. Bisa jadi kau berumur empat ratus tahun, karena kau adalah seorang elder. Kemudian kau bisa menjadi tetua nanti. Tapi kau harus ingat, mate bisa menambah kekuatanmu itu. Saat bertemu dengan mate-mu, kau tidak akan bisa menolaknya. Sekali pun itu bisa jadi Wonwoo.” Hansol mengingatkan, dan itu malah membuat Mingyu semakin menatapnya tidak suka. Ia tahu jelas jika Mingyu tidak suka di ingatkan tentang posisi eldernya itu, apalagi dengan membawa topik Wonwoo.

“Tapi Wonwoo tidak mungkin menjadi mate-ku.”

“Kita tidak tahu apa yang di pikirkan, Moon Goddes. Siapa tahu Wonwoo memang mate-mu.”

“Kau mengada-ada.”

“Apa kau tidak ingat ucapan Oracle(9) yang kita temui tiga bulan lalu tentang nasibmu itu?” Kali ini, Mingyu terdiam. Tidak menjawab. Ia tentu tidak akan lupa tentang pertemuan mereka dengan oracle. Mingyu juga tidak lupa dengan ramalan mengenai nasibnya.

“Aku tidak ingin membahas itu. Lagi pula, orang itu tidak mungkin Wonwoo.” Mingyu mulai berdiri dari duduknya. Menatap tajam Hansol yang terkekeh, kemudian melangkah menjauh dari pria itu. Berbicara dengan Hansol malah membuat mood Mingyu semakin tidak bagus.

“Mau kemana? Kelas akan dimulai?” Hansol berteriak. Kembali mengingatkan agar Mingyu segera kembali.

“Bukan urusanmu!” Dan setelahnya, Mingyu keluar dari pintu kelas. Punggungnya sudah tidak dapat di lihat lagi oleh Hansol. Membuat Hansol menggelengkan kepala melihat tingkah Mingyu. Ia hanya bisa berharap yang terbaik untuk Mingyu, dan ramalan itu tidak akan pernah terjadi.

.

ΩΩΩΩ

.

Wonwoo menghela napas kasar. Ini sudah pukul jam delapan malam, dan ia masih berada di sekolah. Seharusnya Wonwoo sudah ada di hutan. Berbaur dengan para kawanan. Menunggu mate-nya datang, dan setelah bertemu dengan mate seumur hidup, ia bisa mengalami masa heat yang selalu di idamkan. Tapi sayang, harapan itu harus sirna dalam sekejap. Ia tertidur di perpustakaan, dan baru terbangun karena mendengar suara lolongan. Beruntung, perpustakaan itu tidak di kunci. Jadi Wonwoo bisa keluar dari sana dengan mudah.

“Sial! Sial!” Wonwoo mengumpat dengan keras. Ia mulai berlari. Suara hentakan kaki menggema. Menghentak lantai di bawahnya. Koridor ini sudah nampak sepi. Legang. Tidak ada siapapun. Kecuali Wonwoo yang masih mencoba keluar dari gedung sekolah ini.

“Ehh…” Si surai coklat menghentikan langkah. Ia terdiam, saat mencium bau yang berbeda. Hidungnya mulai mengendus udara. Bau itu seakan menariknya dalam sekejap, dan Wonwoo bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar. Darahnya berdesir, karena bau itu semakin tercium jelas. Bahkan Wonwoo bisa merasakan jika serigalanya mulai memekik kegirangan.

Ikuti, Won..’ Inner serigalanya mulai memasuki pikiran. Tapi sulit untuk Wonwoo menurutinya. Karena bau itu justru membuat tubuhnya serasa lemas dalam sekejap. Tubuhnya semakin memanas. Wonwoo yakin jika seluruh wajahnya sudah memerah sempurna.

“Ahh…” Erangan kecil lolos, saat jemari si surai coklat bergerak menyentuh pahanya sendiri. Mencoba berdiri dengan tegak dengan cara mencengkram celana denim yang di kenakan, malah membuat tubuh Wonwoo semakin tidak karuan.

“A-apa y-yang terjadi padaku?” Lirihan itu terdengar parau. Wonwoo kembali melangkah menuju bau yang menuntunnya.

Heat. Kau mengalaminya, bodoh! Sekarang ikuti bau itu. Siapa tahu, dia adalah mate-mu.’ Inner serigala kembali meraung merasuki pikiran. Mencoba mengambil alih tubuh Wonwoo. Ia tahu jika Will- serigalanya bahagia akibat heat pertama mereka. Sekarang Wonwoo tahu, bagaimana proses heat yang selalu para omega lakukan dengan cara mengeluarkan feromon berlebih. Mungkin bau feromon Wonwoo juga sedang menguar. Ia bersyukur tidak ada orang di sekolah. Jika sampai feromon berlebihnya keluar, mungkin saja Wonwoo bisa di lecehkan di tempat.

“Diam, Will! A-aku sedang mencoba..” Hidung kembali mengendus. Bergerak membau segala penjuru. Langkah Wonwoo bergerak tak menentu. Bergerak menjauh dari koridor, sampai ia berada tepat di luar gedung. Manik foxy menilik. Mengamati suasana luar. Angin dingin berhembus. Menerpa tubuh si surai coklat, membuat bau itu semakin tercium. Kepala mulai mengadah. Wonwoo bisa melihat bagaimana pancaran bulan purnama sekarang. terlihat indah, tapi sayang ia sendiri di sini. Tidak ada yang menemaninya menikmati keindahan malam.

“Seharusnya aku sudah berada di hutan. Bukan di sini. Kita tidak akan menemukan mate di sini, Will..” Wonwoo kembali berujar lirih. Ia kecewa. Bau itu memang terhenti di sini, dan Wonwoo tidak dapat menemukan siapa pun di sana. Di luar gedung sekolah tepat Wonwoo bediri, hanya ada taman kecil yang sering ramai jika sedang istirahat. Di tambah pepohonan tinggi yang menjulang. Tidak ada yang aneh. Atau paling tepatnya tidak ada siapa pun di tempat ini.

Srakkk

Tubuh Wonwoo kembali menegang saat mendengar suara kecil yang mampu mengalihkan fokus. Manik foxy kembali menilik. Mengamati arah semak belukar. Serta pohon plum di sekitar taman. Dan retinanya sukses membulat, saat mengamati satu sosok yang sedang terduduk di salah satu pohon. Wonwoo kembali merasakan tubuhnya memanas tak karuan. Seolah ada sesuatu yang melesak ingin keluar dari tubuh, dan ia tidak tahu apa itu.

Si surai coklat kembali melangkah. Mendekati sosok itu. Bibir bawah di gigit dengan kuat. Takut mengeluarkan suara. Wonwoo hanya perlu mendengar suara debaran jantungnya sendiri yang menggema. Bertalu dengan kencang, ketika jaraknya dengan sosok itu hanya tinggal lima meter.

Dahi mengerut. Matanya membulat sempurna, saat sadar sosok yang fokusnya tangkap. Udara di sekeliling sudah di penuhi oleh bau itu. Bau memabukan yang kini berbaur dengan bau feromon miliknya. Inner serigalanya memberontak. Ingin menguasai tubuh Wonwoo, saat tubuh si surai coklat itu terdiam membatu di tempat.

Mate! Itu mate kita, Won!’

Wonwoo menelan saliva dalam, ketika sosok bersurai pirang itu membuka mata. Obsidian kelamnya mulai terlihat, dan alahkan terkejutnya Wonwoo, saat sosok itu mulai berdiri. Menggeram ke arahnya.

“T-tidak mungkin.. i-itu M-mingyu…” Wonwoo menggelengkan kepala. Mencoba menyadarkan diri jika semua ini mungkin adalah delusi tak masuk akal. Kim Mingyu tidak mungkin menjadi mate-nya. Sampai kapanpun, itu tidak mungkin terjadi.

“Kau…” Suara bariton yang mengalun dari mulut Mingyu malah membuat tubuh Wonwoo memanas dengan cepat. Manik foxynya bisa melihat jika Mingyu mulai mendekat. Manik obsidian yang awalnya hitam kelam, berubah menjadi merah darah.

“Jangan mendekat, Kim!” Wonwoo berseru panik. Tubuhnya tidak bisa di gerakan sekarang. Tapi ia harus lari. Mingyu tidak boleh mendekatinya di saat ia mengalami heat. Apalagi jika Mingyu memang berniat untuk melakukan mating bound (10). Itu tidak boleh sampai terjadi.

“Bau feromon milikmu menyengat, Wonwoo-ya..” Suara Mingyu kembali mengalun. Hentakan kaki kembali terdengar. Mendekat ke arah Wonwoo. Jantung Wonwoo semakin berdebar tak tentu arah, karena Mingyu semakin menipiskan jarak.

“Jangan biarkan para alpha tertarik dengan bau milikmu itu, Won..” Mingyu mendesis penuh posesif. Tidak suka, saat bau feromon yang Wonwoo keluarkan semakin menyengat ketika ia mendekat.

“Tidak mungkin! Ini tidak masuk akal!” Wonwoo kembali berteriak, dan ia mulai bisa membalikan badan. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Serigalanya mencoba menolak permintaan Wonwoo. Tidak rela jika harus berpisah dengan mate-nya itu.

Tubuh si surai coklat mulai bertransformasi. Membesar secepat kilat, dan berubah menjadi sosok serigala berbulu abu-abu yang bergradasi dengan warna putih setinggi tiga meter. Serigala Wonwoo mengibaskan ekor, dan mulai berlari menjauh. Meninggalkan sosok Mingyu yang menggeram marah, dan mulai mengejar sosok Wonwoo dalam balutan transformasi sosok serigala berbulu coklat lebat setinggi empat meter. Matanya memerah sempurna, saat sosok abadinya itu berlari tak menentu. Dan Mingyu mulai mengejar. Ia tidak akan membiarkan Wonwoo lari malam ini. Setelah tahu, jika pria itu memang mate yang Moon Goddes takdirkan untuknya. Jika Wonwoo adalah mate-nya, maka Mingyu harus menjaga pria itu agar ramalan oracle tidak akan pernah terjadi.

TeBeCe

Glousarium :

Omega : Serigala yang bisa hamil. Biasanya pasangan mereka adalah para alpha. Dan kawanan omega itu strata paling rendah,juga paling sedikit.

Warrior : Serigala petarung.

Mate : Pasangan abadi. Takdir. Sehidup semati

Alpha : Pemimpin para kawanan serigala.

Elder : Serigala dengan kemampuan spesial yang dapat menguasai beberapa elemen kehidupan. Hanya ada satu atau dua elder di setiap kawanan. Dan umur elder biasanya itu panjang. Hingga elder bisa jadi tetua.

Pack : kawanan

Heat : Proses yang hanya di miliki omega. Biasanya suka pengen di sentuh. Apalagi sama mate-nya. Saat masa heat, biasanya ngeluarin bau feromon yang mampu narik serigala lain. Sekali pun itu bukan matenya.

Moon Goddes : Dewa Dewi yang ngejodohin para serigala

Oracle : Cenayang. Putra Apollo

Mating bound : Proses mating. Penandaan. Naena.

Wkwkk gaje yah sebenernya. Ya udah sih, ini Cuman iseng doang kok. Ga lebih wkwk. Kalau ada istilah yang salah, silahkan kasih tau. Biar di revisi.

Ini tuh emang tumben aja pengen buat ABO yang matenya bener-bener sama-sama serigala. Biasanya aku tuh kalo buat ff fantasy mate-nya suka ngawur. Wkwk

Kayak serigala X vampire

Incubus x omega

Demon x fallen angel

Nah yang ini baru ngga terlalu ngawur. Ngawur sih sebenernya. Wkwk. Biasanya kan alpha x omega. Cuman aku maunya anti mainstream. Ga mau samaan kayak ff abo lain yang pernah Aku baca. Jadi deh elder x omega. Wkwk

Bye. Mind to Review?

Astia morichan

Fated Pairs | Meanie | Chap 2| Meanie Couple

2

Hati-hati dengan makhluk bersayap. Berbahaya. Kau akan merasakan kepedihan, serta kehilangan lebih menyakitkan dari yang pernah kau alami. Kekuatan yang selama ini menjadi milikmu akan hilang sebagian bersama dengan perginya sang jiwa.” Sang Oracle- Putra Apollo yang bernama Lee Jihoon itu membuka mata. Menampilkan sepasang mata tajam dan penuh keprihatinan yang terarah pada Kim Mingyu- sang elder; yang rela datang mengunjungi pondok harpy . Tepat berada di ujung hutan bagian selatan, jauh dari wilayah Red Moon sendiri.

Jihoon telah memaparkan semua visualisasi yang ia lihat di masa depan saat memegang tangan Mingyu pertama kali. Apollo memberinya sebuah ilham yang akan menjadi kenyataan di masa akan datang. Semua ramalan dari Jihoon tidak akan pernah meleset. Termasuk mengenai nasib yang akan menimpa si surai pirang.

Apa maksudmu?” Suara bariton Mingyu terdengar dingin. Mencekam. Seolah mengatakan jika Jihoon harus menjelaskan semua ramalan yang ia dapat. Mingyu masih belum mengerti dengan jelas apa yang sang Oracle katakan. Kenapa sang mate harus pergi dari hidupnya? Lalu siapa sang makluk bersayap yang tadi di sebut itu?

Maaf,” Jihoon menggeleng pelan. “aku tidak punya wewenang untuk memaparkan semua ramalan ini dengan jelas. Tapi aku hanya bisa memberitahumu satu hal.” Sang Oracle menghela napas, sebelum meneruskan ucapannya. Hingga sang elder kembali memberikan tatapan intens lewat manik obsidian kelamnya.

Jika kau bertemu dengan mate-mu, jaga dia. Jangan pernah melepaskan pandanganmu darinya, atau kau akan menyesal seumur hidupmu.” Jihoon melepaskan tangan Mingyu. Ia bisa melihat jika sang elder masih terlihat kebingungan dengan semua ini. Pasalnya, Jihoon juga tidak bisa memberitahu semua hal yang sudah sang Apollo perlihatkan. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran yang bisa membuat elder kuat ini terpuruk.

Apa kau tidak mengatakan omong kosong?”

Tidak. Aku sama sekali tidak berbohong soal ini. Jika kau tidak percaya, itu terserah padamu. Aku hanya ingin mengingatkan, jika takdir bisa saja berubah asal kau mampu mencegah hal itu.” Jihoon berdiri dari duduknya. Ia pergi ke belakang pondok. Meninggalkan Mingyu yang masih terdiam dan berfikir keras tentang ramalan yang akan terjadi. Setelah ini, Mingyu akan menanyakan semuanya kepada Hansol. Pemuda itu mampu menjelaskan teka-teki yang jabarkan sang Oracle.

Jika apa yang di katakan oleh Jihoon adalah sebuah kebenaran, maka Mingyu tidak dapat menganggap remeh ramalan itu. Walaupun sebenarnya, ia tidak percaya dengan ramalan. Datang ke tempat Jihoon pun hanya karena paksaan dari para tetua. Jika tidak terpaksa, Mingyu tidak usah repot-repot datang hanya untuk mendengarkan omong kosong belaka seperti sekarang.

.

ΩΩΩ

.

Fated Pairs

Elder X Omega

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

Song : Glourious – Hey! Say! JUMP

a/n: Lama yah? Hahaha. Maaf. Saya ga ada semangat. Tiba-tiba dapet WB, dan saya masih dalam tahap males editing. Ini aja editingnya sekenanya. Saya juga sibuk karena ini mau UAS. Di tambah saya juga sibuk kerjain Commissioned Fanfict. Hehe.

So, EnJOY!

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo dengan balutan serigala abu-abu bergradasi putih besar itu berlari cepat. Menerobos jalanan yang untungnya sepi. Legang. Tanpa adanya kendaraan manusia yang lewat di sana. Langkah semakin cepat untuk memasuki hutan yang tinggal satu kilo meter di depan. Serigala itu berlari tanpa menoleh pada sosok serigala berbulu coklat yang lebih besar di belakangnya. Ya. Kim Mingyu ikut mengejarnya setelah tahu jika mereka adalah mate. Dan yang lebih parah lagi, Wonwoo sedang mengalami heat. Ia tidak bisa berlari cepat seperti biasanya. Wonwoo harus segera sampai ke rumah dan meminum pill surppressants(1) ; pengontrol hormon feromon. Jika tidak segera menelannya, feromon dalam tubuhnya mampu menarik kawanan serigala untuk memperkosa Wonwoo di tempat. Begitu pula dengan dirinya yang akan kesakitan karena ingin di sentuh.

Jujur. Wonwoo sama sekali tidak percaya jika semua ini adalah kenyataan. Sejak tadi, Will terus berteriak dalam innernya. Memberontak keras untuk mengambil alih tubuh, karena ingin segera berada di samping mate-nya sendiri, dan melakukan mating bound. Tapi sayang, keinginan sang serigala tidak dapat Wonwoo patuhi. Ia tidak akan pernah menerima Mingyu menjadi mate-nya. Tidak akan pernah. Sampai kapanpun juga.

Srakkk

Wonwoo menghentikan langkah seketika. Tubuhnya tiba-tiba saja berhenti dalam tarikan gerak refleks. Will meringik cukup keras tanda bahaya, saat sebuah pelindung berwarna biru membulat di sekeliling mereka. Hingga sang serigala tidak bisa keluar melewatinya.

Wonwoo mengernyit heran. Jantungnya semakin berpacu dengan keras tak karuan akibat sebuah pelindung biru yang tiba-tiba mengurung dirinya. Kali ini, ketakutannya bertambah dua kali lipat. Sumpah. Wonwoo ingin mengutuk Moon Goddess yang tega memberikan heat padanya dengan penuh cobaan.

“Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Pelindung ini akan menutupi tubuhmu dari mate yang sedang mengejar. Diam di sana sampai mate-mu menghilang dan kembali pada kawanan.” Suara bass yang terdengar merdu tiba-tiba saja masuk ke dalam kepala Wonwoo. Seolah betelepati secara langsung. Tanpa menunjukan wujud yang sebenarnya. Bahkan karena suara itu, feromon heat yang sejak tadi menguar, tiba-tiba saja hilang. Wonwoo tidak membutuhkan pill lagi untuk meredam birahi sesaatnya yang membuat tubuh gelisah.

“S-siapa kau?” Suara geraman Will kali ini mendominasi. Sosok serigalanya mengambil ancang-ancang. Siap tempur, jika saja sosok misterius itu tiba-tiba muncul, kemudian menyerang. Sejak dulu, Wonwoo di ajarkan untuk selalu hati-hati dan tidak mudah percaya pada siapapun. Karena setahu yang ia ingat, setiap makluk selalu dengan mudah merubah pikiran dalam sekejap.

“Tenanglah. Aku hanya membantumu Omega.” Suara itu kembali mengalun, dan tanpa sadar membuat Wonwoo terdiam. Dirinya seolah percaya dengan apa yang sosok itu ucapkan. Wonwoo pikir, ia mengenali suara itu. Tapi sang omega lupa siapa pemilik suara bass yang sekarang membuatkannya pelindung. Ia hanya bisa diam dan mengangguk mengiyakan.

Di dalam pelindung, Wonwoo dapat melihat dengan jelas sosok serigala Mingyu mulai muncul. Mingyu berjalan mendekat ke arahnya. Kepala serigala berbulu coklat itu bergerak ke segala penjuru. Sesekali Mingyu menggeram kesal, karena tidak dapat menemukan apa yang ia cari, yaitu dirinya. Sekarang, Wonwoo percaya jika pelindung ini benar-benar membutakan penglihatan sang mate. Terbukti dengan serigala coklat itu yang kembali berlari. Melewati dirinya begitu saja. Seolah ia memang tidak melihat Wonwoo berdiri sama sekali di sana.

Tanpa sadar, Wonwoo menghela napas lega ketika jarak Mingyu memang sudah terbilang jauh dari tempatnya. Beberapa detik setelahnya, transformasi wujud serigala Will berubah sepenuhnya. Menjadi sosok manusia Wonwoo seperti biasa. Seragam si surai coklat terlihat kotor akibat tanah. Tapi Wonwooo tidak peduli lagi soal pakaiannya yang kacau. Wonwoo hanya peduli pada sosok yang membuatkannya pelindung ini. Pelindung biru itu masih membulat. Mengitari tubuh Wonwoo. Hingga Wonwoo masih tidak bisa keluar dari sana.

Sungguh. Wonwoo benar-benar penasaran dengan sosok itu. Kenapa pula sang penolong harus repot-repot membantunya saat di kejar oleh Mingyu yang notabene adalah mate Wonwoo sendiri? Jika memang sang penolong tahu, seharusnya ia membiarkan Wonwoo di terkam oleh Mingyu saja.

“L-lepaskan aku.” Wonwoo berteriak cukup keras. Sebenarnya, ia takut dengan sosok sang penolong. Sudah dapat di pastikan jika yang menolong Wonwoo bukanlah seorang serigala. Kemungkinan besar yang mempunyai kemampuan seperti itu adalah para demon (2), incubus(3), dan pangeran kegelapan(4). Walau Wonwoo sendiri belum pernah menemui makluk yang tadi ia asumsikan. Tapi Wonwoo yakin jika yang menolong adalah salah satu dari mereka. Apalagi dengan aura mencekam yang tiba-tiba saja Wonwoo rasakan. Ia semakin yakin jika sang penolong bukan golongan makluk baik hati.

“Kau mengenalku.” Suara bass kembali terdengar. Sesekali tertawa renyah, saat pelindung yang ia ciptakan menghilang dari sekitar tubuh Wonwoo.

Srakk

Suara denting pohon yang di tendang, beserta semak-semak yang terinjak, mampu membuat Wonwoo menoleh ke belakang. Tepat pada pohon oak yang berdiri paling kokoh di sana. Manik foxy menyipit sempurna, saat menemukan sosok pemuda yang tiba-tiba saja berjalan ke arahnya.

Dalam benaknya, Wonwoo merasa kenal dengan pemuda itu. Cahaya bulan tidak membantu Wonwoo untuk melihat dengan jelas sosok itu. Wonwoo harus mengerutkan dahi untuk berpikir tentang sosok tinggi itu. Ia merasa kenal, tapi sang omega tidak tahu siapa sosok itu.

“E-eh? A-aron hyung?” Si surai coklat memekik cukup keras, saat sosok pemuda yang memakai seragam seperti dirinya muncul. Sosok itu adalah Kwak Aron. Kakak kelas tingkat tiga di sekolahnya. Jujur saja, ia tidak menyangka jika Aron yang menolongnya. Jika pelindung itu berasal dari Aron, besar kemungkinan jika sang kakak kelas bukanlah seorang werewolf.

“Kau baik-baik saja?” Aron kembali bertanya saat jaraknya dengan Wonwoo semakin menipis. Sementara Wonwoo memundurkan tubuh secara refleks. Sungguh. Ia takut dengan Aron sekarang. Jika dulu Wonwoo nyaman bersama kakak kelas, maka sekarang, presepsi itu berubah secepat kilat akibat siapa sesungguhnya sosok Aron. Kekuatan Aron cukup berbahaya, dan ia yakin jika kekuatan sang penolong mampu membakar tubuhnya dalam sekejap.

“Kau takut padaku?” Aron bertanya, dan si surai coklat hanya mampu terdiam. Wonwoo hanya bisa menundukan kepala. Enggan menjawab, atau pun menggerakan tubuhnya lagi.

“Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Kau tahu tentang Archangel (5) ? Orang-orang dunia atas memanggilku dengan Uriel (6).” Sang malaikat tersenyum menawan. Membuat Wonwoo yang melihat lewat ekor mata, tiba-tiba mendongakan kepala. Ia terhipnotis dengan senyuman itu. Apalagi dengan aura yang Aron pancarkan berubah menjadi aura penuh kedamaian. Hingga membuat semua ketakutan yang tadi bersarang dalam hati tiba-tiba lenyap dalam sekejap karena melihat sebuah senyuman sang malaikat.

Ini adalah kali pertama bagi Wonwoo melihat seorang malaikat. Jujur, ia masih tidak percaya dengan apa yang Aron ucapkan. Karena sesosok Archangel tidak akan mungkin berada dalam dunia manusia dalam waktu yang cukup lama.

“K-kenapa bisa ada seorang malaikat di sini? Ini bukan wilayahmu.” Wonwoo mencoba bertanya dengan terbata. Jujur, ia memang penasaran, dan butuh penjelasan lebih. Sang Omega tidak akan mungkin percaya begitu saja.

“Tidak boleh?” Aron menggerlingkan mata penuh godaan, dan hal itu malah membuat Wonwoo salah tingkah karena malu. Sial! Malaikat itu menggodanya dengan tiba-tiba.

“Bukan. Hanya saja, ini bukan wilayahmu. Ini kawasan para serigala.”

“Aku hanya kebetulan lewat saja, dan melihatmu ketakutan saat di kejar oleh mate ketika kau sedang heat. Apa kau takut dengan mating bound?” Pertanyaan yang di lontarkan Aron semakin membuat Wonwoo merasa malu. Entahlah, jika di tanya tentang mating bound, Wonwoo selalu kikuk. Ia memang tidak pernah mengalaminya, dan jika pun Wonwoo akan mengalami mating, ia tidak ingin melakukan hal itu dengan Mingyu. Sekali pun Mingyu memang mate-nya.

“Bukan urusanmu, Hyung.” Wonwoo menundukan kepala. Enggan menatap sang malaikat yang bisa saja kembali membuat Wonwoo terhipnotis dalam sekejap dengan kekuatannya itu.

“Apa kau menolak mate-mu?” Aron kembali bertanya, dan hal itu malah membuat Wonwoo menggeram kesal. Sungguh, ia tidak dalam kondisi yang tepat untuk di tanya tentang hal seperti ini. Apalagi jika menyangkut Mingyu- sang mate yang sudah menjadi takdirnya.

“Sekali lagi, ini bukan urusanmu,” Wonwoo menatap tajam Aron. Jika tadi ia malu, sekarang Wonwoo sudah kembali menunjukan keberanian seperti biasa. “terimakasih karena menolongku, dan sampai jumpa lagi, hyung.”

Wonwoo mengangguk kecil, sebagai tandai hormat pada sang malaikat. Kemudian berjalan melewati Aron yang masih terkekeh kecil. Seolah tidak peduli dengan ucapan sarkas yang di lontarkan sang omega.

“Won, aku tertarik padamu.” Aron berteriak cukup keras, saat jarak Wonwoo mulai menjauh dari pandangannya. Meninggalkan dirinya yang masih tersenyum penuh arti. Menatap sosok sang omega yang mulai tak terlihat di telan oleh kegelapan malam.

.

oOo

.

Mingyu berlari kencang menuju wilayah Red Moon. Saat jaraknya dengan pondok utama terlihat, transformasi serigalanya menghilang. Di gantikan dengan sosok manusia miliknya. Si surai pirang mulai mengumpat keras, saat melihat sekeliling kawasan Red Moon. Kawanannya nampak tidak ada di sana. Sepertinya mereka semua sedang menghadiri pertemuan semua kawanan di tengah hutan bagian utara, dan setelahnya akan melakukan mating bond dengan mate masing-masing.

Langkah kaki panjang si surai pirang mengantarkannya ke arah pondok milik keluarga Kim. Dengan gontai, Mingyu memutuskan untuk duduk di teras. Kepalanya mengadah untuk menatap bagaimana indahnya bulan dan bintang di antara gelapnya langit malam. Jujur saja, saat ini, birahi Mingyu masih berada di puncak tertinggi ketika melihat Wonwoo pertama kali. Beruntung, Mingyu mampu menahan semua birahi sang serigala karena dirinya tidak mudah untuk di kalahkan oleh sang inner. Mungkin jika serigala lain, saat bulan purnama datang, serta tidak dapat bertemu dengan mate akan berteriak gila, saking sakitnya membutuhkan pelampiasan.

“Sial!” Umpatan keras kembali Mingyu lontarkan. Jujur saja, dirinya masih tidak tenang. Sejak tadi, Mingyu memikirkan kemana sosok Wonwoo menghilang. Mate-nya itu tidak akan mudah menghilang dengan cepat dalam keadaan menahan birahi seperti itu. Apalagi dengan feromon miliknya yang menyebar di kala bulan purnama seperti ini.

“Arghhhttt… Aku harus ke Blue Circle sekalipun kepalaku di penggal karena menerobos kawasan itu!” Mingyu mengacak surai pirangnya frustasi. Ia sudah tidak punya pilihan lain. Satu-satunya yang dapat Mingyu pikirkan adalah jika Wonwoo pergi ke pondok rumahnya di Blue Circle. Pemuda itu tidak akan mungkin berkeliaran lebih jauh saat mengalami heat seperti ini.

Mingyu berdiri dari duduknya. Kemudian tubuhnya kembali bergetar, dan setelah itu bertransformasi menjadi sosok serigala berbulu coklat. Sang elder mengibaskan ekor besarnya, sebelum memutuskan untuk berlari secepat kilat. Meninggalkan kawasan Red Moon yang sepi di belakangnya.

.

ΩΩΩ

.

Wonwoo berjalan dengan lunglai. Kakinya serasa lemas dalam sekejap, dan tubuhnya tiba-tiba saja kembali memanas. Heatnya kembali hadir saat Aron sudah tidak berada di samping Wonwoo lagi. Beruntung, saat heat itu kembali hadir, Wonwoo sudah sampai di depan gerbang pintu masuk ke wilayah Blue Circle. Double Lucky, tidak ada para kawanan. Itu artinya, tidak akan ada yang menyerang Wonwoo dalam kondisi heat seperti sekarang.

Brakk

Kaki sang omega tersandung kerikil. Tubuh si surai coklat terjatuh. Membentur tanah dengan keadaan tengkurap. Sepertinya, mengumpat tidak akan cukup untuk menghilangkan emosi karena kesialan yang ia dapat hari ini.

Kaki Wonwoo bergerak gelisah, hingga ia mulai meringkuk dengan tanah sebagai alasnya. Jujur saja, tubuh Wonwoo sudah tidak kuat. Ia ingin menyentuh dirinya sendiri di sini. Rasa panas yang menyerang tubuh, serta peluh-peluh yang menghiasi setiap inci kemolekan tubuhnya, membuat sang omega ingin melepaskan diri dari pakian yang melekat.

“S-sial…” Umpatan lirih Wonwoo terdengar tak berarti. Bibir bawah di gigit cukup keras, agar meredam desahan yang hampir keluar dari mulut. Sungguh. Wonwoo kesal. Pasalnya, ia hanya berjarak beberapa meter lagi dari rumah. Tapi kenapa tubuhnya sudah tidak kuat? Jika dulu ia mendambakan akan datangnya heat, maka sekarang berbeda. Si surai coklat membencinya. Apalagi jika ingat jika semua ini bermula dari Mingyu- sang musuh bebuyutan.

“Aghhtthh..” Geraman lirih lolos dari mulut Wonwoo. Tubuhnya mulai bergerak. Mencoba untuk merangkak maju, dengan menggerakan tangan. Meraih setapak batu kecil di depan agar ia bisa memajukan tubuh. Tapi sial, justru gesekan tubuhnya dengan tanah di bawah, makin membuat tubuhnya semakin panas. Wonwoo semakin menggeliat tak karuan, akibat sensasi gesekan itu.

Sudahlah. Wonwoo sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Ia mulai membalikan tubuh, hingga dirinya telentang. Manik foxy tertutup dengan perlahan. Seolah tidak ingin peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Tangan si surai coklat mulai bergerak membuka kaitan seragam dengan gerakan cukup cepat. Hingga kaitan seragam itu sudah terbuka sempurna. Memperlihatkan bagaimana mulusnya kulit seputih porselen sang Omega. Bau feromon milik Wonwoo menguar cukup pekat memenuhi kawasan Blue Circle. Berbaur dengan udara setara dengan kecepatan kilat.

“Anhhh..” Sang Omega mendesah kecil, saat jemarinya bergerak menyentuh dada. Kemudian beralih menyentuh puting kemerahan yang terlihat menegang. Menantang untuk di permainkan atau di lumat oleh benda lunak tak bertulang. Tangan Wonwoo kembali mengambil alih. Ia memilin putingnya sendiri, sesekali mencubit dengan gerakan memutar, yang membuat kepalanya seakan penuh dengan euforia kesenangan di saat festifal musim panas.

“Uhhh…” Wonwoo melengguh, sambil menggigit lagi bibir bawahnya. Sepasang kaki bergerak menyilang, agar menekan selangkangan yang sudah menegang sempurna di balik celana.

“Ggrrrhhh…” Suara geraman tiba-tiba terdengar memenuhi gendang telinga. Geraman yang mampu membuat neuron saraf berfungsi semakin liar. Kepalanya bergerak gelisah, dan retina sang omega menatap lirih sang serigala berbulu coklat yang menatapnya dengan penuh amarah bercampur gairah di balik manik kemerahan itu.

Sosok serigala mulai berubah menjadi sosok manusia miliknya sendiri. Kim Mingyu berdiri di hadapan Jeon Wonwoo yang masih berbaring di bawah tanah. Obsidiannya mengkilat penuh nafsu saat melihat kondisi tubuh sang mate. Tubuh Wonwoo menggodanya untuk di kecup, di jilat dan di tandai. Apalagi dengan aroma feromon Wonwoo yang menusuk indra penciuman.

Sel neuron di kepala sang elder mulai memerintahkan semua keinginan sang serigala. Inner serigala berteriak penuh gebu agar segera menerkam sang omega yang sudah terlihat tidak berdaya. Mingyu tahu hanya dengan melihat kondisi Wonwoo yang seperti itu. Jika di biarkan, maka Wonwoo akan semakin kesakitan. Begitu pula dengan dirinya sendiri. Karena tubuh Mingyu kembali memanas dalam sekejap, akibat mencium bau feromon sang omega. Birahi yang awalnya menyusut perlahan, naik dengan drastis akibat sang mate.

“Wonwoo…” Mingyu menggeram kecil. Ia mulai berjongkok di hadapan sang omega. Tangannya terulur. Mengelus pipi Wonwoo dengan gerakan pelan. Tapi mampu membuat sang omega menggeram karena menginginkan lebih.

“Kau tidak bisa menolakku.” Ucapan penuh nada keabsolutan terdengar, di sertai dengan satu tarikan tangan, hingga tubuh Wonwoo terangkat. Mingyu menggendong tubuh Wonwoo ala bridal, dan sang omega sama sekali tidak bisa menolak. Dirinya sudah lelah, dan ia membutuhkan pertolongan. Apapun itu. Asal rasa sakit akibat heatnya ini menghilang.

“J-janganhh.. m-menandaikuh…” Wonwoo berbisik di antara perpotongan leher Mingyu. Membuat sang elder mendengus dengan nada meremehkan. Bagaimana mungkin Wonwoo meminta hal yang mustahil ia kabulkan seperti itu?

“Kita lihat nanti, Jeon. Siapa yang lebih dominan mencapai tujuannya. Aku atau kau.” Ucapan Mingyu berakhir bersamaan dengan suara derit pintu yang terdengar terbuka. Sebuah deritan yang akan mengantarkan Jeon Wonwoo pada lubang penuh kebencian untuk sang mate.

Tebece

Glousarium :

1. Pill surppressants : pill yang di minum oleh para omega untuk mengontrol feromon heat berlebih. Di gunakan saat tidak ada pelampiasan. Karena biasanya heat terjadi satu bulan itu satu nor dua kali. setiap omega terbiasa membawa pill ini.

2. Demon : iblis.

3. Incubus : Spesies iblis yang melakukan sex untuk menyerap sari-sari kehidupan

4. Pangeran kegelapan: Son Of Hades.

5. Archangel : Pasukan malaikat Tuhan. Malaikat tertinggi. Kedudukannya lebih tinggi di antara para malaikat lainnya. Ada 10 malaikat yang termasuk ke dalam Archangel dalam Al-Qur’an. Tapi dalam kitab injil dan Yahudi hanya ada 7 yang termasuk ke dalam Archangel.

6. Uriel : Fire Of God. Malaikat Tuhan yang bertugas menjaga pintu gerbang Tartarus aka Gerbang menuju Neraka.

Ps : Jika ada glousarium yang salah. kalian bisa koreksi.

Well. Jujur. Gue ga tau chap depan tamat atau belum. Wkwk. Masih ngambang. Yang penting saya jelaskan disini, jangan berharap lebih dengan ending yang akan saya buat. Sejak awal, ff ini maso. Semaso perasaan dan kokoro. Mehh -_-

Oke. Sampai jumpa lagi. Wkwk. Entah apa yang bakal di update setelah gue uts. Mau edit iwtbas, tapi gue males. Entah kenapa -_- mau ngetik caste heaven, gue lagi ga ada mood. -_- motivasi gue tolong wkwk

Ps : Gue masih terima Commisioned Fanfict. Kalau mau silahkan inbox saya ^^ Kalian bebas request genre, rated, dan saya bakal buat sesuai keinginan. Silahkan cek di work saya yang judulnya Commissioned FF ^^ Saya hanya terima 3 Comm. Berarti hanya sisa 2 lagi.

Jadi setelah UTS saya berakhir, hanya FF Comm yang saya upload ^^

Jaa ne.. sampai jumpa di updatean selanjutnya.

REVIEW?

Astia Morichan

Fudanshi Janai | Meanie | Chap 4| Meanie Couple | Yaoi

0

Jeon Wonwoo menggigit bibir kuat-kuat. Matanya mencoba terpejam dengan dengan erat. Di tutup dengan rapat. Berharap bisa segera mencapai alam mimpi. Tapi sayang, semua keinginannya harus terkubur rapat-rapat. Pasalnya, Kim Mingyu masih tetap mengganggunya di saat ingin terlelap. Si surai pirang asik menarik pinggangnya. Hingga Wonwoo terjembab dalam sebuah pelukan erat. Dimana Mingyu menerpakan napas hangat teratur di hadapan wajah si surai coklat.

Sungguh. Posisi mereka benar-benar tidak dapat dikatakan benar. Ini salah. Mereka salah posisi. Seharusnya Wonwoo memang menyuruh Mingyu untuk tidur di ruang rahasia miliknya itu. Tapi mereka harus terjebak di kamar biasa milik si surai pirang. Hanya karena kekeras kepalaan Mingyu yang ingin tidur bersama. Dan hal ini yang harus Wonwoo sesali. Jujur, ia benar-benar menyesal.

Kini di depannya. Tepat berjarak lima senti di depan wajahnya, wajah tampan Mingyu terpampang jelas. Wonwoo dapat melihat pahatan indah yang sudah Tuhan ciptakan. Ia tidak memungkiri ketampanan sahabatnya itu. Mingyu memang tampan. Penuh karismatik. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang menggoda itu terlihat sangat sempurna. Tidak heran jika di sekolah, Mingyu mempunyai banyak penggemar, dan Jeon Wonwoo baru menyadarinya sekarang.

Dirinya seolah terhipnotis saat memandangi wajah Mingyu. Ada debaran aneh menggelitik hati, dan sengatan kecil di perut saat tubuh mereka semakin merapat. Sekarang, hidung Wonwoo dan si surai pirang saling bersentuhan. Bibir merah nan basah milik Mingyu hanya terpaut beberapa senti, dan Wonwoo seakan tergoda untuk mengecupnya. Jujur. Ia masih ingat bagaimana lembutnya bibir Mingyu saat mengecupnya beberapa jam lalu.

Sial! kenapa pula Wonwoo harus memikirkan hal itu? tidak. Tidak boleh. Wonwoo harus melupakan semua hal yang terjadi. Ia juga harus membuat sahabatnya ini kembali normal. Tolong ingatkan Wonwoo untuk setia pada wifu beroppai bombastis. Jangan sampai ia terjerumus dengan pria berbatang. Jangan biarkan seorang Jeon Wonwoo khilaf hanya karena terpesona dengan sang sahabat yang mempunyai otong seperti dirinya.

“Ingat Jeon! Kau masih mencintai Satsuki. Ingat juga bagaimana bentuk tubuh aduhai milik Akane-san.” Wonwoo bergumam kecil, sambil menutup mata rapat-rapat agar tidak dapat melihat wajah Mingyu. Pikirannya mencoba melayang. Membayangkan sosok telanjang Akane yang ada di anime Kuzu no Hentai. Walau wanita itu jalang, tapi Wonwoo menyukai badannya yang aduhai. Ia harus tetap mendelusikan para wifu jika tidak ingin berbelok pada hasutan Mingyu.

.

.

Fudanshi |Janai!

a/n: Happy Bday Kim Mingyu. Otame. Dan yah ini emang FF yang di dedikasi buat ultahnya Mingyu. Sumpah. Pas ngetik ini emang mentok. Sementok-mentoknya karena saya ga punya plot apa-apa untuk cerita ini. plot di dapat ketika mendapat pencerahan atas statistik -_-

dan Well, Happy Bday Kim Mingyu! Jangan selingkuh mulu tem. Wkwkwk. Oh iya dan ini FF terakhir saya sebelum hiatus. Mau hiatus aku tuh. Sibuk. Haha.

Ps: Ini ga ada editing. Maaf kalau bobrok. Haha. Gaje pula. Sudahlah. Yang penting update.

enJOY!

.

.

Brakk

“Aku pulan- KYAAAAAA!” Suara gebrakan pintu yang keras, serta sebuah teriakan mengalun dengan kencang. Teriakan penuh histeris dari sosok Kim Minseo yang masuk tiba-tiba ke dalam kamar sang kakak. Matanya membelalak kaget. Seolah tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Fokusnya dapat menangkap jelas sosok Mingyu bersama Wonwoo. Berpelukan. Bersama. Dalam satu selimut. Berbagi kehangatan.

“KYAAAAA! MIMPI APA AKU SEMALAM YA TUHAN?!” Teriakan gadis itu semakin menggema dengan keras. Dengan cepat ia menarik ponsel di dalam saku celana. Beberapa detik setelahnya, terdengar suara jepretan kamera. Beberapa kali. Karena Minseo sampai harus mengelilingi ranjang dan menahan teriakan hanya untuk mengabadikan momen langka itu.

“Nghh… Berisik…” Lenguhan Wonwoo terdengar. Membuat Minseo menghentikan aksinya. Tubuh gadis itu diam membatu seketika, saat melihat dengan jelas jika Wonwoo malah merapatkan tubuhnya pada Mingyu. Mengeluskan hidung bangirnya pada dada bidang sang kakak. Hingga membuat Mingyu semakin mengeratkan pelukan pada pinggang si surai coklat. Tak lupa, sebelah tangan sang kakak bergerak membelai lekukan punggung Wonwoo. Hingga si surai coklat tanpa sadar melengguh lagi dalam tidurnya.

Entah harus berapa kali Minseo menelan saliva dalam-dalam. Ia sudah mencoba meredam teriakan agar tidak membangungkan kedua sosok sepasang adam itu. Dalam imaji, Minseo selalu membayangkan hal ini menjadi sebuah ekspektasi nyata. Sekarang, imajinasinya menjadi kenyataan. Tidak sia-sia Minseo menggambar sebuah doujinshi dengan karakter Mingyu dan Wonwoo tanpa sepengetahuan mereka. Sungguh. Hari ini, Minseo sangat bahagia karena dapat melihat secara langsung bagaimana Kerealan hubungan kakaknya dengan Wonwoo. Dalam hati, ia bersorak penuh gembira merestui hubungan mereka.

Sejak pertama kali bertemu dengan Wonwoo, Minseo sudah yakin jika si surai coklat itu akan menjadi pasangan dari kakaknya. Mengingat sang kakak adalah seorang fudanshi kelas kakap seperti dirinya, yang tidak menutupi kemungkinan jika ia adalah seorang gay. Karena ingat. Fudanshi itu hanya sebuah mitos belaka. Tidak akan ada laki-laki normal yang menyukai cerita picisan para pelaku penyimpangan homosexual.

“Euhhmmm…” Wonwoo bergumam kecil, di sertai dengan matanya yang mulai terbuka pelan. Memperlihatkan manik foxynya yang mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan retina. Si surai coklat terdiam sekejap hanya untuk mengumpulkan nyawa, dan membiarkan sel neuron di otak bekerja untuk menghantarkan informasi yang sudah mata dan indera perasanya rasakan.

“Whwahhhh…” Wonwoo berteriak kaget, di sertai dengan gerak refleks tangan untuk mendorong tubuh Mingyu. Hingga si surai pirang yang tadi masih asik di alam mimpi, terjatuh dari lantai. Terjembab ke lantai marmer dingin. Membuat Mingyu meringis sakit di bagian pantat.

“Aww.. Apa yang kau lakukan Won?!” Mingyu meringis sakit. Kesadarannya kembali dengan cepat karena Minseo terjatuh. Sekarang ia bisa melihat sosok Wonwoo yang menatapnya tajam, di sertai dengan pipi yang memerah. Sejak awal ia bangun, si surai coklat sudah menyadari keberadaan sosok yang berdiri di samping ranjang sebelah Mingyu. Sungguh. Ia benar-benar malu. Apa Minseo memikirkan hal yang aneh tentang dirinya dan Mingyu? Adik polos kesayangannya itu tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka.

“Hahaha…” Suara tawa yang sangat Mingyu kenali terdengar jelas dari arah belakang. Si surai pirang segera berbalik, dan di sana, ia dapat melihat sosok Minseo yang tertawa keras. Sial! adiknya itu sudah berada di kamar sejak tadi, dan kini menertawakannya.

“Ya! Sejak kapan kau pulang?” Mingyu mulai berdiri dari acara terjatuhnya. Kini ia berdiri di hadapan Minseo yang mulai tersenyum penuh arti. Senyuman mengerikan yang bisa Mingyu artikan. ‘Apa kau sudah membuat Wonwoo Onii-san menjadi gay?’

“Hehe.. sejak dua puluh menit lalu aku sudah pulang dan melihat kalian tertidur sambil berpelukan.” Minseo tersenyum menggoda. Gadis itu berjalan melewati Mingyu dan duduk di samping Wonwoo yang masih diam di ranjang. Pemuda itu terlihat berpikir keras. Mungkin ingin menghindari topik ketahuan berpelukan di hadapan sang adik kesayangan.

“Tidak apa-apa Wonwoo Onii-san,” Minseo menggantungkan kalimat. Alisnya bergerak naik turun di sertai dengan senyum godaan ke arah Wonwoo. Membuat si surai coklat mengernyit heran. Tidak mengerti maksud dari adik kecilnya itu.

“apa kau menyukai Mingyu oppa?” Minseo berbisik pelan, dan pertanyaan itu mampu membuat Wonwoo melototkan mata. Ia menggeleng keras sebagai jawaban, dan hal itu malah membuat Minseo terkekeh penuh kemenangan.

“Hehe. Ya sudahlah Nii-san. Aku mendukungmu seratus persen jika bersama Gyu Oppa.” Dan setelahnya, gadis itu mulai berdiri. Berjalan keluar kamar.

“Ah. Iya. Oppa. Aku sudah membawakan doujin AoKise yang kau minta. Kau bisa mengambilnya di kamarku.” Kemudian Minseo meninggalkan Wonwoo dan Mingyu lagi di ruangan ini.

“Apa yang Minseo katakan?” Mingyu menilik menatap Wonwoo yang mulai melempar selimut. Si surai coklat berdiri dan berjalan ke arah toilet. Mengabaikan Mingyu yang masih terlihat keheranan.

“Aku akan pulang sekarang, Gyu.” Setelahnya Wonwoo menutup pintu toilet dengan keras. Mengabaikan Mingyu yang masih bingung dengan apa yang sudah adiknya katakan pada Wonwoo.

.

oOO

.

Jeon Wonwoo mendengus kesal saat menatap sosok pemuda bersurai coklat sebahu sudah duduk di ranjang milknya. Yoon Jeonghan tersenyum lima jari ke arahnya. Seolah tidak menyadari raut wajah penuh kebencian yang menguar dari Wonwoo. Pasalnya Wonwoo tidak selalu mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamarnya yang penuh dengan poster-poster wifu. Hanya Mingyu saja yang ia izinkan masuk, karena mereka adalah sahabat satu perjuangan. Baekhyun saja yang selaku sang Ibu tidak pernah ia izinkan. Dan ini. Jeonghan yang merupakan sepupu jauhnya, selalu seenaknya masuk ke dalam kamar. Seolah kamar miliknya.

“Apa yang kau inginkan?” Wonwoo memutar bola mata kesal. Ia membuang asal tas selempangnya. Kemudian berjalan ke arah ranjang, dan membaringkan diri. Mengabaikan sosok Jeonghan yang masih tersenyum tidak jelas.

Jujur, Wonwoo sedang tidak mood meladeni tingkah Jeonghan. Dirinya sudah lelah, karena baru saja pulang dari rumah Mingyu secara tiba-tiba. Wonwoo ingin menghindar dari Minseo agar tidak menanyakan hal itu.

“Hanya mengunjungimu. Aku bosan berada di apartemen.” Jeonghan ikut membaringkan tubuhnya di samping Wonwoo.

“Kau masih saja menyukai gadis dua dimensi, Won..” Komentar Jeonghan di hadiahi delikan tidak suka.

“Berisik..”

“Aku jadi bertanya-tanya, apa kau menyukai gadis nyata? Jangan-jangan kau hanya bisa turn on jika membayangkan gadis khayalan dua dimensi? Bukan gadis yang menjadi teman nyatamu? Haha..” Jeonghan tertawa menyindir, dan hasil tawanya di hadiahi dengan timpukan guling pada tubuh sang sepupu. Membuat Jeonghan dengan refleks menangkisnya dengan cepat.

“Tentu saja aku bisa membayangkan manusia nyata yang bisa menjadi bahan delusiku!” Wonwoo mulai terduduk, dan kembali memberikan tatapan mematikan pada Jeonghan. Tapi sayang, tatapan itu sama sekali tidak mempengaruhi sang sepupu. Jeonghan malah semakin tertawa bahagia melihatnya.

“Buktikan, Jeon. Haha..” Suara tawa Jeonghan malah semakin terdengar memuakan di telinga Wonwoo.

“Baik. Aku akan membuktikannya, dan mengirimu video onaniku!”

“Hwahh… kau sungguh berani Wonu-ya,,” Jeonghan bertepuk tangan cukup keras. Tepukan tangan yang terasa meremehkan jika Wonwoo memang benar-benar bisa melakukan apa yang sudah ia ucapkan. Jujur saja, Jeonghan tidak yakin Wonwoo akan berani mengirimkan video onani dirinya sendiri. “siapa yang akan kau delusikan? Sahabatmu itu? Mingyu?”

“YA!” Kali ini, sebuah bantal kembali mendarat, tapi dengan mudah tertangkis dengan mudah oleh Jeonghan. Karena sang sepupu sudah berpindah tempat dan duduk di kursi meja belajar miliknya.

“Aku benar kan? Kau sama sekali tidak mempunyai bahan delusi gadis nyata. Teman wanita saja tidak punya. Haha..”

“A-aku punya..” Wonwoo menggigit bibir bawah dengan gugup. Kepalanya di paksa berpikir dengan keras. Ia mencoba mencari alasan yang cukup logis. Jika di pikir, ucapan Jeonghan memang ada benarnya. Selama ini, Wonwoo tidak pernah tertarik dengan seorang gadis nyata. Ia hanya tertarik pada gadis dua dimensi. Beronani pun hanya berdelusi dengan chara anime. Bukan dengan gadis nyata. Di sentuh pun tidak pernah. Berciuman? Pernah. Tapi itu pun dengan Mingyu. Tidak ada yang spesial, dan ia tidak mungkin mengakunya pada Jeonghan.

“Siapa?” Jeonghan memicingkan mata penuh selidik. Seolah menggali kebohongan yang Wonwoo ciptakan.

“Ada. Aku punya.”

“Mingyu?” Jeonghan menyeringai penuh godaan, dan hal itu malah membuat wajah Wonwoo memerah sempurna. Di lihat dari ekspresi si surai coklat, sepertinya Wonwoo memang sudah berubah haluan karena sahabatnya itu.

“Hwahh… kau sudah menjadi gay seperti ku?!” Jeonghan berteriak histeris. Menyatakan pernyataan sepihak yang ada di dalam benak dirinya. Jeonghan yakin jika Wonwoo memang sudah berbelok.

“TIDAK! AKU BUKAN GAY SEPERTIMU! DAN AKU AKAN BUKTIKAN JIKA BISA BERDELUSI DENGAN GADIS NYATA. SEPERTI YEWON !” Wonwoo berteriak marah. Wajahnya sudah memerah sempurna. Menahan amarah yang bersarang dalam hati akibat ucapan Jeonghan. Bagaimana mungkin jika sepupunya itu berpikir nista seperti itu? Ia tidak akan mungkin menjadi seorang gay. Apalagi jika pasangan gay nya adalah Mingyu. Fudanshi akut yang sama sekali tidak mempunyai faedah dalam kehidupannya.

“Buktikan saja padaku, Wonu-ya…” Dan setelahnya, Jeonghan melambaikan tangan. Berbalik menjauh dari kamar Wonwoo. Meninggalkan sang sepupu yang sekarang mengumpat kesal karena tidak terima dengan semua yang sudah ia ucapkan.

.

oOO

.

Wonwoo menggeram kesal. Sungguh ia sangat tidak menyukai sifat Jeonghan yang sok tahu. Maka dari itu Wonwoo akan membuktikan semuanya pada sang sepupu. Ia akan memberikan video onani dirinya sendiri, kemudian memperlihatkannya pada Jeonghan, lalu menghapusnya kembali. Simpel bukan? Lagi pula hanya video berdelusi. Wonwoo bisa membayangkan Yewon. Gadis paling cantik di kelasnya. Walaupun ia sama sekali tidak terlalu tertarik pada gadis itu, tapi Wonwoo yakin jika dirinya bisa melakukan onani dengan membayangkan Yewon. Lagi pula, tubuh Yewon benar-benar sempurna. Sexy seperti Momoi Satsuki.

Sekarang, dirinya sudah berada di dalam kamar mandi miliknya. Si surai coklat juga sudah menyetel video ponsel yang di pasang di dekat wastafel yang menghadap pada dirinya. Wonwoo sudah melorotkan celana sampai selutut. Ia duduk di atas kloset dengan perasaan ragu. Ia hanya tinggal membuka celana dalam saja. Setelah itu, semua akan selesai dan berakhir sebagaimana mestinya.

“Ahh.. sudahlah. Tidak ada gunanya menyesal.” Wonwoo kembali menggerutu. Tangan mulai bergerak melorotkan celana dalam berwarna putih miliknya. Hingga tubuh bagian Wonwoo sudah telanjang sepenuhnya.

Menelan saliva dalam, sebelum mulai menyentuh genitalnya secara pelan. Sentuhan pelan. Tapi mampu membuat tubuh si surai coklat bagaikan tersengat aliran listrik yang langsung mengalir ke seluruh tubuh. Wonwoo memejamkan matanya erat. Bibir bawah di gigit keras agar tidak mengeluarkan desahan sedikitpun, saat tangannya mulai bergerak naik turun menyentuh batang genitalnya sendiri. Meraba, mengelus, dan mengocoknya dengan pelan.

“Anhh…” Desahan kecil lolos begitu saja. Dalam imajinasinya saat ini, tidak ada sosok Yewon. Reseptor otak Wonwoo hanya bisa membayangkan satu sosok. Satu sosok yang sama sekali tidak ingin ia ucapkan. Tapi dalam benaknya, Wonwoo benar-benar menginginkan sentuhan itu.

Jujur. Wonwoo masih mengingat dengan jelas bagaimana sentuhan hangat Mingyu. Pelukan pemuda itu, dan juga ciumannya. Entah kenapa, saat ini, Wonwoo malah membayangkan jika bibir Mingyu tengah bergelirya ke seluruh tubuhnya. Katakan ia memang gila saat ini. Tapi si surai coklat tidak peduli. Asalkan fantasi liarnya membuat tubuh melayang, maka semua tidak akan menjadi masalah. Sekali pun Jeonghan kembali mengejeknya.

“G-gyunhhh…” Desahan yang mengalun mengumandangkan nama sang sahabat terdengar begitu saja. Di ikuti dengan gerakan tangan yang semakin bergerak dengan cepat namun teratur. Membuat seluruh darah dari dalam tubuhnya mengalir pada satu titik genital dan bertumpu di sana.

“Akhhh… Gyuuhhh…

“W-w-wonwoo.. a-apa yang kau lakukan?” Suara bariton tiba-tiba mengalun merasuki gendang telinga si surai coklat. Reseptor telinga dengan refleks mengantarkan impuls ke otak dalam beberapa detik. Hingga tubuh Wonwoo tiba-tiba saja menengang. Membatu. Gerakan tangannya pun terhenti seketika. Di ikuti dengan matanya yang membulat horor saat melihat sosok yang terpaku di hadapannya.

Entahlah. Sepertinya mengumpat beberapa kali pun tidak akan pernah cukup. Kesialan memang sedang menimpa dirinya hari ini. Pertama adalah di tantang oleh Jeonghan, dan yang kedua adalah dirinya yang lupa mengunci pintu saat akan melakukan hal nista di dalam kamar mandi.

“M-ming-gyu…”

TeBeCe

Wkwkwk. Asli ini emang mentok, dan saya ga tau kenapa ini malah jadi kayak gini. Gaje? Memang. Saya memang ratu ga jelas kalau buat FF. Plot ini aja seolah dapet pencerahan setelah baca tips dari Kak Kii.

Ternyata gue berfaedah.. dari pada cerita ini di dis. Mending di bobrokin aja sekalian. Wkwk

Bye. Dan Happy Bday Mingyu.. Happy Bday too Mori-chan..

Duh tebaran momen bareng pas ultah, serasa dunia milik berdua ae lu gyu. Wkwk

Tadi mau di jadiin 5 k. Tapi ga cukup waktunya dan tugas gue jg ngejar buat di kerjain. Hahah. Jadi pendek. Wkwkwk

Bye mau hiatus. Mwahh :*

Review?

Morichan

Nephilim | Chap 3| Meanie Couple

0

Bocah bersurai coklat menampilkan sebuah senyuman lebar saat melihat sosok wanita tua yang membawa nampan berisi cookies. Ia baru saja mengangkat cookies itu dari oven. Manik foxy si surai coklat– Jeon Wonwoo menatap penuh binar ke arah kue yang sedang neneknya hidangkan di atas meja. Wonwoo selalu suka momen seperti ini. Ah. Lebih tepatnya ia sangat menyukai cookies yang neneknya buat. Apalagi nenek Wonwoo- JinYoung selalu membuat kue favoritnya ketika ia pulang sekolah. Seperti sekarang. Aroma kue menyebar di sekeliling dapur, dan membuat perut Wonwoo bersorak senang karena lapar.

 

“Ne.. Wonu-ya.. kenapa tidak ganti baju dulu, hm?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan lembut, saat melihat Wonwoo berlari ke arahnya dan duduk di meja makan dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Bocah itu menatapnya dengan tatapan berbinar yang selalu membuat Jinyoung luluh. Kemudian ia mulai melepaskan sarung tangan beserta celemek yang membalut tubuh rampingnya. Di simpan celemek dan sarung tangan di samping nakas yang berada di belakang. Lalu ia mulai berjalan ke arah Wonwoo, dan menyodorkan piring berisi kue kesukaan si coklat, beserta susu vanilla favoritnya.

 

“Aku ingin memakan kuenya sekarang, halmonie.” Wonwoo mempoutkan bibirnya. Ia mulai merajuk dan memberikan tatapan memohon pada sang nenek. Membuat wanita tua bersurai hitam itu terkekeh dan mengelus surai coklat Wonwoo.

 

“Baik. Wonu bisa memakannya jika menuruti permintaan nenek kali ini. Bagaimana?” Jinyoung berjongkok di samping bocah sd itu. Membuat Wonwoo menatap bingung Jinyoung dengan alis bertaut tidak mengerti. Jarang sekali Jinyoung seperti ini.

 

“Memangnya nenek mau meminta apa dari Wonu ?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap bingung sang nenek yang sekarang malah mencubit pipi Wonwoo dengan gemas.

 

“Wonu tidak boleh bertemu lagi dengan Chanyeol Ahjussi.” Manik foxy bocah itu membulat tanda tidak setuju. Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo tidak mau menuruti permintaannya kali ini. Apalagi dengan Chanyeol- sang Lucifer keras kepala yang ingin membawa pergi Wonwoo. Jinyoung tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya. Apalagi membiarkan seorang malaikat pembelot mengurus Wonwoo.

 

“E-eh? Kenapa tidak boleh? Chanyeol Ahjussi sangat baik pada Wonwoo. Aku tidak ingin menuruti permintaan halmonie.” Wonwoo melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut di sertai delikan tak suka yang ia berikan pada Jinyoung.

 

“Chanyeol Ahjussi itu sangat berbahaya. Apa Wonwoo ingin tahu siapa sebenarnya Chanyeol Ahjussi?” Penawaran sang nenek terdengar menggiurkan bagi Wonwoo. Jinyoung bisa melihat Wonwoo kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh keingintahuan tercetak jelas di manik foxy bocah itu.

 

“Memangnya kenapa dengan Chanyeol Ahjussi?” Jinyoung menatap Wonwoo dengan sendu. Tangannya kembali terulur untuk mengelus pipi Wonwoo dengan lembut. Jinyoung tentu sangat mengerti jika Wonwoo merindukan sosok ayah. Chanyeol datang dan mengaku sebagai paman jauh Wonwoo. Lalu ia sering mengajaknya bermain setiap hari. Tentu saja Jinyoung sangat khawatir jika Chanyeol membocorkan identitas sebenarnya pada Wonwoo, jika ia adalah ayah dari si surai coklat. Jinyoung sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia hanya ingin Wonwoo menjadi manusia normal seperti temannya yang lain. Kehadiran Chanyeol hanya akan menjadi pengaruh buruk untuk Wonwoo. Kekuatan Wonwoo akan semakin berkembang jika Chanyeol selalu berada di dekatnya. Jinyoung tidak ingin Wonwoo mempunyai kekuatan para malaikat.

 

“Halmonie akan menceritakan semuanya pada Wonwoo. Tapi setelah itu, Wonu tidak akan ingat apapun lagi. Bagaimana?” Kembali, manik foxy itu membelalak, dan memberenggut tidak setuju. Wonwoo kembali menunjukan aksi tidak setuju atas apa yang Jinyoung ucapkan.

 

“Jika Wonwoo tidak menurut, Halmonie tidak akan memberikan Wonu cemilan lagi.” Piring berisi cookies di ambil kembali dari hadapan Wonwoo. Membuat bocah itu kembali mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya mulai mengangguk tanda setuju. Lagi pula, Wonwoo bisa bertemu secara sembunyi dengan Chanyeol nanti. Lalu ia tidak akan mungkin melupakan semua yang di ceritakan neneknya. Wonwoo itu pintar. Ia akan ingat dalam sekejap ucapan Jinyoung nanti.

 

“Arraseo. Aku mengerti. Sekarang ceritakan tentang Chanyeol Ahjussi, dan juga berikan cake itu padaku.” Wonwoo bisa melihat Jinyoung tersenyum dengan lebar kali ini. Ia yakin, jika Jinyoung sangat senang karena keputusannya itu. Kemudian Jinyoung mulai menarik kursi di samping Wonwoo, dan duduk di sana. Membuat Wonwoo menoleh pada wanita tua itu yang sekarang menghela napasnya pelan, sebelum memulai ceritanya.

 

“Ne.. Apa Wonu percaya dengan malaikat? Lalu dengan Iblis, dan juga Tuhan?” Jinyoung menatap ke arah Wonwoo dengan tajam. Membuat bocah itu gugup, karena ini adalah kali pertama Jinyoung menjadi serius seperti ini. Biasanya, neneknya itu akan selalu tersenyum dan memberikan guyonan yang membuat Wonwoo tertawa lepas. Bukannya bertanya hal aneh seperti ini.

 

Dahi Wonwoo mengernyit pelan. Mencoba untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di berikan dari Jinyoung. Bocah bersurai coklat itu mengetukkan jari pada ujung meja dengan mata tertutup. Berharap akan menemukan jawabannya. Wonwoo tentu sangat percaya jika Tuhan itu ada. Lalu tentang iblis dan juga malaikat tentu ada. Wonwoo belajar semua itu setiap hari minggu di Gereja. Ia bukanlah seorang atheis. Jadi tentu saja Wonwoo percaya. Walaupun ia sama sekali belum pernah bertemu malaikat dan iblis dengan matanya sendiri.

 

“Ya. Pastor Michael bilang padaku jika malaikat dan iblis juga nyata. Aku juga belajar banyak tentang para malaikat dan Iblis yang mengganggu manusia.” Dahi Wonwoo mengernyit. Berusaha untuk kembali mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

“Tapi Halmonie.. Chanyeol Ahjussi pernah berkata jika aku adalah seorang Nephilim, dan aku harus menyembunyikan kekuatanku agar Verchiel (1) tidak menemukan keberadaanku.” Badan wanita tua itu menegang. Matanya membulat, menatap Wonwoo kaget. “Ne.. Apa kau tahu maksud dari Chanyeol Ahjussi? Nephilim itu apa?” Wonwoo memiringkan kepalanya. Manik foxy menatap Jinyoung penuh tanya. Berharap Jinyoung bisa menghilangkan rasa penasarannya selama beberapa hari terakhir. Karena Wonwoo memang tidak mengerti tentang peringatan dari Chanyeol. Ketika ia ingin bertanya lagi tentang hal itu, Chanyeol malah pergi meninggalkannya. Bahkan sampai sekarang Wonwoo belum bertemu dengan pria itu lagi.

 

Jinyoung menelan salivanya dalam. Ia mencoba kembali menetralkan emosi yang tercetak di wajahnya. Kali ini, Jinyoung harus menjelaskan semuanya pada Wonwoo. Lalu membuat bocah itu melupakan segala hal tentang Lucifer brengsek itu, dan juga memberikan Wonwoo pelindung agar ia tidak akan bisa melihat lagi sosok Lucifer selamanya, juga pengikut Lucifer yang mengincar Wonwoo. Jinyoung juga tidak ingin jika Wonwoo di incar oleh Verchiel, atau Gabrielle. Cucunya itu sama sekali tidak bersalah jika terlahir menjadi seorang Nephilim.

 

Tangan Jinyoung terulur untuk menyentuh surai coklat Wonwoo. Membuat bocah itu mengerjapkan matanya bingung.

 

“Wonwoo adalah seorang Nephilim. Setengah malaikat, dan ayah Wonwoo adalah Lucifer yang merupakan malaikat pembelot. Ia adalah Chanyeol.” Jinyoung bisa melihat Wonwoo membelalakan matanya kaget. Tentu Jinyoung sangat yakin jika Wonwoo masih mencoba mencerna semua yang ia jelaskan secara singkat. Tapi sebelum Wonwoo mengerti segalanya, Jinyoung akan membuat bocah itu kembali lupa. Wonwoo tidak boleh mengingat apa yang ia ucapkan.

 

Tangan Jinyoung bergerak ke samping leher Wonwoo, dan menekan keras selangka leher Wonwoo. Membuat bocah itu menjerit kaget saat merasakan sebuah cahaya berkumpul di lekukkan lehernya. Pelindung cahaya mulai mengelilingi tubuh Wonwoo. Pelindung yang Jinyoung buat, akan membuat Lucifer, Verchiel, dan segala makhluk lainnya tidak dapat menyadari keberedaaan Wonwoo. Pelindung itu juga yang membuat Wonwoo kehilangan kesadaran dirinya, dan juga kehilangan beberapa kilasan ingatannya tentang Chanyeol.

 

“Maafkan aku, Wonu-ya.” Tubuh kecil itu terjatuh dalam pangkuan Jinyoung. Semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan Wonwoo. Ini adalah cara yang terbaik agar Wonwoo selamat.

 

 

Nephilim

RM 18!

 

Romance, Fantasy, Drama

 

Warning! Boys Love, Yaoi, BoyXBoy, Typo, EYD Tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, OOC, DLDR yaw! I warn you, babe!

 

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo

 

a/n: Saya ingatkan. Lucifer itu bukan iblis yah awalnya. Lucifer itu adalah malaikat pertama yang di usir Tuhan dari surga. He’s fallen.

Semua chara yang masuk di sesuaikan dengan bias dan otp saya. wks

Strata dunia nanti ah. Belum secara menyeluruh ada kok di chap ini.

Kenapa marganya beda-beda padahal jun ama wonu dan chan itu se ayah? Well, saya jelaskan nanti. Ini masihlah chap awal. Penjelasan berlanjut sebagaimana cerita berjalan.

 

Happy Reading!

EnJOY!

.

oOo

.

 

  • Some angels destinied to Fall –  

 

.

 

.

oOo

.

Tubuh pemuda bersurai coklat itu menegang dengan mata membulat kaget saat mendengar semua penjelasan dari pria berbadan kokoh dengan baju zirah yang melekat di tubuhnya. Pria itu bernama Wen Junhui; yang mengaku sebagai kakak kandung dari Wonwoo. Kemudian pria yang sekarang mengenakan pakaian layaknya seorang raja di zaman Arthur yang pernah Wonwoo tonton itu menunjukkan suatu hal yang tidak dapat Wonwoo percaya.

Saat tangan Jun terulur untuk menyentuh bahu Wonwoo, ia mulai merasakan kilasan ingatan di dalam otaknya. Ingatan itu meluap dengan cepat bagaikan kilasan film yang membuat kepala Wonwoo pening. Wonwoo ingat semuanya. Ia ingat bagaimana neneknya selalu mengelak jika ia bertanya dimana Chanyeol, dan kenapa neneknya membenci Chanyeol. Lalu dengan hadirnya Mingyu; yang memberitahu jati dirinya sebagai Nephilim. Sekarang semuanya menjadi terhubung, dan Wonwoo tahu siapa dirinya. Ia adalah Nephilim- makhluk setengah malaikat yang berasal dari Lucifer– Sang malaikat pembelot pertama. Jujur saja, ini semua masih seperti mimpi buruk untuk Wonwoo. Ia sulit untuk mempercayai semua hal yang tidak masuk logika. Semua kejadian yang menimpa Wonwoo tidak masuk di akal.

 

“A-aku tidak mengerti.” Wonwoo tergugup. Ia memundurkan badannya perlahan menjauh dari Jun. Kepalanya menggeleng tanda tidak setuju dengan semua kilasan memori yang Jun berikan padanya.

 

“Kau adalah adikku. Putra dari Lucifer, walaupun kau hanyalah setengah malaikat Wonwoo-ya.” Suara Jun terdengar menakutkan bagi Wonwoo. Ia sangat berbeda dengan Mingyu. Walaupun pemuda bersurai hitam itu selalu seenaknya, tapi Wonwoo selalu merasa nyaman jika Mingyu ada di sampingnya. Saat ini, Wonwoo berharap Mingyu datang menolongnya.

 

“Aku hanyalah manusia biasa.” Wonwoo mengangkat kepalanya. Memberikan Jun tatapan tajam, dan hal itu malah membuat Jun tertawa lepas.

 

“Hey, Wonwoo-ya.. harus berapa kali aku bilang bahwa kau itu Nephilim?” Jun mendekat ke arah Wonwoo. Membuat pemuda bersurai coklat itu memundurkan tubuhnya dengan refleks. Aura Jun benar-benar berbahaya. Wonwoo tidak menyukai aura yang menguar dari tubuh Jun. Aura itu mencekam. Seolah membuat Wonwoo tenggelam dalam kegelapan.

 

“Aku akan pergi dari sini. Tolong lepaskan aku.”

 

“Dan kau melupakan niat awalmu ketika bertemu denganku, Jeon Wonwoo?” Manik foxy kembali membulat. Tentu saja Wonwoo ingat kenapa ia menerima ajakan dari Soonyoung. Ia ingin bertemu dengan Chanyeol. Walaupun Wonwoo harus mengakui jika Chanyeol itu adalah seorang malaikat pembelot. Lucifer– Sang pemberontak Tuhan.

 

“Di-dimana Chanyeol Ahjussi?”Wonwoo kembali bertanya. Ia mencoba melupakan rasa takutnya demi hal ini. Wonwoo tidak boleh ragu. Semua yang ia lakukan adalah untuk Chanyeol. Apapun yang terjadi, ia harus bertemu dengan Chanyeol.

 

“Maksudmu Lucifer? Ayah kita?”

 

“Y-ya. Aku ingin bertemu dengannya.” Wonwoo bisa melihat tatapan tajam dari Jun meredup. Ada kesedihan yang terpancar di mata itu. Wonwoo bisa merasakannya dengan jelas.

 

“Ayah sudah di bunuh oleh Verchiel.” Suara Jun terdengar dingin dan penuh akan dendam. Tangan pria bersurai merah itu terkepal dengan erat, seolah menahan amarahnya agar tidak meledak. Aura kebencian menguar di seluruh tubuhnya.

 

“Apa maksudmu, Jun-ssi? Aku sama sekali tidak bercanda dengan hal seperti ini!” Suara Wonwoo meninggi. Ia mulai mendekat ke arah Jun, dan mencengkram erat baju zirah berbalut besi yang melekat di tubuh pria itu. Kesabaran Wonwoo sudah habis. Ia tidak ingin di permainkan lagi oleh Jun.

 

“Apa aku terlihat bercanda?” Tatapan dingin menusuk dari Jun membuat Wonwoo terdiam. Tangan yang semula berada di lengan Jun, kini terkulai lemas. Wonwoo kembali di jatuhkan oleh berita mengejutkan dari Jun. Ia belum siap mendengar kabar bahwa Chanyeol- paman yang selama ini Wonwoo harap bisa bertemu lagi, sudah tidak ada. Ia terbunuh, dan Wonwoo tidak dapat melihatnya lagi. Sekarang Wonwoo merasakan hatinya remuk. Air mata tiba-tiba membasahi pipi Wonwoo. Jujur saja, Wonwoo tidak tahu kenapa ia menangis. Padahal ia dan Chanyeol hanya dekat selama satu tahun saja. Setelah itu Pamannya menghilang, dan Wonwoo seakan lupa dengan keberadaannya.

 

Tubuh mungil Wonwoo bergetar. Pemuda bersurai coklat itu masih menangis dalam diam. Mengabaikan Jun yang sekarang bingung harus berbuat apa. Jun tidak terlalu pintar menghibur seseorang. Ia bahkan lupa kali terakhir ada seseorang yang mau menemaninya.

 

“Berhentilah menangis. Kau harus tinggal di sini jika tidak ingin di bunuh oleh Verchiel.” Wonwoo mendongak ke arah Jun yang sekarang berdiri di hadapannya. Ia mulai mengusap pipi untuk menghilangkan jejak air matanya. Manik foxy itu kembali menatap Jun dengan pandangan penuh tanya. Berharap jika Jun menjawab siapa itu Verchiel.

 

Verchiel adalah malaikat utusan Tuhan; penghuni Alfheim, yang selalu memburu malaikat sepertiku, dan juga para Nephilim. Kau berada di Aerie sekarang, Wonwoo. Di tempat ini, semua malaikat pembelot dan juga Nephilim sepertimu tinggal.” Jun mulai menjelaskan dengan detail bagaimana Aerie terbentuk, dan siapa saja pasukan Verchiel yang selalu membunuh kaum Nephilim. Bagaimana Lucifer terbunuh, dan kenapa para utusan Tuhan memburu semua kaumnya.

 

“Jika kau keluar dari istana ini, kau akan menemukan sebuah pemukiman di mana para Nephilim sepertimu tinggal. Di Aerie, para Nephilim akan merasa aman. Kau tidak perlu takut lagi jika Verchiel akan datang memburumu, Wonwoo-ya. Para Elf, melindungi wilayah Aerie.”

 

Wonwoo mengangguk pelan. Ia mulai mengerti semua penjelasan yang Jun jabarkan tadi. Tapi Wonwoo tidak ingin berada di sini. Ia ingin pulang, dan bertemu dengan Mingyu. Wonwoo belum siap jika harus berada di Aerie. Lagi pula, ia harus memastikan semua yang sudah Jun jelaskan.

 

“Beri aku waktu untuk berpikir Jun-ssi. Tolong antarkan aku pulang.”

 

“Baik. Tapi Soonyoung akan mengikuti dan menjagamu, Wonwoo.” Wonwoo menggeleng dengan cepat mendengar penuturan Jun. Ia tidak ingin di ikuti oleh Soonyoung. Wonwoo butuh waktu untuk sendiri dan mencoba mencari tahu kebenaran dari semua ini. Ia harus bertemu dengan Mingyu. Satu-satunya penolong Wonwoo adalah pemuda bersurai hitam itu.

 

“Tidak. tolong biarkan aku memikirkan semuanya sendiri.” Wonwoo bisa melihat Jun menghela napasnya. Kemudian pria itu mendengus tak suka, dan melirikkan matanya ke arah Soonyoung yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk. Tatapan isyarat agar pemuda bersurai hitam itu mendekat.

 

“Antar Wonwoo pulang. Setelah itu kau kembali lagi ke Aerie.” Jun membalikkan badannya. Berjalan menjauhi Wonwoo. Jubah merahnya berkibar, dan setelah itu sosok Jun menghilang bagaikan hembusan angin.

 

“Kau ingin kembali ke cafe atau apartemenmu, Wonwoo-ssi?” Soonyoung membentangkan sayap-sayap hitamnya. Sebelum akhirnya mulai mengibaskannya dengan pelan, hingga tubuhnya melayang. Ia mulai mengulurkan tangannya ke arah Wonwoo.

 

“Apartemenku.” Wonwoo menggapai uluran tangan Soonyoung, sehingga ia berada di pelukan pemuda bersurai hitam itu. Kemudian mereka terbang ke atas, meninggalkan ruang singgasana Jun. Wonwoo berharap keputusannya kali ini sama sekali tidak salah. Ia membutuhkan Mingyu untuk menjelaskan semua keraguan yang ada di hatinya.

 

.

oOo

.

 

Wonwoo berjalan dengan gontai menuju koridor apartemen yang akan mengantarkan tubuh mungilnya menuju kamar apartemen yang berada di pojok lantai tujuh ini. Tadi Soonyoung sudah mengantarnya sampai ke depan gedung apartemen. Setelah itu Soonyoung kembali memukul udara dengan sayap hitamnya, dan terbang meninggalkan Wonwoo. Jadi disini Wonwoo berada. Ia sudah kembali ke dunia asalnya. Bukan di Aerie– tempat para Nephilim berada.

Wonwoo mulai membuka kenop pintu kamarnya dengan pelan. Sebenarnya Wonwoo berharap akan bertemu dengan Mingyu. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Biasanya Mingyu sudah berdiri di samping lift, sambil menatap pemandangan kota. Tapi nyatanya, pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Entah kenapa Wonwoo merasa kecewa saat tidak dapat menemukan sosok Mingyu.

 

“Hah..” Wonwoo menghela napas pelan. Ia mulai masuk ke dalam apartemen. Tangannya meraba dinding untuk menekan saklar lampu agar lampu di ruang tengah menyala. Kemudian cahaya lampu mulai menyinari ruangan itu. Membuat mata Wonwoo menyipit perlahan karena ia melihat sesosok bayangan yang sedang duduk di sofa kecil miliknya. Sosok itu mulai berbalik ke arahnya, dan menatap Wonwoo.

 

“Wonwoo-ya.. Apa yang kau lakukan selama dua hari ini?!” Suara bariton yang sangat Wonwoo kenal itu menggema memenuhi ruangan. Kali ini, Wonwoo bisa melihat dengan jelas sosok Kim Mingyu yang berdiri di dekat sofa sambil menatapnya dengan tajam. Wonwoo bisa merasakan kekhawatiran di dalam manik obsidiannya.

 

Langkah Mingyu semakin dekat dengan Wonwoo. Membuat Wonwoo memundurkan tubuhnya. Menyentuh pintu yang ada di belakangnya sehingga tertutup dengan sempurna. Wonwoo tahu jika Mingyu marah padanya. Mingyu tidak pernah menatapnya sedingin itu.

 

“Apa yang kau lakukan selama dua hari, Wonwoo? Kau tahu? Aku kebingungan mencarimu kemana-mana!” Dahi Wonwoo mengernyit saat mendengar pertanyaan beruntun dari Mingyu. Dua hari? Wonwoo sudah berada di Aerie dua hari?

 

“A-apa maksudmu, Gyu?” Wonwoo mendongak. Menatap manik obsidian Mingyu yang menatapnya tajam. Ini kembali membingungkan untuk Wonwoo. Ia pikir hanya beberapa jam saja berada di Aerie.

 

“Kau menghilang selama dua hari.” Mingyu menghela napasnya lelah. Kali ini tangannya terulur untuk menarik Wonwoo ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sungguh, Mingyu merindukan sosok Wonwoo. Ia sudah kebingungan mencari Wonwoo selama dua hari ini. Ia bahkan tidak dapat mengendus keberadaan Wonwoo di manapun. Mingyu takut jika pasukan Verchiel menyerang Wonwoo. Ia tidak ingin itu semua terjadi. Mingyu akan melindungi Wonwoo sampai kapanpun.

 

“Syukurlah, Wonu-ya. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Mingyu menelusupkan wajahnya ke dalam ceruk leher Wonwoo. Menghirup dalam aroma vanilla dari tubuh Wonwoo. Aroma tubuhnya yang sudah menjadi obat penenang tersendiri untuk Mingyu. Rasa khawatir dan ketakutan dalam dirinya menghilang hanya dengan mencium aroma tubuh Wonwoo.

 

“M-maaf, Mingyu.” Wonwoo bergumam pelan. Tangannya bergerak untuk membalas pelukan Mingyu sama eratnya. Jujur saja, Wonwoo butuh pegangan. Ia membutuhkan sosok Mingyu untuk membuatnya mengerti tentang hal tidak masuk akal yang menimpa kehidupannya selama beberapa terakhir ini.

 

“Aku takut, Gyu..” Suara Wonwoo bergetar. Mingyu tahu ada yang tidak beres selama Wonwoo pergi. Ia bisa merasakan pelukan Wonwoo semakin mengerat, dan juga tubuh pemuda bersurai coklat itu mulai bergetar ketakutan, di sertai isakan lirih yang lolos dari mulut Wonwoo.

 

“G-gyu… A-aku takut.. T-tolong…” Suara lirih Wonwoo terdengar menyesakkan bagi Mingyu. Ia tidak ingin melihat Wonwoo ketakutan seperti sekarang. Tangan Mingyu bergerak untuk menggendong tubuh Wonwoo ala bridal. Wonwoo diam. Tidak menolak dengan perlakuan Mingyu. Ia malah membenamkan wajahnya pada leher Mingyu dan menangis di sana. Mingyu membawanya ke kamar. Kemudian pemuda bersurai hitam itu membaringkan tubuh mungilnya di ranjang. Wonwoo bisa melihat dengan jelas Mingyu duduk di sampingnya dengan tatapan khawatir.

 

“Ceritakan semuanya padaku.” Perintah Mingyu yang penuh ke absolutan, membuat Wonwoo mengangguk dengan cepat, dan mulai mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu ia mulai menceritakan segalanya. Tentang Aerie, Jun, Soonyoung, Chanyeol, dan juga Verchiel. Wonwoo bisa melihat raut wajah Mingyu berubah. Rahang pemuda bersurai hitam itu mulai mengeras. Tangan Mingyu terkepal dengan erat.

 

“Kau tidak boleh bertemu dengan Jun lagi. Dengarkan aku Wonwoo-ya.” Manik obsidian menatapnya tajam. Seakan tidak ingin di bantah. “Aku akan melindungimu sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkan makhluk jahanam itu menyentuhmu. Apalagi Verchiel sialan itu!” Mingyu kembali kembali memeluk tubuh Wonwoo dengan erat. Ia tidak akan membuat Wonwoo menderita. Apapun yang terjadi. Karena Wonwoo adalah miliknya.

 

“Terimakasih, Gyu.” Wonwoo kembali memeluk tubuh kokoh Mingyu. Mereka berbagi pelukan dan beberapa ciuman Mingyu hadiahkan di bibir plum Wonwoo. Bagi Mingyu, pemuda bersurai coklat itu adalah candu. Jika Wonwoo tidak ada, mungkin Mingyu akan menjadi gila seperti dua hari kemarin saat ia tidak dapat menemukan sosok Nephilim itu.

.

oOo

.

 

Mingyu menatap dalam Wonwoo yang sekarang tertidur dengan lelap. Wajah Wonwoo terlihat sangat damai. Sebuah senyum kecil tersungging menghiasi wajah cantik pemuda bersurai coklat itu. Mingyu yakin, jika Wonwoo sedang bermimpi indah. Karena semua kegelisahan di dalam hati Wonwoo sudah meluap. Pemuda bersurai coklat itu menangis dan tak hentinya mengatakan terimakasih di sela-sela ciuman hangat mereka. Kemudian Wonwoo jatuh tertidur dalam pelukannya.

 

Mingyu menampilkan senyum asimetris di wajahnya. Ia bersyukur datang kembali ke dunia manusia, dan di pertemukan dengan Wonwoo. Mingyu yang awalnya tidak tertarik dengan apapun, kini tertarik oleh sosok Wonwoo. Mungkin manusia menyebut hal ini sebagai jatuh cinta. Ya. Mingyu jatuh cinta pada Wonwoo. Ia selalu ingin berada di dekat pemuda itu, dan melindunginya dari para makhluk kotor yang mencoba melukai Wonwoo.

 

“Aku tidak menyangka akan melakukan hal konyol seperti ini.” Tangan Mingyu terulur untuk mengelus surai coklat Wonwoo dengan pelan. Kemudian ia mulai menunduk dan mencium kening Wonwoo. “Hades akan marah padaku jika tahu aku berurusan dengan para malaikat.”Mingyu terkekeh pelan, saat mengingat kembali sosok Ayahnya. Ia sangat yakin jika Kyuhyun akan murka. Jujur saja, Mingyu sangat suka melihat Ayahnya itu marah. Walaupun Persephone selalu bisa menenangkan ayahnya dengan cepat.

 

“Mingyu-ssi. Apa anda merasakan keberadaan Thanatos?” Suara Yao yang kecil memecah keheningan. Membuat Mingyu sadar jika sejak tadi Yao masih mengikutinya. Ia pikir anjing itu sudah menuruti perintahnya untuk kembali ke Gerha Hades(2).

 

“T-thanatos ada di sini.” Suara Yao mencicit. Membuat Mingyu tersenyum meremehkan ke arah pintu kamar. Di sana ia sudah melihat sosok Thanatos. Mingyu bukanlah orang bodoh yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Thanatos yang menguarkan aura mematikan di sekelilingnya.

 

“Saya tidak menyangka jika anda berurusan dengan Nephilim itu.” Suara Jisoo terdengar meremehkan. Membuat Mingyu menggeram tak suka ke arahnya. Ini yang Mingyu tidak suka dari abdi ayahnya itu. Jisoo selalu mencampuri segala urusannya.

 

“Dan aku tidak menyangka jika kau kembali mencampuri urusanku. Apa Hades mengutusmu?” Suara sarkatik Mingyu hadiahkan untuk Jisoo. Kemudian pemuda bersurai hitam itu mulai berjalan ke arah Jisoo. Manik obsidian menatap tak suka ke arah Jisoo yang tidak pernah tunduk oleh tatapannya.

 

“Ya. Kyuhyun-ssi sudah tahu jika anda berurusan dengan Nephilim. Beliau ingin anda pulang ke Gerha Hades.”

 

“Tidak. Aku tidak akan pulang. Sampaikan pesanku untuk Ayah dan Ibu. Aku akan bersama Wonwoo di sini.” Mingyu berbalik. Berjalan ke arah Wonwoo, dan mengabaikan sosok Jisoo yang menggeram marah.

 

“Kyuhyun-ssi akan marah dan membunuh Nephilim itu jika anda tidak pulang, Mingyu-ssi.” Ada nada memaksa di dalam ucapan Jisoo yang membuat Mingyu kembali mendengus, sebelum melirik Jisoo lewat ekor matanya.

 

“Aku akan melindunginya dari apapun. Pergilah, Hyung. Aku tidak ingin menyakitimu.” Aura kematian menyebar di sekeliling tubuh Mingyu. Membuat Jisoo memundurkan tubuhnya. Jisoo masih ingin hidup. Ia tidak ingin hidupnya sia-sia karena hal ini. Lebih baik ia membiarkan Mingyu, dan kembali melapor pada Kyuhyun.

 

“Saya sudah memperingatkan anda. Nephilim itu berbahaya bagi makhluk dunia bawah seperti kita, Mingyu-ssi.” Dan setelahnya, sosok Jisoo menghilang di gantikan oleh gumpalan cahaya hitam yang mengecil, kemudian hilang bagai di terpa oleh angin.

 

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Wonwoo.” Geraman Mingyu terdengar menakutkan. Mingyu belum pernah seserius ini sebelumnya. Jika ada yang menyakiti Wonwoo, itu artinya mereka akan berurusan dengan Mingyu. Sekalipun itu adalah malaikat utusan Tuhan, Wonwoo tidak akan pernah takut.

 

.

oOo

.

 

 

Pemuda bersurai hitam dengan hanbok berwarna putih itu menatap tajam bawahannya. Aron atau yang lebih di kenal sebagai Verchiel menggeram. Ia tidak habis pikir jika ada keturunan dari Lucifer yang masih berada di dunia manusia. Aron pikir semua Nephilim dan para malaikat pembelot bersembunyi di Aerie. Ini adalah kesempatan langka. Ia tidak akan membiarkan buronannya lepas lagi. Kali ini, Aron bertekad untuk membunuh Nephilim bernama Jeon Wonwoo.

 

“Tapi Aron-ssi, sosok Mingyu selalu terlihat di samping Nephilim itu.” Dahi Aron mengerut mendengar penuturan dari Baekho- sang bawahan yang sudah ia tugaskan memantau Wonwoo. Mingyu yah? Jika memang benar Mingyu ikut campur dalam urusan ini, itu berarti Mingyu menantang Zeus- Penguasa Langit.

 

“Menarik. Putra Hades terlibat dengan Nephilim.” Seringaian licik terukir jelas di wajah Aron. Ini adalah hal yang paling menarik. Jika Mingyu terlibat, mungkin saja perang langit akan kembali terjadi. Murka Zeus dan Hades selalu menggemparkan bumi.

 

“Tangkap Wonwoo secepatnya, dan bawa padaku. Walaupun Mingyu ada di samping Nephilim itu.” Wajah Baekho memucat saat mendengar perintah dari Aron. Ah. Ia masih ingin hidup. Kekuatannya sama sekali belum cukup kuat untuk menentang putra Hades. Ini namanya cari mati.

 

“Jika kau tidak bisa membawa Wonwoo, aku akan mematahkan sayapmu.” Baekho menelan salivanya dalam. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menuruti Aron. Semua pilihan yang di berikan Aron tidak ada yang bagus. Sama-sama jalan kematian.

 

“Baik, Aron-ssi.” Baekho menundukkan kepalanya penuh hormat. Sebelum ia mulai mengepakkan sayap putihnya, dan melayang menjauh dari kastil Verchiel. Baekho harus melaksanakan tugasnya. Ia tidak ingin jika sayapnya di patahkan. Itu sama saja artinya dengan menjadi malaikat pembelot. Baekho akan membawa Wonwoo apapun yang terjadi.

 

Tebece

 

Glousarium :

  1. Verchiel : Malaikat Utusan Tuhan. Abdi Zeus yang bertugas untuk memburu para kaum pembelot.

 

  1. Gerha Hades : Kerajaan Dunia Bawah. Tempat Hades tinggal.

 

 

Well, chap depan mulai bakalan beda sama POF. So, bagi yang ngikutin pof, maka lanjutan cerita itu yang sebenarnya adalah di sini.

Huhu. Andai ga dedlen. Mungkin ini bakal jadi akakuro full dulu wkwk. But gapapa, akakuro shipper, buat fantasy-fantasyan. Saya bakal lanjut incubus nanti.

Jadi biarkan pof menjadi milik Meanie. *jyah wkk

 

Caste heavenn di up taun baru yah. Mwah :*

 

So, berkenankah berkomentar? Atau ada yang mau nanya kalau ga ngerti pendeskripsian semuanya? Jangan lupa komen

 

Vomen?

 

Astia Morichan